WorldWideScience

Sample records for organik tri-butil phosfat

  1. KEPERCAYAAN KONSUMEN PADA PRODUK ORGANIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Doni Purnama Alamsyah

    2016-10-01

      Indonesia merupakan salah satu negara di ASEAN yang memiliki populasi manusia cukup padat, salah satu provinsinya adalah Jawa Barat dengan Ibu Kota Bandung. Namun demikian jumlah populasi yang tinggi tidak diimbangi dengan pola hidup sehat, terlihat dari rendahnya konsumsi pada produk organik. Tujuan penelitian ini mengkaji faktor yang membentuk kepercayaan konsumen pada produk organik. Confirmatory Factor Analisys digunakan sebagai teknik analisis data, dengan survey pada konsumen yang ada di Kota Bandung sebanyak 351 reponden. Hasil penelitian ditemukan bahwa kepercayaan konsumen pada produk organik belum optimal. Penelitian ini menyempurnakan penelitian sebelumnya dimana terdapat faktor yang mampu membentuk kepercayaan konsumen pada produk organik diantaranya adalah  reliable, dependable, trustworthy, expectation, enviromental protection, dan safer.   Kata Kunci: Kepercayaan, Produk Organik, Confirmatory Factor Analisys

  2. Nilai orientasi alami manusia dan pengetahuan organik sebagai determinan perilaku beli pangan organik

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tony Wijaya

    2017-07-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan menguji model perilaku beli pangan organik. Model ini mempresentasikan pengaruh dari orientasi nilai alami manusia, pengetahuan organik, sikap membeli pangan organik, norma subjektif, kontrol perilaku and niat beli terhadap perilaku beli pangan organik. Penelitian ini menggunakan metode survei. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik purposive sampling. Sejumlah 516 responden dari Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta berpartisipasi dalam penelitian ini. Structural equation modeling (SEM digunakan untuk analisis data. Pengujian model sesuai dengan data empiris. Orientasi alami manusia dan pengetahuan organik berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap sikap membeli makan organik. Sikap membeli pangan organik, norma subjektif dan kontrol perilaku berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap niat beli makan organik. Kontrol perilaku memberikan kontribusi positif namun tidak signifikan terhadap perilaku beli pangan organik. Niat beli pangan organik berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku beli pangan organik.

  3. Senyawa Organik Dalam Air Minum

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Soewasti Soesanto

    2012-09-01

    Full Text Available Kadar zat   organik   yang berlebihan dalam  air  minum  tidak diperbolehkan karena selain menimbulkan warna, bau dan  rasa yang tidak  diinginkan, juga mungkin bersifat toksik baik secara langsung maupun setelah bersenyawa dengan zat lain yang ada.Zat organik yang ada dalam air minum dapat berasal dari alam atau sebagai dampak dari kegiatan manusia.

  4. SIKAP KONSUMEN TERHADAP BERAS ORGANIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Northa Idaman

    2014-04-01

    Full Text Available ABSTRACTThe purpose of this study were (1 to analyze the product attributes which considered necessary by the consumers of organic rice in Sukabumi Region, (2 to analyze the contribution of attitude toward behavior, subjective norms, and perceived behavioural control toward the intention to buy organic rice in Sukabumi Region, and (3 to formulate the managerial implication to improve the intention to buy organic rice in Kabupaten Sukabumi. The analyzed data on the 151 respondents were collected from four sub-districts in Sukabumi using convenience-sampling method. While analysis used were descriptive, cochran, and structural  equation  modelling. The result show that there were three attributes which were necessitated by the consumers in Sukabumi Region in buying organic rice, and there were big contributions from two constructs in forming the intention to buy organic rice in Sukabumi Region. Keywords: organic rice, consumer attittude, theory of planned behavior, structural equation modelling (SEMABSTRAKTujuan penelitian ini adalah (1 menganalisis atribut-atribut produk yang dipentingkan oleh konsumen terhadap beras organik di Kabupaten Sukabumi. (2 menganalisis kontribusi sikap terhadap perilaku pembelian beras organik (attitude toward behavior, norma subjektif (subjective norms, dan kontrol perilaku (perceived behavioral control terhadap minat (intention membeli beras organik di Kabupaten Sukabumi, (3 merumuskan implikasi manajerial yang dapat diambil dari hasil penelitian untuk meningkatkan minat membeli beras organik di Kabupaten Sukabumi. Analisis data dilakukan terhadap 151 responden yang dikumpulkan dari empat kecamatan di Kabupaten Sukabumi menggunakan metode convenience-sampling. Analisis yang digunakan adalah deskriptif, Cochran dan structural  equation  modelling.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga atribut yang dipentingkan oleh konsumen di Kabupaten Sukabumi dalam membeli beras organik, serta kontribusi yang besar

  5. Preferensi Konsumen dan Produsen Produk Organik di Indonesia

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Muljaningsih

    2013-09-01

    Full Text Available Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari kebiasaan konsumen dan produsen produk organik. Sampling penelitian ini kebetulan dilakukan pada pertemuan yang diselenggarakan oleh Aliansi Organik Indonesia (AOI. Pemantauan pasar dilakukan di Jakarta, Bogor, Depasar, dan Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung dengan responden. Responden terdiri atas 63 konsumen, 21 produsen produk organik. Analisis data dilakukan untuk mengetahui faktor apa yang mempengaruhi preferensi masing-masing individu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa preferensi konsumen terhadap beras, buah, dan sayuran organik adalah baik untuk kesehatan, tetapi keluhannya produk tersebut lebih mahal. Preferensi produsen bahwa produk organik semisal beras, buah, dan sayuran adalah harus mempunyai sertifikat. Preferensi konsumen tidak dibatasi usia dan pendidikan, sedangkan preferensi produsen masih tidak memahami manfaat kesehatan dari produk organik.Kata kunci: konsumen,  produsen, produk organik, survey pasar

  6. Studi Awal Desain Pabrik Pupuk Organik Granul Dari Organic Waste

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Zulfatul Hanna

    2015-12-01

    Full Text Available 800x600 Banyak pertanian di Indonesia yang masih bergantung pada penggunaan pupuk kimia. Padahal penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dapat menyebabkan penurunan bahan organik tanah. Untuk menyeimbangkannnya saat ini petani juga sedang menggalakkan penggunaan pupuk organik. Sehingga membuat kebutuhan pupuk organik meningkat setiap tahunnya. Pendirian pabrik pupuk organik granul ini dapat memenuhi kebutuhan pupuk organik untuk petani. Prosess pembuatan pupuk organik granul terdiri dari pencampuran bahan baku, yakni sampah organik, kotoran sapi, kotoran domba, dan dipotong dengan rotary knife cutter. Tahap berikutnya adalah proses fermentasi, dengan penambahan bioactivator agar meningkatkan kandungan C-organik, phosphor, dan kalium. Selanjutnya adalah proses granulasi, pembesaran dari partikel dengan proses aglomerasi. Ukuran yang diharapkan pada proses granulasi ini adalah 2-4 mm sehingga produk undersize maupun oversize akan dikembalikan ke dalam granulator setelah melewati screener. Selanjutnya pupuk organik granul dikeringkan. Selanjutnya produk dipisahkan berdasarkan ukurannya lalu didinginkan di Rotary cooler. Setelah keluar dari Rotary Cooler suhu keluaran sekitar 40 oC dan masih mengandung kadar air sebesar 13,7%. Produk dari rotary cooler siap untuk di packaging dan masuk ke dalam pupuk organik granul storage. Dari analisa ekonomi didapatkan BEP sebesar 45% dengan POT sesudah pajak sebesar 4,8 tahun. Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

  7. Pemanfaatan Residu Pembakaran Sampah Organik Rumah Tangga

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Eko Naryono

    2013-09-01

    Full Text Available Pembakaran sampah organik rumah tangga menghasilkan residu padat 25-30% yang terdiri dari abu bawah (BA, abu atas (FA dan kondensat air yang mengandung tar. Abu bawah sebagian besar terdiri dari bahan anorganik seperti Si, Al, Fe, Ca, Mg, K, Na, Cl dan logam berat antara lain Cd, Cr, Cu, Hg, Ni, Pb dan Zn, sedangkan abu atas tersusun dari bahan organik dan anorganik. Bahan organik yang terdapat dalam residu antara lain polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH, chloro benzene (CB, polychlorinated biphenyl (PCB, polychlorinated dibenzo-p-dioksin (PCDD dan furan (PCDF. Residu pembakaran biomass perlu diolah atau dimanfaatkan agar tidak mengganggu lingkungan. Salah satu metode pengolahan yang mudah diterapkan dan aman terhadap lingkungan adalah pemadatan dan stabilisasi menggunakan semen atau lempung sebagai binder. Pemanfaatan produk ini dapat digunakan untuk batako atau batu bata. Berdasarkan prediksi, pembakaran sampah kota Malang sebesar 400 ton/hari menghasilkan abu 72 ton/hari. Pemakaian abu sebesar 25% pada pembuatan batako dengan perbandingan semen : pasir : abu sebesar 3,75 : 30 : 1,25 dapat menghasilkan batako setiap hari 366545 buah. Kata kunci : Abu, Batako, Residu, Pemadatan, Sampah organik rumah tangga

  8. KERAGAAN USAHATANI DAN PEMASARAN BUAH NAGA ORGANIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Kustiawati Ningsih

    2015-10-01

    Full Text Available Salah satu faktor penting dalam agribisnis hortikultura adalah kelembagaan pemasaran dan salah satu komoditi yang menjanjikan adalah buah naga organik. Penelitian ini bertujuan mengetahui penerimaan petani dan marjin pemasaran buah naga organik di Kabupaten Pamekasan. Hasil analisis usahatani menunjukkan adanya keuntungan dalam usahatani buah naga organik, hal ini ditunjukkan oleh nilai R/C=2,34. Bila dibandingkan dengan nilai R/C rasio usahatai tembakau Madura yaitu sebesar 1,38 maka dapat disimpulkan bahwa usahatani buah naga organik lebih efisien sehingga dapat dikatakan usahatani buah naga organik dapat dijadikan sebagai alternatif usahatani tembakau Madura. Kisaran (Acquirement marjin pemasaran antara lembaga-lembaga pemasaran cenderung bervariasi dan timpang. Besarnya marjin pemasaran pada tengkulak dan pedagang pengumpul masing-masing Rp 5.000/kg dan Rp 4.000/kg. Besarnya bagian petani (farmer share buah naga organik pada tengkulak dan pedagang pengumpul masing-masing 10%dan 10,67%. Secara ekonomi, buah naga organik masih menguntungkan. Keuntungan ini masih dapat ditingkatkan dengan memperbaiki sistem produksi, sehingga produktivitas dapat ditingkatkan. Diperkirakan dengan proses produksi ini dapat memperbaiki kualitas dan kuantitas, terutama pada tingkat lebih tinggi lagi, sehingga memiliki peluang mengakses pasar lebih luas, khususnya pasar luar negeri (ekspor.  ABSTRACTOne important factor in the agribusiness of horticulture is institutional marketing and one of the commodities that prospecive is organic dragon fruit. This study aims to determine the revenue of farmers and marketing margin of organic dragon fruit in Pamekasan. Results of the analysis showed profit in organic dragon fruit farming, this is indicated by the value of R / C = 2,34. When compared with the value of R / C ratio of Madura tobacco farming in the amount of 1.38 it can be concluded that organic dragon fruit farming more efficient so that it can be said dragon

  9. Ekstraksi Pemisahan Neodimium dari Samarium, Itrium dan Praseodimium Memakai Tri Butil Fosfat

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Maria Veronica Purwani

    2017-05-01

    Full Text Available The extraction of Nd(OH3 (neodymium hydroxide concentrate containing Y (yttrium, Sm (samarium and Pr (praseodymium as product of monazite processed has been done. The purpose of this study is to determine the separation of Nd from Y, Pr and Nd Sm in Nd concentrate. The aqueous phase was concentrated Nd (OH3 in HNO3 and extractant while organic phase was Tri Butyl Phosphate (TBP in kerosene. Parameters studied were pH and concentration feed, concentration of TBP in kerosene, extraction time and stirring speed. The result showed that the optimization of separation extraction neodymium from samarium, yttrium and praseodymium in Nd(OH3 concentrated with TBP, obtained the optimum condition of pH = 0.2, concentration of feed 100 g /L, concentration of TBP in kerosene 5%, extraction time 15 minutes and stirring speed 150 rpm. With the conditions, Separation Factor (SF obtained for Nd-Y, Nd-Pr, Nd-Sm are 2.242, 4.811, 4.002 respectively, while D and extraction efficiency of Nd are 0.236 and 19.07%.

  10. Inovasi Pupuk Organik Kotoran Ayam Dan Eceng Gondok Dikombinasi Dengan Bioteknologi Mikoriza Bentuk Granul

    OpenAIRE

    Asngad, A

    2013-01-01

    Tujuan penelitian ini adalah membuat formula pupuk organik limbah dari campuran kotoran ayam dan eceng gondok sebagai pupuk organik dasar dan memproduksi pupuk organik unggul kombinasi pupuk organik dasar dan pupuk hayati spora CMA dalam kemasan granul. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen dan analisis laboratorium dilakukan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas hara pupuk yang dihasilkan, serta kandungan logam berat. Pupuk secara diskriptif dibandingkan dengan baku mutu pupuk orga...

  11. INOVASI PUPUK ORGANIK KOTORAN AYAM DAN ECENG GONDOK DIKOMBINASI DENGAN BIOTEKNOLOGI MIKORIZA BENTUK GRANUL

    OpenAIRE

    A Asngad

    2014-01-01

    Tujuan penelitian ini adalah membuat formula pupuk organik limbah dari campuran kotoran ayam dan eceng gondok sebagai pupuk organik dasar dan memproduksi pupuk organik unggul kombinasi pupuk organik dasar dan pupuk hayati spora CMA dalam kemasan granul. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen dan analisis laboratorium dilakukan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas hara pupuk yang dihasilkan, serta kandungan logam berat. Pupuk secara diskriptif dibandingkan dengan baku mutu pupuk orga...

  12. STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI PADI ORGANIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Basudewo Krisna Jumna

    2017-06-01

    Full Text Available Sentra padi organik Kabupaten  Sragen adalah di Kecamatan Tanon, Sidoharjo, Gondang, Sambirejo, Masaran, Kabupaten Sragen adalah daerah penghasil padi organik terbesar di Jawa Tengah dan daerah yang pertama kali mendapatkan sertifikasi untuk padi organik di Jawa Tengah sejak tahun 2001, Pada tahun 2009 Sragen telah mengekspor 1.000 ton beras organik.Sampai dengan tahun 2012 Kabupaten Sragen mampu memberikan kontribusi luas panen dan Karangmalang. Produksi organik yang paling memenuhi standar adalah di Sukorejo, Kec. Sambirejo karena airnya langsung dari sumber. Desa Sukorejo merupakan salah satu desa yang konsisten dalam menerapkan pertanian organik. Petani organik Desa Sukorejo secara mandiri dapat menghasilkan pupuk organik dan pestisida organik. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 12 key person yang terdiri dari unsur akademisi/peneliti, swasta, pemerintah, dan masyarakat. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan teknik analisis AHP. Dari penelitian diperoleh hasil olah data mengunakan analisis hirarki proses (AHP dapat terlihat bahwa strategi pengembangan usahatani padi organik di Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen tersusun atas beberapa kriteria program yang di prioritaskan dalam pembentukannya yaitu pertama kriteria pemasaran (nilai bobot 0,428, kedua kriteria budidaya (nilai bobot 0,221, ketiga kriteria input (nilai bobot 0,169, keempat kriteria lembaga (nilai bobot 0,092, dan kelima kriteria pasca panen (nilai bobot 0,090.Adapun saran dari penelitian ini antara lain diharapkan pemerintah dan pihak yang berkepentingan berkenan untuk mengaplikasikan kebijakan berdasarkan hasil penelitian ini. Serta dengan adanya pasar pemasaran produk pertanian organik di Kabupaten Sragen terutama di sentra-sentra produksi komoditas tertentu serta dengan mengadakan pameran gelar pangan organik, gelar budaya, desa wisata organik dan dengan adanya kemitraan antara petani dengan pihak swasta dan pengguna

  13. Isolasi Dye Organik Alam dan Karakterisasinya Sebagai Sensitizer

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nurussaniah Nurussaniah

    2018-03-01

    Full Text Available Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara mengisolasi dan karakteristik dye organik alam sebagai sensitizer. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap yaitu persiapan, isolasi dye organik alam, karakterisasi sifat optik, analisis dan menyimpulkan. Isolasi dye organic alam dilakukan untuk memperoleh sari dari bahan-bahan alam. Penelitian ini menggunakan bahan alam yaitu jagung (Zea mays dan labu kuning (Cucurbita moschata. Karakterisasi optik dye organik alam dalam penelitian ini dilihat dari spektrum absorbansi yang diukur menggunakan Spektrophotometer Uv-Vis. Spektrum absorbansi dye diukur dalam kuvet optik, pada panjang gelombang 350-800 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolasi dye organik alam diperoleh melalui metode ekstraksi, yaitu suatu metode untuk memperoleh sari dari bahan-bahan alam. Proses ekstraksi dilakukan dengan melarutkan biji jagung (Zea mays dan daging buah labu kuning (Cucurbita moschata dalam pelarut etanol dengan konsentrasi 1:5. Karaktistik optik jagung (Zea mays dan labu kuning (Cucurbita moschata  menunjukkan panjang gelombang yaitu berada pada cahaya tampak dengan rentang panjang gelombang 350 – 500 nm.  Dengan demikian  dye  beta-karoten yang berasal dari jagung (Zea mays dan labu kuning (Cucurbita moschata dapat dimanfaatkan sebagai sensitizer dalam prototipe Dye Sensitized Solar Cell (DSSC.

  14. FABRIKASI TINTA PRINTER BERBAHAN DASAR PIGMEN ORGANIK DARI SAMPAH DAUN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Pradita Ajeng Wiguna

    2014-11-01

    Full Text Available Sampah menjadi salah satu permasalahan yang belum terselesaikan dalam masyarakat. Salah satu jenis sampah yang jumlahnya melimpah adalah sampah organik berupa dedaunan. Hal ini menuntut cara penanganan alternatif yang kreatif dan inovatif menjadi produk berdaya guna. Sebuah upaya yang dilakukan adalah pemanfaatan sampah daun sebagai pigmen warna organik untuk tinta printer. Pembuatan pigmen warna dilakukan dengan mereduksi sampah daun hingga berbentuk serbuk karbon yang homogen yaitu membakar sampah daun dalam kondisi oksigen rendah kemudian dilakukan proses pencampuran sederhana dengan bahan lain pembuat tinta. Tinta yang dihasilkan diuji transmitansinya dengan memvariasikan massa karbon yaitu dari 1 sampai 6 gram, hasilnya menunjukan bahwa semakin banyak massa karbon ,intensitas cahayanya semakin rendah. Uji laju absorbsi menunjukan bahwa tinta karbon memiliki kelajuan yang hampir sama dengan jenis tinta di pasaran, yaitu 1,04 mm/s. Saat uji kinerja tinta karbon pada printer menunjukan hasil yang lebih hitam dan halus sehingga sesuai jika diaplikasikan sebagai tinta printer.

  15. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI RESISTENSI PEMBELIAN PANGAN ORGANIK DAN PROSES PENDIDIKAN KONSUMEN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fety Nurlia Muzayanah

    2015-11-01

    Full Text Available Organic food market share in Indonesian only 0,5–2% from all agricultural products. There are problems in organic food marketing in Indonesia such as consumer confidence and limited information about organics food. This research aimed to analyze correlation of gender, occupation, age and education in intention to purchase organic foods, factors influencing purchase resistance of organic foods, and the pendidikan konsumen process. This research was involved 150 respondents. Data was collected using questionnaire survey. The result showed that gender, occupation, age and education not correlate with purchase intention of organic foods. Result from Structural Equation Modeling (SEM showed that factors caused purchase resistance was negative attitude toward organic foods, unaffordability of organic foods, and lack of awareness in organic foods but subjective norm don’t have significant correlation with purchase intention. Market Education process that can do is educate consumers about health benefits of organic food, organics certification and economics value of organic food.Keywords: consumer behavior, market education, organic foods,  SEMABSTRAKPangsa pasar pangan organik di Indonesia baru mencapai 0,5-2 persen dari keseluruhan produk pertanian. Beberapa kendala pemasaran pangan organik di Indonesia seperti consumer confidence dan terbatasnya informasi mengenai produk organik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan gender, pekerjaan, usia, dan pendidikan terakhir terhadap minat beli pangan organik, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi resistensi pembelian pangan organik, dan mengidentifikasi proses pendidikan konsumen. Penelitian ini melibatkan 150 responden. Responden terdiri dari dosen, staf kependidikan, dan mahasiswa yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan antara gender, pekerjaan, usia, dan pendidikan

  16. MODEL PEMBELAJARAN KIMIA ORGANIK TERINTEGRASI DENGAN KEMAMPUAN GENERIK SAINS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    - Sudarmin

    2015-12-01

    Full Text Available Abstract: Learning Models of Organic Chemistry Subject Integrated with Science Generic Skills. The aim of the study is to investigate how Organic Chemistry and Generic Science Skills Teaching Model can be developed for prospective chemistry teachers. This research and development study involves 79 stu­dents of Chemistry Education Department of Sema­rang State University. The data are collected using a test of organic chemistry concepts and generic science skills, a questionnaire, and an observation sheet and then analyzed using N-gain test. The result shows that the OCGSSM teaching model improves the pro­spective chemistry teachers' generic science skills in high and medium category. The high achieving stu­dent group has better comprehension of generic skills in logical consistency, observation, abstraction, symbolic language, sense of scale, and logical frame aspects than low achieving student group. Abstrak: Model Pembelajaran Kimia Organik Terintegrasi Kemampuan Generik Sains. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran kimia organik terintegrasi kemampuan generik sains. Penelitian dan pengembangan melibatkan 79 mahasiswa Pendidikan Kimia Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang. Data dikumpulkan dengan tes penguasaan konsep kimia organik terintegrasi kemam­puan generik sains, angket, dan lembar observasi, dan dianalisis dengan uji N-gain. Hasilnya menunjukkan bahwa penerapan MPKOKG meningkatkan penguasaan kemampuan generik sains calon guru kimia dengan taraf pencapaian tinggi dan sedang. Mahasiswa kelompok prestasi tinggi memiliki penguasaan kemam­puan generik sains konsistensi logis, pengamatan, abstraksi, bahasa simbolik, kesadaran tentang skala serta logical frame lebih baik dibandingkan kelompok prestasi rendah.

  17. Pengaruh Jenis Bahan pada Proses Pirolisis Sampah Organik menjadi Bio-Oil sebagai Sumber Energi Terbarukan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M. Sigit Cahyono

    2013-06-01

    Full Text Available Sampah organik merupakan potensi sumber energi yang melimpah di Indonesia. Sampah organik berupa daun dan ranting kering bisa dikonversi menjadi bahan bakar berupa bio-oil melalui proses fast pirolisis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis bahan terhadap rendemen dan nilai kalor bio-oil yang dihasilkan dari proses pirolisis sampah organik. Bahan baku berupa daun dan ranting kering campuran tanaman angsana, mahoni dan mangga dengan komposisi daun bervariasi 0%, 50%, dan 100%, dipotong-potong dengan ukuran maksimal 10 cm. Kemudian bahan baku tersebut dipanaskan di dalam reaktor pirolisis pada suhu 500 C selama 1 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kalor tertinggi (5175,35 J/g dan rendemen tertinggi (24,5% didapatkan pada bio-oil yang dihasilkan dari pirolisis ranting 100%. Kata kunci: Sampah Organik, Bio-oil, Pirolisis, Rendemen, Nilai Kalor

  18. INOVASI PUPUK ORGANIK KOTORAN AYAM DAN ECENG GONDOK DIKOMBINASI DENGAN BIOTEKNOLOGI MIKORIZA BENTUK GRANUL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A Asngad

    2014-06-01

    Full Text Available Tujuan penelitian ini adalah membuat formula pupuk organik limbah dari campuran kotoran ayam dan eceng gondok sebagai pupuk organik dasar dan memproduksi pupuk organik unggul kombinasi pupuk organik dasar dan pupuk hayati spora CMA dalam kemasan granul. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen dan analisis laboratorium dilakukan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas hara pupuk yang dihasilkan, serta kandungan logam berat. Pupuk secara diskriptif dibandingkan dengan baku mutu pupuk organik menurut SK Mentan 2009. Hasil analisis hara makro dan mikro, serta logam berat pada pupuk organik dasar sudah memenuhi persyaratan baku mutu pupuk organik. Perbanyakan pupuk  hayati CMA diperoleh 35 butir spora CMA/gram. Formula pembuatan campuran pupuk organik dasar: 2 kotoran ayam, 1 eceng gondok. Pupuk tersebut ditambah dengan 1 kg inokulum CMA atau pupuk hayati, 0,5 kg clay merah, 0,5 kg fosfat alam, 0,25 kg clay putih; 500 cc air. Hasil analisis hara makro dan mikro, campuran pupuk organik dasar dan hayati yang telah digranul sesuai dengan standar pupuk organik dari SK Mentan 2009. Disimpulkan bahwa campuran pupuk organik dari bahan dasar (kotoran ayam dan gulma air, yang ditambah dengan pupuk hayati dapat digunakan sebagai alternatif pengganti pupuk anorganik. Pupuk granul lebih efisien dan efektif digunakan untuk berbagai campuran dan di lapang. The research objective is to make the formula of organic fertilizer from water weed and chicken poop mixture as the basic organic fertilizer and to produce excellent organic fertilizer from the combination of basic organic fertilizer and biologic CMA spore fertilizer in a granule package. The study was conducted with an experimental method and laboratory analysis to determine the quantity and quality of fertilizer nutrients and heavy metal content that was descriptively compared to the standard organic fertilizer by SK Mentan 2009. The results showed that the quantity and quality of the fertilizer

  19. Pemanfaatan Limbah Cair Industri Tahu sebagai Pupuk Cair Organik terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kangkung Darat (Ipomoea Reptans Poir)

    OpenAIRE

    Aliyenah, Aliyenah; A Napoleon, A Napoleon; Yudono, Bambang

    2015-01-01

    Penelitian tentang Pemanfaatan Limbah Cair Industri Tahu Sebagai Pupuk Cair Organik Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Kangkung Darat (Ipomoea reptans Poir) ini telah dilaksanakan pada Ja-nuari - Maret 2013. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pemanfaatan limbah cair industri tahu agar dapat digunakan sebagai pupuk cair organik untuk tanaman kangkung darat. Penelitian ini dilakukan dengan meng-gunakan Rancang Acak Kelompok (RAK), dengan perlakuan konsentrasi pupuk cair organik dari ...

  20. Studi Pengembangan Pertanian Padi Sawah Organik Berdasarkan Kesesuaian Lahan dan Potensi Pupuk Organik dari Limbah Pertanian di Kecamatan Temon Kabupaten Kulon Progo

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rusiyah Rusiyah

    2016-10-01

    Full Text Available ABSTRAK Revolusi Hijau telah menimbulkan berbagai dampak negatif, baik pada lingkungan, keanekaragaman hayati pertanian, maupun sosial ekonomi masyarakat. Tujuan  penelitian ini mengkaji: 1 tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah, 2 potensi pupuk organik dari  limbah pertanian,3 karakteristik  sosial ekonomi petani, dan 4 merumuskan  strategi  pengembangan pertanian padi  sawah organik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Teknik pengambilan sampel  dengan  purposive area sampling untuk aspek fisik lahan dan purposive sampling untuk sampel petani. Teknik  pengolahan data  dengan Software LCLP, tabel frekuensi, dan analisis SWOT. Hasil penelitian dan pembahasan menggunakan analisis kuantitatif dan  kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah di daerah penelitian adalah sesuai marginal (S3 dengan luas 1.165,77 ha atau  99,11% dan tidak sesuai saat ini (N1 dengan luas 10,51 ha atau 0,89%, potensi pupuk organik dari limbah pertanian  pada  musim tanam I adalah  5.070,05 ton dan  musim tanam II adalah 3.595,04 ton, karakteristik sosial ekonomi internal petani  memiliki  kekuatan lebih baik dibandingkan karakteristik sosial ekonomi eksternal  petani bagi  pengembangan pertanian padi sawah organik di daerah penelitian, strategi pengembangan pertanian padi sawah  organik di Kecamatan Temon dapat dilakukan  sebagai berikut: (a pemberian penghargaan/apresiasi kepada petani yang telah berhasil mengembangkan pertanian organik, (b pemerintah perlu membantu petani dalam mendapatkan  sertifikat produk pertanian organik, (c pembuatan lahan percontohan/demplot pertanian organik, (d pemberdayaan peran kelembagaan, (e kegiatan sosialisasi kepada petani, konsumen  pedagang, pemerintah daerah, penyuluh, dan institusi terkait lainnya, (f mengintegrasikan pembangunan bidang pertanian dan peternakan,(g pelatihan teknologi pembuatan pupuk organik dan

  1. ANALISIS KADAR HARA PUPUK ORGANIK KASCING DARI LIMBAH KANGKUNG DAN BAYAM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Elfayetti Elfayetti

    2017-04-01

    Full Text Available Pertanian organik merupakan sistem pertanian yang holistik yang mendukung dan mempercepat biodeversiti, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah(International Federation of Organic Agriculture Movements,2014. Geografi Pertanian merupakan mata kuliah di Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unimed. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi yang diterapkan di Jurusan Pendidikan Geografi FIS Unimed merupakan matakuliah wajib pada semester genap, tepatnya pada semester IV (empat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan pertumbuhan berat cacing tanah pada pupuk kascing dari limbah kangkung dan bayam dan untuk mengetahui kandungan hara N, P, K dan pH kascing dari limbah kangkung dan bayam pada tanah ultisol. Untuk mengatasi permasalahan pada pupuk organik, maka harus diupayakan bagaimana memperoleh pupuk yang memiliki unsur hara yang padat dan pengadaannya relatif murah dan mudah. Pemanfaatan limbah organik untuk budidaya cacing tanah merupakan salah satu tindakan yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Rendahnya bahan organik, N, P, K menunjukkan bahwa tanah pada percobaan ini membutuhkan bahan organik. Pemberian bahan organik seperti cacing diharapkan dapat meningkatkan Produktivitas Ultisol dimana Kascing mempunyai sifat-sifat kimia, fisika, dan biologi tanah yang baik, sehingga dapat meningkatkan serapan hara dan pertumbuhan tanaman. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Jenis makanan berpengaruh terhadap pertumbuhan cacing tanah dan kualitas kascing yang dihasilkan. 2.Terdapat perbedaaan pada bobot cacing tanah yang dihasilkan dengan adanya perbedaan jenis makanan. Jenis makanan bayam memberikan tingkat pertumbuhan cacing tanah terbaik dengan terjadinya pertambahan bobot sebesar 650 gram yang awalnya hanya 250 gram. 3. Dari beberapa parameter sifat kimia dan biologi kascing, maka jenis makanan bayam memberikan nilai N tertinggi yaitu 0,52 dan pada pakan kangkung terdapatnilai p tertinggi yaitu 0,35. Kata Kunci

  2. PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK PADA MEDIA TANAH YANG MENGANDUNG TIMBAL (Pb TERHADAP PERTUMBUHAN KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans Poir.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Listiatie Budi Utami

    2016-06-01

    pupuk organik dengan dosis 0 gram, 50 gram, 100 gram, 150 gram, 200 gram, dan 250 gram dalam 2 kg tanah dari TPA Piyungan, Bantul. Setiap perlakuan diulang 4 kali dan dilakukan selama 4 minggu. Pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, panjang akar, dan berat basah tanaman. Pada minggu ke-4, dilakukan pengukuran kadar timbal (Pb dalam daun. Dilakukan uji ANOVA dan BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman kangkung darat. Dosis yang paling efektif untuk pertumbuhan tanaman kangkung darat adalah 200 gram dalam 2 kg tanah. Pemberian pupuk organik tidak dapat menurunkan kandungan Pb dalam tanaman kangkung darat.

  3. PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK PADA MEDIA TANAH YANG MENGANDUNG TIMBAL (Pb) TERHADAP PERTUMBUHAN KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans Poir.)

    OpenAIRE

    Listiatie Budi Utami; Ulfah Rachmawati

    2016-01-01

    Kangkung darat (Ipomoea reptans Poir.) merupakan tanaman hiperakumulator  logam timbal (Pb), padahal kangkung darat banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kandungan timbal (Pb) kangkung darat pada berbagai dosis pupuk organik; serta untuk mengetahui dosis pupuk organik yang paling efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan menurunkan kandungan timbal (Pb) dalam kangkung darat. Penelitian dilakukan secara Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan...

  4. PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH ORGANIK ZERO WASTE DI KABUPATEN TEGAL (STUDI KASUS DI TPA PENUJAH KABUPATEN TEGAL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Abdul Muiz Liddinillah Sanfiyan

    2017-12-01

    Full Text Available Permasalahan sistem pengolahan sampah yang ada di Kabupaten Tegal adalah masih menggunakan sistem Open Dumping. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS Kabupaten Tegal pada tahun 2016, komposisi sampah organik adalah yang terbesar kedua setelah sampah plastik dan sangat berpotensi mengalami penambahan setiap tahunnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat perancangan pembangkit listrik tenaga sampah organik zero waste di Kabupaten Tegal, dengan studi kasus di Tempat Pembuangan Akhir (TPA sampah Penujah. Objek dalam penelitian ini adalah sistem pengolahan sampah organik yang ada di Kabupaten Tegal dengan menggunakan sistem pengolahan sampah zero waste. Sistem pengolahan sampah organik zero waste adalah sistem pengolahan sampah yang tidak menghasilkan sampah kembali. Jadi, diharapkan jumlah sampah organik akan berkurang secara bertahap. Sampah organik dapat dirubah menjadi biogas melalui proses fermentasi yang dibantu oleh bakteri secara anaerob di dalam reaktor biodigester. Biogas tersebut ditampung di dalam tempat penampungan untuk kemudian didistribusikan ke dalam genset biogas sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Sisa pengolahan biogas dapat dirubah menjadi pupuk cair dan pupuk kompos yang bernilai ekonomis.

  5. Organik Balık Üretimi'nin Mevcut Durumu.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ahmet Adem Tekinay

    2015-12-01

    Full Text Available Doğal koşullar altında, hiçbir koruyucu katkı maddesi ve genetik modifikasyona maruz bırakılmamış organik tarım prensiplerine göre üretilmiş tamamen doğal olan hammaddelerden hazırlanan yemlerle beslenen ve bir kontrol kuruluşunda sertifikalanan balıklar “organik balık” olarak adlandırılmaktadır. Organik balık, daha düşük stok yoğunluğu ile hayvanın refahını sağlayan, pestisid, kimyasal ürün ve genetik olarak değişime uğramamış ürünler kullanmayarak insan sağlığına önem veren bir üretim modelidir. Dünyanın birçok gelişmiş ve gelişmekte olan ülkesinde uygulanan bu alternatif üretim modeli, dünya akauakültür üretiminin sadece %0,01’ini oluşturmasına rağmen, bu ürüne olan talep üretim miktarının ve piyasaya sürülen tür çeşitliliğinin artmasına sebep olmuştur. Bununla birlikte, organik su ürünleri üretimi, organik tarım kadar hızlı gelişememiştir. Bu durumun en büyük nedenlerinden biri organik su ürünleri için geliştirilmiş uluslar arası standartların olmamasıdır

  6. STRATEGI PRODUKSI PUPUK ORGANIK CAIR KOMERSIAL DARI LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN (RPH SEMARANG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wiharyanto Oktiawan

    2015-09-01

    Full Text Available Limbah Rumah Pemotongan Hewan (RPH Kota Semarang yang didominasi oleh rumen sapi jika tidak diolah dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada manusia dan kerusakan lingkungan. Dampak negatif dari limbah adalah proses pembuangan dan pembersihannya memerlukan biaya serta efeknya dapat mencemari lingkungan. Hal ini mendorong adanya inovasi dan pengembangan teknologi pengolahan air limbah yang murah dan mudah operasional dan pemeliharaannya serta biaya yang sedikit. Upaya meningkatkan keuntungan akan keberadaan limbah dilakukan cara mengolah limbah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai jual. Keuntungan yang bisa diperoleh dari proses pengolahan limbah tersebut menjadi biogas, bioenergi, dan pupuk. Pupuk yang mengandung magnesium yang tinggi yang beredar di pasaran biasanya berbentuk granul/ serbuk. Apabila tanaman mengalami kekurangan magnesium maka akan menyebabkan kuningnya daun dan menghambat proses fotosintesis yang terjadi di daun. Penambahan limbah garam pada penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kandungan unsur hara makro C,N,P,K, dan Mg, tidak mencemari lingkungan, tidak merusak struktur tanah, serta mudah dalam pengaplikasiannya. Variasi rasio serat kasar dengan cairan rumen bertujuan untuk mengetahui kandungan paling optimum,antara lain: 100:0 ,75:25 , 50:50 , 25:75 , 0:100 (serat kasar:cairan rumen. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan limbah garam tidak mempengaruhi terhadap kandungan unsur hara C-Organik dan Nitrogen, sedangkan pada kandungan Fospor, Kalium, dan Magnesium memiliki pengaruh dari penambahan limbah garam. Kandungan unsur hara makro paling optimum yaitu C-Organik pada fermentor B1 sebesar 1,44%, Ntotal pada fermentor B2 sebesar 0,73%, Fospor (P2O5 pada fermentor B3 sebesar 2,243%, Kalium pada fermentor B3 sebesar 13,05, dan Mg pada fermentor B3 sebesar 26,82%. meskipun demikian, pupuk organik cair ini belum memenuhi persyaratan teknis Permentan No.70/Permentan/SR.140/10/2011 tentang pupuk organik, pupuk

  7. Pengaruh macam limbah organik dan pengenceran terhadap produksi biogas dari bahan biomassa limbah peternakan ayam

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    SUNARTO

    2012-05-01

    Full Text Available Pamungkas GS, Sutarno, Mahajoeno E. 2012. Pengaruh macam limbah organik dan pengenceran terhadap produksi biogas dari bahan biomassa limbah peternakan ayam. Bioteknologi 9: 18-25. Kelangkaan bahan bakar merupakan masalah penting saat ini, sehingga diperlukan berbagai alternative sumbernya. Dengan sistem biodigester anaerob, limbah peternakan ayam dengan penambahan limbah organik lain dapat menghasilkan biogas, sebagai sumber energi terbarukan (renewable energy. Tujuan penelitian ini adalah (i menguji produksi biogas dari pencerna anaerob limbah peternakan ayam dengan perlakuan pengenceran, dan penambahan berbagai substrat sampah organik skala laboratorium, (ii mengetahui produksi biogas dari pencerna anaerob sistem curah limbah peternakan ayam dengan frekuensi agitasi berbeda pada skala semi pilot. Penelitian dilakukan dua tahap yaitu penelitian skala laboratorium dan skala semi pilot. Rancangan percobaan menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL yang terdiri dari 2 faktor yaitu, rasio pengenceran, dan penambahan substrat. Hasil dari produksi biogas terbaik direkomendasikan pada penelitian skala semi pilot sistem curah. Perlakuan dalam tahapan semi pilot dengan interval waktu pengadukan, yaitu 4 jam/hari dan 8 jam/hari. Produksi biogas tertinggi diperoleh dari penyampuran kotoran ayam dengan eceng gondok pengenceran 1:1 sebesar 0,60 L dalam 6 minggu dan efisiensi perombakan COD, TSS, VS adalah 63,80%; 14,79%; 75,14%. Pada sekala semi pilot sistem curah dengan frekuensi pengadukan 8 jam/hari, diperoleh hasil biogas tertinggi sebesar 624,99 L dalam 6 minggu.

  8. PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK PADA MEDIA TANAH YANG MENGANDUNG TIMBAL (Pb TERHADAP PERTUMBUHAN KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans Poir.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Listiatie Budi Utami

    2016-11-01

    Full Text Available Kangkung darat (Ipomoea reptans Poir. merupakan tanaman hiperakumulator  logam timbal (Pb, padahal kangkung darat banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kandungan timbal (Pb kangkung darat pada berbagai dosis pupuk organik; serta untuk mengetahui dosis pupuk organik yang paling efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan menurunkan kandungan timbal (Pb dalam kangkung darat. Penelitian dilakukan secara Rancangan Acak Lengkap (RAL dengan perlakuan pemberianpupuk organik dengan dosis 0 gram, 50 gram, 100 gram, 150 gram, 200 gram, dan 250 gram dalam 2 kg tanah dari TPA Piyungan, Bantul. Setiap perlakuan diulang 4 kali dan dilakukan selama 4 minggu. Pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, panjang akar, dan berat basah tanaman. Pada minggu ke-4, dilakukan pengukuran kadar timbal (Pb dalam daun. Dilakukan uji ANOVA dan BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman kangkung darat. Dosis yang paling efektif untuk pertumbuhan tanaman kangkung darat adalah 200 gram dalam 2 kg tanah. Pemberian pupuk organik tidak dapat menurunkan kandungan Pb dalam tanaman kangkung darat.

  9. Organik Tavukçulukta Mera Kompozisyonu, Besleme ve Barındırma Teknikleri

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hasan Eleroğlu

    2014-01-01

    Full Text Available Dünya’daki gelişmelere paralel olarak, Türkiye’de de organik tavukçuluk sektöründe gelişmeler yaşanmaktadır. Son yıllarda artan taleplerin karşılanması amacıyla üretim artışı söz konusu olup, yeni organik işletmeler sayısında artış gözlenmektedir. Hayvanların besin maddesi ihtiyaçlarının belli bir kısmının meradan sağlanması için yerel bitkilerden yararlanılarak, uygun mera kompozisyonunun ekonomik üretimi destekleyecek şekilde oluşturulması gerekmektedir. Bununla birlikte, çevre koşulları ve barındırma tekniklerinin kanatlının performansı, sağlığı, refahı, ürün kalitesi üzerine etkisi bulunmaktadır. Bu nedenle çevre koşulları ve barındırma tekniklerinin, yerel koşullara uyumlu ve organik standartları sağlayacak şekilde düzenlenmesi gerekmektedir. Hayvanların günlük besin maddesi ihtiyaçlarının dengeli olarak karşılanmasında, hayvanların severek tükettikleri buğdaygil ve baklagil yem bitkileri yanında otlatmaya dayanıklı endemik bitkilerden oluşan karışımlardan yararlanılarak, mera kompozisyonu belirlenmelidir. Sabit ve taşınır barındırma sistemlerinde kullanılacak malzemelerin organik üretim standartlarına uygun olmalıdır. Kümes içi ve mera donanımları arasında bulunan yemlik ve sulukların organizasyonunda yöresel iklim koşulları dikkate alınmalı, özellikle ısıtma sistemlerinde aydınlatma yapmayan ısı kaynaklarının seçilmesi gerekmektedir. Yabani kuş ve yırtıcı hayvanlardan korunma amaçlı geliştirilen sistemler üzerinde durulmalı, ürün elde etme ve değerlendirme aşamasında, ürün kalitesinin maksimum düzeyde korunabileceği uygulamalar üzerinde durulmalıdır. Bu çalışmada, organik tavukçuluk üzerinde durularak, örnek olarak Sivas koşullarında organik etlik piliç üretiminde kullanılmak üzere oluşturulan mera kompozisyonu ile birlikte organik tavuk yetiştirmede kullanılan barındırma sistemi

  10. PEMANFAATAN SEREH (Cymbopogon Cytratus DALAM MENURUNKAN BAU PADA PUPUK ORGANIK CAIR DAN POTENSINYA DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI TANAMAN CABAI (Capsicum Annum

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nurhasanah Nurhasanah

    2013-09-01

    Full Text Available Research in the use of lemongrass (Cymbopogon citratus to reduce odors in liquid organic fertilizer has been conducted in Bogor for 6 months. This study begin with a liquid organic fertilizer produced from 1 kg of shrimp waste, 1 kg of maize, 1 kg of bean sprouts, 10 liters of coconut water, 500 ml of EM4 and 500 g of sugar through fermentation process for 6 weeks. Then the result of liquid organic fertilizer was added by an ingredient lemongrass as deodorizing with doses of 0, 10%, 20% and 30% (w/v. After that it is fermented for 2 weeks. The next stage was the application of liquid organic fertilizer as a foliar fertilizer at chillies (Capsicum annum planting using a completely randomized design (CRD 1 factors type of using liquid organic fertilizer (control, liquid organic fertilizer without lemongrass, liquid organic fertilizer + 10% lemongrass, liquid organic fertilizer + 20% lemongrass and liquid organic fertilizer + 30% lemongrass respectively at doses of 0, 6, 12 and 18 ppm. The parameters measured were odor (NH3 and H2S, levels of macro nutrients (N, P, K, Ca, Mg, and S and micro nutrients (Cu, Zn, Mn, and Fe after fermenting process, and the production of crops (fruit number and fruit weight after planting. Research results show that the higher dose of lemongrass added cause levels of odor (NH3 and H2S in the liquid organic fertilizer decreased and content of macro nutrients, micro nutrients, and phytohormones increased. The planting results indicate liquid organic fertilizer which added 20% lemongrass in a dose of 12 ppm was the optimal dose in increasing crop production. Penelitian penggunaan sereh (Cymbopogon citratus dalam menurunkan bau pada pupuk organik cair telah dilakukan di Bogor selama 6 bulan. Penelitian ini diawali dengan membuat pupuk organik cair yang dihasilkan dari 1 kg limbah udang, 1 kg jagung, 1 kg touge, 10 Liter air kelapa, 500 ml EM4 dan 500 g gula pasir melalui proses fermentasi selama 6 minggu. Kemudian pada

  11. PEMANFAATAN LIMBAH PEPAYA (Carica papaya L DAN TOMAT (Solanum lycopersicum L UNTUK MEMPERCEPAT PENGOMPOSAN SAMPAH ORGANIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Aji Baharudin

    2017-04-01

    Full Text Available Salah satu penanganan sampah organik adalah memaanfaatkannya menjadi bahan baku kom-pos. Dalam penelitian ini, untuk mempercepat waktu pengomposan,digunakan limbah pepaya dan limbah tomat sebagai inokulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis inokulan yang lebih efektif di antara dua jenis limbah buah tersebut, melalui eksperimen yang mengguna-kan rancangan post test only group. Obyek penelitian adalah sampah organik yang berasal dari halaman Asrama I Poltekkes Kemenkes Yogyakarta sebanyak 60 kg yang diperoleh dengan me-toda integrated sampling, sedangkan sampah limbah pepaya dan tomat sebanyak 2 kg yang di-peroleh dari Pasar Serangan, diambil dengan metoda purposive sampling. Berdasarkan indika-tor kompos matang, dari lima kali ulangan, rata-rata waktu terbentuknya kompos pada kelompok perlakuan dengan inokulan limbah pepaya adalah selama 32,3 hari dan inokulan limbah tomat selama 31,7 hari. Hasil uji statistik dengan t-test bebas memperoleh nilai p < 0,001 yang berarti bahwa perbedaan lama waktu pengomposan antara kedua inokulan tersebut memang bermak-na. Dapat disimpulkan bahwa limbah tomat lebih efektif dan cepat dibandingkan dengan limbah pepaya dalam mempercepat proses pengomposan.

  12. PENGARUH DOSIS PUPUK KANDANG TERHADAP STABILITAS AGREGAT TANAH PADA SISTEM PERTANIAN ORGANIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    - Mustoyo

    2016-02-01

    Full Text Available Organic matter is important to soil aggregate stability. The research of effect dosage of goat manure tos oil aggregate in organic farming system was do neon Andisols soil in Permata Hati Farm, CiburialHamlet, North Tugu village, Cisarua sub-district, Bogor district, West Java province. The research was conducted on October 2012 until the end of February 2013. The research purposes are: a Know the goat manure’s dosage influence on soil aggregate in organik farming system, b Determine the dos age of goat manure that can provide the best Mean Weight Diameter (MWD and Aggregate Stability Index (ASIin organik farming system. The research used randomized completely block design (RCBD with 6 treatments and 3 replications. Goat manure dosage were used as treatments are 0 ton ha-1, 5 ton ha-1, 10 ton ha-1, 15 ton ha-1, 20 ton ha-1, and 25 ton ha-1. Data was analyzed by ANOVA and Duncan’sMultiple Range Test (DMRT at 5% level. The research results are showed, with initial number of C-organic >4.5%, goat manure application was significant to change soil aggregate. Goat Manure 5 ton ha-1was enough to increasing Mean Weight Diameter (MWD and ASI (Aggregate Stability Index.

  13. ISOLASI MIKROBA YANG DAPAT MENGHILANGKAN BAU PADA PUPUK ORGANIK AIR LIMBAH CUCIAN BERAS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Elfarisna .

    2015-04-01

    Full Text Available Air limbah cucian beras jika difermentasi selama dua minggu menimbulkan bau. Penelitian yang dilakukan dengan menambah Efektif Microorganisme (EM 4 dapat memperpendek waktu fermentasi dan tidak menimbulkan bau. Efektif Microorganisme 4 adalah produk dari luar, sementara Indonesia mempunyai banyak mikroorganisme lokal yang potensial untuk dikembangkan. Pupuk organik ini telah diteliti pada tanaman anggrek, sayur-sayuran, dan kedelai. Tujuan penelitian untuk mendapatkan mikroorganisme lokal yang dapat menghilangkan bau pada air limbah cucian beras yang akan digunakan sebagai pupuk organik. Isolasi dengan menggunakan media Patato Dextrose Agar (PDA dan Mann Rogosa Sharpe Agar (MRSA, dengan sumber inokulan air limbah cucian beras, ragi tape, kombucha, dan yoghurt. Hasil isolasi diperoleh 2 jenis Lactobacillus dari air limbah cucian beras dan yogurt. Ada tujuh khamir yang diperoleh, yaitu dari air limbah cucian beras (4 jenis, ragi tape (2 jenis, dan kombucha (1 jenis. Dari hasil penelitian ini dipilih 1 jenis Lactobacillus, dan 4 jenis khamir yang dapat hidup dengan baik di dalam air limbah cucian beras dan tidak menimbulkan bau.

  14. MODEL TANAMAN HORTIKULTURA ORGANIK PADA UNIT PELAKSANA TEKNIS PERTANIAN TERPADU UNIVERSITAS LANCANG KUNING

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Latifa Siswati

    2016-03-01

    Full Text Available ABSTRAKPenelitian ini mengetahui model pertanian tanaman hortikultura organic  .Pertanian organik merupakan suatu usahatani untuk melakukan pemberian pupuk berasal dari urin sapi dan tidak mengandung zat kimia . ini berarti limbah yang dihasilkan akan dimanfaatkan kembali menjadi sumberdaya yang dapat menghasilkan.  Pada penelitian ini tujuan yang ingin dicapai adalah menemukan tanaman hortikultura organik. Mengetahui pendapatan jenis hortikultura.menerapkan pengembangan agribisnis tanaman unggulan dengan   pupuk urin sapi di lahan  dengan pertanian terpadu memiliki manfaat ekonomis dan ekologis.Metode penelitian adalah ekperimen , dilakukan penanaman tanaman hortikultura kangkung,timun, pare, gambas Unit Pelaksana Teknis Univ.Lancang Kuning kota Pekanbaru. Penelitian ini  dapat memberikan model tanaman hortikultura organic serta  mengurangi biaya pupuk tanaman.Hasil penelitian Model tanaman kacang panjang diberikan pupuk urin sapi  yang terbaik. penaman sayur di Unit Pelaksana Teknis  Pertanian terpadu diperoleh hasil tanaman dengan pemakaian pupuk urin cair terjadi peningkatan berat tanaman .Pendapatan pertanian terpadu Rp 514.000- per periode.Key word: pupuk cair, hortikultura,pendapatan 

  15. Pemanfaatan Polimer Hybrid Tmspma Dan Phosphor Organik Sebagai Bahan Luminesensi Untuk Solid State Lighting Planar

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fitrilawati Fitrilawati

    2015-04-01

    Full Text Available Lampu Solid State Lighting (SSL planar, diharapkan dapat menghasilkan distribusi cahaya yang lebih baik, dibandingkan dengan lampu fluoresensi biasa. Berbeda dengan lampu SSL biasa, pada SSL panel lebar (planar digunakan pendekatan kopling cahaya (Light Wave Coupling-L WC sehingga memerlukan sistem light guiding, yaitu cahaya pengeksitasi dikopling ke dalam substrat sebagai media pandu gelombang. Untuk aplikasi lampu SSL planar dengan pendekatan LWC diperlukan lapisan pengkonversi warna emisi yang berukuran lebar dengan karakteristik yang sesuai dengan perangkat preparasi dan media pandu gelombang. Media pandu gelombang yang akan digunakan adalah Light Guide Plate (LGP, dari PMMA (polymethyl methacrylate. Pada penelitian ini dikembangkan bahan luminesensi berbasis polimer hybrid trimethoxysilylpropyl methacrylate (TMSPMA, yang dimodifikasi dengan teknik kopolimerisasi dan phosphor organik. Khusus pada bahan prekursor poli(TMSPMA dilakukan uji kelarutan yang menunjukkan bahan prekursor polimer hybrid poli(TMSPMA beserta kromofor organiknya dapat larut dengan baik pada pelarut polar. Dari hasil tersebut dipilih pelarut yang tepat sehingga pembuatan lapisan tipis dari bahan luminesensi organik dapat dilakukan secara sederhana dengan teknik screen printing. Lapisan tipis yang dihasilkan dengan teknik tersebut dapat mengemisikan cahaya ke seluruh permukaan secara merata sehingga memiliki potensi untuk pengembangan model lampu SSL planar. 

  16. Komposit Nano TiO2 Dengan PCC, Zeolit atau Karbon Aktif Untuk Menurunkan Total Krom dan Zat Organik Pada Air Limbah Industri Penyamakan Kulit

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bumiarto Nugroho Jati

    2012-04-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian untuk menurunkan total krom dan zat organik pada limbah industri penyamakan kulit dengan menggunakan nano TiO2 yang dikompositkan dengan adsorben karbon aktif, zeolit, dan precipitated calcium carbonate (PCC dalam suatu reaktor fotokatalitik yang disusun secara batch dan dilengkapi dengan 6 buah lampu UV dan magnetic stirrer. Penurunan kadar krom total diukur dengan menggunakan Atomic Absorption Spectro-photometer (AAS dan penurunan zat organik dianalisa dengan menggunakan titrasi permanganatometri. Hasil penelitian menunjukkan pengolahan terbaik untuk penurunan kadar krom total adalah dengan menggunakan komposit TiO2:PCC = 8:2 yang dapat menurunkan total krom hampir 100% pada menit ke-170 dengan konsentrasi awal 214,35 mg/L. Untuk penurunan kadar zat organik, pengolahan terbaik dengan menggunakan komposit TiO2:PCC = 9:1 yang dapat menurunkan kadar zat organik hingga 100% pada menit ke-180. 

  17. PENGARUH SUPLEMENTASI HIDROLISAT BULU AYAM DAN MINERAL ORGANIK TERHADAP KECERNAAN ZAT MAKANAN, PERTAMBAHAN BOBOT BADAN, DAN EFISIENSI RANSUM KAMBING PERANAKAN ETAWAH JANTAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muhtarudin Muhtarudin

    2012-09-01

    Full Text Available ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan suplementasi hidrolisat bulu ayam, mineral, makro organik (Ca, Mg organik serta mikro organik (Zn, Cu, Cr, Se organik guna meningkatkan kecernaan zat-zat makanan, pertambahan bobot badan, dan efisiensi ransum kambing peranakan Etawah jantan. Percobaan menggunakan kambing peranakan Etawah jantan sebanyak 20 ekor. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah: R0 = 40% rumput gajah + 60% konsentrat, R1 = R0 + 3 % tepung bulu ayam, R2 = R1 + Mineral Makro-organik (Ca, Mg organik, R3 = R2 + Mineral Mikro-organik (Zn,Cu, Cr, Se organik. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa perlakuan campuran bulu ayam, Ca-PUFA, Mg-PUFA (mineral makro organik dan Zn, Cu, Se, dan Cr, lisinat (mineral mikro organik atau R3 dapat meningkatkan kecernaan bahan organik, energi, pertambahan bobot badan, dan efisiensi ransum dari kambing peranakan Etawah jantan. THE EFFECT SUPLEMENTATION OF HYDROLYZED OF FEATHER MEAL AND ORGANIC MINERAL ON NUTRIENTS DIGESTIBILITY, DAILY GAIN, AND RATIONS EFFICIENCY OF MALE ETAWAH CROSS GOATS ABSTRACT The objective of research were to evaluate the effect of supplementation of hydrolyzed of feather meal, organic macro mineral (Ca and Mg-Polyunsaturated Fatty Acid /PUFA and organic micro mineral (Zn, Cu, Cr, and Se-lysinat to improve nutrient digestibility, daily gain and rations efficiency of male Etawah cross goats. The research were used 20 male Etawah cross goats. Random block design were used this research was used, with 4 treatments and 5 replications. The treatments were arranged : R0= 40 % of forage + 60% concentrates; R1= R0 + 3% of hydrolyzed of feather meal ; R2= R1 + organic macro mineral (Ca and Mg -PUFA; R3 = R2+ organic micro mineral (Zn,Cu, Cr, and Se-lysinat. The results showed that mixing treatment of hydrolyzed feathers meal, organic macro and micro mineral (Ca and Mg

  18. Pengaruh Macam dan Waktu Aplikasi Bahan Organik pada Tanaman Ubi Jalar (Ipomoea batatas L. Var. Kawi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nur Edy Suminarti

    2015-07-01

    Full Text Available Diversifikasi pangan merupakan langkah tepat untuk mengantisipasi kondisi rawan pangan.  Hal ini menjadi penting karena setiap tahun luas lahan basah telah mengalami penyusutan sekitar 0,1% dari total luas lahan di Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut, dan dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, maka pemanfaatan ubi jalar sebagai sumber bahan pangan alternatif perlu dilakukan. Penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang macam dan waktu aplikasi bahan organik yang tepat telah dilakukan di Desa Landungsari, Kabupaten Malang. Rancangan yang digunakan adalah Petak Terpisah, macam bahan organik ditempatkan pada petak utama, terdiri dari 3 macam, yaitu  pupuk kandang sapi, kompos azolla dan kompos sampah kota.  Waktu aplikasi bahan organik sebagai anak petak, terdiri dari 3 macam, yaitu : 30 hari sebelum tanam, 15 hari sebelum tanam dan bersamaan tanam. Pengumpulan data dilakukan secara destruktif, meliputi  komponen pertumbuhan dan panen, analisis pertumbuhan tanaman dan analisis tanah. Uji F taraf 5% ditujukan untuk menguji pengaruh perlakuan, sedang perbedaan diantara rata-rata perlakuan didasarkan pada nilai BNT taraf 5%. Interaksi nyata terjadi pada sebagian besar parameter yang diamati, dan hasil umbi tertinggi didapatkan pada kompos sampah kota yang waktu aplikasinya dilakukan 30 hari sebelum tanam : 28,03 ton umbi ha-1. Food diversification is a precise step to anticipate food shortage condition. It becomes important because wetland area is decreasing of approximately 0,1% each year of total area in Indonesia. Related to that point, also in order to meet food national demand, utilization of sweet potato as alternative food resource needs to be done. Research aimed to get information about proper kind and application time of organic matter had been done at Landungsari, Malang. The design used was Split Plot, kind of organic matter was placed as main plot, consisting of 3 kinds, ie: cow manure, azzola

  19. Penyisihan Limbah Organik Air Lindi TPA Jatibarang Menggunakan Koagulasi-Flokulasi Kimia

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Arya Rezagama

    2016-12-01

    Full Text Available Air lindi yang meresap ke dalam tanah yang berpotensi bercampur dengan air tanah sehingga menimbulkan pencemaran tanah, air tanah dan air permukaan. Komposisi limbah lindi dari berbagai TPA berbeda-beda bergantung pada musim, jenis limbah, umur TPA. Proses dalam TPA menghasilkan molekul organik recalcitrant yang ditunjukkan dengan rendahnya rasio BOD/COD dan tingginya nilai NH3-N. Belum optimalnya pengolahan air lindi di Jatibarang membutuhkan pretreatment sebagai bentuk upaya alternatif dalam proses pengolahan air lindi sebelum masuk ke dalam proses aerated lagun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh koagulan kimia pada penyisihan bahan organik air lindi TPA Jatibarang. Penelitian dilakukan pada bulan April- Agustus 2016. Karaktersitik air lindi TPA Jatibarang termasuk dalam kategori "moderately stable" dan lindi muda. Penyisihan bahan organik dengan menggunakan kuagulan kimia FeCl3 dan Al2SO4 menunjukkan nilai yang cukup signifikan untuk parameter COD, BOD, TSS. Penggunaan dosis optimal terjadi pada 16 g/L FeCl3 serta 16 g/L Al2SO4 dapat menurunkan nilai COD sebesar 51% dan 65%, BOD sebesar 50% dan 56%, dan TSS sebesar 24% dan 21%. Perubahan nilai pH akibat penambahan koagulan berpengaruh positif terhadap tingkat penyisihan, namun memberikan dampak negatif yaitu buih yang cukup banyak. Penurunan beban organik menguntungkan bagi sistem pengolahan lindi eksisting TPA Jatibarang.  [Title: Removal of Lindi Water Organic Waste of TPA Jatibarang using Chemical Coagulation- Floculation] Leachate grounding into the soil that potentially could mix with the groundwater caused contamination of soil, groundwater and surface water. The composition of waste landfill leachate from the various location is depending on the season, the type of waste, and landfill age. Process in the TPA produces recalcitrant organic molecules as indicated by the low ratio of BOD/COD and NH3-N high value. The ineffective treatment of leachate at Jatibarang

  20. SINTESA GULA DARI SAMPAH ORGANIK DENGAN PROSES HIDROLISIS MENGGUNAKAN KATALIS ASAM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Deddy Irawan

    2012-11-01

    Full Text Available SYNTHESIS OF SUGAR FROM ORGANIC WASTES VIA ACID CATALYSTHYDROLYSIS. Hydrolysis process is an important step from every process to produce biofuel withorganic wastes as raw material. Hydrolysis process with chemical uses hydrochloride acid as catalystin which will transform holocellulose to glucose. Raw material of 100 grams is put into hydrolysisreactor with batch system equipped with pressure control and ratio hydrochloride of 1 : 6 w/v. Thevariables studied were temperature of 110-140oC, HCl concentration of 0.5-1%, time of hydrolysis of15-60 minutes. The sugar concentration was taken and then be analyzed by Nelson-Somogy method.The hydrolysis, which was carried out with the temperature of 120oC, time of 30 minutes, HClconcentration of 0.75%, and the pressure of 6 bar, produced sugar reduction of 27.3 mg/mL and yieldof 15.07%. Proses hidrolisis merupakan satu tahap penting dari rangkaian tahapan proses produksi bahan bakarnabati menggunakan bahan baku sampah organik. Proses hidrolisis secara kimiawi menggunakanHCl sebagai katalis akan mengubah holoselulosa yang terdapat pada sampah organik menjadi gula.Gula yang dihasilkan inilah yang dapat difermentasi menjadi bahan bakar nabati. Bahanbaku sebanyak 100 g dimasukkan dalam reaktor hidrolisis sistem batch yang dilengkapi denganpengukur tekanan dan ditambahkan larutan HCl pada perbandingan 1:6 b/v. Hidrolisis dilakukandengan memvariasikan suhu operasi 100-140oC, waktu proses 15-60 menit, serta konsentrasi HCl 0,5-1%. Hidrolisat yang dihasilkan dianalisis kadar gula menggunakan metode Nelson-somogy. Hasilhidrolisis yang dilakukan pada suhu 120oC selama 30 menit serta konsentrasi HCl 0,75% dan tekananterukur 6 bar menghasilkan gula 27,30 mg/mL dan yield gula sebesar 15,07%.

  1. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MINAT BELI PANGAN ORGANIK MELALUI SITUS ONLINE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hasrini Sari

    2017-03-01

    organik, yaitu dengan merekomendasikan informasi-informasi yang sebaiknya ditampilkan pada situs. Kata kunci:  technology acceptance model, pemasaran online, situs, produk organik, structural equation modelling

  2. PENINGKATAN KUALITAS PRODUKSI PUPUK ORGANIK P-126 DENGAN MENGGUNAKAN METODE LEAN MANUFACTURING (STUDI KASUS : PT. MOLINDO RAYA INDUSTRIAL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muhammad Desryadi Ilyas

    2017-01-01

    Full Text Available PT. Molindo Raya Industrial merupakan perusahaan penghasil pupuk organik P-126 yang berlokasi di Lawang, Kabupaten Malang dengan kapasitas produksi lebih dari 10.000 ton per tahun. Untuk memenangkan persaingan di bidang produksi pupuk organik, perusahaan dituntut untuk melakukan peningkatan kualitas proses produksi secara berkelanjutan dengan mereduksi waste yang ada. Meskipun produksi pupuk organik P-126 di PT. Molindo Raya Industrial mengalami peningkatan, namun masih terdapat beberapa waste, diantaranya waiting yang disebabkan oleh breakdown mesin produksi yang mengakibatkan kerugian perusahaan lebih dari Rp. 500.000.000 per tahun. Waste kedua ialah defect berupa granul yang tidak memenuhi spesfikasi diameter, material hasil cleaning dan karung finished good yang sobek dan waste ketiga ialah over production yang mengakibatkan kerugian perusahaan lebih dari Rp. 400.000.000 per tahun. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan perbaikan dengan menggunakan metode lean manufacturing yang fokus dalam mereduksi waste dan non value added activity. Pada penelitian ini menggunakan framework DMIC six sigma, tahapan pertama ialah tahap define untuk mengidentifikasi permasalahan dengan menggunakan tools Big Picture Mapping, Activity Classification dan identifikasi waste berdasarkan E-DOWNTIME. Tahapan kedua ialah measure yang digunakan untuk mengukur kerugian perusahaan yang diakibatkan adanya waste. Selanjutnya adalah tahap analyze menggunakan tools 5 Why’s dan FMEA untuk mengetahui root cause adanya waste, kemudian tahap terakhir ialah tahap improve, pada tahap improve dilakukan penyusunan dan pemilihan alternatif usulan perbaikan dengan mengunakan pendekatan value engineering. Usulan perbaikan terpilih dalam upaya meningkatkan proses produksi pupuk organik P-126 diantaranya mengevaluasi penjadwalan preventif maintenance mesin produksi, menyusun penjadwalan mesin produksi yang kritis, evaluasi SOP dan penerapan SOP, melaksanakan pelatihan untuk

  3. PENGARUH TINGKAT YOGURT DAN WAKTU FERMENTASI TERHADAP KECERNAAN IN VITRO BAHAN KERING, BAHAN ORGANIK, PROTEIN, DAN SERAT KASAR KULIT NANAS FERMENTASI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nurhayati (Nurhayati

    2014-10-01

    Full Text Available Penelitian dilaksanakan untuk melihat pengaruh tingkat yogurt dan waktu fermentasi terhadap kecernaan in vitro bahan kering, bahan organik, protein, dan serat kasar kulit nanas fermentasi. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan 2 faktor yaitu tingkat yogurt (0, 3, 6, dan 9 ml/kg dan lama waktu fermentasi (24, 48, dan 72 jam yang diulang sebanyak 5 kali. Bahan yang digunakan adalah kulit nanas, plain yogurt yang mengandung bakteri Lactobacillus delbrueckii subsp. bulgaricus dan Streptococcus salivarius subsp. thermophilus, bahan kimia yang digunakan untuk analisis proksimat protein dan serat kasar kulit nanas fermentasi, larutan saliva buatan McDougall dan cairan rumen. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan pengaruh yang nyata (P<0,05 tingkat yogurt terhadap kecernaan in vitro bahan kering, bahan organik, dan protein kasar tetapi tidak berbeda nyata terhadap kecernaan serat kasar. Waktu fermentasi berpengaruh nyata (P<0,05 terhadap kecernaan bahan kering, bahan organik, protein kasar, dan serat kasar secara in vitro. Interaksi tingkat yogurt dengan waktu fermentasi memberikan perbedaan pengaruh yang nyata (P<0,05 terhadap kecernaan bahan kering, bahan organik dan protein kasar tetapi tidak memberikan perbedaan pengaruh nyata terhadap kecernaan serat kasar. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa tingkat yogurt 6 ml/kg dan waktu fermentasi 72 jam dapat meningkatkan kecernaan in vitro bahan kering, bahan organik, dan protein kasar serta menurunkan kecernaan in vitro serat kasar kulit nanas fermentasi. (Kata kunci: Fermentasi, Kecernaan in vitro, Kulit nanas, Yogurt

  4. Penggunaan Unit Slow Sand Filter, Ozon Generator dan Rapid Sand Filter Skala Rumah Tangga Untuk Meningkatkan Kualitas Air Sumur Dangkal Menjadi Air Layak Minum (Parameter Zat Organik dan Deterjen

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anindya Prawita Sari

    2014-09-01

    Full Text Available Air sumur merupakan air tanah yang sering kali digunakan masyarakat untuk aktivitas sehari-hari. Air sumur dengan kadar organik dan deterjen tinggi tidak layak dikonsumsi masyarakat karena dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Selain itu, adanya zat organik dan deterjen mempengaruhi warna dan bau air sumur sehingga tidak layak konsumsi. Slow sand filter merupakan unit pengolahan yang mampu meremoval zat organik pada air. Slow sand filter dan rapid sand filter tidak menggunakan bahan kimia dalam proses pengolahan sehingga lebih ekonomis dan efektif. Sedangkan ozon, efektif digunakan untuk meremoval zat organik yang ada dalam air dengan mengubah rantai zat organik menjadi lebih sederhana. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan penggunaan slow sand filter, ozon generator dan rapid sand filter dalam menyisihkan beban deterjen dan zat organik pada air sumur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi removal pada unit slow sand filter untuk beban organik dan deterjen sebesar 57,6% dan 60,5 %, pada unit ozonasi sebesar 47,4% dan 17,5%, dan pada unit rapid sand filter sebesar 50,0% dan 50,9 %.

