WorldWideScience

Sample records for algae air dan

  1. Pengaruh Penambahan Glukosa Sebagai Co-substrate dalam Pengolahan Air Limbah Minyak Solar Menggunakan Sistem High Rate Alga Reactor (HRAR)

    OpenAIRE

    Laksmisari Rakhma Putri; Agus Slamet; Joni Hermana

    2014-01-01

    Kandungan minyak dalam air limbah umumnya relatif sulit untuk diuraikan oleh mikroorganisme pada pengolahan air limbah secara biologis. Sistem alga dalam High Rate Alga Reactor (HRAR) telah banyak dikembangkan dan digunakan sebagai pengolah air limbah domestik dan industri. Aplikasi sistem alga dalam HRAR ini dicoba untuk diaplikasikan dalam pengolahan air limbah mengandung minyak solar. Penelitian dilakukan untuk mengkaji kemampuan HRAR dalam menurunkan kandungan minyak solar dengan penambah...

  2. Penambahan Urea sebagai Co-Substrat pada Sistem High Rate Algae Reactor (HRAR) untuk Pengolahan Air Limbah Tercemar Minyak Solar

    OpenAIRE

    Ayu Syarifa Darwinastwantya; Agus Slamet; Joni Hermana

    2014-01-01

    Kebutuhan bahan bakar minyak di Indonesia semakin meningkat. Peningkatan tersebut mengakibatkan eksplorasi dan pengolahan secara berlebihan. Eksplorasi dan pengolahan berlebihan akan memberikan dampak buruk bagi lingkungan, yaitu limbah. Limbah minyak bumi biasanya langsung dibuang ke lingkungan yang dapat menyebakan pencemaran lingkungan, misalnya air. Pengolahan limbah menggunakan alga dapat digunakan sebagai pengolahan lanjutan tanpa menimbulkan polusi tambahan. Penelitian ini bertujuan u...

  3. Pengaruh Penambahan Glukosa Sebagai Co-substrate dalam Pengolahan Air Limbah Minyak Solar Menggunakan Sistem High Rate Alga Reactor (HRAR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Laksmisari Rakhma Putri

    2014-09-01

    Full Text Available Kandungan minyak dalam air limbah umumnya relatif sulit untuk diuraikan oleh mikroorganisme pada pengolahan air limbah secara biologis. Sistem alga dalam High Rate Alga Reactor (HRAR telah banyak dikembangkan dan digunakan sebagai pengolah air limbah domestik dan industri. Aplikasi sistem alga dalam HRAR ini dicoba untuk diaplikasikan dalam pengolahan air limbah mengandung minyak solar. Penelitian dilakukan untuk mengkaji kemampuan HRAR dalam menurunkan kandungan minyak solar dengan penambahan glukosa sebagai co-substrate. Penambahan co-substrate diperkirakan dapat mendorong bakteri untuk memberikan suplai karbondioksida pada mikroalga. Penelitian ini dilakukan dengan dua variabel penelitian yaitu konsentrasi minyak solar sebesar 381 ppm dan 830 ppm dalam air limbah dan konsentrasi co-substrate berupa gula sebesar 5 gram, 7 gram, dan 10 gram ke dalam 18 Liter air pada reaktor. Setiap dua hari sekali selama 14 hari akan diambil sampel untuk kemudian dilakukan analisis masing-masing parameter. Hasil menunjukkan bahwa efisiensi tertinggi kinerja HRAR dalam menurunkan kandungan minyak solar adalah sebesar 84,27%. Efisiensi tertinggi ini didapatkan pada reaktor dengan variasi penambahan minyak solar 830 ppm dan co-substrate sebesar 10 gram ke dalam 18 Liter yang memiliki nilai COD 586,67 mg/L. Pada konsentrasi minyak solar sebesar 830 ppm, penambahan co-substrate memberikan pengaruh pada efisiensi penurunan kandungan minyak solar. Semakin besar penambahan co-substrate, semakin besar efisiensi penurunan kandungan minyak solar.

  4. Penambahan Urea sebagai Co-Substrat pada Sistem High Rate Algae Reactor (HRAR untuk Pengolahan Air Limbah Tercemar Minyak Solar

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ayu Syarifa Darwinastwantya

    2014-09-01

    Full Text Available Kebutuhan bahan bakar minyak di Indonesia semakin meningkat. Peningkatan tersebut mengakibatkan eksplorasi dan pengolahan secara berlebihan. Eksplorasi dan pengolahan berlebihan akan memberikan dampak buruk bagi lingkungan, yaitu limbah. Limbah minyak bumi biasanya langsung dibuang ke lingkungan yang dapat menyebakan pencemaran lingkungan, misalnya air. Pengolahan limbah menggunakan alga dapat digunakan sebagai pengolahan lanjutan tanpa menimbulkan polusi tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan urea sebagai co-substrat terhadap kinerja High Rate Algae Reactor (HRAR dalam menurunkan kandungan minyak dalam air limbah minyak bumi. Variabel penelitian adalah konsentrasi minyak solar dalam air limbah dan konsentrasi urea yang digunakan. Konsentrasi minyak solar yang dipakai berasal penelitian pendahuluan sebesar 346 ppm dan 692 ppm untuk 18 L alga. Penelitian utama dilakukan dengan menambahkan 3 konsentrasi urea yang berbeda. Penelitian dilakukan selama 14 hari setiap dua hari sekali untuk semua parameter. Parameter yang digunakan dalam penelitian adalah kandungan Oil and Grease, Chemical Oxygen Demand (COD, klorofil a, Dissolved Oxygen (DO, pH, nitrogen-amonia, temperatur, dan Mixed Liquor Suspended Solid (MLSS. Dalam penelitian utama, menunjukkan bahwa sistem HRAR dapat mengolah air limbah mengandung minyak solar. Efisiensi penyisihan minyak solar paling optimal oleh sistem HRAR untuk variasi penambahan minyak solar 346 ppm adalah dengan penambahan urea 0,1 gr/L sebesar 83,33% sedangkan untuk variasi penambahan minyak solar 692 ppm menggunakan penambahan urea sebesar 0,3 gr/L sebesar 85,05%.

  5. Pengaruh Konsentrasi Nutrien dan Konsentrasi Bakteri Pada Produksi Alga Dalam Sistem Bioreaktor Proses Batch

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Minarti Oktafiani

    2013-09-01

    Full Text Available Bertambahnya populasi penduduk sebanding dengan meningkatnya kebutuhan manusia, sehingga berdampak negatif terhadap peningkatan kebutuhan akan energi khususnya energi yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak bumi. Oleh sebab itu diperlukan energi alternatif sebagai pengganti bahan baku minyak bumi. Salah satu energi alternatif yang digunakan sebagai pengganti bahan baku minyak bumi adalah biodiesel. Tujuan dari penelitian tugas akhir ini adalah untuk mengkaji pengaruh konsentrasi nutrien dan konsentrasi bakteri pada produksi alga dalam sistem bioreaktor proses batch. Pada penelitian tugas akhir ini menggunakan dua variabel yaitu variabel pertama dengan penambahan nutrien (N dan P dengan menggunakan pupuk NPK sebanyak tiga variasi konsentrasi yaitu 7,5 mg/L, 15 mg/L, 30 mg/L dan variabel kedua penambahan bakteri dengan menggunakan biakan bakteri dari saluran drainase sebanyak tiga variasi konsentrasi yaitu 50 mL, 100 mL, 150 mL. Dalam penelitian ini juga menambahkan mixing pompa sebagai pengadukan selama 24 jam dan waktu pencahayaan dengan bantuan cahaya lampu flourescent selama 12 jam. Penelitian ini dilakukan didalam ruangan. Waktu dalam penelitian tugas akhir ini dilakukan selama 14 hari dengan dua kali running dan waktu kontak 10 hari. Parameter yang akan diteliti dalam penelitian ini terbagi menjadi dua bagian yaitu parameter utama dan parameter tambahan. Parameter tersebut adalah konsentrasi MLSS/MLVSS, N-amonia, N-nitrat, Fosfat, Klorofil a sebagai parameter utama sedangkan untuk pH, suhu dan DO sebagai parameter tambahan.Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh hasil kondisi optimum penambahan konsentrasi nutrien dan konsentrasi bakteri yang dilakukan didalam ruangan yaitu penambahan nutrien sebesar 7,5 mg/L dan bakteri sebesar 150 mL,karena memiliki nilai klorofil a yang seimbang dibandingkan reaktor yang lainnya. Oleh sebab itu, penambahan nutrien dan bakteri yang tepat dapat memproduksi alga dengan jumlah yang optimal di

  6. CARA MENGHILANGKAN RASA DAN BAU PADA PENGOLAHAN AIR MINUM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Soewasti Soesanto

    2012-12-01

    Full Text Available Salah satu syarat kualitas air minum adalah tidak berwarna, tidak ada rasa, dan tidak berbau. Kebanyakan konsumen air minum menilai baik tidaknya kualitas air minum hanya secara visual, keruh atau jernih, berwarna atau tidak dan dengan indera pengecap apakah ada rasa atau tidak serta dengan indera pencium; berbau atau tidak. Tulisan ini hanya akan membahas dua aspek yaitu rasa dan bau yang sering dikeluhkan oleh konsumen.Sumber kontaminasi yang menimbulkan rasa dan bau dalam air dapat bersifat alami maupun anthropogenik.Untuk menghilangkan rasa dan bau karena sebab alami ada beberapa pilihan cara pengolahan yaitu sedimentasi konvensional secara gaya berat (Conventional Gravity Sedimentatin = CGS dan pengembangan udara terlarut (Dissolved Air Flotation = DAF, ozonisasi dan filtrasi dengan karbon aktif granular (Granular Activated Carbon = GAC. 

  7. PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN EFISIENSI AIR DALAM PERTANIAN MADURA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Arsyad Munir

    2012-09-01

    Full Text Available Peningkatan produktivitas, efisiensi  tanah dan air dalam  pertanian wilayah beriklim kering  dalam globalisasi diperlukan strategi  manajemen  sumber daya pertanian. Strategi optimalisasi manajemen produksi dalam  mengatasi permasalahan lingkungan, kesehatan dan pangan perlu dilakukan sehingga mampu eksis pada kondisi perubahan iklim, degradasi tanah dan air serta konversi lahan. Penelitian diskriptif analitik terhadap sumberdaya lahan sawah, tegal dan kebun di Madura serta eksperimen untuk mengevaluasi efisiensi air telah dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan pertanian Madura pada probabilitas cekaman 0, 2 dan 4, selama periode produksi 3, 8 dan 12 bulan menghasilkan produktivitas biomas sebesar 7, 23 dan 32 t ha-1  th-1 dengan penggunaan air sebanyak  1455, 1125 dan 677 mm ha-1 th-1. Produktivitas lahan sawah sebanyak 7,5 t ha-1 pada WUE 11.07 kg mm-1, produktivitas lahan 24.4 t ha-1 dalam periode produktif 6-10 bulan pada WUE 21.69 kg mm-1 sedangkan lahan kebun produktivitas sebanyak 35.5 t ha-1 pada WUE 24.29 kg mm-1.

  8. Analisa Kadar Klorida Pada Air Minum Dan Air Sumur Dengan Metode Argentometri

    OpenAIRE

    Sianturi, Novita Sani

    2015-01-01

    Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Sekitar tiga perempat bagian dari tubuh kita terdiri dari air dan tidak seseorang pun yang dapat bertahan hidup lebih dari 4-5 hari tanpa minum air. Air Sumur merupakan sumber utama persedian air bersih bagi penduduk yang tinggal didaerah perdesaan maupun diperkotaan Indonesia. Kadar klorida yang tinggi, misalnya pada air laut, yang diikuti oleh kadar kalsium dan magnesium yang juga kadarnya tinggi dapat meningkatkan sifat...

  9. Pengaruh Aerasi dan Sumber Nutrien terhadap Kemampuan Alga Filum Chlorophyta dalam Menyerap Karbon (Carbon Sink untuk Mengurangi Emisi CO2 di Kawasan Perkotaan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lancur Setoaji

    2013-09-01

    Full Text Available Penelitian terkait mitigasi pemanasan global, khususnya dalam penyerapan karbon dioksida (CO2, menjadi fokus utama di kalangan ilmuwan dunia. Secara alamiah, karbon dioksida dapat diserap oleh tumbuhan hijau, laut, karbonasi batuan kapur, dan alga. Pigmen hijau dalam alga atau klorofil dapat menyerap karbon dioksida dalam proses fotosintesis. Alga memiliki pertumbuhan yang sangat cepat sehingga cocok digunakan sebagai carbon sink. Penelitian terkait carbon sink ini bertujuan untuk menentukan kemampuan rata-rata serapan CO2 oleh alga di kawasan perkotaan dan menentukan pengaruh aerasi dan variasi sumber N terhadap pertumbuhan dan perkembangan alga. Penelitian ini dilakukan dalam skala laboratorium menggunakan reaktor dengan proses batch. Sampel alga yang digunakan didapatkan dari hasil pengembangbiakan yang bersumber dari perairan di kawasan perkotaan. Penelitian ini menggunakan dua variabel uji, yaitu aerasi dan sumber nutrien. Jumlah karbon dioksida yang diserap didapatkan dari perbandingan stoikiometri pada reaksi fotosintesis.  Berdasarkan perbandingan stoikiometri tersebut diketahui bahwa 1 gram sel alga yang terbentuk sebanding dengan 1,92 gram CO2 yang diserap. Dari hasil penelitian, alga dengan penambahan pupuk urea dapat menyerap 4,87 mg CO2/hari dalam kondisi tanpa aerasi atau 3,84 mg CO2/hari dengan aerasi. Sedangkan alga dengan penambahan pupuk NPK dapat menyerap 3,61 mg CO2/hari dalam kondisi tanpa aerasi atau 3,01 mg CO2/hari dengan aerasi.

  10. Penentuan Kadar Kesadahan Total Dalam Air Baku Dan Air Bersih Dengan Titrasi Kompleksiometri Di PT Inalum Kuala Tanjung

    OpenAIRE

    Irmaliasari Banurea

    2009-01-01

    Telah dilakukan penentuan kadar kesadahan total air sungai Tanjung yang merupakan sumber air baku yang diolah menjadi air bersih di PT INALUM KUALA TANJUNG. Analisis air ini dilakukan dengan menggunakan metode titrasi kompleksiometri dengan menggunakan larutan EDTA dan indikator EBT. Air baku dari sungai dan air bersih yang dianalisa masing-masing 10 sampel dan pengolahan air sungai ini memberikan kadar kesadahan total seperti ditetapkan menurut KEP MENKES RI NO. 416/ MENKES/ PER/ IX/ 1990.

  11. Penggunaan Unit Slow Sand Filter, Ozon Generator dan Rapid Sand Filter untuk Meningkatkan Kualitas Air Sumur Dangkal menjadi Air Layak Minum dengan Parameter Kekeruhan, Fe, dan Mn

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jami’ah Jami’ah

    2014-09-01

    Full Text Available Air tanah dapat diambil masyarakat untuk keperluan sehari-hari. Air tanah terkadang belum memenuhi standar kualitas air minum karena adanya kadar besi, mangan dan kekeruhan yang tinggi. Dari permasalahan tersebut diperlukan adanya teknologi pengolahan yang efektif dan efisien bagi masyarakat. Slow sand filter, proses ozonisasi dan rapid sand filter dapat menjadi alternatif pengolahan air sumur dangkal tercemar menjadi air layak minum.Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisa kemampuan unit slow sand filter, ozon generator dan rapid sand filter dalam menyisihkan besi, mangan, dan kekeruhan yang terkandung dalam air minum.Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi removal pada unit slow sand filter untuk beban besi, mangan dan kekeruhan adalah (84,13%; 4842%; 89,21%, pada proses ozonisasi (75,4%; 47,4%; 35,83%, dan pada unit rapid sand filter (79,63%; 72,2%; 64,94%.

  12. Algae.

    Science.gov (United States)

    Raven, John A; Giordano, Mario

    2014-07-01

    Algae frequently get a bad press. Pond slime is a problem in garden pools, algal blooms can produce toxins that incapacitate or kill animals and humans and even the term seaweed is pejorative - a weed being a plant growing in what humans consider to be the wrong place. Positive aspects of algae are generally less newsworthy - they are the basis of marine food webs, supporting fisheries and charismatic marine megafauna from albatrosses to whales, as well as consuming carbon dioxide and producing oxygen. Here we consider what algae are, their diversity in terms of evolutionary origin, size, shape and life cycles, and their role in the natural environment and in human affairs. PMID:25004359

  13. Pengaruh Aerasi dan Sumber Nutrien terhadap Kemampuan Alga Filum Chlorophyta dalam Menyerap Karbon (Carbon Sink) untuk Mengurangi Emisi CO2 di Kawasan Perkotaan

    OpenAIRE

    Lancur Setoaji; Joni Hermana

    2013-01-01

    Penelitian terkait mitigasi pemanasan global, khususnya dalam penyerapan karbon dioksida (CO2), menjadi fokus utama di kalangan ilmuwan dunia. Secara alamiah, karbon dioksida dapat diserap oleh tumbuhan hijau, laut, karbonasi batuan kapur, dan alga. Pigmen hijau dalam alga atau klorofil dapat menyerap karbon dioksida dalam proses fotosintesis. Alga memiliki pertumbuhan yang sangat cepat sehingga cocok digunakan sebagai carbon sink. Penelitian terkait carbon sink ini bertujuan untuk menentukan...

  14. PEMBUATAN BIOETANOL DARI ALGA Codium geppiorum DAN PEMANFAATAN BATU KAPUR NUSA PENIDA TERAKTIVASI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS BIOETANOL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Wayan Karta

    2015-06-01

    Full Text Available  ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi penambahan ragi tape dan waktu fermentasi terhadap kadar etanol dalam pembuatan bioetanol berbahan alga Codium geppiorum, dan pengaruh variasi suhu aktivasi dan massa batu kapur Nusa Penida dalam meningkatkan kadar etanol. Penelitian adalah True Experiment dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL pola faktorial 3 x 4 yang terdiri dari dua faktor. Kadar etanol diukur dengan Gas Chromatography Varian 3300 dan dianalisis dengan Anava dua jalur menggunakan software SPSS 17.0. Hasil penelitian pada kadar etanol hasil fermentasi menunjukkan nilai Fhitung > Ftabel (38,212 > 2,51 dengan probabilitas 0,000 yang berarti adanya interaksi antara variasi konsentrasi ragi dan waktu fermentasi. Perlakuan yang optimum diperoleh pada W3D3 (waktu 7 hari dan konsentrasi 20% yaitu dengan rata-rata 3,03% dari massa sampel alga 25 gram. Hasil penelitian dehidrasi etanol menunjukkan nilai Fhitung > Ftabel (3,082 > 2,51 dengan probabilitas 0,022 yang berarti terdapat interaksi antara suhu aktivasi dan massa batu kapur dalam dehidrasi etanol. Perlakuan yang optimum adalah M1T1 (massa 50 gram dan suhu 800oC dengan rata-rata kadar etanol 99,15 %. Aplikasi batu kapur dengan dehidrasi optimum mampu meningkatkan kadar bioetanol dari 28,92% menjadi 83,78%. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa variasi konsentrasi ragi tape dan waktu fermentasi berpengaruh signifikan terhadap kadar etanol yang dihasilkan pada pembuatan bioetanol berbahan alga Codium geppiorum; dan variasi suhu aktivasi dan massa batu kapur berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kadar etanol.  ABSTRACT: The aims of this research are to determine the effect of the concentration of yeast addition and length of fermentation on the amount of ethanol produced in the fermentation of algae Codium geppiorum and the effect of activation temperature and the amount of Nusa Penida’s limestone on the concentration of ethanol in the

  15. Penurunan Kandungan Zat Kapur dalam Air Tanah dengan Menggunakan Filter Media Zeolit Alam dan Pasir Aktif Menjadi Air Bersih

    OpenAIRE

    Qorry Nugrahayu; Alfan Purnomo

    2013-01-01

    Salah satu syarat yang harus terpenuhi dalam kualitas air minum dalam parameter kimia adalah kesadahan. Salah satu kesadahan adalah kesadahan kalsium atau yang lebih sering dikenal dengan air kapur. Pada umumnya air tanah atau air sumur mempunyai tingkat kesadahan yang tinggi. Masalah lain yang timbul dari air tanah adalah kandungan Fe dan Mn yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh komposisi media filter yang efektif dan efisien untuk mereduksi kesadahan Kalsium, Fe dan Mn dala...

  16. Penggunaan Arang Tempurung Kelapa dan Eceng Gondok untuk Pengolahan Air Limbah Tahu dengan Variasi Konsentrasi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Angelica Alimsyah

    2013-03-01

    Full Text Available Air limbah tahu yang dibuang langsung tanpa pengolahan dapat mencemari badan air. Sesuai dengan hasil laboratorium, air limbah tahu yang dibuang memiliki kandungan nutrien yang tinggi dan tidak memenuhi baku mutu. Dengan adanya permasalahan tersebut maka diperlukan adanya pengolahan air limbah tahu. Salah satu alternatif pengolahan adalah menggunakan arang tempurung kelapa dan eceng gondok. Kontaminan pada air limbah tahu diharapkan dapat berkurang dengan adanya proses adsorpsi yang dilakukan arang tempurung kelapa dan fitoremediasi yang dilakukan oleh eceng gondok. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pengaruh konsentrasi air limbah tahu terhadap penurunan NH4, TSS, dan COD yang dilakukan oleh arang tempurung kelapa dan tumbuhan eceng gondok. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah konsentrasi air limbah 60% dan 50% serta Parameter yang digunakan adalah NH4, TSS, dan COD. Dari hasil penelitian terlihat peningkatan efisiensi dari berbagai macam kerapatan tumbuhan.

  17. PEMISAHAN ION KROM(III DAN KROM(IV DALAM LARUTAN DENGAN MENGGUNAKAN BIOMASSA ALGA HIJAU SPIROGYRA SUBSALSA SEBAGAI BIOSORBEN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M Mawardi

    2014-05-01

    Full Text Available Karakteristik pemisahan ion Cr3+ dan Cr6+ dalam larutan melalui proses biosorpsi menggunakan biomassa alga hijau Spirogyra subsalsa dengan sistem batch telah diteliti. Dalam pelaksanaannya diawali dengan melakukan analisis kualitatif gugus fungsi dalam biomassa menggunakan instrumen FTIR, kemudian dipelajari karakteristik pengaruh variabel pH awal larutan, ukuran partikel biosorben, kecepatan pengadukan, pengaruh pemanasan biosorben, laju penyerapan, pengaruh konsentrasi larutan ion logam terhadap kapasitas serapan biomassa alga. Berdasarkan spektra spektroskopi FTIR dapat disimpulkan bahwa  biomassa alga hijau S. Subsalsa mengandung gugus-gugus karboksilat, amina, amida, amino, karbonil dan hidroksil, disamping adanya senyawa silikon, belerang dan fosfor. Hasil penelitian yang diperoleh  memperlihatkan bahwa kapasitas biosorpsi sangat dipengaruhi oleh pH larutan, waktu kontak dan konsentrasi awal larutan. Biosorpsi optimum kation Cr3+ terjadi pada pH 4,0 sedangkan ion Cr6+ terjadi pada pH 2,0 kemudian berkurang dejalan dengan naiknya pH larutan. Perhitungan dengan persamaan Isoterm Langmuir diperoleh data kapasitas serapan maksimum biomassa alga S. subsalsa untuk masing-masing ion Cr3+ dan Cr6+ adalah 1,82 mg (0,035 mmol dan 1,51 mg (0,029 mmol per gram biomassa kering. Kinetika biosorpsi berlangsung relatif cepat, dimana selama selang waktu 30 menit, masing-masing ion terserap sekitar 95,7%; dan 86,5%. Daya serap biomassa juga dipengaruhi kecepatan pengadukan, sedangkan faktor ukuran partikel dan pemanasan biosorben kurang mempengaruhi daya serap biomassa. Key Word : biosorpsi, spirogyra subsalsa, krom(III, krom(VI, sistem batchAbstract Separation of Ion Chromium(III and Chromium(IV In Solution Using Green Algae Biomass Spirogyra subsalsa as Biosorbent. The characteristics of Cr3+andCr6+ ion separation in solution through biosorption process using green algal biomass Spirogyrasubsalsa with batch systems have been investigated. The study

  18. GAMBARAN KEMUDAHAN MEMPEROLEH AIR DAN SARANA PENYIMPANAN AIR TERHADAP KASUS DBD DI KOTA SEMARANG, KABUPATEN WONOSOBO DAN KABUPATEN JEPARA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wiwik Trapsilowati

    2011-12-01

    Full Text Available ENGLISHHow to get clean water and habits of people to keep the water in the containers before it is used for household purposes is the potential to become a breeding site of Aedes aegypti mosquitoes. The purpose of this study is to determine the relation of water supply and water storage method with the occurrence of DHF cases. Research was conducted in Semarang city, Jepara and Wonosobo regencies. Results showed that 82.5% of the public in the survey area is easy to obtain water for domestic use year-round. When compared with the number of DHF cases found in that area easy to get more water has more sufferers (83.6% of cases than in areas difficult to get water during the dry season (16.4%. From the test results with the Chi square statistic (X2 showed no significant correlation between DHF cases with the ease of obtaining water for daily needs throughout the year, with P> 0.05. 60.7% of the public already has a reservoir container closed, 17.5% and amounted to an open reservoir container, 18.4% of all people who have no water (direct from the source. From the statistical test showed that there was significant relationship between DHF cases with ownership of water reservoir with a P <0.05. People who have more water reservoirs affected by the DHF cases compared to people has no water reservoirs for domestic use. Most people have no trouble obtaining water for domestic use year round and most also have a water storage fasilities for household purposes, then the 3M program (drain, cover and bury must remain fixed emboldened by seeing the potential of local communities for conservationINDONESIACara memperoleh air bersih dan kebiasaan masyarakat dalam menyimpan air pada tempat penampungan air sebelum digunakan untuk keperluan rumah tangga merupakan tempat potensial untuk menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keterkaitan ketersediaan air bersih dan cara penyimpanan air dengan

  19. KANDUNGAN LOGAM BERAT PADA AIR DAN SEDIMEN DI PERAIRAN SOCAH DAN KWANYAR KABUPATEN BANGKALAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wahyu Andy Nugraha

    2009-10-01

    Full Text Available Logam berat sangat berbahaya bagi biota laut maupun trofik level diatasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat di perairan Socah dan Kwanyar kabupaten Bangkalan. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan. Pengambilan sampel air menggunakan botol sampel, sedangkan pengambilan sampel sedimen menggunakan grab sampler. Sampel kemudian dianalisa dengan spektrofotometer serapan atom (SSA. Hasil menunjukkan bahwa kandungan logam berat Cd, Cu, Pb, dan Hg pada air di perairan Socah dan Kwanyar masih dibawah ambang batas baku mutu air laut, sedangkan kandungan logam berat di sedimen melebihi ambang batas baku mutu air laut untuk biota laut. Secara umum, kandungan logam berat di sedimen lebih tinggi dari pada kandungan logam berat di air. Kata Kunci : Logam berat, Pencemaran, Spektrophotometer  HEAVY METALS CONTENTS IN WATER AND SEDIMENT IN KWANYAR AND SOCAH WATER, BANGKALANHeavy metals are very dangerous for marine life as well as the trophic level above. This study aims to determine the content of heavy metals in the waters Socah and Kwanyar Bangkalan. This study was conducted over 3 months. Water sampled using a sample bottle, while sediment samples was taken using a grab sampler. The sample was then analyzed by atomic absorption spectrophotometer (AAS. Results showed that the content of heavy metals Cd, Cu, Pb and Hg in the water in the Socah and Kwanyar waters still below the seawater quality standard limits, whereas the heavy metal content in sediments exceeded the water quality standard for marine sea. In general, the content of heavy metals in sediment is higher than on the water.Keywords: Heavy metals, Pollution, AAS

  20. EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI DAUN ZODIA (Evodia suaveolens) DENGAN METODE MASERASI DAN DISTILASI AIR

    OpenAIRE

    Prima Astuti Handayani; Heti Nurcahyanti

    2014-01-01

    Daun zodia merupakan tumbuhan yang berpotensi sebagai insektisida nabati. Daun zodia mengandung senyawa aktif limonene yang bersifat neurotoksin terhadap serangga. Pengambilan minyak atsiri daun zodia dilakuan dengan metode maserasi dan metode distilasi air. Pada metode maserasi bahan digunakan etanol dan dimaserasi selama 3x24 jam. Kemudian didistilasi untuk menguapkan pelarut etanol. Untuk metode distilasi air bahan didistilasi selama 3 jam, campuran minyak dan air dipisahkan dengan menamba...

  1. Membran Polisulfon untuk Pengolahan Air: Dengan dan Tanpa Pra Perlakuan Koagulasi secara Ultrafiltrasi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bastian Arifin

    2014-06-01

    Full Text Available Membran polisulfon untuk pengolahan air telah dilakukan untuk mengurangi warna air dengan proses koagulasi dan tanpa proses koagulasi. Membran ultrafiltrasi polisulfone telah dikarakte-risasi dengan mengukur fluks, permeability (Lp, dan MWCO dengan bebagai variasi berat molekul dekstran. Morfologi membran diobservasi dengan scanning electron microscopy (SEM. Analisis SEM dilakukan terhadap permukaan membran dan penampang melintang membran. Proses koagulasi optimum dilakukan dengan menggunakan alat jar test, diperoleh kondisi optimum pada 50 ppm Al2(SO43 dan pH 7. Indeks warna rejeksi diperoleh dengan koagulasi adalah 85% dan tanpa koagulasi adalah 62%.

  2. Studi Kelayakan Pengolahan Air Laut Menjadi Air Bersih di Kawasan Wisata dan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN Pantai Prigi, Trenggalek

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Agista Ayuningtyas Puspita Dwijayani

    2013-09-01

    Full Text Available Ketersediaan air bersih diperlukan pula dalam bidang kepariwisataan. Salah satunya ialah kawasan wisata alam Pantai Prigi, Trenggalek. Namun kondisi air saat ini masih memiliki kandungan TDS (Total Dissolved Solid dan salinitas yang cukup tinggi sehingga dibutuhkan suatu teknologi untuk mengolah air asin menjadi air tawar agar memenuhi standar baku mutu air bersih. Salah satu teknologi yang dapat diterapkan untuk mengolah air asin atau payau menjadi air tawar adalah dengan sistem Reverse Osmosis (RO. Penentuan kapasitas SWRO ditentukan dengan memproyeksikan jumlah pengunjung kawasan wisata Pantai Prigi dan kebutuhan air kolam apung hingga tahun 2023. Hasil proyeksi diperoleh kebutuhan air sebesar 729,40 m3/hari pada penggunaan maksimum. Dengan desain SWRO yaitu menggunakan pretreatment rapid sand filter dan filter karbon aktif untuk meremoval kandungan TDS, kesadahan total, khlorida, sulfat, dan bilangan KMnO4 (zat organik. Biaya yang dibutuhkan untuk membuat sistem pengolahan air laut dengan SWRO sebesar Rp 5.077.307.500,00.Perencanaan sistem pengolahan air laut menjadi layak jika air reject dari SWRO sebesar 1463,28 m3/hari dimanfaatkan menjadi wisata kolam apung, garam, dan air nigari dengan investasi total sebesar Rp 7.326.095.500,00. Dengan analisa kelayakan secara ekonomi  menggunakan prinsip ekonomi teknik, pada alternatif ini diperoleh nilai NPV sebesar Rp 25.024.360.250,24 ; IRR sebesar 23,7% ; dan Payback periode pada tahun ke-3 dengan keuntungan yang diperoleh Rp 3.915.665.044,80 per tahun.

  3. Tempat Penampungan Air dan Kepadatan Jentik Aedes sp. di Daerah Endemis dan Bebas Demam Berdarah Dengue

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wanti Wanti

    2014-12-01

    Full Text Available Tingkat kepadatan jentik merupakan indikasi diketahuinya kepadatan nyamuk Aedes sp yang akan menularkan virus dengue sebagai penyebab penyakit demam berdarah dengue (DBD dan juga sebagai salah satu indikator keberhasilan kegiatan pengendalian vektor. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik tempat penampungan air (TPA dan perbedaan kepadatan jentik House Index, Container Index, Breatau Index (HI, CI, BI di Kelurahan Alak sebagai daerah endemis dan Kelurahan Belo sebagai daerah bebas DBD di Kota Kupang Tahun 2011. Penelitian observasional analitik ini menggunakan rancangan studi potong lintang. Variabel penelitian adalah jenis, kondisi, letak, bahan TPA dan kepadatan jentik Aedes sp. Data dikumpulkan dengan observasi langsung pada TPA dan rumah terpilih. Data disajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis dengan uji-t. Penelitian ini menemukan TPA positif jentik paling banyak adalah TPA untuk kebutuhan sehari-hari, kondisi TPA tidak tertutup rapat, letak TPA di luar rumah, bahan TPA adalah bahan keramik, dan warna TPA adalah warna putih. Hasil penelitian menunjukkan nilai dari HI 0,887, CI 0,146 dan BI 0,080, yang artinya tidak ada perbedaan kepadatan jentik antara Kelurahan Alak (daerah endemis dengan Kelurahan Belo (daerah bebas. Disimpulkan tidak ada perbedaan kepadatan jentik (HI, CI, dan BI antara daerah endemis dan daerah bebas DBD. Kedua daerah sama-sama memiliki tingkat kepadatan jentik yang tinggi, sehingga disarankan pemberantasan sarang nyamuk tidak hanya diprioritaskan pada daerah endemis DBD tetapi juga daerah daerah bebas DBD. Water Container and the Aedes sp. Larvae Density in Endemic and Free Dengue Haemorrhagic Fever The larva density is an indication of the density of Aedes sp known to be capable of transmitting the dengue virus as the cause of dengue haemorrhagic fever (DHF and also as one of the indicators of the success of vector control activities. This study aimed to determine the difference of the water

  4. UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENCEMARAN AIR AKIBAT PENAMBANGAN EMAS DI SUNGAI KAHAYAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mrs. Heriamariaty

    2012-02-01

    Full Text Available The absence of Public Mining Area and continued use of mercury is responsible for the illegal gold mining and water pollution in Kahayan river. Efforts must be made to avoid and overcome environmental impact by strengthening coordination in central and regional level; empowering local community; and imposing sanction as law enforcement method. Belum adanya Wilayah Pertambangan Rakyat serta penggunaan merkuri mendorong terjadinya penambangan emas tanpa izin dan pencemaran air di Sungai Kahayan. Untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran ini diperlukan koordinasi di tingkat pusat dan daerah; penyuluhan dan pendekatan di bidang sosial, ekonomi, budaya, hukum, dan teknologi; serta penegakan hukum secara tegas melalui penerapan sanksi.

  5. KOMBINASI ULTRAFILTRASI DAN DISSOLVED AIR FLOTATION UNTUK PEMEKATAN MIKROALGA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Nyoman Widiasa

    2014-05-01

    Full Text Available Abstrak Mikroalga merupakan mikroorganisme fotosintetik prokariotik atau eukariotik yang dapat tumbuh dengan cepat. Pemanfaatan mikroalga tidak hanya berorientasi sebagai pakan alami untuk akuakultur, tetapi terus berkembang untuk bahan baku produksi pakan ternak, pigmen warna, bahan farmasi (β-carotene, antibiotik, asam lemak omega-3, bahan kosmetik, pupuk organik, dan biofuel (biodiesel, bioetanol, biogas, dan biohidrogen. Studi ini bertujuan untuk menginvestigasi kombinasi ultrafiltrasi (UF – dissolved air flotation (DAF untuk pemekatan mikroalga skala laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan fluks membran UF secara tajam sebagai akibat dari deposisi sel mikroalga terjadi pada 20 menit pertama proses filtrasi. Backwash pada interval 20 menit selama 10 detik dengan tekanan 1 bar memberikan pengendalian fouling yang efektif dalam nilai kestabilan fluks yang layak. Membran UF yang digunakan dapat memberikan selektivitas pemisahan biomassa mikroalga ~ 100%. Kualitas permeat sangat stabil, yaitu kekeruhan < 0,5 NTU, kandungan organik < 10 mg/L, dan warna < 10 PCU. Lebih lanjut, pemekatan retentat membran dengan DAF pada tekanan saturasi 6 bar dapat menghasilkan pasta mikroalga dengan konsentrasi 20 g/L. Koagulan PAC perlu ditambahkan kedalam umpan DAF dengan dosis 1,3–1,6 mg PAC/mg padatan tersuspensi.   Kata Kunci: ultrafiltrasi; dissolved air flotation; pemanenan mikroalga; pemekatan mikroalga   Abstract COMBINATION OF Ultrafiltration and Dissolved Air Flotation for Microalgae CONCENTRATION. Microalgae is a prokaryotic photosynthetic microorganism or eukaryotic microorganism  that proliferate rapidly. Cultivation of the microalgae is not only oriented  as natural food for aquacultures, but also developed  for animal food, color pigment, pharmaceutical raw material (β-carotene, antibiotic, fatty acid omega-3, cosmetic raw material, organic fertilizer, and biofuels (biodiesel, bioethanol, biogas, and biohydrogen. This

  6. Penurunan Kandungan Zat Kapur dalam Air Tanah dengan Menggunakan Media Zeolit Alam dan Karbon Aktif Menjadi Air Bersih

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gianina Qurrata Dinora

    2013-09-01

    Full Text Available Salah satu syarat kimia yang harus dipenuhi dalam air bersih adalah kesadahan. Salah satu penyebab utama terjadinya kesadahan adalah kandungan Ca2+ (kesadahan kalsium atau biasanya disebut air kapur. Selain kandungan air kapur yang tinggi, penyebab air tanah tidak dapat langsung digunakan adalah kadungan besi dan mangan yang tinggi pula. Untuk itu, dibutuhkan unit filter skala rumah tangga yang dapat menjadi pengolahan alternatif untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Penelitian ini  bertujuan untuk mendapatkan komposisi media filter yang efektif dan effisien untuk penyisihan kesadahan kalsium, Fe, dan Mn dalam air tanah dan mendapatkan waktu breakthrough. Media filter yang digunakan pada penelitian ini adalah media zeolit alam dan karbon aktif disusun secara stratifikasi dengan perbandingan ketinggian pada masing-masing reaktor filter. Media filter tersebut akan dialiri dengan tiga variasi konsentrasi kesdahan kalsium. Hasil dari penelitian ini, didapatkan komposisi media yang paling efektif dalam menurunkan kandungan kesadahan kalsium adalah komposisi III dengan perbandingan ketinggian media zeolit alam dan karbon aktif sebesar 30 cm : 60 cm. Pada variasi konsentrasi 1 mampu melakukan penyisihan sebesar 96,52%, konsentrasi 2 mampu melakukan penyisihan sampai 94,67%, dan konsentrasi 3 mampu melakukan penyisihan sebesar 90,22%

  7. Kombinasi Proses Koagulasi dan Sistem Ultrafiltrasi dengan Membran Poliakrilonitril untuk Pemurnian Air Berwarna

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Aprilia

    2013-12-01

    Full Text Available Penelitian pengolahan air berwarna berdasarkan proses koagulasi dan ultrafiltrasi dengan membran poliakrilonitril (PAN telah dilakukan. Studi ini bertujuan untuk membuat dan mengevaluasi karakteristik membran PAN untuk aplikasi pada pengolahan air berwarna. Membran PAN berbentuk plat dibuat dengan melarutkan polimer PAN kedalam dimetilformamida (DMF. Konsentrasi PAN divariasikan pada 15, 20, dan 25 (% berat. Membran yang dihasilkan selanjutnya dikarakterisasi untuk parameter struktur morfologi dengan scanning electron microscopy (SEM, fluks dan rejeksi larutan menggunakan modul filtrasi tipe dead-end. Selanjutnya dilakukan uji molecular weight cut-off (MWCO membran menggunakan larutan dekstran dengan berat molekul 9500, 19500, dan 39000 Da. Hasil uji SEM menunjukkan bahwa membran mempunyai pori dengan struktur asimetrik. Uji ultrafiltrasi yang diawali dengan proses koagulasi dapat merejek warna air 92,5%, dengan perolehan fluks mencapai 364,8 ml/m2.s.

