WorldWideScience

Sample records for nanochastits dioksida tseriya

  1. Issledovanie temperaturnoi i chastotnoi zavisimostei elektrofizicheskikh svoistv dioksida tseriya [Investigation of the temperature and frequency dependences of the electrical properties of cerium dioxide

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    V. A. Ogorodnik

    1993-05-01

    Full Text Available An experimental study of the electrical properties of CeO2 - temperature and frequency dependences of the conductivity, permittivity and dielectric loss tangent, as well as an interpretation of the results obtained

  2. PEMBUATAN KALSIUM KARBONAT DARI BITTERN DAN GAS KARBON DIOKSIDA SECARA KONTINYU

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Soemargono Soemargono

    2012-01-01

    Full Text Available Kalsium karbonat  yang  digunakan  dalam  industri- industri cat, karet, dan  kertas  harus  mempunyai  mutu yang  tinggi, terutama  kemurnian  dan kehalusannya.Untuk itu, Indonesia masih  mendatangkan  kalsium  karbonat murni dari luar negeri dalam jumlah yang cukup besar. Bittern merupakan bahan buangan industri garam yang disebut juga air tua, mengandung senyawa kalsium. Karbon dioksida biasanya berasal dari hasil pembakaran yang masuk ke udara. Kandungannya di udara kecil, tetapi berpotensi sebagai pencemar. Dengan mereaksikan kalsium yang terkandung dalam bittern dengan gas CO2 akan terbentuk CaCO3 dalam suasana basa. Pembentukan kalsium karbonat dilakukan dengan proses kontinyu dalam reaktor kolom bersekat miring. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pengendapan magnesium dengan larutan ammonia menyebabkan kandungan kalsium ikut terdegradasi. Hasil terbaik yang diperoleh dicapai pada kondisi pH awal, kecepatan alir gas CO2, kecepatan alir cairan, dan suhu masing-masing pada 8,7; 2265 mL/menit; 10 mL/menit; dan 303 K, dengan konversi sebesar 38,40%. Produk berupa CaCO3, yang diperoleh mempunyai kemurnian sebesar 21,34%.

  3. KARAKTERISTIK KIMIA DAN TEKSTUR TEMPE SETELAH DIPROSES DENGAN KARBON DIOKSIDA BERTEKANAN TINGGI (Chemical Charactersitics and Texture of Tempe Processed with High Pressure Carbon Dioxides

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Maria Erna Kusyawati

    2015-09-01

    kimia dan tekstur tempe setelah diproses dengan karbon dioksida bertekanan tinggi. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok yang disusun faktorial dengan dua faktor perlakuan dan tiga kali pengulangan. Tempe yang diperlakukan dengan tekanan 7,6 MPa selanjutnya disebut tempe PS sedangkan yang diperlakukan dengan tekanan 6,3 MPa disebut tempe PC. Faktor pertama adalah tekanan dengan dua level perlakuan meliputi 7,6 MPa dan 6,3 MPa, sedangkan faktor ke dua adalah lama waktu tekanan dengan 4 level yaitu 5, 10, 15, 20 menit. Parameter yang diamati meliputi tekstur, kadar air, protein, lemak, abu dan karbohidrat, mineral kalsium, dan vitamin B1, B2, B pada tempe kontrol dan tempe perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan, lama waktu tekanan dan interaksinya berpengaruh nyata terhadap kadar air, protein, lemak dan abu, tetapi tidak berpengaruh terhadap tekstur. Karbon dioksida tekanan tinggi baik pada 7,6 MPa maupun 6,3 MPa menurunkan kadar air dan lemak, tetapi kadar air tempe PC lebih tinggi dibanding tempe PS. CO2 3 tekanan 7,6 MPa yang menurunkan kadar protein. Perlakuan tekanan tinggi (7,6 MPa dan 6,3 MPa juga menurunkan mineral kalsium tetapi tidak mempengaruhi kandungan vit B.   Kata kunci: Karakteristik kimia, CO2, tekanan tinggi, tempe

  4. Pengeringan Puffing Sayuran dengan Gas Karbon Dioksida

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Daniel Saputra

    2006-08-01

    Full Text Available The objective of this research was to determine if CO2 puffing process could be applied to indonesian vegetables which resulted in the largest increase in bulk specific volume (BSV and rehydration ratio (RR. This reseach also was intended to reduce the residence time and CO2 pressure needed to puff the product. Several vegetables wich were common in the indonesian’s instant food were puffed dried using CO2 gas at the pressure of 3.72, 5.10 and 6.48 Mpa and residence time of 4 and 8 minutes and were then dried using a fluidized bed drier.this technology had successfully dried the carrot, potato, andSiamese squash cube with the size of 6x6x6 mm3, and green bean chunk in the length of 6 mm. The bulk specific volume and rehydration ratio of the sample tried were significantly higher than the hot air dried one (1.3 to 5 times for BSV and 1.2 to 5 for RR and were 0.6 to 0.95times the freeze dried product. The residence time, and pressure used for puffing with CO2 could be reduced by soaking the semple into 2% Na2HPO4, moisture content of 40 to 50%, residence time of 4 to 8 minutes, and CO2 pressure of 5.10 to 6.48 Mpa.

  5. Studija o pripravi silicijeva dioksida uporabom ostataka iz naftnih škriljevaca

    OpenAIRE

    Nie, L.; Wang, T.

