WorldWideScience

Sample records for schneller natriumgekuehlter reaktor

  1. ANALISIS INVENTORI REAKTOR DAYA EKSPERIMENTAL JENIS REAKTOR GAS TEMPERATUR TINGGI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Kuntjoro

    2016-06-01

    Full Text Available ABSTRAK ANALISIS INVENTORI REAKTOR DAYA EKSPERIMENTAL JENIS REAKTOR GAS TEMPERATUR TINGGI. Berkaitan dengan rencana Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN untuk mengoperasikan reaktor eksperimental jenis Reaktor Gas Temperatur Tinggi (RGTT, maka diperlukan analisis keselamatan terhadap reaktor terutama yang berkaitan dengan issue lingkungan. Analisis sebaran radionuklida dari reaktor ke lingkungan pada kondisi operasi normal atau abnormal diawali dengan estimasi sumber radionuklida di teras reaktor (inventori teras berdasarkan pada tipe, daya, dan operasi reaktor. Tujuan penelitian adalah melakukan analisis inventori teras untuk disain Reaktor Daya Eksperimental (RDE jenis reaktor gas temperature tinggi berdaya 10 MWt, 20 MWt dan 30 MWt. Analisis dilakukan menggunakan program ORIGEN2 berbasis pustaka penampang lintang pada temperatur tinggi. Perhitungan diawali dengan membuat modifikasi beberapa parameter pustaka tampang lintang berdasarkan temperatur rata-rata teras sebesar 5700 °C dan dilanjutkan dengan melakukan perhitungan inventori reaktor untuk reaktor RDE berdaya 10 MWt. Parameter utama reaktor RDE 10 MWt yang digunakan dalam perhitungan sama dengan parameter utama reaktor HTR-10. Setelah inventori reaktor RDE 10 MWt diperoleh, dilakukan perbandingan dengan hasil dari peneliti terdahulu. Berdasarkan kesesuaian hasil yang didapat dilakukan desain untuk reaktor RDE 20MWEt dan 30 MWt untuk memperoleh parameter utama reaktor tersebut berupa jumlah bahan bakar pebble bed di teras reaktor, tinggi dan diameter teras. Berdasarkan pareameter utama teras dilakukan perhitungan inventori teras RDE 20 MWt dan 30 MWt dengan metode yang sama dengan metode perhitungan pada RDE 10 MWt. Hasil yang diperoleh adalah inventori terbesar untuk reaktor RDE 10 MWt, 20 MWt dan 30 MWt secara berurutan untuk kelompok Kr adalah sekitar 1,00E+15 Bq, 1,20E+16 Bq, 1,70E+16 Bq untuk kelompok I sebesar 6,50E+16 Bq, 1,20E+17 Bq, 1,60E+17 Bq dan untuk

  2. Modifikasi Panel Monitor Reaktor Triga 2000

    OpenAIRE

    P, Margono; M, Pardi; M, Muhaimin

    2003-01-01

    MODIFIKASI PANEL MONITOR REAKTOR TRIGA 2000. Sebagai bagian dan modifikasi sistem kendali reaktor TRIGA 2000 telah dibuat sistem pengamatan parameter-parameter yang diperlukan dalam operasi reaktor seperti daya reaktor, temperatur air, temperatur bahan bakar dan lain sebagainya. Pengamatan tersebut diambil dan sistem pengukuran yang sudah ada dan ditampilkan dalam bentuk digital panel meter. Pengukuran diambil dalam berbagai mode luaran sebagai arus dan tegangan. Sistem pengamatan ini merupak...

  3. ANALISIS KECELAKAAN REAKTOR AKIBAT KEGAGALAN SISTEM PEMBUANG PANAS PADA REAKTOR NUKLIR GENERASI IV

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A. G. Abdullah

    2012-01-01

    Full Text Available Salah satu aspek terpenting dalam proses desain reaktor nuklir adalah aspek keselamatan reaktor. Sebelum membangun reaktor secara fisik, terlebih dahulu dibuat perencaaan perhitungan yang matang termasuk melakukan simulasi kinerja keselamatannya dalam menghadapi kemungkinan kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model simulasi kecelakaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN yang disebabkan  gagalnya sistem pembuang panas. Kecelakaan akibat gagalnya sistem pembuang panas dipicu oleh hilangnya kemampuan pendinginan dari pembangkit uap. Urutan kecelakaan ini diawali dengan hilangnya kemampuan reaktor untuk membuang panas dari loop pendingin sekunder. Selama kecelakaan, laju pembuangan panas mengalami penurunan sedangkan temperatur masukan pendingin mengalami peningkatan. Hasil simulasi memberikan gambaran bahwa reaktor dapat bertahan dari kecelakaan. Hasil analisis kecelakaan menunjukkan bahwa temperatur maksimum bahan bakar, selongsong dan pendingin memiliki batas keselamatan yang sangat besar.One of the most important aspects in nuclear reactor design process is the safety aspect. Advanced and accurate safety simulation must be performed before it can be built.  This research aims to develop a simulation model of Nuclear Power Plant (NPP accidents due to the loss of  heat sink system. Loss of heat sink accident was triggered by the loss of cooling capability of steam generators.  This  accident  sequence  began with the loss of the reactor’s ability to remove heat from the secondary cooling loop. During the accident, the heat dissipation rate decreased whereas the coolant inlet temperatures increased till a new equilibrium level. The analysis results of the accident showed that there are large safety margin to the maximum temperature of the fuel, cladding, and coolant.

  4. DESAIN KONSEPTUAL PERISAI RADIASI REAKTOR RRI-50

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Amir Hamzah

    2015-06-01

    Full Text Available ABSTRAK DESAIN KONSEPTUAL PERISAI RADIASI REAKTOR RRI-50. Salah satu parameter yang harus dipenuhi dalam mendesain reaktor nuklir adalah desain perisai radiasi yang dapat menjamin keamanan dan keselamatan radiasi bagi pekerja dan masyarakat sekitar. Pada penelitian ini dilakukan desain perisai radiasi RRI-50 dengan elemen bakar berjenis U9Mo-Al berkerapatan tinggi dengan tipe pelat sebanyak 21 buah dan berdimensi seperti elemen bakar RSG-GAS tapi panjang aktifnya 70 cm. Konfigurasi teras terdiri dari 16 elemen bakar dan 4 elemen kendali serta 5 posisi iradiasi sehingga membentuk matriks 5 x 5. Tujuan dari penelitian ini adalah mendesain perisai radiasi dan menentukan distribusi laju dosis di daerah kerja dan di lingkungan reaktor RRI-50. Tahapan awal penelitian adalah perhitungan kuat sumber dan inventori bahan radioaktif teras reaktor dengan mensimulasikan operasi 50 MW selama 20 hari tiap siklus menggunakan program ORGEN2.1. Berdasarkan kuat sumber tersebut dan model yang dibuat menggunakan program VisEd, maka dilakukan analisis penentuan parameter perisai radiasi secara iteratif menggunakan program MCNPX. Pada tahap akhir, dilakukan analisis distribusi laju dosis di seluruh ruang di dalam dan di luar gedung reaktor juga menggunakan program MCNPX. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ketinggian permukaan air adalah 1000 cm dan kombinasi 90 cm beton berat dan 60 cm beton biasa dapat digunakan sebagai perisai biologi. Desain perisai tersebut mereduksi laju dosis menjadi 0,05 µSv/jam di Balai Operasi sementara di Balai Eksperimen dan di luar gedung reaktor menjadi 4,2 µSv/jam dan 0,03 µSv/jam pada saat reaktor beroperasi. Hasil penelitian juga menunjukkan pemasagan perisai tambahan setebal 280 cm berjarak 300 cm di depan tabung berkas neutron radial yang terbuka mereduksi laju dosis gamma dan neutron menjadi 3,3 µSv/jam dan 3,1x10-11 µSv/jam. Hasil-hasil penelitian ini menunjukkan bahwa desain perisai radiasi yang dibuat membuat reaktor

  5. Karakterisasi Unjuk Kerja Pompa Sistem Pendingin Primer Reaktor Triga 2000

    OpenAIRE

    Soekodijat, B

    2002-01-01

    KARAKTERISASI UNJUK KERJA POMPA SISTEM PENDINGIN PRIMER REAKTOR TRIGA 2000. Pompa sistem pendingin primer adalah salah satu komponen utama pada sistem pendingin Reaktor TRIGA 2000. Karakteristik unjuk kerja pompa sangat penting diketahui agar pompa dapat dioperasikan dengan baik dan aman. Penelitian dilakukan dengan cara memverifikasi kurva kinerja pompa yang diberikan oleh pabrik. Proses verifikasi dilakukan dengan mengubah-ubah laju alir pompa (dengan cara mengatur besar kecilnya pembukaan ...

  6. REAKTOR INNOVATIVE MOLTEN SALT (IMSR DENGAN SISTEM KESELAMATAN PASIF MENYELURUH

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Andang Widiharto

    2015-04-01

    Full Text Available Pengembangan Teknologi Reaktor Nuklir pada masa mendatang mengarah pada peningkatan aspek keselamatan, peningkatan pendayagunaan bahan bakar, reduksi limbah radioaktif, ketahanan terhadap proliferasi bahan-bakar nuklir dan peningkatan aspek ekonomi. reaktor Innovative Molten Salt (IMSR adalah reaktor nuklir yang menggunakan bahan bakar cair berupa garam lebur fluoride (7LiF-ThF4-UF4-MaFx. Reaktor IMSR didesain sebagai reaktor pembiak termal, yaitu membiakkan U-233 dari Th-232. Hal ini untuk menjawab permasalahan sustainabilitas ketersedian sumber daya bahan bakar nuklir dan reduksi limbah radioaktif. Dalam aspek keselamatan, desain reaktor IMSR memiliki sifat inherent safe, yaitu koefisien umpan balik daya yang negatif serta memiliki fitur-fitur keselamatan pasif. Fitur-fitur keselamatan pasif terdiri dari sistem shutdown pasif, sistem pendinginan pasif pasca shutdown serta sistem pendinginan pasif untuk produk fisi. Kecelakaan yang berpotensi terjadi pada IMSR, yaitu kecelakaan kehilangan aliran bahan bakar, kecelakaan kehilangan aliran pendingin, kecelakaan kehilangan kemampuan pengambilan kalor serta kecelakaan kerusakan integritas sistem reaktor, dapat ditangani sepenuhnya secara pasif hingga mencapai kondisi shutdown selamat. Kata kunci: keselamatan pasif, inherent safe, IMSR   The next Nuclear Reactor Technology developments are directed to the increasing of the aspects of safety, fuel utility, radioactive waste reduction, proliferation retention and economy. Innovative Molten Salt Reactor (IMSR is a nuclear reactor design that uses fluoride molten salt (7LiF-ThF4-UF4-MaFx. IMSR is designed as a thermal breeder reactor, i.e. to produce U-233 from Th-232. This is the answer of natural nuclear fuel sustainability and radioactive waste problems. In term of safety aspect, IMSR design has inherent safe characteristics, i.e. negative power feedback coefficient, and passive safety features. The passive safety features are passive shutdown

  7. ANALISIS PENGENDALIAN DAYA REAKTOR PCMSR DENGAN LAJU ALIR PENDINGIN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Iqbal Syafin Noha

    2015-03-01

    Full Text Available Passive Compact Molten Salt Reactor (PCMSR merupakan pengembangan dari Molten Salt Reactor (MSR yang memiliki karakter berbeda dengan lima reaktor generasi IV lainnya, yaitu menggunakan bahan bakar leburan garam. Pada reaktor MSR, garam lebur tidak digunakan sebagai pendingin tetapi digunakan sebagai medium pembawa bahan bakar. Dengan fase bahan bakar yang berupa garam lebur LiF-BeF2-ThF4-UF4, maka dapat dilakukan pengendalian daya dengan mengatur laju aliran bahan bakar dan pendingin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perubahan laju alir pendingin terhadap daya reaktor PCMSR. Analisis dilakukan dengan empat jenis masukan untuk perubahan laju alir pendingin, yaitu masukan step, ramp, eksponensial, dan sinusoidal. Untuk masukan step, laju alir pendingin dibuat berubah secara mendadak. Selanjutnya untuk masukan ramp dan eksponensal, perubahan laju alir masing-masing dibuat perlahan secara linear dan mengikuti fungsi eksponensial. Kemudian untuk masukan sinusoidal, laju alir berubah naik turun secara periodik dengan memvariasikan frekuensi dari perubahan laju alir tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan laju alir pendingin sebesar 50% dari laju pendingin sebelumnya, menyebabkan daya pada reaktor PCMSR turun sebesar 63% dari daya sebelumnya. Jika terjadi fluktuasi laju aliran pendingin, maka semakin cepat perubahan tersebut, maka respon daya yang diberikan semakin kecil. Pada frekuensi yang sangat cepat, daya reaktor menjadi konstan dan cenderung tidak memiliki respon terhadap laju aliran. Hal ini merupakan salah satu aspek keselamatan reaktor, karena reaktor tidak merespon perubahan yang terlalu cepat. Kemampuan reaktor mengatur daya menyesuaikan laju aliran pendingin merupakan aspek keselamatan lainnya. Kata kunci : PCMSR, pengendalian daya, laju alir pendingin, uji respon   Passive Compact Molten Salt Reactor (PCMSR is the development of Molten Salt Reactor (MSR which has different character from other five

  8. PENGARUH DAYA DAN DURASI OPERASI REAKTOR TERHADAP KONSENTRASI 3H DAN 14C DI AIR SISTEM PENDINGIN PRIMER REAKTOR RSG-GAS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Pande Made Udiyani

    2015-03-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian terhadap pengaruh daya dan durasi operasi reaktor terhadap konsentrasi 3H dan 14C dalam air sistem pendingin primer reaktor RSG-GAS. Keberadaan nuklida 3H dan 14C di dalam air sistem pendingin primer reaktor RSG-GAS merupakan hasil produk fisi dan aktivasi. Nuklida radioaktif ini mempunyai potensi bahaya radiasi interna dan eksterna, karena mempunyai umur paro yang panjang yaitu 12,26 tahun untuk 3H dan 5568 tahun untuk 14C, sehingga mempunyai dampak radiologis yang sangat berarti. Analisis dan pengukuran contoh cuplikan air pendingin primer dilakukan dengan menggunakan alat LSC (Liquid Scintillation Counter. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh daya dan durasi operasi reaktor terhadap konsentrasi nuklida 3H dan 14C dalam air sistem pendingin primer, korelasi konsentrasi kedua nuklida dengan komponen sistem reaktor yang berkaitan dengan penuaan komponen, dan estimasi penerimaan radiasi terhadap pekerja radiasi di reaktor RSG-GAS dalam kaitan dengan keselamatan daerah kerja dan keselamatan personil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya konsentrasi 3H dan 14C di air sistem pendingin primer reaktor RSG-GAS sebanding dengan daya yang dibangkitkan dan durasi operasi reaktor. Pertambahan konsentrasi 3H dan 14C di kolam reaktor RSG-GAS yang pesat setelah lima tahun pertama operasi reaktor diperkirakan karena intensitas pengoperasian reaktor yang tinggi, dan adanya proses akumulasi nuklida yang mempunyai umur paro yang panjang. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk mengkaji keselamatan operasi reaktor, keselamatan personil, keselamatan kerja, dan proses penuaan reaktor. Kata kunci : air pendingin primer, 3H, 14C, reaktor RSG-GAS   The influence of reactor power and operation duration on concentration of 3H and 14C in primary coolant water system RSG-GAS reactor has been studied. The existence of nuclides 3H and 14C in primary coolant system RSG-GAS reactor is a result of fission product and

  9. Fire modeling of the Heiss Dampf Reaktor containment

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Nicolette, V.F. [Sandia National Labs., Albuquerque, NM (United States); Yang, K.T. [Notre Dame Univ., IN (United States)

    1995-09-01

    This report summarizes Sandia National Laboratories` participation in the fire modeling activities for the German Heiss Dampf Reaktor (HDR) containment building, under the sponsorship of the United States Nuclear Regulatory Commission. The purpose of this report is twofold: (1) to summarize Sandia`s participation in the HDR fire modeling efforts and (2) to summarize the results of the international fire modeling community involved in modeling the HDR fire tests. Additional comments, on the state of fire modeling and trends in the international fire modeling community are also included. It is noted that, although the trend internationally in fire modeling is toward the development of the more complex fire field models, each type of fire model has something to contribute to the understanding of fires in nuclear power plants.

  10. INVESTIGASI KARAKTERISTIK TERMOHIDROLIKA TERAS REAKTOR DAYA KECIL DENGAN PENDINGINAN SIRKULASI ALAM MENGGUNAKAN RELAP5

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Susyadi Susyadi

    2016-02-01

    Full Text Available ABSTRAK INVESTIGASI KARAKTERISTIK TERMOHIDROLIKA TERAS REAKTOR DAYA KECIL DENGAN PENDINGINAN SIRKULASI ALAM MENGGUNAKAN RELAP5. Reaktor modular daya-kecil (small modular reactor, SMR memiliki prospek tinggi untuk dibangun di Indonesia. Keluaran dayanya yang relatif kecil dan disainnya yang kompak serta dapat dikonstruksi secara modular memberikan keunggulan fleksibilitas pembangunan yang lebih baik dibanding reaktor konvensional berdaya besar. Disain sistem reaktor kategori ini sangat bervariasi, salah satu diantaranya adalah jenis reaktor air tekan (pressurized water reactor, PWR yang menerapkan sirkulasi alamiah pada sistem pendingin primernya. Selain itu reaktor ini juga memiliki teras (core lebih pendek dibanding PWR konvensional. Dari kedua perbedaan tersebut maka terdapat kemungkinan perbedaan pola perpindahan panas yang dapat berimplikasi terhadap keselamatan secara keseluruhan. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan investigasi terhadap karakteristik termohidrolika teras reaktor tersebut khususnya karakteristik temperatur fluida dan bahan bakar serta laju alir fluidanya. Tujuannya adalah untuk mengetahui perbedaan marjin keselamatan temperatur teras reaktor bila dibanding dengan PWR konvensional. Investigasi dilakukan dengan menggunakan program RELAP5, dimana secara parsial teras reaktor dimodelkan menggunakan model-model generik yang ada pada program dan dilakukan beberapa perhitungan kondisi tunak. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa saat beroperasi pada daya nominalnya, reaktor modular ini memiliki margin temperatur pendidihan sebesar 2K lebih baik dibanding reaktor konvensional. Selain itu, keunggulan marjin keselamatan reaktor modular daya-kecil ini juga ditunjukkan dari naiknya laju alir mengikuti kenaikan dayanya yang berarti memiliki sifat keselamatan yang melekat (inherent safety. Kata kunci: reaktor modular daya-kecil, PWR, sirkulasi alam, RELAP5, termohidrolika   ABSTRACT INVESTIGATION ON CORE THERMAL HYDRAULIC

  11. OPTIMASI DESAIN TERMOHIDROLIKA TERAS DAN SISTEM PENDINGIN REAKTOR RISET INOVATIF DAYA TINGGI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Endiah Puji Hastuti

    2015-10-01

    Full Text Available ABSTRAK OPTIMASI DESAIN TERMOHIDROLIKA TERAS DAN SISTEM PENDINGIN REAKTOR RISET INOVATIF DAYA TINGGI. Implementasi reaktor inovasi telah diterapkan pada berbagai reaktor riset baru yang saat ini sedang dibangun.  Pada saat ini BATAN sedang merancang desain konseptual reaktor riset daya tinggi yang telah masuk pada tahap optimasi desain. Spesifikasi desain konseptual reaktor riset inovatif adalah reaktor tipe kolam berpendingin air dan reflektor D2O. Teras reaktor memiliki kisi 5x5 dengan 16 bahan bakar dan 4 batang kendali. Teras reaktor berada di dalam tabung berisi D2O yang berfungsi sebagai posisi iradiasi. Daya reaktor 50 MW didesain untuk membangkitkan fluks neutron termal sebesar 5x1014 n/cm2s. Teras reaktor berbentuk kompak dan menggunakan bahan bakar U9Mo-Al dengan tingkat muat uranium 7-9 gU/cm3. Desain termohidrolika yang mencakup pemodelan, perhitungan dan analisis kecukupan pendingin dibuat sinergi dengan desain fisika teras agar keselamatan reaktor terjamin. Makalah ini bertujuan menyampaikan hasil analisis perhitungan termohidrolika teras dan sistem reaktor riset inovatif pada kondisi tunak. Analisis dilakukan menggunakan program perhitungan yang telah tervalidasi, masing-masing adalah Caudvap, PARET-ANL, Fluent dan ChemCad 6.4.1. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pembangkitan panas yang tinggi dapat dipindahkan tanpa menyebabkan pendidihan dengan menerapkan desain teras reaktor bertekanan, di samping itu desain awal komponen utama sistem pembuangan panas yang terintegrasi telah dilakukan, sehingga konseptual desain termohidrolika RRI-50 dapat diselesaikan. Kata kunci : reaktor riset inovatif, Caudvap, PARET-ANL, Fluent, ChemCad 6.4.1.   ABSTRACT THERMALHYDRAULIC DESIGN AND COOLING SYSTEM OPTIMIZATION OF THE HIGH POWER INOVATIVE RESEARCH REACTOR. Reactor innovation has been implemented in a variety of new research reactors that currently are being built. At this time BATAN is designing a conceptual design of the high power

  12. PENGARUH KONSENTRASI ZrO2 TERHADAP KORELASI PERPINDAHAN PANAS NANOFLUIDA AIR-ZrO2 UNTUK PENDINGIN REAKTOR

    OpenAIRE

    K.A. Sudjatmi; K. Kamajaya; Efrizon Umar

    2015-01-01

    Sejalan dengan perkembangan konsep keselamatan pasif pada sistem keselamatan PLTN, maka sistem perpindahan panas konveksi alam memegang peranan penting. Pemakaian nanofluid sebagai fluida pendingin pada sistem keselamatan nuklir dapat digunakan pada Sistem Pendingin Teras Darurat dan Sistem Pendingin Pengungkung Luar Reaktor. Beberapa peneliti telah melakukan studi desain konseptual aplikasi nanofluid untuk meningkatkan keselamatan AP1000 dan sistem pendingin teras darurat pada reaktor daya e...

  13. Desain Pengembangan Model Alat Uji Reaktor Nuklir Tipe Small Modular Reactor (Smr) Menggunakan Nanofluida Sebagai Fluida Pendingin

    OpenAIRE

    Dermawan, Erwin; Rasma, Rasma; Diniardi, Ery; Ramadhan, Anwar Ilmar

    2014-01-01

    Perkembangan dan penggunaan energi nuklir saat ini berkembang sangat pesat, untuk mencapaiteknologi yang semakin maju, baik dari segi desain, faktor ekonomi dan juga faktorkeselamatannya. Dari aspek termofluida reaktor nuklir harus dilakukan dengan perhitungan dankondisi yang mendekati sempurna. Termasuk saat ini mulai dikembangkannya reaktor nuklirdengan daya rendah dibawah 300 MW, atau biasa disebut dengan Small Modular Reactor (SMR).Salah satuny...

  14. PEROLEHAN SUHU AIR PENDINGIN PRIMER REAKTOR TRIGA 2000 KETIKA PENAMBAHAN CEROBONG DAN PELAT PENUKAR PANAS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Reinaldy Nazar

    2015-03-01

    Full Text Available Kesinambungan operasi reaktor TRIGA 2000 di antaranya ditentukan oleh suhu bahan bakar dan suhu air pendingin primer. Sebagai contoh pengoperasian reaktor TRIGA 2000 saat ini sulit mencapai daya 2000 kW, karena suhu di pusat elemen bahan bakar di dalam teras reaktor mencapai 675 oC, suhu pendingin primer yang masuk ke teras reaktor mencapai 41,3 oC, suhu pendingin primer yang ke luar dari tangki reaktor mencapai 48,2 oC. Tingginya suhu elemen bahan bakar dan suhu pendingin primer di dalam teras telah meningkatkan pendidihan dan menambah pembentukan gelembung uap di dalam teras reaktor, sehingga menurunkan moderasi neutron oleh pendingin primer di dalam teras dan reaktor tidak mampu mencapai daya 2000 KW. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk menurunkan suhu bahan bakar dan air pendingin primer di dalam teras reaktor TRIGA 2000, di antaranya dengan menempatkan cerobong di atas teras reaktor dan menambah pelat penukar panas. Mengingat studi kasus ini tidak memungkinkan untuk dilakukan secara eksperimen, maka analisis dilakukan melalui kajian teoritik menggunakan program komputer CFD. Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan diketahui bahwa dengan menambah tinggi cerobong menjadi 2 m, pelat penukar panas menjadi 384 lembar, laju alir pendingin primer 950 gpm, dan laju alir pendingin sekunder menjadi 1200 gpm, mampu menurunkan suhu pendingin primer yang ke luar dari penukar panas atau suhu pendingin primer yang masuk ke teras reaktor menjadi 30,48 oC. Jika kondisi ini digunakan tentunya akan menurunkan suhu maksimum kelongsong bahan bakar, dan suhu pendingin primer di dalam teras, sehingga akan mengurangi pendidihan di dalam teras reaktor, meskipun hal ini akan menaikkan konsentrasi N-16 di permukaan tangki reaktor menjadi 49,41%. Kata kunci: cerobong, pelat penukar panas, suhu bahan bakar, suhu pendingin primer.   Continuation of the TRIGA 2000 reactor operation is determined by the fuel and primary cooling water temperature. For

  15. DESAIN KONSEPTUAL TERAS REAKTOR RISET INOVATIF BERBAHAN BAKAR URANIUM MOLIBDENUM DARI ASPEK NEUTRONIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tukiran Surbakti

    2015-03-01

    Full Text Available Manfaat yang luas dari penggunaan reaktor riset membuat banyak negara membangun reaktor riset baru. Kecenderungan saat ini adalah reaktor tipe reaktor serbaguna (MPR dengan teras yang kompak untuk mendapatkan fluks neutron yang tinggi dengan daya yang relatif sedang atau rendah. Reaktor riset yang ada di Indonesia yang paling muda usianya sudah berumur 25 tahun. Oleh karena itu diperlukan desain reaktor riset baru sebagai alternatif, disebut reaktor riset inovatif (RRI, kelak pengganti reaktor riset yang sudah ada. Tujuan dari riset ini mendapatkan konfigurasi teras setimbang reaktor riset yang optimal dengan kriteria memiliki fluks neutron termal minimum sebesar 2,5x1014 n/cm2 s pada daya 20 MW (minimum, memiliki panjang operasi satu siklus lebih dari 40 hari dan penggunaan bahan bakar yang paling efisien. Desain neutronik dilakukan untuk bahan bakar baru U-9Mo-Al dengan kerapatan bervariasi dan jenis reflektor yang bervariasi. Desain dilakukan dengan paket program WIMSD-5B dan BATAN-FUEL. Hasil desain konseptual menyajikan 4 konfigurasi teras yaitu 5×5, 5×7, 6×5 dan 6×6. Hasil optimasi menunjukkan bahwa teras setimbang reaktor RRI dengan konfigurasi 5×5, tingkat muat 235U sebesar 450 g, reflektor berilium, fluks neutron termal maksimum di daerah reflektor sebesar 3,33×1014 neutron cm-2s-1 dan panjang siklus 57 hari merupakan desain teras reaktor riset inovatif yang paling optimal. Kata kunci: desain konseptual, bahan bakar uranium-molibdenum,berilium, D2O, WIMS, BATAN-FUEL   The multipurpose of research reactor utilization make many countries build the new research reactor. Trend of this reactor for this moment is multipurpose reactor type with a compact core to get high neutron flux at the low or medium level of power. The research newest reactor in Indonesia right now is already 25 year old. Therefore, it is needed to design a new research reactor, called innovative research reactor (IRR and then as an alternative to replace the old

  16. PENINGKATAN KINERJA SISTEM KESELAMATAN PASIF PADA REAKTOR NUKLIR DENGAN PENAMBAHAN KOMPONEN RVACS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A. G. Abdullah

    2014-07-01

    Full Text Available Kelengkapan sistem keselamatan pasif dan inheren pada reaktor lanjut merupakan prasyarat utama. Makalah ini mengeksplorasi hasil desain konseptual sistem pembuang sisa panas pada pusat listrik tenaga nuklir berjenis Very High-Temperature Reactor. Tujuan riset ini untuk merancang sistem pembuang sisa panas pusat listrik tenaga nuklir yang terdapat pada dinding reaktor. Studi kinerja Reactor Vessel Auxliary Cooling System (RVACS dilakukan pada dua jenis pendingin yaitu Timbal-Bismut dan Liquid Salt. Panas dari dinding reaktor dihapus melalui sirkulasi alamiah pada keadaan tunak. Analisis melibatkan sistem perpindahan panas secara radiasi, konduksi dan konveksi alami. Perhitungan perpindahan panas dilakukan pada elemen reaktor vessel, dinding luar guard vessel, dan pelat pemisah. Hasil analisis kecelakaan menunjukkan kedua jenis sistem pendingin reaktor dan sistem pasif sisa pembuangan panas cukup menghapus sisa panas hasil peluruhan dengan sirkulasi alami.ABSTRACTCompleteness of passive safety systems and inherent in advanced reactors is a major prerequisite. This paper explores the results of a conceptual design of the heat removal system at the nuclear power plant (NPP type Very High-Temperature Reactor. The purpose of this research was to design the reactor vessel auxiliary cooling system (RVACS of NPP located within the reactor walls. The RVACS performance study was conducted on two types of coolant: Lead-Bismuth and Liquid Salt. Heat was removed from the reactor vessel through the natural circulation in the steady state. Analyses of heat transfer systems involved radiation, conduction and natural convection. Heat transfer calculations were performed on the reactor vessel, guard vessel, and perforated plate. The results from the accident analysis showed that both types, the reactor coolant system and the passive residual heat removal system, adequately remove remaining heat of the decay by a natural circulation.

  17. Pengembangan Reaktor Fotokatalitik Rotating Drum untuk Pengolahan Air Limbah Industri Tekstil

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Cholid Syahroni

    2015-11-01

    Full Text Available Reaksi oksidasi fotokatalitik memiliki potensi untuk mendegradasi senyawa organik hingga tingkat mineralisasi, sehingga tidak meninggalkan residu (sludge. Penelitian ini bertujuan membuat reaktor fotokatalitik rotating drum dan mengaplikasikan pada industri tekstil. Langkah percobaan meliputi pembuatan katalis TiO2 secara anodizing serta karakterisasi dengan XRD dan SEM, pembuatan reaktor fotokatalitik  rotating drum dan uji coba degradasi air limbah industri tekstil. Proses anodizing dilakukan dengan bias potensial sebesar 40 volt selama 2 jam menggunakan elektrolit etilen glikol yang mengandung amonium fluorida dan air. Uji karakterisasi secara XRD dan SEM menunjukkan bahwa struktur kristal TiO2 adalah anatase dengan ukuran kristalit 8–19 nm. Bentuk kristal nanotube, dengan diameter 30–110 nm. Hasil uji coba menunjukkan bahwa  degradasi secara fotokatalitik dengan penambahan H2O2 0,15% terhadap air limbah bisa menurunkan COD 72,12% dalam waktu 2 jam. 

  18. PENGARUH PROSES PENGINTEGRASIAN PANAS TERHADAP KONVERSI AMONIAK PADA INTERCOOLER REAKTOR AMONIAK DENGAN ANALISIS EKSERGI DAN PINCH

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muhammad Djoni Bustan

    2012-02-01

    Full Text Available Amoniak merupakan salah satu senyawa penting yang banyak digunakan dalam industri kimia sebagai bahan baku dan produk. Salah satu unit pabrik amoniak yang dikaji membutuhkan gas alam sebesar 13.627 MMBTU sebagai bahan bakar (fuel dan 24.570 MMBTU sebagai bahan baku untuk memproduksi 1 ton amoniak cair. Belum optimalnya sistim pendinginan antar unggun (bed dan belum maksimalnya pemanfaatan panas hasil reaksi di reaktor amoniak menyebabkan konversi reaksi masih rendah. Analisis eksergi yang merupakan kombinasi antara Hukum Termodinamika I dan II,  digunakan untuk mengetahui titik- titik kehilangan panas yang paling tinggi, yaitu pada bed 1, bed 2, dan bed 3. Analisis pinch yang diterapkan pada reaktor tersebut dapat dibuat suatu sistem jaringan alat penukar panas yang baru pada ammonia converter, sehingga diperoleh konversi yang lebih baik.

  19. ANALISIS POLA MANAJEMEN BAHAN BAKAR DESAIN TERAS REAKTOR RISET TIPE MTR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lily Suparlina

    2015-03-01

    Full Text Available Parameter neutronik dibutuhkan dalam mendesain teras reaktor riset. Reaktor riset jenis MTR (Material Testing Reactor sangat diminati karena dapat digunakan baik untuk riset dan juga produksi radio isotop. Reaktor riset yang ada saat ini sudah tua sehingga dibutuhkan desain reaktor yang mempunyai teras kompak. Desain teras reaktor riset yang sudah ada saat ini belum cukup memadai untuk memenuhi persyaratan di dalam UCD yang telah ditetapkan yaitu fluks neutron termal di teras 1x1015 n/cm2s, oleh karena itu perlu dibuat desain teras reaktor baru sebagai alternatif yang kompak dan dapat menghasilkan fluks neutron tinggi. Telah dilakukan perhitungan dan analisis terhadap manajemen bahan bakar desain teras kompak dengan konfigurasi teras 5x5, berbahan bakar U9Mo-Al dan tinggi teras aktif 70 cm. Tujuan dari riset ini untuk memperoleh fluks neutron di teras memenuhi kebutuhan seperti yang telah ditetapkan di UCD dengan panjang siklus operasi minimum 20 hari pada daya 50 MW. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan paket program komputer WIMSD-5B untuk menggenerasi tampang lintang makroskopik bahan bakar dan Batan-FUEL untuk memperoleh nilai parameter neutronik serta Batan-3DIFF untuk perhitungan nilai reaktivitas batang kendali. Perhitungan parameter neutronik teras reaktor riset ini dilakukan untuk bahan bakar U-9Mo-Al dengan tingkat muat bervariasi dan 2 macam pola pergantian bahan bakar yaitu teras segar dan teras setimbang. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada teras segar, tingkat muat 235U sebesar 360 gram, 390 gram dan 450 gram memenuhi kriteria keselamatan dan kriteria penerimaan di UCD dengan nilai fluks neutron termal di teras lebih dari 1x1015 n/cm2s dan panjang siklus >20 hari, sedangkan pada teras setimbang panjang siklus dapat terpenuhi hanya untuk tingkat muat 450 gram. Kata kunci: desain teras reaktor, bahan bakar UMo, pola bahan bakar, WIMS, BATAN-FUEL   Research reactor core design needs neutronics parameter calculation use computer

  20. KARAKTERISASI RADIONUKLIDA PADA TIAP SUB-SISTEM KESELAMATAN REAKTOR DAYA BERBAHAN BAKAR MOX

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Pande Made Udiyani

    2015-04-01

    Full Text Available Pengganti Bahan bakar UO2, yang tergolong uranium pengkayaan rendah, adalah bahan bakar MOX yang mempunyai pengkayaan yang lebih tinggi. Bahan bakar MOX mempunyai kandungan plutonium dan nuklida dari golongan aktinida yang lebih tinggi dibandingkan bahan bakar UO2, yang akan menghasilkan karakteristik radionuklida yang berbeda untuk setiap sub-sistem reaktor daya. Analisis radionuklida untuk setiap sub-sistem keselamatan pada reaktor daya berbahan bakar MOX dilakukan untuk mengetahui karakteristik radionuklida khususnya plutonium dan aktinida yang akan menimbulkan dampak radiasi dari lepasan radionuklida tersebut. Analisis dilakukan dengan cara menghitung dan mengamati radionuklida untuk setiap sub-sistem keselamatan pada operasi normal dan kecelakaan (small LOCA, large LOCA, severe accident untuk reaktor PWR berkapasitas 1000 MWe. Disimpulkan bahwa penggunaan bahan bakar MOX dapat menambah konsekuensi radiologis ke lingkungan dan masyarakat, terutama karena inventori yang lebih besar termasuk dari radionuklida transuranic dan dari golongan aktinida, antara lain: Pu-239, Am-241, Cm-242, Pu-240, Pu-241 dan Pu-242. Kata kunci: karakteristik nuklida, reaktor daya, bahan bakar, MOX   Substitute UO2 fuel that low enrichment of uranium is that MOX fuel has a higher enrichment. MOX fuel has a content of plutonium and actinide nuclides a higher than UO2 fuel, which will produce different characteristics of radionuclides for each sub-system of power reactors. Analyzis of radionuclide for each safety sub-system at MOX power reactor aims to determine the characteristics of radionuclides, especially plutonium and actinides consequences. Analyzis has done by calculating and observing the radionuclide for each safety sub-system in normal operation and accident (small LOCA, large LOCA, and severe accident on PWR-1000 reactors. It can concluded that the use of MOX fuel can add to the radiological consequences to the environment and public, mainly because a

  1. STUDI KARAKTERISTIK PEMBENTUKAN UAP DALAM PEMBANGKIT UAP HELIKAL PADA REAKTOR MODULAR DAYA KECIL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Susyadi Susyadi

    2015-06-01

    Full Text Available Reaktor modular daya kecil (SMR sangat cocok untuk  dibangun Indonesia, terutama pada lokasi-lokasi dengan kapasitas jaringan listrik yang rendah sehingga investigasi lebih jauh tentang reaktor ini sangat diperlukan. Umumnya SMR memiliki bentuk pembangkit uap yang kompak dan terintegrasi di dalam bejana tekan. Disain tersebut menyebabkan perbedaan pendekatan dalam memproduksi uap dibandingkan reaktor nuklir konvensional yang menggunakan pembangkit uap tabung-u terbalik. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik uap dan pola pembentukkannya di dalam pembangkit uap tipe helikal yang banyak digunakan oleh SMR. Metoda yang dipakai adalah dengan melakukan pemodelan dan perhitungan numerik menggunakan program RELAP5. Dalam pemodelan, aliran air umpan  bertekanan dan temperatur rendah dimasukkan ke dalam tabung helikal sementara aliran fluida bertekanan dan temperatur tinggi, yang mewakili pendingin sistem primer reaktor, berada di sisi luar tabung. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa uap yang dihasilkan oleh pembangkit uap helikal bersifat lewat jenuh yakni sekitar 25 K di atas titik jenuhnya. Hal ini memberikan keunggulan komparatif dari segi disain dan operasional pada SMR dibanding reaktor konvensional karena uap lewat jenuh yang dihasilkan dapat mengurangi kerugian turbin dan sekaligus meningkatkan efisiensi termodinamika. Kata kunci: pembangkit uap helikal, SMR, PWR, uap lewat jenuh, RELAP5   Small modular reactor (SMR is very suitable to be deployed in Indonesia especially for locations having low electrical grid capacity, so  further investigation on the characteritic of this reactor is needed. In general SMR has a compact and integrated-to-vessel steam generator design. This design implies different approach in producing steam as compared to conventional nuclear power plant  having inverted u-tube steam generator. For that reason, this research is intended to investigate the steam characteristic and

  2. PERHITUNGAN SUHU ELEMEN BAKAR REAKTOR TRIGA 2000 DALAM TABUNG SIPPING TEST MENGGUNAKAN CFD

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    K.A. Sudjatmi

    2015-03-01

    Full Text Available Telah dihitung suhu elemen bakar pada perangkat sipping test reaktor TRIGA 2000 Bandung. Perhitungan perlu dilakukan untuk memastikan bahwa suhu elemen bakar masih dibawah atau pada batas suhu elemen bakar yang diizinkan pada saat reaktor beroperasi, sehingga dapat dipastikan bahwa pada pelaksanaan pengujian dengan menggunakan perangkat ini, suhu masih dalam batas keselamatan. Perhitungan dilakukan dengan membuat model tabung sipping test berisi elemen bakar yang dikelilingi oleh 9 buah elemen bakar, sesuai dengan posisi tabung sipping test di teras reaktor, dengan menggunakan GAMBIT. Dimensi model disesuaikan dengan dimensi tabung dan elemen bakar dalam teras reaktor TRIGA 2000 Bandung. Pengoperasian sipping test untuk tiap elemen bakar dilakukan selama 30 menit pada daya 300 kW. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Computational Fluid Dynamics (CFD dan sebagai inputan disesuaikan dengan parameter reaktor TRIGA 2000. Simulasi dilakukan pada pengoperasian dari 30, 60, 90, 120 150, 180 sampai 210 menit. Hasil perhitungan menunjukan bahwa suhu pusat bahan bakar dalam tabung sipping test sebesar 236,06 oC, sedangkan suhu dinding elemen bakar adalah sebesar 87,58 oC. Suhu maksimum pusat bahan bakar reaktor TRIGA 2000 pada operasi normal adalah 650 oC, dan tidak diizinkan terjadinya pendidihan di dalam teras reaktor. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengoperasian perangkat sipping test masih sangat aman karena suhu bahan bakar berada dibawah batasan suhu bahan bakar yang diizinkan pada kondisi operasi normal demikian juga suhu dinding elemen bakar masih dibawah suhu didih air. Kata kunci: sipping test, TRIGA, elemen bakar, CFD   It has been calculated the fuel element temperature in the sipping test of Bandung TRIGA 2000 reactor. The calculation needs to be done to ascertain that the fuel element temperatures are below or at the limit of the allowable temperature fuel elements during reactor operation, ensuring that the

  3. Studi Fleksibilitas dan Posibilitas Daur Bahan Bakar Reaktor Temperatur Tinggi (HTR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hery Adrial

    2017-03-01

    Full Text Available Dewasa ini sejumlah institusi riset di dunia sedang mengembangkan teknologi reaktor temperatur tinggi (HTR melalui berbagai program seperti PUMA, RAPHAEL, ANTARES, dll. Tujuan dari program ini adalah untuk mengembangkan HTR versi demontrasi dan komersial. HTR merupakan reaktor berpendingin gas temperatur tinggi, bermoderator grafit dengan spektrum neutron termal dan temperatur outlet teras hingga 1.000oC. Fasilitas energi ini dapat mencapai efisiensi termodinamika yang cukup tinggi (~80% dengan kapabilitas generasi listrik dan produksi hidrogen. Makalah ini membahas fleksibilitas dan posibilitas daur bahan bakar HTR yang meliputi serangkaian daur bahan bakar komprehensif. Dikategorikan ke dalam 4 kelompok, yaitu daur bahan bakar uranium pengkayaan rendah (LEU, daur bahan bakar MOX, daur bahan bakar hanya plutonium dan daur bahan bakar berbasis thorium, daur bahan bakar HTR dievaluasi secara sistematis. Makalah ini juga mendiskusikan pertimbangan pemilihan daur bahan bakar untuk sejumlah HTR yang telah dioperasikan seperti AVR dan THTR Jerman, Peach Bottom dan Fort Saint Vrain USA, DRAGON Inggris, dll., dan yang sedang dalam proses desain seperti HTR AREVA Perancis, PBMR Afrika Selatan, dll. Hasil diskusi menyimpulkan bahwa daur LEU layak dipilih sebagai daur referensi untuk proyek HTR masa kini dan masa yang akan datang.

  4. ANALISIS KONVEKSI ALAM TERAS REAKTOR TRIGA BERBAHAN BAKAR TIPE PELAT MENGGUNAKAN COOLOD-N2

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sudjatmi K A

    2015-06-01

    Full Text Available ABSTRAK Analisis Konveksi Alam Teras Reaktor Triga Berbahan Bakar Tipe Pelat MENGGUNAKAN COOLOD-N2. Rencana penghentian produksi elemen bakar jenis TRIGA oleh produsen elemen bakar reaktor TRIGA, sudah seharusnya diantisipasi oleh badan pengoperasi reaktor TRIGA untuk menggantikan elemen bakar tipe silinder tersebut dengan tipe pelat yang tersedia di pasaran. Pada penelitian ini dilakukan perhitungan untuk model teras reaktor dengan spesifikasi utama menggunakan bahan bakar U3Si2Al dengan pengayaan uranium  sebesar 19,75% dan tingkat muat 2,96 gU/cm3. Analisis dilakukan menggunakan program COOLOD-N2 yang tervalidasi pada konfigurasi teras TRIGA konversi berbahan bakar tipe pelat, yang tersusun atas 16 elemen bakar, 4 elemen kendali dan 1 fasilitas iradiasi yang terletak tepat di tengah teras. Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan temperatur pendingin masuk ke teras sebesar 37oC, dan rasio faktor puncak daya radial ≤ 1,92 maka daya maksimum yang dapat dioperasikan pada moda operasi konveksi bebas adalah 600 kW. Karakteristik termohidrolika yang diperoleh antara lain adalah temperatur pendingin di sisi outlet, kelongsong dan meat masing-masing sebesar 82,39oC, 108,88oC, dan 109,02oC, pada ΔTONB (Temperature Onset of Nucleate Boiling =7,18oC dan nilai OFIR (Onset of flow instability ratio =1,03 Hasil yang diperoleh dari perhitungan ini diharapkan dapat dijadikan acuan untuk menentukan tingkat daya reaktor TRIGA berbahan bakar pelat. Kata kunci: TRIGA Konversi, COOLOD-N2, karakteristik termohidrolika, konveksi alam, elemen bakar tipe pelat.   ABSTRACT ANALYSIS OF NATURAL CONVECTION IN TRIGA REACTOR CORE PLATE TYPES FUELED USING COOLOD-N2. Any pretensions to stop the production of TRIGA fuel elements by TRIGA reactor fuel elements manufacturer should be anticipated by the operating agency of TRIGA reactor to replace the cylinder type fuel element with plate type fuel element that available on the market. In this study, the calculation of U3Si2

  5. ANALISIS DESAIN PROSES SISTEM PENDINGIN PADA REAKTOR RISET INOVATIF 50 MW

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sukmanto Dibyo

    2015-03-01

    Full Text Available Reaktor Riset Inovatif (RRI merupakan jenis MTR (Material Testing Reactor yang dipersiapkan ke depan sebagai desain reaktor baru. Daya RRI telah ditetapkan dari perhitungan neutronik dan termohidrolika teras yaitu 50 MW termal. Reaktor bertekanan 8 kgf/cm2 dan laju aliran massa pendingin primer 900 kg/s. Tantangan yang penting dalam menindak lanjuti desain reaktor ini adalah analisis desain pada sistem pendingin. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis desain proses sistem pendingin utama reaktor RRI daya 50 MW (RRI-50 dengan menggunakan program Chemcad 6.1.4. Dalam analisis ini dilakukan perhitungan neraca massa dan energi (mass/energy balances pada sistem pendingin primer dan sekunder sebagai pendingin utama. Masing-masing sistem pendingin tersebut terdiri dari 2 jalur beroperasi secara paralel dan 1 jalur redundansi. Disamping itu untuk desain termal unit komponen telah dianalisis dengan program RELAP5, frenchcreek dan Metoda Analitik. Hasil analisis yang diperoleh adalah desain diagram sistem pendingin yang mencakup data parameter entalpi, temperatur, tekanan dan laju aliran massa pendingin untuk masing-masing jalur. Adapun hasil desain unit komponen utama pada RRI-50 adalah tangki tunda dengan volume 51,5 m3, 2 unit pompa sentrifugal dan 1 unit pompa cadangan pada pendingin primer daya 141 kW/pompa dan pendingin sekunder daya 206 kW/pompa, 2 unit penukar panas tipe shell-tube dengan koefisien termal overall 1377 W/m2.oC dan 4 unit menara pendingin yang mampu melepaskan panas ke udara dengan desain temperatur approach 5,0 oC dan temperatur range 9,0 oC. Desain sistem pendingin reaktor RRI-50 ini telah menetapkan parameter operasi sistem pendingin yaitu temperatur, tekanan dan laju aliran massa pendingin dengan mempertimbangkan tuntutan aspek keselamatan teras reaktor sehingga desain temperatur maksimum pendingin masuk ke teras 44,5 oC. Kata kunci : RRI 50 MW, desain sistem pendingin, program Chemcad 6.1.4   Innovative Research Reactor RRI

  6. ANALISIS PARAMETER KINETIK DAN TRANSIEN TERAS KOMPAK REAKTOR RSG-GAS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Iman Kuntoro

    2015-04-01

    Full Text Available Dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar reaktor RSG-GAS telah dilakukan studi penentuan teras kompak. Hasil perhitungan parameter neutronik menunjukkan bahwa teras kompak dengan menutup empat fasilitas iradiasi (IP dengan elemen bakar dapat meningkatkan siklus operasi 23,6 %. Selanjutnya perlu dilakukan penentuan parameter kinetik dan analisis transien teras kompak untuk mengetahui keselamatan operasi reaktor. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan program WIMS/D4 untuk generasi konstanta difusi sel elemen bakar dan MTRDYN untuk menentukan parameter kinetik dan analisis transien. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa harga fraksi neutron kasip total teras kompak naik 2 % dan umur neutron serempak turun 8,3 % dibandingkan dengan teras setimbang. Temperatur maksimum bahan bakar saat transien pada daya awal 1 W adalah 71,64 0C dan pada daya 1 MW adalah 129,60 0C. Hasil ini menunjukkan bahwa teras kompak RSG-GAS aman digunakan sebagai teras alternatif. Kata kunci: parameter kinetik, transien, reaktor   For increasing the efficiency of fuel element of the RSG-GAS reactor, some alternative configuration has been searched to obtain a compact core configuration. Calculation result of the neutronics parameters that the compact core with insertion fuel element to all irradiation facility (IP can increase operation cycle length to about 23.6 %. Then, it is necessary to calculate the kinetic parameters and transient analysis of the compact core to verify the reactor operation safety. Calculations were performed by means of WIMS/D4 and MTRDYN code for generation of cell diffusion constants and for kinetic parameters and transient analysis respectively. The result showed that the total delayed neutron fraction of compact core increases by 2 % and the prompt neutron lifetime decreases 8.3 % compared to the equilibrium core. Maximum temperature of the fuel element at transient at initial power of 1 W is 71.64 0C and at the power 1 MW is 126

  7. Isotopic composition of precipitation at the station Ljubljana (Reaktor, Slovenia – period 2007–2010

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Polona Vreča

    2014-12-01

    Full Text Available The stable isotopic composition of hydrogen and oxygen (δ2H and δ18O and the tritium activity (A were monitored in monthly collected precipitation at Ljubljana (Reaktor during the period 2007–2010. Monthly and yearly isotope variations are discussed and compared with those observed over the period 1981–2006 and with the basic meteorological parameters for Ljubljana (Bežigrad and Ljubljana (Hrastje stations for the period 2007−2010. The mean values for δ2H and δ18O, weighted by precipitation amount at Ljubljana (Reaktor, are –59.4 ‰ and –8.71 ‰. The reduced major axis local meteoric water line (LMWLRMA is δ2H = (8.19 ± 0.22×δ18O + (11.52 ± 1.97, while the precipitation weighted least square regression results in LMWLPWLSR-Re δ2H = (7.94 ± 0.21×δ18O + (9.76 ± 1.93. The lack of significant difference in the LMWL slopes indicates a relatively homogeneous distribution of monthly precipitation as well as the small number of low-amount monthly precipitation events with low deuterium excess. The deuterium excess weighted mean value is 10.3 ‰ which indicates the prevailing influence of the Atlantic air masses. The temperature coefficient of δ18O is 0.30 ‰/°C. Tritium activity in monthly precipitation shows typical seasonal variations, with a weighted mean tritium activity in this period of 8.5 TU. No decrease of mean annual activity is observed.

  8. Disain Sistem Pemantauan Lingkungan Untuk Evaluasi Lepasan Radionuklida dari Subsistem pada Kecelakaan Reaktor Daya PWR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Kuntjoro

    2013-03-01

    Full Text Available PLTN. (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir sebagai sumber energi baru dipilih sebagai alternatif, karena memiliki berbagai kelebihan yaitu ramah lingkungan, pasokan bahan bakar yang tidak bergantung musim, serta harganya yang dapat bersaing dengan pembangkit listrik yang lain. Namun demikian, adanya keraguan sebagian masyarakat tentang keselamatan radiasi PLTN, maka pemerintah harus bisa meyakinkan tentang operasi PLTN yang aman dan selamat. Penelitian tentang disain sistem pemantauan lingkungan untuk evaluasi lepasan radionuklida dari subsistem reaktor dan lingkungan akibat terjadinya kecelakaan pada reaktor daya telah dilakukan. Penelitian dilakukan dengan melakukan perhitungan sebaran radionuklida ke subsistem dan lingkungan serta membuat sistim monitoring radiasi di lingkungan. Sistem monitoring lingkungan terdiri dari system pencacah radiasi, sistem peringatan dini, sistem pengukuran meteorologi, sistem GPS dan system GIS. Sistem pencacah radiasi digunakan untuk mencatat data radiasi, sistem pengukuran meteorologi digunakan untuk mencatat data arah dan kecepatan angin, sedangkan sistem GPS digunakan untuk menentukan data posisi pengukuran. Data tersebut kemudian dikirimkan ke system akuisisi data untuk ditransmisikan ke pusat kendali. Pengumpulan dan pengiriman data dilakukan melalui SMS menggunakan perangkat modem yang ditempatkan di ruang kendali. Ruang kendali menerima data dari berbagai tempat pengukuran. Dalam hal ini ruang kendali memiliki fungsi sebagai SMS gateway. Sistem ini dapat memvisualisasi untuk lokasi pengukuran yang berbeda. Selanjutnya, data posisi dan data radiasi diintegrasikan dengan peta digital. Integrasi sistem tersebut kemudian divisualisasikan dalam personal komputer. Untuk posisi pengukuran terlihat langsung di peta dan untuk data radiasi ditampilkan di monitor dengan tanda lingkaran merah atau hijau yang digunakan sebagai pemonitor batas aman radiasi. Bila tanda lingkaran berwarna merah maka akan menyalakan alarm di

  9. PENGARUH GEMPA PATAHAN LEMBANG TERHADAP FLEKSIBILITAS PIPA DAN KEGAGALAN NOZEL PERALATAN SISTEM PENDINGIN PRIMER REAKTOR TRIGA 2000 BANDUNG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    H.P. Raharjo

    2012-02-01

    Full Text Available Gempa bumi di suatu instalasi nuklir dapat menyebabkan terjadinya kerusakan sistem peralatan karena adanya perubahan fleksibilitas pipa akibat beban berlebih pada sistem perpipaannya. Beban dari sistem perpipaan dapat membebani nozel peralatan seperti pompa, penukar panas, dll. Apabila beban tersebut terlalu besar dan melebihi beban yang diizinkan akan mengakibatkan kegagalan nozel peralatan. Penelitian ini menganalisis besarnya beban-beban yang terjadi di semua nozel  sistem pendingin primer Reaktor TRIGA 2000 Bandung. Analisis dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Caesar II yang berbasis metode elemen hingga (finite element method. Acuan analisis yang digunakan adalah code ASME B31.1 yang mengatur tentang perancangan sistem perpipaan untuk sistem pembangkit daya (Power Piping. Hasil analisis menunjukkan bahwa gaya yang terjadi pada nozel masukan pompa arah aksial (FZ melebihi batas yang diijinkan. Oleh karena itu perlu dilakukan modifikasi terhadap jalur perpipaan sistem pendingin tersebut agar nozel tidak menerima gaya yang berlebih. Penyangga pipa titik(node 22 di jalur PriOut dilepas dan/atau dipindahkan pada nozel masukkan pompa. Perpipaan sistem pendingin primer reaktor TRIGA 2000 Bandung akan aman beroperasi jika terjadi gempa.yang berasal dari patahan Lembang Kata kunci : gempa bumi, patahan, perpipaan, reaktor, sistem pendingin

  10. PEMBUATAN SERBUK U-6Zr DENGAN PENGKAYAAN URANIUM 19,75 % UNTUK BAHAN BAKAR REAKTOR RISET

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Masrukan Masrukan

    2016-03-01

    Full Text Available ABSTRAK PEMBUATAN SERBUK PADUAN U-6Zr DENGAN PENGKAYAAN URANIUM 19,75 % UNTUK BAHAN BAKAR REAKTOR RISET. Telah dilakukan pembuatan serbuk paduan U-6Zr dengan pengkayaan 19,75 % untuk bahan bakar reaktor riset. Pembuatan bahan bakar U-6Zr ini dalam rangka mencari bahan bakar baru yang mempunyai densitas tinggi untuk mengganti bahan bakar yang sudah ada U3Si2-Al. Tujuan dari percobaan ini untuk mengetahui sifat-sifat serbuk paduan U- 6Zr yang diperoleh dari proses hydriding-dehydriding sebagai kandidat bahan bakar reaktor riset. Serbuk yang diperoleh dari proses hydriding-dehydriding dikenai pengujian, diantaranya pungujian komposisi kimia, densitas, kandungan hidrogen, fasa dan sifat termal. Hasil pengujian komposisi kimia menunjukkan beberapa unsur seperti Al, Ca, Cu, dan Ni melebihi batas yang diijinkan dimana masing-masing unsur terdapat sebesar 202,21 ppm; 214,05 ppm; 61,25 ppm dan 134,53 ppm. Pada pengujian diperolah densitas serbuk U-6Zr sebesar 13,58 g/cm3 dan pada pengujian kandungan hidrogen sisa diperoleh kandungan hidrogen sebesar 0,16 %. Untuk pengujian fasa, diperoleh fasa αU dan δU, sedangkan pada pengujian sifat termal yakni transformasi temperatur terdapat dua puncak yakni puncak pertama terjadi pada temperatur 274 hingga 311 oC dan puncak kedua terjadi pada temperatur 493 hingga 527oC. Puncak pertama terjadi reaksi endotermik dengan menyerap panas sebesar ∆H = 6,23 cal/g tetapi tidak terbentuk fasa baru, sedangkan puncak kedua terjadi reaksi eksotermik dengan mengeluarkan panas sebesar ∆H = -9.34 cal/g dan terbentuk fasa αZr. Sementara itu, dari pengujian kapasitas panas pada temperatur 34 hingga 75 oC, terjadinya penurunan nilai kapasitas panas yang disertai dengan penyerapan panas. Pada temperatur yang lebih tinggi hingga temperatur 437oC nilai kapasitas panas menjadi lebih kecil disertai pengeluaran panas. Reaksi termokimia antara Zr dengan hidrogen sisa menunjukkan terbentuknya fasa αZr yang diindikasikan oleh reaksi

  11. PENGEMBANGAN MODEL UNTUK SIMULASI KESELAMATAN REAKTOR PWR 1000 MWe GENERASI III+ MENGGUNAKAN PROGRAM KOMPUTER RELAP5

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Andi Sofrany Ekariansyah

    2015-04-01

    Full Text Available Reaktor daya PWR AP1000 yang didesain oleh Westinghouse adalah reaktor Generasi III+ pertama yang telah menerima persetujuan desain dari U.S. Nuclear Regulatory Commission (NRC. Saat ini utilitas China telah memulai pembangunan beberapa unit AP1000 di dua tapak terpilih untuk rencana operasi pada 2013-2015. AP1000 sebagai desain PWR berdasarkan teknologi teruji dari desain PWR lainnya yang dibuat oleh Westinghouse dengan penguatan pada sistem keselamatan pasif dengan demikian dapat dipertimbangkan untuk dibangun di Indonesia bila mengacu pada persyaratan pada PP 43/2006 mengenai Perijinan Reaktor Nuklir. Namun demikian, desain tersebut perlu diverifikasi oleh Technical Support Organization (TSO independen sebelum dapat dibangun di Indonesia. Verifikasi dapat dilakukan menggunakan paket program RELAP5 dalam bentuk analisis kecelakaan. Selama ini analisis kecelakaan PLTN dilakukan untuk tipe PWR 1000 MWe dari generasi II atau tipe konvensional. Mengingat saat ini referensi yang menggambarkan teknologi AP1000 yang menyertakan teknologi keselamatan pasif sudah tersedia maka dilakukan kegiatan pemodelan yang nantinya dapat digunakan untuk melakukan analisis kecelakaan. Metode pengembangan model mengacu pada pedoman IAEA yang terdiri dari pengumpulan data instalasi, pengembangan engineering data dan penyusunan input deck, verifikasi dan validasi data input. Model yang berhasil dikembangkan secara umum telah mewakili sistem AP1000 secara keseluruhan dan dianggap sebagai model dasar. Model tersebut telah diverifikasi dan divalidasi dengan data desain yang terdapat pada referensi dimana respon parameter termohidraulika menunjukkan perbedaan hasil ± 3% selain untuk parameter penurunan tekanan teras yang lebih rendah 13%. Sebagai model dasar, input deck yang diperoleh dapat dikembangkan lebih lanjut dengan mengintegrasikan pemodelan sistem keselamatan, sistem proteksi, dan sistem kendali yang spesifik AP1000 untuk keperluan simulasi keselamatan yang lebih

  12. STUDI DESAIN DOWN SCALE TERAS REAKTOR DAN BAHAN BAKAR PLTN JENIS PEBBLE BED MODULAR REACTOR – HTR 100 MWe

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Slamet Parmanto

    2015-04-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian terhadap teras reaktor Pebble Bed Modular Reactor (PBMR dengan daya 100 Mwe berbahan bakar UO2. Reaktor ini menggunakan moderator grafit dan helium sebagai pendingin. Studi down scale dilakukan tanpa mengubah geometri teras maupun geometri bahan bakar. Parameter yang dianalisis adalah kritikalitas teras, reaktivitas lebih, koefisien reaktivitas temperatur bahan bakar, moderator dan pendingin serta nilai ekonomis bahan bakar. Dari penelitian ini diharapkan diperoleh desain bahan bakar yang bernilai ekonomis dan memiliki fitur keselamatan melekat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan program SRAC 2003. Hasil yang diperoleh adalah desain bahan bakar UO2 berbentuk pebble dengan pengkayaan 10% U235 dan 90 ppm racun dapat bakar Gd2O3. Nilai faktor multipilkasi effektif keff pada beginning of life (BOL adalah 1,01115 dan menjadi 1,00588 setelah 2658 hari operasi reaktor (EOL. Koefisien reaktivitas temperatur total diperoleh sebesar - 3,25900E-05 ∆k/k/K saat BOL dan -1,10615E-04 ∆k/k/K saat end of life (EOL. Reaktor ini memenuhi karakteristik keselamatan melekat ditandai dengan nilai koefisien reaktivitas temperatur yang negatif. Kata kunci: PBMR, desain bahan bakar, faktor multipilkasi effektif, reaktivitas lebih, koefisien reaktivitas temperatur.   Research of Pebble Bed Modular Reactor (PBMR 100 MWe which used UO2 fuel has been done. This reactor uses graphite as moderator and helium as coolant. Down scale studies performed without changing the core and fuel geometry. The parameter being analyzed were core criticality, excess reactivity, fuel, moderator, coolant temperature reactivity coefficient, and fuel economy. This research is expected to obtain the design that has fuel economy and inherent safety features. In this research, we have employed SRAC 2003 code. The calculation show that the UO2 pebble fuel design with 10% enrichment of U235 and 90 ppm burnable poison of Gd2O3 results in the effective multiplication

  13. OPTIMASI GEOMETRI TERAS REAKTOR DAN KOMPOSISI BAHAN BAKAR BERBENTUK BOLA PADA DESAIN HIGH TEMPERATURE FAST REACTOR (HTFR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Agustina Mega

    2015-04-01

    Full Text Available Telah dilakukan desain High Temperature Fast Reactor (HTFR tipe pebble dengan bahan bakar uranium plutonium nitrida berpendingin Pb-Bi. Parameter yang dianalisis adalah kritikalitas teras, koefisien reaktivitas temperatur bahan bakar, koefisien reaktivitas void pendingin dan kemampuan breeding reaktor. Perhitungan dilakukan dengan paket program SRAC2K3. Dari penelitian ini diharapkan diperoleh desain teras berumur lama dan memiliki fitur keselamatan melekat. Dari penelitian ini diperoleh desain reaktor dengan diameter 520 cm dan tinggi 480 cm. Bahan bakar berbentuk pebble dengan 63 % UN-37 % PuN pada zona core dan 95,5 % UN-4,5 % PuN pada zona blanket. Reaktor tidak kritis setelah kurang lebih 800 hari dan keff pada BoL 1,078223 dan keff setelah 800 hari adalah 0,986379. Dari penelitian ini diperoleh koefisien reaktivitas temperatur bahan bakar sebesar -2,190014E-05 pada saat BoL dan -1,390773E-05 setelah 800 hari serta koefisien reaktivitas void pendingin sebesar -2,160402E-04/% void pada saat BoL dan setelah 800 hari sebesar -2,942364E-03/% void. Reaktor merupakan jenis fast breeder ditandai dengan naiknya densitas plutonium 239. Kata kunci : desain, teras, HTFR, keselamatan, umur, koefisien reaktivitas.   Design of pebble bed type High Temperature Fast Reactor (HTFR with uranium plutonium nitride fuel and Pb-Bi cooled has been done. The parameters being analyzed were core criticality, fuel temperature coefficient, void coefficient and reactor breeding ability. Calculation was done by using SRAC2K3 computer code. This research is expected to obtaine the design with long life core and inherent safety features. This research obtained core design with a diameter of 520 cm and 480 cm core high. Shaped pebble fuel bed with the 63 % UN-37 % PUN on core zone and 95.5 % UN-4.5 % Pu on blanket zone and keff value is 1.078223 with approximately 800 day of core life. The fuel temperature coefficient is -2.190014E-05 at BOL and is 1.390773E-05 at EOL and

  14. VERIFIKASI PAKET PROGRAM MVP-II DAN SRAC2006 PADA KASUS TERAS REAKTOR VERA BENCHMARK.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jati Susilo

    2015-03-01

    Full Text Available Dalam penelitian ini dilakukan verifikasi perhitungan benchmark VERA pada kasus Zero Power Physical Test (ZPPT teras reaktor Watts Bar 1. Reaktor tersebut merupakan jenis PWR kelas 1000 MWe yang didesain oleh Westinghouse, tersusun dari 193 perangkat bahan bakar 17×17 dengan 3 jenis pengkayaan UO2 yaitu 2,1wt%, 2,619wt% dan 3,1wt%. Perhitungan nilai k-eff dan distribusi faktor daya dilakukan pada siklus operasi pertama teras dengan kondisi beginning of cycle (BOC dan hot zero power (HZP. Posisi batang kendali dibedakan menjadi uncontrolled (semua batang kendali berada di luar teras, dan controlled (batang kendali Bank D didalam teras. Paket program komputer yang digunakan dalam perhitungan adalah MVP-II dan SRAC2006 modul CITATION dengan data pustaka tampang lintang ENDF/B-VII.0. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa perbedaan nilai k-eff teras pada kondisi controlled dan uncontrolled antara referensi dengan MVP-II (-0,07% dan -0,014% dan SRAC2006 (0,92% dan 0,99% sangat kecil atau masih dibawah 1%. Perbedaan faktor daya maksimum teras pada kondisi controlled dan uncontrolled dengan referensi dengan MVP-II adalah 0,38% dan 1,53%, sedangkan dengan SRAC2006 adalah 1,13% dan -2,45%. Dapat dikatakan bahwa kedua paket program komputer menunjukkan hasil perhitungan yang sesuai dengan nilai referensi. Dalam hal penentuan kekritisan teras, maka hasil perhitungan MVP-II lebih konservatif dibandingkan dengan SRAC2006. Kata kunci : MVP-II, SRAC2006, PWR, VERA   In this research, verification calculation for VERA core physics benchmark on the Zero Power Physical Test (ZPPT of the nuclear reactor Watts Bar 1. The reactor is a 1000 MWe class of PWR designed by Westinghouse, arranged from 193 unit of 17×17 fuel assembly consisting 3 type enrichment of UO2 that are 2.1wt%, 2.619wt% and 3.1wt%. Core power factor distribution and k-eff calculation has been done for the first cycle operation of the core at beginning of cycle (BOC and hot zero power (HZP. In this