  5. Faktor-faktor yang berhubungan dengan Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga menjadi Kompos di Jorong IX Pancahan Kecamatan Rao Kebupaten Pasaman Tahun 2013

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nurdin ,

    2015-07-01

    Full Text Available Dari 10 responden yang di wawancarai oleh peneliti 6 responden mengaku mengetahui cara pembuatan kompos dan 4 di antaranya tidak mengetahui bagaimana cala pembuatan kompos. Dari hasil observasi yang peneliti lakukan responden membuang sampah rumah tangganya ke belakang rumah. Penelitian ini berlujuan untuk mengetahui Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga Menjadi Kompos Di Jorong trX Pancahan Kecamatan Rao Kabupaten Pasaman Tahun 2013.Penelitian ini bersifat Deskriptif Analitik dengan pendekatan Cross secsional. Dan analisis data dilakukan dengan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji Chi Square. Populasi dalam penelitian ini adalah 330 kepala keluarga dengan jurnlah sampel 75 kepala keluarga yang ada di Jorong IX Pancahan Kecamatan Rao Kabupaten Pasatnan. Data diperoleh dengan cara wawancara dengan menggunakan kuesioner. Dimana variabel dependen adalah Pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi kompos. sedangkan paria variabel independennya adalah pengetahuan, kebutuhan, dan kemampuan.Berdasarkan hasil penelitian terdapat 47 (6 I,8% responden mempunyai pengetahuan rendah dengan p=0,03 dan OR=0,308. Responden yang tidak membutuhkan kompos yaitu 44 (57,9% responden dengan p=0,05 dan OR=2,826. Responden yang mampu mengolah sarnpah organik rumah tangga 52 (68,4% responden dengan p=0,10 dan OR=2,623.Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat di Jorong IX Pancahan memiliki pengetahuan yang rendah" Pengetahuan dan kebutuhan berhubungan dengan pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi kompos, sedangkan kemampuan tidak memiliki hubungan yang signifikan. Diperlukan upaya meningkatkan pengetahuan pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi kompos dan memberikan pemahaman kepada mayarakat tentang kebutuhan dan manfaat kompos.Kata Kunci: Pengetahuan, kebutuhan, kemampuan, Sampah rumah tangga

  6. Ruminant Beslemede Alternatif Yem Katkı Maddelerinin Kullanımı: 2. Organik Asit, Yağ Asiti, Adsorban

    OpenAIRE

    GÜÇLÜ, B. KOCAOĞLU; KARA, K.

    2010-01-01

    Organik asitler, yağ asitleri ve adsorbanlar ruminant beslenmesinde kullanılan alternatif katkı maddelerindendir.Bu katkı maddelerinin ruminantlarda sağlık, performans, verim kalitesi ve rumen fermentasyonu üzerinde oluşturabilecekleri etkileri ve bunun ruminant besleme açısından önemi üzerinde durulacaktır

  7. PENGARUH PENGGUNAAN KLOBOT JAGUNG SEGAR DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK SERTA PRODUKSI KARKAS KELINCI PERANAKAN NEW ZEALAND WHITE JANTAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Risang Pramudyo Wardhana

    2014-10-01

    Full Text Available Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penggunaan klobot jagung sebagai pengganti sebagian kangkung dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik serta produksi karkas kelinci Peranakan New Zealand White jantan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2013 di Balai Pembibitan dan Budidaya Ternak Non Ruminansia (BPBTNR Surakarta. Penelitian ini menggunakan 16 ekor kelinci New Zealand White jantan berumur ±2 bulan dengan bobot badan awal 1301,69±155,01 g. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola searah dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Ransum basal disusun dari dedak halus, BR1 dan kangkung (Ipomoea aquatica. Keempat level perlakuan pakan tersebut adalah dedak halus 55% + BR1 25% + kangkung 20% + klobot jagung 0% (P0; dedak halus 55% + BR1 25% + kangkung 17,5% + klobot jagung 2,5% (P1; dedak halus 55% + BR1 25% + kangkung 15% + klobot jagung 5% (P2 dan dedak halus 55% + BR1 25% + kangkung 12,5% + klobot jagung 7,5% (P3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan klobot jagung sampai level 7,5% dari total ransum tidak berpengaruh terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik serta karkas kelinci Peranakan New Zealand White jantan. (Kata kunci: Kelinci, Klobot jagung, Kecernaan bahan kering, Kecernaan bahan organik, Karkas

  8. KANDUNGAN BAHAN ORGANIK DAN AKUMULASI MINERAL TANAH PADA BANGUNAN SARANG RAYAP TANAH Macrotermes gilvus Hagen (BLATTODEA: TERMITIDAE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Niken Subekti

    2012-03-01

    Full Text Available Rayap Macrotermes gilvus Hagen mempunyai peranan ekologis rayap tanah M. gilvus sebagai degradator primer di dalam hutan, eksplorasi perananannya sebagai agen biologis dalam perbaikan vegetasi dan perbaikan kualitas tanah. Rayap dapat memodifikasi sifat fisik dan kimia tanah. Penelitian tentang kandungan bahan organik telah dilakukan dengan analisis proksimat (metode Weende, sementara akumulasi mineral tanah menggunakan metode X-Ray berdasarkan Analysis Program Cristallynity. Rayap M. gilvus Hagen merupakan komponen penting dalam memodifikasi beragam mineral dari tanah disekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata antara komposisi mineral tanah dalam sarang rayap M. gilvus Hagen dengan mineral tanah disekitar sarang. Hasil penelitian menunjukkan kandungan bahan organik dalam bangunan sarang menghasilkan sebesar 98.33% dan padatannya 1.67%. Padatan ini terdiri dari karbohidrat sebesar 3.16%, abu 4.19%, lemak 23.95%, protein sebesar 39.52%, dan sisanya 29.18% berupa mineral-mineral. Bangunan sarang rayap yaitu SiO2 dan Despujolsite yang dibawa dari lingkungan sekitar kedalan bangunan sarang. Unsur-unsur yang lain diperoleh dari sebagian material yang berasal dari saliva, humus dan tanah sekitar sarang. The termite Macrotermes gilvus Hagen plays an ecological role. Subterranean termites M. gilvus is considered as the primary degradator in the forest, and therefore the exploration of its role as the biological agent to recover the vegetation and soil quality might be useful. Termites could modify the physical and chemical nature of soil. M. gilvus Hagen was an important component in modifying various minerals of the surrounding soil.  Research on the content of the organic materials had been proximat analysis (Weende methode, and the accumulation of soil mineral structure in the mound with X-Ray Methode (Analysis Program Cristallynity 2006. The result of the research indicated that there was significant difference

  9. PEMANFAATAN DAUN TANAMAN BERKAYU SEBAGAI PUPUK ORGANIK TANAMAN SAYURAN DAN JAGUNG - (UTILIZATION OF WOODY PLANT LEAVES AS ORGANIC FERTILIZER FOR VEGETABLES AND CORN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dody Priadi

    2017-12-01

    Full Text Available This study aimed to use woody plant leaves as organic fertilizer (compost and their effects on vegetables and corn. The compost was made from leaves of Samanea saman, Swietenia macrophylla, Nephelium lappaceum and cow dung (1:3, 2:2 and 3:1 using OrgaDec (0.5% w/w, Decomic (0.1% v/w and Dectro (0.1 v/w as bioactivator. The result showed that compost from Samanea saman leaves and cow dung (1:3 using Decomic (0.1% v/w met the organic fertilizer standard. The compost was applied to Ipomoea reptans, Capsicum annuum and Zea mays on a media from compost and latosol soil (1:3, 2:2 and 3:1 using Completely Randomized Design (CRD with 3 replications. The analyzed data using ANOVA showed no significant difference in the growth parameter of tested plants. The best media for Ipomoea reptans was the mixture of compost and latosol soil (3:1 meanwhile for Zea mays and Capsicum annuum were 1:3 and 2:2, respectively.Keywords: compost, compost application, organic fertilizer, woody plant leavesABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan daun tumbuhan berkayu menjadi pupuk organik (kompos serta pengaruhnya terhadap tanaman sayuran dan jagung. Kompos dibuat dari daun kihujan (Samanea saman, daun mahoni (Swietenia macrophylla daun rambutan (Nephelium lappaceum dan kotoran sapi (1:3, 2:2 dan 3:1 dengan penambahan bioaktivator OrgaDec (0,5% w/w, Decomic (0,1% v/w dan Dectro (0,1 v/w. Hasil analisis kimia menunjukkan bahwa kompos yang dibuat dari daun kihujan dan kotoran sapi (1:3 yang menggunakan bioaktivator Decomic (0,1% v/w adalah perlakuan yang paling sesuai dengan baku mutu pupuk organik berdasarkan Permentan No.70/Permentan/SR.140/10/2011. Kompos hasil penelitian diujicobakan kepada tanaman kangkung darat (Ipomoea reptans, cabe keriting (Capsicum annuum dan jagung manis (Zea mays pada media campuran kompos dan tanah latosol (1:3, 2:2 dan 3:1 menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL dengan 3 ulangan sedangkan data yang diperoleh diolah dengan ANOVA

  10. Hasat Zamanının Nar Suyunun Şeker ve Organik Asit Bileşimleri Üzerine Etkisi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muharrem Gölükcü

    2015-02-01

    Full Text Available Bu çalışmada ülkemizde ticari olarak yetiştirilen Hicaznar çeşidinin hasat zamanına göre meyve suyunun, suda çözünür kurumadde miktarı (SÇKM, pH, titrasyon asitliği (susuz sitrik asit gibi temel özelliklerin yanında şeker ve organik asit bileşimleri tespit edilmiştir. Araştırma kapsamında analize alınan örnekler beş farklı dönemde hasat edilmiş, analiz edilen kalite karakteristikleri hasat zamanları arasında istatistiksel olarak önemli farklılıklar göstermiştir. Nar suyunun bilişiminde tespit edilen organik asitlerden sitrik, malik, okzalik ve tartarik asit miktarları sırasıyla 6.70-10.19 g/L, 0.28-0.48 g/L, 0.23-0.41 g/L, 0.03-0.09 g/L; örneklerin bileşiminde tespit edilen fruktoz, glikoz, sakkaroz ve maltoz miktarları da sırasıyla %7.69-8.34, %5.44-5.7, %0.08-0.19, %0.59-0.68 değerleri arasında dağılım göstermiştir. Araştırma hasat zamanındaki ilerlemeyle narın şeker içeriğinde artış, asitlik miktarında ise azalış olduğunu göstermiştir.

  11. TEKNIK PENGATURAN AIR PADA INTENSIFIKASI PADI AEROB TERKENDALI-BERBASIS ORGANIK (IPAT-BO UNTUK MENINGKATKAN POPULASI RHIZOBACTERIA, EFISIENSI PENGGUNAAN AIR, PERAKARAN TANAMAN, DAN HASIL TANAMAN PADI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hingdri -

    2013-03-01

    Full Text Available Teknik pengaturan air pada budidaya tanaman padi melalui Intensifikasi Padi Aerob Terkendali-Berbasis Organik (IPAT-BO perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengtahui aktivitas rhizobacteria, tingkat efisiensi penggunaan air, perkaran tanaman, dan hasil tanaman pada berbagai teknik pengaturan air.Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti, Tanjungsari pada inceptisol pada skala pot plastik. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK faktor tunggal dengan 16 perlakuan dan diulang tiga kali, yaitu terdiri dari kombinasi antara perlakuan air dan empat varietas. Perlakuan air: tinggi muka air + 5cm, 0 cm, – 5 cm dan  – 10 cm. Empat varietas: Ciherang, Sintanur, Inpari 13 dan Fatmawati..Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruhnyata terhadap populasi Rhizobacteria, perkembangan akar, dan hasil tanaman. Perlakuan tinggi muka air – 10 cm varietas Fatmawati memberikan hasil tertinggi pada volume akar 186,67 ml, populasi bakteri Azotobacter sp. (1,43 x 1010 CFU g-1, bakteri pelarut fosfat (6,07 x 108 CFU g-1, hasil tanaman tertinggi 95,9 g rumpun-1 setara dengan 9,14 ton ha-1 serta meningkatkan efisiensi penggunaan air 47,1 % dibandingkan dengan pengenangan 5 cm.Kata kunci:  Teknik pengaturan air, efisiensi penggunaan air, IPAT-BO, populasi rhizobakteria

  12. Yeni Çevresel Paradigma Ölçeği ile organik gıda tüketicilerinin çevreye yönelik tutumlarının değerlendirilmesi: Ankara ili örneği

    OpenAIRE

    ATALAY, Ceyda

    2016-01-01

    Bu tezin temel amacı, araştırma kapsamındaki tüketicilerin organik gıda tüketirken çevreye yöneliktutumlarının “Yeni Çevresel Paradigma Ölçeği” ile incelenmesidir. Ayrıca, tüketicilerin organik gıdatüketimleri konusunda bilgileri, bu ürünleri tüketip tüketmeme nedenleri, organik gıda satın alırken tercihettikleri yerlerin seçimi ve bu gıdaları tüketirken çevreye duyarlı olup olmadıkları da araştırılmıştır.Araştırma Ankara’nın Çankaya ve Yenimahalle ilçelerindeki organik gıda satan 3 ...

  13. PENGARUH KONSENTRASI BUAH CABAI MERAH (Capsicum annum L. DAN BUAH CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L. DALAM PRODUKSI BIOGAS DARI SAMPAH ORGANIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Khamdan Cahyari

    2014-10-01

    Full Text Available Meningkatnya kesejahteraan masyarakat Indonesia berdampak positif bagi peningkatan jumlah pasar tradisional dan komoditas perdagangannya. Namun, permasalahan sampah yang ditimbulkan oleh kegiatan perdagangan tersebut masih belum dapat ditangani dengan baik. Tidak hanya itu, sampah pasar tradisional yang hanya ditimbun di area tempat pembuangan akhir (TPA telah menyebabkan pencemaran lingkungan berupa kontaminasi air tanah, emisi gas rumah kaca dan masalah kesehatan. Sampah pasar tradisional memiliki potensi yang besar untuk diolah menjadi biogas melalui metode anaerobic digestion. Dengan adanya mikroorganisme, proses ini mampu mendegradasi sampah organik menjadi bahan organik yang stabil dan biogas (metana dan karbondioksida. Salah satu faktor yang mempengaruhi proses tersebut adalah adanya senyawa-senyawa antibiotik yang terkandung dalam sampah. Senyawa capsaicinoid dalam sampah buah cabai merupakan senyawa yang berperan dalam rasa pedas cabai memiliki pengaruh negatif terhadap kinerja mikroorganisme dalam mendegradasi sampah menjadi biogas. Pengaruh konsentrasi buah cabai terhadap produksi biogas ini belum banyak diteliti dan diketahui sehingga perlu dilakukan penelitian untuk menentukan konsentrasi minimal yang menyebabkan proses inhibisi (penghambatan.Hasil penelitian membuktikan adanya pengaruh konsentrasi buah cabai (capsaicinoid terhadap produksi biogas. Sampah pasar tradisional dengan konsentrasi 8 g VS/liter yang diumpankan terhadap konsorsium mikroorganisme tanpa adanya buah cabai menghasilkan yield biogas yang lebih tinggi dibandingkan dengan sampah yang tercampur buah cabai. Semakin tinggi konsentrasi buah cabai semakin besar pengaruh penghambatannya (inhibition. Hal ini ditunjukkan dengan menurunnya yield biogas yang dihasilkan. Konsentrasi buah cabai yang menghasilkan yield optimal diperoleh pada nilai konsentrasi 5 dan 8 g VS/liter untuk cabai merah dan cabai rawit secara berturut-turut. Yield tertinggi biogas dan gas metana ialah

  14. ANALISIS POLA INTERAKSI SERANGGA-GLMA PADA EKOSISTEM SAWAH SURJAN DAN LEMBARAN YANG DIKELOLA SECARA ORGANIK DAN KONVENSIONAL (Analysis of Insect-Weed Interaction Pattern in Surjan and Lembaran Rice Farm Ecosystems under Organic and Conventional

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tien Aminatun

    2012-11-01

    Full Text Available ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur food web dalam pola interaksi serangga-gulma pada ekosistem sawah surjan dan lembaran yang dikelola secara organik dan konvensional.        Penelitian dilakukan pada enam petak sawah surjan dan enam petak sawah lembaran di daerah Kulon Progo dalam dua musim tanam pada bulan Desember 2009 sampai Juli 2010.  Baik sawah surjan maupun sawah lembaran, masing-masing dibedakan dalam dua pengelolaan, yaitu pengelolaan organik dan konvensional, dengan ulangan masing-masing tiga petak.  Lima plot ukuran 1x1 m ditempatkan pada masing-masing petak yang tidak diubah posisinya sampai berakhir satu musim tanam. Inti dari penelitian lapangan ini adalah menghitung jenis dan kelimpahan gulma setiap tiga minggu sekali untuk setiap petak, demikian juga untuk jenis dan kelimpahan dari serangga herbivora untuk setiap jenis tanaman/gulma pada setiap plot. Analisis data dilakukan dengan program Bipartite in R statistics 2.12.0, dan dilakukan uji pengaruh tipe sawah dan cara pengelolaan lahan terhadap struktur dan network level (jumlah jenis trofik atas, jumlah jenis trofik bawah, keterhubungan, diversitas Shannon, dan kemerataan interaksi dengan menggunakan General Linear Model (GLM dalam program SPSS 17.0. Hasil penelitian sawah surjan yang dikelola secara organik mempunyai pola interaksi serangga-gulma yang lebih kompleks dengan lebih banyak link interaksi, jumlah jenis trofik atas dan bawah, indeks diversitas Shannon, dan kemerataan interaksi yang lebih tinggi, serta keterhubungan (connectance yang lebih rendah.  ABSRACT The aims of this research was to analyse food web structure of insect-weed interaction in surjan and lembaran rice field ecosystems under organic and conventional managements. We observed six rice fields of local farms called “surjan” rice fields, and six rice fields of “lembaran” farms in Kulon Progo District, central Java, in two planting seasons in December 2009 until

  15. KEMAMPUAN GENTENG PLASTIK BERGELOMBANG (CORRUGATED PLASTIC SEBAGAI BIOFILTER PARTIKEL AMONIAK DAN BAHAN ORGANIK DI MEDIA BUDIDAYA DAN LIMBAH CAIR BUDIDAYA IKAN (Performance of Corrugated Plastic as Biofilter of Ammonia Particle and Organic Material

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muslim Muslim

    2010-07-01

    Full Text Available ABSTRAK Pertumbuhan budidaya ikan dalam beberapa dekade ini berkembang sangat pesat, hal ini karena permintaan akan ikan meningkat. Meningkatnya kegiatan budidaya ikan selalu diiringi dengan meningkatnya limbah yang dihasilkan. Hal ini akan sangat cepat berpengaruh bila sistem budidaya yang dipakai adalah semi intesif atau intensif. Limbah tersebut harus segera dihilangkan atau dikurangi, karena akan berdampak pada ikan yang dibudidaya dan lingkungan seperti sungai dan laut. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui kemampuan genteng plastik bergelombang mengurangi limbah yang dihasilkan budidaya ikan yaitu Total Suspended Sediment (TSS, Suspended Sediment (SS, amoniak dan bahan organik (COD. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa air limbah budidaya ikan yang mengandung TSS, SS, amoniak dan bahan organik setelah dilewatkan dengan genteng plastik bergelombang konsentrasinya menurun dengan tingkat efisiensi pengurangan yang terjadi di dalam kolam ikan dan di luar kolam ikan adalah sebagai berikut: 74,51% dan 54,42% (TSS; 39,20% dan 49,12% (SS; 19,82% dan 14,2% (amoniak; dan 24,82% dan 22,47% (COD. Ternyata genteng plastik bergelombang mempunyai tingkat pengurangan (g/m3/hr dan tingkat pengurangan spesifik (mg/m2/hr terhadap kandungan amoniak lebih efektif bila dibandingkan dengan material lain seperti plastic rolls, scrub pads, pipa PVC dan lain sebagainya.   ABSTRACT Aquaculture has been developing rapidly during the last few decades; it is due to the increase of fish demand. Increasing aquaculture activities especially with semi-intensive and intensive system have significant effect on waste production, which has to be removed or to be reduced quickly because will effect on fish in rearing tank and environment when through away to environment such as river and sea. The objectives of this study were to know the capability of corrugated plastic to remove or to reduce wastes content produced by aquaculture activities, i.e, Total Suspended

  16. APLIKASI MODEL QUAL2Kw UNTUK MENENTUKAN STRATEGI PENANGGULANGAN PENCEMARAN AIR SUNGAI GAJAHWONG YANG DISEBABKAN OLEH BAHAN ORGANIK (Aplication of Qual2Kw Model to Determine the Strategy in Solving Gajahwong River Water Pollution Caused by Organic Matter

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Agnes Dyah Novitasari Lestari

    2013-11-01

    Full Text Available ABSTRAK Telah dilakukan pemodelan kualitas air terhadap Sungai Gajahwong menggunakan model QUAL2Kw untuk parameter DO-BOD. Diselidiki dinamika DO-BOD sungai tersebut pada kondisi eksisting tahun 2011. Oleh karena beban pencemar pada kondisi hujan dan tanpa hujan berbeda, maka prediksi dilakukan pada kedua kondisi tersebut. Hasil pemodelan QUAL2Kw untuk kondisi eksisting Sungai Gajahwong tahun 2011 menunjukkan bahwa pada kondisi hujan dan tanpa hujan, konsentrasi BOD sungai telah melebihi bakumutu air kelas II. Hasil simulasi menunjukkan bahwa (1 Pembangunan perumahan yang membuang limbah cairnya ke Sungai Gajahwong pada debit total 0,1 m3/s dengan konsentrasi BOD 10 mg/L dapat meningkatkan BOD serta menurunkan DO Sungai Gajahwong, dan (2 Pengelolaan kualitas air dan penanggulangan pencemaran air oleh bahan organik pada Sungai Gajahwong dapat dilakukan dengan strategi pembuatan IPAL komunal di setiap kabupaten dengan penurunan konsentrasi BOD hulu hingga 2 mg/L.   ABSTRACT Water quality modelling of Gajahwong River has been done using QUAL2Kw model for DO-BOD parameters. The dynamics of DO-BOD of the river on the existing conditions in 2011 has been investigated. Because of  the load of pollutants in the rainy condition and no rain condition was different, then the predictions made on both conditions. QUAL2Kw modelling results for Gajahwong River in year 2011 showed that the BOD concentration of the river on both conditions has exceeded water quality standards class II. The simulation results showed that: (1 Housing construction that discharge its liquid waste into Gajahwong River on total discharge 0,1 m3/s with concentration of BOD 10 mg/L, increased the BOD and decreased the DO of Gajahwong River, and (2 Water quality management and organic pollution control of Gajahwong River can be done by a strategy of making communal WWTP in each district with reduction of the upstream BOD concentration to 2 mg /L.

  17. Organik Gübre Kullanımının Yaygınlaştırılmasında Biogaz Üniteli Süt ve Besi Üretim Çiftlikleri Vasıtası ile ile Sözleşmeli Çiftçilik Modelinin Uygulanabilirliği

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jülide ERKMEN

    2012-03-01

    Full Text Available Ülkemizde mevcut süt ve besi işletmelerinin hayvansal yem ve maliyet girdilerinde problem yaşamaları, hayvansal yem üreticisinin ise hasat ettiği ürünü çoğu zaman elden çıkaramaması ekonomisi tarım ve hayvancılığa dayalı bölgelerde önemli bir sorun olarak karşımıza çıkmaktadır. Bununla birlikte biyogaz üniteli süt ve besi üretim çiftliklerinin biyogaz ünitelerinden elde edilen organik gübrenin yakın çevredeki hayvan yemi üreten çiftçiye dağıtılması ve karşılığında üretilen hayvansal yemin alınması suretiylegerçekleştirilecek sözleşmeli çiftçilik modeli, hem organik gübrenin yaygınlaştırılmasında hem de çevresel kirliliğe sebep olan hayvansal atık probleminin ortadan kaldırılmasında güçlü bir rol oynayacaktır. Ayrıca mevcut süt ve besi işletmeleri ile hayvansal yem üreticileri entegre edilerek üretilecek gübre yakın çevrede kullanılacağından paketleme ve pazarlama giderlerini ve ürünlerin elde kalma ihtimalini ortadan kaldıracaktır. Sonuç itibariyle özellikle kırsal bölgelerde biyogaz ünitesinin kurulumu ile organik gübrenin kullanımı teşvik edilecek, yapılacak sözleşme ile yine bu bölgelerde kimyasal gübrenin kullanımı önlenmiş olunacaktır

  18. PENYULUHAN PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK MENJADI PUPUK KANDANG (ORGANIK) DAN PEMBUATAN PESTISIDA ORGANIK

    OpenAIRE

    Taufiq, Agus

    2015-01-01

    Dusun Klumprit II is a dusun that located in Wukirharjo, Prambanan, District Sleman, Province of Yogyakarta. Dusun Klumprit II is a prosperous dusun with themajority of livelihoods are in agricultural and livestock. In this dusun there are alsoseveral home industries such as timber home industry. The residents of Dusun Klumprit II are dominated by old adult populations. The majority of the residents of DusunKlumprit II have a livestock, but unfortunately there were no further management forth...

  19. Karakter Morfofisiologi dan Fisikokimia Beras dengan Berbagai Dosis Pemupukan Organik dan Hayati pada Budidaya Padi Organik

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Isna Tustiyani

    2015-03-01

    Full Text Available ABSTRACTThe awareness of the negative impacts of conventional agriculture has been encouraging people to switch from conventional farming to the organic farming, using organic and biological fertilizers. This farming system changes will influence the character of the plant and the yield. The objective of the research was to investigate the morphophysiology and physicochemical characters of rice with various rates of organic and biological  fertilizer. The experiment was conducted at rice field in Karawang and Bogor, West Java, from May to September 2012. The experiment used a single factor randomized block design consisted of three replications with 12 treatments. The first 6 treatments were 0, 2, 4, 6, 8, 10 ton organic fertilizer ha-1, and the other 6 treatments were 0, 2, 4, 6, 8, 10 ton organic fertilizer ha-1 combined with 2 l biological fertilizer ha-1. As control treatment was application of anorganic fertilizer with the rate of 400 kg NPK (30-6-8 ha-1. Plot size was 15 m x 10 m, with a double row spacing (legowo 2:1 (25 cm x 15 cm x 50. The results showed that organic fertilizer either without or with biological fertilizers increased the weight of 1,000 grains and decreased amylose content of rice. The score of leaf color in plants with inorganic fertilizer was higher than those with organic fertilizer.Keywords: amylose, gelatinization temperature, leaf color, water uptake ratio, 1,000 grain weight

  20. Bayburt Koşullarında Organik Olarak Yetiştirilen Bazı Yerel Fasulye (Phaseolus vulgaris L. Genotiplerinin Bitkisel ve Tarımsal Özelliklerinin Belirlenmesi Üzerine Bir Araştırma

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    ümit girgel

    2018-01-01

    Full Text Available Özet Bu araştırma, organik şartlarda fasulye (Phaseolus vulgaris L. yerel genotiplerinin morfolojik ve agronomik özelliklerini belirlemek amacıyla, Bayburt Üniversitesi, Gıda Tarım ve Hayvancılık Uygulama ve Araştırma Merkezi deneme alanında 2016 yetiştirme döneminde yürütülmüştür. Araştırmada 13 yerel fasulye genotipi ile 3 tescilli çeşit (Önceler-98, Horoz ve Dermason kullanılmıştır. Tesadüf Bloklarında Bölünmüş Parseller deneme desenine göre üç tekerrürlü olarak yürütülen çalışmada dekara 10 ton olacak şekilde çiftlik gübresi uygulanmıştır. Araştırmada, bitki boyu 32.1-44.3 cm, ilk bakla yüksekliği 6.7-11.1 cm, gövde kalınlığı 5.6-8.4 cm, bakla boyu 85.9-120.7 mm, bakla eni 12.5-15.4 mm, bitkide bakla sayısı 10.0-24.1 adet/bitki, baklada tane sayısı 3.5-5.5 adet/bakla, 1000 tane ağırlığı 393.7-545.5 g, dekara tane verimi 128.3-194.3 kg/da arasında değişim göstermiştir. En yüksek tane verimi dermason fasulye çeşidinden elde edilmiş olup, yine Önceler-98 çeşidi ve Aydıntepe genotipinin tane verimi ve bölgeye adaptasyonu yüksek bulunuştur. Anahtar Kelimeler: Phaseolus vulgaris L., Genotip, Verim, Verim Öğeleri, Organik Tarım A Research on Determination of the Morphological and Agronomic Characteristics of Local Beans (Phaseolus vulgaris L. Genotypes Under the Organic Farming System in Bayburt Abstract This study was carried out Bayburt University Food and Agriculture and Livestock Application and Research Center in 2016 growing season to determine the morphological and agronomic characteristics of local genotypes of beans (Phaseolus vulgaris L. under organic farming conditions. In the study, 13 local bean genotypes and 3 registered varieties (Önceler-98, Horoz and Dermason were used. The experiment was carried out to the randomized complete block design with three replications. By using cow manure, the area was fertilized with 10 tons per decares. In the

  1. Pengaruh cairan lumpur organik unit gas bio terhadap persentase kandungan bahan organik dan protein kasar padatan lumpur organik unit gas bio

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mochammad Junus

    2015-04-01

    Full Text Available The purposes of this study were to analyze: 1 the constitution and characteristics of sludge, solid sludge and sludge flour derived from Biogas Unit (BGU; 2 the influence of organic sludge liquid on the percentage of organic and crude protein content of the BGU organic sludge (BGUOS. The methods used in the study were observation and randomized controlled trial experiments. Data derived from field study were analyzed descriptively while data derived from experiments were analyzed using variance analysis. Differences were shown using the smallest significance-p test with CI 95%. The results showed that organic sludge constitution were odious, the organic sludge was clotting after drying process. In addition it became powder as soft as bran after dried, powdered and brooded. The experiment showed that the composition of BGUOS liquid gave influence to the amount of organic content and crude protein in the powder constitution of BGUOS. The fifth treatment brought the optimum percentage of the organic content and crude protein. The research concluded that BGUOS constitution was detestable in its form of sludge, however it could be transformed into bran constitution by drying and brooding treatment. The optimum amount of organic content and crude protein of BGUOS bran were gained by using 5th treatment. The research suggest it is necessary to maintain BGUOS on the basis of local technology and to study the application of BGUOS solid powder or bran as fish and livestock feed. Keywords: Solid Biogas Unit Organic Sludge (Solid BGUOS, CP

  2. PEMBUATAN TINTA PRINTER DENGAN PIGMEN ORGANIK BERBAHAN DASAR SAMPAH DAUN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Pradita Ajeng Wiguna

    2015-02-01

    Full Text Available Waste became one of the unresolved issues in the society. One of the abundant number of waste is organic waste in the form of leaves. The high production of leaf litter on the environment are demanding alternative ways of handling the creative and innovative products useful. An attempt was made is the use of leaf litter as organic color pigments for ink printers. Manufacture of pigments made by reducing the leaf litter to form a homogeneous carbon powder that is burning leaf litter under conditions of low oxygen and then do a simple mixing process with other materials ink makers. The resulting ink tested of transmittance by varying the mass of carbon namely from 1 to 6 grams, the results indicate that the more carbon, the intensity of their light mass is getting low. At the time of adsorbtion rate test showed that carbon ink has almost the same velocity with the type of ink that is circulating in the market, i.e. 1.04 mm/s. Additionally carbon inks have dried faster speed compared to the existing inks on the market, i.e. the ratio of 106: 129 seconds. In the test performance of carbon ink on the printer shows the results that more black and smooth so that appropriate if applied as an inkjet printer.

  3. Gerakan Sosial Intelektual Muslim Organik dalam Transformasi Sosial

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Agus Afandi

    2016-03-01

    Full Text Available Antonio Gramsci’s idea of organic intellectuals that dedicate their life to improve social life has been actually inherited within Indonesian Muslim intellectuals. The main characteristic of them is not conceptualizing and publishing their own interest in the context of academic field, but expressing and advocating social aims. This article attempts to capture Indonesian organic intellectual movement was fashioned from the era of HOS Cokroaminoto in colonial era until the existence of Non-Governmental Organization (NGO in the present time. The history of Indonesia has witnessed that such movement has actively promoted social purposes and aspirations. Although, in its progress, organic intellectual movement is always challenged by the regime (policy oriented studies, it always comes with its own academic-emancipatory explanation for social problems. After Reformation Era, the goal of this movement focuses on advocating society against global capitalism which is expressed in—for example—World Trade Organization (WTC and Multi-National Corporation (MNC. Another finding of this paper is that there are many NGOs in Indonesia based on Islamic values although their activists do not work on the name of Islam. The reason behind this view is that because all Muslim activists work on religious normative exercise social, economic, political, cultural, environment problems.

  4. NILAI DAN PENGETAHUAN SEBAGAI PREDIKTOR INTENSI BELI MAKANAN ORGANIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tony Wijaya

    2014-01-01

    Full Text Available This research aimed to examine a model which presents effects of man-nature orientation, of organic knowledge and attitude toward organic food to purchase intention of organic food. Data collection method of this research used questionnaire. Survey data was consisted of 516 married women as an end user of organic food from Yogyakarta, Jakarta and Surabaya Indonesia. The empirical tests indicated that man-nature orientation and organic knowledge had significant effect on attitude toward organic food. Attitude toward organic food had significant effect on purchase intention of organic food. All hypotheses in this research were fully supported.

  5. NILAI DAN PENGETAHUAN SEBAGAI PREDIKTOR INTENSI BELI MAKANAN ORGANIK

    OpenAIRE

    Tony Wijaya

    2014-01-01

    This research aimed to examine a model which presents effects of man-nature orientation, of organic knowledge and attitude toward organic food to purchase intention of organic food. Data collection method of this research used questionnaire. Survey data was consisted of 516 married women as an end user of organic food from Yogyakarta, Jakarta and Surabaya Indonesia. The empirical tests indicated that man-nature orientation and organic knowledge had significant effect on attitude toward organi...

  6. STUDI OZONISASI SENYAWA ORGANIK AIR LINDI TEMPAT PEMROSESAN AKHIR SARIMUKTI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Arya Rezagama

    2013-10-01

    Full Text Available Existing treatment leachate from Sarimukti Landfill doesn’t meet the quality standards of waste water.Preliminary treatment is necessary to break down persistent leachate compounds. Ozone can act directly orindirectly with organic material (Glaze 1986. Column batch reactor system use one liter volume. Ozone ispumped into the leachate in the form of fine bubbles. Variations include Ozone Pumping Flow, Ratio ofhigh/diameter (t/d, and pH. Kinetic Reaction of oxygen dissolution in the average leachate is zero order.Increased pumping air discharge and increased pH makes ozone transfer process better. Best value occurs at pH11, where the value of the reaction rate constant ozone 1.48. The average percentage of organic materialallowance 31% COD and 26% TOC. The decline TOC and COD have a tendency to be influenced by the pHoptimum 8-9. At alkaline pH makes carbonate (CO3 formed the greater, that make ozone compounds killquickly. FTIR results showed the intensity of hydroxyl groups increased after ozone oxidation where thesubstitution of functional groups of organic matter associated with electrophilic addition reaction of oxygenatoms. Existence Fulfic acid also increased the effect compounds and Humic Acid, Humad large has been cut byradicals.

  7. Model Kelembagaan pada Agribisnis Padi Organik Kabupaten Tasikmalaya

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Candra Nuraini

    2016-02-01

    Full Text Available This study aims to: (1 to identify the forms of institutional and analyze interaction at the institutional organic rice agribusiness; (2 to design the institutional model in organic rice agribusiness. The study was conducted by using descriptive method. Result of the analysis showed that the profile of organic rice agribusiness institutions include: farmers, farmers' groups combined Sympathy, organic farmers cooperatives, village cooperatives, private enterprises agro-industry (CV, BPP, NGO, exporters, agro-industry company. The conditions of farmer organizations today are more cultural and mostly just to government facilities, it has not been fully geared to take advantage of economic opportunities through the use of accessibility to information technology, capital and markets necessary for the development of organic rice agribusiness and agricultural businesses.On the other hand, institutional businesses in rural areas, such as the cooperative has not fully accommodate the interests of farmers / farmer groups as a forum for technical guidance. Various farmer institution that already exist such as farmers 'groups, farmers' groups combined, the association of water user farmers are expected on the challenges ahead to revitalize themselves and institutions that currently more dominant just as container technical development and social into institutional also serve as a platform for business development legal entity or can integrate other institutions in the agribusiness chain of organic rice. Model on organic rice agribusiness institution system is based on agribusiness and institutional dimensions as well as the three pillars of the new institutional.

  8. ANTESEDEN DARI MINAT PEMBELIAN PRODUK SHAMPO NATURAL DAN ORGANIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Andrian Haro

    2015-04-01

    Full Text Available The objective of this research is to examine the consumer purchase intention of natural and organic shampoo products based on the Theory of Planned Behavior (TPB. Specifically, this research considers that consumer values as antecedents of consumers’ attitude toward buying natural and organic shampoo products. A survey was conducted with many respondents from graduate students of Magister Management, Trisakti University, Jakarta, and structural equation modeling techniques was used to test the relationships among the variables. The results show that environmental consciousness and appearance consciousness have a positive effect on attitude. Meanwhile, health consciousness has no significant effect on consumers’ attitude. Moreover, the results showed that TPB predictors which consist of attitude and perceived behavioral control are significantly correlated with purchase intention for natural and organic shampoo products, but not with subjective norm. This research provides valuable insight into consumer purchase intention behavior regarding natural and organic shampoo products by examining the factors that influence consumers’ attitude toward buying natural and organic shampoo products and consumers’ purchase intentions for the products.

  9. Isolasi, Karakterisasi dan Potensi Bakteri Aerob sebagai Pendegradasi Limbah Organik

    OpenAIRE

    Zahidah, Dinda; Shovitri, Maya

    2013-01-01

    Penelitian ini dilakukan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri aerob yang mampu mendegradasi amilum, protein dan selulosa. Penelitian ini berhasil memurnikan dan mengkarakterisasi isolat bakteri C5 yang cenderung masuk ke genus Bacillus. Berdasarkan uji kualitatif amilolitik, selulolitik dan proteolitik, diketahui bahwa isolat C5 memiliki indeks amilolitik (IA) sebesar 0.93, indeks selulolitik (IS) sebesar 1.95 dan indeks proteolitik (IP) sebesar 1.39

  10. Analisis Perilaku Konsumen Produk Organik di Provinsi Sumatera Utara

    OpenAIRE

    Effendi, Ihsan

    2016-01-01

    Organic consumer still quite new in the province of North Sumatra and is still growing. The growth of the organic consumer is still not satisfactory. Organic products have not been socialized in North Sumatra in Medan thus the amount of organic consumers is still not much in quantity in North Sumatra. This study is intended to find the right model in understanding the behavior of organic consumers in North Sumatra. Basic theory in this study is the theory of consumer behavior using the Theory...

  11. KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA PETANI PENGHASIL BERAS ORGANIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anang Suhardianto

    2012-03-01

    Full Text Available 800x600 Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 The study was designed to analyze level of household food secu­rity of farmers who plant organic rice and identify landholding that supporting household food security. For that purposes, 61 samples of household were selected from farming households in Ciburuy Village, Bogor Regency. Data collected was landholding, working capital, cooperation, education, purposes of practicing on organic farming, waste management, knowledge of organic farming, organic rice productivity, income, food consumption and level of household food security. Food recall 1 X 24 hours and food frequency (weekly, monthly, and yearly were used to obtain food consumption data. Household food security was deter­mined based on level of energy consumption. Landholding that supporting household food security was determined based on rice consumption and household productivity. The analyses results of household food security showed that 85.2% of households were secure and 14.8% were insecure. Variables that significantly influenced household food security were income, knowledge of organic farming, organic rice productivity, purposes of practicing on organic farming, landholding, and waste management. Pearson correlation analyses showed that in­come, knowledge of organic farming, organic rice productivity, and landholding had signifi­cant effect toward  household food security. Spearman correlation analyses showed that purposes of practicing on organic farming and waste management had significant association with household food security too.  Based on daily average of energy sufficiency, land-man ratio should be 318 m2/person. Keywords: household food security, organic farming, land-man ratio

  12. Kualitas Kompos dari Berbagai Kombinasi Bahan Baku Limbah Organik

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    TATI BUDI KUSMIYARTI

    2015-09-01

    Full Text Available The Quality of Compost on Various Combinations of Organic Waste Raw Materials Evaluation of compost stability prior to its use is essential for the recycling of organic waste in agricultural soils. During composting, most of the biodegradable organic compound are broken down and a portion of the remaining organic material is converted into humic-like substances, with production of a chemically stabilized composted material. This experiment aimed to monitor the changes in physicochemical characteristics during composting of three kinds compost heap and to define parameters suitable for evaluating the stability of compost. The experiment were conducted from Mei to October 2011 and consisted of three treatments with six replicates for each treatment. Compost pile temperature,the pH, that reflected the initiation and stabilization of the compost, were measured during the composting process. The carbon organic material content, carbon and nitrogen content, the carbon to nitrogen ratio, organoleptic characteristics, and K2O, P2O5, Mg, Ca content were measured to evaluate the quality of the physicochemical properties of the compost. Compost toxicity level had evaluated using Germination Index. The result showed that the quality of compost from all treatments that were evaluated in this experiment meet the standard quality of SNI 2004.

  13. Pelatihan Memanfaatkan Lahan Sempit untuk Budidaya Sayuran Organik

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Aman Suyadi

    2017-12-01

    The conclusion of this IbM program was that there was an improvement on capability and skill of the cadres and PKK members  of RW 12 and 13 Karangklesem village in mastering the verticulture technology of organic vegetables from the making of bioactivator, liquid organic fertilizer, compost, biological pesticide, seed seedling, planting media, planting and plant treatment, harvesting and post-harvesting treatment, and organic vegetable entrepreneurship

  14. DEGRADASI BAHAN ORGANIK LIMBAH CAIR NANAS OLEH BAKTERI INDIGENAgus Sutanto

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    2011-04-01

    Full Text Available Pineapple Liquid Waste has high organic material and still unfulfilled required quality standard. Processing occurred at the waste processing installation with pond system (Lagoon required a wide space and keep long time so that less efficient. Based on this problem, it needs an environmentally sound waste management by utilizing bioprocess technology using indigenous bacteria’s ability in degrading organic pollutant called Bioremediation. The objective of this research was to get isolated indigenous bacteria, enables to decrease organic material. It was divided into four stages. First, performed characteristic observation of isolated bacteria that potentially decrease organic material, secondly decomposition capability test in vitro, and thirdly scale bioremediation test pilot plan, fourthly bioremediation test in ex situ at the microbiology laboratory of Malang State University. Data were analyzed by Varian analysis to test the presence or absence of differences and regression test to analyze the link between variables. First phase result: 15 isolated indigenous bacteria.. Potential consortia bacteria consisting of more effective 4 species, indicated by 4 consortia bacteria decreased BOD in 6 days. Starter bacteria with a consortia K1’s combination (ABCD, Volume: 5% (v/v and 6 days were the most effective incubation time in decreasing BOD. Second phase result: 1 A significant link among the number of bacteria, a. Bacillus cereus, b. Acinetobacter baumanni, c.Bacillus subtilis, d. Pseudomonas pseudomallei and not abcd against organic material with contribution of 72,7% and negatively correlated, 2 Media treatment and incubation time gave distinctive outcome against organic material, 3 there was a link between organic material organic acid concentration decrease would decrease BOD at scale bioremediation test Pilot plan, and ex situ scale. Threshold BOD achievement limit value on 10th day (75 quality standard: 75. In accordance with ministry decree LH No. 05 year 2007 industrial wastewater quality standard, suggested to industry to use this study in processing its waste.

  15. PENGARUH PENAMBAHAN BIOAKTIVATOR EM4 DAN PROMI DALAM PEMBUATAN PUPUK CAIR ORGANIK DARI SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Marlinda

    2015-10-01

    Full Text Available Utilization of household organic waste each year is increasing due to various problems will arise such as air pollution, can have an impact of the disease and the danger of flooding. Waste that can be used are organic waste such as leftover vegetables, fruits, leftover dried leaves and twigs. Household organic waste is the most widely used in daily life because of the need for food so that the quantity is more and more produced and will accumulate because the ground is not capable of degrading in significant amounts, so as to damage the environment in the form of air pollution (odor and can cause impact disease. Along with the impact of the organic waste to be treated in a household environment prior to turning it into more useful forms such as liquid organic fertilizer. Liquid fertilizers are more easily absorbed by plants and in the form konsetrat so it is more economical because it can be diluted. This research aims to use household organic waste into liquid fertilizer and see the impact of bio-activator EM4 and Promi to manufacture liquid fertilizer from organic C content. The method used in the form of waste materials vegetables such as kale, mustard greens, spinach and carrots as well as dried leaves 300 g cleaned and cut into small pieces and then put in the composter before fermentation in lightly mist or moistened with a bio-activator before hand and then fermented for 7 days , The fermentation process is done with a variety of bio-activator 2.5 mL, 5 mL, 7.5 mL, 10 mL, and 12.5 mL. Organic liquid fertilizer produced by using EM4 and Promi can be used as a bio-activator in fertilizer use but bio-activator EM4 provide more effective work in mengdegradasi organic waste to produce high levels of organic C approximately 23% compared to bio-activator Compromise approximately 18% and so is the content of other compounds EM4 such as nitrogen for 3.8%, 3.0% P2O5 content of K2O content of 4.2% and 3.2% Compromise Nitrogen levels, levels of 2.5% P2O5 and 3.0% K2O. From the analysis shows that the bio-activator EM 4 produces organic liquid fertilizer with a high C in comparison with the Compromise. Standard liquid fertilizer tailored to Permentan No.11/2011, but both bio-activator can be used to manufacture organic liquid fertilizer.

  16. PENANGANAN SAMPAH ORGANIK DENGAN BAK SAMPAH KOMPOSTER DI DUSUN SUSUKAN KELURAHAN SUSUKAN KECAMATAN SUSUKAN KABUPATEN SEMARANG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nur Aklis

    2016-03-01

    Full Text Available Not properly managed of garbage will impact the health, social and economic. It occurs in RT 03, RT 04 RW 1, Susukan Village, Semarang District. Most residents of both RT are still throwing garbage in any place, and others make puddles for landfills. This paper addresses the issue of handling organic waste from the initially discarded in places and wallow carelessly processed into compost and liquid fertilizer in a composter in Susukan Village , District of Semarang. The activities begins with making management team that are divided according to their respective RT, provision of trash for inorganic waste, manufacture and operation of the composter training for the management team, training provision and operation of the composter for residents. The results of activities undertaken resident of RT 03 RW 04 has a system to manage garbage, produce fertilizer so the impact on improving the quality of health and social citizens.

  17. Pengelolaan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Bagi Remaja Putus Sekolah Di Pampung Plumbon Karanganyar

    OpenAIRE

    Shintara, Galuh Ajeng

    2016-01-01

    The purpose of this study is to describe the planning and implementation of training dropout, describes the factors driving and the problems encountered in the training dropout organic fertilizer, and describe the impact of the activity of teenagers dropping out of school in the training of organic fertilizer in the hamlet Pampung. The approach used in this study is qualitative descriptive. Data collection was conducted using interview, observation and documentation. From the results, the dat...

  18. Model Penerimaan Petani Terhadap Teknologi Sistem Pertanian Organik Di Kabupaten Tasikmalaya

    OpenAIRE

    Wiratmadja, Iwan Inrawan; Nurjanah, Noneng; Kurniawati, Amelia

    2017-01-01

    . The survey result of Indonesian Organic Alliance (AOI) shows that there were 40% increasing of organic food consumer during 2012 to 2013. This condition indicates that the availability of organic product should be increased. The purpose of this research is to develop a model which describes the factors that affect the farmers' intention on implementing organic farming technology, especially in Tasikmalaya, Indonesia, and to identify the influence of perceived usefulness toward the attitude ...

  19. Model Penerimaan Petani terhadap Teknologi Sistem Pertanian Organik di Kabupaten Tasikmalaya

    OpenAIRE

    Iwan Inrawan Wiratmadja; Noneng Nurjanah; Amelia Kurniawati

    2017-01-01

    Abstract. The survey result of Indonesian Organic Alliance (AOI) shows that there were 40% increasing of organic food consumer during 2012 to 2013. This condition indicates that the availability of organic product should be increased. The purpose of this research is to develop a model which describes the factors that affect the farmers’ intention on implementing organic farming technology, especially in Tasikmalaya, Indonesia, and to identify the influence of perceived usefulness toward the a...

  20. Tanggap Pertumbuhan dan Produksi Padi (Oryza sativa L.) Varietas Ciherang Terhadap Pemberian Pupuk Organik

    OpenAIRE

    Sari, Vira Irma

    2011-01-01

    VIRA IRMA SARI. Response of Growth and Production of Rice (Oryza sativa L.) Variety Ciherang to The Application of Organic Fertilizer. Scarcity of inorganic fertilizer and the negative effect caused by inorganic fertilizer continuing to make organic fertilizer as a solution to overcome these problems. The availability of organic fertilizers is expected that the farmers can get the optimal production and profit, because the organic fertilizer is cheaper and easy ...

  1. Aplikasi Analytical Hierarchy Process Pada Pemilihan Metode Analisis Zat Organik Dalam Air

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dino Rimantho

    2016-07-01

    Full Text Available Water is one of the food products analyzed in water chemistry and environmental laboratories. One of the parameters analyzed are organic substances. The number of samples that were not comparable with the analytical skills can cause delays in test results. Analytical Hierarchy Process applied to evaluate the analytical methods used. Alternative methods tested include titrimetric method, spectrophotometry, and total organic carbon (TOC. Respondents consisted of deputy technical manager, laboratory coordinator, and two senior analysts. Alternative results obtained are methods of TOC. Proposed improvements alternative analytical method based on the results obtained, the method of the TOC with a 10-15 minute analysis time and use of CRM to the validity of the analysis results.

  2. EFIKASI TRICHODERMA HARZIANUM DENGAN BERBAGAI BAHAN ORGANIK DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG PADA LADA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Cipta Ginting

    2011-11-01

    Full Text Available The objective of this research was to determine the influence of the kinds of organic matter on the efficacy of Trichoderma harzianum Rifai to control foot rot of black pepper caused by Phytophthora capsici Leonian.  Trichoderma spp. were isolated from suppressive and non-suppressive soils taken from black pepper fields with high disease incidence.  Screening of Trichoderma spp. isolates was conducted through antagonistic test with dual culture technique.  Treatments were arranged in a completely randomized design with six replications.  Treatments were rice husk, rice straw, wood dust, Arachis pintoi, mixture of the four organic matters, the mixture without T. harzianum, and without organic matter.  The test was conducted in greenhouse with media consisted of soil, organic matter, and sand (2 : 2 : 1, v/v.  After being otoclaved, the medium was infested with T. harzianum and P. capsici each with five mycelium plugs of 1-cm diameter.  Black pepper seedlings were planted 5 days after fungal infestation.  After planting the seedlings, five leaf cuts were partly inserted into the soil on each pot.  The variables observed were disease incidence on the leaf cuts inserted into the soil and disease severity on the stems and roots.  The results show that all 16 Trichoderma isolates inhibited P. capsici colonies and some isolates showed stronger inhibition than the others.  T. harzianum reduced disease severity, but there was no effect of the kinds of organic matter on the ability of T. harzianum to control foot rot.

  3. Bahan Organik Total dan Kelimpahan Bakteri di Perairan Teluk Benoa, Bali

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ni Luh Eta Yuspita

    2017-09-01

    Full Text Available Benoa Bay is semi-enclosed waters that have various activities. The existence of these activities will contribute to organic matter in the waters so that the effect on the presence of bacteria. This study aims to determine the total concentration of total organic matter (TOM and bacterial abundance as well as its spatial and temporal distribution, and to determine the relationship of TOM concentration to bacterial abundance in the waters of Benoa Bay. Data collection is conducted on the surface of the waters in December 2016 to February 2017 when ebb conditions at 5 Benoa Bay water stations. Measurement of organic matter using permanganate test in titimetry based on standard methods SNI 06-6989.22-2004. Measurement of bacterial abundance using Total Plate Count (TPC method. The TOM concentrations ranged from 63.20 to 65.10 mg/l and bacterial abundances ranged from 30 to 300 CFU/ml. Spatial distribution of TOM concentration and bacterial abundance tends to be higher close to Suwung Landfills (TPA activity, floating net cage cultivation (KJA activity in Serangan waters, and Buaji river estuary and tend to be lower approaching Benoa harbor activity and waters further from those activities. The concentration of TOM and bacterial abundance in December 2016 to February 2017 have fluctuating values. Based on the interpretation of the correlation coefficient, the level of relationship between BOT concentration and bacterial abundance in the waters of Benoa Bay is quite strong.

  4. Pengaruh Kombinasi Komposisi Media Organik dan Konsentrasi Nutrisi terhadap Daya Hasil Tanaman Melon (Cucumis melo L.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Khoirul Bariyyah

    2015-08-01

    Full Text Available This research was addressed to study the effect of plant growth media composition and nutrients concentration on yield of Cucumis melo L. The research was designed in complete factorial test of 4x4 with three replicates. Mixed growth media of bokashi:cocopeat:husk charcoal were tested in four compositions, i.e. 90%:5%:5% (M1, 80%:10%:10%(M2, 70%:15%:15% (M3 and 60%:20%:20% (M4 respectively. The other tested factor was nutrients concentraion that consists of four levels, i.e. control/no nutrient given (K0, 2 g/L (K1, 4 g/L (K2 and 6 g/L (K3. The Action 434 variety of Cucumis melo L. seedlings were then transplanted into 10 kg’s polybag and allowed to grow till harvested. The results showed that Chlorophyll content of M1 plants were higher than others, but the highest sugar content was resulted by M3 plants, and the highest thick of flesh fruit was resulted by interaction 60% bokashi:20% cocopeat:20% husk charcoal with 4 g/L nutrient concentration.

  5. Metode Irigasi Tetes dan Perlakuan Komposisi Bahan Organik dalam Budidaya Stroberi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Afik Hardanto

    2009-04-01

    Full Text Available Strawberry is a commercial fruit. It’s Growth and quality is influenced by soil condition, climate, and its self. Irrigation influences soil characteristic, such as: physical, chemical, and microbiological than influence an environment of its growth. this research used drip irrigation method with debit variation and organic matter composition. RCBD was used in this research. Variation of irrigation debit and organic matter composition are the independent variables, whereas dependent variables are C-Organic, N-available, characteristic of soil, and quality of strawberry fruit. Variation of debit irrigation did not significant influence to C-Organic, whereas organic matter composition had significant influence to C-Organic in 63th, 84th, and 105th day of planting. The highest C-Organic content on D3P3 treatment that is 17.92% and the lowest on D2P2 treatment that is 5.19%. Debit of irrigation influence to N-available content in 105th day of planting. The highest N-available content in D3P1 treatment that is 0.88 ppm, whereas the lowest N-available content in D2P3 treatment that is 0.67 ppm. Result of analysis, debit irrigation had significant influence and could increase fruit weight and reduction sugar-content. Organic matter composition had significant influence to increase fruit weight, vitamin C, total of soluble-solid, and reduction sugar-content. Combination of irrigation debit and organic matter composition had significant influence to fruit weight. In the treatment, debit of irrigation that make good influence to fruit quality is 300 ml/day/polybag and 1:2 ratio of organic matter composition.

  6. Pencirian Karbon Organik Air Sungai Citarum Hulu Dari Masukan Air Limbah Penduduk Dan Industri

    OpenAIRE

    Harsono, Eko; Nomosatryo, Sulung

    2010-01-01

    Characterisation of Organic Carbon of Up Stream Citarum River Water from Domestic andIndustrial Waste Effluent. The local government of Citarum upstream area has conducted theriver cleaning program to increase Disolved Oxygen since 1991 until now. The program hasimpacted to installments of to wastewater treatment for 80% industrials in the Upper Citarumdrainage area declining the load of BOD5 wastewater. However most of waste water comingfrom Banung population have been treated in the collect...

  7. ANALISIS PAKET TEKNOLOGI LOKAL DALAM PENGELOLAAN PRODUKSI MADU ORGANIK UNTUK PASAR GLOBAL DAN INDUSTRI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rudi Hilmanto

    2010-08-01

    Full Text Available Production of honey conventionally by community do generate constraint at marketing to global market and industry. Model local technological packet is hoped improve the value sell honey commodity to go in global market and industry. Activity of production organic honey use local technological packet is hoped able to face Free Trade Agreement (FTA for local farmer. Local Technological packet at activity produce honey commodity, is expected be able to develop and strengthen production quality commodity. The objective of this research was to analyse the local technological packet at activity produce organic honey commodity to industrial and the global market in the form of technological model of management produce honey. The research method use Knowledge Base Creation constructively computer program of Agroekological Knowledge Toolkit 5 (AKT5. Result of research indicate that application local technological packet at activity produce organic honey had to watched five activity, namely: (a system agroforestry as source of nectar and pollen; (b to improve the stock honeybee; (c select, breeder, making bee hive honey; (d give meal artificial (e time and technique of cropping, till the product was sold. The result of reseach showed that the responder group applying activity produce honey organic at species Apis cerana yield 2,5 kg each stup, rate moisture content 20%, not turbid, and cleared at yielded honey. Result Interpretation was showed fulfill ideal technology management target

  8. Pengaruh lama fermentasi EM-4 terhadap kandungan protein kasar padatan kering lumpur organik unit gas bio

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M. Wildan Fajarudin

    2014-02-01

    Full Text Available The objective of this research is to know good duration against the influence of the duration of EM-4 fermentation by adding EM-4 to increase contents of crude protein for dry solids of unit organic sludge bio gas. The materials of this research were dry solids of organic sludge biogas unit resulted from the separation of organic sludge. The research method was experiments using Completely Randomized Design with different duration of fermentation treatments as follow 0 hour (P1, 24 hours (P2, 48 hours (P3, and 72 hours (P4 with 6 times recurrences to each treatments. Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA and continued by Duncan's Multiple Range test if they were significantly different. The result of Analysis of Variance shows that there was an increase of rough protein to P1, P2, P3, and P4. Specifically for P4 treatment gave very different influence (P<0.01 against crude protein contents. The research suggested adding EM-4 in the fermentation process of organic sludge solids biogas unit for 72 hour to increase the crude protein content. Keywords: fermentation, biogas, sludge, crude protein

  9. Model Penerimaan Petani terhadap Teknologi Sistem Pertanian Organik di Kabupaten Tasikmalaya

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Iwan Inrawan Wiratmadja

    2017-04-01

    Full Text Available Abstract. The survey result of Indonesian Organic Alliance (AOI shows that there were 40% increasing of organic food consumer during 2012 to 2013. This condition indicates that the availability of organic product should be increased. The purpose of this research is to develop a model which describes the factors that affect the farmers’ intention on implementing organic farming technology, especially in Tasikmalaya, Indonesia, and to identify the influence of perceived usefulness toward the attitude in implementing organic farming technology. The factors influencing farmers’ intention are identified through understanding about the influence of attitude, subjective norm, and behavioral control. Research model testing was conducted using the approach of Partial Least Square (PLS with sample data obtained through interviews with 81 organic farmers in Tasikmalaya, West Java. The result of this research shows that perceived usefulness construct is significantly influence farmer’s attitude towards organic farming. Moreover, attitude, subjective norm, and behavioral control are also significantly influenced towards farmer’s intention to organic farming. Keywords: Acceptance of Technology, Theory of Planned Behavior, Theory of Acceptance Model, Organic Farming, Farmer’s Intention

  10. Efektivitas Pupuk Organik Dan Pupuk N Pada Pertumbuhan Bibit Eboni (Diospyros Celebica Bakh.)

    OpenAIRE

    Siregar, Hartutiningsih M; Utami, Ning Wikan

    2002-01-01

    Eboni (Diospyros celebica Bakh.) merupakan tanaman keras dan termasuk jenis kayu mewah yang tumbuh alami di Sulawesi.Masalah yang dihadapi adalah pertumbuhan bibit yang lamban sehingga diperlukan percobaan tentang media pertumbuhan bibit yang sesuai. Bahan yang digunakan adalah bibit eboni berumur 6 bulan dengan pertumbuhan seragam.Percobaan I: Bibit ditanam pada polybag berkapasitas 5 kg yang masing-masing berisi campuran media tanam yakni A (tanah); B (tanah:kompos = 1:1); C (tanah:pupuk ka...

  11. Aplikasi Pengolahan Citra Digital dan Jaringan Syaraf Tiruan untuk Memprediksi Kadar Bahan Organik dalam Tanah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hermantoro

    2011-04-01

    Full Text Available The objective of this research is to determine organic matter content in soil using image processing and artificial neural network. The images of soil were captured using digital camera and processed using image process algorithm. The images parameter data i.e. red, green, blue, hue, saturation, intensity, mean, entropy, energy, contrast, and homogeneity were extracted from sixty soil sample with different organic matter content. Parameter images data were used as the inputs data for ANN analysis. Output layer of ANN is organic matter content in soil. Based on experiment found that application of image processing and ANN for predicting organic matter content in soil have the high accuracy with coefficient determination of 90.75 % and mean square error (MSE of 0.002762.

  12. Pengaruh Frekuensi Pengadukan Pada Pembuatan Kompos Dari Tandan Kosong Kelapa Sawit Dan Pupuk Organik Aktif

    OpenAIRE

    Lubis, Jeni

    2015-01-01

    The composting of an Empty Fruit Bunch (EFB) by mixing it with activated organic fertilizer (AOF) was an alternative in the utilization of solid waste produced from the palm oil mill. This research was to study the composting technique for EFB and to collect the degration data during composting of EFB with turning frequency in order to get a high quality compost. The composting process was started with cutting the TKKS into 1-3 cm in size before it was put into "Takakura" ba...

  13. Karakteristik Beberapa Sifat Fisik, Kimia, dan Biologi Tanah pada Sistem Pertanian Organik

    OpenAIRE

    Margolang, Rizky Dharmawan

    2016-01-01

    This research was carried out in an organic garden Environmental Education Center (PPLH) Bohorok in the Village District of Bohorok Fight Weigh Langkat. This study was conducted in November 2013 - April 2014. The purpose of the study to determine the characteristics of some of the physical, chemical, and biological properties of soil in organic farming systems. The study was conducted by survey method by evaluating the nature of the soil in agricultural areas based on time implementation of o...

  14. Bioremediasi tumpahan minyak mentah dengan metode biostimulasi nutrien organik di lingkungan pantai Surabaya Timur

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Munawar Munawar

    2012-02-01

    Full Text Available The purpose of this paper was to present effects of nutrients in the bioremediation process of spilled crude oil in a coastal environment. An emphasis is directed at looking at effectiveness of organic-based nutrients in that process using a method of bio-stimulation. An insitu test was undertaken in a coastal area, located at the East side of Surabaya City, Indonesia, by making multiple trial compartments, with a size of 0.5 × 0.5 m2 each; and the space between the compartments is 0.25 m. At every compartment, one liter of crude oil was spilled. Three days later, it was added with organic-based nutrient on the treatment (0.2; 0.3 and 0.4 kg/kg soil.

  15. Karakteristik Beberapa Sifat Fisik, Kimia, Dan Biologi Tanah Pada Sistem Pertanian Organik

    OpenAIRE

    Rizky Dharmawan Margolang,, Rizky Dharmawan Margolang; Jamilah, Jamila; Sembiring, Mariani

    2015-01-01

    The purpose of the study to determine the characteristis of some of the physical, chemical, and biological properties of soil in organic farming systems. The study was held about 6 month from November 2013 to April 2014 in Bioenvironment Education Center of Organic Farming Bahorok in Timbang Lawan village, Bahorok, at Langkat district for observe the characteristic of some physical, chemical, and biological characteristic of soil in organic farming system. This research was conducted with sur...

  16. PENGOLAHAN LIMBAH CAIR ORGANIK SECARA BIOLOGI MENGGUNAKAN REAKTOR ANAEROBIK LEKAT DIAM

    OpenAIRE

    Indriyati, Indriyati

    2018-01-01

       Organic waste water can be treated biolocally by using anaerobic fixed bed reactor. Fixed bed reactor is bioreactor which is compleeted with support material inside reactor for bacteria fixation in the surface area of support material. The benefit of using this kind of technology are it needs low energy, low nutrien, low sludge production and could treat high organic concentraion waste water.   The support material  has important role in the  Fixed Bed reactor performance, therefore it mus...

  17. PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomea reptans Poir)

    OpenAIRE

    Edi, Syafri

    2016-01-01

    The increasing demand for vegetables should be offset by the increasing of production. Kangkung is one of short-lived plants and the price can be reached by various circles of society. Therefore, kangkung can be used as food diversification in Indonesia. To get good quality vegetables and optimal yield, fertilization is a very important technology. Fertilization aims to add nutrients to the plants so that the plants can grow and produce well. The study aims to determine the effect of using or...

  18. Mekanisme Penambatan Nitrogen Udara oleh Bakteri Rhizobium Menginspirasi Perkembangan Teknologi Pemupukan Organik yang Ramah Lingkungan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    GEDE MENAKA ADNYANA

    2014-01-01

    Full Text Available Interaction of microbes with human living in the nature are able to seen from their capabilitiesimproving the environmental by composting waste of agriculture to become organic fertilizer. In thecontrary, the epidemic and infectious phatogens are also its contribution. In agriculture sector, the livingof microbes has been explored to keep the soil fertile, and to improve growth and plant production.The symbiosis of Rhizobium bacteria with the specific host plant from legumes is able to run because ofboth side giving a signal, where host plant give an organic molecoles called inducer. From the bacteriaside, also give an organic materials called nod factor. The step of nitrogen fixation mechanism can bedescribed from infection of root legume as the first step, followed by the nitrogen fixation by thebacteroid and synthesis of the nitrogen organic by host plant as the last step. These natural processesinspire finding and development of the ecologically organic fertilizer technology.