    2015-01-01

    Uporabom naftnih (uljnih) škriljevaca nastaje obilje ostataka naftnog škriljevca, koji ne samo da mogu izravno uzrokovati ozbiljno onečišćenje okoliša, već i dovesti do gubitka resursa. U ovom radu provedena je usporedba metode izluživanja kiselinom i metode otapanja lužinom kako bi se dobili optimalni uvjeti za obradu i dobivanje bijele čađe, koji su određeni na sljedeći način: maseni udjel NaOH je 8 %, vrijeme otapanja u lužini je 5 h i temperatura reakcije 100 °C. Potom su analizirane kara...

  6. VPLIV POVRŠINSKE OBDELAVE NANODELCEV TITANOVEGA DIOKSIDA RUTILNE KRISTALNE STRUKTURE NA UV ABSORPCIJSKE LASTNOSTI POLIMERNEGA NANOKOMPOZITA

    OpenAIRE

    Godnjavec, Jerneja

    2012-01-01

    Polimerni kompoziti, ki se uporabljajo tudi v premaznih sredstvih, estetsko spreminjajo okolje, v katerem živimo, obenem pa jih uporabljamo tudi za zaščito površin, ki lahko propadajo zaradi škodljivih zunanjih vplivov, npr. zaradi izpostave UV svetlobi. Nove tehnološke rešitve zaradi izboljšanja funkcionalne lastnosti, kot je npr. UV zaščita, se v industriji polimernih kompozitov uvajajo tudi s pomočjo nanotehnologije, v tem primeru z vgradnjo nanodelcev TiO2. Pomembno vlogo v skupini n...

  7. Pengaruh Aerasi dan Sumber Nutrien terhadap Kemampuan Alga Filum Chlorophyta dalam Menyerap Karbon (Carbon Sink untuk Mengurangi Emisi CO2 di Kawasan Perkotaan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lancur Setoaji

    2013-09-01

    Full Text Available Penelitian terkait mitigasi pemanasan global, khususnya dalam penyerapan karbon dioksida (CO2, menjadi fokus utama di kalangan ilmuwan dunia. Secara alamiah, karbon dioksida dapat diserap oleh tumbuhan hijau, laut, karbonasi batuan kapur, dan alga. Pigmen hijau dalam alga atau klorofil dapat menyerap karbon dioksida dalam proses fotosintesis. Alga memiliki pertumbuhan yang sangat cepat sehingga cocok digunakan sebagai carbon sink. Penelitian terkait carbon sink ini bertujuan untuk menentukan kemampuan rata-rata serapan CO2 oleh alga di kawasan perkotaan dan menentukan pengaruh aerasi dan variasi sumber N terhadap pertumbuhan dan perkembangan alga. Penelitian ini dilakukan dalam skala laboratorium menggunakan reaktor dengan proses batch. Sampel alga yang digunakan didapatkan dari hasil pengembangbiakan yang bersumber dari perairan di kawasan perkotaan. Penelitian ini menggunakan dua variabel uji, yaitu aerasi dan sumber nutrien. Jumlah karbon dioksida yang diserap didapatkan dari perbandingan stoikiometri pada reaksi fotosintesis.  Berdasarkan perbandingan stoikiometri tersebut diketahui bahwa 1 gram sel alga yang terbentuk sebanding dengan 1,92 gram CO2 yang diserap. Dari hasil penelitian, alga dengan penambahan pupuk urea dapat menyerap 4,87 mg CO2/hari dalam kondisi tanpa aerasi atau 3,84 mg CO2/hari dengan aerasi. Sedangkan alga dengan penambahan pupuk NPK dapat menyerap 3,61 mg CO2/hari dalam kondisi tanpa aerasi atau 3,01 mg CO2/hari dengan aerasi.

  8. TENAGA SURYA DAN ARSITEKTUR: SUATU ANALISIS LINGKUNGAN DAN PERANCANGAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tri Harso Karyono

    2003-01-01

    Full Text Available This paper discusses the potential use of solar energy in building as an alternative solution of energy resources to reduce the negative impact in burning fossil fuels to the environment. It higlights the positive aspects in environment by generating solar energy and also discusses the aesthetical values in employing solar panels on buildings. Abstract in Bahasa Indonesia : Isue mengenai pemanasan bumi yang diakibatkan oleh produksi gas karbon dioksida sebagai akibat pembakaran bahan bakar minyak (minyak bumi, batu bara, gas alam memaksa ilmuwan, pakar energi, akhli lingkungan, serta pihak-pihak lain yang terkait untuk ikut memikirkan penggunaan energi alternatif yang aman. Tenaga nuklir yang tidak menghasilkan gas buang semacam karbon dioksida, ternyata bukan merupakan solusi energi alternatif yang baik karena meninggalkan sampah radioaktif yang belum ada solusi pembuangan yang diangap aman untuk masa yang akan datang. Tenaga surya, yang umumnya sudah digunakan secara tradisional sejak ratusan abad yang silam, perlu mendapat perhatian. Pemanfaatan tenaga surya baik secara pasif maupun aktif bagi bangunan perlu mendapat perhatian dari para arsitek. Pemanfaatan tenaga surya secara aktif, dimana tenaga surya dikonversikan terlebih dahulu menjadi tenaga listrik dengan solar sel, seyogyanya tidak berdiri sendiri, perlu diintegrasikan dengan aplikasi perancangan secara pasif. Perancangan secara aktif bertujuan untuk mengurangi beban listrik yang berasal dari minyak bumi - secara langsung mengurangi jumlah gas karbon dioksida yang dibuang ke udara, sedangkan perancangan pasif bertujuan untuk mengurangi beban penggunaan energi listrik - yang berasal dari sumber listrik apapun - di dalam bangunan. Makalah ini membahas isue yang diutarakan diatas, dimana pada akhirnya memberikan contoh dari suatu karya arsitektur yang dianggap berhasil dalam mengaplikasikan strategi perancangan secara aktif (menggunakan solar sel serta tidak meninggalkan sterategi