  15. PENGARUH GRID PEJARAK DAN NOZZLE TERHADAP PARAMETER TERMOHIDROLIKA PERANGKAT BAHAN BAKAR REAKTOR AP1000

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muh. Darwis Isnaini

    2015-03-01

    Full Text Available Grid pejarak berfungsi secara mekanik untuk menambah kekuatan perangkat bahan bakar nuklir (BBN dari getaran yang ditimbulkan oleh aliran pendingin yang mengalir melalui celah subkanal di dalam perangkat BBN. Oleh sebab itu perlu dilakukan analisis termohidrolika reaktor AP1000 pada kondisi tunak untuk mengetahui pengaruh dipasangnya grid pejarak pada perangkat BBN. Metodologi yang dilakukan melakukan perhitungan penurunan tekanan teras, fluks massa dan koefisien hantaran kalor pada perangkat BBN tanpa grid pejarak dan variasi jumlah grid. Pada analisis subkanal terpanas (SKP ditekankan pada perbandingan termohidrolika reaktor AP1000 pada kondisi tunak antara SKP tanpa grid pejarak dan SKP dengan 8/2 grid-nozzle, dengan menggunakan kode COBRA-EN. Dibandingkan SKP tanpa grid pejarak, maka pemasangan 8/2 grid-nozzle menyebabkan penurunan tekanan teras meningkat 3,74 kali lipat dari 73,99 kPa menjadi 276,88 kPa, fluks massa pendingin dan koefisien hantaran kalor berfluktuasi pada daerah sekitar grid pejarak, menghasilkan proses pengambilan panas oleh pendingin menjadi lebih efektif. Penurunan tekanan yang semakin besar juga akan berakibat pada nilai fluks kalor kritis (CHF bertambah besar. Karena daya reaktor tidak berubah, maka fluks kalor cenderung berubah kecuali pada daerah grid, oleh sebab itu nilai DNBR menjadi bertambah besar yang berarti marjin keselamatannya juga bertambah besar. Perhitungan untuk SKP dengan 8/2 grid-nozzle dibandingkan dengan desain diperoleh hasil penurunan tekanan teras sebesar 276,88 kPa (perbedaan 0,68%, temperatur outlet pendingin sebesar 325,54oC (perbedaan 0,21%, fluks kalor maksimum sebesar 1635,16 kW/m2 (perbedaan 0,03% dan MDNBR sebesar 2,48 (lebih besar 14,06% dari batas minimum korelasi W-3. Penambahan 8/2 grid-nozzle memberikan angka keselamatan yang lebih tinggi. Kata kunci: Pengaruh grid pejarak dan nozzle, analisis termohidrolika, AP1000, COBRA-EN.   One of the spacer grids function was to increase the

  16. PENENTUAN KADAR RADIONUKLIDA PADA LIMBAH CAIR PABRIK GALVANIS DENGAN METODE ANALISIS AKTIVASI NEUTRON THERMAL REAKTOR KARTINI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    P. Dwijananti

    2016-09-01

    Full Text Available Kadar unsur-unsur pada limbah cair pabrik galvanis perlu diketahui, hal ini penting dilakukan sebelum limbah cair pabrik galvanisdibuang ke lingkungan. MetodeAnalisis Aktivasi Neutron (AAN digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatifdapat mengetahui unsur yang terkandung, sedangkan analisis kuantitatif untuk mengetahui kadar unsurnya. Sampel limbah cairdiaktivasi menggunakan sumber neutron dari Reaktor Kartini, kemudian dicacah menggunakan spektrometri- , setelah itudianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis kualitatif teridentifikasi 7 unsur pada limbah cair pabrik galvanis. Unsurtersebut adalah Mangan (Mn, Zirkon (Zr, Chlorine (Cl, Seng(Zn, Bromine (Br, Natrium (Na, dan Besi (Fe. Analisis kuantitatifmenunjukkan kadar unsur tersebut yaitu : Mn (1,89 - 1,92.10-9gram/l, Zr (5,65 - 5,66.10-4gram/l, Cl (4,39 - 4,50.10-8 gram/l, Zn(6,47 - 6,65.10-5 gram/l, Br (1,32 -1,35.10-3gram/l, Na (4,18 - 4,19.10-4 gram/l, dan Fe (5,65.10-5 gram/l. Berdasarkanperhitungan dan setelah dibandingkan dengan baku mutu limbah dan baku mutu air, maka limbah cair pabrik galvanis dalam batasaman. The content of elements in liquid waste of galvanise factory are recommeded to be determined first before the waste is expelled intoenvironment. The Neutron Activation Analysis was used to have qualitative and quantitative analysis. The qualitative method wasused to identify the element contained,while the quantitative one was used to measure the decay rate of the element.Tified, thosewere Mangan (Mn, Zirkon (Zr, Chlorine (Cl, Zink (Zn, Bromine (Br, Sodium (Na and Ferrum (Fe. The quantitative analysisshows the content of each elements as follows. Mn (1.89 – 1.92 x 10-9 g/l; Zr (5.65 – 5.66 x 10-4 g/l; Cl (4.39 – 4.50 x 10-8 g/l; Zn(6.47 – 6.65 x 10-5 g/l, Br (1.32 – 1.35 x 10-3 g/l; Na (4.18 – 4.19 x 10-4 g/l, and Fe (5.65 x 10-5 g/l. Based on the calculation andafter comparing it to the

  17. PEMODELAN KOLIMATOR DI RADIAL BEAM PORT REAKTOR KARTINI UNTUK BORON NEUTRON CAPTURE THERAPY

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bemby Yulio Vallenry

    2015-03-01

    Full Text Available Salah satu metode terapi kanker adalah Boron Neutron Capture Therapy (BNCT. BNCT memanfaatkan tangkapan neutron oleh 10B yang terendapkan pada sel kanker. Keunggulan BNCT dibandingkan dengan terapi radiasi lainnya adalah tingkat selektivitas yang tinggi karena tingkatannya adalah sel. Pada penelitian ini dilakukan pemodelan kolimator di radial beamport reaktor Kartini sebagai dasar pemilihan material dan manufature kolimator sebagai sumber neutron untuk BNCT. Pemodelan ini dilakukan dengan simulasi menggunakan perangkat lunak Monte Carlo N-Particle versi 5 (MCNP 5. MCNP 5 adalah suatu paket program untuk memodelkan sekaligus menghitung masalah transpor partikel dengan mengikuti sejarah hidup neutron semenjak lahir, bertranspor pada bahan hingga akhirnya hilang karena mengalami reaksi penyerapan atau keluar dari sistem. Pemodelan ini menggunakan variasi material dan ukurannya agar menghasilkan nilai dari tiap parameter-parameter yang sesuai dengan rekomendasi I International Atomic Energy Agency (IAEA untuk BNCT, yaitu fluks neutron epitermal (Фepi > 9 n.cm-2.s-1, rasio antara laju dosis neutron cepat dan fluks neutron epitermal (Ḋf/Фepi 0,7. Berdasarkan hasil optimasi dari pemodelan ini, material dan ukuran penyusun kolimator yang didapatkan yaitu 0,75 cm Ni sebagai dinding kolimator, 22 cm Al sebagai moderator dan 4,5 cm Bi sebagai perisai gamma. Keluaran berkas radiasi yang dihasilkan dari pemodelan kolimator radial beamport yaitu Фepi = 5,25 x 106 n.cm-2s-1, Ḋf/Фepi =1,17 x 10-13 Gy.cm2.n-1, Ḋγ/Фepi = 1,70 x 10-12 Gy.cm2.n-1, Фth/Фepi = 1,51 dan J/Фepi = 0,731. Berdasarkan penelitian ini, hasil optimasi 5 parameter sebagai persyaratan kolimator untuk BNCT yang keluar dari radial beam port tidak sepenuhnya memenuhi kriteria yang direkomendasikan oleh IAEA sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar tercapainya persyaratan IAEA. Kata kunci: BNCT, radial beamport, MCNP 5, kolimator   One of the cancer therapy methods is

  18. Pengaruh Laju Alir Inlet Reaktor MSL terhadap Reduksi BOD, COD, TSS, dan Minyak/Lemak Limbah Cair Industri Minyak Goreng

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Salmariza Sy

    2017-06-01

    Full Text Available This research was conducted by treating edible oil industry wastewater used Multi Soil Layering (MSL method. The MSL reactor was built from a 200x120x200 cm concrete basin. Andisol soil was mixed with sawdust and fine charcoal at each ratio 5:1:1 based on dry weight as an impermeable layer. The flow rate variations were 250, 500, 1000, and 1500 L/m2.day. The observed pollutant parameters were BOD, COD, TSS, oil/fat, and pH. The results showed that MSL reactor was effective to decrease the pollutant content of edible oil industry wastewater. The reactor could reduce concentration of effluent parameters below standard except for oil/fat parameters at high flow rates. In the effluent was found BOD 0.66-14.22 mg/L, COD 5-69 mg/L, TSS 9-26 mg/L, and oil/fat 2-9 mg/L. The flow rate had an effect on reduction efficiency of BOD, COD, TSS, and oil/fat but did not effect pH as all flow rate could raise pH 6.37-6.95 became pH 6.99-7.24. The lower the flow rate the higher the reduction efficiency. The reduction efficiency at flow rates 250 and 1500 L/m2 days for BOD were 99% and 86%, COD were 96% and 71%, TSS were 88% and 77%, and oil/fat were 80% and 60%.ABSTRAK  Penelitian ini dilakukan dengan mengolah air limbah industri minyak goreng menggunakan metoda Multi Soil Layering (MSL. Reaktor MSL dibuat dari beton berbentuk bak ukuran 200x120x200 cm. Tanah andisol dicampur dengan serbuk gergaji dan arang halus pada rasio masing-masing 5:1:1 berdasarkan berat kering sebagai penyusun lapisan impermeable. Variasi laju alir yaitu 250, 500, 1000, dan 1500 L/m2.hari. Parameter pencemar yang dianalisis meliputi BOD, COD, TSS, minyak/lemak, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reaktor MSL sangat efektif untuk menurunkan kandungan zat pencemar limbah cair industri minyak goreng. Reaktor dapat mereduksi konsentrasi parameter outlet sampai dibawah baku mutu yang distandarkan kecuali untuk parameter miyak/lemak pada perlakuan laju alir tinggi. Pada effluen

  19. PENGARUH KONSENTRASI ZrO2 TERHADAP KORELASI PERPINDAHAN PANAS NANOFLUIDA AIR-ZrO2 UNTUK PENDINGIN REAKTOR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    K.A. Sudjatmi

    2015-03-01

    Full Text Available Sejalan dengan perkembangan konsep keselamatan pasif pada sistem keselamatan PLTN, maka sistem perpindahan panas konveksi alam memegang peranan penting. Pemakaian nanofluid sebagai fluida pendingin pada sistem keselamatan nuklir dapat digunakan pada Sistem Pendingin Teras Darurat dan Sistem Pendingin Pengungkung Luar Reaktor. Beberapa peneliti telah melakukan studi desain konseptual aplikasi nanofluid untuk meningkatkan keselamatan AP1000 dan sistem pendingin teras darurat pada reaktor daya eksperimen. Penerapan nanofluida juga mulai dikembangkan melalui hasil penelitian perpindahan panas konveksi alamiah pada sub-buluh dengan nanofluida sebagai fluida kerjanya sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh perubahan konsentrasi ZrO2 terhadap korelasi perpindahan panas konveksi alamiah dengan pendekatan eksperimental. Data eksperimental yang diperoleh digunakan untuk mengembangkan korelasi umum empirik perpindahan panas konveksi alamiah. Metode penelitian dengan menggunakan alat uji sub-buluh vertikal dengan geometri segitiga dan segiempat menggunakan air dan nanofluida air-ZrO2 sebagai fluida kerjanya. Konsentrasi nanopartikel dalam larutan yang digunakan sebesar 0,05 %, 0,10% dan 0,15 % dalam persen berat. Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk bilangan Rayleigh yang sama, kemampuan pemindahan kalor oleh nanofluida air-ZrO2 lebih baik dari pada pemindahan kalor oleh air. Namun peningkatan konsentrasi nanofluida tidak selalu mendapatkan kemampuan pemindahan kalor yang lebih baik. Kata kunci: nanofluida air-ZrO2, konveksi alamiah, sub-buluh segitiga, sub-buluh segi segiempat   In line with the development of the passive safety concept for the safety systems of nuclear power plants, the natural convection heat transfer system plays an important role. The nanofluid as coolant fluid on nuclear safety system can be used in Emergency core cooling system and in reactor coolant system confinement. Several researchers have

  20. APLIKASI TEKNIK AAN DI REAKTOR RSG-GAS PADA PENENTUAN UNSUR ESENSIAL DAN TOKSIK DI DALAM IKAN DAN PAKAN IKAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Saeful Yusuf

    2015-03-01

    Full Text Available Pada makalah ini diuraikan tentang aplikasi teknik AAN (Analisis Aktivasi Neutron dalam penentuan konsentrasi unsur-unsur esensial dan cemaran yang terkandung di dalam beberapa spesies ikan dan pakan ikan. Unsur-unsur esensial yang terkandung dalam pakan ikan buatan juga dianalisis untuk mengetahui pengaruhnya terhadap ikan. Penentuan unsur menggunakan teknik AAN dengan metode perbandingan dan metode k0-AAN. Sampel diiradiasi di reaktor RSG-GAS yang memiliki fluks neutron thermal 5 x 1013 n.cm-2.s-1 pada daya 15 MW. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 unsur di dalam 11 spesies ikan air laut dan air tawar telah ditentukan yaitu As, Br, Cr, Co, Cs, Fe, Hg, K, Na, Rb, Se and Zn. Konsentrasi cemaran As didalam ikan laut sudah melampaui batas maksimum 1 mg/kg, sedangkan konsentrasi cemaran Hg masih dibawah batas maksimum 0,5 mg/kg, baik untuk ikan laut maupun ikan air tawar. Unsur K dan Na merupakan unsur makroesensial sedangkan unsur Cr, Co, Fe, Se and Zn adalah termasuk unsur mikroesensial. Secara umum ditunjukkan bahwa kandungan mineral didalam ikan laut lebih tinggi konsentrasinya dibandingkan ikan air tawar. Br, Cs dan Rb merupakan unsur-unsur non esensial yang teridentifikasi dalam semua ikan yang dianalisis. Penelitian terhadap pakan ikan air tawar menunjukkan bahwa semua unsur yang teridentifikasi juga terdapat di dalam ikan laut dan ikan air tawar. Hal ini menunjukkan bahwa pakan ikan berkontribusi terhadap konsentrasi unsur di dalam ikan air tawar. Kata kunci : Analisis aktivasi neutron, unsur esensial, unsur cemaran, ikan, pakan ikan   This paper reported on the application of NAA (Neutron Activation Analysis Technique in the determination of the concentration of the essential and toxic elements in some species of fish and fish feed. Determination of elements using instrumental NAA technique with comparison and k0-INAA methods. Samples were irradiated in the RSG-GAS which has a thermal neutron flux  5.0E +13 ncm-2s-1. The results

  1. Schneller befördert werden

    DEFF Research Database (Denmark)

    Claussen, Jörg; Grohsjean, Thorsten; Luger, Johannes

    2015-01-01

    Karriere: Manager, die in ihrem Unternehmen aufsteigen wollen, stehen häufig vor einem Dilemma: Einerseits sollen sie Teamspieler sein, andererseits aus der Masse hervorstechen. Eine Studie zeigt, wie sich dieser Widerspruch auflösen lässt....

  2. Development and application of ion beam diagnostics; Entwicklung und Anwendung schneller Strahldiagnose fuer Ionenstrahlen

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Pfister, Jochen

    2010-06-07

    At GSI - Helmholtz Centre for Heavy Ion Research in Darmstadt/Germany the HITRAP project is in the commissioning phase. This world-wide unique facility consists of a linear decelerator for heavy, highly charged ions including atomic physics precision experiments. During commissioning of the cavities, transverse emittances were measured using the single-shot pepperpot method as well as the multi-gradient method. The extraction emittance of the experimental storage ring (ESR) was determined. Furthermore, the phase space distribution of an decelerated beam at an intermediate energy of 500keV/u was measured behind the IH-structure. New algorithms have been integrated into the analysis of digital images. The longitudinal bunch structure measurements of the ion beam at the entry point into the decelerator and the operation of the Double-drift Buncher is shown. The design, development and the first commissioning of a new single-shot pepperpot emittance meter for very low beam currents and beam energies in the order of some hundred nA is described, making it possible to measure the beam behind the deceleration cavities. In addition, transverse beam dynamics calculations were performed, which supported the hands-on commissioning of the accelerator. It is described how the entire beam line from the ESR to the radio-frequency quadrupole can be optimized using the new routine for transverse effects of the bunching and deceleration, which was successfully integrated into the software COSY Infinity. (orig.)

  3. Fast development of wind power raises legal problems; Schneller Ausbau der Windenergie wirft rechtliche Fragen auf

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Roesner, Verena; Meininger, Frank; Ries, Gerhard; Kircher, Steffen [Menold Bezler Rechtsanwaelte Partnerschaft, Stuttgart (Germany)

    2012-08-15

    In Bavaria and Baden-Wuerttemberg, new legal boundary conditions are to promote wind power. Nordrhein-Westfalen, too, recently decided to break a taboo and provide funds for wind power plants in forest sites. Communities and project managers are under pressure. Many problems must be solved quickly, from site selection and acquisition to public participation to award procedures. The contribution presents strategies for action that will help to avoid political pitfalls.

  4. Inelastic scattering of fast neutrons on Fe-56; Inelastische Streuung schneller Neutronen an {sup 56}Fe

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Beyer, Roland

    2014-11-24

    The relevant reaction cross sections for the nuclear transmutation will be measured at the neutron flight time facility nELBE in Dresden-Rossendorf. Transmutation by fast neutron irradiation is supposed to reduce the radiotoxicity of high-level radioactive wastes. The thesis is aimed to measure the inelastic neutron scattering cross sections of Fe-56 using a new double flight-time method. With combined plastic and BaF2 scintillation detectors for the first time the emitted neutrons and photons are observed in coincidence.

  5. Analisis Dimensional Reaktor Berpengaduk Statis untuk Produksi Biodiesel

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Akhmad Irfan

    2016-10-01

    Full Text Available Biodiesel production can be done using static mixing reactor (SMR. The production by this method requires less energy than blade agitator. However, the use of elements in the helix-shaped stirrer reactors causing large pressure drop. The other factors that affect the flow in the SMR can be determined using dimensional analysis. Dimensional analysis can be used to eliminate the variables that are not required so that can be done to optimize the energy used in the SMR design. The variables that influence the pressure drop (ΔP in the SMR can be formulated into mathematical equation as: Total irreversibility due to the use of a static mixer in the SMR tested is 0.237 W.

  6. Karakterisasi Densitas Grafit Sebagai Kandidat Bahan Reaktor Temperatur Tinggi

    OpenAIRE

    Heri Hardiyanti; Slamet Pribadi; Dadang; Jan Setiawan

    2016-01-01

    -Characterization on graphite density has been done. The characterizations were done by analyzed X-ray diffraction pattern using Rietveld method compared to the density measurement according to ASTM C373 and ASTM C559. Microstructure observation by optical microscope was done to prove the density characteristic of graphite electrode. The results showed the graphite electrode was 2H graphite allotrope with hexagonal crystal system and its space group is P 63 m c. Rietveld analysis for lattic...

  7. PENGARUH BENTUK ROUTING PERPIPAAN SISTEM PENDINGIN PRIMER REAKTOR TRIGA KONVERSI TERHADAP PENURUNAN AKTIVITAS N-16 DI PERMUKAAN TANGKI REAKTOR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Veronica Indriati Sri Wardhani

    2016-10-01

    ABSTRACT The conversion program in 2000 Bandung TRIGA reactor fuel from the cylinder into fuel plates needs a new reactor cooling system design. The design of the new reactor cooling system are devised in such away to not much changed from the existing reactor cooling system, regarding its space and location have no possibility to change. Therefore, pipe routing analysis is required to select the plate type TRIGA reactor cooling system, to meet the cooling requirements of the system, attempted to match with the existing space and location. According to the availability of the existing space, four (4 possibilities of pipe routing can be designed. From the four possibilities of pipe routing, then analyze the travel time of particles N-16, which emits gamma radiation from the core to the surface of the reactor tank. Analysis was performed by assuming a constant cooling fluid density (ρ (incompressible fluid, the entire N-16 generated in the reactor core is transported to the surface of the reactor tank. The results show that the third alternative pipe routing is the most optimum, due to its approaching transport time is five (5 times the half-life of N-16 (36.7047 sec, so that its activities decreases from 100% to 3% (A/A0 = 0.0317 and the pipe length is still enough to put in the available space reactor cooling system. Keywords: Pipes, routing, N-16 activities, half-life , TRIGA reactor plate type.

  8. Faster to Paris with Franco-German cooperation; Schneller nach Paris mit ICE und TGV in deutsch-franzoesischer Kooperation

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Ried, W.M. [ALLEO GmbH i.Gr. (Joint Venture DB/SNCF im HGV) (Germany)

    2007-06-15

    A new railway line for high-speed operations on a European scale has been completed in only five years. In parallel with that, a big effort has been put into national and international coordination of what train services to offer. (orig.)

  9. PENJERAPAN GAS CO HASIL PEMBAKARAN SAMPAH MENGGUNAKAN SORBENT TERMODIFIKASI DALAM REAKTOR FIXED BED

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mariana Mariana

    2013-11-01

    Full Text Available ADSORPTION OF CO FROM WASTE COMBUSTION USING MODIFIED SORBENT IN A FIXED BED REACTOR. Gases produced by garbage burning consist of dangerous gases such as CO, SO2 and other gases. Technology for reducing dangerous gases from incinerator outlet can be done by using a dry or wet process. The dry process is more economical process because of simple process, easy maintenance and no liquid waste as product. However, the weakness of the dry process is low absorption conversion and low gas removal efficiency. One way to overcome these problems is to use sorbent which has high reactivity. An inexpensive sorbent that commonly used is Ca(OH2. The aim of this research was to increase the reactivity of Ca(OH2 sorbent by using diatomaceous earth and compost as a source of silica and biosorbent, respectively. Diatomaceous earth contains CaO, SiO2 and Al2O3 and compost contains bacteria as a biosorbent that can convert CO to CO2 and CH4. The reaction between SiO2 and Ca(OH2 would form calcium silicate hydrate (CaO.SiO2.2H2O that has a high porosity and reactivity. The results showed that the reactivity of Ca(OH2 sorbent increased by addition of diatomaceous earth and compost. The results also showed that the sorption of CO gas increases with increasing of height of sorbent bed and temperature. The highest CO gas sorption was obtained at temperature of 150oC and sorbent bed height of 6 cm using the modified sorbent with Ca(OH2/DE/compost ratio of 3:1:1. Gas hasil pembakaran sampah terdiri dari gas-gas yang berbahaya seperti CO, SO2 dan lain sebagainya. Teknologi penghilangan gas-gas tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan proses kering maupun proses basah. Penghilangan dengan proses kering lebih ekonomis karena sederhana, mudah pemeliharaan dan tidak menghasilkan limbah cair. Namun demikian, kelemahan proses kering adalah konversi absorpsi rendah dan efisiensi penyisihan  gas relatif kecil. Salah satu cara mengatasi masalah tersebut di atas adalah dengan menggunakan sorbent yang mempunyai reaktifitas yang tinggi. Sorbent yang umum digunakan dan murah adalah Ca(OH2. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan reaktifitas sorbent Ca(OH2 dengan menggunakan tanah diatomeae sebagai sumber silika dan kompos sebagai sumber biosorbent. Tanah diatomea umumnya mengandung CaO, SiO2 dan Al2O3. Reaksi antara SiO2 dengan Ca(OH2 membentuk kalsium silicate hidrat (CaO.SiO2.2H2O yang mempunyai porositas dan reaktifitas yang tinggi. Kompos mengandung bakteri sebagai biosorbent yang dapat mengubah gas CO menjadi CO2 dan CH4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reaktifitas sorbent Ca(OH2 meningkat dengan penambahan DE dan kompos. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penjerapan gas CO meningkat dengan meningkatnya tinggi unggun sorbent dan temperatur. Penjerapan gas CO tertinggi diperoleh pada penggunaan modifikasi sorbent Ca(OH2/DE/kompos (3:1:1, temperatur 150oC dan tinggi unggun sorbent 6 cm dari variabel yang dilakukan.

  10. Analisis Computational Fluid Dynamics untuk Perancangan Reaktor Gasifikasi Sekam Padi Tipe Downdraft

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dziyad Dzulfansya

    2014-10-01

    Full Text Available Rice husk is one of biomass type which can be utilized as gasification’s feedstock for producing combustible gas which can be used as fuel in internal combustion engine. The objective of this research was to obtain the best design of small scale rice husk gasifier from among geometry scenarios by applying computational fluid dynamics method. The geometry scenarios used in this study were angle of throat 70O, 80O, and 90O, and also angle of nozzel 10O and 20O. The softwares used in this study were Gambit 2.4.6 (meshing 3D model and Ansys Fluent 13.0 (simulation. The reactions involved in gasification (3 heterogeneous reactions and 6 homogeneous reactions were solved by finite rate/Eddy dissipation model. Results of simulation showed that gasifier with angle of throat 90O and angle of nozzel 10O produced the highest heating value of gas with volume fraction of CO, H2, and CH4 is 14.49%, 9.65%, and 2.39% respectively. This result showed reasonable agreement with experimental data from other researchers on rice husk gasification.

  11. PENENTUAN KOEFISIEN DISPERSI ATMOSFERIK UNTUK ANALISIS KECELAKAAN REAKTOR PWR DI INDONESIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Pande Made Udiyani

    2015-03-01

    Full Text Available Atmosfer merupakan pathway penting pada perpindahan radionuklida yang lepas dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN ke lingkungan dan manusia. Penerimaan dosis pada lingkungan dan manusia dipengaruhi oleh sourceterm dan kondisi tapak PLTN. Untuk mengetahui penerimaan dosis lingkungan untuk PLTN di Indonesia, maka diperlukan nilai koefisien dispersi untuk tapak potensial yang dipilih. Model perhitungan dalam penelitian ini menggunakan model yang diterapkan pada paket program pada modul ATMOS dan CONCERN dari PC-Cosyma yaitu model perhitungan segmented plume model. Perhitungan dilakukan untuk PLTN tipe PWR kapasitas 1000 MWe berbahan bakar UO2, postulasi kejadian untuk kecelakaan DBA, kondisi tapak kasar, untuk 6 tapak contoh tapak Semenanjung Muria, Pesisir Banten, dan tapak yang didominasi oleh stabilitas cuaca C,D,E, dan F. Koefisien dispersi dihitung untuk 8 kelompok nuklida produk fisi yang lepas dari PLTN yaitu: kelompok gas mulia, lantanida, logam mulia, halogen, logam alkali, tellurium, cerium, dan kelompok stronsium & barium. Perhitungan input menggunakan paket program ORIGEN-2 dan Arc View untuk penyiapan input perhitungan. Hasil pemetaan untuk parameter dispersi maksimum rerata diperoleh pada jarak radius 800 m dari sumber lepasan untuk nuklida dari kelompok logam mulia, logam alkali dan kelompok nuklida cerium. Parameter dispersi untuk Tapak Muria maksimum 1,53E-04 s/m3, Tapak Serang adalah 1,40E-03 s/m3, tapak dengan stabilitas C: 1,72E-04 s/m3, stabilitas D: 1,40E-04 s/m3, Stabilitas E: 1,07E-04 s/m3, dan tapak dengan stabilitas F : 2,14E-05 s/m3. Kata kunci: koefisien dispersi, atmosferik, PWR, kecelakaan, Indonesia   The atmosphere is an important pathway in the migration of radionuclides transport from the Nuclear Power Plant (NPP to the environment and humans. The dose accepted in the environment and humans is influenced by the sourceterm and NPP siting condition. Distribution of radionuclides in the atmosphere is determined by the dispersion coefficient. To find the environment dose acceptance for nuclear power plants in Indonesia, it is necessary to map the dispersion coefficient for Indonesia potential siting Model calculations in this study using Segmented plume model, which a model that is applied to the ATMOS and CONCERN module of PC-Cosyma software. The calculation has done for PWR 1000 MWe with UO2 fuel, DBA accident postulations, roughnes site conditions, for 8 example site such as Muria Peninsula, Coastal Banten, and the C, D, E, and F stability. Dispersion coefficient was calculated for the 8 fission product groups are: the noble gases, lanthanides, noble metals, halogens, alkali metals, tellurium, cerium, and strontium & barium groups. Input calculation using the program package Origen-2 and Arc View for the preparation of input calculations. The results of the dispersion parameter calculated are: the average maximum is obtained at a distance of 800 m radius from the source, for noble metals, alkali metal and cerium group nuclides. Dispersion parameters for maximum at Muria site is 1.53E-04 s/m3, Serang site is 1.40E-03 s/m3, site with stability C is 1.72E-04 s/m3, stability D is 1.40E-04 s/m3, stability E is 1.07E-04 s/m3, and site with the stability F is 2.14E-05 s/m3. Keywords: dispersion coefficient, atmospheric, PWR, accident, Indonesia

  12. Theory of nuclear reactors. Vol. 1. Theorie der Kernreaktoren. Bd. 1. Der stationaere Reaktor

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Emendoerfer, D.; Hoecker, K.H.

    1982-01-01

    An introduction is given to the elements of reactor physics and reactor calculation which refers to practice from the present point of view. It is demonstrated to the reader how the reactor characteristics relevant to construction can be calculated from atomic factors by means of neutron transport and diffusion theory; these reactor characteristics are: multiplication factor, power density distribution, burn-up, plutonium build-up, xenon vibrations, short-time behaviour. The interaction between thermo- and fluid-dynamic processes is important for this calculation. On grounds of didactics the crucial point of this book is the establishment and calculation of simple models which give a clear description of all important characteristics of the events. Attempts for more exact simulation by computer are dealt with including typical solutions.

  13. UNJUK KERJA REAKTOR PLASMA DIELECTRIC BARRIER DISCHARGE UNTUK PRODUKSI BIODIESEL DARI MINYAK KELAPA SAWIT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ardian Dwi Yudhistira

    2013-10-01

    Full Text Available Biodiesel is one of alternative renewable energy source to substitute diesel fuel. Various biodiesel productionprocesses through transesterification reaction with a variety of catalysts have been developed by previousresearcher. This process still has the disadvantage of a long reaction time, and high energy need. DielectricBarrier Discharge (DBD plasma electro-catalysis may become a solution to overcome the drawbacks in theconventional transesterification process. This process only needs a short time reaction and low energy process.The purpose of this study was to assess the performance of DBD plasma rector in making biodiesel such as: theeffect of high voltage electric value, electrodes gap, mole ratio of methanol / oil, and reaction time. TheResearch method was using GC-MS (Gas Cromatography-Mass Spectrofotometry and FTIR (FourierTransform Infrared Spectrofotometry and then it will be analysed the change of chemical bond betweenreactant and product. So, the reaction mechanism can be predicted. Biodiesel is produced using methanol andpalm oil as reactants and DBD plasma used as reactor in batch system. Then, reactants contacted by highvoltage electric. From the results of this research can be concluded that the reaction mechanism occurs in theprocess is the reaction mechanism of cracking, the higher of electric voltage and the longer of reaction time leadto increasing of product yield. The more of mole ratio of methanol / oil and widening the gap between theelectrodes lead to decreased product yield. From this research, product yield maksimum is 89,8% in the variableof rasio mol metanol/palm oil 3:1, voltage 10 kV, electrode gap 1,5 cm, and reaction time 30 seconds.

  14. KARAKTERISTIK BIODIESEL DARI MINYAK BIJI RANDU (CEIBA PENTANDRA PADA REAKTOR BATCH BERPENGADUK BERTEKANAN MENGGUNAKAN KATALIS KOH

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nove Kartika Erliyanti

    2016-08-01

    Full Text Available Biodiesel is fuel from plant oils that has been converted into methyil ester with transesterification process. The research was aimed at investigating the influence of KOH concentration and reaction time on the characteristics (density and viscosity biodiesel at a pressure of 4 bar. The process of making biodiesel in a stirred batch reactor is pressurized, purged nitrogen, and the temperature operation of 60°C. The kapok seed oil used as raw material was 1000, methanol, and KOH (concentration of 0.5; 1.0; 1.5; and 2% oil by weight were mixed and put into a reactor with a reaction time of 0.25; 0.50; 1.00; and 1.50 hours. Products were analyzed according to ASTM standard. KOH concentration and reaction time has a significantly affected with respect to the density and viscosity of biodiesel. Biodiesel produced in compliance with the ASTM standard. The highest density and viscosity resulting in 0.5% KOH concentration and reaction time of 0.25 hours is equal to 0.8918 g / cm3 and 4.989 cSt.

  15. Stripping scattering of fast atoms on surfaces of metal-oxide crystals and ultrathin films; Streifende Streuung schneller Atome an Oberflaechen von Metalloxid-Kristallen und ultraduennen Filmen

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Blauth, David

    2010-03-11

    In the framework of the present dissertation the interactions of fast atoms with surfaces of bulk oxides, metals and thin films on metals were studied. The experiments were performed in the regime of grazing incidence of atoms with energies of some keV. The advantage of this scattering geometry is the high surface sensibility and thus the possibility to determine the crystallographic and electronic characteristics of the topmost surface layer. In addition to these experiments, the energy loss and the electron emission induced by scattered projectiles was investigated. The energy for electron emission and exciton excitation on Alumina/NiAl(110) and SiO{sub 2}/Mo(112) are determined. By detection of the number of projectile induced emitted electrons as function of azimuthal angle for the rotation of the target surface, the geometrical structure of atoms forming the topmost layer of different adsorbate films on metal surfaces where determined via ion beam triangulation. (orig.)

  16. The influence of sulfate concentrations on the methane production in anaerobic reactors. Sulfatkoncentrationens betydning for methandannelsen i anaerobe reaktorer

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Petersen, S.P.; Ahring, K. (Danmarks Tekniske Hoejskole, Lyngby (DK). Inst. for Bioteknologi)

    1989-01-01

    Sulfate reduction and methane production are important processes in the anaerobic degradation of organic matter. Several investigations have demonstrated, that sulfate may have a restrictive influence on the production on methane in natural ecosystems as well as in sewage sludge digesters. In the paper, we review the existing knowledge of the interaction between sulfate reducers and methane producers in biogas digesters. Preliminary results from an investigation concerning the competitive relationship between sulfate reducers and methane producers under thermophilic conditions are presented.

  17. Faster, deeper and safer drilling with tailor-made ``designer tools`` - a new approach in borehole technology; Schneller, weiter und sicherer Bohren mit massgeschneiderten ``Designer Garnituren`` - Ein neuer Ansatz in der Bohrtechnologie

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Reich, M. [Technical Services Baker Hughes INTEQ, Celle (Germany)

    1998-12-31

    In the past few years, progress has been made in all deep drilling components, but a systemic approach tends to be neglected. Combinations of optimized components alone will not ensure maximum heading rates, long life and economic efficiency. Since about two years ago, research is being made into ``designer tool combinations``. The contribution describes a typical example along with the software used to select the components. (orig.) [Deutsch] In den vergangenen Jahren sind deutliche Fortschritte bei der Entwicklung aller fuer Tiefbohrungen erforderlicher Komponenten erzielt worden. Vermisst wird aber ein Ansatz zum Systemdenken, da leider haeufig das Zusammenspiel dieser Komponenten im praktischen Einsatz nicht beruecksichtigt wird. Die Kombination optimierter Einzelkomponenten allein fuehrt weder zu maximalem Bohrfortschritt noch zu hoechster Lebensdauer oder einem wirtschaftlichen Optimum. Beste Ergebnisse sind vielmehr von Bohrgarnituren zu erwarten, die nach mechanischen und hydraulischen Gesetzmaessigkeiten fuer eine maximale Leistung des Gesamtsystems zusammengestellt werden. Diese relativ einfache Erkenntnis wird erst seit kurzem systematisch in die Praxis umgesetzt. In den letzten zwei Jahren wurden mehrere umfassende Programme zur Optimierung von Bohrgarnituren durchgefuehrt. Die Ergebnisse, die mit diesen `Designer-Bohrgarnituren` erzielt wurden, demonstrieren in eindrucksvoller Weise das Verbesserungspotential. Nachfolgend werden die typischen Komponenten einer `Designer-Garnitur` beschrieben und ein Einblick in die Software gegeben, die zur Optimierung eingesetzt wird. Die erreichten Verbesserungen gegenueber den zuvor benutzten konventionellen Garnituren werden mit Fallbeispielen belegt. (orig.)

  18. CFD simulation of a particle loaded coolant flow in the sump and in the condensation chamber; Entwicklung von CFD-Modellen fuer Wandsieden und Entwicklung hchaufloesender, schneller Roentgentomographie fuer die Analyse von Zweiphasenstroemungen in Brennstabbuendeln

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Krepper, Eckhard; Rzehak, Roland; Barthel, Frank; Franz, Ronald; Hampel, Uwe

    2013-07-01

    A collaborative project funded by the BMBF in the framework of the R and D program ''Energie 2020+'' by 4 Universities, 2 Research Centres and ANSYS was coordinated by Helmholtz- Zentrum Dresden-Rossendorf (HZDR). The present report describes the contributions of HZDR done from September 2009 to January 2013. The project was directed towards the development and validation of CFD models of boiling processes in PWR in the range from subcooled nucleate boiling up to the critical heat flux. The report describes the developed and used models. Main achievements were a comprehensive study of the boiling process itself and a better description of the interfacial area by coupling of wall boiling with a population balance model. The model extensions are validated and the present capabilities of CFD for wall boiling are investigated. By means of rod bundle experiments was shown that the measured cross sectional averaged values can be reproduced well with a single set of calibrated model parameters for different tests cases. For the reproduction of patterns of void distribution cross sections attention has to be focussed on the modelling of turbulence in the narrow channel. The experimental work was focussed on the investigation of the flow in a rod bundle. Using a rod bundle test rig the turbulent single phase flow field (PIV) and the average gas volume fraction (gamma densitometry) are measured. The timely and spatial resolved gas fraction was measured applying the ''High speed x-ray tomography'', developed in Rossendorf.

  19. Faster regular long-distance DB trains thanks to new infrastructures in Berlin and between Nuremberg and Munich; Schneller Takt im DB-Fernverkehr durch neue Infrastruktur zwischen Nuernberg und Muenchen und in Berlin

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Trauner, D.M.; Ostwald, J. [DB Fernverkehr AG, Frankfurt am Main (Germany)

    2006-06-15

    Noteworthy improvements are being made to passenger services in Germany with the deployment of 28 new ICE-T tilting train sets (originally just a contract option) and the entry into service of three key infrastructure projects: - the North-South Tunnel through Berlin - the upgraded Berlin-Halle/Leipzig line with a maximum speed of 200 km/h, and - the part-upgraded/part-new Nuremberg - Ingolstadt-Munich line. The first travel-time improvements are going to come on 28 May 2006, just in time for the FIFA World Cup in Germany, when some routes and trains will start using the new infrastructure. A big step is scheduled for 10 December 2006, with the introduction of a half-hourly ICE service between Nuremberg and Munich, as one of the elements in a radical rearrangement of long-distance services to and from Bavaria. On 28 May 2006, the first scheduled trains are also going to start running through Berlin's new North-South Tunnel (NST). This is a massive improvement in the infrastructure serving the German capital, since for decades there has been just one north-south railway tunnel and that has carried suburban (S-Bahn) trains only. It represents the end of an era that goes back to the end of the Second World War and the building of the Berlin Wall. It also represents a shift in focus, in that the main effort in the immediate post-1989 years went into improving local rail services. As of now, Berlin is once again going to have excellent rail links in all directions with the territory of the federal state of Brandenburg, which surrounds it, and it is going to be possible to make massive improvements in long-distance train services too. (orig.)

  20. Pengaruh Pengadukan Dan Variasi Feeding Terhadap Pembentukan Biogas Dari Sampah Dapur Rumah Makan Pada Reaktor Batch Dengan Aktivator Feses Sapi (Bos Taurus)

    OpenAIRE

    Tri Utomo, Doron; Hadiwidodo, Mochtar; Sudarno, Sudarno

    2014-01-01

    Food waste is organic waste that is quite lot and have not good treatment now. Food waste in anaerobic treatment have potential to produce biogas with addition cow feces as an activator. Stirring is one effort to increase the production of biogas. Research has been conducted in a batch system but the results have not been produced an optimal biogas. This research use two big reactors (19 liter) and 16 small reactors (600 ml dan 500 ml). There are four parameters that were observed the biogas...

  1. The vegetation as sink and biochemical reactor for airborne pollutants. Final report; Die Vegetation als Senke und biochemischer Reaktor fuer luftgetragene Schadstoffe. Abschlussbericht

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Weissflog, L.; Wenzel, K.D. [UFZ - Umweltforschungszentrum Leipzig-Halle GmbH, Leipzig (Germany). Sektion Chemische Oekotoxikologie

    1997-06-30

    The present project involved extensive studies on the air pollution situation and interactions between organic as well as inorganic air pollutant levels and the vegetation in three east German states. Seven monitoring sites with different emission profiles were selected in Saxony-Anhalt, one typically polluted site in Saxony, and two less polluted sites in Mecklenburg-Western Pomerania. The following emitter types were found to exhibit consistent pollutant patterns: landfills receiving chloroorganic special wastes; hard-coal-fuelled firing installations; commercial charcoal plants; industry; industry - car traffic - domestic fuel combustion; car traffic. [Deutsch] Im Verlauf der Projektarbeiten wurden an sieben durch unterschiedliche Emittententypen belasteten Standorten in Sachsen-Anhalt, einem typisch belasteten Standort in Sachsen und an zwei weniger belasteten Standorten in Mecklenburg/Vorpommern umfangreiche Untersuchungen zur Immissionssituation und der Wechselwirkung der luftgetragenen anorganischen und organischen Schadstofffracht mit der Vegetation durchgefuehrt. Dabei konnten fuer folgende Emittenten charakteristische Schadstoffmuster ermittelt werden: - Deponien mit chlororganischem Sondermuell - Feuerungsanlagen fuer Steinkohle - Gewerbliche Anlagen zur Herstellung von Holzkohle - Industrie - Industrie/Kfz-Verkehr/Hausbrand - Kfz-Verkehr. (orig.)

  2. Mechanisms of importance for the formation of granules in an UASB reactors; Mekanismer af betydning for dannelse af granula i UASB-reaktorer

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Winther-Nielsen, M.

    1991-12-31

    Thermophilic granules exhibiting good stabilities were successfully developed on glucose, acetate, and a mixture of acetate, propionate, and butyrate. The only genus of aceticlastic methanogens identified in the granules were Methanosarcina spp. An examination of the influence of temperature proved that the conversion of propionate was greatly effected by temperature variations, contrary to the conversions of acetate and butyrate. By operating a 5 litre UASB reactor with a great axial temperature gradient in the sludge bed of the reactor, an establishment of a propionate converting population in the granular sludge was disturbed. Following a reduction of the temperature variation by an increase of the temperature of the influent, the conversion of propionate was enhanced and the granule size was increased significantly. The effects of phosphate concentration between 0 and 10 mM on acetate-grown granules were investigated at 55 deg. C. No significant effect on the size of granules and apprently no essential influence on the specific acetate consumption rates in the reactors were found after 5 mounths of operation. Phosphate accumulation was observed in the reactors and was dependent on the phosphate concentration in the influent. These indicate that phosphate removal from waste waters may be performed in anaerobic systems. The influence of the superficial liquid flow rate on the formation of granules was studied in two thermophilic UASB reactors on glucose. Granules were observed earlier in the reactor which had the highest flow rate and the size of granules was still significantly larger in this reactor during steady-state condition. (author) 157 refs.

  3. Rancang Bangun Model Alat Uji Teras Reaktor Nuklir Small Modular Reactor (SMR) Dengan Fluida Pendingin H2O Untuk Kondisi Konveksi Paksa

    OpenAIRE

    Ramadhan, Anwar Ilmar; Dermawan, Erwin; Diniardi, Ery; Arifangga, Muhammad

    2015-01-01

    Heat transfer performance poor will have a negative impact on the reactor system which in turn could affect the release of radioactive substances into the surrounding environment so as to endanger the safety of the environment and living things that exist around the reactor. The purpose of this research is to create or design a testing tool wake models in a nuclear reactor core in a laboratory scale assuming cylindrical heat derived from the electrical energy that does not harm the environmen...

  4. Svar til: Hvorfor bryder robotter sammen i Tjernobyl-reaktor? (Ingeniøren, lørdag d. 17 nov. 2007)

    DEFF Research Database (Denmark)

    Morgen, Per

    2007-01-01

    Som svar på spørgsmålet om, hvorfor man ikke kunne tage billeder med robotter og digitalkameraer i en af Tjernobyls "sarkofager", har jeg fundet en artikel om emnet fra 2006: Investigating the influence of ionizing radiation on standard CCD cameras and a possible impact on photogrammetric...... Symposium 'Image Engineering and Vision Metrology'. Det er kendt af folk, der beskæftiger sig med mikroelektronik, at computerchips og hukommelseskredse kan blive sat ud af spillet, når de bliver udsat for radioaktivitet, og derfor vil også en computerstyret robot være sårbar overfor dette. Radioaktiv...... fra Århus Universitet, af N. Bassler: Radiation damage in scientific chargecoupled devices. Master's Thesis, Institute of Physics and Astronomy, University of Aarhus, Aarhus, Denmark (fra 2002). Konlusionen af deres undersøgelser er, at radioaktiv stråling (de undersøger gammastråling, som der må...

  5. SAMPAH UNTUK ENERGI: KELAYAKAN PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK DARI KANTIN DI LINGKUNGAN UNDIP BAGI PRODUKSI ENERGI DENGAN MENGGUNAKAN REAKTOR BIOGAS SKALA RUMAH TANGGA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Irawan Wisnu Wardana

    2012-09-01

    Full Text Available Harga minyak yang melonjak mempengaruhi aktifitas perekonomian dunia termasuk Indonesia, hal tersebut mendorong pemerintah untuk mengembangkan energi terbarukan termasuk diantaranya biogas. Limbah-limbah kantin memiliki potensi untuk menjadi sumber energi terbarukan, yaitu biogas.Limbah sisa makanan dan aktifitas dapur dalam jumlah yang cukup dari kantin di lingkungan fakultas teknik dikumpulkan, dilakukan perlakuan seperti penghalusan dan homogenisasi, lalu tahap memasukkan substrat beserta ekstrak rumen sapi sebagai sumber bakteri anaerob kedalam batch reactor dengan penambahan air sebagai variasi. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan, bahwa penambahan air mempengaruhi jumlah gas yang dihasilkan. Diketahui bahwa limbah yang ditambahkan air sebanyak 64 ml, mampu menghasilkan volume gas lebih banyak dibanding yang lainnya. Umur produksi gas mampu menghasilkan gas hingga hari ke 19. Dalam penelitian didapatkan adanya penurunan dan peningkatan produksi gas. Hal ini disebabkan adanya tahap pembentukan gas yang terjadi, mulai dari tahap hidrolisis, acidogenesis, asetogenesis, dan metanogenesis

  6. Pengaruh Hydraulic Retention TIME (Hrt) Dan Konsentrasi Influen Terhadap Penyisihan Parameter Bod Dan Cod Pada Pengolahan Limbah Domestik Greywater Artificial Menggunakan Reaktor Uasb

    OpenAIRE

    Rekoyoso, Bonis; Syafrudin, Syafrudin; Sudarno, Sudarno

    2014-01-01

    In urban areas domestic wastewater pollution reaches 60 % and about 75 % of the total volume of domestic wastewater is greywater . As an alternative wastewater treatment, UASB ( Upflow Anaerobic Sludge Blanket ) is an effective waste processing because it has many advantages . Several factors affect the performance of UASB reactors is Hydraulic Retention Time ( HRT ) and influent concentration. In the COD removal and BOD , reactors with HRT 4 hours having the smallest removal efficiency , i.e...

  7. Studi Penggunaan Arang Tempurung Kelapa Dan Pasir Vulkanik Merapi Dalam Pengolahan Limbah Zat Warna Tekstil Dengan Teknologi Adsorpsi Pada Reaktor Kontinyu Vertikal Dan Horisontal

    OpenAIRE

    Ayu Fauziah, Merina; Sutrisno, Endro; Sumiyati, Sri

    2014-01-01

    Wastewater outcomes from textile industry showing relative high dye substance value. One of the dye substance alternative processing is using coconut shell charcoal and Merapi volcanic sand. This research implementing a continuous process and measuring dye substance concentration using spectophotometric method. Continuous process has been held with horizontal and vertical type reactor. Each reactor use 5 variations of adsorbent (100% coconut shell charcoal, 75% coconut shell charcoal + 25% Me...

  8. The development of fast reactors - Effects on the Swedish system of management of spent fuel; Utveckling av snabba reaktorer - Paaverkan paa det svenska systemet foer hantering av anvaent braensle

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Hans Forsstroem, Hans [SKB International AB, Stockholm (Sweden)

    2013-09-15

    Since the start of the nuclear power era studies have been performed of how to utilise the uranium energy resource in the most effective way. Only about one percent of the energy potential of uranium is utilised in the light water reactors of today. To improve the utilization other types of reactors are needed. With fast reactors theoretically 50-100 times more energy can be extracted from the uranium. This will require reprocessing of the uranium and multiple recycling of the plutonium. Plutonium and uranium can also be recycled in light water reactors, but this will only improve the uranium utilisation by about 20 %. Recycling of plutonium on a routine basis is presently only done in France. The development of fast reactors has been going on since the end of the 1940ies. During the 1970ies the planning was that a large number of fast reactors and their associated fuel cycle facilities would be in operation by the year 2000. The development has, however, for different reasons been much slower than planned. The general assessment today is that fast reactor, if they will be realised, will hardly give an important contribution to energy production until after 2050. Nuclear power production has instead been dominated by light water reactors similar to the ones in use in Sweden. Light water reactors are believed to continue to dominate during the next decades. To start a fast reactor system plutonium (or highly enriched uranium) will be needed. Such plutonium is contained in spent nuclear fuel from light water reactors. This raises the question: Should the spent nuclear fuel be stored so that the potential energy resource in the fuel can be used in the future instead of disposing of it as a waste? The answer to this question will depend on when the material will be useful, i.e. when fast reactors have been introduced on a large scale. It will also depend on the demand for plutonium at this time, i.e. will plutonium be a scarce redundant resource at this point of time. In this context it should be considered that fast reactors will generate their own plutonium, as breeder reactors. Plutonium from other reactors will thus only be needed for the first years of operation. To provide a basis for the answer to the question if the Swedish spent fuel is a resource or a waste this report provides an overview of the present development status for fast reactors and their potential for large scale commercial use. It further describes the impact on the Swedish system for management of spent nuclear fuel if the fuel were to be reprocessed and the uranium and plutonium reused as fuel for fast reactors or for the present reactors.

  9. PEMBUATAN BAHAN BAKU SPREADS KAYA KAROTEN DARI MINYAK SAWIT MERAH MELALUI INTERESTERIFIKASI ENZIMATIK MENGGUNAKAN REAKTOR BATCH [Preparation of Red Palm Oil Based-Spreads Stock Rich in Carotene Through Enzymatic Interesterification in Batch-type Reactor

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nur Wulandari1,2

    2012-12-01

    Full Text Available Enzymatic interesterification of red palm oil (a mixture of red palm olein/RPO and red palm stearin/RPS in 1:1 weight ratio and coconut oil (CNO blends of varying proportions using a non-specific immobilized Candida antartica lipase (Novozyme 435 was studied for the preparation of spread stock. The interesterification reaction was held in a batch-type reactor. Two substrate blends were chosen for the production of spread stock i.e. 77.5:22,5 and 82.5:17.5 (RPO/RPS:CNO, by weight through enzymatic interesterification in three different reaction times (2, 4, and 6 hours. The interesterification reactions were conducted at 60°C, 200 rpm agitation speed and 10% of Novozyme 435. The interesterified products were evaluated for their physical characteristics (slip melting point or SMP and solid fat content or SFC and chemical characteristics (carotene retention, moisture content, and free fatty acid/FFA content. All of the interesterified products had lower SFC and SMP as compared to the initial blends. The SMP and SFC increased in longer reaction times. The SMP ranged from 30.8°C to 34.9°C. The carotene retention ranged from 74.80% to 81.08%, while the moisture content and FFA content increased in longer reaction times. The interesterified products had desirable physical properties for possible use as a spread stock rich in carotene.

  10. Significant advantages of the safety-first concept in construction, operation, and maintenance of the Westinghosue AP1000 reactor; Signifikante Vorteile des Safety-First-Konzeptes bei Errichtung, Betrieb und Wartung des Westinghouse AP1000-Reaktors

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Cummins, E. [Westinghosue Electric Co., Pittsburgh (United States); Benitz, K. [Westinghouse Electric Co., Mannheim (Germany)

    2004-02-01

    In June 2003, the U.S. Nuclear Regulatory Commission (USNRC) published a draft opinion about safety of the AP1000 Westinghouse pressurized water reactor with 'passive safety' features. The report constitutes an important milestone in the development of the next generation of safe and cost-efficient nuclear power plants. A new AP1000 can be absolutely competitive with fossil fired power plants and may be able to revive the construction of new nuclear power plants worldwide. The reason for designing the AP1000 were safety considerations. The use of passive safety systems at the same time entails a considerable reduction in the costs of design, maintenance, and operation of an AP1000 plant. Independent experts confirmed that an AP1000 can be erected within three years or even less. The estimated electricity generating costs of an AP1000 plant in the United States amount to US Cent 3.2 to 3.6 per kilowatthour. (orig.)

  11. Deaktivasi Katalis Konverter-Hidrogen Di Pabrik Urea Kaltim-3

    National Research Council Canada - National Science Library

    Agus Subekti; Achmad Syamsul Arief; Praharso Praharso; Subagjo Subagjo

    2007-01-01

    Di pabrik urea, konverter-hidrogen adalah satu reaktor yang berfungsi untuk mengkonversi hidrogen yang terikut dalam karbondioksida dengan cara mengoksidasi dengan udara, sehingga karbondioksida umpan...

  12. Energy-dispersive study of the interaction of fast neutrons with matter. Common final report of the DFG projects GR 1674/2 and FR 575/5 together with the institute for nuclear and particle physics, technical university Dresden; Energiedispersive Untersuchung der Wechselwirkung schneller Neutronen mit Materie. Gemeinsamer Abschlussbericht der DFG Projekte GR 1674/2 und FR 575/5, zusammen mit dem Institut fuer Kern- und Teilchenphysik, Technische Universitaet Dresden

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Altstadt, E.; Beckert, C. [Forschungszentrum Rossendorf e.V. (FZR) (Germany). Inst. fuer Sicherheitsforschung; Beyer, R. [Forschungszentrum Rossendorf e.V. (FZR), Dresden (DE). Inst. fuer Kern- und Hadronenphysik] [and others

    2005-04-01

    In this final report on the research project ''Energy-dispersive study of the interaction of fast neutrons with matter, especially materials for fusion and materials from fission reactors the status reached after three years promotion is described. The aim of this project is the construction and first usage of a very complex time-of-flight system for the study of the interaction of fast neutrons with construction materials for fusion and fission reactors as well as with long-lived radioisotopes. Furthermore astrophysically relevant experiments on problems of the element synthesis shall be performed. The whole project is devided into two sections: 1. Development, construction and test of a pulsed photoneutron source at the ELBE accelerator of the FZ Rossendorf, 2. Application of the photoneutron sources for measurements of cross sections induced by fast, energy-selected neutrons.

  13. Adamkus : EU might be willing to negotiate on postponing Ignalina reactor closure

    Index Scriptorium Estoniae

    2008-01-01

    President Valdas Adamkus teatas võimalusest, et EL alustab arutelu Ignalina tuumaelektrijaama sulgemise edasilükkamisest. Uue jaama valmimise aeg pole teada ning praegune reaktor on tänu rootslaste abile turvaline

  14. Põhja-Korea lubas taas jätta tuumaplaanid / Jürgen Tamme

    Index Scriptorium Estoniae

    Tamme, Jürgen

    2007-01-01

    Pekingis toimunud kuuepoolsete desarmeerimiskõneluste tulemusena on Põhja-Korea nõus andma ülevaate riigi tuumarajatistest ning alustama nende likvideerimist. 14. juulil suleti Yongbyoni tuumakeskuse reaktor. Lisa: Tuumavaidlus

  15. Studi Operasi Resin Penukar Ion Dalam Sistem Purifikasi Air Primer Pwr

    OpenAIRE

    Biyantoro, Dwi; Basuki, Kris Tri; Subagiono, Subagiono

    2006-01-01

    STUDI OPERASI RESIN PENUKAR ION DALAM SISTEM PURIFIKASI AIR PRIMER PWR. Telah dilakukan studioperasi resin penukar ion dalam sistem purifikasi air primer PWR. Air pendingin reaktor yang pada awalnya sesuaidengan persyaratan setelah pengoperasian reaktor sering kualitasnya berubah, sehingga harus dimurnikan. Unsurunsurpengotor dalam air primer PWR diidentifikasi sebagai penyebab pengotor seperti korosi, pelepasan produk fisi(Cs137, Sr90, Co60,C14, Tc99), dan pelepasan kembali unsur oleh resin ...

  16. INVESTIGATION OF RDE THERMAL PARAMETERS CHANGES IN RESPONSE TO LONG-TERM STATION BLACK OUT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hendro Tjahjono

    2017-05-01

    INVESTIGASI PERUBAHAN PARAMETER TERMAL RDE PADA KONDISI KEHILANGAN CATU DAYA LISTRIK DALAM JANGKA PANJANG. Akibat kehilangan catu daya listrik luar pada Reaktor Daya Eksperimental (RDE, panas sisa dari reaktor dibuang ke suatu sistem pembuang panas sisa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik transien parameter termal RDE ketika terjadi kegagalan pembuangan kalor sisa tersebut dalam jangka panjang. Untuk mencapai tujuan tersebut telah disusun model analisis perubahan parameter termal reaktor ketika terjadi Station Black Out (SBO menggunakan pemrograman Matlab dengan melibatkan persamaan-persamaan perpindahan kalor secara konduksi, konveksi dan radiasi. Dengan menggunakan program ini perubahan parameter termal RDE hingga 800 jam setelah reaktor trip telah dianalisis. Disimpulkan bahwa pada kondisi SBO dalam jangka panjang tersebut, reaktor masih tetap aman dengan temperatur maksimum teras sebesar 1140 °C, yaitu masih jauh di bawah batas aman 1600 °C yang telah ditetapkan dalam kriteria desain. Perlu diperhatikan adanya peningkatan temperatur beton hingga 600 °C jika air pendingin sudah habis. Oleh karena itu, ketersediaan air pendingin di sistem pembuang panas sisa mutlak harus dijaga. Kata kunci: reaktor daya eksperimental, pembuang panas sisa, transien, Matlab.

  17. Efek Durasi Pencahayaan Pada Sistem HRAR Untuk Menurunkan Kandungan Minyak Solar Dalam Air Limbah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dian Puspitasari

    2014-09-01

    Full Text Available Kandungan minyak di dalam air limbah industri perminyakan umumnya bersifat toksik terhadap mikroorganisme dan mengganggu proses pengolahan secara biologis. Sistem HRAR diperkirakan dapat mengatasi hambatan tersebut melalui proses fotosintesis untuk menghasilkan oksigen yang dibutuhkan mikroorganisme dalam mendegradasi senyawa hidrokarbon. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh perpanjangan waktu pencahayaan pada kemampuan HRAR dalam menurunkan kandungan minyak di dalam limbah. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah variasi durasi pencahayaan dan variasi penambahan volume minyak solar yang ditambahkan ke dalam reaktor. Variasi durasi pencahayaan yang digunakan adalah pencahayaan selama 12 jam dan pencahayaan selama 24 jam. Sedangkan penambahan volume minyak solar ke dalam masing-masing reaktor adalah sebesar 346 ppm, 519 ppm dan 692 ppm. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah durasi pencahayaan selama 12 jam memiliki efek yang lebih baik terhadap penurunan konsentrasi minyak dibandingkan pencahayaan selama 24 jam. Hal ini dapat terlihat dari baiknya pertumbuhan alga dan bakteri di dalam reaktor serta tingginya penurunan konsentrasi minyak solar di dalamnya. Penurunan konsentrasi minyak solar terbaik terdapat pada reaktor dengan penambahan minyak solar sebesar 346 ppm. Pada reaktor dengan durasi pencahayaan selama 12 jam terjadi penurunan konsentrasi minyak sebesar 78,4%. Sedangkan penurunan kandungan minyak solar pada reaktor dengan durasi pencahayaan selama 24 jam adalah sebesar 73,9%.

  18. NUMERICAL STUDY ON CONDENSATION IN IMMERSED CONTAINMENT SYSTEM OF ADVANCED SMR DURING UNCONTROLLED DEPRESSURIZATION

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Susyadi Susyadi

    2017-11-01

    STUDI NUMERIK PROSES KONDENSASI PADA SISTEM PENGUNGKUNG TERENDAM UNTUK SMR SAAT DEPRESURISASI TAK TERKENDALI. Sejumlah disain reaktor modular daya kecil (SMR sedang dikembangkan dan dibangun oleh beberapa negara dan umumnya masing masing  reaktor tersebut memiliki  inovasi tersendiri. Salah satunya adalah reaktor NuScale yang menggunakan sistem penggungkung ukuran kecil berbahan logam yang terendam dalam kolam air. Pendekatan  baru ini memunculkan tantangan baru karena pengendalian  temperatur dan tekanan dalam pengungkung dilakukan tanpa sistem aktif (peralatan bertenaga listrik. Sehingga perpindahan panas dan kondensasi secara pasif merupakan parameter penting yang perlu diinvestigasi untuk disain pengungkung seperti ini.  Oleh karena itu, penelitian ini akan memeriksa kondensasi, tekanan dan pengaruh temperatur kolam terhadap kemampuan pengungkung memindahkan panas dan menjaga integritasnya. Investigasi dilakukan menggunakan simulasi numerik dengan memodelkan reaktor ke dalam program RELAP5. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa selama depresurisasi, batas maksimum tekanan sebesar 5,5 MPa tidak terlampaui. Selain itu, disain pengungkung mampu memindahkan panas ke kolam reaktor secara pasif. Penelitian ini juga melakukan  analisis sensitivitas temperatur kolam reaktor dan hasilnya menunjukkan bahwa untuk kenaikan temperatur kolam sebesar 17 oC, pemindahan panas dari  pengungkung ke kolam hanya sedikit terpengaruh, yakni kurang dari 3 persen. Kata kunci : Pengungkung, Kondensasi, RELAP5, NuScale, Depresurisasi

  19. Development of an improved methodology for the determination of the neutron load of the pressure vessel steel of WWER-1000 type reactors. Final report; Entwicklung einer fortgeschrittenen Methodik zur Bestimmung der Neutronenbelastung des Druckbehaeltermaterials vom Reaktor des Typs WWER-1000. Abschlussbericht

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Barz, H.U.; Boehmer, B.; Konheiser, J.; Stephan, I.

    1998-05-01

    The investigations, reported on here, are aimed at the theoretical and experimental determination of the neutron exposure of the VVER-1000 reactors Balakovo-3 and Rovno-3. The overall approach, partially developed and at least improved in the frame of this project, comprises the pure calculation part, the gamma spectrometric analysis of neutron activation detectors and the comparison of experimental and theoretical results using the spectrum adjustment procedure. The approach is not restricted to neutron embrittlement but can be applied to neutron fluence problems in general. (orig./GL) [Deutsch] In diesem Projekt wurden fuer die WWER-1000 Reaktoren Balakovo-3 und Rovno-3 die Parameter der Neutronenbelastung experimentell und theoretisch bestimmt. Der vorliegende Bericht beschreibt das methodische Vorgehen, welches aus dem reinen Berechnungsteil, der gammaspektrometrischen Analyse der Ativierungsdetektoren und dem Vergleich der gemessenen und berechneten Werte einschliesslich der Spektrumsjustierung besteht. Dieses Instrumentarium, welches allgemein bei der Bestimmung der Neutronenfluenz anwendbar ist, wurde im Projektzeitraum weiter verbessert. (orig./GL)

  20. SAFIRA. Sub-project B 1.3: Development of coupled in-situ reactors and optimisation of the geochemical processes in the discharge of different in situ reactor sytems. Final report; SAFIRA. Teilprojekt B 1.3: Entwicklung von gekoppelten in situ-Reaktoren und Optimierung der geochemischen Prozesse im Abstrom von verschiedenen in situ-Reaktor-Systemen. Abschlussbericht

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Dahmke, A.; Schaefer, D.; Koeber, R.; Plagentz, V.

