WorldWideScience

Sample records for rahyafti tajrobi jahat

  1. Wayang dalam Tari Sunda Gaya Priangan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Iyus Rusliana

    2017-03-01

    ABSTRAK   Tulisan ini merupakan kajian terhadap potensi wayang dalam lingkup budaya Sunda subkultur Priangan, khususnya seni tari. Awalnya kata wayang diartikan untuk menyebut boneka dari kayu yang dimainkan dalang dalam pertunjukan seni pedalangan atau untuk menunjukkan ceritanya dalam pertunjukan seni padalangan, dan juga bisa secara langsung untuk menyebut seni padalangan Wayang Golek. Selanjutnya potensi wayang ini berpengaruh kuat ke dalam beberapa aspek kehidupan yang berbau kepercayaan dan juga kesenian, termasuk ke tari Sunda gaya Priangan. Karena wayang mengandung makna religius yang tersirat dalam isi ceritanya, maka wayang dalam tari Sunda gaya Priangan tidaklah lepas dari misi atau pesan moral ke arah tuntunan hidup. Lahirnya Wayang Wong Priangan, terungkap sebagai bentuk dramatari berdialog dengan membawakan cerita wayang secara utuh atau sebagian, dan senantiasa adanya pertentangan antara tokoh wayang yang jahat dengan yang menumpas kejahatan.   Kata kunci: subkultur Priangan, Tari Wayang, gaya Priangan

  2. KEJAHATAN MELALUI MEDIA SOSIAL ELEKTRONIK DI INDONESIA BERDASARKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN SAAT INI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Prima Angkupi

    2017-03-01

    Full Text Available Internet menciptakan berbagai peluang baru dalam kehidupan masyarakat, internet juga sekaligus menciptakan peluang-peluang baru bagi kejahatan. Di dunia virtual orang melakukan berbagai perbuatan jahat (kejahatan yang justru tidak dapat dilakukan di dunia nyata. Keja­hatan tersebut dilakukan dengan menggunakan komputer sebagai sarana perbuatannya. Kejahatan yang dilakukan di dunia virtual dengan menggunakan kom­puter itu disebut "kejahatan komputer" atau "cyber crime". Kejahatan-kejahatan komputer telah menciptakan masalah-masalah baru bagi tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan oleh para pe­negak hukum. Konsekuensinya, electronic information dan electronic transaction memerlukan adanya perlindungan yang kuat terhadap upaya-­upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk dapat mengakses informasi yang tersimpan dalam sistem komputer. Sedangkan upaya penanggulangan cyber crime jika dilihat dari perspektif hukum pidana dapat dilihat dan berbagai aspek, antara lain aspek kebijakan kriminalisasi (formulasi tindak pidana, aspek pertanggungjawaban pidana atau pemidanaan (termasuk aspek alat bukti/pembuktian.

  3. TEKNOLOGI BERBASIS LAYANAN MANDIRI UNTUK KASUS E-BANKING

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Edy Purwo Saputro

    2010-12-01

    Full Text Available Revolusi dan evolusi perkembangan teknologi informasi dan sistem informasi memicu transformasi dalam semua bidang dan hal ini kemudian menimbulkan fenomena tentang e-lifestyle yaitu mulai dari e-mail, e-banking, e-shopping, e-book, e-wallets, e-learning, e-news, e-commerce, e-trading, e-election, e-business, e-market, e-service dan e-cards. Di satu sisi, e-lifestyle memberikan banyak kemudahan tapi di sisi lain ini menimbulkan ancaman terutama dikaitkan dengan jaminan keamanan di semua transaksi yang terkait e-lifestyle. Terkait ini, jika aspek keamanan tidak mendapatkan prioritas perhatian dari semua pihak, maka akan terjadi fenomena: ‘don’t trust anyone, don’t trust anything’ dan kepercayaan akan menjadi “blind trust”. Hal ini tentu sangat dimungkinkan karena di cyber economy ada berbagai kasus yang mendasari misalnya ‘phising’ (kegiatan pengiriman e-mail palsu yang di dalamnya terkandung link ke sebuah situs web, yang bisa mengarahkan seseorang untuk menyerahkan identitas pribadi, atau ‘clickjacking’ (yaitu kode jahat yang tersembunyi di balik tombol klik di sebuah situs yang dikunjungi oleh seseorang. Aspek keamanan menjadi sangat penting karena fakta perkembangan e-lifestyle di Indonesia pada umumnya dan adopsi e-banking khususnya masih berada pada tahap pertumbuhan