  8. Penggunaan Unit Slow Sand Filter, Ozon Generator dan Rapid Sand Filter Skala Rumah Tangga Untuk Meningkatkan Kualitas Air Sumur Dangkal Menjadi Air Layak Minum (Parameter Zat Organik dan Deterjen

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anindya Prawita Sari

    2014-09-01

    Full Text Available Air sumur merupakan air tanah yang sering kali digunakan masyarakat untuk aktivitas sehari-hari. Air sumur dengan kadar organik dan deterjen tinggi tidak layak dikonsumsi masyarakat karena dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Selain itu, adanya zat organik dan deterjen mempengaruhi warna dan bau air sumur sehingga tidak layak konsumsi. Slow sand filter merupakan unit pengolahan yang mampu meremoval zat organik pada air. Slow sand filter dan rapid sand filter tidak menggunakan bahan kimia dalam proses pengolahan sehingga lebih ekonomis dan efektif. Sedangkan ozon, efektif digunakan untuk meremoval zat organik yang ada dalam air dengan mengubah rantai zat organik menjadi lebih sederhana. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan penggunaan slow sand filter, ozon generator dan rapid sand filter dalam menyisihkan beban deterjen dan zat organik pada air sumur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi removal pada unit slow sand filter untuk beban organik dan deterjen sebesar 57,6% dan 60,5 %, pada unit ozonasi sebesar 47,4% dan 17,5%, dan pada unit rapid sand filter sebesar 50,0% dan 50,9 %.

  9. Penurunan Kandungan Zat Kapur dalam Air Tanah dengan Menggunakan Media Zeolit Alam dan Karbon Aktif Menjadi Air Bersih

    OpenAIRE

    Gianina Qurrata Dinora; Alfan Purnomo

    2013-01-01

    Salah satu syarat kimia yang harus dipenuhi dalam air bersih adalah kesadahan. Salah satu penyebab utama terjadinya kesadahan adalah kandungan Ca2+ (kesadahan kalsium) atau biasanya disebut air kapur. Selain kandungan air kapur yang tinggi, penyebab air tanah tidak dapat langsung digunakan adalah kadungan besi dan mangan yang tinggi pula. Untuk itu, dibutuhkan unit filter skala rumah tangga yang dapat menjadi pengolahan alternatif untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Penelitian ini  bertujuan...

  10. KARAKTERISASI GLIKOSAMINOGLIKAN DARI TULANG RAWAN IKAN PARI AIR LAUT (Neotrygon kuhlii DAN PARI AIR TAWAR (Himantura signifer

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bambang - Riyanto

    2014-06-01

    Full Text Available Ikan pari merupakan komoditas perikanan yang populasinya besar di Indonesia, tetapi pemanfaatannyabelum optimal. Jaringan tulang rawan ikan pari mengandung molekul glikosaminoglikan dan telahdimanfaatkan dalam terapi osteoarthritis. Tujuan penelitian ini adalah menentukan karakteristikglikosaminoglikan dari tulang rawan ikan pari air laut (Neotrygon kuhlii dan pari air tawar (Himanturasignifer. Spektrum FTIR memperlihatkan pola yang sama dengan kondroitin sulfat. Konsentrasiglikosaminoglikan pada pari air laut adalah 74,767 mg/100 mL, konsentrasi ini lebih tinggi dibandingkandari ikan pari air tawar, yaitu 66,767 mg/100 mL.Kata kunci: glikosaminoglikan, Himantura signifer, kondroitin sulfat, Neotrygon kuhlii, osteoarthritis

  11. PERANCANGAN DAN PEMBUATAB ALAT UKUR KADAR KROM DALAM AIR DENGAN MENGGUNAKAN PRINSIP SPEKTROSKOPI SERAPAN ATOM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tin Yunis Mahfudloh, Mohammad Tirono

    2012-04-01

    Full Text Available Air adalah bahan yang berperan penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Air steril dengan kandungan mineral yang cukup dan tidak terpolusi dapat berperan sebagai cairan yang menata keseimbangan tubuh. Apabila air yang dikosumsi manusia telah tercemar oleh sampah dan limbah industri yang mengandung zat-zat kimia/logam berat yang bersifat racun akan berbahaya Seperti kromium/krom dengan kode kimiawi Cr. Penelitian dilakukan untuk membuat alat ukur kadar krom dalam air dengan metode absorpsi dengan instrumen fotometri. Alat ukur kadar krom dalam air menggunakan prinsip spektroskopi serapan atom terdiri dari 2 sistem, yaitu sistem optik dan sistem elektronik. Sistem optik terdiri dari lampu halogen, filter cahaya dengan panjang gelombang 520.4, kuvet dan sensor photodioda. Sedangkan sistem elektronik terdiri dari ADC 0804, MCU AT89S51 dan LCD.  Prinsip keja alat ini adalah cahaya polikromatis yang dipancarkan oleh lampu halogen akan melewati filter sehingga cahaya polikromatis akan bersifat monokromatis. Cahaya akan melewati air dengan kadar krom 0% untuk mereset reagen dan pelarut kemudian dideteksi oleh sensor sehingga menghasilkan data I0. Setelah dideteksi air  akan bergeser ke atas dan sensor bergeser kebelakang untuk mendeteksi sampel yang mempunyai kadar krom tertentu dan menghasilkan data I1. Di dalam sampel ini terjadi penyerapan intensitas cahaya oleh atom krom. Kemudian data I0 dan I1 akan diolah oleh MCU AT89S51 dan ditampilkan pada LCD. Sampel yang digunakan adalah larutan H2O dengan K2Cr2O7 sebanyak 10 sampel dengan variasi kadar 0%, 1%, 1.5%, 2%, 2.5%, 3%, 3.5%, 4%, 4.5%, dan 5%. Larutan krom diperoleh dengan cara mengencerkan 10gr K2Cr2O7 dalam 100ml H2O sehingga didapatkan K2Cr2O7 10% sebagai larutan stok, selanjutnya untuk mendapatkan K2Cr2O7 dengan kadar tertentu, maka diambil dari larutan stok kemudian diencerkan sampai volume 25 ml sesuai dengan rumus M1 V1 =M 2 V2 Hasil pegujian pada sistem elektronik menunjukkan

  12. Penelusuran Protein Bioaktif dalam Makro Alga Sebagai Bahan Antibakteri dan Antijamur

    OpenAIRE

    Ahyar, Ahmad

    2007-01-01

    A research on anti-microbial bioactivity of protein fraction isolated from several species of macro algae of baranglompo island in South Sulawesi by using polar solvent buffer of 0.1 M Tris-HCl with pH 8.3 containing 2 M NaCl 0.01 M CaCl2, 1% ??-mercaptoethanol, 0.5 % Triton X-100 has been conducted. The concentration of protein was determined by the lowry method and the bioactivity tes was investigated by a gel diffusion method. Results showed that the concentration of protein in the crude e...

  13. PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA AIR UNTUK IRIGASI DI KABUPATEN SLEMAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hery Listyawati

    2012-07-01

    Full Text Available Supervision and control of utilization of water resources for irrigation in Sleman regency is vital in realizing fair use of water resources. This descriptive-qualitative study finds that preventive-internal supervision has been consistent with those set forth in the working procedures and that repressiveinternal supervision is present in the form of sanctions. The locals enjoy preventive and repressive eksternal supervisionary role, which is manifested in local gatherings and public reporting system. We also find that the government exerts control by licensing, reprimands, advocacy, direction, and conflict resolution mechanisms. Practical problems include the absence of provincial irrigation commission and specific agencies that supervise the enforcement of mediation. Pengawasan dan pengendalian pemanfaatan sumber daya air untuk irigasi di Kabupaten Sleman sangat penting dalam mewujudkan penggunaan sumber daya air yang adil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawasan internal-preventif telah sesuai dengan yang dimandatkan oleh tugas pokok dan fungsi dan bahwa pengawasan internal-represif telah dilaksanakan dalam bentuk sanksi. Masyarakat melakukan pengawasan preventif dan represif dalam bentuk sarasehan/musyawarah dan sistem pelaporan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemerintah mengendalikan penggunaan sumber daya air dengan menyelenggarakan sistem perizinan, teguran, pembinaan, dan penyelesaian sengketa. Beberapa masalah yang ditemukan di lapangan antara lain adalah tidak adanya komisi irigasi provinsi dan lembaga pengawas khusus yang mengawasi pelaksanaan putusan mediasi.  

  14. Efektivitas Bioremediasi Lima Jenis Tanaman Terhadap Kandungan Logam Berat (Cr2+dan Pb2+ dalam Air

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I.G. Seregeg

    2012-09-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian di Laboratorium, tentang efektivitas bioremediasi lima jenis tanaman ; mendong {Scirpus articularis welingi (Cyperus sp, purun (Typha sp., tales-talesan (Typhonium sp, kangkung (Ipomoea aquatica terhadap kandungan Cr2+ dan Pb2+ dalam air tercemar di Jakarta, Desember 1994. Kelima jenis tanaman tersebut ditempatkan dalam akuarium berkapasitas 10 liter, yang diisi air tercemar Cr2+ dan Pb2+ sebanyak lima liter. Penelitian ini dilengkapi dengan akuarium kontrol, seluruh perlakuan diulang dua kali. Hasilnya menunjukkan, bahwa semua jenis tanaman mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Kemampuan yang paling kuat ditunjukkan oleh purun disusul berturut-turut oleh welingi, mendong, kangkung dan tales-talesan. Pengaruh tanam terhadap Pb2+ menunjukkan, daya serap yang cukup kuat dan pola urutannya sama seperti yang ditunjukkan terhadap Cr2+. Tanaman yang tumbuh tegak dengan batang yang kuat (rumput-rumputan mempunyai daya serap yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman menjalar.

  15. Perancangan Mesin Pencampur Kelapa Parut Dan Air Pada Alat Pemeras Santan Kelapa

    OpenAIRE

    Sagala, Baginda Amin

    2013-01-01

    Santan merupakan cairan yang berwarna putih dan kental, yang diperoleh dengan cara memeras daging kelapa segar yang telah diparut atau dihancurkan dengan penambahan air. Dalam industri makanan di Indonesia, peran santan sangat penting baik sebagai penambah aroma, cita rasa dan perbaikan tekstur bahan pangan hasil olahan. Pemanfaatan santan pada umumnya adalah untuk bahan campuran masakan baik di rumah tangga, restoran maupun industri rumahan, seperti pembuatan panganan seperti kue. Dalam pros...

  16. Kombinasi Metode Independent Component Analysis (ICA dan Beamforming untuk Pemisahan Sinyal Akustik Bawah Air

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mandala Anugerahwan Firstanto

    2013-09-01

    Full Text Available Pada bidang perkapalan atau kelautan, sinyal akustik merupakan sebuah sinyal noise. Hal ini dikarenakan sinyal akustik yang ingin kita analisis tercampur dengan sinyal lain. Perlu adanya metode untuk memisahkan sinyal akustik dari suara yang terdapat dalam medium air dan mengetahui arah datang sumber suara. Dalam tugas akhir ini dilakukan pemisahan sinyal akustik dengan menggunakan kombinasi metode ICA dan beamforming. Pemisahan sinyal akustik dilakukan tiga kali. Pertama, simulasi pemisahan suara menggunakan pemodelan shallowwaterdengan algoritma FastICA dan delayandsum(DS beamformer. Kedua, dengan menggunakan toolboxICALAB. Ketiga, pemisahan sinyal akustik secara riil, hasil rekaman dengan menggunakan hydrophone. Hasil simulasi menunjukkan bahwa, algoritma FastICA dapat memisahkan sinyal akustik dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan nilai MSE sebesar 3.6399×〖10〗^(-5 dan nilai SIR sebesar 45,72dB. Pada pemisahan suara secara riil, jarak antara speaker dengan hydrophone menentukan kualitas pemisahan suara. Semakin jauh jarak antara speaker dengan hydrophone, semakin berkurang nilai MSE dan SIR pada proses pemisahan suara bawah air. Hal ini dapat dilihat pada jarak 1 meter nilai mean SIR bernilai 51,29dB, jarak 5 meter bernilai 48.55dB, jarak 10 meter bernilai 41,73dB. Algoritma DS beamformer dapat menentukan sumber suara dalam medium air dengan jarak minimal speaker dengan hydrophone10 meter. Peletakan speaker dan hydrophone yang saling berhadapan akan mendapatkan hasil yang maksimal.

  17. Analisis Pengaruh Salinitas dan Temperatur Air Laut pada Wet Underwater Welding terhadap Laju Korosi

    OpenAIRE

    Adrian Dwilaksono; Heri Supomo; Triwilaswandio Wuruk Pribadi

    2013-01-01

    Struktur konstruksi badan kapal lambat laut mengalami kerusakan . Apabila kapal mengalami kerusakan pada konisi darurat, pekerjaan las bawah air menjadi hal yang diutamakan. Sedangkan faktor korosi pada pengelasan basah bawah air merupakan masalah yang pasti terjadi. Melalu penelitian ini dikaji perbandingan laju korosi sambungan las material baja karbon rendah yang diberi perlakuan pengelasan basah bawah air dengan salinitas 33‰ , 35‰ dan suhu 200C, 250C. Dari keempat variasi pengelasan ters...

  18. Uji Kualitas Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Sukodono, Sidoarjo Ditinjau Dari Perilaku dan Pemeliharaan Alat

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yoga Ardy Pradana

    2013-09-01

    Full Text Available Seiring dengan kemajuan teknologi sekarang ini dan diiringi dengan semakin sibuknya aktivitas manusia maka masyarakat cenderung memilih cara yang lebih praktis dengan biaya relatif murah dalam memenuhi kebutuhan air minum yaitu dengan menggunakan air minum isi ulang  terutama di kecamatan Sukodono, Sidoarjo. Agar air minum isi ulang yang dikonsumsi oleh masyarakat di kecamatan Sukodono, Sidoarjo aman untuk dikonsumsi, maka perlu dilakukan uji kualitas apakah kandungan dalam air minum isi ulang sudah memenuhi Peraturan Menteri Kesehatan No 492/MENKES/PER/IV/2010 tantang persyaratan kualitas air minum. Parameter yang diuji meliputi Total Coliform, TDS, Kekeruhan dan Warna. Kualitas air minum isi ulang ditunjang oleh cara pemeliharaan peralatan produksi. Prosedur pemeliharaan alat dari masing-masing depo air minum isi ulang diperoleh melalui wawancara dan penggunaan kuesioner. Hasil uji laboratorium dari 8 depo air minum isi ulang ada yang belum memenuhi parameter Total Koliform sebanyak 5 depo. Berdasarkan hasil kuesioner 5 depo tersebut termasuk dalam kategori cukup, yang berarti masih kurang dalam melakukan pemeliharaan alat.

  19. PENGARUH VISKOSITAS DAN LAJU ALIR TERHADAP HIDRODINAMIKA DAN PERPINDAHAN MASSA DALAM PROSES PRODUKSI ASAM SITRAT DENGAN BIOREAKTOR AIR-LIFT DAN KAPANG Aspergilus Niger

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Kristinah Haryani

    2012-04-01

    Full Text Available  EFFECT OF VISCOSITY AND FLOW RATE ON THE HYDRODYNAMICS AND MASS TRANSFER ON CITRIC ACID PRODUCTION USING Aspergilus Niger YEAST IN AN AIR-LIFT BIOREACTOR. Citric acid is an important organic acid that has many advantages used in foods, drinks, pharmaceuticals industries. Waste of pine apple (covers and core of the fruit still have high contents of glucose and sucrose components, that these are potentially used as basic material for making citric acid by means of fermentation using Aspergillus niger. The reactor to do so is a reactor air-lift external loop with 88 cm in height, 45.41 cm2 in riser area, and 2.01 cm2 in downcomer area. This research is intended to study the influence of volumetric flow and viscosity upon mass transfer in the fermentation process of citric. The variable factors are concentration of total sugar (5 to 25% and of volumetric flow of gas 9.4 to 23.3 cc/second. A dynamic method used to measure of the constants transfer  of gas-fluid mass where oxygen concentration soluted is measured every 30 second using DO meter device. Result of this research shows that the increase of viscosity causes the decrease of hold up gas and fluid circulation speed of the fluid, and the decrease of the constants of mass transfer. The increase of air speed flow will cause the increase of hold up gas and fluid circulation speed, and constants of mass transfer. Relation of the constraints of mass transfer to volumetric flow and viscosity is formulated as follow    Asam sitrat adalah asam organik penting yang sangat banyak kegunaannya seperti untuk industri makanan, minuman, farmasi, dan sebagainya. Limbah nanas (kulit dan bonggol masih mengandung kadar glukosa dan sukrosa yang cukup tinggi, sehingga sangat potensial sebagai bahan baku pembuatan asam sitrat dengan cara fermentasi bantuan kapang Aspergillus niger. Reaktor yang digunakan adalah reactor air-lift external loop. Reaktor yang digunakan berdimensi tinggi 88 cm, luas daerah riser 46

  20. TEKNIK PENGATURAN AIR PADA INTENSIFIKASI PADI AEROB TERKENDALI-BERBASIS ORGANIK (IPAT-BO UNTUK MENINGKATKAN POPULASI RHIZOBACTERIA, EFISIENSI PENGGUNAAN AIR, PERAKARAN TANAMAN, DAN HASIL TANAMAN PADI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hingdri -

    2013-03-01

    Full Text Available Teknik pengaturan air pada budidaya tanaman padi melalui Intensifikasi Padi Aerob Terkendali-Berbasis Organik (IPAT-BO perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengtahui aktivitas rhizobacteria, tingkat efisiensi penggunaan air, perkaran tanaman, dan hasil tanaman pada berbagai teknik pengaturan air.Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti, Tanjungsari pada inceptisol pada skala pot plastik. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK faktor tunggal dengan 16 perlakuan dan diulang tiga kali, yaitu terdiri dari kombinasi antara perlakuan air dan empat varietas. Perlakuan air: tinggi muka air + 5cm, 0 cm, – 5 cm dan  – 10 cm. Empat varietas: Ciherang, Sintanur, Inpari 13 dan Fatmawati..Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruhnyata terhadap populasi Rhizobacteria, perkembangan akar, dan hasil tanaman. Perlakuan tinggi muka air – 10 cm varietas Fatmawati memberikan hasil tertinggi pada volume akar 186,67 ml, populasi bakteri Azotobacter sp. (1,43 x 1010 CFU g-1, bakteri pelarut fosfat (6,07 x 108 CFU g-1, hasil tanaman tertinggi 95,9 g rumpun-1 setara dengan 9,14 ton ha-1 serta meningkatkan efisiensi penggunaan air 47,1 % dibandingkan dengan pengenangan 5 cm.Kata kunci:  Teknik pengaturan air, efisiensi penggunaan air, IPAT-BO, populasi rhizobakteria

  1. PERBANDINGAN EFEKTIVITAS AIR PERASAN KULIT JERUK MANIS DAN TEMEPHOS TERHADAP MORTALITAS LARVA Aedes aegypti

    OpenAIRE

    Ekasari, Ranti; Ishak, Hasanuddin; Manyullei, Syamsuar

    2015-01-01

    Penggunaan larvasida merupakan salah satu cara untuk mengurangi jumlah larva Aedes aegypti yang dapat berkembang menjadi vektor penular penyakit DBD. Larvasida kimia yang paling sering digunakan adalah temephos, selain itu adapula larvasida alami yang dapat digunakan yaitu air perasan kulit jeruk manis. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas larvasida kimia yaitu temephos dan larvasida alami yaitu air perasan kulit jeruk manis. Jenis penelitian yang dilakukan adalah peneliti...

  2. Analisis Pengaruh Salinitas dan Temperatur Air Laut pada Wet Underwater Welding terhadap Laju Korosi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Adrian Dwilaksono

    2013-03-01

    Full Text Available Struktur konstruksi badan kapal lambat laut mengalami kerusakan . Apabila kapal mengalami kerusakan pada konisi darurat, pekerjaan las bawah air menjadi hal yang diutamakan. Sedangkan faktor korosi pada pengelasan basah bawah air merupakan masalah yang pasti terjadi. Melalu penelitian ini dikaji perbandingan laju korosi sambungan las material baja karbon rendah yang diberi perlakuan pengelasan basah bawah air dengan salinitas 33‰ , 35‰ dan suhu 200C, 250C. Dari keempat variasi pengelasan tersebut diberikan variasi ketebalan pelat sebagai pembanding. Penelitian laju korosi dilakukan dengan pengujian terhadap material baja A36 yang dilas menggunakan metode SMAW pada pengelasan basah bawah air pada posisi 1G (datar dengan elektroda AWS E-6013 yang dilapisi isolasi yang bersifat kedap air. Dari data pengujian laju korosi  diketahui bahwa pengelasan basah bawah air dengan salinitas 35‰ lebih tinggi di bandingkan dengan pengelasan basah bawah air dengan salinitas 33‰, sedangkan untuk pengujian laju korosi dengan variasi suhu diketahui bahwa dengan suhu 250C cenderung lebih besar, meskipun hasil nya tidak signifikan dibandingkan dengan suhu 200C, dan semakin tebal pelat, laju korosinya juga cenderung lebih tinggi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ketebalan yang berkurang pada Salinitas 33‰ dan Suhu 200C yaitu sebesar 0.2124 (mm/year , untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.2139(mm/year pada plat 10mm, Sedangkan untuk plat 12 mm , suhu 200C yaitu sebesar 0.3203 (mm/year , untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.3205 (mm/year. Untuk Salinitas 35‰ dan Suhu 200C yaitu sebesar 0.4521 (mm/year , untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.4538(mm/year pada plat 10mm, Sedangkan untuk plat 12 mm , suhu 200C yaitu sebesar 0.5547 (mm/year , untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.5550 (mm/year.

  3. PENGUKURAN KADAR AIR AGREGAT DAN BETON SEGAR DENGAN MENGGUNAKAN MICROWAVE OVEN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Handoko Sugiharto

    2000-01-01

    Full Text Available The conventional method of water content measurement of aggregate and fresh concrete need along time to perform. As an alternative the use of microwave oven is explored in this research. The microwave oven used has 900 watt power and equiped with a turn table. Nine (9 type of aggregate consist of five (5 type of fine aggregate and four (4 type of coarse aggregate with varions water absorbsion value, are unvestigated. The rater contents measured is then compared with the once obtained using conventional oven. Four (4 type of mix using aggegate with varions water absorbsion values. Water content used for the fresh concrete mix is 0.3, 0.5 and 0.7. The test results show that this method can beused to measure water content of fine and coarse aggregate regardless of the water absorbsion values of the aggregates. For fine aggregate nine (9 minutes drying time is needed to get 100% accuracy while for coarse aggregate 11 minutes with 96% accuracy. For fresh concrete using aggregate with less than 5% absorbsion value 18 minutes is neede to get 98% accuracy, while for aggregate with 40% absorbsion value 35 minutes is needed to get 80% accuracy. Abstract in Bahasa Indonesia : Pengukuran kadar air pada agregat dan beton segar dengan metode konvensional memerlukan waktu yang cukup lama, maka dilakukan penelitian penggunaan microwave oven sebagai metode alternatifnya. Microwave oven yang digunakan mempunyai daya 900 watt dan dilengkapi dengan piring putar. Dilakukan penelitian terhadap 9 tipe agregat (5 jenis agregat halus dan 4 jenis agregat kasar dengan berbagai nilai absorpsi. Sedangkan untuk beton segar dibuat 4 macam campuran dengan berbagai nilai absorpsi agregat. Faktor air-semen yang digunakan adalah 0.3, 0.5 dan 0.7. Hasil pengukuran kadar airnya dengan microwave oven dibandingkan terhadap oven standard. Hasil tes yang diperoleh menunjukkan bahwa metode ini dapat digunakan untuk mengukur kadar air agregat halus dan kasar dengan tidak tergantung pada

  4. PENDUGAAN EROSI DAN PERENCANAAN KONSERVASI TANAH DAN AIR PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI OTAN KABUPATEN TABANAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    TATIEK KUSMAWATI

    2012-11-01

    Full Text Available Erosion Prediction and Planning of Soil Water Conservation at Otan Watershed, Tabanan Regency The aims of this research was to predict the erosion and planning of soil and water conservation when the erosion is more than tolerable erosion. The USLE (Universal Soil Loss Equation was used to predict erosion and planning of soil and water conservation. The result showed that the erosion level in this area was varied from very slight to very severe. The lowest erosion was on land unit 11 and 12 which were on the forest land. Slight erosion occurred on land units 2, 3, 4, 5, 10, 13, 18, 20, 22, 23, 25, 26, 28, 31, 32, 33, 34, 36, 37, 40, 41, and 43 on the use of forest land, irrigated fields, and mix crop land. Moderate erosion can be found at cocoa plantations, coffee plantations, scrub and dry land (land unit 1, 8, 16, 30, 38, dan 45. Severe and very severe erosion occurs at mixed crop land, coffee plantations, mixed crop and dry land (land unit 35 and 6, 7, 9, 14, 15, 17, 19, 21, 24, 27, 29, 39, 42, and 44 . The planning of soil and water conservation was focused on the very severe erosion by doing for some plant growing storied canopies, very high density, and constructed terrace for land unit of 6, 7, 14, 15 ,19, 21, 27, and, 29. While at land unit, 9, 17, 24, and 35 was purposed mixed estate crop with high density, it was combinated with mulch of 1 ton/ha and in land unit 39 were for traditional terrace with gogo rice and corn plant in rotation plantation.

  5. Simulasi MCNP5 dalam Eksperimen Kritikalitas Larutan Plutonium Uranium Nitrat Dengan Reflektor Air dan Polyethelene

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dinan A.

    2011-12-01

    Full Text Available Banyak perangkat kritik dibangun untuk memenuhi kebutuhan studi fenomena kecelakaan kritikalitas pada larutan fisil di fasilitas daur bahan bakar nuklir. Salah satu diantaranya adalah perangkat kritik SCAMP. Di perangkat ini dikerjakan eksperimen kritikalitas menggunakan bejana silindris stainless steel berisi larutan plutonium uranium nitrat (Pu ditambah U nitrat. Sebanyak 7 eksperimen didemonstrasikan dengan reflektor air di semua sisi permukaan bejana larutan kecuali di bagian atas bejana. Makalah ini membahas simulasi transport Monte Carlo MCNP5 dalam eksperimen kritikalitas larutan Pu ditambah U nitrat dengan reflektor air dan polyethylene. Simulasi MCNP5 dengan pustaka ENDF/BVI memberikan hasil yang paling dekat dengan data eksperimen terutama pada kasus A untuk varian geometri 4. Dibandingkan pustaka ENDF/BV, perhitungan kritikalitas dengan pustaka ENDF/B-VI memberikan hasil lebih dekat dengan perhitungan MONK dimana bias perhitungannya kurang dari 0,44%, khususnya pada kasus A namun pada kasus B dan C simulasi MCNP5dengan pustaka ENDF/BV memberikan hasil dengan kecenderungan lebih baik dibandingkan pustaka ENDFB/VI dengan bias perhitungan kurang dari 2,67% dan kurang dari 1,13%. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa MCNP5 telah menunjukkan reliabilitasnya dalam simulasi kritikalitas larutan Pu ditambah U nitrat.

  6. EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI DAUN ZODIA (Evodia suaveolens DENGAN METODE MASERASI DAN DISTILASI AIR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Prima Astuti Handayani

    2014-10-01

    Full Text Available Daun zodia merupakan tumbuhan yang berpotensi sebagai insektisida nabati. Daun zodia mengandung senyawa aktif limonene yang bersifat neurotoksin terhadap serangga. Pengambilan minyak atsiri daun zodia dilakuan dengan metode maserasi dan metode distilasi air. Pada metode maserasi bahan digunakan etanol dan dimaserasi selama 3x24 jam. Kemudian didistilasi untuk menguapkan pelarut etanol. Untuk metode distilasi air bahan didistilasi selama 3 jam, campuran minyak dan air dipisahkan dengan menambahkan pelarut n-heksana. Kemudian pelarut n-heksana dipisahkan dari minyak atsiri dengan cara direcovery menggunakan alat sokhlet. Minyak atsiri daun zodia yang dihasilkan dianalisis dengan Gas Cromatography-Mass Spectrometry (GC-MS untuk mengetahui kandungan senyawa kimianya. Hasil percobaan diperoleh randemen minyak atsiri daun zodia dengan metode maserasi sebesar 1,0566% dengan kandungan senyawa limonene 2,6%, sedangkan metode distilasi diperoleh randemen sebesar 0,6471% dengan kandungan senyawa limonene 1,26 %.Zodia leaf is a plant which has a potential to be plant-based insecticide. Zodia leaf has limonene as its active component which is neurotoxin towards insect. The extraction of the essential oil of the zodiac leaf is conducted using maceration method and water distillation method. In the maceration process, the raw material was macerated using ethanol for 72 hours, after that it was distillated to evaporate the ethanol. In the water distillated method, the raw material was distillated for 3 hours, the mixture of water and oil are separated by adding n-hexane solvent. After that, the n-hexane solvent was separated from the essential oil using recovery method using soxhlet. The obtained essential oil of zodia leaf was analyzed using GC-MS to determine its chemical component. The result of the research provides the yield of essential oil of zodiac leaf using maceration method is 1.0566% with limonene component is 2.6%, whereas the distillation method

  7. Perbandingan Total Padatan Tersuspensi Dan Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) Pada Analisis Air Limbah Kelapa Sawit Di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)

    OpenAIRE

    Arizta

    2009-01-01

    Komposisi utama dari air limbah kelapa sawit adalah bahan – bahan organik terutama seperti minyak dan serat dari TBS (Tandan Buah Segar) adalah parameter yang digunakan untuk menunjukkan karakter air limbah kelapa sawit meliputi parameter organik seperti Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) dan parameter fisika seperti Total Padatan Tersuspensi. Total Padatan Tersuspensi dengan metode gravimetri dan Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) ditentukan dengan metode Winkler pada temperatur 20ºC dengan masa...

  8. Kajian Kinerja Teknis Proses dan Operasi Unit Koagulasi-Flokulasi-Sedimentasi pada Instalasi Pengolahan Air (IPA Kedunguling PDAM Sidoarjo

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Achmad Chamdan

    2013-09-01

    Full Text Available Salah satu instalasi pengolahan air (IPA yang akan dibahas dalam tugas akhir ini adalah IPA Kedunguling PDAM Sidoarjo. Dalam proses dan pengoperasian IPA Kedunguling, terdapat permasalahan yang cukup penting dikarenakan pembubuhan koagulan tanpa perhitungan dahulu (perkiraan sehingga tidak tercapai dosis optimum. Meninjau dari permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan kajian efisiensi proses dan operasi pada unit koagulasi-flokulasi-sedimentasi. Analisa proses dalam unit koagulasi-flokulasi-sedimentasi didapatkan dari hasil penelitian penentuan dosis optimum koagulan menggunakan metode jar test serta mengukur parameter air yaitu kekeruhan, pH air dan waktu pengendapan. Koagulan yang dipakai adalah Poly Aluminium Chloride (PAC. Sedangkan, analisa sistem operasionalnya didapatkan dari membandingkan antara hasil perhitungan menurut kondisi eksisting mengenai parameter yang merupakan faktor penting sistem operasional tiap unit bangunan dengan kriteria desain. Dosis optimum koagulan pada musim kemarau dan musim penghujan yang didapatkan sama yaitu 75 ppm sedangkan dosis koagulan rata – rata yang dipakai di IPA Kedunguling PDAM Sidoarjo adalah 78,56 ppm. Sistem operasional tiap unit bangunan sudah memenuhi kriteria desain bangunan koagulasi dan flokulasi, sedangkan tidak pada bangunan sedimentasi.

  9. Urban air pollution; La pollution de l'air dans la ville

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    1997-07-01

    The theme of this congress concerns air pollution in urban areas. Cities are accumulation of populations and economic activities, and then pollutants activities. The first articles are devoted to pollutants and their effects on health. Then come articles relative to measurements and modeling. Finally, the traffic in city and the automobile pollution are examined. Transportation systems as well technology in matter of gas emissions are reviewed. (N.C.)

  10. Studi Numerik Karakteristik Pengeringan Batubara pada Fluidized Bed Coal Dyer Terhadap Pengaruh Variasi Temperatur Air Heater dengan Tube Heater Tersusun Staggered dan Perbandingan Volume Chamber dan Volume Batubara Sebesar 50%

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ayu Sarah Novrizqa

    2013-03-01

    Full Text Available Indonesia mempunyai sumber daya batubara yang cukup besar dan sebagian besar sumber daya tersebut termasuk ke dalam batubara peringkat rendah berupa lignit dan sub-bituminus yang memiliki kadar air yang tinggi. Tingginya kadar air menyebabkan rendahnya nilai kalor, sehingga pemanfaatan batubara jenis ini menjadi terbatas dan sulit untuk dipasarkan. Oleh karena itu perlu adanya teknologi pengeringan yang dapat meningkatkan nilai kalor dari batubara tersebut. Dalam proses pengeringan akan melibatkan perpindahan panas dan massa. Proses ini akan didefinisikan dalam suatu studi numerik, dimana penelitian ini dilakukan dengan metode numerik dengan software Fluent 6.3.26. Pemilihan kondisi simulasi digunakan model turbulensi k-ε realizable dan skema interpolasi first-order upwind. Serta mempelajari pengaruh temperatur inlet udara pengering yang divariasikan. Variasi temperatur adalah 316 K, 327 K, 339 K. Dari penelitian ini  dapat diketahui nilai drying rate serta pengaruh temperatur dan posisi batubara dalam proses pengeringan pada drying chamber fluidized bed coal dryer dengan tube heater tersusun staggered serta pengaruh dari perbandingan volume batubara dengan volume chamber sebesar 50%. Moisture content batubara yang paling banyak berkurang dialami oleh temperature outlet terbesar yaitu 339 K dari 0,22 hingga 0,0167. Laju pengeringan yang memiliki waktu paling cepat yaitu pada temperatur 339 K, sekitar 1100 detik, sedangkan yang memiliki waktu paling lama yaitu pada temperatur 316 K, sekitar 4600 detik.

  11. PENENTUAN KANDUNGAN LOGAM Pb DAN Cr PADA AIR DAN SEDIMEN DI SUNGAI AO DESA SAM SAM KABUPATEN TABANAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    NI PUTU DIANTARIANI

    2012-11-01

    Full Text Available Research on the heavy metal content, Pb and Cr in water and sediment of Ao River in Sam SamVillage, Tabanan Regency have been carried out. Sample of water taken at 8 location per week during 4weeks, while sample of sediment only taken once at 8 location. Determination of metal content of Pb and Crconducted using destruction method with mixture of HNO3 dan HCl (3:1 and analysed with AbsorptionAtomic Spectrophotometer.The result showed that mean metal content of Pb and Cr in water of Ao river at the location aftertextile industry (location 5 until 8 from four times intake of samples have passed enabled boundarythreshold that is 0,03 mg/L for Pb and 0,05 mg/L for Cr. Mean Pb content in sediment at location 1, 2, 3, 4and 5 still under natural content while location 6, 7 and 8 over the natural boundary threshold. Meanwhile forthe Cr metal only at location 8 over the natural boundary threshold. The highest metal content of Pb and Cr insediment and water found at location 8 that is each of 0,496 mg/L and 0,213 mg/L for Pb and Cr in water and141,844 mg/Kg and 33,489 mg/Kg for Pb and Cr in sediment respectively.

  12. Fitoremediasi limbah budidaya sidat menggunakan filamentous algae (Spirogyra sp.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tri Apriadi

    2014-09-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dari filamentous algae (Spirogyra sp. sebagai agen bioremediasi dalam mereduksi kandungan bahan organik limbah budidaya sidat. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan perbedaan dosis limbah (25 %, 50 %, 75 %, 100%. Wadah penelitian berupa akuarium resirkulasi menggunakan sistem carrousel. Dilakukan pengukuran secara rutin terhadap beberapa parameter kualitas air serta perubahan bobot Spirogyra sp. selama dua minggu retensi. Diperoleh hasil bahwa penurunan konsentrasi bahan organik menggunakan Spirogyra sp. berlangsung efektif hingga hari keenam. Spirogyra sp. mampu mentolelir limbah budidaya sidat pada dosis limbah 25% dan 50%. Spirogyra sp. pada perlakuan dosis limbah 50% memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menurunkan bahan organik limbah budidaya sidat.

  13. Pembuatan Karbon Aktif Dari Arang Tempurung Kelapa Dengan Aktivator Zncl2 Dan Na2co3 Sebagai Adsorben Untuk Mengurangi Kadar Fenol Dalam Air Limbah

    OpenAIRE

    Gilar S. Pambayun; Remigius Y.E. Yulianto; M. Rachimoellah; Endah M.M. Putri

    2013-01-01

    Tujuan dari penelitian ini adalah membuat karbon aktif dari arang tempurung kelapa sesuai dengan SII No.0258 – 79 ; untuk mengetahui karateristik kadar air, kadar abu,  iodine number dan surface area karbon aktif dari arang tempurung kelapa ; untuk mempelajari pengaruh konsentrasi dan jenis aktivator terhadap efisiensi penurunan kandungan konsentrasi fenol (persen removal) menggunakan karbon aktif dari arang tempurung kelapa ; menentukan kapasitas optimum penyerapan fenol dengan karbon aktif ...