    2002-12-01

    The Bitterfeld ground water is contaminated with many different pollutants over a large area. Long-term measures like reactive barriers for purification are required. However, groundwater contaminated with multiple contaminants cannot be purified by a single reactive material; for this reason, the effectivity of combinations of different reactive materials was investigated. Of the combinations investigated, reducing iron and activated carbon connected in series was the most effective: The iron will remove the reducible chlorinated hydrocarbons, while the rest of the contaminants are adsorbed to the activated carbon. Iron and ORC was another interesting option, but the combination of iron and activated carbon was found to be the most favourable option. Until a better method is available, it is recommended to connect iron and activated carbon in parallel for removing contaminant mixtures. Directly behind reactive iron barriers (also when combined with activated carbon), the limiting values of the Freshwater Ordinance for Fe(II) and pH are exceeded. Directly behind ORC reactors, the limiting values for Mg and pH are exceeded. Investigations in the outflow of these reactive materials showed that the high pH values are buffered by contact with the aquifer material to values typical of aquifers, which usually are below the limiting values of the Freshwater Ordinance. However, as the buffer capacity of the soil is exhausted, a zone with a higher pH starts to grow in the aquifer. The growth of this zone depends on the pH and on the aquifer material. Especially in soils as found at Bitterfeld, with a high concentration of organic matter, we find long-term desorption of pollutants from the aquifer materials which will burden the purified water leaving the water treatment system and prohibit its utilization. [German] Der Grundwasserleiter im Raum Bitterfeld ist grossraeumig mit vielen verschiedenen Substanzen kontaminiert. Aufgrund der grossraeumigen Erstreckung kommen nur langfristig kostenguenstige passive Massnahmen wie reaktive Barrieren zur Sanierung in Frage. Grundwasser, das mit mehreren und unterschiedlich reagierenden Stoffen kontaminiert ist, kann jedoch nicht mit Hilfe eines einzelnen reaktiven Materials gereinigt werden, daher wurde die Effektivitaet von Kombinationen unterschiedlicher reaktiver Materialien zur Sanierung untersucht. Von den untersuchten Kombinationen erwies sich die Hintereinanderschaltung von reduzierendem Eisen und Aktivkohle als besonders effektiv. Reduzierbare chlorierte Kohlenwasserstoffe werden im Eisen entfernt, die verbleibenden Kontaminanten adsorbieren auf der Aktivkohle. Auch die Hintereinanderschaltung von Eisen und Sauerstoff abgebenden ORC, in denen ein aerober mikrobieller Abbau statt findet, ist zur Entfernung von Mischkontaminationen geeignet. Eine Kostenschaetzung zeigt, dass die Kombination von Eisen und Aktivkohle in Abhaengigkeit von der Zusammensetzung der Kontamination guenstiger als Aktivkohle allein sein kann und generell guenstiger als die Kombination von Eisen und ORC ist. Ohne ein guenstigeres Verfahren zum Einbringen von Sauerstoff in den Aquifer wird die Hintereinanderschaltung von Eisen und Aktivkohle zur Sanierung von Mischkontaminationen empfohlen. Im direkten Abstrom von reaktiven Eisenbarrieren (auch in Kombination mit Aktivkohle) sind die Grenzwerte fuer Fe(II) und pH entsprechend der Trinkwasserverordnung ueberschritten. Im Abstrom von ORC-Reaktoren werden die zulaessigen Werte fuer Mg und pH ueberschritten. Untersuchungen im Abstrom dieser reaktiven Materialien zeigen, dass die hohen pH-Werte durch den Kontakt mit dem Aquifermaterial auf Aquifer-typische Werte gepuffert werden, die ueblicherweise unter den Grenzwerten der Trinkwasserverordnung liegen. Mit Erschoepfen der Pufferkapazitaet des Bodens breitet sich jedoch eine Zone mit erhoehtem pH-Wert im Aquifer aus. Die Geschwindigkeit dieser Ausbreitung haengt vom pH-Wert und dem Aquifermaterial ab. Gerade fuer sehr Organik reiche Boeden wie in Bitterfeld wird auch eine lange anhaltende Desorption von Schadstoffen aus dem Aquifermaterial beobachtet, durch die das saubere Wasser, das die Sanierungsanlage verlaesst, wieder mit Schadstoffen beladen wird, was zu einer anhaltenden Nutzungseinschraenkung fuehrt. (orig.)

  1. Procedure to determine the optimal main primary coolant pump parameters of the FRG-1 reactor. P.1: Development concept, optimization criteria and general logical structure of the procedure; Verfahren zur Bestimmung der optimalen Kenndaten der Hauptprimaerumwaelzpumpe nach der Kernkompaktierung des Reaktors FRG-1. T.1: Entwicklungskonzept, Optimierungskriterien und allgemeine logische Struktur des Verfahrens

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Pihowicz, W. [GKSS-Forschungszentrum Geesthacht GmbH (Germany). Zentralabteilung Forschungsreaktoren

    1998-12-31

    First a development concept of the procedure was derived. Following this concept the procedure has to be derived stepwise, i.e. on subsequent logical levels. Furthermore, the report contains the results of the first two logical levels. On the first (basic) level the optimization criteria had been formulated. The general logical structure of the procedure results from the second logical level (macro level) of the evaluation process. This structure consists of four determination blocks, one identification unit and some determination elements as well as their logical interconnections in the form of decision and result units. The blocks serve for the realization of the closed and composed partial tasks of the procedure. They themselves form the complicated but not yet deviced partial structures, which again are the logical connections of the determination elements. In contrast to the blocks all determination elements are simple enough, so that their direct mathematical determination becomes possible. They serve for the solution of simple partial tasks. (orig.) [Deutsch] Zuerst wurde ein Konzept zur Entwicklung des Verfahrens erstellt. Nach dem Konzept soll das Verfahren stufenweise, auf nacheinander folgenden logischen Ebenen abgeleitet werden. Ausserdem enthaelt die Abhandlung noch die auf den zwei anfaenglichen logischen Ebenen des Entwicklungsprozesses erzielten Resultate. Auf der ersten Ebene (Grundebene) wurden die Optimierungskriterien formuliert. Die allgemeine logische Struktur des Verfahrens ergibt sich als Resultat der zweiten logischen Ebene (Makroebene) des Entwicklungsprozesses. Diese Struktur setzt sich aus vier Bestimmungsbloecken, einer Identifikationseinheit und einigen Bestimmungselementen sowie ihrer logischen Verknuepfung in Form der Entscheidungs- und Ergebniseinheiten zusammen. Die Bloecke dienen zur Realisierung der geschlossenen und zusammengesetzten Teilaufgaben des Verfahrens. Sie bilden selbst die komplizierten, jedoch noch nicht abgeleiteten Teilstrukturen, die wieder die logischen Verbindungen der Bestimmungselemente sind. Im Unterschied zu den Bloecken sind alle Bestimmungselemente ausreichend elementar, so dass ihre direkte mathematische Erfassung schon moeglich wird. Sie dienen zur Loesung der einfachen Teilaufgaben. (orig.)

  2. THERMAL-HYDRAULIC ANALYSIS OF SMR WITH NATURALLY CIRCULATING PRIMARY SYSTEM DURING LOSS OF FEED WATER ACCIDENT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Susyadi Susyadi

    2016-09-01

    ABSTRAK Reaktor daya kecil modular (SMR memiliki beberapa keunggulan dibanding reaktor daya besar konvensional. Dengan disain yang lebih sederhana dan terintegrasi, penerapan hukum alamiah untuk sistem keselamatannya dan biaya modal yang rendah, reaktor ini sangat cocok untuk dibangun di Indonesia. Salah satunya disain SMR yang sedang dikembangkan menerapkan gaya penggerak alami untuk sistim pendingin primernya. Dengan disain seperti itu, adalah sangat penting untuk memahami implikasinya terhadap aspek keselamatan pada seluruh kondisi operasi. Salah satu yang perlu diinvestigasi adalah kecelakaan kehilangan air umpan (LoFW. Pada studi ini, dilakukan analisis kinerja thermal hidrolik SMR yang menggunakan sistim pendinginan primer sirkulasi alam saat kecelakaan LoFW. Tujuannya adalah untuk menginvestigasi karakteristik aliran sistem primer saat kecelakaan LoFW dan untuk memastikan apakah aliran sirkulasi alam cukup untuk memindahkan panas dari teras guna menjaga kondisi tetap aman selama kecelakaan tersebut. Metoda yang digunakan adalah dengan merepresentasikan sistem reaktor ke dalam model-model generik program RELAP5 dan melakukan simulasi numerik. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa setelah kejadian pemicu dan trip reaktor, pada sisi primer laju alirnya berfluktuasi secara signifikan dan temperatur pendinginnya menurun secara bertahap sedangkan  pada sisi sekunder kondisi uap berubah menjadi uap jenuh. Laju alir turun dari ~711 kg/detik menjadi ~263 kg/detik sebelum kembali naik lagi pada t=~46 detik. Saat laju alir di titik terendah, temperatur pusat bahan bakar dan fluida pendingin adalah sekitar  ~565 K dan  ~554 K, yang menujukkan bahwa temperatur bahan bakar masih jauh di bawah batas disain dan temperatur fluidanya juga berada di bawah titik saturasi. Keadaan ini menunjukkan bahwa saat transien kedua parameter utama termohidrolik reaktor tetap dalam kondisi yang dapat diterima sehingga dapat disimpulkan  bahwa saat  kecelakaan kehilangan air umpan, SMR

  3. ANALISIS KUAT SUMBER NEUTRON DAN PERHITUNGAN LAJU DOSIS NEUTRON TERAS AWAL RDE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Suwoto Suwoto

    2017-02-01

    Full Text Available Teras reaktor RDE (Reaktor Daya Eksperimental berbentuk silinder non anular, mengadopsi teknologi HTGR (High Temperature Gas-cooled Reactor berbahan bakar kernel partikel berlapis TRISO dalam bentuk bola (pebble dan berpendingin gas helium. Desain teras reaktor RDE ini mengadopsi teknologi reaktor temperatur tinggi HTGR dengan keselamatan inherent pasif yang sangat aman. Temperatur keluaran panas gas helium teras reaktor RDE dirancang pada kisaran 700°C dengan temperatur masukan sekitar 250°C. Di samping menghasilkan listrik, reaktor RDE didisain menghasilkan panas temperatur tinggi yang dapat digunakan untuk keperluan kogenerasi lainnya (penelitian panas proses lainnya. Bahan bakar pada RDE berbentuk bola yang berisikan kernel partikel berlapis TRISO yang berupa uranium oksida (UO2 berpengkayaan 17%. Lapisan TRISO terdiri 4 lapisan yaitu lapisan karbon penyangga berpori, lapisan karbon pirolitik bagian dalam (IPyC, Inner Pyrolitic Carbon, lapisan Silikon Karbida (SiC dan lapisan pirolitik karbon bagian luar (OPyC, OuterPyrolitic Carbon. Analisis kuat sumber dan perhitungan awal laju dosis neutron pada teras RDE dilakukan menggunakan program Monte Carlo MCNP5v1.2. Pemodelan heterogenitas ganda pada bahan bakar kernel partikel berlapis TRISO dan pada bahan bakar bola pada teras RDE. Dengan memanfaatkan program EGS99304, jumlah struktur group energi yaitu 640 (SAND-II group structure digunakan dalam perhitungan spektrum neutron pada reaktor RDE. Teras reaktor RDE dibagi dalam 100 zona (10 arah radial dan 10 arah aksial. Analisis hasil perhitungan menunjukkan bahwa kuat sumber neutron reaktor RDE sebesar 8,47027X1017 neutron/sekon. Distribusi laju dosis neutron ditentukan menggunakan faktor konversi fluks ke dosis neurton dari International Commission on Radiological Protection, ICRP dan NCRP. Hasil perhitungan awal laju dosis neutron dengan faktor konversi ICRP-21 dan NCRP-38 untuk pekerja radiasi pada arah radial di perisai biologis sudah

  4. Perancangan dan Simulasi MRAC untui Proses Pengendalian Temperatur pada Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Amelia Sylvia

    2014-03-01

    Full Text Available Temperatur merupakan salah satu variabel proses dasar yang dikendalikan untuk menjaga suhu cairan di dalam reaktor. Model Reference Adaptive Controller (MRAC dengan MIT rule dipilih untuk mencapai spesifikasi respon yang diinginkan pada CSTR. Beban yang bervariasi berupa debit aliran likuid yang masuk ke dalam reaktor dapat menyebabkan perubahan parameter yang mempengaruhi perubahan temperatur output produk pada CSTR. Sebuah simulasi dilakukan dengan menggunakan MATLAB dan hasilnya dianalisa. Respon plant dapat melakukan adaptasi parameter – parameter kontrolernya cukup baik pada nilai gain adaptasi dengan rentang 0.00000010000 sampai 0.00000000001. Waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi beban yang bervariasi berupa debit aliran yang masuk ke dalam reaktor dengan nilai yang maksimal (1.5 m^3/min menghasilkan respon plant lebih cepat 42 detik dari pada debit aliran masuk dengan nilai yang nominal (1 m^3/min 63 detik dan minimal (0.5 m^3/min 75 detik.

  5. Towards rational design of redox-stratified biofilms

    DEFF Research Database (Denmark)

    Lackner, Susanne

    Biologisk kvælstoffjernelse er en central proces indenfor avanceret spildevandsrensning. Denne afhandling beskriver anvendelsen af beluftede membran biofilm reaktorer (eng: MABRs) til fuld autotrof kvælstoffjernelse. Denne ret nye kvælstofomsætningsvej baseres på delvis omdannelse af ammonium til...... i laboratorieskala MABRs bekræftede disse resultater. Succes med nitritation i disse reaktorer afhænger stærkt af den mikrobielle sammensætning men ikke af membran iltkoncentrationen. En sammenligning med konventionelle biofilmanlæg med co-diffusion viser at sidstnævnte har en klart bedre funktion...

  6. Fahrplanabstimmung auf europäischen Bahnkorridoren

    OpenAIRE

    Lischke, Andreas; Führer, Bernard; Giampiero, Garavagno

    2005-01-01

    Das Projekt Path Allocation Re-engineering of Timetable Networks for European Railways (PARTNER) hat das Ziel, eine neuen Weg der Trassenvergabe und Konstruktion entlang europäischer Bahnkorridore aufzuzeigen. Damit soll vor allem ein schneller und besser koordinierter Planungsprozess zum Verwalten der Infrastrukturkapazität erreicht werden. PARTNER hilft benachbarten Infrastrukturmanagern dabei, ein gemeinsames Verständnis für die Belange des jeweiligen Partners bei der Planung einer interna...

  7. Die außergerichtliche Konfliktregelung im elektronischen Geschäftsverkehr

    OpenAIRE

    Zander, Annette Elisabeth

    2003-01-01

    Die Arbeit beschäftigt sich mit neuen Formen der außergerichtlichen Konfliktregelung (ADR), die speziell auf die Lösung von Konflikten im elektronischen Geschäftsverkehr ausgerichtet sind. Die neuen Mechanismen sollen effektiver, flexibler, billiger, schneller und sachnäher als gerichtliche Verfahren sein. Es lassen sich im Wesentlichen zwei Haupttypen von Verfahren unterscheiden. Zum einen gibt es nutzerorientierte Verfahren, die das Vertrauen der Nutzer in den elektronischen Geschäftsverkeh...

  8. Die Kumulantenmethode

    OpenAIRE

    Seeger, Steffen

    2003-01-01

    In dieser Arbeit wird eine neue Methode zur Reduktion der Boltzmann-Gleichung auf ein System partieller Differentialgleichungen diskutiert. Nach einer kurzen Einführung in die kinetische Theorie einer Mischung inerter Gase wird ein Überblick in die aus der Literatur bekannten Momentenmethoden gegeben. Der anschließend vorgestellten Kumulantenmethode liegt die Annahme zugrunde, daß durch Stoßprozesse in einem Gas Korrelationen höherer Ordnung schneller abgebaut we...

  9. Military Review: The Professional Journal of the U.S. Army. Volume 89, Number 3, May-June 2009

    Science.gov (United States)

    2009-06-01

    If Soldiers make derogatory or racial comments and seem to treat the local population as a lower form of human being or as beneath the status of...movement. The story of the conference, as reported by Inter Press Service reporter Kimia Sanati, reads like a comedy of errors. The planned four...Platteborze, Ph.D., USA, Fort Sam Houston, Texas BLUE & GOLD AND BLACK: Racial Integration of the US Naval Academy, Robert J. Schneller Jr., Texas A

  10. PENGARUH PENGENDALIAN pH TERHADAP PEMBENTUKAN ETANOL DAN PERGESERAN PRODUK ASIDOGENESA DARI FERMENTASI LIMBAH CAIR INDUSTRI MINYAK SAWIT (The Influence of pH Control on Ethanol and Switch of Acidogenic Products Formation from Palm Oil Mill Effluent)

    OpenAIRE

    David Andrio; Mindriany Syafila; Marisa Handajani; Dessy Natalia

    2015-01-01

    ABSTRAK Limbah cair industri minyak sawit memiliki potensi sebagai substrat pembentukan etanol. Pemanfaatan kultur campuran dalam pembentukan etanol memiliki keuntungan karena tidak memerlukan sterilisasi substrat, namun akan dihasilkan berbagai produk samping dan sebaliknya pada Saccharomyces cerevisiae. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pengaturan pH terhadap pembentukan etanol dan produk asidogenesa. Rancangan penelitian terdiri dari reaktor bakteri anaerob dan ragi d...

  11. OPTIMASI LAJU ALIR MASSA DALAM PURIFIKASI PENDINGIN RGTT200K UNTUK PROSES KONVERSI KARBONMONOKSIDA

    OpenAIRE

    Sumijanto Sumijanto; Sriyono Sriyono

    2016-01-01

    ABSTRAK OPTIMASI LAJU ALIR MASSA DALAM PURIFIKASI PENDINGIN RGTT200K UNTUK PROSES KONVERSI KARBONMONOKSIDA. Karbonmonoksida adalah spesi yang sulit dipisahkan dari helium pendingin reaktor karena mempunyai ukuran molekul relatif kecil sehingga diperlukan proses konversi menjadi karbondioksida. Laju konversi karbonmonoksida dalam sistem purifikasi dipengaruhi oleh beberapa parameter diantaranya konsentrasi, temperatur dan laju alir massa. Dalam penelitian ini dilakukan optimasi laju alir m...

  12. Leedu nõuab Eestilt ja Lätilt tuumaõnnetuse puhuks tagatist / Andrus Karnau

    Index Scriptorium Estoniae

    Karnau, Andrus

    2007-01-01

    Erimeelsustest Ignalina uue tuumajaama partnerite vahel. Leedu nõuab Eestilt ja Lätilt osalemist tuumajäätmete matmisel ja võimalike õnnetuste tagajärgede likvideerimisel, Poola soovib Ignalina uues reaktoris Balti riikidega võrdset osalust. Lisa: Ignalina uus reaktor

  13. Eesti Energia valib Ameerikas tuumajaamale reaktoreid / Andres Reimer

    Index Scriptorium Estoniae

    Reimer, Andres

    2009-01-01

    Eesti Energia liitus rahvusvahelise tuumareaktoriprojektiga IRIS, projekti eesmärk on luua lihtsa konstruktsiooniga, ohutu ja suhteliselt odav reaktor. Jürgen Ligi sõnul saab Eesti oma IRIS-tüüpi tuumajaama juba 2019. aastal. Joonis: Potentsiaalne tuumajaam

  14. THERMAL-HYDRAULICS PARAMETER ANALYSIS OF THE BANDUNG TRIGA 2000 REACTOR BASED ON CFD AND RELAP5/MOD3.2

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Reinaldy Nazar

    2015-04-01

    . The result of this study can be used as a valuable information in operating Bandung TRIGA 2000 reactor at the limited power of 1000 kW and revising safety analysis report (SAR of Bandung TRIGA 2000 reactor. Keywords: Bandung TRIGA 2000 reactor, 1000 kW limited power, thermal-hydraulic aspect, computer code of CFD, computer code of RELAP5/Mod3.2.   Reaktor TRIGA 2000 Bandung merupakan hasil upgrading dari reaktor TRIGA Mark II berdaya nominal 1 MW menjadi 2 MW dan telah diresmikan pengoperasiannya pada tahun 2000. Dalam periode tersebut telah terjadi perubahan parameter operasi, terutama parameter yang berkaitan dengan aspek termohidrolik, seperti suhu teras reaktor yang tinggi dan menyebabkan terjadi pembentukan gelembung uap di dalam teras. Hal ini bertentangan dengan aspek keselamatan. Mengingat masalah keselamatan merupakan hal yang utama, maka perlu dilakukan penurunan suhu teras reaktor dan pengurangan pembentukkan gelembung uap di dalam teras, diantaranya dengan mengoperasikan reaktor TRIGA 2000 Bandung pada daya terbatas 1000 kW. Untuk mengetahui tingkat keselamatan pengoperasian reaktor TRIGA 2000 Bandung pada daya 1000 kW, dilakukan analisis karakteristik termohidrolik melalui kajian teoritik menggunakan program computer Computational Fluid Dynamics (CFD dan RELAP5/Mod3.2 (Reactor Excursion and Leak Analysis Program. Hasil kajian menunjukkan bahwa reaktor mencapai kondisi tunak pada daya 1000 kW setelah 1500 detik reaktor kritis, suhu maksimum bahan bakar di dalam teras reaktor berada di posisi C4 dimana suhu maksimum pusat bahan bakar 529,35 °C, suhu maksimum kelongsong bahan bakar 103,12 °C, dan suhu maksimum pendingin pada posisi bahan bakar terkait 90,67 °C. Suhu maksimum kelongsong bahan bakar dan suhu maksimum pendingin yang diperoleh berharga jauh di bawah suhu saturasi 112,4 °C, sehingga pendidihan prajenuh (sub-cooled boiling atau pendidihan saturasi dan pembentukan gelembung uap di dalam teras diprediksi tidak terjadi. Selain itu ketika reaktor

  15. ANALYSIS OF GAMMA HEATING AT TRIGA MARK REACTOR CORE BANDUNG USING PLATE TYPE FUEL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Setiyanto Setiyanto

    2016-10-01

    Full Text Available ABSTRACT In accordance with the discontinuation of TRIGA fuel element production by its producer, the operation of all TRIGA type reactor of at all over the word will be disturbed, as well as TRIGA reactor in Bandung. In order to support the continuous operation of Bandung TRIGA reactor, a study on utilization of fuel plate mode, as used at RSG-GAS reactor, to replace the cylindrical model has been done. Various assessments have been done, including core design calculation and its safety aspects. Based on the neutronic calculation, utilization of fuel plate shows that Bandung TRIGA reactor can be operated by 20 fuel elements only. Compared with the original core, the new reactor core configuration is smaller and it results in some empty space that can be used for in-core irradiation facilities. Due to the existing of in-core irradiation facilities, the gamma heating value became a new factor that should be evaluated for safety analysis. For this reason, the gamma heating for TRIGA Bandung reactor using fuel plate was calculated by Gamset computer code. The calculations based on linear attenuation equations, line sources and gamma propagation on space. Calculations were also done for reflector positions (Lazy Susan irradiation facilities and central irradiation position (CIP, especially for any material samples. The calculation results show that gamma heating for CIP is significantly important (0,87 W/g, but very low value for Lazy Susan position (lest then 0,11 W/g. Based on this results, it can be concluded that the utilization of CIP as irradiation facilities need to consider of gamma heating as data for safety analysis report. Keywords: gamma heating, nuclear reactor, research reactor, reactor safety.   ABSTRAK Dengan dihentikannya produksi elemen bakar reaktor jenis Triga oleh produsen, maka semua reaktor TRIGA di dunia terganggu operasinya, termasuk juga reaktor TRIGA 2000 di Bandung. Untuk mendukung pengoperasian reaktor TRIGA Bandung

  16. Analytische Erfassung sowie technologische und technische Beeinflussung der Läutertrübung und des Heißtrubgehalts der Würze und deren Auswirkungen auf Gärung und Bierqualität

    OpenAIRE

    Kühbeck, Florian

    2008-01-01

    In dieser Arbeit wurden die Auswirkungen einer stark erhöhten Läutertrübung und/oder hoher Heißtrubdosagen auf Gärung und Qualität der resultierenden Biere untersucht. Anhand von systematischen Gärversuchen im Labor-, Pilot- und großtechnischen Maßstab wurden durch trübes Abläutern und/oder Heißtrubdosage erhöhte Zellzahlen in Schwebe, ein schnellerer pH-Wert-Sturz und Extraktabbau gegenüber sehr klaren Würzen erzielt. Ursache hierfür scheinen physiologisch wichtige Bestandteile des Heißtrubs...

  17. Einsatz der Laserinduzierten Glühtechnik zur Charakterisierung von Nanopartikeln unter produktionsnahen Bedingungen

    OpenAIRE

    Dankers, Stefan

    2005-01-01

    Für die Bestimmung der Primärteilchengröße von Nanopartikeln wird im Rahmen dieser Arbeit die laserinduzierte Glühtechnik (Laser-Induced Incandescence - LII) eingesetzt. Diese ist ein optisches Messverfahren, das auf der Aufheizung der nanoskaligen Teilchen durch einen Laserpuls und der anschließenden Detektion der Wärmestrahlung beruht. Durch Untersuchung des Abkühlverhaltens der Teilchen kann deren Primärpartikelgröße ermittelt werden, da kleine Teilchen schneller abkühlen. Es wird die Anwe...

  18. Pengolahan Limbah Cair Organik dengan Microbial Fuel Cell

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wahyu Rinaldi

    2015-07-01

    Full Text Available Penelitian ini mengusulkan sebuah prototipe reaktor microbial fuel cell (MFC tanpa membran beraliran kontinyu. Dinding Reaktor dibuat dari pipa PVC dan elektroda dari serat karbon. Mikroba yang ditambatkan di anoda bersumber dari larutan FloTank®. Pada penelitian ini digunakan limbah organik artifisial yang dibuat dari glukosa monohidrat dengan konsentrasi 250 mg/L COD. Waktu tinggal limbah divariasikan pada 0,5; 1; 1,5; dan 2 hari. Nilai rata-rata daya listrik yang dihasilkan untuk waktu tinggal limbah 0,5; 1; 1,5; dan 2 hari berturut-turut adalah 38,02; 43,01; 45,35; 46,71 mW/m2, dan daya volumetrik yang dihasilkan adalah 111,25; 125,86; 132,71; dan 136,69 mW/m3. Persentase penurunan Chemical Oxygen Demand (COD limbah paling tinggi diperoleh pada waktu tinggal 1,5 hari yaitu sebesar 32,26%.

  19. FRACTURE MECHANICS UNCERTAINTY ANALYSIS IN THE RELIABILITY ASSESSMENT OF THE REACTOR PRESSURE VESSEL: (2D SUBJECTED TO INTERNAL PRESSURE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Entin Hartini

    2016-06-01

    BEJANA TEKAN REAKTOR: 2D DENGAN BEBAN INTERNAL PRESSURE. Bejana tekan reaktor (RPV merupakan pressure boundary dalam reaktor tipe PWR yang berfungsi untuk mengungkung material radioaktif  yang dihasilkan pada proses reaksi berantai. Maka dari itu integritas bejana tekan reaktor harus senantiasa terjamin baik reaktor dalam keadaan operasi normal, maupun kecelakaan. Dalam melakukan analisis integritas RPV, khususnya yang berkaitan dengan pecahnya bejana tekan reaktor akibat adanya retak dilakukan analisis secara fracture mechanics. Adanya ketidakpastian input seperti sifat mekanik bahan, lingkungan fisik, dan input pada data, maka dalam melakukan analisis keandalan tidak hanya dilakukan secara deterministik saja. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis ketidakpastian input pada perhitungan fracture mechanik pada evaluasi keandalan bejana tekan reaktor PWR. Pendekatan untuk karakter random dari kuantitas input menggunakan  teori probabilistik. Analisis fracture mechanics dilakukan berdasarkan metode elemen hingga (FEM menggunakan perangkat lunak MSC MARC. Analisis ketidakpastian input dilakukan berdasarkan probability density function dengan Latin Hypercube Sampling (LHS menggunakan python script. Output dari MSC MARC adalah nilai J-integral untuk mendapatkan nilai stress intensity factor pada evaluasi keandalan bejana tekan reactor 2D. Dari hasil perhitungan dapat disimpulkan bahwa SIF probabilistik lebih dulu mencapai nilai batas fracture tougness  dibanding  SIF deterministik. SIF yang dihasilkan dengan metode probabilistik adalah 105,240 MPa m0,5. Sedangkan SIF metode deterministik adalah 100,876 MPa m0,5. Kata kunci: Analisis ketidakpastian, fracture mechanics, LHS, FEM, bejana tekan reaktor

  20. Besøg Risø: Kom og dan dig dit eget indtryk

    DEFF Research Database (Denmark)

    Sønderberg Petersen, L.

    2003-01-01

    Risø slæber stadig rundt med et image som atomforsøgsanlæg. Hvis folk overhovedet kender os, så er det for de flestes vedkommende primært på grund af vores reaktorer. Men hvert år er der knap 3000 personer som får ændret det billede fordi de kommer en turi Risø Besøgscenter.......Risø slæber stadig rundt med et image som atomforsøgsanlæg. Hvis folk overhovedet kender os, så er det for de flestes vedkommende primært på grund af vores reaktorer. Men hvert år er der knap 3000 personer som får ændret det billede fordi de kommer en turi Risø Besøgscenter....

  1. Pra Desain Pabrik Sorbitol dari Tepung Tapioka dengan Hidrogenasi Katalitik

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hellen Kartika Dewi

    2014-03-01

    Full Text Available Sorbitol yang dikenal juga sebagai glusitol, adalah suatu gula alkohol yang dimetabolisme lambat di dalam tubuh. Sorbitol banyak digunakan sebagai bahan baku untuk industri barang konsumsi dan makanan seperti pasta gigi, permen, kosmetika, farmasi, vitamin C, termasuk industri tekstil dan kulit. Pembuatan sorbitol dari bahan baku tepung tapioka. Pabrik sorbitol ini direncanakan akan didirikan di Propinsi Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Batang dengan kapasitas produksi 30.000 ton/tahun. Proses produksi Sorbitol menggunakan proses hidrogenasi katalitik. Pembuatan sorbitol dari bahan baku pati melalui dua tahap proses utama yaitu proses perubahan starch menjadi glukosa melalui hidrolisa double enzym. Enzim yang digunakan yaitu α-amylase dan glukoamylase. Proses hidrogenasi katalitik dilakukan dengan mereaksikan larutan dekstrose dan gas hidrogen bertekanan tinggi dengan menambahkan katalis nikel dalam reaktor (Reaktor Hidrogenasi. Gas hidrogen masuk dari bawah reaktor secara bubbling dan larutan dekstrose diumpankan dari atas reaktor sehingga kontak yang terjadi semakin baik. Sorbitol yang di hasilkan dalam pradesain pabrik sorbitol ini dengan konsentrasi 58,2%. Pendirian pabrik sorbitol memerlukan biaya investasi modal tetap (fixed capital sebesar Rp 168.801.192.952, modal kerja (working capital  Rp 29.788.445.815, investasi total Rp 198.589.638.767, Biaya produksi per tahun Rp 368.832.813.809 dan  hasil penjualan per tahun Rp 540.000.078.750. Dari analisa ekonomi didapatkan BEP sebesar 26,32%. ROI sesudah pajak 48,5 %, POT sesudah pajak 2,14 tahun. Dari segi teknis dan ekonomis, pabrik ini layak untuk didirikan.

  2. Comparative studies in farther-reaching waste water cleaning in different reactor systems; Vergleichende Untersuchungen zur weitergehenden Abwasserreinigung in unterschiedlichen Reaktorsystemen

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Dockhorn, T. [Technische Univ. Braunschweig (Germany). Inst. fuer Siedlungswasserwirtschaft

    1999-07-01

    Three semi-technical pilot plants (completely mixed reactor, cascade, SBR) were operated in parallel under equal starting conditions. The influence of the type of reactor on the processes COD elimination, nitrification, denitrification and biological P elimination under operating conditions was studied. (orig.) [German] Es wurden drei halbtechnische Versuchsanlagen (volldurchmischter Reaktor, Kaskade, SBR) unter gleichen Ausgangsbedingungen parallel betrieben. Hierbei wurde der Einfluss des Reaktortyps auf die Prozesse CSB-Elimination, Nitrifikation, Denitrifikation sowie biologische P-Elimination unter Betriebsbedingungen untersucht. (orig.)

  3. Wpływ czasu napowietrzania na pracę reaktora SBR i SBBR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Małgorzata Makowska

    2016-06-01

    Full Text Available W pracy przedstawiono efekty oczyszczania małych ilości ścieków w bioreaktorach porcjowych. Przebadano dwa równolegle pracujące reaktory, z czego jeden był klasycznym systemem SBR, a drugi to reaktor SBBR ze złożem ruchomym. Obydwa ciągi technologiczne oczyszczały taką samą ilość ścieków bytowych wstępnie podczyszczonych w piaskowniku. Trzy kolejne serie badań różniły się długością napowietrzania. Porównano pracę reaktorów w kolejnych seriach oraz analizowano wyniki uzyskane w obu systemach. Największą skuteczność usuwania związków węgla organicznego (jako ChZT i azotu (jako N-NH4 uzyskano w reaktorze SBBR w trzeciej serii badań (średnio odpowiednio 90 i 62%. Reaktor SBBR pracował bardziej stabilnie oraz usuwał na drodze biologicznej fosfor z największą średnią skutecznością 83% w serii trzeciej. Ścieki oczyszczone w tym reaktorze charakteryzowały się mniejszym stężeniem zawiesiny, co świadczy o skuteczniejszej pracy reaktora z wypełnieniem w fazie sedymentacji.

  4. FACTORS INFLUENCING HUMAN RELIABILITY OF HIGH TEMPERATURE GAS COOLED REACTOR OPERATION

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sigit Santoso

    2016-10-01

    ABSTRAK Peran dan tindakan operator pada reaktor berpendingin gas akan berbeda dengan peran operator pada operasi tipe reaktor lain. Analisis unjuk kerja operator dan faktor yang berpengaruh dapat dilakukan secara komprehensif melalui analisis keandalan manusia(HRA. Melalui HRA dampak dari kesalahan manusia pada sistem maupun cara untuk mengurangi dampak dan frekuensi kesalahan dapat diketahui. Makalah membahas faktor yang berpengaruh pada tindakan operator, yaitu pada kejadian kecelakaan pendingin reaktor gas bersuhu tinggi-HTGR. Analisis untuk kualifikasi faktor pembentuk kinerja(PSF dilakukan berdasarkan kurva keandalan fungsi waktu, dan metode keandalan manusia yang dikembangkan berdasar pada aspek kognitif yaitu Cognitive Reliability and Error Analysis Method (CREAM. Hasil analisis berdasar kurva keandalan fungsi waktu menunjukkan komponen waktu berkontribusi positif pada peningkatan keandalan operator (PSF<1 pada kondisi semua fitur keselamatan berfungsi sesuai rancangan. Sedangkan pada metoda analisis dengan pendekatan kognitif CREAM diketahui selain faktor ketersediaan waktu, faktor pelatihan dan rancangan HMI juga berkontribusi meningkatkan keandalan operator. Faktor pembentuk kinerja keseluruhan diketahui sebesar 0,25 dengan faktor kontribusi positif dominan atau berpengaruh pada penurunan kesalahan manusia adalah ketersediaan waktu (PSF=0,01, dan faktor kontribusi negatif dominan adalah prosedur dan siklus kerja (PSF=5. Nilai PSF tersebut sebagai faktor pengali dalam perhitungan probabilitas kesalahan manusia. Analisis faktor pembentuk kinerja perlu dikembangkan pada skenario kejadian lain untuk selanjutnya digunakan untuk perhitungan dan analisis keandalan manusia yang komprehensif dan perancangan sistem interaksi manusia mesin di ruang kendali. Kata kunci: PSF, HTGR, operator, ruang kendali, keandalan manusia

  5. Penurunan Logam Timbal (Pb pada Limbah Cair TPA Piyungan Yogyakarta dengan Constructed Wetlands Menggunakan Tumbuhan Eceng Gondok (Eichornia Crassipes

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Eko Siswoyo

    2015-10-01

    Full Text Available Salah satu permasalahan lingkungan yang ditimbulkan dari adanya lindi di TPA Piyungan yaitu pencemaran pada badan air, sungai dan air tanah. Untuk mengatasi permasalahan ini salah satunya dengan sistem Constructed Wetlands dengan menggunakan tumbuhah eceng gondok. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat penurunan konsentrasi Timbal (Pb yang terdapat dalam limbah cair TPA Piyungan dengan Constructed Wetlands menggunakan tumbuhan eceng gondok dan untuk mengetahui seberapa besar kapasitas serapan tumbuhan eceng gondok terhadap kandungan Timbal (Pb dalam limbah cair TPA Piyungan.Dalam penelitian ini digunakan reaktor yang terbuat dari kayu yang dilapisi plastik dengan ukuran 0,5 m x 1,0 m. Setiap reaktor diberi media tanah 5 cm, dan diberi tumbuhan sebanyak 14 buah. Reaktor tersebut diberi perlakuan dengan konsentrasi limbah yang bervariasi (100%, 75%, 50%, 25%, dan 0%, dan waktu pengambilan sampel (0, 3, 6, 9, 12 hari. Dengan menggunakan metode SSA (Spektrofotometri Serapan Atom.Berdasarkan pengujian diperoleh bahwa penurunan logam Pb pada limbah cair TPA Piyungan hari ke- 12, yaitu sebesar 0.0501mg/L pada konsentrasi 100%, 0.0295mg/L pada konsentrasi 75%, 0.0267mg/L pada konsentrasi 50% dan 0.0041 mg/L pada konsentrasi 25%.

  6. Relativitätstheorie ein Sachcomic

    CERN Document Server

    Bassett, Bruce

    2012-01-01

    E = mc² – so einfach ist eine Revolution! Nichts ist schneller als Licht! Wie lange noch? Was fangen wir mit einer vierten Dimension an und mit krummen Räumen? Einstein gilt als größter Physiker der Neuzeit, das amerikanische Magazin „Time“ machte ihn sogar zum Mann des Jahrhunderts. Einstein ist das Lieblingsgenie vieler Menschen: ein Radikaler im wissenschaftlichen Arbeiten und engagierter sozialistischer Pazifist. Es ist nun gut hundert Jahre her, seit Einsteins Relativitätstheorie unseren Blick auf Raum, Zeit und Materie revolutionierte. Einsteins Gedankenexperimente sind berüchtigt für ihre Komplexität, aber sie bieten fesselnde Beschreibungen der Grundlagen, auf denen die Welt funktioniert. Relativitätstheorie und Quantentheorie sind die zwei Hauptsäulen der modernen Physik. Dieser Sachcomic nimmt Sie mit auf eine unterhaltsame Bildungsreise durch Raum und Zeit vorbei an Schwarzen Löchern und quer durch Gravitationsfelder (Je schneller Sie lesen, desto jünger werden Sie!!). Sie werden ...

  7. ANALISIS PERUBAHAN MASSA BAHAN FISIL DAN NON FISIL DALAM TERAS PWR 1000 MWe DENGAN ORIGEN-ARP 5.1

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anis Rohanda

    2015-03-01

    Full Text Available Teras reaktor merupakan tempat terjadinya reaksi pembelahan (fisi yang terkendali. Komponen reaktor seperti bahan bakar, kelongsong (cladding dan air pendingin memiliki peranan penting dalam keberlangsungan reaksi fisi. Reaksi fisi mengakibatkan terbentuknya sejumlah nuklida hasil fisi dan hasil aktivasi. Hasil fisi berasal dari reaksi tangkapan neutron termal dengan bahan fisil sedangkan hasil aktivasi berasal dari interaksi bahan non fisil seperti material kelongsong dan pendingin oleh neutron dan gamma. Pada setiap pengoperasian suatu reaktor, informasi perubahan massa bahan fisil dan non fisil sangat berguna untuk manajemen bahan bakar dalam teras, seperti pengaturan reaktivitas, optimasi dan pemuatan bahan bakar. Untuk itu perlu dilakukan penelitian mengenai perubahan bahan fisil dan non fisil tersebut dalam teras reaktor. Hal ini dapat dilakukan dengan mengamati perubahan massa dari material dalam teras reaktor. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui perubahan massa unsur penyusun material dalam teras, seperti massa dari unsur penyusun elemen bahan bakar nuklir, kelongsong dan air pendingin setelah digunakan dalam teras. Dari perubahan massa tersebut dapat diketahui fraksi bakar atau tingkat konsumsi bahan bakar yang digunakan. Penelitian dilakukan pada basis reaktor PLTN tipe PWR buatan pabrikan asal Amerika Serikat berdaya 1000 MWe dengan menggunakan code penghitung inventori hasil fisi ORIGEN-ARP 5.1, yaitu versi terbaru dari ORIGEN dengan library khusus reaktor daya. Hasil analisis menunjukkan bahwa bahan fisil U-235 mengalami pengurangan massa hingga 58% atau lebih dari separuhnya dari massa U-235 awal untuk tiap kali siklus operasi. Bahan fertil U-238 hanya mengalami pengurangan massa sekitar 2% dari massa awalnya tiap kali siklus operasi. Lain halnya dengan bahan non fisil yang mengalami perubahan massa yang berbeda-beda untuk tiap kali siklus operasinya yang tergantung pada tampang lintang aktivasi serta laju peluruhan dan

  8. PENGARUH PENGENDALIAN pH TERHADAP PEMBENTUKAN ETANOL DAN PERGESERAN PRODUK ASIDOGENESA DARI FERMENTASI LIMBAH CAIR INDUSTRI MINYAK SAWIT (The Influence of pH Control on Ethanol and Switch of Acidogenic Products Formation from Palm Oil Mill Effluent

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    David Andrio

    2015-03-01

    Full Text Available ABSTRAK Limbah cair industri minyak sawit memiliki potensi sebagai substrat pembentukan etanol. Pemanfaatan kultur campuran dalam pembentukan etanol memiliki keuntungan karena tidak memerlukan sterilisasi substrat, namun akan dihasilkan berbagai produk samping dan sebaliknya pada Saccharomyces cerevisiae. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pengaturan pH terhadap pembentukan etanol dan produk asidogenesa. Rancangan penelitian terdiri dari reaktor bakteri anaerob dan ragi dengan perlakuan pengendalian pH pada rentang 6-6,5 dan tanpa pengendalian pH dengan pH awal fermentasi 6-6,5. Hasil penelitian menunjukkan Degree Acidification (DA, Total Asam Volatil (TAV dan etanol tertinggi berurutan sebesar 0,32; 808,03 mg/L dan 24,03 mg/L pada reaktor bakteri dengan pengendalian pH; 0,23; 522,43 mg/L dan 23,12 mg/L pada reaktor tanpa pengendalian pH; 0,25; 775,78 mg/L dan 34,11 mg/L pada reaktor ragi dengan pengendalian pH dan 0,32; 866,71 mg/L dan 29,17 mg/L pada reaktor ragi tanpa pengendalian pH. Pengendalian pH fermentasi meningkatkan pembentukan produk asetil-KoA dari 4,35% menjadi 7,34% pada reaktor bakteri dan dari 17,92% menjadi 18,78% pada reaktor ragi dan tidak berpengaruh terhadap pembentukan etanol.  ABSTRACT Palm oil mill effluent has potention for substrate to ethanol formation. Utilization of anaerobic mixed culture bacteria to form ethanol has advantages i.e not requiring sterilization of the substrate and vice versa in Saccharomyces cerevisiae, but resulting side products. The aims of this research are to study effect of controlling pH on ethanol formation and acidogenic products. Design experiment consisted of anaerobic bacteria and yeast reactor with the pH control in the range of pH 6 - 6.5 and initial pH 6-6.5 for without pH control treatment. The results showed the highest Degree Acidification (DA, Total Volatile Fatty Acid (TVFA and ethanol are 0.32; 808.03 mg/L and 24.03 mg/L for bacteria reactor with pH control; 0

  9. STUDI MODEL ALIRAN FLUIDA DAN PERPINDAHAN PANAS PADA PBMR.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Achmad Fatich Al-Qodri

    2013-11-01

    Full Text Available Reaktor tipe Pebble bed merupakan opsi yang menjanjikan untuk teknologi reaktor generasi mendatang dan memiliki potensi untuk memberikan pembangkitan listrik dengan efisiensi tinggi dan murah.Perpindahan panas reaktor ini menghadapi kendala akibat kompleksitas yang berkaitan dengan desain aliran panas.Dengan demikian, untuk mensimulasikan secara baik aliran dan perpindahan panas reaktor modular pebble bed ini memerlukan suatu model perpindahan panas yang berhubungan dengan radiasi serta konveksi dan konduksi panas.Dalam studi ini, suatu model dengan kemampuan untuk mensimulasikan aliran fluida dan perpindahan panas dalam teras reaktor modular pebble bed telah dikembangkan.Model ini diterapkan pada suatu personal computer (PC yang menggunakan program komputer Matlab r2008a Versi 7.1.Beberapa parameter penting aliran fluida dan perpindahan panas telah dipelajari, termasuk penurunan tekanan (pressure drop di teras reaktor, koefisien perpindahan panas, bilangan Nusselt, dan konduktivitas panas efektif pebble bahan bakar. Hasil yang diperoleh dari percobaan simulasi menunjukkan adanya suatu tekanan yang merata pada arah radial untuk suatu rasio diameter teras terhadap elemen bakar (D/d > 20 dan koefisien perpindahan panas meningkat seiring dengan peningkatan temperatur dan laju alir massa pendingin. Model ini dapat menjelaskan secara memadai fenomena aliran panas dan perpindahan panas dan kehilangan tekanan melalui friksi dalam PBMR tipe pebble bed.Kata kunci: Aliran fluida, perpindahan panas, PBMR, packed bed, penurunan tekananAbstractThe pebble bed type high temperature gas cooled nuclear reactor is a promising option for next generation reactor technology and has the potential to provide high efficiency and cost effective electricity generation. The reactor unit heat transfer poses a challenge due to the complexity associated with the thermalflow design. Therefore to reliably simulate the flow and heat transport of the pebble bed modular reactor

  10. Bioremediasi Lumpur Minyak (Oil Sludge dengan Penambahan Kompos sebagai Bulking Agent dan Sumber Nutrien Tambahan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Any Juliani

    2015-10-01

    Full Text Available Bioremediasi merupakan salah satu alternatif pengolahan limbah berbahaya yang relatif lebih ekonomis, mudah dan ramah lingkungan. Teknologi ini memanfaatkan aktivitas mikroba untuk mengolah limbah berbahaya tadi menjadi lebih rendah bahayanya atau bahkan tidak berbahaya sama sekali. Salah satu limbah yang berpotensi menjadi limbah berbahaya dari aktivitas industri adalah limbah oil sludge. Oil sludge memiliki karakteristik tertentu sehingga untuk proses bioremediasinya perlu dicampur dengan tanah. Pencampuran dengan tanah bertujuan untuk memperbaiki porositas bahan sehingga pertukaran oksigen dapat berlangsung lebih baik. Oksigen diperlukan mikroba untuk penguraian limbah. Selain oksigen, mikroba juga memerlukan nutrien penunjang yang minim disediakan oleh lingkungan. Kompos mempunyai kemampuan untuk meningkatkan porositas, merupakan bahan nutrien tambahan bagi mikroba serta sumber mikroba yang sangat kaya. Oleh karena itu, kompos dapat ditambahkan pada proses bioremediasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kompos pada bioremediasi oil sludge PT Pertamina Cilacap. Selain itu diteliti juga porsi penambahan kompos dan proporsi tanah dan oil sludge yang dapat memberikan hasil degradasi oil sludge terbaik. Berdasarkan hasil penelitian, kompos memberikan pengaruh positif terhadap proses bioremediasi. Reaktor yang diberi kompos lebih banyak yaitu sebanyak 10% memberikan angka penurunan Total Petroleum Hydrocarbon (TPH yang lebih baik dari reaktor yang hanya diberi 5% kompos. Kompos pada penelitian ini lebih berperan sebagai bulking agent serta sumber nutrien tambahan dibanding sebagai penyumbang mikroba pendegradasi. Mikroba yang berperan lebih banyak selama proses adalah mikroba indigenous dari limbah oil sludge. Hasil terbaik juga diberikan oleh reaktor dengan proporsi tanah dan oil sludge yang sama. Efisiensi penurunan TPH tertinggi adalah sebesar 39% selama 21 hari.

  11. Karakterisasi Unjuk Kerja Diesel Engine Generator Set Sistem Dual Fuel Solar-Syngas Hasil Gasifikasi Briket Municipal Solid Waste (MSW Secara Langsung

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Achmad Rizkal

    2017-01-01

    Full Text Available Sejalan dengan semakin banyaknya kebutuhan energi untuk dapat digunakan sebagai bahan bakar maka perlu adanya pengembangan gas biomassa sebagai bahan bakar alternatif pada motor pembakaran dalam maka akan dilakukan penelitian mengenai aplikasi sistem dual fuel gas hasil gasifikasi biomassa municipal solid waste (msw pada sistem downdraft dengan minyak solar pada motor diesel stasioner. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar solar yang tersibtitusi dengan adanya penambahan syngas yang disalurkan secara langsung. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan proses pemasukan aliran syngas yang dihasilkan downdraft municipal solid waste (MSW kedalam saluran udara mesin diesel generator set secara langsung menggunakan sistem mixer. Pengujian dilakukan dengan putaran konstan 2000 rpm dengan pembebanan bervariasi dari 200 watt sampai dengan 2000 watt dengan interval 200 watt. Bahwa produksi syngas dari reaktor gasifikasi ditambahkan sistem bypass untuk mengetahui kesesuaian antara reaktor gasifikasi dan mesin generatorset data ṁ syngas yang dibutuhkan mesin diesel, ṁ syngas yang di bypass untuk mendapatkan kesesuaian antara produksi syngas dan yang di bypass.  Data-data yang diukur dari penelitian ini menunjukkan bahwa besar nilai mass flowrate gas syngas yang dibutuhkan mesin diesel pada AFR reaktor gasifier 1,39 sebesar 0,0003748 kg/s. Mass flowrate gas syngas yang di bypass menunjukkan nilai 0 pada saat sistem dijalankan karena seluruh gas syngas masuk kedalam ruang bakar. AFR rata-rata sebesar 14,54 ,Nilai Spesifik fuel consumption (sfc mengalami peningkatan 68% dari kondisi standar single fuel , Nilai efesiensi thermal mengalami kenaikan sebesar 7% dari kondisi single fuel, Nilai daya rata-rata sebesar 2,28kW, Nilai torsi rata-rata sebesar 10,94 N.m. Solar yang tersibtitusi sebesar 48%. Nilai temperatur (coolant, mesin, oil, dan gas buang pada setiap pembebanan mengalami kenaikan.

  12. STUDI PEMODELAN DAN PERHITUNGAN TRANSPORT MONTE CARLO DALAM TERAS HTR PEBBLE BED

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Zuhair .

    2013-01-01

    Full Text Available Konsep sistem energi VHTR baik yang berbahan bakar pebble (VHTR pebble bed maupun blok prismatik (VHTR prismatik menarik perhatian fisikawan reaktor nuklir. Salah satu kelebihan teknologi bahan bakar bola adalah menawarkan terobosan teknologi pengisian bahan bakar tanpa harus menghentikan produksi listrik. Selain itu, partikel bahan bakar pebble dengan kernel uranium oksida (UO2 atau uranium oksikarbida (UCO yang dibalut TRISO dan pelapisan silikon karbida (SiC dianggap sebagai opsi utama dengan pertimbangan performa tinggi pada burn-up bahan bakar dan temperatur tinggi. Makalah ini mendiskusikan pemodelan dan perhitungan transport Monte Carlo dalam teras HTR pebble bed. HTR pebble bed adalah reaktor berpendingin gas temperatur tinggi dan bermoderator grafit dengan kemampuan kogenerasi. Perhitungan dikerjakan dengan program MCNP5 pada temperatur 1200 K. Pustaka data nuklir energi kontinu ENDF/B-V dan ENDF/B-VI dimanfaatkan untuk melengkapi analisis. Hasil perhitungan secara keseluruhan menunjukkan konsistensi dengan nilai keff yang hampir sama untuk pustaka data nuklir yang digunakan. Pustaka ENDF/B-VI (66c selalu memproduksi keff lebih besar dibandingkan ENDF/B-V (50c maupun ENDF/B-VI (60c dengan bias kurang dari 0,25%. Kisi BCC memprediksi keff hampir selalu lebih kecil daripada kisi lainnya, khususnya FCC. Nilai keff kisi BCC lebih dekat dengan kisi FCC dengan bias kurang dari 0,19% sedangkan dengan kisi SH bias perhitungannya kurang dari 0,22%. Fraksi packing yang sedikit berbeda (BCC= 61%, SH= 60,459% tidak membuat bias perhitungan menjadi berbeda jauh. Estimasi keff ketiga model kisi menyimpulkan bahwa model BCC lebih bisa diadopsi dalam perhitungan HTR pebble bed dibandingkan model FCC dan SH. Verifikasi hasil estimasi ini perlu dilakukan dengan simulasi Monte Carlo atau bahkan program deterministik lainnya guna optimisasi perhitungan teras reaktor temperatur tinggi.   Kata-kunci: kernel, TRISO, bahan bakar pebble, HTR pebble bed

  13. PLASTIC WASTE CONVERSION TO LIQUID FUELS OVER MODIFIED-RESIDUAL CATALYTIC CRACKING CATALYSTS: MODELING AND OPTIMIZATION USING HYBRID ARTIFICIAL NEURAL NETWORK – GENETIC ALGORITHM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Istadi Istadi

    2012-04-01

    Full Text Available The plastic waste utilization can be addressed toward different valuable products. A promising technology for the utilization is by converting it to fuels. Simultaneous modeling and optimization representing effect of reactor temperature, catalyst calcinations temperature, and plastic/catalyst weight ratio toward performance of liquid fuel production was studied over modified catalyst waste. The optimization was performed to find optimal operating conditions (reactor temperature, catalyst calcination temperature, and plastic/catalyst weight ratio that maximize the liquid fuel product. A Hybrid Artificial Neural Network-Genetic Algorithm (ANN-GA method was used for the modeling and optimization, respectively. The variable interaction between the reactor temperature, catalyst calcination temperature, as well as plastic/catalyst ratio is presented in surface plots. From the GC-MS characterization, the liquid fuels product was mainly composed of C4 to C13 hydrocarbons.KONVERSI LIMBAH PLASTIK MENJADI BAHAN BAKAR CAIR DENGAN METODE PERENGKAHAN KATALITIK MENGGUNAKAN KATALIS BEKAS YANG TERMODIFIKASI: PEMODELAN DAN OPTIMASI MENGGUNAKAN GABUNGAN METODE ARTIFICIAL NEURAL NETWORK DAN GENETIC ALGORITHM. Pemanfaatan limbah plastik dapat dilakukan untuk menghasilkan produk yang lebih bernilai tinggi. Salah satu teknologi yang menjanjikan adalah dengan mengkonversikannya menjadi bahan bakar. Permodelan, simulasi dan optimisasi simultan yang menggambarkan efek dari suhu reaktor, suhu kalsinasi katalis, dan rasio berat plastik/katalis terhadap kinerja produksi bahan bakar cair telah dipelajari menggunakan katalis bekas termodifikasi Optimisasi ini ditujukan untuk mencari kondisi operasi optimum (suhu reaktor, suhu kalsinasi katalis, dan rasio berat plastik/katalis yang memaksimalkan produk bahan bakar cair. Metode Hybrid Artificial Neural Network-Genetic Algorithm (ANN-GA telah digunakan untuk permodelan dan optimisasi simultan tersebut. Inetraksi antar variabel

  14. Deaktivasi Katalis Konverter-Hidrogen Di Pabrik Urea Kaltim-3

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Agus Subekti

    2007-10-01

    Full Text Available Di pabrik urea, konverter-hidrogen adalah satu reaktor yang berfungsi untuk mengkonversi hidrogen yang terikut dalam karbondioksida dengan cara mengoksidasi dengan udara, sehingga karbondioksida umpan reaktor urea itu hanya mengandung tidak lebih dari 100 ppm hidrogen. Konversi dilangsungkan pada tekanan 145 kg/cm2 dan suhu umpan reaktor 130°C, menggunakan katalis platinum berpenyangga alumina (0,3%Pt/Al2O3. Dalam dua tahun terakhir, terjadi kenaikan kandungan hidrogen dalam karbondioksida umpan konverter-hidrogen Kaltim-3 yang menyebabkan peningkatan temperatur keluaran konverter dari biasanya sekitar 152oC menjadi sekitar 190°C. Hasil analisis kadar Pt, luas permukaan katalis dan dispersi Pt terhadap katalis-baru dan katalis-terpakai menunjukkan bahwa katalis konverter-hidrogen Kaltim-3 telah terdeaktivasi. Oleh karena itu, pada kesempatan perbaikan-tahunan Juli 2006 yang lalu, katalis tersebut telah diganti dengan yang baru. Selain itu telah dilakukan pula perbaikan kondisi operasi di pabrik amoniak Kaltim-3, sehingga kadar H2 dalam aliran CO2 umpan pabrik urea Kaltim-3 menjadi normal kembali (0,4%. Dengan tindakan-tindakan tersebut, sejak Agustus 2006 yang lalu konverter hidrogen Kaltim-3 dapat beroperasi secara normal kembali. © 2007 BCREC UNDIP. All rights reserved.[Presented at Symposium and Congress of MKICS 2007, 18-19 April 2007, Semarang, Indonesia][How to Cite: A. Subekti, A.S. Arief, P. Praharso, S. Subagjo. (2007. Deaktivasi Katalis Konverter-Hidrogen Di Pabrik Urea Kaltim-3. Bulletin of Chemical Reaction Engineering and Catalysis, 2 (2-3: 52-55.  doi:10.9767/bcrec.2.2-3.7130.52-55][How to Link/DOI: http://dx.doi.org/10.9767/bcrec.2.2-3.7130.52-55 || or local: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/bcrec/article/view/7130] 

  15. Bewag stands out with portal for major customers; Bewag differenziert sich im E-Business durch ein Grosskundenportal. Nicht nur der Preis macht die Musik

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Frenzel, T. [Bewag, Berlin (Germany); Segschneider, D. [Cambridge Technology Partners, Muenchen (Germany)

    2003-05-05

    A new portal offers major customers of Bewag individually tailored information about their accounts. With Single-Sign-On they can administer master data, view bills, consult consumer analysis and display their consumption grafically. The energy consumption of every reporting point becomes clear showing potential room for improvement. IT consultancy Cambridge Technology Partners led the implementation of the portal. (orig.) [German] Ein Grosskundenportal bietet den Kunden der Bewag, Berlin, seit kurzem genau zugeschnittene Informationen. Mit Single-Sign-On koennen sie ihre Stammdaten pflegen, Rechnungen online einsehen, auf Verbraucheranalysen zugreifen und Lastgaenge in grafischer Form abfragen. Der Energieverbrauch der einzelnen Meldestellen ist somit nachvollziehbar und Optimierungspotenziale werden schneller ersichtlich. Generalunternehmer bei der Einfuehrung des Portals war das IT-Beratungsunternehmen Cambridge Technology Partners. (orig.)

  16. GPS-gestützte Beikrautregulierung im Freilandgemüsebau

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hans-Peter Schwarz

    2014-04-01

    Full Text Available Im Freilandgemüsebau sollen einerseits qualitativ hochwertige Produkte erzeugt werden, die frei von Pflanzenschutzmittelrückständen und unerwünschtem Beikrautbesatz sind, andererseits nehmen Indikationslücken bei Herbiziden zu oder die Mittel können unerwünschte Rückstände verursachen. Zunehmend werden daher mechanische Verfahren zur Beikrautregulierung verwendet. Diese sind jedoch sehr zeitaufwendig und somit kostenintensiv. Ob die moderne GPS-Technologie die mechanische Beikrautregulierung unterstützen und optimieren kann, sollte in einer Masterthesis an der Hochschule Geisenheim geklärt werden. Die praktischen Untersuchungen führten zu dem Ergebnis, dass die Beikrautregulierung mittels GPS-Steuerung der Maschinen und Geräte nicht nur schneller, sondern auch kostengünstiger und präziser durchgeführt werden kann.

  17. Adrenocortical scintigraphy with {sup 131}I-6-beta-iodomethyl-norcholesterol (NP 59) in bilateral adrenocortical carcinoma

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Ruiz Hernandez, G.; Pallares, F.J.C.; Avila y Avalos, C.R. de [Hospital Clinic Universitari de Valencia (Spain). Servei de Medicina Nuclear; Bartual, A.R.; Rodrigo, S.T.; Ampudia-Blasco, F.J. [Hospital Clinic Universitari de Valencia (Spain). Servei d`Endocrinologia

    1998-06-01

    A case of a 49-year-old man suffering from bilateral adrenocortical carcinoma with local and secondary rapid progression is reported. The results of adrenocortical scintigraphy (NP 59) and histological findings allowed the diagnosis. This case report and a literature review showed the importance of using adrenocortical scintigraphy as a complementary imaging procedure of CT or MR images. (orig.) [Deutsch] Es wird ueber einen 49jaehrigen Mann berichtet, der an einem beidseitigen Nebennierenrinden-Karzinom mit schneller lokaler und sekundaerer Progression leidet. Die Ergebnisse der Nebennierenrinden-Szintigraphie (NP 59) und Histologie ermoeglichten die Diagnose: Dieser Fallbericht und ein Literaturueberblick zeigen die Bedeutung der Nebennierenrinden-Szintigraphie als ein zusaetzliches bildgebendes Verfahren neben CT und NMR. (orig.)

  18. Erektile Dysfunktion - Was kommt nach Viagra?

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jungwirth A

    2001-01-01

    Full Text Available Man darf nie vergessen, daß es sich bei der erektilen Dysfunktion nicht um ein "Life-Style"-Thema, sondern um eine Erkrankung handelt, welche die Lebensqualität der Patienten deutlich verschlechtert. Die Therapie der erektilen Dysfunktion hat sich in den letzten Jahren revolutioniert und wie man sieht, ist sowohl die Forschung als auch die Pharmaindustrie bemüht, für den Patienten neue, bessere, schneller wirksame und nebenwirkungsärmere Medikamente zu entwickeln. Diese neuen Entwicklungen werden für uns Andrologen/Urologen das Armamentarium für die Therapie der erektilen Dysfunktion bereichern. Welche der nun genannten Substanzen letztendlich übrigbleiben und mit welchen Substanzen wir uns in der näheren Zukunft zu befassen haben, werden die weiteren Entwicklungen zeigen.

  19. Bio-oil from Flash Pyrolysis of Agricultural Residues

    OpenAIRE

    Ibrahim, Norazana; Dam-Johansen, Kim; Jensen, Peter Arendt

    2012-01-01

    Denne PhD rapport beskriver produktionen af bio-olie via flash pyrolyse af biomasse udført på en Pyrolyse Centrifugal Reaktor (PCR). Via Pyrolysen på PCR enheden dannes bio-olie, koks og ikke kondenserbare gasser. Hovedformålet med projektet har været at undersøge indflydelsen af ændrede proces forhold på udbyttet af bio-olie, gas og koks; og at undersøge lagringsegenskaberne for producerede bio-olier. Indflydelsen af anvendt biomasse type (hvede halm, ris skaller og fyrretræ), biomasse vandi...

  20. Effect of Organic Waste Concentration on Reactor Performance in Anaerobic Co-Fermentation of Wastewater of Tofu Industry and Organic Solid Waste

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sofyan Sofyan

    2015-06-01

    Full Text Available Fuel crisis of oil and gas that are faced currently requires a thought to look for an alternative energy. The objective of this study was to observe the effect of organic waste addition on reactor performance and to increase the production of biogas as an alternative renewable energy. The wastewater used was the wastewater from agglomeration of soy pulp in tofu industry, while the solid waste used was a mixture of organic waste from household and market waste. The study was conducted by fermenting the wastewater and organic waste together with sample volume 300 ml. The reactors were operated semi-continuously with substrate feeding every two weeks. The treatment used in this study were mass comparison of organic waste and wastewater (0:100%; (5:95%; (10:90%; (20:80%; (30:70%; and (40:60%. The results showed that the addition of organic waste affected the reactor performance and the amount of biogas produced. Anaerobic co-fermentation of wastewater from tofu industry and organic waste produced biogas more than fermentation of wastewater without organic waste. The highest amount of biogas was obtained in the treatment of organic waste addition as much as 30% with average volume of biogas was 728 ml in steady state condition.ABSTRAKKrisis bahan bakar minyak dan gas yang dihadapi saat ini memerlukan pemikiran untuk mencari energi alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh penambahan sampah organik terhadap kinerja reaktor anaerobik dan meningkatkan produksi biogas sebagai salah satu energi alternatif terbarukan. Limbah cair yang digunakan adalah limbah cair dari penggumpalan bubur kedelai pada industri tahu, sedangkan sampah organik yang digunakan adalah gabungan sampah organik dari rumah tangga dan sampah pasar. Penelitian dilakukan dengan mendigestasi limbah cair industri tahu dan sampah organik secara bersama-sama dalam reaktor anaerobik dengan volume sampel 300 ml. Reaktor dioperasikan secara semi kontinyu dengan pengumpanan

  1. Estudios sobre la reactividad de harinas crudas de cemento tratadas con rápidos y diferentes calentamientos

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Weisweiler, W.

    1988-09-01

    Full Text Available Not available.

    Estudios experimentales llevados a cabo a una temperatura dada de calcinación, sirvieron para observar el efecto de las altas velocidades de calentamiento sobre las reacciones del clinker. Mientras que un aumento de la reactividad de los materiales fue claramente detectada cuando la velocidad pasó de 20 K/min a tomar valores iguales y mayores a 100 K/min, un negativo efecto sobre el Tiempo de Reacción Completa o "Período de Calcinación a Punto" no pudo ser establecido. Considerando además que el tiempo necesario para llevar a la materia prima hasta la temperatura de reacción, es necesariamente un tiempo inefectivo, podrían las plantas productoras de cemento obtener mayores rendimientos en tiempo y espacio, utilizando altas cuotas de calentamiento. Estudios de microscopía probaron que con el aumento de las velocidades de calentamiento, hubo una mayor generación de microcristales incidiendo directamente sobre la molienda y calidad del clinker. [de] Untersuchungen zur Reaktivität van zementrohmehlen nach verschieden schneller Aufheizung. Modellversuche mit linearen Aufheizgeschwindigkeiten solten zeigen, ob bei einer vorgegebenen Brenntemperatur die Verklinkerungsreaktionen beeinfluβt werden können. Während eindeutige Steigerungen der Kalkbindungsraten lediglich zwischen 20 K/min und Aufheizgeschwindigkeiten >=100 K/min nachweisbar waren, konnten negative Auswirkungen auf die Garbranddauern bei keiner Versuchsserie festgestellt werden. Unter Berücksichtigung der zur Aufheizung der Rohstoffe notwendigen Totzeiten, können bei den technischen Zementproduktionsanlagen nach schneller Aufheizung höhere Raum-Zeit-Ausbeuten erreicht werden. Mikroskopische Untersuchungen ergaben, daβ durch Erhöhung der Aufheizraten der Anteil mikrokristalliner Klinkerphasen zunimmt, was sich direkt aut die Zementklinkermahibarkeit und die Klinkerqualität aswirkt.