  9. The application of rutile nano-crystalline titanium dioxide as UV absorber:

    OpenAIRE

    Godnjavec, Jerneja; Venturini, Peter; Znoj, Bogdan; Žnidaršič, Andrej

    2010-01-01

    Nanodelci titanovega dioksida (TiOspodaj2) v rutilni kristalinični obliki so delci premera velikosti pod 100 nm, ki se večinoma uporabljajo kot pigment, adsorbent in UV absorber. Ko nanodelce TiOspodaj2 vgradimo v tekoč medij z dispergiranjem, mora imeti disperzija ozko porazdelitev velikosti delcev. Analizirali smo dejavnike, ki vplivajo na homogenost porazdelitve velikosti nanodelcev TiOspodaj2 v transprentnem premazu. Nanodelce TiOspodaj2 smo pripravili z koprecipitacijsko metodo. Da bi ug...

  10. APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG UNTUK SEBARAN BEBAN EMISI CO2 BERDASARKAN KEPADATAN LALU LINTAS DI KOTA SURABAYA BAGIAN SELATAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Aan Eka Pranata Jaya

    2015-02-01

    Full Text Available Aktifitas transportasi kota Surabaya semakin meningkat, ketidakseimbangan antara pertumbuhan kendaraan dengan penyediaan jalan, menimbulkan  kepadataan lalu lintas yang puncaknya terjadi pada jam sibuk. Aktifitas ini berakibat udara di ruas jalan tidak sehat dikarenakan pembakaran bahan bakar dari kegiatan tersebut menghasilkan emisi karbon. Terutama karbon dioksida berpotensi menyebabkan pemanasan global akibat bertambahnya gas rumah kaca. Maka untuk mengetahui beban emisi karbon, khususnya gas karbon dioksida (CO2 di Surabaya bagian Selatan yang dilakukan menggunakan faktor emisi dan program yaitu sistem informasi berbasiskan komputer. Sistem informasi berbasiskan komputer ini  berupa Sistem Informasi Geografis (SIG yang menyajikan gambaran mengenai beban emisi (CO2 yang dihasilkan dari jumlah kendaraan yang melewati ruas jalan tersebut. Jumlah kendaraan akan dianalisa dengan mengkonversi satuan kendaraan ke satuan mobil penumpang (smp. Beban emisi dihitung dari jumlah kendaraan yang telah dikonversikan dikalikan dengan faktor emisi dan konsumsi kendaraan untuk mobil penumpang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada tahun 2008, tahun 2010 dan tahun 2011 beban emisi tertinggi di jalan Ahmad Yani yaitu 6.437.199,867 ton CO2 / tahun terjadi pada tahun 2011 dan yang terendah di jalan Mastrip yaitu 494.511,264 ton CO2 /tahun terjadi pada tahun 2008. Dari aplikasi Sistem Informasi Geografis dapat diketahui jumlah kendaraan (smp yang melalui ruas jalan di Surabaya bagian Selatan dan juga beban emisi karbon (CO2 yang berasal dari pembakaran dapat diketahui jumlahnya.

  11. ANALISIS DAMPAK PELAKSANAAN CAR FREE DAY DI KOTA DENPASAR Studi kasus: Jalan Raya Puputan Niti Mandala Renon

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ni Putu Decy Arwini

    2015-02-01

    Full Text Available Abstract: Renon area is the center of the goverment system of Bali province. As one of the main street in Denpasar city, this street can represent the characteristics of Denpasar city which is the Car Free Day  was held in in every Sunday morning in this street, as a simple way to reduce the air pollution and noise. The calculation in this journal is road performance, air pollution and noise level for 2 condition that is in Car Free Day and in working day. From the calculation result of road performance, the capacity of the street is 4.110 pcu/hour with degree of saturation is 0,8. The level of street service is on D category where the flow is almost unstable with high volume of traffic. The traffic volume is mostly reached the capacity and delay is frequently occur in this street. The measurement process of the level of air pollution showed that from six parameter which tested were over all are still under the standard quality which is allowed as good and medium category. The Sulfur dioksida (SO2 which was measured in busy day showed the improvement about 6,78% from the measurement which is done in Car Free Day. The nitrogen dioksida showed the improvement for about 36,35% , the carbon monoksida also showed the improvement for about 366,25%, the total dust had the greatest improvement  for about  599,95% or six time greater rather than the level of total dust in Car Free Day. In the other hand, oxidantshowed the improvement for about 28,75%.The noises which occured in Car Free Day showed  the average level of dB(Ais 61,65 whereas in workdays showed 72,77 dB(A. At 07.30 until 07.45  in the morning , the maximum level of noises occurs in Car Free Day and in work day. The noises improvement which occured when the Car Free Day was held with workday is about 19,17%.