  14. Morphological Analysis of Anopheles vagus Donitz, 1902 (Diptera : Culicidae in fresh water and brackish water habitats = Variasi Morfologi Anopheles vagus Donitz, 1902 (Diptera : Culicidae dari Habitat Air Tawar dan Air Payau

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Siti Alfiah

    2014-10-01

    Full Text Available ENGLISHAbstractAnopheles subpictus had habitat variation and showed genetic difference. So, the variation of habitat of An. vagus may support the hypothesa that An. vagus had genetic and morphology variation, same as An. subpictus.The aimed of this research was analyze morphology and chaetotaxy difference between An. vagus in fresh water and brackish water. The subject of the study was An. vagus collected from Kesongo Village, Tuntang Subdistrict, Semarang (fresh water and Jatimalang Village, Purwodadi Subdistrict, Purworejo (brackish water. Anopheles vagus were collected and individually reared. One sample in every batch was used to make larvae skin, pupae skin and adult specimen of An. vagus. The result showed that there were intra and inter population variation between An. vagus in fresh water and brackish water. The variations were on the size and number of hair branches and filaments. The conclution of this research were the morphology and chaetotaxy of female An. vagus in fresh water and brackish water showed no different. Intra and interpopulation An. vagus in fresh water and brackish water were caused by the difference of geography location (allopatric speciation.INDONESIANVariasi habitat terjadi pada An. subpictus, variasi habitat yang berbeda menunjukkan variasi genetik yang berbeda. Oleh karena itu variasi habitat An. vagus diduga akan bepengaruh terhadap variasi genetik dan morfologi. Tujuan penelitian adalah menganalisis perbedaan morfologi dan kaetotaksi Anopheles vagus habitat air tawar dan air payau. Subyek penelitian adalah An. vagus habitat air tawar di Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang dan An. vagus habitat air payau di Desa Jatimalang, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Anopheles vagus yang diperoleh, di rearing secara individual. Tiap indukan diambil satu sampel keturunannya dan dibuat preparat skin larva, skin pupa dan nyamuk dewasa betina. Hasil menunjukkan bahwa Anopheles vagus betina habitat air

  15. Physical characteristic of brown algae (Phaeophyta from madura strait as irreversible hydrocolloid impression material

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Prihartini Widiyanti

    2012-09-01

    Sargassum sp dari Selat Madura sebagai bahan cetak hidrokoloid dan meneliti karakteristik fisiknya. Metode: Tahap pertama adalah ekstraksi natrium alginat dari Sargassum sp, tahap kedua yaitu sintesis bahan cetak gigi dan menguji karakteristik bahan seperti porositas, densitas, viskositas, kadar air, bahan cetak yang memenuhi standar bahan yang digunakan dalam aplikasi klinis bidang Kedokteran Gigi. Hasil: Hasil ekstraksi berupa natrium alginat bubuk dengan warna krem, tidak berbau, dan dapat larut dalam air. Kadar air natrium alginat sebesar 21,64% dengan viskositas 0,7 cPs. Porositas terbaik dalam sampel dengan penambahan trinatrium fosfat 4% yaitu 3,61%. Nilai densitas bahan cetak 3 gr/cm3. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa alga coklat Sargassum sp dari Selat Madura memiliki potensi sebagai bahan cetak hydrocolloid kedokteran gigi karena memiliki karakter fisik yang mirip dengan bahan cetak kedokteran gigi, namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengoptimalkan karakter fisiknya.

  16. KUALITAS FISIK DAN KIMIA AIR PAM DI JAKARTA, BOGOR, TANGERANG, BEKASI TAHUN 1999 - 2001

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mariana Raini

    2012-09-01

    Full Text Available Drinking water quality of PAM in Jakarta, Bogor, Tangerang and Bekasi between the year of 1999 - 2001 has been studied. Water quality was determined by a series of physical and chemical test at Chemical Laboratory Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional as stated in Permenkes no.416/Menkes/Per/IX/1990 on condition and water quality control including smell, color, turbidity, contents of manganese, iron, nitrite, sulphate, organic subtance, turbidity, hardness and pH. Total sampling was done on all drinking water samples from DKI Jakarta, Bogor, Tangerang and Bekasi delivered to be tested at Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional between 1999-2001 and destilled water as control. Result of the study from 431 drinking water samples shows that samples that met the requirements as drinking water is 91,65% and 8,35% sub standard, most of the the sub standard drinking water is cause by the contents of manganese (4,41%, iron (2,09%, organic subtance (1,62%, chloride (0,93% and high water hardness (0,23% as well as pH (3,15%, turbidity (1,86% and colors (1,62% Statistically, the water quality of PAM in Jakarta, Bogor, Tangerang and Bekasi at 1999, 2000 and 2001 is not different.  Key word : water quality of PAM, drinking water, physical test, chemical test.

  17. Pemanfataan Pupuk Daun, Air Kelapa dan Bubur Pisang sebagai Komponen Medium Pertumbuhan Plantlet Anggrek Dendrobium Kelemense

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Uhwatul Hasanah

    2014-09-01

    Full Text Available Bahan alternatif alami diperlukan untuk menggantikan bahan kimia yang mahal untuk kegiatan kultur jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh merk, konsentrasi pupuk daun, interaksinya terhadap pertumbuhan plantlet anggrek Dendrobium dan menentukan konsentrasi yang paling optimal dalam menginduksi pertumbuhan plantlet. Percobaan dilakukan dengan rancangan acak lengkap faktorial yang terdiri dari dua perlakuan yaitu merk pupuk dan konsentrasi pupuk, masing-masing dengan tiga taraf perlakuan yaitu merk pupuk (growmore, hyponex, gandasil dan konsentrasi (1 g/l, 2 g/l, 3 g/l. Pertumbuhan plantlet anggrek pada penelitian ini diukur berdasarkan parameter tinggi plantlet, jumlah daun, luas daun, jumlah akar dan panjang akar. Data dianalisis dengan anava dua arah, bila signifikan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil anava menunjukkan merk pupuk berpengaruh signifikan terhadap penambahan jumlah daun, luas daun dan jumlah akar, konsentrasi pupuk berpengaruh signifikan terhadap penambahan tinggi plantlet dan panjang akar sedangkan interaksi merk pupuk dengan konsentrasi pupuk signifikan terhadap penambahan tinggi plantlet dan luas daun. Kombinasi perlakuan yang paling optimal yang menginduksi penambahan tinggi plantlet dan luas daun adalah pupuk hyponex dengan konsentrasi 2 g/l (5,40 cm dan 5,43 cm2. Untuk mendapatkan pertumbuhan plantlet paling tinggi dan luas daun paling optimal digunakan media pupuk hyponex dengan konsentrasi pupuk 2 g/l.Natural alternative materials needed to replace expensive chemicals for tissue culture activities. This study aimed to examine the influence of the brand, the concentration of foliar fertilizer, interaction on the growth of dendrobium orchid Dendrobium and determine the optimal concentration in inducing the growth of plantlets. Experiments were carried out with completely randomized factorial design consisting of two treatments, the brand of fertilizer and manure concentration, each with three levels

  18. The air quality in ventilation installations. Practical guidelines; Qualite de l'air dans les installations aerauliques. Guide pratique

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Angeli, L. [France Air, 91 - Chilly Mazarin (France); Bianchina, M. [Unelvent, 93 - Le Bourget (France); Blazy, M. [Anjos, 01 - Torcieu (France); Boulanger, X. [Aldes, 21 - Chenove (France); Chiesa, M. [Atlantic (France); Duclos, M. [Groupe Titanair, 69 - Lyon (France); Hubert, D.; Kridorian, O. [Groupe Astato, Blanc Mesnil (France); Josserand, O. [Carrier (Belgium); Lancieux, C. [Camfil, 60 - Saint Martin Longueau (France); Lemaire, J.C. [Agence de l' Environnement et de la Maitrise de l' Energie, ADEME, 75 - Paris (France); Petit, Ph. [Compagnie Industrielle d' Applications Thermiques ( CIAT ), 75 - Paris (France); Ribot, B. [Electricite de France (EDF), 75 - Paris (France); Tokarek, S. [Gaz de France (GDF), 75 - Paris (France); Bernard, A.M.; Tissot, A. [Centre Technique des Industries Aerauliques et Thermiques (CETIAT), 69 - Villeurbanne (France)

    2004-07-01

    The present guide aims to provide design departments, maintenance companies and builders with practical guidelines and recommendations for the installation of ventilation and air-conditioning systems. The objective is to ensure good Indoor Air Quality (IAQ) and to safeguard the health and well-being of the occupants. The guide deals with aspects of design, dimensioning, installation and servicing, all of which play a major role in guaranteeing IAQ and duct-work hygiene. These steps are reviewed for the principal ventilation systems met in both residential and commercial premises. The first part presents the system and draws the attention of the user to specific points which require particular care in term of IAQ. The second part details recommended practice component by component, in respect of design, installation and servicing. Application of these simple guidelines during the various project stages is essential, in order to ensure a good IAQ in ventilation systems. Content: introduction; good ventilation; systems: exhaust ventilation, balanced ventilation, air handling unit, terminal ventilation units, impact of systems on indoor air quality, components: air inlet, air filter, heat recovery unit, heating or cooling coil, humidifier, mechanical fan unit, cowl and hybrid ventilation fan, mixing box, ventilation duct-work, air outlet and air terminal device; references.

  19. The Study of Algae

    Science.gov (United States)

    Rushforth, Samuel R.

    1977-01-01

    Included in this introduction to the study of algae are drawings of commonly encountered freshwater algae, a summary of the importance of algae, descriptions of the seven major groups of algae, and techniques for collection and study of algae. (CS)

  20. Studi Eksperimental Pemanas Air Tenaga Surya Pelat Absorber Type Sinusoidal dengan Variasi Terhadap Derajat Kevacuman dan Aspect Ratio

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Izha Mahendra

    2014-03-01

    Full Text Available Sistem kolektor surya yang dirancang adalah kolektor dengan variasi tingkat kevakuman dan aspect ratio dengan tebal pelat (δ 1 mm . Untuk tingkat pemvakuman -20 cm.Hg, -40 cm.Hg, dan -60 cm.Hg serta menggunakan aspect ratio 1, 1.33, dan 2. Pengambilan data dilaksanakan dengan memvariasi debit fluida kerja dengan mengatur bukaan katup, yaitu dari 100 cc/menit sampai 300 cc/menits kenaikan 100 cc/menit. Dengan pemvariasian tingkat kevacuman di antara pelat absorber dan kaca penutup, diharapkan dapat memperkecil koefisien kehilangan, temperatur absorber naik, dan temperatur kaca penutup turun. Sehingga dapat meningkatkan efisiensi kolektor. Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa pada tingkat kevacuman -60 cmHg efisiensi yang didapat lebih besar dibandingkan dengan tingkat kevakuman -20 cmHg dan -40 cmHg. Sedangkan untuk aspect ratio 2 memiliki efisiensi terbesar dibandingkan aspect ratio 1 dan 1,33

  1. Qualité de l’air et nuisances sonores dans les vallées alpines de transit

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jürg Thudium

    2009-03-01

    Full Text Available Les conséquences du trafic routier, en termes de nuisances sonores et de qualité de l’air, ont été analysées et comparées pour quatre vallées de transit alpin (Fréjus, Mont Blanc, Gothard et Brenner durant l’année 2004. Au regard du trafic alpin dans son ensemble, des disparités considérables apparaissent entre les vallées étudiées, mais également à l’intérieur de ces mêmes vallées. Les immissions (concentration de polluants produites par unité d’émission du trafic routier sont deux à trois fois plus élevées dans ces vallées alpines qu’en plaine. Ceci s’explique principalement par la topographie et le climat particuliers de ces vallées. À de nombreux points d’observation, les seuils d’immission ont été dépassés. Les vallées sont également affectées durement par la pollution sonore. « L’effet amphithéâtre » transporte le bruit à des altitudes supérieures, qui n’auraient pas été exposées à autant d’irradiation acoustique si la source de nuisances était située à égale distance, mais dans un « paysage ouvert ». De plus, la protection contre le bruit qui se réfléchit sur les pentes est malaisée. En résumé, toutes les vallées de transit étudiées peuvent être considérées comme des régions sensibles.The environmental consequences of road transport with regard to air and noise in the transit valleys of Fréjus, Mont-Blanc, Gotthard, and Brenner have been analysed and compared with each other for the year 2004. In respect of the share of transport passing through the Alps in transport as a whole, there are in part considerable differences between the valleys under investigation as well as within the individual valleys. The air pollution produced per emission unit of road transport is two to three times higher than in the open country, mainly because of the topography and the climate. At numerous monitoring points, the thresholds for the air pollution were exceeded

  2. IDENTIFIKASI SUMBER PENCEMAR DAN ANALISIS KUALITAS AIR TUKAD SABA PROVINSI BALI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Putu Desy Darmasusantini

    2016-01-01

    Full Text Available Availability of clean water for drinking water increasingly scarce, then efforts to utilize alternative flow of river water as drinking water and raw water industry one of them is Saba River. Purpose of research is to determine the characteristic of pollution source which will be impactto the changing of water quality in physical, chemical, and biological in up, middle and down stream area of Saba River, water quality and pollution index of Saba River. Determination of samples by using purposive sampling method. Sampels were taken at six points with repetitions three times at different times. Sampels taken at two points upstream, two points middle and two points downstream. Samples were analyzed in situ and ex situ. The results showed that the activities that affect water quality physical, chemical, and biological in up, middle and down stream area of Saba River is agricultural activities, livestock, restorant, blacksmith, home stay, residential, workshops, market, laundry and industrial activities. The upstream region until middle region (T1 no parameter exceeded the quality standard, parameters that exceed the quality standard in the middle region (T2 is TSS, BOD, fosfat and fecal coliform, in the downstream which exceeded the parameters in the downstream region (H1 is BOD, fosfat, fecal coliform dan total coliform and in the downstream region (H2 is DO, BOD, COD, fosfat, fecal coliform dan total coliform. Saba River quality status based on the method pollution index in the upstream region (U1 until middle region (T1 showed good condition, middle region (T2 until downstream pollutants classified as mild.

  3. PEMBUATAN ELEKTRODA KARBON BERPORI DARI TEMPURUNG KEMIRI DAN PERANCANGAN PROTOTIPE SISTEM CAPACITIVE DEIONIZATION (CDI UNTUK DESALINASI AIR PAYAU

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A. Astuti

    2015-09-01

    Full Text Available Telah dilakukan pembuatan karbon aktif dengan bahan dasar tempurung kemiri menggunakan H3PO4 2,5% sebagai aktivator dengan suhu aktivasi (400, 500, dan 600 oC.Luas permukaan aktif yang dihasilkan masing-masing adalah (6,6; 95,6; dan 391,6 m2/g. Karbon yang diaktivasi pada suhu 600 oC digunakan sebagai bahan dasar pembuatan elektroda kapasitor untuk system capacitive deionization (CDI menggunakan polimer polyvinyl alcohol (PVA sebaga ipengikat. Berdasarkan data voltammogram siklik terhadap elektroda CDI diperoleh besar kapasitansi spesifik elektroda adalah 50,21 mF/g.  Proses desalinasi dilakukan pada larutanNaCl 0,24 M dengan menyusun elektroda menggunakan system monopolar dan diberitegangan DC 1,2 V.  Penurunan konduktivitas larutan NaCl menggunakan sistem CDI ini sebesar 61,58%, dengan penurunan kadar natrium dalam larutan NaCl yaitu dari 138,0 mg/L menjadi 80,7 mg/L  selama 40 menit. Karbon aktif tempurung kemiri ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai elektroda CDI untuk sistem desalinasi air payau.The writers had done the research of the activated carbon that prepared with the candlenut shell by using H3PO4 2,5% as the activating agent.  All samples were heated at the temperatures of (400, 500, and 600 oC.  The activated carbon have specific surface area (6.582; 95.623; and 391.567 m2/g respectively. Capacitor electrode for capacitive deionization (CDI was fabricated by using activated carbon that was heated at activation temperature of 600 oC with polyvinyl alcohol (PVA as the binder. Based on cyclicvoltammogram of electrode, specific capacitance of CDI electrode is 50.21 mF/g.  To observe desalination process of electrode, CDI was made by monopolar system and immersed in NaCl 0.24 M as brackish water sample.  Direct current voltage 1.2 V was applied to CDI cell.  The decreased of NaCl conductivity with CDI system respectively is 61.58%.  Sodium concentration in NaCl decreases from 138.000 mg/L to 80.667 mg/Labout 40

  4. Pengaruh Kualitas Jasa Terhadap Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan PT. Sriwijaya Air Distrik Medan

    OpenAIRE

    Sipayung, Sari Mariahma Nova

    2011-01-01

    Sari Mariahma Nova Sipayung, 2011, The Influence of Service Quality on Satisfaction And Loyalty of The Customers of PT. Sriwijaya Air District Medan, Prof. Dr. Paham Ginting, MS, Dr. Arlina Nurbaity, SE, MBA. Service business is a vital sector needed by community. Flight services is one of forms of air transportation services tightly competing with other kinds transportation services. The tight competition has resulted in fluctuating number passangers of flight service. Therefore, airline...

  5. Etude numérique de la convection forcée turbulente dans un capteur solaire à air à double passe

    OpenAIRE

    ABDERRAHIM, Asma

    2012-01-01

    On présente dans ce mémoire une étude numérique du comportement dynamique et thermique d’un écoulement d’air turbulent dans un capteur solaire à air à double passe. Les équations gouvernantes, basées sur le modèle k- SST sont résolues par la méthode des volumes finis à l’aide de l’algorithme SIMPLE. Les profils de vitesse axiale et les champs de vitesse et de température ainsi que le coefficient de friction et la distribution du nombre de Nusselt sont présentés....

  6. Algae Resources

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    None

    2016-06-01

    Algae are highly efficient at producing biomass, and they can be found all over the planet. Many use sunlight and nutrients to create biomass, which contain key components—including lipids, proteins, and carbohydrates— that can be converted and upgraded to a variety of biofuels and products. A functional algal biofuels production system requires resources such as suitable land and climate, sustainable management of water resources, a supplemental carbon dioxide (CO2) supply, and other nutrients (e.g., nitrogen and phosphorus). Algae can be an attractive feedstock for many locations in the United States because their diversity allows for highpotential biomass yields in a variety of climates and environments. Depending on the strain, algae can grow by using fresh, saline, or brackish water from surface water sources, groundwater, or seawater. Additionally, they can grow in water from second-use sources such as treated industrial wastewater; municipal, agricultural, or aquaculture wastewater; or produced water generated from oil and gas drilling operations.

  7. Pelayanan Tiket Domestik Dan Fasilitas Kemudahan Pada PT.Indonesia Air Asia Station Medan

    OpenAIRE

    Ridha Hafny S.

    2011-01-01

    Dengan di dukukung potensi sumber daya alam di Sumatera Utara banyak kita temukan objek – objek wisata. Wisatawan dari dalam maupun luar negeri dapat menikmati indahnya corak kebudayaan. Wisatawan dari dalam maupun luar negeri umumnya mengambil jarur singkat dengan menggunakan alat angkutan udara. Sebagai pelopor Low Cost Carrier, Indonesia AirAsia menjadi pilihan semua kalangan yang akan bepergian menggunakan transportasi udara. Walaupun beberapa pelayanan dikurangi akan tetapi tergant...

  8. Calculating emissions into the air. General methodological principles; Calcul des emissions dans l'air. Principes methodologiques generaux

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    2000-05-01

    Knowing the quantities of certain substances discharged into the atmosphere is a necessary and fundamental stage in any environmental protection policy to tackle today's problems such as acid rain, the degradation of air quality, global warming and climate change, the depletion of the ozone layer, etc. This quantification, usually known as an 'emission inventory', is built on a set of specific rules which may vary from one inventory to another. This state of affairs presents the enormous disadvantage that the data available are not comparable. At the international level, an attempt at harmonization has been going on for some years between the various international bodies. This work is being pursued in parallel with the improvement of methodologies to estimate discharges from various types of source. To take account of changes in specifications and of improvements in our understanding of phenomena giving rise to atmospheric pollution, the results of inventories of emissions need to be regularly revised, even retrospectively, to maintain a consistent series. CITEPA, which acts as a National Reference Centre, has developed a system of inventories as part of the CORALIE programme with financial help from the French Ministry for Planning and the Environment. (author)

  9. Air-drying of cells, the novel conditions for stimulated synthesis of triacylglycerol in a Green Alga, Chlorella kessleri.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Takuma Shiratake

    Full Text Available Triacylglycerol is used for the production of commodities including food oils and biodiesel fuel. Microalgae can accumulate triacylglycerol under adverse environmental conditions such as nitrogen-starvation. This study explored the possibility of air-drying of green algal cells as a novel and simple protocol for enhancement of their triacylglycerol content. Chlorella kessleri cells were fixed on the surface of a glass fibre filter and then subjected to air-drying with light illumination. The dry cell weight, on a filter, increased by 2.7-fold in 96 h, the corresponding chlorophyll content ranging from 1.0 to 1.3-fold the initial one. Concomitantly, the triacylglycerol content remarkably increased to 70.3 mole% of fatty acids and 15.9% (w/w, relative to total fatty acids and dry cell weight, respectively, like in cells starved of nitrogen. Reduction of the stress of air-drying by placing the glass filter on a filter paper soaked in H2O lowered the fatty acid content of triacylglycerol to 26.4 mole% as to total fatty acids. Moreover, replacement of the H2O with culture medium further decreased the fatty acid content of triacylglycerol to 12.2 mole%. It thus seemed that severe dehydration is required for full induction of triacylglycerol synthesis, and that nutritional depletion as well as dehydration are crucial environmental factors. Meanwhile, air-drying of Chlamydomonas reinhardtii cells increased the triacylglycerol content to only 37.9 mole% of fatty acids and 4.8% (w/w, relative to total fatty acids and dry cell weight, respectively, and a marked decrease in the chlorophyll content, on a filter, of 33%. Air-drying thus has an impact on triacylglycerol synthesis in C. reinhardtii also, however, the effect is considerably limited, owing probably to instability of the photosynthetic machinery. This air-drying protocol could be useful for the development of a system for industrial production of triacylglycerol with appropriate selection of the

  10. Pembuatan Karbon Aktif Dari Arang Tempurung Kelapa Dengan Aktivator Zncl2 Dan Na2co3 Sebagai Adsorben Untuk Mengurangi Kadar Fenol Dalam Air Limbah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gilar S. Pambayun

    2013-03-01

    Full Text Available Tujuan dari penelitian ini adalah membuat karbon aktif dari arang tempurung kelapa sesuai dengan SII No.0258 – 79 ; untuk mengetahui karateristik kadar air, kadar abu,  iodine number dan surface area karbon aktif dari arang tempurung kelapa ; untuk mempelajari pengaruh konsentrasi dan jenis aktivator terhadap efisiensi penurunan kandungan konsentrasi fenol (persen removal menggunakan karbon aktif dari arang tempurung kelapa ; menentukan kapasitas optimum penyerapan fenol dengan karbon aktif dari arang tempurung kelapa. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa karbon aktif dapat dibuat dari arang tempurung kelapa dengan aktivasi kimia ZnCl2 dan Na2CO3 disertai pirolisis pada suhu 700 oC selama 4 jam. Karakteristik karbon aktif yang dihasilkan telah sesuai dengan SII No.0258–79, kadar air sebesar 0,382-1,619%, kadar abu 2,28-7,79%, iodine number 448,02-1599,72 mg/g, surface area 189,630-1900,69 m2/g. Semakin tinggi konsentrasi aktivator maka semakin tinggi persen removal dari fenol yang telah diadsorbsi oleh karbon aktif. Persen removal tertinggi didapat pada karbon aktif dengan zat aktivator Na2CO3 5% dengan persen removal sebesar 99,745%. Kapasitas optimum penyerapan fenol dengan karbon aktif dari arang tempurung kelapa terbaik didapat pada karbon aktif dengan zat aktivator Na2CO3 5% dengan kapasitas serapan sebesar 220,751 mg fenol/gram karbon aktif

  11. EFEK EKSTRAK AIR DAN HEKSAN HERBA SURUHAN Peperomia pellucida (L Kunth TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT SERUM DARAH AYAM KAMPUNG JANTAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nanang Yunarto

    2013-05-01

    Full Text Available Abstrak Salah satu tanaman yang selama ini digunakan masyarakat sebagai pilihan obat tradisional untuk asam urat adalah suruhan (Peperomia pellucida (L Kunth. Penelitian ini dilakukan untuk menguji efek dari ekstrak air dan heksan herba suruhan terhadap penurunan kadar asam urat serum darah pada ayam kampung jantan. 40 ayam kampung jantan dibuat hiperurisemia dengan pemberian kombinasi antara jus hati ayam 4 ml/kg BB dan urea 1 mg/kg BB selama 12 hari. Hewan uji tersebut dibagi menjadi 8 kelompok. Kelompok I sebagai kontrol negatif dengan pemberian Polivinil Pirolidon (PVP 0,5%. Kelompok II diberi Allopurinol 10 mg/kg BB sebagai kontrol positif, kelompok III-V diberi ekstrak air 100; 200; 400 mg/Kg BB dan kelompok VI-VIII diberi ekstrak heksan 100; 200; 400 mg/Kg BB. Pemberian bahan uji mulai hari ke-13 sampai 20. Pada hari ke-15,18 dan 21 diambil serum darah hewan uji melalui vena lateralis sayap untuk diukur kadar asam uratnya serta dihitung persentase penurunan kadar asam urat . Hasil uji secara pre klinik hari ke-21, ekstrak air herba suruhan 200 mg/Kg BB mampu menurunkan kadar asam urat paling tinggi yaitu 62,49±2,80% dan penurunan kadar asam urat dengan ekstrak heksan paling tinggi hanya 19,62±3,95% pada dosis 400 mg/Kg BB. Potensi ekstrak air 200 mg/Kg BB sebanding dengan Allopurinol 10 mg/Kg BB. Ekstrak air dan heksan herba suruhan memiliki khasiat untuk menurukan kadar asam urat yang mengindikasikan bahwa kandungan kimia dalam herba suruhan dapat dikembangan menjadi obat antihiperurisemia. Kata kunci : Peperomia pellucida (L Kunth, asam urat, uji pre klinik, ekstrak air dan heksan Abstract One of the plants that had been used by the local people as a choice of traditional medicine for gout is suruhan (Peperomia pellucida (L Kunth. This research was conducted to examine the effects of water and hexan extract of suruhan to decrease  uric acid levels in cock. 40 cock made hyperuricemia with the administration combination of chicken

  12. PEMODELAN DAN SIMULASI KEBIJAKAN DENGAN PENDEKATAN SYSTEM DYNAMICS 1 Kasus Permintaan Air PDAM di Salatiga

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yayuk Ariyani

    2015-06-01

    Full Text Available About 58,83 percent of Salatiga population consumes water from PDAM (Peru- sahaan Daerah Air Minum to fulfill their daily need. The demand for water, which is increasing in line with infrastructure development and economics growth in Salatiga while the availability of water is decreasing, lead to a lack of water in some regions in Salatiga. Therefore, a new policy is needed to solve this problem. Before that, a simulation of the policy is needed because it is not possible to do a direct research on the policy. Thus, this recent study attempts to model the phenomenon of demand for water in Salatiga with dynamics system approach since it can be used for a policy simulation. Based on the simulation result, it is suggested to solve the water scarcity problem by trying to reduce the rate of leaking in water distribution from 26 percent to 5 percent.

  13. Magnesium and uranium ignition in different gaseous atmospheres; Inflammabilite du magnesium et de l'uranium dans l'air et le gaz carbonique

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Darras, R.; Baque, P.; Leclercq, D. [Commissariat a l' Energie Atomique, Saclay (France).Centre d' Etudes Nucleaires

    1960-07-01

    Magnesium, uranium and some of their alloys burning temperatures have been systematically determined in an air or carbon dioxide atmosphere, either dry or wet. Two different ways of heating have been used: either continuously rising up the temperature, or heating to and then maintaining a constant temperature. The results are clearly different in the two cases. Besides, if moisture has little effect on the magnesium burning temperatures in air, it does lower them by about 130-140 deg. C in CO{sub 2}. The differences of sight between the burning of magnesium and uranium have been noticed; this leads to distinguish between an 'ignition' and an 'inflammation'. (author) [French] Les temperatures auxquelles apparait la combustion vive du magnesium, de l'uranium et certains de leurs alliages ont ete determinees systematiquement dans l'air et le gaz carbonique, soit secs, soit humidifies. On a mis en evidence l'influence du mode de chauffage sur les resultats: soit montee en temperature continue, soit stabilisation a partir d'une certaine temperature. En outre, si la presence d'humidite affecte peu les temperatures de combustion vive du magnesium dans l'air, elle les abaisse de 130 a 140 deg. C dans le gaz carbonique. Les differences d'aspect entre la combustion vive du magnesium et de l'uranium ont egalement ete remarquees, ce qui amene notamment a distinguer une 'ignition' d'une 'inflammation'. (auteur)

  14. Pengujian Pengaruh Variasi Jumlah dan Jarak Antar Disk Pada Rancang Bangun Turbin Testa dengan Kapasitas Air Konstan

    OpenAIRE

    Sembiring, Yeni Marsia

    2016-01-01

    Turbin Tesla merupakan turbin yang memiliki bentuk yang unik dan sifat yang khusus. Adapun sifat yang dimiliki oleh Turbin Tesla adalah mempunyai putaran yang sangat tinggi dalam bentuk yang kecil serta fluida yang beragam dengan memanfaatkan viskositas dan laju aliran fluida dalam gesekan ruang tertentu menjadikan kelebihan Turbin Tesla, tetapi Turbin Tesla mempunyai kelemahan yaitu torsi yang rendah. Umumnya Turbin Tesla menggunakan uap atau udara bertekanan sebagai media ...

  15. PEMBUATAN ELEKTRODA KARBON BERPORI DARI TEMPURUNG KEMIRI DAN PERANCANGAN PROTOTIPE SISTEM CAPACITIVE DEIONIZATION (CDI) UNTUK DESALINASI AIR PAYAU

    OpenAIRE

    A. Astuti; M. Taspika

    2015-01-01

    Telah dilakukan pembuatan karbon aktif dengan bahan dasar tempurung kemiri menggunakan H3PO4 2,5% sebagai aktivator dengan suhu aktivasi (400, 500, dan 600) oC.Luas permukaan aktif yang dihasilkan masing-masing adalah (6,6; 95,6; dan 391,6) m2/g. Karbon yang diaktivasi pada suhu 600 oC digunakan sebagai bahan dasar pembuatan elektroda kapasitor untuk system capacitive deionization (CDI) menggunakan polimer polyvinyl alcohol (PVA) sebaga ipengikat. Berdasarkan data voltammogram siklik terhadap...

  16. STUDI PERILAKU KOROSI TEMBAGA DENGAN VARIASI KONSENTRASI ASAM ASKORBAT (VITAMIN C DALAM LINGKUNGAN AIR YANG MENGANDUNG KLORIDA DAN SULFAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Adriana Anteng Anggorowati

    2000-01-01

    Full Text Available Planned Interval Test method conducted in several intervals of times (0-5 days, (0-10 days, (0-15 days, and (10-15 days shows the changes of environment condition and metal corrosion. The changes in the corrosiveness media and the corrosion resistant of the material. The acidity of the media gets lower from 7.6 to 7.1 in the interval of (0-5 days and the conductivity increase during the time interval. The change in acidity is caused by hydrolisis reaction and AA decomposition. During the time interval of (10-15 days a very high corrosion rate was observed due to low pH and high conductivity. The highest efficiency is found in the addition of 150 ppm AA in all different concentration of Cl - and SO4 2- in water. More or less AA concentration, AA has no function as inhibitor. The amount is not enough to form the protective film on the metal surface and some are used to form the chelate compounds with the metal ions. Abstract in Bahasa Indonesia : Pengujian dengan metode Planned-Interval Test dalam interval waktu (0-5 hari, (0-10 hari, (0-15 hari dan (10-15 hari menunjukkan perubahan kondisi lingkungan dan perilaku korosi tembaga. Perubahan kondisi lingkungan ini ditunjukkan oleh penurunan pH dan peningkatan nilai konduktivitas lingkungan. Penurunan pH dari 7,6 ke 7,1 pada interval waktu (0-5 hari karena reaksi hidrolisis dan dekomposisi asam askorbat (AA. Sedangkan nilai konduktivitas yang semakin tinggi disebabkan oleh semakin banyaknya ion-ion terlarut dalam lingkungan. Kedua perubahan ini menimbulkan peningkatan pada korosivitas lingkungan. Korosivitas tertinggi dijumpai pada interval waktu (10-15 hari , terbukti dengan laju korosi paling besar. Efisiensi AA tertinggi untuk semua variasi lingkungan NaCl dan CaSO4 terjadi pada 150 ppm. Kurang atau lebih dari 150 ppm , AA tidak akan berfungsi sebagai inhibitor karena selain jumlah AA yang tidak memadai untuk inhibisi juga dipakai bersama ion logam membentuk senyawa kelat yang meningkatkan laju

  17. Gouvernance des aires protégées : l’importance des "normes pratiques" de régulation de la gestion locale pour la faisabilité des réformes dans le Bassin du Congo

    OpenAIRE

    Nguinguiri, Jean-Claude

    2008-01-01

    La gouvernance est aujourd’hui une notion très floue. Dans la définition normative donnée à ce concept par la Banque Mondiale vers la fin des années 1980, la gouvernance correspond à une situation idéale de bonne administration. C’est la raison pour laquelle elle est assortie d’un adjectif qualificatif – bonne gouvernance. Cette perception implique un changement de la "gouvernance" telle qu’elle est, vers la "gouvernance" telle qu’elle devrait être. Dans ce raisonnement, les aires protégées s...

  18. Air condensation thermo-pumps for residential and small commercial buildings; Les thermopompes a condensation par air dans le residentiel et le petit tertiaire

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Carteret, P. [Societe Airwell, (France)

    1997-12-31

    The advantages of recent air conditioning systems in terms of temperature control, air quality, air renewal, humidity control, air distribution, acoustic comfort, flexibility, are reviewed and some aspects concerning the evolution of the market in France are discussed (steady growth of the AC residential market). The different types of air conditioning systems are presented (direct expansion with the split-system, and cool water system); the characteristics, advantages and investment/operation costs of split-system and multi-splits thermo-pumps and hot water / cooled water production central units are described

  19. Magnetic separation of algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Nath, Pulak; Twary, Scott N.

    2016-04-26

    Described herein are methods and systems for harvesting, collecting, separating and/or dewatering algae using iron based salts combined with a magnetic field gradient to separate algae from an aqueous solution.

  20. Mempelajari Pengaruh Lama Fermentasi Dan Penyangraian Biji Kakao (Theobroma cacao L.) Terhadap Mutu Bubuk Kakao

    OpenAIRE

    Situmorang, Janner P

    2010-01-01

    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi dan penyangraian biji kakao (Theobroma cacao L.) terhadap mutu bubuk kakao. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan dua faktor yakni lama fermentasi (0, 2, 4 dan 6 hari) dan lama penyangraian (0, 25, 50 dan 75 menit). Parameter analisa adalah kadar air, kadar abu, kadar lemak, daya larut dalam air dan nilai organoleptik (aroma, warna dan rasa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama f...

  1. ISOLASI, IDENTIFIKASI DAN UJI POTENSI BAKTERI YANG BERPERAN PADA PENGOLAHAN AIR LIMBAH YANG MENGANDUNG RHODAMIN B DALAM BIOSISTEM TANAMAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sang Ayu Sri Satya Laksmi Utari

    2015-05-01

    Full Text Available Rhodamin B is a dangerous synthetic dyes substances used as a fabric dye in thetextile industry. Biodegradation is one way that is used in the processing of liquid wasteRhodamin B. Biodegradation technique is leveraging the ability of microbial activitiesdegrade or eliminate pollutant compounds. The main objective of this research was toinvestigate the characteristic of bacteria that are capable of living on wastewater containingRhodamin B and the effectiveness of single and microbial consortium isolates to degradeRhodamin B on wastewater. The isolation of the bacteria was done by plating method and theidentification of the bacteria by using a Kit API 20E. Test of bacterial potential of RhodaminB dyes substance carried out in the Microbiology Laboratory, Biology Department, Facultyof Science, Udayana University. It was found in this research that five bacterial isolates wereobtained (Pseudomonas sp., Shigella spp., Stenotrophomonas sp., Pasteurella sp. dan Proteussp.. Pasteurella sp. had the highest percentage degrade effectiveness of 40.55%. Microbialpotential degrade Rhodamin B by Pasteurella sp. dan Proteus sp. results showed significantdifferences (P <0.05 to control.Keyword: bacteria, biodegradation, Rhodamin B

  2. Air emissions in France. France metropolitan and overseas territories departments; Emissions dans l'air en France. Arrondissements de la metropole et des DOM

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    2000-05-01

    Air emission of SO{sub 2}, NO{sub x}, NMVOCs, CO, NH{sub 3}, and CO{sub 2} have been estimated at the scale of arrondissements and urban units over 100 000 inhabitants in the frame of work relating to the implementation of Regional Air Quality Plans (PRQA) in application to the Law on the Air and the Rational Use of Energy (LAURE). Data presented refer to to the year 1994 and include all man-made and non man-made sources except maritime traffic, air traffic above 1000 m and, for CO{sub 2}, non man-made emissions and sinks. (author)

  3. Dan Johnson the mentor

    Science.gov (United States)

    McKinley, Richard

    2003-04-01

    I first met Dan Johnson in early 1975 as I was interviewing for an engineering job with Henning von Gierke's bioengineering and bionics laboratory at Wright-Patterson Air Force Base. From the very beginning Dan was always direct and forthright. Over the ensuing next 27 years my knowledge and respect of Dan constantly grew. This presentation will review Dan's technical and personal contributions while at the laboratory at Wright-Patterson Air Force Base. He was instrumental in the development of a national noise exposure criteria with the equal-energy-rule, an accurate single number hearing protector attenuation measure based on ``C-A,'' an impulse noise exposure criteria, a longitudinal study of hearing loss in children, development of noise dosimeters, and description of hearing damage risk from nonoccupational noise exposures such as disco's, bowling alleys, lawn mowers, and school buses. Dan has had a significant effect on my career. I and the many people who knew him at the laboratory miss him greatly.

  4. Hyperspectral imaging of snow algae and green algae from aeroterrestrial habitats.

    Science.gov (United States)

    Holzinger, Andreas; Allen, Michael C; Deheyn, Dimitri D

    2016-09-01

    Snow algae and green algae living in aeroterrestrial habitats are ideal objects to study adaptation to high light irradiation. Here, we used a detailed description of the spectral properties as a proxy for photo-acclimation/protection in snow algae (Chlamydomonas nivalis, Chlainomonas sp. and Chloromonas sp.) and charophyte green algae (Zygnema sp., Zygogonium ericetorum and Klebsormidium crenulatum). The hyperspectral microscopic mapping and imaging technique allowed us to acquire total absorption spectra of these microalgae in the waveband of 400-900nm. Particularly in Chlamydomonas nivalis and Chlainomonas sp., a high absorbance between 400-550nm was observed, due to naturally occurring secondary carotenoids; in Chloromonas sp. and in the charopyhte algae this high absorbance was missing, the latter being close relatives to land plants. To investigate if cellular water loss has an influence on the spectral properties, the cells were plasmolysed in sorbitol or desiccated at ambient air. While in snow algae, these treatments did hardly change the spectral properties, in the charopyhte algae the condensation of the cytoplasm and plastids increased the absorbance in the lower waveband of 400-500nm. These changes might be ecologically relevant and photoprotective, as aeroterrestrial algae are naturally exposed to occasional water limitation, leading to desiccation, which are conditions usually occurring together with higher irradiation. PMID:27442511

  5. Mise au point d'une méthode de mesure des siloxanes méthyliques volatils dans le biogaz et dans l'air ambiant et étude de leur impact sur les systèmes photocatalytiques

    OpenAIRE

    Lamaa, Lina

    2013-01-01

    Afin de satisfaire la demande croissante des systèmes de traitement de l'air, des procédés commerciaux basés sur la photocatalyse par TiO2 ont été commercialisés. Récemment le problème de la désactivation de ces systèmes a attiré l'attention des industriels ainsi que des chercheurs. Les Siloxanes Méthyliques Volatils (SMVs) présents dans l'air auraient été identifiés comme une source majeure contribuant à cette désactivation. Par ailleurs, dans les centres de stockage des déchets, la valorisa...