  2. Joint convention on the safety of spent fuel management and on the safety of radioactive waste management. Report of the Federal Republic of Germany for the fourth review meeting in may 2012; Gemeinsames Uebereinkommen ueber die Sicherheit der Behandlung abgebrannter Brennelemente und ueber die Sicherheit der Behandlung radioaktiver Abfaelle. Bericht der Bundesrepublik Deutschland fuer die vierte Ueberpruefungskonferenz im Mai 2012

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    2011-08-15

    There are currently nine power reactors in operation in Germany. These are exclusively light-water reactors (seven pressurised water reactors and two boiling water reactors whose fuel assemblies are composed of low-enriched uranium oxide or uranium/plutonium mixed oxide (MOX)). With the 13{sup th} amendment to the Atomic Energy Act of 6 August 2011 as a consequence of the events in Japan, which led to a reassessment of the risks associated with the use of nuclear energy, the licences to operate the Biblis A and B, Neckarwestheim 1, Brunsbuettel, Isar 1, Unterweser, Philippsburg 1 and Kruemmel plants expired. For the remaining nine nuclear power plants, the operating licences will expire between 2015 and the end of 2022. Another 12 power reactors have already been or are in the process of being decommissioned. There were furthermore seven prototype and demonstration nuclear power plants operated in Germany, which have all been decommissioned. Two of these, the HDR Grosswelzheim, which was fully removed in 1998, and the VAK Kahl, which was also removed completely in 2010, were boiling water reactors using low-enriched uranium oxide pellets (in the VAK partly also MOX) as fuel. Two other reactors, the AVR at Juelich and the THTR at Hamm-Uentrop, were helium-cooled graphite-moderate high-temperature reactors in which the medium- and high-enriched fuel consisting of uranium/thorium oxide particles was enclosed in graphite spheres. The MZFR at Karlsruhe was a heavy-water reactor using very-low-enriched (0.85 %) uranium oxide fuel. The Compact Sodium-Cooled Nuclear Reactor (Kompakter Natriumgekuehlter Kernreaktor - KNK II) at Karlsruhe used high-enriched uranium oxide and uranium/plutonium mixed-oxide fuel. The Niederaichbach NPP (KKN) was in operation between 1972 and 1974 as a prototype plant with a heavy-water-moderated and CO{sub 2}-gas-cooled pressure tube reactor using natural uranium as fuel. Its complete removal was finished in 1995; the reactor was released from

  3. PROSES EKSTRAKSI-STRIPPING UO2(NO32 BERIMPURITAS HASIL PELARUTAN YELLOW CAKE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anwar Muchsin

    2017-02-01

    Full Text Available PROSES EKSTRAKSI-STRIPPING  UO2(NO32 BERIMPURITAS HASIL PELARUTAN YELLOW CAKE (YC. Uranil nitrat/UO2(NO32  merupakan bahan dasar/umpan yang dipakai sebagai bahan bakar baik reaktor riset maupun reaktor daya. Proses ekstraksi-stripping  perlu dilakukan terhadap UO2(NO32, karena di dalam UO2(NO32 tersebut masih terdapat impuritas yang terikut selama berlangsungnya proses pelarutan Yellow Cake. Untuk mendapatkan larutan UO2(NO32 yang memenuhi persyaratan murni nuklir (nuclear grade, maka harus dilakukan proses pemurnian dengan ekstraksi-stripping menggunakan 3 (tiga parameter yaitu laju alir umpan, keasaman umpan pada proses ekstraksi, dan keasaman pada proses stripping.  Mekanisme proses ekstraksi terjadi UO2(NO32 akan masuk ke fasa organik TBP, sedangkan impuritasnya berada dalam fasa air (rafinat. Uranium dalam fasa organik dilakukan proses stripping dengan menentukan keasaman (sebagai parameter, sehingga diperoleh larutan campuran UO2(NO32 murni nuklir (nuclear grade. Kondisi proses ekstraksi diperoleh laju air  umpan 15 L/jam, keasaman umpan pada proses ekstraksi sebesar ±3 M dan diperoleh kadar uranium sebesar  48.5365 gU/L, sedangkan proses stripping diperoleh UO2(NO32 sebesar  64,7860 gU/L pada keasaman 0,04 M.

  4. Studi Eksperimental Pengaruh Penambahan Sistem Ceratan pada Gasifikasi Biomassa Briket Municipal Solid Waste terhadap Performa Gasifier Tipe Downdraft

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hendra Bhakti

    2017-01-01

    Full Text Available Pemanfaatan syngas sebagai bahan bakar campuran bahan bakar mesin diesel dual fuel (DDF menimbulkan permasalahan yaitu terbuangnya syn-gas karena kelebihan produksi. Penelitian dimaksudkan melakukan penambahan sistem ceratan untuk mengalirkan kembali syngas yang terbuang karena sisa pembakaran mesin DDF ke dalam reaktor. Syngas yang dipakai berasal dari proses gasifikasi yang dilakukan pada downdraft gasifier dengan bahan bakar briket MSW. Mekanisme ceratan gas hasil gasifikasi dilakukan dengan pemasangan katup pada pipa aliran syn-gas setelah induced fan menuju reaktor gasifikasi kembali. Syngas hasil ceratan di campur dengan udara sebagai gasifying agent dengan mixer sebelum masuk ke blower udara. Laju alir massa syn-gas yang dicerat divariasikan mulai 0%, 11%, 23%, dan 54%. Dari penelitian dan analisa yang telah dilakukan, diketahui bahwa nilai rasio udara-bahan bakar menurun seiring penambahan ceratan syn-gas yaitu dari 1,04 – 0,44 dan equivalence ratio dari 0,18 – 0,09. Dengan penambahan ceratan diketahui efisiensi terbaik terjadi saat penambahan prosentasi ceratan 11% dengan efisiensi sebesar 66,81%. LHV meningkat seiring penambahan ceratan dengan LHV terbaik terjadi pada ceratan syn-gas 55% sebesar 3912,37 kJ/kg. Temperatur kerja gasifikasi cenderung menurun dengan penambahan ceratan syn-gas. Temperatur kerja T1 – T5 berada pada kisaran 70, 250, 983, 589, dan 115 ᵒC. Kandungan combustible gas meningkat dan uncombustible gas menurun seiring dengan penambahan ceratan syn-gas. Nilai kalor briket MSW sebesar 4698 kJ/kg

  5. KINETIKA HIDRODESULFURISASI DIBENZOTHIOPHENE (HDS DBT MENGGUNAKAN KATALIS NiMo/γ-Al2O3

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Subagjo Subagjo

    2014-12-01

    Full Text Available Evaluasi kinetika reaksi hidrodesulfurisasi (HDS dibenzothiophene dan simulasi nafta hydrotreater yang berada di PT. PERTAMINA Refinery Unit II Dumai menggunakan katalis NiMo/Al2O3 hasil pengembangan telah dilakukan. Kinetika reaksi HDS DBT dilakukan dalan sistem reaktor batch dengan variasi temperatur 280-320oC dan tekanan 30 bar. Data kinetika diolah dengan persamaan hukum pangkat (law power dan persamaan kinetik mekanistik (Langmuir Hinshelwood, LH. Berdasarkan model hukum pangkat, kinetika HDS DBT menggunakan NiMo/Al2O3 hasil pengembangan merupakan  orde satu  terhadap DBT dengan konstanta Arhenius  sebesar 165633 detik-1 dan energi aktivasi 69017 J/mol (16,56 kkal/mol. Model LH yang cocok untuk reaksi HDS DBT menggunakan NiMo/Al2O3 hasil pengembangan adalah model LH yang mengilustrasikan adanya kompetisi antara reaktan DBT dan H2 pada tipe pusat aktif yang sama, dengan DBT teradsorb secara kuat sedangkan H2 teradsorpsi secara lemah. Energi aktifasi dan konstanta Arhenius berdasarkan model LH ini ini berturut-turut adalah 81409 J/mol (19,34 kkal/mol dan 1658133 s-1. Dengan menggunakan persamaan laju reaksi hukum pangkat, model memberikan hasil konversi sulfur yang sama dengan hasil keluaran reaktor nafta hydrotreater RU II-Dumai, yaitu mencapai 98%.

  6. New methods for characterisation of coal dust combustion characteristics at elevated pressures; Neue Methoden zur Charakterisierung des Verbrennungsverhaltens von Kohlenstaub bei erhoehtem Druck

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Hackert, G.; Kremer, H.; Wirtz, S. [Bochum Univ. (Germany). Lehrstuhl fuer Energieanlagentechnik; Bonn, B.; Seewald, H. [DMT-Gesellschaft fuer Forschung und Pruefung mbH, Essen (Germany)

    1998-12-31

    DMT constructed and operates a newly designed high temperature, high pressure drop tube furnace KOALA. In co-operation with LEAT drop tube investigations of coal particle combustion were performed at temperatures up to 1 500 C and pressures up to 20 bar. In addition to conventional gas and ash analysis LEAT developed new methods of in-situ particle observation based on Phase Shift Doppler Anemometry (PDA) and a high-resolution video camera technique TOSCA. The temperature of burning particles can be determined from one particle image only. It is the aim of this work, both to produce data for the mathematical modelling and simulation of full scale pressurized combustors, and to improve the understanding of the elementary reactions in pulverised coal combustion at such conditions. (orig.) [Deutsch] Die DMT hat seit einiger Zeit den Hochtemperatur-Hochdruck-Fallrohrreaktor KOALA in Betrieb, an dem in Zusammenarbeit mit dem LEAT Verbrennungsvorgaenge von Kohlenstaub bei Druecken bis zu 20 bar und Ofenwandtemperaturen bis 1 500 C untersucht werden. Neben der Bestimmung des Verbrennungsumsatzes mit herkoemmlichen Analyseverfahren wie Gasanalyse und Reststoffanalyse werden an dem Reaktor auch optische Messmethoden wie PDA und die vom LEAT neu entwickelte bildverstaerkte, hochaufloesende Kameratechnik (TOSCA) fuer in situ Messung der brennenden Partikel eingesetzt. Auf diese Weise ist es moeglich, die Geschwindigkeitsverteilung der Kohlepartikel, ihre Groesse und Form sowie ihre Oberflaechentemperaturen im Reaktor zu bestimmen. Diese Daten fliessen in ein verbessertes kinetisches Simulationsmodell der gleichzeitigen Pyrolyse und Verbrennung der Kohle unter Druck ein. (orig.)

  7. Prediksi Potensi Pencemaran Pengolahan Sampah dengan Metode Gasifikasi Fluidized Bed (Studi Kasus: TPA Benowo, Surabaya

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lailatun Nikmah

    2013-03-01

    Full Text Available Sistem pengelolaan sampah di TPA Benowo masih bersistem open dumping dan belum memperhatikan dampak pencemaran terhadap lingkungan. Kuantitas sampah yang masuk ke TPA sebesar 461.705,782 ton pada tahun 2012. Kuantitas sampah diperkirakan meningkat sebanding dengan pertumbuhan penduduk, sehingga dibutuhkan skenario pengolahan sampah yang ramah lingkungan. Skenario pengolahan sampah yang akan dikaji adalah gasifikasi  fluidized bed. Potensi pencemaran gasifikasi  fluidized bed akan dikaji menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA dengan software SimaPro versi 7.1. Satu ton sampah pada studi ini ditentukan sebagai satu fungsi unit. Data input Life Cycle Inventory (LCI meliputi jumlah sampah yang masuk ke reaktor gasifikasi dan energi yang dibutuhkan pada proses gasifikasi berdasarkan pendekatan efisiensi reaktor gasifikasi. Penentuan nilai Life Cycle Impact Assesment (LCIA meliputi Global Warming Potential (GWP dan asidifikasi menggunakan metode Environmental Product Declarations (EPD 2008. Besar dampak dinyatakan dalam faktor emisi yang ekivalen. Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan bahwa skenario pengolahan sampah dengan metode gasifikasi fluidized bed memberikan dampak GWP sebesar 1067,8 kg CO2/fu pada fase start-up dan 875 kg CO2/fu pada fase energy recovery serta asidifikasi sebesar 5,93 kg SO2/fu pada fase start-up dan 4,81 kg SO2/fu pada fase energy recovery.

  8. Penggunaan Larutan Ekstrak Etanol dari Temulawak Sebagai Fotosensitizer di Dalam Pemutihan (Pengelantangan Pulp dengan Penyinaran Lampu

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Arif Perdana

    2016-04-01

    Full Text Available ABSTRAKEkstrak etanol dari temulawak (Curcuma Xanthorriza dapat digunakan sebagai fotosensitiser pada pemutihan pulp dengan penyinaran lampu, dimana pada pemutihan ini menghasilkan oksigen singlet yang mendegradasi lignin di dalam pulp (delignifikasi sehingga kenaikan kecerahan pulp meningkat secara signifikan. Kenaikan kecerahan pulp yang didapatkan pada pemutihan dengan penyinaran lampu pada saat waktu pemutihan 60 menit dan menggunakan ekstrak etanol temulawak sebagai fotosensitizer sebesar 4,23 %. Pemutihan dengan tidak menggunakan lampu tidak dapat meningkatkan kecerahan pulp yang cukup signifikan karena tidak menghasilkan oksigen singlet. Hasil kenaikan kecerahan pulp yang didapatkan pada pemutihan ini adalah 2,36 % pada generator oksigen singlet ditutup, dan 3,28 % pada generator oksigen singlet tidak ditutup dan 2,75 % pada pemutihan dengan pengaliran oksigen langsung ke reaktor pemutihan. Penyebab kenaikan kecerahan pulp yang lebih besar pada pemutihan pulp dengan tidak menggunakan penyinaran lampu dan generator oksigen singlet tidak ditutup daripada pemutihan pulp dengan tidak disinari lampu dan generator oksigen singlet ditutup adalah adanya kemungkinan jumlah foton yang masuk ke dalam reaktor oksigen singlet pada pemutihan dengan tanpa lampu dan reaktor oksigen singlet tidak ditutup adalah lebih besar, sehingga kemungkinan elektron dari fotosensitizer tereksitasi dan terbentuknya oksigen singlet lebih besar. Sedangkan penyebab kenaikan kecerahan pulp yang lebih besar pada pengaliran oksigen langsung ke reaktor pemutihan lebih besar daripada pemutihan pulp tidak disinari lampu dan generator oksigen singlet ditutup adalah dikarenakan pada pemutihan tanpa lampu dan tidak ditutup, oksigen triplet yang mengoksidasi pulp tidak menuju langsung ke pulp, akan tetapi melewati terlebih dahulu larutan fotosensitizer. Jadi sebagian oksigen masih ada di dalam larutan fotosensitizer, dan apabila oksigen menuju ke pulp membutuhkan waktu yang lebih

  9. KOMPUTASI DISTRIBUSI NEUTRON DALAM STATISTIK MAXWELL BOLTZMANN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tuti Purwoningsih

    2013-03-01

    Full Text Available The migration of neutron is arranged by some probability distributions such as probability of spread distribution, probability of distance distribution, probability of energy distribution and probability of flux distribution. One application of these pattern distributions is modelling the reaction between neutron and elements which compose the tissue related to the absorption of neutron in brain cancer tissues. This article explores computation analysis of pattern of distribution of neutron flux in a reactor system. Variables were the amount of neutron simulated and the depth of cylindrical reactor system. Simulations showed that 20-120 minutes was needed in executing 100,000 neutrons to build the distribution pattern of neutrons flux. This pattern was also depended on the depth of the system. In all depths, the peak of neutron flux distribution pattern was in the 3rd bin. Comparison between this simulations and experiment results in literatures showed that by analyzing the simulation of the distribution of neutron flux, a Poisson distribution which follows the Maxwell-Boltzmann was resulted. Perpindahan neutron diatur dengan beberapa peluang distribusi, seperti peluang distribusi sudut hamburan, peluang distribusi jarak perpindahan, peluang distribusi energi transfer, serta peluang distribusi fluks neutron. Salah satu aplikasi dari pola distribusi ini adalah pemodelan reaksi antara neutron dengan elemen-elemen penyusun jaringan yang terkait dengan serapan neutron dan dosis yang terserap oleh jaringan tumor otak pada terapi BNCT (Boron Neutron Capture Therapy. Dalam penelitian ini dibahas analisis komputasi tentang pola distribusi fluks neutron dalam suatu sistem reaktor. Variabel dalam penelitian ini adalah banyaknya neutron yang disimulasikan, serta kedalaman sistem reaktor yang dalam penelitian ini menggunakan sistem reaktor berbentuk silinder. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan neutron sebanyak 100.000 diperlukan waktu eksekusi sekitar

  10. Risks of increased UV-B radiation for phytoplankton; Risiken erhoehter UV-B-Strahlung auf Phytoplankton

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Haeder, D.P. [Inst. fuer Botanik und Pharmazeutische Biologie, Erlangen (Germany); Gerber, S. [Inst. fuer Botanik und Pharmazeutische Biologie, Erlangen (Germany)

    1994-03-01

    , die wahrscheinlich als Schutzpigmente fungieren, rot gefaerbt. Kuenstliche, erhoehte UV-B-Strahlung schaedigt die Orientierung der Algen, verlangsamt ihre Schwimmgeschwindigkeit und bleicht das Chlorophyll a aus. Die Expositionszeiten, die zu einer Schaedigung fuehren, unterscheiden sich nicht von denen von im Labor gezogenen `empfindlichen` Organismen. Ausserdem wurden Arbeiten im Freiland durchgefuehrt, d.h. Algen wurden in verschiedenen Hoehenstufen, in Erlangen und auf der Zugspitze, unter natuerlicher, erhoehter UV-B-Strahlung exponiert. Die Versuche zeigen, dass die Pigmente der drei untersuchten Organismen auf der Zugspitze schneller ausgleichen als in Erlangen. Auch die Beweglichkeit der Organismen nimmt auf der Zugspitze schneller ab als in Erlangen. Filter, die die UV-(B)-Strahlung herausfiltern, schuetzen die Algen in gewissem Masse: Das Ausbleichen und die Immotilitaet der Zellen tritt spaeter auf. (orig.)

  11. DESAIN KONSEP TANGKI PENAMPUNG BAHAN BAKAR PASSIVE COMPACT MOLTEN SALT REACTOR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A. Hadiwinata

    2015-04-01

    Full Text Available Passive Compact Molten Salt Reactor (PCMSR merupakan pengembangan dari reaktor MSR. Desain reaktor PCMSR membutuhkan tempat khusus penampung sementara bahan bakar pada saat terjadi insiden, misalnya kecelakaan yang menyebabkan peningkatan suhu bahan bakar. Tangki penampung bahan bakar tersusun dari 3 bagian yang saling terhubung yaitu bagian penampung cairan bahan bakar, cerobong (chimney, dan penukar kalor. Dalam penelitian ini, tangki dimodelkan secara lump dan dilakukan variasi daya awal reaktor dan ketinggian cerobong. Syarat batas model ditetapkan suhu bahan bakar maksimum 1400 °C, yang didasarkan pada titik didih larutan garam LiF-BeF2-ThF4-UF4. Analisis dilakukan dengan cara menghitung rugi tekanan total dan transfer kalor untuk variasi daya awal antara 1800-3000 MWth dan ketinggian cerobong antara 1-10 m. Hasil penelitian menunjukan semakin besar daya reaktor, maka tinggi tangki penampung bahan bakar dan tinggi alat penukar kalor yang dibutuhkan akan semakin besar, tejadi kenaikan suhu fluida pendingin dan suhu udara pendingin, dan menyebabkan kenaikan laju aliran masa fluida pendingin, sedangkan laju aliran masa udara menurun. Peningkatan ketinggian cerobong menyebabkan ketinggian tangki penampung bahan bakar dan ketinggian alat penukar kalor semakin menurun, penurunan suhu fluida pendingin, tetapi suhu udara meningkat, dan menyebabkan peningkatan laju aliran masa fluida pendingin, tetapi laju aliran masa udara akan semakin menurun. Kata kunci: PCMSR, cerobong, alat penukar kalor, variasi daya.   The Passsive Compact Molten Salat Reactor (PCMSR reactor is developed from MSR reactor. The PCMSR reactor design requires special place to temporarily storage for reactor fuel when incident occurs, such as when there is an accident which caused the temperature of the fuel increases. The tank consist of three interconnected parts, the reservoir liquid fuel, chimney, and the heat exchanger. In this research, the tank system is modeled based on

  12. OPTIMASI PENDINGINAN EKSTERNAL PADA MODEL SUNGKUP PWR-1000 MENGGUNAKAN METODE ESTIMASI ANALITIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hendro Tjahjono

    2015-03-01

    Full Text Available Sungkup reaktor merupakan benteng terakhir dalam menahan terlepasnya zat-zat radioaktif ke lingkungan ketika terjadi suatu kecelakaan reaktor. Oleh karena itu integritasnya harus selalu dipertahankan yang antara lain dilakukan dengan cara mencegah dilampauinya batas desain tekanan dan temperatur yang bisa terjadi pada kondisi kecelakaan melalui pendinginan sungkup yang mencukupi. Pada reaktor generasi III+ yang menerapkan konsep pendinginan pasif seperti AP1000, sungkup didinginkan secara eksternal melalui konveksi alamiah pada celah udara dan guyuran air pendingin di permukaan luar sungkup. Karakteristik pendinginan eksternal ini akan diteliti secara eksperimental melalui model sungkup PWR1000 berskala 1/40. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai debit optimal yang diperlukan dalam pendinginan model sungkup sebelum konfirmasi secara eksperimental dilakukan. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan pemodelan analitis dan pemrograman berbasis Matlab yang mampu mengestimasi nilai-nilai parameter pendinginan eksternal seperti laju alir, temperatur dan daya kalor yang dievakuasi. Penerapan program pada sungkup AP1000 juga dilakukan untuk bisa dibandingkan dengan data desain. Hasilnya menunjukkan kesesuaian dengan data desain sungkup AP1000 dengan debit optimal sebesar 9,5 liter/detik yang mampu mengevakuasi kalor sebesar 21,6 MW. Sedangkan pada model sungkup diperoleh debit optimal sebesar 22 cc/detik yang mampu mengevakuasi kalor sebesar 37 KW. Disimpulkan bahwa dengan penelitian ini karakteristik pendinginan eksternal sungkup reaktor PWR mampu diestimasi dan bersamaan dengan itu dapat diketahui nilai optimal dari debit pendingin yang diperlukan. Kata kunci: pendinginan eksternal, sungkup PWR, estimasi analitik, AP1000.   Reactor containment is the last barrier in avoiding the release of radioactive substances into the environment in the event of a reactor accident. Therefore, its integrity must always be maintained, among

  13. NEUTRONICS ANALYSIS ON MINI TEST FUEL IN THE RSG-GAS CORE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tukiran Surbakti

    2016-03-01

    Full Text Available Abstract NEUTRONICS ANALYSIS ON MINI TEST FUEL IN THE RSG-GAS CORE. Research of UMo fuel for research reactor has been developing  right now. The fuel of  research reactor used is uranium low enrichment with high density. For supporting the development of fuel, an assessment of mini fuel in the RSG-GAS core was performed. The mini fuel are U7Mo-Al and U6Zr-Al with densitis of 7.0gU/cc and 5.2 gU/cc, respectively. The size of both fuel are the same namely 630x70.75x1.30 mm were inserted to the 3 plates of dummy fuel. Before being irradiated in the core, a calculation for safety analysis  from neutronics and thermohydrolics aspects were required. However, in this paper will discuss safety analysis of the U7Mo-Al and U6Zr-Al mini fuels from neutronic point of view.  The calculation was done using WIMSD-5B and Batan-3DIFF code. The result showed that both of the mini fuels could be irradiated in the RSG-GAS core with burn up less than 70 % within 12 cycles of operation without over limiting the safety margin. Power density of U7Mo-Al mini fuel bigger than U6Zr-Al fuel.   Key words: mini fuel, neutronics analysis, reactor core, safety analysis   Abstrak ANALISIS NEUTRONIK ELEMEN BAKAR UJI MINI DI TERAS RSG-GAS. Penelitian tentang bahan bakar UMo untuk reaktor riset terus berkembang saat ini. Bahan bakar reaktor riset yang digunakan adalah uranium pengkayaan rendah namun densitas tinggi.  Untuk mendukung pengembangan bahan bakar dilakukan uji elemen bakar mini di teras reakror RSG-GAS dengan tujuan menentukan jumlah siklus di dalam teras sehingga tercapai fraksi bakar maksimum. Bahan bakar yang diuji adalah U7Mo-Al dengan densitas 7,0 gU/cc dan U6Zr-Al densitas 5,2 gU/cc. Ukuran kedua bahan bakar uji tersebut adalah sama 630x70,75x1,30 mm dimasukkan masing masing kedalam 3 pelat dummy bahan bakar. Sebelum diiradiasi ke dalam teras reaktor maka perlu dilakukan perhitungan keselamatan baik secara neutronik maupun termohidrolik. Dalam makalah ini

  14. Seawater uranium sorbents. Preparation from a mesoporous copolymer initiator by atom-transfer radical polymerization

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Yue, Yanfeng; Mayes, Richard T.; Fulvio, Pasquale F.; Sun, Xiao-Guang [Oak Ridge National Laboratory, TN (United States). Chemical Sciences Division; Kim, Jungseung; Tsouris, Costas [Oak Ridge National Laboratory, TN (United States). Energy and Transportation Science Division; Chen, Jihua [Oak Ridge National Laboratory, TN (United States). Center for Nanophase Materials Sciences; Brown, Suree [Univ. of Tennessee, Knoxville, TN (United States). Dept. of Chemistry; Dai, Sheng [Oak Ridge National Laboratory, TN (United States). Chemical Sciences Division; Univ. of Tennessee, Knoxville, TN (United States). Dept. of Chemistry

    2013-12-09

    From the sea to the reactor: Nanoporous template-free initiators for atom-transfer radical polymerization (ATRP) were synthesized with surface and framework initiator sites and tailorable pore structures. Polyacrylonitrile grown on one initiator was converted into polyamidoxime to generate a uranium sorbent for seawater extraction with a high uptake rate and capacity relative to those of nonwoven irradiation-grafted polyethylene-fiber composites. [German] Aus dem Meer in den Reaktor: Nanoporoese templatfreie Initiatoren fuer die radikalische Atomtransferpolymerisation (ATRP) mit einstellbarer Porenstruktur und Initiatorstellen an der Oberflaeche und im Geruestinneren wurden hergestellt. Auf einem Initiator erzeugtes Polyacrylnitril wurde in ein Polyamidoxim umgewandelt, um Uran aus Meerwasser zu extrahieren. Aufnahmerate und -kapazitaet waren hoch im Vergleich zu nichtverwobenen Kompositen aus Fasern und photochemisch aufgebrachtem Polyethylen.

  15. MASYARAKAT MADURA DAN RENCANA PEMBANGUNAN PLTN; PERSPEKTIF TEOLOGI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Abd. A'la

    2012-05-01

    Full Text Available Abd A’la   (Staf pengajar pada program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel dan Asiten Direktur Bidang Akademik pada lembaga yang sama       Abstrak : Setiap pemanfaatan energi selalu memiliki resiko environmental. Resiko dalam dunia ilmu dapat ditolelir jika hal itu telah terkalkulasikan sehingga merupakan caculable risk. Sementara untuk energi nuklir, sampai saat ini, belum dapat dilakukan terutama terkait dengan teknologi pengamannya sehingga Fitjof Capra menyebutnya sebagai rasionalitas yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat Madura merupakan komunitas Sunny dan dalam merespon setiap perkembangan selalu berjangkar pada prinsip-prinsip Sunny yang dicirikan dengan kehati-hatian dan moderasi. Terkait dengan rencana PLTN madura, masalah data tentang kebutuhan hal itu harus segera diperoleh untuk menjawab perlu tidaknya PLTN di Madura. Kekhwatiran bahwa kebutuan itu hanya merupakan rekayasa perusahaan reaktor nuklir patut di pertimbangkan karena memang sangat beralasan Kata Kunci : masyarakat madura, nuklir, PLTN

  16. PENURUNAN COD, TSS DAN TOTAL FOSFAT PADA SEPTIC TANK LIMBAH MATARAM CITRA SEMBADA CATERING DENGAN MENGGUNAKAN WASTEWATER GARDEN (Degradation of COD, TSS and Total Phosphate in Septic Tank Wastewater of Mataram Citra Sembada Catering Using Wastewater

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dradjat Suhardjo

    2008-07-01

    Full Text Available ABSTRAK  Sumber limbah berasal dari septictank industri restauran (catering Citra Sembada Catering, termasuk dalam kategori limbah domestik. Limbah tersebut banyak mengandung komponen yang tidak diinginkan bila dibuang ke badan air. Konsentrasi limbah yang masih di atas baku mutu, di antaranya akan memunculkan masalah pencemaran. Reaktor Wastewater Garden yang menggunakan krikil (0,5Cm-1cm dan 6 jenis tanaman yaitu : melati air (Echinodoras paleafias, Cyperus (Cyperus, Futoi (Hippochaetes lymnenalis, Pisang air (Typhonodorum indleyanum, Pickerel rush (Pontedoria cordata, Cattail (Typha latifulia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas reaktor Wastewater Garden, apabila digunakan untuk menurunkan konsentrasi Chemical Oxygen Demand (COD, Total Suspended Solid (TSS dan Fosfat Total sebagai faktor pencemar pada limbah industri restauran (Citra Sembada Catering yang tertampung pada septictank. Penelitian dilakukan dengan menggunakan reaktor Wastewater Garden dengan sistem batch dan dimensi reaktor lm x 0.5m x lm. Zona air limbah 75 cm, dan zona substrat atau krikil 80 cm, akar tanaman ditanam sedalam l0-15 cm. Metode penelitian yang digunakan berdasarkan SNI, di mana COD mengacu pada SNI 06-6989.2-2004 metode refluks tertutup secara spektrofotometri, TSS mengacu pada SK SNI M-03-1990-F metode pengujian secara gravimetri dan Fosfat total mengacu pada SNI M-52-1990-03 metode asam askorbat dengan alat spektrofotometer. Penelitian ini dilakukan selama 12 hari di mana setiap 3 hari sampel diambil pada outlel kemudian dianalisis. Berdasarkan hasil penelitian ini, diperoleh bahwa penggunaan wastewater garden pada limbah cair Mataram Citra Sembada Catering dapat menurunkan COD dengan efektivitas optimum 40,81% pada hari ke-6, penurunan TSS 89,l2% pada efektifitas optirnum hari ke-12 dan penurunan fosfat total dengan efektivitas optimum pada hari ke-6 yaitu sebesar 99,73 %. Tanaman dapat hidup dengan subur.   ABSTRACT  Wastewater

  17. PEMODELAN DAN ANALISIS SEBARAN RADIONUKLIDA DARI PWR PADA KONDISI ABNORMAL DI TAPAK BOJANEGARA-SERANG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Kuntjoro

    2015-04-01

    Full Text Available Penambahan pembangkit listrik yang baru khususnya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN berpotensi memberikan konsekuensi radiologis pada masyarakat dan lingkungan, karena adanya lepasan radioaktif dalam kondisi operasi normal maupun abnormal. Oleh karena itu maka pengelola reaktor nuklir harus bisa menyediakan data dan argumentasi yang kuat untuk menjelaskan tentang keselamatan PLTN terhadap lingkungan. Untuk itu perlu dilakukan analisis kondisi abnormal yang terjadi pada PLTN yang akan memberikan konsekuensi radiologis pada lingkungan. Analisis dilakukan dengan membuat pemodelan simulasi kondisi abnormal yang dipostulasikan pada PLTN tipe PWR 1000 MWe serta simulasi dan pemodelan pola potensi lingkungan sebagai daya dukung tapak terhadap penerimaan konsekuensi radiologis tersebut. Pemodelan fenomena transport radionuklida dari teras reaktor sampai ke luar dari sungkup reaktor dilakukan menggunakan perangkat lunak EMERALD dan pemodelan pola dispersi radioaktivitas ke lingkungan dari reaktor meliputi simulasi kondisi meteorologi, distribusi penduduk, produksi dan konsumsi masyarakat pada kondisi ekstrim di daerah studi, menggunakan perangkat lunak GIS, Arcview, Windrose, dan PC COSYMA. Pemodelan konsekuensi radiologis menggunakan tapak contoh daerah Bojanegara-Kramatwatu Pantai Serang-Banten. Dengan menggunakan data sourceterm, data meteorologi dan data dispersi (sebaran penduduk, produksi pertanian dan ternak dan modeling alur paparan (pathway, dihasilkan model sebaran radionuklida dan penerimaan paparan radiasi di lingkungan tapak Bojanegara-Serang, dengan penerimaan dosis radiasi di bawah batas yang diijinkan badan regulator BAPETEN. Kata kunci : PLTN, radioaktivitas, pola dispersi, keselamatan   Additional of electrical power especially Nuclear Power Plant will give radiological consequences to population and environment due to radioactive release in normal and abnormal condition. In consequence the management of nuclear power plant must

  18. PENGARUH H2O2, PH DAN SUMBER SINAR PADA DEGRADASI AIR LIMBAH PEWARNA INDIGO MENGGUNAKAN KATALIS TIO2

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    D Djarwanti

    2014-05-01

    Full Text Available Tujuan dari penelitian adalah mengkaji sampai sejauh mana pengaruh peroksida, pH dan sumber sinar lampu UV dan sinar matahari dalam proses degradasi fotokatalisis terhadap air limbah indigo menggunakan reaktor rotating drum . Tahapan penelitian adalah : pembuatan katalis TiO2 /Ti secara anodizing, karakterisasi katalis melalui uji XRD dan SEM dilanjutkan dengan degradasi fotokatalisis air limbah pewarna indigo Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa struktur kristal adalah anatase dengan ukuran 4 – 17 nm. Bentuk Kristal nanotube berdiameter 100 nm. Hasil degradasi secara fotokatalitik dengan variasi penambahan hidrogen peroksida menunjukkan hasil terbaik pada  penambahan peroksida 0,1% volum.  Variasi pH tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap degradasi sampel limbah indigo baik itu pH asam maupun basa. Degradasi di bawah sinar matahari memberi efek lebih baik dibanding dengan lampu UV.

  19. HIDROKONVERSI KATALITIK RESIDU MINYAK BUMI: PENGARUH TEMPERATUR DAN WAKTU REAKSI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hartiniati Hartiniati

    2012-02-01

    Full Text Available Uji terhadap proses hidro-konversi katalitik residu petroleum dari unit refinery Plaju, Palembang dilakukan dengan menggunakan reaktor-batch berpengaduk (autoclave 1 liter pada kondisi standar: tekanan awal hidrogen 12 MPa dan rasio sulfur terhadap besi = 2.0. Studi dilakukan untuk melihat pengaruh perubahan temperatur dari 430, 450, dan 470oC serta waktu reaksi 30, 60, 90 menit terhadap distribusi produk dan jumlah konsumsi hidrogen. Hasil studi menunjukkan bahwa produk minyak, CO, CO2 dan hidrokarbon naik secara signifikan dengan naiknya temperatur dan waktu reaksi, namun sebaliknya produk cair bawah (liquid bottom cenderung turun. Pada kajian ini juga ditemukan bahwa konsumsi hidrogen naik dengan bertambahnya produk minyak, sehingga penggunaan hidrogen lebih efisien. Dengan demikian disimpulkan bahwa proses hidro-konversi katalitik dapat diterapkan pada residue petroleum untuk meningkatkan nilai tambah/kualitasnya. 

  20. Core Calculation of 1 MWatt PUSPATI TRIGA Reactor (RTP) using Monte Carlo MVP Code System

    Science.gov (United States)

    Karim, Julia Abdul

    2008-05-01

    The Monte Carlo MVP code system was adopted for the Reaktor TRIGA PUSAPTI (RTP) core calculation. The code was developed by a group of researcher of Japan Atomic Energy Agency (JAEA) first in 1994. MVP is a general multi-purpose Monte Carlo code for neutron and photon transport calculation and able to estimate an accurate simulation problems. The code calculation is based on the continuous energy method. This code is capable of adopting an accurate physics model, geometry description and variance reduction technique faster than conventional method as compared to the conventional scalar method. This code could achieve higher computational speed by several factors on the vector super-computer. In this calculation, RTP core was modeled as close as possible to the real core and results of keff flux, fission densities and others were obtained.

  1. KINERJA KATALIS Ag/Al2O3 UNTUK REDUKSI NOx

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rakhman Sarwono

    2012-02-01

    Full Text Available NOx merupakan hasil samping dari suatu reaksi pembakaran. NOx merupakan gas yang beracun sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia dan hewan bila terhirup pada waktu bernafas. Untuk mengurangi kadar NOx pada gas buang, banyak penelitian diarahkan pada reduksi NOx dengan katalis secara selektif dengan hidrokarbon dan oksigen berlebihan. Katalis yang digunakan adalah katalis alumina (Al2O3 yang didapat dari katalis komersial (AlO1-7 dan katalis hasil sintesa (ALOA. Katalis Ag/Al2O3 didapat dengan memasukkan logam Ag ke dalam alumina (Al2O3 dengan cara impregnasi dengan larutan perak nitrat. Katalis diuji aktifitasnya pada reaktor fixed bed yang diluarnya terdapat pemanas yang bisa diatur suhunya. Reaktan seperti gas NO, C2H4  dan oksigen dimasukkan kedalam reaktor dengan laju yang ditentukan. Hasil reaksi dianalisa dengan gas chromatography dan dicatat pada recorder, selanjutnya bisa ditentukan kuantitas dan prosentase konversinya. Katalis alumina  ALOA mempunyai kemampuan mereduksi NO dengan konversi  sekitar 40-45% gas NO menjadi N2. Loading logam perak (Ag kedalam Al2O3 sebesar 2-3% berat menambah daya reduksi NO menjadi sekitar 45-50% pada suhu 500oC. Pada umpan NO + C2H4  + O2  reaksi reduksi terjadi pada suhu 300oC, sedangkan pada umpan NO + C2H4   (tanpa oksigen reaksi reduksi baru terjadi pada suhu 450oC, dengan demikian adanya oksigen sangat berperan dalam proses reduksi NOx. Reaksi peruraian C2H4 menjadi COx berkebalikan dengan kinerja katalis pada proses reduksi NOx

  2. ANALISA PENGARUH SUHU AWAL PELAT PANAS PADA PROSES QUENCHING CELAH SEMPIT REKTANGULAR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M. Hadi Kusuma

    2015-03-01

    Full Text Available Pemahaman terhadap manajemen termal apabila terjadi suatu kecelakaan parah reaktor nuklir seperti melelehnya bahan bakar dan teras reaktor, menjadi prioritas utama untuk menjaga integritas bejana tekan reaktor. Dengan demikian hasil lelehan bahan bakar dan teras reaktor (debris tidak keluar dari bejana tekan reaktor dan mengakibatkan dampak lain yang lebih besar ke lingkungan. Salah satu cara yang dilakukan untuk menjaga integritas bejana tekan reaktor adalah dengan melakukan pendinginan terhadap panas berlebih yang dihasilkan akibat dari kecelakaan tersebut. Untuk mempelajari dan mendapatkan pemahaman mengenai hal tersebut, maka dilakukan penelitian mengenai pengaruh suhu awal pelat panas dalam proses quenching (pendinginan secara tiba-tiba celah sempit rektangular. Penelitian difokuskan pada penentuan suhu rewetting dari pendinginan pelat panas dengan suhu awal pelat 220 0C, 400 0C, dan 600 0C dengan laju aliran air pendingin 0,2 liter/detik. Eksperimen dilakukan dengan menginjeksikan air pada laju aliran 0,2 liter/detik pada suhu air pendingin 85 0C ke dalam celah sempit rektangular. Data hasil pengukuran digunakan untuk mengetahui suhu rewetting yang terjadi pada pendinginan pelat panas tersebut. Tujuannya adalah untuk memahami pengaruh suhu awal pelat panas terhadap rewetting pada proses quenching di celah sempit rektangular. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa titik rewetting pada pendinginan pelat panas 220 0C, 400 0C, dan 600 0C terjadi pada suhu rewetting yang berbeda-beda. Pada suhu awal pelat panas 220 0C, suhu rewetting terjadi pada 220 0C yaitu langsung ketika air dilewatkan melalui celah sempit rektangular. Pada suhu awal pelat panas 400 0C, suhu rewetting terjadi pada 379,51 0C. Dan pada suhu awal pelat panas 600 0C, suhu rewetting terjadi pada 426,63 0C. Perbedaan suhu awal pelat panas yang sangat signifikan menyebabkan terjadinya perubahan sifat fisik benda uji, berbedanya rejim pendidihan yang dialami oleh fluida yang

  3. INVESTIGATION ON THERMAL-FLOW CHARACTERISTICS OF HTGR CORE USING THERMIX-KONVEK MODULE AND VSOP'94 CODE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sudarmono Sudarmono

    2015-03-01

      Kegagalan sistem pembuangan panas pada reaktor berpendingin air jenis PWR, Three Mile Islands dan reaktor BWR Fukushima Daiichi, menyebabkan masyarakat nuklir mulai memikirkan penggunaan reaktor pembangkit daya jenis temperatur tinggi berpendingin gas (HTGR. Bidang Fisika dan Teknologi Reaktor di Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir (PTRKN mempunyai tugas melaksanakan kegiatan litbang desain konseptual reaktor kogenerasi dengan tingkat daya menengah yang berpendingin gas helium dengan daya 200 MWt. Desain HTGR200K merupakan salah satu sistem pembangkit energi yang memiliki efisiensi energi paling besar, dan tingkat keselamatan inheren yang tinggi dan bersih. Komposisi geometri dan struktur teras didesain agar dapat menghasilkan keluaran pendingin gas helium bertemperatur 950 0C sehingga dapat digunakan untuk produksi hidrogen dan atau unit industri proses lainnya secara kogeneratif. Luaran gas helium bertemperatur sangat tinggi ini akan menimbulkan tegangan termal pada bola bahan bakar yang mengancam integritas sistem pengungkungan produk fisi di dalamnya. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi karakteristika termal flow untuk menentukan distribusi temperatur bahan bakar bola dan outlet temperatur pendingin gas helium teras HTGR. Hal ini dilakukan dengan menggunakan modul Thermix-Konvek yang terintegrasi dalam program VSOP’94. Geometri teras HTGR dikerjakan dalam modul BIRGIT untuk model teras 2-D (R-Z dengan 5 kanal aliran pebble dalam teras aktif arah radial. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa nilai tertinggi dan terendah temperatur yang terdapat pada teras   adalah sebesar 999.3 °C dan 886,5 °C. Demikian pula hasil temperatur tertinggi bahan bakar TRISO dan bahan bakar pebble di dalam teras, yaitu diperoleh sebesar  1510,20°C yang terletak pada lapisan bahan bakar inti UO2, di posisi z= 335.51 cm dan  r=0 cm. Analysis di lakukan pada laju massa aliran pendingin, tekanan dan daya masing-masing sebesar 120 kg/s, 7 Mpa dan 200MWth. Hasil

  4. Modulare und durchgängige Produktmodelle als Erfolgsfaktor zur Bedienung einer Omni-Channel-Architektur - PLM 4.0

    Science.gov (United States)

    Golovatchev, Julius; Felsmann, Marcus

    Mit der Transformation der Wertschöpfungsstrukturen von Utility 1.0 zu Utility 4.0 erfolgt offensichtlich auch eine Veränderung des Produkts. Vor dem Hintergrund disruptiver Technologien (IoT, Big Data, Cloud, Robotics etc.) und auch gesellschaftlicher Veränderungen entstehen ständig neue Geschäftsmodelle und Produkte, die über die reine Versorgungsdienstleistung (z. B. Strom) hinausgehen. Dabei muss der wertvolle Rohstoff Produktdaten für smarte Produkte durchgängiger und schneller nutzbar gemacht werden. Die modularen und durchgängigen Produktstrukturen leisten einen Beitrag zur Beherrschung von Komplexität und stellen somit einen wesentlichen Hebel für erfolgreiche Produktentwicklung und -management dar. In diesem Beitrag werden Ansätze beschrieben, wie es den vor der Herausforderung Utility 4.0 stehenden Unternehmen gelingen kann, Smart-Energy-Produkte so zu modellieren, dass sie die Interoperabilität der einzelnen Produktionsmodule sicherstellt und ein Ende-zu-Ende-Management ermöglicht.

  5. Modelling and simulation of undulating flow in cavitating hydraulic pipes; Modellierung und Simulation der Wellenbewegung in kavitierenden Hydraulikleitungen

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Beck, M.

    2003-07-01

    Undulating flow in cavitating hydraulic lines may cause compressive shocks, and the resulting unsteady flow field phenomena cause considerable problems in numeric calculation. The report constructs a method of the Godunov type with local time step width reduction. The method works well in solving the equations of hydraulic two-phase flow based on the homogeneous mixture model, even in case of shock phenomena. The numeric method is integrated in the commercial hydraulics simulator AMESim by co-simulation and is verified for a diesel injection system by means of comparative calculations. An exemplary calculation shows that the new method of calculation is faster and more accurate than the established methods. (orig.) [German] Die Wellenbewegung in kavitierenden Hydraulikleitungen fuehrt oftmals zur Ausbildung von Verdichtungsstoessen. Diese Unstetigkeiten im Stroemungsfeld bereiten erhebliche numerische Probleme. In der Arbeit wird ein Godunov-Typ Verfahren mit lokaler Zeitschrittweitenreduktion konstruiert. Dieses Verfahren kann die Gleichungen der hydraulischen Zweiphasenstroemung, aufbauend auf dem homogenen Gemischmodell auch bei Auftreten von Stoessen hinreichend genau und effizient loesen. Das numerische Verfahren wird mittels Kosimulation in den kommerziellen Hydrauliksimulator AMESim integriert und anhand von Vergleichsrechnungen fuer ein Diesel-Einspritzsystem verifiziert. An dem Beispiel zeigt sich, dass mit dem entwickelten Verfahren genauere und schnellere Berechnungen moeglich sind als mit bisher verfuegbaren Berechnungsverfahren. (orig.)

  6. Radiotherapy for solitary plasmacytoma and multiple myeloma; Strahlentherapie bei solitaerem Plasmozytom und multiplem Myelom

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Schmaus, M.C. [Universitaetsklinikum Heidelberg, Klinik fuer Radioonkologie und Strahlentherapie, Heidelberg (Germany); Neuhof, D. [MVZ Strahlentherapie und Nuklearmedizin Weinheim, Weinheim (Germany)

    2014-06-15

    Solitary plasmacytoma and multiple myeloma require a differentiated radiotherapy. The irradiation for plasmacytoma with an adequate total dose (medullary 40-50 Gy or extramedullary 50-60 Gy) leads to a high degree of local control with a low rate of side effects. In cases of multiple myeloma radiotherapy will achieve effective palliation, both in terms of recalcification as well as reduction of neurological symptoms and analgesia. In terms of analgesia the rule is the higher the single dose fraction the faster the reduction of pain. As part of a conditioning treatment prior to stem cell transplantation radiotherapy contributes to the establishment of a graft versus myeloma effect (GVM). (orig.) [German] Das solitaere Plasmozytom und das multiple Myelom fordern eine differenzierte Strahlenbehandlung. Bei Plasmozytomen fuehrt eine Bestrahlung mit ausreichender Gesamtdosis (medullaer 40-50 Gy oder extramedullaer 50-60 Gy) zu einer hohen Lokalkontrolle mit einer geringen Rate an Nebenwirkungen. Beim multiplen Myelom kann die Strahlentherapie eine effektive Palliation sowohl hinsichtlich Rekalzifikation als auch Reduktion neurologischer Symptomatik und Analgesie erzielen. Hinsichtlich der Analgesie gilt: Je hoeher die Einzeldosis, desto schneller der Wirkeintritt. Im Rahmen einer Konditionierungstherapie vor Stammzelltransplantation traegt die Strahlentherapie zur Etablierung eines Graft-versus-Myelom-Effekts (GvM) bei. (orig.)

  7. Efficient extrapolation methods for electro- and magnetoquasistatic field simulations

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M. Clemens

    2003-01-01

    Full Text Available In magneto- and electroquasi-static time domain simulations with implicit time stepping schemes the iterative solvers applied to the large sparse (non-linear systems of equations are observed to converge faster if more accurate start solutions are available. Different extrapolation techniques for such new time step solutions are compared in combination with the preconditioned conjugate gradient algorithm. Simple extrapolation schemes based on Taylor series expansion are used as well as schemes derived especially for multi-stage implicit Runge-Kutta time stepping methods. With several initial guesses available, a new subspace projection extrapolation technique is proven to produce an optimal initial value vector. Numerical tests show the resulting improvements in terms of computational efficiency for several test problems. In quasistatischen elektromagnetischen Zeitbereichsimulationen mit impliziten Zeitschrittverfahren zeigt sich, dass die iterativen Lösungsverfahren für die großen dünnbesetzten (nicht-linearen Gleichungssysteme schneller konvergieren, wenn genauere Startlösungen vorgegeben werden. Verschiedene Extrapolationstechniken werden für jeweils neue Zeitschrittlösungen in Verbindung mit dem präkonditionierten Konjugierte Gradientenverfahren vorgestellt. Einfache Extrapolationsverfahren basierend auf Taylorreihenentwicklungen werden ebenso benutzt wie speziell für mehrstufige implizite Runge-Kutta-Verfahren entwickelte Verfahren. Sind verschiedene Startlösungen verfügbar, so erlaubt ein neues Unterraum-Projektion- Extrapolationsverfahren die Konstruktion eines optimalen neuen Startvektors. Numerische Tests zeigen die aus diesen Verfahren resultierenden Verbesserungen der numerischen Effizienz.

  8. Evaluation von Bildungsportalen – Empirische Untersuchungen zur Nutzung des Deutschen Bildungsservers

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Elke Brenstein

    2017-08-01

    Full Text Available Die Produktion von Wissen wird immer schneller, und die technischen Möglichkeiten der IKT, Informationen zu vervielfältigen, zu verbreiten und zugänglich zu machen, wachsen ständig. Informationsflut und Wissensexplosion erfordern deshalb einen intelligenten und verantwortungsvollen Umgang mit komplexen und vielfältig vernetzten Wissensinhalten. Der Deutsche Bildungsserver und das Schulweb sind zwei stark frequentierte Internetportale, welche inhaltlich hochwertige und wissenschaftlich strukturierte Informationen zum Thema Bildung anbieten. Obwohl sich die Angebote einer ständig wachsenden Nutzung erfreuen, ist es für die inhaltliche und strukturelle Weiterentwicklung der Angebotspalette wichtig zu wissen, wer die Nutzer sind und wie die Informationen von unterschiedlichen Nutzergruppen angenommen und bewertet werden. Diese Fragestellungen wurden mit quantitativen und qualitativen Erhebungsmethoden untersucht. Im Folgenden werden exemplarische Ergebnisse von Online-Befragungen und Fokusgruppenuntersuchungen zu inhaltlichen, strukturellen und graphischen Aspekten der Gebrauchstauglichkeit (Usability dargestellt. Darüber hinaus werden die Teilergebnisse einer Detailauswertung von Logfiledaten eines Jahres präsentiert. Aus den Ergebnissen werden Empfehlungen zur nutzergruppenspezifischen Optimierung der Angebote abgeleitet.

  9. Fluid mechanics of friction-reducing riblet wall surfaces; Zur Stroemungsmechanik wandreibungsvermindernder riblet-Oberflaechen

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Bruse, M.

    1999-10-01

    The author investigated the reduction of turbulent wall friction by riblets in flow direction. Compared with a smooth, unstructured surface, riblet surfaces can reduce the turbulent wall friction by up to 10%. Apart from a theoretical description of the mechanism of wall friction reduction, the experimental optimisation of the riblet geometry and flow rate measurements to support the theory are described as well. Technical applications of riblet surfaces are discussed. A special, oil-filled flow tunnel was constructed for the investigations. The tunnel and its high-accuracy shear strain meter are described, as is the hot film measuring system for flow rate measurement. [Deutsch] Diese Arbeit befasst sich umfassend mit der turbulenten Wandreibungsverminderung durch feine, in Stroemungsrichtung ausgerichtete Rippen. So strukturierte Oberflaechen werden als riblet-Oberflaechen oder technische Haihaut bezeichnet. Letzteres, da auf den Schuppen schneller Haie ebenfalls feine Rippen zu finden sind. Mit riblet-Oberflaechen kann die turbulente Wandreibung um bis zu 10% im Vergleich zu einer glatten unstrukturierten Oberflaeche vermindert werden. Neben einer theoretischen Beschreibung des Mechanismus der Wandreibungsverminderung werden die experimentelle Optimierung der Rippengeometrie und Geschwindigkeitsmessungen zur Untermauerung der Theorie beschrieben. Der technische Einsatz von riblet-Oberflaechen wird ebenfalls diskutiert. Fuer die Untersuchungen wurde ein spezieller Stroemungskanal aufgebaut, der mit Oel befuellt ist. Der Kanal und seine sehr genaue Schubspannungswaage, wie auch die eingesetzte Heissfilm-Messtechnik zur Geschwindigkeitsmessung, werden ausfuehrlich beschrieben. (orig.)

  10. Magnetic resonance imaging of pulmonary perfusion. Technical requirements and diagnostic impact; MRT der Lungenperfusion. Technische Voraussetzungen und diagnostischer Stellenwert

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Attenberger, U.I.; Buesing, K.; Schoenberg, S.O.; Fink, C. [Klinikum Mannheim der Universitaet Heidelberg, Institut fuer Klinische Radiologie und Nuklearmedizin, Universitaetsmedizin Mannheim, Mannheim (Germany); Ingrisch, M.; Reiser, M. [Klinikum der Ludwig-Maximilians-Universitaet Muenchen, Institut fuer Klinische Radiologie, Campus Grosshadern, Muenchen (Germany)

    2009-08-15

    With technical improvements in gradient hardware and the implementation of innovative k-space sampling techniques, such as parallel imaging, the feasibility of pulmonary perfusion MRI could be demonstrated in several studies. Dynamic contrast-enhanced 3D gradient echo sequences as used for time-resolved MR angiography have been established as the preferred pulse sequences for lung perfusion MRI. With these techniques perfusion of the entire lung can be visualized with a sufficiently high temporal and spatial resolution. In several trials in patients with acute pulmonary embolism, pulmonary hypertension and airway diseases, the clinical benefit and good correlation with perfusion scintigraphy have been demonstrated. The following review article describes the technical prerequisites, current post-processing techniques and the clinical indications for MR pulmonary perfusion imaging using MRI. (orig.) [German] Mit der Verfuegbarkeit leistungsfaehiger Gradientensysteme und schneller k-Raum-Akquisitionstechniken wie der parallelen Bildgebung konnten verschiedene Studien die Machbarkeit der Lungenperfusionsbildgebung in der MRT zeigen. In der Praxis haben sich dynamische kontrastverstaerkte 3D-Gradientenechosequenzen, wie sie fuer zeitaufgeloeste MR-Angiographien verwendet werden, fuer die Bildgebung der Lungenperfusion etabliert. Hiermit ist es moeglich, die Perfusion der gesamten Lunge mit ausreichend hoher zeitlicher und raeumlicher Aufloesung zu visualisieren. In mehren klinischen Studien konnte bei Patienten mit Lungenembolie, pulmonaler Hypertonie sowie Erkrankungen der Atemwege und des Lungenparenchyms der klinische Nutzen der Lungenperfusions-MRT und die gute Uebereinstimmung mit der Lungenperfusionsszintigraphie nachgewiesen werden. Der folgende Uebersichtsartikel beschreibt die technische Durchfuehrung, Bildnachverarbeitung und die klinischen Anwendungsgebiete der MRT zur Untersuchung der Lungenperfusion. (orig.)

  11. Posttraumatic lesions of the occipitocervical junction; Traumatische Laesionen des okzipitozervikalen Ueberganges

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Knapp, R. [Universitaetsklinik fuer Radiodiagnostik, Radiologie 2, Innsbruck (Austria); Zur Nedden, D. [Universitaetsklinik fuer Radiodiagnostik, Radiologie 2, Innsbruck (Austria)

    1994-12-01

    The availability of better and quicker resuscitation means that more patients with occipitocervical injuries survive. In view of the complex anatomy and functional capabilities of the upper part of the spine it makes sense to discuss injuries to this part separately from any to the lower cervical and thoracolumbar vertebral column. Computerized tomography with additional multiplanar reconstructions, digital radiography and magnetic resonance imaging early in the diagnostic workup improves the likelihood of a quick and satisfactory diagnosis. Our classification of injuries should enable the radiologist to provide the traumatologist with enough information on the damage to bones and soft tissue to allow an accurate assessment of stability, which is mandatory for the selection of appropriate treatment. (orig.) [Deutsch] Zunehmende Aktivitaeten im Rahmen sog. Modesportarten haben auch die Anzahl der Wirbelverletzungen ansteigen lassen. Ausserdem wurde die Ueberlebensrate bei Verletzungen des okzipitozervikalen Ueberganges durch den nahezu flaechendeckenden Einsatz von Notaerzten verbessert. Aus anatomischen und biomechanischen Gruenden scheint uns eine gesonderte Behandlung des okzipitozervikalen Ueberganges getrennt von der unteren Halswirbelsaeule und der thorakolumbalen Wirbelsaeule sinnvoll. Der fruehzeitige Einsatz von digitaler Radiographie, Computertomographie unter Zuhilfenahme multiplanarer Rekonstruktionen und der Kernspintomographie ermoeglichen nicht nur eine schnellere Diagnosestellung, sondern auch eine genauere Differentialdiagnose in bezug auf diskoligamentaere Begleitverletzungen. So ist eine Beurteilung der Stabilitaet und damit die Entscheidung ueber das weitere therapeutische Vorgehen fruehzeitig moeglich. Die Prognose der haeufig Halswirbelsaeulenverletzungen begleitenden Schaedigung des Rueckenmarkes und die Wiedererlangung der Beweglichkeit kann dadurch verbessert werden. (orig.)

  12. Development of a method of measuring air-borne biogenic hydrocarbons and its application in studies on emission and decomposition of terpenes in forests; Entwicklung eines Verfahrens zur Messung luftgetragener biogener Kohlenwasserstoffe und seine Anwendung zur Untersuchung von Emission und Abbau von Terpenen in Waldbestaenden

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Hoffmann, T.

    1992-11-17

    The study deals with the sampling and GC/MS analysis of air-borne biogenic hydrocarbons such as isoprene, monoterpenes, sesquiterpenes and certain oxygenic terpenoids. Atmospheric concentrations of these compounds were determined in a survey on forest areas, the main purpose being to establish their significance as precursors of phytotoxic air constituents such as H{sub 2}O{sub 2} and organic peroxides. After that, experiments were conducted in closed exposure chambers for a closer examination of the influence of ozone on plant terpene emission. It turned out that cloned spruce emit greater quantities of monoterpenes when exposed to ozone. It follows that this pollutant has a fast-acting impact on plant physiological processes. (orig.) [Deutsch] Die vorliegende Arbeit befasst sich mit der Probenahme und GC/MS-Bestimmung luftgetragener biogener Kohlenwasserstoffe wie Isopren, Monoterpene, Sesquiterpene und einige sauerstoffhaltige Terpenoide. Im Rahmen von Feldmessungen in Waldbestaenden sollte die Bestimmung der atmosphaerischen Konzentrationen dieser Verbindungen vor allem Aufschluesse ueber ihre Bedeutung als Vorlaeuferstoffe fuer phytotoxische Luftinhaltsstoffe wie H{sub 2}O{sub 2} und organische Peroxide geben. Im Rahmen von Experimenten in geschlossenen Expositionskammern wurde schliesslich die Beeinflussung der pflanzlichen Terpenemissionen durch Ozon naeher untersucht. Hierbei zeigte sich eine erhoehte Emission der reaktiveren Monoterpene waehrend der Ozonbelastung von Klonfichten und damit ein schneller Eingriff dieses Schadgases in pflanzenphysiologische Prozesse. (orig.)

  13. The impact of flooding space and ground-water-regeneration conditions on the flooding of the Ronneburg uranium mines; Abhaengigkeit des Verlaufs der Grubenflutung des Ronneburger Uranerzbergbaureviers von der Beschaffenheit des Flutungsraumes und von den Grundwasser-Neubildungsbedingungen

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Haehne, R.; Schoepe, M. [C und E Consulting und Engineering GmbH, Chemnitz (Germany); Paul, M.; Gengnagel, M. [Wismut GmbH, Chemnitz (Germany)

    2001-07-01

    The central problem during flooding of the Ronneburg mine was the prevention of contamination of surface water and groundwater. The contribution presents the key considerations, the planning of the flooding process, and the various stages of implementation. [German] Die Flutung der Ronneburger Lagerstaette erfolgt mit dem Ziel, die Verwahrung des untertaegigen Grubengebaeudes unter Beachtung der sich aus den berg-, strahlenschutz- und wasserrechtlichen Randbedingungen ergebenden Anforderungen sowie unter Beruecksichtigung des Verhaeltnisses von Sanierungskosten zu erreichbarem Umweltnutzen zu realisieren. Dabei besteht die zentrale Aufgabenstellung im Schutz der Oberflaechengewaesser und Grundwasservorkommen vor unzulaessigen Belastungen durch bergbautypische Kontamination. Die dauerhafte Unterbindung der Oxidationsprozesse im Absenkungstrichter bildet die Grundlage fuer eine langfristige Verbesserung der Wasserbeschaffenheit. Fuer die Planung des Flutungsprozesses selbst sowie der notwendigen begleitenden Aktivitaeten, wie Errichtung von Systemen zur Wasserfassung und -behandlung nach Abschluss der Flutung, war vorab eine Prognose zum zeitlichen Verlauf des Wasserstandsanstiegs zu erarbeiten. Entgegen der urspruenglichen Prognose verlief die Flutung bis zu 240-m-Sohle ab Maerz 1999 jedoch wesentlich schneller als prognostiziert. So wurde das Niveau von 52 m NN bereits nach einer Flutungszeit von ca. 20 Monaten im September 1999 und damit etwa 12 Monate frueher als erwartet erreicht. Es stellte sich somit die Aufgabe, die Ursachen fuer diese Entwicklung zu untersuchen, das Prognosemodell am faktischen Wiederanstieg zu validieren und Schlussfolgerungen fuer den weiteren Flutungsverlauf und die Vorbereitung der technischen Massnahmen zum Gewaesserschutz abzuleiten. Dabei stand die Formulierung von worst-case-Szenarien, also Szenarien einer schnellstmoeglichen Flutung, im Vordergrund der Betrachtungen. (orig.)

  14. Intraspecific differentiation of Paramecium novaurelia strains (Ciliophora, Protozoa) inferred from phylogenetic analysis of ribosomal and mitochondrial DNA variation.

    Science.gov (United States)

    Tarcz, Sebastian

    2013-01-01

    Paramecium novaurelia Beale and Schneller, 1954, was first found in Scotland and is known to occur mainly in Europe, where it is the most common species of the P. aurelia complex. In recent years, two non-European localities have been described: Turkey and the United States of America. This article presents the analysis of intraspecific variability among 25 strains of P. novaurelia with the application of ribosomal and mitochondrial loci (ITS1-5.8S-ITS2, 5' large subunit rDNA (5'LSU rDNA) and cytochrome c oxidase subunit 1 (COI) mtDNA). The mean distance observed for all of the studied P. novaurelia sequence pairs was p=0.008/0.016/0.092 (ITS1-5.8S-ITS2/5'LSU rDNA/COI). Phylogenetic trees (NJ/MP/BI) based on a comparison of all of the analysed sequences show that the studied strains of P. novaurelia form a distinct clade, separate from the P. caudatum outgroup, and are divided into two clusters (A and B) and two branches (C and D). The occurrence of substantial genetic differentiation within P. novaurelia, confirmed by the analysed DNA fragments, indicates a rapid evolution of particular species within the Paramecium genus. Copyright © 2012 Elsevier GmbH. All rights reserved.

  15. Determination of the energy dose of a neutron beam using a ionization chamber. A compendium; Die Bestimmung der Energiedosis eines Neutronenstrahls mit Hilfe von Ionisationskammern. Ein Kompendium

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Schraube, H. [GSF - Forschungszentrum fuer Umwelt und Gesundheit GmbH, Neuherberg (Germany); Alberts, W.G.; Brede, H. [Physikalisch-Technische Bundesanstalt (PTB), Braunschweig (Germany); Burgkhardt, B.; Piesch, E. [Forschungszentrum Karlsruhe GmbH Technik und Umwelt (Germany); Doerschel, B. [Technische Univ. Dresden (Germany); Heinzelmann, M. [Forschungszentrum Juelich (Germany); Hess, A. [Universitaetskrankenhaus Eppendorf, Hamburg (Germany); Hoefert, M. [European Lab. for Particle Physics (CERN), Geneva (Switzerland)

    2003-07-01

    This report is addressed to scientists and technicians, who are engaged in dosimetry of fast neutrons, especially for purposes of percutaneous radiation therapy. The range of mean energies of the radiation sources may be approximately between 1 MeV and 50 MeV. The report exhibits a compendium, which describes the basic methods and procedures for the determination of energy dose in tissue in a phantom or free-in-air, where applicable. Furthermore, requirements for monitor, test devices and phantom materials are described. The calculation methods are comprehensibly derived and supplemented with numerical data. A detailed analysis of experimental uncertainties is completed with practical examples. (orig.) [German] Dieser Bericht wendet sich an Wissenschaftler und Techniker, die sich mit der Dosimetrie schneller Neutronen insbesondere zum Zwecke der perkutanen Strahlentherapie befassen. Der Bereich der mittleren Energie der in Frage kommenden Neutronenquellen liegt etwa zwischen 1 MeV und 50 MeV. Der Bericht stellt ein Kompendium dar, das Grundlagen und Verfahren zur Bestimmung der Gewebe-Energiedosis in einem Phantom und gegebenenfalls frei in Luft beschreibt. Weiterhin werden die Anforderungen beschrieben, die an Monitor- und Testeinrichtungen sowie an Phantomsubstanzen zu stellen sind. Die erforderlichen Berechungsverfahren werden nachvollziehbar abgeleitet und mit Zahlenwerten versehen. Eine ausfuehrliche Analyse der Messunsicherheiten wird mit praktischen Beispielen ergaenzt. (orig.)