  19. PENGOMPOSAN DENGAN MENGGUNAKAN LUMPUR DARI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI KERTAS DAN SAMPAH DOMESTIK ORGANIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Badrus Zaman

    2012-02-01

    Full Text Available Waste water treatment of paper industry yield side product in the form of sludge which have generated problembecause there is no continuation processing. Composting sludge which come from waste water processing differfrom other composting organic solid waste, which generally in the form of dry substance. In this research usedadditional substance in the form of organic domestic solid waste, with variation sludge : domestic solid waste(kg/kg successively 1 : 1, 1 : 4, 1 7, 3 : 2, and 5 : 3. Composting method is done by open windrow, where thecompost heaped longly and let to be opened (aerob. Result of research indicate that to the overall of variationof compost really have fulfilled standard of good ripeness compost according to SNI 19-7030-2003 and alsoaccording to other ripe compost standard. Besides, all variation of compost have yielded ripe compost withcharacteristic fulfilling hara required by crop. Variation Compost 1 : 1 representing the best compost with COrganiccontent 41,507 %, N-Total content 3,008 %, ratio C/N 13,80, moisture rate 44,03 %, P-Total content1,085 %, K-Total content 4,183 %, final temperature 30,3° C and pH 7,98

  20. DESAIN KEMASAN MAKANAN KUB SUKARASA DI DESA WISATA ORGANIK SUKOREJO SRAGEN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Syamsudin Syamsudin

    2016-08-01

    Full Text Available This study analyzes the design of packaging for both food products produced by KUB Sukarasa Tourism Village Organic Sukorejo Sragen. This is important because the packaging is one of the marketing tools. Food products in KUB Sukarasa in District Sambirejo Sragen sold in transparent plastic packaging and without label. This makes the level of sales is not maximized. This research has three objectives: first, create a packaging design that has the right size so easily carried by consumers and attractive for sale by the merchant. The second objective, informative designing packaging labels, such as product name, manufacturer's address, net weight, expiration date, product composition, and information about kosher. The research method used was experimental. The end result of this research is a product packaging design good food and interesting. This packaging design can be used by UMKM to develop their product marketing strategies in order to increase sales.

  1. EKSTRAKSI TANNIN SEBAGAI BAHAN PEWARNA ALAMI DARI TANAMAN PUTRIMALU (MIMOSA PUDICA MENGGUNAKAN PELARUT ORGANIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tjukup Marnoto

    2012-05-01

    Full Text Available EXTRACTION OF TANNINS AS NATURAL DYES FROM PUTRIMALU (MIMOSA PUDICA PLANT USING VARIOUS ORGANIC SOLVENTS. Public awareness on using natural dyes has encouraged the extraction of tannins from putrimalu. Extraction was performed continuously using a Soxhlet apparatus. The parameter studied was the influence of solvent polarity on the amount of tannin and mass transfer coefficient. Tannin was extracted from ten grams of dried putrimalu plants using polar solvents (ethanol, acetone and methanol and a non-polar solvent (n-hexane. Extraction is considered complete when the concentration of tannins in the liquid is no longer changing with time. Liquid samples were withdrawn every 20 minutes interval for tannin analyses using Thin Layer Chromatography (TLC. The results showed that the maximum concentration of tannins in the extract (g/mL when extraction were performed using n-hexane was 0.0031, acetone (0.016, methanol (0.0274 and ethanol (0.044. From extract yield and mass transfer coefficient point of views, it can be concluded that the best solvent is ethanol. The relationship between tannin concentration in the ethanol 96% solvent and the time was expressed in term of mathematical equations             CAL=1.046(1-e-0.0213t with error was 3.6%. Where CAL is the concentration of tannins in the solvent (g/ml and t is the extraction time (minutes.  Kesadaran masyarakat untuk kembali menggunakan bahan pewarna alami mendorong dilakukannya ekstraksi tannin dari putrimalu. Ekstraksi dilakukan secara kontinyu menggunakan alat Soxhlet. Parameter yang dipelajari adalah pengaruh polaritas pelarut terhadap ekstrak tannin dan koefisien transfer massa. Tannin diekstrak dari sepuluh gram tanaman putrimalu kering menggunakan pelarut polar (etanol, aseton dan metanol dan pelarut non-polar n-heksana. Ekstraksi dianggap selesai jika konsentrasi tannin di dalam pelarut sudah tidak berubah. Tannin di dalam contoh cairan yang diambil setiap selang waktu 20 menit  dianalisis menggunakan Thin Layer Chromatography (TLC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi tannin maksimum (g/mL yang terdapat dalam larutan yang mengandung ekstrak jika ekstraksi menggunakan n-heksana adalah 0,0031, aseton (0,016, metanol (0,0274 dan etanol (0,044. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditinjau dari perolehan ekstrak dan koefieisen perpindahan massa, maka pelarut yang terbaik adalah etanol. Hubungan antara konsentrasi tannin di dalam pelarut etanol 96% dan waktu dinyatakan dengan persamaan matematika: CAL=1,046(1-e-0,0213.t dengan kesalahan 3,6%. Dimana CAL adalah konsentrasi tannin dalam pelarut (g/mL dan t adalah waktu ekstraksi (menit

  2. Respon Pertumbuhan Planlet Anggrek Dendrobium sp. Melalui Aplikasi Ekstrak Tauge dan Air Kelapa pada Media Organik

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    HESTIN YUSWANTI

    2015-09-01

    Full Text Available The Growth Response of Orchid Plantlets of Dendrobium sp. by Aplicación of Bean Sprouts Extract and Coconut Water in Organic Medium The aim of this researh is to obtain the effect of coconut water and bean sprouts extract and the best combination added to organic medium on growth of orchid planlets in vitro. The experiment was conducted at Tissue Culture Laboratory of Agriculture Faculty, Udayana University, Pegok Denpasar from Mei until Oktober 2012. The research design was Completely Randomized Design (RAL with ten treatments and six replications. The results of this ezperiment showed that addition of coconut water at concentration of 150 ml/l and bean sprouts extract of 50 ml/l resulted in the best growth of orchid planlet which includes the height of plantlets (4,10 cm, the number of leaf (3,33 leaves, length of root (1,07 cm. The total fresh weight of plantlet was 0,20 g and total oven dry-weight of plantlet was 0,021 g.

  3. Pertumbuhan Dan Produktivitas Sawi Pak Choy (Brasica Rapa L.) Pada Umur Transplanting Dan Pemberian Mulsa Organik

    OpenAIRE

    Pribadi, Gandhi Yudhistira; Roviq, Mochammad; Wardiyati, Tatik

    2014-01-01

    Potensi produksi tanaman pak choy belum optimal, rendahnya produksi pak choy dikarenakan pada teknik budidayanya petani cendrung tidak memperhatikan kondisi lingkungan mikro dan masih belum adanya standart transplanting yang tepat. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan teknik budidaya pak choy dengan penggunaan mulsa dan saat transplanting yang tepat. Dilaksanakan pada bulan Mei - Juli 2013 di Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji - Batu. Penelitian menggunakan Ranca-ngan Acak Kelompok Faktoria...

  4. Penggunaan Kromium Organik dari Beberapa Jenis Fungi terhadap Aktivitas Fermentasi Rumen Secara in Vitro

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    W.D. Astuti

    2006-12-01

    Full Text Available Chromium appears to be an essential trace element since 1959, but its effect on ruminal microbes is not clear yet. This experiment was conducted to study the effects of organic chromium supplementation on rumen fermentation activity. An in vitro technique was held using randomized block design with 13 treatments and 3 replications. There were four kinds of organic Cr used, produced with four different species of fungi as carriers. Fungi used as carriers were Saccharomyces cerevisiae, Aspergillus oryzae, Rhizophus oryzae and “ragi tape”. The result indicated that the optimum organic Cr supplementation was 1 mg organic Cr/kg dry matter. Supplementation of 1 mg organic Cr/kg dry matter increased dry matter and organic matter digestibilities. It also tended to increase NH3 and total VFA production. Propionate production increased, which decreased methane production and increased hexose conversion efficiency in several treatments. Each fungus used as carrier of organic Cr resulted in different effects on rumen fermentation activity, but the effects was within a normal range. It was concluded that either Saccharomyces cerevisiae, Aspergillus oryzae, Rhizophus oryzae or “ragi tape” could be used as carrier in organic Cr production.

  5. Analisa Asam Organik Dan Asam Amino Pada Natto Yang Difermentasi Oleh 7 Strain Bacillus Natto

    OpenAIRE

    SULISTYO, JOKO

    1986-01-01

    JOKO SUUSTYO. 1986. Analysis of organic acid and amino acid in natto fermented by 7 strains of Bacillus natto. Berita Biologi 3 (6): 277 - 282. The ability of seven strains of Bacillus natto produced a number of organic and amino acid components in natto were investigated. Raw, submerced and autoclaved soybeans for natto contained 1.15% 0.46% and 0.77% in organic acid and 0.19%, 0.30% and 0.30% in amino acid, while after fermentation those range were 0.36 - 0.90% in organic acid and 2.86 -6.0...

  6. Perancangan Marketing Plan sebagai Salah Satu Strategi untuk Meningkatkan Penjualan pada Pa Tani Organik

    OpenAIRE

    Saragih, Rintan

    2016-01-01

    Ketertarikan masyarakat untuk mengkonsumsi makanan organic mulai meningkat, dalam hal ini adalah sayuran dan buah. Masyarakat mulai perduli terhadap kesehatan. “Pa Tani Organik” salah satu produsen penghasil sayur dan buah organic berusaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. Proses pemasaran yang selama ini dilakukan melalui direct marketing. Untuk meningkatkan penjualan pada “Pa Tani Organik” maka perlu dirancang marketing plan agar diperoleh hasil yang maksimal. Analisa strategi a...

  7. PENGARUH APLIKASI URIN KAMBING DAN PUPUK CAIR ORGANIK KOMERSIAL TERHADAP BEBERAPA PARAMETER AGRONOMI PADA TANAMAN PAKAN INDIGOFERA SP.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    L. Abdullah

    2011-08-01

    Full Text Available An experiment has been done during 6 months period in order to study the effect of goat urine and comersial liquid organic fertilizer (NASA® as fertizers on some agronomic parameters which are related with potential forage production. Completely randomized design was used in this experiment which is consist of PO = control, P1 = 50% goat urine + 50% mineral water, P2= 100% urine, P3= NASA 0.25%, P4 NASA= NASA 0.50% and P5 = NASA 0.75%, with 5 repetitions. Some agronomic parameters observed were biomass production of tajuk, leaves dry matter production, numbers of leafs and leaf square. To observe the effect of goat urine observation were conducted in two growth periodes. The results of the experiment showed that the application of goat urine and comercial liquid organic fertilizer produce better results in all treatments compared to control. 100% goat urine treatment showed that better results in all parameters compared to commercial liquid organic fertilizers

  8. Pertumbuhan, Hasil dan Analisis Produksi Tanaman Jagung (Zea mays L. yang Diperlakukan dengan Pupuk Organik dan Biourin di Lahan Kering

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I MADE SUKADANA

    2015-09-01

    Full Text Available Growth, Yield, and Production Analysis of Maize (Zea mays L. Treated by Organic Fertilizer and Cow Biourine in Dry Land Maize productivity in Bali is still low at around 3.4 ton/ha. Low soil fertility is one of the factors contributable to the low productivity of maize. Soil condition at the research field has low level of fertility with low levels of nitrogen and C-organic. This research aims at finding out the impact of organic fertilizers and cow biourine to the growth and yield of maize in dry land and to analyze it gross margin. Experiment was designed with randomized block design (RBD with two factors and four replications. The dosage of the first factor namely without organic fertilizer, cow organic fertilizer 15 tonnes/ha and worm casting fertilizer 15 tonnes/ha, whereas dosage of cow biourine namely 0 liter, 1.000 liters, 2.000 liters and 3.000 liters/ha respectively for the second factor. The research results show that there is highly significant interaction (p<0.01 between organic fertilizers and cow biourine to the number of leaves aged at 21, 35, 49 and 63 dap, trunk diameter, dry matter weight/plant, number of cobs/plant, and harvest index, however it shows significant interaction (p<0.05 to leave area index (LAI at age 35 dap and soil pH at harvest. The combination of worm casting fertilizer of 15 tonnes/ha with cow biourine 2.000 liters/ha resulted in the highest dry weight of seed/ha to 4,09 tonnes/ha, an increase of 69,71% compared to no fertilizer. The relationship between organic fertilizer and cow biourine to the dry matter yield follows a quadratic pattern, hence 15 tonnes/ ha worm casting fertilizer and 2000 liters/ha of cow biourine resulted in optimum yield from this research. Result from the gross margin analysis shows that revenue received at Rp 8.7935 million based on the price of dry shelled corn at Rp 2.150/kg does not cover the high variable cost at Rp 26.664,500.

  9. Pemanfaatan Bahan Organik sebagai Pembawa untuk Peningkatan Kepadatan Populasi Trichoderma viride pada Rizosfir pisang dan Pengaruhnya terhadap Penyakit Layu Fusarium

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    . Nurbailis

    2011-11-01

    Full Text Available The aims of the research were to determine the best organic matter as carrier for growth and increasing the density of Trichoderma viride strain TV-T1sk (TV-T1sk and its influence on Fusarium wilt disease development on banana seedling.  This research consisted of two experiments, i.e. (1. Growth  testing of TV-T1sk  in various organic matter, (2. Various organic matter testing for increasing the density of TV-T1sk in banana rhizosphere and its influence on  Fusarium wilt desease development.  The treatments were various organic matter, namely rice straw, sugar cane pulp, rice bran+banana plant waste,  hull of rice+sugar cane pulp and rice. The variables observed were  density and viability of conidia on various organic matter. Propagule density after introduction to banana rhizosphere was determined by observing TV-T1sk propagul from the rizosphere of banana seedling. The influence of density on Fusarium wilt disease development was determined by incubation period, the percentage of symptomized leaves and the intensity of corm damage. The results showed that both sugar cane pulp and rice were the best organic matter  for increasing  the growth and the density  of TV-T1sk  after introduction to banana rhizosphere. The density of TV-T1sk propagule on banana rhizophere influenced  the development of Fusarium wilt disease.

  10. EFEKTIFITAS KOMPOS LIMBAH MEDIA TANAM JAMUR TIRAM SEBAGAI PUPUK ORGANIK PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH DI TANAH ULTISOL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Agus Mulyadi Purnawanto

    2015-12-01

    Full Text Available Land resources is one of the critical success factors of farming systems. One of the potential land is Ultisol with an area of 47.5 million hectares, but has low soil fertility. So it needs to be studied regarding the use of compost of oyster mushroom growing media waste in Ultisol in onion cultivation. The research is based on a randomized block design with eight replications. Factors studied were oyster mushroom growing media waste consists of three levels ie without waste (L0, given the fresh waste as much as 20 t ha-1 (L1 and given compost waste as much as 20 t ha-1 (L2. The results showed that giving zeolite as much as 1 t ha-1 in Ultisol did not significantly affect onion crop, whereas giving of waste oyster mushroom growing medium as much as 20 t ha-1 significantly affected the onion crop, although there is no difference between waste fresh or composted. There is no interaction between the zeolite and the giving waste oyster mushroom growing media on growth and yield of onion.

  11. Evaluasi Penerapan Standard Operating Procedure-Good Agriculture Practice (SOP-GAP pada Usahatani Padi Organik di Kabupaten Bantul

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sriyadi Sriyadi

    2016-02-01

    Full Text Available Food security has meaning not only the availability of adequate food, but also providing security for producers and consumers and ensuring environmental sustainability for sustainable production. Organic farming systems are expected to solve the problem for realizing food security and enhancement of people's welfare. The results of research indicated that, (1 The implementation level of Standard Operating Procedure-Good Agriculture Practice (SOP-GAP of Organic Rice Farming in Bantul district was quite high, (2 The implementation level of SOP-GAP of Organic Rice Farming related to the availability of capital, the selling price and the purchase price of inputs (seeds and fertilizers, (3 The level of the farmer's decision related to the implementation level of SOP-GAP of organic rice farming, and (4 development of organic rice farming required availability of sufficient capital. In this regard the government, particularly the agriculture authority and food security agency need to disburse or facilitate capital for farmers in revolving as well as low interest loans.

  12. Saluran Pemasaran Belimbing Organik (Averrhoa Carambola L.) pada Kelompok Tani Sekar Sari Subak Mambal, Desa Mambal, Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung

    OpenAIRE

    INDRASWARI, SAGUNG DWIYANTI; SUAMBA, I KETUT; DEWI, IDA AYU LISTIA

    2015-01-01

    Marketing Channel of Belimbing Organic (Averrhoa carambola L.) at Sekar Sari Farmer's Group of Subak Mambal, Mambal Village, Abiansemal District Badung Regency Marketing is economic activity which distributes goods from producen to consumen. Marketing aspect of Belimbing is the most important thing in supporting increase the result of Belimbing production. Many of institution involved in marketing will influence short and long of marketing chain and volume of marketing cost. The volume of m...

  13. EFIKASI ISOLAT TRICHODERMA TERPILIH DENGAN BAHAN ORGANIK UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG PADA LADA DI LAPANGAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Cipta Ginting

    2017-05-01

    Full Text Available Efficacy of selected Trichoderma isolate and organic matter to control foot rot of black pepper in the field. The objective of this experiment was to determine the efficacy of selected Trichoderma isolatand organic matter to control the disease. Dual culture method was used to select a Trichoderma isolate. The experiment to evaluate the efficacy of selected isolate consisted of control (no application of T. harzianum or organic matter, T. harzianum and rice straw, and T. harzianum and coffee husk. As starter, T. harzianum was grown in broken rice. Two liters of organic matter was infested with suspension of 10 g starter in 100 ml steril water and incubated for 2 weeks. The mixture was applied around the base of black pepper stem. The results showed that all plants treated with T. harzianum and organic matter did not show disease symptom. Ten percent of the control plants showed symptoms. However, statistical analysis showed that the occurrence of the disease was not significantly different between treatments. Applications ofT. harzianum and rice straw increased the density of Trichoderma for 1 and 2 months after application. T. harzianum and coffee husk increased the density of the fungus 1 month after application.

  14. Analisis Faktor Risiko kadar debu Organik di udara terhadap Gangguan fungsi Paru pada Pekerja Industri Penggilingan Padi di Demak

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    F. S. Nugraheni S.

    2015-12-01

    Full Text Available ABSTRACT Background: Industry will not only increase the prosperity of society, but also could bring on an effect of pollution, included rice mill industry at Demak Regency. The effect is air pollution, in which it would take along a disturbance on lung’s function of, especially, workers of the industry. The aim of this research is to find out risk factor of dust’s amount on air at working area to lung’s function of the workers inside, and also to measure the prevalence ratio of dust exposure’s effect to the disturbance of lung’s function on workers. Disturbance of lung’s function, on this research, is limited on lung function parameter, which are FVC, FEV1 and FEV1/FVC ratio and all are classified as dichotomy. Methods: This research is classified as survey analitic research with cross sectional approach. The population is workers on industry at Demak Regency. Research is carried on by measuring lung’s function parameter using Spirometer. The samples are 45 peoples of 3 (three rice mill industry. They are taken by Simple Random Sampling method of 85 existing workers. Results: The result shows that 34 of 45 respondents are working indoor with the amount of dust is bigger than Limiting Value. From the Statistical Test, we get that the incidence of disturbance of lung’s function on workers is influenced by the amount of dust on air at working area (p value = 0,002, and also strengthened by working duration (p value = 0,000, smoking habit (p value = 0,001, and the existence of history of lung disease (p value = 0,001. The prevalence ratios of each independent variables to the incidence of disturbance of lung’s function are : the amoung of organic dust on air (PR = 3,018, p value = 0.039, and also strengthened by the existence of history of lung disease (PR = 3.535, p value = 0.021, working duration (PR = 4.130, p value = 0.024. Meanwhile, the utilization of masker is proven not influencing in decreasing the incidence of disturbance of lung’s function. It is caused by the utilization on observation is not the real one during the working duration of respondents. Conclusions: Based on the results explained above, we need to implement some exact steps in order to decrease work diseases, which are caused by organic dust of the grain’s grinding, in form of monitoring and controlling held by the industrialists and related institutions to the amount of dust, safety aid (masker and the workers’ healthy by doing a continue examination of lung’s function Keyword : Organic dust, Forced Vital Capacity (FVC, Forced Expiratory Volume in 1 second (FEV1, FEV1/FVC, Rice mill industry.

  15. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat dan Keputusan Pembelian Konsumen Produk Pangan Organik di Supermarket Brastagi Medan

    OpenAIRE

    Marpaung, Fenny Krisna

    2016-01-01

    People’s awareness of the trend in having healthy lifestyle has developed since the last decade. Healthy lifestyle has encouraged people to consume organic foods. Brastagi Supermarket, Medan, is one of the modern retail stores which have great opportunity to market its organic food products. Consumers are expected to have preference to organic foods. The problem is that consumers from the upper and middle class are not regular customers. The objective of the research was to analyze some facto...

  16. Upaya Meningkatkan Kualitas Bokashi Melalui Pemberian Cangkang Telur, Abu Dapur, Dan Urine Sapi Serta Penerapannya Dalam Budidaya Sawi Secara Organik

    OpenAIRE

    Walunguru, Lena; Lende, Aloysius Ng

    2008-01-01

    Increasing Quality of Bokashi by Apply Eggshell Powder, Ash, and Cow Urine and Application in Cultivation of Organic Mustard Green. The research aimed to know quality of bokashi added eggshell powder, ash, and cow urine to plant productivity.The research used Completely Randomized Block Design consisting of eight treatments were bokashi (B0), bokashi added eggshell powder (B1), bokashi added ash (B2), bokashi added cow urine (B3), bokashi added eggshell powder and ash (B4), bokashi added egg...

  17. PRODUKSI TANAMAN CABE RAWIT (Capsicum frutescent L.) DI TANAH ULTISOL MENGGUNAKAN BOKASHI SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA DAN NPK

    OpenAIRE

    Mega Silvia; Hilda Susanti; Samharinto Samharinto; Gt. Muhammad Sugian Noor

    2016-01-01

    Research on the production of chilli in utisol soil using organic household waste bokashi and NPK was conducted  in Banjarbaru from February to June 2015. The research used Completely Randomized Design (CRD) with six treatments. The treatments were (P1) 100% NPK, (P2) 100% NPK + bokashi, (P3) 75% NPK + bokashi, (P4) 50% NPK + bokashi, (P5) 25% NPK + bokashi, (P6) 100% bokashi. 100% NPK and 100% bokashi were 250 kg ha-1 NPK and 10 t ha-1 bokashi respectively. The result showed that the aplicat...

  18. PRODUKSI TANAMAN CABE RAWIT (Capsicum frutescent L. DI TANAH ULTISOL MENGGUNAKAN BOKASHI SAMPAH ORGANIK RUMAH TANGGA DAN NPK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mega Silvia

    2016-06-01

    Full Text Available Research on the production of chilli in utisol soil using organic household waste bokashi and NPK was conducted  in Banjarbaru from February to June 2015. The research used Completely Randomized Design (CRD with six treatments. The treatments were (P1 100% NPK, (P2 100% NPK + bokashi, (P3 75% NPK + bokashi, (P4 50% NPK + bokashi, (P5 25% NPK + bokashi, (P6 100% bokashi. 100% NPK and 100% bokashi were 250 kg ha-1 NPK and 10 t ha-1 bokashi respectively. The result showed that the aplication of treatments gave affected to height increase, number of nodes, first day of appearing flower, biomass, fruit number and weight of fresh fruit The combination of 75% NPK and organic household waste bokashi can be recomended as the best doses for production of chilli. Organic household waste bokashi can contribute to reduce 25% of NPK aplication on the production of chili.

  19. Produksi Tanaman Cabe Rawit (Capsicum Frutescent L.) Di Tanah Ultisol Menggunakan Bokashi Sampah Organik Rumah Tangga Dan Npk

    OpenAIRE

    Mega Silvia; Hilda Susanti; Samharinto Samharinto; Gt Muhammad Sugian Noor

    2016-01-01

    Research on the production of chilli in utisol soil using organic household waste bokashi and NPK was conducted in Banjarbaru from February to June 2015. The research used Completely Randomized Design (CRD) with six treatments. The treatments were (P1) 100% NPK, (P2) 100% NPK + bokashi, (P3) 75% NPK + bokashi, (P4) 50% NPK + bokashi, (P5) 25% NPK + bokashi, (P6) 100% bokashi. 100% NPK and 100% bokashi were 250 kg ha-1 NPK and 10 t ha-1 bokashi respectively. The result showed that the aplicat...

  20. PERANAN AERASI DAN SILIKA SERTA LAMA PEMERAMAN TERHADAP KANDUNGAN UNSUR HARA PUPUK CAIR LUMPUR ORGANIK UNIT GAS BIO

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mochammad Junus

    2014-10-01

    Full Text Available Organic sludge biogas unit (OSBGU is an organic product that is generally overlooked by the owner. Giving aeration and silica as treatment with longer curing 1, 2, 3, 4 and 7 days for prospective OSBGU liquid fertilizer is expected to change the percentage of the nutrient content of liquid manure OSBGU candidates become better liquid fertilizer. The results showed that the effect of treatment, curing time and the interaction between the percentage of liquid manure nutrient content OSBGU on posphor (P, potassium (K, sodium (Na and calcium (Ca was significantly different. Conclusion: The role of aeration and the addition of silica as well as their interactions and their long ripening turns very significant effect on the percentage of the nutrient content of liquid fertilizer OSBGU. Suggestion: to make the aeration and the addition of silica to the fermentation time to increase the percentage of liquid manure nutrient content OSBGU should use aeration and if necessary by adding silica and brooded until on day 7

  1. Populasi dan aktivitas denitrifikasi serta emisi gas N2 O pada lahan pertanian organik, pertanian intensif, dan hutan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dwi Agustiyani

    2012-10-01

    Full Text Available This research investigate the population and potentials denitrification activity from three different soils, organically farmed soil, intensive farmed soil and forest soil. Our objectives were to explore spatial gradients in denitrifier populations, examine whether populations density and its potential activity was related to soil chemical properties (C and N content, and determine the potential emission of gas N2O. Results indicated biological functional differences between these three different soil ecosystems. Forest soil had the highest population density of denitrifying bacteria and also had significant potential denitrifying activities. The highest potentials denitrifying activity in the soil affected to the lowest emission of N2O gas. The lowest population and potential denitrifying activity was measured in the intensive farmed soil. Those conditions might be promoted the potentials emission of N2O.

  2. PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP BUAH-BUAHAN LOKAL DAN ORGANIK SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN KONSUMEN CINTA PRODUK NASIONAL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ujang Sumarwan

    2017-08-01

    Full Text Available The objectives of the study were to analyze factors influencing preferences towards fruits and to measure consumer preference on the three attributes of fruits which is a type of fruit, fruit origin (local and imported, as well as the way of cultivation (organic and non-organic fruits and determine what attributes are more preferred by consumers. The study involved 391 respondents students of the Bogor Agricultural Institute who were selected by convenience sampling technique. The survey was conducted by direct interview using a questionnaire with structured questions and choices. Data were analyzed using multiple regression and conjoint analyses. The results showed that the respondents have the highest preference to attribute cultivation of organic fruits, followed by aspects of the locality and the type of fruit. Respondents preferred organic fruit as compared to non-organic fruit, local fruit is more desirable than the imported fruit. The results of this study provide important implications for consumer education to love national fruit products. Consumer preferences towards local and organic fruits need to be maintained and enhanced through consumer education. Consumer education is necessary to build a spirit of love national fruit products and to increase consumer knowledge about the benefits of organic fruits.

  3. Kajian Pemanfaatan Pupuk Organik Cair Isi Rumen Kerbau Dan Air Kelapa Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Caisim (Brassica juncea L.)

    OpenAIRE

    Patmawati, Linda

    2014-01-01

    This study aimed at determining the best composition, consentrate and the frequency of rumen of buffaloes and coconut water as liquid organic fertilizer towards the growth and production of mustard greens. This research carried out at the land experiment of UMSU Agricultural Faculty, at the region of medan amplas subdistrict. This research was carried out in September up to November 2012. The enviroment design used in the research was split split plot design with 3 factors and repeated 2 time...

  4. PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK YANG BERKUALITAS DARI LIMBAH PETERNAKAN SAPI DAN BABI DI DESA MARGA DAUHPURI, KECAMATAN MARGA, KABUPATEN TABANAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    MEGA I M

    2012-10-01

    Full Text Available ABSTRACT The training programme of making the qualities organic fertilizers derived from waste livestock cattle and pig were conducted at Marga Dauhpuri village, Marga District, Regency of Tabanan, from June until October 2008. The purpose of this programme was improving society skill on making organic fertilizers.The methods of programme were : ! giving counseling to livestock farmers who merged into group of Livestock Sari Buana about : environmental contamination problem by waste of livestock of cattle and pig, and way of the settlement of disposal 2 Training of making organic fertilizers ( compost having quality from waste of ranch of cattle and pig. The results of devotion activity to this society were 1 can improve the society awareness specially group of farmer of livestock Sari Buana about : a livestock waste deriving from cattle and pig become the economic valuable substance in order not to spoil environment b Dirt of pig and cattle become the organic manure (compost which is good for crop 2 Can improve skilled in making organic fertilizers ( compost having quality from dirt of cattle and pig 3 The yielding of certifiable compost with the characteristic : dark brown color, granulous refine, not smell and content of element nutrient namely : C-Organic ( 3.04 %; N-Total ( 0.41 %, available-P ( 20.56 ppm, available-K ( 842.31 ppm, C / N ( 7.41 for the compost of cattle dirt, and C-Organic ( 3.70 %; N-Total ( 0.16 %, available-P ( 35.91ppm, available-K ( 2517.10 ppm, C / N (23.13 for the compost of pig dirt

  5. Kajian Mutu dan Palatibilitas Silase dan Hay Ransum Komplit Berbasis Sampah Organik Primer pada Kambing Peranakan Etawah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yusmadi Yusmadi

    2008-04-01

    Full Text Available The quality and palatibility of silage and hay complete ration based on organic primer garbage in peranakan etawah (PE poad ABSTRACT. This research was conducted to study the quality and palatability of silage and hay complete ration based on organic primer garbage in nine heads of Peranakan Etawah (PE Goat. The quality of silage and hay was evaluated By measuring pH, total number of lactic acid Bacteria (LAB, palatability, dry matter (DM and organic matter (OM aroma and color of silage. Nine heads of peranakan etawah were grouped based on their lactation periode and randomly assigned to one of tree dietary treatments. The treatments were (1 Control rations; (2 silage complete ration (SRK; and (3 Hay complete ration (HRK. The results indicated that the silage had PH 4.15 and total number of LAB was 2.4 x 10 cfu/g of silage. Dry matter and organic matter digestibility of SRK were better than those of HRK. The palatability of SRK was higher than HRK but less than control. Storage of SRK for did not change dry matter and organic matter content. Organoleptic analysis indicated that texture and color of HRK were changed at after storage, while SRK was still constant. It is concluded that silage composed of organic primer garbage has high quality in terms of physical, chemical and microbial characteristics, prolong storage.

  6. PENGEMBANGAN FORMULA SIRUP ZINK DARI EKSTRAK IKAN BILIH (Mystacoleucus- padangensis SEBAGAI ALTERNATIF SUPLEMENTASI ZINK ORGANIK PADA ANAK PENDEK (STUNTED USIA 12-36 BULAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Eva Yuniritha

    2015-03-01

      The extract of bilih fish (mystaleuseuspadangensis zinc syrup is made from basic ingredient of bilih fish which contains 27,8 mg zinc/100 gram syrup. It is much higher than other food zinc source. The use of the extract of bilih fish as an alternative of organic zinc supplementation can be used for those who have zinc deficiency. Therefore, it is essential to be studied as an alternative intervention program for stunting in children aged 12-36 months. This objective of this study is to develop zinc formula syrup from the extract of bilih fish (mystaleuseuspadangensis as an organic zinc supplementation for stunted children. This laboratory experimental research is begun by extracting the fish bilih using a standard method. The extract of bilih fish is formulated in the form of suspension syrup, at the laboratory of Biology and Liquid Preparation in the Faculty of Pharmacy, Gajah Mada University in Yogyakarta. The extract of bilih fish is very high in zinc content (161, 97 mg/100 gram, with main preparation of Zinc Citrate, Vitamin A and protein, added with simplex syrup (64%, CMC-Na, Citric Acid, fruit flavor and food color subtances. This supplement syrup formula is based on International Zinc Nutrition Consultative Group (IZiNCG, with 3 best formulas based on organoleptic test, formula F 4.1, F 2.2 and F 2.3. The zinc syrup formula from extract of bilih fish could be an alternative of organic zinc supplementation to address zinc deficiency in stunted children. Keywords: extract bilih, zinc supplementation, stunting

  7. Analisis Unsur Hara Pupuk Organik Cair dari Limbah Ikan Mujair (Oreochromis Mosambicus) Danau Lindu dengan Variasi Volume Mikroorganisme Lokal (MOL) Bonggol Pisang

    OpenAIRE

    Lepongbulan, Winda; Tiwow, Vanny M. A; Diah, Anang Wahid M

    2017-01-01

    The Lake Lindu is one of the potential water resources in Central Sulawesi with various species of fish and one of the most commonly found fish are species mujair fish. Mujair fish processing wastes such as offal can be polluted the environment if not managed properly. The study aim is to determine the contents of NPK nutrients in the liquid organic fertilizer by adding MOL banana weevil. The contents of nitrogen (N), phosphorus (P), and potassium (K) was determined by using spectro direct. T...

  8. Pengaruh Pemberian Urea, Tsp, Kcl Dan Pupuk Organik Cair (Poc) Kulit Pisang Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Cabai Merah Keriting (Capsicum Annum L.)

    OpenAIRE

    adrian, Edo; Yetti, Husna

    2017-01-01

    This research to determine the interaction of inorganic fertilizer (Urea, TSP, KCl)and banana peelliquid organic fertilizer (POC) to find the best results on the growth and yield of red pepper (Capsicum annuum L.).This study was conducted for four months (March-June, 2016), the Experimental Station, Faculty of Agriculture, University of Riau Pekanbaru,using a completely randomized design (CRD) factorial,consists of two factors and three replications.The results were analyzed by analysis of va...

  9. ANALISIS TUMBUH SELADA (LACTUCA SATIVA L) PADA PERBEDAAN JENIS PUPUK ORGANIK CAIR ( Lettuce (Lactuca Sativa L) Growth Analysis At Different Type Of Liquid Organic Fertilizer)

    OpenAIRE

    Duaja, Made Deviani; Arzita, .; Redo, Yan

    2012-01-01

    The objectives of this research are to analysis the growth and yield of Lettuce (Lactuca sativa L) at different type of organic liquid fertilizers. The experiment has conducted at Agriculture Faculty Research Farm, Jambi University. Six treatments were arranged in Randomized Completed Block Design. The treatments are kinds of liquid organic fertilizers, they are P0 (none of liquid organic fertilizers), P1 (Golden Harvest liquid organic fertilizers), P2 (NASA liquid organic fertilizers), P3 (C...

  10. Pertanian Organik Terpadu di Desa Wukirsari, Sleman, Yogyakarta Sebagai Usaha Pemulihan Kesuburan Lahan Terimbas Erupsi Merapi 2010 dan Pencapaian Desa Mandiri Sejahtera

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dwi Umi Siswanti

    2015-09-01

    Full Text Available Community service activities at Wukirsari village was preceded by many concerns land damaged by the eruption of Merapi 2010. Researchers encourage Wukirsari people to self-sufficient in the provision of liquid organic fertilizer and manure plus. It is intended to restore the soil nutrient that improves soil structure. The target of this activity were increasing the agricultural productivity, cost efficiency of production, improvement of agricultural cultivation, encouraging self-sufficiency of liquid organic fertilizer and manure plus and the establishment of agricultural enterprises. The conclusion of these program are the liquid organic fertilizer producted by Wukirsari farmer response positively to the growth and productivity of rice plants. The barriers of this program was delayed of the establishment of business entities will be overcome with the implementation of the third period (2015 of the community service program which cooperate with the Student Community Service Program (KKN PPM UGM.

  11. Sifat Biologi Tanah Mineral Masam Dystrudepts Di Areal Piringan Kelapa Sawit Yang Diaplikasi Mulsa Organik Mucuna Bracteata Di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Riau

    OpenAIRE

    Zahara, Fitri; ', wawan; ', Wardati

    2015-01-01

    The objectives of this research to determine the soil biological properties on the acidic mineral soil Dystrudepts in the area of disc palm oil applied of organic mulch Mucuna bracteata in the experimental garden of Agriculture Faculty, Riau University. Analysis of the soil biological was conducted in the Soil Laboratory of Agriculture Faculty, Riau University, in October 2014 to February 2015. Application of mulch organic M. bracteata used purposive random sampling method which consisting of...

  12. Peran Pt.bloom Agro Dalam Implementasi Prinsip Fair Trade Di Indonesia (Studi Kasus: Ekspor Beras Organik Pt.bloom Agro Ke Mancanegara Tahun 2008-2015)

    OpenAIRE

    Yealta, Den; Ikhsani, Munadia

    2016-01-01

    This research describes the role of PT.Bloom Agro to do Fair Teade implementation in Indonesia in the case study is the export of PT.Bloom Agros€™s organic rice to foreign country. Fair Trade is the kind of Alternatives trade which populer as donatian movement in 1940. But now in the globalitation era that causes of free trade, fair trade is more popular as alternatives trade movement and as a certification to mark a product has fair tarde guarantee. And in Indonesia PT.Bloom Agro which an ex...

  13. PERAN BAKTERI DALAM MENGUBAH ARSEN ANORGANIK MENJADI ARSEN ORGANIK DI PERAIRAN (The Roles of Bacteria in Modifying Inorganic Arsen to Organic Arsen in Waters

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Eko Sugiharto

    2006-11-01

    Full Text Available ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah mengetahui peranan bakteri Esherichia coli dan Pseudomonas sp. dalam menubah spesies arsen. Arsenik dikenal sebagai salah satu unsur kimia yang mempunyai toksisitas tinggi. Analisis mentenai spesiasi arsen yang terkandung dalam perairan dilakukan dengan metode gabungan Kromatografi cair Kinerja Tinggi – Spektrometri Serapan Atom (HPLC-AAS. Untuk mengetahui peranan bakteri E.Coli dan Pseudomnonas sp. maka dilakukan tiga perlakuan, yaituperlakuan dengan variasi media pertumbuhan, variasi pH, dan variasi suhu inkubasi. Media pertumbuhan yant ditunakan yai5u air, l – metionin, nutrient broth, czapek dox, dan garam mineral. Variasi pH dilakukan pada pH 4, 5, 6, 7, 8, dan 9, sedangkan variasi suhu silakukan pada 25oC sampai dengan 35oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan persentase jumlah As (V yang terenduksi menjadi As (III dalam media garam mineral pH7 dengan suhu optimum 35oC. Enzim yang dihasilkan Pseudomonas sp. dapat mereduksi As (V menjadi As (III pada media garam mineral pH 8 dan optimum pada semua variasi suhu. Keseluruhan hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri E. coli dan Peseudomonas sp. dapat meningkatkan toksisitas arsen di perairan karena kedua bakteri dapat mereduksi As (V menjadi As (III pada pH dan temperatur optimum.   ABSTRACT The aim of this research was to know the roles of Escharichia coli and Pseudomonas sp. in arsenic speciation. Arsenic has been known as highly toxic chemical element. The analysis towards arsenic speciation which is contained in waters was done by using High Pressure Liquid Chromatography (HPLC – Atomic Absorption Spectrometry (AAS coupling method. The observation towards the roles of E.coli and Pseudomonas.sp was done by variating the growth medium, pH and incubation temperature. The growth medium used in this observation were later, l – metionin, nutrient broth, czapek dox and mineral salt. The variation of pH was carried out at pH of 4,5,6,7,8, and 9. The variation of incubation temperatures was done from 25oC to 35oC. The result showed that there was increasing percentage of As (V reduced to As (III by E. coli in mineral salt medium pH of 7 and its optimum incubation temperature was 35oC. The observation towards Pseudomonas sp. showed that the activity of enzyme produced from Pseudomonas sp. can reduce As (V to As (III optimum in mineral salt medium pH of 8 and in all variation of temperatures. The result above showed that E. coli and Pseudomonas sp. can increase the toxicity of arsenic in waters because both bacteria are able to reduce As (V to As (III carried out at pH and temperature of its growth

  14. RELASI-RELASI KEKUASAAN DI BALIK PENGELOLAAN INDUSTRI PARIWISATA BALI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Nyoman Wijaya

    2012-09-01

    berbicara berhasil menangkap pengetahuan tersembunyi di balik ungkapan wacana Pariwisata Budaya untuk kepentingan kelompok masing-masing. Kata Kunci: pariwisata budaya, PKB, Ekadasarudra, invented art, intelektual organik

  15. Analisis Perilaku Konsumen Terhadap KeputusanPembelian Sayur Organik di Pasar Simpang limun Kota Medan ( Studi kasus Pada Keputusan Konsumen dalam pebelian keputusan di pasar simpang limun kota medan)

    OpenAIRE

    Polem, Ahmad Fadlan

    2016-01-01

    Purchasing decisions is one of the actions undertaken consumers to memebeli a pruduk. Consumer decision is unbelievably influential in earnings or sales and the achievement of the ultimate goal of the company. Therefore prusahaan must know what factors affect consumers in the decision to buy the product. Formulation of the problem in this research is: What are the factors purchasing decisions consisting of budanya, social, personal and pisikologis influencing consumer decision in purchasin...

  16. Pemanfaatan Limbah Tanaman Rambutan Sebagai Pupuk dan Sirup Di Kelurahan Ngadirgo Mijen Semarang

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M. Anas Dzakiy,

    2014-05-01

    Program IbM meliputi brainstorming enterpreneurship dan strategi mengoptimalisasi potensi daerah khususnya tanaman rambutan; pengenalan tentang rambutan dan alternatif pemanfaatannya; pengenalan tentang variasi pupuk dan dampak pupuk kimia terhadap lingkungan; pelatihan pembuatan sirup rambutan; serta pelatihan pembuatan pupuk organik cair berbahan dasar limbah tanaman rambutan dengan aktivator MOL (Mikro Organisme Lokal. Hasil yang dicapai adalah terbukanya wacana tentang strategi peningkatan taraf hidup masyarakat dengan mengoptimalkan potensi lokal tanaman rambutan sebagai produk sirup dan pupuk organik cair yang lebih murah dan ramah lingkungan Kata kunci : Rambutan, Enterpreneurship, Pupuk Organik Cair, Sirup

  17. Enhancing Competitiveness Business Strategy of Organic Vegetables Using Analytical Hierarchy Process (AHP

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Pristiana Widyastuti

    2017-09-01

    Full Text Available Public awareness about healthy lifestyles leads people to want to understand more about the food they consume. Choosing organic vegetables is one alternative choices when seeking to have a healthy body and healthy lifestyle. Unfortunately, not a lot of organic vegetable farmers in Indonesia succeed in seizing the organic vegetable market rather than the non-organic and the competition with imported organic vegetables into Indonesia prevents farmers from thriving. This study aims to: 1 Analyze the factors affecting the competitiveness of the organic vegetables market; 2 Analyze the appropriate strategy for increasing the competitiveness of the organic vegetables market; 3 Analyze the factors priority strategies for improving the competitiveness of the organic vegetables market. Porter's Generic Model and Analysis Analytical Hierarchy Process (AHP is used to determine the best strategy. The research found that organic vegetables marketing channels are still dominated by conventional market; the higher cost for intensive cultivation of organic vegetables. The main strategies are derived from the analysis is focusing on market delivery. There needs to be retailers of organic vegetables either modern or traditional to display these products. The establishment of organic vegetable outlets and online marketing that are not dependent on large retail (hypermarket become recommendations in this study. Bahasa Indonesia Abstrak: Kesadaran masyarakat tentang gaya hidup sehat memberi pilihan kepada masyarakat untuk memahami makanan yang mereka konsumsi. Pilihan sayuran organik merupakan salah satu alternatif untuk memiliki tubuh sehat dan gaya hidup sehat bagi masyarakat. Sayangnya, tidak banyak petani sayuran organik di Indonesia yang berhasil merebut pasar sayuran organik daripada non organic. Persaingan produk impor sayuran organik ke Indonesia membuat petani tidak bisa berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk: 1 Menganalisis faktor-faktor yang

  18. Pengaruh Beberapa Dosis Kompos Dan Azolla ( Azolla Pinnata R. B ) Segar Pada Pertumbuhan Dan Hasil 2 Varietas Tanaman Wortel ( Daucus Carotta L. )

    OpenAIRE

    Huda, M. Syahrial; Widaryanto, Eko; Nugroho, Agung

    2016-01-01

    Wortel termasuk jenis sayuran umbi yang bernilai ekonomis penting di dunia. Salah satu factor budidaya wortel adalah tanah yang tidak hanya sebagai media akar tanaman namun sebagai media tanaman dapat menyerap nutrisi, air dan oksigen. Salah satu peranan bahan organik adalah memperbaiki sifat fisik tanah. Azolla (Azolla pinnata) ialah tumbuhan paku air yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik untuk memperbaiki agregat tanah. Tujuan penelitian ini untuk dapat mengetahui pengaruh dosis kom...

  19. Pengaruh Pemberian Berbagai Bentuk Azolla Dan Pupuk N Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea Mays Var. Saccharata)

    OpenAIRE

    Putra, Dwi Firmansyah; Soenaryo, Soenaryo; Tyasmoro, Setyono Yudo

    2013-01-01

    Jagung manis sangat responsif terhadap pupuk N, agar kebutuhan N terpenuhi dan memberikan nilai tambah dapat menyuburkan tanah tanpa menurunkan produktifitas jagung manis, maka diperlukan penyeimbang berupa pupuk organik yang memiliki kandungan N tinggi. Pupuk organik potensial yang memiliki kandungan N tinggi yaitu Azolla. Azolla dapat ditemukan dalam 3 bentuk yaitu Azolla segar, Azolla kering dan kompos Azolla. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi Azolla segar, Azolla...

  20. Pengolahan Lindi Menggunakan Moving Bed Biofilm Reactor dengan Proses Anaerobik-Aerobik-Anoksik

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nuriflalail Rio Jusepa

    2017-01-01

    Full Text Available Lindi mengandung konsentrasi organik, Total Kjeldahl Nitrogen, amonium, nitrit dan nitrat yang tinggi sehingga lindi yang tidak diolah dapat mencemari lingkungan. Pengolahan biologis dengan sistem fluidized attached growth seperti Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR dapat digunakan untuk menurunkan senyawa organik dan senyawa nitrogen. Konsentrasi organik dan nitrogen yang tinggi pada lindi dapat diolah dengan mengatur proses aerobik-anaerobik-anoksik di dalam MBBR. Kapasitas pengolahan MBBR yang digunakan sebesar 10 L dan media Kaldness (K1 sebanyak 2 L. MBBR dioperasikan dengan sistem batch, dengan kondisi aerobik yang berasal dari aerator dan pompa submersible, kondisi anaerobik berasal dari pompa submersible saja, dan kondisi anoksik yang berasal dari pompa submersible dan aerator. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa MBBR dapat digunakan untuk menurunkan senyawa nitrogen dan senyawa organik. Efisiensi penyisihan optimum senyawa organik sebesar 87% pada proses anaerobik baik pada sistem fluidized attached growth maupun suspended growth. Efisiensi penyisihan optimum senyawa nitrogen sebesar 72% pada proses anoksik baik pada sistem fluidized attached growth maupun suspended growth.

  1. EFEKTIVITAS PEMANFAATAN PUPUK BOKASI, CASTING DAN PUPUK GENDONING (LARVA KUMBANG KELAPA/Orcyctes rhinoceros

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    lianah l

    2016-03-01

    Full Text Available Kotoran hewan dan sampah organik dapat mencemari di lingkungan air, udara dan  tanah. Penelitian ini bertu- juan untuk membandingkn keefektifan antara pupuk gen- doning dan pupuk bokashi. Proses pengomposan dapat dipercepat dengan bantuan aktifator EM4 (Efektif Mik- roorganisme. Proses pengomposan tersebut juga dapat melibatkan hewan lain yaitu Cacing tanah dan larva kum- bang kelapa (Orcyctes rhinoceros yang disebut dengan nama gendon (bahasa Jawa yang bekerja sama dengan mikroba dalam proses dekomposer. Gendon dalam hal ini memakan bahan organik yang tidak terurai, mencampur bahan organik dan membuat lubang-lubang aerasi. Keha- diran gendon dapat mempercepat penghancuran bahan or- ganik karena mempunyai mulut yang tajam sebagai mesin pencacah sampah organik. Metode penelitian eksperimen sampah organik ditreatmen yaitu dengan menggunakan EM4, dan dengan menggunakan gendon. Peruraian oleh EM4 disebut pupuk Bokashi. Sedang keterlibatan gendon dalam proses pengomposan menghasilkan butir-butir kecil berwarna hitam dinamakan pupuk Gendoning (penemuan pribadi. Dari kedua pupuk tersebut dipraktekan untuk menanam labu air (Lagenaria leucantha. Dari experimen tersebut dapat diketahui bahwa pupuk gendoning ini ter- bukti lebih efektif dan efisien dari pupuk bokashi, karena gendon mampu melakukan dekomposisi lebih sempurna dari EM4. Dekomposisi tersebut dilakukan baik secara me- kanik maupun secara enzimatis. Pupuk gendoning adalah hasil bioteknologi sederhana yang dapat menjadi alternatif dalam mengatasi kelangkaan pupuk, sebagai pupuk organ- ik yang efektif dan efisien serta bernilai ekonomis sebagai.

  2. Determination of Aluminum in Dialysis Concentrates by Atomic Absorption Spectrometry after Coprecipitation with Lanthanum Phosphate.

    Science.gov (United States)

    Selvi, Emine Kılıçkaya; Şahin, Uğur; Şahan, Serkan

    2017-01-01

    This method was developed for the determination of trace amounts of aluminum(III) in dialysis concentrates using atomic absorption spectrometry after coprecipitation with lanthanum phosphate. The analytical parameters that influenced the quantitative coprecipitation of analyte including amount of lanthanum, amount of phosfate, pH and duration time were optimized. The % recoveries of the analyte ion were in the range of 95-105 % with limit of detection (3s) of 0.5 µg l -1 . Preconcentration factor was found as 1000 and Relative Standard Deviation (RSD) % value obtained from model solutions was 2.5% for 0.02 mg L -1 . The accuracy of the method was evaluated with standard reference material (CWW-TMD Waste Water). The method was also applied to most concentrated acidic and basic dialysis concentrates with satisfactory results.

  3. PEMANFAATAN SENYAWA BIOAKTIF DARI EKSTRAK KULIT BATANG Artocarpus sp SEBAGAI INHIBITOR TIROSINASE PADA PIGMENTASI KULIT

    OpenAIRE

    Florentina Maria Titin Supriyanti

    2009-01-01

    Telah dilakukan penelitian tentang pemanfaatan senyawa bioaktif dari ekstrak kulit batang Artocarpus sp sebagai inhibitor tirosinase pada pigmentasi kulit. Pada penelitian ini digunakan tiga jenis Artocarpus, yaitu A. heterophyllus (nangka), A. altilis (sukun) dan A. communis (kluwih). Kajian difokuskan pada penentuan jenis Artocarpus apakah yang potensial dalam menginhibisi reaksi tirosinase, serta pelarut organik apakah yang mampu mengekstrak senyawa bioaktif tersebut secara optimum. Metode...

  4. Proses Pemberdayaan Masyarakat Desa Sitimulyo Kecamatan Piyungan Kabupaten Bantul Dalam Pembentukan Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ambar Teguh Sulistyani

    2017-03-01

    Full Text Available Waste management generally is the responsibility of local government.“Kartamantul” cooperation of waste management in Yogyakarta, Sleman and Bantul, waste disposal is concentrated in TPSA (waste dump Piyungan, particularly in Sitimulyo Village. The volume of the waste is increased which leads to the limitation of TPSA capacity. Recently, government has been experiencing difficulty to provide waste dump facility. In this critical period, the participation of college institution to deliver its sollution and devotion is highly required. Universitas Gadjah Mada, as one of college institutions that concerns to problem raised in environment, has carried out society empowerment. Through action research methodology and data collection technique of direct participative observation, interview, documentation, and focus group discussion can arrange action plan. UGM team along with the society continuously performs experiments until KPSM has professional to produce both solid and liquid organik fertilizer. The intensity of education, consultation, and mentoring has resulted in KPSM capacity enhancement. Pioneering program in environment and household waste management is the opening to the development of “Sitimulyo” organik fertilizer. Besides organik fertilizer produced with organik waste is used by local community, it also has been sold to consumer.

  5. Senyawa Flavonoida, Fenil Propanoida dan Alkaloida

    OpenAIRE

    Sovia Lenny

    2006-01-01

    06003489 Sebagian besar senyawa organik bahan alam adalah senyawa-senyawa aromatik. senyawa-senyawa ini tersebar luas sebagai zat warna alam yang menyebabkan warna pada bunga, kayu pohon tropis, bermacam-macam kapang dan lumut termasuk zat warna alizarin, oleh Sovia Lenny

  6. Profile in various organic soil depth shrimp pond, Tambak Inti Rakyat, Karawang

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yuni Puji Hastuti

    2015-04-01

    Full Text Available ABSTRACTOrganic material in the bottom of the pond is part of the land is a complex and dynamic system, which is sourced from the rest of the feed, plants, and or animals found in the soil that continuously change shape, because it is influenced by biology, physics, and chemistry. This study was aimed to see the profile of organic material consisting of C, N, and C/N ratio and phosphate in different depths of pond with different culture systems. Observation were conducted at Tambak Inti Rakyat, Karawang in traditional, semi-intensive and intensive culture systems. Observation at mangrove area was also observed as control. Sediment samples at the inlet and outlet at three different depths (0‒5 cm, 5‒10 cm, and 10‒15 cm was taken every 30 days to measure the content of C, N, C/N ratio, and total phosphate. During the 120 day maintenance period could be known that in all pond systems were used (traditional, semi-intensive, and intensive the concentration of C-organic and organic-N on average was located in the bottom layer which is a layer of 10‒15 cm. The lack of human intervention from ground pond system, the more diverse the type and amount of organic material contained therein.Keywords: organic materials, subgrade, depth, aquaculture systems, long maintenanceABSTRAKBahan organik di dasar tambak merupakan bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis, yang bersumber dari sisa pakan, tanaman, dan atau binatang yang terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat profil bahan organik yang terdiri dari C, N, dan C/N rasio serta fosfat pada kedalaman tambak yang berbeda dengan sistem budidaya yang berbeda pula. Pengamatan dilakukan di Tambak Inti Rakyat Karawang pada sistem budidaya tradisional, semi intensif, dan intensif. Pengamatan di daerah mangrove diamati pula sebagai kontrol. Sampel sedimen di

  7. Pengolahan Limbah Rumah Makan dengan Proses Biofilter Aerobik

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Laily Zoraya Zahra

    2015-03-01

    Full Text Available Berkembangnya rumah makan/restoran yang semakin pesat dapat dipastikan akan turut menambah buangan air limbah domestik dengan kadar organik yang tinggi dalam jumlah yang tidak sedikit yang dibuang ke badan air.Tingginya kadar organik dalam limbah domestik rumah makan akan menyebabkan aroma yang tidak sedap jika tidak ada pengolahan terlebih dahulu, maka pengolahan yang dapat digunakan untuk mengolah air limbah rumah makan tersebut adalah proses biofilter aerobik. Penelitian dilakukan dengan proses biofilter aerobik dengan aliran downflow dan menggunakan sistem intermitten.Variabel dalam penelitian ini adalah media biofilter berupa kerikil dan batu alam serta Hydraulic Retention Time (HRT 8 jam. Parameter pencemar yang diukur efisiensinya adalah BOD, COD, dan TSS. Besarnya penyisihan parameter BOD, COD dan TSS dengan menggunakan biofilter aerob berturut-turut mencapai 94,83%, 92,95%, dan 95%. Reaktor paling baik dalam mengolah air limbah adalah reaktor biofilter dengan media kerikil pada HRT 8 jam.

  8. PENERAPAN HACCP BUBUR BAYI BERAS MERAH TERHADAP PENERIMAAN DAN LAMA WAKTU SIMPAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Riska Listyanti

    2017-04-01

    Full Text Available Penelitian ini secara umum bertujuan terlaksananya penerapan HACCP untuk bubur beras me-rah yang ditujukan untuk bayi usia 6-10 bulan, dan secara khusus menetapkan perbedaan lama waktu simpan bubur tersebut antara penerapan HACCP (variasi 1 dengan penerapan HACCP tanpa pengendalian CCP persiapan bahan (variasi 2; sanitasi alat (variasi 3; penjamah (variasi 4; cara pengolahan (variasi 5; penyimpanan (variasi 6 dan penyajian (variasi 7, serta mene-tapkan perbedaan penerimaan bubur beras merah variasi 1 dan bubur organik sebagai kontrol positif. Hal ini dilatar-belakangi karena dalam proses pembuatan bubur beras merah oleh ibu bayi, pada pemilihan bahan, sanitasi alat, penjamah dan cara pengolahan tidak memenuhi sya-rat. Begitu juga pada proses pengolahan bubur organik, pada sanitasi alat, penjamah, penyim-panan dan penyajian juga tidak memenuhi syarat. Metoda pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dengan bahan penelitian bubur hasil olahan sendiri. Hasil analisis menunjukan bahwa: bayi homogenisasi yang menerima bubur beras merah olahan sendiri adalah sebesar 73,25 %, dan yang menerima bubur organik pabrikan sebesar 46,5 %; penerimaan bubur beras merah dengan bubur organik berbeda secara bermakna (nilai p: 0,022. Selain itu diketahui pula bahwa lama waktu simpan bubur beras merah variasi 1 lebih dari 12 jam; variasi 2, 12 jam ( p: 1,00; variasi 3, 12 jam (p: 0,831; variasi 4, 11 jam (p: 0,862; variasi 5, 11 jam (p: 0,478; variasi 6, 8 jam (p: 0,155; dan variasi 7, 11 jam (p: 0,473. Dengan demiki-an dapat disimpulkan bahwa lama waktu simpan bubur beras merah variasi 2, 3, 4, 5 dan 6 tidak berbeda dengan variasi 1.

  9. IDENTIFIKASI JENIS JAMUR ASOSIASI KUDA LAUT Hippocampus barbouriYANG HIDUP DI PERAIRAN ALAMI DAN PENANGKARAN

    OpenAIRE

    Sari, Ratna

    2017-01-01

    Jamur merupakan organisme heterotrof yang menggunakan bahan organik untuk nutrisinya. Jamur dapat sebagai patogen yang bersifat infeksi sekunder. Penyakit yang umum terjadi pada banyak ikan dapat juga terjadi pada kuda laut, diantaranya adalah jamur, parasit dan bakteri.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenisjamuryang berasosiasi dengan kuda laut (Hippocampus barbouri). Jamur asosiasi kuda laut diperoleh dengan metode swab menggunakan cotton swab microbiology. Identifikasi dil...

  10. Organic Waste Anaerobic degradation with bio-activator-5 Effective Microorganism (EM-5) to Produce Biogas

    OpenAIRE

    Metri Dian Insani

    2014-01-01

    Degradasi Anaerob Sampah Organik dengan Bioaktivator Effective Microorganism-5 (EM-5) untuk Menghasilkan Biogas Abstract: The purpose of this study was to: (1) analyze the differences in the use of corn cobs, kelaras bananas and banana peel with the addition of cow manure to biogas pressure, (2) analyze the differences in the use of corn cobs, kelaras bananas and banana peel with the addition of cow dung for a long time flame biogas produced, and (3) analyze the different uses corn cobs,...

  11. Perwujudan/Implementasi Konsep Interaksi Aerotropolis Berbasis Tata Ruang di Indonesia

    OpenAIRE

    Jermanto Setia Kurniawan

    2016-01-01

    Banyak kegiatan USAha atau jasa komersial di sekitar kawasan bandar udara menjadi dasar terbentuknya konsep/model kota bandara (airport city) yang merupakan embrio terbentuknya konsep aerotropolis. Konsep ini berkembang secara organik dan dimulai dari bandar udara itu sendiri, dimana bandar udara tak hanya sebatas sebagai pendukung kegiatan penerbangan. Lebih dari itu, ada berbagai jenis kegiatan bisnis lainnya, sehingga bandar udara dan wilayah sekitarnya merupakan kawasan komersial yang ter...

  12. Utilization Of Seeds Durian (Durio Zibethinus Murr) Powder AS Biopolymer Additional Materials Of Coagulant Alum To Improve The Total Solids Removal Suspended (Tss) And Cod Using Leachate Coagulation-flocculation (Studi Kasus: Tpa Jatibarang, Kota Semaran

    OpenAIRE

    Alfa Christianty, Dina; Zaman, Badrus; Purwono, Purwono

    2017-01-01

    TPA Jatibarang menjadi salah satu sumber limbah cair di Semarang di mana lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk. Limbah cair yang dihasilkan dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah berupa air yang dihasilkan dari timbunan sampah yang disebut air lindi (leachate). Lindi TPA Jatibarang umumnya memiliki kandungan senyawa organik yang tinggi dan keberadaannya yang melebihi baku mutu dapat mencemari lingkungan sekitar apabila tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Pengolahan lindi mengg...

  13. UNJUK KERJA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TAHU SECARA BIOLOGI

    OpenAIRE

    Indriyati, Indriyati; Susanto, Joko Prayitno

    2016-01-01

    Sebagian besar industri makanan, termasuk industri tahu membuang limbah cairnya yang mengandung bahan organik dengan kadar tinggi (lebih dari 16,483 mg/L) langsung ke badan air. Dengan menggunakan teknologi yang tepat, limbah cair ini dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan produk samping berupa biogas yang mengandunggas methan sebagai substitusi energi pada industri yang bersangkutan. Desa Kalisari merupakan salah satu sentra industri UKM tahu, untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan...

  14. Hipoplasia Enamel Pada Penderita Penyakit Eksantema

    OpenAIRE

    Dewi saputri

    2008-01-01

    Hipoplasia enamel merupakan gangguan pada masa pemhentukan matriks organik yang menyebabkan gangguan struktur pada enamel sehingga secara klinis terlihat pada suatu bagian dari gigi tidak terbentuk enamel dan kadang-kadang sama sekali tidak terbentuk enamel, serta diikuti dengan perubahan warna pada gigi. Dikenal berbagai faktor penyebab hipoplasia enamel, salah satunya adalah penyakit eksantema yaitu menyebabkan infeksi pada bayi dan anak-anak. Gambaran histopatologis hipoplasia enamel adala...

  15. Pengujian Alat Konversi Ban Bekas Menjadi Bahan Bakar

    OpenAIRE

    Saputra, Imron Aryadi; Arijanto, Arijanto

    2017-01-01

    Pirolisis dapat didefinisikan sebagai dekomposisi thermal material organik pada suasana inert (tanpa kehadiran oksigen) dan suhu tinggi sehingga terurai menjadi molekul yang lebih kecil. Pirolisis merupakan bentuk penghematan energi karena dapat menyuling bahan bakar atau bahan kimia yang berguna dari limbah padat. Produk pirolisis berupa gas, cair dan padat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menguji alat konversi ban bekas menjadi bahan bakar, mengetahui jumlah minyak yang dihasilkan pada pr...

  16. KOSEP PEMAHAMAN DAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN SAMPAH DI RUMAH SUSUN SEWA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Henita Rahmayanti

    2016-01-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan pengelolaan sampah di Tempat Penampungan Sampah yang terdapat di rumah susun sewa di Jakarta. Proses pengelolaan yang akan dilakukan dengan cara menanamkan konsep pemahaman pemilahan sampah organik dan anorganik di rumah masing-masing dan sistem pembuangan menggunakan saluran pembuangan secara terpisah. Prinsip pengelolaan sampah yang akan diterapkan yaitu merubah sampah yang tidak berguna menjadi bernilai guna. Semua sampah diolah dengan baik di Tempat Penampungan sampah sehingga tidak ada sampah yang diangkut keluar (Zero Waste. Teknologi pengelolaan sampah organik menggunakan sistem Anaerobic Digester sedangkan untuk pengelolaan sampah anorganik menggunakan sistem 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace. Hasil dari pengelolaan sampah organik adalah kompos, limbah cair untuk budidaya ikan lele serta biogas. Untuk hasil sampah anorganik akan dijual kepada pengumpul barang bekas, digunakan sebagai bahan yang dapat diolah untuk berbagai kreasi dan dapat mempunyai nilai ekonomis. Proses ini memerlukan peran aktif dari masyarakat untuk mengelola sampah secara terus menerus sehingga dapat dijadikan contoh untuk tempat-tempat lain.

  17. Studi Eksperimental Pembuatan Ekosemen dari Abu Sampah dan Cangkang Kerang sebagai Bahan Alternatif Pengganti Semen

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Frieska Ariesta Syafnijal

    2013-09-01

    Full Text Available Telah dibuat ekosemen dari bahan abu sampah organik dan abu cangkang kerang. Sampah organik dibakar dengan insinerator pada suhu 1000oC. Abu cangkang kerang dipanaskan dengan furnace pada suhu 700oC. Hasil pengujian komposisi awal XRD (X-Ray Diffraction, Abu sampah organik mengandung 69,7% CaCO3; 12,1% KCl; 4% Cd0.15Gd0.85; 3% SiO2; 8,1% Fe ( Se0.5Te0.5 dan 3% Al2ErGe2, Abu cangkang kerang mengandung 100% CaCO3. Ditentukan tiga variasi jumlah komposisi Abu sampah:Abu cangkang kerang yaitu Ekosemen A (58,2%:40%; Ekosemen B (49,1%:49,1% dan Ekosemen C (54,01%:44,09%. Sebagai variabel kontrol digunakan Semen Portland jenis OPC (Ordinary Portland Cement merek ‘Semen Gresik’. Dilakukan pengujian fisika yaitu kuat tekan mortar dan densitas serbuk. Pengujian XRD dilakukan untuk mengetahui komposisi kimia dari ekosemen. Dari hasil pengujian fisika didapat ekosemen B paling mendekati nilai ‘Semen Gresik’ OPC yaitu kuat tekan 3 hari (7,2 kg/cm2 dan densitas serbuk (2,535 gr/ml.   

  18. PENGARUH VARIETAS DAN SISTEM BUDIDAYA TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI, DAN KANDUNGAN GIZI JAGUNG (ZEA MAYS L.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yukarie Ayu Wulandari

    2016-06-01

    Full Text Available Jagung merupakan bahan pangan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai pangan lokal, pakan, dan bahan baku industri. Mengingat pentingnya jagung, maka perlu adanya upaya untuk peningkatan produktivitasnya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh varietas dan sistem budidaya terhadap pertumbuhan, produksi, dan kandungan gizi jagung. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan petak utama varietas (Srikandi Putih-1 dan Srikandi Kuning-1 dan anak petak sistem budidaya (organik dan inorganik yang diulang lima kali. Hasil menunjukkan bahwa varietas Srikandi Putih-1 memberikan hasil tertinggi pada tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, lingkar batang, pati, dan vitamin A. Varietas Srikandi Kuning-1 memberikan hasil tertinggi pada produksi, protein dan lemak. Sistem budidaya inorganik memberikan hasil tertinggi pada tinggi tanaman, jumlah daun, panjang tongkol, bobot bersih tongkol, bobot pipilan kering, bobot 100 butir, konversihasil/ha, patidan protein. Interaksi varietas Srikandi Putih-1 dengan sistem budidaya organik memberikan hasil tertinggi terhadap jumlah daun, lingkar batang dan kandungan vitamin A. Varietas Srikandi Kuning-1 yang dibudidayakan secara inorganik memberikan hasil tertinggi terhadap bobot bersih tongkol, bobot pipilan kering, bobot 100 butir, konversi hasil ha-1 dan kandungan protein. Kandungan pati tertinggi pada varietas Srikandi Putih-1 yang dibudidayakan secara inorganik, sedangkan kandungan lemak tertinggi pada varietas Srikandi Kuning-1 yang dibudidayakan secara organik.