  6. Alkaloids in Marine Algae

    OpenAIRE

    Ekrem Sezik; Aline Percot; Kasım Cemal Güven

    2010-01-01

    This paper presents the alkaloids found in green, brown and red marine algae. Algal chemistry has interested many researchers in order to develop new drugs, as algae include compounds with functional groups which are characteristic from this particular source. Among these compounds, alkaloids present special interest because of their pharmacological activities. Alkaloid chemistry has been widely studied in terrestrial plants, but the number of studies in algae is insignificant. In this review...

  7. Algae liquefaction / Hope Baloyi

    OpenAIRE

    Baloyi, Hope

    2012-01-01

    The liquefaction of algae for the recovery of bio–oil was studied. Algae oil is a non–edible feedstock and has minimal impact on food security and food prices; furthermore, it has been identified as a favourable feedstock for the production of biodiesel and this is attributed to its high oil yield per hectare. Algae oil can be potentially used for fuel blending for conventional diesel. The recovery step for algae oil for the production of biodiesel is costly and demands a lot of energy due to...

  8. Exposition by inhalation to the formaldehyde in the air. Source, measures and concentrations; Exposition par inhalation au formaldehyde dans l'air. Source, mesures et concentrations

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Del Gratta, F.; Durif, M.; Fagault, Y.; Zdanevitch, I

    2004-12-15

    This document presents the main techniques today available to characterize the formaldehyde concentrations in the air for different contexts: urban and rural areas or around industrial installations but also indoor and occupational area. It provides information to guide laboratories and research departments. A synthesis gives also the main emissions sources of these compounds as reference concentrations measured in different environments. (A.L.B.)

  9. Study on Plantago major L. dan Phaseolus vulgaris L. chlorophyll and carotenoid content using as bioincator for air pollution

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    ENDANG ANGGARWULAN

    2007-10-01

    Full Text Available The aims of this research were to study using chlorophyll and carotenoid as bioindicator air quality. This research used completely randomized design 2 x 4 factorial with 5 replicates. The first factor was distance from source of exhaust automobile emissions, consists of 4 levels: 0,50, 100, and 200 m. The second factor was plant spesies, consist 2 level: Plantago major and Phaseolus vulgaris. Data collected were analyzed using Multiple Regression Analysis followed by Duncan Multiple Range Test in 5% confidence level. The result indicated that increasing distance from source exhaust automobile emission, increased growth and chlorophyll content. Chlorophyll content in Phaseolus is more sensitive as bioindicator for air pollution.

  10. Let them eat algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Ciferri, O.

    1981-09-24

    The blue-green alga, Spirulina appears to be one of the candidates for the solution of the global problems of energy, food and chemical feedstock supplies. The harvesting of algae from Lake Texcoco, Mexico for the making of bread was noted in the 16th century by the Spanish and over 400 years later, dried biscuits made from algae were noted in Chad. Recent investigations have shown that the alga contains a very high proportion of protein - even higher than soya beans and is of high quality. A pilot plant covering 2 hectares for culturing Spirulina in a closed system is under construction in Italy. The polyethylene tubes will function as solar collectors and so extend the production season of the algae in more temperate regions.

  11. Algae Derived Biofuel

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Jahan, Kauser [Rowan Univ., Glassboro, NJ (United States)

    2015-03-31

    One of the most promising fuel alternatives is algae biodiesel. Algae reproduce quickly, produce oils more efficiently than crop plants, and require relatively few nutrients for growth. These nutrients can potentially be derived from inexpensive waste sources such as flue gas and wastewater, providing a mutual benefit of helping to mitigate carbon dioxide waste. Algae can also be grown on land unsuitable for agricultural purposes, eliminating competition with food sources. This project focused on cultivating select algae species under various environmental conditions to optimize oil yield. Membrane studies were also conducted to transfer carbon di-oxide more efficiently. An LCA study was also conducted to investigate the energy intensive steps in algae cultivation.

  12. The effect of algae species on the bioelectricity and biodiesel generation through open-air cathode microbial fuel cell with kitchen waste anaerobically digested effluent as substrate.

    Science.gov (United States)

    Hou, Qingjie; Nie, Changliang; Pei, Haiyan; Hu, Wenrong; Jiang, Liqun; Yang, Zhigang

    2016-10-01

    Five strains algae (Golenkinia sp. SDEC-16, Chlorella vulgaris, Selenastrum capricornutum, Scenedesmus SDEC-8 and Scenedesmus SDEC-13) were screened as an effective way to promote recover electricity from MFC for kitchen waste anaerobically digested effluent (KWADE) treatment. The highest OCV, power density, biomass concentration and total lipid content were obtained with Golenkinia sp. SDEC-16 as the co-inoculum, which were 170mV, 6255mWm(-3), 325mgL(-1) and 38%, respectively. Characteristics of the organics in KWADE were analyzed, and the result showed that the hydrophilic and acidic fractions were more readily degraded, compared to the neutral fractions during the operation. Maximum COD and TN removal efficiency were 43.59% and 37.39% when inoculated with Golenkinia sp. SDEC-16, which were roughly 3.22 and 3.04 times higher than that of S. capricornutum. This study demonstrated that Golenkinia sp. SDEC-16 was a promising species for bioelectricity generation, lipid production and KWADE treatment. PMID:27441827

  13. Algae and blue-green algae as mosquito food

    OpenAIRE

    Rettich, František; Popovský, Jiří; Cepák, Vladimír

    2001-01-01

    Ten genera of cyanophytes and 73 genera of algae were found in the guts of Aedes, Culex, Anopheles and Culiseta larvae collected in various breeding places of the Elbe-Lowland (Bohemia) and Prague. The quality and quantity of blue-green algae and algae found in mosquito guts depended on their presence in the water of mosquito breeding places and on the feeding type (filter fieders, scrapers) of mosquito larvae. Chlorophycean algae possesing cell wall with sporopollenin and algae with a mucila...

  14. Sustainable Algae Biodiesel Production in Cold Climates

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rudras Baliga

    2010-01-01

    Full Text Available This life cycle assessment aims to determine the most suitable operating conditions for algae biodiesel production in cold climates to minimize energy consumption and environmental impacts. Two hypothetical photobioreactor algae production and biodiesel plants located in Upstate New York (USA are modeled. The photobioreactor is assumed to be housed within a greenhouse that is located adjacent to a fossil fuel or biomass power plant that can supply waste heat and flue gas containing CO2 as a primary source of carbon. Model results show that the biodiesel areal productivity is high (19 to 25 L of BD/m2/yr. The total life cycle energy consumption was between 15 and 23 MJ/L of algae BD and 20 MJ/L of soy BD. Energy consumption and air emissions for algae biodiesel are substantially lower than soy biodiesel when waste heat was utilized. Algae's most substantial contribution is a significant decrease in the petroleum consumed to make the fuel.

  15. The involvement of carbohydrate reserves in hydrogen photoproduction by the green alga Chlamydomonas reinhardtii; L'implication des reserves carbonees dans la photoproduction d'hydrogene chez l'algue verte Chlamydomonas reinhardtii

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Chochois, V.

    2009-09-15

    The unicellular green alga Chlamydomonas reinhardtii is able to produce hydrogen, using water as an electron donor, and sunlight as an energy source. Although this property offers interesting biotechnological perspectives, a major limitation is related to the sensitivity of hydrogenase to oxygen which is produced by photosynthesis. It had been previously shown that in conditions of sulfur deprivation, C. reinhardtii is able to produce hydrogen during several days (Melis et an. 2000). During this process, two pathways, one direct depending on photosystem II (PSII) activity and the other involving only the PSI, are involved, starch reserves being supposed to play a role in both of these pathways. The purpose of this phD thesis was to elucidate the mechanisms linking starch catabolism to the hydrogen photoproduction process. Firstly, the analysis of mutants affected in starch biosynthesis (sta6 and sta7) showed that if starch reserves are essential to the functioning of the indirect pathway, they are not involved in the direct one. Secondly, in order to identify metabolic steps and regulatory processes involved in starch breakdown, we developed a genetic approach based on the search of mutants affected in starch reserves mobilization. Eight mutant (std1 to std8) diversely affected in their ability to degrade starch after an accumulation phase have been isolated from an insertional mutant library of 15,000 clones. One of these mutants, std1, is affected in a kinase related to the DYRK family (dual-specificity tyrosine regulated serine threonine kinase). Although the targets of this putative kinase remain to be identified, the analysis of the granule bound proteome displayed profound alterations in the expression profile of starch phosphorylases, potentially involved in starch breakdown. STD1 represents the first starch catabolism regulator identified to date in plants. (author)

  16. Perception des émotions non verbales dans la musique, les voix et les visages chez les adultes implantés cochléaires présentant une surdité évolutive

    OpenAIRE

    Ambert-Dahan, Emmanuèle

    2014-01-01

    Le bénéfice de l’implant cochléaire pour la compréhension de la parole en milieu calme, et même dans certains cas pour des situations auditives complexes telles que les environnements bruyants ou l’écoute de la musique est aujourd’hui connu. Si la compréhension de la parole est nécessaire à la communication, la perception des informations non verbales transmises par la voix de même que des expressions faciales est fondamentale pour interpréter le message d’un interlocuteur. Les capacités de p...

  17. Perbedaan Efek Daya Hambat Jus Kulit Buah Manggis dengan Air Rebusan Kulit Buah Manggis sebagai Antibakteri terhadap Bakteri Gram-Positif (Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes secara In Vitro

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nani Hendriani

    2016-01-01

    Full Text Available AbstrakBakteri Gram-positif seperti Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes telah resisten terhadap beberapa antibiotik, sehingga perlu dicari antibakteri alternatif lain. Manggis merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang telah lama digunakan sebagai antibakteri. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental terhadap kedua bakteri tersebut,  yang diberi enam perlakuan dengan enam kali pengulangan, yaitu kontrol positif (amoksisilin 25 mcg, kontrol negatif (larutan aquades, jus kulit buah manggis dosis I (konsentrasi 58,3% v/v dan dosis II (konsentrasi 29,15% v/v, serta air rebusan kulit buah manggis dosis I (konsentrasi 30,7% v/v dan dosis II (konsentrasi 15,35% v/v. Cawan petri dengan kedua isolat bakteri  yang telah ditanami cakram dengan 6 perlakuan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C, kemudian diukur diameter halo yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air rebusan kulit buah manggis memiliki efek daya hambat yang lebih baik daripada jus kulit buah manggis. Efek antibakteri jus dan air rebusan kulit buah manggis lebih sensitif pada bakteri Staphylococcus aureus dibanding bakteri Streptococcus pyogenes.Kata kunci: kulit buah manggis, jus, air rebusan, Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes AbstractGram-positive bacteria such as Staphylococcus aureus and Staphylococcus pyogenes have developed resistance to some antibiotic, therefore  need to find another alternative as antibacterial. Mangosteen well known as one of the traditional medicine used as antibacterial. This study was conducted in experimental fashion toward both of those bacteria which was given 6 treatment with 6 times repetition, consist of positive control (25 mcg of amoxicillin, negative control (aquades solution, mangosteen pericarp juice dose I (58% v/v and dose II (29,15% v/v, and boiled mengosteen pericarp dose I (30,7% v/v and dose II (15,35% v/v. Six paper disks treated with before mentioned treatment was putted on a petri dish

  18. Exploring English for the Nuclear Industry in Biographical Films: Oppenheimer and Silkwood Exploration de l’anglais de l’industrie nucléaire dans les films biographiques: Oppenheimer et Silkwood

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Laura M. Hartwell

    2012-04-01

    Full Text Available There is an increased interest in using filmic texts, both fictional and documentary, in the ESP classroom. Medical and legal fields have seen considerable fictional representation, but the nuclear industry has not been wholly forgotten by the creators of popular drama. Film and television programs offer visually contextualized discourse in nuclear-related scientific settings. This study analyses the oral discourse features of the 1980 BBC series Oppenheimer: The Father of the Atomic Bomb and Mike Nichols’ 1983 film Silkwood, based on the life and death of a plutonium plant worker and union member Karen Silkwood. The contrasting linguistic and thematic elements help to form distinctive representations of nuclear industry professionals, thereby offering rich sources of oral discourse, especially for learners requiring proficiency in English for Scientific Purposes (ESP.Dans l’enseignement de l’anglais de spécialité, il semble que l’utilisation de textes de films, qu’ils soient documentaires ou de fiction, présente un intérêt croissant. Les domaines de la médecine et du droit sont abondamment représentés dans les fictions, mais l’industrie nucléaire n’a pas été totalement oubliée par les créateurs de drames populaires. Le cinéma et la télévision offrent un contexte visuel au discours à caractère scientifique. La présente étude analyse les caractéristiques du discours oral dans la série télévisée de 1980, Oppenheimer: The Father of the Atomic Bomb diffusée par la BBC, et dans le film de Mike Nichols réalisé en 1983, Silkwood, qui raconte la vie et la mort de Karen Silkwood, salariée dans une usine de plutonium et syndicaliste. La complémentarité des éléments linguistiques et thématiques favorise la représentation des particularités concernant les professionnels de l’industrie nucléaire et, par là même, offre une richesse du discours oral particulièrement intéressante pour les apprenant

  19. Efek Durasi Pencahayaan Pada Sistem HRAR Untuk Menurunkan Kandungan Minyak Solar Dalam Air Limbah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dian Puspitasari

    2014-09-01

    Full Text Available Kandungan minyak di dalam air limbah industri perminyakan umumnya bersifat toksik terhadap mikroorganisme dan mengganggu proses pengolahan secara biologis. Sistem HRAR diperkirakan dapat mengatasi hambatan tersebut melalui proses fotosintesis untuk menghasilkan oksigen yang dibutuhkan mikroorganisme dalam mendegradasi senyawa hidrokarbon. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh perpanjangan waktu pencahayaan pada kemampuan HRAR dalam menurunkan kandungan minyak di dalam limbah. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah variasi durasi pencahayaan dan variasi penambahan volume minyak solar yang ditambahkan ke dalam reaktor. Variasi durasi pencahayaan yang digunakan adalah pencahayaan selama 12 jam dan pencahayaan selama 24 jam. Sedangkan penambahan volume minyak solar ke dalam masing-masing reaktor adalah sebesar 346 ppm, 519 ppm dan 692 ppm. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah durasi pencahayaan selama 12 jam memiliki efek yang lebih baik terhadap penurunan konsentrasi minyak dibandingkan pencahayaan selama 24 jam. Hal ini dapat terlihat dari baiknya pertumbuhan alga dan bakteri di dalam reaktor serta tingginya penurunan konsentrasi minyak solar di dalamnya. Penurunan konsentrasi minyak solar terbaik terdapat pada reaktor dengan penambahan minyak solar sebesar 346 ppm. Pada reaktor dengan durasi pencahayaan selama 12 jam terjadi penurunan konsentrasi minyak sebesar 78,4%. Sedangkan penurunan kandungan minyak solar pada reaktor dengan durasi pencahayaan selama 24 jam adalah sebesar 73,9%.

  20. PENGOLAHAN LIMBAH CAIR UREA MENGGUNAKAN PROSES GABUNGAN ACTIVATED MICROALGAE DAN NITRIFIKASI-DENITRIFIKASI AUTOTROFIK: UJI DENGAN RANCANGAN TAGUCHI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Indro Sumantri

    2012-05-01

    Full Text Available Proses konvensional untuk mengolah limbah cair industri urea biasanya menggunakan proses alga mikro atau bakteri heterotropik nitrifikasi-denitrifikasi. Proses alga mikro dapat menggunakan berbagai jenis alga mikro. Keuntungannya adalah murah karena hanya memerlukan nutrien Psedikit tetapi tidak dapat digunakan untuk menyusutkan amoniak. Proses nitrifikasi-denitrifikasi bakteri heterotropik memerlukan asupan karbon yang tinggi sehingga pengolahan menjadi mahal. Tujuan saat ini untuk penelitian adalah untuk mempelajari kombinasi yang potensial untuk proses alga mikro jenis tertentu dengan proses nitrifikasi-denitrifikasi ototrofik. Jenis alga mikro yang digunakan dalam proses alga mikro mempunyai kemampuan baik untuk penyusutan amoniak atau tahan dalam konsentrasi amoniak tinggi. Proses nitrifikasi-denitrifikasi ototrofik menggunakan bakteri nitrifikasi/lumpur sebagai biokatalis. Lumpur nitrifikasi awal adalah lumpur aktif kolam aerasi unit pengolahan limbah cair industri partikel board Pengayaan dan pembibitan lumpur nitrifikasi dilakukan dalam konsentrasi amoniak yang tinggi dan kondisi ototrofik. Berdasarkan penelitian, pengayaan dan pembibitan alga mikro yang mempunyai kemampuan untuk penyusutan amoniak dan tahan konsentrasi amoniak yang tinggi mudah. Evaluasi substrat pembatas penghambat amonium terhadap pertumbuhan alga tidak terbukti. Tujuh variabel yang dipilih lewat penapisan adalah : MLSS, waktu tinggal, konsentrasi NH3-N, laju aerasi, kadar CaCO3, nutrien mikro, rasio N:P. Variabel yang berpengaruhadalah konsentrasi NH3-N, laju aerasi, kadar CaCO3.

  1. Blue-green algae

    Science.gov (United States)

    ... for 6 months relieves allergy symptoms in adults. Arsenic poisoning. Early research shows that taking a combination of blue-green algae and zinc by mouth twice daily for 12 weeks reduces arsenic levels and its effects on the skin in ...

  2. The resource utilization of algae - preparing coal slurry with algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Weidong Li; Weifeng Li; Haifeng Li [East China University of Science and Technology, Shanghai (China). Key Laboratory of Coal Gasification of Education Ministry of China

    2010-05-15

    Nowadays, the occurrence of harmful algal blooms is increasing rapidly all over the world. However, the methods of resource utilization of algae are very few. In this study, we propose a new way to dispose algae, which is gasification of coal-algae slurry. Coal slurries prepared with algae were investigated, and gasification reactivity of coal-algae slurry was compared with that of coal-water slurry (CWS). The results showed that, anaerobic fermentation, chemical treatment, high-speed shearing and heating are effective pre-treatment methods on reducing the viscosity of algae, which could obviously increase the maximum solids concentration of coal-algae slurry. When the de-ionized water/algae ratio is 1:1, the maximum solids concentration could get to 62.5 wt.%, which is almost the same as that of CWS. All the coal-algae slurries exhibit pseudo-plastic behavior, and this type of fluid is shear-thinning. Compared with CWS, the stability of coal-algae slurry is much better, which could be no solids deposition after 70 h. The coal-algae slurry displays better gasification reactivity than CWS. 30 refs., 6 figs., 3 tabs.

  3. Air

    Science.gov (United States)

    ... house) Industrial emissions (like smoke and chemicals from factories) Household cleaners (spray cleaners, air fresheners) Car emissions (like carbon monoxide) *All of these things make up “particle pollution.” They mostly come from cars, trucks, buses, and ...

  4. Air

    International Nuclear Information System (INIS)

    In recent years several regulations and standards for air quality and limits for air pollution were issued or are in preparation by the European Union, which have severe influence on the environmental monitoring and legislation in Austria. This chapter of the environmental control report of Austria gives an overview about the legal situation of air pollution control in the European Union and in specific the legal situation in Austria. It gives a comprehensive inventory of air pollution measurements for the whole area of Austria of total suspended particulates, ozone, volatile organic compounds, nitrogen oxides, sulfur dioxide, carbon monoxide, heavy metals, benzene, dioxin, polycyclic aromatic hydrocarbons and eutrophication. For each of these pollutants the measured emission values throughout Austria are given in tables and geographical charts, the environmental impact is discussed, statistical data and time series of the emission sources are given and legal regulations and measures for an effective environmental pollution control are discussed. In particular the impact of fossil-fuel power plants on the air pollution is analyzed. (a.n.)

  5. Algae Review Fact Sheet

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    None

    2016-06-01

    Algae-based biofuels and bioproducts offer great promise in contributing to the U.S. Department of Energy (DOE) Bioenergy Technologies Office’s (BETO’s) vision of a thriving and sustainable bioeconomy fueled by innovative technologies. The state of technology for producing algal biofuels continues to mature with ongoing investment by DOE and the private sector, but additional research, development, and demonstration (RD&D) is needed to achieve widespread deployment of affordable, scalable, and sustainable algal biofuels.

  6. Modélisation paramétrique non linéaire des machines asynchrones et démarche d'optimisation associée. Application au dimensionnement dans les véhicules hybrides.

    OpenAIRE

    Pugsley, Gareth

    2004-01-01

    Ce travail concerne l'étude des machines asynchrones à cage dans les applications de traction automobile, en particulier pour les véhicules hybrides. Nous avons développé des modèles et des méthodes utiles pour analyser et dimensionner de telles machines électriques. Nous avons tout d'abord mis au point un modèle électromagnétique non linéaire de la machine, déterminé à partir d'un nombre restreint de calculs "éléments finis". Ce modèle a ensuite été adapté pour réaliser des études de sensibi...

  7. PENGARUH KETEBALAN IRISAN DAN LAMA PEREBUSAN (BLANCHING TERHADAP GAMBARAN MAKROSKOPIS DAN KADAR MINYAK ATSIRI SIMPLISIA DRINGO (Acorus calamus L.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Heru Sudrajad

    2012-10-01

    Full Text Available Beberapa simplisia perlu mengalami proses seperti perajangan dan blanching. Perajangan dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan penggilingan. Semakin tipis bahan yang dikeringkan, semakin cepat penguapan air yang dikandung, sehingga mempercepat waktu pengeringan. Namun irisan yang terlalu tipis menyebabkan zat yang mudah menguap seperti minyak atsiri akan berkurang kadarnya, sehingga mempengaruhi komposisi, bau dan rasa terutama pada simplisia seperti temu lawak, temu giring, jahe, kencur dan bahan sejenis lainnya. Perebusan (blanching adalah suatu proses pemanasan yang diberikan kepada bahan mentah selama beberapa menit  pada  suhu  air  mendidih yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas produk yang diolah. Rimpang tanaman ini secara empiris digunakan sebagai insektisida, demam nifas, karminatif. disentri dan limpa bengkak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh ketebalan irisan dan lama perebusan (blanching terhadap gambaran makroskopis dan kadar minyak atsiri simplisia dringo (Acorus calamus L. Sebagai model digunakan Acorus calamus L. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap menggunakan 2 faktor perlakuan, yaitu faktor pertama ketebalan irisan (K. yaitu K1 =2 mm, K2 =4 mm. K3 = 6 mm dan lama blanching (B yaitu BO = tanpa blanching, B 1 = 5 menit dan B2 = 10 menit. Pengamatan dilakukan terhadap kualitas (warna, bentuk permukaan dan tekstur simplisia dan kadar minyak atsiri rimpang dringo. Simplisia dengan ketebalan irisan 2 mm tanpa perlakuan blanching menghasilkan minyak atsiri lebih tinggi (4,5% dengan kualitas simplisia yang lebih baik (warna putih kekuningan, permukaan rata dan tekstur liat, mudah dipatahkan sedangkan yang hasil terendah diperoleh pada perlakuan ketebalan irisan 2 mm dengan perlakuan lama blanching 10 menit yaitu  warna simplisia coklat, keadaan fisik irisan bergelombang, permukaan keras, sukar dipatahkan dengan kadar minyak atsiri (2%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tebal

  8. Biological importance of marine algae

    OpenAIRE

    Ali A. El Gamal

    2009-01-01

    Marine organisms are potentially prolific sources of highly bioactive secondary metabolites that might represent useful leads in the development of new pharmaceutical agents. Algae can be classified into two main groups; first one is the microalgae, which includes blue green algae, dinoflagellates, bacillariophyta (diatoms)… etc., and second one is macroalgae (seaweeds) which includes green, brown and red algae. The microalgae phyla have been recognized to provide chemical and pharmacological...

  9. Distribusi patogen dan kualitas lingkungan pada budidaya perikanan laut di Provinsi Kepulauan Riau

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Romi Novriadi

    2014-04-01

    Full Text Available Peningkatan laju produksi perikanan budidaya secara umum berperan penting dalam peningkatan masalah lingkungan dan patogen di beberapa unit produksi budidaya. Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian penyakit saat ini menjadi prioritas untuk menjamin keberlanjutan industri ini. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan monitoring dan menilai distribusi patogen pada beberapa sentra produksi perikanan laut di Provinsi Kepulauan Riau. Monitoing dilakukan mulai Februari 2011 sampai Desember 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nodavirus dan Iridovirus merupakan agen penyebab penyakit virus yang umum ditemukan di budidaya ikan laut. Sementara Vibrio spp., Aeromonas spp. dan Edwardsiella spp. merupakan mikroorganisme patogen yang umum ditemukan di sentra budidaya ikan laut dan ikan air tawar. Hasil kajian monitoring juga menunjukkan bahwa Diplectanum sp., Gyrodactilus sp., Caligus sp., Trichodina sp., Rhexanella sp., Hirudinae sp., Benedenia sp. dan Cylodonela sp. merupakan parasit yang memiliki distribusi tinggi di berbagai sentra produksi ikan air laut dan tawar di Kepulauan Riau.

  10. Miocene Coralline algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Bosence, D.W.J.

    1988-01-01

    The coralline algae (Order Corallinales) were sedimentologically and ecologically important during the Miocene, a period when they were particularly abundant. The many poorly described and illustrated species and the lack of quantitative data in coralline thalli make specific determinations particularly difficult, but some species are well known and widespread in the Tethyan area. The sedimentologic importance of the Miocene coralline algae is reflected in the abundance of in-situ coralline buildups, rhodoliths, and coralline debris facies at Malta and Spain; similar sequences are known throughout the Tethyan Miocene. In-situ buildups vary from leafy crustose biostromes to walled reefs with dense coralline crusts and branches. Growth forms are apparently related to hydraulic energy. Rhodoliths vary from leafy, crustose, and open-branched forms in muddy sediments to dense, crustose, and radial-branching forms in coarse grainstones. Rhodolith form and internal structure correlate closely with hydraulic energy. Coralline genera are conservative and, as such, are useful in paleoenvironmental analysis. Of particular interest are the restricted depth ranges of recent coralline genera. More research is needed on the sedimentology, paleoecology, and systematics of the Cenozoic corallines, as they have particular value in paleoenvironmental analysis.

  11. Pemanfaatan Biogas Kotoran Ternak Sapi Sebagai Pengganti Bahan Bakar Minyak Dan Gas

    OpenAIRE

    Ramli Tarigan

    2009-01-01

    Gas bio merupakan gas hasil aktivitas biologi melalui proses fermentasi anaerob dan merupakan energi terbarukan, sebagai bahan pembuat gas bio adalah kotoran hewan dan sampah organik. Penelitian dilakukan dengan menggunakan dua macam variasi pengenceran terhadap medium larutan (air PDAM ) yaitu 1 : 2 dan 1 : 4% volume. Pengamatan meliputi besarnya produksi gas bio, komposisi gas bio, tekanan, tempratur dan tingkat keasaman (pH). Temperatur yang bekerja pada bio degester berkisar 30 – 350C, ti...

  12. Valeurs repères d'aide à la gestion dans l'air des espaces clos. Le formaldéhyde

    OpenAIRE

    Le Moullec, Y; BOARINI, S; BROCHARD, P; Casellas, C.; Chiron, M.; DEROUBAIX, P; Henry, E.; Paris, C.; PUCH, J; ROUBATY, JL; VERGER, P; Zmirou-Navier, D

    2009-01-01

    Le formaldéhyde est un produit génotoxique et un irritant de l'appareil respiratoire et des muqueuses oculaires. En 2004, le Centre international de recherche sur le cancer l'a classé cancérogène certain pour l'Homme (groupe 1), sur la base d'un excès de cancers du nasopharynx observé lors d'expositions professionnelles. Le formaldéhyde se caractérise par une forte réactivité avec les tissus biologiques au site de contact, ce qui explique son faible passage dans le sang. C'est une substance u...

  13. Aires protégées, gestion participative des ressources environnementales et développement touristique durable et viable dans les régions ultra-périphériques

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jean-Marie Breton

    2009-09-01

    Full Text Available Le tourisme est souvent présenté comme l’un des instruments d’un développement durable, même s’il connaît une expansion difficilement maîtrisable, au détriment du patrimoine environnemental, insulaire et littoral en particulier, comme dans les DOM-TOM.Le tourisme a des impacts, culturels et sociaux notamment, sur l’environnement. Les ressources du patrimoine alimentent de leur côté la demande et l’offre touristiques. Un tourisme assis sur une gestion ad hoc des ressources du patrimoine constitue un facteur puissant de durabilité du développement local. La soumission de l’activité touristique aux exigences de protection, de conservation et de gestion reproductible de la biodiversité et du patrimoine naturel, dans les aires protégées de la Caraïbe française en particulier, génère des approches, des stratégies et des comportements nouveaux. La démarche écotouristique appelle une gestion participative et intégrée des ressources et des espaces, et constitue un défi pour les opérateurs du tourisme comme pour les acteurs de l’environnement, et une opportunité de "réappropriation" de leur milieu de vie par les populations locales. Il faut alors en clarifier le concept et les implications ; puis en analyser les objectifs et les enjeux dans une perspective de développement durable.Tourism often appears as one a tool for a sustainable development, even if it is not easy to control, in the détriment of island and costal environment heritage, as in French overseas regions. Besides the cultural and social impacts of tourism upon environment, the heritage resources nuture the touristic request and offer. If based on an appropriate management of those resources, it may be a strong incentive for local sustainable development. The respect of protection, conservation and sustainable management of biodiversity and natural resources by tourism, especially in the overseas regions of French West Indies, produces new

  14. Fuel From Algae: Scaling and Commercialization of Algae Harvesting Technologies

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    None

    2010-01-15

    Broad Funding Opportunity Announcement Project: Led by CEO Ross Youngs, AVS has patented a cost-effective dewatering technology that separates micro-solids (algae) from water. Separating micro-solids from water traditionally requires a centrifuge, which uses significant energy to spin the water mass and force materials of different densities to separate from one another. In a comparative analysis, dewatering 1 ton of algae in a centrifuge costs around $3,400. AVS’s Solid-Liquid Separation (SLS) system is less energy-intensive and less expensive, costing $1.92 to process 1 ton of algae. The SLS technology uses capillary dewatering with filter media to gently facilitate water separation, leaving behind dewatered algae which can then be used as a source for biofuels and bio-products. The biomimicry of the SLS technology emulates the way plants absorb and spread water to their capillaries.

  15. [From algae to "functional foods"].

    Science.gov (United States)

    Vadalà, M; Palmieri, B

    2015-01-01

    In the recent years, a growing interest for nutraceutical algae (tablets, capsules, drops) has been developed, due to their effective health benefits, as a potential alternative to the classic drugs. This review explores the use of cyanobacterium Spirulina, the microalgae Chlorella, Dunaliella, Haematococcus, and the macroalgae Klamath, Ascophyllum, Lithothamnion, Chondrus, Hundaria, Glacilaria, Laminaria, Asparagopsis, Eisenia, Sargassum as nutraceuticals and dietary supplements, in terms of production, nutritional components and evidence-based health benefits. Thus, our specific goals are: 1) Overview of the algae species currently used in nutraceuticals; 2) Description of their characteristics, action mechanisms, and possible side effects; 3) Perspective of specific algae clinical investigations development. PMID:26378764

  16. MEKANISME ERUPSI DAN MODEL KANTONG MAGMA GUNUNGAPI IJEN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hena Dian Ayu

    2014-05-01

    Full Text Available Mekanisme erupsi suatu gunungapi dapat dilihat berdasarkan karakteristik dan bagaimana model kantong magma gunungapi tersebut.  Karakteristik dan posisi kantong magma dapat diestimasi dengan mengunakan metode seismik yaitu dengan menganalisa rekaman sinyal seismik dari suatu gempa vulkanik maupun tektonik. Analisis terhadap rekaman sinyal gempa vulkanik (tipe A dan tipe B dan tremor harmonik yang didapatkan dari 3 stasiun seismik yaitu Ijen (Ijen, Terowongan Ijen (TRWI dan Kawah Utara Ijen (KWUI dilakukan dengan cara menyeleksi sinyal  berdasarkan waveform dan dilihat pola spektralnya untuk mendapatkan kandungan frekuensinya. Analisis hiposenter dilakukan untuk mengetahui kedalaman gempa vulkanik dan mengestmasi dimanakah dan bagaimana model kantong magmanya. Dari perhitungan diperoleh sebaran posisi hiposenter berada pada kedalaman berkisar 0–2.500 meter dibawah Kawah Ijen untuk Gempa VB, 2.000–2.500 meter dibawah Kawah Ijen untuk Gempa VA dan 5.000–50.000 meter dibawah permukaan laut untuk Gempa Tektonik Lokal.  Hasil penelitian menunjukkan daerah aseismik berada pada kedalaman lebih dari 4000 meter dibawah permukaan laut, yang diindikasikan sebagai kantung magma. Adapun proses internal yang terjadi adalah lebih disebabkan oleh adanya pergeseran patahan karena terjadi peningkatan aktivitas magma. Dan didapatkan pula bahwa model kantong magmanya bersistem ganda. Pada model ini, Letusan dapat dipandang sebagai terjadinya proses pengosongan kantong magma dangkal. Gaya eksternal F(t dianalogikan tekanan magma yang mengandung gas Pm(t, gaya pegas (-ky analog dengan tekanan hidrotermal dari air danau kawah. Diasumsikan bahwa ketika gaya eksternal yang mendorong massa sudah melebihi gaya pegas dan redamannya yang menahan massa, maka gaya eksternal akan keluar pada panjang pegas dan massa akan memantul kembali. Keadaan tersebut dianalogikan dengan terjadinya erupsi, yaitu ketika tekanan magma (Pm sudah melebih tekanan hidrotermal (Ph, maka

  17. Transgenic algae engineered for higher performance

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Unkefer, Pat J; Anderson, Penelope S; Knight, Thomas J

    2014-10-21

    The present disclosure relates to transgenic algae having increased growth characteristics, and methods of increasing growth characteristics of algae. In particular, the disclosure relates to transgenic algae comprising a glutamine phenylpyruvate transaminase transgene and to transgenic algae comprising a glutamine phenylpyruvate transaminase transgene and a glutamine synthetase.

  18. Evaluasi Sistem Monitoring dan Penertiban Frekuensi dan Perangkat Telekomunikasi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Amry Daulat Gultom

    2014-03-01

    Full Text Available Spektrum Frekuensi Radio merupakan Sumber Daya Alam yang terbatas, yang dalam hal pengelolaannya memberikan dampak strategis dan ekonomis bagi kesejahteraan masyarakat. Direktorat Jenderal (Ditjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI Kementerian Komunikasi dan Informatika merupakan Lembaga Pengelola Spektrum Frekuensi Radio yang diakui International Telecommunication Union (ITU sebagai Administrasi Telekomunikasi, mewakili Indonesia dalam konferensi internasional dan regional di bidang pengelolaan spektrum frekuensi radio. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kondisi penyelenggaraan monitoring dan penertiban frekuensi dan perangkat telekomunikasi, serta menghasilkan konsep strategi guna  peningkatan penyelenggaraan monitoring dan penertiban frekuensi dan perangkat  telekomunikasi.  Penelitian  ini  menggunakan  teknik analisis data kuantitatif SWOT dan menghasilkan 5 (lima strategi utama yaitu pemanfaatan cakupan wilayah, optimalisasi SDM dan penyetaraan organisasi, optimalisasi gedung dan perangkat, peningkatan sistem administrasi dan pelaporan, perbaikan sistem penanganan kasus.

  19. Air pollution emission reduction techniques in combustion plants; Technique de reduction des emissions de polluants atmospheriques dans les installations de combustion

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Bouscaren, R. [CITEPA, Centre Interprofessionnel Technique d`Etudes de la Pollution Atmospherique, 75 - Paris (France)

    1996-12-31

    Separating techniques offer a large choice between various procedures for air pollution reduction in combustion plants: mechanical, electrical, filtering, hydraulic, chemical, physical, catalytic, thermal and biological processes. Many environment-friendly equipment use such separating techniques, particularly for dust cleaning and fume desulfurizing and more recently for the abatement of volatile organic pollutants or dioxins and furans. These processes are briefly described

  20. FUNCTIONAL VEGETABLE SALADS WITH ALGAE

    OpenAIRE

    Козонова, Ю.О.; Авдєєва, А.А.

    2015-01-01

    Now on the Ukrainian market frozen vegetable salads are well represented. They contain a small amount of protein and have an unbalanced composition nutrientny. Adding algae to the vegetable salads composition allows to resolve this contradiction. In this paper the functional vegetable salads expanding assortment possibilities are represented. The product components composition was designed. It is advisable to add different types of algae (kelp, spirulina and fucus) to the quick-frozen functio...

  1. Scenario studies for algae production

    OpenAIRE

    Slegers, P.M.

    2014-01-01

    Microalgae are a promising biomass for the biobased economy to produce food, feed, fuel, chemicals and materials. So far, large-scale production of algae is limited and as a result estimates on the performance of such large systems are scarce. There is a need to estimate large-scale biomass productivity and energy consumption, while considering the uncertainty and complexity in such large-scale systems. In this thesis frameworks are developed to assess 1) the productivity during algae cultiva...

  2. Neuroprotective Effects of Marine Algae

    OpenAIRE

    Se-Kwon Kim; Ratih Pangestuti

    2011-01-01

    The marine environment is known as a rich source of chemical structures with numerous beneficial health effects. Among marine organisms, marine algae have been identified as an under-exploited plant resource, although they have long been recognized as valuable sources of structurally diverse bioactive compounds. Presently, several lines of studies have provided insight into biological activities and neuroprotective effects of marine algae including antioxidant, anti-neuroinflammatory, choline...

  3. Carotenoids in Algae: Distributions, Biosyntheses and Functions

    OpenAIRE

    Shinichi Takaichi

    2011-01-01

    For photosynthesis, phototrophic organisms necessarily synthesize not only chlorophylls but also carotenoids. Many kinds of carotenoids are found in algae and, recently, taxonomic studies of algae have been developed. In this review, the relationship between the distribution of carotenoids and the phylogeny of oxygenic phototrophs in sea and fresh water, including cyanobacteria, red algae, brown algae and green algae, is summarized. These phototrophs contain division- or class-specific carote...