  4. Analisis Film Horor Indonesia Produksi Tahun 2014 (Studi Kasus: Mall Klender dan Kamar 207

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dedi Sukatno Sembiring Meliala

    2016-02-01

    Full Text Available Abstrak Film horor erat kaitannya dengan tokoh antagonis yang menimbulkan ketakutan pada penonton dalam bentuk makhluk supranatural seperti hantu, roh jahat dan sebagainya. Karakteristik film dengan genre horor membuat penonton terbawa suasana dengan alur ceritanya yang menakutkan. Namun, beberapa dari film horor Indonesia menyajikan adegan-adegan yang kurang sopan bahkan tergolong asusila atau porno. Untuk itu, penelitian ini ingin melihat apakah terdapat konten pornografi pada film Mall Klender dan Kamar 207 yang merupakan film horor Indonesia terlaris di tahun 2014. Analisis dilakukan dengan melihat pandangan dan penilaian 30 responden dengan karakteristik yaitu penonton film horor Indonesia yang berusia 20-40 tahun. Berdasarkan hasil analisis, tidak didapatkan konten pornografi pada film Mall Klender dan Kamar 207. Adegan-adegan yang terindikasi sebagai konten pornografi ternyata masih dapat diterima oleh penonton sebagai adegan yang berada dalam batas kewajaran dan mendukung pembawaan suasana dan kesan dalam cerita yang disampaikan. Kata Kunci: film horror Indonesia, analisis konten, pornografi Abstract The horror film is closely related to the antagonist that causes fear for audience in the form of supernatural creatures such as ghosts, demons and so on. Characteristic of the horor film is to make the audience carried away with the scary plot. However, some of the existing Indonesian horror film presents scenes that classified as obscene or pornographic. Therefore, this study wanted to see if there are any pornographic content on the film Klender Mall and Room 207 is the best-selling Indonesian horror movie in 2014. The analysis was done by looking at the view and assessment of 30 respondents which are Indonesian horror movie goers aged 20-40 years. Based on the analysis, there is no founding of pornographic content on the film Klender Mall and Room 207. The scenes that indicated as pornographic content was still acceptable by the audience

  5. The Representation of Muslims in Rudyard Kipling’s Short Stories: A Postcolonial Perspective

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M. Mugijatna

    2015-04-01

    Full Text Available This article studies Rudyard Kipling’s four short stories, “Wee Willie Winkie”, “The Recrudescence of Imray”, “The Story of Muhammad Din”, and “Without Benefit of Clergy”. The purposes of this research are to describe the representation of Muslims in the four short stories and to describe how the representation of Muslims in the four short stories represents British colonization in India. In this paper, I employs textual study methodology using narrative analysis, binary-opposition analysis, and metaphorical iconicity analysis. The conclusion is that the representation of Muslims in the four short stories ranges from perceiving Muslims as bed men living in hills and forest to perceiving Muslims as the slaves of the British. In all the representations, the British is not presented as an oppressor, instead as a benevolent master. It is a metaphor of Kipling’s firm belief that the British were helping to civilize and educate a previously “savage” people. It disregards the fact that British colonization over India had ruined Islamic empire in India under Mogul Court sovereignty and ruined Indian economy and society organization.[Penelitian ini mengkaji empat cerita pendek Rudyard Kipling, “Wee Willie Winkie”, “The Recrudescence of Imray”, “The Story of Muhammad Din”, dan “Without Benefit of Clergy”. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan representasi Muslim dalam empat cerita pendek tersebut dan mendeskripsikan bagaimana gambaran tersebut merepresentasikan kolonisasi Inggris atas India. Metode yang digunakan adalah metodologi kajian tekstual dengan analisis naratif, analisis oposisi-biner, dan analisis ikonositas metaforis. Kesimpulannya adalah bahwa representasi Muslim dalam empat cerita pendek tersebut merentang mulai dari muslim sebagai orang-orang jahat yang hidup di gunung dan hutan hingga sebagai budak orang Inggris. Dalam represestasi itu orang Inggris tidak pernah digambarkan sebagai