  19. FINDIK TARIMI YAPILAN TOPRAKLARIN BİYOKİMYASAL AKTİVİTE ÖZELLİKLERİ İLE TOPRAK ÖZELLİKLERİ ARASINDAKİ İLİŞKİLER

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ayten KARACA

    1998-03-01

    Full Text Available Bu araştırmada, Terme - Ünye yöresinde fındık tarımı yapılan topraklarda üreaz, ß- Glikosidaz, asit ve alkali fosfataz enzim aktiviteleri belirlenmiş ve bu aktiviteler ile toprakların bazı önemli özellikleri ile, iz element ve ağır metal içerikleri arasındaki ilişkiler ortaya konulmaya çalışılmıştır. Yapılan regrasyon-korelasyon analiz sonuçlarına göre, üreaz enzim aktivitesi ile organik madde, azot ve ekstrakte edilebilir Cu , asit fosfataz aktivitesi ile organik madde, organik C ve azot arasında pozitif, ekstrakte edilebilir Mn arasında da negatif bir ilişki belirlenmiştir. Ayrıca, alkali fosfataz enzim aktivitesi ile pH, alınabilir P, ekstrakte edilebilir Cu, Zn ve Pb arasında önemli pozitif ilişki bulunmuştur. Toprakların ß-Glikosidaz aktivitesi ile toprak özellikleri arasında C/N oranı ve ekstrakte edilebilir Cd miktarı hariç, hiçbir önemli ilişki bulunamamıştır.

  20. IMPACT OF SRI ORGANIC AS COMMUNITY DEVELOPMENT PROGRAM OF PT MEDCO E&P INDONESIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lita Ayudia Fitriyani

    2015-03-01

    program tanggung jawab sosial sebagai kontribusi untuk masyarakat. Salah satu bentuk dari tanggung jawab sosial adalah program pengembangan masyarakat yang dinilai lebih bermanfaat. System Rice Intensification Organic atau SRI Organik adalah salah satu program pengembangan masyarakat yang dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Tujuan dari penelitian ini adalah 1 mengevaluasi dampak yang diberikan SRI Organik sebagai program pengembangan masyarakat; 2 mengukur tingkat pendapatan petani SRI Organik; 3 menganalisis peluang SRI Organik dimasa depan sebagai program yang mandiri dan berkelanjutan. Dengan melakukan studi kasus kepada program pengembangan masyarakat yang dilakukan PT Medco E&P Indonesia pada dusun Parit 9 kab. Banyuasin, penulis melakukan analisis dan evaluasi dampak dengan menggunakan SEAGA terhadap 20 responden. Hasil dari penelitian tersebut dimaksudkan untuk memberikan masukan agar menjadikan program pengembangan masyarakat yang lebih efektif di masa depan.   Kata kunci: kesejahteraan, tanggung jawab sosial, pengembangan masyarakat, SRI organik, SEAGA

  1. The fines recovery of the phosphoro-uraniferous ores from Itataia-CE

    International Nuclear Information System (INIS)

    Furtado, J.R.V.

    1985-01-01

    Cyclone desliming previous to flotation is one of the determining factors of the concentration performance of phosfate ores. The physical beneficiation of the phosphoro uraniferous ore of Itataia, carried out in the pilot plant, rejects approximately 10,5% P 2 O 5 and 14% U 3 O 8 contained as ''slimes''. The present investigation was to develop a process to recover the fines through the tecniques of flotation and Seletive Floculation. The low P 2 O 5 content and extremely small size of the ''slimes'', led to a low efficiency in the operation of either flotation. The introduction of a Second disliming step swhed promising results. It is work mentioning that the ore presents siliceous-carbonatic gangue and that the direct flotation of phosphates rejects only the silicate portion. Direct flotation followed by reverse flotation of carbonates led to phosphate concentrates containing 28% P 2 O 5 with recoveries of 60%. The results obtained indicate that the fines treatment may lead to increase of 4,5% in overall recovery without decreasing the grade of the final concentrate. (C.D.G.) [pt

  2. Pengaruh Bokhasi Eceng Gondok pada Tanaman Selada (Lactuca sativa L.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Seprita Lidar

    2016-03-01

    Full Text Available Isu pertanian organik akhir-akhir ini memang mulai berkembang kembali dengan semakin banyaknya masyarakat yang menyadari pentingnya kesehatan dan mutu bahan pangan yang dikonsumsi. Selain alasan kesehatan, pertanian organik juga diyakini ramah lingkungan karena dapat meminimalkan penggunaan bahan kimia dalam proses produksinya, karena penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus dengan dosis yang meningkat justru dapat menyebabkan tanah menjadi keras dan keseimbangan unsur hara tanah terganggu.  Permintaan pasar terhadap tanaman sayuran khususnya selada yang biasanya dikonsumsi mentah terus meningkat, apalagi tanaman selada yang dipupuk dengan pupuk organik. Tanah di Kota Pekanbaru tergolong tanah Podsolid Merah Kuning (PMK yang kandungan bahan organik dan unsur haranya relatif rendah, maka salah satu usaha untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan cara pemupukan yang aman bagi tanaman dan tanah yaitu pupuk bokhasi eceng gondok yang mengandung unsur hara N, P dan K, juga memanfaatkan yang ada di lingkungan yang kalau tidak dimanfaatkan akan menyebabkan pencemaran di perairan.  Dari penelitian yang dilakukan pemberian bokhasi eceng gondok berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman selada dengan dosis terbaik adalah 2000 g/m2. Kata Kunci : Selada, Bokhasi, Eceng Gondok.The issue of organic farming lately indeed began to grow back more and more people will realize the importance of health and quality of food consumed. In addition to health reasons, organic farming is also believed to be environmentally friendly because it can minimize the use of chemicals in the production process, due to the use of chemical fertilizers continuously with increasing doses it can cause the soil to be loud and disturbed soil nutrient balance. Market demand for vegetable crops, especially lettuce is usually consumed raw continue to rise, especially lettuce plants are fertilized with organic fertilizer. Land in the city of Pekanbaru classified as

  3. Modeling diffuse phosphorus emissions to assist in best management practice designing

    Science.gov (United States)

    Kovacs, Adam; Zessner, Matthias; Honti, Mark; Clement, Adrienne

    2010-05-01

    A diffuse emission modeling tool has been developed, which is appropriate to support decision-making in watershed management. The PhosFate (Phosphorus Fate) tool allows planning best management practices (BMPs) in catchments and simulating their possible impacts on the phosphorus (P) loads. PhosFate is a simple fate model to calculate diffuse P emissions and their transport within a catchment. The model is a semi-empirical, catchment scale, distributed parameter and long-term (annual) average model. It has two main parts: (a) the emission and (b) the transport model. The main input data of the model are digital maps (elevation, soil types and landuse categories), statistical data (crop yields, animal numbers, fertilizer amounts and precipitation distribution) and point information (precipitation, meteorology, soil humus content, point source emissions and reservoir data). The emission model calculates the diffuse P emissions at their source. It computes the basic elements of the hydrology as well as the soil loss. The model determines the accumulated P surplus of the topsoil and distinguishes the dissolved and the particulate P forms. Emissions are calculated according to the different pathways (surface runoff, erosion and leaching). The main outputs are the spatial distribution (cell values) of the runoff components, the soil loss and the P emissions within the catchment. The transport model joins the independent cells based on the flow tree and it follows the further fate of emitted P from each cell to the catchment outlets. Surface runoff and P fluxes are accumulated along the tree and the field and in-stream retention of the particulate forms are computed. In case of base flow and subsurface P loads only the channel transport is taken into account due to the less known hydrogeological conditions. During the channel transport, point sources and reservoirs are also considered. Main results of the transport algorithm are the discharge, dissolved and sediment

  4. Relation on phitoplankton community with Litopenaeus vannamei productivity in biocrete pond

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    T. Budiardi

    2007-07-01

    Full Text Available ABSTRACTManagement of phytoplankton is generally conducted by controlling the concentration of organic matter, fertilization and water exchange.  Organic materials are from uneaten feed and excretion of shrimp.  By using post facto method it was found four class of phytoplankton in biocrete pond at one cycle rearing of white shrimp (Litopenaeus vannamei.  Population at early rearing period was dominated by Bacillariophyceae (50.4%; 13 species and Cyanophyceae (42.41%; 1 species, followed by Dynophyceae (6.2%; 5 species and Chlorophyceae (1.3%; 1 species.  Increment in phytoplankton density was followed by increment in chlorophyll-a and oxygen from photosynthesis, and productivity was 2132 kg/pond.Keywords: phytoplankton, white shrimp, Litopenaeus vannamei, biocrete pond ABSTRAKPengelolaan fitoplankton umumnya dilakukan dengan mengoptimalkan bahan organik serta pemupukan dan pergantian air. Bahan organik berasal dari pakan buatan yang tidak terkonsumsi (sisa pakan dan ekskresi dari udang. Dengan menggunakan metode post facto selama satu siklus pemeliharaan udang vaname (Litopenaeus vannamei pada tambak biocrete diperoleh empat kelas fitoplankton. Dominasi Bacillariophyceae (50,4%; 13 jenis, Cyanophyceae (42,41%; 1 jenis terjadi pada awal pemeliharaan yang diiukuti oleh Dynophyceae (6,2%; 5 jenis dan Chlorophyceae (1,3%; 1 jenis. Peningkatan kelimpahan fitoplankton secara keseluruhan diikuti oleh peningkatan kandungan klorofil-a dan oksigen hasil fotosintesis total sehingga produktifitasnya mencapai 2132 kg/petakKata kunci: fitoplankton, udang vaname, Litopenaeus vannamei, tambak biocrete

  5. MENGGALI KEKUATAN INTERNAL MASYARAKAT MELALUI ENERGI BARU TERBARUKAN KHUSUSNYA LIMBAH TERNAK SAPI DI DESA WANAJAYA, KECAMATAN WANARAJA, KABUPATEN GARUT – PROVINSI JAWA BARAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sriyanti Sriyanti

    2016-01-01

    Full Text Available Energi baru terbarukan merupakan suatu pengembangan teknologi dalam rangka pemanfaatan sumberdaya alam ataupun non-alami yang dimanfaatkan untuk menjadi suatu energy baru seperti biogas dan listrik. Tenaga listrik merupakan sumber energi yang sangat penting bagi kehidupan manusia baik untuk kegiatan industri,kegiatan komersial maupun kehidupan sehari-hari masyarakat. Termasuk untuk Desa Wanajaya, sebagai desa yang merupakan penghasil ternak khususnya sapi. Desa ini merupakan pilot project dalam pengembangan biomassa menjadi bio gas, namun karena adanya beberapa kendala maka pilot project tersebut tidak berkelanjutan. Pengolahan kotoran ternak menjadi biogas selain menghasilkan gas metan untuk memasak juga mengurangi pencemaran lingkungan, menghasilkan pupuk organik padat dan pupuk organik cair dan yang lebih penting lagi adalah mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian bahan bakar minyak bumi yang tidak bisa diperbaharui. Tujuan kegiatan PKM ini yaitu melakukan tahapan awal di dalam rencana penerapan teknologi tepat guna pemanfaatan kotoran sapi sebagai sumber energi gas dan energi listrik alternatif di Desa Wanajaya, Kec. Wanaraja – Kabupaten Garut. Besarnya produksi kotoran sapi per hari atau per tahunnya menjadi daya tarik dan kekuatan untuk bisa memanfaatkan limbah ternak menjadi biogas dan energi alternatif bagi lingkungan masyarakat local. Selain ketersedian kotoran sapi sebagai modal utama untuk pemanfaatan limbah ternak (kotoran sapi ada factor-faktor lain yang harus diperhatikan, antara lain ; pakan ternak yang digunakan, pengelolaan limbah ternak, jumlah sapi, jarak lokasi timbunan kotoran dengan rumah dan lain-lain. Mengembangkan dan Meningkatkan kemampuan sumberdaya masyarakat didalam pemanfaatan limbah ternak menajdi berbagai alternatif baik sisi energi, biogas dan lainnya

  6. KLASİK ÇÖZÜCÜLERE BİR ALTERNATİF; İYONİK SIVILAR

    OpenAIRE

    KOLANCILAR, Hakan

    2010-01-01

    Organik reaksiyonlar genelde çözücü ortamında yapılır. Son yıllarda yeni bir çözücü sınıfı bulundu ve bunlar iyonik sıvı olarak adlandırılır. Bu çözücüler çoğunlukla oda sıcaklığında sıvıdırlar ve iyonik türlerden oluşurlar. Düşük buhar basınçları, mükemmel kimyasal ve termal kararlılıkları, potansiyel geri kazanımları ve tekrar kullanımları gibi dikkat çekici özelliklere sahiptirler. İyonik sıvılar geniş olarak araştırılmaktadır ve organik sentez, enzimatik kataliz, ayırma işlemleri vb. gibi...

  7. Farklı Otların Otlu Peynirin Biyojen Amin İçeriği ve Bazı Özellikleri Üzerine Etkisi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Seval Andiç, Yusuf Tunçtürk, Issa Javidi Gençcelep

    2015-02-01

    Full Text Available Bu çalıflmada 90 günlük depolama süresi boyunca farklı otların (Allium sp., Ferula sp. and Anthriscus sp.Otlu peynirin bazı özellikleri üzerine etkisi incelenmifltir. Otlu peynir örneklerinin organik asit (formik,laktik, asetik, sitrik, ve bütiric ve biyojen amin (feniletilamin, histamin, tiyramin, kadaverin, putresin,ve triptamin içerikleri belirlenmifltir. Otlu peynirlerde en yüksek miktardaki organik asidin laktik asitve biyojen aminin ise feniletilamin oldu¤u bulunmufltur. Otlu peynirlerin kontrol grubu örneklere göredaha yüksek miktarda feniletilamin ve histamin içerdi¤i tespit edilmifltir. Peynir örnekleri arasında ya¤asitleri açısından istatistiksel olarak önemli bir fark bulunmamıfltır. Toplam mezofililik aerob bakteri,laktik asit bakterisi ve koliform bakteri sayılarının depolama süresi boyunca tüm peynir örneklerindeazaldı¤ı saptanmıfltır

  8. Pengaruh Penambahan Inhibitor Alami terhadap Laju Korosi pada Material Pipa dalam Larutan Air Laut Buatan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ardi Prasetia Yanuar

    2017-01-01

    Full Text Available Korosi merupakan penurunan mutu logam akibat adanya reaksi elektrokimia dengan lingkungannya. Banyak faktor yang dapat menyebabkan korosi suatu material, salah satu diantaranya yakni pengaruh konsentrasi media korosi. Ada banyak metode untuk menghambat proses terjadinya korosi. Salah satu diantara banyak metode yaitu penggunaan inhibitor. Inhibitor organik salah satu jenis inhibitor yang bersifat non-toksik, murah, sudah tersedia di alam, mudah diperbaharui dan tidak merusak lingkungan. Inhibitor organik tersebut diperoleh dengan mengekstrak beberapa bahan yang ada di alam. Dalam penetilitian ini inhibitor yang digunakan antara lain daun jambu biji, daun teh, kedelai dan kopi. Inhibitor tersebut digunakan pada material pipa baja dalam media air laut buatan yang memiliki kadar salinitas 35 ‰. Metode perhitungan laju korosi baja menggunakan metode weight loss dan electroplating. Laju korosi paling kecil yakni sebesar 3.10 mpy untuk API 5L dan 1.94 mpy untuk ASTM A53 dengan inhibitor daun teh. Inhibitor yang kurang maksimal dalam menghambat laju korosi yaitu inhibitor kopi yakni 6.12 mpy untuk API 5L dan 2.66 mpy untuk ASTM A53. Nilai laju korosi spesimen API 5L dan ASTM A53 yang tidak menggunakan inhibitor masing-masing 50.26 mpy dan 3.83 mpy. Inhibitor teh memiliki nilai effisiensi mencapai 93.83%. Sedangkan daun jambu biji memiliki nilai effisiensi mencapai 93.45%. Nilai effisiensi inhibitor kedelai mencapai 91.72% dan inhibitor kopi memiliki nilai effisiensi paling rendah hanya mencapai 87.83%.

  9. STUDI PENDAHULUAN OZONASI (KATALITIK DAN NON KATALITIK LIMBAH CAIR KARBOFURAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Enjarlis Enjarlis

    2012-02-01

    Full Text Available Karbofuran adalah insektisida yang banyak digunakan oleh petani padi di Indonesia. Di perairan karbofuran berpotensi membentuk organoklorida dengan klor atau turunan klor. Oleh sebab itu,   karbofuran  digunakan sebagai objek  penelitian untuk disisihkan dalam air dengan proses ozonasi. Proses ozonasi  mampu menguraikan organik kompleks menjadi sederhana dan  meningkatkan sifat biodegradable. Tujuan penelitian yaitu membandingkan  penyisihan karbofuran  dalam air dengan proses ozonasi non-katalitik dan katalitik menggunakan katalis karbon aktif. Ragam percobaan yaitu pH (2, 7, dan 9 pada  suhu kamar  selama  60 menit.  Analisis konsentrasi karbofuran  menggunakan kromatografi gas dan konsentrasi zat organik  sebagai Chemical Oxigen Deman (COD secara titrasi pada satiap10 menit selama 60 menit. Hasil percobaan memperlihatkan proses ozonasi katalitik dan non-katalitik terbaik  pada kondisi basa (pH 9  dengan penyisihan karbofuran 100 % dan COD turun dari 134 ppm menjadi 38 ppm untuk ozonasi katalitik, sedangkan pada ozonasi non-katalitik penyisihan  karbofuran  46,4 % dan  COD turun menjadi  70 ppm. Perubahan suhu dan pH selama proses baik ozonasi katalitik maupun non-katalitik  tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

  10. KONYA ANA TAHLİYE KANALINDA KLORLU BİLEŞİKLERİN BELİRLENMESİ

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mehmet Emin AYDIN

    2000-03-01

    Full Text Available Konya ana tahliye kanalı Konya ovasının drenaj sularını toplayarak tuz gölüne boşaltmaktadır. Konya ovasında Konya şehri atık sularının tabi bir drenaj noktası bulunmaması sebebiyle kent atıksuları da bu kanala deşarj edilmektedir. Kanal güzergahı boyunca bu drenaj suları ve atık sular sulama suyu olarak kullanılmaktadır. Bazı klorlu organik bileşikler toksik ve kanserojen oldukları bilinen bileşiklerdir. Bu çalışmada Konya atıksularının deşarj edildiği ana tahliye kanalından alınan saatlik, günlük ve aylık numuneler gaz kromotoğraf (GC ile analiz edilerek klorlu organik bileşik içerikleri araştırılmıştır.

  11. DAMPAK FASILITATIF TUMBUHAN LEGUM PENUTUP TANAH DAN TANAMAN BERMIKORIZA PADA SUKSESI PRIMER DI LAHAN BEKAS TAMBANG KAPUR (Facilitative Impacts of Legume Cover-crop and Mycorrhizal-inoculated Plant on Primary Succession of Limestone Quarries

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Retno Prayudyaningsih

    2015-11-01

    Full Text Available ABSTRAK Penambangan batu kapur dengan metode penambangan terbuka yang meliputi penghilangan vegetasi, pengeboran dan pengebomanan untuk mengeksplotiasi material batu kapur mengakibatkan kerusakan ekosistem. Pemulihan secara alami pada lahan tersebut berjalan lambat karena kondisi tapak dalam proses suksesi tidak mendukung perkembangan vegetasi alaminya. Pembentukan pertanaman diduga memfasilitasi kehadiran tanaman lain melalui perbaikan karateristik lingkungan yang rusak dan/atau peningkatan ketersediaan sumber hara. Dampak fasilitatif pembentukan pertanaman tumbuhan legum penutup tanah (Centrosema pubescens dan tanaman bermikoriza (Vitex cofassus dipelajari pada suksesi primer di lahan bekas tambang kapur TNS. Kehadiran tumbuhan alami diukur menggunakan kerapatan individu, keanekaragaman dan jumlah jenis melalui sampling vegetasi dengan metode plot kuadrat secara sistematis berdasarkan tingkat habitusnya. Kondisi tapak diukur berdasarkan ketebalan dan biomasa seresah, kadar bahan organik tanah dan kadar karbon organik tanah. Penelitian dilakukan pada 4 tipe areal di lahan bekas tambang kapur yaitu areal terbuka/kondisi alami tanpa pertanaman, areal pertanaman legum penutup tanah, areal pertanaman tanpa mikoriza dan areal pertanaman bermikoriza. Hasil penelitian menunjukkan pertanaman legum penutup tanah dan pertanaman bermikoriza memperbaiki kondisi tapak lahan bekas tambang kapur. Pembentukan tanaman legum penutup menghasilkan banyak seresahdengan ketebalan 1,08 cm dan biomassa 188,96 g/m2 dan dekomposisi selanjutnya meningkatkan bahan organik tanah sebesar 3,80% dan kandungan karbonorganik sebesar 2,20%. Pembentukan pertanaman juga memberikan dampak yang sama, khususnya yang diinokulasi FungiMikoriza Arbuskula (FMA menghasilkan seresah dengan ketebalan 1,32 cm dan biomassa 220,48 g/m2, dengan kadar bahan organik tanah sebesar 3,66% dan karbon organik tanah sebesar 2,03%. Perbaikan kondisi tapak tersebut mempercepat kehadiran tumbuhan alami

  12. Yan akımlı anaerobik membran biyoreaktör veriminin araştırılması: Sentetik atıksu ve alkollü içki sanayi atıksuyu

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nurdan BÜYÜKKAMACI

    2016-06-01

    Full Text Available Yan akımlı anaerobik membran biyoreaktörlerin verimi yüksek kirliliğe sahip atıksular için laboratuvar ölçekli bir sistem kullanılarak irdelenmiştir. Sistem, yukarı akışlı çamur yataklı anaerobik (UASB reaktör ve ultrafiltrasyon (UF membran modülünden oluşturulmuştur. Sistemin verimi öncelikle seyreltilmiş melastan hazırlanan sentetik atıksu ile farklı hidrolik alıkonma süreleri (1-3 gün ve organik yükleme oranlarında (5-15 kg KOİ/m3.day incelenmiştir. Yapılan deneysel çalışmalar neticesinde, maksimum KOİ giderme verimi (%95 7.5 kg KOİ/m3.gün organik yükleme değerinde (KOİgiriş=15.000 mg/L, HRT=2 gün elde edilmiştir. Organik yükleme değeri 15 kg KOİ/m3.gün değerine çıkartıldığında sistem performansı aniden düşmüştür. Daha sonra, besleme suyu bir alkollü içki sanayi atıksuyu ile değiştirilerek gerçek atıksu ile çalışmalar yürütülmüştür. Bu çalışmada, maksimum toplam sistem verimi ve metan gazı oluşumu sırasıyla %88 ve %74 olarak belirlenmiştir.

  13. HAZRO DADAŞ (DİYARBAKIR KÖMÜRLERİNİN ORGANİK JEOKİMYASAL VE PETROGRAFİK ÖZELLİKLERİ

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Orhan KAVAK

    2015-06-01

    Full Text Available Bu çalışma, Hazro–Dadaş (Diyarbakır mevkiinde yer alan, bölgedeki tek kömür oluşumunun bulunduğu havzada yapılmıştır. Permiyen yaşlı kömürlerin kimyasal, petrografik analizleri yapılmış ve organik jeokimyasal özellikleri değerlendirilmiştir. Kömür kalite değerlendirilmesi, kimyasal (nem, uçucu madde, sabit karbon, kül ve elementer analizler (C, H, O, S, N yapılarak ortaya konmuştur. Hüminit yansıma değerleri organik maddece zengin ve kömürlü düzeylerde % 0.458 ve 1.141 arasında değişmekte olup, düşük olgunluk düzeyine karşılık gelmektedir. Bu parametre flüoresans renkleri, kalorifik değer (ortalama orijinal 3165; kuru 3432 Kcal/kg ve ortalama Tmax (418 oC ile uyumludur. Organik petrografik analizler ve kimyasal analiz verilerine bağlı olarak, Hazro-Dadaş kömürlerinin düşük olgunlaşma derecesi gösterdikleri ve alt-bitümlü kömür, bitümlü kömür kömürleşme derecelerine sahip olduğu belirlenmiştir. Bunun da muhtemelen, örtü tabakalarının kalın olmaması ve dolayısı ile litostatik basınç etkisinin düşük kalması sonucu oluştuğu tahmin edilmektedir. Rock-Eval analiz sonuçları Tip II/III karışımı ve Tip III kerojeni, ortalama 418 oC Teder. Kömürler baskın olarak hüminit maserallerinden meydana gelmekte, egemen olarak gelinit maserali, az miktarlarda da liptinit ve inertinit maseralleri içermektedir. Mineral maddeleri ise başlıca killer, kuvars ve kalsit minerallerdir. Hazro kömürlerinin limnik ortam bataklıklarında oluştuğu düşünülmektedir

  14. Pengaruh Parameter Fisika dan Mikrobiologi Leachet terhadap Kesehatan Lingkungan di TPA Muara Fajar Rumbai Pekanbaru

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Riski Novera Yenita

    2015-11-01

    Full Text Available Secara umum kondisi sampah kota memperlihatkan karakteristik yang khas. Kondisi sampah kota memiliki komposisi terbesar sampah organik dengan nilai rata-rata 79,164%, sedangkan sampah anorganik hanya sebesar 20,836%. Jenis penelitian ini adalah metode survey, dimana TPA Muara Fajar Pekanbaru dijadikan lokasi pengambilan sampel. Sampel yang diambil kemudian dianalisis kadar fisika dan biologi leachet di laboratorium, selanjutnya data yang didapat dilakukan analisis secara deskriptif sesuai dengan SNI 06-2412-1991. Sumber data penelitian yaitu wawancara, observasi dan pemeriksaan laboratorium. Dua kode sampel pada air lindi didapatkan hasil analisis bahwa pada kode sampel I dan II suhu yang didapatkan adalah 25oC. TSS pada kode sampel I didapatkan hasil sebesar 70 mg/l dan kode sampel II 190 mg/l. pH pada kode sampel I dan II didapatkan hasil sebesar 8, sedangkan untuk kadar E.Coli pada kode sampel I dan II didapatkan hasil tidak terhingga. 

  15. INTERAKSI DAN HARMONI UMAT BERAGAMA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Joko Tri Haryanto

    2012-05-01

    Masyarakat Singkawang adalah masyarakat yang terdiri atas berbagai kelompok suku bangsa dan agama. Secara historis, masyarakat Singkawang mampu mem­pertahankan harmoni antar agama. Model interaksi sosial yang bersifat asosiatif tampaknya potensial untuk mendukung harmoni di dalam masyarakat. Ber­dasarkan paradigma fungsional-struktural, masyarakat diasumsikan sebagai sistem organik yang memiliki huungan antar bagiannya untuk mempertahankan masyarakat. Interaksi sosial di dalam masyarakat Singkawang dikembangkan melalui interaksi di dalam lingkup keluarga, lingkungan sekitar, aktifitas ekonomi, para pimpinan agama, dan hubungan di dalam lingkup budaya dan tradisi. Meskipun demikian, hubungan antar unsur masyarakat masih kosmopolitan, yang di dalamnya anggota masyarakat kurang aktif dalam mengembangkan harmoni masyarakat.

  16. Mangan (III) asetatın yeni bir yöntemle hazırlanması, saflığının ve kullanılabilirliğinin araştırılması

    OpenAIRE

    ŞAKIYAN, İffet

    1992-01-01

      Bu çalışmada Mangan bileşikleri arasında bilimsel ve teknik yönden önemi büyük olan Mangan ( III )asetat yeni bir metod geliştirilerek sentezlendi. Mangan(II)asetat susuz asetik asit ortamında PbO? ile yükseltgenerek Mangan(III)asetata dönüştürüldü ve kararlı bir madde olarak ayrılması sağlandı. Susuz ortam çalışmalarında organik maddelerin potansiyometrik metodlarla kantitatif tayinlerinde titrant olarak kullanılmasına ve Mangan(III) komplekslerinin sentezine yöneli...

  17. PENGARUH MOTIVASI KERJA DAN KEADILAN ORGANISASI TERHADAP ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nazmah Nazmah

    2017-08-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh motivasi kerja dan keadilan organisasi terhadap organizational citizenship behaviour (OCB. Populasi penelitian adalah karyawan tetap/organikPT. Summit Oto Finance dengan masa kerja lebih dari dua tahun. Jumlah anggota populasi adalah 61 orang. Dikarenakan jumlah subyek yang terbatas, maka seluruhnya dilibatkan sebagai sampel penelitian (teknik total sampling. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan skala motivasi kerja, skala persepsi keadilan organisas,i dan skalaorganizational citizenship behaviour (OCB. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Analisa data menunjukkanadanya pengaruh  yang signifikan antara motivasi kerja dan keadilan organisasi terhadap organizational citizenship behavior pada karyawan PT. Summit Oto Finance. Variabel motivasi kerja dan keadilan organisasi memiliki kontribusi terhadap organizational citizenship behavior sebesar 54.7%. Secara spesifik diketahui bahwa karyawan PT. Summit Oto Finance memiliki motivasi kerja, persepsi mengenai keadilan organisasi, serta organizational citizenship behavior yang berada di kategori sedang.

  18. Vermikompos Sampah Kebun dengan Menggunakan Cacing Tanah Eudrilus eugeneae dan Eisenia fetida

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Etik Rahmawati

    2016-04-01

    Full Text Available Durasi yang panjang diperlukan dalam pengomposan konvensional sampah organik yang memerlukan waktu selama 2-3 bulan. Pengurangan waktu pengomposan dapat dilakukan dengan digunakannya cacing sebagai dekomposer. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat degradasi sampah kebun menggunakan proses vermikomposting dan menentukan pengaruh jenis cacing Eudrilus eugeneae dan Eisenia fetida. Empat reaktor berukuran 8 L digunakan dalam penelitian ini. Percobaan dilakukan secara duplo selama 60 hari. Parameter yang dianalisis pada penelitian ini adalah ammonia nitrogen (NH3-N, nitrat nitrogen (NO3-N, Total Kjeldahl Nitrogen (TKN, dan C/N. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat degradasi sampah kebun dengan pengolahan vermikomposting yang dapat dicapai adalah 64,94-72,52%. Produksi kompos yang lebih tinggi dengan penggunaan Eisenia fetida.

  19. 2008 Chinese Milk Products Crisis

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rini Ariani Basyamfar

    2014-10-01

    Abstrak. Susu merupakan salah satu produk pangan yang paling penting untuk pertumbuhan anak-anak dan kesehatan. Melamin (2,4,6-triazina-1,3,5-triamino adalah senyawa organik yang digunakan dalam pembuatan pestisida, plastik, pembersih, dan disinfektan. Melamin ketika ditambahkan ke susu meningkatkan jumlah keseluruhan nitrogen dalam susu sehingga mengelabui tes umum untuk kandungan protein. Melamin juga sangat berbahaya bila tertelan, terutama untuk anak-anak. Sanlu, salah satu produsen susu terbesar di China, mengencerkan produk susu mereka dengan air dan menambahkan melamin untuk mengelabui tes protein. Konsumsi susu yang mengandung melamin dalam jumlah yang lebih besar dari 1 mg/kg dapat menyebabkan gagal ginjal, kanker kandung kemih dan kematian. Pengujian susu menggunakan LC-MS/MS dan metode GC-MS/MS dapat mengungkapkan kontaminasi melamin. Tindakan lebih lanjut yang dapat diterapkan untuk mengurangi pemalsuan susu antara lain penelusuran produk, transparansi perusahaan, 100% prosedur pengujian produk dan penegakan hukum yang konsisten.

  20. Yeşilırmak Nehir Teraslarında Toprakların Oluşumu ve Sınıflandırılması

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Alper Durak

    2014-02-01

    Full Text Available Bu çalışmada ana materyali alüviyaller olan, Yeşilırmak nehir terasları üzerinde oluşmuş topraklar incelenmiştir. Bu amaçla çalışma alanında 4 farklı profil açılmıştır. Açılan profillerden horizon esasına göre toplam 27 adet örnek alınmış ve laboratuvarda fiziksel ve kimyasal analizleri yapılmıştır. Tanımlanan profiller Toprak Taksonomisi’ne göre, Alt grup düzeyinde; Kum Ocağı ve Çakıl profilleri Typic Ustipsamments, Havaalanı profili Typic Haplustolls ve Mera profili ise Typic Argiustolls olarak sınıflandırılmıştır. Toprakların pH değerleri 7,38-8,41 arasında değişmekte olup, topraklar hafif ve kuvvetli bazik reaksiyonlu olarak sınıflandırılmıştır. Toprakların çoğunda, pH değerleri profil içinde düzensiz olarak dağılmıştır. Bir kısmında is pH değerlerinde derinliğe bağlı olarak artış görülmüştür. Çalışma alanı topraklarında kireç %0,8-25,4 arasında değişmiştir. Toprakların kireç içerikleri geniş sınırlar içinde değişmesine rağmen, büyük çoğunluğu fazla kireçli olarak sınıflandırılmıştır. Toprakların önemli bir kısmında, kireç profil içinde düzensiz olarak dağılmıştır. Topraklarda organik madde içeriği %0,14-6,11 arasındadır. Toprakların organik madde içerikleri geniş sınırlar içerisinde değişim göstermesine rağmen, büyük çoğunluğunun organik madde içeriği düşük düzeydedir. Organik madde içeriği sadece iki profilin yüzey horizonlarında %4’ün üzerindedir. Çalışma sonunda alüviyal ana materyal, tekstür, topoğrafya ve zamanın; tanımlanan toprakların oluşumunu farklı derecede etkilediği ortaya konmuştur.

  1. POMPA AIR BERTENAGA HIBRID UNTUK IRIGASI TANAMAN BUAH NAGA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Danar Susilo Wijayanto

    2016-12-01

    Full Text Available Pemanfaatan angin dan radiasi matahari sebagai sumber energi bisa mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan bahan bakar fosil, mengurangi biaya operasional dalam jangka panjang, dan mendukung konservasi sumber daya alam. Pengabdian ini menerapkan penggunaan sumber energi terbarukan untuk pompa air yang digunakan sebagai sumber irigasi tanaman buah dan sayuran pada pertanian organik di Balai Percontohan Pertanian (BPP Ngasinan, Kelurahan Beji, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri. Teknologi hibrid menggabungkan turbin tenaga angin dan sel surya untuk memberikan pasokan listrik kepada pompa yang mengangkat air dengan Total Dynamic Head (TDH 12 meter. Sistem hibrid turbin angin dan solar sel mampu menghidupkan pompa air, sehingga pompa bisa mengalirkan air dari sumur ke tandon air. Sistem irigasi tetes dari tandon ke tanaman buah naga menyebabkan tanaman selalu lembab, sehingga mengurangi resiko kekeringan dan penyakit tanaman.

  2. PERAN MIKROBA STARTER DALAM DEKOMPOSISI KOTORAN TERNAK DAN PERBAIKAN KUALITAS PUPUK KANDANG (The Role of Microbial Starter in Animal Dung Decomposition and Manure Quality Improvement

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Cahyono Agus

    2014-10-01

    Full Text Available ABSTRAK Pupuk organik perlu didekomposisi oleh mikroba dan memerlukan lingkungan yang sesuai agar cepat matang sempurna dan tidak memberikan dampak negatif pada aspek sosial, estetika maupun kesehatan pada makluk hidup dan lingkungan. Dekomposisi bahan pupuk organik dilakukan dengan menggunakan kotoran sapi, dengan 2 perlakuan mikroba (tanpa dan dengan mikroba starter dan 3 variasi waktu, yaitu 0, 6 dan 24 jam setelah diberi mikroba starter. Analisis meliputi  uji fisik bahan pupuk yang meliputi pH, warna, aroma, lengas, dan DHL,  uji mikroba patogen (Eschericia. coli dan Salmonella pada pupuk, pengujian kandungan hara pupuk total (C, N, P, K, Ca, Mg, Na, S, Cd, Cr, B, Fe, Cu, Zn  dan Ntersedia (NH4 dan NO3,  serta analisis emisi gas amonia (NH3, oksigen (O2, karbon monoksida (CO, karbon dioksida (CO2, metana (CH4, NOx, NO, dan SO2. Mikroba starter mengandung mikrobia dan unsur hara yang sangat diperlukan dalam proses dekomposisi bahan organik. Pupuk kandang sapi setelah aplikasi  mikroba starter masih mengandung E. coli dan Salmonella sp. yang cenderung menurun seiring dengan lama waktu inkubasi. Terjadi dinamika kandungan unsur-unsur hara seperti P, K, Mg, Fe dan Cu serta logam berat Cr selama proses inkubasi baik pada pupuk kandang ayam maupun sapi. Dengan perlakuan mikroba starter, bagian senyawa sulfur dari bahan organik banyak yang terombak menjadi gas SO2 yang relatif tidak berbau, dan sebaliknya H2S serta senyawa reduktif sulfida lainnya menjadi terhambat pembentukannya. Perombakan dengan  mikroba starter sebaiknya diupayakan dalam suasana aerobik atau dengan suasana lembab tetapi tidak sampai anaerobik sehingga kehadiran senyawa H2S dan senyawa sulfur reduktif lainnya dapat dikurangi atau tidak terbentuk. Hasil penelitian ini menunjukkkan pentingnya penggunaan mikroba starter optimal dan benar untuk memperbaiki kandungan nutrisi dan kualitas pupuk kandang.   ABSTRACT Process of decomposition of organic fertilizer relies on the

  3. HÜMİK ASİT VE HÜMİK ASİT KAYNAKLARININ ÖNEMİ

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Faruk AY

    2014-10-01

    Full Text Available İnsanoğlu tarımsal alanda verimi arttırmak ve kaliteli ürün elde etmek için çok eski çağlardan günümüze değin bir çaba içerisindedir. Bu amaca yönelik olarak kimyasal gübre kullanımı uzun zamandan beri başvurulan yöntemlerden biridir. Kimyasal gübreleme ile bitkiler bazı inorganik besin maddelerini bu yolla temin edebilmekte fakat toprağa karıştırılan kimyasal gübreler bitki tarafından yeterince kullanılamamakta, bitki tarafından kullanılmayan kısım yağmur, kar ve sulama suyu vasıtasıyla topraktan uzaklaşıp yer altı kaynak sularına, denizlere, göllere karışarak önemli ekolojik sorunlara neden olmaktadır. Bu nedenle tarımda organik madde kullanımı giderek önem kazanmaktadır. En önemli toprak organik maddelerinden olan hümik asit ve fulvik asidin bitki gelişimi üzerindeki yararlı etkileri yapılan pek çok araştırmayla belirlenmiştir. Bu hümik maddelerin toprağın fiziksel, kimyasal ve mikrobiyolojik özelliklerini, dolayısıyla da bitki gelişimini etkilediği bilinmektedir.Ülkemizin birçok bölgesinde linyit ve turba rezervleri bulunmaktadır. Türkiye’de yaklaşık 8,4 milyar ton linyit rezervi saptanmıştır. Bu tür kömürler genellikle ısınma ve Hidroelektrik Santrallerinde kullanılmaktadır. Ancak bu yöntemlerde kullanılan linyitlerden fazla miktarda verim sağlanamamaktadır. Topraklarımızın kimyasal gübreler sonucu oluşan deformasyonunu ve verimini artırmak için, ülkemizin birçok alanında bulunan özellikle düşük kalorili linyit yataklarının ekonomik açıdan değerlendirilmesi ve ülkemizin topraklarının zenginleştirilmesi için gerekli olan organik gübre (Hümik Asit üretiminde kullanılması daha yararlı olacağı görüşü gittikçe dikkat çekici olmaktadır.Anahtar Kelimeler: Linyit, hümik asit, fülvik asit, organik gübre.

  4. Studi Efisiensi Penyisihan COD dalam Lindi dengan Sistem Evapotranspirasi Menggunakan Tumbuhan Sente (Alocasia macrorrhiza dan Rumput Belulang (Eleusine indica

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Badrus Zaman

    2017-11-01

    Full Text Available COD dalam lindi merupakan salah satu parameter yang secara umum berada pada konsentrasi yang tiggi sebagai salah satu hasil biodegradasi material organik dan anorganik dalam sampah di TPA. Sistem evapotranspirasi yang menggunakan tumbuhan lokal merupakan salah satu sistem yang menjanjikan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui efisiensi penyisihan COD dalam lindi dengan reaktor evapotranspirasi secara kontinyu yang menggunakan tumbuhan Tumbuhan Sente (Alocasia macrorrhiza dan Rumput Belulang (Eleusine indica. Hasil uji menunjukkan efisiensi pada semua reaktor mulai sekitar hari ke 3 hingga hari ke 25 mengalami fluktuasi yang cenderung menurun (dari ± 75% menjadi ± 50%, tetapi hari selanjutnya cenderung meningkat. Pola tersebut dipengaruhi oleh peran media tanam, bakteri dalam media tanam, bakteri pada akar tumbuhan dan aktivitas metabolisme tumbuhan uji. Secara keseluruhan reaktor yang menggunakan Tumbuhan Sente (Alocasia macrorrhiza lebih fluktuatif dibandingkan denga menggunakan Rumput Belulang (Eleusine indica yang dipengaruhi pola pertumbuhan dan perkembangannya.

  5. FOTODEGRADASI ZAT WARNA TARTRAZIN LIMBAH CAIR INDUSTRI MIE MENGGUNAKAN FOTOKATALIS TiO2 - SINAR MATAHARI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dian Windy Dwiasi

    2014-05-01

    Full Text Available Salah satu dampak negatif perkembangan industri mie di Indonesia adalah timbulnya pencemaran lingkungan dari limbah cair industri mie yang masih mengandung zat organik seperti zat warna tartrazin. Penurunan kadar zat warna tartrazin dalam limbah cair mie dapat diupayakan dengan cara mendegradasi zat warna tartrazin melalui proses fotodegradasi dengan metode fotokatalis. Pada penelitian ini telah dilakukan fotodegradasi zat warna tartrazin dalam limbah cair mie menggunakan fotokatalis TiO2. Perlakuan meliputi pengaruh variasi waktu kontak dan pH terhadap aktivitas fotokatalis TiO2 menggunakan sinar UV dan sinar matahari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fotokatalitik yang terbaik untuk TiO2 adalah pada kondisi limbah cair mie dengan pH 2, dan waktu kontak 1 jam. Persentase penurunan kadar tartrazin dengan menggunakan lampu UV adalah sebesar 56,81%, sedangkan dengan penyinaran sinar matahari sebesar 61,64 %.

  6. Senyawa Bufadienolida yang bersifat Insektisida, Daigremontianin dari daun Cocor Bebek (Kalanchoe daigremontiana

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tri Mayanti

    2017-03-01

    Full Text Available Dalam penelitian berkelanjutan untuk pencarian senyawa-senyawa yang bersifat insektisida daritanaman Kalanchoe (Cocor bebek Indonesia, diperoleh hasil bahwa ekstrak metanol daun Cocorbebek (Kalanchoe daigremontiana memberikan aktivitas insektisida yang kuat terhadap instar ke tigalarva ulat sutera (Bombyx mori. Ekstrak metanol yang diperoleh selanjutnya dipisahkan senyawasenyawanyamenggunakan partisi dengan pelarut organik dan kombinasi kolom kromatografi padasilika gel dan ODS sehingga dihasilkan satu senyawa aktif insektisida. Struktur kimia senyawa yangbersifat insektisida tersebut ditentukan dengan metoda spektroskopi dan perbandingan data spektrasenyawa analog yang telah diperoleh dari penelitian sebelumnya sehingga senyawa aktif insektisidatersebut diidentifikasikan sebagai senyawa turunan bufadienolida, daigremontianin. Daegremontianinmenunjukkan aktivitas insektisidal yang kuat terhadap instar ke tiga ulat sutera (Bombyx mori denganLD50 0,9 μg/g diet.

  7. Potensi Daur Ulang dan Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah di Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rezi Adriwan Giandi Iskandar Sumantri

    2015-03-01

    Full Text Available Tujuan penelitian ini adalah menentukan potensi timbulan sampah organik, potensi daur ulang dan menentukan rekomendasi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah di Kecamatan Jabon. Penelitian ini dilakukan pada 2 aspek yaitu aspek teknis dan aspek masyarakat. Untuk aspek teknis melakukan sampling timbulan, komposisi dan densitas sampah rumah tangga, sentra industri tempe dan kerupuk, peternakan ayam dan bebek. Sedangkan untuk aspek masyarakat menyebarkan kuisioner yang berisikan kategori pengetahuan, sikap dan perilaku yang kemudian akan diolah dengan metode likert scale dan chi kuadrat. Jumlah responden rumah tangga berjumlah 100 KK yang tersebar di 3 desa. Rata-rata timbulan sampah yang dihasilkan untuk sampah rumah tangga adalah 0,27 kg/org/hari, sentra industri tempe 28.639,16 kg/hari, sentra industri kerupuk 9.766,83 kg/hari, peternakan ayam 166,70 kg/hari dan peternakan bebek 630,15 kg/hari.

  8. THE EFFECT OF PICLORAM AND LIGHT ON SOMATIC EMBRYOGENESIS REGENERATION OF PINEAPPLE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ika Roostika

    2012-10-01

    embriogenesis somatik nenas. Kalus diinduksi menggunakan pikloram (21, 41, dan 62 μM dan penambahan thidiazuron 9 μM. Selanjutnya, kalus dipindahkan ke media MS atau Bac yang diperkaya dengansenyawa N-organik dengan atau tanpa penambahan pikloram 21 μM dalam kondisi gelap atau dengan pencahayaan. Kalus kompak disubkultur pada media MS yang mengandung kinetin 4,65 μM, sedangkan kalus remah dipindahkan ke media BIG (MS modifikasi + bensil adenin 1.1 μM + indole butyric acid 0,9 μM + giberelic acid 0,09 μM atau media B (MS + bensil adenin 0,018 μM. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa tahapan embriogenesis somatik diawali dengan polarisasi sel, pembelahan asimetris, pembentukan proembrio sebagai jaringan embriogenik danjaringan embriogenik remah, serta perkembangan embrio. Perlakuan terbaik untuk induksi kalus adalah pikloram 21 μM. Penambahan pikloram 21 μM pada media yang diperkaya dengan senyawa N-organik mampu meningkatkan jumlah kalusembriogenik. Media Bac yang diperkaya senyawa N-organik dan kondisi pencahayaan menghasilkan jumlah embrio somatik dewasa terbanyak (17 embrio per eksplan dalam 2 bulan. Media B lebih baik daripada media BIG untuk regenerasi embrio somatik dari jaringan embriogenik remah. Metode embriogenesis somatik yang dihasilkan dari penelitian ini berpotensi diterapkan untukperbanyakan massal dan produksi benih nenas.

  9. Effects Of pH, Temperature And Salinity In Growth And Organic Acid Production Of Lactic Acid Bacteria Isolated From Penaeid Shrimp Intestine

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Subagiyo Subagiyo

    2015-12-01

    Full Text Available Bakteri asam laktat telah lama dikembangkan sebagai probiotik. Penentuan kondisi lingkungan yang optimum untuk pertumbuhan sel serta asam organik memberikan gambaran aktivitas optimum untuk kinerja probiotik baik dalam sistem fisiologi inang maupun dalam sistem bioproses untuk produksi sel dan metabolit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan (pH, suhu dan salinitas terhadap pertumbuhan dan produksi total asam organik tiga isolat bakteri asam laktat yang telah diseleksi dari intestinum udang penaeid. Eksperimen menggunakan  medium deMan, Rogosa and Sharpe (MRS cair. Perlakuan pH awal meliputi  nilai pH 4, 5 dan 6. Perlakuan suhu meliputi suhu 25, 30 dan 35OC serta perlakuan salinitas  meliputi salinitas 0,75 %, 1,5 % dan 3 %.  Setiap interval 6 jam dilakukan pengambilan sampel kultur bakteri dan penghitungan pertumbuhan berdasarkan perubahan optical density (pada panjang gelombang 600 nm sedangkan produksi asam laktat dianalisis dengan metode titrimetrik menggunakan NaOH 1 N sebagai larutan titrasinya. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa suhu, pH awal dan salinitas berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi asam organik. Nilai kondisi lingkungan terbaik untuk pertumbuhan dapat berbeda dengan nilai terbaik untuk produksi asam organic. Hal ini ditunjukan oleh nilai laju pertumbuhan dan produksi asam laktat tertinggi dari tiga isolat uji terjadi pada suhu, pH awal dan salinitas yang berbeda.  Isolat L12 tumbuh optimum pada suhu 30oC, pH awal 6 dan salinitas 0,75%. Isolat L14 tumbuh optimum pada suhu 30oC, pH awal 6 dan salinitas 1.5%. Isolat L 21 tumbuh optimum pada suhu 30 oC, pH awal 6 dan salinitas 1.5%. Kata kunci: bakteri asam laktat, suhu, pH, salinitas, asamorganik, pertumbuhan, Lactic acid bacteria are widely distributed in intestinal tracts of various animals where they live as normal flora.Strains of lactic acid bacteria are the most common microbes employed as probiotics, The optimum

  10. Limon Ekşisi Üretimi Üzerine Bir Araştırma

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Filiz Uçan

    2015-02-01

    Full Text Available Bu çalışmada, limon ekşisi açık kazanda ve vakum altında olmak üzere iki farklı yöntemle üretilmiş, limon ekşilerinin bazı fiziksel ve kimyasal özellikleri incelenmiştir. Limon suyunun, limon ekşisine işlenmesiyle pH değerlerinde yaklaşık %50 azalma, titrasyon asitliğinde ise yaklaşık 8-10 kat artış belirlenmiştir. Açık kazanda üretilen limon ekşisi örneklerinde askorbik asit içeriği kaybının, vakumda üretilenlere göre %48.36 daha fazla olduğu belirlenmiştir. Limon ekşisi örneklerinde en yüksek toplam fenolik ve karotenoid madde içeriği açık kazanda üretilenlerde tespit edilmiştir. Her iki yöntem ile üretilen örneklerin L* ve Hueo değerlerinde azalışlar, a*, b* ve Croma* değerlerinde ise artışlar olmuştur. En yüksek esmerleşme indeksi ve HMF (hidroksimetilfurfural miktarı, açık kazanda üretilen örneklerde, en yüksek antioksidan aktivite değeri ise vakumda altında üretilen örneklerde tespit edilmiştir. Limon ekşisi örneklerinde tartarik, kuinik, okzalik, malik, sitrik ve süksinik olmak üzere 6 adet organik asit belirlenmiştir. Organik asit içerikleri en fazla vakum altında üretilen limon ekşisi örneklerinde belirlenmiştir.

  11. KONDISI SIFAT FISIK DAN KIMIA TANAH PADA BEKAS TAMBANG NIKKEL SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN TRENGGULI DAN MAHONI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Merryana Kiding Allo

    2017-06-01

    Full Text Available Mining activities through land clearing, dredging and backfilling will lead to changes in the ecosystem. Land conditions badly damaged among other unproductive, high erosion and loss of top soil layer of soil. The physical properties of the soil pH is acid soil, the texture increased dust causes soil compacted is difficult to be processed and chemical properties of the soil decreased to lower and lower, that it can not support the root system of plants and would affect the plant growth is not normally. The need for nutrients origin of organic fertilizers and inorganic fertilizers combined with the planting hole and alcosorb can spur the growth of trengguli and mahoni that is expected to speed up the recovery process mined lands of nickel. Planting  trengguli and mahogany produced by percentage grew to 95% by using a experiments using completely randomized design (CRD with a combination of the size of the hole, the dosage of fertilizer and alcosorb on trengguli and mahoni plants produce the best height and diameter growth on the kind trengguli obtained from treatment of the planting hole size 0.30 mx 0.40 mx 0.30 m ( A2 15 kg of organic fertilizer (B3 with alcosorb 3 gr and the best diameter growth in mahoni generated by the use of manure dosage of 7.5 kg and 7.5 gr NPK (B2. Kegiatan penambangan secara land clearing, pengerukan dan penimbunan  akan menyebabkan perubahan ekosistem. Kondisi lahan rusak berat antara lain tidak produktif, terjadi erosi berat dan hilangnya lapisan top soil tanah. Sifat fisik fisik pH tanah menjadi masam, tekstur debu meningkat menyebabkan pemadatan tanah sukar diolah dan sifat kimia tanah menurun menjadi makin rendah, sehingga tidak dapat mendukung sistem perakaran tanaman dan akan berdampak pertumbuhan tanaman tidak normal. Kebutuhan akan unsur hara asal pupuk organik maupun pupuk anorganik yang dikombinasikan dengan lubang tanam dan alcosorb dapat memacu pertumbuhan tanaman jenis trengguli dan mahoni yang

  12. Organic Waste Anaerobic degradation with bio-activator-5 Effective Microorganism (EM-5 to Produce Biogas

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Metri Dian Insani

    2014-06-01

    Full Text Available Degradasi Anaerob Sampah Organik dengan Bioaktivator Effective Microorganism-5 (EM-5 untuk Menghasilkan Biogas Abstract: The purpose of this study was to: (1 analyze the differences in the use of corn cobs, kelaras bananas and banana peel with the addition of cow manure to biogas pressure, (2 analyze the differences in the use of corn cobs, kelaras bananas and banana peel with the addition of cow dung for a long time flame biogas produced, and (3 analyze the different uses corn cobs, kelaras bananas and banana peel with the addition of cow manure to the C / N ratio end. Experimental study was designed using a completely randomized design (CRD, with three treatments each in 3 repetitions. The research proves that: (1 there is a difference corncobs, kelaras bananas and banana peel with the addition of cow manure to biogas pressure, (2 there is a difference corncobs, kelaras bananas and banana peel with the addition of cow manure to the length of time the flame and (3 there is a difference corncobs, kelaras bananas and banana peel with the addition of cow manure to the C / N ratio end. Key Words: anaerobic degradation, organic waste, EM-5, biogas Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1 menganalisis perbedaan penggunaan tongkol jagung, kelaras pisang, dan kulit pisang dengan penambahan kotoran sapi terhadap tekanan biogas, (2 menganalisis perbedaan penggunaan tongkol jagung, kelaras pisang, dan kulit pisang dengan penam-bahan kotoran sapi terhadap lama waktu nyala api biogas yang dihasilkan, dan (3 menganalisis per-bedaan penggunaan tongkol jagung, kelaras pisang, dan kulit pisang dengan penambahan kotoran sapi terhadap rasio C/N akhir. Penelitian eksperimen didesain menggunakan rancangan acak lengkap (RAL, dengan tiga perlakuan masing-masing dalam 3 kali ulangan. Hasil penelitian membuktikan bahwa: (1 terdapat perbedaan tongkol jagung, kelaras pisang, dan kulit pisang dengan penambahan kotoran sapi terhadap tekanan biogas, (2 terdapat

  13. Karakter Morfologi dan Pertumbuhan Tiga Jenis Cacing Tanah Lokal Pekanbaru pada Dua Macam Media Pertumbuhan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dewi Indriyani Roslim

    2013-03-01

    Full Text Available Limbah organik dari limbah rumah tangga, pertanian, perkebunan, dan peternakan sering menimbulkan masalah, karena mencemari lingkungan. Cacing tanah dapat menggunakan limbah organik tersebut sebagai media pertumbuhannya dan juga merombaknya menjadi pupuk kasting. Penelitian ini bertujuan menganalisis pertumbuhan tiga jenis cacing tanah yang ditemui di kota Pekanbaru pada dua media pertumbuhan. Tiga jenis cacing tanah yang diteliti adalah Amynthas aspergillum (Cacing Gila Bodoh, Perionyx sp1 (Cacing Merah, dan Perionyx sp2 (Cacing Susu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Faktorial Lengkap. Masing-masing cacing tanah ditumbuhkan pada dua media, yaitu serasah dan campuran kotoran sapi+tanah, di dalam pot plastik. Medium tanpa cacing tanah digunakan sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan cacing tanah Amynthas aspergillum (Cacing Gila Bodoh, Perionyx sp1 (Cacing Merah, dan Perionyx sp2 (Cacing Susu memiliki perbedaan karakter morfologi pada panjang tubuh, warna kulit, jumlah segmen, tipe prostomium, jumlah seta per segmen, warna dan posisi klitellum, posisi dan jumlah lubang jantan. Medium campuran kotoran sapi+tanah lebih cocok untuk pertumbuhan Perionyx sp2 (Cacing Susu, media serasah untuk pertumbuhan Amynthas aspergillum (Cacing Gila Bodoh, dan media kotoran sapi saja tanpa penambahan tanah untuk Perionyx sp1 (Cacing Merah.Organic waste produced from household, agriculture, plantation, and animal husbandry may cause environmental pollution. Earthworms can utilize this organic waste for their growth medium and decompose them to produce casting fertilizer. The objective of this study was to analyze the growth of three earthworm species from Pekanbaru using two types of media, i.e. Perionyx sp1 (Cacing Merah, Perionyx sp2 (Cacing Susu, and Amynthas aspergillum (Cacing Gila Bodoh. All these earthworms were grown in litter media and manure-soil mixture. Media without the earthworms were used as control. The experiment design used in this

  14. Pemanfaatan Limbah Daun Kelapa Sawit sebagai Bahan Baku Pupuk Kompos

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ramayanty Bulan

    2016-10-01

    Full Text Available Abstrak. Limbah padat pada perkebunan kelapa sawit telah diketahui potensial sebagai bahan baku pupuk organik padat melalui proses pengomposan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan teknik dan mengkarakterisasi proses pengomposan limbah daun kelapa sawit sebagai bahan dasar pupuk organik potensial. Proses pengomposan dilakukan dengan dua faktor perlakuan, meliputi komposisi bahan katalisator kompos (Bokashi, Vermikompos dan Natural dan ukuran cacahan daun sawit (2 cm, 4 cm 6 cm. Parameter yang diamati meliputi persentase penyusutan massa dan fluktuasi perubahan suhu selama proses pengomposan, serta pengukuran zat hara Nitrogen, Phospor, Kalium (NPK dan rasio C/N yang terkandung pada hasil pengomposan yang diukur setelah 10 dan 14 minggu proses pengomposan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengomposan dengan bokashi memberikan penyusutan massa terbesar jika dibandingkan dua metode lainnya pada semua ukuran cacahan yaitu sebesar 32%. Cacahan daun sawit yang berukuran kecil cenderung memberikan proses pengomposan yang lebih cepat dan memberikan produk kompos yang lebih baik. Hasil pengukuran setelah proses pengomposan menunjukkan bahwa interaksi dua faktor perlakuan yang diberikan hanya berpengaruh signifikan pada rasio C/N dan tidak signifikan pada zat hara NPK.   Utilization of Waste Palm Leaves as Raw Material Palm Compost Abstract. The use of oil palm plantation solid waste, particularly oil palm leaf as organic compost raw material are now receiving greater attention by researchers, but have not been fully utilized on large scale, either agriculturally or industrially. The aim of present study was to characterize composting process with oil palm leaf as raw material. The research of composting conducted with two combination of composting factor, namely: composting starter composition (i.e. Bokashi, vermi-compost and natural composting and piece of frond dimension (2 cm, 4 cm, 6 cm. The percentage of mass reduction and temperature

  15. STUDI EKSPERIMEN PEMILIHAN BIOMASSA UNTUK MEMPRODUKSI GAS ASAP CAIR ( LIQUID SMOKE GASES SEBAGAI BAHAN PENGAWET

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sugeng Slamet

    2015-04-01

    Full Text Available ABSTRAK Pengertian umum asap cair merupakan suatu hasil destilasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran tidak langsung maupun langsung dari bahan yang banyak mengandung karbon dan senyawa- senyawa lain. Bahan baku yang banyak digunakan untuk membuat asap cair adalah kayu, bongkol kelapa sawit, ampas hasil penggergajian kayu, dan lain-lain. Pembuatan asap cair menggunakan metode pirolisis yaitu peruraian dengan bantuan panas tanpa adanya oksigen atau dengan jumlah oksigen yang terbatas. Biasanya terdapat tiga produk dalam proses pirolisis yakni: gas, pyrolisis oil, dan arang, yang mana proporsinya tergantung dari metode pirolisis, karakteristik biomassa dan parameter reaksi. Metode yang dilakukan diawali dengan melakukan rancang bangun unit pirolisator lengkap dengan perangkat kondensor dengan pipa tembaga tipe spiral untuk memproduksi gas asap cair dari bahan biomassa yang dipilih yaitu tempurung kelapa dan sampah organik. Metode Pirolisis yang merupakan proses reaksi penguraian senyawa-senyawa penyusun kayu keras menjadi beberapa senyawa organik melalui reaksi pembakaran kering pembakaran tanpa oksigen. Reaksi ini berlangsung pada reaktor pirolisator dengan variasi temperatur 150oC, 250oC dan 300oC selama 8 jam pembakaran. Asap hasil pembakaran dikondensasi dengan kondensor yang berupa pipa tembaga melingkar. Hasil dari proses pirolisis diperoleh tiga produk yaitu asap cair, tar, dan arang. Kondensasi dilakukan dengan pipa atau koil melingkar yang dipasang dalam bak pendingin. Air pendingin dapat berasal dari air hujan yang ditampung dalam bak penampungan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah biomassa tempurung kelapa menghasilkan jumlah senyawa fenol lebih besar 30-33%. Hal ini menunjukkan bahwa pada jenis biomassa ini lebih unggul dalam fungsi sebagai antioksidan, karena kaya akan kandungan senyawa fenol, sehingga lebih optimal dalam hal menghambat kerusakan pangan dengan cara mendonorkan hidrogen. Sedangkan biomassa cangkang

  16. Analisis Kualitas Batu-bata Bersumber Bahan Tambahan Sampah Serbuk Gergaji dalam Berbagai Variasi Berat

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Slamet Mulyati

    2017-11-01

    Full Text Available Latar belakang: Serbuk gergaji kayu merupakan salah satu sumber sampah organik yang belum banyak dimanfaatkan. Keberadaannya tidak jauh di sekitar kita, relatif murah dan mudah mendapatkannya. Di beberapa negara luar seperti Uganda, Algeria, India dan lain-lain memanfaatkan serbuk gergaji ini untuk berbagai keperluan diantaranya sebagai bahan campuran batu-bata, pembentuk polimer selulosa nitrat, dan bahan adsorben polutan organik phenol. Penelitian sebelumnya memanfaatkan serbuk gergaji sebagai bahan tambahan campuran batu-bata (kaolin, tanah liat, serbuk gergaji dengan rasio 90:70:40. Metode: Penelitian ini merupakan eksperimen semu. Selanjutnya penulis tertarik untuk mengembangkan penelitian tersebut, untuk serbuk gergaji dibuat variasi berat bahannya, sementara yang lainnya tetap. Ukuran batu-bata dirancang berukuran 10,00 x 5,00 x 2,00 cm. Untuk mengetahui kualitas batu-bata yang dihasilkan, penulis melakukan analisis kualitas terhadap batu-bata yang dihasilkan dengan berbagai variasi berat tersebut. Kualitas yang diuji baru pada tahapan daya serap air dan kandungan garam. Selain uji kualitas batu-bata juga dilakukan analisis valuasi ekonominya. Penelitian ini dilakukan pada skala laboratorium dengan harapan dapat dijadikan bahan acuan apabila akan diaplikasikan di lapangan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi berat serbuk gergaji antara rasio 20:70:90 dan 40:70:90 menunjukkan ada perbedaan peringkat rata-rata yang bermakna dalam hal daya serap batu-bata terhadap air begitu juga antara rasio 20:70:90 dan 60:70:90. Semua campuran batu-bata berdaya serap > 20%, belum memenuhi standar kualitas berdasarkan SNI 15-2094-2000, namun semua campuran batu-bata mempunyai kadar garam  (NaCl 20%, yet meet the standards of quality based on SNI 15-2094-2000, but all of a mixture of brick had higher levels of salt (NaCl <50%, this means that it meets quality standards based on SNI 15-2094 -2000. Conclusion:Burning of bricks made from sawdust

  17. PENGARUH TEPUNG DAUN GAMAL DAN DAUN KELOR DALAM UREA CASSAVA BLOK (UCB TERHADAP KECERNAAN, KADAR VFA, DAN NH3 IN-VITRO

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    N M. WITARIADI

    2012-09-01

    Full Text Available ABSTRAK Penelitian telah dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh tepung daun gamal dan daun kelor sebagai sumber protein dalam urea cassava blok (UCB terhadap kecernaan bahan kering, bahan organik, kadar VFA, dan NH3 cairan rumen pakan jerami padi secara invitro. Penelitian dilaksanakan dengan mempergunakan rancangan acak lengkap (RAL dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan. Sehingga secara keseluruhan terdapat 15 unit penelitian. Adapun ketiga perlakuan tersebut adalah: Perlakuan A (jerami padi + UCB yang ditambah tepung daun kelor; B (jerami padi + UCB yang ditambah tepung daun gamal, dan C (jerami padi + UCB yang ditambah tepung daun kelor dan daun gamal. Varibel yang diamati adalah kecernaan bahan kering (KCBK , kecernaan bahan organik (KCBO in-vitro, produksi vollatile fatty acid (VFA, produksi NH3, dan pH supernatan. Hasil penelitian mendapatkan bahwa KCBK, KCBO invitro, VFA, NH3, dan pH supernatan pada ketiga perlakuan berbeda nyata (P<0,05. Penggunaan daun gamal sebagai sumber protein pada UCB menghasilkan KCBK, KCBO, VFA, NH3, tertinggi dibandingkan dengan daun kelor maupun kombinasi antara daun gamal dan daun kelor. EFFECT OF USING GLIRICIDIA (Gliricidia sepium AND MORINGA (Moringa oleifera LEAVES MEALS IN UREA CASSAVA BLOCK (UCB ON DIGESTIBILITY, VOLLATILE FATTY ACID, AND NH3 IN-VITRO. ABSTRACT The experiment has been conducted in order to now the effect of Gliricidia sepium and Moringa oleifera leaves meal a source of protein in urea cassava block (UCB to the digestibility dray matter and organic matter , VFA and ammonia concentration with rice straw diet. The experiment set in completely randomized design using three treatment. The treatment are: A (rise straw + UCB with Moringa; B (rise straw + UCB with Gliricidia sepium, and C (rise straw + UCB with Moringa and Gliricidia sepium. The observed variable are: dry matter, organic matter digestibility, volatile fatty acid, ammonia concentration, and pH rumen juice

  18. APLIKASI DOSIS FERMENTASI PROBIOTIK BERBEDA PADA BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei POLA INTENSIF

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gunarto Gunarto

    2016-11-01

    Full Text Available Aplikasi dosis probiotik yang tepat menjadi satu di antara penentu utama dalam peningkatan produksi udang di tambak, karena berkaitan dengan kemampuannya mengurai limbah organik sisa pakan dan sisa metabolisme udang yang dibudidayakan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan dosis fermentasi probiotik yang berbeda pada pertumbuhan, sintasan, produksi udang, nilai rasio konversi pakan, dan kualitas air tambak budidaya intensif udang vaname di tambak. Enam unit tambak masing-masing ukuran 4.000 m2 ditebari benur vaname PL-10 dengan padat tebar 50 ekor/m2. Pakan diberikan dengan dosis 2,5%-100% dari total biomassa udang dengan frekuensi 2–4 kali/hari selama pemeliharaan 105 hari. Tiga dosis berbeda dari aplikasi fermentasi probiotik komersial dijadikan perlakuan, yaitu A. 1 mg/L/minggu, B. 3 mg/L/minggu, dan C. 5 mg/L/minggu. Masing-masing perlakuan dengan dua ulangan. Aplikasi fermentasi probiotik di tambak dilakukan setiap minggu sekali dan dimulai seminggu sebelum tebar hingga mendekati waktu panen. Sampling pertumbuhan dan kualitas air (amoniak, nitrit, nitrat, fosfat, bahan organik total (BOT, klorofil-a, total bakteri Vibrio sp. dan total bakteri dilakukan setiap dua minggu sekali. Pengamatan fluktuasi oksigen terlarut di air tambak selama 24 jam dilakukan pada hari ke-43, 60, dan 90. Sintasan, produksi, dan nilai konversi pakan dihitung setelah udang dipanen. Untuk mengetahui pengaruh dari perlakuan, maka data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varian pola Rancangan Acak Lengkap, dan dilanjutkan dengan uji BNT apabila terjadi perbedaan yang nyata. Berdasarkan hasil penelitian nampak bahwa dosis 5 mg/L fermentasi probiotik, mampu menghasilkan sintasan yang lebih baik dan juga efisien dalam pemanfaatan pakan, yang ditunjukkan dengan nilai Rasio Konversi Pakan lebih rendah apabila dibandingkan dengan nilai Rasio Konversi Pakan yang diperoleh pada dosis fermentasi probiotik 3 dan 1 mg/L, meskipun demikian

  19. KOMBINASI ULTRAFILTRASI DAN DISSOLVED AIR FLOTATION UNTUK PEMEKATAN MIKROALGA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Nyoman Widiasa

    2014-05-01

    Full Text Available Abstrak Mikroalga merupakan mikroorganisme fotosintetik prokariotik atau eukariotik yang dapat tumbuh dengan cepat. Pemanfaatan mikroalga tidak hanya berorientasi sebagai pakan alami untuk akuakultur, tetapi terus berkembang untuk bahan baku produksi pakan ternak, pigmen warna, bahan farmasi (β-carotene, antibiotik, asam lemak omega-3, bahan kosmetik, pupuk organik, dan biofuel (biodiesel, bioetanol, biogas, dan biohidrogen. Studi ini bertujuan untuk menginvestigasi kombinasi ultrafiltrasi (UF – dissolved air flotation (DAF untuk pemekatan mikroalga skala laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan fluks membran UF secara tajam sebagai akibat dari deposisi sel mikroalga terjadi pada 20 menit pertama proses filtrasi. Backwash pada interval 20 menit selama 10 detik dengan tekanan 1 bar memberikan pengendalian fouling yang efektif dalam nilai kestabilan fluks yang layak. Membran UF yang digunakan dapat memberikan selektivitas pemisahan biomassa mikroalga ~ 100%. Kualitas permeat sangat stabil, yaitu kekeruhan < 0,5 NTU, kandungan organik < 10 mg/L, dan warna < 10 PCU. Lebih lanjut, pemekatan retentat membran dengan DAF pada tekanan saturasi 6 bar dapat menghasilkan pasta mikroalga dengan konsentrasi 20 g/L. Koagulan PAC perlu ditambahkan kedalam umpan DAF dengan dosis 1,3–1,6 mg PAC/mg padatan tersuspensi.   Kata Kunci: ultrafiltrasi; dissolved air flotation; pemanenan mikroalga; pemekatan mikroalga   Abstract COMBINATION OF Ultrafiltration and Dissolved Air Flotation for Microalgae CONCENTRATION. Microalgae is a prokaryotic photosynthetic microorganism or eukaryotic microorganism  that proliferate rapidly. Cultivation of the microalgae is not only oriented  as natural food for aquacultures, but also developed  for animal food, color pigment, pharmaceutical raw material (β-carotene, antibiotic, fatty acid omega-3, cosmetic raw material, organic fertilizer, and biofuels (biodiesel, bioethanol, biogas, and biohydrogen. This

  20. ANALISIS WAKTU PEMUPUKAN TANAMAN SAWI HIJAU (Brassica rapa var. parachinensis DENGAN TEKNIK PERUNUT RADIOAKTIF

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gusti Ngurah Sutapa

    2016-11-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian analisis waktu pemupukan pada tanaman sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensisdengan teknik perunut radioaktif. Untuk menuju sistem pertanian berkelanjutan perlu adanya perbaikan pertanian(intensifikasi selama beberapa tahun yang lalu masih signifikan, karena ketersediaan sumber daya alam danteknologi pertanian cukup memadai dan berimbang dengan ketersediaan lahan dan peningkatan jumlah penduduk.Keadaan ini sulit untuk dipertahankan dimasa yang akan datang, kecuali ada pendekatan baru yang menawarkan ide dan teknik untuk meningkatkan produktifitas pertanian. Efesiensi pemupukan tanaman dengan teknik perunut (tracer radioisotop adalah salah satu potensi menujusistem pertanian berkelanjutan. Teknik perunut dapat digunakan antara lain untuk mempelajari hubungan antaratanah dan tanaman, menentukan kondisi optimal dalam penggunaan pupuk (waktu pemupukan, pola perakaranaktif tanaman, jenis dan takaran pupuk, mempelajari proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik, sertamempelajari proses fotosintesis tanaman,baik dengan metoda langsung maupun tidak langsung.Waktu pemupukanyang lebih tepat dapat ditentukan dengan teknik perunut tersebut, sehingga optimalisasi pemupukan dapat dicapai,tanpa pemborosan yang tidak berguna.Dari penelitian dengan menggunakan radioisotop P, ternyata waktupemupukan pada tanaman sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis yang paling signifikan adalah padapukul 9.00 pagi. Waktu siang hari mulai pukul 11.00 sampai pukul 15.00 adalah waktu pemupukan yang sangatburuk. Sedangkan waktu sore hari yaitu pukul 15.00 sampai 17.00 menunjukkan waktu pemupukan yang semakinbaik namun tidak signifikan.32

  1. ANALISIS WAKTU PEMUPUKAN TANAMAN SAWI HIJAU (Brassica rapa var. parachinensis DENGAN TEKNIK PERUNUT RADIOAKTIF

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gusti Ngurah Sutapa

    2016-06-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian analisis waktu pemupukan pada tanaman sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensisdengan teknik perunut radioaktif. Untuk menuju sistem pertanian berkelanjutan perlu adanya perbaikan pertanian(intensifikasi selama beberapa tahun yang lalu masih signifikan, karena ketersediaan sumber daya alam danteknologi pertanian cukup memadai dan berimbang dengan ketersediaan lahan dan peningkatan jumlah penduduk.Keadaan ini sulit untuk dipertahankan dimasa yang akan datang, kecuali ada pendekatan baru yang menawarkan ide dan teknik untuk meningkatkan produktifitas pertanian. Efesiensi pemupukan tanaman dengan teknik perunut (tracer radioisotop adalah salah satu potensi menujusistem pertanian berkelanjutan. Teknik perunut dapat digunakan antara lain untuk mempelajari hubungan antaratanah dan tanaman, menentukan kondisi optimal dalam penggunaan pupuk (waktu pemupukan, pola perakaranaktif tanaman, jenis dan takaran pupuk, mempelajari proses dekomposisi dan mineralisasi bahan organik, sertamempelajari proses fotosintesis tanaman,baik dengan metoda langsung maupun tidak langsung.Waktu pemupukanyang lebih tepat dapat ditentukan dengan teknik perunut tersebut, sehingga optimalisasi pemupukan dapat dicapai,tanpa pemborosan yang tidak berguna.Dari penelitian dengan menggunakan radioisotop P, ternyata waktupemupukan pada tanaman sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis yang paling signifikan adalah padapukul 9.00 pagi. Waktu siang hari mulai pukul 11.00 sampai pukul 15.00 adalah waktu pemupukan yang sangatburuk. Sedangkan waktu sore hari yaitu pukul 15.00 sampai 17.00 menunjukkan waktu pemupukan yang semakinbaik namun tidak signifikan.32

  2. ESTIMASI ALIRAN AIR LINDI TPA BANTAR GEBANG BEKASI MENGGUNAKAN METODA SP

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Syamsu Rosid

    2012-02-01

    Full Text Available Air lindi merupakan limbah sampah organik yang biasanya diproduksi dari sampah rumah tangga. Pencemaran air tanah (groundwater oleh air lindi menjadi ancaman yang serius bagi masyarakat. Penduduk Bantar Gebang, Bekasi merasa terancam kehidupannya dengan adanya tempat pembuangan akhir (TPA sampah yang dikirim dari DKI Jakarta. Beberapa penduduk di sekitar TPA mengeluhkan bahwa air sumurnya agak bau dan tidak lagi terasa segar. Untuk mengetahui seperti apa polusi air lindi yang terjadi, ke arah mana dan sudah sejauh mana sebarannya, dan memetakan daerah resiko tinggi terkena polusi maka telah dilakukan pengukuran geolistrik metoda self potential (SP di sebelah Tenggara dan Selatan daerah TPA Bantar Gebang, Bekasi. Dari data SP diketahui bahwa aliran air tanah bawah permukaan di daerah tersebut berarah Selatan ke Utara. Meskipun lokasi TPA berada di Utara daerah penelitian, limbah air lindi diduga telah mencemari air tanah bawah permukaan hingga radius ratusan meter dari lokasi TPA. Penyebaran air limbah ini  diperkirakan melalui proses osmosis, mekanisme kapilaritas dan proses elektrokinetik.   Kata kunci: air lindi, metoda SP, TPA Bantar Gebang.