  4. Application of algae-biosensor for environmental monitoring.

    Science.gov (United States)

    Umar, Lazuardi; Alexander, Frank A; Wiest, Joachim

    2015-08-01

    Environmental problems including water and air pollution, over fertilization, insufficient wastewater treatment and even ecological disaster are receiving greater attention in the technical and scientific area. In this paper, a method for water quality monitoring using living green algae (Chlorella Kessleri) with the help of the intelligent mobile lab (IMOLA) is presented. This measurement used two IMOLA systems for measurement and reference simultaneously to verify changes due to pollution inside the measurement system. The IMOLA includes light emitting diodes to stimulate photosynthesis of the living algae immobilized on a biochip containing a dissolved oxygen microsensor. A fluid system is used to transport algae culture medium in a stop and go mode; 600s ON, 300s OFF, while the oxygen concentration of the water probe is measured. When the pump stops, the increase in dissolved oxygen concentration due to photosynthesis is detected. In case of a pollutant being transported toward the algae, this can be detected by monitoring the photosynthetic activity. Monitoring pollution is shown by adding emulsion of 0,5mL of Indonesian crude palm oil and 10mL algae medium to the water probe in the biosensor. PMID:26737928

  5. Formulasi Dan Evaluasi Kestabilan Fisik Krim Ekstrak Rumput Laut Euchema Spinosum

    OpenAIRE

    Pakki, Ermina; Syukur, Rahmawati; Fatmawaty, Aisyah

    2007-01-01

    Rumput laur Euchema spinosum merupakan salah satu jenis dari alga merah (Rbodopbyta) mengandung senyawa phycobiliprotan yang tersusun atas beberapa gugus kromofor diantaranya phycoerythrin, phycocyanin, aflophycocyanin, dan phycourobilin. Adanya kandungan rumput ini Eucheuma spinosum berpotensi uniuk dikembangkan menjadi bahan sebagai tabir surya.

  6. STUDI PENDAHULUAN OZONASI (KATALITIK DAN NON KATALITIK LIMBAH CAIR KARBOFURAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Enjarlis Enjarlis

    2012-02-01

    Full Text Available Karbofuran adalah insektisida yang banyak digunakan oleh petani padi di Indonesia. Di perairan karbofuran berpotensi membentuk organoklorida dengan klor atau turunan klor. Oleh sebab itu,   karbofuran  digunakan sebagai objek  penelitian untuk disisihkan dalam air dengan proses ozonasi. Proses ozonasi  mampu menguraikan organik kompleks menjadi sederhana dan  meningkatkan sifat biodegradable. Tujuan penelitian yaitu membandingkan  penyisihan karbofuran  dalam air dengan proses ozonasi non-katalitik dan katalitik menggunakan katalis karbon aktif. Ragam percobaan yaitu pH (2, 7, dan 9 pada  suhu kamar  selama  60 menit.  Analisis konsentrasi karbofuran  menggunakan kromatografi gas dan konsentrasi zat organik  sebagai Chemical Oxigen Deman (COD secara titrasi pada satiap10 menit selama 60 menit. Hasil percobaan memperlihatkan proses ozonasi katalitik dan non-katalitik terbaik  pada kondisi basa (pH 9  dengan penyisihan karbofuran 100 % dan COD turun dari 134 ppm menjadi 38 ppm untuk ozonasi katalitik, sedangkan pada ozonasi non-katalitik penyisihan  karbofuran  46,4 % dan  COD turun menjadi  70 ppm. Perubahan suhu dan pH selama proses baik ozonasi katalitik maupun non-katalitik  tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

  7. Analisis Pengaruh Lingkungan Kerja Dan Insentif Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Di Pabrik Kelapa Sawit PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Air Batu Asahan

    OpenAIRE

    Nasution, Fuad Abdillah

    2013-01-01

    Business development is becoming competitive; therefore, a company is expected to use its human resources properly and correctly. In an attempt to increase the work productivity at PT. Perkebunan Nusantara IV, Air Batu Plantation, Asahan, the employees should be dynamic, creative and transparent, but they have to be critical and responsive to new ideas and changes. Productive employees are those who are skillful and able to understand their job as what has been expected. It can be seen from t...

  8. Penetapan Kadar Mangan (Mn) Air Reservoir Dengan Cara Colorimetri Di Laboratorium PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Tirtanadi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sunggal Medan

    OpenAIRE

    Febrianti, Adisty Raturia

    2011-01-01

    Air merupakan zat pelarut yang penting untuk makhluk hidup dan adalah bagian penting dalam proses metabolisme. Dari sudut pandang biologi, air memiliki sifat-sifat yang penting untuk adanya kehidupan. Semua makhluk hidup memiliki ketergantungan terhadap air. Masalahnya, saat ini kualitas air minum di kota-kota besar di Indonesia masih memprihatinkan. Kepadatan penduduk, tata ruang yang salah dan tingginya eksploitasi sumber daya air sangat berpengaruh pada kualitas air. Selain itu, kelangkaan...

  9. Considering a point-source in a regional air pollution model; Prise en compte d`une source ponctuelle dans un modele regional de pollution atmospherique

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Lipphardt, M.

    1997-06-19

    This thesis deals with the development and validation of a point-source plume model, with the aim to refine the representation of intensive point-source emissions in regional-scale air quality models. The plume is modelled at four levels of increasing complexity, from a modified Gaussian plume model to the Freiberg and Lusis ring model. Plume elevation is determined by Netterville`s plume rise model, using turbulence and atmospheric stability parameters. A model for the effect of a fine-scale turbulence on the mean concentrations in the plume is developed and integrated in the ring model. A comparison between results with and without considering micro-mixing shows the importance of this effect in a chemically reactive plume. The plume model is integrated into the Eulerian transport/chemistry model AIRQUAL, using an interface between Airqual and the sub-model, and interactions between the two scales are described. A simulation of an air pollution episode over Paris is carried out, showing that the utilization of such a sub-scale model improves the accuracy of the air quality model

  10. Nos voisines, les bêtes : situation des conflits avec la faune sauvage dans une aire protégée de la périphérie de Manaus (Amazonas, Brésil

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Guillaume Marchand

    2012-05-01

    Full Text Available Au cours des trente dernières années, les différentes expérimentations menées en matière de protection de la faune sauvage au Brésil ont conduit à l’élaboration d’aires protégées habitées, jugées plus acceptables et justes sur le plan social. Or, depuis la création de ces espaces, de nombreuses voix ont remis en cause le bien-fondé de ce genre de réserve, considérant que la cohabitation avec la faune sauvage pouvait potentiellement avoir des effets négatifs dans les domaines environnementaux et sociaux. Cet article s’intéresse à l’état des conflits entre humains et faune sauvage dans une communauté appartenant à la réserve de développement durable de Tupé, à la périphérie de Manaus. Il observe notamment la façon dont les conflits sont perçus et résolus afin de montrer la diversité des représentations quant aux espèces problématiques ainsi que les enjeux sociaux et environnementaux qui reposent sur leur protection.  During the last thirty years, few different experiments on protection of wild fauna in Brazil have led to the development of inhabited protected areas, seen as socially more acceptable and fairer. However, since their creation, the validity of this kind of protected areas has been questioned, considering that the coexistence between men and wild fauna may have negative effects for environment as well as local communities. This paper focuses on human/wildlife conflicts in a rural community in the sustainable development reserve of Tupé, located in the periphery of Manaus city. It mainly observes how conflicts are perceived and resolved and it shows how diverse are the representations regarding problematic species, as well as environmental and social issues related to their protection.

  11. Pemetaan Sebaran Dan Karakter Populasi Tanaman Buah Di Sepanjang Koridor Jalur Wisatadesa Kemiren, Tamansuruh, Dan Kampunganyar, Kabupaten Banyuwangi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Zakiyah Zakiyah

    2013-09-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peta persebaran tanaman buah, karakter populasi tanaman buah, serta persepsi masyarakat pemilik tanaman buah di sepanjang jalur wisata Desa Kemiren, Tamansuruh, dan Kampunganyar, Kabupaten Banyuwangi. Metode yang dilakukan meliputi survei pemetaan tanaman buah (mangga, rambutan, manggis, durian, jambu air dan jambu biji dengan merekam titik koordinat dari GPS untuk setiap tanaman buah. Penentuan karakter populasi tanaman buah dilakukan dengan mengamati morfologi tanaman terkait vitalitas dan periodisitas. Persepsi masyarakat dilakukan dengan wawancara dan kuisioner. Analisis data dilakukan dengan mengolah data koordinat dan data pengamatan karakter populasi tanaman buah ke dalam peta dasar melalui aplikasi GIS. Pemetaan persepsi masyarakat diperoleh dengan wawancara dan kuisioner yang dihitung dengan skala Likert kemudian dipetakan sebaran spasialnya dengan aplikasi GIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persebaran tanaman buah yang ada di pekarangan rumah banyak tersebar di sepanjang jalur desa wisata dengan perbandingan jumlah buah yang ditemukan di Desa Kemiren 76 pohon, Tamansuruh 53 pohon, dan Kampunganyar 40 pohon. Kondisi tanaman buah dalam keadaan tumbuh dengan baik, bertunas, berbunga dan berbuah, hal ini dikarenakan pada saat penelitian waktunya tanaman buah memasuki masa berbuah dan masa panen. Antusiasme masyarakat tinggi untuk menjadikan tanaman buah yang ada di sepanjang jalur desa wisata sebagai daya tarik wisatawan. Kata Kunci: jalur wisata, karakter populasi, pemetaan, persepsi, tanaman buah

  12. Perancangan Sistem Pengukuran pH dan Temperatur Pada Bioreaktor Anaerob Tipe Semi-Batch

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dimas Prasetyo Oetomo

    2013-12-01

    Full Text Available Proses pada bioreaktor dapat dilakukan secara aerob yaitu menggunakan bantuan oksigen dan anaerob yaitu tidak menggunakan bantuan oksigen. Pada penelitian ini dilakukan fermentasi  enceng gondok untuk menghasilkan biogas menggunakan bioreaktor anaerob tipe semi-batch. Enceng gondok memiliki rasio C/N sebesar 22.5 – 35.84% yang merupakan komposisi optimum untuk ekstraksi biogas. Kinerja dari bioreaktor dalam produksi biogas dipengaruhi oleh beberapa parameter seperti pH dan temperatur. Pada penelitian ini dilakukan perancangan sistem pengukuran besaran pH dan temperatur secara online sehingga memudahkan dalam pengambilan data. Bahan yang digunakan pada proses fermentasi adalah campuran enceng gondok yang telah dicincang dan dicampur air dengan dua komposisi penambahan berbeda untuk dibandingkan. Pada Bioreaktor1 digunakan komposisi enceng gondok dan air sebesar 1:3 dan pada bioreaktor 2 digunakan komposisi enceng gondok dan air sebesar 0,75: 1,25. Hasil penelitian menyebutkan bahwa bioreaktor 2 dengan komposisi enceng gondok dan air sebesar 0,75: 1,25 menghasilkan biogas lebih aktif dibandingkan dengan bioreaktor 1 dengan komposisi enceng gondok dan air sebesar 1 : 3. Hal tersebut diketahui dari hasil pengukuran selama 76 hari. Dari hasil pengukuran juga diketahui bahwa penurunan nilai COD pada bioreaktor 2 lebih besar dari pada  bioreaktor 1.

  13. Keratoacanthoma Dan Perawatannya

    OpenAIRE

    Indah Heriyanti

    2008-01-01

    Keratoacanthoma adalah suatu tumor jinak yang berasal dari jaringan epitel dan biasanya di jumpai pada permukaan kulit yang umumnya terjadi pada bagian kulit yang sering terkena sinar matahari dimana tumor ini dapat sembuh dengan spontan. Lesi ini biasanya berawal sebagai makula yang kecil yang berwarna merah dan kemudian menjadi papula yang kokoh dan bersisik pada permukaanya. Papul ini dengan cepat membesar selama 2 sampai 8 minggu. Pada awalnya berbentuk bulat atau oval,kokoh menonjol ...

  14. DEPRESI DAN GANGGUAN TIDUR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wayan Eko Radityo

    2012-12-01

    Full Text Available Depresi merupakan gangguan mood berupa kesedihan yang intens, berlangsung dalamwaktu lama, dan mengganggu kehidupan normal yang insidennya semakin meningkatseiring dengan meningkatnya tekanan hidup. Tahun 2020, depresi diperkirakanmenempati urutan kedua penyakit di dunia. Gejala-gejala depresi terdiri dari gangguanemosi, gangguan kognitif, keluhan somatik, gangguan psikomotor, dan gangguanvegetatif. Salah satu gejala depresi yang muncul adalah gangguan tidur yang bisaberupa insomnia, bangun secara tiba-tiba, dan hipersomnia. Hal ini disebabkan olehgangguan neurotransmiter dan regulasi hormon. Selain sebagai gejala depresi, gangguantidur juga bisa merupakan penyebab depresi. Beberapa penelitian memberikanhubungan gangguan tidur dapat meningkatkan risiko depresi di kemudian hari.

  15. Conception d'une machine d'essai française pour caractériser les mécanismes de libération des fibres d'amiante dans l'air lors des chantiers de BTP. Action 5 convention DGPR 2010

    OpenAIRE

    MAURIN, Patrice; HUGUES, Laure; PEREZ, Jean-Louis

    2011-01-01

    l'analyse des différentes machines utilisées dans le monde pour caractériser le dégagement des fibres dans l'air montre qu'elles ne semblent pas adaptées au problème posé (roches amiantifères dures). C'est pourquoi, il est proposé de réaliser deux machines adaptées à partir des essais Los Angelès et Micro-Deval avec mesure du taux de dégagement des fibres d'amiante. La validation de ce protocole expérimental d'essais ferait l'objet d'un premier point d'un plan d'actions qui pourrait comporter...

  16. Pengaruh Ketebalan Media Geotextile dan Arah Aliran Slow Sand Filter Rangkaian Seri untuk Menyisihkan P Total dan N Total

    OpenAIRE

    Ayuningtyas Ayuningtyas Ayuningtyas; Nurina Nurina Fitriani; Wahyono Wahyono Hadi

    2014-01-01

    Pada penelitian ini dilakukan pengujian terhadap parameter-parameter yang berkaitan dengan standar kualitas air minum berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.492/MENKES/PER/IV/2010 pada air baku Kali Surabaya yang terlebih dahulu diolah pada unit pretreatment di IPAM Ngagel 1 Surabaya dan air yang akan diolah berasal dari outlet prasedimentasi. Air outlet prasedimentasi diolah terlebih dahulu menggunakan 4 unit roughing filter yang disusun secara seri kemudian diolah leb...

  17. Algae Bloom in a Lake

    OpenAIRE

    David Sanabria

    2008-01-01

    The objective of this paper is to determine the likelihood of an algae bloom in a particular lake located in upstate New York. The growth of algae in this lake is caused by a high concentration of phosphorous that diffuses to the surface of the lake. Our calculations, based on Fick's Law, are used to create a mathematical model of the driving force of diffusion for phosphorous. Empirical observations are also used to predict whether the concentration of phosphorous will diffuse to the surface...

  18. Algae Bloom in a Lake

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    David Sanabria

    2008-01-01

    Full Text Available The objective of this paper is to determine the likelihood of an algae bloom in a particular lake located in upstate New York. The growth of algae in this lake is caused by a high concentration of phosphorous that diffuses to the surface of the lake. Our calculations, based on Fick's Law, are used to create a mathematical model of the driving force of diffusion for phosphorous. Empirical observations are also used to predict whether the concentration of phosphorous will diffuse to the surface of this lake within a specified time and under specified conditions.

  19. The use of high induction air dispersion tubing for fresh air supply in high-ceiling factories or buildings; Utilisation des tubes de dispersion d'air a haute induction en situation d'apport d'air neuf ou autre dans les usines ou batiments en hauteur

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Dufresne, A. [Nad Klima, Sherbrooke, PQ (Canada)

    2010-03-15

    This article described a new air distribution system that was installed at the Transcontinental printing plant in Boucherville, Quebec to replace an inefficient system that required 8 coolers, 11 ventilators, 10 pumps and 4 air cooled condensers. The new NAD tube system operates on the principle of air injection, whereby a jet of air emerging from a nozzle creates a zone of depression to move large masses of air in any desired direction via small airflow jets. The objective of the retrofit was to reduce maintenance and HVAC energy costs and to resolve the problems of negative pressure in the building. With the new NAD tube system, all the equipment is grouped into one room. Exothermic cycles are used to heat or cool the air in the building for free using absorption coolers. The high induction air dispersing tube has several nozzles calibrated by software to move air at a very high speed. This creates turbulence to facilitate air exchange. The system has operated successfully, even on very cold days of -28 degrees C, without any condensation in the tube. The NAD tube system provides increased comfort for employees and does not require the use of fans. The payback period is 3.2 years without funding or 2.4 years with funding. 1 tab., 5 figs.

  20. STANDARISASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK ETANOL DAUN SEMBUNG (Blumea balsamifera (L DARI TIGA TEMPAT TUMBUH

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ani Isnawati

    2012-09-01

    Full Text Available Daun Sembung (Blumea balsamifera. L pada penelitian pendahuluan terbukti tidak toksik dan dapat menghambat atropi usus serta memperlihatkan efek esterogenikpada binatang coba. Kandungan kimia daun Sembung antara lain: borneol kamfer, flavanoid sineol, dan glikosida. Khasiat obat tradisional disebabkan oleh senyawa kimia yang dikandungnya. Bahan baku obat hasil pertanian atau kumpulan tumbuhan liar kandungan kimianya tidak dapat dijamin selalu konstan karena ada variabel bibit, tempat tumbuh, iklim, kondisi (umur dan cara panen. Kandungan senyawa kimia yang bertanggung jawab terhadap respon biologis harus mempunyai spesifikasi kimia, yaitu informasi komposisi (jenis dan kadar. Oleh karena itu penetapan standarisasi suatu simplisia dan ekstrak perlu dilakukan guna menjamin bahwa bahan suatu produk obat tradisional dapat terjamin mutunya. Standarisasi dilakukan terhadap simplisia dan ekstrak etanol daun Sembung. Standarisasi terhadap simplisia meliputi: penetapan kadar abu, kadar abu larut air, kadar abu tidak larut asam, kadar sari larut air, kadar sari larut asam, dan kadar air secara destilasi. Cara penetapan di atas dilakukan sesuai prosedur yang telah ditetapkan MMI, 1977. Sedangkan Standarisasi ekstrak etanol mencakup: karakterisasi non spesifik yang meliputi, kadar air, kadar sisa pelarut, kadar abu dan penetapan bobot jenis, dan standarisasi spesifik yang mencakup pemeriksaan senyawa yang terlarut dalam pelarut air dan etanol, pola kromatogrqfi dengan cara KLT-densitometri, pemeriksaan, penetapan kadar borneol sebagai senyawa identitas dan penetapan senyawa total flavanoid sebagai senyawa yang diduga bertanggung jawab terhadap efek yang menyerupai hormon esteroge. Hasil standarisasi diperoleh nilai rentang dari tiap jenis parameter simplisia daun Sembung yang diperoleh dari daerah Bogor, Malang dan Tawangmangu.   Kata Kunci: Daun Sembung, Standarisasi simplisia, Standarisasi ekstrak etanol 70%

  1. Formation of algae growth constitutive relations for improved algae modeling.

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Gharagozloo, Patricia E.; Drewry, Jessica Louise.

    2013-01-01

    This SAND report summarizes research conducted as a part of a two year Laboratory Directed Research and Development (LDRD) project to improve our abilities to model algal cultivation. Algae-based biofuels have generated much excitement due to their potentially large oil yield from relatively small land use and without interfering with the food or water supply. Algae mitigate atmospheric CO2 through metabolism. Efficient production of algal biofuels could reduce dependence on foreign oil by providing a domestic renewable energy source. Important factors controlling algal productivity include temperature, nutrient concentrations, salinity, pH, and the light-to-biomass conversion rate. Computational models allow for inexpensive predictions of algae growth kinetics in these non-ideal conditions for various bioreactor sizes and geometries without the need for multiple expensive measurement setups. However, these models need to be calibrated for each algal strain. In this work, we conduct a parametric study of key marine algae strains and apply the findings to a computational model.

  2. Alat Ukur Parameter Tanah dan Lingkungan Berbasis Smartphone Android

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Agus Mulyana

    2016-02-01

    Full Text Available Jenis tanah dalam suatu wilayah dapat berbeda jenis tergantung dari kontur dan letak wilayah. Sebagai contoh, pemilihan jenis tanah yang tepat dapat menentukan tingkat keberhasilan bercocok tanam. Faktor yang dapat menjadi parameter keberhasilan diantaranya suhu lingkungan, kelembaban lingkungan, kandungan air dalam tanah, ketinggian lahan, kemiringan kontur tanah, serta lokasi lahan. Saat ini belum terdapat alat ukur terintegrasi yang dapat mengetahui parameter-parameter yang diperlukan seperti suhu, kelembaban, kandungan air dalam tanah, kemiringan lahan, ketinggian lahan, serta luas dan keliling lahan. Dengan pemilihan lahan yang tepat guna, akan meminimalisir akibat dari penyalahgunaan lahan seperti bencana alam dan kerusakan lingkungan. Alat ukur ini dapat menampilkan hasil pengukuran luas, keliling, suhu, kelembaban, kelembaban tanah, dan lokasi dari lahan. Smartphone Android menjadi bagian utama dalam alat ini sebagai pengukur luas dan keliling berdasarkan data latitude dan longitude yang bersumber dari sensor Global Positioning System (GPS Smartphone menggunakan metode Haversine. Sensor suhu dan kelembaban yang digunakan adalah DHT-22 serta sensor Soil Moisture. Kedua sensor tersebut dibaca oleh mikrokontroler Arduino Nano. 

  3. Pengaruh Jenis Dan Konsentrasi Pelarut Dalam Reduksi Ekses Lumpur Aktif

    OpenAIRE

    Maya Sarah

    2009-01-01

    Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan sistem lumpur aktif masih belum efektif karena biomassa yang terbentuk terlalu banyak sehingga membutuhkan penanganan khusus. Salah satu upaya penanganan ekses biomassa adalah dengan mereduksi volume biomassa pada kondisi anaerobik menggunakan pelarut NaOH dan HCl. Dalam penelitian ini ekses lumpur aktif yang digunakan adalah ekses lumpur aktif yang dihasilkan industri pembuatan kertas, dan yang menjadi indikator keberhasilan proses adalah kemam...

  4. Pengaruh Pemberian Tepung Eceng Gondok (Eichornia grassipes) dan Paku Air (Azolla Pinnata) Fermentasi terhadap Performans Ayam Broiler (The Effect of Utilization of Fermented Water Hyacinth [Eichornia Grassipes] and Axis Water [Azolla Pinnata] with Asper

    OpenAIRE

    Saleh, Eniza; Rifai, Joharnomi; Sari, Enna

    2009-01-01

    Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penggunaan tepung eceng gondok dan Azolla pinnata fermentasi terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, dan konversi ransum. Metode penelitian ini memakai rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan, 4 ulangan dengan masing-masing plot terdiri dari 5 ekor ayam. Perlakuan R0 merupakan ransum kontrol (basal), R1 = pemberian 5% eceng gondok + 20% Azolla pinnata dalam ransum, R2 = Pemberian 10% eceng gondok + 15% Azolla pinnata dalam ransum, R...

  5. Exposition by inhalation to the benzene, toluene, ethyl-benzene and xylenes (BTEX) in the air. Sources, measures and concentrations; Exposition par inhalation au benzene, toluene, ethylbenzene et xylenes (BTEX) dans l'air. Source, mesures et concentrations

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Del Gratta, F.; Durif, M.; Fagault, Y.; Zdanevitch, I

    2004-12-15

    This document presents the main techniques today available to characterize the benzene, toluene, ethyl-benzene and xylene (BTEX) concentrations in the air for different contexts: urban and rural areas or around industrial installations but also indoor and occupational area. It provides information to guide laboratories and research departments. A synthesis gives also the main emissions sources of these compounds as reference concentrations measured in different environments. (A.L.B.)

  6. 21 CFR 184.1120 - Brown algae.

    Science.gov (United States)

    2010-04-01

    ... 21 Food and Drugs 3 2010-04-01 2009-04-01 true Brown algae. 184.1120 Section 184.1120 Food and Drugs FOOD AND DRUG ADMINISTRATION, DEPARTMENT OF HEALTH AND HUMAN SERVICES (CONTINUED) FOOD FOR HUMAN... Substances Affirmed as GRAS § 184.1120 Brown algae. (a) Brown algae are seaweeds of the species...

  7. 21 CFR 184.1121 - Red algae.

    Science.gov (United States)

    2010-04-01

    ... 21 Food and Drugs 3 2010-04-01 2009-04-01 true Red algae. 184.1121 Section 184.1121 Food and Drugs FOOD AND DRUG ADMINISTRATION, DEPARTMENT OF HEALTH AND HUMAN SERVICES (CONTINUED) FOOD FOR HUMAN... Substances Affirmed as GRAS § 184.1121 Red algae. (a) Red algae are seaweeds of the species...

  8. Macro algae as substrate for biogas production

    DEFF Research Database (Denmark)

    Møller, Henrik; Sarker, Shiplu; Gautam, Dhan Prasad;

    Algae as a substrate for biogas is superior to other crops since it has a much higher yield of biomass per unit area and since algae grows in the seawater there will be no competition with food production on agricultural lands. So far, the progress in treating different groups of algae as a sourc...

  9. Algae. LC Science Tracer Bullet.

    Science.gov (United States)

    Niskern, Diana, Comp.

    The plants and plantlike organisms informally grouped together as algae show great diversity of form and size and occur in a wide variety of habitats. These extremely important photosynthesizers are also economically significant. For example, some species contaminate water supplies; others provide food for aquatic animals and for man; still others…

  10. Scenario studies for algae production

    NARCIS (Netherlands)

    Slegers, P.M.

    2014-01-01

    Microalgae are a promising biomass for the biobased economy to produce food, feed, fuel, chemicals and materials. So far, large-scale production of algae is limited and as a result estimates on the performance of such large systems are scarce. There is a need to estimate large-scale biomass producti

  11. Pengaruh Ketebalan Media dan Rate filtrasi pada Sand Filter dalam Menurunkan Kekeruhan dan Total Coliform

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Deni Maryani

    2014-09-01

    Full Text Available Pada penelitian ini dilakukan proses filtrasi dengan menggunakan sand filter sebagai salah satu metode dalam pengolahan air bersih. Pada sand filter proses penyaringan terjadi pada media filter yang sangat halus, seperti media filter pada unit slow sand filter. Kecepatan penyaringan yang diinginkan pada sand filter ini adalah kecepatan seperti pada unit rapid sand filter. Sehingga sand filter ini adalah penggabungan antara kelebihan yang dimiliki slow sand filter dan rapid sand filter. Variasi pada penelitian ini yaitu: tebal media pasir 80 cm dengan rate filtrasi 5 m3/m2.jam, tebal media pasir 80 cm dengan rate filtrasi 7,5 m3/m2.jam, tebal media pasir 100 cm dengan rate filtrasi 5 m3/m2.jam, tebal media pasir 100 cm dengan rate filtrasi 7,5 m3/m2.jam, tebal media pasir 120 cm dengan rate filtrasi 5 m3/m2.jam dan tebal media pasir 120 cm dengan rate filtrasi 7,5 m3/m2.jam. Pada penelitian ini digunakan air baku yaitu air Kali Surabaya dengan nilai rata-rata total coliform 90.000 per 100 ml sampel dan nilai rata-rata kekeruhan 87,4 NTU. Dihasilkan bahwa penyisihan total coliform pada variasi tebal media 120 cm dan rate filtrasi 5 m3/m2/jam dengan nilai efisiensi sebesar 99% dan kekeruhan paling baik terjadi pada variasi panjang variasi tebal media 100 cm dan rate filtrasi 5 m3/m2/jam dengan nilai efisiensi sebesar 98,27%.

  12. Perbedaan Kandungan Asam Salisilat Dalam Sayuran Sebelum Dan Sesudah Dimasak Yang Dijual Di Pasar Swalayan Di Kota Medan Tahun 2008

    OpenAIRE

    Ester Simatupang

    2009-01-01

    Sayuran merupakan tumbuhan yang dapat dimakan sebagai pelengkap makanan karena mengandung vitamin dan mineral. Dalam budidaya sayuran tidak terlepas dari masalah hama dan penyakit tanaman. Dalam mengatasi masalah tersebut penggunaan bahan kimia untuk mempertahankan produksi sayuran sudah tak asing lagi seperti penggunaan asam salisilat. Asam salisilat sukar larut dalam air dan larut dalam air mendidih dimana titik didih asam salisilat adalah 2800C. Asam salisilat pada sayuran dosisnya memang ...

  13. Contribution to the study of the oxidation of cobalt and its protoxide in air at high temperatures; Contribution a l'etude de l'oxydation du cobalt et de son protoxyde dans l'air aux temperatures elevees

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Vallee, M.G. [Commissariat a l' Energie Atomique, Saclay (France). Centre d' Etudes Nucleaires

    1964-01-15

    The surface oxidation process of cobalt in air follows, a parabolic law and is characterized between 750 and 1350 deg. C by an activation energy of 41,000 cals/mole. Between 400 and 900 deg. C the oxide film is made up of two layers: CoO next to the metal and Co{sub 3}O{sub 4} on the surface. Above 900 deg. C only CoO remains. The morphological properties of these films have been studied; growth anisotropy, crystallization facies, oxide grain growth, texture, nucleation of Co{sub 3}O{sub 4} on a CoO base round about 900 deg. C. The oxidation of cobalt protoxide between 700 and 910 deg. C results in the building up, on the outside surface of CoO discs, of a usually continuous layer of Co{sub 3}O{sub 4}. Under certain conditions this surface reaction is accompanied by a reaction along the longitudinal symmetry plane of the sample where a layer of Co{sub 3}O{sub 4} of very irregular thickness builds up. (author) [French] Le processus d'oxydation superficielle du cobalt dans l'air obeit a une loi parabolique et peut etre caracterise, entre 750 et 1350 deg. C, par une energie d'activation de 41 000 calorie s /mole. Entre 400 et 900 deg. C, la pellicule d'oxyde est constituee de deux couches superposees de CoO, au contact du metal et de Co{sub 3}O{sub 4} en surface. Au-dessus de 900 deg. C, seul subsiste CoO. On a etudie les proprietes morphologiques de ces pellicules: anisotropie de croissance, facies de cristallisation, croissance des grains d'oxyde, texture, germination de Co{sub 3}O{sub 4} sur un support de CoO au voisinage de 900 deg. C. L'oxydation du protoxyde de cobalt entre 700 et 910 deg. C se traduit par l'edification, sur la surface exterieure des plaquettes de CoO, d'une couche en general continue de Co{sub 3}O{sub 4}. Dans certaines conditions, a cette reaction superficielle se superpose parfois une reaction suivant le plan de symetrie longitudinal de l'echantillon ou s'edifie alors une couche de Co{sub 3}O

  14. Peningkatan EPA dan DHA Rotifer (Brachionus plicatilis) oleh Bacillus sp. dengan Periode Pengkayaan Berbeda

    OpenAIRE

    Budi, Sutia; Zainuddin; Aslamyah, Siti

    2012-01-01

    Brachionus plicatilis memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan pakan alami lainnya, seperti ukurannya yang relatif kecil, tetap bertahan di kolom air dan tidak mengendap, bergerak dengan kecepatan yang rendah dan laju perkembangbiakan yang cukup tinggi, merupakan pakan alami yang banyak dipergunakan usaha pembenihan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pengkayaan dengan menambahkan Bacillus sp. Pada media kultur terhadap EPA dan DHA Nannochloropsis sp. dengan kepadatan 105 ce...

  15. Use of a heating test to calculate the air renewable rate in an MV/LV substation; Exploitation d`un essai d`echauffement pour le calcul du renouvellement d`air dans un poste HTA/BT

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Duquerroy, P.

    1997-12-31

    In order to determine the behaviour of the ventilation system in a MV/LV distribution substation, results of heating tests at different load levels have been used. Knowing the power generated by the transformer and the switchgear, and after calculating the power dissipated through the walls, it was possible to estimate the power evacuated by ventilation and thus the air flow through the grid. The resulting equations were introduced in the thermal model of the substation using the CLIM 2000 building heat engineering software. Simulation results are in agreement with experimental data

  16. Macro algae as substrate for biogas production

    DEFF Research Database (Denmark)

    Møller, Henrik; Sarker, Shiplu; Gautam, Dhan Prasad;

    Algae as a substrate for biogas is superior to other crops since it has a much higher yield of biomass per unit area and since algae grows in the seawater there will be no competition with food production on agricultural lands. So far, the progress in treating different groups of algae as a source...... of energy is promising. In this study 5 different algae types were tested for biogas potential and two algae were subsequent used for co-digestion with manure. Green seaweed, Ulva lactuca and brown seaweed Laminaria digitata was co-digested with cattle manure at mesophilic and thermophilic condition...

  17. LIMBAH CAIR INDUSTRI KECIL DAN PENCEMARAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Kumoro Palupi

    2012-10-01

    Full Text Available Beberapa jenis industri kecil yang banyak tersebar, antara lain adalah pabrik tempe, tabu, kecap, dan sirup. Kualitas limbah yang dihasilkan industri-industri tersebut sangat jauh dari memenuhi syarat. Selain itu, limbah cair tersebut dibuang langsung ke saluran terbuka/tertutup yang bermuara di badan-badan air terdekat.Untuk mengurangi besamya beban pencemaran, sejak tahun 1989 pemerintah DKI Jakarta mengadakan Program Kali Bersih  (Prokasih. Sasaran progam adalah penurunan beban pencemaran dari sumbemya secara bertahap sehingga kualitas air sungai akan menjadi lebih baik. Sumber pencemaran yang menjadi sasaran dalam Prokasih adalah industri-industri skala besar dan menengah, sedangkan industri-industri kecil belum termasuk sasaran Prokasih untuk sementara waktu ini. 

  18. POTENSI EKSTRAK DAN FRAKSI BUAH KEMLOKO (Phyllanthus emblica L. SEBAGAI SUMBER ANTIOKSIDAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Meiny Suzery

    2013-11-01

    Full Text Available Tanaman KemLoko (Phyllanthus emblica L. merupakan tanaman yang sering digunakan oleh masyarakat sebagai bahan obat tradisional. Aktivitas biologis tanaman tersebut diduga disebabkan oleh keberadaan senyawa-senyawa kelompok fenolat, terutama golongan flavonoid. Riset mengenai analisis kandungan senyawa fenolat, flavonoid dan aktivitas antioksidan dari ekstrak beserta fraksi-fraksi dari buah kemLoko dari Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Indonesia, untuk pertama kalinya dilaporkan pada publikasi ini. Buah kemLoko kering dimaserasi dalam metanol, diikuti partisi dengan gradien pelarut sehingga diperoleh fraksi n-heksana, fraksi diklorometana, fraksi etil asetat dan fraksi air. Analisis fenolat total, flavonoid total dan aktivitas peredaman radikal DPPH dilakukan terhadap ekstrak atau fraksi yang menunjukan test positif fenolat dan flavonoid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-heksana dan fraksi diklorometana negatif pada uji fenolat dan flavonoid. Kandungan fenolat total ekstrak metanol, fraksi etil asetat dan fraksi air berturut turut adalah 351, 436 dan 111 mg ekuaivalen asam galat/g ekstrak atau fraksi, sedangkan flavonoid total berturut-turut 200, 216 dan 70 mg ekuivalen quercetin/g ekstrak atau fraksi. Aktivitas antioksidan ketiga sampel uji tersebut memiliki IC50 berkisar 58,4 sampai 120,9. Fraksi etil asetat merupakan sampel uji yang paling aktif sebagai antioksidan, selain memiliki kadar fenolat total dan flavonoid total tertinggi.

  19. Allelopatrhic effect of Acorus tatarinowii upon algae

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    2001-01-01

    Besides competing with algae for light and mineralnutrients (i.e. N, P, etc.), the root system of Acorus tatarinowii excretes some chemical substances, which injure and eliminate alga cells, to inhibit the growth of the algae. When the algae cells were treated in "A. tatarinowii water", some of the chlorophyll a were destroyed and the photosynthetic rate of algae decreased markedly and the ability of alga cells to deoxidize triphenyltetrazolium chloride (TTC) reduced greatly. Then alga cells turned from bright red to bluish green under fluorescence microscope. These showed that the allelopathic effects of A.tatarinowii on algae were obvious and planting A. tatarinowii can control some green algae. The experiment on the extractions of the secretions of the root system showed that the inhibitory effect had a concentration effect. If the concentration of the root secretion was below 30 /disc, the inhibitory rate was negative; if it was over 45 /disc, the inhibitory rate was positive. This proved that the influence of the root secretion on the same acceptor was a kind of concentration effect. When the concentration of the root secretion was low, it promoted the growth of algae; when the concentration reached a definite threshold value, it restrained the growth of algae. In present case, the threshold value was between 30 /disc and 45 u?disc.

  20. Pengaruh Media Pendingin pada Heat Treatment Terhadap Struktur Mikro dan Sifat Mekanik Friction Wedge AISI 1340

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bayu Adie Septianto

    2013-09-01

    Full Text Available Baja AISI 1340 termasuk baja paduan rendah dengan komposisi karbon 0.38-0.43% dan Mangan 1,78%. Baja ini digunakan untuk komponen kereta api Friction Wedge yang memiliki standar kekerasan minimal 300 BHN. Untuk menambah kekerasan, salah satu cara yang digunakan adalah heat treatment. Pada penelitian ini variasi yang digunakan adalah media pendingin air, oli SAE 20W, PVA 20% dan pendinginan udara pada tempertaur austenitisasi 8400C dan waktu tahan 20 menit. Kekerasan yang dihasilkan oleh media pendingin air adalah 556,6 BHN, sedangkan quench oli dan polimer 461,8 BHN dan 416 BHN. Pada pendinginan udara dihasilkan kekerasan dibawah 300 BHN. Perbedaan media pendingin berpengaruh terhadap struktur mikro yang terbentuk. Pada pendinginan dengan media air dan oli diperoleh struktur martensit dengan bentuk kristal BCT. Sedangkan pada pendinginan udara terbentuk struktur ferrit dan perlit dengan bentuk kristal BCC. Selain berpengaruh pada sifat mekanik dan struktur mikronya, variasi media pendingin juga memberikan efek terhadap sifat termalnya dan berpengaruh terhadap elongation pada temperatur maksimum kerja. Dari hasil uji TMA, performa paling baik pada temperatur 300oC dihasilkan pada pendinginan quench oli SAE 20W, dengan pertambahan panjang sebesar 0,65%.