  16. Vorschläge für ein optimales Follow-up der Osteoporose

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Finkenstedt G

    1998-01-01

    Full Text Available Es gibt bislang keine klar definierten Richtlinien für die klinische Verlaufskontrolle in der Therapie der Osteoporose. In diesem Referat werden die notwendigen Methoden zur Erfassung der Wirksamkeit und Verträglichkeit der Therapie und zur Überprüfung der Compliance vorgestellt, und konkrete Richtlinien für die Monitorisierung der Osteoporosetherapie gegeben. Für die Erfassung von neuen klinischen und sog. nicht-klinischen Frakturen ist noch das Nativ-Röntgenbild notwendig. Veränderungen der Knochendichte werden mittels DXA oder QCT gemessen, wobei wegen deren noch nicht idealer Präzision für diese Verlaufsmessungen relativ lange Intervalle notwendig sind. Schneller sind zu erwartende Veränderungen der Knochendichte durch die Bestimmung von Knochenumsatzmarkern abzuschätzen. Diese Parameter erlauben auch Hinweise auf die Compliance der Patienten. Für die klinische Routine wird die Bestimmung von Osteocalcin als Anbauarker und von C- oder N-terminalen quervernetzten Kollagenbruchstücken als Abbaumarker empfohlen. Zur Überprüfung der Therapiesicherheit und Compliance sind Bestimmungen des Serumkalziums, der Harnkalziumausscheidung, der Blutspiegel von Fluorid, Östradiol oder Testosteron, sowie gynäkologische und Mammographie- bzw. urologische Kontrollen unter den entsprechenden Behandlungen erforderlich. Alle diese Untersuchungen werden im Detail besprochen und abschließend wird noch ein Zeitplan für die Durchführung dieser Kontrollen vorgestellt.

  17. ANALISA FLUKS KALOR KRITIS PADA PERUBAHAN SUHU PELAT DAN LAJU ALIRAN AIR PENDINGIN UNTUK KASUS PEMANASAN-GANDA DI CELAH SEMPIT REKTANGULAR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M. Hadi Kusuma

    2015-03-01

    Full Text Available Fenomena perpindahan kalor pendidihan pada celah sempit rektangular merupakan fenomena yang berhubungan dengan keselamatan reaktor nuklir. Untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang hal tersebut di atas agar didapatkan pemahaman yang benar tentang keselamatan reaktor nuklir dari sisi perpindahan kalor pendidihan dan juga dapat berguna bagi perbaikan desain reaktor generasi selanjutnya. Penelitian difokuskan pada perhitungan fluks kalor selama proses pendinginan di celah sempit rektangular berukuran 1,0 mm, dengan suhu awal pelat rektangular 200 oC, 400 oC , dan 600 oC serta laju aliran air pendingin yang masuk ke dalam celah sempit rektangular 0,1 liter/detik, 0,2 liter/detik, dan 0,3 liter/detik. Eksperimen dilakukan dengan menginjeksikan air pada laju aliran tertentu dengan suhu air 85 oC. Data transien suhu hasil pengukuran direkam melalui sistem akuisisi data (DAS, data acquisition system. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh hubungan fluks kalor kritis dan koefisien perpindahan kalor terhadap perubahan suhu pelat dan laju aliran air pendingin untuk kasus pemanasan-ganda di celah sempit rektangular. Hasil yang didapatkan menunjukan bahwa pada suatu nilai laju aliran air pendingin yang sama, semakin besar suhu pelat panas maka akan semakin besar pula nilai fluks kalor kritis yang dihasilkan. Sedangkan pada suatu nilai suhu pelat panas yang sama, semakin besar laju aliran air pendingin maka akan menghasilkan nilai koefisien perpindahan kalor yang semakin besar pula. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa laju aliran air pendingin dan suhu pelat panas memiliki pengaruh yang signifikan pada nilai fluks kalor kritis dan keofisien perpindahan kalor yang dihasilkan pada proses quenching celah sempit rektangular dengan kasus pemanasan ganda. Kata kunci: pendidihan, kalor, celah sempit, rektangular, aliran   Boiling heat transfer phenomena on rectangular narrow gap was related to the safety of nuclear reactors. Research done in order to study

  18. KARAKTERISTIK PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI ALAMIAH ALIRAN NANOFLUIDA AL2O3-AIR DI DALAM PIPA ANULUS VERTIKAL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Reinaldy Nazar

    2016-03-01

    Full Text Available ABSTRAK KARAKTERISTIK PERPINDAHAN PANAS KONVEKSI ALAMIAH ALIRAN NANOFLUIDA AL2O3-AIR DI DALAM PIPA ANULUS VERTIKAL. Hasil beberapa penelitian menunjukan bahwa nanofluida memiliki karakteristik termal yang lebih baik dibandingkan dengan fluida konvensional (air. Berkaitan dengan hal tersebut, saat ini sedang berkembang pemikiran untuk menggunakan nanofluida sebagai fluida perpindahan panas alternatif pada sistem pedingin reaktor. Sementara itu, konveksi alamiah di dalam pipa anulus vertikal merupakan salah satu mekanisme perpindahan panas yang penting dan banyak ditemukan pada reaktor riset TRIGA, reaktor daya generasi baru dan alat konversi energi lainnya. Namun disisi lain karakteristik perpindahan panas nanofluida di dalam pipa anulus vertikal belum banyak diketahui. Oleh karena itu penting dilakukan secara berkesinambungan penelitian-penelitian untuk menganalisis perpindahan panas nanofluida di dalam pipa anulus vertikal. Pada penelitian telah dilakukan analisis numerik menggunakan program computer CFD (computational of fluids dynamic terhadap karakteristik perpindahan panas konveksi alamiah aliran nanofluida Al2O3-air konsentrasi 2% volume di dalam pipa anulus vertikal. Hasil kajian ini menunjukkan terjadi peningkatan kinerja perpindahan panas (bilangan Nuselt- NU sebesar 20,5% - 35%. Pada moda konveksi alamiah dengan bilangan 2,4708e+09 £ Ra £ 1,9554e+13 diperoleh korelasi empirik untuk air adalah dan korelasi empirik untuk nanofluida Al2O3-air adalah   Kata kunci: Nanofluida Al2O3-air, konveksi alamiah, pipa anulus vertikal     ABSTRACT THE CHARACTERISTICS OF NATURAL CONVECTIVE HEAT TRANSFER OF AL2O3–WATER NANOFLUIDS FLOW IN A VERTICAL ANNULUS PIPE. Results of several research have shown that nanofluids have better thermal characteristics compared to conventional fluid (water. In this regard, currently developing ideas for using nanofluids as an alternative heat transfer fluid in the reactor coolant system. Meanwhile the natural

  19. EFFECT OF AIR CONDITION ON AP-1000 CONTAINMENT COOLING PERFORMANCE IN STATION BLACK OUT ACCIDENT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hendro Tjahjono

    2015-10-01

    Full Text Available ABSTRACT EFFECT OF AIR CONDITION ON AP-1000 CONTAINMENT COOLING PERFORMANCE IN STATION BLACK OUT ACCIDENT. AP1000 reactor is a nuclear power plant generation III+ 1000 MWe which apply passive cooling concept to anticipate accidents triggered by the extinction of the entire supply of electrical power or Station Black Out (SBO. In the AP1000 reactor, decay heat disposal mechanism conducted passively through the PRHR-IRWST and subsequently forwarded to the reactor containment. Containment externally cooled through natural convection in the air gap and through evaporation cooling water poured on the outer surface of the containment wall. The mechanism of evaporation of water into the air outside is strongly influenced by the conditions of humidity and air temperature. The purpose of this study was to determine the extent of the influence of the air condition on cooling capabilities of the AP1000 containment. The method used is to perform simulations using Matlab-based analytical calculation model capable of estimating the power of heat transfered. The simulation results showed a decrease in power up to  5% for relative humidity rose from 10% to 95%, while the variation of air temperature of 10 °C to 40°C, the power will decrease up to 15%. It can be concluded that the effect of air temperature increase is much more significant in lowering the containment cooling ability compared with the increase of humidity. Keywords: containment cooling, AP1000, air condition, SBO   ABSTRAK PENGARUH KONDISI UDARA TERHADAP KINERJA PENDINGINAN SUNGKUP AP-1000 DALAM KECELAKAAN STATION BLACK OUT. Reaktor AP-1000 merupakan PLTN generasi III+ berdaya 1000 MWe yang menerapkan konsep pendinginan pasif untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan yang dipicu oleh padamnya seluruh suplai daya listrik atau dikenal dengan Station Black Out (SBO. Pada reaktor AP-1000, mekanisme pembuangan kalor peluruhan dilakukan secara pasif melalui PRHR yang diteruskan ke IRWST dan

  20. KETAHANAN KOROSI PADUAN Al-Mg 5052 DI DALAM AIR PENDINGIN NETRAL MENGANDUNG KLORIDA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dicky Tri Jatmiko

    2015-07-01

    Full Text Available KETAHANAN KOROSI PADUAN Al-Mg 5052 DI DALAM AIR PENDINGIN NETRAL MENGANDUNG KLORIDA. Paduan Al-Mg 5052 adalah material yang biasa digunakan untuk kelongsong elemen bakar nuklir karena serapan fluks netronnya rendah dan tahan korosi di dalam air demineralisasi pada kondisi operasi reaktor. Makalah ini difokuskan untuk mengetahui ketahanan korosi paduan Al-Mg 5052 di dalam air dengan pH netral dan mengandung klorida sebagai pengganti air demineralisasi pendingin primer Reaktor Serba Guna GA Siwabessy (RSG-GAS. Penelitian mencakup pengukuran laju korosi menggunakan metode Tafel, prediksi mekanisme korosi menggunakan metode voltametri siklik dan analisa produk korosi dengan metode difraksi sinar X. Percobaan dilakukan dengan variasi temperatur 30°C, 35°C, 40°C, dan 45°C, serta variasi konsentrasi larutan natrium  klorida 0,05 M, 0,25 M, dan 0,5 M. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa paduan Al-Mg 5052 terkorosi dengan kategori “dapat diabaikan” hingga “sedang” dalam larutan natrium klorida menjadi produk yang larut dalam air pada satu tahap reaksi oksidasi irreversible.   CORROSION RESISTANCE OF Al-Mg ALLOY 5052 IN CHLORIDE CONTAINING NEUTRAL COOLING WATER. Al-Mg alloy 5052 is a material used as nuclear fuel element cladding due to its low neutron flux absorption and high corrosion resistance in demineralized water. This research is focused to know of the corrosion resistance of Al-Mg alloy 5052 in chloride containing neutral water used as demineralized primary cooling water substitute in GA Siwabessy Multi Purpose Reactor (RSG-GAS. This research covers the corrosion rate measurement using the Tafel method, corrosion process prediction using cyclic voltammetry method and corrosion product analysis using X-Ray Diffraction method. The experiments are carried out at temperature variation of 30°C, 35°C, 40°C and 45°C, as well as sodium chloride concentration of 0.05 M, 0.25 M and 0.5 M. The research results show that Al-Mg alloy 5052

  1. Influence of dissolved product gas on organism retention in biogas tower reactors; Der Einfluss geloester Produktgase auf den Organismenrueckhalt in Biogas-Turmreaktoren

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Pietsch, T.; Maerkl, H. [Technische Univ. Hamburg-Harburg, Hamburg (Germany). Arbeitsbereich Bioprozess- und Bioverfahrenstechnik

    1999-07-01

    In biogas tower reactors, considerable oversaturations of CO{sub 2} dissolved in molecular form in the liquid phase can occur, compared to the thermodynamic steady state with the gas phase. In buildings of low height, upflow designs cause biological CO{sub 2} production along the reactor to saturate the liquid phase with carbonic acid, and also cause the pH value increasing from acid degradation to bind CO{sub 2} in the form of hydrogen carbonate HCO{sup -}{sub 3}. Where buildings are very high, the liquid phase becomes degassed through a decrease in CO{sub 2} partial pressure because of decreasing hydrostatic pressure along the length of the reactor. Rising gas bubbles in the liquid phase as well as enclosed gas bubbles in biomass particles slow down their sedimentation considerably and can result in flotation of biomass particles owing to gas expansion from declining hydrostatic pressure. A sedimentation characteristics for biomass under decreasing hydrostatic pressure is given. Conditions critical to biomass retention are energy input into CO{sub 2}-oversaturated liquids as well as dynamically rapid drops in pH value owing to associated CO{sub 2} degassing. (orig.) [German] In Biogas-Turmreaktoren koennen erhebliche Uebersaettigungen von molekular geloestem CO{sub 2} in der Fluessigphase gegenueber dem thermodynamischen Gleichgewichtszustand mit der Gasphase auftreten. Bei geringer Bauhoehe fuehrt bei upflow-Konzepten die biologische CO{sub 2}-Produktion entlang des Reaktors zu einer Aufsaettigung der Fluessigphase mit Kohlensaeure und der durch Saeureabbau ansteigende pH-Wert zu einer Bindung des CO{sub 2} in Form des Hydrogencarbonats HCO{sub 3}{sup -}. Sehr grosse Bauhoehen fuehren zu einer Entgasung der Fluessigphase durch Abnahme des CO{sub 2}-Partialdruckes aufgrund des abnehmenden hydrostatischen Druckes entlang der Reaktorhoehe. Aufsteigende Gasblasen in der Fluessigphase sowie eingeschlossene Gasblasen in Biomassepartikeln mindern deren

  2. POTENSI PEMANFAATAN AIR LIMBAH PEMUCAT INDUSTRI TENUN ATBM UNTUK MENURUNKAN KEBUTUHAN OKSIGEN KIMIAWI (KOK AIR LIMBAH PEWARNAAN (The Potency of Using Bleaching Wastewater to reduce Chemical Oxygen Demand (COD in Dyeing Wastewater of Traditional Weaving

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sarto Sarto

    2012-11-01

    Full Text Available ABSTRAK Kegiatan tenun ATBM di Gamplong menghasilkan air limbah terutama dari proses pewarnaan dan proses pemucatan. Bahan pewarna merupakan senyawa komplek dan relatif stabil sehingga sulit ditangani. Proses oksidasi lanjut telah terbukti mampu menurunkan kadar bahan pewarna dalam air limbah. Penelitian ini mempelajari potensi air limbah pemucatan untuk menurunkan kadar bahan pewama dalam air limbah pewarnaan. Proses pencampuran air limbah pewarna dengan air limbah pemucatan dilakukan di dalam sebuah reaktor batch yang dilengkapi empat lampu UV masing-masing 10 Watt dan sebuah pengaduk magnit. Penurunan kadar zat warna dinyatakan dalam Kebutuhan Oksigen Kimiawi (KOK. Setiap jangka (interval waktu tertentu, cuplikan air limbah sebanyak 2 mL diambil dari reaktor lalu dianalisis KOK nya. Rasio volume limbah pewarnaan terhadap limbah pemucatan adalah 3:1, 2:1, 1:1, 1:2, dan 1:3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin kecil nisbah limbah pewamaan dengan limbah pemucatan menghasilkan penurunan KOK semakin besar. Dengan volume limbah total 150 m, potensi oksidasi limbah pemucatan setara dengan sekitar 2 mL hidrogen peroksida 50% dalam 150 mL air limbah. ABSTRACT Traditional weaving activities in Gamplong produce wastewater, mainly from dyeing and bleaching processes. Dyes are complex compounds and realtively stable which is difficult to be managed. Advanced oxidation processes have proved to be able to decrease dyes content in the wastewater. The aim of this experiment is to study the potency of bleaching wastewater to reduce dyes content in dyeing wastewater. The mixing process of those wastewater was conducted in a batch reactor which was equipped with 4 UV light of 10 W each and a magnetic stirrer. The mixing process was performed at ambient temperature and pressure. Dyes content in the wastewater was expressed in chemical oxygen demand (COD. Each run, total volume of wastewater of dyeing process or  mixtures of dyeing process and bleaching

  3. Von Zetteln und Apparaten. Subjektivierung in bundesdeutschen und britischen Arbeitsämtern der 1970er- und 1980er-Jahre

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wiebke Wiede

    2016-11-01

    Full Text Available The article examines the governance of unemployment by employment offices inthe Federal Republic of Germany and the United Kingdom in the 1970s and 1980s, which were times of persisting mass unemployment in both countries, focusing on social meanings encoded into the social space of employment offices. Applying concepts from actor-network theory, the article investigates the agency of things in the administration of unemployment, e.g. folders of files, queue numbers or vacancy notices. In particular, the article considers the mechanisation and increasing use of machines and IT systems in German and British employment offices. With regard to processes of subjectivisation, it investigates how the unemployed experienced things and objects in employment offices. While the newly designed British Jobcentre offered jobs as part of a self-service concept, the German employment offices remained in the bureaucratic tradition whereby the unemployed primarily waited for employment counselling and placement. Der Beitrag untersucht Arbeitsämter in der Bundesrepublik Deutschland und Großbritannien während der 1970er- und 1980er-Jahre, einer Zeit deutlich gestiegener Arbeitslosenzahlen. Im Fokus stehen die Verwaltungsvorgänge, begriffen als soziale Praktiken und Mensch-Ding-Verhältnisse. Mit der Akteur-Netzwerk-Theorie fragt der Aufsatz nach der Agency der Verwaltungsdinge im Arbeitsamt: den Bürogestaltungen, Aktenordnern, Wartenummern oder Stellenaushängen. Problematisiert wird besonders die in den 1970er- und 1980er-Jahren durchgesetzte Technisierung der administrativen Vorgänge, also der vermehrte Einsatz von Apparaten und EDV-Systemen in bundesdeutschen und britischen Arbeitsverwaltungen. In beiden Ländern wurde »Selbstbedienung« zu einem neuen Verhaltensdispositiv, das sich in den neu eingerichteten britischen Jobcentres jedoch schneller durchsetzte als im traditionellen deutschen Arbeitsamt, wo das passive Warten weiterhin eine vorherrschende

  4. Die Tissue Microarray-Technik als neues "high throughput-tool" für den Nachweis differentieller Proteinexpression

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Merseburger AS

    2003-01-01

    Full Text Available Im Mittelpunkt jüngster Untersuchungen stand der Versuch, in Ergänzung zu konventionellen Tumor- bzw. Patientencharakteristika, wie beispielsweise dem Tumorstadium oder dem histologischen Differenzierungsgrad, biologische Variablen zu identifizieren. Ziel ist es, die Prognose des individuellen, an einer Tumorerkrankung leidenden Patienten durch exakte Bestimmung des im Einzelfall vorliegenden biologischen Aggressivitätspotentials zu determinieren. Auf diese Weise soll ein individualisiertes aggressiveres bzw. weniger aggressives Behandlungskonzept etabliert werden. In diesem Zusammenhang erscheint die jüngst eingeführte Tissue Microarray- (TMA Technik als vielversprechender experimenteller Ansatz. Die TMA-Technik stellt ein "high throughput-tool" dar, das die zeit- und kostengünstige Untersuchung großer Patientenkollektive hinsichtlich des Vorliegens von Alterationen auf DNA/RNA- bzw. Proteinebene erlaubt. Dieses initial von Kononen beschriebene Analyseverfahren ermöglicht ein im Vergleich mit der konventionellen Immunhistochemie deutlich schnelleres und effizienteres Screening einer großen Zahl von Gewebeproben, wobei im Rahmen immunhistochemischer Ansätze der Nachweis einer im Vergleich von Tumor- und Normalgewebe differentiellen Proteinexpression im Vordergrund steht. Neben der durch die große Probenzahl ermöglichten statistischen Validierung der erhobenen Ergebnisse steht insbesondere auch die Detektion der Co-Expression solcher Proteine im Vordergrund, für die eine mögliche regulatorische Interaktion vermutet wird. Im Rahmen der vorliegenden Arbeit soll einerseits auf die durch die TMA-Technik eröffneten Möglichkeiten hinsichtlich der Identifizierung prognostisch relevanter biologischer Variablen, aber auch auf aus unserer Sicht diesbezüglich erkennbare Einschränkungen hingewiesen werden.

  5. PREFACE: E-MRS Fall Symposium K: Solution-Derived Electronic-Oxide Films, Nanostructures and Patterning, from Materials to Devices

    Science.gov (United States)

    Malic, Barbara; Musat, Viorica; Van Bael, Marlies; Schneller, Theodor

    2012-02-01

    The European Materials Research Society (EMRS) Fall Meeting 2011 Symposium K: Solution-Derived Electronic-Oxide Films, Nanostructures and Patterning, from Materials to Devices brought together the scientific community working in the field of solution-derived electronic-oxide thin films, patterned structures and related devices. The meeting took place on 19-23 September 2011 in Warsaw, Poland. The participants shared their results in 12 sessions and 2 poster sessions. There were 15 invited talks, 31 oral presentations and 28 poster contributions, 74 in total. The meeting provided an excellent opportunity for an overview and a forum for the interchange of information and expertise on the cutting-edge research, advanced technologies and applications in the field. The symposium addressed solution processing of different materials with specific functionalities, for example transparent conductive oxides which can be used in amorphous phase, and can therefore be processed at temperatures as low as 200°C, or thin film materials for solid oxide fuel cells, which require high processing temperatures to obtain the required properties. In addition to already established thin film processing, novel direct patterning methods were presented. The influence of processing on materials and functional properties of thin films and structures and integration issues were addressed. We would like to thank all the oral and poster contributors, and the session chair-persons, who devoted their time and energy to the success of this symposium. We are indebted to the Advisory Board for their advice. We would like to thank the European Materials Research Society for the support and organisation of the meeting. Barbara Malic Viorica Musat Marlies Van Bael Theodor Schneller January 2012

  6. Damage from light and antioxidative protective mechanisms in plants exposed to various stresses including traffic exhaust gases. Final report; Lichtschaeden und antioxidative Schutzeinrichtungen in Pflanzen bei Einwirkung von Stressfaktoren und Automobilabgasen. Schlussbericht

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Feierabend, J.

    1992-12-31

    In intact leaves the catalose enzyme is photinactivated and degraded. Similarly to the D1 protein of photosystem II (PSII) it therefore has a high turnover in a bright environment and must continually be resynthesised. Mildly oxidative conditions induce greater catalase activity. With growing stress (cold, heat, salt, osmotic stress, senescence) there is a gradual shift of the steady state equilibrium due to enhanced photodegradation and inhibition of repair mechanisms. A rapid drop`n catalase concentration and photoinhibition of PSII are therefore early indicators of first photooxidative damage. The stress caused by experimental, realistic, doses of automobile exhaust gases and ozone was not so severe as to induce photoinhibition of catalase or PSII but merely led to a slight increase in antioxidative enzymes. The concentrations and redox equilibria of antioxidatives was not significantly affected. Exposition to these air pollutants in combination with cold and light had a far stronger effect on light-sensitive cumber leaves in the recovery phase than without additional stressors. (orig.) [Deutsch] Das Enzym Katalase wird in intakten Blaettern photoinaktiviert und abgebaut. Daher weist es wie das D1-Protein des Photosystems II (PSII) im Licht einen schnellen Turnover auf und muss staendig durch Neusynthese ersetzt werden. Milde oxidative Bedingungen induzieren eine hoehere Katalaseaktivitaet. Unter staerkeren Stressbelastungen (Kaelte, Hitze, Salz, osmotischer Stress, Schwermetalle, Seneszenz) verschiebt sich durch verstaerkte Photodegradation oder Behinderung der Reparatur das Gleichgewicht des Turnovers, und ein schneller apparenter Katalaseverlust und die Photoinhibition von PSII sind fruehe Indikatoren beginnender photooxidativer Schaeden. Belastungen mit realistischen Dosen von Automobilabgasen und Ozon waren nicht so gravierend, dass sie die Photoinhibition von Katalase oder PSII ausloesten, sondern sie induzierten teils eine leichte Erhoehung antioxidativer

  7. MR imaging guidance and monitoring of focal thermotherapies. A review; Steuerung und Monitoring von fokalen Thermotherapien mit der Magnetresonanztomographie. Ein Ueberblick

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Mueller-Lisse, U.G. [Muenchen Univ. (Germany). Inst. fuer Radiologische Diagnostik am Klinikum Grosshadern]|[California Univ., San Francisco, CA (United States). Dept. of Radiology; Heuck, A.F. [Muenchen Univ. (Germany). Inst. fuer Radiologische Diagnostik am Klinikum Grosshadern

    1998-03-01

    -vivo-Modelluntersuchungen zur Abschaetzung der interstitiellen Temperatur- und Laesionsentwicklung waehrend Thermotherapien koennen bisher jedoch erst teilweise auf die Patientenbehandlung uebertragen werden. Die weitere Erprobung schnellerer MRT-Sequenzen und interventionsgeeigneter MR-Tomographen wird zeigen, inwiefern Behandlungs- und Steuerungsverfahren einander angepasst werden koennen. (orig.)

  8. Formation of vanadium carbide precipitations at the surface of alloys: Thermodynamics and kinetics aspects; Bildung von Vanadiumcarbid-Ausscheidungen auf Legierungsoberflaechen: Thermodynamische und kinetische Aspekte

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Schneider, A.; Uebing, C. [Max-Planck-Institut fuer Eisenforschung GmbH, Duesseldorf (Germany)

    1998-12-31

    The paper describes the formation of vanadium carbides on the surface layers of Fe-3%V-C(100) alloys. The phase diagram calculated for this alloyed material using the ThermoCalc program package reveals a co-existence of ferritic matrix and V{sub 3}C{sub 2} at temperatures of T{<=}650 C. This carbide is instable at elevated temperatures, leading to co-existence of ferrite and the cubic VC{sub 1-x}. Experimental analyses revealed the formation of a 2D VC compound in the top layers of the surface of Fe-3%V-C(100) alloys, induced by equilibrium segregation. The paper explains the usefulness of thermodynamic and kinetic calculations for interpretation of precipitation phenomena in steels. Mathematically derived and experimental results of analyses for the case of non-equilibrium segregation showed excellent agreement in the determination of carbide thickness (nanometer scale) and time dependence of segregation under fast cooling conditions. (orig./CB) [Deutsch] In der vorliegenden Arbeit wurde die Bildung von Vanadiumcarbiden auf Fe-3%V-C(100)-Legierungsoberflaechen beschrieben. Das anhand des ThermoCalc-Programmpakets fuer diese Legierungszusammensetzung berechnete Phasendiagramm zeigt bei niedrigen Temperaturen T{<=}650 C die Koexistenz von ferritischer Matrix und V{sub 3}C{sub 2}. Bei hoeheren Temperaturen ist dieses Carbid instabil und es liegt Koexistenz von Ferrit und dem kubischen VC{sub 1-x} vor. Die experimentellen Untersuchungen zeigen die Ausbildung einer zweidimensionalen VC-Oberflaechenverbindung auf Fe-3%V-C(100)-Legierungsoberflaechen durch Gleichgewichtssegregation. Diese Arbeit zeigt, dass thermodynamische und kinetische Rechnungen bei der Deutung von Ausscheidungsphaenomenen in Staehlen sinnvoll eingesetzt werden koennen. Bei der Nichtgleichgewichtssegregation wurde bezueglich Carbiddicke (im Nanometerbereich) und Zeitabhaengigkeit der Ausscheidung bei schneller Abkuehlung eine hervorragende Uebereinstimmung zwischen Simulation und Experiment gefunden

  9. Androgensubstitution beim Mann: Hypogonadismus im Alter

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Zitzmann M

    2001-01-01

    Full Text Available Der männliche Hypogonadismus ist ein Zustand des Testosteronmangels, der einer Substitutionstherapie bedarf. Eine allgemein akzeptierte Definition dieses Zustandes existiert jedoch nicht; auch kann bisher nicht endgültig beantwortet werden, wie stark das Krankheitsbild mit dem zunehmendem Alter assoziiert ist und wie es in seiner Ausprägung dadurch möglicherweise modifiziert wird. Allerdings werden, ungeachtet des Alters, Serumtestosteronspiegel unter 12 nmol/l mit Begleiterscheinungen des Androgenmangels als Indikation für eine Testosteronsubstitutionstherapie betrachtet; der Ausschluß eines Prostatakarzinoms stellt hierbei eine Vorbedingung dar. Das injizierbare Testosteronenanthat erzeugt Serumspiegel, die für 2-3 Wochen über dem unteren Grenzbereich liegen. Länger wirkende Ester, die Injektionsintervalle zwischen 6 und 12 Wochen ermöglichen, sind in klinischer Entwicklung (z. B. injizierbares Testosteronundecanoat. Diese Ester sind günstig für die Substitutionstherapie bei jüngeren Männern, für ältere Patienten sind jedoch kürzer wirkende Präparate sinnvoll, da sie im Falle des Auftretens von Kontraindikationen (Prostatakarzinome oder Nebenwirkungen (Polyzythämien schneller abgesetzt werden können. Daher sollten bei älteren Männern vorzugsweise orale oder transdermale Präparate angewandt werden. Besonders letztere zeichnen sich durch eine dem physiologischen Rhythmus ähnliche Pharmakokinetik aus. Zukünftige Studien werden zeigen, ob synthetische Androgene mit geringerem prostatotropem Effekt wie 7alpha-methyl-19-Nortestosteron (MENT einen Vorteil bei der Behandlung hypogonadaler Männer bieten.

  10. Automatically gated image-guided breath-hold IMRT is a fast, precise, and dosimetrically robust treatment for lung cancer patients

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Simeonova-Chergou, Anna; Jahnke, Anika; Siebenlist, Kerstin; Stieler, Florian; Mai, Sabine; Boda-Heggemann, Judit; Wenz, Frederik; Lohr, Frank; Jahnke, Lennart [University Medical Center Mannheim, University of Heidelberg, Department of Radiotherapy and Oncology, Mannheim (Germany)

    2016-03-15

    delivery precision for patients with small and larger lung tumors. (orig.) [German] Die Hochdosisstrahlentherapie des Bronchialkarzinoms ist eine Herausforderung. Bis zu 2 cm kann sich der Tumor in kraniokaudaler und anteroposteriorer Richtung bewegen - abhaengig vom Atemzyklus. Die Tumorverschiebung nimmt mit der Behandlungsdauer zu, was also die Behandlungsunsicherheit vermehrt. In der vorliegenden Studie wurde untersucht, ob die automatisch gesteuerte, Cone-Beam-Computertomographie(CBCT)-kontrollierte, intensitaetsmodulierte stereotaktische Strahlentherapie (''stereotactic body radiation therapy'', SBRT) im Atemanhalt nach schneller tiefer Inspiration (''deep inspiration breath hold'', DIBH) ohne Ausgleichskoerper (''flattening filter free'', FFF) und die mit einem Ausgleichskoerper applizierte normal fraktionierte intensitaetsmodulierte DIBH-Strahlentherapie/volumenmodulierte Strahlentherapie mit Rotation des Bestrahlungsarms (''volumetric-modulated arc therapy'', VMAT) der Lunge mit ausreichender Genauigkeit innerhalb eines klinisch akzeptablen Zeitfensters angewendet werden koennen. Die Bestrahlungsplaene von 34 Patienten mit Bronchialkarzinomen wurden ausgewertet. Von diesen Patienten erhielten 17 eine computergesteuerte SBRT mit schneller DIBH und einer Dosis von 60 Gy (5 Fraktionen a 12 Gy oder 12 Fraktionen a 5 Gy) in FFF-VMAT-Technik (FFF-SBRT) jeden 2. Tag, und 17 erhielten eine konventionelle VMAT mit Ausgleichskoerper (conv-VMAT) und taeglichen Teildosen von 2 Gy (kumulative Dosis: 50-70 Gy). Fuer Plaene mit FFF-SBRT waren mehr Ueberwachungseinheiten (''monitor units'', MU) erforderlich als fuer Plaene mit con-VMAT (2956,6 ± 885,3 MU fuer 12 Gy/Fraktion bzw. 1148,7 ± 289,2 MU fuer 5 Gy/Fraktion vs. 608,4 ± 157,5 MU fuer 2 Gy/Fraktion). Die Dauer der Gesamttherapie und der Beam-on-Zeit (''Strahl ein'') waren fuer FFF-SBRT-Plaene kuerzer

  11. Slovak brown coals as a feedstock for the active coke production

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sobolewski Aleksander

    1998-09-01

    Full Text Available V èlánku sa venuje pozornos možnostiam výroby aktívneho koksu zo slovenského hnedého uhlia Bane Cíge¾. Príprava aktívneho koksu bola uskutoènená v laboratórnych podmienkach a v poloprevádzke. Surové uhlie sa podrobilo vysokoteplotnej pyrolýze v retorte s pevným roštom, v klasickej rotaènej peci, ako aj vo fluidnom reaktore. Následne boli urèované adsorpèné charakteristiky získaného aktívneho koksu, ktoré sa porovnávali s charakteristikami komerène vyrábaného koksu. V príspevku sa taktiež diskutujú možnosti aplikácie pripraveného aktívneho koksu v technológiách ochrany životného prostredia.

  12. Penyisihan Hidrokarbon pada Tanah Tercemar Crude Oil di Pertambangan Minyak Bumi Rakyat Wonocolo, Bojonegoro dengan Metode Co-composting Aerobik

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rizkiy Amaliyah Barakwan

    2017-03-01

    Full Text Available Metode co-composting dapat diaplikasikan sebagai teknik bioremediasi tanah tercemar crude oil dari pertambangan rakyat Wonocolo, Bojonegoro. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menentukan kemampuan metode co-composting dalam menyisihkan hidrokarbon pada tanah tercemar crude oil dengan penambahan sampah organik secara aerobik. Proses co-composting aerobik berlangsung selama 60 hari dalam skala laboratorium. Pada penelitian ini ada dua variasi yaitu komposisi tanah tercemar dan sampah organik yang ditambahkan (100/0, 50/50; 75/25; 87,5/12,5; dan 0/100 dan jenis sampah (sampah kebun, rumen sapi, dan campuran keduanya. Hasil analisis menggunakan soxhlet dan gravimetri menunjukkan kadar hidrokarbon dalam tanah tercemar crude oil mencapai 6,05%. Co-composting berjalan dengan baik ditandai dengan optimalnya faktor-faktor pendukungnya yaitu suhu, pH, kadar air, dan rasio C/N. Hal ini dapat menunjang aktivitas bakteri terlihat dari terjadinya peningkatan populasi bakteri selama proses co-composting berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan penyisihan kadar hidrokarbon terbaik ditemukan pada reaktor S/R50 (T/S: 50/50 dengan jenis sampah campuran sampah kebun dan rumen sapi. Persentase penurunan hidrokarbonnya adalah sebesar 33,32%.

  13. Anaerobic digestion of sugar beet pulp in Russia

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Irina Miroshnichenko

    2016-11-01

    Full Text Available In der russischen Landwirtschaft entstehen jährlich ca. 250 Mio. t Trockenmasse an organischen Abfällen, die derzeit nicht sinnvoll verwertet werden. In manchen Regionen gehören auch Zuckerrübenschnitzel zu diesen Abfallstoffen. Durch eine Nutzung dieser Reststoffe zur Biogasproduktion könnten negative Umweltwirkungen reduziert und ein wichtiger Beitrag zum Erreichen der russischen Klimaschutzziele geleistet werden. Daher soll in diesem Projekt untersucht werden, ob eine Substitution von Maissilage durch Zuckerrübenschnitzel möglich ist. Dazu wurde ein einfacher Batch-Test aufgebaut und anschließend der Abbau der Inhaltsstoffe nach Weender, der Biogasertrag sowie die Abbaukinetik bestimmt. Der Gesamtabbau der Inhaltstoffe nach Weender betrug circa 40 % bei beiden Substraten. Jedoch wurde bei den Zuckerrübenschnitzeln ein 35,5 % geringerer Biogasertrag ermittelt, da es zu einem Abfall des pH-Wertes im Reaktor kam und damit zu einer Hemmung der Biogasbildung. Eine Substitution von Maissilage ist möglich, jedoch sollten Zuckerrübenschnitzel nur in Kofermentation mit anderen Substraten eingesetzt werden.

  14. PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH ORGANIK ZERO WASTE DI KABUPATEN TEGAL (STUDI KASUS DI TPA PENUJAH KABUPATEN TEGAL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Abdul Muiz Liddinillah Sanfiyan

    2017-12-01

    Full Text Available Permasalahan sistem pengolahan sampah yang ada di Kabupaten Tegal adalah masih menggunakan sistem Open Dumping. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS Kabupaten Tegal pada tahun 2016, komposisi sampah organik adalah yang terbesar kedua setelah sampah plastik dan sangat berpotensi mengalami penambahan setiap tahunnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat perancangan pembangkit listrik tenaga sampah organik zero waste di Kabupaten Tegal, dengan studi kasus di Tempat Pembuangan Akhir (TPA sampah Penujah. Objek dalam penelitian ini adalah sistem pengolahan sampah organik yang ada di Kabupaten Tegal dengan menggunakan sistem pengolahan sampah zero waste. Sistem pengolahan sampah organik zero waste adalah sistem pengolahan sampah yang tidak menghasilkan sampah kembali. Jadi, diharapkan jumlah sampah organik akan berkurang secara bertahap. Sampah organik dapat dirubah menjadi biogas melalui proses fermentasi yang dibantu oleh bakteri secara anaerob di dalam reaktor biodigester. Biogas tersebut ditampung di dalam tempat penampungan untuk kemudian didistribusikan ke dalam genset biogas sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Sisa pengolahan biogas dapat dirubah menjadi pupuk cair dan pupuk kompos yang bernilai ekonomis.

  15. Technical Application of Nuclear Fission

    Science.gov (United States)

    Denschlag, J. O.

    The chapter is devoted to the practical application of the fission process, mainly in nuclear reactors. After a historical discussion covering the natural reactors at Oklo and the first attempts to build artificial reactors, the fundamental principles of chain reactions are discussed. In this context chain reactions with fast and thermal neutrons are covered as well as the process of neutron moderation. Criticality concepts (fission factor η, criticality factor k) are discussed as well as reactor kinetics and the role of delayed neutrons. Examples of specific nuclear reactor types are presented briefly: research reactors (TRIGA and ILL High Flux Reactor), and some reactor types used to drive nuclear power stations (pressurized water reactor [PWR], boiling water reactor [BWR], Reaktor Bolshoi Moshchnosti Kanalny [RBMK], fast breeder reactor [FBR]). The new concept of the accelerator-driven systems (ADS) is presented. The principle of fission weapons is outlined. Finally, the nuclear fuel cycle is briefly covered from mining, chemical isolation of the fuel and preparation of the fuel elements to reprocessing the spent fuel and conditioning for deposit in a final repository.

  16. KONVERSI KATALITIK MINYAK SAWIT UNTUK MENGHASILKAN BIOFUEL MENGGUNAKAN SILIKA ALUMINA DAN HZSM-5 SINTESIS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nurjannah Nurjannah

    2012-02-01

    Full Text Available Terbatasnya sumber energi fosil menyebabkan perlunya pengembangan energi terbarukan yang berasal dari alam dan dapat diperbaharui. Penggunaan bahan bakar minyak bumi, baik dari penggunaan berupa alat transportasi maupun dari penggunaan oleh industri sangat mencemari lingkungan karena tingkat polusi yang ditimbulkan sangat tinggi sehingga perlu mencari bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar gasoline, solar, dan kerosene dari minyak nabati. Penelitian dilakukan dalam dua tahapan yaitu sintesa katalis dan proses katalitik cracking. Silika alumina disintesa menggunakan metode Latourette dan HZSM-5 disintesa menggunakan metode Plank. Hasil sintesa dikarakterisasi dengan Penyerapan Spektroskopi Atomis (AAS menunjukkan bahwa silika alumina dan HZSM-5 mempunyai Si/Al 198 dan 243. Luas permukaan  silika alumina dan HZSM-5 diperoleh dari analisa Brunauer Emmet Teller (BET yaitu 149,91-213,35 m2.g-1 dan ukuran pori rata-rata adalah 13oA. Perengkahan katalitik dilakukan dalam suatu mikroreaktor fixed bed pada temperatur 350-500°C dan laju alir gas N2 100-160 ml.min-1 selama 120 min. Hasil perengkahan dianalisa dengan metode gas kromatografi. Hasil yang diperoleh untuk katalis HZSM-5 fraksi gasoline dengan yield tertinggi 28,87%, kerosene 16,70%, dan diesel 12,20%  pada suhu reaktor 4500C dan laju gas N2 100 ml/menit.

  17. Pengaruh Aerasi dan Sumber Nutrien terhadap Kemampuan Alga Filum Chlorophyta dalam Menyerap Karbon (Carbon Sink untuk Mengurangi Emisi CO2 di Kawasan Perkotaan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lancur Setoaji

    2013-09-01

    Full Text Available Penelitian terkait mitigasi pemanasan global, khususnya dalam penyerapan karbon dioksida (CO2, menjadi fokus utama di kalangan ilmuwan dunia. Secara alamiah, karbon dioksida dapat diserap oleh tumbuhan hijau, laut, karbonasi batuan kapur, dan alga. Pigmen hijau dalam alga atau klorofil dapat menyerap karbon dioksida dalam proses fotosintesis. Alga memiliki pertumbuhan yang sangat cepat sehingga cocok digunakan sebagai carbon sink. Penelitian terkait carbon sink ini bertujuan untuk menentukan kemampuan rata-rata serapan CO2 oleh alga di kawasan perkotaan dan menentukan pengaruh aerasi dan variasi sumber N terhadap pertumbuhan dan perkembangan alga. Penelitian ini dilakukan dalam skala laboratorium menggunakan reaktor dengan proses batch. Sampel alga yang digunakan didapatkan dari hasil pengembangbiakan yang bersumber dari perairan di kawasan perkotaan. Penelitian ini menggunakan dua variabel uji, yaitu aerasi dan sumber nutrien. Jumlah karbon dioksida yang diserap didapatkan dari perbandingan stoikiometri pada reaksi fotosintesis.  Berdasarkan perbandingan stoikiometri tersebut diketahui bahwa 1 gram sel alga yang terbentuk sebanding dengan 1,92 gram CO2 yang diserap. Dari hasil penelitian, alga dengan penambahan pupuk urea dapat menyerap 4,87 mg CO2/hari dalam kondisi tanpa aerasi atau 3,84 mg CO2/hari dengan aerasi. Sedangkan alga dengan penambahan pupuk NPK dapat menyerap 3,61 mg CO2/hari dalam kondisi tanpa aerasi atau 3,01 mg CO2/hari dengan aerasi.

  18. The evolution of the break preclusion concept for nuclear power plants in Germany

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Schulz, H. [Gesellschaft fuer Anlagen- und Reaktorsicherheit, Koeln (Germany)

    1997-04-01

    In the updating of the Guidelines for PWR`s of the {open_quotes}Reaktor-Sicherheitskommission{close_quotes} (RSK) in 1981 the requirements on the design have been changed with respect to the postulated leaks and breaks in the primary pressure boundary. The major change was a revision in the requirements for pipe whip protection. As a logical consequence of the {open_quotes}concept of basic safety{close_quotes} a guillotine type break or any other break type resulting in a large opening is not postulated any longer for the calculation of reaction and jet forces. As an upper limit for a leak an area of 0, 1 A (A = open cross section of the pipe) is postulated. This decision was based on a general assessment of the present PWR system design in Germany. Since then a number of piping systems have been requalified in the older nuclear power plants to comply with the break preclusion concept. Also a number of extensions of the concept have been developed to cover also leak-assumptions for branch pipes. Furthermore due considerations have been given to other aspects which could contribute to a leak development in the primary circuit, like vessel penetrations, manhole covers, flanges, etc. Now the break preclusion concept originally applied to the main piping has been developed into an integrated concept for the whole pressure boundary within the containment and will be applied also in the periodic safety review of present nuclear power plants.

  19. Investigations of coal ignition in a short-range flame burner using optical measuring systems; Untersuchungen zur Kohlezuendung am Flachflammenbrenner unter Verwendung optischer Messtechnik

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Hackert, G.; Kremer, H.; Wirtz, S. [Bochum Univ. (Germany). Lehrstuhl fuer Energieanlagentechnik

    1999-09-01

    The short-range flame burner and the KOALA reactor of DMT are experimental facilities for realistic simulation of coal conversion processes at high temperatures and pressures in atmospheric conditions. The TOSCA system enable measurements of temperatures, sizes, shapes and velocities of the fuel particles, which serve as a basis for a three-dimensional simulation model of coal combustion. In the future, further parameter studies will deepen the present knowledge of coal dust combustion under pressure and enable optimisation of the numerical models for simulation of industrial-scale systems for coal dust combustion under pressure. [Deutsch] Mit dem Flachflammenbrenner und dem KOALA-Reaktor der DMT stehen Versuchsapparaturen zur Verfuegung, mit deren Hilfe die Kohleumwandlungsprozesse bei hohen Temperaturen unter Druck und unter atmosphaerischen Bedingungen realistisch wiedergegeben werden. Das TOSCA-System erlaubt dabei die Bestimmung von Temperaturen, Groessen, Formen und Geschwindigkeiten der Brennstoffpartikel. Diese Daten liefern die Grundlage fuer die Erstellung eines dreidimensionalen Simulationsmodells zur Modellierung der Kohleverbrennung. In Zukunft werden weitere Parameterstudien das Verstaendnis der Kohlenstaubdruckverbrennung vertiefen und ein Optimierung der numerischen Modelle ermoeglichen, so dass die Simulation grosstechnischer Kohlenstaubdruckverbrennungsanlagen realisiert werden kann. (orig.)

  20. Proizvodnja sintetičkog granuliranog amonijeva sulfata

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nenad Zečević

    2016-01-01

    Full Text Available Prema izvornoj izvedbi postrojenje za proizvodnju granuliranih kompleksnih mineralnih gnojiva NPK i MAP, koje se nalazi u sastavu proizvodnih postrojenja Petrokemije d. d., nije bilo predviđeno za proizvodnju sintetičkog granuliranog amonijeva sulfata. Prenamjenom postrojenja u dijelu sekcije cijevnog reaktora i rotirajućeg bubnja granulatora uz uporabu sumporne kiseline i tekućeg amonijaka omogućena je proizvodnja sintetičkog granuliranog amonijeva sulfata. S obzirom na izniman egzoterman i korozivan potencijal reakcije neutralizacije amonijaka i sumporne kiseline, vlastitim znanjem razvijen je posebno izveden cijevni reaktor koji omogućava siguran i kontinuirani rad s kapacitetom proizvodnje 20 t h−1. Uz primjenu cijevnog reaktora razvijen je postupak uporabe i doziranja posebnog aditiva koji omogućava postupak granulacije, s obzirom da bez toga amonijev sulfat nije moguće prevesti u granulirani oblik. Dobivene kemijsko-fizikalne značajke amonijeva sulfata iznimno su zadovoljavajuće u usporedbi s drugim kompleksnim mineralnim gnojivima na bazi dušika. Granulirani amonijev sulfat dobiven inovativnim postupkom proizvodnje svrstan je kao novi proizvod u komercijalni program kompleksnih mineralnih gnojiva Petrokemije d. d., s posebnim naglaskom na mogućnost njegove uporabe u postupcima miješanja s drugim jednostavnim mineralnim gnojivima.

  1. Hydrogen production by absorption-assisted steam gasification of biomass; Wasserstoffherstellung durch absorptionsunterstuetzte Wasserdampf-Vergasung von Biomasse

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Marquard-Moellenstedt, T.; Pichler, P.; Specht, M. [Zentrum fuer Sonnenenergie- und Wasserstoff-Forschung Baden-Wuerttemberg (ZSW), Stuttgart (Germany); Michel, M.; Berger, R.; Hein, K.R.G. [Inst. fuer Verfahrenstechnik und Dampfkesselwesen, Univ. Stuttgart (Germany); Hoeftberger, E.; Rauch, R.; Hofbauer, H. [Technische Univ. Wien, Inst. fuer Verfahrentechnik und technische Biowissenschaften, Wien (Austria)

    2004-07-01

    A wood gasification process is presented for continuous production of a raw gas with a hydrogen content of nearly 70 mol-%. For gas production from biomass - e.g. for fuel synthesis, gas supply to the public grid, or electric power generation -, gasification processes are suited which produce high-quality product gas by means of internal gas conditioning. One of these, the AER process (Absorption Enhanced Reforming), is presented here. In this process, CO2 is separated inside the reactor by means of an absorption agent. The resulting product gas has a high concentration of hydrogen and low concentrations of CO and CO2. CO2 absorption shifts the reaction equilibria in the direction of the desired products and also provides heat for the endothermal reactions. (orig.) [German] In diesem Beitrag wird ein Holzvergasungsprozess vorgestellt, mit dem durch Primaermassnahmen die kontinuierliche Produktion eines Rohgases mit einem Wasserstoffanteil von nahezu 70 mol-% gelang. Fuer die Gaserzeugung aus Biomasse zur Kraftstoffsynthese, Gaseinspeisung oder Verstromung eignen sich Vergasungsverfahren, die durch interne Gaskonditionierung ein Produktgas hoher Qualitaet liefern. Ein Ansatz hierfuer ist der AER-Prozess (Absorption Enhanced Reforming). Bei diesem wird das waehrend der Wasserdampfvergasung bzw. Dampfreformierung entstehende CO{sub 2} durch ein Absorptionsmittel im Reaktor abgetrennt, so dass ein Produktgas mit hohem Wasserstoffgehalt und geringen Anteilen an CO und CO{sub 2} resultiert. Durch die CO{sub 2}-Absorption werden nicht nur die Reaktionsgleichgewichte in Richtung der gewuenschten Produkte verschoben, sondern auch die Waerme fuer die endothermen Reaktionen aufgebracht. (orig.)

  2. Penurunan Kandungan Zat Kapur dalam Air Tanah dengan Menggunakan Media Zeolit Alam dan Karbon Aktif Menjadi Air Bersih

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gianina Qurrata Dinora

    2013-09-01

    Full Text Available Salah satu syarat kimia yang harus dipenuhi dalam air bersih adalah kesadahan. Salah satu penyebab utama terjadinya kesadahan adalah kandungan Ca2+ (kesadahan kalsium atau biasanya disebut air kapur. Selain kandungan air kapur yang tinggi, penyebab air tanah tidak dapat langsung digunakan adalah kadungan besi dan mangan yang tinggi pula. Untuk itu, dibutuhkan unit filter skala rumah tangga yang dapat menjadi pengolahan alternatif untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Penelitian ini  bertujuan untuk mendapatkan komposisi media filter yang efektif dan effisien untuk penyisihan kesadahan kalsium, Fe, dan Mn dalam air tanah dan mendapatkan waktu breakthrough. Media filter yang digunakan pada penelitian ini adalah media zeolit alam dan karbon aktif disusun secara stratifikasi dengan perbandingan ketinggian pada masing-masing reaktor filter. Media filter tersebut akan dialiri dengan tiga variasi konsentrasi kesdahan kalsium. Hasil dari penelitian ini, didapatkan komposisi media yang paling efektif dalam menurunkan kandungan kesadahan kalsium adalah komposisi III dengan perbandingan ketinggian media zeolit alam dan karbon aktif sebesar 30 cm : 60 cm. Pada variasi konsentrasi 1 mampu melakukan penyisihan sebesar 96,52%, konsentrasi 2 mampu melakukan penyisihan sampai 94,67%, dan konsentrasi 3 mampu melakukan penyisihan sebesar 90,22%

  3. Validation of CESAR Thermal-hydraulic Module of ASTEC V1.2 Code on BETHSY Experiments

    Science.gov (United States)

    Tregoures, Nicolas; Bandini, Giacomino; Foucher, Laurent; Fleurot, Joëlle; Meloni, Paride

    The ASTEC V1 system code is being jointly developed by the French Institut de Radioprotection et Sûreté Nucléaire (IRSN) and the German Gesellschaft für Anlagen und ReaktorSicherheit (GRS) to address severe accident sequences in a nuclear power plant. Thermal-hydraulics in primary and secondary system is addressed by the CESAR module. The aim of this paper is to present the validation of the CESAR module, from the ASTEC V1.2 version, on the basis of well instrumented and qualified integral experiments carried out in the BETHSY facility (CEA, France), which simulates a French 900 MWe PWR reactor. Three tests have been thoroughly investigated with CESAR: the loss of coolant 9.1b test (OECD ISP N° 27), the loss of feedwater 5.2e test, and the multiple steam generator tube rupture 4.3b test. In the present paper, the results of the code for the three analyzed tests are presented in comparison with the experimental data. The thermal-hydraulic behavior of the BETHSY facility during the transient phase is well reproduced by CESAR: the occurrence of major events and the time evolution of main thermal-hydraulic parameters of both primary and secondary circuits are well predicted.

  4. PENGELOLAAN LIMBAH PETERNAKAN SAPI UNTUK MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI PADA KELOMPOK TERNAK PATRA SUTERA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Danang Dwi Saputro

    2014-02-01

    Full Text Available Kelompok ternak Patra Sutera di Desa Ledok Kecamatan Sambong Kabupaten Blora yang berdiri pada tahun 2013 telah mempunyai sapi 8 ekor yang berada di kandang komunal yang dikelola oleh 6 anggota kelompok. Dalam satu hari setiap ekor sapi dapat menghasilkan limbah padat sebanyak 20-30 kg dan limbah cair sebanyak 100-150 liter yang selama ini belum dikelola dengan baik. Limbah dari kegiatan ternak belum terolah dengan baik dan dibuang ke lingkungan sehingga menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat sekitar kandang. Salah satu cara untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan memberikan pelatihan keterampilan atau pendampingan bagaimanakah teknik pembuatan pupuk organic dan reaktor biogas sederhana, mengoperasikan, serta memanfaatkan gas yang dihasilkan. Dalam kegiatan ini akan diberikan pelatihan keterampilan bagaimana cara mengolah limbah ternah untuk dijadikan pupuk dan pestisida organik,serta pengelolaan biodigester. Dari kegiatan ini Anggota kelompok ternak Patra Sutera mendapat pengetahuan dan mengolah limbah kotoran ternak (padat dan cair yang keliar dari biodigester menjadi pupuk yang lebih bermanfaat.

  5. Selective separation of anaerobic sludge by means of hydrocyclones; Selektive Abtrennung von Anaerobschlamm mit Hydrozyklonen

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Mueller, M.; Bohnet, M. [Technische Univ. Braunschweig (Germany). Inst. fuer Verfahrens- und Kerntechnik

    1999-07-01

    In anaerobic waste water cleaning, biomass concentration constitutes a central problem because of long generating times and low biomass sinking speeds. In order to decouple hydraulic retention time from biomass retention time, biomass must be fed back into the reactor. The fact that separation by means of common gravitational separators such as sedimentation tanks and baffle plate thickeners is unspecific results in the enrichment in the reactor of inorganic solids, whose presence is corollary to the anaerobic sludge process. Hence, industry has a great interest in separating anaerobic sludge into organic and inorganic constituents as a means of safeguarding high operating stability and degradation efficiency of anaerobic reactors. Hydrocyclones, permitting selective separation, are an obvious approach. (orig.) [German] Bei der anaeroben Abwasserreinigung ist die Biomassekonzentrierung aufgrund langer Generationszeiten und geringer Sinkgeschwindigkeiten der Biomasse ein zentrales Problem. Zur Entkopplung der hydraulischen Verweilzeit von der Verweilzeit der Biomasse ist eine Rueckfuehrung der Biomasse erforderlich. Da bisher eingesetzte Schwerkraftabscheider, wie Absetzbecken und Lamellenklaerer, unspezifisch trennen, kommt es zu einer Anreicherung anorganischer Feststoffe im Reaktor, die sich prozessbedingt im Anaerobschlamm befinden. So hat die Industrie ein grosses Interesse an einer Auftrennung des Anaerobschlamms in organische und anorganische Bestandteile, um eine hohe Betriebsstabilitaet und Abbauleistung der Anaerobreaktoren zu gewaehrleisten. Hierzu bieten sich Hydrozyklone an, weil mit ihnen eine selektive Trennung moeglich ist. (orig.)

  6. PEMBUATAN KALSIUM KARBONAT DARI BITTERN DAN GAS KARBON DIOKSIDA SECARA KONTINYU

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Soemargono Soemargono

    2012-01-01

    Full Text Available Kalsium karbonat  yang  digunakan  dalam  industri- industri cat, karet, dan  kertas  harus  mempunyai  mutu yang  tinggi, terutama  kemurnian  dan kehalusannya.Untuk itu, Indonesia masih  mendatangkan  kalsium  karbonat murni dari luar negeri dalam jumlah yang cukup besar. Bittern merupakan bahan buangan industri garam yang disebut juga air tua, mengandung senyawa kalsium. Karbon dioksida biasanya berasal dari hasil pembakaran yang masuk ke udara. Kandungannya di udara kecil, tetapi berpotensi sebagai pencemar. Dengan mereaksikan kalsium yang terkandung dalam bittern dengan gas CO2 akan terbentuk CaCO3 dalam suasana basa. Pembentukan kalsium karbonat dilakukan dengan proses kontinyu dalam reaktor kolom bersekat miring. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pengendapan magnesium dengan larutan ammonia menyebabkan kandungan kalsium ikut terdegradasi. Hasil terbaik yang diperoleh dicapai pada kondisi pH awal, kecepatan alir gas CO2, kecepatan alir cairan, dan suhu masing-masing pada 8,7; 2265 mL/menit; 10 mL/menit; dan 303 K, dengan konversi sebesar 38,40%. Produk berupa CaCO3, yang diperoleh mempunyai kemurnian sebesar 21,34%.

  7. Fluidized-bed gasification of biomass: Conversion of fine carabon particles in the freeboard; Biomassevergasung in der Wirbelschicht: Umsatz von feinen Kohlenstoffpartikeln im Freeboard

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Miccio, F. [Ist. Ricerche sulla Combustione-CNR, Napoli (Italy); Moersch, O.; Spliethoff, H.; Hein, K.R.G. [Stuttgart Univ. (Germany). Inst. fuer Verfahrenstechnik und Dampfkesselwesen

    1998-09-01

    The conversion of carbon particles in gasification processes was investigated in a fluidized-bed reactor of the Institute of Chemical Engineering and Steam Boiler Technology of Stuttgart University. This reactor is heated electrically to process temperature, and freeboard coal particles can be sampled using an isokinetic probe. The fuel used in the experiments consisted of beech wood chips. The temperature and air rating, i.e. the main parameters of the process, were varied in order to investigate their influence on product gas quality and carbon conversion. The conversion rate is influenced to a significant extent by grain disintegration and discharge of carbon particles. In gasification conditions, a further conversion process takes place in the freeboard. (orig.) [Deutsch] In dieser Arbeit wird die Umsetzung von Kohlenstoffpartikeln unter Vergasungsbedingungen untersucht. Die Versuche wurden an einem Wirbelschichtreaktor des Instituts fuer Verfahrenstechnik und Dampfkesselwesen der Universitaet Stuttgart durchgefuehrt. Dieser Reaktor wird elektrisch auf Prozesstemperatur beheizt. Mit Hilfe einer isokinetischen Sonde koennen Proben von Kohlenstoffpartikeln im Freeboard genommen werden. Als Brennstoff wurden zerkleinerte Buchenholz-Hackschnitzel eingesetzt. Variiert wurden als Hauptparameter des Prozesses Temperatur und Luftzahl. Untersucht wurde der Einfluss dieser Parameter auf die Qualitaet des Produktgases und die Umsetzung des Kohlenstoffes. Kornzersetzungs- und Austragsvorgaenge von Kohlenstoffpartikeln spielen eine wichtige Rolle fuer den Kohlenstoffumsatz. Unter Vergasungsbedingungen findet im Freeboard eine weitere Umsetzung der Partikel statt. (orig.)

  8. Epidemiology of Japanese–B– encephalitis infection in pigs in Riau and North Sumatera Provinces

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Indrawati Sendow

    2003-03-01

    Full Text Available Epidemiology study on Japanese-B-Encephalitis (JE was conducted in Riau and North Sumatera Provinces. A total of 190 pig sera from Riau Province and 164 pig sera from North Sumatera were tested using competitive ELISA (C-ELISA to detect antibodies against JE virus. Insect collection was also conducted using several methods near pig farms in those provinces and identified into species to gain more information on its role to distribute JE infection. Serological results indicated that 70% pig in Sumatera and 94% pig in Riau had antibodies against JE virus. The highest prevalence of reaktor was detected in pig of more than 4 months age in both Provinces. The results of insect collection showed that Culex tritaeniorchynchus and Culex quinquefasciatus were the most dominant species in both provinces. Based on serological testing, indicated that JE virus infected pig in Sumatera and Riau Provinces, and higher reactor was obtained in older pig. Culex tritaeniorchynchus and Culex quinquefasciatus were the dominant insect species in both provinces, hence those species had a possibility to play an important role of JE transmission.

  9. HIDRORENGKAH METIL ESTER ASAM LEMAK (MEPO MENGGUNAKAN ZEOLIT ALAM TERAKTIVASI HYDROCRACKING OF FATTY ACID METIL ESTER (FAME USING ACTIVATED NATURAL ZEOLITE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lina Mahardiani

    2011-11-01

    Full Text Available Dalam upaya untuk menghasilkan rantai pendek hidrokarbon yang berasal dari minyak sawit, telah dilakukan hidrorengkah metil ester asam lemak (MEPO menggunakan katalis nikel yang diembankan pada zeolit alam aktif (NZA. Zeolit alam (NZ perlakuan asam dilanjutkan dengan kalsinasi selama 1 jam pada suhu 500 oC diperoleh katalis NZA. Impregnasi Ni menggunakan prekusor Ni(NO32.6H2O dilakukan dengan memvariasikan kandungan Ni sebesar 2,5 dan 8% dari berat NZA yang menghasilkan katalis Ni/NZA2, Ni/NZA5 dan Ni/NZA8. Hidrorengkah metil ester asam lemak dilakukan pada reaktor fixed-bed. Kondisi reaksi meliputi waktu retensi 30 menit, laju alir gas hidrogen 20 ml/min dan suhu reaksi 400, 450 dan 500 oC. Produk cair hasil reaksi hidrorengkah dianalisis menggunakan kromatografi gas (GC. Dari proses uji aktivitas katalis didapatkan persentase produk optimum pada jenis katalis Ni/NZA8, yaitu fraksi bensin 29,85% dan fraksi solar 18,03% pada temperatur 500 oC.

  10. Karakterisasi Proses Gasifikasi Biomassa Tempurung Kelapa Sistem Downdraft Kontinyu dengan Variasi Perbandingan Udara-Bahan Bakar (AFR dan Ukuran Biomassa

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lailun Najib

    2012-09-01

    Full Text Available Biomassa tempurung kelapa adalah salah satu bahan baku energi alternatif dengan jumlah melimpah. Pemakaian tempurung kelapa dapat meningkatkan nilai guna material yang sudah menjadi limbah atau produk samping. Penelitian dilakukan dengan menggunakan reaktor gasifikasi downdraft di Research Centre ITS, dimulai dengan melakukan pengujian terhadap propertis tempurung kelapa secara proximate dan ultimate. Kemudian dilanjutkan proses gasifikasi dengan pasokan biomassa secara kontinyu setiap 10 menit sebesar 0,45 kg, 0,48 kg, 0,5 kg dan 0,52 kg selama 120 menit dengan ukuran biomassa (0,8-12,6 cm² dan (12,7-50,3 cm². Penelitian dilakukan dengan 4 variasi kecepatan suplai udara sebesar 3,57 m/s, 4,37 m/s, 5,05 m/s dan 5,64 m/s dengan pengaturan dimmer pada blower. Hasil penelitian didapatkan nilai kalor bawah, komposisi syn-gas dan nyala api terbaik pada AFR 0,88 dan ukuran tempurung kelapa (0,8-12,6 cm². Besarnya nilai kalor bawah adalah 4718,33 kJ/mᶟ, komposisi syn-gas 39,273% dari volume total serta nyala api yang dihasilkan berwarna biru. Sedangkan efisiensi gasifikasi terbaik terjadi pada AFR 1,17 untuk ukuran tempurung kelapa (0,8-12,6 cm²  sebesar 52,030 %.

  11. Radioactivity of spent TRIGA fuel

    Science.gov (United States)

    Usang, M. D.; Nabil, A. R. A.; Alfred, S. L.; Hamzah, N. S.; Abi, M. J. B.; Rawi, M. Z. M.; Abu, M. P.

    2015-04-01

    Some of the oldest TRIGA fuel in the Malaysian Reaktor TRIGA PUSPATI (RTP) is approaching the limit of its end of life with burn-up of around 20%. Hence it is prudent for us to start planning on the replacement of the fuel in the reactor and other derivative activities associated with it. In this regard, we need to understand all of the risk associated with such operation and one of them is to predict the radioactivity of the fuel, so as to estimate the safety of our working conditions. The radioactivity of several fuels are measured and compared with simulation results to confirm the burnup levels of the selected fuels. The radioactivity measurement are conducted inside the water tank to reduce the risk of exposure and in this case the detector wrapped in plastics are lowered under water. In nuclear power plant, the general practice was to continuously burn the fuel. In research reactor, most operations are based on the immediate needs of the reactor and our RTP for example operate periodically. By integrating the burnup contribution for each core configuration, we simplify the simulation of burn up for each core configuration. Our results for two (2) fuel however indicates that the dose from simulation underestimate the actual dose from our measurements. Several postulates are investigated but the underlying reason remain inconclusive.

  12. Design of sample carrier for neutron irradiation facility at TRIGA MARK II nuclear reactor

    Science.gov (United States)

    Abdullah, Y.; Hamid, N. A.; Mansor, M. A.; Ahmad, M. H. A. R. M.; Yusof, M. R.; Yazid, H.; Mohamed, A. A.

    2013-06-01

    The objective of this work is to design a sample carrier for neutron irradiation experiment at beam ports of research nuclear reactor, the Reaktor TRIGA PUSPATI (RTP). The sample carrier was designed so that irradiation experiment can be performed safely by researchers. This development will resolve the transferring of sample issues faced by the researchers at the facility when performing neutron irradiation studies. The function of sample carrier is to ensure the sample for the irradiation process can be transferred into and out from the beam port of the reactor safely and effectively. The design model used was House of Quality Method (HOQ) which is usually used for developing specifications for product and develop numerical target to work towards and determining how well we can meet up to the needs. The chosen sample carrier (product) consists of cylindrical casing shape with hydraulic cylinders transportation method. The sample placing can be done manually, locomotion was by wheel while shielding used was made of boron materials. The sample carrier design can shield thermal neutron during irradiation of sample so that only low fluencies fast neutron irradiates the sample.

  13. Situation and outlook of geoscientific hydrocarbon research; Stand und Ausblick der geowissenschaftlichen Kohlenwasserstoff-Forschung

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Wellmer, F.W.; Hollerbach, A.; Kockel, F.; Hinz, K. [Bundesanstalt fuer Geowissenschaften und Rohstoffe, Hannover (Germany)

    1998-04-01

    juengster Entwicklungen mit schneller praktischer Umsetzung sind die Beckenmodellierungen zum besseren Erkennen der Oel- und Gasfenster sowie der Kohlenwasserstoff-Geochemie mit den Oel-Muttergesteinskorrelationen und Rekonstruktionen zur Reifegeschichte. Bei den zukuenftigen Kohlenwasserstoff-Potentialen, die im Vorfeld der industriellen Aktivitaeten weiter erforscht werden muessen, geniessen im marinen Bereich die Kontinentalabhaenge Prioritaet, die mit 75 Mio. km{sup 2} groesser als alle kontinentalen Becken sind. Im Bereich der verschiedenen Plattenraender werden potentielle Mutter- und Speichergesteine mit entsprechenden Fangstrukturen vermutet. Gashydrate, feste Einschlussverbindungen von Wasser und Methan, die in Permafrostgebieten und als `bottom simulating reflectors` im marinen Bereich beobachtet werden, stellen vermutlich ein riesiges Energiepotential fuer die Zukunft dar. Weitere Zukunftspotentiale sind das `Kohlefloezmethan` und `Tiefengas` aus tiefversenkten Beckenbereichen. (orig./HS)

  14. Surface analytical investigations of the interaction between the getter material ZrCo and hydrogen and the influence of different contamination gases on the hydrogen storage capacity; Oberflaechenanalytische Untersuchungen zur Wechselwirkung des Getters ZrCo mit Wasserstoff und zum Einfluss verschiedener Kontaminationsgase auf die Wasserstoffspeicherfaehigkeit

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Glasbrenner, H.