  3. A. Ü. Z. F. KENAN EVREN ARAŞTIRMA UYGULAMA ÇİFTLİĞİ TOPRAKLARININ BAZI ENZİM AKTİVİTELERİNE BİTKİ TÜRÜNÜN ETKİLERİ

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sevinç ARCAK

    1999-01-01

    Full Text Available Farklı vejetasyon uygulaması altındaki toprak örneklerinde (yonca, buğday, elma, çam ve nadas ve üç farklı derinlikte (0-5, 5-15, 15-30 cm üreaz ve ß-Glikozidaz enzim aktiviteleri araştırılmıştır. Yonca ekili parsellerden alınan toprak örneklerinde her iki enzim aktivitesinde de en yüksek değer saptanmıştır. Toprak organik maddesi ile toplam azotu yüksek olan parsellerde enzim aktiviteleri de artmaktadır. Üreaz aktiviteleri, ß- Glikozidaz aktivitelerinden bütün vejetasyon uygulamalarında yüksek bulunmuştur. Toprak derinliği arttıkça üreaz aktivitesinde önemli düzeyde artma (P < 0.01, ß-Glikozidaz aktivitesinde ise azalma gözlenmiştir. Farklı derinlikle beraber farklı vejetasyon uygulamalarında üreaz ve ß- Glikozidaz aktiviteleri önemli ölçüde etkilenmiştir (P < 0.01.

  4. PENGELOLAAN LIMBAH PETERNAKAN SAPI UNTUK MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI PADA KELOMPOK TERNAK PATRA SUTERA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Danang Dwi Saputro

    2014-02-01

    Full Text Available Kelompok ternak Patra Sutera di Desa Ledok Kecamatan Sambong Kabupaten Blora yang berdiri pada tahun 2013 telah mempunyai sapi 8 ekor yang berada di kandang komunal yang dikelola oleh 6 anggota kelompok. Dalam satu hari setiap ekor sapi dapat menghasilkan limbah padat sebanyak 20-30 kg dan limbah cair sebanyak 100-150 liter yang selama ini belum dikelola dengan baik. Limbah dari kegiatan ternak belum terolah dengan baik dan dibuang ke lingkungan sehingga menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat sekitar kandang. Salah satu cara untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan memberikan pelatihan keterampilan atau pendampingan bagaimanakah teknik pembuatan pupuk organic dan reaktor biogas sederhana, mengoperasikan, serta memanfaatkan gas yang dihasilkan. Dalam kegiatan ini akan diberikan pelatihan keterampilan bagaimana cara mengolah limbah ternah untuk dijadikan pupuk dan pestisida organik,serta pengelolaan biodigester. Dari kegiatan ini Anggota kelompok ternak Patra Sutera mendapat pengetahuan dan mengolah limbah kotoran ternak (padat dan cair yang keliar dari biodigester menjadi pupuk yang lebih bermanfaat.

  5. Komposisi Nutrisi Rumput Laut Calcareous Halimeda opuntia pada Lingkungan Perairan Indonesia

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nurhayati Nurhayati

    2017-06-01

    Full Text Available Halimeda opuntia merupakan rumput laut Chlorophyta berkapur yang memiliki kandungan nutrisi untuk pangan fungsional. Namun, pergeseran komposisi nutrisi dapat terjadi akibat perubahan lingkungan akibat limpasan nutrien dan bahan organik lainnya yang umum terjadi di perairan pesisir Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi pergeseran kandungan nutrisi H. opuntia yang tumbuh di zona intertidal agar dapat digunakan sebagai dasar pemilihan lokasi pengambilan bahan baku H. opuntia untuk produk fungsional. Pengambilan sampel dilakukan di empat lokasi perairan di Indonesia, yaitu perairan Binuangeun (Banten, Lampung Selatan, Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat dan Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara. Karakteristik nutrisi dari rumput laut target meliputi kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, dan serat kasar. Informasi lingkungan dari habitat sampel ditunjukkan melalui variabel kimia air yaitu DO, pH, salinitas, pCO2, kalsium aragonit, nitrogen anorganik terlarut, serta fosfat anorganik terlarut. Hasil analisis menunjukkan kondisi lingkungan eutrofik berpengaruh secara signifikan terhadap komposisi nutrisi H. opuntia. pH dan salinitas menjadi faktor determinan positif (R2 = 0,75 pada p<0,05 terhadap kadar karbohidrat, sementara nitrogen anorganik terlarut menjadi faktor determinan negatif terhadap kadar protein dan lemak (R2= 0,81 dan 0,61 pada p<0,05. Berdasarkan kandungan nutrisinya, maka H. opuntia yang diperoleh dari habitat alamiah merupakan bahan baku produk fungsional yang  lebih baik dibandingkan dengan biota selaras dari perairan eutrofik.

  6. FINDIK KABUKLARININ, ÇAY VE TÜTÜN ATIKLARININ HAMMADDE OLARAK KULLANILMASI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ş. İsmail KIRBAŞLAR

    2001-01-01

    Full Text Available Bu çalışmada, fındık kabukları, çay ve tütün atıklarındaki nem, kül, yağ ve sellüloz miktarları analiz edilmiştir. Ayrıca, fındık kabukları, çay ve tütün atıklarının içerdiği pentosan, pentos ve furfural miktarları belirlenmiştir. Furfural her üç atıktan destilasyon metoduyla ayrılmıştır. Atıklardan ayrılan furfural örneklerinin IRspektrumları ile standart furfuralin IR-spektrumları karşılaştırılmıştır. Fındık kabuklarından farklı sıcaklıklarda aktif karbon elde edilmiştir. Bu aktif karbon kullanılarak organik ve anarganik atıklar adsorbsiyonla uzaklaştırılmıştır.

  7. Hubungan Sosial Ekonomi dan Budaya terhadap Partisipasi Ibu Rumah Tangga dalam Pengelolaan Sampah di Kecamatan Bangkinang

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hayana .

    2015-05-01

    Full Text Available Dari komponen sampah yang dihasilkan di Kota Bangkinang selama tiga tahun berturut-turut terdapat volume sampah sebanyak 147,25 m3 tahun 2008, 167,36 m3tahun 2009 dan 188,95 m3 tahun 2010. Volume sampah dari tiga tahun berturut-turut mengalami kenaikan yang cukup tinggi disebabkan oleh kurangnya partisipasi masyarakat dalam melakukan pengelolaan sampah, kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pengolaan sampah menjadi barang yang produktif seperti pemanfaatan sampah organik (pengomposan dan  pemanfaatan sampah plastik menjadi kegiatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh sosial ekonomi (pendidikan, pendapatan, pekerjaan dan budaya (pengetahuan, kebiasaan terhadap partisipasi ibu rumah tangga dalam pengelolaan sampah di Kecamatan Bangkinang Kabupaten Kampar. Penelitian ini bersifat analitik dengan desain Cross sectional. Populasi adalah ibu rumah tangga yang berdomisili di Kecamatan Bangkinang sebanyak 4782 orang. Sampel berjumlah 100 ibu rumah tangga dan teknik sampling dengan    system random sampling. Pengumpulan data melalui wawancara dan observasi yang berpedoman pada kuesioner. Analisis data dilakukan dengan univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara pendidikan, pendapatan, pekerjaan, pengetahuan dan kebiasaan terhadap partisipasi ibu rumah tangga dalam pengelolaan sampah

  8. PENGELOLAAN LIMBAH DOMESTIK BERBASIS KOMUNITAS DI KAWASAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TAWING: Studi Kasus Di Kabupaten Trenggalek

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Windiani Windiani

    2011-06-01

    Full Text Available Penelitian tentang pengelolaan limbah domestik berbasis komunitas Di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS Tawing ini didasarkan pada fenomena bencana banjir yang terjadi hampir setiap tahun. Faktor penyebabnya tidak hanya karena faktor alam namun juga disebabkan adanya penurunan daya resap dan pendangkalan sungai di berbagai daerah. Hal ini terkait juga dengan kebiasaan, kesadaran, sikap dan perilaku masyarakat terhadap lingkungan yang masih rendah. Sebagian masyarakat di kawasan daerah aliran sungai Tawing masih membuang limbah domestiknya, baik kotoran maupun sampah rumah tangga ke sungai. Hal ini lebih disebabkan persepsi yang berkembang dalam masyarakat bahwa sungai berfungsi sebagai halaman belakang (backyard sehingga sungai digunakan sebagai tempat pembuangan limbah. Di sisi lain keberadaan komunitas pemuda pecinta lingkungan di daerah di Kabupaten Trenggalek berdampak positif jika peran dan kapasitas komunitas tersebut dikembangkan terutama terkait dengan upaya pemberdayaan masyarakat dalam mengelola limbah domestiknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan limbah domestik yang dilakukan adalah aplikasi 3R (Reuse, Reduce dan Recycle dengan kelompok sasaran: komunitas Ibu rumah tangga, Komunitas Petani, komunitas Guru dan pendamping dan Komunitas pemuda karang taruna. Strategi yang dikembangkan dalam pengelolaan limbah domestik meliputi: Perencanaan dan Program Pengembangan, Penguatan kelembagaan dan Pengembangan jaringan dan kerjasama. Hingga saat ini pengolahan limbah domestik menjadi pupuk organik, larangan meracuni sungai Tawing dan pemberian sanksi kepada masyarakat yang membuang sampah merupakan program yang sudah berjalan, namun dipandang perlu untuk dikembangkan dengan sasaran wilayah yang lebih luas. Sosialisasi secara intens dan pendampingan kepada kelompok sasaran perlu terus dilakukan agar terjadi keberlanjutan program.

  9. Penerapan Produksi Bersih Dalam Upaya Penurunan Timbulan Limbah Cair Di Pabrik Gula Tebu

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yudith Vega Paramitadevi

    2017-11-01

    Full Text Available Tebu (Saccharum officianarum L. adalah tanaman yang mempunyai banyak manfaat, salah satunya sukrosa yang terdapat pada batang tebu yang dimanfaatkan untuk menghasilkan kristal gula. Kristal gula yang terbentuk mengalami pemrosesan yang panjang, dimulai dari penggilingan tebu hingga pemasakan. Pada proses pengolahan tersebut akan menghasilkan gula produk sekaligus limbah cair yang memiliki beban pencemaran organik tinggi. Tindak produksi bersih dalam industri gula tebu diperlukan agar penghematan air baku dan pencemaran air dapat terlaksana. Kajian terhadap produksi bersih dilakukan melalui studi kasus yang sifatnya deskriptif pada salah satu industri gula tebu di Indonesia. Identifikasi terhadap peluang produksi bersih dilakukan agar diperoleh pengaruh keseluruhan terhadap kinerja lingkungan, terutama pengurangan terhadap beban influen yang masuk ke IPAL. Sebanyak 6 alternatif peluang produksi bersih untuk penghematan konsumsi air baku dan 4 alternatif peluang produksi bersih untuk reduksi timbulan limbah cair diberikan. Peluang produksi bersih yang akhirnya dapat diterapkan yakni recycle air kondensat larutan gula, air bekas scrubber dan penerapan good house keeping. Debit air yang masuk ke IPAL berkurang 51.72%, setara dengan 4500 m3 air baku per hari, atau penghematan sebesar Rp 17.235.310,00 per tahun. Perancangan desain IPAL ulang juga diusulkan untuk mengatasi permasalahan konvensional yang melekat pada sistem kolam anaerobik-aerobik.

  10. Karakteristik Fisiko-Kimiawi (Morfologi, Higroskopisitas, pH dan Toksisitas Panel Bangunan yang Dihasilkan dari Komposit Limbah Abu Terbang Batu Bara (Fly Ash, Daun-Ampas Tebu, Jerami-Sekam Padi dan Ijuk (Palm Fiber

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yulianto P. Prihatmaji

    2015-10-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian tentang karakteristik fisiko-kimiawi (morfologi, higroskopisitas, ph dan toksisitas panel bangunan yang dihasilkan dari komposit limbah abu terbang batu bara (fly ash, daunampas tebu, jerami-sekam padi dan ijuk (palm fiber. Berdasarkah hasil uji dan analisis fisiko-kimiawi kaitannya dengan morfologi secara makroskopis menunjukkan bahwa komposit panel bangunan dari berbagai macam jenis bahan baku tersebut tampak menyatu secara solid dengan ikatan kimia antar bahan yang terlibat. Bahan organik yang berupa limbah ampas-daun tebu, jerami-sekam padi, dan ijuk tampak menyatu padu dengan komponen anorganiknya berupa fly ash dan semen. Kaitannya dengan higroskopisitasnya, produk panel bangunan yang dihasilkan tampaknya tidak terpengaruh oleh iklim dan kelembaban di dalam maupun di luar ruang karena kadar air panel bangunan yang diuji pada hari ke-30 dan hari ke-60 relatif stabil yakni 19,65% yang berarti normal. Kaitannya dengan tingkat keasaman (pH, panel bangunan yang dihasilkan menunjukkan kondisi yang aman/tidak menyebabkan iritasi karena pH: 7-8 yang berarti tidak mengiritasi/aman. Adapun hasil uji dan analisis toksisitas fly ash dilakukan menggunakan indikator biologis; mencit menunjukkan harga LD50: 32,915 mg/kg (bb yang berarti relatif tidak berbahaya. Kutu air menunjukkan harga LC50: 75,515 ppm (7,552% yang berarti hampir tidak toksik dan ikan mas menunjukkan harga LC50: 121,943 ppm (12,194% yang berarti tidak toksik. Oleh sebab itu produk panel bangunan yang dihasilkan dapat dipastikan aman dikonsumsi.

  11. Kajian Pemilihan Sumber Mikroorganisme Solid Phase Microbial Fuel Cell (SMFC Berdasarkan Jenis dan Volume Sampah, Power Density dan Efisiensi Penurunan COD

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ganjar Samudro

    2017-06-01

    Full Text Available Mikroorganisme merupakan salah satu komponen penting dalam proses Solid Phase Microbial Fuel Cell (SMFC untuk degradasi bahan organik dan transfer elektron. Pemilihan sumber mikroorganisme menjadi metode yang paling sederhana untuk dikaji sebagai informasi awal ketersediaan dan identifikasi jenis mikroorganisme yang mendukung proses SMFC. Tujuan kajian ini adalah untuk memilih sumber mikroorganisme tanah, septic tank dan sedimen sungai yang tepat digunakan dalam proses SMFC berdasarkan jenis dan volume sampah, power density, dan efisiensi penurunan COD. Kajian ini didasarkan pada hasil penelitian menggunakan reaktor SMFC tipe single chamber microbial fuel cell dengan variabel jenis dan volume sampah , serta sumber mikroorganisme. Metode perbandingan secara kuantitatif dilakukan berdasarkan kecenderungan nilai power density dan efisiensi penurunan COD tertinggi di antara jenis dan volume sampah kantin, dedaunan dan komposit kantin-dedaunan. Hasil yang didapatkan adalah sumber mikroorganisme tanah dan sedimen sungai tepat digunakan untuk volume sampah 1/3 dan 2/3 dari volume reaktor, sedangkan sumber mikroorganisme septic tank tepat digunakan untuk volume sampah 1/3 dan 1/2 dari volume reaktor. Sumber mikroorganisme dari septic tank menunjukkan kinerja power density dan efisiensi penurunan COD yang lebih rendah dibandingkan sumber mikroorganisme tanah dan sedimen sungai.

  12. Investigations on pretreatment of waste prior to fermentation by percolation using the ISKA {sup registered} process; Untersuchungen zur Vorbehandlung von Abfaellen vor der Vergaerung mittels Perkolation nach dem ISKA {sup registered} -Verfahren

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Santen, H. [Technische Univ. Braunschweig (Germany). FG Abfallwirtschaft; Fricke, K. [Technische Univ. Braunschweig (Germany). Lehrstuhl Abfallwirtschaft; Engelhard, T.; Widmer, C. [ISKA GmbH, Ettlingen (Germany)

    2004-07-01

    Waste treatment prior to fermentation is a key aspect in achieving economic efficiency. One process is presented here in particular: percolation, in which waste is hydrolyzed aerobically, treated mechanically, and washed out with the aid of process water. The process involves a percolation stage followed by a fermentation stage. The process water burdened with organic matter is passed into a fermentation reactor in which the organic components are reacted anaerobically into biogas and bacterial mass, and the process water is recirculated into the percolation reactor. (orig.) [German] Vergaerungstechnologien zaehlen zu den etablierten Verfahren zur Gewinnung regenerativer Energien aus Biomasse. Fuer die Energieeffizienz dieser Verfahren sind die Leistung der Vergaerungsstufe, die Hoehe der Verfuegbarkeit der anaerob abzubauenden organischen Substanzen und der spezifische Energiebedarf des Behandlungsverfahrens massgeblich. Eine Schluesselstellung fuer die Optimierung beider Faktoren nimmt die Abfallaufbereitung vor der Vergaerung ein. Eine Technoloie zur Aufbereitung vor der Vergaerung basiert auf dem Verfahren der Perkolation, in der der Abfall aerob hydrolysiert,mechanisch aufgeschlossen und durch Zugabe von Prozesswasser ausgewaschen wird. Das Verfahren besteht aus einer Aufbereitung - der Perkolation - sowie einer nachgeschalteten Vergaerung. Das mit vergaerbarer Organik beladene Prozesswasser wird einem Vergaerungsreaktor zugefuehrt, in dem die organischen Komponenten anaerob zu Biogas und Bakterienmasse umgesetzt werden. Das aufbereitete Prozesswasser wird anschliessend wieder dem Perkolationsreaktor zugefuehrt. (orig.)

  13. PRODUKTIVITAS JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus PADA MEDIA LIMBAH SEKAM PADI DAN DAUN PISANG KERING SEBAGAI MEDIA ALTERNATIF

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Suparti Suparti

    2015-08-01

    Full Text Available Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus merupakan jenis jamur pangan yang banyak dikonsumsi mengandung protein 27%. Kandungan protein pada jamur tiram putih dapat dipengaruhi oleh komposisi media tanam seperti selulosa, hemiselulosa, lignin dan nutrisi tambahan. Sekam padi dan daun pisang kering merupakan salah satu limbah organik yang dapat digunakan sebagai media alternatif untuk meningkatkan produktivitas jamur tiram putih.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produktivitas jamur tiram putih yang ditumbuhkan pada media  limbah sekam padi dan daun pisang kering sebagai media alternatif. Jenis penelitian eksperimen dengan metode rancangan acak lengkap (RAL dua faktor yaitu faktor 1 penambahan sekam padi dan faktor 2 daun pisang kering (0%, 5%, 10%, 15%, masing-masing  dengan empat perlakuan dan dua kali ulangan.  Hasil analisis data menunjukkan bahwa penambahan sekam padi dan daun pisang kering  15% (S3T3 memberikan pengaruh nyata terhadap lama penyebaran miselium, jumlah badan buah dan berat segar jamur tiram putih.Perlakuan yang paling baik untuk pertumbuhan jamur pada perlakuan S3T3, dengan rata-rata lama penyebaran miselium 25,5 hari, jumlah badan buah 64,5 buah dan berat segar yang dihasilkan 402,5. Hasil data tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain.

  14. Implementasi Estimator Kecepatan Pertumbuhan Mikroorganisme pada Bioreaktor Anaerob

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dewinta Ria Wardhani

    2013-03-01

    Full Text Available Mikroba memiliki peranan yang sangat penting dalam produktivitas biogas pada pengolahan limbah bahan organik khususnya kotoran ternak pada bioreaktor anaerob, dimana dalam pengolahanya bakteri dipengaruhi oleh nutrisi, pH dan temperatur. Sehingga akan mempengaruhi produk biogas yang dihasilkan. Agar mendapatkan hasil biogas yang diharapkan maka diperlukan sebuah monitoring kecepatan pertumbuhan mikroorganisme. Namun saat ini belum ada alat untuk memonitoring secara langsung sehingga diperlukan sebuah estimator untuk memprediksi pertumbuhan mikroorganisme, untuk memprediksi pertumbuhan mikroorganisme berdasarkan parameter pH dan volume yang diukur. Estimator bekerja berdasarkan model matematis dengan menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan arsitektur Backpropagation dengan metode Lavenberg Marquardt. Estimator yang telah dihasilkan secara offline memiliki input berupa pH dan volume yang dianalogikan melalui tegangan dari potensiometer. Pada penelitian ini akan di implementasikan estimator kecepatan pertumbuhan mikroorganisme (µ secara online pada bioreaktor anaerob yang digunakan untuk mengekstrak kotoran ternak. Dari pengukuran secara online dan offline didapatkan nilai µ terbaik pada pengukuran secara online yaitu 7,5 pada pH 7,45 dan volume 0,05 L sedangkan nilai µ terbaik pada simulasi 7,3092 pada pH 5,47 dan volume 0,0106 L

  15. ETANOL KARIŞIMLI MOTORİN YAKITIN DIESEL MOTORU EGZOZ EMİSYONLARINA ETKİSİ

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Özer CAN

    2005-02-01

    Full Text Available Organik oksijenli bileşiklerin Dizel No.2 yakıtı ile karıştırılarak kullanılması ile dizel motor emisyonlarında olumlu iyileşmeler olmaktadır. Bu çalışmada Dizel No.2 yakıtına % 10 ve % 15 hacimsel oranlarında etanol karıştırılarak farklı motor dönme sayılarında ve yüklerinde çalışan bir ön yanma odalı turbo dizel motorun egzoz emisyonları incelenmiştir. Deney sonuçları etanol ilavesinin, NOx emisyonunda artma ve ısıl değerinin düşük olmasından dolayı da bir miktar motor gücünde düşmeye sebep olduğunu göstermesine rağmen, CO, is ve SO2 emisyonlarında azalma sağladığını göstermektedir. Emisyonlardaki iyileşme tam yükte, kısmi yüklere nisbeten daha çok dikkate değer bir seviyededir.

  16. Pengujian Parameter Biji Sorghum dan Pengaruh Analisa Total Asam Laktat dan pH pada Tepung Sorghum Terfermentasi Menggunakan Baker’s Yeast (Saccharomyces Cereviceae

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Amelinda Angelina

    2013-09-01

    Full Text Available Sorghum, Sorghum bicolor (L Moench, adalah sereal paling penting kelima setelah beras, jagung, barley dan gandum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan substitusi biji sorghum terhadap tepung terigu bisa mencapai 50-75%, walaupun nilai protein pembentuk glutennya tidak dapat menyamai tepung terigu. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh waktu fermentasi terhadap penurunan total asam laktat, nilai pH, dan jumlah total khamir (baker’s yeast tanpa menggunakan nutrient kimia tambahan . Analisa komposisi biji sorghum yang diinvestigasi dalam keadaan wet basis dari laboratorium menghasilkan kadar air, lemak, serat, protein, karbohidrat, dan abu masing-masing sebesar 12.85%, 3.10%, 0.56%, 5.87%, 75.82%, dan 1.79%. Untuk nilai energi total dengan metode bomb kalori didapatkan 4375.94 kcal/kg. Pengujian biji sorghum menghasilkan C-organik sebesar 12,47%. Berdasarkan analisa didapatkan hasil optimal dalam membuat tepung sorghum terfermentasi pada proses fermentasi 60 jam dengan jumlah yeast yang dihasilkan 1,7 x 105 sel/ml dengan kondisi yield % asam laktat 0,214%.

  17. AĞAÇ MALZEMEDE YANMAYI GECİKTİRİCİ VE SU İTİCİ KİMYASAL MADDELERİN EĞİLME DİRENCİNE ETKİLERİ

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hüseyin PEKER

    1999-01-01

    Full Text Available Bu çalışmada bor içerikli çeşitli kimyasal maddelerle emprenye edilmiş odunun statik eğilme direncinde meydana gelen değişimler incelenmiştir. Karşılaştırma için denemelerde polietilenglikol (PEG-400/P4, Amonyum sülfat (AS, Diamonyum fosfat (DAP ve organik çözücülü ticari bir emprenye maddesi olan Vacsol kullanılmıştır. Emprenye işlemlerinde tek işlemle bireysel kimyasal maddelerin kullanılması ve ikincil bir su itici madde (Water repellent = WR ile muamele edilerek hazırlanan deney planı uygulanmıştır. Deney sonuçlarına göre; asidik karakterdeki çözeltiler sarıçam eğilme direncinde azalmaya sebep olurken, kayında bazik çözeltiler daha olumlu sonuçlar vermiştir. Her iki türde de Polietilenglikol - 400 (P4 ve Borik asit + Borax (BA + BX sonrası uygulanan su itici madde uygulamalarında dikkate değer oranda direnç artışları sağlanamamıştır.

  18. Model Pengambilan Keputusan Untuk Mengembalikan Fungsi Hutan Pasca Reklamasi Lahan Bekas Timah dengan Analytical Hierarchy Process

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hilyah Magdalena

    2017-07-01

    Full Text Available Setelah masa kejayaan timah berlalu dari Pulau Bangka, maka saat ini Pulau Bangka harus berusaha membenahi peninggalan penambangan timah yang telah berlangsung lama. Masalah besarnya adalah rusaknya ekosistem baik itu di darat, sungai, maupun di pesisir pantai. Selain itu areal bekas tambang timah ternyata cukup luas dan seharusnya dapat dimanfaatkan kembali untuk kesejahteraan masyarakat Pulau Bangka. Direktorat Kehutanan mempunyai beberapa strategi untuk memanfaatkan kembali lahan bekas tambang timah tersebut. Penelitian ini menganalisa beberapa kriteria untuk meenentukan model pengambilan keputusan terbaik yang akan dilaksanakan di Pulau Bangka. Kriteria–kriteria yang dianalisa adalah lokasi tambang terdiri dari lokasi daratan, sungai, dan pesisir pantai. Kriteria lainnya adalah dampak lingkungan yang terdiri dari rusaknya ekosistem pesisir, cemarnya sumber air bersih, perubahan topografi garis pantai, limbah tailing, padang pasir, dan erosi. Kriteria terakhir yang dianalisa adalah teknologi perbaikan lahan yang terdiri dari, teknologi pertanian dengan amelioran pupuk organik dan menggunakan kompos untuk menurunkan kadar timbal dalam air kolong sebagai media budidaya ikan. Sedangkan alternatif – alternatif yang akan dipilih untuk mengembalikan fungsi hutan di Pulau Bangka adalah agroforestri, ekowisata, silvopastura, dan silvofishery. Penelitian ini menggunakan metodologi Analytical Hierarchy Process (AHP yang menyusun beberapa criteria untuk memilih beberapa alternatif dengan membandingkan tingkat kepentingannya. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa kriteria paling penting adalah teknologi perbaikan lahan dengan bobot mencapai 48,9% dan alternatif yang terpilih adalah agroforestri dengan bobot mencapai 33,1%.

  19. KADAR GLUKOSA DARI HIDROLISIS SELULOSA PADA ECENG GONDOK MENGGUNAKAN Trichoderma viride DENGAN VARIASI TEMPERATUR DAN WAKTU FERMENTASI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Purbowatiningrum R Sarjono

    2012-11-01

    Full Text Available Telah kita ketahui bahwa eceng gondok merupakan salah satu sumber selulosa yang melimpah di alam dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbon bagi jamur Trichoderma viride. Eceng gondok memiliki bobot kering selulosa 21,5%, hemiselulosa 33,9% dan lignin 7,01%. Trichoderma viride adalah jamur saprofit yang berpotensi memproduksi selulase yang mampu mendegradasi ikatan β-1,4-glikosida pada rantai selulosa untuk menghasilkan glukosa. Glukosa dapat dimanfaatkan dalam produksi sirup gula, asam organik dan bioetanol. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan Trichoderma viride yang mampu tumbuh pada media pertumbuhan hasil modifikasi eceng gondok serta memperoleh temperatur optimum aktivitas Trichoderma viride dalam menghidrolisis eceng gondok dan waktu fermentasi terbaik dalam menghasilkan glukosa. Proses pertama adalah persiapan sampel enceng gondok meliputi delignifikasi, kurva pertumbuhan Trichoderma viride dibuat dalam media modifikasi eceng gondok untuk mengetahui waktu optimum pertumbuhan Trichoderma viride. Penentuan temperatur optimum dan waktu fermentasi terbaik dari aktivitas Trichoderma viride didasarkan pada glukosa yang dihasilkan dari hidrolisis selulosa pada eceng gondok menggunakan metode Nelson Somogyi. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil bahwa Trichoderma viride mampu tumbuh pada media modifikasi eceng gondok. Temperatur optimum aktivitas Trichoderma viride dalam menghidrolisis selulosa pada eceng gondok adalah 35oC dan waktu fermentasi terbaik dihasilkannya glukosa pada jam ke-96 yaitu sebesar 1,3864 mg/L.

  20. Penambahan Bulking Agent untuk Meningkatkan Kualitas Kompos Sampah Sayur dengan Variasi Metode Pengomposan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Moh. Rohim

    2017-01-01

    Full Text Available Bahan utama pengomposan dalam penelitian ini adalah sayur dan sabut kelapa sebagai bulking agent. Kedua bahan tersebut digunakan karena ketersediannya yang melimpah di lokasi penelitian yaitu Pasar Puspa Agro, Sidoarjo. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah penambahan bulking agent dan metode pengomposan. Penambahan bulking agent yang digunakan yakni 40%, 50% dan 60% yang mana persentase tersebut diperoleh dari hasil perhitungan rasio C/N campuran dari kedua bahan yang masuk rentang 25-40. Sedangkan metode pengomposan yang dipakai adalah metode 1 (tidak dicacah, dilapis, metode 2 (dicacah, dicampur dan metode 3 (dicacah, dilapis. Dimensi pengomposan yaitu 0,5x0,5x1 m dan pembalikan untuk metode 1 dan 3 yakni 3 hari sekali selama 2 minggu pertama, seminggu sekali sampai minggu keenam dan 2 minggu sekali sampai kompos matang. Sedangkan pada metode 2, pembalikan dilakukan 3 hari sekali sampai kompos matang. Parameter kualitas kompos yang digunakan mengacu pada SNI 19-7030-2004 meliputi suhu, pH, kadar air, kadar C-organik, N total dan rasio C/N. Hasil dari penelitian ini adalah jika ditinjau dari penambahan bulking agent kualitas kompos yang paling baik yaitu dengan penambahan 60%. Apabila ditinjau dari metode pengomposan, kualitas kompos yang paling baik yaitu menggunakan metode 3 (dicacah, dilapis.

  1. Studi Kelayakan Pengolahan Air Laut Menjadi Air Bersih di Kawasan Wisata dan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN Pantai Prigi, Trenggalek

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Agista Ayuningtyas Puspita Dwijayani

    2013-09-01

    Full Text Available Ketersediaan air bersih diperlukan pula dalam bidang kepariwisataan. Salah satunya ialah kawasan wisata alam Pantai Prigi, Trenggalek. Namun kondisi air saat ini masih memiliki kandungan TDS (Total Dissolved Solid dan salinitas yang cukup tinggi sehingga dibutuhkan suatu teknologi untuk mengolah air asin menjadi air tawar agar memenuhi standar baku mutu air bersih. Salah satu teknologi yang dapat diterapkan untuk mengolah air asin atau payau menjadi air tawar adalah dengan sistem Reverse Osmosis (RO. Penentuan kapasitas SWRO ditentukan dengan memproyeksikan jumlah pengunjung kawasan wisata Pantai Prigi dan kebutuhan air kolam apung hingga tahun 2023. Hasil proyeksi diperoleh kebutuhan air sebesar 729,40 m3/hari pada penggunaan maksimum. Dengan desain SWRO yaitu menggunakan pretreatment rapid sand filter dan filter karbon aktif untuk meremoval kandungan TDS, kesadahan total, khlorida, sulfat, dan bilangan KMnO4 (zat organik. Biaya yang dibutuhkan untuk membuat sistem pengolahan air laut dengan SWRO sebesar Rp 5.077.307.500,00.Perencanaan sistem pengolahan air laut menjadi layak jika air reject dari SWRO sebesar 1463,28 m3/hari dimanfaatkan menjadi wisata kolam apung, garam, dan air nigari dengan investasi total sebesar Rp 7.326.095.500,00. Dengan analisa kelayakan secara ekonomi  menggunakan prinsip ekonomi teknik, pada alternatif ini diperoleh nilai NPV sebesar Rp 25.024.360.250,24 ; IRR sebesar 23,7% ; dan Payback periode pada tahun ke-3 dengan keuntungan yang diperoleh Rp 3.915.665.044,80 per tahun.

  2. IMPLEMENTASI FUZZY TSUKAMOTO DALAM PENENTUAN KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN KARET DAN KELAPA SAWIT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Maya Yusida

    2017-09-01

    Full Text Available Land suitability is the suitability of a plot of land for a particular use. In the determination of appropriate plant recommendations on land, the Banjarbaru Swampland Food Crops Research Institute sets out 8 criteria in its assessment. These criteria include Soil Depth (cm, CEC Soil (cmol, Saturation Bases (%, pH (H2O, C-Organic (%, N Total (%, P2O5 (mg / 100g, K2O (mg / 100g. Making this expert system using Fuzzy Tsukamoto method. The results obtained from this expert system in the form of data on land suitability for rubber and palm oil plantations that are prioritized to be planted in a field based on the growing requirements of a plant. Keywords: Expert System, Land Suitability, Fuzzy Tsukamoto Kesesuaian lahan adalah kecocokan sebidang lahan untuk penggunaan tertentu. Dalam penentuan rekomendasi tanaman yang sesuai terhadap lahan, Balai Penelitian Tanaman Pangan Lahan Rawa Banjarbaru menetapkan 8 kriteria dalam penilaiannya. Kriteria tersebut meliputi Kedalaman Tanah (cm, KTK Tanah (cmol, Kejenuhan Basa (%, pH (H2O, C-Organik (%, N Total (%, P2O5 (mg/100g, K2O (mg/100g. Pembuatan sistem pakar ini menggunakan metode Fuzzy Tsukamoto. Hasil yang didapat dari sistem pakar ini berupa data tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman karet dan kelapa sawit yang lebih diprioritaskan untuk ditanam disuatu lahan berdasarkan syarat tumbuh suatu tanaman. Kata Kunci : Sistem Pakar, Kesesuaian Lahan, Fuzzy Tsukamoto

  3. ALÜMİNYUM KLORÜRDEN ZEOLİT SENTEZi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Özge Sezgin

    2002-09-01

    Full Text Available Endüstride ve diğer amaçlar için kullanılan minerallerin önemli gruplarından biri de zeolittir. De te rj an sanayiinde su yumuşatıcı, temi zleyici, kahntı oluşumunu azaltıcı, toprakta dağılma özellikleri ile fosfat tuzları yerine geçebiten zeolit A, fosfatlar nedeniyle meydana gelen çevre kirlenmesini en aza indirmiştir. Bu çalışmada zeolit A, 70°C ve 90°C'lerde sodyum si li kat ve alüminattan elde edilmiştir. Zeolitlerin tek tek N a20, Alı03, Si02 ve H20 yüzdeleri bulunmuştur. Sıcaklık artışının zeolit verimine etkisi incelenmiştir. Bunun yanında zeolit A bir de 90°C'de organik madde (triethanolamin ilavesi ile elde edilmiştir. Bu zeolitin de verimi ve yüzdeleri bulunmuş diğer zeolitlerle karşılaştırılmıştır.

  4. Studi Numerik Dua Dimensi Labyrinth Seal Turbin Uap Organic Rankine Cycle (ORC Type Straight-Through dengan Variasi Tekanan Inlet, Kecepatan Putaran Poros, Jarak Pitch, dan Tinggi Rongga

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fungki Setyo Yulianto

    2013-03-01

    Full Text Available ORC (Organic Rankine Cycle merupakan salah satu sistem pembangkit tenaga yang mampu memanfaatkan waste energy dengan menggunakan fluida organik yang mampu menguap pada temperatur dan tekanan rendah. Salah satu komponen utama pada sistem ORC adalah Turbin. Untuk mendapatkan efisiensi yang maksimal,  kebocoran fluida pada turbin uap harus di minimalisir. Untuk itulah di perlukan penggunaan labyrinth seal untuk mengurai kebocoran fluida R123 pada turbin uap ORC. Pada dunia Industri jenis labyrinth seal sangat banyak sekali, salah satunya adalah labyrinth seal tipe Straight-Through. Penelitian ini dilakukan dengan metode numerik (CFD software Fluent. Penelitian ini menggunakan variasi tekanan inlet yaitu 5, 10 dan 15 bar, putaran poros 0, 1500 dan 3000 rpm, panjang pitch 4 mm, 6 mm, 8 mm, 10 mm, serta tinggi rongga 3,415 mm, 3,915 mm dan 5,915 mm. Simulasi menggunakan model turbulensi k-ε RNG. Pada variasi tekanan inlet laju kebocoran paling besar terjadi pada tekanan 15 bar. Pada variasi putaran poros laju kebocoran terjadi berubah secara signifikan pada setiap variasi. Pada variasi tinggi rongga laju kebocoran paling kecil terjadi pada tinggi rongga 3,415 mm. Pada variasi panjang pitch, laju kebocoran paling kecil terjadi pada panjang pitch 10 mm.

  5. Studi Eksperimen Perbandingan Pengaruh Variasi Tekanan Inlet Turbin danVariasi Pembebanan Terhadap Karakteristik Turbin Pada Organic Rankine Cycle

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dwi Dharma Risqiawan

    2013-12-01

    Full Text Available Sistem pembangkit listrik telah berinovasi pada saat ini untuk tetap memenuhi kebutuhan akan ketersediaan listrik salah satunya dengan Organic Rankine Cycle (ORC. Sistem ini terdiri dari empat komponen utama yaitu evaporator, turbin, kondensor, dan pompa.Fluida kerja dipompa ke evaporator untuk membangkitkan uap lalu digunakan menggerakkan turbin.Uap hasil ekspansi turbin dikondensasi dan dialirkan oleh pompa kembali ke evaporator.Sistem ini mampu memanfaatkan sumber energi yang memiliki temperatur dan tekanan rendah untuk membangkitkan uap fluida organik. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kinerja turbin pada sistem ORC dengan memvariasikan tekanan masuk turbin dan pembebanan dengan menggunakan R-123 sebagai fluida kerja .Pengambilan data dilakukan dengan memvariasikan tekanan masuk turbin pada setiap variasi pembebanan generator.Pengamatan dilakukan hanya pada turbin untuk mengetahui karakteristik turbin yang digunakan saat ini.Pengambilan data dilakukan dengan R-123 sebagai fluida kerja. Dari eksperimen didapatkan temperatur masuk dan keluar turbin,kecepatan putaran turbin dalam rpm, dan enthalpy dapat diketahui. Enthalpy digunakan untuk mengitung kerja yang dihasilkan turbin, efisiensi turbin dan efisiensi sudu turbin.Pada tekanan masuk turbin 8 bar dan beban 1000 Watt data dengan nilai terbaik didapatkan.Hasil perhitungan data didapatkan kerja yang dihasilkan turbin yang terbesar adalah 5,4 KW. Hasil lain yang dapat diketahui adalah efisiensi turbin tertinggi 88%. Efisiensi sudu turbin tertinggi yang terhitung adalah 42,9%.

  6. EMISI CO2 TANAH AKIBAT ALIH FUNGSI LAHAN HUTAN RAWA GAMBUT DI KALIMANTAN BARAT (Soil Emissions of CO2 Due to Land Use Change of Peat Swamp Forest at West Kalimantan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rossie Wiedya Nusantara

    2015-01-01

    Full Text Available ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alih fungsi lahan gambut yang menyebabkan perubahan emisi CO2 tanah pada hutan rawa gambut primer (HP, hutan gambut sekunder (HS, semak belukar (SB, kebun sawit (KS, dan kebun jagung (KJ dan menganalisis pengaruh suhu dan jeluk muka air tanah (water-table depth terhadap emisi CO2 tanah. Sampel dari tiap tipe lahan diambil sebanyak lima ulangan, total sampel 25. Saat pengukuran respirasi CO2 tanah gambut dilakukan pengukuran suhu tanah dan muka air tanah. Pengukuran di lapangan dilaksanakan dua kali yaitu awal musim kemarau dan musim hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emisi CO2 tanah tertinggi dan terendah pada dua waktu pengukuran tersebut adalah pada tipe lahan KJ (6,512 ton ha-1 th-1 dan SB (1,698  ton ha-1 th-1 serta pada tipe lahan KS (6,701 ton ha-1 th-1 dan SB (3,169 ton ha-1 th-1 berturut-turut. Suhu tanah gambut tertinggi dan terendah pada dua waktu pengukuran tersebut berturut-turut adalah pada tipe lahan SB (27,78 oC dan HP (22,78 oC, dan pada tipe lahan KS (29,08 oC dan HP (26,56 oC serta jeluk muka air tanah gambut berturut-turut pada tipe lahan KJ (56,2 cm dan  SB (32,1 cm. Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan emisi CO2 tanah gambut adalah suhu tanah, jeluk muka air tanah dan pengelolaan lahan yang menyebabkan perubahan sifat tanah gambut, seperti ketersediaan C-organik (jumlah dan kualitas bahan organik, pH tanah dan kematangan gambut. ABSTRACT This study aims to analyze peatland use change that caused changes soil emissions of CO2 at primary peat swamp forest (HP, secondary peat forest (HS, shrub (SB, oil palm plantations (KS and corn field (KJ, and to analyze the influence of temperature and water-table depth to soil emission of CO2. Soil samples were taken from each five replications that accunt for 25 samples. Simultaneously with measurement of soil respiration measuremnts soil temperature. Field measurement is carried out twice at the beginning of dry season and

  7. PERAN REVEGETASI TERHADAP RESTORASI TANAH PADA LAHAN REHABILITASI TAMBANG BATUBARA DI DAERAH TROPIKA (The Role of Revegetation on the Soil Restoration in Rehabilitation Areas of Tropical Coal Mining

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Cahyono Agus

    2014-05-01

    Full Text Available ABSTRAK Pertambangan batubara terbuka menyebabkan degradasi lahan, sehingga perlu upaya rehabilitasi lahan melalui program revegetasi. Penelitian dilakukan di areal PT. Berau Coal  pada site Binungan, Lati dan Sambarata, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Indonesia. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap ber-blok dengan umur revegetasi sebagai perlakuan, tiga kali ulangan dan tiga site sebagai blok. Pemilihan lokasi menggunakan metode purposif sampling yaitu pengambilan sampel yang didasarkan pada pertimbangan pada umur pengolahan lahan revegetasi, meliputi S1 : area hutan sebelum ditambang (rona awal, S2 : revegetasi awal, umur tanaman  5 tahun. Pengambilan sampel tanah pada  kedalaman 0–20 dan 20-40 cm pada setiap perlakuan di ketiga lokasi, selanjutnya dianalisis sifat fisik dan kimianya. Tanah Typic Hapludult pada lahan hutan sebelum ditambang batubara secara terbuka (S1,  rona awal mempunyai kadar C-organik (1,87 %, N-total (0,14 %, P-tersedia (31,40 ppm, K-tertukar (0,11 me/100g, pH (3,98, KTK (10,72 me/100g dan kejenuhan basa (17 %. Penambangan terbuka batubara telah menyebabkan lapisan bawah dan  permukaan tanah menjadi terbongkar dan terjadi penurunan kualitas tanah yang sangat drastis. Penimbunan lahan dengan media tanah permukaan sebelumnya, telah cukup  mampu memperbaiki sifat-sifat tanah tertambang namun belum sesuai sebagai media pertumbuhan, serta sangat rentan terhadap degradasi lahan lebih lanjut. Revegetasi menggunakan tanaman pionir, cepat tumbuh dan adaptif seperti Sengon, Akasia, Sungkai, Melina, Angsana, Jarak serta Legume Cover Crop (LCC pada area bekas tambang  batubara memberikan pengaruh yang  nyata terhadap peningkatan kandungan C-organik, N-total dan  pH tanah. Revegetasi menggunakan spesies cepat tumbuh setelah berumur 5 tahun telah mengembalikan bahkan memperbaiki sifat kimia tanah dibanding dengan kondisi pada hutan tropika basah sebelum dilakukan penambangan terbuka.   ABSTRACT Open coal mining

  8. Aplication Of Life Cycle Assessment On Water Quality Caesed By Fish Culture Activity In Cirata Reservoir, Indonesia

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tri Heru Prihadi

    2017-12-01

    was characterized by high concentration of  nitrit and orto fosfat with c-organik.Sources of the decomposition at Cirata Reservoir are from industrial activities, household waste, agricultural waste, and the leftover from the activities of floating net fish cages. The wastes are in the form of fat, protein and carbohydrat. In decomposition process and the rate of destruction process of organic matters in the sediment  is carried our by bacteria, resulting in the oxygen dissolved in the waters will decrease. This lessens the oxygen at Cirata reservoir so that decomposition process takes place anaerobically at the bottom of the waters. The methodology was conducted by  water and sediment sampling, measuring water quality on location and laboratory analysis for samples of water and sediment. Analysis result showed that the data of water quality collected in every station was relatively homogeneous. The quality of water at measuring time approached critical treshold required for fish raising. The result showed that the level of decomposition Sediment Organic Metter, water quality in Cirata reservoir based on IKA_STORET valued class I, II, and III catagorized as worse. Valued DO, sulfide, Fenol, BOD, COD, Total Fosfat byone  water quality standar. The destruction will occur by itself, depending on the availability of oxygen on the sediment and interface when there is bacteria serving as heterotraphic aerobic in line with the availability of dissolved oxygen for bacteria to do the decomposition activity in the sediment. The result would be confirmed on dendogram classification hierarchy, result revealed that stations of observation were divided into 2 groups according to affecting characteristics. Group 1 covering stasion 1 and 2, group 2 which covering station 3 was characterized by high concentration of  nitrit and orto fosfat with c-organik.

  9. Validasi Algoritma Estimasi konsentrasi Klorofil-a dan Padatan Tersuspensi Menggunakan Citra Terra dan Aqua Modis dengan Data In situ (Studi Kasus : Perairan Selat Makassar

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Endang Prinina

    2017-01-01

    Full Text Available Klorofil-a dan Padatan Tersuspensi (TSS merupakan parameter fisik kualitas perairan. Pigmen klorofil-a memiliki daya serap yang tinggi pada gelombang tampak biru dan merah. TSS merupakan zat padatan sedimentasi dari aliran sungai yang membawa material-material organik maupun anorganik. Kandungan TSS yang tinggi sangat mengganggu proses fotosintesis pada fitoplankton yang merupakan produsen penghasil zat klorofil-a. Sehingga TSS juga mampu menyerap gelombang tampak. Kemampuan klorofil-a dan TSS dalam menyerap gelombang tampak dapat di amati dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Pemanfaatan teknologi ini membutuhkan algoritma dalam menentukan nilai estimasi konsentrasi klorofil-a dan TSS. Penelitian ini menggunakan citra Terra dan Aqua MODIS. Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi hasil algoritma klorofil-a dan TSS yang telah ada dalam perangkat lunak SeaDAS 7.3.1. Dari hasil penelitian ini didapatkan koreksi atmosfer terbaik dalam pendugaan klorofil-a dan TSS yaitu koreksi atmosfer MUMM. Dari hasil pemetaan klorofil-a dan TSS menghasilkan nilai NMAE sebesar 158,34% dan 65,28%. Hal ini menunjukkan bahwa algoritma empiris ini tidak dapat diterapkan pada Selat Makassar. Sebaran klorofil-a terendah sebesar 0,105 µg/l dan tertinggi sebesar 0,783 µg/l pada citra Terra MODIS. Sedangkan sebaran TSS terendah 0,02 mg/l dan tertinggi 6,88 mg/l pada citra Terra MODIS. Citra Terra MODIS lebih baik dalam pendugaan klorofil-a dan TSS dengan menggunakan algoritma empiris di SeaDAS 7.3.1 daripada menggunakan citra Aqua MODIS.

  10. Toprak Solucanlarından Elde Edilen Vermikompostun Bazı Bitki Patojenleri Üzerindeki Antimikrobiyal Aktivitelerinin Araştırılması

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Uğur Tutar

    2012-12-01

    Full Text Available Toprak solucanlarının, organik atıkları biyolojik olarak parçalayarak ayrıştırmaları ile oluşturdukları “vemikompost” un, bazı patojen bakteri ve funguslara karşı etkili oldukları yapılan çeşitli araştırmalarla saptanmıştır. Bu çalışmada, Eisenia fetida türü toprak solucanlarından elde edilen vermikompostun; etanol ve kloroform solventleri kullanılarak elde edilen ekstrelerinin, bitkilerde hastalıklara neden olan toprak kaynaklı patojen 9 adet bakteri ve 9 adet fungusa karşı etkinliklerinin belirlenmesi amacıyla “disk difüzyon” ve “MIC” testleri uygulanmıştır. Çalışma sonuçlarına göre, toprak solucanlarından elde edilen vermikompostun kloroform ile elde edilen ekstrelerinin Pseudomonas syringae, Xhantomonas carotae, Sclerotinia sclerotiorum, Fusarim oxysporum, Aspergillus humicola ve Aspergillus fumigatus’ a karşı etkileri güçlü olurken Erwinia chrysanthemi, Pseudomonas fluorescens, ve Penicillium brevicompactum’ a karşı etkilerinin daha zayıf olduğu görülmüştür. Vermikompostun etanol ile elde edilen ekstrelerinin ise Pseudomonas syringae, Xhantomonas campestris ve Aspergillus fumigatus’ a karşı etkilerinin güçlü olduğu, Erwinia herbicola, Erwinia chrysanthemi ve Sclerotinia sclerotiorum’ a  karşı ise daha zayıf bir etki gösterdiği saptanmıştır.

  11. PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA BERBASIS MASYARAKAT DI KELURAHAN SEKARAN KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Laelia Nurpratiwiningsih

    2015-08-01

    Full Text Available Tujuan  masalah dalam penelitian ini adalah mengkaji pengelolaan sampah rumah tangga di Kelurahan Sekaran, menganalisis efektifitas  pengelolaan sampah rumah tangga di Kelurahan Sekaran, dan menganalisis faktor peluang dan faktor penghambat dalam pengelolaan sampah rumah tangga di Kelurahan Sekaran. Fokus penelitian ini adalah untuk mengkaji pengelolaan sampah rumah tangga yang dilakukan oleh masyarakat dalam hal penyediaan tempat sampah, pengumpulan sampah, pengangkutan sampah, dan pengolahan sampah baik sampah organik maupun anorganik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan (1 Pengelolaan sampah rumah tangga di Kelurahan Sekaran adalah dengan menggunakan cara dibakar dan menggunakan jasa pengelola sampah. (2 Efektifitas dalam pengelolaan sampah rumah tangga di Kelurahan Sekaran dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. (3 Faktor peluang dalam pengelolaan sampah adalah adanya kesempatan kerja bagi para pengelola sampah, sedangkan faktor penghambatnya adalah tidak adanya organisasi, peran pengurus kurang berperan aktif. The purpose of problems in this research are as follows; (1 knowing is the model of household waste in Sekaran village, (2 analysis the effectiveness of household management in Sekaran village, and (3 analysis the aspect of opportunities and obstacles in managing the household waste in Sekaran village. The focus of this research is to review the management of  household waste which is managed  by society in terms of providing the dump, collecting waste, transporting waste, and managing waste of organic or inorganic. This research uses qualitative approach. The research results show (1 the household management in Sekaran village uses applied by burnt and wastehold management service, (2 the effectiveness of household waste management can be give advantages all of them. (3 opportunities factors in managing household waste can be opportunity activities to waste organizer, while the obstacle

  12. Peningkatan Produktivitas Lahan Gambut melalui Teknik Ameliorasi dan Inokulasi Mikroba Pelarut Fosfat

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ida Nur Istina

    2014-12-01

    Full Text Available Keterbatasan lahan potensial menyebabkan perluasan areal pertanian mengarah pada lahan gambut. Kendala pengembangan lahan gambut adalah rendahnya kandungan hara tersedia bagi tanaman. Fosfat (P merupakan salah satu unsur hara makro yang penting untuk pertumbuhan dan produksi tanaman, disisi lain ketersediaan hara ini pada lahan gambut terbatas karena ikatan asam organik dan sifat yang mudah tercuci. Penelitian untuk menguji pengaruh ameliorasi dan inokulasi mikroba pelarut fosfat terhadap ketersediaan hara P di lahan gambut dilakukan di kebun pembibitan kelapa sawit petani di Riau dari Oktober 2013 - Maret 2014, menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola Faktorial dengan 30 kombinasi perlakuan dan 3 kali ulangan. Variabel yang diamati meliputi : tinggi tanaman, lingkar batang, jumlah daun, lebar daun, panjang daun, kandungan hara tanaman, dan bobot biomasa bibit setelah 5 bulan di pembibitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ameliorasi menggunakan kompos tandan kosong kelapa sawit mampu meningkatkan P tersedia, serapan P oleh batang dan akar, berat brangkasan dan berat kering batang. Sedangkan mikroba pelarut fosfat berpengaruh secara tidak nyata.The limitation of potential land leads agricultural development expansion to the peat soil area. Constrain of the peatland development is the low nutrient content that is required by plant. Phosphate is one of major growth and production limiting nutrient because of the solublelize of the organic acids and immobility The research was conducted from October 2013 – March 2014 at the farmer main nursery in Riau province to test the effect of amelioration and phosphate solubilizing microbe inoculation on P availability on palm oil seedling growth and production at peatland, used Randomized Block Design with 30 treatments and 3 replications. The parameters observed were plant height, leaf number, leaf width, leaf length, stem diameters, nutrient contents, also fresh and dry weight after 5 months at the

  13. Domates Salçalarının Mikroflorası ve Depolama Sürecinde Miktarlarındaki Değişiklikler

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fikri Başoğlu

    2015-02-01

    Full Text Available - Ticari sterilize edilen domates salçasının muhafazası esnasında sterilliği azalmaktadır. 12 aylık muhafaza süresinde sterillik %100’den %15 ve 8’e hatta daha aza düşebilir. - Pastörizasyonda tatbik edilen sıcaklık derecesi (89-93 oC laktik asit bakterileri ile maya ve küflerin yaşamasına imkan vermemektedir. - Domates salçasının kalıntı mikroflorasını umumiyetle spor yapan bakteriler (B. subtilis, B. mesentericus, B. cereus ..... temsil etmektedir. - Domates salçasının kuru maddesi %28-30 veya %38-40 olması B. subtilis ve B. mesentericus’un ölmesine tesir etmemektedir. - Salçanın 10-15 oC ta muhafaza edilmesi termofil mikroorganizmaların çoğalmasına engel olmaktadır. - Salçanın pH’sı yükseltilirse sporlar çabuk gelişmektedir. - Hermetikli kapatmadaki hatalarda laktik asit bakterileri ve mayalar salçayı bozmaktadırlar. - Salçada bulunan bazı sporlu ve sporsuz mikroorganizmaların termal ölüm müddetlerine ortamın pH’sı, organik asitler ve spor konsantrasyonu etki etmektedir.

  14. PENGARUH SUBSTITUSI SILASE ISI RUMEN SAPI PADA PAKAN BASAL RUMPUT DAN KONSENTRAT TERHADAP KINERJA SAPI POTONG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Engkus Ainul Yakin

    2013-03-01

    Full Text Available Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian silase isi rumen sapi sebagai pakan pengganti rumput terhadap kinerja sapi potong. Sapi persilangan Simmental-Peranakan Ongole (SimPO jantan sebanyak 12 ekor, umur 1,5-2 tahun, digunakan dalam penelitian ini. Penelitian dilakukan selama 8 minggu (2 bulan dengan pemberian pakan sebesar 3% dari bobot badan berdasarkan bahan kering dan air minum diberikan secara ad libitum. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola searah dilanjutkan Duncan’s New Multiple Range Test (DMRT. Perlakuan yang diberikan yaitu mengganti sebagian rumput dengan silase isi rumen sapi, yaitu P0 = pemberian pakan 100% rumput , P1= pemberian pakan 25% silase isi rumen sapi dan 75% rumput, dan P2 = pemberian pakan 50% silase isi rumen sapi dan 50% rumput. Imbangan pakan antara rumput dan konsentrat adalah 20% : 80%. Variabel yang diamati adalah konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian (PBBH, dan konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi bahan kering (BK (13,23±0,63 kg/ekor/hari, konsumsi bahan organik (BO (10,41±0,50 kg/ekor/hari, konsumsi total digestible nutrients (TDN (7,38±0,37 kg/ekor/hari, PBBH (0,95±0,04 kg/ekor/hari, dan konversi pakan (7,38±0,37. Perlakuan berpengaruh (P<0,05 terhadap konsumsi protein kasar (PK (P0 = 0,94±0,03, P1 = 1,00±0,06 dan P2 = 0,98±0,01, dan serat kasar (SK (P0 = 3,26±0,10, P1 = 3,44±0,22 dan P2 = 3,27±0,04. Disimpulkan bahwa penggantian sebagian rumput dengan silase isi rumen sampai 50% tidak mempengaruhi kinerja sapi potong. (Kata kunci: Isi rumen sapi, Sapi potong, Silase

  15. Degradasi Zat Warna Pada Limbah Cair Industri Tekstil Dengan Metode Fotokatalitik Menggunakan Nanokomposit Tio2 – Zeolit

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Siti Naimah

    2014-10-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian degradasi zat warna pada limbah cair industri tekstil menggunakan metode fotokatalitik dengan penambahan nanokomposit TiO2 - zeolit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas kemampuan nanokomposit dalam mendegradasi zat warna serta parameter-parameter yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air. Zeolit alam diaktivasi terlebih dahulu sebelum dikompositkan dengan TiO2. Perbandingan TiO2 : zeolit yang digunakan pada pembuatan nanokomposit adalah 100:0, 20:80, 40:60, 50:50, 60:40, dan 0:100. Percobaan pendahuluan dilakukan dengan menggunakan limbah cair tekstil buatan yang dibuat dari pewarna Synolon yellow S- G6LS (untuk warna kuning dan B/Blue R 150% special (untuk warna biru, sedangkan limbah cair industri tekstil diambil dari salah satu industri di Bogor. Waktu degradasi zat warna dilakukan dalam reaktor fotokatalitik selama 180 menit. Pada perbandingan TiO2 : zeolit 40:60 didapatkan degradasi zat warna tekstil buatan berwarna kuning maksimal adalah 99,9 % dan zat warna tekstil buatan berwarna biru maksimal 99,8%. Analisis warna menggunakan spektrofotometer dan HPLC. Nanokomposit TiO2 : zeolit 40 : 60 merupakan perbandingan optimal sehingga digunakan pada uji coba limbah cair industri tekstil. Degradasi maksimal warna kuning dengan pengolahan fotokatalitik yang ditambahkan nanokomposit pada limbah cair industri tekstil sebesar 98,4%, sedangkan untuk parameter uji zat organik, TSS, TDS, BOD, COD, dan lemak/minyak diperoleh nilai di bawah baku mutu yang dipersyaratkan. 

  16. 2-ALLİL-6,6'-[(3,3'-DİMETOKSİ[1,1'-BİFENİL]-4,4'-DİYİLBİS(NİTRİLOMETİLİDEN]BİS-FENOLÜN MİKRODALGA VE GELENEKSEL ISITMA YOLUYLA SENTEZİ, YAPI KARAKTERİZASYONU VE TAUTOMERİK ÖZELLİKLERİNİN DENEYSEL VE TEORİK OLARAK İNCELENMESİ

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Emel ERMİŞ

    2015-05-01

    Full Text Available 2-Allil-6,6'-[(3,3'-dimetoksi[1,1'-bifenil]-4,4'-diyilbis(nitrilometiliden]bis-fenol (3 Schiff bazı bileşiği, 3-allilsalisilaldehitin (1 o-dianisidin (2 ile kondenzasyon reaksiyonundan geleneksel ısıtma ve mikrodalga-ışınlama yöntemi kullanılarak sentezlendi. Bileşik (3’ün kimyasal yapısı element analizi, FTIR, 1H NMR, ve 13C NMR teknikleri kullanılarak karakterize edildi. Bileşiğin farklı organik çözücülerde fenol-imin (O-H…N ve keto-amin (O…H-N tautomerik dengeleri, UV-görünür bölge spektrofotometrik yöntem kullanılarak incelendi ve keto-amin yüzdeleri hesaplandı. Ayrıca, bileşiğin geometrisi, farklı çözücülerdeki fenol-imin ve keto-amin tautomerlerinin enerjisi, moleküliçi O-H…N ve O…H-N hidrojen bağ uzunluğu, UV-görünür bölge uyarılma enerjisi ve ossilatör kuvveti DFT (B3LYP/6-311+G(d,p hesaplama yöntemiyle teorik olarak hesaplandı ve hesaplamalar deneysel sonuçlar ile karşılaştırıldı.