  1. ANALISIS KANDUNGAN GIZI DAN LOGAM BERAT IKAN BELANAK (Mugil sp.DI SEKITARDI PERAIRAN SOCAH

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    H Hafiludin

    2012-10-01

    Full Text Available Meningkatnya aktivitas manusia di sekitar perairan Kecamatan Socah seperti limbah industri dan rumah tangga dari Bangkalan, tumpahan bahan bakar kapal yang langsung terbuang ke laut, tumpukan sampah yang sengaja dibuang ke laut dan aktivitas lewatnya kapal laut memungkinkan berpengaruh terhadap biota perairan.Ikan belanak sudah banyak dan ditangkap di perairan Socah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan gizi dan kadungan logam berat ikan belanak (Mugil sp. yang berada di sekitar perairan Socah.Penelitian dimulai dengan pengambilan dan preparasi sampel, pengujian kandungan proksimat dan logam berat dengan perlakuan ukuran ikan (12 cm dan 25 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen ikan belanak ukuran 12 cm sebesar 37,79% dan 38,87% untuk ikan belanak ukuran 25%. Kandungan kadar air berkisar 75,96-76,70%, kandungan protein berkisar 17,64-19,57%, kandungan lemak berkisar 2,83-3,33%, asam lemak bebas berkisar 1,43-1,47%, kandungan abu berkisar 1,14-2,94% dan kandungan karbohidrat berkisar 0,29-0,49%. Tidak terindikasi adanya logam berat Pb dan Hg pada perairan Socah dan pada daging ikan belanak.Kata kunci : belanak(Mugil sp, gizi, logam berat, perairan Socah

  2. PRAKTIK PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN KARAKTERISTIK DEMOGRAFI (STUDI KASUS DI PROPINSI JAWA BARAT, SUMATERA BARAT DAN NUSA TENGGARA TIMUR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tjetjep Syarif Hidayat

    2012-11-01

    Full Text Available Latar belakang: Menyusui secara eksklusif dapat menjaga kelangsungan hidup dan kesehatan bayi. WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Namun kenyataan di lapangan, hanya sebagian kecil ibu yang memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Tujuan: mempelajari faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik pemberian ASI eksklusif sampai 6 bulan. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan desain penelitian cross-sectional. Responden adalah ibu-ibu yang mempunyai anak yang berumur 6-12 bulan, Pemilihan responden dilakukan secara acak dan seluruhnya berjumlah 1884 responden. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2006 di 3 Propinsi yakni Jawa Barat, Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Timur. Data yang dikumpulkan meliputi; karakteristik sosioekonomi, sosiodemografi, pemberian Air Susu Ibu (ASI, pemberian cairan pralaktal selain ASI, tempat persalinan, pemberian kolostrum. dan penolong persalinan, Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analitik dengan membuat tabel-tabel distribusi frekuensi kemudian diuji menggunakan X2 (khi kuadrat. Hasil. Proporsi praktik pemberian ASI eksklusif di tiga propinsi masih rendah yaitu Jawa barat 19,2%, Sumatera Barat 10,4% dan Nusa Tenggara Timur 8,9%. Setelah dianalisis diperoleh beberapa faktor penentu yang berhubungan dengan praktik pemberian ASI eksklusif yaitu; ibu tinggal di wilayah kabupaten, ibu tidak bekerja, pemberian kolostrum dan penolong persalinan oleh bidan dan dukun terlatih. Sebagian besar diatas 80% responden tidak bekerja hanya sebagai ibu rumahtangga. Sebanyak (74,4% sampel di Jawa Barat dan 76,8% sampel di Sumatera Barat penolong persalinan oleh tenaga kesehatan. Sedangkan di Nusa Tenggara Timur lebih dari separoh 65,4% penolong persalinan oleh tenaga kesehatan bersama dukun terlatih. Faktor pemberian kolostrum di Sumatera Barat merupakan faktor penentu yang berhubungan dengan praktik pemberian ASI eksklusif. Kesimpulan. Faktor penentu yang hubungannya bermakna

  3. PPR proteins of green algae

    OpenAIRE

    Tourasse, Nicolas J; Choquet, Yves; Vallon, Olivier

    2013-01-01

    Using the repeat finding algorithm FT-Rep, we have identified 154 pentatricopeptide repeat (PPR) proteins in nine fully sequenced genomes from green algae (with a total of 1201 repeats) and grouped them in 47 orthologous groups. All data are available in a database, PPRdb, accessible online at http://giavap-genomes.ibpc.fr/ppr. Based on phylogenetic trees generated from the repeats, we propose evolutionary scenarios for PPR proteins. Two PPRs are clearly conserved in the entire green lineage:...

  4. Parasites in algae mass culture

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Todd William Lane

    2014-06-01

    Full Text Available Parasites are now known to be ubiquitous across biological systems and can play an important role in modulating algal populations. However, there is a lack of extensive information on their role in artificial ecosystems such as algal production ponds and photobioreactors. Parasites have been implicated in the demise of algal blooms. Because individual mass culture systems often tend to be unialgal and a select few algal species are in wide scale application, there is an increased potential for parasites to have a devastating effect on commercial scale monoculture. As commercial algal production continues to expand with a widening variety of applications, including biofuel, food and pharmaceuticals, the parasites associated with algae will become of greater interest and potential economic impact. A number of important algal parasites have been identified in algal mass culture systems in the last few years and this number is sure to grow as the number of commercial algae ventures increases. Here, we review the research that has identified and characterized parasites infecting mass cultivated algae, the techniques being proposed and or developed to control them, and the potential impact of parasites on the future of the algal biomass industry.

  5. Bio diesel production from algae

    International Nuclear Information System (INIS)

    Algae appear to be an emerging source of biomass for bio diesel that has the potential to completely displace fossil fuel. Two thirds of earth's surface is covered with water, thus alga e would truly be renewable option of great potential for global energy needs. This study discusses specific and comparative bio diesel quantitative potential of Cladophora sp., also highlighting its biomass (after oil extraction), pH and sediments (glycerine, water and pigments) quantitative properties. Comparison of Cladophora sp., with Oedogonium sp., and Spirogyra sp., (Hossain et al., 2008) shows that Cladophora sp., produce higher quantity of bio diesel than Spirogyra sp., whereas biomass and sediments were higher than the both algal specimens in comparison to the results obtained by earlier workers. No prominent difference in pH of bio diesel was found. In Pakistan this is a first step towards bio diesel production from algae. Results indicate that Cladophora sp., provide a reasonable quantity of bio diesel, its greater biomass after oil extraction and sediments make it a better option for bio diesel production than the comparing species. (author)

  6. Penyebab dan Penangannan Halotosis

    OpenAIRE

    Irmadani Anwar, Ayub

    2007-01-01

    Halitosis adau bau mulut adalah masalah kesehatan gigi dan mulut yang banyak dikeluhkan. Akibat yang dapat ditimbulkan oleh halitosis dapat bersifat psikososial seperti malu atau rendah diri, menghindari pergaulan, tidak bebas bicara, tidak ada rasa percaya diri.

  7. Liever kraanwater dan bronwater

    NARCIS (Netherlands)

    Kole, A.P.W.

    2011-01-01

    Een test in het Restaurant van de Toekomst van de invloed van CO2-labels op het aankoopgedrag van consumenten, heeft nog geen duidelijk beeld opgeleverd. Wel pakten mensen vaker kraanwater dan bronwater.

  8. Dan Performer Mei Lanfang

    DEFF Research Database (Denmark)

    Risum, Janne

    2010-01-01

    The convention of performing female characters (dan characters) in Beijing opera, as practised by its most prominent male performer of female characters Mei Lanfang, and its and his cultural context and aesthetic aim...

  9. Advanced emission control system: CO2 sequestration using algae integrated management system (AIMS)

    International Nuclear Information System (INIS)

    One of the companies under Algae tech, Sasaran Bio fuel Sdn. Bhd. provides project management, technology transfer and technical expertise to develop a solution to minimize and mitigate Carbon Dioxide (CO2) emissions through the diversion of the CO2 to open algal ponds and enclosed photo-bioreactors as algal propagation technologies to consume CO2 waste stream. The company is presently consulting a listed company from Indonesia to address the technology know-how and implementation of microalgae development from the flue gas of the Groups power plants. Nowadays, one of the aspects that contribute to the air pollution is the emission of flue gases from the factories. So, we provide a system that can reduce the emission of flue gas to the atmosphere and at the same time, cultivate certain strain of algae. With the technology, Algae Integrated Management System (AIMS), it will be for sure a new beginning for way to reduce air pollution. The utilization of power plant resources for growing selected microalgae at a low energy cost for valuable products and bio-fuels while providing CO2 sequestering. In the same time, it also a low cost algae agriculture. By doing so, it provides all year algae production which can be an income. This residual energy used CO2 produced from power stations and industrial plants to feed the process (CO2 recycling and bio-fixation) in cultivation of algae. This will be a low cost flue gas (CO2) to the developer. In a nutshell, CO2 Sequestration by algae reactors is a potential to reduce greenhouse gas emission by using the CO2 in the stack gases to produce algae. (author)

  10. Étude numérique du couplage thermohydromécanique dans les roches. Influence des termes de couplage non linéaires pour un matériau isotrope linéaire Numerical Analysis of a Thermohydromechanical Coupling in Rocks. Influence of Nonlinear Coupling Terms on a Linear Isotropic Material

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Henry J. P.

    2006-11-01

    Full Text Available Nous présentons dans ce travail une étude numérique basée sur la méthode des éléments finis, du comportement thermoporoélastique de certaines roches. Les trois effets de couplage : déformabilité de la roche, pression interstitielle et température sont pris en compte simultanément dans la résolution numérique. Une application simple sur un puits pétrolier en conditions axisymétriques est finalement présentée afin de dégager en particulier l'influence du terme de couplage convectif non linéaire, obtenu dans l'équation de diffusivité thermique, sur l'évolution de la température et de la pression interstitielle autour du forage. This article describes a finite-element method for solving the problem of nonlinear coupling between interstitial pressure and temperature during stress on a poroelastic rock. Such coupling phenomena occur during massive injection of cold water into a petroleum borehole for example. The implementation of such a numerical solution, used here with the assumption of small deformations, first requires a review of the behavior law of the material (Eq. 2. 2 and of the equations for hydraulic diffusivity (Eq. 2. 3 and thermal diffusivity (Eq. 2. 4. This last equation (2. 4 is the one containing the nonlinear coupling terms in Grad P Grad P and Grad T. Grad P. During simulation of flow at a high flow rate, these products can no longer be neglected as shown by the results in Fig. 2. The variational formulation of the problem is then determined in relation to the three equations for equilibrium, thermal diffusivity and hydraulic diffusivity. After geometric and temporal discretizations, this formulation leads to a finite-element calculating scheme resulting in the simultaneous solving of all three equations. This solution, based on the inversion of the system of equations (2. 15, requires the updating of the rigidity matrix at each time step to take nonlinear coupling into consideration. Calculations with an

  11. KARAKTER FISIK DAN SOSIAL REALESTAT DALAM TINJAUAN GERAKAN NEW URBANISM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Timoticin Kwanda

    2001-01-01

    Full Text Available Rapid urbanization will be critical to urban environments. The immediate and most critical urban environment problems facing several big cities, such as Jakarta and Surabaya, what are referred to as the "brown" problems, among them: lack of safe water, pollution from vehicles and industrial facilities, and congestion. To cope with these urban environmental problems, New Urbanism through the Traditional Neighborhood Development (TND believes that it will cure the problems by pedestrian oriented planning, encouraging people to drive less, mixed land uses, higher density, then traffice congestion is reduced,and mitigate air pollution. Moreover, the other physical and social characters are mixed housing types, front porches, more park that will encourage more interaction, then restore a sense of community. Based on this concept, this paper discusses the physical and social characters of real estates in Jakarta and Surabaya. The results show that real estate developments in these suburban areas is one of the causes of urban environment problems. Abstract in Bahasa Indonesia : Cepatnya urbanisasi akan menyebabkan lingkungan perkotaan yang kritis. Masalah lingkungan kritis yang dihadapi oleh kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya adalah apa yang disebut dengan masalah "warna coklat" yaitu kurangnya air yang sehat, polusi udara yang berasal dari kendaraan bermotor dan industri, serta kemacetan lalu lintas. Untuk menyelesaikan masalah lingkungan ini, gerakan New Urbanism melalui konsep Traditional Neighborhood Development (TND percaya bahwa masalah lingkungan ini dapat diatasi dengan perencanaan permukiman yang berorientasi pada pejalan kaki, multi fungsi, kepadatan tinggi, sehingga mengurangi kendaraan bermotor dan berakibat pada berkurangnya kemacetan lalu lintas dan polusi udara. Karakter fisik dan sosial lainnya adalah multi tipe rumah, taman publik yang lebih banyak dan rumah berteras depan yang akan mendorong interaksi sosial dalam lingkungan

  12. Bacterial Enhancement of Vinyl Fouling by Algae

    OpenAIRE

    Holmes, Paul E.

    1986-01-01

    The role of bacteria in the development of algae on low-density vinyl was investigated. Unidentified bacterial contaminants in unialgal stock cultures of Phormidium faveolarum and Pleurochloris pyrenoidosa enhanced, by 1 to 2 orders of magnitude, colonization of vinyl by these algae, as determined by epifluorescence microscopy counts and chlorophyll a in extracts of colonized vinyl. Colonization by bacteria always preceded that by algae. Scanning electron microscopy of the colonized Phormidiu...

  13. Pembuatan Dan Karakterisasi Aspal Beton Berbasis Dreg Dan Grit

    OpenAIRE

    Newdesnetty Butarbutar

    2009-01-01

    Telah dilakukan penelitian tentang pembuatan dan karakterisasi aspal beton berbasis dreg dan grit. Penelitian ini dilakukan dengan metode pengadukan dengan menggunakan mixer beton, tujuan untuk memperoleh bahan aspal beton dari dreg dan grit untuk mengurangi volume pasir dengan variasi rasio pasir terhadap dreg dan grit adalah: 100 : 0 : 0; 90 : 5 : 5; 80 : 10 : 10; 70 : 15 : 15; 60 : 20 : 20; 50 : 25 : 25; 40 : 30 : 3; 30 : 35 : 35; 20 : 40 : 40; 10 : 45 : 45; 0 : 50 : 5...

  14. Zeolite‐Based Algae Biofilm Rotating Photobioreactor for Algae and Biomass Production

    OpenAIRE

    Young, Ashton M.

    2011-01-01

    Alkaline conditions induced by algae growth in wastewater stabilization ponds create deprotonated ammonium ions that result in ammonia gas (NH3) volatilization. If algae are utilized to remediate wastewater through uptake of phosphorus, the resulting nitrogen loss will hinder this process because algae generally require a stoichiometric molar ratio of N16P1. Lower ratios of N/P due to loss of ammonia gas will limit the growth and yield of algae, and therefore will reduce phosphorus removal fr...

  15. Toxic Effects of Phthalates on Ocean Algae

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    2005-01-01

    This article discusses the interaction of phthalates and ocean algae based on the standard appraisal method of chemical medicine for algae toxicity. Through the experiments on the toxic effects of dimethyl (o-) phthalate (DMP), diethyl (o-) phthalate (DEP), dibutyl (o-)phthalate (DBP) on ocean algae, the 50 % lethal concentration of the three substances in 48 h and 96 h for plaeodectylum tricornutum, platymonas sp, isochrysis galbana, and skeletonema costatum is obtained. Tolerance limits of the above ocean algae of DMP, DEP, and DBP are discussed.

  16. SISTEM BERBASIS PENGETAHUAN UNTUK KESEHATAN DAN PERAWATAN GIGI DAN MULUT

    OpenAIRE

    I Wayan Shandyasa

    2011-01-01

    Sistem berbasis pengetahuan untuk kesehatan dan perawatan gigi dan mulut ini merupakan sistem yang menghadirkan solusi penyakit dalam mengatasi masalah kesehatan gigi memberikan informasi perawatan untuk setiap masalah penyakit yang dihadapi. Sistem ini menyediakan fasilitas diagnosa penyakit untuk mengidentifikasi masalah kesehatan yang sedang dihadapi. Proses identifikasi dilakukan melalui interaksi tanya jawab antar sistem dengan user dan penginputan gejala penyakit. Metode penelusuran kes...

  17. PREFERENSI PEMBIAYAAN USAHA MIKRO DAN KECIL : PERSPEKTIF GENDER DAN ENTREPRENEURABILITY

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Khaira Amalia Fachrudin

    2013-06-01

    Full Text Available Preferensi pembiayaan dalam perusahaan besar lebih didasarkan pada karakteristik perusahaan tersebut.  Namun dalam usaha mikro dan kecil hal ini mungkin berbeda dan bergantung pada karakteristik pemiliknya seperti gender dan entrepreneurability.   Perbedaan gender mungkin juga membedakan entrepreneurability dan dukungan yang diterima.  Penelitian ini akan menguji apakah terdapat perbedaan preferensi pembiayaan berdasarkan gender, entrepreneurability berdasarkan gender dan berdasarkan preferensi pembiayaan, serta perbedaan dukungan berdasarkan gender.  Sampel dari usaha mikro dan kecil yang bergerak dalam bidang kuliner  diuji dengan uji beda Independent Sample t Test dan kemudian dengan Crosstabulation untuk lebih memperinci hasilnya.  Hasil uji menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan preferensi pembiayaan berdasarkan gender dan berdasarkan  entrepreneurability, namun entrepreneurability berbeda signifikan berdasarkan gender dan juga ditemukan bahwa dukungan moral, tenaga, dan modal yang diterima pemilik usaha pria dan wanita tidak berbeda signifikan (p value lebih kecil dari 0.05.   Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat kesetaraan gender dalam pembiayaan usaha dan entrepreneurability lebih tinggi pada pria.  Pria pemilik usaha juga mendapatkan dukungan tenaga kerja yang lebih banyak daripada wanita.  Dukungan tenaga ini adalah salah satu bentuk  financial bootstrapping karena dapat mengurangi pembiayaan usaha

  18. KAJIAN EKSPERIMENTAL POROUS CONCRETE YANG MENGGUNAKAN SEMEN PORTLAND POZZOLAN DAN SERAT POLYPROPYENE

    OpenAIRE

    Irmawaty, Rita; Tjaronge, M. Wihardi

    2008-01-01

    ABSTRAK TEKNOSAINS 2009 Porous concrete adalah beton tanpa agregat halus dan hanya terdiri dari agregat kasar,semen dan air serta bahan kimia tambahan.Porositas atau lubang-lubang pada porous concrete bermanfaat untuk menyaring kotoran sehingga tidak terbawa ke dalam tanah atau saluran air.Selain itu,lubang-lubang tersebut diharapkan dapat menyerap energy sinar matahari.Porous concrete telah banyak digunakan sebagai lapisan permukaan jalan pada daerah pedestrian seperti tempat-tempat untuk...

  19. Karakterisasi Dan Ekstraksi Simplisia Tumbuhan Bunga Mawar (Rosa hybrida L.) Serta Formulasinya Dalam Sediaan Pewarna Bibir

    OpenAIRE

    Devi Farima

    2009-01-01

    Telah dilakukan karakterisasi dan skrining fitokimia terhadap simplisia bunga mawar (Rosa hybrida L.). Karakterisasi simplisia bunga mawar meliputi penetapan kadar air, penetapan kadar abu total, penetapan kadar abu tidak larut asam, penetapan kadar sari larut dalam air, dan penetapan kadar sari larut dalam etanol. Pembuatan ekstrak dari simplisia bunga mawar dilakukan dengan menggunakan pelarut etanol ditambah dengan asam asetat 3%. Formulasi sediaan pewarna bibir dibuat dal...

  20. Waste streams for algae cultivation

    OpenAIRE

    Kautto, Antti

    2011-01-01

    ALDIGA, short for “Algae from Waste for Combined Biodiesel and Biogas Pro-duction”, aims to develop a concept for a closed circulation of resources in pro-ducing biodiesel and biogas from waste. The project is realized in co-operation between VTT, University of Helsinki, Lahti and Häme Universities of Applied Sciences, SYKE and funded by Tekes. The project’s first work phase ergo this bachelor’s thesis covered the mapping of available and suitable streams to be used in the cultivation of ...

  1. Toxicology Selective Toxicity dan Test

    OpenAIRE

    Mansyur

    2002-01-01

    Toxicology adalah pemahaman-pemahaman mengenai effek-effek bahan kimia yang merugikan bagi organisme. Dari definisi tersebut, jelas terdapat unsur-unsur bahan kimia dan organisme, dimana didalam kedua unsur-unsur ini terdapat istilah-istilah toksisitas dan animal test-test. Tulisan ini bermaskud membicarakan mengenai selective toxicity dan animal toxicity tetst. kedokteran-mansyur5

  2. Air quality. How to give it back its original purity? The proliferation of air cleansers. Filters must be changed regularly. Measurement of the filtering efficiency of air treatment systems. The air treatment plants on the way of certification. Essential oils in a high building; Qualite de l'air. Comment lui rendre sa purete originelle? La proliferation des purificateurs d'air. Il faut changer les filtres regulierement. Mesure de l'efficacite de filtration des systemes de traitement d'air. Les centrales de traitement d'air sur la voie de la certification. Des huiles essentielles dans un immeuble de grande hauteur

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Grumel, N.

    2000-07-01

    Outside air is polluted while the ambient indoor air is saturated with microorganisms. Inside buildings, the aeraulic networks are the link between both environments and the privileged place to clean the air using filtering systems. However, the notion of air quality is still badly perceived by owners, in particular in tertiary buildings. In France, efforts have to be made on the maintenance of aeraulic networks by hygiene specialists. Air quality inside buildings must be taken into consideration using communication and regulations. This dossier takes stock of the problem of air quality and of the available means to ensure a good air quality inside residential and tertiary buildings. The maintenance of air filters in one of the key points. It should be integrated in the general maintenance concept of buildings. The dossier includes a study of the in-situ measurement of the filtering efficiency of air treatment systems. This method is described in the Eurovent recommendation 4/10 of 1996. It has been experimented by the French technical centre of aeraulic and thermal industries (Cetiat) and the results are reported in the study. The performances of air treatment plants are now certified by Eurovent. This European organization has defined a program of tests which is conformable with the European EN 1886 and EN 13053 European standards. Finally, a new protocol of air decontamination based on the micronizing of essential oils in the aeraulic network of a 29 floors building is presented. (J.S.)

  3. Pressurized thermal and hydrothermal decomposition of algae, wood chip residue, and grape marc: A comparative study

    International Nuclear Information System (INIS)

    Pressurized thermal decomposition of two marine algae, Pinus radiata chip residue and grape marc using high temperature, high pressure reactions has been studied. The yields and composition of the products obtained from liquefactions under CO of a mixture of biomass and H2O (with or without catalyst) were compared with products from liquefaction of dry biomass under N2, at different temperatures, gas pressures and for CO runs, water to biomass ratios. Thermochemical reactions of algae produced significantly higher dichloromethane solubles and generally higher product yields to oil and asphaltene than Pinus radiata and grape marc under the reaction conditions used. Furthermore, the biofuels derived from algae contained significant concentrations of aliphatic hydrocarbons as opposed to those from radiata pine and grape marc which were richer in aromatic compounds. The possibility of air transport fuel production from algae thus appears to have considerable advantages over that from radiata pine and grape marc. - Highlights: • Liquefaction of algae gave more oil than that of Pinus radiata and grape marc. • Reactions under CO/H2O produced higher yields of oil than N2. • Water to biomass ratio had little effect on the yields. • Bio-oil from algae contained substantial amounts of aliphatic hydrocarbons. • Pinus radiata oil was low in N but high in O

  4. Pengaruh Ketebalan Media dan Rate filtrasi pada Sand Filter dalam Menurunkan Kekeruhan dan Total Coliform

    OpenAIRE

    Deni Maryani; Ali Masduqi; Atiek Moesriati

    2014-01-01

    Pada penelitian ini dilakukan proses filtrasi dengan menggunakan sand filter sebagai salah satu metode dalam pengolahan air bersih. Pada sand filter proses penyaringan terjadi pada media filter yang sangat halus, seperti media filter pada unit slow sand filter. Kecepatan penyaringan yang diinginkan pada sand filter ini adalah kecepatan seperti pada unit rapid sand filter. Sehingga sand filter ini adalah penggabungan antara kelebihan yang dimiliki slow sand filter dan rapid sand filter. Varias...

  5. Cultivation of macroscopic marine algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Ryther, J.H.

    1982-11-01

    The red alga Gracilaria tikvahiae may be grown outdoors year-round in central Florida with yields averaging 35.5 g dry wt/m/sup 2/.day, greater than the most productive terrestrial plants. This occurs only when the plants are in a suspended culture, with vigorous aeration and an exchange of 25 or more culture volumes of enriched seawater per day, which is not cost-effective. A culture system was designed in which Gracilaria, stocked at a density of 2 kg wet wt/m/sup 2/, grows to double its biomass in one to two weeks; it is then harvested to its starting density, and anaerobically digested to methane. The biomass is soaked for 6 hours in the digester residue, storing enough nutrients for two weeks' growth in unenriched seawater. The methane is combusted for energy and the waste gas is fed to the culture to provide mixing and CO/sub 2/, eliminating the need for aeration and seawater exchange. The green alga Ulva lactuca, unlike Gracilaria, uses bicarbonate as a photosynthesis carbon source, and can grow at high pH, with little or no free CO/sub 2/. It can therefore produce higher yields than Gracilaria in low water exchange conditions. It is also more efficiently converted to methane than is Gracilaria, but cannot tolerate Florida's summer temperatures so cannot be grown year-round. Attempts are being made to locate or produce a high-temperature tolerant strain.

  6. Marine Algae and Seagrasses of Adana (Mediterranean, Turkey)

    OpenAIRE

    Aysel, V.; Erdugan, H.; Okudan, E. S.

    2006-01-01

    Abstract Marine algae and seagrasses were researched in the upper infralittoral zone of Adana (Turkish Mediterranean coasts) in this study. 381 algae and 5 seagrasses (Liliopsida) were determined (Total 386 taxa). 27 of them belong to blue-green algae (Cyanophyceae), 204 to red algae [Rhodellophyceae (2), Compsopogonophyceae (2), Bangiophyceae (5), Florideophyceae(195)], 78 to brown algae (Fucophyceae), 72 to green algae [Chlorophyceae (7), Ulvophyceae (18), Trentepohliophyceae (1), Cladophor...

  7. Marine Algae and Seagrasses of Hatay (Mediterranean, Turkey)

    OpenAIRE

    Aysel, V.; Erdugan, H.; Okudan, E. S.

    2006-01-01

    Abstract In this research, marine algae and seagrasses were investigated in the upper infralittoral zone of Hatay (Turkish Mediterranean coasts). A total of 377 algae and 5 seagrasses were determined. 30 of them belong to blue-green algae (Cyanophyceae), 201 to red algae [Rhodellophyceae (2), Compsopogonophyceae (2), Bangiophyceae (5), Florideophyceae (192)], 73 to brown algae (Fucophyceae), 73 to green algae [Chlorophyceae (5), Ulvophyceae (19), Trentepohliophyceae (1), Cladophorophyceae (24...

  8. Marine Algae and Seagrasses of Mersin Shore (Mediterranean, Turkey)

    OpenAIRE

    Aysel, V.; Okudan, E. S.; Erdugan, H.

    2006-01-01

    Abstract In this research, marine algae and seagrasses were investigated in the upper infralittoral zone of Mersin (Turkish Mediterranean coasts). A total of 396 algae and 5 seagrasses were determined. 36 of them belong to blue-green algae (Cyanophyceae), 204 to red algae [Rhodellophyceae (2), Compsopogonophyceae (2), Bangiophyceae (6), Florideophyceae(I94)], 82 to brown algae (Fucophyceae), 74 to green algae [Chlorophyceae (7), Ulvophyceae (19), Trentepohliophyceae (1), Cladophorophyceae (25...

  9. RANCANG BANGUN ALAT PENJERNIH AIR LIMBAH CAIR LAUNDRY DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA PENYARING KOMBINASI PASIR – ARANG AKTIF

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hery Setyobudiarso

    2014-05-01

    Full Text Available Perkembangan jasa pencucian pakaian (laundry berkontribusi pada peningkatan penggunaan air tanah dan pemakaian deterjen sehingga menghasilkan limbah cair yang dapat mencemari lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengolahan air limbah laundry menjadi air bersih. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh bahan penyaring pasir silika, zeolit dan arang aktif terhadap hasil olahan air limbah laundry dan mengetahui  pengaruh tekanan dan waktu pemakaian reaktor penyaring. Metode pengolahan yang digunakan adalah filtrasi menggunakan filtrasi pasir silika, adsorpsi karbon aktif, serta gabungan pengolahan filtrasi pasir aktif dan adsorpsi karbon aktif untuk menghasilkan air bersih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengolahan koagulasi dan flokulasi, filtrasi pasir aktif, adsorpsi karbon aktif serta gabungan filtrasi pasir aktif dan adsorpsi karbon aktif mampu menurunkan kekeruhan hingga batas maksimum air bersih. Karakteristik limbah laundry pada tekanan 1 bar memiliki nilai warna, COD dan TSS yang cenderung menurun dari menit ke 20 hingga menit ke 60 , warna nilai 138, COD 908 mg/l dan TSS 215 mg/l. Sedangkan pada tekanan 2 bar memiliki nilai warna, COD dan TSS yang cenderung menurun dari menit ke 20 hingga menit ke 60 , masing-masing masing-masing warna nilai 40, COD 746 mg/l dan TSS 210 mg/l.  Air yang dihasilkan bukan merupakan air bersih tetapi aman untuk dibuang ke lingkungan.

  10. Algae commensal community in Genlisea traps

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Konrad Wołowski

    2011-04-01

    Full Text Available The community of algae occurring in Genlisea traps and on the external traps surface in laboratory conditions were studied. A total of 29 taxa were found inside the traps, with abundant diatoms, green algae (Chlamydophyceae and four morphotypes of chrysophytes stomatocysts. One morphotype is described as new for science. There are two ways of algae getting into Genlisea traps. The majority of those recorded inside the traps, are mobile; swimming freely by flagella or moving exuding mucilage like diatoms being ablate to colonize the traps themselves. Another possibility is transport of algae by invertebrates such as mites and crustaceans. In any case algae in the Genlisea traps come from the surrounding environment. Two dominant groups of algae (Chladymonas div. and diatoms in the trap environment, show ability to hydrolyze phosphomonoseters. We suggest that algae in carnivorous plant traps can compete with plant (host for organic phosphate (phosphomonoseters. From the spectrum and ecological requirements of algal species found in the traps, environment inside the traps seems to be acidic. However, further studies are needed to test the relations between algae and carnivorous plants both in laboratory conditions and in the natural environment. All the reported taxa are described briefly and documented with 74 LM and SEM micrographs.

  11. The Algae flora in Tekirdag - Istanbul coastline

    OpenAIRE

    Koç, Hüseyin; AYDIN, Ayten

    2001-01-01

    Abstract In this work 36 algae species were collected on the coastline between Tekirdag and Istanbul. There were 12 Chlorophyceae, 10 Phaeophyceae and 14 Rhodophyceae amongst them. The algae were f irst determined in Sea of Marmara are: Gigartina teedii, Cystoseira opuntioides, Lithothamnion lichenoides, Hildenbrandia prototypus, Rhodymenia corallicola.

  12. DanRIS

    DEFF Research Database (Denmark)

    Skou, Carl Verner

    2009-01-01

    Windows 2000/XP/Vista platform computerprogram til DanRIS indberetning baseret på indskrivning af klienter på CPR, klientsforløb, faseforløb, ASI EuropASI composite score beregninger. Udgave: 2.1.0.5 Udgivelsesdato: 01-01-2009......Windows 2000/XP/Vista platform computerprogram til DanRIS indberetning baseret på indskrivning af klienter på CPR, klientsforløb, faseforløb, ASI EuropASI composite score beregninger. Udgave: 2.1.0.5 Udgivelsesdato: 01-01-2009...

  13. The ice nucleation activity of extremophilic algae.

    Science.gov (United States)

    Kviderova, Jana; Hajek, Josef; Worland, Roger M

    2013-01-01

    Differences in the level of cold acclimation and cryoprotection estimated as ice nucleation activity in snow algae (Chlamydomonas cf. nivalis and Chloromonas nivalis), lichen symbiotic algae (Trebouxia asymmetrica, Trebouxia erici and Trebouxia glomerata), and a mesophilic strain (Chlamydomonas reinhardti) were evaluated. Ice nucleation activity was measured using the freezing droplet method. Measurements were performed using suspensions of cells of A750 (absorbance at 750 nm) ~ 1, 0.1, 0.01 and 0.001 dilutions for each strain. The algae had lower ice nucleation activity, with the exception of Chloromonas nivalis contaminated by bacteria. The supercooling points of the snow algae were higher than those of lichen photobionts. The supercooling points of both, mesophilic and snow Chlamydomonas strains were similar. The lower freezing temperatures of the lichen algae may reflect either the more extreme and more variable environmental conditions of the original localities or the different cellular structure of the strains examined. PMID:23625082

  14. Algae inhibition experiment and load characteristics of the algae solution

    Science.gov (United States)

    Xiong, L.; Gao, J. X.; Zhang, Y. X.; Yang, Z. K.; Zhang, D. Q.; He, W.

    2016-08-01

    It is necessary to inhibit microbial growth in an industrial cooling water system. This paper has developed a Monopolar/Bipolar polarity high voltage pulser with load adaptability for an algal experimental study. The load characteristics of the Chlorella pyrenoidosa solution were examined, and it was found that the solution load is resistive. The resistance is related to the plate area, concentration, and temperature of the solution. Furthermore, the pulser's treatment actually inhibits the algae cell growth. This article also explores the influence of various parameters of electric pulses on the algal effect. After the experiment, the optimum pulse parameters were determined to be an electric field intensity of 750 V/cm, a pulse width per second of 120μs, and monopolar polarity.

  15. Kondisi oral higiene dan karies gigi pada vegetarian dan non vegetarian di Maha Vihara Maitreya Medan

    OpenAIRE

    Prawira, Albert

    2011-01-01

    Perbedaan pola makan antara vegetarian dan non vegetarian dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi oral higiene dan karies gigi pada umat vegetarian dan non vegetarian di Maha Vihara Maitreya Medan. Jenis penelitian adalah survei deskriptif. Sampel terdiri atas 74 vegetarian dan 65 non vegetarian. Pemeriksaan oral higiene dan karies gigi masing-masing menggunakan indeks OHIS Greene dan Vermillion dan indeks DMFT Klein, se...

  16. ANALISIS KADAR GLUKOSA PADA BIOMASSA BONGGOL PISANG MELALUI PAPARAN RADIASI MATAHARI, GELOMBANG MIKRO, DAN HIDROLISIS ASAM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Qismatul Barokah

    2013-05-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan air dan perubahan kadar glukosa pada biomassa bonggol pisang melalui paparan radiasi matahari, gelombang mikro, dan hidrolisis asam. Metode penelitian dilakukan dengan cara mengeringkan bonggol pisang jenis pisang kepok selama 5 hari, kemudian dihomogenkan dengan proses penghalusan, setelah itu dilakukan tiga metode penghidrolisisan pati menjadi glukosa melalui paparan radiasi matahari, paparan gelombang mikro, dan hidrolisis asam. Pada setiap perlakuan pemaparan, sampel divariasi menjadi tiga yaitu kering, penambahan air 10 ml, dan penambahan air 20  ml,  masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 3 (tiga kali. Kadar glukosa dianalisis dengan metode Nelson-Somogyi dan hasilnya dianalisis menggunakan perbandingan grafik. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan adanya pengaruh penambahan air dan metode yang digunakan terhadap kadar glukosa. Hasil analisis UV-Vis melalui analisis perbandingan grafik menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kadar glukosa yang signifikan terutama ketika sampel dipapar menggunakan gelombang mikro serta dengan penambahan air 20 ml yang menghasilkan kadar glukosa sebesar 30.89%.

  17. MODAL MANUSIA DAN PRODUKTIVITAS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Erlinda Puspita Sari

    2014-03-01

    Full Text Available Modal manusia dianggap sebagai salah satu faktor penentu produktivitas. Modal manusia merupakan dimensi kualitatif dari sumberdaya manusia, seperti keahlian dan keterampilan, yang akan memengaruhi kemampuan produktif manusia tersebut. Dimensi kualitatif tersebut diperoleh melalui pendidikan, pelatihan dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganaliss efek dari modal manusia terhadap tingkat produktivitas di provinsi-provinsi di Indonesia. Dalam penelitian ini, tingkat pendidikan diukur dengan beberapa indikator, yaitu; angka melek huruf dan angka partisipasi murni tingkat SD, SMP maupun SMA. Tingkat kesehatan diukur dengan angka kematian bayi. Data yang digunakan adalah data panel dari 25 provinsi di Indonesia selama perioede 1996-2010 yang dianalisis dengan menggunakan Model Panel Data Fixed Effect. Hasil analisis menunjukkan bahwa modal manusia yang diukur dari tingkat pendidikan (APM dan tingkat kesehatan (AKB merupakan faktor yang berpengaruh dan signifikan untuk menjelaskan variasi produktivitas meskipun magnitude-nya lebih kecil dibandingkan dengan modal fisik. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa variabel pendidikan memiliki magnitude yang lebih besar dibandingkan dengan variabel kesehatan. Human capital is regarded as one of the determining factors of productivity. Human capital is qualitative dimension of human resource which includes skills and knowledge. These qualitative dimensions are internalized through education, training and health. This study aimed to analyze the effect of human capital on productivity level across provinces in Indonesia. In this study, the level of education was measured by literacy and school enrollment rate (in primary, secondary and high school. The level of health was measured by infant mortality rate. The study employed a panel data of 25 provinces in Indonesia during the period of 1996-2010. Using fixed effect method, the result showed that secondary school enrollment rate and infant mortality

  18. Analisa Perbandingan Laju Korosi Pada Pengelasan Di Bawah Air Karena Pengaruh Variasi Jenis Pelindung Flux Elektroda

    OpenAIRE

    Septian Adi Pranata; Heri Supomo

    2013-01-01

    Underwater welding diperlukan karena pada umumnya struktur yang beroprasi di laut dirancang kurang lebih 20-30 tahunan dan selama rentang waktu tersebut maka konstruksi tersebut haruslah terjamin dari segi keselamatan dan kekuatannya. Lingkungan laut yang korosif juga dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan dan mengakibatkan kerusakan. [4] Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi pelindung flux elektroda dan tebal pelat pada pengelasan di bawah air.Dari data hasil ...

  19. Algae Biofuel in the Nigerian Energy Context

    Science.gov (United States)

    Elegbede, Isa; Guerrero, Cinthya

    2016-05-01

    The issue of energy consumption is one of the issues that have significantly become recognized as an important topic of global discourse. Fossil fuels production reportedly experiencing a gradual depletion in the oil-producing nations of the world. Most studies have relatively focused on biofuel development and adoption, however, the awareness of a prospect in the commercial cultivation of algae having potential to create economic boost in Nigeria, inspired this research. This study aims at exploring the potential of the commercialization of a different but commonly found organism, algae, in Nigeria. Here, parameters such as; water quality, light, carbon, average temperature required for the growth of algae, and additional beneficial nutrients found in algae were analysed. A comparative cum qualitative review of analysis was used as the study made use of empirical findings on the work as well as the author's deductions. The research explored the cultivation of algae with the two major seasonal differences (i.e. rainy and dry) in Nigeria as a backdrop. The results indicated that there was no significant difference in the contribution of algae and other sources of biofuels as a necessity for bioenergy in Nigeria. However, for an effective sustainability of this prospect, adequate measures need to be put in place in form of funding, provision of an economically-enabling environment for the cultivation process as well as proper healthcare service in the face of possible health hazard from technological processes. Further studies can seek to expand on the potential of cultivating algae in the Harmattan season.