  12. PALM KERNEL OIL SOLUBITY EXAMINATION AND ITS MODELING IN EXTRACTION PROCESS USING SUPERCRITICAL CARBON DIOXIDE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wahyu Bahari Setianto

    2013-11-01

    Full Text Available Application of  supercritical carbon dioxide (SC-CO2 to vegetable oil extraction became an attractive technique due to its high solubility, short extraction time and simple purification. The method is considered as earth friendly technology due to the absence of chemical usage. Solubility of solute-SC-CO2 is an important data for application of the SC-CO2 extraction. In this work, the equilibrium solubility of the palm kernel oil (PKO in SC-CO2 has been examined using extraction curve analysis. The examinations were performed at temperature and pressure ranges of  323.15 K to 353.15 K and 20.7 to 34.5 MPa respectively. It was obtained that the experimental solubility were from 0.0160 to 0.0503 g oil/g CO2 depend on the extraction condition. The experimental solubility data was well correlated with a solvent density based model with absolute percent deviation of 0.96. PENENTUAN KELARUTAN MINYAK INTI KELAPA SAWIT DAN PEMODELAN EKSTRAKSI DENGAN KARBON DIOKSIDA SUPERKRITIK. Sehubungan dengan kelarutan yang tinggi, waktu ekstraksi yang pendek dan pemurnian hasil yang mudah, aplikasi karbon dioksida superkritis (SC-CO2 pada ekstraksi minyak nabati menjadi sebuah teknik ekstraksi yang menarik. Karena tanpa penggunaan bahan kimia, metode ekstraksi ini dianggap sebagai teknologi yang ramah lingkungan. Kelarutan zat terlarut pada SC-CO2 merupakan data yang penting dalam aplikasi SC-CO2 pada proses ekstraksi.  Pada penelitian ini,  kelarutan kesetimbangan dari minyak biji sawit (PKO dalam SC-CO2 telah diuji dengan mengunakan analisa kurva proses ekstraksi. Pengujian kelarutan tersebut dilakukan pada rentang suhu 323,15 K sampai 353,15 K dan rentang tekanan 20,7 MPa sampai 34,5 MPa. Hasil analisa menunjukkan bahwa kelarutan kesetimbangan hasil percobaan  PKO pada SC-CO2 adalah 0.0160 g minyak/g CO2 sampai 0,0503 g minyak/g CO2 tergantung pada kondisi ekstraksi. Data kelarutan kesetimbangan hasil percobaan  telah dikorelasaikan dengan baik menggunakan

  13. Kajian Potensi Teknologi Microbial Electrosynthesis Cell untuk Sintesis Senyawa Organik (C1 - C5 dari Gas Karbondioksida

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rustiana Yuliasni

    2015-10-01

    Full Text Available Karbon dioksida dapat direduksi menjadi etanol dan senyawa organik lainnya seperti asetat  dengan cara mengaplikasikan energi listrik dan dengan bantuan bakteri elektroaktif sebagai katalis, suatu teknologi yang dinamakan sebagai Microbial Electrosynthesis Cell (MES. Teknologi ini menjadi sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut  karena merupakan upaya  untuk menyimpan energi listrik dari sumber  energi terbarukan seperti  energi panas matahari dan angin, sebagai upaya untuk mereduksi gas CO2dan  sebagai salah satu alternatif teknologi dalam produksi bahan bakar ramah lingkungan (biofuel.  Walaupun demikian, teknologi ini masih tergolong baru,dan penelitian yang ada masih  dalam skala laboratorium karena adanya hambatan-hambatan  untuk aplikasi  teknologi ini dalam skala pilot plant. Oleh karena itu, di dalam kajian iniakan menitik beratkan pada investigasi  secara kuantitatif dengan cara mereview  penelitian-penelitian yang sudah dilakukan selama kurun waktu 10 tahun ini, sehingga dapat dijadikan referensi dalam pengembangan teknologi ini untuk skala yang lebih besar nantinya.

  14. Variasi Temperatur dan Waktu Tahan Kalsinasi terhadap Unjuk Kerja Semikonduktor TiO2 sebagai Dye Sensitized Solar Cell (DSSC dengan Dye dari Ekstrak Buah Naga Merah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sahat M. R. Nadaek

    2012-09-01

    Full Text Available Salah satu energi alternatif yang mempunyai potensi sumber energi yang sangat besar untuk mencegah terjadinya krisis energi namun sering kali terabaikan adalah sinar matahari. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk  menghasilkan prototype dalam mengkonversi energi cahaya matahari menjadi energi listrik. Dye Sensitized Solar Cell (DSSC telah difabrikasi dengan menggunakan serbuk Titanium Dioksida (TiO2 yang dilapisi ke kaca Indium Tin Oxide dan diberi variasi temperatur 350oC, 450oC, dan 550oC dengan waktu tahan kalsinasi 30 dan 60 menit yang kemudian disensitisasi ke dalam larutan dye ekstrak buah naga merah (Hylocereus polyrhizus. DSSC di-assembling dengan coating Pd/Au yang telah di-sputtering ke kaca Indium Tin Oxide yang selanjutnya ditetesi dengan larutan elektrolit. Kemudian lapisan TiO2 tersebut dikarakterisasi menggunakan uji (SEM dan (XRD. Luas permukaan aktif partikel diidentifikasi dengan menggunakan BET analyzer. Dari hasil XRD dapat diketahui struktur kristalnya tetragonal. Hasil SEM menunjukkan bahwa bentuk partikel TiO2 adalah spherical. Untuk luas permukaan aktif yang dihasilkan menunjukkan nilai yang berbanding lurus dengan kenaikan nilai kelistrikan DSSC buah naga. Dari uji kelistrikan didapatkan hasil optimum pada temperatur 550oC dan waktu tahan 60 menit dengan voltase 562 mV, kuat arus 0.307 mA, dan memiliki efisiensi sebesar 0.089%. Kata kunci: Dye ekstrak buah naga merah, dye sensitized solar cell, temperatur kalsinasi, TiO2, waktu tahan kalsinasi.