  17. ANALISIS PERGERAKAN POLUTAN TRIKLOROETILEN DALAM MEDIA BERPORI MENGGUNAKAN SENTRIFUG GEOTEKNIK (Analysis of Trichloroethylene Pollutant Migration in Porous Media Using Geotechnical Centrifuge

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muchlis Muchlis

    2016-02-01

    Full Text Available ABSTRAK Trikloroetilen (TCE adalah pelarut organik yang sering digunakan dalam proses industri. TCE adalah salah satu contoh dari Non Aqueous Phase Liquid (NAPL yang sudah banyak mencemari tanah dan air tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat-sifat pergerakan TCE dalam berbagai jenis tanah yang berbeda, mengkaji sifat-sifat pergerakan TCE dalam tanah dengan menggunakan kecepatan 1 dan 25 Gravitasi, dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan TCE dalam tanah. Sifat pergerakan TCE dalam tanah riolit dan granit adalah TCE akan masuk langsung secara vertikal dan horizontal dalam tanah hingga ke dasar tanah. Pergerakan TCE akan terhambat pada tanah yang banyak mengandung partikel berukuran kecil. Pergerakan TCE secara vertikal pada gaya 1G dan 25G dalam tanah granit adalah paling cepat berbanding dalam tanah riolit. Pergerakan TCE dalam tanah kering dipengaruhi oleh sifat tanah terutama ukuran butir dan Kapasitas Pertukaran Kation (KPK. ABSTRACT Tricholoroethylene (TCE is an organic solvent used in many industrial processes. TCE is one of Non-Aqueous Phase Liquid (NAPL which has already contaminated soil and groundwater. The objectives of this study are to determine the migration of TCE in rhyolite and granite soil, to determine the migration of TCE in soil using 1 and 25 Gravity (G force, and to determine the migration of TCE influencing factors in the soil. The characteristics of TCE migration in rhyolite and granite soil will migrate vertically and laterally to the bottom of the ground. The migration will be retarded in small particle size of soil. The fastest migration of TCE at 1G and 25G was found in the granite soil. The migration of TCE in dry soil is affected by properties of soil particularly particle size and cation exchange capacity.

  18. PENGARUH EM4 (EFFECTIVE MICROORGANISME TERHADAP PRODUKSI BIOGAS MENGGUNAKAN BAHAN BAKU KOTORAN SAPI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dwi Irawan

    2016-08-01

    Full Text Available Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme pada kondisi langka oksigen (anaerob. Komponen biogas: ± 60 % CH4 (metana, ± 38 % CO2 (karbondioksida, ± 2 % N2, O2, H2, dan H2S. Bahan Biogas dalam penelitian ini berasal dari kotoran sapi. Kotoran sapi merupakan substrat yang dianggap paling cocok sebagai sumber pembuat gas bio, karena substrat tersebut telah mengandung bakteri penghasil gas metan yang terdapat dalam perut hewan ruminansia. Selain kotoran sapi dijadikan biogas juga dapat mengurangi pencemaran  lingkungan di samping menghasilkan sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dalam penambahan EM4 yaitu terhadap produksi biogas yang dihasilkan. Penelitian dilakukan Di Laboratorium Kampus II Universitas Muhammdiyah Metro. Metode yang digunakan dengan perbandingan kotoran sapi dan air, 1 : 1 dengan penambahan EM4 (Effective microorganisme, 8 %, 9 %, dan 10 % dengan volume digester 90 liter. Hasil penelitian ini dengan penambahan EM4 10 % lebih efektif untuk menghasilkan biogas yaitu, tekanan gas total 104098 N/m2, massa biogas 0,04286411 kg, dan laju aliran massa biogas 0,0126653 kg/hari.Pada penambahan EM4 9 %, untuk biogas yang dihasilkan yaitu, tekanan gas total 104000 N/m2, massa biogas 0,04133325 kg, dan laju aliran massa 0,0125884 kg/hari. Dan untuk perbandingan I dengan penambahan EM4 8 %, untuk biogas yang dihasilkan yaitu, tekanan gas total 101984 N/m2, massa biogas 0,0350515 kg, dan laju aliran massa 0,125807 kg/hari.

  19. PERFORMA DOMBA YANG DIBERI COMPLETE FEED KULIT BUAH KAKAO TERFERMENTASI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Kamalidin (Kamalidin

    2013-03-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa domba yang diberi complete feed kulit buah kakao (KBK terfermentasi. Domba ekor tipis umur 1-1,5 tahun sebanyak 15 ekor digunakan dalam penelitian ini dengan pemberian pakan dan air minum secara ad libitum. Perlakuan yang dicobakan adalah K yang merupakan pakan kontrol terdiri dari hijauan (sumber serat + konsentrat, NF merupakan complete feed dari kulit buah kakao (sumber serat + konsentrat tanpa fermentasi dan F merupakan complete feed dari kulit buah kakao (sumber serat + konsentrat yang melalui proses fermentasi (CFF dengan perbandingan antara sumber serat dan konsentrat adalah 40% : 60%. Variabel yang diamati adalah konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, feed cost per gain dan income over feed cost. Hasil penelitian menunjukkan bahwa complete feed berpengaruh nyata terhadap konsumsi bahan kering (BK, bahan organik (BO, protein kasar (PK, serat kasar (SK, lemak kasar (LK dan total digestible nutrients (TDN, sedangkan pertambahan bobot badan harian dan konversi pakan tidak berbeda nyata terhadap formulasi complete feed. Rerata konsumsi BK, BO, PK, SK, LK, dan TDN berturut-turut adalah 87,72; 78,21; 10,12; 12,21; 1,77, dan 59,52 g/kg BW0,75. Rerata pertambahan bobot badan harian adalah 128,67 g/hari atau 0,88 g/kg BW0,75, sedangkan rerata konversi pakan adalah 6,27. Disimpulkan bahwa pemberian ransum complete feed menghasilkan konsumsi nutrien yang tinggi tetapi tidak memberikan efek pertambahan bobot badan harian dan nilai konversi pakan yang lebih tinggi. Pemanfaatan fermentasi KBK menggunakan biofit menghasilkan PBBH 128,57 g/ekor/hari atau 0,88% g/kg BB0,75 efektif untuk digunakan dalam ransum penggemukan ternak domba. (Kata kunci: Domba, Complete feed, Kinerja

  20. تعليم اللغة العربية للناطقين بغيرها: أبعاده الثقافية

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nasaruddin Idris Jauhar

    2014-06-01

    Full Text Available Abstract: Language and culture are closely intertwined. Language is medium through which culture is expressed. Culture consists of a set of norms or values that always use language for its expression in various forms. Speakers tend to use patterns and contexts of a language from which it originates. Experts of language argue that teaching and learning of a particular language will never be completely successful without considering cultural patterns and values of it. Cultural competency is one of the basic requirements for the study of language. From this point of view, this article attempts to formulate the concept of study of the Arabic for non-Arab students from the perspective of Islamic Arabic culture both in the contexts of Arabs and non-Arab Muslims, who study Arabic. This concept includes principles, approaches, objectives and materials of the study of Arabic as a second or foreign language.Abstrak: Bahasa dan budaya terikat hubungan yang sangat erat bahkan organik. Penutur sebuah bahasa tidak akan terlepas dari kecenderungan berbahasa sesuai dengan pola pikir yang dibentuk oleh budaya dimana ia berada. Atas dasar ini, para ahli pembelajaran bahasa memandang bahwa proses belajar-mengajar sebuah bahasa, terutama sebagai bahasa kedua dan sebagai bahasa asing, tidak akan pernah tuntas dan maksimal jika mengabaikan aspek dan konten budaya dari bahasa tersebut. Mereka bahkan merumuskan bahwa kompetensi kultural  adalah salah satu unsur penting dalam proses pembelajaran dan penguasaan sebuah bahasa. Dari kerangka tersebut, tulisan ini mencoba merumuskan konsep pembelajaran bahasa Arab untuk non-Arab dalam perspektif budaya Arab-Islam, baik dalam konteks  masyarakat  Arab maupun masyarakat  Islam non-Arab yang mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa asing. Konsep pembelajaran tersebut meliputi prinsip-prinsip pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing, pendekatannya,  tujuannya,  serta konten pembelajarannya.

  1. RESPON BIBIT SURIAN (Toona sinensis (Juss, M. Roem. TERHADAP INOKULASI BEBERAPA DOSIS FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA PADA MEDIA TANAH ULTISOL YANG DICAMPUR PUPUK KOMPOS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Feby Zulya

    2016-09-01

    Full Text Available AbstrakPenelitian tentang pertumbuhan bibit surian (Toona sinensis (Juss, M. Roem pada tanah ultisol yang dicampur pupuk kompos dengan penambahan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA telah dilakukan pada bulan November 2014 sampai April 2015 di Rumah Kaca dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan bibit surian pada media tanah ultisol yang dicampur pupuk kompos dengan penambahan FMA. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuannya adalah tanpa inokulasi (hanya pupuk organik, 5 g inokulan per tanaman, 10 g inokulan per tanaman, 15 g inokulan per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan bibit surian pada media tanah ultisol yang dicampur pupuk kompos dengan penambahan FMA memberikan pengaruh nyata terhadap pertambahan diameter batang.Abstract Study on the seedling growth of surian inoculated with some doses of Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF on ultisol mixed compost has been conducted from November 2014 until February 2015 in the Greenhouse and Plant Physiology Laboratory, Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Andalas University, Padang. The aim of this study was to find the growth of surian seedling that inoculated with some dosages of AMF on ultisol mixed compost. The study used a Completely Randomized Design with four treatments and six replications. The treatments were done without inoculation, 5 g inoculants/ plant, 10 g inoculants/ plant, 15 g inoculants/ plant. Result of this study indicated that AMF given on ultisol soil gave significant effect on increasing stem diameter of surian seedlings.

  2. Use of organic fertilizer and bio fertilizer in a modern planting system to increase the productivity of vanilla plant

    International Nuclear Information System (INIS)

    Ahmad Nazrul Abd Wahid; Phua Choo Kwai Hoe; Shyful Azizi Abdul Rahman; Mohd Fajri Osman; Latiffah Noordin; Abdul Razak Ruslan; Maizatul Akmam Mhd Nasir; Hazlina Abdullah; Amirul Azmi Supuan; Misman Sumin; Ahamad Sahali Mardi; Khairuddin Abdul Rahim

    2010-01-01

    Vanilla is a plant belonging to the orchid family and native to Mexico. In Malaysia, research and cultivation of vanilla plants are becoming more popular and intensive because the plant has a high commercial value. Fertilizing of vanilla plants is important to enhance the nutrients needed by the plants for growth and vanilla pod production. In 1999, research in MARDI showed that the use of chemical fertilizer NPK (15:15:15) was suitable for vanilla plants. For plants that have not produced vanilla pods foliar fertilizer must be sprayed and foliar fertilizer application must be reduced at pod production stage. The fertilizer programme is almost similar to those of other vanilla producing countries such as Indonesia and Mexico. In Indonesia, studies on organic farming of vanilla have been conducted. They have produced chemical-free vanilla fertilizer products such as Bio-Fob, Bio-TRIBA and Organo TRIBA Compost. We in Malaysian Nuclear Agency conducted a study on the effects of organic and bio fertilizers on vanilla at the vanilla experimental plot. This plot adopts the modern system of vanilla planting. The study involved the use of organic and bio fertilizer products produced in Nuclear Malaysia such as Organik NF, plant growth promoter and phosphate solubiliser and imported commercial orchid mycorrhizal bio fertilizer from Korea. The application of these fertilizers is by placing the fertilizers on the planting media in poly bags with replications according to the treatments. Observations were made weekly for 15 weeks by measuring of parameters including the bud growth and leaf number. These data are plotted in graphical form for evaluation.(author)

  3. Teknologi Pengendalian Gulma Alang-alang dengan Tanaman Legum untuk Pertanian Tanaman Pangan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ishak Juarsah

    2015-07-01

    Full Text Available Di Indonesia, Alang-alang (Imperata cylindrica L. Beauv merupakan salah satu gulma terpenting dan termasuk sepuluh gulma bermasalah di dunia.  Melalui biji dan rimpang, alang-alang dapat tumbuh dan menyebar luas pada hampir semua kondisi lahan. Teknologi pengendalian alang-alang telah banyak dikenal namun belum dapat menjamin eradikasi populasi alang-alang secara berkelanjutan tanpa diikuti oleh kultur teknis dan pola budidaya tanaman pangan sepanjang tahun. Hasil penelitian menunjukan bahwa lahan alang-alang dapat dikendalikan/dikelola menjadi lahan produktif setelah direhabilitasi dengan tanaman legume (Mucuna sp. untuk usaha tani tanaman pangan lahan kering berorientasi konservasi tanah. Bahan hijauan tanaman Mucuna dapat meningkatkan kadar C-organik, memperbaiki sifat fisika, kimia tanah dan meningkatkan  produksi tanaman pangan. In Indonesia, Alang-alang (Imperata cylindrica L. Beauv is one of important weeds and included to ten most problematic weeds around the world. Through its seeds and roots, alang-alang can grow and expand in nearly all soil conditions. Many technologies for controlling have been known but can not ensure the eradication of weeds population, however the controlling via food crops cropping systems for the whole years is the best method so far to have sustainability of the agriculture land. Research showed that alang-alang area could be controlled/managed became more productive land after rehabilitation with legume (ie Mucuna sp. especially for dry land conservation oriented. Mucuna green materials might increase C-organic content, both soil chemical and physical improvement, furthermore increased foodcrops production.

  4. Tekstil Atıksularının Gideriminde Atık Döküm Kumlarının Kullanımı / Using of Waste Foundry Sands in Removal of Textile Wastewater

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    ELİF HATİCE GÜRKAN

    2012-12-01

    Full Text Available Ülkelerin sanayileşmesi ile birlikte endüstriyel bazlı su kullanımının artması ve son yıllarda ortaya çıkan küresel ısınma sorunu, yüzeysel ve yeraltı su kaynaklarının tükenmesine sebep olmaktadır. Endüstriyel atıksuların doğaya yaptığı etkiler önemli düzeyde, doğal dengeyi değiştirici ve bazı durumlarda geri dönülmez nitelikte olmaktadır. Endüstrilerden kaynaklanan atıksular, evsel atıksulara göre kaynak, miktar ve karakter açısından büyük farklılıklar gösterirler. Bu nedenle endüstri tesisinin çıkış sularının doğal su ortamlarının kirletmesini engelleyecek şekilde arıtılması gerekmektedir. Bu atıksuların arıtılıp geri kazanılması ile hem su kaynaklarının tüketimi hem de deşarj edilen arıtılmış atıksuların miktarı azaltılmakta ve çevresel etkileri en aza indirilebilmektedir. Ülkemizdeki en büyük endüstri dallarından biri olan tekstil endüstrisi, çok su tüketilen, kullanılan hammadde ve kimyasal maddelerin, gerçekleştirilen işlemlerin, her işlem için uygulanan teknolojilerin çeşitliliği nedeni ile farklılık gösteren ve üretilen ürüne bağlı atık kaynağı olarak son derece değişken yapıya sahip bir endüstridir. Tekstil endüstrisi atıksularının en belirgin özelliği, yüksek miktarda organik ve inorganik kimyasal içermesi ve yüksek toplam organik karbon (TOK, kimyasal oksijen ihtiyacı (KOI ve yoğun renk içeriğidir. Alıcı su kaynaklarına verilen boyar maddeler organik yük olarak bu kirliliğin küçük bir kısmını oluşturmaktadır; ancak alıcı ortamda çok düşük konsantrasyonlarda boyar madde bulunması bile estetik açıdan istenmeyen bir durumdur. Bu nedenle boyar madde içeren tekstil endüstrisi atıksularından renk giderim prosesleri ekolojik açıdan önem kazanmaktadır. Günümüzde boyar maddelerin giderimi büyük oranda fiziksel ve kimyasal yöntemlerle gerçekleştirilmektedir. Bu çalışmada, atık d

  5. Kandungan Senyawa Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH di Teluk Jakarta (Polycyclic Aromatic Compounds Hydrocarbons (PAH Content in Jakarta Bay

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fasmi Ahmad

    2013-07-01

    Full Text Available Perairan Teluk Jakarta menerima limbah yang berasal dari darat maupun perairan itu sendiri. Salah satu limbah tersebut adalah senyawa organik Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH yang merupakan senyawa organik bersifat toksik terhadap biota laut. Penelitian dilakukan untuk mengetahui kandungan PAH air laut dan sedimen dalam kaitannya dengan kehidupan biota laut serta mengetahui sumber senyawa tersebut. Pengukuran dilakukan bulan Maret 2011. Contoh air laut diambil dengan water sampler dan contoh sedimen dengan grab pada 15 stasiun. Kadar PAH dianalisa dengan Gas Chromatography-Flame Ionization Detector. Hasil penelitian menunjukkan kadar PAH air laut di Teluk Jakarta Bagian Barat > Bagian Tengah > Bagian Timur. Kandungan PAH di Teluk Jakarta Bagian Barat berkisar 201,57-474,68 ppb dengan total PAH 1404,68 ppb, di Bagian Tengah 104,61-337,07 ppb dengan total 825,63 ppb, dan di Bagian Timur 112,91-370,79 ppb dengan total 806,73 ppb. Data ini menunjukkan Teluk Jakarta Bagian Barat lebih banyak menerima masukan limbah yang mengandung PAH. Sedangkan Kadar PAH sedimen di Teluk Jakarta Bagian Timur > Bagian Tengah > Bagian Barat. Kadar PAH di Teluk Jakarta Bagian Barat berkisar 1,92-64,241 ppm dengan total 107,931 ppm, di Bagian Tengah 16,14-77,71 ppm dengan total 170,61 ppm, dan di Bagian Timur 8,72-115,39 ppm dengan total 252,25 ppm. Data ini menunjukkan sedimen di Teluk Jakarta Bagian Timur lebih banyak mengakumulasi limbah yang mengandung PAH. Sumber PAH dalam air laut dan sedimen ini berasal dari berbagai sumber yakni pembakaran bahan organik, pembakaran minyak bumi, dan tumpahan minyak. Kadar PAH dalam air laut di Teluk Jakarta ini telah melebihi Nilai Ambang Batas yang ditetapkan oleh KMNLH untuk biota laut, dan Nilai Ambang Batas untuk sedimen yang ditetapkan oleh Handbook for Sediment Quality Assessment. Kata kunci: Teluk Jakarta, Polisiklik Aromatik Hidrokarbon, PAH, polusi Jakarta Bay receives various kinds of waste both from land and waters

  6. Las poblaciones de Phytophthora infestans presentes en papa en el altiplano Cundiboyacense en 1996 son monomórficas para la enzima glucosa-6-fosfato Isomerasa Populations of Phytophthora infestans present on potato in the Cundinamarca and Boyacá plateau in 1996 are monomorphic for glucose-6-phosphate isomerase

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gualtero Cúellar Elsa Janeth

    1998-06-01

    ólo genotipo. Esta homogeneidad, en lo que se refiere a GPI en la población, permite concluir que en esta zona predomina la reproducción asexual, a través de la cual la variación genética es mínima o no se presenta. Resultados alternativos como la aparición de genotipos nuevos apoyarían la existencia de migraciones de otras poblaciones o la recombinación sexual explicada por la presencia de los tipos de apareamiento A1 y A2.
    Potato late blight, a disease caused by the Oomycete Phytophthora infestans, is responsible in great proportion for severe decrements in potato production in the Cundinamarca and Boyacá plateaus. Until now, late blight control has been done mainly with fungicides. The widened genetic variability in populations of this organism for a number of traits, including sensitivity to commercially available fungicides, observed in a world-wide perspective, has shown the need to research the genetic structure of local populations. This study was launched to characterize the populations of P. infestans in Cundinamarca and Boyacá through the polymorphism of glucose-6-phosfate isomerase (GPI. The results pointed at a clonal nature of these populations. All the local isolates were homozygous monomorphic for GPI, with genotype 100/100. Isolate Ro showed genotype 86/100 that corresponds to lineage US-1. Isolate MT2 showed genotype 84/100. These iso lates correspond to heterozygous populations that may have resulted from sexual reproduction. Isolate HIN had genotype 100/100, coinciding with local isolates. This isolate belongs to mating type A1 and corresponds to lineage US-6. This lineage represents one of the earliest migrations from Mexico to the United States, Europe and the rest of the world. Prior to the migrations of mating type A2. Results indicate that local populations are not too diverse, and suggest a clonal orrqtn. These results agree with the evaluation of this same population as regards sensitivity to metalaxil and mating type (Gonzalez, 1997

  7. Optimasi Konsentrasi Fruktooligosakarida untuk Meningkatkan Pertumbuhan Bakteri Asam Laktat Starter Yoghurt (CONCENTRATION OPTIMIZATION OF FRUCTOOLIGOSACCHARIDES TO INCREASE GROWTH OF LACTIC ACID BACTERIA YOGHURT STARTER

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Raden Haryo Bimo Setiarto

    2017-09-01

    ditentukan berdasarkan OD (optical density, TPC (Total Plate Count, total asam laktat tertitrasi dan nilai pH. Penambahan fruktooligosakarida 1% (b/v pada media MRSB (Man, Rogosa Sharpe Broth dapat meningkatkan secara signifikan pertumbuhan L. acidophilus, L. bulgaricus, S. thermophilus. Bakteri asam laktat L. acidophilus, L. bulgaricus dan S. thermophilus mengalami fase pertumbuhan eksponensial selama masa inkubasi 6-18 jam. Fermentasi L. acidophilus, L. bulgaricus, S. thermophilus pada MRSB dengan penambahan fruktooligosakarida dapat menurunkan nilai pH dari kisaran 6,00 hingga 4,00 karena pembentukan asam-asam organik.

  8. KARAKTERISTIK TANAH DI BAWAH TEGAKAN JENIS VEGETASI MANGROVE DAN KEDALAMAN TANAH BERBEDA SEBAGAI INDIKATOR BIOLOGIS UNTUK TANAH TAMBAK DI KABUPATEN MAMUJU PROVINSI SULAWESI BARAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Akhmad Mustafa

    2011-04-01

    Full Text Available Kondisi lahan mangrove sangat ekstrem, sehingga vegetasi yang tumbuh merupakan vegetasi yang telah beradaptasi dan berevolusi dengan kondisi tersebut. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik tanah di bawah tegakan vegetasi mangrove dan kedalaman tanah berbeda yang dapat dijadikan indikator biologis untuk memprediksi karakteristik tanah untuk budidaya tambak. Pengukuran dan pengambilan contoh tanah dilakukan di bawah tegakan paku laut (Acrostichum aureum, bakau (Rhizophora apiculata, api-api (Avicennia alba, dan nipah (Nypa fruticans masing-masing pada kedalaman tanah 0-0,25 m dan 0,50-0,75 m di hutan mangrove Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat. Kualitas tanah yang diukur langsung di lapangan adalah pHF, pHFOX, dan potensial redoks, sedangkan yang dianalisis di laboratorium adalah kandungan air, pHKCl, pHOX, SP, SKCl, SPOS, TPA, TAA, TSA, pirit, karbon organik, N-total, PO4, Fe, Al, tekstur, dan nilai n. Analisis ragam dilakukan untuk mengetahui perbedaan kualitas tanah antar vegetasi mangrove pada kedalaman yang sama, sedangkan Uji T dilakukan untuk mengetahui perbedaan kualitas tanah antar kedalaman pada vegetasi mangrove yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tegakan bakau, api-api, nipah, dan paku laut yang tumbuh pada tanah sulfat masam Kabupaten Mamuju diklasifikasikan sebagai Sulfaquent dan Sulfihemits untuk kategori Kelompok Besar. pHF tanah pada vegetasi dan kedalaman tanah yang berbeda relatif sama, tetapi peubah kemasaman tanah lainnya menunjukkan bahwa tanah vegetasi paku laut memiliki potensi kemasaman yang lebih rendah dibandingkan dengan vegetasi lainnya. Kesuburan dan sifat fisik tanah vegetasi paku laut lebih mendukung untuk lahan budidaya tambak daripada vegetasi lainnya (bakau, api-api, nipah. Kualitas tanah pada setiap vegetasi relatif sama pada kedua kedalaman, kecuali tanah vegetasi paku laut dan api-api yang memiliki pH dan kandungan PO4 yang

  9. POTENSI PENYERAPAN KARBON PADA KARET POLA TUMPANGSARI TANAMAN HUTAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sahuri Sahuri

    2017-10-01

    cadangan karbon terdiri dari biomasa pohon dan bahan organik tanah. Hasil penghitungan menunjukan bahwa jumlah penyerapan CO2/tahun di perkebunan karet selama 10 tahun untuk PT1, PT2, PT3, PT4, dan PT5 masing-masing adalah 86,46 ton/ha, 125,90 ton/ha, 77,90 ton/ha, 36,26 ton/ha, dan 49,03 ton/ha. Penambahan penyerapan karbon selama 10 tahun akibat adanya pola tumpang sari karet dan tanaman hutan adalah 30,13% atau 49,17 ton CO2/ha dibandingkan tanaman karet monokultur.

  10. SINTESIS DAN MODIFIKASI LAPIS TIPIS KITOSAN-TRIPOLIFOSFAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M Alauhdin

    2014-11-01

    Full Text Available Dalam bidang medis, kitosan telah banyak digunakan yakni pada sistem penghantaran dan pelepasan obat. Pelepasan obat dengan kitosan memiliki keterbatasan karena kitosan cepat sekali menyerap air dan memiliki derajat swelling yang tinggi sehingga menyebabkan pelepasan obat terjadi dengan cepat. Diharapkan dengan memodifikasi struktur kitosan secara kimia dapat meningkatan kelarutannya dalam pelarut-pelarut organik. Telah dilakukan sintesis dan modifikasi lapis tipis kitosan. Modifikasi dilakukan melalui pembentukan ikatan silang kitosan dengan tripolifosfat (TPP pada kondisi asam untuk menghasilkan kitosan-TPP. Ikatan silang yang terbentuk diamati dengan FTIR. Sementara itu, pengaruh hasil pengikatan silang diamati dengan membandingkan rasio swelling kitosan-TPP pada kondisi pH yang berbeda-beda. Rasio swelling lapis tipis cenderung konstan setelah terjadi pengikatan silang kitosan dengan tripolifosfat. Reaksi tripolifosfat dengan kitosan melalui pembentukan ikatan silang menjadikan lapis tipis semakin rapat sehingga molekul air sulit untuk berdifusi masuk ke dalam struktur kitosan-tripolifosfat. Hasil ini menunjukkan bahwa pengikatan silang mampu mengurangi kelarutan dan meningkatkan sifat mekanik kitosan. Rasio swelling lapis tipis berkurang dengan adanya pengikatan silang. Hal ini mengindikasikan bahwa pengikatan silang oleh TPP dapat mengurangi hidrofilitas lapis tipis karena gugus amino yang reaktif telah bereaksi dengan ion tripolifosfat. In the medical field, chitosan has been widely used in the delivery systems and drug release. Drug release with chitosan has limitations because chitosan absorbs water very quickly and have a high degree of swelling that causes the release of the drug occurs rapidly. It is expected that by modifying the chemical structure of chitosan could improve its solubility in organic solvents. The synthesis and modification of chitosan thin film have been done. It was performed through the formation of crosslinked

  11. KATALOG SEBAGAI MEDIA PROMOSI BAGI UMKM KOELON KALIE KROBOKAN SEMARANG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dimas Irawan Ihya' Ulumuddin

    2016-12-01

    Full Text Available Abstrak Sampah merupakan zat yang bersifat organik maupun anorganik yang dihasilkan dari setiap aktifitas manusia, seperti rumah tangga, industri, maupun komersil. Persoalan sampah di Indonesia, terutama di perkotaan merupakan masalah serius. Dinas Kebersihan Kota Semarang mencatat bahwa sampah perkotaan dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring laju pertumbuhan jumlah penduduk. Sampah mengakibatkan permasalahan yang komplek, antara lain pembuangan sampah liar yang dapat menimbulkan berbagai penyakit, kota kotor, bau tidak sedap, mengurangi daya tampung sungai dan lain-lain. Tahun 2012, berdiri UMKM “Koelon Kalie” yang bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mengelola sampah plastik menjadi produk yang mempunyai nilai jual. Permasalahannya adalah belum adanya kegiatan promosi yang dilakukan dan hanya melalui mulut ke mulut konsumen dalam memasarkan produk. Media katalog merupakan media yang terjangkau dan efektif. Di dalam media katalog berisi informasi mengenai produk. Informasi yang dicantumkan yaitu nama, spesifikasi, dan harga produk tersebut. Gambaran produk dapat dilihat dengan jelas melalui informasi foto produk yang ditampilkan di media katalog. Berkebalikan dengan media mulut ke mulut yang hanya bisa didengarkan tanpa adanya gambaran produk dengan jelas. Melalui media katalog, konsumen mendapat informasi lebih jelas mengenai gambaran produk olahan sampah plastik. Kata Kunci: katalog, media promosi, UMKM Abstract Trash are an organic and inorganic substance that generated from any human activity, such as household, industrial, and commercial. Trash issues in Indonesia, especially in urban area is a serius problem. Department of Semarang City Sanitation noted that urban trash from year to year increases along with population growth rate. The trash resulting complex problems, such as illegal waste disposal, appear various diseases, dirty city, odor, reduce the capacity of river and others. In 2012, arise MSMEs

  12. Pembuatan Biobriket dari Limbah Cangkang Kakao

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Munas Martynis

    2012-06-01

    Full Text Available Biobriquette is an alternative energy as fuel substitute which is produced from organic materials or underutilized agricultural waste (biomass. Some types of biomass waste has considerable potential as wood waste, rice husks, straw, bagasse, palm shells, and municipal solid waste. Another untapped potential is the cocoa shell waste. These wastes are not used if it will cause a bad odor and may damage ecosystems. This study aims to see the effect of particle size variations and biobriquette shape to the biobriquette compressive strength produced, quality analysis, and combustion rate of biobriquette. The making of biobriquette used starch as adhesive as much as 50% of the biobriquette weight, variations of biobriquette particle size were 30 mesh and 60 mesh, the shape of biobriquette were hollow cylinder and solid cylinder. The results showed that biobriquette generated met the fuel standards for households. The best biobriquette was hollow cylinder biobriquette with the size of 30 mesh and the resulting calorific value was more than 4000 cal/g. Based on burning test, biobriquette obtained could be used as fuel.ABSTRAKBiobriket merupakan energi alternatif pengganti bahan bakar yang dihasilkan dari bahan-bahan organik atau limbah pertanian (biomassa yang kurang termanfaatkan. Beberapa jenis limbah biomassa memiliki potensi yang cukup besar seperti limbah kayu, sekam padi, jerami, ampas tebu, cangkang sawit, dan sampah kota. Potensi lain yang belum tergarap adalah limbah cangkang kakao. Limbah-limbah tersebut apabila tidak dimanfaatkan maka akan menimbulkan bau yang tidak sedap dan dapat merusak ekosistem lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh variasi ukuran partikel dan bentuk biobriket terhadap kuat tekan biobriket yang dihasilkan, menganalisa mutu dan laju pembakaran bioriket. Pembuatan biobriket ini menggunakan bahan perekat tepung kanji sebanyak 50 % dari berat biobriket, variasi ukuran partikel biobriket adalah 30 mesh

  13. PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU TERHADAP SIKAP GOOD FORESTRY GOVERNANCE DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO (The influence of individual characteristic toward attitude to Good Forestry Governance in Alas Purwo National Park

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tri Atmojo

    2013-07-01

    Full Text Available ABSTRAK Organisasi taman nasional di Indonesia mengalami berbagai permasalahan di berbagai simpul dan membutuhkan upaya perbaikan kelembagaan. Salah satu upaya pembenahan adalah perbaikan aspek perilaku organisasi yang mengarah kepada pembentukan good forestry governance. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data dan penjelasan mengenai pengaruh karakteristik individu orang-orang yang bekerja di Taman Nasional (TN Alas Purwo terhadap sikap good forestry governance (GFG. Penelitian ini dilaksanakan di TN Alas Purwo pada bulan November-Desember 2011 dengan menggunakan metode kuantitatif. Responden diambil secara purposive sampling terhadap personel TN Alas Purwo. Analisis data menggunakan uji regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik individu berpengaruh terhadap sikap good forestry governance. Persamaan regresi yang dihasilkan adalah GFG = 27,449 + 0,463 KI dengan nilai adjusted R2 0,287. Manajemen TN Alas Purwo perlu menaikan kualitas karakteristik individu personel taman nasional dengan melakukan berbagai tindakan manajemen. Implikasi disain organisasi yang tepat untuk tindakan manajemen ini adalah struktur organisasi organik. ABSTRACT In Indonesia, most of national parks have encountered several problems, which need efforts to improve their management. good forestry governance (GFG is one conceptualisation that can be used to improve aspects of organizational behavior in the management of conservation areas. In this research, we obtain data and explanation about influence of the individual characteristic (KI of Alas Purwo National Park with GFG attitude. Using quantitative methods, this study was conducted between November-December  2011. The respondents were staff of Alas Purwo National Park who taken by purposively. We perform data analysis with a simple regression test. The results indicate that the GFG attitude affected individual characteristic. The model is GFG attitude = 27.449 + 0.463 KI with adjusted R2 0,287. We

  14. Doğu Karadeniz Bölgesinde Üretilen Balların Kimyasal ve Duyusal Nitelikleri

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Zehra Güler

    2015-02-01

    Full Text Available Bal, başlıca karbonhidrat (glikoz ve früktoz ve sudan oluşan doğal bir üründür. Bu bileşenlerin yanı sıra protein, enzimler, organik asitler, mineral maddeler ve polen de içermektedir. Bal bileşimini ve özellikle de duyusal niteliğini üretildiği bölgenin florası önemli düzeyde etkilemektedir. Bu nedenle çalışmamız farklı florası ile bilinen Karadeniz bölgesinde (özellikle Hemşin üretilen ballar üzerinde gerçekleştirilmiştir. Üç yıl süresince her yıl Ağustos ayının son haftasında 10 adet bal örneği alınarak toplam 30 adet balın kimyasal ve duyusal nitelikleri incelenmiştir. Ballarda rutubet, invert şeker, sakkaroz, hidroksi metil furfural ve pH gibi nitelikler ortalama olarak sırasıyla % 18,90; % 68,42; % 1,54; 3,83 mg/kg ve 4,96 belirlenmiş ve yalnızca 1 örnekte ticari glikoz varlığına rastlanmıştır. Duyusal nitelikler bakımından ballar, açık sarı renkten-kahverengi ya da kahverengi-kırmızı renge, tat ve kokusu ise yavan bir aroma ve tat'dan çiçek kokusu, tatlı ve kinin acılığı benzeri bir tada kadar değişim göstermiştir. Elde edilen sonuçlara göre, bal örnekleri arasında kimyasal niteliklerin büyük farklılıklar göstermediği ancak duyusal bakımından belirgin bir değişim ortaya koydukları belirlenmiştir.

  15. Kajian Termodinamika Adsorpsi Hibrida Merkapto-Silika dari Abu Sekam Padi Terhadap Ion Co(II

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dwi Rasy Mujiyanti

    2017-03-01

    Full Text Available AbstrakTelah dilakukan penelitian tentang kajian termodinamika adsorpsi hibrida merkapto-silika dari abu sekam padi terhadap ion Co(II. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kapasitas dan energi adsorpsi hibrida merkapto-silika (HMS dan silika gel (SG terhadap ion Co(II. Pada penelitian ini, silika gel dibuat menggunakan natrium silikat dari abu sekam padi. Selanjutnya, senyawa organik 3-(trimetoksisilil-1-propantiol diimobilisasi pada SG menghasilkan HMS. Adsorben dikarakterisasi menggunakan difraktometer sinar-X dan spektrofotometer FTIR. Larutan Co(II kemudian dikontakkan dengan SG dan HMS pada variasi pH, waktu, dan konsentrasi awal. Hasil penelitian kapasitas adsorpsi yang diperoleh HMS hampir tiga kali lebih besar dibandingkan dengan SG, dengan besarnya kapasitas adsorpsi masing-masing yaitu 250,00 mg/g dan 90,91 mg/g. Sedangkan energi adsorpsi yang diperoleh adalah 51,69 KJ/mol untuk SG, dan 23,65 KJ/mol untuk HMS.Kata kunci : sekam padi, hibrida merkapto-silika, adsorpsi, ion Co(IIAbstractA research on the study of the thermodynamics of adsorption mercapto-silica hybrid from rice husk ash to the ions Co (II has been done. This study aims to determine capacity and energy adsorption of hybrid mercapto-silica (HMS and silica gel (SG to the ions Co (II . In this study, silica gel was made using sodium silicate from rice husk ash. Furthermore, the organic compound 3-(trimethoxysilil -1-prophantiol immobilized on SG to HMS produced. Adsorbents were characterized using X-ray diffraction and FTIR spectrophotometer. Solution of Co (II is then contacted with the SG and HMS at the variation of pH, time , and initial concentration. The results obtained by HMS adsorption capacity is almost three times larger than the SG, the magnitude of adsorption capacity of each is 250.00 mg / g and 90.91 mg / g . While the adsorption energy obtained is 51.69 KJ / mol for SG , and 23.65 KJ / mol for HMS.Keywords : rice husk, mercapto-silica hybrid , adsorption

  16. PEMANFAATAN ZAT WARNA ALAM DARI LIMBAH PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DAN KAKAO SEBAGAI BAHAN PEWARNA KAIN BATIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Titiek Pujilestari

    2016-06-01

    Full Text Available ABSTRAKPenelitian pemanfaatan limbah perkebunan kelapa sawit dan kakao sebagai bahan pewarna pada batik bertujuan untuk menggali sumber daya alam limbah perkebunan yang belum dimanfaatkan dan mencoba bahan baku baru untuk pewarna batik. Limbah perkebunan cangkang kelapa sawit dan kulit buah kakao merupakan sisa hasil proses pengolahan yang tidak termasuk dalam produk utama yang dianggap berpotensi menjadi beban pencemaran lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Kegiatan ini dibatasi pada pengambilan zat warna dari cangkang kelapa sawit dan kulit buah kakao dengan memakai pelarut air dan pelarut organik. Zat warna alam yang diperoleh digunakan sebagai pewarna pembatikan pada kain katun dan sutera. Fiksasi dilakukan dengan tiga jenis fiksator yaitu tawas, kapur dan tunjung. Pewarnaan dilakukan pada kain katun dan sutera dengan sistem celupan dingin sebanyak enam kali. Pengujian dilakukan terhadap ketahanan luntur warna akibat pencucian dan gosokan, arah dan beda warna. Hasil pengujian ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan rata-rata menunjukan hasil cukup sampai baik sekali (3-5. Nilai kelunturan warna terhadap pencucian pada kain katun dengan pewarna cangkang kelapa sawit lebih baik daripada kulit buah kakao. Arah warna cangkang kelapa sawit menunjukkan warna coklat muda sampai coklat tua, sedang kulit buah kakao memberikan arah warna abu-abu sampai coklat tua. Pembacaan uji beda warna diperoleh rata-rata warna berada pada daerah antara kuning ke merah. Kata Kunci: cangkang kelapa sawit, kulit buah kakao, warna alam, batik  ABSTRACTUtilization of plantation waste as batik dyes research aims to explore the plantation waste potential asraw materials for batik dyeing. Plantation waste of palmkernel shell and cocoa fruit peel are side products of the main process thatbecome environmental pollution if not managed properly. This activity is restricted to making dyes from palmkernel shells and cocoa fruit peel by using water

  17. High Discharge Rate Electrodeposited Zinc Electrode for Use in Alkaline Microbattery

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A. L. Nor Hairin

    2012-01-01

    saduran zink. Saduran zink kemudiannya dijadikan elektrod bagi bateri mikro zink-udara beralkali dengan saiz 1 cm2 luas x ca. 305 µm tebal. Penggunaan membran tak organik MCM-41 membolehkan pembuatan sel dengan rekabentuk padat. Kualiti elektrod saduran zink telah dinilai secara lansung daraipada prestasi elektrokimia sel zink-udara. Saduran zink yang disediakan daripada takungan elektrolit 2 M NH4Cl menghasilkan kapasiti discas tertinggi.KEY WORDS (keyword:  Zinc electrodeposition, High discharge rate electrode, MCM-41 separator, Zinc-air cell and Alkaline microbattery.

  18. POTENSI MAGGOT UNTUK PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN STATUS KESEHATAN IKAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Melta Rini Fahmi

    2016-11-01

    Full Text Available Penggunaan maggot sebagai pakan alternatif ikan telah dikaji di Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT, Depok. Maggot merupakan larva serangga black soldier (Hermetia illusence yang dapat mengkonversi material organik menjadi biomassanya. Salah satu keunggulan maggot adalah dapat diproduksi dalam berbagai ukuran, sesuai dengan kebutuhan. Penyimpanan maggot pada suhu rendah dapat menghambat pertumbuhan dan mempertahankan kehidupannya. Produksi maggot pada ukuran kecil dimulai dari penyediaan telur, penetasan, dan pembesaran dalam media PKM (Palm Kernel Meal atau bungkil kelapa sawit, pemanenan dan penyimpanan dalam suhu rendah. Nilai nutrisi maggot pada umur 6-7 hari adalah protein: 60,2%; lemak: 13,3%; abu: 7,7%; karbohidrat: 18,8%. Percobaan pemanfaatan maggot sebagai suplemen pakan diujikan terhadap ikan Balashark (Balantiocheilus melanopterus Bleeker ukuran 2,0 ± 0,2 g. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa pemberian maggot memberikan pertumbuhan dan sintasan yang lebih baik. Dampak penambahan maggot pada ikan terlihat signifikan terhadap gambaran darah ikan yang menunjukkan daya tahan tubuh ikan yang lebih baik. Maggot utilization as fish feed alternative has been studied at Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT, Depok. Maggot is an insect larvae of black soldier (Hermetia illusence that can convert organic material to its body biomass. One of the advantages in maggot culture is that it can be produced in different sizes according to fish requirement. Keeping maggot at low temperature can delay its growth while keeping it alive. Production of small size maggot starts from eggs preparation, hatching, and rearing in media of PKM (Palm Kernel Meal or coconut oil cake of palm, cropping and then keeping it in low temperature. Nutritional value of maggot at the age of 6-7 days is as follows: protein, 60.2%, fat; 13.3%, ash; 7.7%, carbohydrate; 18.8%. Trial feeding using maggot as feed supplement was done on Balashark

  19. QUANTIFICATION OF THE EFFICIENCY OF RUMEN MICROBIAL PROTEIN SYNTHESIS IN STEERS FED GREEN TROPICAL GRASS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    MARTHEN L. MULLIK

    2012-09-01

    alir digesta, dan konsentrasi amonia rumen. Nilai EMPS diestimasi menggunakan turunan purin dalam urin. Kandungan protein kasar dan karbohidrat mudah larut adalah 6.3 % and 7.4%. Rata-rata konsumsi BK adalah 1.6% berat badan. Konsentrasi amonia rumen 69 mg/L, sedangkan laju alir digesta cair sebesar 7.84 %/jam and padat sebesar 6.92 %/jam. Rata-rata EMPS hanya 72 g MCP/kg bahan organik tercerna. Disimpulkan bahwa nilai EMPS untuk rumput tropis segar yang dikonsumsi oleh sapi jantan berada di bawah nilai standar hijauan yang dipedomani dewasa ini.

  20. PEMILIHAN ADSORBEN UNTUK PENJERAPAN KARBON MONOKSIDA MENGGUNAKAN MODEL ADSORPSI ISOTERMIS LANGMUIR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yuliusman Yuliusman

    2013-11-01

    Full Text Available ADSORBENT SELECTION FOR CO ADSORPTION USING LANGMUIR ISOTHERMIC ADSORPTION MODEL. The objective of this research is to choose the adsorbent that can be applied to decrease toxicity level and to purify fire smoke. In case of fire, toxicity level is high due to carbon monoxide. Adsorbent is chosen based on its ability to adsorb carbon monoxide using volumetric method in constant temperature. Materials to be tested are natural zeolite, active carbon, TiO2, CuO, MgO. Due to existence of organic and mineral polluters, natural zeolite needs to be activated prior to adsorption test using fluoride acid (HF, chloride acid (HCl, ammonium chloride (NH4Cl and followed by calcination process. Result shows that activation of natural zeolite can increase Si/Al ratio and surface area. According to Langmuir adsorption model obtained, adsorption capacity of active carbon and natural zeolite are the highest. At 1 atmospheric pressure, adsorption capacity are 0.0682 mmol/g for active carbon, 0.0464 for activated natural zeolite with particle size of 400 nm, and 0.0265 mmol/g for activated natural zeolite with particle size of (37-50 μm. Penelitian ini bertujuan untuk memilih adsorben yang dapat diaplikasikan untuk menurunkan tingkat racun dan menjernihkan asap kebakaran. Pada kasus kebakaran tingkat racun asap disebabkan tingginya kandungan karbon monoksida. Proses pemilihan adsorben dilihat pada kemampuan adsorben mengadsorpsi karbon monoksida, yang dilakukan dengan metode volumetrik pada temperatur konstan. Material yang diuji adalah zeolit alam, karbon aktif, TiO2, CuO, MgO. Zeolit alam banyak terdapat pengotor baik organik maupun mineral, oleh karena itu sebelum dilakukan uji adsorpsi, zeolit alam terlebih dahulu diaktifasi menggunakan larutan asam florida (HF, asam khlorida (HCl dan larutan amonium khlorida (NH4Cl, dilanjutkan dengan proses kalsinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktifasi zeolit alam dapat meningkatkan rasio Si/Al dan luas permukaan

  1. Meningkatkan Pendapatan Masyarakat dengan Mesin Pencacah Sampah Plastik

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Gede Putu Agus Suryawan

    2015-07-01

    Full Text Available Bali merupakan pintu gerbang pariwisata Indonesia, menjadi sorotan dunia bagaimanamengelola sampah. Reduce, Reuse dan Recycle disingkat 3R atau Mengurangi, MemakaiUlang dan Mendaur Ulang adalah prinsip utama mengelola sampah mulai dari sumbernya,melalui tiga langkah ini akan mampu mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA(Tempat Pengolahan Akhir. Pengelolaan sampah yang kurang baik dapat memberikanpengaruh negatif bagi kesehatan, lingkungan, maupun bagi kehidupan sosial ekonomi danbudaya masyarakat. Produksi sampah di TPA Linggasana Karangasem perhari adalah 120m3/hari atau sekitar 18,26 ton/hari, sampah plastik mencapai 22,6 %, yang bisa didaur ulangsekitar 17%. Jadi sampah plastik yang bisa didaur ulang adalah 3,1 ton/hari, ini merupakanpotensi bisnis yang sangat potensial.Masyarakat malas dalam memilah sampah organik dananorganik karena tidak memberikan nilai tambah kepada masyarakat, dilakukan pelatihan danpengenalan mesin pencacah sampah plastik sehingga masyarakat berminat dalam memilahsampah-sampah itu. Sampah plastik itu dijual ke pada kelompok Asri Linggasana ataukelompok Lestari Buana Giri.Kata kunci: sampah plastik, mesin pencacah Bali is Indonesian tourism gateway and become world attention on how to manage waste.Reduce, Reuse and Recycle abbreviated 3R is a major principle of managing the waste fromthe source. Through these three steps will be able to reduce the amount of waste disposed of tolandfill. Poor waste management can have a negative effect on health, the environment, and forsocial, economic and cultural life of the community. Production of waste in the landfillLinggasana Karangasem per day is 120 m3 / day or approximately 18.26 tons / day, reaching22.6% of plastic waste, which can be recycled approximately 17%. So, the plastic waste thatcan be recycled is 3.1 tons / day, this is a highly potential business potential. The society is notinterest in sorting organic and inorganic waste because it does not add value to the

  2. Peyniraltı Suyundan Yoğurt Eldesi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gülen Çiftçi

    2015-02-01

    Full Text Available Peynir üretiminde organik yükü yüksek olan ve peyniraltı suyu adı verilen yeşilimsi-sarı renkte bir atık ortaya çıkmaktadır. Türkiye’de yılda yaklaşık olarak 7.784.000 ton peyniraltı suyu üretilmektedir. Bu çalışmanın amacı peyniraltı suyuna yağsız süt tozu katarak Türk mutfağında yüksek gıda değeri nedeniyle yaygın bir yere sahip olan yoğurt elde etmektir. Yoğurt eldesi sırasında Lactobacillus bulgaricus ve Streptococcus thermophilus kültürleri kullanılmıştır. Çalışmada kullanılan asidik peyniraltı suyu Topçuoğlu fabrikasından temin edilmiştir. Tatlı peyniraltı suyu ise laboratuvarda pastörize sütten üretilmiştir. Hem yağsız süttozu hem de aşı %6 oranlarında peyniraltı sularına katılmıştır. İnkübasyon 44 oC’de bir saat devam etmiştir. Topçuoğlu peyniraltı suyundan üretilen yoğurdun süt yağı %0.03, yağsız katı madde miktarı %9.844 ve titre edilebilir asitlik değeri %0.0286’dır. Laboratuvarda üretilen peyniraltı suyundan yapılan yoğurtta ise bu değerler sırasıyla %0.4, %12.123 ve %0.0239’dur. Her iki tip yoğurdun peroksidaz testlerinin negatif, Koliform ve E. coli bakterilerinin olmadığı, küf ve maya sayımının yüzden fazla olduğu tespit edilmiştir.

  3. KECERNAAN NUTRIEN KAMBING PERANAKAN ETAWAH YANG DIBERI PAKAN DASAR RUMPUT LAPANGAN DISUPLEMENTASI DENGAN DEDAK PADI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I W. WIRAWAN

    2012-09-01

    Full Text Available ABSTRAK Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kecernaan nutrien kambing Peranakan Etawah (PE yang diberi pakan dasar rumput lapangan disuplementasi dengan dedak padi, telah dilaksanakan di Tabanan dan Lab. Nutrisi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Udayana, selama 4 bulan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah rancangan acak lengkap (RAL dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, masing-masing ulangan menggunakan 1 ekor kambing PE dengan berat badan awal 15,92 ± 1,34 kg. Ke empat perlakuan tersebut adalah: perlakuan A rumput lapangan tanpa suplementasi dedak padi, perlakuan B : rumput lapangan + 75 g dedak padi, perlakuan C : rumput lapangan + 150 g dedak padi, dan perlakuan D : rumput lapangan + 225 g dedak padi. Pemberian dedak padi sekali dalam sehari yaitu pagi hari, sedangkan rumput lapangan dan air minum diberikan secara ad libitum. Variabel yang diamati adalah konsumsi bahan kering, kecernaan nutrien (bahan kering, bahan organik, protein kasar dan serat kasar, pH, VFA dan amonia cairan rumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi bahan kering ransum dan DMI pada perlakuan suplementasi dedak padi nyata (P0,05 lebih tinggi dari perlakuan A, tetapi konsumsi air minum pada perlakuan C dan D nyata (P0,05 lebih tinggi dari pada perlakuan A, namun koefisien cerna bahan kering dan serat kasar pada perlakuan C dan D nyata (P0,05. Konsentrasi asam asetat dan butirat pada ke-empat perlakuan secara statistik berbeda tidak nyata (P>0,05, tetapi konsentrasi asam propionat pada peralakuan suplementasi dedak padi nyata (P0.05 difference, but water consumption on the treatments C and D were significantly higher (P0.05 difference, but on the treatments C and D were significantly higher (P0.05 difference, but the propionate concentration on the treatments B, C and D were significantly higher (P<0.05 than treatment A. From the result in this experiment it can be concluded that the supplemented rice bran 75g-225g on the effect to increased

  4. Community Structure of Riparian Community of Sematang Borang River of South Sumatera

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yetty Hastiana

    2015-12-01

    Full Text Available Vegetasi riparian adalah sebagai ekoton antara habitat teresterial dengan sistem perairan (sungai. Penyangga riparian berfungsi untuk menjaga kelestarian fungsi sungai dengan cara menahan atau menangkap tanah (lumpur yang tererosi serta unsur hara dan bahan kimia termasuk pestisida yang terbawa dari lahan dibagian kiri kanan sungai agar tidak masuk ke perairan. Sungai Sematang Borang merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS Musi, Sungai Sematang Borang memiliki karaketeristik struktur sungai dengan panjang seitar 5 km, lebar sungai mencapai 70 m dan kedalaman sekitar 10 m. Saat ini sungai ini mulai terancam mengalami penurunan kualitas baik fisik, kimia maupun biologi Selain kehilangan habitat alami ikan yang akan berdampak pada penurunan kelimpahan dan biodiversity, perairan ini juga mengalami abrasi pada sisi kiri kanan tebing sungai. Keberadaan vegetasi riparian menjadi penting, selain untuk mencegah abrasi, juga berperan dalam produksi serasah. Produksi serasah berkontribusi dalam transfer bahan organik vegetasi ke dalam tanah. Unsur hara yang dhasilkan dari proses dekomposisi serasah dalam tanah sangat penting bagi kelangsungan hidup vegetasi dan sebagai sumber detritus bagi ekosistem dalam menyokong kehidupan organisme akuatik. Pentingnya kontribusi vegetasi riparian dalam suatu ekosistem, maka perlu dilakukan penelitian terhadap diversitas dan profil vegetasi. Kajian aspek vegetasi, diperkuat dengan melakukan pengamatan terhadap kondisi fisik kimia perairan Sematang Borang. Parameter fisik kimiaperairan yang diamati meliputi: suhu, kedalaman, kecepatan arus, COD, BOD, DO, pH, dan Salinitas. Penelitian menerapkan metode ekologi deskriptif kuantitatif dan kualitatif, untuk analisis kualitas fisik kimia perairan didukung analisis laboratorium dan survei. Hasil penelitian teridentifikasi 15 species riparian dengan kategori indeks keanekaragaman riparian 0,09-1,03 dan memiliki pola penyebaran cenderung berkelompok

  5. POSITIONING PUPUK HAYATI (STUDI KASUS PT. KARYA ANUGRAH RUMPIN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ervina Aprianti

    2015-07-01

    Full Text Available Positioning is required in every company to influence consumer perceptions and purchasing decisions. Biofertilizer is important to support organic agriculture so market competition in fertilizer industry was increasing. It is important for companies to develop positioning strategies continuously. This study was aim to analyze the position of biofertilizers based on product excellence, identifying attributes that affect consumers choosing biofertilizer, and recommends alternative positioning strategies of biotilizers. Samples consist of 120 respondents, drawn from population farmers in Bogor who know biofertilizer. Respondents were determined using purposive and simple random sampling. The survey was conducted by direct interview. Descriptive, Thurstone Case V, Correspondence, and Chi-Square analysis were used to analyze data. The study find that the EM-4 was the most known biofertilizers. It assessed as trustworthy product, reliable product, cheaper than others, easy to obtain, as well as spread advertising. While Sumber Subur assessed as a product that always want to used. Three main attributes that influence the selection of biofertilizers are quality, price, and content of product. Companies have to improve product quality in order to win market competition. Companies must provide clear information about the advantages and how to use the product on the product packaging. Companies need to approach consumers through farmers' groups, to do direct promotion such as demontration plots and free samples.Keyword: positioning, biofertilizer, thurstone case v, correspondence analysisABSTRAKPositioning perlu dilakukan setiap perusahaan, dengan tujuan membentuk persepsi konsumen yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Pentingnya pupuk hayati dalam menunjang budidaya pertanian organik menyebabkan persaingan pada industri pupuk semakin meningkat. Sehingga menjadi penting bagi perusahaan untuk selalu mengembangkan strategi positioning Penelitian ini

  6. ROLE OF SOIL AS A RESERVOIR OF DISEASE = PERAN TANAH SEBAGAI RESERVOIR PENYAKIT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Arief Nugroho

    2015-03-01

    Full Text Available ENGLISHAbstractSoil is home to biodiversity where 25% of the Earth’s species live in the soil. Soil can provide ecosystem function through complex interactions between organisms in the soil and the soil itself as soil formation, water filtration, as well as providing useful compounds. However, the soil can be a reservoir of disease in humans. This is because the soil is the recipient of the solid waste that causes contamination of soil that may contain hazardous organic and inorganic materials as well as pathogenic microorganisms. The spread of disease-causing agents through the soil can occur as a result of floods, strong winds or transporting soil from endemic areas to other regions. Pathogens that have caused the role of soil-borne diseases are divided into two groups: Euedaphic Pathogenic Organisms (EPOs and Soil Transmitted Pathogens (STP. Prevention efforts need to avoid the spread of disease from soil to human beings as to conduct remediation of soils contaminated with hazardous chemicals as well as efforts to provide a disinfectant, and sanitary environment to prevent contamination of pathogenic microorganisms in the soil.INDONESIANAbstrakTanah merupakan tempat tinggal bagi keragaman hayati dimana 25% dari spesies bumi tinggal di tanah. Tanah dapat berfungsi menyediakan ekosistem melalui berbagai interaksi yang kompleks antara organisme dalam tanah dan tanah itu sendiri seperti pembentukan tanah, penyaringan air, maupun penyediaan senyawa yang bermanfaat. Namun, tanah dapat menjadi reservoir penyakit pada manusia. Hal ini karena tanah adalah penerima limbah padat sehingga menyebabkan kontaminasi tanah yang dapat mengandung bahan organik dan anorganik berbahaya serta mikroorganisme patogen. Penyebaran agen penyebab penyakit melalui tanah dapat terjadi akibat banjir, tiupan angin kencang atau pengangkutan tanah dari daerah endemik ke daerah lainnya. Patogen yang mempunyai peran menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui tanah di bagi

  7. MANAJEMEN KUALITAS MEDIA PENDEDERAN LELE PADA LAHAN TERBATAS DENGAN TEKNIK BIOFLOK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    MN Abulias

    2014-11-01

    Full Text Available Akuakultur intensif bisa menyebabkan menurunnya kandungan oksigen dan meningkatnya kandungan limbah pada ekosistem perairan, khususnya nitrogen organik. Transfer teknologi sudah dilakukan dengan tujuan untuk mengelola kegiatan budidaya lele pada daerah terbatas menggunakan bioflok. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan pertumbuhan ikan lele yang dipelihara menggunakan sistem bioflok dan non bioflok. Sampel penelitian yang digunakan adalah 500 bibit ikan berumur 10 hari, yang dipelihara selama 30 hari. Pengamatan dilakukan pada hari ke-0, 15, dan 30. Parameter pertumbuhan yang diamati adalah panjang dan berat ikan. Parameter lingkungan yang diamati adalah suhu air dan udara, karbondioksida terlarut, oksigen terlarut, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan peningkatan panjang dan berat tubuh benih lele pada kedua media budidaya. Meskipun peningkatan pertumbuhan tidak terlalu tinggi, namun cukup memberikan gambaran bahwa benih lele yang dipelihara dengan aplikasi bioflok mengalami pertumbuhan yang lebih baik. Hal ini mengindikasikan bahwa pakan yang diberikan dan media pemeliharaannya mampu mendukung pertumbuhan benih lele. Media pemeliharaan yang mengaplikasikan teknik bioflok menunjukkan kondisi yang lebih baik dan relatif ideal untuk pendederan lele. Hal ini juga diperkuat dengan relatif rendahnya tingkat kematian benih selama pemeliharaan, yaitu  10%. Intensive aquaculture might decrease of the dissolved oxygen and increase the wastes, particularly organic nitrogen, in the aquatic ecosystem. Technology transfer has long been made to improve the catfish rearing management in confined tanks using biofloc. The objective of the research was to compare the growth of catfish reared in non-biofloc and biofloc systems. Samples were 500 catfish seedlings aged 10 days and reared for 30 days. Observations were made on day 0, 15, and 30. Growth parameters observed were length and weight of the fish. The environmental parameters

  8. DESAIN VEGETASI BERNILAI KONSERVASI DAN EKONOMI PADA KAWASAN PENYANGGA SISTEM TATA AIR DAS BOLANGO (Designing of Vegetation which Conservation and Economic Values in the Buffer Area of Water System at the Bolango Watershed

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Danang Wahyu Purnomo

    2016-02-01

    Full Text Available ABSTRAK Perencanaan pembangunan arboretum di DAS Bolango dengan konsep konservasi dan ekonomi perlu dilakukan karena DAS ini memiliki peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat sekitar. Tujuan penelitian ini adalah memberikan rekomendasi tentang komposisi dan struktur vegetasi penyusun hutan pada kawasan arboretum sebagai pemelihara mata air Sungai Bolango. Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi sumber mata air, tanah, dan kondisi vegetasi eksisting. Metode wawancara kepada masyarakat setempat dilakukan untuk mendukung data etnobotani. Kajian lahan dilakukan antara lain tata guna, kelas kemampuan, konsep pengelolaan, kesesuaian lahan, dan penentuan vegetasinya. Hasil identifikasi sumber mata air menunjukkan bahwa terdapat 3 lokasi yang potensial dibangun arboretum, yaitu Desa Meranti Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango, Desa Dulamayo Selatan Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo, dan Desa Mongiilo Kecamatan Bolango Ulu Kabupaten Bone Bolango. Berdasarkan data kualitas tanah, ketiga lokasi memiliki media perakaran yang cukup baik untuk tanaman budi daya. Secara umum, semua jenis tanaman budi daya sesuai untuk ditanam di ketiga lokasi arboretum. Perlu dilakukan pembuatan teras dan penerapan pola tanam konservasi yang mengaplikasikan tanaman penutup tanah (cover crop, tanaman budi daya, dan pohon penyusun hutan. Selain itu, perlu pemberian pupuk organik berupa kompos dan pupuk kandang.   ABSTRACT Arboretum development planning in Bolango Watershed using concept of conservation and economy is conducted because the watershed has an important role in people's lives around. This study aims to provide recommendations about composition and structure of forest vegetation in the arboretum area for conserving of Bolango River’s water springs. The study began by identifying the source of the springs, soil, and the existing vegetation. Interview to local communities was conducted to support the data of ethnobotany. Land observation was studied

  9. PERBANDINGAN DESAIN IPAL ANAEROBIC BIOFILTER DENGAN ROTATING BIOLOGICAL CONTACTOR UNTUK LIMBAH CAIR TEKSTIL DI SURABAYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yogie Restu Firmansyah

    2017-01-01

    Full Text Available Effluen Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL di Pabrik Tekstil X belum memenuhi kriteria yang ada, terutama untuk masalah warna. Sistem pengolahan IPAL menggunakan Anaerobic Biofilter memiliki kelebihan menyisihkan bahan organik yang tinggi, kebutuhan lahan yang relatif tidak besar, dan biaya operasi yang murah dibandingkan dengan sistem lumpur aktif yang menggunakan proses aerasi. Rotating Biological Contactor (RBC juga memiliki kelebihan yang sama dengan anaerobic biofilter. Perbandingan antara kedua sistem tersebut diperlukan untuk mengetahui sistem yang paling efektif untuk mengolah air limbah di Pabrik Textil X. Pengolahan adsorbsi batok arang kelapa dipilih untuk menghilangkan warna. Perencanaan ini dilakukan dengan menggunakan metode yang sistematis dimulai pengumpulan data primer dan sekunder yang berupa data karakteristik dan debit air limbah, lalu dilakukan perhitungan dan penggambaran Detail Engineering Desan (DED, volume pekerjaan dan Rancangan Anggaran Biaya (RAB, setelah itu dilakukan pembahasan untuk membandingkan kelebihan dan kekurangan dari unit anaerobic Biofilter yang dilengkapi adsorbsi arang batok kelapa dan Rotating Biological Contactor yang dilengkapi adsorbsi arang batok kelapa, lalu diambil kesimpulan dan saran yang relevan dengan tujuan dari perancanaan ini. Dari perhitungan DED didapat dimensi untuk masing masing unit IPAL sebagai berikut Bak ekualisasi (2,6 m x 2,6 m x 2 m, Septic tank (1,75 m x 1,5m x 2,5m, Anaerobic Filter 4 kompartemen (4,5m x 2,5m x 2,5m, , RBC 2 shaft  (2,75m x 2,75 m x 1m, Adsorbsi (3,5 mx 6,75m x 0,55m. Biaya investasi alternative 1 sebesar Rp   700.193.694,29, biaya operasi sebesar Rp 50.222.462,40, biaya perawatan sebesar Rp 3.495.000,00. Alternatif 2 biaya investasi sebesar Rp 777.526.655,53, biaya operasi sebesar Rp Rp 53.012.599,20  , biaya perawatan sebesar Rp 3.495.000,00. Kelebihan anaerobic filter adalah biaya investasi yang lebih kecil, kebutuhan lahan yang lebih sedikit yaitu

  10. EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN JAGUNG MENGGUNAKAN METODE ANALISIS SPASIAL Land Suitability Assessment Of Corn (Zea mays L. Using Spasial Analysis Method

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ruslan Wirosoedarmo

    2012-05-01

    , kondisi drainase, tekstur, pH, kelembaban relatif, C-organik, KTK Liat, kemiringan, ketinggian tempat dan kondisi erosi. Kelas kesesuaian lahan terdiri atas kelas “sangat sesuai”, “cukup sesuai”, “sesuai marginal” dan “tidak sesuai”. Analisis spasial memanfaatkan fasilitas Map calculator dalam Software Arc View GIS.Hasil penelitian menunjukkan, di Blitar memiliki tiga kelas kesesuaian untuk tanaman jagung yaitu “sangat sesuai” 85%, “cukup sesuai” 10% dan “sesuai marginal” 5 % dari 150961 ha luas wilayah. Kelas “cukup sesuai” umumnya ter- letak di wilayah Blitar Utara dan kelas “sesuai marginal” terletak pada ketinggian di atas 1200 mdpl di sebagian kecil wilayah Kecamatan Wlingi (10 ha, Gandusari (117 ha, dan Doko (52 ha.