    1991-11-01

    Vakuum, so erfolgt die Hydrierung bedeutend schneller und nahezu vollstaendig. Hierbei wird keine Reduktion der Oxidschicht an der Oberflaeche zum Metall beobachtet. Zirconium ist diejenige Legierungskomponente, die fuer die Wasserstoffspeicherung verantwortlich ist. Reagiert ein Gas fast ausschliesslich mit der Legierungskomponente Co, so wird eine geringere Abnahme der Wasserstoffspeicherfaehigkeit beobachtet. Bei der Beladung mit CO und CO{sub 2} werden fast ausschliesslich Verbindungen mit Cobalt gebildet. Bildet dagegen das Gas mit Zr Verbindungen wie Carbid, Nitrid oder Oxid, so resultiert daraus eine merkliche Abnahme der H{sub 2}-Speicherfaehigkeit des Getters. (orig./MM).

  15. Functional MRI of the pharynx in obstructive sleep apnea (OSA) with rapid 2-D flash sequences; Funktionelle MRT des Pharynx bei obstruktiver Schlafapnoe (OSA) mit schnellen 2D-FLASH-Sequenzen

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Jaeger, L. [Inst. fuer Radiologische Diagnostik, Klinikum Grosshadern der Ludwig-Maximilians-Universitaet, Muenchen (Germany); Guenther, E. [Klinik und Poliklinik fuer Hals-, Nasen- und Ohrenkranke, Klinikum Grosshadern der Ludwig-Maximilians-Universitaet, Muenchen (Germany); Gauger, J. [Inst. fuer Radiologische Diagnostik, Klinikum Grosshadern der Ludwig-Maximilians-Universitaet, Muenchen (Germany); Nitz, W. [Siemens Medizintechnik, Erlangen (Germany); Kastenbauer, E. [Klinik und Poliklinik fuer Hals-, Nasen- und Ohrenkranke, Klinikum Grosshadern der Ludwig-Maximilians-Universitaet, Muenchen (Germany); Reiser, M. [Inst. fuer Radiologische Diagnostik, Klinikum Grosshadern der Ludwig-Maximilians-Universitaet, Muenchen (Germany)

    1996-03-01

    Functional imaging of the pharynx used to be the domain of cineradiography, CT and ultrafast CT. The development of modern MRI techniques led to new access to functional disorders of the pharynx. The aim of this study was to implement a new MRI technique to examine oropharyngeal obstructive mechanisms in patients with obstructive sleep apnea (OSA). Sixteen patients suffering from OSA and 6 healthy volunteers were examined on a 1.5 T whole-body imager (`Vision`, Siemens, Erlangen Medical Engineering, Germany) using a circular polarized head coil. Imaging was performed with 2D flash sequences in midsagittal and axial planes. Patients and volunteers were asked to breathe normally through the nose and to simulate snoring and the Mueller maneuver during magnetic resonance imaging (MRI). Prior to MRI, all patients underwent an ear, nose and throat (ENT) examination, functional fiberoptic nasopharyngoscopy and polysomnography. A temporal resolution of 6 images/s and an in-plane resolution of 2.67x1.8 mm were achieved. The mobility of the tongue, soft palate and pharyngeal surface could be clearly delineated. The MRI findings correlated well with the clinical examinations. We propose ultrafast MRI as a reliable and non-invasive method of evaluating pharyngeal obstruction and their levels. (orig.) [Deutsch] Die funktionelle Bildgebung des Pharynx war bisher eine Domaene der Hochfrequenzroentgenkinematographie, der Computertomographie (CT) und der ultraschnellen Computertomographie. Die Entwicklung moderner Techniken in der Magnetresonanztomographie (MRT) fuehrte zu neuen Ansaetzen in der Diagnostik pharyngealer Dysfunktionen. Ziel der vorliegenden Studie war die Implementierung neuer schneller MR-Sequenzen, um Verschlussmechanismen entlang des Pharnyxschlauches bei Patienten mit obstruktiver Schlafapnoe (OSA) zu untersuchen. 16 Patienten mit OSA und 6 gesunde Probanden wurden an einem 1,5-T-Ganzkoerpermagnetresonanztomographen (`Vision`, Siemens Medizintechnik, Erlangen

  16. The sentinel lymph node concept in pre- and intraoperative nuclear medicine diagnostics; Der Sentinel-Lymphknoten (SLN): prae- und intraoperative nuklearmedizinische Diagnostik

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Vogt, H.; Wengenmair, H.; Kopp, J.; Dorn, R.; Groeber, S.; Heidenreich, P. [Zentralklinikum Augsburg (Germany). Klinik fuer Nuklearmedizin

    1999-10-01

    . Aufgrund der vorliegenden Ergebnisse kann gefolgert werden, dass die Lymphszintigraphie in der Operationsplanung sowohl beim malignen Melanom als auch beim Mammakarzinom eine wichtige Rolle spielt. Die Erfahrungen, wie sie mit den beiden Tumorerkrankungen gemacht wurden, fuehrten dazu, dass schwierige Aufgaben, wie z.B. die SLN-Diagnostik beim Prostatakarzinom, einfacher und schneller geloest werden koennen. (orig.)

  17. Radiologic diagnostics of dementia; Radiologische Demenzdiagnostik

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Essig, M. [Radiologie, Deutsches Krebsforschungszentrum Heidelberg (Germany); Radiologie, Deutsches Krebsforschungszentrum Heidelberg, Im Neuenheimer Feld 280, 69120, Heidelberg (Germany); Schoenberg, S.O. [Institut fuer klinische Radiologie, Ludwig-Maximilians-Universitaet Muenchen (Germany)

    2003-07-01

    Bildgebungsmethoden, wie z.B. serielle volumetrische Bildungsverfahren oder funktionelle Bildgebungsverfahren gefordert. Die strukturelle Bildgebung wird heute vorwiegend mit der volumetrischen MRT durchgefuehrt. Hierbei fanden sich bereits zu einem fruehen Zeitpunkt der Erkrankung eine Atrophie des medialen Temporallappens mit Fokussierung auf den Amygdala-Hippokampus-Komplex. Diese Veraenderungen finden sich auch beim normalen Altern, das Fortschreiten ist jedoch bei Patienten mit einer Alzheimer-Erkrankung deutlich schneller und progredienter. Neuere Einblicke in die Pathophysiologie der Demenzerkrankungen gewinnt man mit der funktionellen MRT, welche die Perfusion (Blutfluss), die Vaskulariaet und Permeabilitaet von normalem und pathologischem Gewebe aufzeigen und strukturell-funktionelle Einheiten visualisieren kann. Der vorliegende Artikel beschreibt den aktuellen Status in der strukturellen Bildgebung und erlaeutert die Moeglichkeiten des Einsatzes funktioneller Bildgebungsmethoden. Eine detaillierte Beschreibung einzelner Verfahren erfolgt in weiteren Artikeln des Themenheftes. (orig.)

  18. Endovascular interventions for multiple trauma; Endovaskulaere Interventionen beim Polytrauma

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Kinstner, C.; Funovics, M. [Klinik fuer Radiologie und Nuklearmedizin, Medizinische Universitaet Wien, Klinische Abteilung fuer Kardiovaskulaere und Interventionelle Radiologie, Wien (Austria)

    2014-09-15

    oder mittels Stent zu schienen. Speziell beim Polytrauma wird die Planung dieser Eingriffe wann immer moeglich nach einem praeinterventionellen Multidetektor-CT durchgefuehrt. Der Einsatz der endovaskulaeren Intervention ermoeglicht neben einer Verringerung des operativen Traumas auch eine wesentliche Verkuerzung der Behandlungszeit. Beim vaskulaeren Trauma am Stamm oder an den Extremitaeten, wo ein operativer Zugang nur unter erhoehtem Risiko durchfuehrbar erscheint, aber auch beim pelvinen Trauma und bei arteriellen Verletzungen parenchymatoeser Organe, die nicht gaenzlich geopfert werden sollen, sowie in anderen schwer zugaenglichen Regionen wie der oberen Thoraxapertur, ist die interventionelle Versorgung mittlerweile Standardmethode geworden. Heute kann die interventionelle Radiologie in praktisch allen vaskulaeren Territorien in einem interdisziplinaeren Zugang neben der offenen chirurgischen Versorgung dazu beitragen, eine schnellere Stabilisierung der Situation herbeizufuehren. (orig.)

  19. Functional and morphological MR imaging of the upper urinary tract in the pediatric age group; Funktionelle und morphologische MR-Bildgebung des oberen Harntrakts im Kindesalter

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Rohrschneider, W.K. [St.-Annastiftskrankenhaus Ludwigshafen (Germany). Sektion Paediatrische Radiologie; St.-Annastiftskrankenhaus, Sektion Paediatrische Radiologie, Ludwigshafen (Germany); Schenk, J.-P. [Radiologische Universitaetsklinik Heidelberg (Germany). Abteilung fuer Paediatrische Radiologie

    2005-12-01

    MR imaging is being increasingly used for the diagnosis of congenital urinary tract obstruction. The following conditions have to be fulfilled to provide an MR urography technique which is useful for the pediatric age group: (1) the combination of morphology and function, (2) a high-resolution morphological image, (3) a morphological image independent of kidney function, (4) reliable determination of split renal function and (5) of urinary excretion. This is best accomplished with a combination of a T1-weighted fast GE sequence post-contrast and a heavily T2-weighted 3D IR-TSE sequence. Selected sequence parameters are important for optimization as well as for a correct functional assessment. Then MR urography is superior to the conventional methods of excretory urography, ultrasound, and scintigraphy in the morphological depiction of the urinary tract even of complex malformations as well as in a detailed functional assessment. In particular, this method is useful in the situation of complicated duplex kidneys, dystopic kidneys, unclear morphology, or discrepant former results and perioperative assessment. The main advantages are avoiding radiation and obtaining a simultaneous functional-morphological diagnosis. (orig.) [German] Zur Diagnostik angeborener Harnwegfehlbildungen und Harntransportstoerungen wird zunehmend die MRT eingesetzt. Voraussetzungen fuer eine sinnvolle MR-Urographie-Technik im Kindesalter sind 1. die Kombination von Morphologie und Funktion, 2. eine hochaufloesende morphologische Abbildung, 3. ein funktionsunabhaengiges morphologisches Bild, 4. die zuverlaessige Bestimmung der seitengetrennten Nierenfunktion und 5. des Harnabflusses. Dies wird am besten mit einer Kombination aus T1-gewichteter schneller GE-Sequenz nach KM und stark T2-gewichteter 3D-IR-TSE-Sequenz erreicht. Wichtig zur Optimierung sowie zur korrekten Funktionsbestimmung ist die gezielte Wahl der Sequenzparameter. Dann ist die MR-Urographie den konventionellen Methoden AUG

  20. Evaluation and development of soil values for the pathway 'soil to plant'. Transfer factors soil to plant; Ueberpruefung und Fortentwicklung der Bodenwerte fuer den Boden-Pflanze-Pfad. Teilbericht 1: Transferfaktoren Boden-Pflanze

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Trapp, S.; Matthies, M.; Reiter, B.; Gaeth, S.

    2001-10-01

    . Aufnahme aus der Bodenloesung und Translokation mit den Pflanzensaeften spielt - ausser fuer Phenanthren - kaum eine Rolle. Bei den untersuchten Moehren und Kartoffeln ist vorwiegend die Schale kontaminiert. Die Transferfaktoren der PCB sind durchweg hoeher als die der PAK. Es wird vermutet, dass dafuer der photolytische Abbau von PAK auf Blattoberflaechen verantwortlich ist. Des Weiteren gibt es Hinweise darauf, dass die Metabolisierung von PAK in Pflanzen schneller ablaeuft als die der PCB. (orig.)

  1. Combination of thermal activation and addition of H{sub 2}O{sub 2} to improve cerium-based immersion treatment of alloy AA5083

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Bethencourt, M.; Botana, F.J.; Cano, M.J.; Osuna, R.M. [Departamento de Ciencia de los Materiales e Ingenieria Metalurgica y Quimica Inorganica Universidad de Cadiz. Facultad de Ciencias del Mar. Avda. Republica Saharaui s/n, E-11510, Puerto Real, Cadiz (Spain); Marcos, M. [Departamento de Ingenieria Mecanica y Disenuo Industrial. Universidad de Cadiz. Escuela Superior de Ingenieria C/ Chile s/n, E-11003, Cadiz (Spain)

    2003-02-01

    erleichtert, um zum Teil durch thermische Aktivierung, was eine schnellere Entwicklung des Aluminiumoxidfilms ueber der Metallmatrix erleichtert. Ausserdem zeigen die erzielten Ergebnisse, dass diese Behandlungen einen erhoehten Widerstand der Legierung gegenueber Lochkorrosion liefern. (Abstract Copyright [2003], Wiley Periodicals, Inc.)

  2. “...not simply say that they are all Nazis.” Controversy in Discussions of Current Topics in German Civics Classes

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    David Jahr

    2016-06-01

    Tages‘. In der ‚Wochenschau‘ hingegen entfaltet sich durchaus eine Kontroversität im Klassenzimmer. Mit Hilfe der Dokumentarischen Methode kann dabei aber gezeigt werden, dass auf der Ebene des impliziten Wissens mehrere, teilweise problematische geteilte Orientierungen in der untersuchten Klasse vorliegen. Dies führt zur Feststellung, dass man Lerngruppen hinsichtlich ihrer Kontroversität auf zwei Ebenen unterschieden muss: auf einer schneller kontrovers erscheinenden, vordergründigen Ebene und einer tieferliegenden Ebene des milieu-basierten Hintergrunds kollektiver Orientierungen. Diese Diagnose stellt neue Fragen bezüglich Kontroversität im Politikunterricht

  3. Zur Frage der Neuartigen Komposita im Deutschen und im Litauischen

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ernesta Račienė

    2012-06-01

    Full Text Available Sowohl das Deutsche als auch das Litauische wandeln sich auf der gegenwärtigen Entwicklungsstufe schneller wie früher. Als Ursachen für die Modifikationen im Wortschatz und im Sprachbau kann man veränderte historische, kulturelle und kommunikationstechnische Bedingungen, Globalisierungs- und Internationalisierungstendenzen, den Einfluss des Englischen sowie die Verwendung der Sprache in neuen Medien nennen. Durch ihre Verwendung im Internet kommen Sprachen zu einer neuen Form, bestimmte Sprachmuster werden besonders aktiv. Im vorliegenden Beitrag werden zwei Wortbildungsmuster, die in der deutschen Mediensprache der Gegenwart sehr zahlreich vertreten sind, behandelt, und zwar Bindestrichkomposita von Typ XL-Welle, Roggen-Vollkornbrot, das Von-der-Hand-in-den-Mund-Leben etc. und die Konfixkomposita von Typ Bio-Apfel, Bio-Baby-Lebensmittel, Euro-Bürokraten etc. Einige Gebrauchstendenzen von solchen neuartigen Komposita werden vorgestellt und unter interkulturellem Aspekt mit den neuen Erscheinungen in der litauischen Mediensprache verglichen. On New Compounds in German and Lithuanian Languages In the present article, the usage patterns of compound neologisms and occasional compounds in German and Lithuanian media languages of the press and new medium are analysed and compared in terms of intercultural aspects. In the current development stage, German and Lithuanian languages undergo rapid changes, acquire new forms and are constantly affected by other languages. Furthermore, they experience processes of globalization and internationalization. The discourse of the press and new medium is the most instant reflection of political, economical, social and cultural changes in public life. It is rich with neologisms and occasional compounds. As written language on the Internet resembles spoken language, these language varieties are said to demonstrate characteristics of a spoken language. Bindestrichkomposita - hyphenated occasional compound nouns

  4. A CONCEPTUAL DESIGN OF NEUTRON COLLIMATOR IN THE THERMAL COLUMN OF KARTINI RESEARCH REACTOR FOR IN VITRO AND IN VIVO TEST OF BORON NEUTRON CAPTURE THERAPY

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nina Fauziah

    2015-03-01

    Full Text Available Studies were carried out to design a collimator which results in epithermal neutron beam for IN VITRO and IN VIVO of Boron Neutron Capture Therapy (BNCT at the Kartini research reactor by means of Monte Carlo N-Particle (MCNP codes. Reactor within 100 kW of thermal power was used as the neutron source. The design criteria were based on recommendation from the International Atomic Energy Agency (IAEA. All materials used were varied in size, according to the value of mean free path for each material. MCNP simulations indicated that by using 5 cm thick of Ni as collimator wall, 60 cm thick of Al as moderator, 15 cm thick of 60Ni as filter, 2 cm thick of Bi as γ-ray shielding, 3 cm thick of 6Li2CO3-polyethylene as beam delimiter, with 1 to 5 cm varied aperture size, epithermal neutron beam with maximum flux of 7.65 x 108 n.cm-2.s-1 could be produced. The beam has minimum fast neutron and γ-ray components of, respectively, 1.76 x 10-13 Gy.cm2.n-1 and 1.32 x 10-13 Gy.cm2.n-1, minimum thermal neutron per epithermal neutron ratio of 0.008, and maximum directionality of 0.73. It did not fully pass the IAEA’s criteria, since the epithermal neutron flux was below the recommended value, 1.0 x 109 n.cm-2.s-1. Nonetheless, it was still usable with epithermal neutron flux exceeding 5.0 x 108 n.cm-2.s-1. When it was assumed that the graphite inside the thermal column was not discharged but only the part which was going to be replaced by the collimator, the performance of the collimator became better within the positive effect from the surrounding graphite that the beam resulted passed all criteria with epithermal neutron flux up to 1.68 x 109 n.cm-2.s-1. Keywords: design, collimator, epithermal neutron beam, BNCT, MCNP, criteria   Telah dilakukan penelitian tentang desain kolimator yang menghasilkan radiasi netron epitermal untuk uji in vitro dan in vivo pada Boron Neutron Capture Therapy (BNCT di Reaktor Riset Kartini dengan menggunakan program Monte

  5. PEMODELAN SISTEM PENDINGINAN SUNGKUP SECARA PASIF MENGGUNAKAN RELAP5

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Andi Sofrany Ekariansyah

    2015-03-01

    Full Text Available Semua reaktor daya maju (Generasi III+ memanfaatkan sistem pasif untuk membuang panas melalui sirkulasi alam. Salah satu fitur unik dari reaktor daya maju tipe PWR AP1000 adalah adanya sistem pendinginan sungkup secara pasif (Passive Containment Cooling System / PCS yang didesain menjaga tekanan sungkup di bawah desain selama 72 jam tanpa tindakan operator. Selama kecelakaan dasar desain seperti kecelakaan hilangnya pendingin atau kecelakaan putusnya jalur uap, terjadi lepasan uap yang bersentuhan dengan dinding baja bejana sungkup yang lebih dingin. Perpindahan kalor dari lepasan uap melalui konveksi dan konduksi dinding baja bejana sungkup akan mengakibatkan perubahan densitas udara akibat pemanasan yang memicu aliran sirkulasi alam dari udara yang akan naik ke atas. Makalah ini bertujuan untuk memperoleh model sungkup AP1000 untuk menunjukkan fungsi PCS menggunakan RELAP5. Fungsi dasar PCS yang ingin diperoleh adalah fenomena perpindahan panas dari uap ke dinding bejana sungkup dan ke udara luar untuk menghasilkan aliran konveksi alam udara. Metodologi yang digunakan adalah pengumpulan data desain, nodalisasi dengan RELAP5, dan simulasi fungsi sungkup berdasarkan masukan kecelakaan dasar desain tertentu. Hasil pemodelan sungkup telah dapat menunjukkan fenomena  perpindahan panas dari dalam sungkup ke udara luar dalam bentuk proses kondensasi dan konveksi alam. Hasil perhitungan RELAP5 terhadap model sungkup menunjukkan peningkatan tekanan sungkup yang melebihi tekanan desain sungkup sebesar 59 psig seperti dibandingkan dalam dokumen desain AP1000. Hal itu disebabkan belum dimodelkannya pendinginan sungkup melalui pembasahan tangki sungkup bagian luar dari tangki Passive Containment Cooling Storage Tank (PCCWST. Hasil pemodelan akan digunakan untuk analisis kecelakaan AP1000 secara menyeluruh yang melibatkan fungsi PCS. Kata kunci: pemodelan, sungkup, AP1000, pasif   All advanced power reactors (Generation III+ utilize passive system to

  6. PEMBUATAN RADIONUKLIDA MOLIBDENUM-99 (99Mo HASIL AKTIVASI NEUTRON DARI MOLIBDENUM ALAM UNTUK MEMPEROLEH TEKNESIUM-99m (99mTc

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Indra Saptiama

    2016-10-01

    Full Text Available ABSTRAK PEMBUATAN RADIONUKLIDA MOLIBDENUM-99 (99Mo HASIL AKTIVASI NEUTRON DARI MOLIBDENUM ALAM UNTUK MEMPEROLEH TEKNESIUM-99m (99mTc. Pembatasan penggunaan uranium sebagai target untuk produksi 99mTc menyebabkan rumah sakit di Indonesia  kesulitan mendapatkan pasokan 99mTc. Saat ini 99mTc diperoleh dari 99Mo hasil fisi (pembelahan uranium.  Pembuatan radionuklida 99Mo dari aktivasi neutron  molibdenum alam (MoO3 di teras reaktor G.A Siwabessy digunakan sebagai metode alternatif untuk memperoleh 99mTc. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pembuatan radionuklida 99Mo dari aktivasi neutron molibdenum alam untuk memperoleh 99mTc. Serbuk MoO3 alam sebanyak 5 gram dikemas dalam ampul kuarsa dan dimasukkan ke dalam inner capsul selanjutnya dikemas menggunakan outer capsul sebagai bahan target. Bahan target diiradiasi di reaktor G.A Siwabessy selama 100 jam. Hasil perhitungan diperoleh aktivitas  99Mo sebesar 65 % dari nilai maksimum yang dapat diperoleh. MoO3 paska iradiasi dilarutkan dengan NaOH 4 M sehingga diperoleh larutan natrium molibdat (Na2MoO4. Radionuklida 99Mo dan 99mTc diukur menggunakan spektrometer gamma. Radionuklida 99Mo terdeteksi dalam produk larutan  Na2MoO4 dengan  aktivitas jenis 99Mo yang diperoleh sebesar 0,81 Ci 99Mo/g Mo.  Radionuklida anak luruh 99mTc dipisahkan dari radionuklida induk 99Mo menggunakan kolom pemisah yang berisi material berbasis zirkonium (MBZ sebagai penyerap 99Mo. Radionuklida 99mTc hasil pemisahan diperoleh dalam bentuk natrium pertehnetat (Na99mTcO4.dengan recovery yang masih rendah yaitu sekitar 52 hingga 71 %. Kata kunci: Molibdenum, teknesium, radionuklida, pemisahan, iradiasi. ABSTRACT PRODUCTION OF ACTIVATED  NEUTRON MOLYBDENUM-99 (99Mo RADIONUCLIDE FROM NATURAL MOLYBDENUM TO OBTAIN TECHNETIUM-99m (99mTc.  Uranium usage restriction causes the hospitals in indonesia difficult to obtain the suply of  99mTc. At Present, 99mTc is obtanied from molybdenum as a uranium fission product

  7. MODEL SIMULATION OF GEOMETRY AND STRESS-STRAIN VARIATION OF BATAN FUEL PIN PROTOTYPE DURING IRRADIATION TEST IN RSG-GAS REACTOR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Suwardi Suwardi

    2015-03-01

    Full Text Available MODEL SIMULATION OF GEOMETRY AND STRESS-STRAIN VARIATION OF BATAN FUEL PIN PROTOTYPE DURING IRRADIATION TEST IN RSG-GAS REACTOR*. The first short fuel pin containing natural UO2 pellet in Zry4 cladding has been prepared at the CNFT (Center for Nuclear Fuel Technology then a ramp test will be performed. The present work is part of designing first irradiation experiments in the PRTF (Power Ramp Test Facility of RSG-GAS 30 MW reactor. The thermal mechanic of the pin during irradiation has simulated. The geometry variation of pellet and cladding is modeled by taking into account different phenomena such as thermal expansion, densification, swelling by fission product, thermal creep and radiation growth. The cladding variation is modeled by thermal expansion, thermal and irradiation creeps. The material properties are modeled by MATPRO and standard numerical parameter of TRANSURANUS code. Results of irradiation simulation with 9 kW/m LHR indicates that pellet-clad contacts onset from 0.090 mm initial gaps after 806 d, when pellet radius expansion attain 0.015 mm while inner cladding creep-down 0.075 mm. A newer computation data show that the maximum measured LHR of n-UO2 pin in the PRTF 12.4 kW/m. The next simulation will be done with a higher LHR, up to ~ 25 kW/m. MODEL SIMULASI VARIASI GEOMETRI DAN STRESS-STRAIN DARI PROTOTIP BAHAN BAKAR PIN BATAN SELAMA UJI IRADIASI DI REAKTOR RSG-GAS. Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBBN telah menyiapkan tangkai (pin bahan bakar pendek perdana yang berisi pelet UO2 alam dalam kelongsong paduan zircaloy untuk dilakukan uji iradiasi daya naik. Penelitian ini merupakan bagian dari perancangan percobaan iradiasi pertama di PRTF (Power Ramp Test Fasility yang terpasang di reaktor serbaguna RSG-GAS berdaya 30 MW. Telah dilakukan pemodelan dan simulasi kinerja termal mekanikal pin selama iradiasi. Variasi geometri pelet dan kelongsong selama pengujian dimodelkan dengan memperhatikan fenomena ekspansi termal

  8. PENGARUH VISKOSITAS DAN LAJU ALIR TERHADAP HIDRODINAMIKA DAN PERPINDAHAN MASSA DALAM PROSES PRODUKSI ASAM SITRAT DENGAN BIOREAKTOR AIR-LIFT DAN KAPANG Aspergilus Niger

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Kristinah Haryani

    2012-04-01

    Full Text Available  EFFECT OF VISCOSITY AND FLOW RATE ON THE HYDRODYNAMICS AND MASS TRANSFER ON CITRIC ACID PRODUCTION USING Aspergilus Niger YEAST IN AN AIR-LIFT BIOREACTOR. Citric acid is an important organic acid that has many advantages used in foods, drinks, pharmaceuticals industries. Waste of pine apple (covers and core of the fruit still have high contents of glucose and sucrose components, that these are potentially used as basic material for making citric acid by means of fermentation using Aspergillus niger. The reactor to do so is a reactor air-lift external loop with 88 cm in height, 45.41 cm2 in riser area, and 2.01 cm2 in downcomer area. This research is intended to study the influence of volumetric flow and viscosity upon mass transfer in the fermentation process of citric. The variable factors are concentration of total sugar (5 to 25% and of volumetric flow of gas 9.4 to 23.3 cc/second. A dynamic method used to measure of the constants transfer  of gas-fluid mass where oxygen concentration soluted is measured every 30 second using DO meter device. Result of this research shows that the increase of viscosity causes the decrease of hold up gas and fluid circulation speed of the fluid, and the decrease of the constants of mass transfer. The increase of air speed flow will cause the increase of hold up gas and fluid circulation speed, and constants of mass transfer. Relation of the constraints of mass transfer to volumetric flow and viscosity is formulated as follow    Asam sitrat adalah asam organik penting yang sangat banyak kegunaannya seperti untuk industri makanan, minuman, farmasi, dan sebagainya. Limbah nanas (kulit dan bonggol masih mengandung kadar glukosa dan sukrosa yang cukup tinggi, sehingga sangat potensial sebagai bahan baku pembuatan asam sitrat dengan cara fermentasi bantuan kapang Aspergillus niger. Reaktor yang digunakan adalah reactor air-lift external loop. Reaktor yang digunakan berdimensi tinggi 88 cm, luas daerah riser 46

  9. Anaerobic degradation of tetrachloroethylene; Anaerober Abbau von Tetrachlorethylen

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Diekert, G. [Stuttgart Univ. (Germany). Inst. fuer Mikrobiologie; Scholz-Muramatsu, H. [Stuttgart Univ. (Germany). Inst. fuer Siedlungswasserbau

    1996-12-31

    Dehalospirillum multivorans, a tetrachloroethylene-dechlorinating bacterium, was isolated in activated sludge. This organism is able to grow on a defined medium with hydrogen and tetrachloroethylene (PCE) as its only energy source. The organism was characterised and the physiology of dechlorination was studied. In this process PCE is dechlorinated to cis-1,2-dichloroethene (DCE) via trichloroethene (TCE). A fluidized-bed reactor which reduces PCE to DCE at a high rate (15 nmol/min/mg of protein at 5 {mu}M PCE) was inoculated with the bacterium. Meanwhile a reactor inoculated with D. multivorans and a fully dechlorinating mixed culture has become available which catalyses the complete dechlorination of PCE to ethene at just as high rates. Tetrachloroethene dehalogenase was purified from D. multivorans (unpublished results) and characterised. (orig./SR) [Deutsch] Aus Belebtschlamm wurde ein Tetrachlorethen-dechlorierendes Bakterium, Dehalospirillum multivorans, isoliert. Der Organismus waechst auf definiertem Medium mit Wasserstoff und Tetrachlorethen (PCE) als einziger Energiequelle. Der Organismus wurde charakterisiert und die Physiologie der Dechlorierung wurde untersucht. PCE wird dabei ueber Trichlorethen (TCE) bis zum cis-1,2-Dichlorethen (DCE) dechloriert. Mit diesem Bakterium wurde ein Wirbelschichtreaktor inokuliert, der mit hohen Raten (15 nmol/min/mg Protein bei 5 {mu}M PCE) PCE zu DCE reduziert. Inzwischen steht ein Reaktor zur Verfuegung, der mit D. multivorans und einer voellig dechlorierenden Mischkultur inokuliert wurde und der mit ebenso hohen Raten eine vollstaendige Dechlorierung von PCE bis zum Ethen katalysiert. Aus D. multivorans wurde die Tetrachlorethen-Dehalogenase gereinigt (unveroeffentlichte Ergebnisse) und charakterisiert. (orig./SR)

  10. Pembuatan Biodiesel Dari Minyak Kelapa Dengan Katalis NaOH Menggunakan Gelombang Mikro (Microwave Secara Kontinyu

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Daru Satria Prayanto

    2016-04-01

    Full Text Available Biodiesel merupakan bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak nabati melalui proses transesterifikasi, esterifikasi, atau proses esterifikasi-transesterifikasi. Proses pembuatan biodiesel dapat dilakukan dengan metode pemanasan konvensional maupun dengan metode pemanasan microwave. Dengan radiasi microwave, maka waktu yang dibutuhkan saat proses transesterifikasi lebih singkat dibandingkan dengan konvensional. Disisi lain, minyak kelapa memiliki potensi yang besar untuk digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan biodiesel karena ketersediaannya yang melimpah. Penelitian ini bertujuan untuk membuat biodiesel dari minyak kelapa secara kontinyu melalui proses transesterifikasi metanol dengan menggunakan radiasi microwave dengan katalis NaOH dan mempelajari pengaruh konsentrasi tiap katalis, daya, dan laju umpan yang digunakan terhadap yield, densitas, dan viskositas biodiesel yang dihasilkan. Dalam penelitian ini di gunakan 3 variabel, yaitu laju umpan 0,73; 1,25; 1,72 ml/s, konsentrasi katalis 0,25; 0,5; 1 (% berat variabel daya microwave 100, 264, 400, 600, dan 800 Watt. Rasio umpan ditentukan pada 1:9. Pada tahap persiapan melarutkan metanol dan katalis sesuai dengan variabel hingga tercampur homogen. Selanjutnya tahap transesterifikasi dengan mencampurkan larutan metanol (metanol dan katalis dengan minyak kelapa dengan mol ratio yang telah ditentukan dan mengatur daya microwave untuk memulai proses transesterifikasi, proses berlangsung secara kontinyu menggunakan mix flow reaktor. Selanjutnya pemisahan hasil transesterifikasi dari gliserol, dilanjutkan dengan tahap pencucian dengan aquadest untuk memisahkan impurities dan katalis yang masih tersisa dalam biodiesel kemudian memanaskan pada oven untuk menguapkan kandungan air dalam biodiesel. Selajutnya menganalisisa hasil biodiesel terhadap yield, densitas, dan viskositasnya. Hasil terbaik dari variabel yang digunakan di atas adalah pada katalis NaOH dengan konsentrasi 1

  11. SIMULASI PENGARUH KONSENTRASI BIOMASSA PADA LUMPUR AKTIF TERHADAP PENYISIHAN COD DALAM BIOREAKTOR MEMBRAN TERENDAM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A. E. Palupi

    2012-02-01

    Full Text Available Proses pengolahan limbah cair dengan bioreaktor membran terendam (BRMt, mempunyai banyak keuntungan dibandingkan proses lumpur aktif konvensional, karena prosesnya lebih sederhana, tidak memerlukan bak sedimentasi sekunder dan kandungan solid dalam efluen (permeat hampir tidak ada. Dalam proses ini melibatkan tiga fasa yaitu padat (biomassa dan komponen-komponen limbah, cair (air dan gas (udara untuk aerasi, dimana degradasi biologis yang terjadi sangat dipengaruhi oleh transfer massa lintas membran, sehingga diperlukan analisa teoritis terhadap proses degradasi limbah pada BRMt dengan model matematis yang dapat menjelaskan fenomena sistemnya, yaitu laju degradasi limbah (SS dan XS, laju pertumbuhan biomassa heterotrop (XBH, laju pembentukan SMP (soluble microbial product, kelarutan oksigen (SO, dan jumlah senyawa organik inert (SI dan XI. Penelitian ini bersifat simulasi yang menggabungkan antara model matematis aktivitas biologis dan performance membran menjadi satu model yang dapat digunakan untuk menghitung COD total pada setiap waktu. Hasil simulasi divalidasi dengan hasil analisa laboratorium dengan limbah cair domestik sintetis sebagai umpan. Secara teoritis, proses degradasi limbah BRMt terdiri dari tujuh komponen yang saling terkait yaitu Ss, Xs, XBH, SSMP, SO, SI dan XI. Model matematis yang diperoleh dapat menjelaskan fenomena terjadinya degradasi limbah domestik sintesis dan akumulasi partikulat inert. Simulasi menunjukkan hasil yang cukup bagus untuk memprediksikan pengolahan limbah cair dengan lumpur aktif dan separasi membran dalam satu reaktor. Dibandingkan dengan hasil percobaan, ditemukan nilai parameter baru untuk pengolahan limbah domestik sintesis dengan lumpur aktif, yaitu YH  = 0,46; μH = 1,5 hari-1; bH = 10,5 hari-1; KS = 1000 g COD/m3; KOH =0,5 g O2/m3; KSMP =15 g COD/m3.

  12. Adaptive Neural Network Algorithm for Power Control in Nuclear Power Plants

    Science.gov (United States)

    Masri Husam Fayiz, Al

    2017-01-01

    The aim of this paper is to design, test and evaluate a prototype of an adaptive neural network algorithm for the power controlling system of a nuclear power plant. The task of power control in nuclear reactors is one of the fundamental tasks in this field. Therefore, researches are constantly conducted to ameliorate the power reactor control process. Currently, in the Department of Automation in the National Research Nuclear University (NRNU) MEPhI, numerous studies are utilizing various methodologies of artificial intelligence (expert systems, neural networks, fuzzy systems and genetic algorithms) to enhance the performance, safety, efficiency and reliability of nuclear power plants. In particular, a study of an adaptive artificial intelligent power regulator in the control systems of nuclear power reactors is being undertaken to enhance performance and to minimize the output error of the Automatic Power Controller (APC) on the grounds of a multifunctional computer analyzer (simulator) of the Water-Water Energetic Reactor known as Vodo-Vodyanoi Energetichesky Reaktor (VVER) in Russian. In this paper, a block diagram of an adaptive reactor power controller was built on the basis of an intelligent control algorithm. When implementing intelligent neural network principles, it is possible to improve the quality and dynamic of any control system in accordance with the principles of adaptive control. It is common knowledge that an adaptive control system permits adjusting the controller’s parameters according to the transitions in the characteristics of the control object or external disturbances. In this project, it is demonstrated that the propitious options for an automatic power controller in nuclear power plants is a control system constructed on intelligent neural network algorithms.

  13. Pembuatan Gliserol Karbonat Dari Gliserol Dengan Katalis Berbasis Nikel

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Oktarinda Damayanti

    2012-09-01

    Full Text Available Semakin berkembangnya penggunaan biodesel sebagai bahan bakar yang bersifat renewable mendorong bertambahnya jumlah gliserol di pasaran sebagai produk samping reaksi pembuatan biodesel. Upaya peningkatan nilai jual gliserol dilakukan dengan pengolahan gliserol menjadi produk turunannya, salah satunya gliserol karbonat. Gliserol karbonat memiliki fungsi sebagai bahan baku polimer, surfaktan, emulsifier dan sebagainya yang juga bersifat biodegradable. Gliserol karbonat dapat diperoleh melalui reaksi karboksilasi katalitik antara gliserol dengan urea. Reaksi ini dilakukan dalam reactor batch dilengkapi yang dilengkapi dengan pompa. Gliserol, urea dan katalis dimasukkan dalam reaktor, kemudian dipanaskan. Saat suhu operasi tercapai, pompa vakum dinyalakan vakum untuk mengeliminasi gas ammonia yang terbentuk sebagai produk samping. Penelitian ini diawali dengan seleksi 3 jenis katalis yakni Ni powder, Ni yang diambil dari NiCl2.6H2O dan Ni/γAl2O3, jumlah katalis yang digunakan dalam seleksi sebesar 3%  dengan suhu proses 150oC selama 4 jam. Hasil yang terbaik adalah katalis Ni/γAl2O3 dengan konversi gliserol 38,88% dan yield gliserol karbonat 23,56%. Kemudian dilakukan uji pengaruh jumlah katalis 1%, 3% & 5% dari berat gliserol dengan menggunakan Ni/γAl2O3. Hasil terbaik pada berat katalis 5% dengan konversi gliserol 43,93% dan yield gliserol karbonat 27,83%. Penelitian dilanjutkan dengan seleksi suhu proses antara 100oC, 125oC, 150oC, 175oC & 200oC. Pada seleksi ini terpilih suhu 150oC yang menghasilkan konversi gliserol 43,93% dan yield gliserol karbonat sebesar 27,83%. Berikutnya adalah mengetahui pengaruh waktu terhadap konversi gliserol dan yield gliserol karbonat dengan variable 0 jam, 1 jam, 2 jam, 3 jam dan 4 jam. Hasil terbaik diperoleh pada 4 jam proses dengan konversi gliserol 43,93% dan yield gliserol karbonat sebesar 27,83%.

  14. SINTESA GULA DARI SAMPAH ORGANIK DENGAN PROSES HIDROLISIS MENGGUNAKAN KATALIS ASAM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Deddy Irawan

    2012-11-01

    Full Text Available SYNTHESIS OF SUGAR FROM ORGANIC WASTES VIA ACID CATALYSTHYDROLYSIS. Hydrolysis process is an important step from every process to produce biofuel withorganic wastes as raw material. Hydrolysis process with chemical uses hydrochloride acid as catalystin which will transform holocellulose to glucose. Raw material of 100 grams is put into hydrolysisreactor with batch system equipped with pressure control and ratio hydrochloride of 1 : 6 w/v. Thevariables studied were temperature of 110-140oC, HCl concentration of 0.5-1%, time of hydrolysis of15-60 minutes. The sugar concentration was taken and then be analyzed by Nelson-Somogy method.The hydrolysis, which was carried out with the temperature of 120oC, time of 30 minutes, HClconcentration of 0.75%, and the pressure of 6 bar, produced sugar reduction of 27.3 mg/mL and yieldof 15.07%. Proses hidrolisis merupakan satu tahap penting dari rangkaian tahapan proses produksi bahan bakarnabati menggunakan bahan baku sampah organik. Proses hidrolisis secara kimiawi menggunakanHCl sebagai katalis akan mengubah holoselulosa yang terdapat pada sampah organik menjadi gula.Gula yang dihasilkan inilah yang dapat difermentasi menjadi bahan bakar nabati. Bahanbaku sebanyak 100 g dimasukkan dalam reaktor hidrolisis sistem batch yang dilengkapi denganpengukur tekanan dan ditambahkan larutan HCl pada perbandingan 1:6 b/v. Hidrolisis dilakukandengan memvariasikan suhu operasi 100-140oC, waktu proses 15-60 menit, serta konsentrasi HCl 0,5-1%. Hidrolisat yang dihasilkan dianalisis kadar gula menggunakan metode Nelson-somogy. Hasilhidrolisis yang dilakukan pada suhu 120oC selama 30 menit serta konsentrasi HCl 0,75% dan tekananterukur 6 bar menghasilkan gula 27,30 mg/mL dan yield gula sebesar 15,07%.

  15. Development of fire protection standards for the EPR project

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Frank, H.J. [Nuclear Power International, Paris (France); Kaercher, M. [Electricite de France (EDF), 69 - Villeurbanne (France); Wittmann, R. [Siemens AG Energieerzeugung KWU, Erlangen (Germany)

    2000-05-01

    In 1989 Framatome and Siemens decided by setting up their joint subsidiary NPI (Nuclear Power International) to co-operate in designing a new European Pressurised Water Reactor, the EPR. French and German utilities decided to participate in this project. In parallel to the co-operation on supplier's and utility's side, the French and German safety authorities and safety experts wanted to work closely together in order to harmonise and further develop the outstanding safety standards in France and Germany. An organisation has been set up to elaborate common codes related to the EPR design, at the level of the French design and construction rules (RCC) of the German KTA safety standards and DIN standards for nuclear technology, the so-called EPR technical codes (ETC). In this context the decision was made to develop a new fire protection code, the ETC-F, which should be harmonised between France and Germany. The article gives an insight in the developing process of the ETC-F and an outlook on existing and perhaps further national activities. (orig.) [German] Mit der Gruendung der NPI (Nuclear Power International) im Jahr 1989 haben Framatome und Siemens ihre Zusammenarbeit bei der Entwicklung eines neuen Europaeischen Druckwasser-Reaktors (EPR) vereinbart und fuer dieses Projekt eine Beteiligung von Energieversorgungsunternehmen aus Frankreich und Deutschland erreicht. Zeitgleich hierzu haben sich atomrechtliche Genehmigungsbehoerden und Gutachter beider Laender abgesprochen, ebenfalls eng zusammen zu arbeiten, um ihre zukuenftigen Anforderungen nach Moeglichkeit zu harmonisieren. Fuer den EPR sollten deshalb gemeinsame Vorschriften, sog. 'EPR technical codes (ETCs)' erarbeitet werden, welche einen vergleichbaren Tiefgang, wie die bestehenden franzoesischen (RCC) und deutschen (KTA) sicherheitstechnischen Regeln sowie die deutschen kerntechnischen Industrienormen (DIN) haben sollten. Hierzu gehoerte auch eine Brandschutzvorschrift, der ETC

  16. Investigation of mass transfer phenomena in biofilm systems; Untersuchung von Stoffuebergangsphaenomenen in Biofilmsystemen

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Waesche, S.; Hempel, D.C. [Technische Univ. Braunschweig (Germany). Inst. fuer Bioverfahrenstechnik; Horn, H. [Fachhochschule Magdeburg (Germany). Hydro- und Abfallchemie

    1999-07-01

    bestimmt. Die Biofilmdichte (Biotrockenmasse/Biofilmvolumen) wurde gravimetrisch bestimmt. Die maximalen Massestromdichten der Biofilme wurden in Batchversuchen bei Substratueberschuss ermittelt. Mit Hilfe von Sauerstoffmikroelektroden wurden Sauerstoffprofile im Biofilm direkt im Reaktor gemessen. Die Messungen der Sauerstoffprofile wurden bei einer Biofilmdicke von 400-2000 {mu}m durchgefuehrt, bei der der Biofilm noch keine Erosionserscheinungen zeigte. (orig.)

  17. INKORPORASI TITANIA PADA MATRIKS SILIKA DAN PENGARUHNYA TERHADAP AKTIVITAS FOTOKATALITIK TITANIA PADA DEGRADASI METIL ORANYE (Incorporation of Titania into Silica Matrix and Its Effect Toward the Photocatalytic Activity of Titania on the Degradation

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Eko Sri Kunarti

    2011-03-01

    Full Text Available ABSTRAK Telah dilakukan preparasi dan karakterisasi nanokristal titania terinkorporasi silika (nanokomposit titania-silika disertai dengan pengujian aktivitas fotokatalitiknya untuk degradasi metil oranye. Preparasi dilakukan melalui proses sol-gel pada suhu kamar diikuti dengan perlakuan termal pada temperatur 500 o C. Pengaruh penambahan silika terhadap karakter nanokomposit yang terbentuk telah dikaji dalam penelitian ini. Karakterisasi dilakukan dengan metode difraksi sinar-X, spektrometri inframerah, spektrometri fluoresensi sinar-X serta spektrometri uv-vis difusi reflaktansi. Proses degradasi dilakukan dengan sistem batch di dalam reaktor tertutup yang dilengkapi dengan lampu UV 40 watt. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan matriks silika menyebabkan pembentukan ikatan cross-linking Si-O-Ti dan oxygen vacancies dalam titania. Inkorporasi titania pada matriks silika dapat meningkatkan stabilitas dan energi celah pita serta sifat fotokatalisis titania bebas. ABSTRACT Preparation and characterisation of nanocrystalline silica-incorporated titania (titania-silica nanocomposite  have been carried out followed by its photocatalytic activity test for degradation of methyl orange. The preparation was conducted via sol-gel processing followed by thermal treatment at a temperature of 500oC. Effect of the silica addition on the nanocomposite’s character were studied. Characterization was performed by x-ray diffraction method, infrared spectrometry, X-ray fluorescence spectrometry, and diffuse reflectance UV-visible spectrometry. The photoactivity test of   nanocomposites was carried out in a closed reactor equipped with UV light.  Results showed that the addition of silica promotes the formation of  Si-O-Ti cross-linking bonds and oxygen vacancies in titania. Incorporation of titania  into silica matrix enhanced the stability , increased the band gap energy and increased the photocatalytic activity of free titania

  18. Experimental investigation and mathematical modelling of the combustion of brown coal, refuse and mixed fuels in a circulating fluidized bed combustor; Experimentelle Untersuchung und mathematische Modellierung der Verbrennung von Braunkohle, Abfallstoffen und Mischbrennstoffen in einer zirkulierenden Wirbelschichtfeuerung

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Bernstein, W.; Brunne, T.; Hiller, A. [Technische Univ. Dresden (Germany). Inst. fuer Energietechnik; Albrecht, J. [Lurgi Umwelt GmbH, Frankfurt am Main (Germany); Quang, N. [Polytechnic Inst., Danang (Viet Nam)

    1998-09-01

    Extensive experiments on combustion of biological materials and residues in fluidized bed combustors and dust combustors have been carried out at the Department of Power Plant Engineering of Dresden University since the early nineties. Particular interest was taken in mixing brown coal with sewage sludge, sugar pulp and waste wood. The experiments were supplemented by modelling in a research project funded jointly by the BMBF and Messrs. Lurgi since early 1997. A combustion cell model designed by Siegen University is being modified for the new mixed fuels, and preliminary investigations were carried out on a batch reactor while the modelling work was continued. (orig.) [Deutsch] An dem Lehrstuhl fuer Kraftwerkstechnik der TU Dresden werden seit Anfang der 90-iger Jahre umfangreiche experimentelle Untersuchungen zur Verbrennung von Bio- und Reststoffen in Wirbelschicht- und Staubfeuerungen durchgefuehrt. Dabei war vor allem die Zufeuerung dieser Stoffe in Waermeerzeugeranlagen auf Braunkohlenbasis von besonderem Interesse. Experimentell konnte nachgewiesen werden, dass sowohl Biobrennstoffe als auch Abfaelle in zirkulierenden Wirbelschichtfeuerungen umweltschonend zur Waermeerzeugung eingesetzt werden koennen. Als Beispiel wird das an Hand von Braunkohle-Klaerschlammgemischen sowie Bagasse- und Holz-Braunkohlegemischen gezeigt. Neben den experimentellen Untersuchungen bietet die Modellierung der Verbrennungsvorgaenge ein geeignetes Mittel um Voraussagen zu anderen Mischungsanteilen sowie anderen geometrischen Abmessungen machen zu koennen. Seit Anfang 1997 wird dazu ein vom BMBF und der Firma Lurgi gefoerdertes Forschungsvorhaben bearbeitet. Ein von der Universitaet Gesamthochschule Siegen fuer die Braunkohleverbrennung konzipiertes Zellenmodell wird auf die neuen Brennstoffgemische erweitert. Da grundsaetzlich andere Stoffzusammensetzungen vorliegen, wurden an einem Batch-Reaktor Voruntersuchungen zum Pyrolyseverhalten der Brennstoffe durchgefuehrt. Erste

  19. Irradiation effects on Zr-2.5Nb in power reactors

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Song, C., E-mail: Carol.Song@cnl.ca [Canadian Nuclear Laboratories, Chalk River, Ontario (Canada)

    2016-06-15

    Zirconium alloys are widely used as structural materials in nuclear applications because of their attractive properties such as a low absorption cross-section for thermal neutrons, excellent corrosion resistance in water, and good mechanical properties at reactor operating temperatures. Zr-2.5Nb is one of the most commonly used zirconium alloys and has been used for pressure tube materials in CANDU (Canada Deuterium Uranium) and RBMK (Reaktor Bolshoy Moshchnosti Kanalnyy, 'High Power Channel-type Reactor') reactors for over 40 years. In a recent report from the Electric Power Research Institute, Zr-2.5Nb was identified as one of the candidate materials for use in normal structural applications in light-water reactors owing to its increased resistance to irradiation-induced degradation as compared with currently used materials. Historically, the largest program of in-reactor tests on zirconium alloys was performed by Atomic Energy of Canada Limited. Over many years of in-reactor testing and CANDU operating experience with Zr- 2.5Nb, extensive research has been conducted on the irradiation effects on its microstructures, mechanical properties, deformation behaviours, fracture toughness, delayed hydride cracking, and corrosion. Most of the results on Zr-2.5Nb obtained from CANDU experience could be used to predict the material performance under light water reactors. This paper reviews the irradiation effects on Zr-2.5Nb in power reactors (including heavy-water and light-water reactors) and summarizes the current state of knowledge. (author)

  20. Ocena wpływu systemu technologicznego oczyszczania ścieków na charakterystykę osadu czynnego

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Izabela Płonka

    2017-09-01

    Full Text Available W przypadku oczyszczania ścieków komunalnych stosowane są procesy biologiczne. Procesy te mogą być realizowane w urządzeniach o różnych rozwiązaniach konstrukcyjnych. W artykule przedstawiono wyniki badań mające na celu określenie wpływu rodzaju systemu technologicznego oczyszczania ścieków na charakterystykę i właściwości osadu czynnego. Zastosowano dwa układy badawcze: przepływowy bioreaktor z wydzielonym osadnikiem (układ I oraz reaktor porcjowy SBR (układ II. Przeprowadzone badania wykazały, że korzystniejsze warunki pracy osadu czynnego panowały w reaktorze SBR. Osad pochodzący z reaktora SBR miał lepsze właściwości sedymentacyjne, na co wskazują uzyskane wartości indeksu objętościowego osadu oraz wielkości kłaczków. W reaktorze SBR nie ma konieczności przepompowywania osadu z osadnika do komory, co ma miejsce w bioreaktorze. W związku z tym osad nie jest poddawany niekorzystnym warunkom podczas transportu hydraulicznego i nie ulega rozdrobieniu. Ponadto wielkości kłaczków, aktywność oddechowa oraz powierzchnia właściwa osadu czynnego pochodzącego z układu II były większe w porównaniu z układem I.

  1. Produksi Hidrogen dari Gliserol dengan metode Pemanasan Konvensional Berbasis γ-Alumina

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fitria Fatmawati

    2014-09-01

    Full Text Available Sumber energi alternatif diperlukan karena menipisnya cadangan bahan bakar fosil. Salah satu sumber energi alternatif adalah biodiesel. Penggunaan biodiesel dalam skala besar akan menghasilkan gliserol yang melimpah sebagai produk samping yang juga menghasilkan harga yang lebih rendah dan biodiesel dengan harga jual yang tinggi. Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah untuk mengkonversi gliserol menjadi produk yang bernilai ekonomis, salah satunya adalah hidrogen. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu persiapan katalis dan reaksi katalitik. Ada 2 jenis katalis yang digunakan yaitu γ-Al2O3 dan Ni/γ-Al2O3.Tahapan pada proses reaksi katalitik, yaitu memasukkan reaktan berupa larutan gliserol P.A. 85% berat sebanyak 20 ml ke dalam tangki pemanas. Kemudian memanaskan reaktan tersebut pada suhu 290oC. Larutan gliserol akan menguap dan mengalir melalui pipa menuju reaktor yang berisi 2 gram katalis dengan variabel suhu 200, 225, 250, 275, dan 300oC. Selanjutnya vapor akan dikondensasi sehingga diperoleh destilat dan non condensable gas. Data yang diperoleh adalah konsentrasi gliserol sisa dan konsentrasi hidrogen yang dianalisis menggunakan GC. Dari hasil penelitian didapatkan pengaruh suhu reaksi dan jenis katalis terhadap konversi dan yield produk. Pengaruh jenis katalis terhadap konversi gliserol dan yield menunjukkan bahwa katalis Ni/γ-Al2O3 menghasilkan lebih besar daripada γ-Al2O3. Konversi gliserol tertinggi dicapai pada suhu 225oC sebesar 96,799% menggunakan 2 gram katalis Ni/γ-Al2O3. Yield hidrogen tertinggi diperoleh pada suhu 250oC menggunakan 2 gram katalis γ-Al2O3, yaitu sebesar 0,000214 gram H2/gram gliserol.

  2. Use of 2sv-technology for thermal utilisation of biomass according to biomass regulation; Einsatz der 2sv-Technologie zur thermischen Verwertung von Biomasse gemaess der Biomasseverordnung

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Nitsche, R. [Mitteldeutsche Feuerungs- und Umwelttechnik GmbH, Leipzig (Germany); Mallon, J. [Ingitec GmbH, Leipzig (Germany); Scheidig, K.

    2001-07-01

    The 2sv-procedure represents an economic alternative to energetic utilisation of biomass and to thermal utilisation of waste. Core piece of the new plant technology is the 2sv-reactor. The speciality of the process is the melting gasification of the used materials with technical oxygen. The metallurgic process technology that is well-known and proved from shaft furnaces is used and thus temperatures of up to 2000 degrees Celsius are reached in a reducing atmosphere. The generated fuel gas has the characteristics of synthesis gas. It is not only suitable for electric current generation in dual purpose power plants but also for the substitution of primary energy carriers in furnace plants. The company MFU GmbH Leipzig-Holzhausen delivers 2vs-plants in modular design for processing capacities of 10, 20 and 30 kt/a. (orig.) [German] Das 2sv-Verfahren stellt eine wirtschaftliche Alternative zur energetischen Nutzung von Biomassen wie auch zur thermischen Abfallverwertung dar. Herzstueck der neuen Anlagentechnik ist der 2sv-Reaktor. Die Besonderheiten des Prozesses bestehen in der Schmelzvergasung der Einsatzstoffe unter Einsatz von technischem Sauerstoff. Unter Nutzung der vom Schachtofen bekannten und bewaehrten metallurgischen Verfahrenstechnik werden dabei Temperaturen bis 2000 C in reduzierender Atmosphaere erreicht. Das erzeugte Brenngas besitzt Synthesegasqualitaet. Es ist sowohl zur Stromerzeugung im BHKW als auch zur Substitution von Primaerenergietraegern in Feuerungsanlagen geeignet. Die MFU GmbH Leipzig-Holzhausen liefert komplette 2sv-Anlagen in Modulbauweise fuer Verarbeitungskapazitaeten von 10, 30 und 50 kt/a. (orig.)

  3. PIROLISIS LIGNIN DARI LIMBAH INDUSTRI KELAPA SAWIT UNTUK PENGEMBANGAN SURFAKTAN DALAM PROSES ENHANCE OIL RECOVERY (EOR (Pyrolysis of Lignin From Waste of Palm Oil Industries for The Development of Surfactants for Enhance Oil Recovery (EOR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Suryo Purwono

    2001-12-01

    Full Text Available ABSTRAK Pirolisis dari lignin yang berasal dari limbah industri kelapa sawit dapat menghasilkan alkohol dan derivatif lainnyd yang dapat digunakan sehagai surfaktan. Prosedur penelitian proses pirolisis ini odalah sebagai berikut: I serabut atau tandan sisa pengolahon kelapa sawit yang sudah dikeringkan dimasukkan kedalam reaktor dengan berat tertentu dan dipanaskan sampai suhu yang diinginkan, 2 produk pirolisis yang keluar dari reoktor kemudian didinginkan sampoi mencapai suhu kamor, 3 hasil cair ditampung didalam gelas ukur dan hasil gasnya ditampung di suatu botol tertentu. Suhu paling baik yang dicapai adalah 4A0 "C untuk lignin yong berasal dari serabut dan 350'C untuk lignin yang berasal dari tandan kelapa sawit. Surfaktan yang dihasilkan sekitar j4 sampai 38% dari produk pirolisis. Pada penelitian ini kecepatan reaksi dianggap order satu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa surfakton yang dihasilkan dapat membentuk emulsi dengan minyak menta.h. Hal ini menunjukkon bahwa surfaktan yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan untuk proses EOR.   ABSTRACT Pyrolysis of lignin from waste of palm oil industries produces alcohol and its derivatives which can be sulfonated to become surfactant. The experimental procedures for the pyrolysis process were as follows: 1 dried palm oil husks at a certain weight were put into the pyrolysis reactor and heated up to a certain temperafure; 2 the product leaving the reactor was cooled down to room temperature; and 3 the liquid product was collected in a flask while the gas product was put into a big bottle. The best temperature obtained for producing liquid product was 400 oC for lignin from palm oil fruit fibers and 350 oC for lignin from palm oil fruit stems. The surfactant developed was in the range between 34 and 38% from the pyrolysis product. In this experiment, the reaction rate was assumed to be in first order. The result showed that the surfactant obtained from the experiment could form emulsion

  4. PENGARUH NILAI BAKAR TERHADAP INTEGRITAS KELONGSONG ELEMEN BAKAR TRIGA 2000

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    K.A. Sudjatmi

    2015-04-01

    Full Text Available Bentuk elemen bakar reaktor TRIGA Bandung adalah silinder padat yang merupakan campuran homogen paduan uranium dan zirkonium hidrida. Pada saat reaktor beroperasi, suhu elemen bakar akan bertambah, akibatnya akan menaikan tekanan gas-gas yang ada di dalam kelongsong elemen bakar. Tekanan gas yang timbul dalam kelongsong elemen bakar merupakan penjumlahan tiga komponen tekanan yaitu tekanan akibat udara yang terperangkap antara kelongsong dengan bahan bakar, tekanan oleh gas hasil fisi yang terbentuk dari elemen bakar dan tekanan yang berasal dari pemisahan hidrogen dari paduan zirkonium hidrida. Gas hasil fisi yang terbentuk oleh bahan bakar sebanding dengan besarnya fraksi bakar oleh setiap elemen bakar dalam teras reaktor. Semakin besar fraksi bakar elemen bakar, semakin besar gas gas hasil fisi yang dihasilkannya, akibatnya semakin besar tekanan di dalam kelongsong yang disebabkan oleh gas gas hasil fisi tersebut. Perhitungan jumlah gas-gas hasil fisi dalam kelongsong yang merupakan fungsi dari nilai bakar dilakukan dengan menggunakan program ORIGEN-2. Program ORIGEN-2 adalah kode komputer yang banyak digunakan untuk menghitung hasil fisi, peluruhan dan pengolahan bahan radioaktif. Tampang lintang, presentase timbulnya hasil fisi, data peluruhan, dan data lainnya yang diperlukan disediakan dalam pustaka data selama eksekusi program. Dari hasil perhitungan dapat disimpulkan bahwa tekanan gas yang diakibatkan oleh gas hasil fisi adalah 4,13 10-3 psi dan tekanan gas yang diakibatkan udara yang terjebak di dalam kelongsong adalah 56,6 psi, yang mengakibatkan tegangan pada kelongsong sebesar 2080 psi dan nilai ini jauh lebih kecil dari setengah tegangan luluh bahan kelongsong sebesar 12.000 psi pada temperatur 750 oC atau sekitar 40.000 psi pada temperatur 138 oC. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa dilihat dari sisi nilai bakar, maka elemen bakar layak digunakan sampai mencapai nilai bakar maksimum. Kata kunci : TRIGA, nilai bakar, elemen bakar

  5. ANALISIS EFEK KECELAKAAN WATER INGRESS TERHADAP REAKTIVITAS DOPPLER TERAS RGTT200K

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Zuhair Zuhair

    2015-03-01

    Full Text Available Dalam high temperature reactor, koefisien reaktivitas temperatur yang didesain negatif menjamin reaksi fisi dalam teras tetap berada di bawah kendali dan panas peluruhan tidak akan pernah melelehkan bahan bakar yang menyebabkan terlepasnya zat radioaktif ke lingkungan. Namun masuknya air (water ingress ke dalam teras reaktor akibat pecahnya tabung penukar panas generator uap, yang dikenal sebagai salah satu kecelakaan dasar desain, dapat mengintroduksi reaktivitas positif dengan potensi bahaya lainnya seperti korosi grafit dan kerusakan material struktur reflektor. Makalah ini akan menganalisis efek kecelakaan water ingress terhadap reaktivitas Doppler teras RGTT200K. Kapabilitas koefisien reaktivitas Doppler untuk mengkompensasi reaktivitas positif yang timbul selama kecelakaan water ingress akan diuji melalui serangkaian perhitungan dengan program MCNPX dan pustaka ENDF/B-VII untuk perubahan temperatur bahan bakar dari 800K hingga 1800K. Tiga opsi kernel bahan bakar UO2, ThO2/UO2 dan PuO2 dengan tiga model kisi bahan bakar pebble di teras reaktor diterapkan untuk kondisi water ingress dengan densitas air dari 0 hingga 1.000 kg/m3. Hasil perhitungan memperlihatkan koefisien reaktivitas Doppler tetap negatif untuk seluruh opsi bahan bakar yang dipertimbangkan bahkan untuk posibilitas water ingress yang besar. Efek water ingress lebih kuat pada model kisi dengan fraksi packing lebih rendah karena lebih banyak volume yang tersedia untuk air yang memasuki teras reaktor. Efek water ingress juga lebih kuat di teras uranium dibandingkan teras thorium dan plutonium sebagai konsekuensi dari fenomena Doppler dimana absorpsi neutron di daerah resonansi 238U lebih besar daripada 232Th dan 240Pu. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa, koefisien Doppler teras RGTT200K mampu mengkompensasi insersi reaktivitas yang diintroduksi oleh kecelakaan water ingress. Teras RGTT200K dengan bahan bakar UO2, ThO2/UO2 dan PuO2 dapat mempertahankan fitur keselamatan

  6. Hybridization and control of a mobile direct methanol fuel cell system; Hybridisierung und Regelung eines mobilen Direktmethanol-Brennstoffzellen-Systems

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Wilhelm, Joerg Christoph

    2010-07-01

    for the dimensioning of the fuel cell as well as of the energy storage unit. Variation of parameters results in a minimum required fuel cell power of 1.3 kW as well as a minimum energy density of 66 Wh/l or a minimum power density of 355 W/l for the energy storage unit, respectively. The high energy density required and the fact that the energy storage unit must always be operated at a partial state of charge leads to faster aging, particularly of lead-acid batteries, so that a lithium battery is eventually chosen as an energy storage unit. (orig.) [German] Direktmethanol-Brennstoffzellen (DMFCs) zeichnen sich dadurch aus, dass sie die chemische Energie des fluessig zugefuehrten Brennstoffs Methanol direkt in elektrische Energie umwandeln. Methanol hat eine hohe Energiedichte und laesst sich vergleichsweise einfach speichern. Aufgrund dieser Vorteile eignen sich Direktmethanol-Brennstoffzellen- Systeme z. B. als Batterieersatz fuer den Bereich leichte Traktion in der kW-Klasse. Da das Nachtanken im Vergleich zum Laden einer Batterie viel schneller realisierbar ist, folgt hieraus ein nahezu unterbrechungsfreier Betrieb. Das Ziel der vorliegenden Arbeit ist es daher ein Direktmethanol-Brennstoffzellen-System fuer den Bereich leichte Traktion zu entwickeln. Die systemtechnische Entwicklung und Charakterisierung eines mobilen Direktmethanol-Brennstoffzellen-Systems erfolgt zuerst allgemein und anschliessend angewandt auf das Beispiel Horizontalkommissionierer aus der Klasse der Flurfoerderfahrzeuge. Hierfuer soll sowohl ein Hybridisierungs- als auch ein Regelungskonzept entwickelt werden. Die gewaehlte Vorgehensweise gliedert sich in die Charakterisierung der Anwendung, die theoretische Konzeptentwicklung und eine abschliessende Systemanalyse mithilfe von Untersuchungen am Teststand und Simulationen. Aus der Charakterisierung folgt der charakteristische Fahrzyklus der Anwendung. Die Eckdaten, wie maximale Peakleistungen beim Beschleunigen und Bremsen sowie die

  7. mRNA cap methylation influences pathogenesis of vesicular stomatitis virus in vivo.