  15. Pengaruh Variasi pH dan Temperatur Sintering Terhadap Nilai Sensitivitas Material TiO2 Sebagai Sensor Gas CO

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ika Silviana Widianti

    2015-03-01

    Full Text Available Telah dilakukan berbagai macam pengupayaan untuk mengoptimalkan potensi Titanium dioksida (TiO2 sebagai sensor gas, mengingat TiO2 merupakan semikonduktor metal oksida. Pada penelitian ini digunakan TiO2 dalam bentuk serbuk, dengan pelarutnya H2SO4 yang diencerkan dengan air distilasi sehingga terbentuk variasi pH 1, 3, dan 5. Metode sol-gel dilakukan dengan perendaman dan dilanjutkan stiring selama 2,5 jam, kecepatan 700 rpm, dan temperatur 200ºC . Drying dilakukan selama 2 jam pada temperatur 350ºC, selanjutnya serbuk dikompaksi pada tekanan 200 bar agar terbentuk pellet. Pelet kemudian disintering pada temperatur 700,800, dan 900ºC selama 1 jam. Karakterisasi material dilakukan dengan Scanning Electron Microscope (SEM dan X-Ray Diffraction (XRD. Sedangkan untuk luas permukaan spesifik sampel TiO2 diuji dengan BET Analyser. Morfologi TiO2 yang dihasilkan dari proses sol-gel berbentuk bulat (spherical dan memiliki fase stabil anatase. Nilai sensitivitas didapatkan dari pengujian pada temperatur operasi 100ºC dan variasi volume gas CO 5L, 12,5L, 25L. Respon tercepat adalah material TiO2 pH 3 yang disinter dengan temperatur 900ºC, serta memiliki ukuran pori 50,83 nm

  16. PEMILIHAN JENIS BULIR POLIMER SEBAGAI PENYANGGA MATERIAL FOTOKATALIS TIO2

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hasniah Aliah

    2014-05-01

    Full Text Available Salah satu cara untuk meningkatkan aktivitas fotokatalitik suatu material katalis adalah dengan melapiskan material katalis Titanium dioksida (TiO2  pada permukaan polimer yang berukuran cukup besar, ringan, transparan dan bersifat termoplastik.  Untuk memilih jenis polimer terbaik sebagai material penyangga katalis, dilakukan pengujian pelapisan partikel TiO2 pada tiga jenis polimer berbentuk bulir, yaitu polystyrene (PS, linear-low density polyethylene (LLDPE, dan polypropilene (PP.Pelapisan material TiO2 di permukaan polimer dilakukan dengan menggunakan teknik thermalmilling berbasis oven listrik. Temperatur dalam proses milling diatur di sekitar titik HDT (Heat Deflection Temperaturematerial polimer dan berlangsung selama 60 menit.  Massa jenis dan transmitansi polimer setelah dilapisi TiO2 merupakan parameter fisik yang menjadi acuan dalam pemilihan polimer penyangga katalis. Imobilisasi menggunakan teknik thermal milling menghasilkan polimer PP berlapis katalis TiO2 yang homogen. Pabrikasi dengan parameter milling 100°C dan 60 menit menghasilkan PP berlapis katalis TiO2 dengan massa jenis rata-rata 0,872 g/cm3 sehingga dapat mengapung di permukaan air.  Di samping itu, PP berlapis TiO2 mempunyai transmitansi 58%. Polimer PP inilah yang kemudian dipilih sebagai material penyangga katalis TiO2 dalam proses penelitian selanjutnya.

  17. KAJIAN RUANG TERBUKA HIJAU DALAM RANGKA PEMBENTUKAN HUTAN KOTA DI BANJARBARU

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muhammad Ruslan

    2016-08-01

    Full Text Available Tujuan penelitian ini adalah menganalisis luas dan sebaran ruang terbuka hijau di Kota Banjarbaru berdasarkan kondisi tutupan lahan, luas kawasan, jumlah penduduk, dan karbon dioksida yang dihasilkan; membuat simulasi kebutuhan ruang terbuka hijau sampai tahun 2030. Berdasarkan hasil analisis penutupan lahan, perkiraan luas ruang terbuka hijau di Kota Banjarbaru mencapai 26.577,54 hektar atau sekitar 71,56 persen dari total luas Kota Banjarbaru (37.138 hektar dan sisanya merupakan areal yang tidak bervegetasi seluas 10.560,47 hektar atau sekitar 28,44 persen. Berdasarkan Existing Condition tutupan lahan pada tahun 2010, di Kota Banjarbaru tidak perlu dilakukan penambahan Ruang Terbuka Hijau karena masih sesuai dan tercukupi. Sedangkan untuk rekomendasi luas penambahan RTH untuk Kecamatan Banjarbaru Utara pada tahun 2020 seluas 3,74 hektar.  Untuk tahun 2030 Kecamatan Banjarbaru Selatan seluas 104.05 hektar, Kecamatan Banjarbaru Utara seluas 331,20 hektar dan Kecamatan Liang Anggang seluas 138,24 hektar, sedangkan Kecamatan Cempaka dan Kecamatan Landasan Ulin belum perlu melakukan penambahan RTH. Tanaman Trembesi/Ki Hujan (Samanea saman, Angsana (Pterocarpus indicus dan Tanjung (Mimusops elengi di rekomendasikan untuk dijadikan tanaman Ruang Terbuka Hijau. Kata Kunci : Ruang Terbuka Hijau, Emisi CO2  dan Serapan CO2