  6. Penciptaan Seni Film Eksperimental “Sweet Rahwana”

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hery Sasongko

    2014-11-01

    Full Text Available Akhir-akhir ini bioskop di Indonesia memutar film-film horor. Genre film yangmuncul di Indonesia sejak tahun 1941 melalui Film Tengkorak Hidoep ini jugadiminati banyak penikmat film tanah air. Sebut saja film Sundel Bolong dan NyiBlorong yang menggondol Piala Antemas FFI (Festival Film Indonesia untuk FilmTerlaris 1982-1983. Film-film horor juga terus mampu meraup jumlah penontonyang besar dikarenakan bumbu adegan seks yang banyak ada di film-film hororIndonesia. Jika kembali mengaca pada sejarah termasuk sejarah perfilman Indonesia,penulis percaya akan ada titik jenuh. Penonton akan bosan dan kembali menjauhibioskop dengan film Indonesia. Kondisi ini pernah terjadi hanya sesaat sebelumdunia film Indonesia mati suri. Wayang bisa menjadi sumber inspirasi untukmengatasi kejenuhan tema film di Indonesia. Wayang adalah legenda yang tidakbisa dipisahkan dari cerita para tokoh tokohnya, salah satunya adalah karakter tokohRahwana yang selalu berwatak jahat. Unsur-unsur yang terdapat dalam karakterRahwana menjadi inspirasi untuk membuat karya film eksperimental agar menjadikarya dan tontonan alternatif bagi generasi muda Indonesia sehingga bisa menambahwawasan yang lebih luas. Dengan cara mengeksplorasi visual serta metode editingdengan teknik yang baru dan bermutu dapat menjadikan film eksperimental yangberkualitas untuk ditonton. “Sweet Ravana” an Experimental Film Art. Recently, cinemas in Indonesia play scarymovies. Scary movies have appeared in Indonesia since 1941 through a film entitled“Tengkorak Hidoep”. Many people got attracted with it. “Sundel Bolong” and “NyiBlorong” movies got achievement on Anthemas Cup FFI (Indonesian Film Festivalaward for a best-selling movies category in 1982-1983. Scary movies have been succsesfullto get a lot of audiences because of many sex scenes in the Indonesian scary movies. Thewriter believes there will be a saturation point against its. The audience will be boredand keep away from Indonesian

  7. RESTORATIVE JUSTICE DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK / Restorative Justice In Juvenile Justice System

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Randy Pradityo

    2016-11-01

    Full Text Available Anak sebagai generasi penerus bangsa sudah selayaknya mendapatkan perhatian khusus. Hal tersebut bertujuan dalam rangka pembinaan anak untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Maka dari itu, diperlukan pula sarana dan prasarana hukum yang mengantisipasi segala permasalahan yang timbul. Sarana hukum ini bertujuan untuk mengantisipasi stigma atau cap jahat yang ditimbulkan ketika anak berhadapan dengan hukum, sekaligus memulihkan dan memasyarakatkan kembali anak tersebut. Salah satu solusinya adalah dengan mengalihkan atau menempatkan pelaku tindak pidana anak keluar dari sistem peradilan pidana serta memberikan alternatif bagi penyelesaian dengan pendekatan keadilan demi kepentingan terbaik bagi anak, yang kemudian dikenal dengan pendekatan restorative justice. Restorative justice yang merupakan implementasi konsep dari diversi telah dirumuskan dalam sistem peradilan pidana anak, namun sistem yang baik haruslah diiringi dengan suatu sikap yang dijiwai kehendak untuk memandang dan berkeyakinan bahwa dunia ini selalu menjadi lebih baik. Selain itu, hendaknya prinsip the best interest of the children selalu diutamakan ketika menangani anak yang berhadapan dengan hukum.   Children as the nation's next generation is already deserve special attention. It aims in order to develop the child to realize the quality of human resources. Therefore, it is also necessary legal infrastructure to anticipate any problems that arise. The legal means to anticipate stigma or stamp evil inflicted when the child against the law, as well as restoring and re-socialize the child. One solution is to divert or placing the offender children out of the criminal justice system as well as providing an alternative to the settlement with justice approach in the best interests of the child, who was then known as restorative justice approach. Restorative justice which is the implementation of the concept of diversion has been formulated in the juvenile justice system