    Science.gov (United States)

    Ma, Yuanmei; Wei, Yongwei; Zhang, Xiaodong; Zhang, Yu; Cai, Hui; Zhu, Yang; Shilo, Konstantin; Oglesbee, Michael; Krakowka, Steven; Whelan, Sean P J; Li, Jianrong

    2014-03-01

    One role of mRNA cap guanine-N-7 (G-N-7) methylation is to facilitate the efficient translation of mRNA. The role of mRNA cap ribose 2'-O methylation is enigmatic, although recent work has implicated this as a signature to avoid detection of RNA by the innate immune system (S. Daffis, K. J. Szretter, J. Schriewer, J. Q. Li, S. Youn, J. Errett, T. Y. Lin, S. Schneller, R. Zust, H. P. Dong, V. Thiel, G. C. Sen, V. Fensterl, W. B. Klimstra, T. C. Pierson, R. M. Buller, M. Gale, P. Y. Shi, M. S. Diamond, Nature 468:452-456, 2010, doi:10.1038/nature09489). Working with vesicular stomatitis virus (VSV), we previously showed that a panel of recombinant VSVs carrying mutations at a predicted methyltransferase catalytic site (rVSV-K1651A, -D1762A, and -E1833Q) or S-adenosylmethionine (SAM) binding site (rVSV-G1670A, -G1672A, and -G4A) were defective in cap methylation and were also attenuated for growth in cell culture. Here, we analyzed the virulence of these recombinants in mice. We found that rVSV-K1651A, -D1762A, and -E1833Q, which are defective in both G-N-7 and 2'-O methylation, were highly attenuated in mice. All three viruses elicited a high level of neutralizing antibody and provided full protection against challenge with the virulent VSV. In contrast, mice inoculated with rVSV-G1670A and -G1672A, which are defective only in G-N-7 methylation, were attenuated in vivo yet retained a low level of virulence. rVSV-G4A, which is completely defective in both G-N-7 and 2'-O methylation, also exhibited low virulence in mice despite the fact that productive viral replication was not detected in lung and brain. Taken together, our results suggest that abrogation of viral mRNA cap methylation can serve as an approach to attenuate VSV, and perhaps other nonsegmented negative-strand RNA viruses, for potential application as vaccines and viral vectors. Nonsegmented negative-sense (NNS) RNA viruses include a wide range of significant human, animal, and plant pathogens. For many

  8. DRUCKFLAMM - Investigation on combustion and hot gas cleanup in pulverized coal combustion systems. Final report; DRUCKFLAMM - Untersuchungen zur Verbrennung und Heissgasreinigung bei der Druckkohlenstaubfeuerung. Schlussbericht

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Hein, K.R.G.; Benoehr, A.; Schuermann, H.; Stroehle, J.; Klaiber, C.; Kuhn, R.; Maier, J.; Schnell, U.; Unterberger, S.

    2001-07-01

    facility of the Technical University of Aachen. (orig.) [German] Die Bestrebungen einer effizienten und schadstoffarmen Energieversorgung fuehrten bei der Kohleverbrennung zur Entwicklung von kohlebasierten Kombikraftwerken, die im Vergleich zum konventionellen Kondensationskraftwerk eine deutliche Anhebung des Nettowirkungsgrades erlauben. Eines der Kombikraftwerkskonzepte auf Kohlebasis stellt die Druckkohlenstaubfeuerung dar, die gegenueber den anderen Konzepten das hoechste Wirkungsgradpotential aufweist. Das Ziel dieses Forschungsvorhabens war die Gewinnung gesicherter Erkenntnisse hinsichtlich des Feuerungsverhaltens von Kohle in einer Druckkohlenstaubfeuerung. Es wurden an einem Druckflugstromreaktor detaillierte Untersuchungen zur Brennstoffumsetzung und zum Partikelverhalten, zur Schadstoffbildung und zum Werkstoffverhalten unter Bedingungen der Druckkohlenstaubfeuerung durchgefuehrt. Im Laufe des Forschungsvorhabens wurden einige neue Messtechniken eingesetzt und teilweise auch angeschafft, wie zum Beispiel ein Zwei- Farb-Pyrometer zur simultanen Erfassung von Partikeloberflaechentemperatur und Partikeldurchmesser von brennenden Brennstoffpartikeln. Parallel zu den experimentellen Untersuchungen wurde an der Erarbeitung neuer Berechnungsmodelle gearbeitet, um eine spaetere Feuerraumsimulation fuer ein verbessertes Scale-Up zu ermoeglichen. Die am Druckflugstromreaktor gewonnenen Ergebnisse zeigen, dass der erhoehte Systemdruck sich auf sehr viele Verbrennungsmechanismen stark auswirkt, so konnte eine schnellere Brennstoffumsetzung und gleichzeitig verminderte Stickoxid- und Alkaligasemission nachgewiesen werden. Die Werkstoffuntersuchungen zeigten, dass die aufgrund der sehr hohen Verbrennungstemperaturen benoetigten Keramikwerkstoffe sehr empfindlich gegenueber Verschlackung und schnellen Temperaturwechseln sind, weshalb hinsichtlich der benoetigten Standzeiten in einer zu realisierenden Druckbrennkammer noch erheblicher Entwicklungsbedarf besteht. Hinsichtlich

  9. Lehre 2.0 - Wie werden Social Media und Web 2.0 in die medizinische Ausbildung eingebunden? Ein systematischer Literaturüberblick [Education 2.0 - How has social media and Web 2.0 been integrated into medical education? A systematical literature review

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ückert, Frank

    2013-02-01

    Full Text Available [english] Objective: Present-day students have grown up with considerable knowledge concerning multi-media. The communication modes they use are faster, more spontaneous, and independent of place and time. These new web-based forms of information and communication are used by students, educators, and patients in various ways. Universities which have already used these tools report many positive effects on the learning behaviour of the students. In a systematic literature review, we summarized the manner in which the integration of Social Media and Web 2.0 into education has taken place. Method: A systematic literature search covering the last 5 years using MeSH terms was carried out via PubMed.Result: Among the 20 chosen publications, there was only one German publication. Most of the publications are from the US and Great Britain. The latest publications report on the concrete usage of the tools in education, including social networking, podcasts, blogs, wikis, YouTube, Twitter and Skype.Conclusion: The integration of Web 2.0 and Social Media is the modern form of self-determined learning. It stimulates reflection and actively integrates the students in the construction of their knowledge. With these new tools, the students acquire skills which they need in both their social and professional lives. [german] Zielsetzung: Die Studierenden sind mit einem hohen multimedialen Bezug aufgewachsen. Die von ihnen genutzten Kommunikationswege sind schneller, spontaner und unabhängig von Ort und Zeit geworden. Diese neuen webbasierten Informations- und Kommunikationswege werden von Studierenden, Lehrenden und Patienten in vielfältigen Weisen genutzt. Universitäten, die diese Tools in der Lehre einsetzten, berichten über viele positive Auswirkungen auf das Lernverhalten der Studierenden. In einer systematischen Literaturübersicht wird zusammengestellt, für welche Lehr- und Lernformen Social Media und Web 2.0 Tools in der derzeitigen medizinischen

  10. Comparison of left and right ventricular ejection and filling parameters by fast cine MR imaging in breath-hold technique: clinical study of 42 patients with cardiomyopathy and coronary heart disease; Vergleich links- und rechtsventrikulaerer Auswurf- und Fuellungsparameter des Herzens mittels Cine MRT in Atemanhaltetechnik: klinische Studie an 42 Patienten mit Kardiomyopathie und koronarer Herzerkrankung

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Rominger, M.B.; Bachmann, G.F.; Geuer, M.; Puzik, M.; Rau, W.S. [Giessen Univ. (Germany). Diagnostische Radiologie; Ricken, W.W. [Kerckhoff-Klinik GmbH, Bad Nauheim (Germany). Abt. Kardiologie

    1999-06-01

    Purpose: Quantification of left and right ventricular filling and ejection of localized and diffuse heart diseases with fast cine MR imaging in breath-hold technique. Methods: 42 patients (14 idiopathic dilated cardiomyopathies (DCM), 13 hypertrophic cardiomyopathies (HCM) and 15 coronary artery diseases (CAD)) and 10 healthy volunteers were examined. Time-volume-curves of three left ventricular and one right ventricular slices were evaluated and peak ejection and filling rates (PER, PFR end-diastolic volume (EDV)/s) time to PER and PFR (TPER, TPFR ms) and time of end-systole (TSYS in % RR-intervall) were calculated. Results: There were significant regional and left-/right-sided differences of the filling and ejection of both ventricles within and between the different groups. In DCM the left ventricular PFR was reduced (DCM 3.1 EDV/s; volunteers 4.9 EDV/s) and Z-SYS prolonged (DCM 50.1%; volunteers 35.4%). In CAD there were localized decreased filling rates in comparison to the normal volunteer group (left ventricle: basal: 2.9 and 6.3 EDV/s, apical: 4.4 and 6.3 EDV/s; right ventricle: 3.6 and 5.7 EDV/s). HCM typically showed an isovolumetric lengthening of the endsystole. Conclusions: Cardiac MR imaging in breath-hold technique is suitable for measuring contraction and relaxation disturbances of localized and diffuse heart diseases by means of ejection and filling volume indices. (orig.) [Deutsch] Ziel: Quantifizierung der links- und rechtsventrikulaeren Fuellung und des Auswurfs bei umschriebenen und diffusen Herzerkrankungen mittels schneller Cine MR Bildgebung in Atemanhaltetechnik. Methoden: Untersucht wurden 42 Patienten (14 dilatative Kardiomyopathien (DCM), 13 hypertrophe obstruktive Kardiomyopathien (HCM) und 15 koronare Herzerkrankungen (KHK)) und 10 Probanden. Von drei linksventrikulaeren und einer rechtsventrikulaeren Einzelschicht wurden Zeit-Volumen-Kurven erstellt, aus denen die maximale Auswurf- und Fuellrate (MAR) (MFR eddiastolisches Volumen (EDV

  11. Diagnosis of pulmonary embolism with multislice spiral CT; Diagnostik der Lungenembolie mit der Mehrschicht-Spiral-CT

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Schoepf, U.J.; Kessler, M.A.; Rieger, C.; Boehme, E.; Becker, C.R.; Reiser, M.F. [Klinikum der Univ. Muenchen (Germany). Inst. fuer Klinische Radiologie; Schaller, S.; Ohnesorge, B.M.; Niethammer, M. [Siemens Medizinische Technik, Forchheim (Germany). Computertomographie

    2001-03-01

    konkurrierenden Verfahren liegt in der sicheren Erfassung differenzialdiagnostisch wichtiger Erkrankungen. Der Anerkennung der CT als neuer Goldstandard in der Diagnostik der Lungenembolie stand bisher die umstrittene Genauigkeit dieser Methode fuer den Nachweis subsegmentaler und kleinerer Embolien entgegen, auch wenn die klinische Bedeutung isolierter peripherer Embolien weiter ungeklaert bleibt. Mit der Einfuehrung der Mehrschicht-Spiral-CT verfuegen wir heute ueber die Moeglichkeit, den gesamten Thorax eines Patienten mit vermuteter Lungenembolie in einer Atemanhaltephase mit 1 mm Schichtdicke zu untersuchen. Im Vergleich zu dickeren Schichten kann mit der 1-mm-Schicht der Nachweis subsegmentaler Embolien signifikant gesteigert werden. Die hierbei erzielbare Reproduzierbarkeit der Diagnose bei Auswertung durch mehrere Beobachter uebertrifft deutlich die der konkurrierenden Verfahren. Der Wert der CT zur zeitnahen Diagnostik des tiefen Venensystems in der selben Sitzung erscheint mittlerweile ebenfalls gut belegt. In der ganz ueberwiegenden Mehrzahl der Patienten werden durch die kombinierte Untersuchung des Thorax und des infradiaphragmalen Venensystems die Verdachtsdiagnosen bestaetigt bzw. therapierelevante andere Diagnosen gestellt. Entscheidend fuer die Wahl einer adaequaten Therapie sind die funktionellen Auswirkungen der embolischen Gefaessverschluesse. Mit der Einfuehrung schneller CT-Techniken ist mittlerweile auch eine Beurteilung der Lungenperfusion moeglich geworden. Insgesamt erscheint somit die Mehrschicht-Spiral-CT als eine attraktive Methode fuer eine nichtinvasive, schnelle, genaue und umfassende Diagnostik bei Patienten mit vermuteter Lungenembolie. (orig.)

  12. Increased radiosensitivity of HPV-positive head and neck cancer cell lines due to cell cycle dysregulation and induction of apoptosis

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Arenz, Andrea; Ziemann, Frank; Wittig, Andrea; Preising, Stefanie; Engenhart-Cabillic, Rita [Philipps-University, Department of Radiotherapy and Radiooncology, BMFZ - Biomedical Research Center, Marburg (Germany); Mayer, Christina; Wagner, Steffen; Klussmann, Jens-Peter; Wittekindt, Claus [Justus Liebig University, Department of Otorhinolaryngology and Head and Neck Surgery, Giessen (Germany); Dreffke, Kirstin [Philipps-University, Institute for Radiobiology and Molecular Radiooncology, Marburg (Germany)

    2014-09-15

    -negativen (UD-SCC-1, UM-SCC-6, UM-SCC-11b, UT-SCC-33) Kopf- und Halstumorzelllinien nach Bestrahlung untersucht. Die hoehere Strahlenempfindlichkeit HPV-assoziierter Zelllinien konnte in vitro bestaetigt werden (MW SF2 HPV-positive Zelllinien: 0,198, (range: 0,22-0,18), MW SF2 HPVnegative Zelllinien: 0,34 (0,45-0,27); p = 0,010) (Fig. 1). Durch Zellzyklusanalysen konnte gezeigt werden, dass HPV-positive Zellen nach einem DNA-Schaden die SPhase-schneller durchschreiten und DNA-Schaeden in der G2/M-Phase akkumulieren (Figs. 2 und 3). Diese abnorme Schadenskontrolle im Zellzyklus HPV-positiver Zellen geht mit einer gesteigerten Apoptoserate und einer hoeheren Anzahl nicht reparierter DNA-Strangbrueche (Fig. 5, 6) einher. Das bessere strahlentherapeutische Ansprechen HPV-assoziierter Tumore koennte in der Dysregulierung des Zellzyklus und in einer verminderten Reparaturleistung begruendet sein. (orig.)

  13. Functional magnetic resonance imaging in neuroradiology; Funktionelle Magnetresonanztomographie in der Neuroradiologie

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Essig, M.; Schoenberg, S.O.; Schlemmer, H.P.; Metzner, R.; Kaick, G. van [Deutsches Krebsforschungszentrum, Heidelberg (Germany). Forschungsschwerpunkt Radiologische Diagnostik und Therapie

    2000-10-01

    The assessment of cerebral functions has long been the domain of positron-emission tomography and single photon emission computed tomography. The use of rapid imaging sequences and contrast agents enables physiological and pathophysiological cerebral processes to be assessed and monitored by magnetic resonance imaging. Both T1- and T2*-weighted contrast-enhanced fast imaging sequences can be used to assess tissue perfusion, vascularity, and microcirculation by applying models developed in nuclear medicine. The diffusion of water molecules and hemodynamic aspects of the macrovasculature can also be monitored. Functional magnetic resonance (MR) imaging enables the visualization of neuronal function and activity, and MR spectroscopy makes possible the metabolic mapping of lesions and surrounding tissue. The advantages of MR techniques includes their low invasiveness, multiplanar imaging ability, and lack of radiation. This contribution discusses the clinical use of functional MR imaging methods and their role in neuroradiological diseases. Measuring perfusion and diffusion allows detailed insight into the pathophysiology of cerebral ischemia and is already being used routinely in acute ischemic stroke. Dynamic MR angiography enables the hemodynamic assessment of vascular malformations. In CNS neoplasms these imaging techniques can improve lesion characterization and the selecting, planning, and monitoring of therapy. Functional MR imaging techniques have also revolutionized the study of psychiatric illness; however, their clinical utility here is still limited. Initial results in patients with dementia and schizophrenia have provided insight into the pathophysiological changes of these diseases. (orig.) [German] Funktionelle Untersuchungen des Gehirns waren lange Zeit lediglich mit nuklearmedizinischen Methoden wie der Positronenemissionstomographie (PET) und der Single-Photonen-Emission-Computed-Tomography (SPECT) moeglich. Durch den Einsatz schneller

  14. Diffusion-weighted imaging of the pancreas; Diffusionsbildgebung des Pankreas

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Gruenberg, K. [Deutsches Krebsforschungszentrum (DKFZ) Heidelberg, Abteilung Radiologie, E010, Heidelberg (Germany); Grenacher, L.; Klauss, M. [Universitaetsklinikum Heidelberg, Abt. Diagnostische und Interventionelle Radiologie, Heidelberg (Germany)

    2011-03-15

    Diffusion-weighted imaging (DWI) has increasingly gained in importance over the last 10 years especially in cancer imaging for differentiation of malignant and benign lesions. Through development of fast magnetic resonance imaging (MRI) sequences DWI is not only applicable in neuroradiology but also in abdominal imaging. As a diagnostic tool of the pancreas DWI enables a differentiation between normal tissue, cancer and chronic pancreatitis. The ADC values (apparent diffusion coefficient, the so-called effective diffusion coefficient) reported in the literature for healthy pancreatic tissue are in the range from 1.49 to 1.9 x 10{sup -3} mm{sup 2}/s, for pancreatic cancer in the range from 1.24 to 1.46 x 10{sup -3} mm{sup 2}/s and for autoimmune pancreatitis an average ADC value of 1.012 x 10{sup -3} mm{sup 2}/s. There are controversial data in the literature concerning the differentiation between chronic pancreatitis and pancreatic cancer. Using DWI-derived IVIM (intravoxel incoherent motion) the parameter f (perfusion fraction) seems to be advantageous but it is important to use several b values. In the literature the mean f value in chronic pancreatitis is around 16%, in pancreatic cancer 8% and in healthy pancreatic tissue around 25%. So far, DWI has not been helpful for differentiating cystic lesions of the pancreas. There are many references with other tumor entities and in animal models which indicate that there is a possible benefit of DWI in monitoring therapy of pancreatic cancer but so far no original work has been published. (orig.) [German] Die Diffusionsbildgebung (''diffusion-weighted imaging'', DWI) gewann in den letzten 10 Jahren insbesondere in der Tumorbildgebung zur Unterscheidung zwischen malignen und benignen Laesionen zunehmend an Bedeutung. Durch Entwicklung schnellerer MR-Sequenzen ist sie nicht nur in der Neuroradiologie, sondern auch in der Abdomenbildgebung einsetzbar. In der Pankreasdiagnostik ermoeglicht sie

  15. User's guide to the wetland creation/restoration data base, version 2

    Science.gov (United States)

    Miller, Lee; Auble, Gregor T.; Schneller-McDonald, Keith

    1991-01-01

    at least some of its functions) is similar to constructing a picture from a number of puzzle pieces--missing pieces represent data gaps or information that is not available. Articles range from specific case studies, to overviews of restoration methods and techniques, to planning restoration projects and assessing programmatic and administrative backgrounds and interactions.In this data base, the term "restoration" is applied loosely to include rehabilitation of wetlands. It may refer to a number of situations or actions including, but not limited to:1. breaching dikes or plugging drains;2. water pollution clean-up;3. conversion of eutrophic conditions;4. wastewater treatment;5. recolonization of previously disturbed or denuded areas;6. amelioration of adverse conditions (erosion, wave, or wind action);7. soil treatment --mulching, fertilization;8. rerouting streams --may include construction of meander patterns;9. monitoring natural vegetation; or0. excluding grazers (geese, cattle) and monitoring results.This report describes the format and content of Version 2 of the WCR data base. Version 2 differs from the previous version described in SchnellerMcDonald et al. (1988): several fields have been dropped and condensed and new records have been added. Version 2 includes all records distributed with the earlier version and its updates. We recommend you replace any previous version with Version 2.

  16. Solution of multiple trait animal models with missing data on some traits.

    Science.gov (United States)

    Ducrocq, V; Besbes, B

    1993-01-12

    é (2 ` 3 fois plus rapide que la transformation triangulaire) et quand un grand nombre de caractères sont considérés simultanément. ZUSAMMENFASSUNG: Lósung bei Mehrmerkmalsmodellen und teilweise fehlenden Daten bei einzelnen Merkmalen Beim Mehrmerkmal-Tiermodell können mehrere Transformationen (kanonisch, Winkel, kombiniert) zur Reduktion der Gleichungszahl oder zur Steigerung der null Elemente verwendet werden. Eine einfache Methode, die auf EM-Schlußfolgerungen beruht und fehlende Beobachtungen mit ihren Erwartungswerten (aufgrund gegebener Parameter) ersetzt, gestattet Verwendung kanonischer Transformation bei teilweise fehlenden Daten und vernachlässigbarer Selektion. Das Konvergenzverhalten verschiedener Ansätze wurde an realem Datenmaterial mit simulierten Fehlmustern verglichen. Die erweiterte Transformation ist immer besser als die Winkeltransformation, und diese kanonische Transformation führt hinsichtlich CPU-Zeit zur schnellsten Konvergenz, besonders wenn ein reduziertes Tiermodell mit mehreren Merkmalen verwendet wurde (2- bis 3 mal schneller als Winkeltransformation). 1993 Blackwell Verlag GmbH.

  17. Produksi Biofuel dari Minyak Kelapa Sawit dengan Katalis Au/HZSM-5 dan Kompositnya

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tillotama Anindita Sari

    2012-09-01

    diperoleh untuk katalis Au/HZSM-5 yield tertinggi kerosene 25,24%, gasoline 15,69% dan diesel 10,71% pada temperatur reaktor 500 °C dengan laju alir  gas N2 90 ml/min. Untuk katalis Komposit (HZSM-5/MCM-41 yield tertinggi diesel 26,53%, kerosene 19,26% dan gasoline 6,41% pada temperatur 450 °C laju alir 300 ml/min serta pada temperatur 350 °C dengan laju alir 90 ml/min dengan yield diesel tertinggi 24,38%, kerosene 18,84% dan gasoline 4,41%.

  18. KONVERSI LIMBAH TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT MENJADI GLUKOSA DENGAN PROSES HIDROTERMAL TANPA MELALUI PROSES PRETREATMENT - (Conversion of Waste Palm Oil Empty Fruit Bunches into Glucose using Hydrothermal Process without Pretreatment

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rakhman Sarwono

    2016-12-01

    Full Text Available Palm oil empty fruit bunch (EFB is a waste from palm oil industry and commonly used as compost for soil breeding. EFB could be hydrolized into glucose using hydrothermal process with hydrochloric acid as catalyst.  Eight gram of EFB in particle sizes (–30+40 mesh were hydrolyzed with HCl 10% 80 mL in a tube reactor. Reaction time were 2, 3 and 4 hours in temperature range 140-240oC. EFB decomposition did not increase despite of higher temperature while reaction time influenced the process significantly. EFB conversion was 47% in 4 hours and 240oC while in 3 hours resulted 34% same with 2 hours in 210oC. EFB decomposition did not influence glucose yield which was 23% in 2 hours  170oC, 24% in 3 hours 160oC and 6% in 4 hours 150oC. The optimum conditions of conversion were 2 and 3 hours with temperature range 150-170oC.Keywords: conversion, EFB, glucose, hydrothermal, pretreatment ABSTRAKLimbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS merupakan hasil samping dari industri minyak sawit dan terdapat dalam jumlah banyak. Sampai saat ini belum termanfaatkan dengan baik, biasanya dipakai sebagai kompos untuk pemuliaan tanah perkebunan sawit. Persentase TKKS sebesar 23% dari tandan buah segar (TBS dengan komponen utama berupa selulosa, hemi-selulosa dan lignin. TKKS bisa dihidrolisis menjadi gula atau glukosa dengan proses hidrotermal menggunakan katalis asam klorida. TKKS  seberat 8 g dengan ukuran partikel (–30+40 mesh dikonversi secara hidrotermal pada reaktor tabung dengan penambahan 80 ml HCl 10% sebagai katalis, waktu reaksi 2, 3 dan 4 jam, suhu reaksi dari 120–240oC. Proses peruraian TKKS tidak menunjukkan kenaikan yang berarti walaupun suhu reaksi semakin tinggi. Waktu reaksi memberi pengaruh yang lebih besar terhadap peruraian TKKS dimana peruraian paling tinggi sebesar 47% pada suhu 240oC dan waktu reaksi 4 jam. Pada waktu reaksi 3 jam dihasilkan peruraian TKKS paling tinggi sebesar 34%, sama dengan hasil pada waktu 2 jam dan suhu 210o

  19. VERIFIKASI MODEL KONDENSASI PADA RELAP5/SCDAPSIM/MOD 3.4

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Surip Widodo

    2015-03-01

    Full Text Available RELAP5/SCDAPSIM /MOD3.4 merupakan salah satu program komputer yang sering digunakan untuk menganalisis sistem keselamatan reaktor nuklir. Untuk mengetahui keakuratan program komputer ini dalam memprediksi koefisien perpindahan kalor kondensasi uap yang tercampur dengan gas tak-dapat terkondensasi, maka perlu dilakukan verifikasi model kondensasi yang ada di dalam program komputer tersebut. Verifikasi dilakukan dengan cara membandingkan prediksi nilai koefisien perpindahan panas kondensasi RELAP5/SCDAPSIM/MOD3.4 dengan nilai yang didapat dari hasil eksperimen. Perbandingan dilakukan dengan cara mensimulasikan fasilitas eksperimen PCCS ke dalam model input untuk RELAP5. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa model kondensasi pada RELAP5 memprediksi koefisien perpindahan kalor kondensasi lebih rendah 20% dibandingkan dengan nilai hasil eksperimen walaupun mempunyai kecenderungan yang sama. Oleh karena itu diperlukan korelasi kondensasi yang lebih baik untuk diterapkan pada RELAP5/SCDAPSIM/MOD3.4 guna memperbaiki nilai koefisien perpindahan kalor kondensasi uap yang tercampur dengan gas tak-dapat terkondensasi. Kata kunci: model kondensasi, perpindahan kalor, tak-dapat terkondensasi, RELAP5/SCDAPSIM/MOD3.4, fasilitas eksperimen PCCS.   RELAP5/SCDAPSIM/MOD3.4 is one of computer programs that is often used for performing nuclear reactor safety system analysis. In order to know the accuracy of this computer program in predicting condensation heat transfer coefficient of vapor mixed with non-condensable gas, it is necessary to perform verification of the condensation model in the computer program. The verification is done by comparing prediction of condensation heat transfer coefficient value of RELAP5/SCDAPSIM/MOD3.4 with condensation heat transfer coefficient value of experiment result.. The comparison was done by performing simulation PCCS experiment facility into RELAP5 input model. The verification results indicate that RELAP5’s condensation model

  20. Tingkat Keamanan Konsumsi Residu Karbamat dalam Buah dan Sayur Menurut Analisis Pascakolom Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bambang Wispriyono

    2013-02-01

    Full Text Available Karbamat merupakan salah satu jenis pestisida yang banyak digunakan untuk membasmi hama buah dan sayur. Untuk menentukan bahwa residu karbamat dalam sayuran masih aman dikonsumsi manusia, telah dilakukan analisis beberapa residu karbamat seperti metomil, karbaril, karbofuran, dan propoksur. Sampel-sampel tomat, apel, selada air, kubis, dan sawi hijau dikumpulkan dari tiga supermarket dan satu pasar tradisional di Depok, Jawa Barat. Analisis dilakukan serempak untuk ke empat residu karbamat menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi denganpereaksi o-ftalaldehida dan 2-merkaptoetanol dalam reaktor pascakolom dengan detektor fluoresensi. Dari sampel-sampel buah dan sayur yang dianalisis, hanya sawi hijau asal pasar tradisional yang positif mengandung propoksur dengan kadar 1,2 mg/25 gram berat basah (0,048 mg/g berat basah. Dengan Acceptable Daily Intake(ADI propoksur 0,005 mg/kg berat badan/hari, konsumsi sawi hijau harian seberat 20 g/hari masih cukup aman dari gangguan kesehatan akibat pajanan kronik propoksur dengan margin of safety 298,7 (> 100 sebagai batas aman. Carbamat is a group of pesticides which is commonly used to control fruits and vegetables pests. To determine that carbamat residues in fruits and vegetables are safe for human consumption, carbamate residues such as methomyl, carbaryl, carbofuran, and propoxur in vegetables and fruits have been analyzed. Samples of tomato, apple, water lettuces, cabbage, and mustard greens were collected from three supermarkets and one traditional market in Depok, West Java. The analysis was carried out simultaneously for all four carbamate residues by high performance liquid chromatography using o-phtaladehyde and 2 mercaptoethanol reagents in post-column reactor with a fluorescence detector. Of fruits and vegetable samples analyzed, only mustard greens from traditional market positively containe propoxur at 1.2 mg/ 25 gram wet weight (0,048 mg/gram wet weight. With Acceptable Daily Intake (ADI

  1. ANALISIS TRANSIEN PADA FIXED BED NUCLEAR REACTOR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M. Rizaal

    2015-03-01

    Full Text Available Desain teras Fixed Bed Nuclear Reactor (FBNR yang modular memungkinkan pengendalian daya dapat dilakukan dengan mengatur ketinggian suspended core dan laju aliran massa pendingin. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari perubahan daya termal teras sebagai akibat perubahan laju aliran massa pendingin yang masuk ke teras reaktor dan perubahan ketinggian suspended core serta mempelajari karakteristik keselamatan melekat yang dimiliki FBNR saat terjadi kegagalan pelepasan kalor (loss of heat sink. Keadaan neutronik teras dimodelkan pada kondisi tunak dengan menggunakan paket program Standard Reactor Analysis Code (SRAC untuk memperoleh data fluks neutron, konstanta grup, fraksi neutron kasip, konstanta peluruhan prekursor neutron kasip, dan beberapa parameter teras penting lainnya. Selanjutnya data tersebut digunakan pada perhitungan transien sebagai syarat awal. Analisis transien dilakukan pada tiga kondisi, yaitu saat terjadi penurunan laju aliran massa pendingin, saat terjadi penurunan ketinggian suspended core, dan saat terjadi kegagalan sistem pelepasan kalor. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan laju aliran massa pendingin sebesar 50%, dari kondisi normal, menyebabkan daya termal teras turun 28% dibanding daya sebelumnya. Penurunan ketinggian suspended core sebesar 30% dari ketinggian normal menyebabkan daya termal teras turun 17% dibanding daya sebelumnya. Sementara untuk kondisi kegagalan sistem pelepasan kalor, daya termal teras mengalami penurunan sebesar 76%. Dengan demikian, pengendalian daya pada FBNR dapat dilakukan dengan mengatur laju aliran massa pendingin dan ketinggian suspended core, serta keselamatan melekat yang handal pada kondisi kegagalan sistem pelepasan kalor. Kata kunci: FBNR, transien, daya, laju aliran massa, suspended core Modular in design enables Fixed Bed Nuclear Reactor (FBNR power controlled by the adjustment of suspended core and coolant flow rate. The main purposes of this paper

  2. PSA LEVEL 3 DAN IMPLEMENTASINYA PADA KAJIAN KESELAMATAN PWR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Pande Made Udiyani

    2015-03-01

    Full Text Available Kajian keselamatan PLTN menggunakan metodologi kajian probabilistik sangat penting selain kajian deterministik. Metodologi kajian menggunakan Probabilistic Safety Assessment (PSA Level 3 diperlukan terutama untuk estimasi kecelakaan parah atau kecelakaan luar dasar desain PLTN. Metode ini banyak dilakukan setelah kejadian kecelakaan Fukushima. Dalam penelitian ini dilakukan implementasi PSA Level 3 pada kajian keselamatan PWR, postulasi kecelakan luar dasar desain PWR AP-1000 dan disimulasikan di contoh tapak Bangka Barat. Rangkaian perhitungan yang dilakukan adalah: menghitung suku sumber dari kegagalan teras yang terjadi, pemodelan kondisi meteorologi tapak dan lingkungan, pemodelan jalur paparan, analisis dispersi radionuklida dan transportasi fenomena di lingkungan, analisis deposisi radionuklida, analisis dosis radiasi, analisis perlindungan & mitigasi, dan analisis risiko. Kajian menggunakan rangkaian subsistem pada perangkat lunak PC Cosyma. Hasil penelitian membuktikan bahwa implementasi metode kajian keselamatan PSA Level 3 sangat efektif dan komprehensif terhadap estimasi dampak, konsekuensi, risiko, kesiapsiagaan kedaruratan nuklir (nuclear emergency preparedness, dan manajemen kecelakaan reaktor terutama untuk kecelakaan parah atau kecelakaan luar dasar desain PLTN. Hasil kajian dapat digunakan sebagai umpan balik untuk kajian keselamatan PSA Level 1 dan PSA Level 2. Kata kunci: PSA level 3, kecelakaan, PWR   Reactor safety assessment of nuclear power plants using probabilistic assessment methodology is most important in addition to the deterministic assessment. The methodology of Level 3 Probabilistic Safety Assessment (PSA is especially required to estimate severe accident or beyond design basis accidents of nuclear power plants. This method is carried out after the Fukushima accident. In this research, the postulations beyond design basis accidentsof PWR AP - 1000 would be taken, and simulated at West Bangka sample site. The

  3. STUDI EKSPERIMEN PEMILIHAN BIOMASSA UNTUK MEMPRODUKSI GAS ASAP CAIR ( LIQUID SMOKE GASES SEBAGAI BAHAN PENGAWET

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sugeng Slamet

    2015-04-01

    Full Text Available ABSTRAK Pengertian umum asap cair merupakan suatu hasil destilasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran tidak langsung maupun langsung dari bahan yang banyak mengandung karbon dan senyawa- senyawa lain. Bahan baku yang banyak digunakan untuk membuat asap cair adalah kayu, bongkol kelapa sawit, ampas hasil penggergajian kayu, dan lain-lain. Pembuatan asap cair menggunakan metode pirolisis yaitu peruraian dengan bantuan panas tanpa adanya oksigen atau dengan jumlah oksigen yang terbatas. Biasanya terdapat tiga produk dalam proses pirolisis yakni: gas, pyrolisis oil, dan arang, yang mana proporsinya tergantung dari metode pirolisis, karakteristik biomassa dan parameter reaksi. Metode yang dilakukan diawali dengan melakukan rancang bangun unit pirolisator lengkap dengan perangkat kondensor dengan pipa tembaga tipe spiral untuk memproduksi gas asap cair dari bahan biomassa yang dipilih yaitu tempurung kelapa dan sampah organik. Metode Pirolisis yang merupakan proses reaksi penguraian senyawa-senyawa penyusun kayu keras menjadi beberapa senyawa organik melalui reaksi pembakaran kering pembakaran tanpa oksigen. Reaksi ini berlangsung pada reaktor pirolisator dengan variasi temperatur 150oC, 250oC dan 300oC selama 8 jam pembakaran. Asap hasil pembakaran dikondensasi dengan kondensor yang berupa pipa tembaga melingkar. Hasil dari proses pirolisis diperoleh tiga produk yaitu asap cair, tar, dan arang. Kondensasi dilakukan dengan pipa atau koil melingkar yang dipasang dalam bak pendingin. Air pendingin dapat berasal dari air hujan yang ditampung dalam bak penampungan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah biomassa tempurung kelapa menghasilkan jumlah senyawa fenol lebih besar 30-33%. Hal ini menunjukkan bahwa pada jenis biomassa ini lebih unggul dalam fungsi sebagai antioksidan, karena kaya akan kandungan senyawa fenol, sehingga lebih optimal dalam hal menghambat kerusakan pangan dengan cara mendonorkan hidrogen. Sedangkan biomassa cangkang

  4. PENGUJIAN AKTIVITAS KOMPOSIT Fe2O3-SiO2 SEBAGAI FOTOKATALIS PADA FOTODEGRADASI 4-KLOROFENOL (The Activity Test of Fe2O3-SiO2 Composite As Photocatalyst on 4-Chlorophenol Photodegradation

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Eko Sri Kunarti

    2009-03-01

    Full Text Available ABSTRAK  Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian aktivitas komposit Fe2O3-SiO2 sebagai fotokatalis pada fotodegradasi 4-klorofenol. Penelitian diawali dengan preparasi dan karakterisasi fotokatalis Fe2O3-SiO2. Preparasi dilakukan dengan metode sol-gel pada temperatur kamar menggunakan tetraetil ortosilikat (TEOS dan besi (III nitrat sebagai prekursor diikuti dengan perlakuan termal pada temperature 500 oC. Karakterisasi dilakukan dengan metode spektrometri inframerah, difraksi sinar-X dan spektrometri fluoresensi sinar-X. Uji aktivitas komposit untuk fotodegradasi 4-klorofenol dilakukan dalam reaktor tertutup yang dilengkapi dengan lampu UV. Pada uji ini telah dipelajari pengaruh waktu penyinaran dan pH larutan terhadap efektivitas fotodegradasi 4-klorofenol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposit Fe2O3-SiO2 dapat dipreparasi dengan metode sol-gel pada temperatur kamar diikuti perlakuan termal. Komposit Fe2O3-SiO2 dapat meningkatkan efektivitas fotodegradasi 4-klorofenol dari 11,86 % menjadi 55,38 %. Efektivitas fotodegradasi 4- klorofenol dipengaruhi waktu penyinaran dan pH larutan yang semakin lama waktu penyinaran efektifitas fotodegradasi semakin tinggi, namun waktu penyinaran yang lebih lama dari 4 jam dapat menurunkan efektivitasnya. pH larutan memberikan pengaruh yang berbeda-beda pada efektivitas fotodegradasi 4-klorofenol.   ABSTRACT The activity test of Fe2O3-SiO2 composite as photocatalyst on 4-chlorophenol photodegradation has been studied. The research was initiated by preparation of Fe2O3-SiO2 photocatalyst and followed by characterization. The preparation was conducted by sol-gel method at room temperature using tetraethylorthosilicate (TEOS and iron (III nitrate as precursors followed by thermal treatment at a temperature of 500oC. The characterizations were performed by X-ray Diffraction (XRD, Infrared and X-ray Fluorescence Spectrophotometry. The photocatalytic activity test of composites for 4 chlorophenol

  5. KARAKTERISTIK DAN PENDEKATAN KINETIKA GLOBAL PADA PIROLISIS LAMBAT SAMPAH KOTA TERSELEKSI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dwi Aries Himawanto

    2012-04-01

    dipertahankan pada 400°C  selama 30 menit. Untuk menjamin terjadinya proses pirolisis, maka dialirkan nitrogen dengan laju 100 ml/menit ke dalam reaktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampah bambu dan sampah daun pisang dapat dikategorikan kedalam bahan organik dengan kestabila rendah. Sampah bahan pengemas cenderung masuk dalam katagori bahan campuran polimer, sedangkan sampah styrofoam dapat dikategorikan ke dalam material plastik. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa metode kinetika global dapat digunakan untuk memprediksi nilai energi aktivasi dari komponen tunggal sampah kota.

  6. Surfaktan Sodium Ligno Sulfonat (SLS dari Debu Sabut Kelapa

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mukti Mulyawan

    2015-03-01

    Full Text Available Indonesia merupakan negara agraris yang menghasilkan beragam hasil pertanian yang melimpah. Salah satu hasil pertanian yang menonjol di Indonesia adalah kelapa. Produksi buah kelapa di Indonesia rata-rata sebanyak 15,5 miliar butir/tahun atau setara dengan 3,02 juta ton kopra, 3,75 juta ton air, 0,75 juta ton arang tempurung, 1,8 juta ton serat sabut (coir fiber dan 3,3 juta ton debu sabut (coir dust/ cocopeat. Komposisi sabut kelapa terdiri dari 25% gabus dan 75% serat . Tetapi, debu sabut kelapa masih dikembangkan sebatas sebagai media tanam. sisanya akan menjadi limbah dengan kontribusi sangat besar dari pengisi pada volume total sampah domestiK. Banyaknya komoditas kelapa dan potensi limbah sabut yang dihasilkan, membuat pemanfaatan Debu Sabut menjadi bahan yang bernilai ekonomis patut untuk dilakukan. Salah satunya adalah sebagai bahan pembuatan Surfakatan Sodium Ligno Sulfonat (SLS yang selama ini komoditasnya diperoleh seluruhnya dari impor. Adapun tahapan proses pembuatan SLS dari Debu Sabut kelapa adalah mempersiapan Bahan Baku berupa Debu Sabut Kelapa. Dilanjutkan dengan pemasakan/pulping menggunakan metode organosolv dengan alat pemasak digester (R-120. Dari lindi hitam yang dihasilkan, akan diproses dengan Isolasi Lignin dengan metode presipitasi asam. Lindi hitam yang telah didapat diendapkan dengan menambahkan secara perlahan H2SO4dengan konsentrasi 20% sampai pH 2 pada tangki isolasi pertama (M-211.Proses isolasi dengan metode pengasaman banyak digunakan untuk mendapatkan lignin dengan kemurnian tinggi. Untuk Menghasilkan SLS, Lignin Isolat perlu direaksikan dengan bahan penyulfonasi natrium bisulfit (NaHSO3, sehingga menghasilkan natrium lignosulfonat (SLS pada reaktor sulfonasi (R-310. Berlokasi di Provinsi Riau, Pabrik ini akan dibangun dengan kapasistas 20.150 ton/tahun. Dari analisa ekonomi, diperlukan Modal tetap (FCI sebesar Rp 316.323.349.677; Modal kerja (WCI sebesar Rp 74.429.023.453; Investasi total (TCI sebesar Rp 390

  7. Presentation of a new plant design, based on an internally circulating fluidized bed system for catalytic cracking; Fluid Catalytic Cracking: Entwicklung einer neuartigen FCC-Anlage mit intern zirkulierendem Wirbelschichtsystem

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Reichhold, A.; Fimberger, W.; Hofbauer, H. [Technische Univ. Vienna (Austria). Inst. fuer Verfahrenstechnik, Brennstofftechnik und Umwelttechnik

    1998-09-01

    An internally circulating fluidized bed system was developed for use as a catalytic cracking system. The plant (hot unit) was conceived for a feed rate of 1 to 4 kg/h. The hot unit was developed based on data obtained from literature (e.g. temperature, cat to oil ratio and contact time). Important fluid dynamic parameters, such as the circulation rate and the gas separation efficiency between reaction and regeneration zone were determined in an acrylic model (cold unit) at room temperature. Scaling relationships based on the theory of Glicksman were used as much as possible to design the cold unit in order to give similitude between cold and hot unit. Important parameters influencing the catalyst circulation rate could be determined exactly. Gas separation efficiency measurements between reaction and regeneration zone proved the safety of the system. The setting of the parameters during the trials was determined based on data from the cold unit and literature (e.g. temperature, cat to oil ratio, and contact time). The trials in the hot unit were carried out with vacuum gas oil and FCC-equilibrium catalyst. The experiments ran successfully and the analysis of the cracking products matched expectations. Furthermore the new system can also be used as a plant for other reactions such as catalytic alkylation and isomerisation. (orig.) [Deutsch] Ein intern zirkulierendes Wirbelschichtsystem zur Durchfuehrung des Fluid Catalytic Cracking Verfahrens wurde entwickelt. Die Technikumsanlage wurde fuer eine Feedrate von ca. 1 bis 4 kg/h ausgelegt. Basierend auf Daten aus der Literatur (z.B. Temperatur, Kat-Oel-Verhaeltnis und Kontaktzeit) wurde das Heissmodell aus einer Spezialstahllegierung gefertigt und aufgebaut. Wichtige stroemungsmechanische Parameter, wie die Umlaufrate und Gastrenneffizienz zwischen dem Reaktor und dem Regenerator, wurden in einem Modell aus Acrylglas (sogenanntes Kaltmodell) bei Raumtemperatur bestimmt. Um die Aehnlichkeit zwischen dem Kalt- und dem

  8. Hydraulic Behavior in The Downflow Hanging Sponge Bioreactor

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Izarul Machdar

    2016-12-01

    Full Text Available Performance efficiency in a Downflow Hanging Sponge (DHS bioreactor is associated with the amount of time that a wastewater remains in the bioreactor. The bioreactor is considered as a plug flow reactor and its hydraulic residence time (HRT depends on the void volume of packing material and the flow rate. In this study, hydraulic behavior of DHS bioreactor was investigated by using tracer method. Two types of sponge module covers, cylindrical plastic frame (module-1 and plastic hair roller (module-2, were investigated and compared. A concentrated NaCl solution used as an inert tracer and input as a pulse at the inlet of DHS bioreactor. Analysis of the residence time distribution (RTD curves provided interpretation of the index distribution or holdup water (active volume, the degree of short-circuiting, number of tanks in series (the plug flow characteristic, and the dispersion number. It was found that the actual HRT was primarily shorter than theoretical HRT of each test. Holdup water of the DHS bioreactor ranged from 60% to 97% and 36% to 60% of module-1 and module-2, respectively. Eventhough module-1 has higher effective volume than module-2, result showed that the dispersion numbers of the two modules were not significant difference. Furthermore, N-values were found larger at a higher flow rate. It was concluded that a DHS bioreactor design should incorporated a combination of water distributor system, higher loading rate at startup process to generate a hydraulic behavior closer to an ideal plug flow.ABSTRAKEfisiensi unjuk kerja bioreactor Downflow Hanging Sponge (DHS berkaitan dengan lamanya waktu tinggal limbah berada di dalam bioreaktor tersebut. Bioreaktor DHS dianggap sebagai seuatu reaktor aliran sumbat (plug flow dimana waktu tinggal hidraulik (HRT tergantung pada volume pori material isian dan laju alir. Dua jenis modul digunakan dalam penelitian ini, yang diberi nama dengan module-1 dan module-2 untuk melihat pengaruh jenis modul

  9. Effects of the ageing of microporous heat-insulating materials on temperature control in steel casting ladles; Auswirkungen der Alterung von mikroporoesen Waermedaemmstoffen auf die Temperaturfuehrung von Stahlgiesspfannen

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Buhr, A.; Felsch, T.; Hoever, P. [Thyssen Krupp Stahl AG, Dortmund (Germany); Bauer, W. [Duisburg Univ. (Gesamthochschule) (Germany). Fachbereich Huettentechnik und Giessereitechnik; Feja, D. [Muenster Univ. (Germany). Inst. fuer Mineralogie

    1998-12-15

    With steel casting ladles developing from pure transfer vessels into metallurgical reactors, the exact control of the melt temperature in the ladles has become co-decisive for the production of high-grade quality steel. A thermal model used for such temperature control was to undergo verification by comparing the shell temperature calculated and measured for high-alumina- and basic-lined steel casting ladles. The shell temperature calculated in the thermal model for the steel casting ladles during circulation was verified by infrared thermography. While there is a good concurrence for high-alumina-lined steel casting ladles, with maximum variations of 15 K emerging, appreciable variations as great as some 45 K were found for basic-lined ladles. The cause of these variations lies in material changes in the form of shrinkage, carbon deposits and single particle growth of the microporous panels utilised for heat insulation. This results in increased thermal conductivity. The variations are reduced to a maximum of 8 K, also for basic-lined ladles, with corrected material data. Given the progressive ageing of the insulating panels in the permanent safety lining, it appears advisable to set a maximum operating time as a function of the conditions prevailing in the steel plant in each case so as to avoid excessive heat losses. (orig.) [Deutsch] Mit der Entwicklung der Stahlgiesspfanne vom reinen Transportgefaess zum metallurgischen Reaktor wurde die exakte Temperaturfuehrung der Schmelze in der Pfanne mitentscheidend fuer die Erzeugung qualitativ hochwertigen Stahls. Ein zur Temperaturfuehrung eingesetztes waermetechnisches Modell sollte durch Vergleich von berechneter und gemessener Manteltemperatur von aluminareich und basisch zugestellten Stahlgiesspfannen ueberprueft werden. Die im waermetechnischen Modell berechnete Manteltemperatur der Stahlgiesspfannen waehrend des Umlaufs wurde mit Infrarotthermografie ueberprueft. Waehrend bei aluminareich zugestellten

  10. PENGEMBANGAN SISTEM PEMANTAUAN KONDISI UNTUK KESELAMATAN ROTATING MACHINE DI PWR DENGAN MOTOR CURRENT SIGNATURE ANALYSIS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Syaiful Bakhri

    2015-03-01

    Full Text Available Pemantauan kondisi rotating machine sangat diperlukan untuk menjamin keselamatan operasi sekaligus untuk meningkatkan efisiensi operasi di PWR. Salah satu teknik pemantauan kondisi terbaik yang dewasa ini dipilih karena mudah, non-invasive dan murah dalam implementasinya adalah Motor Current Signature Analysis (MCSA. Namun sayangnya penelitian aplikasi teknik ini untuk perangkat keras yang compact, low cost, berkelas industri dan layak untuk aplikasi pembangkit daya bertenaga nuklir sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode pemantauan kondisi berbasis MCSA dengan perangkat keras berkelas industri yang kompak untuk pembangkit daya tenaga nuklir. Penelitian meliputi aspek pengembangan perangkat keras real-time berbasis FPGA-CompactRIO, pembuatan modul untuk penampil early warning, pengujian unjuk kerja algoritma perangkat kerasnya, analisis spektrum berbagai kerusakan komponen motor elektrik, serta pengujian kinerjanya dalam mendeteksi berbagai kerusakan. Sistem pemantauan mampu mengeksekusi dengan total waktu eksekusi berkisar 164 ms, berhasil mendeteksi spektrum frekuensi berbagai kerusakan di motor induksi seperti stator shorted turn berkisar 75%, rotor broken bar 95%, eccentricity 65%, dan mechanical misalignment 85%, termasuk gangguan catu daya voltage unbalance 100%. Berdasarkan unjuk kerja perangkatnya, sistem pemantauan kondisi rotating machine ini menjadi salah satu alternatif terbaik untuk sistem pemantauan berbagai perangkat pemantauan di reaktor nuklir. Kata kunci : Pemantauan kondisi, rotating machine, Motor Current Signature Analysis (MCSA, Field Programmable Gate Array (FPGA   Condition monitoring of rotating machine is essential to guarantee the safety operation as well as to improve the efficiency of nuclear power plants operations. One of the promising condition monitoring techniques which has been preferred currently since it is simple, non-invasive and inexpensive is Motor Stator Signature Analysis

  11. Pengaruh Kecepatan Homegenisasi Terhadap Sifat Fisika dan Kimia Krim Nanopartikel dengan Metode High Speed Homogenization (HSH

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Galuh Suprobo

    2015-06-01

    Full Text Available Nanoparticle cream is the development of nanotechnology in cosmetics fields for improving the function of cream. High speed homogenization (HSH is one of the methods for creating nanoparticle cream. In this research, the use of natural materials based palm oil derivative  such as stearic acid, cetil alcohol, cetil stearil alcohol was chosen in nanoparticle cream producing by using HSH methods.The speed variable of  homogenization of 1000 rpm, 1500 rpm, 2,000 rpm and 2,500 rpm  intended to find out the influence of speed toward the  properties of cream product. The observation result showed the influence on physical display in term of texture but not in homogeneity , stability and cream color. The pH of the product during two months storage for all variables were still stable. The particle size was increased in the homogeneity of speed at 2000 rpm and 2500 rpm. In this research has produced the cream in particle size from 239.86 to 358.10 nm which enter in nanoparticle category 50 nm to 1000 nm. The stability of nanoparticle cream product in the range of 97,20 to 98%.ABSTRAKKrim nanopartikel merupakan pengembangan nanoteknologi di bidang kosmetik untuk meningkatkan fungsi krim tersebut. High speed homogenization (HSH merupakan salah satu metoda dalam pembuatan krim nanopartikel. Pada penelitian ini, krim nanopartikel dibuat menggunakan bahan baku alami turunan kelapa sawit yaitu asam stearat, setil alkohol, setil stearil alkohol dengan metoda HSH. Variabel kecepatan homogenisasi pada 1000 rpm, 1500 rpm, 2000 rpm dan 2500 rpm dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh kecepatan terhadap sifat-sifat krim. Hasil menunjukkan bahwa perubahan kecepatan homogenisasi dalam reaktor berpengaruh terhadap tampilan fisik dari segi tekstur, akan tetapi tidak mempengaruhi terhadap kehomogenan, stabilitas dan warna krim. Dari pengamatan selama 2 bulan penyimpanan diketahui tidak terjadi perubahan pH selama penyimpanan untuk keempat variabel. Ukuran partikel

  12. OKSIDASI SENYAWA ORGANIK DENGAN RADIASI UV DAN HIDROGEN PEROKSIDA : TOLUEN DALAM LARUTAN (Oxidation of Organic Compounds with UV Radiation And Hydrogen Peroxide : Toluene in Aqueous Solutions

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Made Bendiyasa

    2007-11-01

    Full Text Available ABSTRAK  Umumnya limbah cair mengandung bermacam-macam senyawa organik dan unorganik. Sebagian besar senybawa organik, diantaranya adalah senyawa-senyawa aromatis, seperti toluene, tidak dapat dikenakan proses kemis maupun biologis konvensional. Tulisan ini menyajikan hasil penelitian yang terkait dengan oksidasi toluen dengan gabungan UV (ultra violet dan H2O2 yang sering disebut Advance Oxidation Processes (AOPs. Percobaan dilakukan di dalam sebuah reaktor batch pada suhu kamar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi awal H2O2 maupun pH mempengaruhi tingkat oksidasi toluen. Order reaksi yang sesuai dengan sistem ini adalah reaksi order satu semu terhadap toluen. Hubungan nilai kapparent dengan konsentrasi awal H2O2 adalah linier sedangkan hubungan kapparent dengan pH adalah eksponensial. Pengaruh konsentrasi awal H2O2 terhadap kapparent dapat dituliskan dalam bentuk persamaan kapparent = 0,0015 Cinitial + 0,0204 min-1 dan pH awal terhadap konsentrasi kapparent adalah sebagai berikut kapparent =  0,0309 0,027 (pH min-1. Pengaruh gabungan nkonsentrasi H2O2 dan pH awal dapat dinyatakan dalam persamaan kapparent  = (0,0374 = 0,0009 Cinitial e -0,0316 (pH min-1 ABSTRACT  Generally, waste water contains a large variety of organic and inorganic compounds. Most organic compounds are resistant to conventional chemical and biological treatments. Among them are aromatic compounds, such as toluene. This paper presents the results of experimental oxidation of toluene with combinations of UV and H2O2 which are usually called Advanced Oxidation Processes (AOPs. The experiments were performed in a batch system at room temperature. The experimental results exhibit that both initial concentration of hydrogen peroxide and initial pH affect the degree of oxidation. It is found that the order of reaction is pseudo first order with regard to toluene. The value of kapparent. is observed linearly with respect to the initial hydrogen peroxide concentration

  13. APPLICATION OF PHYTOREMEDIATION FOR HERBAL MEDICINE WASTE AND ITS UTILIZATION FOR PROTEIN PRODUCTION

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Danny Soetrisnanto

    2012-11-01

    bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan tanaman air (enceng gondok dan teratai untukmereduksi kontaminan dalam limbah obat jamu. Phytoremediasi dilakukan selama 4-8 hari dan tinggicairan dalam reaktor dijaga pada 5 cm. Keluaran dari phytoremediasi pertama menggunakantanaman air digunakan sebagai medium di phytoremediasi menggunakan mikroalga Spirulina. Untukmendapakan pertumbuhan yang optimum, maka ditambahakan juga nutrient dan menunjukkan bahwaSpirulina tumbuh dengan sangat baik dalam medium ini. Pertumbuhan terbaik diperoleh dariphytoremediasi menggunakan teratai selama 3 hari dan kecepatan pertumbuhan 0,271/hari denganperbandingan C:N:P = 57,790:9,28:1.

  14. THE PROPERTIES OF CHARCOAL FROM THE BLACK LIQUOR OF THE SODA PULPING OF RICE STRAW

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nyoman Jaya Wistara

    2013-11-01

    Full Text Available The main goal of the present works was to determine chemical changes, thermal decomposition, and the content of moisture, ash, volatile, fixed carbon and calorific value of soda pulping black liquor of the rice straw. Neutralized black liquor was dried to a moisture content of 10% and then pyrolized at 106oC-750oC. It was found that calorific value, fixed carbon, volatile mater, and moisture content were in the range of 2782-4716 cal/g, 49.2-81.6%, 15.5-47.5%, and 0.2-3.5%, respectively. Ash content was not influenced by the temperature of pyrolysis and was thought to depend on its initial silicate content. The weight loss of pulp was higher than that of black liquor. Extreme weight loss has been found in the temperature of 200-400oC. Noticeable functional groups changes were found with the increasing temperature of pyrolysis. Hydroxyl group completely disappeared at 300oC and above. Carbonyl related groups were also disappeared at 300-500oC, but it was reformed at 650 and 750oC. It might be brought about by the deformation of chemical bonding of oxygen ring in lignin structures. SIFAT-SIFAT ARANG LINDI HITAM DARI PEMASAKAN JERAMI DENGAN LARUTAN SODA API. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perubahan sifat kimia, dekomposisi termal dan kadar air, abu, zat terbang, karbon terikat serta nilai kalor arang lindi hitam pemasakan soda jerami padi. Dalam penelitian ini, lindi hitam netral dikeringkan (kadar air 10%, kemudian dipirolisis pada selang suhu 100-750oC di dalam reaktor berpengatur suhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kalor, karbon terikat, zat terbang dan kadar air masing-masing berselangdari 2782-4716 cal/g, 49,2-81,6%, 15,5-47,5%, dan 0,2-3,5%. Kadar abu tidak dipengaruhi oleh suhu pirolisis dan diduga bergantung pada kadar silika bahan bakunya. Nilai kalor meningkat dengan meningkatnya kadar karbon terikat. Perilaku kehilangan berat arang dari lindi hitam berbeda dengan perilaku kehilangan berat pulp jerami. Kehilangan

  15. TRANSESTERIFICATION OF VEGETABLES OIL USING SUBAND SUPERCRITICAL METHANOL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nyoman Puspa Asri

    2012-11-01

    Full Text Available A benign process, non catalytic transesterification in sub and supercritical methanol method was usedto prepare biodiesel from vegetables oil. The experiment was carried out in batch type reactor (8.8 mlcapacity, stainless steel, AKICO, JAPAN by changing the reaction condition such as reactiontemperature (from 210°C in subcritical condition to 290°C in supercritical state with of 20°Cinterval, molar ratio oil to methanol (1:12-1:42 and time of reaction (10-90 min. The fatty acidmethyl esters (FAMEs content was analyzed by gas chromatography-flame ionization detector (GCFID.Such analysis can be used to determine the biodiesel yield of the transesterification. The resultsshowed that the yield of biodiesel increases gradually with the increasing of reaction time atsubcritical state (210-230oC. However, it was drastically increased at the supercritical state (270-290oC. Similarly, the yield of biodiesel sharply increased with increasing the ratio molar of soy oilmethanolup to 1:24. The maximum yield 86 and 88% were achieved at 290oC, 90 min of reaction timeand molar ratio of oil to methanol 1:24, for soybean oil and palm oil, respectively.Proses transesterifikasi non katalitik dengan metanol sub dan superkritis,merupakan proses yang ramah lingkungan digunakan untuk pembuatan biodiesel dari minyak nabati.Percobaan dilakukan dalam sebuah reaktor batch (kapasitas 8,8 ml, stainless steel, AKICO, JAPAN,dengan variabel kondisi reaksi seperti temperatur reaksi (dari kondisi subkritis 210°C-kondisisuperkritis 290°C dengan interval 20°C, rasio molar minyak-metanol (1:12-1:42 dan waktu reaksi(10-90 menit. Kandungan metil ester asam lemak (FAME dianalisis dengan kromatografi gasdengan detektor FID (GC-FID. Hasil Analisis tersebut dapat digunakan untuk menentukan yieldbiodiesel dari proses transesterifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yield biodiesel meningkatsecara perlahan dengan meningkatnya waktu reaksi pada keadaan subkritis (210-230oC. Namun

  16. PELAPISAN PERMUKAAN PELET UO2 DENGAN ZIRKONIUM DIBORIDA MENGGUNAKAN METODA SPUTTERING

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sungkono Sungkono

    2016-06-01

    Full Text Available ABSTRAK PELAPISAN PERMUKAAN PELET UO2 DENGAN ZIRKONIUM DIBORIDA MENGGUNAKAN METODA SPUTTERING. Pengembangan teknologi bahan bakar nuklir bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN. Salah satu solusi yang diajukan adalah penggunaan bahan bakar dengan fraksi bakar (burn up tinggi. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan gas hasil fisi dan reaktivitas teras reaktor nuklir. Untuk mengendalikan kelebihan reaktivitas teras reaktor digunakan bahan bakar terintegrasi penyerap mampu bakar. Sehubungan dengan hal tersebut telah dibuat pelet UO2 berlapis tipis penyerap mampu bakar. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan karakter lapisan zirkonium diborida pada permukaan pelet UO2 yaitu mikrostruktur, struktur kristal dan komposisi kimia. Pelapisan permukaan pelet UO2 dilakukan dengan bahan pelapis ZrB2 menggunakan metoda sputtering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikrostruktur pelet UO2 + 0,4% Cr2O3 berupa butir-butir campuran ekuiaksial dan acicular dengan diameter 2,44 mm, sedangkan pelet UO2 + 0,3% Nb2O5 mempunyai struktur butir berupa ekuiaksial dan batang pipih dengan diameter 2,47 mm. Lapisan zirkonium diborida pada permukaan pelet UO2 + 0,4% Cr2O3 dan pelet UO2 + 0,3% Nb2O5 serupa yaitu tipis dan kompak dengan ketebalan 2,71 mm dan 2,82 mm. Identifikasi terhadap pola difraksi sinar-X pada pelet UO2 + 0,4% Cr2O3 dan pelet UO2 + 0,3% Nb2O5 menunjukkan adanya fasa UO2 dengan struktur kristal kubus dan fasa ZrB2 dengan struktur kristal heksagonal. Sementara itu, konsentrasi zirconium dalam lapisan pelet UO2 + 0,4% Cr2O3 dan pelet UO2 + 0,3%Nb2O5 diperoleh masing-masing sebesar 1,82 mg dan 1,90 mg. Adanya unsur zirkonium membuktikan bahwa lapisan ZrB2 terbentuk pada permukaan pelet UO2. Kata kunci: Pelet UO2, lapisan ZrB2, sputtering, mikrostruktur, ketebalan, struktur kristal, komposisi kimia. ABSTRACT COATING ON SURFACE OF UO2 PELLET WITH ZIRCONIUM DIBORIDE USING THE METHOD OF SPUTTERING

  17. DESAIN AWAL TURBIN UAP TIPE AKSIAL UNTUK KONSEP RGTT30 BERPENDINGIN HELIUM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Sudadiyo

    2016-06-01

    Full Text Available ABSTRAK DESAIN AWAL TURBIN UAP TIPE AKSIAL UNTUK KONSEP RGTT30 BERPENDINGIN HELIUM. Konsep reaktor daya nuklir yang dikembangkan merupakan jenis reaktor berpendingin gas dengan temperatur tinggi (RGTT. Gas yang digunakan untuk mendinginkan teras RGTT adalah helium. Konsep RGTT ini dapat menghasilkan daya termal 30 MWth sehingga dinamakan RGTT30. Temperatur helium mampu mencapai 700 °C ketika keluar dari teras RGTT30 dan digunakan untuk memanaskan air di dalam steam generator hingga mencapai temperatur 435 °C. Steam generator dihubungkan dengan turbin uap yang dikopel dengan generator listrik untuk membangkitkan daya 7,27 MWe. Uap yang keluar dari turbin dilewatkan kondensor untuk mencairkan uap menjadi air. Rangkaian komponen dari steam generator, turbin, dan kondensor dinamakan sistem turbin uap. Turbin terdiri dari sudu-sudu yang dimaksudkan untuk mengubah tenaga uap kedalam tenaga mekanis berupa putaran. Efisiensi turbin merupakan parameter yang harus diperhatikan dalam sistem turbin uap ini. Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengusulkan sudu tipe aksial dan untuk menganalisa perbaikan efisiensi turbin. Metode yang digunakan yaitu aplikasi prinsip termodinamika yang berhubungan dengan konservasi energi dan massa. Perangkat lunak Cycle-Tempo dipakai untuk mendapatkan parameter termodinamika dan untuk mensimulasikan sistem turbin uap berbasis RGTT30. Pertama, dibuat skenario dalam simulasi sistem turbin uap untuk mengetahui efisiensi dan laju aliran massa uap yang diperoleh nilai optimal 87,52 % dan 8,759 kg/s pada putaran 3000 rpm. Kemudian, turbin uap diberi sudu tipe aksial dengan diameter tip 1580 mm dan panjang 150 mm. Hasil yang diperoleh adalah nilai efisiensi turbin uap naik menjadi 88,3 % pada putaran konstan (3000 rpm. Penambahan nilai efisiensi turbin sebesar 0,78 % menunjukkan peningkatan kinerja RGTT30 secara keseluruhan. Kata kunci: Tipe aksial, turbin uap, RGTT30   ABSTRACT PRELIMINARY DESIGN ON STEAM TURBINE OF AXIAL TYPE

  18. PHASE CHANGES ON 4H AND 6H SIC AT HIGH TEMPERATURE OXIDATION

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jan Setiawan

    2016-10-01

    -016-4971 card.  Diffraction pattern on 46S also showed lattice parameter, composition and crystallite size changes.  The lattice parameter changes not significant.  For 6S and 46S sam-ples at 1400 oC, the 6H-SiC phase changes into other phases more than 50 % from its original weight percentage. Keywords: silicon carbide, 4H-SiC, 6H-SiC, oxidation, high temperature. ABSTRAK PERUBAHAN FASA 4H DAN 6H SIC YANG TEROKSIDASI PADA TEMPERATUR TINGGI.  Telah dilakukan proses oksidasi pada silikon karbida yang mengadung fasa 6H dan silikon karbida yang mengandung fasa 4H dan 6H.  Silikon karbida merupakan keramik non oksida dengan sifat-sifat unggulnya yang sangat potensial digunakan dalam dunia industri.  Dalam industri nuklir silikon karbida digunakan sebagai bahan struktur kelongsong pada bahan bakar reaktor air ringan light water reactor (LWR dan sebagai pelapis pada kernel bahan bakar reaktor gas temperatur tinggi (RGTT.  Pada studi ini dilakukan simulasi oksidasi silikon karbida pada kernel apabila terjadi kegagalan pada pipa pendingin utamanya. Sampel dibentuk dari serbuk silikon karbida yang di pres hingga berbentuk pelet dengan diameter 12,7 mm dan ketebalan 1.0 mm kemudian dioksidasi pada temperatur 1000 oC, 1200 oC dan 1400 oC selama 1 jam.  Sampel sebelum dan setelah dioksidasi dilakukan penimbangan dan pengujian difraksi sinar-X menggunakan Difraktometer Panalytical Empyrean dengan Cu sebagai sumber sinar-X.  Analisis pola difraksi dilakukan menggunakan aplikasi General Structure Analysis System (GSAS, dengan hasil yang diperoleh adalah perubahan parameter kisi dan kandungan fasa SiC-nya.  Hasil percobaan menunjukkan bahwa semua sampel yang teroksidasi mengalami peningkatan berat.  Oksidasi sampel 6S menyebabkan kenaikan berat tertinggi pada temperatur 1200 oC, sedangkan sampel 46S memiliki berat dengan kecenderungan meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur oksidasi.  Analisis pola difraksi sinar-X menunjukkan bahwa fasa domi-nan yang terbentuk pada sampel

  19. THERMAL NEUTRON FLUX MAPPING ON A TARGET CAPSULE AT RABBIT FACILITY OF RSG-GAS REACTOR FOR USE IN k0-INAA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sutisna Sutisna

    2015-03-01

    Full Text Available Instrumental neutron activation analysis based on the k0 method (k0-INAA requires the availability of the accurate reactor parameter data, in particular a thermal neutron flux that interact with a targets inside the target capsule. This research aims to determine and map the thermal neutron flux inside the capsule and irradiation channels used for the elemental quantification using the k0-AANI. Mapping of the thermal neutron flux (фth on two type of irradiation capsule have been done for RS01 and RS02 facilities of RSG-GAS reactor. Thermal neutron flux determined using Al-0,1%Au alloy through 197Au(n,g 198Au nuclear reaction, while the flux mapping done using statistics R. Thermal neutron flux are calculated using k0-IAEA software provided by IAEA. The results showed the average thermal neutron flux is (5.6±0.3×10+13 n.cm-2.s-1; (5.6±0.4×10+13 n.cm-2.s-1; (5.2±0.4×10+13 n.cm-2.s-1 and (5.3±0.4×10+13 n.cm-2.s-1 for Polyethylene capsule of 1st , 2nd, 3rd and 4th layer respectively. In the case of Aluminum capsule, the thermal neutron flux was lower compared to that on Polyethylene capsule. There were (3.0±0.2×10+13 n.cm-2.s-1; (2.8±0.1×10+13 n.cm-2.s-1; (3.2±0.3×10+13 n.cm-2.s-1 for 1st, 2nd and 3rd layers respectively. For each layer in the capsule, the thermal neutron flux is not uniform and it was no degradation flux in the axial direction, both for polyethylene and aluminum capsules. Contour map of eight layer on polyethylene capsule and six layers on aluminum capsule for RS01 and RS02 irradiation channels had a similar pattern with a small diversity for all type of the irradiation capsule. Keywords: thermal neutron, flux, capsule, NAA   Analisis aktivasi neutron instrumental berbasis metode k0 (k0-AANI memerlukan ketersediaan data parameter reaktor yang akurat, khususnya data fluks neutron termal yang berinteraksi dengan inti sasaran di dalam kapsul target. Penelitian ini bertujuan menentukan dan memetakan fluks neutron termal

  20. MANAJEMEN KONVERSI TERAS RSG-GAS BERBAHAN BAKAR SILISIDA TINGKAT MUAT TINGGI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lily Suparlina

    2015-03-01

    Full Text Available Penggunaan bahan bakar tingkat muat tinggi dapat memperpanjang siklus operasi reaktor sampai 40 hari. Telah dilakukan perancangan konversi teras dari silisida tingkat muat rendah menuju tingkat muat tinggi. Manajemen konversi teras dari teras silisida tingkat muat 2,96 gU/cm3 menuju teras silisida 4,8 gU/cm3 dilakukan secara bertahap dengan melakukan perhitungan manajemen bahan bakar dalam teras yang menggunakan paket program perhitungan 2 dimensi Batan-FUEL. Penggantian bahan bakar di teras menggunakan pola pergeseran bahan bakar 5/1 yaitu setiap awal siklus terjadi penggantian 5 buah elemen bahan bakar standar dan 1 buah elemen bahan bakar kendali. Dengan mempertahankan konfigurasi teras yang sudah ada, konversi teras dapat dilakukan melalui simulasi teras campuran 2,96 gU/cm3 - 4,8 gU/cm3 dengan memperhatikan batasan keselamatan reaktor yang dipersyaratkan. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang teras campuran yang akan menghasilkan parameter neutronik yang aman pada teras penuh pertama silisida tingkat muat tinggi. Dalam perancangan ini digunakan batang kendali pengaman untuk menambah margin padam yang berkurang akibat pemuatan bahan bakar tingkat muat tinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa konversi teras silisida tingkat muat 2,96 gU/cm3 menuju 4,8 gU/cm3 dapat dilakukan melalui teras campuran tidak langsung dalam 2 tahap yaitu konversi teras silisida 2,96 gU/cm3 - 3,55 gU/cm3 dan konversi teras silisida 3,55 gU/cm3 - 4,8 gU/cm3 dengan performa yang baik. Keuntungan utama dari penggunaan bahan bakar silisida tingkat muat tinggi 4,8 gU/cm3 dibanding teras silisida tingkat muat rendah 2,96 gU/cm3 pada teras RSG-GAS ialah bahwa panjang siklus operasi dapat lebih panjang 18 hari sehingga dapat menghemat penggunaan bahan bakar. Kata kunci : silisida, BKP, teras campuran, pola 5/1, Batan-FUEL   The usage of high density fuel can extend the reactor operation up to 40 days. Designing of low to high density silicide

  1. STUDI KINETIKA PROSES KIMIA DAN FISIKA PENGHILANGAN GETAH CRUDE PLAM OIL (CPO DENGAN ASAM FOSFAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yuli Ristianingsih

    2012-05-01

    Full Text Available KINETIC STUDY OF CHEMICAL AND PHYSICAL DEGUMMING OF CRUDE PALM OIL (CPO USING PHOSPHORIC ACID. The removal of phospholipids (‘degumming’ is the first step in the process of refining crude vegetable oil. The purpose of this research was to study degumming process and its effects to the oil’s quality. CPO used in this research was reacted with phosphoric acid using stirred tank reactor. The batch process was operated for 2 hours in various temperature, phosphoric acid concentration, and agitation speed. The sample was taken every 15 minutes which then analyzed by spectrophotometer at the wave length of 650 nm to measure the gum concentration in the oil. By minimizing sum of squares of errors between experimental and simulation data,  the mass transfer coefficient (Kca, reaction rate constant (k1 and phase equilibrium constants (K were be calculate. The result showed that the temperature, phosphoric acid concentration and agitation speed were highly affecting in the degumming process. At the range of temperature of 323≤T≤353 K, the higher temperature, the larger reaction rate constant and its relationship can be express as . At the range of Reynolds number of 121.4438 ≤ Re ≤ 630.2521, the effect of agitation speed to mass transfer coefficient (Kca can be express as Sh=0.09986.Re0.5998.Sc0.3995. From these two equations obtained, one can say that the temperature has effect on the reaction rate and mass transfer.    Abstrak   Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kinetika proses penghilangan getah (degumming CPO (Crude Palm Oil yang meliputi kinetika reaksi dan transfer massanya. Parameter yang dipelajari meliputi suhu, kecepatan pengadukan dan konsentrasi asam fosfat. Percobaan dilakukan dengan mereaksikan CPO dan  asam fosfat dalam sebuah reaktor tangki berpengaduk selama 2 jam. Sampel diambil setiap 15 menit kemudian dianalisis dengan spektrofotometer panjang gelombang 650 nm untuk mengetahui konsentrasi gum tersisa pada

  2. KARAKTERISASI DAN AKTIVITAS KATALITIK BERBAGAI VARIASI KOMPOSISI KATALIS Ni DAN ZnBr2 DALAM Γ-Al2O3 UNTUK ISOMERISASI DAN HIDROGENASI (R-(+-SITRONELAL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    ED Iftitah

    2014-06-01

    Full Text Available Pengaruh sifat dan karakter berbagai variasi komposisi katalis Ni dan ZnBr2 yang terimpregnasi dalam γ-Al2O3 terhadap aktivitas dan selektivitasnya untuk reaksi isomerisasi dan hidrogenasi (R-(+-Sitronelal telah dilakukan. Dalam penelitian ini, terdapat tiga jenis variasi komposisi Ni dan ZnBr2 dalam γ-Al2O3, yaitu: A1=Ni/ZnBr2/γ-Al2O3 (3:2, A2=Ni/ZnBr2/γ-Al2O3 (1:1 dan A3=Ni/ZnBr2/γ-Al2O3 (2:3. Katalis dikarakterisasi menggunakan X-ray diffraction (XRD, Brunauer-Emmett-Teller (BET surface area, dan SEM-EELS. Luas area permukaan spesifik dan porositasnya ditentukan berdasarkan adsorption-desorption gas nitrogen pada 77 K. Distribusi dan volume pori ditentukan dengan desorption isotherm pada P/Po ≥ 0,3. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara karakter dan sifat katalis dengan aktivitas katalitiknya terhadap produk isomerisasi dan hidrogenasi (R-(+-Sitronelal. Uji aktivitas dilakukan dalam sebuah reaktor mini dengan 0,5 g katalis dan 3 mL (R-(+-Sitronelal menggunakan atmosfir gas N2 dan/atau H2 dalam waktu 5 dan 24 jam masing-masing pada suhu 90 dan 120 °C. Komposisi katalis, pemilihan jenis atmosfir gas dan suhu sangat berpengaruh terhadap aktivitas dan selektivitas pembentukan produk isomerisasi dan hidrogenasi. Konversi (R-(+-Sitronelal tertinggi ditunjukkan oleh katalis A3=Ni/ZnBr2/γ-Al2O3 (2:3 dengan kondisi reaksi selama 5 jam (4 jam N2 + 1 jam H2 pada suhu 90 °C dan 24 jam (4 jam N2 + 20 jam H2 pada suhu 120 °C. The influence of catalyst properties and characteristics of Ni and ZnBr2 catalysts impregnated in γ-Al2O3 on the activity and selectivity of (R-(+-Citronellal isomerisation and hydrogenation has been done. In this study, there were three sets of Ni and ZnBr2 in γ-Al2O3 with various composition, they were A1=Ni/ZnBr2/γ-Al2O3 (3:2, A2=Ni/ZnBr2/γ-Al2O3 (1:1, A3=Ni/ZnBr2/γ-Al2O3 (2:3. The catalysts were characterized using X-ray diffraction (XRD, Brunauer-Emmett-Teller (BET surface area and SEM

  3. Qualification of the nuclear reactor core model DYN3D coupled to the thermohydraulic system code ATHLET, applied as an advanced tool for accident analysis of VVER-type reactors. Final report; Qualifizierung des Kernmodells DYN3D im Komplex mit dem Stoerfallcode ATHLET als fortgeschrittenes Werkzeug fuer die Stoerfallanalyse von WWER-Reaktoren. T. 1. Abschlussbericht

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Grundmann, U.; Kliem, S.; Krepper, E.; Mittag, S; Rohde, U.; Schaefer, F.; Seidel, A.