  11. Molecular Cloning of Phytase Gene from ASUIA279 and Its Expression in Pichia pastoris System

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M. H. Mahamad Maifiah

    2011-12-01

    Full Text Available Phytases catalyze the hydrolysis of phytate (myo-inositol hexakisphosphate, one of the major storage form of phosphate in plants, with subsequent release of myo-inositol, phosphate and phytate-bound minerals. Non-ruminant animals such as chicken, swine and fish can't use the organic phosphorus and minerals from their diet because there is no phytase activity in their digestive tract. Phytate degrading enzyme is added to the animal feed diet to improve phosphorus availability from the dietary phytate and at the same time this lessen the phosphate pollution level in areas of intensive animal production as the phosphate would not be excreted out to the environment. ASUIA279, a bacterial strain isolated from Malaysian soil has potentially shown good phytase activity. In the present work, the gene encoding for phytase has been amplified from the plasmid DNA of recombinant ASUIA279(5 obtained from a previous study (unpublished data by a polymerase chain reaction (PCR methodology. The amplified phytase gene was extracted, purified then cloned into the pPICZA plasmid and transformed into Pichia pastorisX-33 strain for enzyme production.ABSTRAK: Fitase pemangkinan hidrolisis fitat (myo-inositol hexakisphosphate, merupakan salah satu cara penyimpanan utama fosfat dalam tumbuhan, dengan pelepasan berturut myo-inositol , fosfat dan galian terikat fitat. Haiwan bukan ruminan seperti ayam, khinzir dan ikan tidak dapat memanfaatkan fosforus organik serta galian yang diperolehi daripada makanan kerana tidak mempunyai aktiviti fitase di dalam saluran pencernaan mereka. Enzim pengecilan fitase dicampurkan ke dalam pemakanan haiwan untuk mempertingkatkan keperolehan fosforus dari fitat diet. Pada masa yang sama ia dapat mengurangkan tahap pencemaran fosfat di kawasan yang terdapat penternakan haiwan secara intensif agar fosfat tidak dikumuhkan ke persekitaran. ASUIA279, satu strain bakteria yang diasingkan daripada tanih di Malaysiamenunjukkan aktiviti fitase

  12. IMPLEMENTASI PERSONAL SELLING OLEH AGENT DAN DOWNLINE PT MELILEA INTERNASIONAL INDONESIA CABANG KOTA BEKASI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    SALDI MATTA

    2016-11-01

    Full Text Available Brands and products compete with each other to gain market share. The right marketing communication and promotion strategy is one way to win the competition. The main characteristic of this personal selling strategy is the direct interaction between the salesperson and the potential customers, present and instantly know about the advantages and characteristics of products marketed to potential customers. One of the companies that implement this strategy as the main promotional activity is PT. International Melilea Indonesia as a distributor of Melilea organic products. The business and marketing systems run by agents and Melilea's downlines are Multi Level Marketing (MLM so that meeting with customers is an obligation in personal sales activities. This study was conducted to find out how the implementation of personal selling activities undertaken by agent and Melilea Distributor in Bekasi branch. This research uses qualitative approach with descriptive type. The method used is a case study to conduct in-depth interviews to informants. Implementation of personal selling activities of PT. Melilea Indonesia International in this case Melilea agent and downline at Bekasi branch is done through five stages: prospecting, approaching, service, interactive media, and consumer care.   Merk dan produk saling bersaing satu sama lain untuk mendapatkan pangsa pasar. Strategi komunikasi dan promosi pemasaran yang tepat sebagai salah satu cara untuk memenangkan persaingan. Ciri utama dari strategi penjualan personal ini adalah interaksi langsung antara wiraniaga dengan calon konsumen, hadir dan langsung mengetahui tentang kelebihan dan karakteristik produk yang dipasarkan ke calon konsumen. Salah satu perusahaan yang menerapkan strategi ini sebagai kegiatan promosi utama adalah PT. International Melilea Indonesia sebagai distributor produk organik Melilea. Sistem bisnis dan pemasaran yang dijalankan oleh agen dan downline Melilea adalah Multi Level Marketing

  13. The Effect of Cirata Reservoir Sediment on Early Developmental Stage of Common Carp (Cyprinus carpio Embryo

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yuni Pujihastuti

    2009-07-01

    panjang embrio Efesiensi pemanfaatan kuning telur menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi air pori sedimen maka semakin rendah efesiensi kuning telurnya.  Semakin tinggi konsentrasi air pori sediment maka semakin tinggi pula abnormalitas telur dan larva ikan mas.  Rata-rata derajat penetasan telur menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi air pori maka semakin rendah derajat penetasan telurnya.  Berdasarkan kerusakan morfologi telur dan larva pada perlakuan diduga yang berpengaruh adalah timbal dan bahan organik yang bekerja secara sinergis.  Kata kunci : sedimen, Cirata, embrio, ikan mas

  14. KANDUNGAN KADMIUM (Cd PADA TANAH DAN CACING TANAH DI TPAS PIYUNGAN, BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Cadmium (Cd Content in Soil and Earthworms in Piyungan Controlled Landfill Municipal Waste Disposal, Bantul Yogyakarta Special District

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Heny Mayasari Setyoningrum

    2014-10-01

    Full Text Available ABSTRAK Analisis kandungan logam berat cadmium (Cd pada tanah dan cacing tanah telah dilakukan di TPAS Piyungan Bantul untuk mengetahui tingkat pencemaran Cd dalam tanah. Penelitian dibagi menjadi penelitian di lapangan yang meliputi pengambilan sampel tanah-cacing tanah dan pengukuran parameter lingkungan, serta penelitian di laboratorium yang meliputi analisis kandungan kadmium, bahan organik dan tekstur tanah. Tingkat pencemaran kadmium ditentukan menggunakan Indeks Kontaminasi-Polusi. Hasil penelitian memperlihatkan kandungan kadmium pada tanah di TPAS Piyungan antara tidak terdeteksi (< 0.01 – 0.47 ppm. Kandungan kadmium di TPAS Piyungan lebih rendah dibandingkan jumlah maksimum kadmium yang diperbolehkan di tanah dan khusus untuk zona III dan zona I titik sampling 1 dan 2 lebih tinggi dari standar kandungan kadmium pada tanah yang bebas polusi, sedangkan kandungan kadmium pada tanah kontrol lebih rendah dibandingkan kandungan kadmium secara umum pada tanah bebas polusi tersebut. Kandungan kadmium dalam tanah di lokasi TPAS tidak selalu lebih tinggi bila dibanding kontrol. Cacing tanah mengandung kadmium antara 0.35 – 0.45 ppm, kandungan kadmium dalam cacing tanah di beberapa lokasi TPAS lebih rendah dibanding kontrol. Tingkat pencemaran kadmium di TPAS Piyungan berada pada tingkat kontaminasi sangat ringan hingga kontaminasi sangat berat. Lokasi TPAS yang masih aktif digunakan memiliki tingkat kontaminasi lebih tinggi bila dibanding lokasi lain. Rasio kadmium pada tanah dan cacing tanah di TPAS Piyungan adalah 0.13 : 1.75.   ABSTRACT Cadmium (Cd analysis has been done at Piyungan TPAS (Piyungan TPAS, stands for Tempat Pembuangan Akhir Sampah for knowing the level of Cd contamination insoil. The research was divided into in-sites study, which consisted of soil and earthworms sampling, and soil environmental factors measurement, and laboratory analysis, which consisted of cadmium content, organic compounds and soil textures analysis

  15. Profiles of traditional farms: soil texture, total inorganic N and bacteria-producing estate

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yuni Puji Hastuti

    2010-07-01

    Full Text Available Pond traditional system is the pond in still activity with a symple management system.  This activity indicated by low technology and relatively low production level.  Aquaculture activities in traditional pond not loss from nitrification and denitrification prosess, however this process is more low production rather than semiintensive and intensive system. This study aims to observe abundance of bacteria nitrification along with changes soil texture, and N-organic in the soil of traditional pond. Chemical and biological analyses were done using spectroscopy and Most Probable Number methods to determine the amount of nitrite and ammonium production of bacteria.  Based of the result, each stratum traditional ponds have relatively similar abundance in nitrite producing bacteria of 7.08-7.47 Log CFU/g.  Increasing abundance in ammonium producing bacteria was found in all stratum, range from 5.63 Log cfu/g to 8.12 Log cfu/g. From the first day of preparation, traditional ponds have a lot of nitrite and ammonium producing bacteria.Keywords: traditional, pond, nitrification, abundance of bacteri. ABSTRAKTambak sistem tradisional merupakan tambak yang dalam kegiatannya masih menggunakan sistem manajemen sederhana.  Hal ini ditandai dengan penerapan teknologi sederhana, dan tingkat produksi relatif rendah.  Kegiatan budidaya di tambak tradisional tidak akan terlepas dari proses nitrifikasi dan denitrifikasi, namun demikian proses ini relatif lebih rendah aktivitasnya daripada tambak sistem semiintensif dan intensif.  Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari kelimpahan bakteri penghasil senyawa nitrit, amonium seiring dengan perubahan tekstur tanah, dan N-organik pada tanah tambak tradisional. Media pertumbuhan bakteri dikondisikan bebas oksigen (oxygen free nitrogen/OFN method , sedangkan kelimpahan bakteri dianalisis dengan rumus most porbable number (MPN. Berdasarkan hasil, setiap strata tanah tambak tradisional memiliki jumlah bakteri

  16. KANDUNGAN KLOROFIL, KAROTENOID, DAN VITAMIN C BEBERAPA JENIS SAYURAN DAUN PADA PERTANIAN PERIURBAN DI KOTA SURABAYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dwi Iriyani

    2015-04-01

    Surabaya. Kadar klorofil dan karotenoid diukur dengan spectrophotometer, sedangkan kandungan vitamin C ditetapkan dengan metode titrasi DCPIP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sayuran bayam yang dibudidayakan di kawasan Bangkingan-Lakarsantri memiliki kadar klorofil (3.046 mg/g dan karotenoid (375.33 μmol/L tertinggi. Kandungan vitamin C tertinggi (4.55 μg/g terdapat pada sayuran sawi yang dibudidayakan di kawasan Wonorejo. Tidak ada perbedaan nyata pada kadar klorofil, karotenoid dan vitamin C antara sayuran organik dengan sayuran yang dibudidayakan di kawasan periurban Bangkingan-Lakarsantri.

  17. Kastamonu Sarmısağının (Allium sativum L. Kimyasal Bileşiminin Belirlenmesi Üzerine Araştırma

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nevzat Artık

    2015-02-01

    Full Text Available Sarımsak (Allium sativum L. antimikrobiyal etkisi ve çeşni verme özelliği nedeni ile üretilmektedir. Ülkemizde Kastamonu yöresinde yetiştirilen sarımsak, bileşimi ve etken maddesi nedeniyle tüm Avrupa ülkelerinde tanınmaktadır. Sarmısağın bileşim unsurları konusunda yeterli bilgi mevcut değildir. Bu araştırmada Kastamonu ilinden sağlanan 40 farklı sarımsak örneğinde fiziksel, kimyasal özellikler ve Hunter renk değerleri saptanmıştır. Sarımsak örneklerinde şeker analizleri enzimatik yöntemle belirlenmiştir. Sarımsak örneklerinde toplam şeker miktarı %33.41-49.67 sınırları arasında değişim göstermektedir. Toplam şekeri oluşturan şekerlerden D-glukoz %1.169-2.03, D-fruktoz %2.872-10.394 ve sakaroz %22.67-41.0 düzeyindedir. Sarımsak örneklerinde sarmısağın antimikrobiyal etki ve çeşni açısından önemli bileşiği olan uçucu organik sülfür bileşikleri, allil sülfür [(CH3H52S] cinsinden %0.097-0.214 arasında bulunmuştur. Kastamonu sarımsak örnekleri vitamin, mineral ve uçucu sülfür bileşikleri açısından zengin bir gıda maddesidir.

  18. PEMODELAN FAKTOR K BERBASIS RASTER SEBAGAI MASUKAN PEMODELAN EROSI DI DAS MERAWU, BANJARNEGARA, PROVINSI JAWA TENGAH (Modeling of Raster-Based of K Factor as Input for Erosion Modeling at Merawu Catchment, Banjarnegara, Central Java Province

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bambang Sulistyo

    2015-07-01

    Full Text Available ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ketelitian absolut pemodelan faktor K berbasis raster sebagai masukan dalam pemodelan erosi Universal Soil Loss Equation (USLE di Daerah Aliran Sungai (DAS Merawu, Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.Metode yang digunakan adalah dengan mengambil 30 sampel tanah secara stratified random sampling berdasarkan bentuklahan DAS Merawu. Sampel tanah tersebut kemudian dianalisis di laboratorium sehingga diperoleh tekstur, permeabilitas, bahan organik, dan struktur yang diperlukan untuk menghitung faktor K menggunakan rumus yang sudah ada. Dari 30 sampel yang diambil, 24 sampel digunakan untuk menghitung faktor K dalam pemodelan, sedangkan 6 sampel lainnya digunakan sebagai uji model. Pengeplotan nilai K pada sampel di atas peta dilakukan sesuai dengan lokasi sampel, kemudian dilakukan digitasi dan rasterisasi dan dilakukan interpolasi spasial untuk memperoleh Peta K untuk setiap piksel dengan metode Kriging. Hasil pemodelan K tersebut (Kmodel kemudian diuji pada 6 lokasi (Kaktual untuk mengetahui ketelitian pemodelan. Kmodel dikatakan teliti jika memiliki nilai ≥ 80% terhadap Kaktual.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemodelan faktor K berbasis raster di DAS Merawu mempunyai ketelitian melebihi nilai ambang yang ditetapkan, yaitu sebesar 89,068%, yang menunjukkan bahwa peta hasil pemodelan menggunakan analisis Kriging dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut dalam menghitung erosi. ABSTRACT The research was aimed at knowing the absolute accuracy of modeling of raster-based K factor as input for Universal Soil Loss Equation (USLE erosion modeling at Merawu Catchment, Banjarnegara, Central Java Province. Methodology applied was by taking 30 soil samples of stratified random sampling based on landform of Merawu Catchment. Those 30 soil samples then were analised in a laboratory to get their texture, permeability, organic matter, and structure for K factor computation using the existing formula. From 30

  19. VIDEO EDUKASI ANIMASI 2 DIMENSI MENGENAI BAHAYA MERKURI TERHADAP MASYARAKAT KABUPATEN LOMBOK TENGAH SEBAGAI DAMPAK PENAMBANGAN EMAS ILEGAL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Made Marthana Yusa

    2017-08-01

    Full Text Available Abstrak Merkuri adalah salah satu jenis logam berat yang banyak ditemukan di alam dan tersebar dalam batuan, tanah, air dan udara sebagai senyawa anorganik dan organik. Merkuri dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang industri, salah satunya industri emas. Pengelolaan limbah hasil industri pengolahan emas yang tidak sesuai dengan prosedur yang baik dan benar akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Merkuri yang telah mengontaminasi lingkungan dalam jangka waktu panjang akan membawa dampak buruk bagi kesehatan manusia yang sering berinteraksi dengan bahan merkuri ini. Dalam penelitian ini, dilakukan perancangan video berbasis animasi 2 dimensi, sebagai salah satu rekomendasi solusi edukasi, untuk pencegahan dampak kesehatan, akibat pencemaran lingkungan oleh merkuri di Lombok Tengah. Dari hasil penelitian didapatkan fakta bahwa responden yang terdiri dari staf Konservasi dan Sumber Daya Alam serta staf Pengawasan dan Pengendalian Lingkungan Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Tengah menilai video edukasi berbasis animasi 2 dimensi yang dihasilkan sangat baik dari segi desain maupun penyampaian informasinya. Video ini juga bermanfaat untuk mengedukasi masyarakat penambang emas di Lombok Tengah agar lebih mewaspadai merkuri dan bahayanya, juga menghargai kesehatan diri dan keselamatan kerja. Kata Kunci: Animasi 2 Dimensi, Bahaya Merkuri, Merkuri, Metil Merkuri, Video Edukasi Abstract Mercury is one of the heavy metals found in nature and spread in rocks, soil, water and air as inorganic and organic compounds. Mercury can be utilized in various industrial fields, one of which is the gold industry. Waste management of gold processing industry that is not in accordance with good and correct procedures will cause environmental pollution. Mercury that has been contaminating the environment over the long term will have adverse effects on human health that often interact with these mercury ingredients. A 2-dimensional animation based video has been

  20. Rice Husk Packed Bed Column Reactor To Remove Cadmium From Landfill Leachate

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Monik Kasman

    2014-06-01

    Full Text Available The landfill leachate can be a major problem due to large variability of high organic, inorganic, heavy metal content and toxicity characteristics from landfill leachate such as  cadmium. Thus, this study was aimed to observe the application of rice husk packed bed column to reduce cadmium from landfill leachate. Experiment was conducted in gravity down flow system by pumping landfill leachate into packed bed column. The effect of influent flow rate to adsorption capacity was studied by varying flow rate (5 mL/min and 10 mL/min. The effluent-influent concentration ratio Ce/C0 (% as a function of throughput volume (L was used to represent the breakthrough curve in column systems. Result shows that the flow rate of 5 mL/min was favorable to achieve higher removal rates with the percentage of cadmium was 57 %. At breakthrough time, the cadmium effluent concentration reached on 0.01 mg/l for both of flow rate.ABSTRAKLindi yang dihasilkan dari TPA (Tempat Pembuangan Akhir menimbulkan permasalahan lingkungan karena kandungan pencemarnya meliputi material organik, material anorganik, logam dan material beracun. Salah satu logam berat yang terdapat dalam lindi tersebut adalah kadmium. Penelitian ini bertujuan untuk mereduksi kadmium dalam lindi dengan menggunakan sekam padi yang diinstal dalam packed bed column. Lindi dipompakan dari tangki penampung lindi ke dalam packed bed column dan dialirkan dari atas ke bawah kolom secara gravitasi. Fokus pada penelitian ini adalah pengaruh laju alir influen terhadap kapasitas adsorpsi. Dimana lindi dialirkan dengan laju alir 5 mL/menit dan 10 mL/menit. Kurva breakthrough (titik jenuh kolom dipresentasikan oleh hubungan antara rasio konsentrasi efluen-influen Ce/C0 (% dan jumlah aliran lindi yang diolah dalam kolom. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa persentase reduksi tertinggi dicapai pada laju alir 5 mL/menit yaitu 57%. Waktu jenuh kedua laju alir (5 mL/menit dan 10 mL/menit tercapai saat konsentrasi efluen

  1. Effect of Rhizopus oryzae Fermentation on Kenaf-Based Polylactic Acid’s Monomer

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nur Aimi Mohd Nasir

    2011-12-01

    Full Text Available Kenaf biomass is the potential as raw materials used to produce polylactic acid's monomer which is lactic acid via fermentation by Rhizopus oryzae. Kenaf biomass' structure is complex due to its lignin and cellulose content. This matter had encouraged it to undergo pre- treatment process as the initial step before fermentation process can be done. In this paper, kenaf biomass was treated with dilute sulphuric acid (H2SO4 to hydrolyze the cellulose content in it as well as to convert the cellulose into glucose- a carbon source for Rhizopus to grow. Then, the fermentation process was carried out in shake flask for 3 days at pH 6. Several conditions for fermentation process had been chosen which were 25oC at 150 rpm, 25 oC at 200 rpm, 37 oC at 150 rpm and 37oC at 200 rpm. In this fermentation process, 0.471 g/L, 0.428 g/L, 0.444 g/L and 0.38 g/L of lactic acid was produced respectively. Sample at 25oC at 200 rpm produced maximum amount of lactic acid compared to others.ABSTRAK: Biojisim kenaf berpotensi sebagai bahan mentah dalam penghasilan monomer asid polylactic (poliester alifatik termoplastik diterbitkan daripada sumber boleh diperbaharu seperti kanji jagung yang merupakan asid laktik menerusi penapaian oleh Rhizopus oryzae (sejenis fungus yang hidup dalam jirim organik yang telah mati. Struktur biojisim kenaf adalah kompleks disebabkan kandungan lignin dan selulosanya. Hal ini menyebabkan ia perlu melalui proses pra-rawatan sebagai langkah awal sebelum proses penapaian dijalankan. Dalam kertas ini, biojirim kenaf dirawat dengan asid sulfurik (H2SO4 yang dicairkan untuk menghidrolisis kandungan selulosa di dalamnya di samping menukar selulosa menjadi glukosa - sumber karbon bagi tumbesaran Rhizopus. Kemudian, proses penapaian dijalankan di dalam kelalang goncang selama 3 hari pada pH 6. Beberapa ciri proses penapaian telah dipilih iaitu 25 oC pada 150 rpm, 25 oC pada 200 rpm, 37 oC pada 150 rpm dan 37 oC pada 200 rpm. Dalam proses penapaian

  2. KARAKTERISTIK DAN PENDEKATAN KINETIKA GLOBAL PADA PIROLISIS LAMBAT SAMPAH KOTA TERSELEKSI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dwi Aries Himawanto

    2012-04-01

    dipertahankan pada 400°C  selama 30 menit. Untuk menjamin terjadinya proses pirolisis, maka dialirkan nitrogen dengan laju 100 ml/menit ke dalam reaktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampah bambu dan sampah daun pisang dapat dikategorikan kedalam bahan organik dengan kestabila rendah. Sampah bahan pengemas cenderung masuk dalam katagori bahan campuran polimer, sedangkan sampah styrofoam dapat dikategorikan ke dalam material plastik. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa metode kinetika global dapat digunakan untuk memprediksi nilai energi aktivasi dari komponen tunggal sampah kota.

  3. Tarla Tarımı Yapılan Toprakların Meyve Yetiştiriciliğine Uygunluğunun Araştırılması: Yeşilsırt Köyü Örneği

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Korkmaz BELLİTÜRK

    2014-09-01

    Full Text Available Yeşilsırt, Tekirdağ ilinin Muratlı ilçesine bağlı bir köydür. Ekonomisi tarım ve hayvancılığa dayanan köyde daha çok buğday ve ayçiçeği ekiminde kullanılan tarım arazilerinde meyvecilik, ilçe merkezinde olduğu gibi çok küçük bir paya sahiptir. İklim özellikleri bakımından meyve yetiştiriciliğine uygun olan ve sulama suyu sıkıntısı olmayan bu bölgenin buğday ve ayçiçeği ekimi yapılan tarım alanlarından alınan 26 adet toprak örneğinin fiziksel ve kimyasal özellikleri değerlendirilerek, bu toprakların meyveciliğe uygun olup olmadığı sorgulanmıştır. Analiz sonuçlarına göre, toprakların pH değerleri elma, armut, erik ve kiraz yetiştirilmesi için uygundur. Fosfor, demir ve bakır bakımından iyi durumda olan topraklarda azot eksikliği mevcuttur. Toprakların yarısından fazlasında potasyum, mangan ve çinko eksikliği olduğu tespit edilmiş olup organik içerikli gübrelerle eksiklik giderilebilir. Toprakların tüm fiziksel ve kimyasal özellikleri dikkate alındığında, Yeşilsırt köyü topraklarının elma, armut, erik ve kiraz yetiştiriciliğine uygun olduğu saptanmıştır

  4. MORFOLOGI KOTA SOLO (TAHUN 1500-2000

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Budi Prayitno

    2007-01-01

    installations. In 2000s, the city of Solo acquired the city problems like the other cities in Indonesia. The city problems were divided into three aspects as follows: the built environment; the natural environment; and the social environment. The accumulation of those problems made the city grow in decline direction that needs to be fixed by a-sustainable-city design. Abstract in Bahasa Indonesia : Paper ini berusaha mengupas tentang perubahan struktur dan bentuk Kota Solo setelah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Metode penelitian dilakukan dengan studi pendekatan kearsipan, baik arsip primer, arsip sekunder maupun arsip fisik. Untuk arsip primer bersumber pada naskah-naskah dokumenter Jawa, seperti parintah, undang-undang, pranatan, piyagem, kakancingan, serat, gugat, penget dan babad. Untuk arsip sekunder bersumber pada buku-buku dari para ahli sejarah (Ricklefs, Lombard, Vorstensteden, Muljana, Notosusanto, Kartodirdjo dll dan hasil riset dari para ahli sejarah arsitektur Jawa (Ronald, Ikaputra, Adishakti dll. Untuk arsip fisik bersumber dari artefak, elemen alam dan tradisi masyarakat yang diperoleh dari survey lapangan. Temuan utama dari studi morfologi Kota Solo pada tahun 1500-2000 adalah, elemen 'tulang' telah tumbuh membentuk berbagai formasi, yaitu memusat, mengelompok dan organik. Elemen 'daging' telah tumbuh secara horisontal, vertikal dan interestisial. Sementara elemen 'darah' telah berkembang dari orang-orang pribumi (Jawa, Madura, Banjar bertambah dengan orang-orang pendatang (Cina, Arab, India, Belanda, dengan mata pencaharian dari agricultural ke non-agricultural. Temuan penting lainnya adalah, Kota Solo tersusun oleh tiga konsep yang berlainan, yang saling tumpang tindih, yaitu konsep organik oleh masyarakat pribumi, konsep kolonial oleh masyarakat Belanda dan konsep kosmologi oleh masyarakat Keraton Jawa. Kota Solo pada tahun 1500-1750 masih berupa kota tepian sungai di Bengawan Solo, kemudian pada tahun 1750-1850 berkembang menjadi kota campuran

  5. Pengaruh Variasi Konsentrasi Inulin pada Proses Fermentasi oleh L. acidophilus, L. bulgaricus dan S. thermophillus - (The Inulin Variation Concentration Effect in Fermentation Using L. acidophilus, L. bulgaricus and S. thermophilus

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Raden Haryo Bimo Setiarto

    2017-06-01

    koloni dengan Total Plate Count (TPC, analisis kadar total asam laktat tertitrasi dan pengukuran pH. Konsentrasi inulin 0,5% (b/v mampu meningkatkan pertumbuhan L. acidophilus, L.bulgaricus dan S. thermophilus secara signifikan dibandingkan perlakuan lainnya. Penurunan nilai pH selama fermentasi inulin mengindikasikan pertumbuhan bakteri penghasil asam laktat. L. acidophilus mengalami fase eksponensial pertumbuhannya mulai dari masa inkubasi jam ke-6 hingga jam ke-24. Sementara itu L. bulgaricus dan S. thermophilus mengalami fase eksponensial pertumbuhannya mulai dari masa inkubasi jam ke-6 hingga jam ke-18. Laju pertumbuhan L. bulgaricus dan S. thermophilus lebih sensitif terhadap penambahan konsentrasi prebiotik inulin jika dibandingkan dengan L. acidophilus. Selama pertumbuhan L. acidophilus, L.bulgaricus dan S. thermophilus dalam media MRSB yang disuplementasi inulin terjadi penurunan nilai pH dari kisaran 7,00 menjadi di bawah 5,00 karena pembentukan asam-asam organik. Kata kunci: Fermentasi, Inulin, L.acidophilus, L.bulgaricus, S.thermophilus

  6. Karanlık ve Aydınlıkta Depolanmış Ayvalık ve Memecik Çeşidi Natürel Zeytinyağlarının Spektroskopik Verilere Göre Kemometrik Sınıflandırılması

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Betül Öztürk

    2015-02-01

    Full Text Available Bu çalışmada, Türkiye’nin zeytinyağı üretiminin % 65’ini Oluşturan Ege bölgesinin hakim zeytin çeşidi olan Ayvalık ve Memecik yağ örneklerinin en yaygın spektroskopik yöntemler ile (FTNIR, FTIR-ATR, Excitation-Emission [EX-EM] ve Senkronize [SYN] Floresans Spektroskopisi analiz edilerek sınıflandırılması gerçekleştirilmiştir. Analiz edilen yağ örnekleri organik ve karışık çeşitlerden üretilen bir örnek dışında Kuzey Ege (Ayvalık çeşidi (n=4 ve Güney Ege (Memecik çeşidi (n=4 alt bölgelerinden alınmış toplam 9 adetten Oluşmaktadır. Oda sıcaklığında PET şişeler içinde muhafaza edilen yağ örnekleri gün ışığına maruz bırakılan ve aluminyum folyo ile kaplanmış (karanlık olarak iki gruba ayrılmıştır. Ayvalık ve Memecik çeşidi natürel zeytinyağlarının sınıflandırılması en yaygın kullanılan kemometrik yöntemler ile (Temel Bileşen Analizi, PCA ve Aşamalı Kümeleme Analizi, HCA gerçekleştirilmiştir. Ayvalık ve Memecik çeşitleri spektroskopik yöntemlerin sonuçları temelinde çeşit, orijin bölgesi ve işlem uygulamalarına (ışığa maruz kalma veya karanlıkta tutma gibi göre dikkate değer bir şekilde sınıflanmışlardır. Ayrıca, spektroskopik yöntemlerin natürel zeytinyağların sınıflandırılmasında ve muhtemel depolama koşulları ve tağşiş konusunda ümitvar etkiler sergileyebileceği görülmüştür.

  7. KOEFISIEN SAPROBIK PLANKTON DI PERAIRAN EMBUNG UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    AS Awaludin

    2016-04-01

    Full Text Available Embung Universitas Negeri Semarang dibangun dengan tujuan sebagai tempat penampungan air hujan dan penyerapan air di Universitas Negeri Semarang dan mempunyai kapasitas penampungan air 5.000 m3. Keberadaan embung tersebut menciptakan suatu ekosistem baru yaitu tempat hidup ikan-ikan di dalamnya. Saprobitas perairan digunakan untuk mengetahui keadaan kualitas air yang diakibatkan adanya penambahan bahan organik dalam suatu  perairan yang biasanya indikatornya adalah jumlah dan susunan spesies dari organisme di dalam perairan tersebut. Plankton dapat digunakan sebagai bioindikator perairan karena memiliki tingkat kepekaan tinggi terhadap adanya pencemaran. Penelitian ini menggunakan rancangan eksplorasi dengan metode survai, dimana penetapan stasiun pengambilan sampel dengan purposive sampling. Penempatan stasiun didasarkan atas perkiraan beban pencemar dan aktivitas yang terdapat di sepanjang aliran dari (stasiun satu sampai sembilan, pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali dengan selang waktu 2 minggu. Data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif berupa jumlah jenis spesies plankton yang ditemukan pada penelitian ini kemudian diinterpretasikan pada tabel hubungan antara koefisien saprobitas perairan dengan tingkat pencemaran perairan. Berdasarkan perhitungan dan analisis nilai koefisien saprobik dari stasiun satu sampai sampai sembilan didapatkan nilai koefisien saprobik plankton berkisar antara -0,4 s/d 0,9. Berdasarkan kriteria tingkat pencemaran menunjukkan bahwa Embung Universitas Negeri Semarang berada dalam kondisi tercemar ringan sampai dengan sedang.Universitas Negeri Semarang Reservoir was constructed for the purpose as rain water reservoirs and water absorption in Universitas Negeri Semarang and has a water storage capacity of 5,000 cubic meters. The existence of such ponds are creating a new ecosystem where fish live in it. Saprobic waters are used to determine the state of water quality resulting from the addition of

  8. TECHNOLOGY NEEDS ASSESSMENT (TNA FOR CLIMATE CHANGE MITIGATION IN AGRICULTURE SECTOR: CRITERIA, PRIORITIZING AND BARRIERS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Kasdi Subagyono

    2010-11-01

    Full Text Available Upaya mitigasi di sektor pertanian menjadi sangat penting karena sektor ini berkontribusi terhadap munculnya emisi gas rumah kaca (GRK, namun demikian kajian terhadap kebutuhan teknologi untuk mitigasi belum dilakukan. Kajian difokuskan pada seleksi teknologi, kendala dan peluang untuk mengatasi masalah. Seleksi teknologi didasarkan pada criteria dan opsi teknologi yang diperlukan. Data dan informasi dikumpulkan dari berbagai lembaga baik badan, pusat dan lembaga-lembaga terkait lainnya serta melalui lokakarya yang melibatkan para pemangku kepentingan. Seleksi teknologi untuk mitigasi mempertimbangkan criteria umum yang meliputi pengurangan emisi GRK dari tanaman dan ternak, konservasi sumberdaya, untuk keberlanjutan keanekaragaman hayati, mengangkat isu energi hijau, keberlanjutan keamanan pangan, dan mengangkat isu energi alternatif; dan spesifik criteria yang meliputi memprioritaskan teknologi lokal untuk mitigasi, keberlanjutan plasma nutfah spesifik lokasi, memprioritaskan teknologi yang murah untuk petani miskin, introduksi varietas tanaman yang rendah emisi, mengganti sebagian pupuk kimia dengan pupuk organik, serta mengurangi emisi gas metana (CH4. Kriteria tersebut diskor kedalam 4 kelas, yaitu nilai tinggi/relevansi tinggi/sangat berdampak (skor 5, nilai sedang/relevan/berdampak sedang (skor: 3; nilai rendah/kurang relevan/kurang berdampak (skor: 1; dan tidak relevan/tidak berdampak (skor: 0. Hasil kjian menunjukkan bahwa prioritas teknologi yang dibutuhkan untuk mitigasi: (a untuk lahan sawah: varietas tanaman dengan emisi rendah, pemupukan yang tepat, tanpa olah tanah/olah tanah minimum, dan irigasi berselang, (b untuk tanaman tahunan: teknologi tebang baker yang tepat dan biofuel, (c untuk peternakan: teknologi pengomposan dan biogas, dan (d untuk lahan gambut: menghindari tebang bakar, menghindari drainasi yang berlebihan dan menjaga kelembaban tanah.   Mitigation action in agriculture sector is crucial since it contributes to

  9. OPTIMISASI SISTEM USAHA TANI UNTUK PERTANIAN BERKELANJUTAN DI KAWASAN PESISIR BALI UTARA (Optimization of Farming System Towards Sustainable Agriculture in North Coastal Plain Bali

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Wayan Budiasa

    2007-11-01

    Full Text Available ABSTRAK Pengembangan sistem usaha tani secara intensif pada lahan kurang subur dengan sumberdaya air yang terbatas dapat mengarah pada trade-off antara manfaat ekonomi dalam jangka pendek dan permasalahan lingkungan dalam jangka panjang. Akibat degradasi lingkungan yang meningkat dan alokasi sumberdaya yang tidak efisien, sistem usahatani akan tidak berlanjut. Studi ini bertujuan untuk mengoptimalkan model sistem usahatani beririgasi dan menilai keberlanjutannya. Dengan menggunakan analisis programasi linier, petani di kawasan pesisir Bali bagian Utara telah optimal dalam alokasi sumberdaya yang diindikasikan oleh pencapaian solusi optimal pada model sistem usahatani konvensional yang mencerminkan kondisi kenyataan. Dengan berbagai penyesuaian model sistem usahatani konvensional dapat diperluas menjadi model sistem usahatani berkelanjutan. Diperoleh bahwa sistem usahatani berkelanjutan lebih baik ketimbang sistem usahatani konvensional. Karena semua komponen dan indikator keberlanjutan telah dipertimbangkan dalam model dan semua kriteria berkelanjutan telah tercapai dalam solusi optimal, maka model sistem usahatani yang telah diperluas tersebut juga menjamin bahwa pengembangan sistem usahatani beririgasi pda level rumah-tangga akan dapat berkelanjutan. Agar sistem usahatani rumah-tangga dapat berlanjut, petani seharusnya menggunakan air tahan sebesar atau kurang dari 8.547 L/dt, menambah pupuk organik dari pupuk kandang minimal sebesar 5t/ha/th, meneruskan sistem usahatani campuran dan rotasi tanaman, tetap mempertimbangkan pengeluaran minimum rumah-tangga, dan bersedia membayar harga air sebesar Rp 1.218,29/m3. Model sistem usahatani berkelanjutaan yang dihasilkan dari studi ini telah melalui proses validasi. Dengan demikian, hasil tersebut dapat dikontribusikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan di bidang pertanian. Juga, hasil tersebut dapat dijadikan pilihan praktek manajemen oleh petani dalam usahataninya.   ABSTRACT Intensive farming

  10. Impact Test Size and Type of Echinometra mathaei as Agent of Bioerosion on Reef Flat (Pengaruh Ukuran dan Tipe Echinometra mathaei pada Bioerosi Karang

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Cristiana Manullang

    2014-06-01

    Full Text Available Bioerosi adalah aktivitas berbagai organisme yang menyebabkan terjadinya erosi dan kerusakan misalnya pada kalsium karbonat karang. Aktivitas ini merupakan faktor utama yang mempengaruhi morfologi terumbu karang. Bioerosi dipengaruhi oleh tiga variabel yakni jenis spesies, ukuran dan kelimpahan spesies tersebut. Tujuh puluh lima persen dari bioerosi disebabkan oleh landak laut. Perbedaan pada ukuran dan jenis landak laut memberikan dampak signifikan terhadap daerah yang terjadi bioerosi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ukuran dan jenis landak laut E. mathaei (tipe A dan B pada komposisi CaCO3 dalam isi usus dan tinja organisme tersebut sebagai agen bioersi. Landak laut yang digunakan diperoleh dari ekosistem karang di pantai Minatogawa, Okinawa-Jepang. Masing-masing tipe landak laut dibedakan berdasarkan ukuran ≥30 mm dan <30mm. Penelitian dilakukan dengan tiga ulangan. Pemeliharaan ini dilakukan di laboratorium dengan analisis komposisi CaCO3 pada tinja dan konten usus. Hasil penelitian membuktikan bahwa komposisi CaCO3 disebabkan karena aktivitas bioerosi harian dari E. mathaei. Landak laut dengan ukuran diameter ≥30 mm terbukti lebih aktif dibandingkan dengan diameter <30mm. Disamping itu landak laut tipe B lebih aktif dibandingkan tipe A dengan ukuran yang sama. Persentase CaCO3 dalam usus selama pemeliharaan di laboratorium adalah 73% dan sisa 27% berupa bahan organik dan anorganik. Bierosion harian E. mathaei tipe A ≥ 30 mm 166,70 mg.hari-1, tipe A <30 mm 77.78 mg.hari-1, tipe B ≥ 30 mm 126,30 mg.hari-1, tipe B <30 mm 116,17 mg.hari-1. Tingkat bioerosion harian E. mathaei dipengaruhi oleh jenis, spesies, kecepatan menggiling, dan ukuran landak laut. Kata kunci: ukuran; Echinometra mathaei; bioerosi; karang Bioerosion is an activity of various organisms such as erosion and destruction of coral calcium carbonate and become a major factor influencing coral reefs morphology. Bioerosion is influenced by three variables

  11. The increasing of enamel calcium level after casein phosphopeptideamorphous calcium phosphate covering

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Widyasri Prananingrum

    2012-06-01

    . Demineralisasi terjadi oleh asam organik sebagai hasil fermentasi substrat karbohidrat oleh bakteri. Remineralisasi adalah proses perbaikan alami untuk lesi non cavitated. Remineralisasi terjadi jika terdapat ion Ca2+ dan PO43- dalam jumlah cukup. Casein phosphopeptide-amorphous calcium phosphate (CPP-ACP adalah bahan berbentuk pasta berisi suatu protein susu (kasein. Pada kasein terkandung mineral kalsium dan fosfat. Kemampuan kasein untuk menstabilkan kalsium fosfat dan meningkatkan kelarutan dan bioavailabilitas sehingga CPP memiliki potensi menghantarkan kalsium dan fosfat. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar kalsium enamel setelah pengulasan CPP-ACP pada permukaan enamel 2 kali sehari selama 3,14 dan 28 hari. Metode: Sampel adalah gigi insisif sapi, usia 3 tahun. Pada penelitian ini sampel (n = 24 dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok I sebagai kelompok kontrol, dan kelompok II, III, IV sebagai kelompok perlakuan dengan pengulasan CPP-ACP 2 kali sehari. Semua kelompok direndam dalam saliva buatan. Kelompok II direndam 3 hari, kelompok III direndam 14 hari, kelompok IV direndam 28 hari. Pengulasan CPP-ACP sejumlah 1 tetes diratakan pada seluruh permukaan labial gigi. Pengukuran kadar kalsium dilakukan dengan metode titrasi. Semua data dianalisa dengan uji One-Way ANOVA dengan taraf kemaknaan 5%. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan kadar kalsium enamel gigi di antara kelompok (p = 0,001. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan kadar kalsium gigi pada kelompok kontrol dan perlakuan antara lama waktu pengulasan 3, 14, dan 28 hari (p = 0,001. Kesimpulan: Pengulasan CPP-ACP selama 3, 14 dan 28 hari mampu meningkatkan kadar kalsium pada enamel.

  12. Mersin-Kadıncık Havzası’ndaki Sedir (Cedrus libani A. Rich. ve Karaçam (Pinus nigra Arnold. ağaçlandırmalarının boy gelişimi ile bazı yetişme ortamı özellikleri arasındaki ilişkiler

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dr. Sevda POLAT

    2014-12-01

    Full Text Available Mersin Orman Başmüdürlüğü Toprak Muhafaza ve Mera Islâhı Tatbikat Grup Müdürlüğü’nce hazırlanan Kadıncık Su Toplama Havzası Ön Etüt Raporu ve Tatbikat Raporu (OGM, 1968 uyarınca Kuzboğazı Dere Havzası ağaçlandırmıştır. Bu çalışma, Türkiye’nin en eski, Mersin ilinin ilk ağaçlandırmalarından biridir. Havzada sedir ve karaçam türlerinin farklı yükselti/iklim kuşağı, bakı, anakaya ve farklı meşcere kuruluşlarındaki boy gelişmeleri değerlendirilerek yetişme ortamı özellikleri ile ilişkileri araştırılmıştır. Kuzboğazı Dere Havzası’nda sedir ve karaçamların üst boyu ile bakı, toprakların bir m³ hacimdeki değerlerinden kum miktarı, ince toprak miktarı, iskelet hacmi, organik karbon ve tüm azot miktarları arasında önemli ilişkiler bulunmuştur. Havzada güney bakı grubundaki sedir ve karaçamların üst boyları kuzey bakı grubundaki sedir ve karaçamlara göre daha fazladır. Kuzboğazı Dere Havzası’nda 38 yaşındaki meşcerelerde sedirin ulaştığı en yüksek üst boy; orta sedir kuşağında, dolomitik kireç taşlarından oluşmuş topraklarda, güney bakı grubundaki karaçam ile karışık meşcerede 15,10 m’dir. Karaçamda ise; orta sedir kuşağında, kalkşist anakayasından oluşmuş topraklarda, güney bakı grubunda ve sedir ile karışık meşcerede 14,45 m’dir. Kuzboğazı Dere Havzası ağaçlandırmasında 38. yılın sonunda ortalama hacim 197,11 m³/ha olarak hesaplanmıştır. Yıllık hacim artımı 5,19 m³/ha’dır. Araştırmaya göre; Doğu Akdeniz Bölgesi’nde deniz etkisine açık, 1500-2000 m yükseltide, eğimin > % 40 olduğu, dolomitik kireç taşı ve kalkşist anakayalarından oluşmuş topraklarda yapılacak ağaçlandırma çalışmalarında, kuzey bakılarda karaçam, güney bakılarda sedirin tercih edilmesi önerilmektedir.

  13. The effective concentration of red betel leaf (Piper crocatum infusion as root canal irrigant solution

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fani Pangabdian

    2012-03-01

    Full Text Available Background: Smear layer is a debris consisting of organic and inorganic particles of calcified tissue, necrotic tissue, pulp tissue, and dentinoblast and microorganism processes that can close the entrance to the dentin tubuli. Smear layer, will not only inhibit the penetration of disinfection materials and sealers to the dentin tubuli, but will also reduce the attachment of root canal filling material so that root canal irrigation solution is needed to dissolve the smear layer. Red betel leaf (Piper crocatum infusion, on the other hand, contains saponin characterized as “surfactants” which can dissolve smear layer. Nevertheless, the effective concentration of the red betel leaf infusion has still not been known clearly. Purpose: This study is aimed to determine the effective concentration of the red betel leaf infusion for cleaning root canal walls from smear layer. Methods: Fiveteen extracted human teeth with straight single roots were randomized into 5 groups (n=3. The specimens were then shaped by using rotary instruments up to a size of 25/.07. During instrumentation, each canal was irrigated with 10, 20, 30 and, 40% red betel leaf infusion for treatment groups, while another was irrigated with aquadest for the control group. Root canal cleanliness was observed by using scanning electron microscope (SEM. Results: There were significant differences among treatment groups (p<0.05, except in the treatment groups irrigated with red betel leaf infusion with concentrations of 30% and 40% (p>0.05. Conclusion: It can be concluded that red betel leaf infusion with a concentration of 30% is effective for cleaning the root canal walls from the smear layer.Latar belakang: Smear layer adalah suatu debris yang mengandung partikel organik dan anorganik dari jaringan terkalsifikasi, jaringan nekrotik, proses dentinoblas, jaringan pulpa dan mikroorganisme yang dapat menutup jalan masuk ke tubuli dentin. Smear layer akan menghalangi penetrasi dari bahan

  14. KANDUNGAN KIMIA SERAT KENAF DARI KOMPOS KULIT UDANG DENGAN PESTISIDA ALAMI KEONG MAS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rusmini Rusmini

    2017-10-01

    serta bahan baku industri biofuel.  Penelitian bertujuan menghasilkan kandungan kimia serat kenaf terbaik dengan pemberian pupuk organik kompos kulit udang dan pestisida alami keong mas.  Penelitian  menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan  dua faktor dengan faktor pertama kompos dari kulit udang (k yang terdiri dari 3 taraf dan faktor kedua adalah pestisida nabati yang terdiri dari tiga taraf (p. Pada setiap penelitian ini  diulang sebanyak 2 ulangan sehingga keseluruhan ada 18 perlakuan.  Variabel yang diamati kandungan kimia serat yang meliputi kadar air batang, holosellulosa, sellulosa dan lignin.  Data yang diperoleh, dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf uji 5%.   Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kandungan holosellulosa pada serat kenaf yang terbaik pada perlakuan p2  dan k2 yaitu 81,2800 %, untuk kandungan sellulosa yang terbaik adalah p0 dan ko yaitu 40,5695% sedangkan untuk lignin tidak dilanjutkan uji lanjut karena menunjukkan tidak beda nyata.

  15. Biogas Digester with Simple Solar Heater

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Kh S Karimov

    2012-10-01

    persamaan tenaga seimbang untuk jisim statik cecair yang dipanaskan; parameter penebat haba tangki metana telah dikira. Pencerna biogas terdiri dari tangki metana yang dilengkapkan dengan penyerap pemanas beralik untuk menggunakan tenaga solar bagi memanaskan sluri yang disediakan dari bahan buangan organik yang berbeza (najis, sampah, sisa makanan,etc. Tangki metana telah diisi sehingga 70% isipadu buangan oraganik dari institut GIK, pertamanya adalah sampah dan keduanya adalah najis lembu. Pencerna telah dikaji bagi tempoh tiga bulan (Oktober-Disember, 2009 dan dua bulan (Februari-Mac, 2010. Kejadian radiasi solar terhadap penyerap, suhu sluri dan suhu ambien telah diukur. Didapati suhu penahanan adalah empat minggu dan dua minggu masing-masing dengan menggunakan sampah sahaja dan sampah dengan najis lembu, dan kuantiti biogas dihasilkan adalah masing-masing 0.4 m3 and 8.0 m3. Sebagai tambahan, skema peningkatan biogas untuk peranjakan karbon dioksida, hidrogen sulfida dan wap air dari biogas dan penukaran tenaga biogas kepada tenaga elektrik juga dibincangkan.KEYWORDS:  solar biogas; digester; methane tank; reverse absorber; built-in heater; solar energy

  16. KARAKTERISTIK HABITAT DAN MORFOLOGI SIPUT ONGCOMELANIA HUPENSIS LINDOENSIS SEBAGAI HEWAN RESERVOIR DALAM PENULARAN SHISTOSOMIASIS PADA MANUSIA DAN TERNAK DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU (Habitat Characteristics and Morphology of Oncomelania hupensis

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hafsah Hafsah

    2013-07-01

    Full Text Available ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji habitat dan morfologi siput Oncomelania hupensis lindoensis sebagai hewan reservoir dalam penularan shistosomiasis pada manusia dan ternak. Penelitian dilakukan dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan mengukur dan mengambil beberapa sampel tanah pada beberapa jenis habitat. Siput dikoleksi dengan menggunakan metode gelang besi yang disebut ring method. Siput yang dikumpulkan kemudian dibawa ke laboratorium untuk pengamatan bentuk morfologi dan mirasidia baik secara langsung maupun dengan penggunaan mikroskop. Penentuan tingkat prevalensi digunakan metode “ Kato-Kars” yang dimodifikasi. Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan data hasil survei di lapangan dan hasil analisis dari laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat siput O.hupensis Lindoensis yang terdapat dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu sebanyak 144 habitat (fokus dan terdistribusi pada empat desa yaitu Tomado (64 fokus, Anca (63 fokus, Puroo (11 fokus dan Langko (6 fokus dengan persebaran 44,44 % ( sawah, 29,86 % ( kebun, 18,06 % ( padang rumput, dan 11 % ( hutan. Karakteristik habitat yaitu tekstur tanah lempung berpasir dengan bahan organik tanah yang relatif rendah (2%. Pada ternak didapatkan tingkat prevalensi yaitu kerbau (39,36%, sapi (39,32%, dan babi (22,5%. Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa habitat siput O. Hupensis lindoensis mempunyai karakteristik dan bentuk yang spesifik. Tingkat prevalensi schistosomiasis pada manusia dan ternak dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu masih cukup tinggi. ABSTRACT The objective of the study was evaluated the habitat characteristics and  morphology of  Oncomelania hupensis lindoensis  as  a  reservoir in transmission of Schistosomiasis on  human and animal in Lore Lindu National Park. The study was conducted in four villages as known as the habitat of the endemic snails. Collections of the snails

  17. KONDISI HABITAT DAN EKOSISTEM MANGROVE KECAMATAN SIMPANG PESAK, BELITUNG TIMUR UNTUK PENGEMBANGAN TAMBAK UDANG (Habitat Conditions and Mangrove Ecosystem in Simpang Pesak District, East Belitung for Development of Shrimp Pond

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Endang Juwita

    2015-03-01

    Full Text Available ABSTRAK Kondisi habitat dan eksosistem mangrove menjadi aspek penting dalam pengembangan usaha perikanan budidaya di wilayah pesisir. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kondisi habitat dan ekosistem mangrove berdasarkan kualitas perairan, tanah, dan vegetasi mangrove serta kondisi sosial ekonomi masyarakat. Penelitian dilakukan di empat desa Kecamatan Simpang Pesak Kabupaten Belitung Timur pada bulan April – November 2013. Hasil penelitian menunjukkan kualitas air seperti salinitas 28–30, suhu 27–36 oC, pH 7–7,5, kecerahan 50–70, TSS 11–85 mg/L dan kekeruhan 0,91–46,00 NTU, yang rata-rata tidak melebihi ambang batas baku mutu untuk tambak udang dan biota laut, sedangkan kualitas tanah yaitu tekstur tanah (liat berpasir, pH tanah 4,8–6,8 dan bahan organik tanah 9–13% juga menunjukkan nilai yang tidak lebih dari ambang batas yang ditentukan. Kajian lainnya yaitu kondisi mangrove dengan kisaran indeks nilai penting 0–300 menunjukkan mangrove yang berperan dalam ekosistem tersebut dan dalam status mutu baik yang didukung dengan kerapatan 460 pohon/hektar. Oleh karena itu, nilai kerapatan yang tinggi dapat mendukung kegiatan pengembangan tambak udang yaitu dengan konsep ramah lingkungan (silvofisheries. Selain secara ekologi, secara sosial masyarakat juga mendukung pengembangan budidaya tambak udang (wawancara dengan menyediakan (sewa lahan dan tidak mengabaikan kerusakan lingkungan yaitu tetap mempertahankan mangrove. ABSTRACT This research discusses about conditions of habitats and mangrove ecosystems which become an important aspect to develop a good aquaculture in coastal areas. This study aims to analyze the condition of the habitat and mangrove ecosystem based on the quality of water, soil, vegetation of mangroves, and socio-economic conditions of the social community. The study was conducted in four villages in Simpang Pesak, East Belitung Regency from April to November 2013. The results showed the indicator for water

  18. Revitalisasi Pengelolaan Bank Sampah Di Palabuhanratu

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Budi Prasetyo Samadikun

    2017-11-01

    Full Text Available Bank sampah di Kelurahan Palabuhanratu sudah berdiri sejak tahun 2010. Bank sampah ini adalah salah satu bank sampah diantara dua bank sampah lain, yang baru berdiri pada tahun  2016. Volume sampah pada tahun 2015 sebesar 134,89 m3 per hari, mencakup 89% wilayah Kelurahan Palabuhanratu ternyata masih belum optimal dalam pengolahannya, karena  sampah yang direduksi masih sekitar 5% dari total timbulan sampah yang dikirim ke TPA Cimenteng yang berlokasi sekitar 70 km dari Kelurahan Palabuhanratu. Kinerja bank sampah eksisting masih kurang, karena satu bank sampah hanya mampu melayani satu RW dan belum dapat melayani satu kelurahan. Selain itu, pengolahan sampah organik untuk dijadikan kompos belum dilakukan secara serentak oleh seluruh masyarakat, karena pengetahuan masyarakat yang masih kurang. Tujuan penelitian adalah mengetahui kondisi eksisting pengelolaan sampah dan merumuskan upaya revitalisasi Bank Sampah eksisting sebagai pihak pendukung pengelolaan sampah di TPS Kelurahan Palabuhanratu. Metode penelitian menggunakan metode survei, dengan menggunakan kuesioner, wawancara mendalam, dan observasi. Teknik analisis menggunakan analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang melakukan pemilahan sampah dari sumber hanya penduduk RT 01 RW 33. Selain itu jumlah TPS di Kelurahan Palabuhanratu masih terbatas, sehingga membutuhkan tambahan 5 unit TPS yang terintegrasi dengan bank sampah di kelurahan ini. Kata kunci: revitalisasi, bank sampah, Palabuhanratu The  waste bank in Palabuhanratu Village  has been established since 2010. This waste bank is one of the waste bank among two other waste banks, newly established in 2016.  The volume of waste in 2015 is 134,89 m3 per day, covering 89% of Palabuhanratu Village area  is still not optimal in its processing, because the reduced waste is still about 5% of the total waste generation delivered to the Cimenteng Final Diposal Site (FDS, which located

  19. The Preliminary Study of Utilization of Water Chestnut as Supercapacitor Electrode Using Steam Activation

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Zulkifli Zulkifli

    2018-01-01

    Keywords: Purun tikus, superkapasitor, siklis voltammetri, kapasitansi spesifik, perairan REFERENCE Asikin, S. dan Thamrin, M. 2012. Manfaat Purun Tikus (Eleocharis Dulcis Pada Ekosistem Sawah Rawa. Jurnal Litbang Pertanian, 31(1: 35-42 Arepalli, S., Fireman, H., Huffman, C., Moloney, P., Nikolaev, P., Yowell, L., Higgins, C. D., Kim, K., Kohl, P. A., Turano, S. P. and Ready W. J. 2005. Carbon-nanotube-based electrochemical double-layer capacitor technologies for spaceflight applications. Journal of  The Minerals, Metals and Materials Society, 57:26-31. Erari, S.S., Mangimbulude, J., Lewerissa, K. 2012. Pencemaran Organik di Perairan Pesisir Pantai Teluk Youtefa Kota Jayapura, Papua. Prosiding Seminar Nasional Kimia Unesa. ISBN 978-979-028-550-7. (C: 327-340. Farma, R., Deraman, M., Awitdrus, A., Talib, I.A.  Taer, E., Basri, N.H., Manjunatha, J.G., Ishak, M.M., Dollah, B.N.M., Hashmi, S.A. 2013.  Preparation of highly porous binderless activated carbon electrodes from fibres of oil palm empty fruit bunches for application in supercapacitors. Bioresource Technology. 132:254–261 Feng, C.W., R.L. Tseng., C.C. Hu., C.C Wang., 2015, Effects of pore structure and electrolyte on the capasitive characteristics of steam and KOH activated carbons for supercapasitors, Journal of power sources. 144:302-309. Ionnidou, A and Zabaniotu. 2007. Agricultural residues of precursors for activated carbon production–a review, Renewable and sustainable energy reviews. 11:1705-1966. Kurniawan, F., Wongso, M., Ayucitra, A., Soetaredjo F.E., Angkawijaya A. E., Ju,Y. H., Ismadji, S. 2014. Carbon microsphere from water hyacinth for supercapacitor electrode. Journal of the Taiwan Institute of Chemical Engineers. 47: 197-201. Liu, B., Zhou, X., Chen, H., Liu, Y., Li, H. 2016. Promising porous carbons derived from lotus seedpods with outstanding supercapacitance performance. Electrochimica Acta. 208 :55–63. Taer, E., Mustika, W.S., Zulkifli, Syam, I.D.M., Taslim, R. Pengaruh Suhu

  20. EKSTRAKSI OLEORESIN DARI KAYU MANIS BERBANTU ULTRASONIK DENGAN MENGGUNAKAN PELARUT ALKOHOL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bakti Jos

    2012-05-01

    Full Text Available ULTRASOUND ASSISTED EXTRACTION OF CINNAMON OLEORESIN FROM CINNAMON BARK USING ALCOHOLS AS SOLVENTS. Cinnamon oleoresin is a complex mixture of resin and essential oil extracted from cinnamon burmanii by using organic solvent, and is primarily used as a coloring and flavoring in food products. Major component in essential oil is cinnamic aldehyde. Extraction was usually performed by percolation or soxhlet with various solvents. Several studies on the extraction of oleoresin have been completed by using polar organic solvents. Generally Recognized as Safe (GRAS solvents, which are safe to use in food, were considered as alternative extraction solvents. Hildebrand solubility parameter concept was also used to choose the solvent. In this research, oleoresin from cinnamon was extracted by using ultrasound assisted extraction. Methanol, ethanol and isopropyl alcohol were used as the solvent to determine the extraction time, extraction rate and the kinetic model correspond to the yield of oleoresin. The result showed that the optimal time and extraction intensity are 66 minutes and 20% respectively, oleoresin yield by using solvent extraction of methanol, ethanol, and isopropyl alcohol were 22.86%, 17.87%, and 14.64% respectively. The results were similar compared to conventional extraction. Kinetic study confirmed that the second-order kinetic model is suitable for this research and the extraction rate constant for the second-order kinetic model of these solvents were 0.098, 0.057, and 0.089 respectively.  Abstrak  Oleoresin kayu manis merupakan campuran komplek antara resin dan minyak atsiri sebagai hasil ekstraksi kayu manis dengan menggunakan pelarut organik. Oleoresin banyak digunakan sebagai pewarna dan flavor dalam industri makanan. Komponen utama dalam minyak atsiri kayu manis adalah cinnamic aldehyde. Pada umumnya ekstraksi kayu manis menggunakan cara perkolasi atau soxhlet dengan berbagai pelarut. Beberapa studi ekstraksi oleoresin yang

  1. STUDI METODE-METODE EKSTRAKSI PEWARNA MAKANAN ALAMI ANNATTO DARI BIJI KESUMBA (Bixa orellana

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Johnner Parningotan Sitompul

    2012-05-01

    . Annatto merupakan pewarna alami makanan yang didapatkan melalui ekstraksi dari biji pohon kasumba (Bixa orellana dengan komponen pewarna utamanya adalah bixin. Keberadaan ikatan rangkap terkonjugasi menyebabkan bixin dan norbixin  larut dalam sebagian besar pelarut organik. Ciri struktur kimia dari bixin ini yang menjadi dasar dalam pemilihan pelarut untuk ekstraksi pewarna annatto. Tujuan makalah ini adalah studi metode-metode ekstraksi terhadap perolehan bixin, metode Soxhlet pada temperatur didih pelarut dan metoda ultrasonic bath pada temperatur kamar, dengan dua tempat sumber biji kasumba, Bandung dan Duri. Pelarut yang digunakan adalah etil asetat dan aseton. Pengujian dilakukan dengan mengukur kadar pigmen yang dihasilkan menggunakan spektrofotometri pada panjang gelombang tertentu. Dari penelitian ini, didapatkan data yield (perolehan bixin dari berbagai variasi percobaan. Perolehan bixin (terhadap biji yang didapat dari ekstraksi ultrasonic bath lebih tinggi yaitu rata-rata sebesar 0,584%, dibanding dengan metode soxhlet yang rata-rata sebesar 0,443%. Ekstraksi menggunakan metode ekstraksi ultrasonic bath, dan menggunakan pelarut etil asetat lebih tinggi yaitu rata-rata 0,602% daripada menggunakan aseton yang rata-rata 0,565%. Sedangkan dengan metode soxhlet menunjukkan perolehan bixin berbeda, dengan pelarut aseton 0,460%, sedangkan untuk pelarut etil asetat adalah 0,427%. Biji yang berasal dari 2 tempat berbeda, ketika diekstraksi dengan dua metode tersebut tidak memberikan perbedaaan hasil bixin yang signifikan

  2. SAFIRA. Sub-project B 1.3: Development of coupled in-situ reactors and optimisation of the geochemical processes in the discharge of different in situ reactor sytems. Final report; SAFIRA. Teilprojekt B 1.3: Entwicklung von gekoppelten in situ-Reaktoren und Optimierung der geochemischen Prozesse im Abstrom von verschiedenen in situ-Reaktor-Systemen. Abschlussbericht

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Dahmke, A.; Schaefer, D.; Koeber, R.; Plagentz, V.