  18. PEMBANGUNAN PERMUKIMAN YANG BERKELANJUTAN UNTUK MENGURANGI POLUSI UDARA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Timoticin Kwanda

    2003-01-01

    Full Text Available The rapid increase of urban population will cause environment problems, such as clean water scarcity, bad condition of sanitation, garbage disposal, and air pollution. Main sources of air pollution in large cities are emissions of motor vehicles (CO which is 70% to 80% of the total air pollutant. Air pollution may create hazard for human health. Carbon monoxide (CO which changes into carbon dioxide (CO2 will cause global warming, and then climate change happened will cause flood and dry land, which then it effects on human health. In addition, the damage of Ozone layer caused by CFC chemical will cause more ultra violet going into the troposphere which causes skin cancer. To solve air pollution, first is to decrease energy consumption and search for a cleaner alternated energy. Second is to build sustainable buildings and settlements, and environment friendly public transportation system. Abstract in Bahasa Indonesia : Peningkatan jumlah penduduk perkotaan yang relatif tinggi menimbulkan masalah bagi lingkungan hidup, misalnya masalah kurangnya air bersih, buruknya kondisi sanitasi, pembuangan sampah, dan polusi udara. Sumber terbesar polusi udara di kota besar adalah asap kendaraan bermotor (CO yaitu sebesar 70% - 80% dari total polutan udara. Pencemaran udara berdampak pada kesehatan manusia. Karbon monooksida (CO yang berubah menjadi karbon dioksida (CO2 akan berakibat pada pemanasan global, sehingga terjadi perubahan iklim yang menyebabkan banjir dan kekeringan, yang kemudian berpengaruh pada kesehatan manusia. Selain itu, rusaknya lapisan Ozon yang diakibatkan oleh senyawa kimia CFC, berakibat pada banyaknya sinar ultra violet memasuki troposfer yang dapat mengakibatkan kanker kulit. Untuk mengatasi masalah polusi udara ini, pertama adalah mengurangi konsumsi energi dan mencari energi alternatif yang lebih bersih. Kedua, mengurangi polusi udara dengan cara pembangunan ruang terbuka hijau, pembangunan bangunan dan permukiman yang

  19. Pemurnian Biogas untuk meningkatkan Nilai Kalor melalui Adsorpsi Dua Tahap Susunan Seri dengan Media Karbon Aktif

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    YANTI SUPRIANTI

    2016-08-01

    Full Text Available Abstrak Pemerintah menargetkan peningkatan peran energi terbarukanhingga mencapai 24% pada tahun 2050. Biogas sebagai salah satu dari sumber energi terbarukan harus memiliki nilai kalor yang memadaiagar dapat bersaing dengan sumber energi fosil. Zat yang memiliki kontribusi terbesar dalam menentukan nilai kalor biogas adalah Metana (CH4. Namun, biogas juga memiliki kandungan Karbon dioksida (CO2 yang bersifat tidak terbakar. Upaya untuk meningkatkan nilai kalor biogas dapat ditempuh dengan menurunkan kandungan CO2, salah satunya melalui proses adsorpsi. Penelitian ini menggunakan kolom adsorpsi seri berukuran 2,43 L untuk meningkatkan waktu kontak antara adsorben karbon aktif dengan gas-gas kontaminan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan CO2 dapat ditekan hingga di bawah 14% pada waktu adsorpsi 10 menit,dan diperoleh kandungan CH4 hingga minimal 78,73%. Hasil optimum kinerja kolom adsorpsi seri yaitu pada laju alir 2,4 L/menit dan waktu adsorpsi 10 menit, mampu memurnikan biogas hingga mengandung CH4 91,60%. Pada kondisi optimum tersebut, efektifitas kolom adsorpsi adalah sebesar 98,31%. Kata kunci: biogas, pemurnian, karbon aktif, waktu adsorpsi, efektifitas kolom adsorpsi. Abstract Indonesian government had targettedthe role of renewable energy, up to 24% in 2050. Biogas, as one of renewable energy, should have sufficient calorific valuein order to be efficiently used and competitive compared to fossil fuels. Methane (CH4 in biogas is the most important substance that determine biogas calorific value. On the other hand, another component of biogas, Carbon dioxide (CO2, the one that inhibit combustion process must be reduced. One of the methods to reduce CO2 content can be conducted through adsorption process. This research utilized serial adsorption column to increase contact between activated carbon as adsorbent and contaminant gases. The result showed that CO2 content can be suppressed below 14% in 10 minutes adsorption time, so