    1998-03-01

    Naturumlaufverhalten an thermohydraulischen Versuchsanlagen und der Loesung von Benchmarkaufgaben zu reaktivitaetsinduzierten Transienten, - Akquisition und Aufbereitung von Messdaten zu Transienten aus Kernkraftwerken, Validierung von ATHLET-DYN3D anhand der Nachrechnung eines Stoerfalls mit verzoegerter Schnellabschaltung und einer Pumpentransiente in WWER-Reaktoren, - eine ergaenzende Weiterentwicklung von DYN3D durch Erweiterung der neutronen-physikalischen Datenbasis, Einbau eines verbesserten Modells fuer die Kuehlmittelvermischung, Beruecksichtigung der Nachzerfallswaerme, Berechnung von Xenon-Oszillationen, Analyse von Frischdampfleckszenarien fuer eine WWER-440-Anlage mit Annahme des Versagens verschiedener Sicherheitseinrichtungen, Untersuchung verschiedener Modelloptionen. Die Analyse ergab eine moegliche Rekritikalitaet des abgeschalteten Reaktors bei realistischer Modellierung der Kuehlmittelvermischung im Ringspalt und unteren Plenum. Mit der Anwendung des Programmpakets ATHLET-DYN3D in Tschechien, Bulgarien und der Ukraine wurde bereits begonnen. Weiterfuehrende Arbeiten beinhalten die Verifikation von ATHLET-DYN3D mit einer DYN3D-Version fuer die quadratische Brennelementgeometrie westlicher Druckwasserreaktoren. (orig.)

  4. Influence of Light Intensity and Temperature on Cultivation of Microalgae Desmodesmus Communis in Flasks and Laboratory-Scale Stirred Tank Photobioreactor

    Science.gov (United States)

    Vanags, J.; Kunga, L.; Dubencovs, K.; Galvanauskas, V.; Grīgs, O.

    2015-04-01

    Optimization of the microalgae cultivation process and of the bioprocess in general traditionally starts with cultivation experiments in flasks. Then the scale-up follows, when the process from flasks is transferred into a laboratory-scale bioreactor, in which further experiments are performed before developing the process in a pilot-scale reactor. This research was done in order to scale-up the process from a 0.4 1 shake flask to a 4.0 1 laboratory-scale stirred-tank photobioreactor for the cultivation of Desmodesmus (D.) communis microalgae. First, the effect of variation in temperature (21-29 ºC) and in light intensity (200-600 μmol m-2s-1) was studied in the shake-flask experiments. It was shown that the best results (the maximum biomass concentration of 2.72 g 1-1 with a specific growth rate of 0.65 g g-1d-1) can be achieved at the cultivation temperature and light intensity being 25 °C and 300 μmol m2s-1, respectively. At the same time, D. communis cultivation under the same conditions in stirred-tank photobioreactor resulted in average volumetric productivities of biomass due to the light limitation even when the light intensity was increased during the experiment (the maximum biomass productivity 0.25 g 1-1d-1; the maximum biomass concentration 1.78 g 1-1). Mikroaļģu kultivēšanas procesa optimizēšana parasti sākas ar kultivēšanas eksperimentiem kolbās. Tālāk seko procesa pārnese uz laboratorijas mēroga fotobioreaktoru, kurā tiek veikti tālāki eksperimenti, pirms tiek izveidots pilota mēroga reaktors. Šis pētījums tika veikts ar mērķi, pārnest Desmodesmus communis kultivēšanas procesu no 0.4 1 kolbas uz 4.0 1 laboratorijas fotobioreaktoru. Vispirms tika pētīta dažādu temperatūru (21-29 ºC) un gaismas intensitātes (200-600 μmol m-2s-1) ietekme uz aļģu biomasu veicot eksperimentus kolbās. Labākie rezultāti (maksimālā biomasas koncentrācija 2.72 g 1-1; īpatnējais augšanas ātrums 0.65 g g-1d-1) sasniegti, kad

  5. HIDROLISIS SELULOSA MENJADI GLUKOSA DENGAN KATALIS HETEROGEN ARANG AKTIF TERSULFONASI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Didi Dwi Anggoro

    2014-12-01

    . Hasilnya kemudian dicuci dan dikeringkan, dilakukan uji karakteristik dan performance (kinerja katalis berupa kapasitas H+, ukuran pori katalis dengan BET, uji gugus fungsi dengan FTIR, dan uji struktur marfologi katalis dengan SEM. Kinerja katalis diuji dalam reaktor autoclave melalui proses hidrotermal dengan mevariasikan jumlah katalis, dan variasi temperatur. Hasil penelitian menunjukkan untuk uji karakteristik kapasitas H+ sebesar 2,95 mmol/gr, untuk uji BET ukuran pori 29 m2/gr , untuk uji FTIR keberadaan gugus sulfonat terbaca pada vibrasi panjang gelombang 1750 cm-1 dan 1379 cm-1 , pada uji SEM struktur morfologi katalis yang lebih terbuka pada karbon aktif setelah proses sulfonasi. Kinerja katalis konversi tertinggi selulosa menjadi glukosa mencapai 87,2% pada jumlah alang-alang 2 gr, jumlah katalis 2 gr, dan temperatur 170oC selama  8 jam. Kata kunci : selulosa; glukosa; karbon aktif tersulfonasi; alang-alang

  6. OPTIMASI LAJU ALIR MASSA DALAM PURIFIKASI PENDINGIN RGTT200K UNTUK PROSES KONVERSI KARBONMONOKSIDA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sumijanto Sumijanto

    2016-03-01

    Full Text Available ABSTRAK OPTIMASI LAJU ALIR MASSA DALAM PURIFIKASI PENDINGIN RGTT200K UNTUK PROSES KONVERSI KARBONMONOKSIDA. Karbonmonoksida adalah spesi yang sulit dipisahkan dari helium pendingin reaktor karena mempunyai ukuran molekul relatif kecil sehingga diperlukan proses konversi menjadi karbondioksida. Laju konversi karbonmonoksida dalam sistem purifikasi dipengaruhi oleh beberapa parameter diantaranya konsentrasi, temperatur dan laju alir massa. Dalam penelitian ini dilakukan optimasi laju alir massa dalam purifikasi pendingin RGTT200K untuk proses konversi karbonmonoksida. Optimasi dilakukan melalui simulasi proses konversi karbonmonoksida menggunakan perangkat lunak Super Pro Designer. Laju pengurangan spesi reaktan, laju pertumbuhan spesi antara dan spesi produk dalam kesetimbangan reaksi konversi dianalisis untuk memperoleh optimasi laju alir massa purifikasi terhadap proses konversi karbonmonoksida. Tujuan penelitian ini adalah menyediakan data laju alir massa purifikasi untuk pembuatan dasar desain sistem purifikasi helium pendingin RGTT200K. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada laju alir massa 0,6 kg/detik proses konversi belum optimal, pada laju alir massa 1,2 kg/detik mencapai optimal dan pada laju alir 3,6 kg/detik s/d 12,0 kg/detik tidak efektif. Untuk memdukung dasar desain sistem purifikasi helium pendingin RGTT200K maka laju alir massa purifikasi untuk proses konversi karbonmonoksida digunakan laju alir massa 1,2 kg/detik. Kata kunci: Karbonmonoksida, konversi, purifikasi, laju alir massa, RGTT200K.   ABSTRACT OPTIMIZATION OF MASS FLOW RATE IN RGTT200K COOLANT PURIFICATION FOR CARBONMONOXIDE CONVERSION PROCESS. Carbonmonoxide is a species that is difficult to be separated from the reactor coolant helium because it has a relatively small molecular size.  So it needs a process of conversion from carbonmonoxide to carbondioxide. The rate of conversion of carbonmonoxide in the purification system is influenced by several parameters

  7. PENGARUH KONDISI ATMOSFERIK TERHADAP PERHITUNGAN PROBABILISTIK DAMPAK RADIOLOGI KECELAKAAN PWR 1000-MWe

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Pande Made Udiyani

    2015-10-01

    Full Text Available ABSTRAK PENGARUH KONDISI ATMOSFERIK TERHADAP PERHITUNGAN PROBABILISTIK DAMPAK RADIOLOGI KECELAKAAN PWR 1000-MWe.  Perhitungan dampak kecelakaan radiologi terhadap lepasan produk fisi akibat kecelakaan potensial yang mungkin terjadi di Pressurized Water Reactor (PWR diperlukan secara probabilistik. Mengingat kondisi atmosfer sangat berperan terhadap dispersi radionuklida di lingkungan, dalam penelitian ini akan dianalisis pengaruh kondisi atmosferik terhadap perhitungan probabilistik dari konsekuensi kecelakaan reaktor.  Tujuan penelitian adalah melakukan analisis terhadap pengaruh kondisi atmosfer berdasarkan model data input meteorologi terhadap dampak radiologi kecelakaan PWR 1000-MWe yang disimulasikan pada tapak yang mempunyai kondisi meteorologi yang berbeda. Simulasi menggunakan program PC-Cosyma dengan moda perhitungan probabilistik, dengan data input meteorologi yang dieksekusi secara cyclic dan stratified, dan disimulasikan di Tapak Semenanjung Muria dan Pesisir Serang. Data meteorologi diambil setiap jam untuk jangka waktu satu tahun. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa frekuensi kumulatif  untuk model input yang sama untuk Tapak pesisir Serang lebih tinggi dibandingkan dengan Semenanjung Muria. Untuk tapak yang sama, frekuensi kumulatif model input cyclic lebih tinggi dibandingkan model stratified. Model cyclic memberikan keleluasan dalam menentukan tingkat ketelitian perhitungan dan tidak membutuhkan data acuan dibandingkan dengan model stratified. Penggunaan model cyclic dan stratified melibatkan jumlah data yang besar dan pengulangan perhitungan  akan meningkatkan  ketelitian nilai-nilai statistika perhitungan. Kata kunci: dampak kecelakaan, PWR 1000-MWe,  probabilistik,  atmosferik, PC-Cosyma   ABSTRACT THE INFLUENCE OF ATMOSPHERIC CONDITIONS TO PROBABILISTIC CALCULATION OF IMPACT OF RADIOLOGY ACCIDENT ON PWR-1000MWe. The calculation of the radiological impact of the fission products releases due to potential accidents

  8. SINTESIS DIMETIL ASETAL SITRONELAL DENGAN KATALIS GAS HCL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    E Cahyono

    2014-06-01

    Full Text Available Perlindungan gugus aldehida melalui pembentukan asetal umumnya dilakukan dengan metanol atau etanol terkatalis asam. Sitronelal memiliki gugus aldehida dan gugus alkena. Dalam lingkungan asam, sitronelal mudah mengalami siklisasi membentuk isopulegol dan isomernya. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dimetil asetal sitronelal dengan katalis gas HCl. Penggunaan gas HCl secara terbatas dimaksudkan untuk menghindari siklisasi sitronelal. Dalam suatu reaktor, 10 mL sitronelal ditambah dengan 20 mL metanol absolut dan 2 g CaCl2 pada labu leher tiga. Gas HCl dialirkan dengan laju alir 12 mL/menit pada temperatur ruang hingga pH campuran menjadi 2-3. Kemudian dilakukan pengadukan pada 30°C selama 48 jam dan diambil sampel pada durasi reaksi 12, 24 dan 48 jam. Dalam penelitian ini dilakukan variasi temperatur dan jumlah CaCl2. Dimetil asetal sitronelal yang dihasilkan diisolasi dengan distilasi fraksinasi pengurangan tekanan dan diuji strukturnya dengan GC-MS, IR dan 1H-NMR. Peningkatan temperatur dan jumlah CaCl2 meningkatkan konversi sitronelal. Setelah 48 jam kuantitas dimetil asetal sitronelal mencapai 48,65%. Distilasi fraksinasi pengurangan tekanan (5 cmHg terbukti meningkatkan kemurnian dimetil asetal sitronelal menjadi 86,39% terhadap produk kasarnya. Elusidasi struktur dengan spektrofotometer infra merah (IR dan resonansi magnetik inti (1H-NMR pada hasil distilasi fraksinasi membuktikan adanya struktur asetal sitronelal.  Aldehyde group protection through acetal formation is generally performed by acid catalyzed methanol or ethanol. Citronellal that has aldehyde and alkene groups. In acidic environment, it is prone to do cyclization to form isopulegol and its isomers. This study aims to synthesize dimethyl acetal of citronellal with HCl gas catalysts. The limitation of HCl using gas was intended to avoid the citronellal cyclization. In a reactor, 10 mL citronellal was added with 20 mL of absolute methanol and 2 g CaCl2 in the three

  9. Development of the neutron-transport code TransRay and studies on the two- and three-dimensional calculation of effective group cross sections; Entwicklung des Neutronentransportcodes TransRay und Untersuchungen zur zwei- und dreidimensionalen Berechnung effektiver Gruppenwirkungsquerschnitte

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Beckert, C.

    2007-12-19

    Reaktorkernrechnungen mit 2D-Zellcodes. Ziel dieser Arbeit war es, einen 3D-Zellcode zu entwickeln, mit diesem Code 3D-Effekte zu untersuchen und die Notwendigkeit einer 3D-Datenaufbereitung der Neutronenwirkungsquerschnitte zu bewerten. Zur Berechnung des Neutronentransports wurde die Methode der Erststosswahrscheinlichkeiten, die mit der Ray-Tracing-Methode berechnet werden, gewaehlt. Die mathematischen Algorithmen wurden in den 2D/3D-Zellcode TransRay umgesetzt. Fuer den Geometrieteil des Programms wurde das Geometriemodul eines Monte-Carlo-Codes genutzt. Das Ray-Tracing in 3D wurde auf Grund der hohen Rechenzeiten parallelisiert. Das Programm TransRay wurde an 2D-Testaufgaben verifiziert. Fuer einen Druckwasser-Referenzreaktor wurden folgende 3D-Probleme untersucht: Ein teilweise eingetauchter Regelstab und Void (Vakuum oder Dampf) um einen Brennstab als Modell einer Dampfblase. Alle Probleme wurden zum Vergleich auch mit den Programmen HELIOS (2D) und MCNP (3D) nachgerechnet. Die Abhaengigkeit des Multiplikationsfaktors und der gemittelten Zweigruppenquerschnitte von der Eintauchtiefe des Regelstabes bzw. von der Hoehe der Dampfblase wurden untersucht. Die 3D berechneten Zweigruppenquerschnitte wurden mit drei ueblichen Naeherungen verglichen: Lineare Interpolation, Interpolation mit Flusswichtung und Homogenisierung. Am 3D-Problem des Regelstabes zeigte sich, dass die Interpolation mit Flusswichtung eine gute Naeherung ist. Demnach ist hier eine 3D-Datenaufbereitung nicht notwendig. Beim Testfall des einzelnen Brennstabs, der von Void umgeben ist, erwiesen sich die drei Naeherungen fuer die Zweigruppenquerschnitte als unzureichend. Demnach ist eine 3D-Datenaufbereitung notwendig. Die einzelne Brennstabzelle mit Void kann als der Grenzfall eines Reaktors angesehen werden, in dem sich eine Phasengrenzflaeche herausgebildet hat. (orig.)

  10. KARAKTERISTIK MIKROSTRUKTUR DAN FASA PADUAN Zr- 0,3%Nb-0,5%Fe-0,5%Cr PASCA PERLAKUAN PANAS DAN PENGEROLAN DINGIN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sungkono Sungkono

    2015-07-01

    Full Text Available KARAKTERISTIK MIKROSTRUKTUR DAN FASA PADUAN Zr-0,3%Nb-0,5%Fe-0,5%Cr PASCA PERLAKUAN PANAS DAN PENGEROLAN DINGIN. Logam paduan Zr-Nb-Fe-Cr dikembangkan sebagai material kelongsong elemen bakar dengan fraksi bakar tinggi untuk reaktor daya maju. Dalam penelitian ini telah dibuat paduan Zr-0,3%Nb-0,5%Fe-0,5%Cr yang mendapat perlakuan panas pada temperatur 650 dan 750°C dengan waktu penahanan 1–2 jam. Tujuan penelitian adalah mendapatkan karakter paduan Zr-0,3%Nb-0,5%Fe-0,5%Cr pasca perlakuan panas dan pengerolan dingin yaitu mikrostruktur, struktur kristal dan fasa-fasa yang ada dalam paduan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paduan Zr-0,3%Nb-0,5%Fe-0,5%Cr pasca perlakuan panas (650ºC, 1-2 jam mempunyai struktur butir ekuiaksial dengan ukuran butir bertambah besar seiring dengan bertambahnya waktu penahanan. Sementara itu, pasca perlakuan panas (750ºC, 1-2 jam terjadi perubahan mikrostruktur paduan dari butir ekuiaksial dan kolumnar menjadi butir ekuiaksial lebih besar. Paduan Zr-0,3%Nb-0,5%Fe-0,5%Cr pasca perlakuan panas (650°C, 1 jam dan (750°C, 1 jam tidak dapat dirol dingin dengan reduksi tebal 5 – 10%, sedangkan pasca perlakuan panas (650ºC, 2 jam dan (750°C, 1.5-2 jam mampu menerima deformasi dingin dengan reduksi ketebalan 5-10% tanpa mengalami keretakan. Senyawa Zr2Fe, ZrCr2 dan FeCr teridentifikai dari hasil uji kristalografi paduan Zr-0,3%Nb-0,5%Fe-0,5%Cr.   MICROSTRUCTURE AND PHASE CHARACTERISTICSOF Zr-0.3%Nb-0.5%Fe-0.5%Cr ALLOY POST HEAT TREATMENT AND COLD ROLLING. Zr-Nb-Fe-Cr alloys was developed as fuel elements cladding with high burn up for advanced power reactors. In this research has been made of Zr-0.3% Nb-0.5% Fe-0.5% Cr alloy were heat treated with varying temperatures at650 and 750°C for 1 until 2 hours. The objectives of this research was to obtain the character of Zr-0.3% Nb-0.5% Fe-0.5% Cr alloy post heat treatment and cold rolling, microstructure nomenclature, crystal structure and phases that presents in the

  11. Electrochemical catalytic reduction of nitrate with noble metal catalysts. Pt. 1. Experimental study of the process in concentrated nitrate-containing solutions under acid conditions; Elektrochemisch-katalytische Nitratreduktion an Edelmetallkatalysatoren. T. 1. Prozessuntersuchungen in konzentrierten, nitrathaltigen Loesungen unter sauren Bedingungen

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Schoenfuss, D.; Roemer, D.; Fischer, R. [Technische Univ. Dresden (Germany). Inst. fuer Wasserchemie und Chemische Wassertechnologie; Rahner, D. [Technische Univ. Dresden (Germany). Inst. fuer Physikalische Chemie und Elektrochemie

    1997-11-01

    Stickstoff umgewandelt. Ueber erste Erfahrungen, die bei diskontinuierlichen Versuchen in Modelloesungen unter sauren Bedingungen im Labor gesammelt wurden, wird berichtet. Als Reaktor wird eine Gas-Lift-Membran-Elektrolysezelle, die mit peripheren Zusatzgeraeten, wie Mess- und Regeleinrichtungen gekoppelt ist, eingesetzt. Das zu behandelnde Konzentrat wird zusammen mit einem Cu/Pd-dotierten Aktivkohlekatalysator im Kreislauf durch den Katodenraum gepumpt. Dabei kommt es in Abhaengigkeit vom pH-Wert, von der Stromdichte und der Katalysatorbeschaffenheit zur Bildung von Stickstoff und N-haltigen Nebenprodukten, wie z.B. NH{sub 4}{sup +}, N{sub 2}O, NO und NH{sub 2}OH. Bei ersten Optimierungsversuchen zur Minimierung der Nebenproduktbildung konnten bei I/A=0,0125 A/cm{sup 2}, pH=6 und Verwendung eines Katalysators mit 10 Massen-% Pd auf CHEMVIRON-Kohle bis zu 60% des Nitratstickstoffes zu N{sub 2} umgewandelt werden. (orig.)

  12. PENINGKATAN KUALITAS DAN PROSES PEMBUATAN BIODIESEL DARI BLENDING MINYAK KELAPA SAWIT (PALM OIL DAN MINYAK KELAPA (COCONUT OIL DAN BANTUAN GELOMBANG ULTRASONIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hantoro Satriadi

    2015-01-01

    Full Text Available Keterbatasan solar sebagai sumber energi bahan bakunya tidak dapat diperbaharui menuntut adanya bahan baku alternatif yang dapat diperbaharui dan ramah lingkungan untuk pembuatan biodiesel. Reaksi utama produksi biodiesel adalah esterifikasi dan transestirifikasi yang berlangsung lambat dan membutuhkan banyak katalis dan alkohol. Reaksi yang terjadi belum sempurna dan belum memenuhi standar SNI dan ASTM. Untuk memperbaiki mutu biodiesel serta menghasilkan yield maksimal, maka dilakukan blending bahan baku antara minyak kelapa sawit dan minyak kelapa dan dengan bantuan gelombang ultrasonic. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh variabel perbandingan volume minyak kelapa sawit dan minyak kelapa, perbandingan volume methanolminyak, dan persentase berat katalis terhadap minyak terhadap hasil atau yield biodiesel. Alat utama yang digunakan adalah reaktor yang dilengkapi pembangkit gelombang ultrasonic dengan temperature 60 oC, tekanan 1 atm, volume 3 liter, dan frekuensi 28 kHz. Variabel proses pada penelitian ini adalah perbandingan volume minyak sawit dan kelapa 2:1, 3:1, dan 4:1, pebandingan volume metanol-minyak 0,2:1, 0,25:1, dan 0,3:1, dan persentase berat katalis KOH terhadap minyak 0,3%, 0,5%, dan 0,7%. Hasil penelitian didapat konversi tertinggi dicapai pada variabel perbandingan volume minyak sawit dan kelapa 3:1, perbandingan volume metanol/minyak 0,25:1, dan persentase berat katalis terhadap minyak dengan yield 97,26%.[A Improvement of Quality and Process for Biodiesel Production from Palm Oil and Coconut Oil Blends with Ultrasound Assisted] Limitations of solar energy as a source of raw material cannot be renewed demands for alternative raw materials that are renewable and environmentally friendly for the manufacture of biodiesel. The main production of biodiesel reaction is esterification and transestirifikasi which runs slow and requires a lot of alcohol and a catalyst. Reactions that happen yet perfect, and has not met

  13. PENGARUH TEMPERATUR DAN IRADIASI TERHADAP INTERDIFUSI PARTIKEL BAHAN BAKAR JENIS U−7Mo/Al

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Maman Kartaman Ajiriyanto

    2016-06-01

    Full Text Available ABSTRAK PENGARUH TEMPERATUR DAN IRADIASI TERHADAP INTERDIFUSI PARTIKEL BAHAN BAKAR JENIS U−7Mo/Al. Paduan U−7Mo/Al memiliki potensi besar sebagai bahan bakar reaktor riset, tetapi bahan bakar ini memiliki beberapa kekurangan antara lain dapat membentuk interaction layer pada antarmuka pada saat proses fabrikasi maupun iradiasi di reaktor melalui mekaniame difusi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui terjadinya interaction layer yang disebabkan oleh interdifusi atau diffusion couple paduan U−7Mo dengan pelat AlMg2 yang dipanaskan pada temperatur 500 °C dan 550 °C selama 24 jam dalam tungku arc furnace dan tungku DTA pada temperatur 30 °C hingga 1400 °C. Hasil pengamatan mikrostruktur menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM pada sampel diffusion couple hasil pemanasan pada temperatur 500 °C belum terlihat adanya interaction layeratau pembentukan fasa baru antara partikel U−Mo dan matriks Al. Sementara itu, pemanasan pada temperatur 550 °C telah terjadi interdifusi paduan U−7Mo dengan pelat AlMg2 menghasilkan senyawa (U,MoAlx pada antarmuka atau interface. Hal ini didukung oleh hasil analisis DTA menunjukkan bahwa paduan U−7Mo/Al pada 500 °C mempunyai kompatibilitas panas yang baik, tetapi diatas temperatur 550 °C telah terjadi perubahan fasa a + d menjadi a + g. Pemanasan hingga 679,14 °C terjadi fasa metastabil U(Al,Mox dan selanjutnya mengalami proses interdifusi dengan leburan uranium membentuk interaction layer berupa aglomerat senyawa UAlx (UAl4, UAl3 danUAl2. Aglomerat yang terbentuk dari proses pemanasan secara diffusion couple maupun dalam tungku DTA dibandingkan dengan aglomerat yang terbentuk akibat proses iradiasi. Bahan bakar paduan U−7Mo/Al yang diradiasi dengan burn up 58% mengalami interdifusi antara U−7Mo dengan matriks Al menghasilkan fasa metastabil U(Al,Mox yang berubah menjadi layer (U,MoAl7, presipitat UMo2Al20, (UMoAl3−Al dan membentuk boundary atau aglomerat UAlx (UAl4, UAl3 danUAl2

  14. Distributed computations in a dynamic, heterogeneous Grid environment

    Science.gov (United States)

    Dramlitsch, Thomas

    2003-06-01

    other reasons for low performance - develop new and advanced algorithms for parallelisation that are aware of a Grid environment in order to generelize the traditional parallelization schemes - implement and test these new methods, replace and compare with the classical ones - introduce dynamic strategies that automatically adapt the running code to the nature of the underlying Grid environment. The higher the performance one can achieve for a single application by manual tuning for a Grid environment, the lower the chance that those changes are widely applicable to other programs. In our analysis as well as in our implementation we tried to keep the balance between high performance and generality. None of our changes directly affect code on the application level which makes our algorithms applicable to a whole class of real world applications. The implementation of our work is done within the Cactus framework using the Globus toolkit, since we think that these are the most reliable and advanced programming frameworks for supporting computations in Grid environments. On the other hand, however, we tried to be as general as possible, i.e. all methods and algorithms discussed in this thesis are independent of Cactus or Globus. Die immer dichtere und schnellere Vernetzung von Rechnern und Rechenzentren über Hochgeschwindigkeitsnetzwerke ermöglicht eine neue Art des wissenschaftlich verteilten Rechnens, bei der geographisch weit auseinanderliegende Rechenkapazitäten zu einer Gesamtheit zusammengefasst werden können. Dieser so entstehende virtuelle Superrechner, der selbst aus mehreren Grossrechnern besteht, kann dazu genutzt werden Probleme zu berechnen, für die die einzelnen Grossrechner zu klein sind. Die Probleme, die numerisch mit heutigen Rechenkapazitäten nicht lösbar sind, erstrecken sich durch sämtliche Gebiete der heutigen Wissenschaft, angefangen von Astrophysik, Molekülphysik, Bioinformatik, Meteorologie, bis hin zur Zahlentheorie und Fluiddynamik um nur

  15. Effects of low dosage Co-60 irradiation in the course of aseptic arthritis of the knee joint of rabbits; Effekte einer niedrig dosierten Co-60-Bestrahlung auf den Verlauf einer aseptischen Arthritis am Kniegelenk des Kaninchens

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Fischer, U.; Koch, F.; Ludewig, E. [Univ. Leipzig (Germany). Veterinaermedizinische Fakultaet; Kamprad, F.; Melzer, R.; Hildebrandt, G. [Leipzig Univ. (Germany). Klinik fuer Strahlentherapie und Radioonkologie

    1998-12-01

    significance. Conclusion: The experiments provide evidence for an antiphlogistic effect of irradiation with 5 times 1.0 Gy in vivo. They support the clinical observations of the efficacy of anti-inflammatory radiotherapy. (orig.) [Deutsch] Ziel: Zahlreiche klinisch-empirische Erhebungen zeigten die Effektivitaet niedriger Strahlendosen in der Therapie schmerzhafter entzuendlich-degenerativer Gelenkerkrankungen. Experimentelle Untersuchungen liegen jedoch kaum vor. Wir untersuchten die Effekte einer lokalen fraktionierten Co-60-Bestrahlung mit 5mal, 1,0 Gy auf eine artifizielle aseptische Arthritis am Kniegelenk des Kaninchens. Material und Methoden: Es wurden drei Einzelversuche (EV) mit jeweils zehn Kaninchen (fuenf Versuchs- und fuenf Kontrolltiere) durchgefuehrt (Versuchsdauer: EV1: 18 Tage; EV2: Sechs Tage; EV3: 29 Tage). Die Induktion der aseptischen Arthritis erfolgte am Tag 0 durch intraartikulaere Injektion von 0,5 ml einer 3%igen Papainloesung (30 000 USP/mg) in das rechte Kniegelenk. Die taeglich fraktionierte lokale Bestrahlung des arthritischen Gelenks mit 5mal, 1,0 Gy wurde an den Tagen 1 bis 5 waehrend einer Kurznarkose durchgefuehrt. Die Kontrollgruppen wurden in analoger Technik an den Tagen 1 bis 5 scheinbestrahlt. Der Verlauf der Arthritis in den Versuchs- und Kontrollgruppen wurde anhand klinischer, laborchemischer und morphometrischer Parameter charakterisiert. Die klinische Untersuchung erfolgte taeglich, die Punktion der Kniegelenke in EV1 wiederholt, in EV2 und EV3 am letzten Versuchstag. Jeweils am Versuchsende wurden die Kniegelenke zur histologischen Analyse nach erfolgter Euthanasie entnommen. Ergebnisse: Die intraartikulaere Injektion von Papain fuehrte bei allen Tieren zu einer perakuten entzuendlichen Reaktion, welche nach einer Woche in die chronische Phase ueberging und sich ueber mehrere Wochen kontinuierlich zurueckbildete. Die lokal bestrahlten Versuchstiere zeigten klinisch eine signifikant schnellere Rueckbildung der entzuendlichen

  16. ANALISIS SENSITIVITAS TURBULENSI ALIRAN PADA KANAL BAHAN BAKAR PWR BERBASIS CFD

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Endiah Puji Hastuti

    2015-04-01

    Full Text Available Turbulensi aliran pendingin pada proses perpindahan panas berfungsi untuk meningkatkan nilai koefisien perpindahan panas, tidak terkecuali aliran dalam kanal bahan bakar. Program CFD (CFD=computational fluid dynamics, FLUENT adalah program komputasi berbasis elemen hingga (finite element yang mampu memprediksi dan menganalisis fenomena dinamika aliran fluida secara teliti. Program perhitungan CFD dipilih dalam penelitian ini karena selain akurat juga dapat memberikan visualisasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami karakteristika perpindahan panas, massa dan momentum dari dinding rod bahan bakar ke pendingin secara visual, pada medan temperatur, medan tekanan, dan medan energi kinetika pendingin, sebagai fungsi dinamika aliran di dalam kanal, pada kondisi tunak dan transien. Analisis dinamika aliran pada kanal bahan bakar PWR berbasis CFD dilakukan dengan menggunakan sampel data reaktor PWR dengan daya 1000 MWe dengan susunan bahan bakar 17x17. Untuk menguji sensitivitas persamaan aliran yang sesuai dengan model aliran turbulen pada kanal bahan bakar dilakukan pemodelan dengan menggunakan persamaan k-omega (Ƙ-ω, k-epsilon (Ƙ-ε, dan Reynold stress model (RSM. Pada analisis sensitivitas aliran turbulen di dalam kanal digunakan model mesh hexahedral dengan memilih tiga geometri sel yang masing masing berukuran 0,5 mm; 0,2 mm dan 0,15 mm. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada analisis kondisi tunak (steady state, terdapat hasil yang mirip pada model turbulen Ƙ-ε standard dan Ƙ-ω standard. Pengujian terhadap kriteria Dittus Boelter untuk bilangan Nusselt menunjukkan bahwa model Reynold stress model (RSM direkomendasikan. Analisis sensitivitas terhadap geometri mesh antara sel yang berukuran 0,5 mm, 0,2 mm dan 0,15 mm, menunjukkan bahwa geometri sel sebesar 0,5 mm telah mencukupi. Aliran turbulen berkembang penuh telah tercapai pada model LES dan DES, meskipun hanya dalam waktu singkat (3 s, model LES memerlukan waktu komputasi

  17. PENGARUH SERBUK U-Mo HASIL PROSES MEKANIK DAN HYDRIDE – DEHYDRIDE – GRINDING MILL TERHADAP KUALITAS PELAT ELEMEN BAKAR U-Mo/Al

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Supardjo Supardjo

    2015-07-01

    Full Text Available PENGARUH SERBUK U-Mo HASIL PROSES MEKANIK DAN HYDRIDE – DEHYDRIDE – GRINDING MILL TERHADAP KUALITAS PELAT ELEMEN BAKAR U-Mo/Al. Penelitian bahan bakar U-7Mo/Al tipe pelat dilakukan dalam rangka pengembangan bahan bakar U3Si2/Al untuk mendapatkan bahan bakar baru yang memiliki densitas uranium lebih tinggi, stabil selama digunakan sebagai bahan bakar di dalam reaktor dan mudah dilakukan proses olah ulangnya. Lingkup penelitian meliputi pembuatan: paduan U-7Mo dengan teknik peleburan, pembuatan serbuk U-7Mo dengan dikikir dan hydride - dehydride - grinding mill, IEB U-7Mo/Al dengan teknik kompaksi pada tekanan 20 bar, dan PEB U-7Mo/Al dengan teknik pengerolan panas pada temperatur 425oC. Paduan U-7Mo hasil proses peleburan cukup homogen, berat jenis 16,34 g/cm3 dan bersifat ulet, kemudian dibuat menjadi serbuk dengan cara dikikir dan hydride - dehydride - grinding mill. Serbuk U-7Mo hasil proses kikir berbentuk pipih, kontaminan Fe cukup tinggi, sedangkan serbuk hasil proses hydride - dehydride - grinding mill, cenderung equiaxial dengan kontaminan yang rendah. Kedua jenis serbuk U-7Mo tersebut digunakan sebagai bahan baku pembuatan IEB U-7Mo/Al dan PEB U-7Mo/Al dengan densitas uranium 7 gU/cm3 dan diperoleh produk dengan kualitas yang hampir sama. Hasil uji IEB U-7Mo/Al berukuran 25 x 15 x 3,15±0,05 mm, tidak terdapat cacat/retak, distribusi U-7Mo di dalam matriks cukup homogen dan tidak terdapat pengelompokan/aglomerasi U-7Mo yang berdimensi >1 mm. PEB U-7Mo/Al hasil pengerolan dengan tebal akhir 1,45 mm, memiliki ketebalan meat rerata 0,60 mm dan tebal kelongsong 0,4 mm dan terdapat 1 titik pengukuran kelongsong dengan ketebalan 0,15 mm. Dengan membandingkan penggunaan kedua jenis serbuk U-7Mo tersebut, IEB U-7Mo/Al dan PEB U-7Mo/Al yang dihasilkan memiliki kualitas hampir sama. Namun demikian penggunaan serbuk U- 7Mo hasil proses hydride - dehydride - grinding mill lebih baik karena proses pengerjaannya lebih cepat dan impuritas dalam

  18. Presentation of the results for deuterium retention and thermal release in a new type of low activation ferritic-martensitic steel EUROFER / Результаты исследования по удержанию дейтерия и термической десорбции в условиях низкой активации ферритно-мартенситной стали EUROFER / Rezultati zadržavanja i termalne desorpcije deuterijuma u EUROFER-u, novoj vrsti feritno-martenzitnog čelika niske aktivacije

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sanja Lj. Korica

    2016-04-01

    žđu, hromu i EOROFER-u, leguri koja se razmatra kao najnoviji materijal za buduće fuzione reaktore. Studija je pokazala sledeće rezultate: zadržavanje deuterijuma u hromu je mnogo veće nego u gvožđu (usled formiranja hidrida hroma, zadržavanje deuterijuma u EUROFER-u je za faktor 2 veće nego u gvožđu, primećena je specifična struktura u koncentracionom profilu gvožđa i EUROFER-a na dubini ~ 4 μm, veliki stepen difuznosti i zadržavanja deuterijuma govore o potencijalnoj upotrebi Au kao difuzione barijere u fuzionom reaktoru.

  19. Test report of the melt spreading tests ECOKATS-V1 and ECOKATS-1. CONTRACT FIKS-CT1999-00003 - EX-VESSEL CORE MELT STABILIZATION RESEARCH

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Alsmeyer, H.; Cron, T.; Foit, J.J.; Messemer, G.; Schmidt-Stiefel, S.; Haefner, W. [Becker Technologies, Eschborn (Germany); Kriscio, H.

    2004-11-01

    -komponentigen Oxidschmelze, die die ex-vessel Kernschmelze in einem unterstellten Reaktor-Unfall simuliert. Die Schmelze wurde durch eine modifizierte exotherme Thermit-Reaktion erzeugt und unter kontrollierten Bedingungen auf die Ausbreitungsflaeche geleitet. Um die Kenntnis ueber die rheologischen Eigenschaften der ausgewaehlten Oxidschmelze zu verbessern, wurde das Vorexperiment ECOKATS-V1 durchgefuehrt, bei dem sich die Schmelze in einem 1-dimensionalen Kanal ausbreitete. Dieses Experiment ermoeglicht mit Hilfe qualifizierter Rechnungen zur Ausbreitung, die anfaengliche Zaehigkeit der Schmelze abzuschaetzen und ihr rheologisches Verhalten innerhalb des Erstarrungsbereiches zu charakterisieren. Darueber hinaus wurden wichtige Informationen ueber den Ablauf der 1-dimensionalen Ausbreitung gewonnen, speziell im Hinblick auf das Einsetzen der Erstarrung und das Wachsen und Versagen der Kruste an der Front der Schmelze. Das Experiment ECOKATS-1 wurde als 2-dimensionales Ausbreitexperiment auf einer grossen Betonflaeche von 4 m Laenge und 3 m Breite ausgefuehrt. 547 kg Oxidschmelze wurden waehrend 85 s Auslaufzeit auf die Ausbreitflaeche geleitet. Schmelze und Ausbreitbedingungen waren so gewaehlt, dass ein Stopp der Ausbreitung waehrend der Aufgabe der Schmelze eintreten sollte (unvollstaendige Ausbreitung). Die Gasfreisetzung aus dem Beton hat dabei einen wichtigen Einfluss auf den Ausbreitvorgang, wie z. B. durch die Ausbreitung im Einlaufkanal im Vergleich mit dem Experiment ECOKATS-V1 festgestellt werden kann. Die Ausbreitung der Schmelze auf der Flaeche stoppte in Laengsrichtung bereits nach 1 m nach 20 s, und erfolgte dann in Querrichtung in Richtung der seitlichen Waende sowie durch eine Folge kleiner Schmelzenausfluesse durch Risse, die in der vorderen Kruste entstanden. Das Ende der Ausbreitung war 15 s nach dem Ende der Schmelzenzufuhr erreicht. Die gesamte von der Schmelze bedeckte Flaeche betrug 4,88 m2.

  20. Developments for transactinide chemistry experiments behind the gas-filled separator TASCA

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Even, Julia

    2011-12-13

    auf dem Elektrodenmaterial ab. Wenn die Adsorption auf dem Elektrodenmaterial gegenueber der Adsorption auf einer Oberflaeche aus dem abzuscheidenen Element bevorzugt ist, so verschiebt sich das Potential zu hoeheren Werten und man spricht von Unterpotentialabscheidung. Moeglichkeiten automatisierter Elektrochemieexperimente hinter dem gas-gefuellten Separator TASCA wurden untersucht, um spaetere Studien mit Transaktiniden durchfuehren zu koennen. Der zweite Teil der Arbeit befasst sich mit der In-situ-Synthese fluechtiger Carbonylkomplexe mit Kernreaktionsprodukten. Spaltprodukte des Uran-235 und Californium-249 wurden am TRIGA Mainz Reaktor erzeugt und in kohlenstoffmonoxidhaltiger Atmosphaere thermalisiert. Die gebildeten fluechtigen Komplexe der Uebergangsmetalle konnten im Gasstrom transportiert werden. Desweiteren wurden kurzlebige Isotope der Elemente Wolfram, Rhenium, Osmium und Iridium am Linearbeschleuniger UNILAC am GSI Helmholtzzentrum fuer Schwerionenforschung, Darmstadt, in Kernfusionreaktionen erzeugt und im gasgefuellten Separator TASCA vom Ionenstrahl und den Transferprodukten getrennt. Die Kernfusionprodukte wurden in TASCAs Fokalebene in einer Rueckstosskammer in einer Kohlenstoffmonoxid-Helium Gasmischung thermalisiert. Die so erzeugten Carbonyl-Komplexe kurzlebiger Isotope wurden mittels kernsprektroskopischer Methoden identifiziert und zum Teil gaschromatographisch untersucht. Anhand des Vergleichs mit Monte Carlo Simulationen wurde die Adsorptionsenthalpien auf Siliziumdioxid- und Goldoberflaechen bestimmt. Die Monte Carlo Simulationen basieren auf bereits existierenden Programmen und wurden den Geometrien der Chromatographiesaeulen entsprechend modifiziert. Alle ermittelten Adorptionsenthalpien - auf Silziumoxid sowie auf Gold - sind typisch fuer Physisorption. In einigen Faellen wurde auch die thermische Stabilitaet der Carbonylkomplexe untersucht. Hierbei zeigte sich, dass ab Temperaturen von ueber 200 C die Komplexe zerstoert werden. Es

  1. METODE PENGENDAPAN DAN PENUKAR KATION UNTUK PEMISAHAN CESIUM DALAM BAHAN BAKAR U3Si2-Al

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Aslina Br. Ginting

    2016-10-01

    Full Text Available ABSTRAK METODE PENGENDAPAN DAN PENUKAR KATION PADA PROSES PEMISAHAN CESIUM DALAM BAHAN BAKAR U3Si2-Al. Isotop 137Cs salah satu hasil fisi yang dapat digunakan sebagai monitor burn up untuk mempelajari kinerja bahan bakar selama iradiasi dalam reaktor. Untuk menganalisis isotop 137Cs dalam pelat elemen bakar (PEB U3Si2-Al pasca iradiasi diperlukan metode yang valid agar diperoleh data yang akurat. Beberapa metode dapat digunakan untuk pemisahan 137Cs dalam PEB U3Si2-Al, antara lain adalah metode pengendapan dalam bentuk garam CsClO4 sesuai dengan ASTM E 320-79 dan metode penukar kation menggunakan zeolit Lampung. Proses pengendapan dilakukan dengan menggunakan serbuk CsNO3 sebagai senyawa pembawa (carier dan pereaksi HClO4, sedangkan proses penukar kation dilakukan dengan penambahan zeolit Lampung. Tujuan penelitian adalah mendapatkan metode valid untuk pemisahan 137Cs dalam PEB U3Si2-Al pasca iradiasi, khususnya aspek pengaruh berat serbuk CsNO3 dan berat zeolit Lampung yang ditambahkan. Proses pengendapan isotop 137Cs dilakukan dengan memipet larutan PEB U3Si2-Al sebanyak 150 µL kemudian ditambahkan serbuk CsNO3 dengan variasi berat 500; 625; 700 ; dan 1000 mg serta 4 mL HClO4 dalam pengangas es selama 1 jam. Hasil proses pengendapan diperoleh endapan 137CsClO4yang terpisah dengan supernatan sebagai fasa cair.Sementara itu, proses penukar kation dilakukan dengan menambahkan zeolit Lampung variasi berat 700; 900; 1000 ; dan 1200 mg dengan pengadukan selama 1 jam. Hasil proses penukar kation diperoleh padatan 137Cs-zeolit dalam fasa padat dan isotop lainnya dalam fasa cair. Endapan 137CsClO4 dan padatan137Cs-zeolit serta supernatan diukur kandungan 137Cs menggunakan spektrometer-g. Hasil analisis menunjukkan bahwa berat CsNO3 yang paling banyak mengikat 137Cs terjadi pada penambahan CsNO3 seberat 700 mg yaitu sebesar 0,0472 µg, sedangkan penambahan zeolit Lampung yang optimal diperoleh pada berat 1000 mg hingga 1200 mg dengan kandungan isotop

  2. APLIKASI THERMAL PRE-TREATMENT LIMBAH TANAMAN JAGUNG (Zea mays SEBAGAI CO·SUBSTRAT PADA PROSES ANAEROBIK DIGESTI UNTUK PRODUKSI BIOGAS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Darwin Darwin

    2016-04-01

    mikroorganisme anaerobik untuk mengkonversi polimer yang berupa selulosa dan hemiselulosa menjadi biogas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan kajian mengenai penerapan thermal pre-treatment pada limbah tanaman jagung terhadap proses anaerobik digesi yang meliputi efisiensi proses digesi dan produksi biogas yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan reaktor tipe batch yang suhunya dipertahankan pada kondisi mesophilic atau di atas rata-rata suhu kamar (33 ± 2 oC. Hasil penelitian diperoleh bahwa thermal pre-treatment yang diberikan pada limbah tanaman jagung mampu mempercepat proses produksi biogas pada 10 hari pertama sehingga dapat mengurangi lag-phase pada proses anaerobik digesi. Limbah tanaman jagung yang diberikan thermal pre-treatment mengalami perlambatan produksi biogas pada hari ke 26 dengan rata-rata total produksi 12.412,5 mL untuk limbah tanaman jagung yang diberikan thermal pre- treatment selama 15 menit, dan 12.310 mL untuk limbah tanaman jagung yang diberikan thermal pre-treatment selama 25 menit, sedangkan limbah tanaman jagung yang tidak diberikan pre-treatment menghasilkan produksi biogas sebesar 12.557 mL pada hari ke 26. Produksi biogas harian tertinggi terjadi pada substrat yang diberikan thermal pre-treatment 25 menit, dengan produksi biogas tertinggi pada hari ke 9 dengan rata-rata produksi sebesar 915 mL. Substrat yang diberikan thermal pre-treatment 15 menit juga memproduksi biogas jauh lebih tinggi (772,5 mL pada hari ke 9 jika dibandingkan dengan substrat tanpa diberikan pre-treatment yang hanya memproduksi biogas sebesar 405 mL. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah tanaman jagung yang diberikan thermal pre-treatment memperoleh biogas yield lebih tinggi dari pada yang tidak diberikan pre-treatment dimana 670,39 mL/g volatile solids untuk thermal pre- treatment 15 menit, 690,65 mL/g volatile solids untuk thermal pre-treatment 25 menit dan 456,37 mL/g volatile solids untuk limbah tanaman jagung yang tidak

  3. PENGARUH UNSUR Zr TERHADAP PERUBAHAN SIFAT TERMAL BAHAN BAKAR DISPERSI U-7Mo-xZr/Al

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Supardjo Supardjo

    2016-06-01

    Full Text Available ABSTRAK PENGARUH UNSUR Zr TERHADAP PERUBAHAN SIFAT TERMAL BAHAN BAKAR DISPERSI U-7Mo-xZr/Al. Data sifat termal bahan bakar nuklir diperlukan sebagai data masukan untuk memprediksi fenomena perubahan sifat material selama proses fabrikasi maupun iradiasi di dalam reaktor nuklir. Penelitian pengaruh unsur Zr di dalam bahan bakar dispersi U-7Mo-xZr/Al (x = 1%, 2% dan 3% terhadap perubahan sifat termal pada berbagai temperatur telah dikakukan. Tujuan penambahan unsur Zr pada penelitian adalah untuk meningkatkan stabilitas panas bahan bakar U-Mo. Analisis termal meliputi penentuan temperatur lebur, entalpi dan perubahan fasa dilakukan menggunakan Differential Thermal Analysis (DTA pada rentang temperatur antara 30 °C hingga 1400 °C, sedangkan kapasitas panas paduan U-7Mo-xZr dan bahan bakar dispersi U-7Mo-xZr/Al menggunakan Differential Scanning Calorimeter (DSC pada temperatur ruangan hingga 450 °C. Data analis termal dengan DTA diketahui bahwa ketiga komposisi kadar Zr menunjukkan fenomena yang mendekati sama. Pada temperatur antara 565,60 °C - 584,98 °C terjadi perubahan fasa a + d menjadi a + g, dan pada 649,22 °C - 650,13 °C terjadi peleburan matriks Al yang diikuti oleh reaksi antara matriks Al dengan U-7Mo-xZr pada temperatur 670,38 °C - 673,38 °C membentuk U(Al,Mox-Zr. Sementara itu, perubahan fasa α+ β menjadi β + g terjadi pada temperatur 762,08 °C - 776,33 °C dan difusi antara matriks Al dengan U-7Mo-xZr terjadi pada 853,55 °C - 875,20 °C. Setiap fenomena yang terjadi, entalpi yang ditimbulkan relatif stabil. Peleburan uranium terjadi pada 1052,42 °C - 1104,99 °C dan reaksi dekomposisi U(Al,Mox dan U(Al,Zrx menjadi (UAl4, UAl3, UAl2, U-Mo, danUZr pada 1328,34 °C - 1332,06 °C. Keberadaan logam Zr di dalam paduan U-Mo meningkatkan kapasitas panas bahan bakar paduan U-7Mo-xZr/Al, semakin tinggi kadar Zr kapasitas panas meningkat yang disebabkan oleh interaksi antara atom Zr dengan matriks Al sehingga panas yang

  4. Imobilisasi TiO2 ke dalam Resin Penukar Kation dan Aplikasinya sebagai Fotokatalis dalam Proses Fotoreduksi Ion Hg2+

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rosyid Ridho

    2017-03-01

    Full Text Available Abstrak Dalam rangka mengembangkan bahan fotokatalitis TiO2 pada penelitian ini telah dilakukan preparasi fotokatalis TiO2-Resin yang disertai dengan karakterisasi dan uji aktivitas untuk proses fotoreduksi ion Hg(II. Preparasi imobilisasi ini dilakukan dengan metode pertukaran ion yang di ikuti dengan kalsinasi pada suhu tertentu. Pada preparasi telah dipelajari pengaruh konsentrasi Titanium Isopropoksida sebagai sumber ion Ti(IV terhadap TiO2-Resin yang dikarakterisasi dengan menggunakan Difraksi Sinar X (XRD dan Thermografimetri (TGA. Pada proses fotoreduksi ion Hg(II dipelajari pengaruh massa fotokatalis, kadar TiO2 yang terimobilisasi ke dalam resin, konsentrasi Ion Hg(II, dan pengaruh pH. Proses fotoreduksi dilakukan dalam suatu reaktor tertutup yang dilengkapi dengan lampu UV, yaitu dengan cara menyinari campuran yang terdiri dari larutan ion Hg(II dan serbuk fotokatalis TiO2-Resin, disertai dengan pengadukan selama waktu tertentu. Hasil fotoreduksi dihitung berdasarkan selisih antara konsentrasi ion Hg(II awal dengan ion Hg(II yang tak tereduksi. Penentuan konsentrasi ion Hg(II yang tak tereduksi dilakukan dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA teknik pembangkitan uap dingin atau Cold Vapor Atomic Absorption Spectrophotometry(CV-AAS. Hasil preparasi menunjukkan semakin tinggi konsentrasi Titanium Isopropoksida yang ditambahkan pada resin semakin tinggi juga kadar TiO2 yang terbentuk pada TiO2-Resin. Hasil uji fotokatalis menunjukkan bahwa penggunaan fotokatalis TiO¬2-Resin dapat meningkatkan hasil fotoreduksi ion Hg(II yang peningkatannya lebih tinggi dibandingkan TiO2 serbuk. Penambahan fotokatalis dengan massa yang semakin besar menambah efektivitas fotoreduksi terhadap ion Hg(II yang semakin besar, namun jika ditambahkan massa fotokatalis yang lebih tinggi lagi akan menurunkan efektivitas fotoreduksi terhadap ion Hg(II. Kenaikan konsentrasi Hg(II menyebabkan efektivitas fotoreduksi semakin rendah. Pada pH 1-4 terjadi

  5. Development, construction and operation of a pilot plant for the treatment of acid water resulting from lignite mining containing high sulfate and iron concentrations. Project part 1: Biological ex-situ sulphatereduction. Final report; Entwicklung, Aufbau und Erprobung einer kleintechnischen Versuchsanlage zur Behandlung saurer, sulfatreicher, eisenhaltiger Waesser aus dem Braunkohlebergbau mit unterschiedlichen Technologien der Sulfatreduktion und der Biosorption. Teilprojekt 1: Biologische Ex-Situ Sulfatreduktion. Abschlussbericht

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Hoefer, M.; Hollmann, D.; Karnatz, F.; Loeffler, R.; Glombitza, F.

    1998-02-20

    -precipitation. (orig.) [Deutsch] Es wurde ein mikrobiologisches Wasserbehandlungsverfahren entwickelt, durch das die Wasserqualitaet von sauren, sulfat- und eisenhaltigen Waessern von Tagebaurestlochseen nachhaltig positiv beeinflusst werden kann. Das Verfahren wurde von Laborversuchen ausgehend bis zum Massstab einer kleintechnischen Versuchsanlage entwickelt und ueber mehrere Monate im kontinuierlichen Betrieb am Tagebaurestloch Witznitz/Kahnsdorf erprobt. Das Verfahren basiert auf der mikrobiologischen Sulfatreduktion. Dabei wird in einem Festbettbioreaktor mit immobilisierten sulfatreduzierenden Mikroorganismen der Sulfatgehalt des Wassers mikrobiell abgebaut. Als Produkte werden Sulfidionen, Karbonat- und Hydroxylionen an das Wasser abgegeben. Dadurch werden Metallkationen gefaellt und der pH-Wert in das neutrale Gebiet verschoben. Ein Teil des sulfidhaltigen Reaktorablaufes wird mit Rohwasser vor dem Eintritt in den Reaktor vermischt, um das im Rohwasser enthaltene Eisen, die Schwermetallionen und weitere Metallkationen als Metallsulfide, Hydroxide oder Karbonate auszufaellen. Der pH-Wert des Wassers wird vom sauren pH-Gebiet zwischen 2,8-3,0 liegend in den Neutralbereich auf Werte zwischen 6,8-7,5 verschoben. Fuer unterschiedlich zu behandelnde Wassermengen sowie einen unterschiedlichen Anlagenausstattungsgrad wurden die Anlagen- und Betriebskosten ermittelt. Ein Vergleich der Kosten des Verfahrens im grosstechnischen Massstab mit einem Durchsatz von 100 m{sup 3}/h mit dem Verfahren der Kalk/Kalziumaluminat-Faellung im gleichen Massstab ergab eine wesentlich kostenguenstigere Situation fuer die mikrobielle Sulfatreduktion. Eine orientierende Kostenanalyse unter der Annahme einer abgeruesteten Verfahrensvariante mit einem Tagesdurchsatz von 2400 m{sup 3}/d zeigt spezifische Kosten von ca. 0,60 DM/m{sup 3} sowie Betriebskosten zwischen 0,20 und 0,50 DM/m{sup 3}. Bei hoeheren Durchsaetzen bzw. kleineren Verweilzeiten sowie hoeheren Sulfatreduktionsgeschwindigkeiten durch hoehere

  6. Properties of Waste from Coal Gasification in Entrained Flow Reactors in the Aspect of Their Use in Mining Technology / Właściwości odpadów ze zgazowania węgla w reaktorach dyspersyjnych w aspekcie ich wykorzystania w technologiach górniczych

    Science.gov (United States)

    Pomykała, Radosław

    2013-06-01

    Most of the coal gasification plants based of one of the three main types of reactors: fixed bed, fluidized bed or entrained flow. In recent years, the last ones, which works as "slagging" reactors (due to the form of generated waste), are very popular among commercial installations. The article discusses the characteristics of the waste from coal gasification in entrained flow reactors, obtained from three foreign installations. The studies was conducted in terms of the possibilities of use these wastes in mining technologies, characteristic for Polish underground coal mines. The results were compared with the requirements of Polish Standards for the materials used in hydraulic backfill as well as suspension technology: solidification backfill and mixtures for gob caulking. Większość przemysłowych instalacji zgazowania węgla pracuje w oparciu o jeden z trzech głównych typów reaktorów: ze złożem stałym, dyspersyjny lub fluidalny. W zależności od rodzaju reaktora oraz szczegółowych rozwiązań instalacji, powstające uboczne produkty zgazowania mogą mieć różną postać. Zależy ona w dużej mierze od stosunku temperatury pracy reaktora do temperatury topnienia części mineralnych zawartych w paliwie, czyli do temperatury mięknienia i topnienia popiołu. W ostatnich latach bardzo dużą popularność wśród instalacji komercyjnych zdobywają reaktory dyspersyjne "żużlujące". W takich instalacjach żużel jest wychwytywany i studzony po wypłynięciu z reaktora. W niektórych przypadkach oprócz żużla powstaje jeszcze popiół lotny, wychwytywany w systemach odprowadzania spalin. Może być on pozyskiwany oddzielnie lub też zawracany do komory reaktora, gdzie ulega stopieniu. Wszystkie z analizowanych odpadów - trzy żużle oraz popiół pochodzą właśnie z tego typu instalacji. Tylko z jednej z nich pozyskano zarówno żużel jak i popiół, z pozostałych dwóch jedynie żużel. Odpady te powstały, jako uboczny produkt zgazowania w