  20. DGDG and Glycolipids in Plants and Algae.

    Science.gov (United States)

    Kalisch, Barbara; Dörmann, Peter; Hölzl, Georg

    2016-01-01

    Photosynthetic organelles in plants and algae are characterized by the high abundance of glycolipids, including the galactolipids mono- and digalactosyldiacylglycerol (MGDG, DGDG) and the sulfolipid sulfoquinovosyldiacylglycerol (SQDG). Glycolipids are crucial to maintain an optimal efficiency of photosynthesis. During phosphate limitation, the amounts of DGDG and SQDG increase in the plastids of plants, and DGDG is exported to extraplastidial membranes to replace phospholipids. Algae often use betaine lipids as surrogate for phospholipids. Glucuronosyldiacylglycerol (GlcADG) is a further glycolipid that accumulates under phosphate deprived conditions. In contrast to plants, a number of eukaryotic algae contain very long chain polyunsaturated fatty acids of 20 or more carbon atoms in their glycolipids. The pathways and genes for galactolipid and sulfolipid synthesis are largely conserved between plants, Chlorophyta, Rhodophyta and algae with complex plastids derived from secondary or tertiary endosymbiosis. However, the relative contribution of the endoplasmic reticulum- and plastid-derived lipid pathways for glycolipid synthesis varies between plants and algae. The genes for glycolipid synthesis encode precursor proteins imported into the photosynthetic organelles. While most eukaryotic algae contain the plant-like galactolipid (MGD1, DGD1) and sulfolipid (SQD1, SQD2) synthases, the red alga Cyanidioschyzon harbors a cyanobacterium-type DGDG synthase (DgdA), and the amoeba Paulinella, derived from a more recent endosymbiosis event, contains cyanobacterium-type enzymes for MGDG and DGDG synthesis (MgdA, MgdE, DgdA).

  1. Biodiesel Fuel Production from Algae as Renewable Energy

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A. B.M. Sharif Hossain

    2008-01-01

    Full Text Available Biodiesel is biodegradable, less CO2 and NOx emissions. Continuous use of petroleum sourced fuels is now widely recognized as unsustainable because of depleting supplies and the contribution of these fuels to the accumulation of carbon dioxide in the environment. Renewable, carbon neutral, transport fuels are necessary for environmental and economic sustainability. Algae have emerged as one of the most promising sources for biodiesel production. It can be inferred that algae grown in CO2-enriched air can be converted to oily substances. Such an approach can contribute to solve major problems of air pollution resulting from CO2 evolution and future crisis due to a shortage of energy sources. This study was undertaken to know the proper transesterification, amount of biodiesel production (ester and physical properties of biodiesel. In this study we used common species Oedogonium and Spirogyra to compare the amount of biodiesel production. Algal oil and biodiesel (ester production was higher in Oedogonium than Spirogyra sp. However, biomass (after oil extraction was higher in Spirogyra than Oedogonium sp. Sediments (glycerine, water and pigments was higher in Spirogyra than Oedogonium sp. There was no difference of pH between Spirogyra and Oedogonium sp. These results indicate that biodiesel can be produced from both species and Oedogonium is better source than Spirogyra sp.

  2. Method and apparatus for processing algae

    Science.gov (United States)

    Chew, Geoffrey; Reich, Alton J.; Dykes, Jr., H. Waite; Di Salvo, Roberto

    2012-07-03

    Methods and apparatus for processing algae are described in which a hydrophilic ionic liquid is used to lyse algae cells. The lysate separates into at least two layers including a lipid-containing hydrophobic layer and an ionic liquid-containing hydrophilic layer. A salt or salt solution may be used to remove water from the ionic liquid-containing layer before the ionic liquid is reused. The used salt may also be dried and/or concentrated and reused. The method can operate at relatively low lysis, processing, and recycling temperatures, which minimizes the environmental impact of algae processing while providing reusable biofuels and other useful products.

  3. KARAKTERISASI FILM KOMPOSIT ALGINAT DAN KITOSAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nur Rokhati

    2012-11-01

    swelling terhadap air adalah yang  paling besar kemudian diikuti oleh ethanol teknis (± 95% dan yang terkecil adalah ethanol PA (> 99,9%. Kekuatan mekanik film kitosan lebih besar dibanding dengan film alginat. Film komposit alginat-kitosan yang dibuat dengan metode layer by layer memberikan karakteristik yang lebih baik dibanding dengan film komposit yang dibuat dengan pencampuran larutan alginat dan larutan kitosan.

  4. Kitab kuning dan perempuan, perempuan dan kitab kuning

    OpenAIRE

    Bruinessen, M.M. van

    2007-01-01

    Kitab Kuning dan Emansipasi Perempuan: Konflik Budaya? Pengamatan-pengamatan Masdar mengenai kedudukan perempuan dalam diskursus (wacana, bahasan) dominan kitab kuning terasa tidak enak didengar tetapi memang sulit dibantah. Baik dalam penggunaan bahasa (yang sangat memihak kepada jenis mudzakkar) maupun pilihan aspek kehidupan perempuan yang dijadikan pokok bahasan kitab-kitab fiqh, terdapat bias yang begitu dalam dan transparan. Tolok ukur untuk segala hal ialah laki-laki, dan perbedaan ant...

  5. 无法逃避的死亡——论穆旦的诗《防空洞里的抒情诗》%Inevitable Death ——On Mu Dan's Poem The Lyric In Air-raid Shelter

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    刘纪新; 林进桃

    2012-01-01

    穆旦的诗《防空洞里的抒情诗》在平静、客观的叙事中蕴藏着深厚、沉痛的情感,全诗表面上写的是一次躲避空袭的过程,事实上揭示了现代人的生存状态。诗人从防空洞联想到古代术士的长生梦,进而揭示现代人正在各式各样的消遣中变得麻木,即使死亡就在身边,也不能从虚妄中醒来。%The Lyric In Air-raid Shelter shows deep and pa tion. The poem describes the process to escape the air rai modern people. Mu Dan associates the air-raid shelter with Based on this he reveals that modern people are becoming entertainment. They do not wake up from fake needs, eve inful ds, b emotions in calm and objective narra the im numb n with t in fact, it reveals the existence of mortal dream of the ancient Taoists. due to the wide range of leisure and death beside.

  6. Disain Sistem SCADA jarak Jauh Menggunakan Layanan VPN 3G Untuk Penggerak Pompa pada Sistem Pengolahan Air

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Asep Insani

    2013-03-01

    Full Text Available Dalam pengolahan air gambut menjadi air bersih yang menggunakan metode AOP dan RO ini, pengaturan tekanan pompa merupakan sesuatu yang sangat vital pada saat dilakukan suplay air yang akan diolah ke sistem. Sistem pengolahan air yang menggunakan pompa tersebut harus selalu dipastikan beroperasi dengan normal disesuaikan dengan peruntukannya. Manajemen terbaru sistem pengolahan air memerlukan teknologi yang terbaru pada peralatan remote control system, dan yang paling fundamental untuk hal ini adalah penggunaan layanan public untuk akusisi dan pengawasan dari data yang diambil dari peralatan kontrol. Untuk mewujudkan remote control untuk pompa dengan tekanan tertentu dengan PLC, didisain dengan kombinasi antara internet, arsitektur dan implementasi dari sistem SCADA, yang menggabungkan jaringan komputer, PLC, WinCC, dan teknologi VPN. Dalam melakukan disain, perlu diperhatikan poin-poin penting baik dari sisi server maupun sisi controller. Disain sistem SCADA remote dapat mengefisienkan waktu bagi operator dan pemantauan lebih lanjut untuk suplay air.

  7. 21 CFR 73.275 - Dried algae meal.

    Science.gov (United States)

    2010-04-01

    ... 21 Food and Drugs 1 2010-04-01 2010-04-01 false Dried algae meal. 73.275 Section 73.275 Food and... ADDITIVES EXEMPT FROM CERTIFICATION Foods § 73.275 Dried algae meal. (a) Identity. The color additive dried algae meal is a dried mixture of algae cells (genus Spongiococcum, separated from its culture...

  8. Quelle gouvernance territoriale pour une urbanisation orientée par le rail dans les aires métropolitaines? Les leçons d'une expérimentation régionale

    OpenAIRE

    Fourny, Marie-Christine; Feyt, Grégoire; Leysens, Thomas; Duvillard, Sylvie; Koop, Kirsten; Talandier, Magali

    2013-01-01

    International audience La recherche d'une réduction de la mobilité automobile mobilise aujourd'hui tous les niveaux de collectivités territoriales, avec des modes et objets d'intervention variables, selon leurs compétences. Elle sollicite une nouvelle ingénierie et de nouvelles formes de gouvernance, tout particulièrement interpellée dans le cas des politiques régionales, où la compétence en matière de TER rencontre les enjeux locaux et urbanistiques de restructuration des tissus péri-urba...

  9. Nonlinear Analysis in a Nutrient-Algae-Zooplankton System with Sinking of Algae

    OpenAIRE

    Chuanjun Dai; Min Zhao

    2014-01-01

    A reaction-diffusion-advection model is proposed for the Zeya Reservoir to study interactions between algae and zooplankton, including the diffusive spread of algae and zooplankton and the sinking of algae. The model is investigated both with and without sinking. Conditions of Hopf and Turing bifurcation in the spatial domain are obtained, and conditions for differential-flow instability that gives rise to the formation of spatial patterns are derived. Using numerical simulation, the authors ...

  10. BAHAYA RADIASI DAN CARA PROTEKSINYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Badunggawa P

    2014-09-01

    Full Text Available Radiasi yang kita terima setiap saat, termasuk radiasi untuk tujuan kedokteran, mempunyai dampak positif dan negatif terhadap keselamatan manusia dan lingkungan. Dampak positif dari radiasi terhadap keselamatan manusia diantaranya adalah digunakan sebagai pengobatan dan dampak negatifnya adalah tergantung dari besar dosis yang diterima diantaranya adalah mulai dari mual, muntah, pusing-pusing, rambut rontok, menyebabkan kanker, diturunkan secara genetik, dan yang lebih berbahaya lagi adalah menyebabkan kematian. Oleh karena itu kita harus berhati-hati terhadap bahaya yang ditimbulkannya, baik terhadap pekerja radiasi maupun masyarakat umum termasuk pasien. Perlindungan terhadap bahaya yang ditimbulkan radiasi ini dikenal dengan istilah proteksi radiasi. Sehingga dosis yang diterima pertahun oleh pekerja atau masyarakat umum tidak melebihi batas dosis yang ditetapkan oleh Bapeten. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meminimalkan bahaya tersebut sehingga pekerja dan pasien merasa aman melakukan dan dikenai tindakan medik.[medicina 2009;40:47-51].  

  11. Sistem Informasi Akademik DI SMP Swasta YAPENDAK Air Batu

    OpenAIRE

    Yudhistira, Rizky

    2010-01-01

    Kajian ini bertujuan untuk membangun satu prototype sistem dan alat inventori berdasarkan sistem pendukung keputusan. Sistem ini dikembangkan menggunakan perangkat lunak Visual Basic 6 dan Microsoft Access 2003. Metodologi pengembangan sistem yang digunakan adalah berdasarkan siklus hidup pengembangan sistem dengan pendekatan air terjun dan iterasinya. Sistem ini meliputi modul – modul masukan data berkaitan dengan guru, pegawai, siswa, jadwal. Objek utama dari sistem ini ad...

  12. Metode Pengukuran Saliva Dan Pemeriksaan Kelenjar Saliva

    OpenAIRE

    Deddy A. Simatupang

    2008-01-01

    Saliva merupakan cairan utama di rongga mulut yang dihasilkan oleh kelenjar saliva mayor dan minor. Saliva memiliki fungsi dan peranan penting dalam menjaga dan memelihara kesehatan secara umum. Kebiasaan bemafas melalui mulut, akibat terapi radiasi pada kepala dan leher, kemsakan saraf, obat-obatan, dan penyakit-penyakit tertentu dapat menyebabkan penurunan produksi saliva yang disebut dengan xerostomia atau mulut kering. Xerostomia dapat menyebabkan karies gigi, mukositis dan kandidiasi...

  13. Dipeptides from the red alga Acanthopora spicifera

    Digital Repository Service at National Institute of Oceanography (India)

    Wahidullah, S.; DeSouza, L.; Kamat, S.Y.

    An investigation of red alga Acanthophora spicifera afforded the known peptide, aurantiamide acetate and a new diastereoisomer of this dipeptide (dia-aurantiamide acetate). This is a first report of aurantiamide acetate from a marine source...

  14. 2011 Biomass Program Platform Peer Review: Algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Yang, Joyce [Office of Energy Efficiency and Renewable Energy (EERE), Washington, DC (United States)

    2012-02-01

    This document summarizes the recommendations and evaluations provided by an independent external panel of experts at the 2011 U.S. Department of Energy Biomass Program’s Algae Platform Review meeting.

  15. KINERJA Jurnal Bisnis dan Ekonomi

    OpenAIRE

    Pickering, Paul; Suprapto, Budi; Kufepaksi, Mahatma; Suhardjanto, Djoko; Ariani, D. Wahyu; Haryono, Tulus; Soeroso, Amiluhur

    2010-01-01

    1. Effects Of Relationship Marketing Upon Nz Micro-Enterprise Internationals Within The Asian Marketplace oleh Paul Pickering dan Russel P J Kingshott. 2. Service Recovery Strategy And Customer Satisfaction: Evidence From Hotel Industry In Yogyakarta-Indonesia oleh Budi Suprapto dan Galang Yunanto Hashym 3. Investor Overconfident Dalam Penilaian Saham: Perspektif Gender Dalam Eksperimen Pasar oleh Mahatma Kufepaksi 4. Pengaruh Corporate Governance, Etnis, Dan Latar Belakang Pendi...

  16. UPAYA PENINGKATAN MUTU DAN EFISIENSI PROSES PENGERINGAN JAGUNG DENGAN MIXED-ADSORPTION DRYER

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Luqman Buchori

    2013-11-01

    Full Text Available THE EFFORT OF EFFICIENCY AND QUALITY IMPROVEMENT ON CORN DRYING PROCESS USING MIXED-ADSORPTION DRYER. The main problem in corn drying process is the low of energy efficiency (50% and quality products. Consequently, operating costs in large for fuel consumption and the short shelf life of corn. Zeolite adsorption dryers have the potential to overcome this problem. This research aims to study composition of corn-zeolite and the effect of temperature on drying speed and protein and fat content in corn. Research variables are the ratio of corn and zeolite (1:0, 1:3, 1:1, 3:1 and intake air temperature (room temperature, 30oC, 40oC, 50oC. Sampling for moisture testing performed every 15 minutes. For energy purposes also calculated the energy efficiency (h based on the amount of heat used to evaporate water from the corn (Qevap divided by the total heat requirement to regenerate the zeolite and raising the air temperature (Qintr. Profiles of temperature and water in the mixed adsorption dryer are also studied. The results showed that the greater number of zeolite used, the water content of the final outcome a little more drying, protein and fat content of the final result of drying is relatively constant. The larger intake air temperature, the water content of the less drying results, protein content decreases, and the fat content does not change/relatively constant. The best variable was a ratio of corn: zeolite is 1:3 and air temperature was 50oC. While the variables that are suitable and in accordance with ISO standards for dry foods (14% are air temperature of between 40oC and 50oC with a ratio of corn:zeolite is 1:3. The energy efficiency of 81.23% is obtained. Modeling done with FEMLAB (COMSOL can describe the moisture content and temperature profiles in the corn and zeolite. Keywords: corn; drying; energy efficiency; mixed adsorption dryer; zeolite Abstrak Masalah utama proses pengeringan jagung adalah rendahnya efisiensi energi (50% dan mutu

  17. THE SOIL ALGAE OF CIBODAS FOREST RESERVE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anne Johnson

    2014-01-01

    Full Text Available Three species of green algae and one blue-green alga were recorded from eight samples of soil found associated with bryophytes in the Cibodas Forest Reserve. Chemical analysis of the soil showed severe leaching of soluable mineral substances associated with a low pH. The low light intensity under forest conditions and the low pH may account for the limited algal flora.

  18. Stochastic Forecasting of Algae Blooms in Lakes

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Wang, Peng; Tartakovsky, Daniel M.; Tartakovsky, Alexandre M.

    2013-01-03

    We consider a general framework to predict the development of harmful algal blooms (HABs) in a lake driven by uncertain parameters. To quantify the concentration uncertainty of those algae groups via their joint probabilistic density function (PDF), we explore an approach based on the Fokker-Planck equation. Our result is presented in an example where abundant nutrients contribute to the proliferation of cyanobacteria and other minor algae groups.

  19. Marine algae and seagrasses of Tekirdag (Black Sea,Turkey)*

    OpenAIRE

    Aysel, Veysel; Erdugan, Hüseyin; DURAL, Berrin; SükranOkudan, E.

    2006-01-01

    Abstract In this study, marine algae and seagrasses in the upper infralittoral zone of the Black Sea coast of Tekirdag (Turkey) were investigated. A total 156 taxon (153 algae and 3 seagrasses) in species or inferior to the species category were determined. 15 of them belong to blue-green bacteria (Cyanophyta), 84 to red algae (Rhodophyta), 26 to brown algae (Heterokontophyta), 28 to green algae (Chlorophyta) and 3 to marineflowering plants (Magnoliophyta).

  20. Inventory of North-West European algae initiatives

    OpenAIRE

    Spruijt, J.

    2015-01-01

    In 2012 an inventory of North-West European (NWE) algae initiatives was carried out to get an impression of the market and research activities on algae production and refinery, especially for bioenergy purposes. A questionnaire was developed that would provide the EnAlgae project with information on the value chains in which algae production was positioned within these initiatives. The questionnaire was used by EnAlgae project partners to collect information in Great Britain, Ireland, Germany...

  1. Hepatitis B dan Permasalahannya

    OpenAIRE

    Zain, Lukman Hakim

    2008-01-01

    Pada tahun 1965, Blumberg dan kawan- kawan di Philadelphia menemukan suatu antibodi pada pasien yang ditransfusi yang berasal dari suku Aborigin Australia, sehingga ant igen tersebut dikenal dengan nama Antigen Australia. Pada tahun 1977, Blumberg mendapat hadiah nobel untuk penemuannya itu. Sekarang antigen tersebut dikenal dengan nama hepatitis B surface antigen (HBsAg). Hepatitis B merupakan penyakit infeksi pada jaringan hati yang disebabkan oleh virus yang berasal da...

  2. Antioxidant Activity of Hawaiian Marine Algae

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anthony D. Wright

    2012-02-01

    Full Text Available Marine algae are known to contain a wide variety of bioactive compounds, many of which have commercial applications in pharmaceutical, medical, cosmetic, nutraceutical, food and agricultural industries. Natural antioxidants, found in many algae, are important bioactive compounds that play an important role against various diseases and ageing processes through protection of cells from oxidative damage. In this respect, relatively little is known about the bioactivity of Hawaiian algae that could be a potential natural source of such antioxidants. The total antioxidant activity of organic extracts of 37 algal samples, comprising of 30 species of Hawaiian algae from 27 different genera was determined. The activity was determined by employing the FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power assays. Of the algae tested, the extract of Turbinaria ornata was found to be the most active. Bioassay-guided fractionation of this extract led to the isolation of a variety of different carotenoids as the active principles. The major bioactive antioxidant compound was identified as the carotenoid fucoxanthin. These results show, for the first time, that numerous Hawaiian algae exhibit significant antioxidant activity, a property that could lead to their application in one of many useful healthcare or related products as well as in chemoprevention of a variety of diseases including cancer.

  3. PERBEDAAN PROSES PEMBELAJARAN DAN PRESTASI BELAJAR SISWA SD EKS-RSBI DAN SDSN DI DIY

    OpenAIRE

    Herjan Haryadi; Heri Retnawati

    2014-01-01

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan proses pembelajaran dan prestasi belajar siswa eks-RSBI dan SDSN di DIY pada mata pelajaran matematika, IPA dan Bahasa Indonesia. Penelitian ini merupakan studi penelitian komparasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV dan V SD eks-RSBI dan SDSN di DIY. Analisis data menggunakan (1) statistik deskriptif untuk mendeskripsikan proses penelitian dan menggambarkan mean dari data yang diperoleh; dan (2) statistik inferensi...

  4. ASIMETRI INFORMASI DAN UNDERPRICING

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tety Anggita Safitri

    2013-03-01

    Full Text Available Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh asimetri informasi terhadap underpricing. Penelitian ini menggunakan sampel 63 perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana di Bursa Efek Indonesia dalam kurun waktu 2005-2010. Analisis data menggunakan regresi linier berganda, yaitu menguji proksi asimetri informasi yang terdiri atas ukuran perusahaan, umur perusahaan, proporsi saham yang ditawarkan kepada masyarakat, reputasi underwriter dan reputasi auditor terhadap underpricing. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa reputasi underwriter dan reputasi auditor berpengaruh terhadap underpricing. Ukuran perusahaan, umur perusahaan dan proporsi saham yang ditawarkan tidak berpengaruh terhadap underpricing.The aim of this research is to examine the effect of assymetric information on underpricing. This research used a sample of 63 companies that make initial public offering on the Indonesia Stock Exchange in the period of 2005-2010. The data analysis is using multiple linear regression, which is testing the proxy of asymmetric information which consists of the firm size, the firm age, the proportion of shares offered to the public, underwriter reputation and auditor reputation on underpricing. This research indicates that underwriter reputation and auditor reputation have a significant effect on underpricing. The firm size, the firm age and the proportion of shares offered to the public have no significant effect on underpricing.

  5. STRESS PADA LANSIA MENJADI FAKTOR PENYEBAB DAN AKIBAT TERJADINYA PENYAKIT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nur Hidaayah

    2015-11-01

    Full Text Available Stress conditions in the elderly means an imbalance condition of biological, psychological, and social are closely related to the response to the threats and dangers faced by the elderly. Pressure or interference that is not fun is usually created when the elderly see a mismatch between the state and the 3 systems available resources. Maintenance actions that need to be done there are 2 types, namely : prevention of exposure to a stressor (precipitation factor and serious treatment of the imbalance condition/ illness (precipitation factor. Prevention includes: sports, hobbies, friendship, avoid eating foods high in free radicals and harmful substances, sex and setting arrangements adequate rest. Habits of the above if done at a young age to avoid exposure to stress in the elderly. Treatment of the imbalance condition / illness, include : drinking water, meditation, eating fresh fruit, and adequate rest.Abstrak : Kondisi stres pada lansia berarti ketidakseimbangan kondisi biologis, psikologis, dan sosial yang erat kaitannya dengan respons terhadap ancaman dan bahaya yang dihadapi pada lanjut usia. Adanya tekanan atau gangguan yang tidak menyenangkan yang biasanya tercipta ketika lansia tersebut melihat ketidaksepadanan antara keadaan dan 3 sistem sumber daya yang dimiliki. Tindakan perawatan yang perlu dilakukan ada 2 jenis yaitu pencegahan dari paparan stressor (faktor presipitasi dan penanganan serius terhadap ketidakseimbangan kondisi/ sakit (faktor presipitasi. Pencegahannya meliputi: olah raga, penyaluran hobi, persahabatan, menghindari makan makanan tinggi radikal bebas dan zat berbahaya, pengaturan kegiatan seks dan pengaturan istirahat yang cukup. Kebiasaan tersebut diatas jika dilakukan sejak usia muda dapat menghindarkan paparan stres di lanjut usia. Penanganan terhadap ketidakseimbangan kondisi/ sakit, meliputi : minum air putih, meditasi, makan buah segar, dan istirahat yang cukup. 

  6. Etude des réactions mettant en jeu l'oxygène dans un système électrochimique lithium-air aqueux rechargeable électriquement

    OpenAIRE

    Moureaux, Florian

    2011-01-01

    The electrochemical lithium-air devices are emerging concepts and their very high theoretical performances have attracted a lot of attention, especially for an application in the electrical vehicle. A target of at least 500 Wh kg-1 is aimed for. The aqueous lithium-air devices have not yet been studied in detail which is not the case for the anhydrous lithium-air technology. This thesis firstly deals with the development of an aqueous lithium-air cell based on a three electrodes setup, and se...

  7. Analisa Hukum Pengenaan Pajak Pengambilan Dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah Dan Air Permukaan Di Propinsi Riau

    OpenAIRE

    Erwansyah, Ronald

    2013-01-01

    Underground and surface water tax is a very prospective tax in the future. The taking of underground water can be closely done that it tends to provide opportunity to the community members to violate the existing regulation of legislation in utilizing underground water. As one of the objects of local taxes in Riau province, it is not separated from the problems existing in the administration of tax collection authority after the issuance of Law No.28/2009. The purpose of this s...

  8. Analisa Hukum Pengenaan Pajakpengambilan Dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah Dan Air Permukaan Dipropinsi Riau

    OpenAIRE

    Erwansyah, Ronald

    2013-01-01

    Underground and surface water tax is a very prospective tax in the future. The taking of underground water can be closely done that it tends to provide opportunity to the community members to violate the existing regulation of legislation in utilizing underground water. As one of the objects of local taxes in Riau province, it is not separated from the problems existing in the administration of tax collection authority after the issuance of Law No.28/2009. The purpose of this s...

  9. PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI ASAM, TEMPERATUR DAN WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP KARAKTERISTIK FISH GLUE DARI LIMBAH IKAN TENGGIRI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tony Handoko

    2012-05-01

    Full Text Available THE EFFECTS OF TYPES AND ACID CONCENTRATIONS, TEMPERATURES AND EXTRACTION TIME ON THE FISH GLUE CHARACTERISTIC OBTAINED FROM MACKEREL FISH BONE WASTE. As a maritime nation, Indonesia produced fresh fish products up to 4,408,419 tons in 2005. Mackerel fish is one of them. Its bone waste has an economic value as a source for fish glue production. The purpose of this research was to determine the optimum conditions in fish glue processing. Preliminary research was done to determine the acid type (CH3COOH and HCl and its concentration (4%, 5%, and 6% in soaking process. While the main research was then done to determine the best temperature (45oC, 60oC, and 75oC and time of extraction (4 hrs, 5 hrs, 6 hrs. The fish glue products were analyzed their adhesion and physical characteristics, such as density, viscosity, pH, and water content. The results showed that weak acid (CH3COOH of 5% concentration is the best solution in soaking process and extraction in 4 hrs at 45oC has given the optimum condition for producing fish glue. The glue has a nice odor but its adhesion strength remains poor.      Abstrak   Sebagai negara maritim, Indonesia menghasilkan produk perikanan yang sangat besar mencapai 4.408.419 ton pada tahun 2005 dan terus bertambah. Salah satu produk perikanan yang terbesar adalah ikan tenggiri dengan limbah tulang yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi sebagai bahan baku fish glue. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kondisi proses yang dapat menghasilkan fish glue yang baik melalui dua tahap yaitu penelitian pendahuluan dan utama. Penelitian pendahuluan bertujuan mendapatkan jenis asam (CH3COOH dan HCl dan konsentrasi asam terbaik (4%, 5%, dan 6% pada  proses perendaman tulang ikan. Penelitian utama bertujuan  menentukan temperatur ekstraksi (45oC, 60oC, dan 75oC dan waktu ekstraksi (4 jam, 5 jam, 6 jam. Analisis fish glue yang dilakukan adalah uji kerekatan dan sifat fisik berupa densitas, viskositas, pH, dan kadar air

  10. Metode Eksponensial Smoothing Untuk Peramalan Jumlah Air Minum Yang Disalurkan PDAM Tirtanadi Medan Tahun 2014

    OpenAIRE

    Pinem, Evi Mayanti

    2012-01-01

    Air limbah domestic merupakan air yang timbul dari sisa kegiatan di rumah tangga, seperti air bekas mandi, mencuci dan kakus serta juga kegiatan lainnya yang dilakukan di dalam rumah. Air hujan bukan merupakan bagian dari air limbah domestic, karenanya air hujan harus dipisahkan penanganannya dari air limbah domestic dengan menyalurkannya ke saluran drainase kota. Tujuan pengolahan air limbah domestic ini adalah dalam rangka untuk menjaga kualitas lingkungan badan air peneri...

  11. DEODORISASI LIMBAH CAIR BATIK MENGGUNAKAN LIMBAH BAGLOG Pleurotus ostreatus DENGAN KOMBINASI VOLUME DAN WAKTU INKUBASI BERBEDA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Heru Teguh Sumarko

    2013-11-01

    Full Text Available Limbah cair batik yang dibuang ke lingkungan tanpa diolah terlebih dahulu bersifat toksik, mengakibatkan penurunan kualitas air disekitar lingkungan dan kesehatan dengan munculnya masalah utama seperti bau tidak sedap. Kondisi tersebut diperlukan penanganan agar efek pencemaran rendah atau menjadikan limbah cair batik tidak toksik. Penelitian tentang pengelolaan limbah cair batik berupa deodorisasi menggunakan limbah baglog Pleurotus ostreatus dengan kombinasi volume dan waktu inkubasi berbeda telah diujikan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kemampuan limbah baglog P. ostreatusdengan kombinasi volume dan waktu inkubasi berbeda dalam mendeodorisasi limbah cair batik, dan untuk mengetahui perlakuan yang terbaik dalam mendeodorisasi limbah cair batik menggunakan limbah baglog P. ostreatus dengan kombinasi volume dan waktu inkubasi berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah baglog P. ostreatus dengan kombinasi volume dan waktu inkubasi berbeda mampu mendeodorisasi limbah cair batik. Hasil terbaik berupa penurunan skala bau 3 (tidak bau yang diikuti persentase penurunan nilai BOD sebesar 93,95% (3301 mg/l menjadi 200 mg/l dan COD 79,66% (15200 mg/l menjadi 3120 mg/l pada perlakuan 100 ml volume limbah cair batik dan 96 jam waktu inkubasi.

  12. Pariisi-kiri / Aire Allikmets

    Index Scriptorium Estoniae

    Allikmets, Aire

    1997-01-01

    Fanny de Siversile pühendatud vastuvõtust College de France'i Sinises Salongis 27. märtsil 1997 ja temale pühendatud koguteosest 'Contacts de langues et de cultures dans l'aire Baltique' (koost. M. M. Jocelyne Fernendez ja Raimo Raag)

  13. Algae production for energy and foddering

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Bai, Attila; Jobbagy, Peter; Durko, Emilia [University of Debrecen, Faculty of Applied Economics and Rural Development (UD-FAERD), Centre for Agricultural and Applied Economic Sciences, Debrecen (Hungary)

    2011-09-15

    This study not only presents the results of our own experiments in alga production, but also shows the expected economic results of the various uses of algae (animal feed, direct burning, pelleting, bio-diesel production), the technical characteristics of a new pelleting method based on literature, and also our own recommended alga production technology. In our opinion, the most promising alternative could be the production of alga species with high levels of oil content, which are suitable for utilization as by-products for animal feed and in the production of bio-diesel, as well as for use in waste water management and as a flue gas additive. Based on the data from our laboratory experiments, of the four species we analyzed, Chlorella vulgaris should be considered the most promising species for use in large-scale experiments. Taking expenses into account, our results demonstrate that the use of algae for burning technology purposes results in a significant loss under the current economic conditions; however, the utilization of algae for feeding and bio-diesel purposes - in spite of their innovative nature - is nearing the level needed for competitiveness. By using the alga production technology recommended by us and described in the present study in detail, with an investment of 545 to 727 thousand EUR/ha, this technology should be able to achieve approximately 0-29 thousand EUR/ha net income, depending on size. More favorable values emerge in the case of the 1-ha (larger) size, thanks to the significant savings on fixed costs (depreciation and personnel costs). (orig.)

  14. Radiation sterilization of harmful algae in water

    International Nuclear Information System (INIS)

    Complete text of publication follows. Objective: Drinking water, water used in food production and for irrigation, water for fish farming, waste water, surface water, and recreational water have been recently recognized as a vector for the transmission of harmful micro-organisms. The human and animal harmful algae is a waterborne risk to public health and economy because the algae are ubiquitous and persistent in water and wastewater, not completely removed by physical-chemical treatment processes, and relatively resistant to chemical disinfection. Gamma and electron beam radiation technology is of growing in the water industry since it was demonstrated that gamma and electron beam radiation is very effective against harmful algae. Materials and Methods: Harmful algae (Scenedesmus quadricauda(Turpin) Brebisson 1835 (AG10003), Chlorella vulgaris Beijerinck 1896 (AG30007) and Chlamydomonas sp. (AG10061)) were distributed from Korean collection for type cultures (KCTC). Strains were cultured aerobically in Allen's medium at 25□ and 300 umol/m2s for 1 week using bioreactor. We investigated the disinfection efficiency of harmful algae irradiated with gamma (0.05 to 10 kGy for 30 min) and electron beam (1 to 19 kGy for 5 sec) rays. Results and Conclusion: We investigated the disinfection efficiency of harmful algae irradiated with gamma and electron beam rays of 50 to 19000 Gy. We established the optimum sterilization condition which use the gamma and electron beam radiation. Gamma ray disinfected harmful algae at 400 Gy for 30 min. Also, electron beam disinfected at 1000 Gy for 5 sec. This alternative disinfection practice had powerful disinfection efficiency. Hence, the multi-barrier approach for drinking water treatment in which a combination of various disinfectants and filtration technologies are applied for removal and inactivation of different microbial pathogens will guarantee a lower risk of microbial contamination.

  15. Algae Biofuel in the Nigerian Energy Context

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Elegbede Isa

    2016-05-01

    Full Text Available The issue of energy consumption is one of the issues that have significantly become recognized as an important topic of global discourse. Fossil fuels production reportedly experiencing a gradual depletion in the oil-producing nations of the world. Most studies have relatively focused on biofuel development and adoption, however, the awareness of a prospect in the commercial cultivation of algae having potential to create economic boost in Nigeria, inspired this research. This study aims at exploring the potential of the commercialization of a different but commonly found organism, algae, in Nigeria. Here, parameters such as; water quality, light, carbon, average temperature required for the growth of algae, and additional beneficial nutrients found in algae were analysed. A comparative cum qualitative review of analysis was used as the study made use of empirical findings on the work as well as the author’s deductions. The research explored the cultivation of algae with the two major seasonal differences (i.e. rainy and dry in Nigeria as a backdrop. The results indicated that there was no significant difference in the contribution of algae and other sources of biofuels as a necessity for bioenergy in Nigeria. However, for an effective sustainability of this prospect, adequate measures need to be put in place in form of funding, provision of an economically-enabling environment for the cultivation process as well as proper healthcare service in the face of possible health hazard from technological processes. Further studies can seek to expand on the potential of cultivating algae in the Harmattan season.

  16. Studi Beban Kerja Fisik Operator pada Aktivitas Pengangkatan dan Penyusunan Krat Produk Minuman Secara Manual

    OpenAIRE

    Afliani, Dian Harisa

    2013-01-01

    PT. Coca-cola Bottling Indonesia Unit Medan merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri pengolahan air minum dalam kemasan. Dalam kegiatan produksinya, terdapat aktivitas manual material handling. Aktivitas itu adalah pengangkatan dan penyusunan kotak produk (krat) ke atas pallet yang dilakukan secara repetitif selama delapan jam setiap shiftnya. Berat 1 krat adalah 16 kg, disusun 3x3 sampai 6 tingkat dengan tinggi maksimum 171 cm, dan berisi 54 krat per palletnya. Terdapat 3 orang peke...

  17. OPTIMASI, PRODUKSI DAN UJI AKTIVITAS ENZIM LIPASE DARI Aspergillus oryzae GALUR LOKAL

    OpenAIRE

    Seniwati Dali; AP, Pirman; Zaraswati

    2007-01-01

    Lipase (triasilgliserol hidrolase, EC.3.1.1.3) adalah enzim yang aktif mengkatalisis hidrolisis ikatan ester trigliserida antar permukaan air-lemak. Dalam kondisi tertentu, lipase juga dapat mengkatalisis reaksi sebaliknya (sintesis, reaksi esterfikasi) membentuk gliserida dari asam lemak dan gliserol. Telah dilakukan penelitian produksi enzim lipasedengan tahap-tahap riset sebagai berikut : Skreening dan identifikasi isolat jamur penghasil enzim lipase, uji aktivitas enzim lipase, optimasi p...

  18. ÉTUDE STRUCTURALE ET DYNAMIQUE PAR RÉSONANCE MAGNÉTIQUE NUCLÉAIRE, D'UNE PROTÉINE DE TRANSFERT DE LIPIDES ISOLÉE DANS LE TABAC

    OpenAIRE

    Da Silva, Pedro

    2004-01-01

    La LTP1 extraite de feuille de Nicotiana tabacum, nommée LTP1_1, a été produite dans Pichia pastoris. Nous avons ainsi déterminé sa structure tridimensionnelle par RMN 2D, 3D et modélisation moléculaire. Différentes études d'interaction et de dynamique ont ensuite mis en évidence des propriétés de fixation particulières comparativement aux autres LTPs. Ces travaux ont servi de base à la détermination de structures d'autres LTP1 de tabac par modélisation comparative et à des simulations de dyn...

  19. Antropologi dan Jaringannya di Indonesia

    OpenAIRE

    Jonris G. Purba

    2009-01-01

    Jika melihat tulisan ini sepintas dari judulnya, maka kita akan bertanya mengapa antropologi mempunyai jaringan. Di samping itu kita juga akan bertanya: jaringan seperti apa yang ada dalam antropologi itu? Bagaimana terbentuknya jaringan itu? Dan apa yang menjadi latar belakang munculnya jaringan antropologi tersebut? Serta apa saja manfaat dan kegiatan yang dilaksanakan dalam jaringan tersebut? ker-jul2006- (3)

  20. Etude numérique de la condensation en film par convection mixte dans un canal vertical

    OpenAIRE

    Merouani, Lazhar; Zeghmati, Belkacem; Chesneau, Xavier; Belhamri, Azedine

    2007-01-01

    International audience Une étude numérique de la condensation par convection mixte laminaire d'air humide dans un canal vertical à parois non isothermes est présentée. Les transferts dans la phase liquide et dans l'air sont décrits par les équations de conservation de masse, de quantité de mouvement, d'énergie et de diffusion. Le couplage entre les équations des deux phases est assuré par la continuité des contraintes de cisaillement, des densités de flux thermique et massique à l'interfac...

  1. SARANA PENGUJIAAN MUTU MAKANAN PADA BEBERAPA PABRIK MAKANAN YANG MEMPRODUKSI PRODUK OLAHAN HASIL PETERNAKAN DAN PERIKANAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ani Isnawati

    2012-10-01

    oleh 7 pabrik (30,4 %, Gas Chromatografi dan Spektrofotometer Serapan Atom dimiliki hanya oleh 1 pabrik (4,3%. Untuk uji Mikrobiologi peralatan yang dipunyai pabrik adalah autoclave dan oven dipunyai 12 pabrik (52,2 % dan Laminar air flow hanya dimiliki oleh 2 pabrik  (8, 7 %.