  20. Pra Desain Pabrik Substitute Natural Gas (SNG dari Low Rank Coal

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Asti Permatasari

    2014-09-01

    Full Text Available Substitute Natural Gas (SNG merupakan campuran gas hidrokarbon dengan sifat mirip seperti gas alam yang dapat diproduksi dari gasifikasi dengan bahan baku berupa batubara atau biomassa. Gasifikasi adalah proses perubahan bahan baku padat menjadi gas. Dengan mengubah bahan baku padat menjadi gas, maka material yang tidak diinginkan yang terkandung di dalam bahan baku tersebut seperti senyawa sulfur, karbon dioksida dan abu dapat dihilangkan dengan menggunakan metode tertentu sehingga dapat dihasilkan gas bersih yang disebut dengan syngas. Syngas yang memiliki kandungan utama CO dan H2 kemudian dikonfersi menjadi SNG yang berupa metana (CH4 melalui proses metanasi sehingga menghasilkan produk utama berupa CH4. SNG merupakan suatu bahan bakar baru yang dapat digunakan industri untuk menggantikan gas alam. Permintaan gas alam masa mendatang diperkirakan akan tumbuh cukup pesat terkait dengan upaya industri untuk beralih ke gas untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Gas alam dan minyak bumi sebagai salah satu sumber daya alam memiliki manfaat yang sangat banyak dalam menunjang berbagai sektor kehidupan manusia. Banyaknya manfaat dari sumber daya alam gas alam menyebabkan banyaknya kebutuhan akan gas alam di dunia, dimana kebutuhan tersebut terus bertambah setiap tahunnya. Padahal gas alam yang selama ini banyak dimanfaatkan berbagai sektor di Indonesia sifatnya tidak terbarukan (non renewable serta cadangannya diperkirakan akan menurun. Pemerintah harus menggalakkan pengembangan sumber energy alternative pengganti gas alam dan minyak bumi sesuai dengan Peraturan Presiden nomor 5 tahun 2006. Salah satu energi potensial yang dapat menggantikannya adalah SNG dari batubara. Indonesia memiliki cadangan batubara dalam jumlah yang sangat banyak. Wilayah Indonesia diketahui memiliki potensi endapan batubara yang sangat luas. Data dari Pusat Sumber Daya Geologi (2006 menyebutkan bahwa wilayah Sumatera Selatan memiliki jumlah cadangan batubara kualitas

  1. THIN FILM-BASED SENSOR FOR MOTOR VEHICLE EXHAUST GAS, NH3, AND CO DETECTION

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    S. Sujarwata

    2016-10-01

    Full Text Available A copper phthalocyanine (CuPc thin film based gas sensor with FET structure and channel length 100 μm has been prepared by VE method and lithography technique to detect NH3, motor cycle exhaust gases and CO. CuPc material layer was deposited on SiO2 by the vacuum evaporator (VE method at room temperature and pressure of 8 x10-4 Pa. The stages of manufacturing gas sensor were Si/SiO2 substrate blenching with ethanol in an ultrasonic cleaner, source, and drain electrodes deposition on the substrate by using a vacuum evaporator, thin film deposition between the source/drain and gate deposition. The sensor response times to NH3, motorcycle exhaust gases and CO were 75 s, 135 s, and 150, respectively. The recovery times were 90 s, 150 s and 225, respectively. It is concluded that the CuPc thin film-based gas sensor with FET structure is the best sensor to detect the NH3 gas.Sensor gas berbasis film tipis copper phthalocyanine (CuPc berstruktur FET dengan panjang channel 100 μm telah dibuatdengan metode VE dan teknik lithography untuk mendeteksi NH3 gas buang kendaraan bermotor dan CO. Lapisan bahan CuPc dideposisikan pada permukaan silikon dioksida (SiO2 dengan metode vacuum evaporator (VE pada temperatur ruang dengan tekanan 8 x10-4 Pa. Tahapan pembuatan sensor gas adalah pencucian substrat Si/SiO2 dengan etanol dalam ultrasonic cleaner, deposisi elektroda source dan drain di atas substrat dengan metode vacuum evaporator, deposisi film tipis diantara source/drain dan deposisi gate. Waktu tanggap sensor terhadap NH3, gas buang kendaraan bermotor dan CO berturut-turut adalah 75 s, 135 s,dan 150 s. Waktu pemulihan berturut-turut adalah 90 s, 150 s,dan 225 s. Disimpulkan bahwa sensor gas berstruktur FET berbasis film tipis CuPc merupakan sensor paling baik untuk mendeteksi adanya gas NH3.