    2002-12-01

    langfristig kostenguenstige passive Massnahmen wie reaktive Barrieren zur Sanierung in Frage. Grundwasser, das mit mehreren und unterschiedlich reagierenden Stoffen kontaminiert ist, kann jedoch nicht mit Hilfe eines einzelnen reaktiven Materials gereinigt werden, daher wurde die Effektivitaet von Kombinationen unterschiedlicher reaktiver Materialien zur Sanierung untersucht. Von den untersuchten Kombinationen erwies sich die Hintereinanderschaltung von reduzierendem Eisen und Aktivkohle als besonders effektiv. Reduzierbare chlorierte Kohlenwasserstoffe werden im Eisen entfernt, die verbleibenden Kontaminanten adsorbieren auf der Aktivkohle. Auch die Hintereinanderschaltung von Eisen und Sauerstoff abgebenden ORC, in denen ein aerober mikrobieller Abbau statt findet, ist zur Entfernung von Mischkontaminationen geeignet. Eine Kostenschaetzung zeigt, dass die Kombination von Eisen und Aktivkohle in Abhaengigkeit von der Zusammensetzung der Kontamination guenstiger als Aktivkohle allein sein kann und generell guenstiger als die Kombination von Eisen und ORC ist. Ohne ein guenstigeres Verfahren zum Einbringen von Sauerstoff in den Aquifer wird die Hintereinanderschaltung von Eisen und Aktivkohle zur Sanierung von Mischkontaminationen empfohlen. Im direkten Abstrom von reaktiven Eisenbarrieren (auch in Kombination mit Aktivkohle) sind die Grenzwerte fuer Fe(II) und pH entsprechend der Trinkwasserverordnung ueberschritten. Im Abstrom von ORC-Reaktoren werden die zulaessigen Werte fuer Mg und pH ueberschritten. Untersuchungen im Abstrom dieser reaktiven Materialien zeigen, dass die hohen pH-Werte durch den Kontakt mit dem Aquifermaterial auf Aquifer-typische Werte gepuffert werden, die ueblicherweise unter den Grenzwerten der Trinkwasserverordnung liegen. Mit Erschoepfen der Pufferkapazitaet des Bodens breitet sich jedoch eine Zone mit erhoehtem pH-Wert im Aquifer aus. Die Geschwindigkeit dieser Ausbreitung haengt vom pH-Wert und dem Aquifermaterial ab. Gerade fuer sehr Organik

  3. EFEKTIVITAS KAPORIT PADA PROSES KLORINASI TERHADAP PENURUNAN BAKTERI Coliform DARI LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT X SAMARINDA (The Effectiveness of Calcium Hypochlorite to Chlorination Process in Decreasing the Amount of Coliform Bacteria in the Wastewater of X

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muhammad Busyairi

    2016-07-01

    Full Text Available ABSTRAK Kaporit pada limbah cair rumah sakit digunakan sebagai desinfektan, tetapi, penggunaan kaporit dengan dosis yang tidak tepat akan menyebabkan pembentukan senyawa Trihalomethane (THMs yang beracun dan bersifat karsinogenik. Pada limbah cair rumah sakit X Samarinda, diperoleh nilai MPN Coliform sebesar >160.000 MPN / 100 mL dengan residu klor sebesar 0 ppm. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis optimum dari penggunaan kaporit menggunakan titik Breakpoint Chlorination (BPC dan pengaruhnya terhadap penurunan Coliform. Analisis dilakukan dengan titrasi iodometri dan menghitung jumlah bakteri Coliform memakai metode Most Probable Number (MPN. Penentuan dosis kaporit berdasarkan dosis optimum pada titik BPC dimaksudkan agar dapat menjaga residu klor dari penambahan dosis yang semakin meningkat. Hasil penelitian mempengarui rerata kadar bahan organik pada sampel limbah cair sebesar 137,26 ppm, sehingga dosis kaporit yang dibubuhkan dimulai dari 130-165 ppm. Titik BPC terjadi pada pembubuhan klor aktif 160 ppm untuk kedua waktu kontak yaitu 30 dan 40 menit. Pada titik BPC, waktu kontak 30 menit diperoleh rerata persentase penurunan nilai Coliform yaitu 98,21% sebesar 2.899 MPN / 100 mL dengan residu klor sebesar 88 ppm. Pada waktu kontak 40 menit diperoleh persentase penurunan bakteri Coliform hingga 98,83%, yaitu dari >160.000/100 mL menjadi 1.866/100 mL dengan residu klor 97,5 ppm. ABSTRACT Calcium hypochlorite of hospital wastewater serves as disinfectant, however, inappropriate dose of it will lead to the formation of Trihalomethane (THMs which is toxic and carcinogenic. The value of MPN Coliform of wastewater in X hospital Samarinda is >160.000 MPN / 100 mL with residual chlorine 0 ppm. This research aims at determining the optimum dose of calcium hypochlorite usage by using Breakpoint Chlorination curve and its effect to Coliform decrease. Further, the analysis is done by employing iodometric titration and the amount of Coliform

  4. PENGARUH PLASTICIZER PADA KARAKTERISTIK EDIBLE FILM DARI PEKTIN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sang Kompiang Wirawan

    2012-05-01

    Full Text Available EFFECT OF PLASTICIzER ON THE PECTINIC EDIBLE FILM CHARACTERISTICS. The peel of Balinese Citrus contains high concentration of pectin which can be further processed to be edible films. The edible films can be utilized as a food coating which protects the food from any external mass transports such as humid, oxygen, and soluble material and can be served as a carrier to improve the mechanical-handing properties of the food. Edible films made of organic polymers tend to be brittle and thus addition of a plasticizer is required during the process. The work studies the effect of the type and the concentration of plasticizers on the tensile strength, the elongation of break, and the water vapor permeabilty of the edible film. Sorbitol and glycerol were used as plasticizers. Albedo from the citrus was hydrolized with hydrochloride acid 0.1 N to get pectinate substance. Pectin was then dissolved in water dan mixed with the plasticizers and CaCl2.2H2O solution. The concentrations of the plasticizers were 0, 0.03, 0.05, 0.1, and 0.15 mL/mL of solution. The results showed that increasing the concentration of plasticizers will decrease the tensile strength, but increase the elongation and film permeability. Sorbitol-plasticized films are more brittle, however exhibited higher tensile strength and water vapor permeability than of glycerol-plasticized film. The results suggested that glycerol is better plasticizer than sorbitol.  Kulit jeruk bali banyak mengandung pektin yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku edible film. Edible film bisa digunakan untuk melapisi bahan makanan, melindungi makanan dari transfer massa eksternal seperti kelembaban, oksigen, dan zat terlarut, serta dapat digunakan sebagai carrier untuk meningkatkan penanganan mekanik produk makanan. Film yang terbuat dari bahan polimer organik ini cenderung rapuh sehingga diperlukan penambahan plasticizer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kadar dan jenis

  5. KETERKAITAN SPASIAL KUALITAS LINGKUNGAN DAN KEBERADAAN FITOPLANKTON BERPOTENSI HABs PADA TAMBAK EKSTENSIF DI KECAMATAN LOSARI KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tarunamulia Tarunamulia

    2016-12-01

    Full Text Available Harmful Algal Blooms (HABs dapat memberikan dampak negatif secara ekologis, ekonomis dan kesehatan.  Kejadian dapat bervariasi menurut faktor lingkungan lokal pemicu serta kemampuan adaptasi spesies.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara karakteristik kualitas lingkungan dengan keberadaan fitoplankton berpotensi HABs pada tambak ekstensif di Kecamatan Losari Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.  Sebanyak masing-masing 45 contoh air dan tanah diambil pada total luas petakan tambak ±2300 ha dengan metode transek yang dimodifikasi. Peubah kualitas air yang diukur meliputi; Total Amonia Nitrogen (TAN, Nitrit (NO2-N, Nitrat (NO3-N, Fosfat (PO4-P, Bahan Organik Total (BOT dan Plankton.  Sedangkan peubah kualitas tanah tambak meliputi pH, total nitrogen (NTOT, fosfat (PO4-P dan BOT. Analisis keterkaitan kualitas lingkungan dengan keberadaan fitoplankton berpotensi HABs dilakukan dengan BIO-ENV analysis, Cluster analysis, dan analisis spasial dengan software PRIMER 5.0 dan ArcGIS 10.0.  Dari  23 spesies yang diidentifikasi terdapat 5 spesies (21% yang potensial sebagai HABs meliputi Prorocentrum sp, Ceratium sp, Gymnodinium sp, Thalassiosira sp dan Nitzchia sp.   Prorocentrum sp ditemukan pada 21 stasiun  dari total 45 stasiun dengan kepadatan tertinggi (508 ind/L. Hasil analisis selanjutnya menunjukkan bahwa distribusi spasial spesies berkaitan erat dengan distribusi nilai TAN dan BOT air serta nilai N-Total tanah. Jika tidak ada upaya pengelolaan dan mitigasi sehubungan keberadaan HABs tersebut maka dikhawatirkan dapat mempengaruhi produktivitas dan keberlanjutan kegiatan budidaya di lokasi penelitian. Harmful Algal Blooms (HABs can cause serious negative ecological, economical and human health impacts. The occurrence of HABs may vary according to local environmental factors and the adaptability level of the causative species. This study aims to determine the relationship between environmental quality and the presence of

  6. PENGARUH APLIKASI SUMBER C- KARBOHIDRAT (TEPUNG TAPIOKA DAN FERMENTASI PROBIOTIK PADA BUDIDAYA UDANG WINDU, Penaeus monodon POLA INTENSIF DI TAMBAK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gunarto Gunarto

    2016-11-01

    Full Text Available Penelitian bertujuan untuk membandingkan pengaruh penambahan sumber C- karbohidrat (tepung tapioka dan fermentasi probiotik pada budidaya udang windu dengan pola intensif di tambak terutama melihat efeknya terhadap perbaikan kualitas air, pertumbuhan, sintasan, dan produksi udang windu. Enam petak tambak masing-masing ukuran sekitar 4.000 m2, setelah selesai tahap persiapan tambak (pengeringan, pembalikan tanah dasar, pengapuran, pengisian air, dan pemupukan, kemudian tambak ditebari tokolan udang windu PL-25 dengan padat tebar 20 ekor/m2. Tiga perlakuan diuji yaitu A. Penambahan tepung tapioka  ke air tambak dengan dosis 62% dari total pakan yang diberikan per hari dan diberikan dalam selang waktu lima hari sekali selama masa pemeliharaan pada bulan pertama dan kemudian dengan selang waktu tiga hari sekali selama masa pemeliharaan bulan kedua hingga menjelang panen; B. Pemberian fermentasi probiotik ke air tambak sebanyak 5 mg/L/minggu; dan C. Pemberian fermentasi probiotik ke air tambak sebanyak 10 mg/L/minggu. Masing-masing perlakuan dengan dua ulangan. Sampling pertumbuhan, kualitas air, dan bakteri dilakukan setiap dua minggu sekali. Sintasan, produksi, dan nilai konversi pakan dihitung setelah udang dipanen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung tapioka menyebabkan konsentrasi amoniak relatif lebih rendah di perlakuan A daripada di perlakuan B dan C, namun menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05 di antara ketiga perlakuan tersebut. Bahan Organik Total (BOT pada hari ke-112 di perlakuan C paling rendah dan menunjukkan perbedaan yang nyata (P0,05 di antara ketiga perlakuan yang diuji. The objective of the research was to compare the effect of addition of carbohydrate source (starch flour and probiotics fermentation to the water quality and the growth, survival, and production of tiger shrimp in intensive brackishwater pond system. Six pond compartments each sized approximately of 4,000 m2, went through preparation

  7. MODEL PERPINDAHAN MASSA PADA EKSTRAKSI SAPONIN BIJI TEH DENGAN PELARUT ISOPROPIL ALKHOHOL 50% DENGAN PENGONTAKAN SECARA DISPERSI MENGGUNAKAN ANALISIS DIMENSI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Susiana Prasetyo

    2012-11-01

    Full Text Available Indonesia merupakan salah satu penghasil teh terbesar di dunia. Menurut data dari Deptan 2010, dengan luas lahan sebesar 127712 ha, Indonesia dapat menghasilkan produktivitas teh sebesar 153971 ton/tahun. Namun sayangnya, selama ini pemanfaatan tanaman teh di Indonesia masih terbatas pada pucuk daunnya saja. Bagian tanaman teh yang memiliki kandungan potensial namun belum dimanfaatkan adalah  biji teh, mengandung 26% saponin, 20-60% minyak dan 11% protein. Saponin merupakan salah satu komponen bioaktif yang telah dimanfaatkan sebagai insektisida pembasmi hama pada tambak udang, bahan baku industri deterjen, shampoo, minuman bir, pembentuk busa pada pemadam kebakaran, dan dapat dimanfaatkan pula sebagai pupuk organik. Pada penelitian ini, saponin biji teh diperoleh melalui ekstraksi biji teh pasca pengepresan menggunakan pelarut IPA 50% secara batch di dalam sebuah ekstraktor berkapasitas 2 L. Pengontakan solvent dengan biji teh dilakukan secara dispersi. Pada penelitian ini, rasio massa pelarut terhadap massa umpan diset 20:1; temperatur divariasikan 25-60 oC, kecepatan pengadukan 100-400 rpm, serta ukuran biji teh divariasikan -40+50 mesh s.d -100+200 mesh. Ekstraksi dilakukan hingga tercapai kesetimbangan. Ekstrak yang diperoleh dipekatkan menggunakan rotavapor vakum pada temperatur di bawah 40oC. Ekstrak pekat saponin kasar yang didapat dimurnikan dengan penambahan eter, etanol dan petroleum eter secara bertahap sehingga diperoleh endapan saponin murni yang kemudian dikeringkan menggunakan tray drier pada temperatur 40oC. Pada penelitian ini, model perpindahan massa sederhana dikembangkan untuk menggambarkan proses ekstraksi padat-cair saponin biji teh. Berdasarkan hasil analisis dimensi diperoleh hubungan antara koefisien perpindahan massa volumetrik (kLa pada lapisan antar fasa padat-cair dengan variabel-variabel ekstraksi yang dinyatakan dalam persamaan bilangan tak berdimensi dengan ralat rata-rata 3,7904 %.DIMENSIONAL ANALYSIS FOR MASS

  8. Kajian Ekosistem Mangrove Hasil Rehabilitasi pada Berbagai Tahun Tanam untuk Estimasi Kandungan Ekstrak Tanin di Pantai Utara Jawa Tengah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Erny Poedjirahajoe

    2013-05-01

    Full Text Available Penelitian ini dilakukan di kawasan rehabilitasi mangrove Pantai Utara Pemalang dan Rembang, Dari dua lokasi tersebut masing-masing di pilih tanam mangrove yang sama. Setiap tahun tanam dibagi dalam tiga zona dari arah laut ke darat. Kondisi ekosistem mangrove dikaji melalui pendekatan terhadap pengukuran kerapatan, rata-rata tinggi dan diameter, ketebalan lumpur, salinitas dan kandungan bahan organik pada setiap zonasi dan setiap tahun tanam. Untuk memperkirakan kandungan ekstrak tanin, pada setiap tahun tanam diambil 3 sampel vegetasi (dalam satu zona diambil satu sampel, kemudian dikelupas kulitnya, ditimbang dan dilakukan analisis laboratorium. Kandungan ekstrak tanin dalam satu tahun tanam dapat diestimasi dengan cara menghubungkan dengan nilai kerapatannya. Uji varian untuk dua sifat yang berbeda, dilakukan untuk melihat signifikasi kerapatan tanaman pada setiap tahun tanam pada dua lokasi rehabillitasi mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa estimasi kandungan ekstrak tanin di Pemalang dan Rembang pada tahun tanam 2002 rata-rata menunjukkan angka yang lebih tinggi daripada tahun tanam 2003 dan 2006. Pada tahun 2002 di Pemalang, estimasi ekstrak tanin sebesar 105,93 kg/ha sedangkan di Rembang mencapai 159,23 kg/ha. Pada tahun tanam 2006 mangrove di Pemalang mempunyai kandungan ekstrak tanin sekitar 80,90 kg/ha, sedangkan di Rembang sekitar 143,36 kg/ha. Kata kunci: Mangrove, ekosistem, ekstrak tanin.    A Study of Rehabillitated Mangrove Ecosystem in Different Planting Year to Estimate Tannin Extract Content in Northern Coast of Central Java Anstract The research was conducted in the mangrove plantation areas of Pemalang and Rembang North coasts. From those two areas, mangrove vegetations with the same three plantation ages were chosen which were then divided into three zones from the sea. Tree density, height and diameter, the depth of sediment, water salinity and the content of organic matter were measured and assessed for each

  9. Functional food products and ingredients with the increasing varieties in the world markets have enlarged

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Emin Yılmaz

    2015-12-01

    Full Text Available Fonksiyonel gıda ürünleri ve hammaddeleri dünya marketlerinde artan çeşitleriyle her gün pazar paylarını artırmaktadır. Genel olarak, bir ürünün fonksiyonel sayılabilmesi için, temel fiziyolojik görevlerine ek olarak, hastalıklara karşı koruyucu ve/veya tedavi edici etki göstermesi ve bu etkinin verilerle ispatlanması zorunludur. Gıda sektöründe bu kapsamda, doğal fonksiyonel ürünler, formülasyonla hazırlanmış ürünler ve hammaddeler kullanılmaktadır. Diğer kaynaklar yanında, deniz ürünleri fonksiyonel gıda maddesi ve hammaddelerinin en önemli kaynaklarıdır. Balık ve balık karaciğer yağları, omega-3 yağ asitleri, eikosapentaenoik (EPA ve dokosahekzaenoik (DHA asitlerin ana kaynağıdır. Balık yağları ispatlanmış fonksiyonel özellikleriyle gıda ve ecza sektöründe kullanılan en yaygın fonksiyonel ürünlerdir. Çok çeşitli deniz canlılarından elde edilen ticari enzimlerin (trimetilamin oksit demetilaz, thiaminaz, karnosinaz, tripsin v.b. hem kaynakları hem de kullanım alanları spesifiktir. Biyoklinik kimya ve organik sentez sektörü ile gıda, kağıt, ecza gibi sektörlerde bu enzimler çok kıymetli ürünlerdir. Bunun yanında protaminler, holotoksinler, okadaik asit, manolit, squalamin gibi yüzlerce biyoaktif molekülün yegane kaynakları deniz ürünleridir. Bu ürünlerden bazısı fonksiyonel gıda katkı maddesi olarak kullanılırken, çoğunluğu direkt ilaç yapımında kullanılmaktadır. Agar, karagenan, kitin, kitosan, jelatin ve benzerleri gıda ve gıda ambalaj sektöründe yaygın kullanılırlar ve ispatlanmış fonksiyonel ürün özellikleri vardır. Ayrıca deniz ürünleri kaynaklı vitaminler (özellikle A ve D vitaminleri, renk maddeleri, mikroalg ve spirulina ürünleri, protein izolatları ve aroma hammaddeleri diğer kıymetli fonksiyonel ürünlerdir. Bu derlemede en yaygın deniz ürünleri kaynaklı fonksiyonel ürünler tanıtılacaktır

  10. SOIL PROPERTIES OF EIGHT FOREST STANDS RESULTED FROM REHABILITATION OF DEGRADED LAND ON THE TROPICAL AREA FOR ALMOST A HALF CENTURY (Sifat-sifat Tanah Delapan Tegakan Hutan Hasil Rehabilitasi Lahan Terdegradasi pada Daerah Tropika Selama Setengah Abad

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Haryono Supriyo

    2013-11-01

    kedalaman 0-10, 10-30 dan 30-50 cm dengan cara membuat profil tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas tekstur mulai dari geluh lempung pasiran sampai lempung. Kandungan lempung meningkat dengan semakin dalamnya tanah. Berat volume tidak banyak berbeda antar profil dan kedalaman tanah, berkisar antara 0,90 - 1,28 g/cm3, dan kerapatan partikel berkisar antara 2,19 - 2,55 g/ cm3, dan ruang pori tanah berkisar antara 47,89 - 58,08 %. pH H2O berkisar antara 5,81 - 7,49 (agak asam sampai netral, pH KCI berkisar dari 4,44 - 6,37. Kandungan C-organik sangat bervariasi antar jenis vegetasi dan kedalaman tanah mulai 0,11 - 5,17 %. Kandungan P tersedia dan P total sangat bervariasi, secaraberturut-turut dari 1- 104 ppm dan 20 - 370 ppm. Nilai KPK tidak banyak berbeda antar profil dan kedalaman tanah berkisar antara 19,80 - 38,06 cmol (+/ kg dan kejenuhan basa untuk semua sampel mempunyai nilai sangat tinggi > 100 %.

  11. STRUKTUR KOMUNITAS TUMBUHAN DAN FAKTOR LINGKUNGAN DI LAHAN KRITIS, IMOGIRI YOGYAKARTA (Community Structure of Plant and Environmental Factor in Critical Land, Imogiri Yogyakarta

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Maizer Said Nahdi

    2014-05-01

    Full Text Available ABSTRAK Penelitian bertujuan mempelajari struktur komunitas tumbuhan pada berbagai tingkat pertumbuhan  sebagai  respon  terhadap aktivitas masyarakat, dan kualitas fisik kimia tanah yang terbentuk di kawasan lahan kritis Imogiri. Metode penelitian menggunakan kuadrat plot, dengan  ukuran plot 1x1, 5x5, 10x10, ulangan 6 – 10 diletakkan secara stratified random sampling. Pengumpulan data dengan mengamati kehadiran cacah spesies, dihitung kerapatan, dominansi, frekuensi spesies, dan Nilai Penting. Analisis ordinasi dua dimensi digunakan untuk mengelompokkan komunitas pada berbagai tingkat pertumbuhan, dengan analisis t-test untuk uji signifikansi unsur fisik kimia tanah. Hasil penelitian ditemukan 303 spesies, terdiri dari 34 tingkat pohon, 62 sapling dan 207 tumbuhan bawah dengan distribusi yang bervariasi. Kemelimpahan menunjukkan bahwa pada tingkat pohon terjadi pengelompokan, sedangkan pada tingkat sapling dan tumbuhan bawah mengumpul menjadi satu. Dalbergia sisso tingkat pohon dan sapling serta tumbuhan bawah  Euphatorium inulifolium merupakan spesies paling dominan dan merespon kondisi lahan kritis sehingga dapat dijumpai pada semua lokasi kajian. Kemelimpahan tingkat pohon sangat dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat, dan mineral organik yang terbentuk sehingga didominasi vegetasi dengan nilai ekonomi tinggi. Sedangkan kehadiran spesies tingkat sapling dan tumbuhan bawah merespon kandungan hara yang terbentuk.   ABSTRACT The purpose of this research was to study the community structure of plant at different growth-forms in response to the activities of the local community (people and the physico-chemical characteristics of soil in the critical land of Imogiri. The research methods employed random quadrat with plot size of 1 x 1, 5 x 5, 10 x 10 m.  The placement of the plot followed stratified random sampling. At each plot, species richness, density, dominance, frequency of species, importance values were calculated. The grouping of

  12. Effect of molases addition on survival and growth of tiger shrimp Penaeus monodon Fab. larva treated with SKT-b Vibrio probiotic bacteria

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    , Widanarni

    2015-03-01

    Full Text Available  ABSTRACTProbiotic bacteria SKT-b Vibrio that belong to heterotrophic bacteria have been tested can suppress the growth of pathogenic Vibrio harveyi in tiger shrimp larvae. One of the most important energy sources of heterotrophic bacteria is organic carbon such as sucrose and glucose found in molasses. The objective of this experiment was to study the effect of molasses addition on the survival and growth rate of tiger shrimp Penaeus monodon larvae treated with SKT-b Vibrio probiotic bacteria. This experiment was done both in vitro and in vivo. In vitro tests performed by growing bacteria in media containing molasses, fish meal and premix. Whereas in vivo tests performed with the addition of molasses to shrimp larva culture media inoculated with SKT-b Vibrio bacteria which included five treatments: the control treatment without bacteria and molasses addition (K, the addition of bacteria without molasses (B, the addition of molasses 1 ppm and bacteria (MB1, the addition of molasses 3 ppm and bacteria (MB3, and the addition of molasses 5 ppm and bacteria (MB5. The result of in vitro tests showed the SKT-b Vibrio bacteria can grow on molasses media with a population reached 0,41 × 108 CFU/ml. In vivo test results showed that treatment MB3 gave the highest survival (93.3% and growth weight (35.94%, but were not significantly different from control result in the survival and growth weight that respectively were 83.3% and 30.38%.Keywords: probiotic bacteria, SKT-b Vibrio, molasses, tiger shrimp larvae ABSTRAKBakteri probiotik Vibrio SKT-b yang tergolong bakteri heterotrof telah diuji dapat menekan pertumbuhan Vibrio harveyi yang bersifat patogen pada larva udang windu. Salah satu sumber energi yang paling penting bagi bakteri heterotrof adalah karbon organik seperti sukrosa dan glukosa yang terdapat pada molase. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan molase terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva udang

  13. KERUSAKAN EKOSISTEM MANGROVE AKIBAT KONVERSI LAHAN DI KAMPUNG TOBATI DAN KAMPUNG NAFRI, JAYAPURA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Meivy Arizona

    2016-10-01

    Full Text Available ABSTRAK Daerah penelitian adalah desa Tobati dan Nafri di Jayapura-Papua. Tujuan dari penelitian ini adalah 1 mengetahui jenis-jenis mangrove yang telah diubah oleh aktivitas manusia, 2 untuk mengetahui kondisi air dan tanah di daerah yang telah diubah oleh konversi lahan, 3 untuk mengetahui tanggapan masyarakat tentang ekosistem mangrove rusak dan mereka memberikan kontribusi dalam pengelolaan ekosistem mangrove. Metode yang digunakan adalah garis transek plot kuadrat di zona mangrove dan daerah distribusi dengan tiga kali pengulangan. Ukuran plot kuadrat adalah 10m x 20m untuk pohon, 1m x 1m untuk tumbuh-tumbuhan, bibit dan rerumputan. Parameter adalah ukuran kerapatan, frekuensi, daerah basal dan nilai-nilai penting mangrove. Langkah-langkah parameter fisika adalah air yang meliputi pH suhu, salinitas, dan kualitas tanah seperti bahan organik, Savailable Pavailable, Caavailable, Mgavailable, Naavailable, Ntotal, pH, suhu dan tekstur tanah. Analisis parameter fisika menggunakan analisis varian. Sosial parameter yang diukur adalah jumlah populasi, pekerjaan, pendidikan, dan pengetahuan tentang ekosistem mangrove. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi budaya masyarakat desa Tobati adalah survied dan diwawancarai dengan 50 responden. Para responden telah dipisahkan dalam 2 kelompok dari 40 repondents yang diambil dari desa Tobati dan sisanya diambil dari desa Nafri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya tujuh jenis mangrove (Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Rhizophora sfylosa, tagal Csriops, Snnneratia alba, Xylocarpus dan hydrophyllacea mollucensis Scyphiphora di desa Tobati. Spesies mangrove yang menunjukkan di desa Nafri yang sembilan jenis, tujuh spesies yang mirip dengan Tobati kecuali Bruguiera gymnorrhiza dan Aegiceras comiculatum tidak menunjukkan di desa Tobati. Keberadaan vegetasi mangrove yang telah diubah oleh konversi lahan di desa Tobati didominasi oleh Rhizophora spp. Di desa Nafri sebagai daerah kontrol

  14. STRATEGI PENGEMBANGAN BALAI PENELITIAN BIOTEKNOLOGI PERKEBUNAN INDONESIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muhammad Fauzanul Hakim Abdurrahim

    2015-03-01

    , dan merumuskan prioritas strategi pengembangan di BPBPI. Metode analisis deskriptif digunakan dalam penelitian. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis lingkungan, efaluasi faktor internal, efaluasi faktor internal, matrik internal eksternal (IE, matrik SWOT dan kombinasi dari analisis proses Hierarki (AHP dan SWOT. Menggunakan matrik IE, perusahaan diindikasikan berada pada posisi kuadran V yaitu posisi jaga dan pertahankan dengan strategi umum penetrasi pasar dan pengembangan produk. berdasarkan hasi analisis SWOT, terdapat enam alternativ strategi yang dapat direkomendasikan kepada BPBPI yaitu (1 Strategi penetrasi pasar melalui pengembangan produk-produk baru dan peningkatan jaringan distribusi, (2 Mencari alternatif sumber bahan baku organik yang baru dan murah serta memiliki ketersediaan banyak, (3 Strategi peningkatan promosi produk BPBPI melalui roadshow ke konsumen secara berkala, (4 Strategi optimalisasi kebun percobaan melalui penanaman bibit unggul, (5 Melakukan riset-riset strategis yang menghasilkan produk-produk unik dan mempunyai nilai jual tinggi serta pasar yang luas, (6 Strategi Peningkatan kesejahteraan tenaga ahli agar terciptanya suasana kerja yang kondusif. Prioritas strategi dengan total nilai efisiensi tertinggi (18,15% yang diperoleh dari AWOT yaitu melakukan riset-riset strategis yang menghasilkan produk-produk unik dan mempunyai nilai jual tinggi serta pasar yang luas.Kata Kunci: strategi pengembangan, BPBPI, AWOT, SWOT

  15. SUKSESI VEGETASI ALAMI DI BEKAS TAMBANG TIMBAH PULAU BANGKA (Succession of Natural Vegetation in Post Tin-Mining Bangka Island

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Guat Tjhiaw

    2009-03-01

    Full Text Available ABSTRAK  Penelitian ini mempelajari suksesi vegetasi alami berbagai umur sere di bekas tambang timah Pulau Bangka. Komunitas sere tersebut terdiri dari overburdern 2 bulan, overburden 1 tahun, subsoil 1 tahun, tailing 3 tahun, overburden 20 tahun dan tailing > 20 tahun. Hasil tersebut dibandingkan dengan hutan alam yang belum ditambang. Metode yang digunakan adalah kuadrat plot yang disesuaikan dengan persebaran vegetasi di lokasi dengan ukuran 2m x 4 m, 5m x 5m dan 10m x 20 m serta ulangan berkisar 30-15 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa growthform komunitas sere overburden lebih banyak dibandingan dengan tailing. Vegetasi yang dominan pada sere awal adalah rumput Ischaemum muticum dan Imperata cylindrica. Pada sere selanjutnya didominasi oleh semak Melastoma malbathricum, juga ditemukan familia Leguminosae dan Nepenthes sp sebagai indikator miskinnya hara tanah. Sedangkan seedling pohon terbesar jarang terdiri dari Macaranga sp, Malleuca leucadendron, Schima wallichii, Viotex pubescens, Anacardium occidentale, dan Alstonia schoolaris. Ternyata kehadiran vegetasi merespon pada kandungan hara, terutama bahan organik dan nitrat. Pada komunitas sere overburden 20 tahun, serta tailing > 20 tahun ditemukan introduce species, yaitu Acacia spp. Adanya pohon Dyera costulata (jelutung di hutan alam sebagai indikasi hutan tersebut adalah hutan rawa gambut. Sebaliknya pada hutan alam dengan tekstur tanahnya mirip dengan tekstur tanah pada semua komunitas sere didominasi oleh pohon dan sapling Eugenia palembanica serta seedling Eugenia longiflora.   ABSTRACT Succession of natural vegetation at various seral-stages were studied in post tin-mining Bangka Island. These seral stages were 2 months of overburden, 1 year of tailing, 1 year of subsoil, 3 years of tailing, 10 years of overburden, 10 years of tailing, 20 years of overburden, and 20 years of tailing and were compared to the natural forest. Data were collected based on various growthforms

  16. PENGARUH PERILAKU MASYARAKAT YANG BERMUKIM DI KAWASAN BANTARAN SUNGAI TERHADAP PENURUNAN KUALITAS AIR SUNGAI KARANG ANYAR KOTA TARAKAN (Influence of The Behavior of Citizens Residing in Riverbanks to The Decrease of Water Quality in The River of Karang

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ira Puspita

    2016-07-01

    Full Text Available ABSTRAK Data Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Tarakan menyatakan bahwa kualitas air Sungai Karang Anyar Kota Tarakan yaitu parameter COD, amoniak dan TSS tahun 2010-2013 melebihi baku mutu. Penurunan kualitas air tersebut disebabkan oleh perilaku masyarakat yang bermukim di kawasan bantaran sungai. Pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan gabungan metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kuantitatif antara lain digunakan untuk teknik pengumpulan data melalui kuesioner dan menghitung status mutu air Sungai Karang Anyar menggunakan metode Indeks Pencemaran. Metode kualitatif antara lain digunakan untuk observasi, wawancara mendalam kepada swasta dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian yaitu perilaku masyarakat yang membuang air limbah domestik langsung ke sungai mempengaruhi parameter COD melebihi baku mutu karena air limbah yang dibuang terdapat busa sabun berasal dari buangan air cucian. Air limbah domestik yang dibuang langsung ke sungai berasal dari sisa memasak sehingga diduga menyebabkan amoniak juga melebihi baku mutu. Perilaku masyarakat yang tidak mengolah kotoran ayam dapat mempengaruhi parameter amoniak melebihi baku mutu karena kotoran ayam membusuk dan mengalir ke sungai. Perilaku masyarakat yang mengambil tanah dari bukit/gunung tidak mempengaruhi parameter TSS karena dipengaruhi mengambil tanah dari bukit/gunung dilakukan pada curah hujan menurun/kemarau. Perilaku masyarakat yang menambang pasir di sungai mempengaruhi parameter amoniak melebihi baku mutu karena air limbah domestik yang organik dan kotoran ayam membusuk yang telah tertimbun lama di dasar sungai akan terangkat. Perilaku masyarakat yang menambang pasir di sungai tidak mempengaruhi parameter TSS karena kegiatan menambang pasir tidak dilakukan setiap hari dan bergantung pada curah hujan. Sebagai kesimpulan adalah tidak semua perilaku masyarakat yang bermukim dan berkegiatan di kawasan bantaran sungai mengakibatkan penurunan kualitas air sungai.   ABSTRACT

  17. Bafa Gölü'nde biyotik ve abiyotik ortamda pestisit ve pcb dağılımı.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    İdil Pazı

    2015-12-01

    Full Text Available Çalışma kapsamında Bafa Gölü’nden alınan sediment ve kefal balığı (Mugil cephalus, Linnaeus 1758 örneklerinde tarımsal pestisit ve endüstriyel kaynaklı PCB gibi organik kirleticilerin kalıntıları ölçülmüş ve bu bileşiklerin dağılımları, muhtemel kaynakları ve potansiyel biyolojik riskleri incelenmiştir. DDT ve türevleri açısından dünyanın farklı bölgelerindeki göllerin yüzey sedimentleri ile kıyaslandığında Bafa Gölü sedimentlerinde DDT kirlilik seviyesinin oldukça düşük olduğu bulunmuştur. Sedimentte Endrin baskın kirletici olarak belirlenmiştir. Sediment örneklerinde ölçülen DDT ve metabolitleri, Dieldrin, Lindan ve Heptaklor konsantrasyonları sediment kalite indekslerine göre değerlendirildiğinde, kirleticilerin göldeki canlı yaşamına olumsuz bir etkisinin olmadığı belirlenmiştir. ∑PCB konsantrasyonlarının ise göl kıyısında bulunan endüstriyel kuruluşlara yakın istasyonlarda sadece düşük değerli etki sevisini aşıp, diğer tüm istasyonlarda canlılar için risk yaratmayacağı belirlenmiştir. Mugil cephalus karaciğer dokusu için hesaplanan biyota sediment akümülasyon faktörü (BSAF 0.44-3.16 arasında değişmektedir. Bafa Gölü Mugil cephalus örneklerinde ölçülen kirletici konsantrasyonları dikkate alındığında Gıda ve Tarım Kurumu (FAO ve Dünya Sağlık Örgütüne (WHO göre Aldrin, Dieldrin, Endrin, Heptaklor ve DDT türevleri için hesaplanan Günlük Alım Miktarı değerlerinin (EDI Kabul Edilebilir Günlük Alım miktarlarının (ADI oldukça altında kaldığı belirlenmiştir. Ancak, balık örneklerindeki PCB seviyelerinin WHO tarafından belirlenen ADI değerini aştığı saptanmıştır

  18. PERFORMANSI INSTALASI PENGOLAH AIR LIMBAH TAMBAK SUPERINTENSIF

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rachman Syah

    2017-12-01

    Full Text Available Pengolahan air buangan tambak superintensif (TSI adalah usaha untuk mengurangi beban bahan pencemar yang terkandung di dalam air buangan TSI sehingga aman dan tidak membahayakan saat dibuang ke lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi desain dan performansi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL dalam memperbaiki kualitas air buangan TSI sebelum dibuang ke badan air. IPAL terdiri atas kolam sedimentasi, dua kolam aerasi, dan satu kolam penampungan. Ke dalam kolam penampungan ditebari ikan mujair serta rumput laut Gracilaria sp. yang dibudidayakan dengan metode long line, berfungsi sebagai biokontrol. Sampel air diambil di bagian inlet IPAL, oulet kolam sedimentasi atau inlet kolam aerasi-1, outlet kolam aerasi-1 atau inlet kolam aerasi-2, outlet kolam aerasi-2 atau inlet kolam penampungan, serta outlet kolam penampungan, setiap dua minggu selama 105 hari pemeliharaan. Parameter yang diukur adalah total padatan tersuspensi (TSS, total amonia nitrogen (TAN, nitrit, nitrat, fosfat, bahan organik terlarut (BOT, dan biological oxygen demand (BOD-5. Spesifikasi teknis IPAL yang diamati meliputi ukuran dan volume IPAL, volume dan waktu tinggal air buangan tambak, dan efisiensi kinerja IPAL, serta rasio volume IPAL dan volume total air tambak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IPAL dapat mengurangi beban bahan pencemar dengan tingkat efisiensi antara 53,1%-99,4%; namun masih diperlukan peningkatan kapasitas dalam mengurangi konsentrasi BOT. IPAL menghasilkan efisiensi yang tinggi terhadap TSS, TAN, nitrit, Total Nitrogen (TN, dan fosfat. Rasio volume IPAL dan volume air tambak 30:70 dengan waktu tinggal minimal lima hari, dapat dijadikan acuan dalam pembangunan IPAL tambak superintensif. A wastewater treatment plant (WTP in a super-intensive shrimp farm is used to reduce organic matters contained in super-intensive shrimp farm effluent. Through the WTP, the waste water from shrimp facilities can safely and harmlessly be released to the

  19. Kelimpahan dan Keanekaragaman Plankton di Perairan Selat Bali (Plankton Abundance and Diversity in the Bali Strait

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ruly Isfatul Khasanah

    2013-12-01

    Full Text Available Fitoplankton mempunyai peran sangat penting dalam suatu perairan, selain berada pada dasar rantai makanan sedangkan zooplankton merupakan herbivor pemangsanya. Penelitian mengenai kelimpahan dan keanekaragaman plankton di perairan Selat Bali dilakukan pada musim peralihan II (Nopember 2012 dan musim barat (Pebruari 2013. Penelitian bertujuan untuk mengamati perbedaan kelimpahan dan keanekaragaman plankton pada dua musim angin muson. Sampel air diambil dengan menggunakan water sampler sedangkan sampel plankton diambil secara horisontal dan vertikal  pada kedalaman 1 m dan 20 m dengan jaring plankton Kitahara bermata jaring 20 µm. Hasil pengukuran nutrien pada musim peralihan II memiliki kadar fosfat, nitrat, bahan organik, silikat dan klorofil-a lebih tinggi dibandingkan pada musim barat. Informasi tersebut memperkuat indikasi adanya perpindahan massa air dari lapisan yang lebih dalam ke lapisan yang lebih dangkal. Nutrien fosfat dan nitrat diperlukan untuk mempertahankan fungsi membran sel dan silikia dibutuhkan untuk pembentukan dinding sel terutama pada diatom. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kelas diatom (Bacillariophyceae mencapai 95,9 % dari total jenis dan kelimpahan fitoplankton seluruh stasiun penelitian, sisanya berasal dari genus Dinophyceae. Kelimpahan fitoplankton tertinggi terjadi pada musim peralihan II dengan Rhizosolenia stolterfothii sebesar 51.405 sel.L-1 (80,1%, sedangkan pada musim barat copepoda ditemukan melimpah sebesar 8.178 ind.L-1 (88,3 %. Hasil ini mengindikasikan bahwa dengan kelimpahan plankton yang ditemukan perairan Selat Bali dinilai cukup potensial untuk mendukung kehidupan biota laut pelagis. Kata kunci: plankton, selat Bali, rhizosolenia stolterfothii, muson   Abstract Phytoplankton has important role as primary producer in the sea and act as base of food chain while zooplankton act as herbivore prey on them. Research on abundance and diversity of plankton at Bali Strait was performed during

  20. KONTAMINASI LOGAM BERAT DI SEDIMEN: STUDI KASUS PADA WADUK SAGULING JAWA BARAT (Heavy Metals Contamination in Sediment: Saguling Reservoir Case Study West Java, Indonesia

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yoyok Sudarso

    2005-03-01

    Full Text Available ABSTRAK Waduk Saguling merupakan salah satu waduk cascade yang berlokasi di Jawa Barat, yang sekarang ini mengalami beberapa permasalahan antara lain: proses sedimentasi yangtinggi, korositas turbin, penurunan kualitas air akibat blooming alga, polusi organik, pestisida, dan logam-logam berat yang berasal dari buangan limbah domestik, industri, aktivitas gunung berapi, dan sebagainya. Logam berat di ekosistem akuatik mempunyai kecenderungan untuk berikatan dengan sedimen yang mampu bertindak sebagai sumber polusi sekunder ke kolom air. Penelitian pada tahun 2004 ini bertujuan untuk mengungkap kontaminasi logam berat Cu, Cd, dan Pb pada sedimen Waduk Saguling. Sampling dilakukan tiga kali mulai bulan Juni hingga September 2004 dengan l3 titik stasiun pengamatan. Hasil kontaminasi logam berat pada sedimen di setiap stasiun pengamatan menunjukkan adanya perbedaan yang sangat signifikan diantara masing-masing stasiun pengamatan yaitu: untuk logam Cd (F: 17,803 dan p = 0,00001, Pb (F= 154,343 dan p < 0,01, dan Cu (F:36,499, P<0,000001. Konsentrasi logam berat hasil pengamatan dibandingkan dengan guideline dari kementrian lingkungan Ontario, SEPA, ERL, ERM, PEL, SEL, dan TEL, secara umum menunjukkan bahwa kontaminasi logam Pb dan Cu yang paling berpotensi menimbulkan gangguan pada ekosistem perairan, sedangkan logam Cd masih dibawah ambang batas dari guideline tersebut diatas. Khusus untuk guideline yang berasal dari US-EPAregion Y Great lakes ke tiga logam tersebut diatas sudah masuk dalam kategori terpolusi berat dari St. Gunung Wayang hingga Stasiun Rajamandala.   ABSTRACT Saguling reservoir is one of three cascade reservoirs, which is located in West Java. Nowadays, the reservoir has some serious problems such as: high sedimentation rate, turbine corrosity, water quality depletion caused by blooming algae, organic pollution, pesticide, and heavy metals which are resulted from domestic and industrial wastes, as well as teaching from volcano

  1. REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG DENGAN PENANAMAN LCC DAN AGEN HAYATI TRICHODERMA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nur Hidayat

    2017-10-01

    Trichoderma sebagai media untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah di lahan bekas tambang batubara. penelitian ini akan dilakukan reklamasi lahan bekas tambang yang rusak dan miskin unsur hara pada tahun 2015. Pembuatan demplot penelitian dengan ukuran 10 m x 5 m = 50 m2  sebanyak 3 demplot yang akan diberi perlakuan  (P1 tanaman LCC, (P2 agen hayati Trichoderma, dan (P3 Tanaman LCC + agen hayati Trichoderma yang dibandingkan dengan analisa awal (P0. Penanaman LCC  dan pemberian agen hayati trichoderma dengan lama waktu 6 bulan pengamatan (mematikan tanaman LCC setelah terjadi pengomposan dilakukan analisa sifat fisik dan kimia tanah setelah perlakuan guna melihat perubahannya kemudian dibandingkan dengan data hasil laboratorium sebelum diberi perlakuan di lahan tersebut hasil yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan Anova rancangan acak lengkap dan bila berpengaruh nyata atau sangat nyata maka dilakukan uji lanjut BNT pada taraf 5%. Berdasarkan hasil penelitian yang  terbaik pada perlakuan P1 diperoleh dari hasil analisa N Total, C/N Rasio namun berbeda tidak nyata dengan P2 dan P3, perlakuan P2 yang terbaik dari hasil analisa Ca namun tidak berbeda nyata dengan P1 dan P3, C organik,  KTK tanah.  Perlakuan P3 yang terbaik pada hasil analisa Mg dan K2O sedangkan P0 yang terbaik diperoleh hasil analisa K dan P2O5. Sementara pH tanah dan hasil analisa sifat fisik tanah meliputi variabel seperti Berat jenis (Bulk Density, Porositas, Kadar air, tekstur, konsistensi dan bermeabiltas tanah berpengaruh tidak nyata.

  2. Tıbbi ve Aromatik Bitkilerin Antibakteriyel Aktivitesi ve Tekstil Sektöründe Kullanımı

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hülya KESİCİ GÜLER

    2015-11-01

    Full Text Available Özet: İnsanların doğala yönelmesi ile birlikte tıbbi ve aromatik bitkilere ilgi gün geçtikçe artmaktadır. Tıbbi aromatik bitkiler, hastalıkları önlemek ve iyileştirmek, sağlığı devam ettirmek için insanlık tarihinin başlangıcından beri ilaç olarak kullanılan bitkilerdir. Bu bitkilerin kullanımları ilaç, gıda, meşrubat, kozmetik sanayi, sabun ve parfüm üretiminde sınırlı kalmamış, günümüzde organik tarım ve hayvancılıkta kullanımları artış göstermektedir. Ayrıca günümüzde farklı özelliklerinden dolayı birçok sektörde de kullanılmaya başlanmıştır. Bunlardan bir tanesi de tekstil sektörüdür. Tıbbi ve aromatik bitkiler barındırdıkları antibakteriyel özellik sayesinde sentetik tekstil bitim maddelerine alternatif oluşturmaktadır. Tekstilde kullanılacak antibakteriyel maddelerden beklenen en önemli özelliklerden bir tanesi kullanılan maddenin insan ve çevre sağlığını olumsuz etkilememesi ve tekstil mamulünün diğer özelliklerini olumsuz yönde değiştirmemesidir. Bu nedenle son yıllarda çevre dostu ve doğal esaslı antibakteriyel maddelerin eldesi ve tekstil uygulamalarına olan ilgi hızla artmaktadır. Buna bağlı olarak yapılan çalışmada; tıbbi ve aromatik bitkilerin antibakteriyel aktivitesinin çeşitli yöntemlerle belirlenmesi ve tekstil sektöründe antibakteriyel bitim maddesi olarak kullanımı araştırılmıştır. Anahtar kelimeler: Tıbbi ve aromatik bitkiler, antibakteriyel aktivite, tekstil Antibacterial Activity of Medicinal and Aromatic Plants and Utilization in Textile Industry Abstract: Interest in medicinal and aromatic plants increases along with day by day with natural demands of people. Medicinal and aromatic plants, that are used for protecting and healing illness, and continving the human health, since the beginning of humanity. These plants are used not only in medicine, food, beverage, cosmetic industry, soap and perfume

  3. Büyükbaş Hayvan Atıkları için Kurulacak Havasız Çürütme Tesisinin Ekonomik Analizi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tamer Coşkun

    2012-12-01

    Full Text Available Özet Büyükbaş hayvan atıkları, içeriğindeki yüksek katı madde, organik kirlilik ve patojen mikroorganizmalar sebebiyle halk sağlığı açısından olumsuz etkiler yapabilecek bir atıktır. Bu çalışmada havasız çürütme ile atıkların stabilize edilerek biyogaz elde edilmesi ve çürümüş atıkların toprakta doğal gübre olarak kullanılmasını içeren bir yönetim modeli uygulanmıştır. Bunun için pilot ölçekli bir havasız çürütme reaktörü işletilmiş ve çürümüş atıklar çeşitli dozlarda yonca, Macar fiğ ve arpa karışımı ile mısır silajı bitkilerinin ekildiği alanlarda doğal gübre olarak toprağa eklenmiştir. Havasız çürütme işleminde yarımcı materyal olarak mısır silajı da reaktöre beslenmiştir. Çalışma sonunda elde edilen sonuçlar ve literatür yardımıyla 1000 baş hayvan için kurulum ve işletme maliyetleri hesaplanmıştır. Kurulum maliyeti; elektrik üretim sisteminin kurulup kurulmaması açısından iki farklı değer olarak hesaplanmıştır. İşletme maliyetleri farklı tarla ürünleri ve yine elektrik sisteminin kurulup kurulmaması açılarından çeşitli durumlar için hesaplanmıştır. Sonuç olarak elde edilen en iyi sonuçlara göre; çürümüş atıklar Macar fiğ ve arpa karışımı bitkisinin ekiminde kullanıldığında kurulacak tesisin elektrik üretim sistemi de kurulduğunda 2,5 yılda, elektrik üretim sistemi kurulmadığında ise 2,1 yılda kendisini amorti ettiği bulunmuştur. Abstract Cattle manure is a potential for causing detrimental effects on human health due to its high solid matter and pathogen microorganism content. This study aims to achieve biogas production by stabilizing the waste using anaerobic digestion. Digested waste was utilized as natural fertilizer. For that reason, a pilot-scale anaerobic digestion tank was operated and digested wastes were added to soil in diverse dosages where alfalfa, the mixture of Hungarian

  4. Büyükbaş Hayvan Atıkları için Kurulacak Havasız Çürütme Tesisinin Ekonomik Analizi / The Economical Analysis of Cattle Manure Treatment by Anaerobic Digestion Process

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tamer Coşkun

    2012-12-01

    Full Text Available Büyükbaş hayvan atıkları, içeriğindeki yüksek katı madde, organik kirlilik ve patojen mikroorganizmalar sebebiyle halk sağlığı açısından olumsuz etkiler yapabilecek bir atıktır. Bu çalışmada havasız çürütme ile atıkların stabilize edilerek biyogaz elde edilmesi ve çürümüş atıkların toprakta doğal gübre olarak kullanılmasını içeren bir yönetim modeli uygulanmıştır. Bunun için pilot ölçekli bir havasız çürütme reaktörü işletilmiş ve çürümüş atıklar çeşitli dozlarda yonca, Macar fiğ ve arpa karışımı ile mısır silajı bitkilerinin ekildiği alanlarda doğal gübre olarak toprağa eklenmiştir. Havasız çürütme işleminde yarımcı materyal olarak mısır silajı da reaktöre beslenmiştir. Çalışma sonunda elde edilen sonuçlar ve literatür yardımıyla 1000 baş hayvan için kurulum ve işletme maliyetleri hesaplanmıştır. Kurulum maliyeti; elektrik üretim sisteminin kurulup kurulmaması açısından iki farklı değer olarak hesaplanmıştır. İşletme maliyetleri farklı tarla ürünleri ve yine elektrik sisteminin kurulup kurulmaması açılarından çeşitli durumlar için hesaplanmıştır. Sonuç olarak elde edilen en iyi sonuçlara göre; çürümüş atıklar Macar fiğ ve arpa karışımı bitkisinin ekiminde kullanıldığında kurulacak tesisin elektrik üretim sistemi de kurulduğunda 2,5 yılda, elektrik üretim sistemi kurulmadığında ise 2,1 yılda kendisini amorti ettiği bulunmuştur. The Economical Analysis of Cattle Manure Treatment by Anaerobic Digestion Process Cattle manure is a potential for causing detrimental effects on human health due to its high solid matter and pathogen microorganism content. In this study, it was aimed to achieve biogas production by stabilizing the waste using anaerobic digestion. Digested waste was utilized as natural fertilizer. For that reason, a pilot-scale anaerobic digestion tank was operated and digested wastes

  5. The Analysis of Poisoning Cases Presented to the Emergency Department within a One-Year Period

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fatma SARI DOGAN

    2014-12-01

    Full Text Available SUMMARY: Objectives: Intoxication is the emergence of unwanted signs and symptoms in an organism after exposure to potentially harmful chemical, physical or organic materials. In our study, we evaluated demographic and etiological factors of adult patients admitted to the emergency department with suicidal or accidental poisoning. Methods: This study was conducted retrospectively by using data from the forensics books, protocol notebooks and patient files. Patients over the age of 14 years that were admitted to the Goztepe Training and Research Hospital during a 1-year period (September 2011-September 2012 with poisoning were included in the study. Results: A total of 430 patients were included in the study and 278 of those patients were females (64.7%. The male/female (F/M ratio was 1.82/1 and the mean age of the patients was 27.4±11.75 years. The analyses showed that in 348 patients (80.93% the cause of poisoning was medicine, in 39 patients (9.06% alcohol and drugs, in 37 patients (8.6% rat poison, in 4 patients (0.93% a caustic substance and organophosphates in 2 patients (0.46%. The highest rate of admittance due to poisoning was seen in July, followed by August and September. When the frequency of admittance was evaluated in terms of seasons: summer had the highest frequency with 35.6%, then autumn with 29.1%, spring with 19.8% and winter with 15.6%. Conclusions: The results of our studies are similar to previously reported studies in Turkey. Poisoning cases are more common in women and the most common way of poisoning is by medication. Unlike previous reports from the literature, we found that poisoning was most frequent in the summer. ÖZET: Amaç: Zehirlenme potansiyel olarak zarar verebilen herhangi bir kimyasal, fiziksel veya organik maddeye maruziyet sonrası organizmada bazı istenmeyen belirti ve bulguların ortaya çıkmasıdır. Biz bu çalışmamızda intihar amaçlı veya kazara zehirlenme nedeniyle acil servisimize ba

  6. Çevre Korunmasında Atığın Atıkla Giderilmesi Prensibi / Principle Of Removal With Waste Of Waste In Environmental Protection

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Utkan Özdemir

    2012-12-01

    Full Text Available Çevresel problemler göz önüne alındığında, katı atıkların bertarafı birçok dünya ülkesinin temel problemlerinden birisidir. Bu doğrultuda farklı kaynaklarda oluşan ve büyük ölçüde çeşitlilik gösteren katı atıkların bir kısmının tekrar kullanımı hedeflenmektedir. Böylece ekonomik fayda sağlanmaya çalışılmaktadır. Katı atıkların yarattığı çevre kirliliğine, su kaynaklarında meydana gelen ekolojik problemlerin de eklenmesi insanlık için daha büyük risklerin habercisidir. Dolayısıyla katı atıkların bertarafında önemli yeri olan tekrar kullanımın, sadece ekonomik faydası değil, “atığın atıkla giderim” esasına katkısı da tartışılmaya başlanmıştır. Tüketim hızının giderek arttığı dünyada, özellikle tarımsal kökenli atıkların, su arıtımında adsorbent olarak kullanılmasıyla yüksek arıtma verimleri sağlandığı gözlemlenmiştir. Bu durumu takip eden çeşitli araştırmalar, muz kabuğu, ayçiçeği sapı, pirinç kabuğu, portakal kabuğu gibi tarımsal kökenli atıkların yanı sıra kül ve arıtma çamuru gibi atıkların da organik ve inorganik bir takım kirleticilerin su ortamından arıtılmasında önemli rol oynadıklarını göstermiştir. Böylece adsorbent maliyeti nedeniyle çoğu zaman işletmeler tarafından uygun görülmeyen ve pilot ölçekli çalışma olarak kalan adsorpsiyon prosesinin kullanılabilirliğinin arttırılması şansı doğmuştur. Adsorpsiyon proseslerinin yaygınlaştırılması ile atıksu arıtımında elde edilebilecek yüksek verimlerin yanı sıra bu proseslerde adsorbent olarak kullanılan atıkların bertarafı da sağlanmış olacaktır. Aynı zamanda bu durum atıkların başka proseslerde de benzer şekilde değerlendirilmelerinin önünü açmaktadır. Bu çalışmada özellikle endüstriyel bazda kullanımlarında ekonomik ve çevresel faydalar sağlayacak atık kökenli adsorbentlerin türleri ve

  7. Isparta Güneyindeki Tersiyer Kaya Birimlerinin Petrol Olanaklarının Araştırılması (GB-Türkiye

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    İbrahim İbrahim ABUBAKAR

    2016-10-01

    Full Text Available Çalışma alanı GB-Türkiye’de Isparta Açısı olarak bilinen bir coğrafik yapının batı bölgesindeki Kışla Köyü ile Yazır Köyü (Isparta – Burdur arasında yer almak­tadır. Sahada otokton ve allokton birimler gözlenir. Kretase – Jura yaşlı, Beydağları kireçtaşları ile Akitaniyen yaşlı Yazır kireçtaşları ve Burdigaliyen yaşlı Ağlasun Formasyonu bölgenin en önemli otokton kaya birimlerini oluşturur. Bunların tümü, yörede Pliyo-Kuvaterner yaşlı Gölcük volkanitleri ve Kuvaterner yaşlı güncel sedimanlar tarafından üzerlenmektedir. Çalışma bölgesinde yer alan allokton bi­rimler, Antalya naplarına ait Isparta Çay Formasyonu ile bunlara eşlik eden ofiyolitik kayalardan oluşur. Yörede Ağlasun Formasyonunun üzerine bindirmeli bir dokanak ile gelen, Eosen yaşlı Isparta Filişi (Kayiköy Formasyonu, çalışma bölgesinin diğer önemli allokton birimini oluşturur.İnceleme alanında yer alan bu birimlerin yayılımları ve birbirleri ile olan dokanak özellikleri incelenerek bölgenin yer altı jeolojik yapısı ortaya çıkarılmıştır. Çalışma alanında geniş yayılım gösteren ve organik maddece zengin özellik sunan Yazır ve Ağlasun Formasyonları bölgenin en önemli petrol anakayası niteliğindeki kaya birimleridir. Diğer taraftan resifal özellikteki Yazır Kireçtaşları içerdiği yaygın gözenekli yapısı ile yörenin en önemli hazne kaya özelliğine sahip birimini oluşturur.Örnekler üzerinde yapılan petrografik incelemeler sonucunda, Yazır kireçtaşlarının daha çok bağlamtaşı ve istiftaşı özelliğine sahip oldukları saptanmıştır. Benzer şekilde, Beydağları kireçtaşları vaketaşı ve çamurtaşı olarak sınıflandırılmıştır. Ağlasun Formasyonu içindeki kumtaşları büyük bölümü ile feldispatik litarenit ve litarenitten oluşmaktadır.Bölgede hazne kaya özelliği gösteren Yazır kireçtaşları ortalama olarak % 10 ile

  8. Fermentation of seaweed flour with various fermenters to improve the quality of fish feed ingredients

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Siti Aslamyah

    2017-07-01

    Full Text Available ABSTRACT  The purpose of this study was to evaluate various types of fermentor for dry matter digestibility (DMD, organic matter digestibility (OMD, and the chemical composition of fermented seaweed. Five types of seaweed were used as substrates included green strain of Kappaphycus alvarezii, brown strain of K. alvarezii, Gracilaria gigas, Sargassum sp., and Caulerpa sp. The treatments were four fermentors, namely Bacillus sp. 2 mL/100 g of seaweed flour; 1.5% of tape yeast as a source of Rhizopus sp.; 1.5% of baker’s yeast as a source of Saccharomyces sp.; a mix of Bacillus sp., tape yeast of Rhizopus sp. and baker’s yeast of Saccharomyces sp. with compositions of 1 mL+1 g+1 g/100 g of seaweed flour; and control treatment. The results showed an increase in the percentage of DMD (21.94–27.76% and OMD (8.35–11.66% of all seaweed fermented using fermentor compared to control (DMD of 17.65–20.36% and OMD of 4.36–5.98%. Moreover, the highest result was obtained by the fermentor mix (DMD of 24.86–27.76% and OMD of 10.02–11.66%. Similar result was also found in the chemical composition of fermented seaweed, there was increase in protein content of 9.23–15.93% and nitrogen free extract (NFE of 56.05–70.26% in each seaweed treated with fermentation using fermentors, compared to controls (protein of 8.82–11.54% and NFE of 52.26–65.72%. Furthermore, the highest value was shown by seaweed fermented with mixed fermentors (protein of 9.92–15.93% and NFE of 58.47–70.26%. Yet, the opposite result was present in the ash, crude fiber, and fat content of seaweed fermented using fermentors of which the lowest value was found in treatment of mixed fermentor. Keywords: fermentation, fermentor, seaweed, quality, feed ingredients  ABSTRAK  Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi berbagai jenis fermentor terhadap kecernaan bahan kering (KBK, kecernaan bahan organik (KBO, dan komposisi kimia rumput laut terfermentasi. Lima jenis rumput

  9. Tunca Yazılan Şiir Epigramma ve Oktay Rifat Epigramma, A Short Clever Amusing Saying Or Poem That Is Inscribed On Stone And Oktay Rifat

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hafize ŞAHİN

    2013-07-01

    alışmada epigrammanın anlamı ve Yunan mitoloji arasındaki ilişki sorgulanacaktır. Epigrammanın önemi ise Oktay Rifat’ın poetikasına bakılarak açıklanacaktır. Oktay Rifat’ın şiirinin gelişim çizgisine bakılacak ve edebiyat tarihimizde Yunan mitolojisi bağlamında Oktay Rifat şiiri değerlendirilecektir. Türk edebiyatında ses getirmemiş bir akım olan Nev-Yunaniliğe değinilecektir. Epigramma nedir, Oktay Rifat epigrammaları neden çevirmiştir soruları cevaplanacaktır. Epigrammanın sözlüklerdeki tanımı yoluyla bu ifadenin Türkçede neyi ifade ettiği üzerinde durulacaktır. Oktay Rifat’ın epigrammalar hakkında verdiği bilgilerden faydalanarak epigrammaların ne zamandan beri yazıldığı anlaşılmaya çalışılacaktır. Çeviri şiir, çeviri şiir hakkında Oktay Rifat’ın düşünceleri hakkında bilgi verilecektir. Epigrammalardan örneklerle bu şiirlerin önemi vurgulanarak Oktay Rifat’ın neden bu şiirleri önemsediğine dikkat çekilecektir. Oktay Rifat, Cemal Süreya tarafından modern Türk şiirine araştırma duygusunu getirmiş bir şair olarak tanımlanır. Cemal Süreya, onun poetikasında “Agememnon” şiirinin önemi nedir sorusunu sorar. Bu bağlamda, bir Türk şairinin, Oktay Rifat’ın, dünya şiiriyle organik bağı sorgulanacaktır. Cemal Süreya’nın sorusu epigramma merkezinde cevaplanmaya çalışılacaktır. “Agememnon” şiirinin öncesinde Oktay Rifat’ın şiirlerine kronolojik olarak bakılarak Oktay Rifat şiirinde bu değişimin başlangıcının epigrammalar olduğu tespit edilecektir. Bu nedenle aşk, ölüm ve tasvir epigrammaları üzerinde durulacaktır. Oktay Rifat, ne derece Antik Yunan şiirini benimsemiş örneklerden hareketle insan hayatına bu şiirler nasıl yansımış anlaşılmaya çalışılacaktır. Sonunda, epigrammaların Türk şiirine nasıl yansıdığı değerlendirilecektir.

  10. Farklı Çalışma Ortamlarında Oluşabilecek Hava Kirliliğinin Çalışanların Sağlığı Üzerindeki Etkileri / The Effects of Air Pollution on Workers’ Health In Different Work Places

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Simge Taner

    2012-12-01

    Full Text Available Endüstriyel ve endüstriyel olmayan (okul, ofis, fotokopi merkezleri, restoran vb. çalışma alanlarındaki hava kalitesi, çalışma ortamında bulunan personelin sadece konforu için değil, sağlığı için de büyük önem taşımaktadır. İç ortam hava kalitesi değerlendirmesi yapılırken genellikle sıcaklık, nem oranı, hava akım hızı, kükürtdioksit (SO2, karbondioksit (CO2, solunabilinir asılı partikül madde (PM, hidrojen sülfür (H2S, uçucu organik bileşikler (VOC, azot oksitler (NOx, karbonmonoksit (CO, ozon (O3, radon, hidrojenflorür, formaldehitler (HCHO, mikrobiyal kontrol gibi parametrelerin analizleri yapılmaktadır. Yapılan bu analizler sonucunda elde edilen veriler eşliğinde, çalışanların sağlığı hakkında daha doğru ve emin adımlar atılabilir. Bu durum çevresel analizlerin, işçi sağlığı ve iş güvenliği prensipleriyle birebir örtüştürülmesinin gerekliliğini gözler önüne sermektedir. Özellikle metal işleme, demir-çelik vb. imalat ortamlarında, diğer çalışma ortamlarına göre çok daha fazla kirletici parametre tanımlanabilir. Bu ortamlarda yapılacak ortam ölçümlerinin doğruluğu, çalışma bölgesinin temizlenmesi ve yeterli koruma önlemlerinin alınması konusunda işverenlere kolaylık tanımaktadır. Ülkemizde yalnızca imalat sektörleri değil maden ocakları da çevre ve insan sağlığı açısından ciddi riskler taşımaktadır. Maden ocaklarında çalışanların sağlıklarının korunması adına yapılması gerekli ortam ölçümlerinin yeterli düzeyde olmadığı bilinmektedir. Bu durum maden sektöründe çalışan kişilerin meslek hastalıklarına yakalanma riskini arttırmaktadır. Bu çalışmada ülkemizde iş sahası bakımından geniş bir alana sahip olan maden ve metal sektörlerindeki iç ortam hava kalitesini olumsuz yönde etkileyen parametreler irdelenerek, sözü edilen sektörlerde çalışanların sağlıklarının korunmas

  11. Pengantar Redaksi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Redaksi Jurnal Udayana Mengabdi

    2014-08-01

    penyusutan. Salah satu cara adalah dengan menerapkan teknologi. I Made Mudita, dkk. dari Fakultas Peternakan Unud memproleh hibah IbW dari Dikti untuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang menerapkan teknologi aplikatif. Sebenarnya kegiatan ini merupakan penerapan hasil penelitian yang dilakukan oleh yang bersangkutan sebelumnya. Desiminasi teknologi produksi bioinokulan berbasis cairan rumen “Bali-bio”, teknologi produksi silase pakan berbasis limbah dan pakan suplemen Urea Molases Blok/UMB, teknologi produksi pupuk organik dan biourine serta pemberian motivasi dan kiat-kiat pengembangan usaha peternakan yang menguntungkan adalah langkah yang telah dilakukannya. Melalui kegiatan sosialisasi/penyuluhan, pelatihan singkat dan pembentukan demplot di kedua mitra yang dipilih diharapkan tercipta peternakan yang kompotitif dan berkelanjutan.Peleburan bahan gamelan merupakan proses pencairan unsur logam Cu (tembaga dan unsur logam Sn (timah putih sehingga menjadi logam paduan perunggu (bronze yang terbentuk pada temperatur peleburan mencapai ± 10830 C. Proses ini dilakukan di tungku peleburan (prapen melalui pembakaran bahan bakar berupa arang kayu serta tambahan udara pembakaran sehingga menghasilkan energi panas. Untuk kebutuhan udara pembakaran perajin gamelan yang ada di Dusun Tihingan memanfaatkan tenaga mekanik yang disebut blower sebagai penghembus udara melalui pipa distribusi (injektor sehingga kapasitas dan laju aliran udara kontinu. Bentuk laluan injektor dan penampungan udara dari blower ke ruang bakar bahan bakar sangat berperan dalam menentukan kecepatan proses peleburan, hal ini dipengaruhi oleh tekanan, volume udara serta pengarah udara. IGN.Priambadi, dkk. dari Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Udayana melakukan modifikasi untuk mendapatkan laju alir udara yang lebih stabil dan menerapkannya di Desa Tihingan Klungkung yang merupakan sentra kerajinan gamelan sangat terkenal.Usaha mengurangi pemakaian insektisida dalam pengendalian hama

  12. AHMEDİYE FLOATING ISLAND AHMEDİYE YÜZENADASI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Pınar TAŞKIRAN (M.A.H.

    2006-09-01

    ının inceleme konusu olmuştur. Söz konusu oluşum, başta coğrafya olmak üzere biyoloji, jeoloji ve çevre bilimlerinin de inceleme alanına girmektedir. Ancak yüzenada terimi Coğrafya ilmi sayesinde literatüre girmişve adaların oluşumu, tanımı ve tanıtımı üzerine ilk çalışmalar yine coğrafyacılar tarafından yapılmıştır. Bu konuda Prof. Dr. İhsan BULUT’ un önemli çalışmalarıbulunmaktadır. Yüzenadalar çok çeşitli özellikleri ile bilim dünyasının dikkatini çekmektedir. Başta zengin flora ve faunasıyla içerisinde bulunduğu ortamdan belirgin bir şekilde ayrılmaktadır. Bu adalar, göl alanı içerisinde gelişmeleri dolayısıyla,insanların hep dikkatini çeken sulak alanlar durumundadır. Doğal ve beşerî faktörlerle ekosistemde meydana gelen bozulmaların en bariz olarak gözlenebildiği kesimler yine bu sulak alanlardır. İnorganik ve organik minerallerin uygun iklim koşulları altında optimum karışımı yine sulak alanlarda gerçekleşirken, inorganik minerallerde bulunan fosfat ve serbest atmosferden sağlanan nitratla gür ve türce zengin sulak alan bitkileri yetişmektedir. Yüzenadalar hemen her iklim kuşağında görülmesine rağmen yine de dünyamızın bu oluşumlar bakımından fakir olduğu söylenebilir. Ancak bu durum, şüphesiz bu alandaki çalışmaların yetersiz olmasının bir sonucudur. Kendine özgü doğal ortamıyla çevresinden ayrılan ve göl alanında yüzer halde her yöne kolayca hareket edebilen yüzenadalar, çevrelerinin adeta bir sembolü rolünü üstlenirken, bölge insanını kendisine çeken görsel doğal bir turistik cazibe merkezi olma özelliğini de taşırlar. Ülkemizde kayıtlara geçen yüzenada bulunan il sayısı 8’dir. Ancak ülkemizin farklı kesimlerinde büyüklü küçüklü çok sayıda sulak alan bulunmaktadır. Dolayısıyla da araştırmalar arttıkça farklı kesimlerde yüzenadalarla karşılaşılacaktır. İşte bilinenlere ilave edebileceğimiz bir

  13. Nostalgic Paradigm in Classical Sociology and Longing for Golden Age in Islamism

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    İrfan Kaya

    2017-12-01

    zetleyebileceğimiz tarihin bir çöküş ve yitirme olarak görülmesidir. Bu çöküş gelecekte şiddetlenerek devam edeceğinden, tarih bir keder ve umutsuzluk tarihidir. Toplum kuramında böylesi bir keder duygusunun örneği, Weber’in yazgı sosyolojisidir. Çünkü Weber’e göre gelecekte bizi bekleyen yazın aydınlığı değil, buzlu karanlığın kutup gecesidir. Nostaljik paradigmanın ikinci bileşeni, sekülerleşme süreciyle birlikte artık bütünlüğün ve ahlaki kesinliğin yitirildiği duygusudur. Bu nostaljik izlek, toplumsal yapıda yaşanan farklılaşma ve karmaşıklık, bilimsel bilginin yayılması, artan nüfus oranıyla birlikte şehirleşme, kapitalist sanayileşme, gündelik hayatın rasyonelleşmesi gibi büyük çaplı, bir o kadar yıkıcı toplumsal süreçler her şeyi kaplayan kutsal değerler kubbesini zayıflattığına vurgu yapan çok güçlü bir sekülerleşme kuramını öne çıkarır. Süreç Tanrının ölümünün ilanıyla birlikte birbiriyle rekabet eden ve çatışan bir dünyanın kapısını aralamış, bu kapıdan Weber’in deyişiyle çok tanrılı bir dünyaya geçiş yapılmıştır. Benzer bir bakış açısını klasik sosyolojide toplumsal yapıların mesleki ayrımlaşma yoluyla dönüşümünü mekanik ve organik dayanışma şeklinde kuramsal bir temele oturtan Durkheim’de gözlemlemek mümkündür. Durkheim toplumsal değişimi ikircikli bir yapıyla analiz eder ve değişim öncesi evreye ahlaki tutarlılığı yakıştırır. Ortaklaşa bilincin genel olarak zayıfladığı değişim sonrası evrede ise ahlaki bütünlük artık yitirilmiştir.  Nostaljik paradigmada karşılaştığımız üçüncü izlek, bireysel özerkliğin yitirilmesi ve sahici toplumsal ilişkilerin çökmesidir. Ahlaki birliğin yitirilmesiyle birey, bürokratik devlet tahakkümü altında, makro-toplumsal süreçlere ve kurumlara yakalanmıştır. Özerkliğini yitiren bireyin denetime tabi olması kaçınılmazdır. Bireyin toplumsal b

  14. III Adli Bilimler Kongresi - Posterler

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Adli Tıp Uzmanları Derneği ATUD

    2000-08-01

    eşitlidir Bu çalışmada Ege bölgesinde tarım endüstrisinde yaygın olarak kullanılan insektisitlerin ve diğer toksik maddelerin bölgemizde yapılan adli otopsilerdeki durumu değerlendirilmiştir. 1996 yılında Adli Tıp Kurumu İzmir Grup Başkanlığı Morg İhtisas Dairesinde otopsisi yapılan 917 olgu incelenerek, zehirlenme sonucu ölen 97 olgu çalışma kapsamına alınmış ve bunlara ait adli tahkikat, otopsi, toksikoloji ve histopaloloji raporları incelenmiştir. Olguların % 47,42’sinin insektisit zehirlenmesi sonucu öldüğü, bunu % 21.66 ile karbonmonoksit zehirlenmelerinin izlediği, insektisitlerle zehirlenmelerde, organik fosforlu insektisitlerin % 34,02 ile ilk sırada yer aldığı görülmüştür. Orijinlerine göre incelendiğinde ise olguların % 47,42'si- nin toksik maddeyi intihar amacıyla aldığı, kaza olgularının % 38,14 ile ikinci sırada olduğu saptanmıştır. Anahtar Kelimeler: Adli otopsi, zehirlenme, insektisit. EKSTREMİTE DAMARLARININ YARALANMASINA BAĞLI ÖLÜMLERİN RETROSPEKTİF OLARAK DEĞERLENDİRİLMESİ Süleyman GÖREN, Yaşar TIRAŞÇI. ÖZET Ekstremite bölgesindeki damar yaralanmaları kesici delici aletlerle cinayetlere, intihar olaylarına ve kazalara bağlı olarak karşımıza çıkmaktadır. Diğer organ yaralanması olmadan sadece ekstremitedeki büyük damarların keşişine bağlı kanamalarla ölümler meydana gelebilmektedir. 1987 - 1997 yılları arasındaki Diyarbakır Adli Tıp Şube Müdürlüğünde 6150 ölü muayene ve otopsi raporu incelenmiş olup, 14 vakayı ekstremite damarlarının kesici-delici alet yaralanmalarına bağlı ölümlerin oluşturduğu görüldü. Olguların 10’u (% 71.42 erkek, 4'ü (% 28.58 kadın, en küçük yaş 16, en büyük yaş 55, yaş ortalaması ise 28 olarak tespit edildi. En sık (% 57.14 21-30 yaş arası gurupta görüldü. Olayın oluş yeri değerlendirildiğinde en sık cadde / sokakta (% 57.14 meydana geldiği saptandı. Ölümlerin 13’ü (%92

  15. Journal Abstracts

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mete Korkut Gülmen

    1996-07-01

    çesinden oluşturuldu ve aynı kişilerin kan örneklerinin sekanslarıyla karşılaştırıldı. Kan ve feçes örneklerinde sekanslar özdeşti fakat sekans değişkenleri yaklaşık her 400bp'de 4.88 olan bir ortalama ile, 1-10 sınırlarında bireyler arasında nükleotid farklılıkları gözlendi. Bu çalışmada uygulanan çeşitli ekstraksiyon protokolleri arasında DNA'yı bağlama ve saflaştırma işleminde en yüksek oranda başarıya manyetik partikül seperasyonuna dayanan organik ekstraksiyon yöntemiyle ulaşıldı. Feçesten DNA ekstraksiyonunda STR analizi rutin olarak olası değildi. İLAÇLARIN MİDEDEKİ ARTIKLARDAN POSTMORTEM DİFÜZYONU Postmortem diffusion of drugs from gastric residue, an experimental study Pounder DJ, Fuke C, Cox DE, Smith D, Kuroda N. Am J Forensic Med-Pathol. 1996; 17(1: 1-7. İlaçların midedeki artıklardan postmortem difüzyonu bir insan kadavrası modeli üzerinde çalışılmıştır. 350 mİ % 10’luk metanol ve 0.1 N HC1 içinde elli miligram amit- riptilin (Ami ve 5 gram parasetamol (Par süspansiyonu ve 50 gram ürografin 5 gram lityum karbonat (alkali model ile ve lityum karbonatsız (asidik model olarak boyun diseksiyonu ile bir özofagus tübü yoluyla mide içine konulmuştur. Oda sıcaklığında (Ortalama saatlik oda sıcaklığı sınırları: 15.6-20.70C, n = 9 geçen 48 saatten sonra bir çok örnek alınmıştır. Mide içeriğinin pH’ının anlamlı ( alkalin model sınırlar = 8.3-8.9, n = 5, asidik model sınırları = 3.4-3-8, n = 5 bir etkisi olmamıştır. İlaç difüzyonu Ami için 0.1-13-9 (pg/g, Par için 65- 524, ve lityum için 13-161 konsantrasyonlarında en çok sol akciğer tabanında belirgindi. Benzer şekilde karaciğer sol lobunda (Ami, 0.1-54.9; Par, 7-218; lityum 7-39, dalakta (Ami, 0.6-24.3; Par, 104-663; lityum, 27-106, ve perikard sıvısında (Ami, 0-4.5; Par, 48-641; lityum, 12- 56 belirgin konsantrasyonlar bulundu. Safra kesesine, kalp kanına, aorta kanına ve inferior vena kava