  2. DISTRIBUSI KARBON DI BEBERAPA PERAIRAN SULAWESI UTARA (Carbon Distribution in North Sulawesi Waters

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nasprianto Nasprianto

    2016-02-01

    Full Text Available ABSTRAK Provinsi Sulawesi Utara memiliki memiliki letak strategis di mana berada di jalur pelayaran kawasan pasifik serta kawasan segitiga terumbu karang dunia. Berbagai penelitian kelautan telah dilakukan di kawasan ini, namun demikian belum ada informasi ilmiah tentang karbon laut yang sangat penting untuk memahami dinamika fluks karbon dalam kerangka mitigasi perubahan iklim. Tujuan dari penelitian ini untuk menyediakan informasi awal mengenai sebaran karbon di perairan Sulawesi Utara dan menganalisis potensi penyerapan dan pelepasan karbon dioksida (CO2 di beberapa perairan Sulawesi Utara. Pengukuran dilakukan secara langsung di lapangan pada parameter pCO2. Pengukuran pCO2 dilakukan di perairan Teluk Buyat, Teluk Totok, Teluk Manado, Selat Lembeh dan perairan Tongkaina. Data-data pCO2 hasil pengukuran di perairan Teluk Buyat berkisar 414,17 – 608,29 µatm, perairan Teluk Ratatotok berkisar 428,18 – 516,97 µatm, perairan Teluk Manado berkisar 385,16 – 395,52 µatm, perairan Selat Lembeh berkisar 342,90 – 492,12 µatm dan perairan Tongkaina berkisar 394,54 – 568,32 µatm. Nilai pCO2 terendah terletak di perairan teluk Manado sedangkan yang tertinggi terletak di perairan Teluk Buyat. Kisaran hasil pengukuran masih dalam batas normal pengukuran di daerah pesisir yang berkisar antara 200 – 4.600 μatm. Hasil analisis ∆pCO2 Teluk Buyat, Teluk Totok, perairan Tongkaina dan perairan Selat Lembeh berperan sebagai pelepas karbon dan untuk Teluk Manado berperan sebagai penyerap karbon.    ABSTRACT North Sulawesi has strategically located in the shipping lanes of the Pacific region as well as in the Coral Reef Triangle. Various marine researches have been done in the area, however, there is no scientific information about the ocean carbon which is essential to understand the dynamics of carbon flux in terms of climate change mitigation. The purpose of this study is to provide preliminary scientific information on the distribution of

  3. Biogas Digester with Simple Solar Heater

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Kh S Karimov

    2012-10-01

    persamaan tenaga seimbang untuk jisim statik cecair yang dipanaskan; parameter penebat haba tangki metana telah dikira. Pencerna biogas terdiri dari tangki metana yang dilengkapkan dengan penyerap pemanas beralik untuk menggunakan tenaga solar bagi memanaskan sluri yang disediakan dari bahan buangan organik yang berbeza (najis, sampah, sisa makanan,etc. Tangki metana telah diisi sehingga 70% isipadu buangan oraganik dari institut GIK, pertamanya adalah sampah dan keduanya adalah najis lembu. Pencerna telah dikaji bagi tempoh tiga bulan (Oktober-Disember, 2009 dan dua bulan (Februari-Mac, 2010. Kejadian radiasi solar terhadap penyerap, suhu sluri dan suhu ambien telah diukur. Didapati suhu penahanan adalah empat minggu dan dua minggu masing-masing dengan menggunakan sampah sahaja dan sampah dengan najis lembu, dan kuantiti biogas dihasilkan adalah masing-masing 0.4 m3 and 8.0 m3. Sebagai tambahan, skema peningkatan biogas untuk peranjakan karbon dioksida, hidrogen sulfida dan wap air dari biogas dan penukaran tenaga biogas kepada tenaga elektrik juga dibincangkan.KEYWORDS:  solar biogas; digester; methane tank; reverse absorber; built-in heater; solar energy

  4. PERAN MIKROBA STARTER DALAM DEKOMPOSISI KOTORAN TERNAK DAN PERBAIKAN KUALITAS PUPUK KANDANG (The Role of Microbial Starter in Animal Dung Decomposition and Manure Quality Improvement

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Cahyono Agus

    2014-10-01

    Full Text Available ABSTRAK Pupuk organik perlu didekomposisi oleh mikroba dan memerlukan lingkungan yang sesuai agar cepat matang sempurna dan tidak memberikan dampak negatif pada aspek sosial, estetika maupun kesehatan pada makluk hidup dan lingkungan. Dekomposisi bahan pupuk organik dilakukan dengan menggunakan kotoran sapi, dengan 2 perlakuan mikroba (tanpa dan dengan mikroba starter dan 3 variasi waktu, yaitu 0, 6 dan 24 jam setelah diberi mikroba starter. Analisis meliputi  uji fisik bahan pupuk yang meliputi pH, warna, aroma, lengas, dan DHL,  uji mikroba patogen (Eschericia. coli dan Salmonella pada pupuk, pengujian kandungan hara pupuk total (C, N, P, K, Ca, Mg, Na, S, Cd, Cr, B, Fe, Cu, Zn  dan Ntersedia (NH4 dan NO3,  serta analisis emisi gas amonia (NH3, oksigen (O2, karbon monoksida (CO, karbon dioksida (CO2, metana (CH4, NOx, NO, dan SO2. Mikroba starter mengandung mikrobia dan unsur hara yang sangat diperlukan dalam proses dekomposisi bahan organik. Pupuk kandang sapi setelah aplikasi  mikroba starter masih mengandung E. coli dan Salmonella sp. yang cenderung menurun seiring dengan lama waktu inkubasi. Terjadi dinamika kandungan unsur-unsur hara seperti P, K, Mg, Fe dan Cu serta logam berat Cr selama proses inkubasi baik pada pupuk kandang ayam maupun sapi. Dengan perlakuan mikroba starter, bagian senyawa sulfur dari bahan organik banyak yang terombak menjadi gas SO2 yang relatif tidak berbau, dan sebaliknya H2S serta senyawa reduktif sulfida lainnya menjadi terhambat pembentukannya. Perombakan dengan  mikroba starter sebaiknya diupayakan dalam suasana aerobik atau dengan suasana lembab tetapi tidak sampai anaerobik sehingga kehadiran senyawa H2S dan senyawa sulfur reduktif lainnya dapat dikurangi atau tidak terbentuk. Hasil penelitian ini menunjukkkan pentingnya penggunaan mikroba starter optimal dan benar untuk memperbaiki kandungan nutrisi dan kualitas pupuk kandang.   ABSTRACT Process of decomposition of organic fertilizer relies on the