  2. Pola Asuh Makan pada Balita dengan Status Gizi Kurang di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Kalimantan Tengah, Tahun 2011

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Merryana Adriani

    2013-12-01

    Full Text Available Latar belakang: Menurut UNICEF, penyebab secara langsung terjadinya kurang gizi pada balita, adalah konsumsi makanan balita yang tidak seimbang dan adanya penyakit infeksi, sedangkan faktor tidak langsung diantaranya adalahpola asuh balita. Metode: Desain penelitian dilakukan secara potong lintang. Penelitian dilakukan selama 10 bulan pada tahun 2011, di tiga provinsi yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah dan Kalimantan Tengah. Pengumpulan data dilakukan secara kuantitatif, dengan cara wawancara menggunakan kuesioner terstruktur pada ibu balita dengan status gizi bawah garis merah (BGM. Pengambilan sampel balita BGM dilakukan secara purposive, di masing-masing lokasi penelitian. Hasil: Sebagian besar (33,3% ibu balita mempunyai tingkat pendidikan sekolah dasar (SD, dan 26,7% tamat SMP dan SMA. Di kabupaten Sumenep terdapat 45,8% ibu balita berpendidikan tamat SD, sedangkan ibu balita tamat SMA di kota Semarang dan kabupaten Gunung Mas, berturut-turut sebanyak 38% dan 35,1%. Balita kurang gizi/BGM yang mempunyai ayah dengan tingkat pendidikan tidak tamat sekolah sebanyak 16,7% ada di kabupaten Sumenep, sedangkan di kota Semarang dan kabupaten Gunung Mas sebagian besar ayah balita berpendidikan tamat SMA yaitu sebanyak 44,8% dan 35,1%. Jenis penyakit yang sering diderita oleh balita kurang gizi/BGM & gizi buruk di 3 (tiga lokasi penelitian adalah demam/panas (68,9%, batuk/pilek sebanyak 15,6% dan diare/mencret sebesar 8,9%. Pola makan yang diberikan selain ASI pada anak usia 0–6 bulan meliputi madu, air tajin, susu formula, biskuit bayi, pisang yang dilembutkan, bubur susu, makanan lunak,nasi, sayur, ikan, telur, daging sapi, jajanan dan camilan, dengan alasan agar anak mau makan dan tidak menangis. Kesimpulan: Pola makan yang kurang tepat pada balita mengakibatkan inisiasi menyusu dini dan pemberianASI ekslusif tidak dapat diterapkan dengan baik dan benar.

  3. Radiation effects on algae and its application

    International Nuclear Information System (INIS)

    The effects of radiation on algae have been summarized in this article. Today, algae are being considered to have the great potential to fulfill the demand of food, fodder, fuel and various pharmaceutical products. Red algae are particularly rich in the content of polysaccharides present in their cell wall. For isolation of these polysaccharides, separation of cells cemented together by middle lamella is essential. The gamma rays are known to bring about biochemical changes in the cell wall and cause the breakdown of the middle lamella. These rays ate also known to speed up the starch sugar inter-conversion in the cells which is very useful for the tapping the potential of algae to be used as biofuel as well as in pharmaceutical industries. Cyanobacteria, among algae and other plants are more resistant to the radiation. In some cyanobacteria the radiation treatment is known to enhance the resistance against the antibiotics. Radiation treatment is also known to enhance the diameter of cell and size of the nitrogen fixing heterocyst. (author)

  4. Controlled regular locomotion of algae cell microrobots.

    Science.gov (United States)

    Xie, Shuangxi; Jiao, Niandong; Tung, Steve; Liu, Lianqing

    2016-06-01

    Algae cells can be considered as microrobots from the perspective of engineering. These organisms not only have a strong reproductive ability but can also sense the environment, harvest energy from the surroundings, and swim very efficiently, accommodating all these functions in a body of size on the order of dozens of micrometers. An interesting topic with respect to random swimming motions of algae cells in a liquid is how to precisely control them as microrobots such that they swim according to manually set routes. This study developed an ingenious method to steer swimming cells based on the phototaxis. The method used a varying light signal to direct the motion of the cells. The swimming trajectory, speed, and force of algae cells were analyzed in detail. Then the algae cell could be controlled to swim back and forth, and traverse a crossroad as a microrobot obeying specific traffic rules. Furthermore, their motions along arbitrarily set trajectories such as zigzag, and triangle were realized successfully under optical control. Robotize algae cells can be used to precisely transport and deliver cargo such as drug particles in microfluidic chip for biomedical treatment and pharmacodynamic analysis. The study findings are expected to bring significant breakthrough in biological drives and new biomedical applications. PMID:27206511

  5. Biological toxicity of lanthanide elements on algae.

    Science.gov (United States)

    Tai, Peidong; Zhao, Qing; Su, Dan; Li, Peijun; Stagnitti, Frank

    2010-08-01

    The biological toxicity of lanthanides on marine monocellular algae was investigated. The specific objective of this research was to establish the relationship between the abundance in the seawater of lanthanides and their biological toxicities on marine monocellular algae. The results showed that all single lanthanides had similar toxic effects on Skeletonema costatum. High concentrations of lanthanides (29.04+/-0.61 micromol L(-1)) resulted in 50% reduction in growth of algae compared to the controls (0 micromol L(-1)) after 96 h (96 h-EC50). The biological toxicity of 13 lanthanides on marine monocellular algae was unrelated with the abundance of different lanthanide elements in nature, and the "Harkins rule" was not appropriate for the lanthanides. A mixed solution that contained equivalent concentrations of each lanthanide element had the same inhibition effect on algae cells as each individual lanthanide element at the same total concentration. This phenomenon is unique compared to the groups of other elements in the periodic table. Hence, we speculate that the monocellular organisms might not be able to sufficiently differentiate between the almost chemically identical lanthanide elements. PMID:20547408

  6. Estimation of alga growth stage and lipid content growth rate

    Science.gov (United States)

    Embaye, Tsegereda N. (Inventor); Trent, Jonathan D. (Inventor)

    2012-01-01

    Method and system for estimating a growth stage of an alga in an ambient fluid. Measured light beam absorption or reflection values through or from the alga and through an ambient fluid, in each of two or more wavelength sub-ranges, are compared with reference light beam absorption values for corresponding wavelength sub-ranges for in each alga growth stage to determine (1) which alga growth stage, if any, is more likely and (2) whether estimated lipid content of the alga is increasing or has peaked. Alga growth is preferably terminated when lipid content has approximately reached a maximum value.

  7. Respons Imunoglobulin-G dan Imunoglobulin-M Mencit yang Diberi Ekstrak Methanol Alga Biru Hijau dan Diinfeksi Dengan Takizoit

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sorta Basar Ida Simanjuntak

    2012-11-01

    Full Text Available Toxoplasmosis is an infectious disease caused by Toxoplasma gondii. This disease could severelyaffect humans and animals. Up to now there has been no simple treatment to fight toxoplasmosis. Aprospective alternative treatment to overcome this problem is by increasing immunity of the body using animmunostimulant such as Spirulina platensis. The aims of this research were to observe the potency of S.platensis as an immunostimulant and to find the most potential fraction of S. Platensis that can increasethe responses of IgG and IgM antibodies againts toxoplasma. The responses of these antibodies weremeasured using ELISA method. The isolation of compounds from S. platensis using Preparative ThinLayer Chromatography (PTLC found three fractions which were a top fraction (I, a middle fraction (II,and a lower fraction (III. Forty-eight mice used in this research were divided into four different groupswith 12 mice in each group and treated differently. The top, middle, and lower fractions of S. platensis wereadministered orally to three groups of mice respectively at dose of 3mg/ml for each mouse while the micein the fourth group were kept as untreated controls. The treatment was conducted for 14 days consecutivelyand on the next day, all mice, including the controls, were challenged with tachizoit. The effect of S.platensisfractions on the responses of IgG and IgM antibodies were then measured at various time intervals, i.e. day0 (before infection and day 1, 2, and 3 after infection. The results showed that IgG response increased inthe day 0 (2.504 OD and the day 3 after infection (2.608 OD while IgM response increased in day 1 afterinfection (2.898 OD. In conclusion, S. platensis was an immunostimulant and the middle fraction (II of S.Platensis was the most potential fraction to increase immunity againts toxoplasma .

  8. Estimasi Dosis Alumunium Sulfat pada Proses Penjernihan Air Menggunakan Metode Genetic Algorithm

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Meilinda Ayundyahrini

    2013-09-01

    Full Text Available Kualitas air minum tergantung dari kekeruhan dan pH. Proses koagulasi merupakan proses utama penjernihan air yang bertujuan untuk mengikat partikel-partikel dalam air menggunakan koagulan. Hubungan kualitas air dan dosis membentuk kurva U sehingga dosis optimum merupakan titik minimum dari kurva. Ketika pemberian dosis tidak tepat maka bisa merusak kualitas air itu sendiri. Metode yang digunakan untuk mencari dosis minimum adalah Algoritma Genetika dengan tahapan meliputi normalisasi data, stratifikasi, inialisasi populasi, evaluasi individu, seleksi turnamen, pindah silang, mutasi, dan elitisme. Persamaan least square error dan kesalahan sesaat digunakan sebagai persamaan fitness. Pencarian persamaan optimum dibagi menjadi dua musim, yaitu musim kemarau dan penghujan. Musim kemarau, persamaan optimum didapat dengan mengelompokkan data menjadi tiga kelompok waktu menggunakan persamaan kesalahan sesaat. Sedangkan pada musim penghujan, persamaan optimum didapatkan melalui pengelompokan data menjadi tiga golongan terhadap kekeruhan menggunakan persamaan kesalahan sesaat. Hasil simulasi menunjukkan jika data estimasi dosis mampu mengikuti data dosis tawas perusahaan.

  9. POROSITAS DAN PERMEABILITAS KOMPOSIT BERPORI DENGAN BAHAN DASAR LIMBAH KACA (CULT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    MI Savitri

    2014-11-01

    Full Text Available Komposit berpori dengan bahan dasar limbah kaca dan Polyethylen Glycol  (PEG telah dihasilkan dengan metode pencampuran sederhana. Pori pada komposit terbentuk akibat PEG yang menguap ketika dipanaskan pada temperature 700oC selama 2,5 jam. Variasi pori dihasilkan dengan mengatur komposisi PEG yaitu 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, dan 9%. Komposit berpori memiliki nilai porositas yang bertambah dengan kenaikan komposisi PEG. Komposit berpori memiliki porositas pada rentang 1% hingga 5% dan nilai permeabilitas komposit berpori yaitu (0.3-25x10-15 m2. Potensi komposit berpori sebagai filter air diujicobakan dengan mengalirkan limbah air sungai. Hasil pengujian diperoleh air dengan sifat fisis air bening dan tidak berbau, sehingga komposit berpori dari limbah kaca dapat menyaring air limbah.  {0>Komposit berpori dengan bahan dasar limbah kaca dan Polyethylen Glicol (PEG telah dihasilkan dengan metode pencampuran sederhana.<}0{>Porous composites from waste glass and Polyethylene Glycol (PEG have been synthesized by a simple mixing method.<0} {0>Pori pada komposit terbentuk akibat PEG yang menguap ketika dipanaskan pada temperature 700oC selama 2,5 jam.Variasi pori dihasilkan dengan mengatur komposisi PEG yaitu 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, dan 9%.Komposit berpori memiliki nilai porositas yang bertambah dengan kenaikan komposisi PEG.<}0{>The pores of the composite were formed due to the evaporation of PEG when heated at temperature of 700oC for 2.5 hours. The pore variation may be obtained by adjusting the PEG composition, i.e. 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, and 9%. The porous composites have higher porosity because of the PEG composition.<0} {0>Komposit berpori memiliki porositas pada rentang 1% hingga 5% dan nilai permeabilitas komposit berpori yaitu (0.3-25x10-15m2.Potensi komposit berpori sebagai filter air diujicobakan dengan mengalirkan limbah air sungai.<}0{>Mesoporous composites have porosity ranging from 1% to 5% and the permeability has value

  10. Freshwater algae of the Nevada Test Site

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Taylor, W.D.; Giles, K.R.

    1979-06-01

    Fifty-two species of freshwater algae were identified in samples collected from the eight known natural springs of the Nevada Test Site. Although several species were widespread, 29 species were site specific. Diatoms provided the greatest variety of species at each spring. Three-fifths of all algal species encountered were diatoms. Well-developed mats of filamentous green algae (Chlorophyta) were common in many of the water tanks associated with the springs and accounted for most of the algal biomass. Major nutrients were adequate, if not abundant, in most spring waters - growth being limited primarily by light and physical habitat. There was some evidence of cesium-137 bioconcentration by algae at several of the springs.

  11. FAUNA DAN TEMPAT PERKEMBANGBIAKAN POTENSIAL NYAMUK Anopheles spp DI KECAMATAN MAYONG, KABUPATEN JEPARA, JAWA TENGAH

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mardiana Mardiana

    2012-10-01

    Full Text Available Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di beberapa daerah pedesaan di Jawa Tengah. Usaha pemberantasan malaria telah dilakukan oleh program baik secara kimiawi maupun hayati, guna memutuskan rantai penularan. Penelitian fauna dan tempat perindukan potensial nyamuk Anopheles telah dilakukan di Desa Buaran, Kecamatan Mayong I, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Penangkapan nyamuk dengan umpan orang dilakukan di dalam dan di luar rumah pada malam hari dari pukul 18.00-24.00 yang masing-masing dilakukan oleh dua orang kolektor. Penangkapan nyamuk yang istirahat di dalam dan luar rumah (vegetasi pada pagi hari dilakukan pukul 06.00-08.00, yang dilakukan satu bulan 4 kali penangkapan selama 6 bulan. Pengambilan larva dan pupa dilakukan dari pukul 06.00-08.00 pagi di tempat genangan air dan sawah serta tempat yang potensial diduga sebagai perindukan Anopheles. Hasil penangkapan selama 6 bulan, diperoleh 1248 ekor nyamuk Anopheles yang terdiri dari 6 spesies yaitu: An. aconitus 442 ekor (35,42%, An. annularis 69 ekor (5,53% , An. barbirostris 30 ekor (2,4%, An. maculatus 2 ekor (0,16%, An. tesselatus 5 ekor (0,40% dan An. vagus 700 ekor (56,09%. Populasi aconitus ditemukan dari penangkapan di luar rumah, pada bulan Juli (56,40%, Agustus (42,80% dan Oktober (39,50% sedangkan pada bulan Mei (52,9%, Juni (44% dan September (50,40% dari penangkapan di kandang sapi. Pengambilan larva dan pupa Anopheles dilakukan di tempat habitat seperti sawah yang pada bulan Aguslus terbanyak ditemukan sebesar 85 (1.70, di sungai ditemukan hanya 4 (0.08 serta di genangan air bekas telapak kaki/kobokan ditemukan sebesar 6 (0.12. Ternyata tempat perindukan yang potensial larva Anopheles pada musim kemarau, ditemukan pada sungai yang ditanami kangkung oleh masyarakat selempat. Kata kunci: Fauna, tempat perindukan, Anopheles, vector

  12. PENINGKATAN KUALITAS DAN PROSES PEMBUATAN BIODIESEL DARI BLENDING MINYAK KELAPA SAWIT (PALM OIL) DAN MINYAK KELAPA (COCONUT OIL) DAN BANTUAN GELOMBANG ULTRASONIK

    OpenAIRE

    Hantoro Satriadi; Favian Nafiega; W Widayat; Rheza Dipo

    2015-01-01

    Keterbatasan solar sebagai sumber energi bahan bakunya tidak dapat diperbaharui menuntut adanya bahan baku alternatif yang dapat diperbaharui dan ramah lingkungan untuk pembuatan biodiesel. Reaksi utama produksi biodiesel adalah esterifikasi dan transestirifikasi yang berlangsung lambat dan membutuhkan banyak katalis dan alkohol. Reaksi yang terjadi belum sempurna dan belum memenuhi standar SNI dan ASTM. Untuk memperbaiki mutu biodiesel serta menghasilkan yield maksimal, maka dilakukan blendi...

  13. Automation on computer of the partial area method in the analysis of resonances induced by 'S' neutrons 2. with an interference term and extension of the method to the treatment of multi resonances (1963); Automatisation sur ordinateur de la methode des aires partielles dans l'analyse des resonances induites par les neutrons ''S''. 2, avec terme d'interference et extension de la methode au traitement des multiresonances (1963)

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Bianchi, G.; Corge, C.R. [Commissariat a l' Energie Atomique, Saclay (France). Centre d' Etudes Nucleaires

    1963-07-01

    This report deals with the numerical analysis on an I.B.M. 7090 computer of transmission resonances induced by 's' wave neutrons in time of flight experiments. The analysis method used is the partial area one. In this second part the interference term is taken into account. Modifications have been made in the programs and subroutines described in the first part, to determine the resonant transmissions from experimental raw data, and the relating partial areas. Also programs and subroutines are thoroughly described, which estimate the resonance parameters. The field of the partial area method has been extended to cover the case where several resonances have to be treated simultaneously, provided they do not interfere. (authors) [French] Le pretent rapport a pour objet l'analyse numerique sur ordinateur I.B.M. 7090 des resonances dues aux neutrons ''s'' dans les experiences de transmission par temps de vol, la methode d'analyse utilisee etant la methode dea aires partielles. Dans cette deuxieme partie il a ete tenu compte du terme d'interference. On y trouvera une description des amenagements apportes aux programmes et sous-programmes decrits dans la premiere partie pour determiner les transmissions interfero-resonnantes a partir des donnees experimentales brutes et les aires partielles afferentes. Sont egalement decrits les programmes et sous-programmes necessaires au calcul des parametres caracteristiques des resonances. Le domaine d'application de la methode a ete etendu au traitement simultane de plusieurs resonances groupees n'interferant pas entre elles. (auteurs)

  14. Microspectroscopy of the photosynthetic compartment of algae.

    Science.gov (United States)

    Evangelista, Valtere; Frassanito, Anna Maria; Passarelli, Vincenzo; Barsanti, Laura; Gualtieri, Paolo

    2006-01-01

    We performed microspectroscopic evaluation of the pigment composition of the photosynthetic compartments of algae belonging to different taxonomic divisions and higher plants. The feasibility of microspectroscopy for discriminating among species and/or phylogenetic groups was tested on laboratory cultures. Gaussian bands decompositions and a fitting algorithm, together with fourth-derivative transformation of absorbance spectra, provided a reliable discrimination among chlorophylls a, b and c, phycobiliproteins and carotenoids. Comparative analysis of absorption spectra highlighted the evolutionary grouping of the algae into three main lineages in accordance with the most recent endosymbiotic theories.

  15. Serpins in plants and green algae

    DEFF Research Database (Denmark)

    Roberts, Thomas Hugh; Hejgaard, Jørn

    2008-01-01

    . Serpins have been found in diverse species of the plant kingdom and represent a distinct clade among serpins in multicellular organisms. Serpins are also found in green algae, but the evolutionary relationship between these serpins and those of plants remains unknown. Plant serpins are potent inhibitors...... of mammalian serine proteinases of the chymotrypsin family in vitro but, intriguingly, plants and green algae lack endogenous members of this proteinase family, the most common targets for animal serpins. An Arabidopsis serpin with a conserved reactive centre is now known to be capable of inhibiting...

  16. Harvesting of algae by froth flotation.

    Science.gov (United States)

    LEVIN, G V; CLENDENNING, J R; GIBOR, A; BOGAR, F D

    1962-03-01

    A highly efficient froth flotation procedure has been developed for harvesting algae from dilute suspensions. The method does not depend upon the addition of flotants. Harvesting is carried out in a long column containing the feed solution which is aerated from below. A stable column of foam is produced and harvested from a side arm near the top of the column. The cell concentration of the harvest is a function of pH, aeration rate, aerator porosity, feed concentration, and height of foam in the harvesting column. The economic aspects of this process seem favorable for mass harvesting of algae for food or other purposes. PMID:14464557

  17. Foresight Brief: Seaweed & Algae as Biofuels Feedstocks

    OpenAIRE

    Institute, Marine

    2008-01-01

    Seaweed is a known potential carbon-dioxide (CO2) neutral source of second generation biofuels. When seaweed grows it absorbs CO2 from the atmosphere and this CO2 is released back to the atmosphere during combustion. What makes seaweed, and in particular micro algae, so promising as a fuel source is their growth rates and high lipid (oil) content. Algae are among the fastest-growing plants in the world. Energy is stored inside the cell as lipids and carbohydrates, and can be converted into fu...

  18. STUDI KEKUATAN BETON YANG MENGGUNAKAN AIR LAUT SEBAGAI AIR PENCAMPUR PADA DAERAH PASANG SURUT

    OpenAIRE

    Junaid, Annisa

    2014-01-01

    Kebutuhan air bersih dalam kehidupan sehari-hari semakin meningkat namun potensi sumber air semakin kecil sehingga perlu memikirkan alternative penggunaan air untuk pekerjaan konstruksi beton. Dalam kaitan ini, diadakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perbandingan kuat tekan beton yang menggunakan air laut pada daerah pasang surut. Penelitian ini bersifat eksperimental yang membuat mix desain beton silinder ukuran diameter 150 mm dan tinggi 300 mm. Jumlah benda uji masing-masing 24...

  19. Association of thraustochytrids and fungi with living marine algae

    Digital Repository Service at National Institute of Oceanography (India)

    Raghukumar, C.; Nagarkar, S.; Raghukumar, S.

    Occurrence of thraustochytrids, yeasts and mycelial fungi in six marine algae was studied. Thraustochytrids and mycelial fungi were recovered from non-surface-sterilized as well as surface-sterilized pieces of algae, whereas yeasts were isolated...

  20. An Overview of Algae Biofuel Production and Potential Environmental Impact

    Science.gov (United States)

    Algae are among the most potentially significant sources of sustainable biofuels in the future of renewable energy. A feedstock with virtually unlimited applicability, algae can metabolize various waste streams (e.g., municipal wastewater, carbon dioxide from industrial flue gas)...

  1. WASP7 BENTHIC ALGAE - MODEL THEORY AND USER'S GUIDE

    Science.gov (United States)

    The standard WASP7 eutrophication module includes nitrogen and phosphorus cycling, dissolved oxygen-organic matter interactions, and phytoplankton kinetics. In many shallow streams and rivers, however, the attached algae (benthic algae, or periphyton, attached to submerged substr...

  2. Perancangan Alat Ukur Ketinggian Air Menggunakan Sensor HCRS Berbasis Mikrokontroler AtMega8535

    OpenAIRE

    Fakhrunnisa

    2015-01-01

    Air Adalah kebutuhan yang penting,sehingga ketersedian air tetap harus selalu ada baik dirumah tangga,perkantoran atau industri.Ini menyebabkan peran penampung air menjadi penting untuk menjamin ketersediaan air secara pasti. Mekanisme pengukur ketinggian permukaan air secara otomatis diperlukan untuk menjaga ketersedian air ini dan diperlukan suatu mekanisme pengukuran untuk mengetahui ketersedian air pada wadah air tersebut.Mekanisme tersebut masih berupa cara-cara manual,misalnya dengan me...

  3. IODISASI GARAM: KADAR IODIUM DAN STABILITAS FISIKA BERBAGAI BENTUK IODISASI GARAM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Komari Komari

    2012-11-01

    Full Text Available Iodisasi garam telah lama dilakukan di Indonesia sejak PELITA II. Salah satu alternatif penambahan iodium ke dalam garam adalah dalam bentuk mikrokapsul. Penelitian ini bertujuan meneliti kandungan berbagai jenis iodium dalam garam dari berbagai pasar dan mengukur waktu melarut bagi garam bila ditambahkan berbagai bentuk penyampaian iodium yakni mikrokapsul iodium, iodium dalam larutan garam jenuh dan larutan iodium dalam air suling. Ketiga bentuk penyampaian iodium ke dalam garam ini ditambahkan pada garam dan partikel garam tersebut, kemudian digantung dengan kawat wolfram dalam desikator yang berisi uap air jenuh. Penelitian menunjukkan bahwa berbagai jenis garam yang dijual di pasar di Bogor 6 dari 10 merek dagang mengandung iodium kurang dari 40ppm. Garam dengan kadar iodium 40ppm atau lebih adalah garam dengan merek dagang Miwon, Putri Duyung, Hero dan Doplin. Larutan iodium dalam air suling yang ditambahkan ke partikel garam menyebabkan garam melarut setelah 2 jam 40 menit, larutan garam jenuh setelah 3 jam 5 menit dan mikrokapsul iodium setelah lebih dari 5 jam. Garam yang ditambahkan mikrokapsul garam relatif lebih tahan terhadap stres dari uap air dalam lingkungannya.

  4. Kitab kuning dan perempuan, perempuan dan kitab kuning

    NARCIS (Netherlands)

    Bruinessen, M.M. van

    2007-01-01

    Kitab Kuning dan Emansipasi Perempuan: Konflik Budaya? Pengamatan-pengamatan Masdar mengenai kedudukan perempuan dalam diskursus (wacana, bahasan) dominan kitab kuning terasa tidak enak didengar tetapi memang sulit dibantah. Baik dalam penggunaan bahasa (yang sangat memihak kepada jenis mudzakkar) m

  5. KINERJA DAN EFISIENSI BANK PEMERINTAH (BUMN) DAN BUSN YANG GO PUBLIK DI INDONESIA

    OpenAIRE

    Sugeng Haryanto

    2012-01-01

    Penelitian ini menganalisis kinerja dan tingkat efisiensi bank-bank BUMN dan BUSN yang go Publik di Bursa Efek Indonesia.  Sample penelitian ini mengambil  tiga bank BUMN Bank BNI 46, Bank Mandiri dan Bank BRI)  dan tiga bank BUSN (Bank BCA, Bank Niaga dan Bank Panin) dengan periode analisis tahun 2005-2011. Varibael yang digunakan meliputi ROA, ROE, LAR. LDR, NPL dan BOPO. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat dan menganalisis perbedaan kinerja antara Bank BUMN dan BUSN yang go public di...

  6. KAJIAN DAN TERAPAN KONSEP FISIKA DALAM DESAIN TUNGKU SEKAM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A. Suhandi

    2014-08-01

    Full Text Available ABSTRAKTelah dilakukan kajian dan penerapan konsep Fisika dalam menyempurnakan desain tungku sekam. Konsep-konsep Fisika yang dikaji meliputi konsep pembakaran dan transfer panas. Hasil kajian mengindikasikan bahwa konsentrasi udara dalam badan tungku sekam mengendalikan pembakaran sekam, proses transfer panas dan pelepasan gas buang yang dihasilkan. Pengaturan konsentrasi udara dalam ruang bakar tungku direalisasikan dengan cara memasang sirip saluran udara. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki pengaruh jumlah sirip saluran udara terhadap efisiensi tungku. Proses penelitian dilakukan dengan cara menguji penggunaan tungku sekam dalam proses memasak 20 liter air. Berdasarkan data-data massa sekam yang digunakan, massa air, energi spesifik air, kalor yang dibutuhkan untuk memasak tiap satuan waktu, dan kandungan energi dalam bahan bakar sekam, efisiensi tungku sekam dapat dihitung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai efisiensi tungku sekam bergantung pada jumlah sirip lubang udara yang dipasang. Untuk ukuran tungku sekam yang digunakan dalam penelitian, efisiensi optimum  terjadi ketika jumlah sirip lubang udara berjumlah empat buah, dengan capaian efisiensi sebesar 20,25 %. ABSTRACTA study and an application of physics concepts in refining husk stove design have been done. The examined physicsconcepts include the concept of combustion and heat transfer. Results of the study indicated that the concentration of air in the stove combustion chamber could control husk burning processes, heat transfer and release of exhaust gasses produced.The management of air concentration in the stovecombustion chamber was realized by installing the fin air inlets.This research was conducted to investigate the effect of the number of fins air inlets to stove efficiency.The research process was done by testing the use of rice husk stove in the cooking of 20 liters of water. Based on the data of husk mass, water mass, the specific energy of water, the

  7. Catalog of marine benthic algae from New Caledonia

    OpenAIRE

    Garrigue, Claire; Tsuda, R.T.

    1988-01-01

    A catalog of the marine benthic algae (#Chlorophyta, Phaeophyta$ and #Rhodophyta$) reported from New Caledonia is presented in two sections : 1. Classification; 2. Check list with references and localities. There are 35 genera, 130 species of green algae; 23 genera, 59 species of brown algae; and 79 genera, 147 species of red algae which represent a rich algal flora for the subtropics. (Résumé d'auteur)

  8. Marine algae and seagrasses of Samsun (Black Sea, Turkey)

    OpenAIRE

    Aysel, Veysel; DURAL, Berrin; Şenkardeşler, Ayhan; Aysel, Hüseyin Erduğan and Fulya

    2008-01-01

    Abstract In this investigation, the presence and the distribution of the blue-green algae; Cyanophyeae, 20 taxa, red algae; Rhodophyceae, 106 taxa, one of them is new record for the Blacksea shore of Turkey, Gelidium pusillum (Stackhouse) Le Jolis var. pusillum brown algae; Fucophyceae, 27 taxa, green algae; Chlorophyceae, 21 taxa, and seagrasses, 2 taxa were identified in the upper infralittoral zone of Samsun (Black Sea) shore of Turkey. A total 176 taxon was determined.

  9. Algae Along Qatar Coasts Utilization And Future Prospects

    OpenAIRE

    Kornprobst, Jean-Michel

    1999-01-01

    Most of marine algae have no equivalent on earth and therefore could be considered as irreplaceable sources of primary and secondary metabolites. This is especially the case for hydrocolloids from red and brown algae that are cultured and used at an industrial scale for food-processing (carrageenans and agars from red algae and alginates from brown algae are widely used as gelling agents and thickeners) but also for pharmaceutical uses (agar gels for culture of microorganisms). Others main ap...

  10. Les AOC dans la mondialisation

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jean-Claude Hinnewinkel

    2004-12-01

    Full Text Available Fruit du conflit plusieurs fois séculaire entre les producteurs et le négoce, le terroir vitivinicole est né de phénomènes de « distinction » qui en Bordelais donnent les « crus ». Ces terroirs de production identifiés, il fallut les faire durer, face à conjoncture, face au négoce. Les réussites les plus nettes sont le résultat d’un projet collectif dont l’AOC à la française est l’une des plus spectaculaires. Renforcer le terroir, compris comme un espace de production géré par les producteurs, devient alors une des conditions essentielles de la durabilité du système. L’avenir des AOC réside sans doute dans une meilleure gestion du conflit négoce/production par l’interprofession mais aussi (surtout ! dans un renforcement de la gestion de la production au sein de l’aire de production qu’est le terroir. L’avenir du terroir relève de la gouvernance de cette aire de production avec trois partenaires : la puissance publique (INAO, l’interprofession et le syndicat des producteurs. Se pose dès lors la question du partage des compétences et la durabilité des AOC paraît liée en grande partie à une définition claire du rôle et donc du statut des syndicats de producteurs, à une véritable gouvernance locale, seule capable de donner du sens à l’ancrage géographique des vins dits de « terroir ». Mais alors ne faut-il pas impliquer un troisième partenaire, la société locale toute entière à travers ses représentations démocratique et associative ?Resulting from century-long conflicts between producers and merchants, vineyards have developped out of "distinction" phenomenons which in the Bordeaux region gave birth to "crus" (vintages. Such identified terroirs had to be defended: the French collective AOC (Denomination of Origin project is one of the most spectacular success. The terroir, as production territory organized by producers, is one of the essential conditions for sustainability

  11. KONSEP DAN PRAKTIK PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI AMERIKA SERIKAT DAN INDONESIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Juju Masunah

    2011-11-01

    Full Text Available Abstract: Concepts and Practices of Multi Cultural Education in the United States and in Indonesia. The purpose of this article is to discuss multicultural education consepts and practices in the U.S.A and its application to Indonesia. Data is based on a case study research of two dance educators who implemented multicultural education concept in Columbus, Ohio in year 2007. The result of this research is that two dance educators teach students equally by developing a curriculum and pedagogy that face democracy for all students. This concept and practice is possible to be applied to dance education in Indonesia. Abstrak: Konsep dan Praktik Pendidikan Multikultural di Amerika Serikat dan Indonesia. Tujuan artikel ini adalah untuk mendiskusikan konsep dan praktik pendidikan multikultural di Amerika Serikat dan Indonesia. Data-data diperoleh dari hasil penelitian studi kasus dua orang pendidik tari di Columbus, Ohio yang menerapkan konsep pendidikan multikultural dalam pembelajaran tari pada tahun 2007. Peneli­tian ini menyimpulkan bahwa dua guru tari tersebut memberi perlakuan yang sama dan adil terhadap se­mua siswa dengan cara yang demokratis dengan memperhatikan keberagaman dan keperbedaan siswa. Cara-cara ini sangat memungkinkan untuk diaplikasikan dalam pendidikan tari di Indonesia.

  12. New methodologies for integrating algae with CO2 capture

    NARCIS (Netherlands)

    Hernandez Mireles, I.; Stel, R.W. van der; Goetheer, E.L.V.

    2014-01-01

    It is generally recognized, that algae could be an interesting option for reducing CO2 emissions. Based on light and CO2, algae can be used for the production various economically interesting products. Current algae cultivation techniques, however, still present a number of limitations. Efficient fe

  13. 21 CFR 73.185 - Haematococcus algae meal.

    Science.gov (United States)

    2010-04-01

    ... 21 Food and Drugs 1 2010-04-01 2010-04-01 false Haematococcus algae meal. 73.185 Section 73.185... COLOR ADDITIVES EXEMPT FROM CERTIFICATION Foods § 73.185 Haematococcus algae meal. (a) Identity. (1) The color additive haematococcus algae meal consists of the comminuted and dried cells of the...

  14. How to Identify and Control Water Weeds and Algae.

    Science.gov (United States)

    Applied Biochemists, Inc., Mequon, WI.

    Included in this guide to water management are general descriptions of algae, toxic algae, weed problems in lakes, ponds, and canals, and general discussions of mechanical, biological and chemical control methods. In addition, pictures, descriptions, and recommended control methods are given for algae, 6 types of floating weeds, 18 types of…

  15. Novel Fiber Optic Fluorometer for the Measurement of Alga Concentration

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    2001-01-01

    A novel fluorometer based on fiber optics is briefly introduced for the measurement of alga concentration. Both the exciting light and the fluorescence from alga chlorophyll are transmitted along a fiber cable. By this way, we can get alga concentration by measuring its chlorophyll-a fluorescence intensity. The experiment results show that this instrument is characterized by good sensitivity, linearity and accuracy.

  16. Inventory of North-West European algae initiatives

    NARCIS (Netherlands)

    Spruijt, J.

    2015-01-01

    In 2012 an inventory of North-West European (NWE) algae initiatives was carried out to get an impression of the market and research activities on algae production and refinery, especially for bioenergy purposes. A questionnaire was developed that would provide the EnAlgae project with information on

  17. Photosynthetic production of hydrogen by algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Chang, H.

    1978-09-01

    Because hydrogen as a fuel is very attractive both in energy and ecological terms, the photosynthetic production of hydrogen by some algae is attracting considerable attention. In addition to the ordinary photosynthetic mechanisms, many algae have enzymes which can produce hydrogen: hydrogenation enzymes and nitrogen-fixation enzymes. Certain enzymes with the former begin to produce hydrogen after several hours in an anaerobic envirionment; the reason for the delay is that the hydrogen-producing enzymes must adjust to the anaerobic conditions. Eventually the production of hydrogen ceases because production of oxygen by the ordinary photosynthetic mechanism suppresses activity of the hydrogen-producing enzymes. Any use of these algae to produce hydrogen must involve alternating hydrogen production and rest. Nitrogen-fixing enzymes are found especially in the blue-green algae. These seem to produce hydrogen from organic compounds produced by the ordinary photosynthetic process. The nitrogen-fixation type of hydrogen-producing photosynthesis seems the more promising type for future exploitation.

  18. Isolation of glycoproteins from brown algae.

    OpenAIRE

    Surendraraj, Alagarsamy; Farvin Koduvayur Habeebullah , Sabeena; Jacobsen, Charlotte

    2015-01-01

    The present invention relates to a novel process for the isolation of unique anti-oxidative glycoproteins from the pH precipitated fractions of enzymatic extracts of brown algae. Two brown seaweeds viz, Fucus serratus and Fucus vesiculosus were hydrolysed by using 3 enzymes viz, Alcalase, Viscozyme and Termamyl and the glycoproteins were isolated from these enzyme extracts.

  19. Isolation of glycoproteins from brown algae

    DEFF Research Database (Denmark)

    2015-01-01

    The present invention relates to a novel process for the isolation of unique anti-oxidative glycoproteins from the pH precipitated fractions of enzymatic extracts of brown algae. Two brown seaweeds viz, Fucus serratus and Fucus vesiculosus were hydrolysed by using 3 enzymes viz, Alcalase, Viscozyme...

  20. Spirulina: The Alga That Can End Malnutrition.

    Science.gov (United States)

    Fox, Ripley D.

    1985-01-01

    One approach to eliminating malnutrition worldwide is to grow spirulina in recycled village wastes. Spirulina is a blue-green alga and a natural concentrated food. Spirulina can give poor villages a nutritional food supplement they can grow themselves and can reduce infectious disease at the same time. (Author/RM)

  1. Bromophenols in Marine Algae and Their Bioactivities

    DEFF Research Database (Denmark)

    Ming, Liu; Hansen, Poul Erik; Lin, Xiukun

    2011-01-01

    Marine algae contain various bromophenols that have been shown to possess a variety of biological activities, including antioxidant, antimicrobial, anticancer, anti-diabetic, and anti-thrombotic effects. Here, we briefly review the recent progress of these marine algal biomaterials, with respect...

  2. Pheromone signaling during sexual reproduction in algae.

    Science.gov (United States)

    Frenkel, Johannes; Vyverman, Wim; Pohnert, Georg

    2014-08-01

    Algae are found in all aquatic and many terrestrial habitats. They are dominant in phytoplankton and biofilms thereby contributing massively to global primary production. Since algae comprise photosynthetic representatives of the various protoctist groups their physiology and appearance is highly diverse. This diversity is also mirrored in their characteristic life cycles that exhibit various facets of ploidy and duration of the asexual phase as well as gamete morphology. Nevertheless, sexual reproduction in unicellular and colonial algae usually has as common motive that two specialized, sexually compatible haploid gametes establish physical contact and fuse. To guarantee mating success, processes during sexual reproduction are highly synchronized and regulated. This review focuses on sex pheromones of algae that play a key role in these processes. Especially, the diversity of sexual strategies as well as of the compounds involved are the focus of this contribution. Discoveries connected to algal pheromone chemistry shed light on the role of key evolutionary processes, including endosymbiotic events and lateral gene transfer, speciation and adaptation at all phylogenetic levels. But progress in this field might also in the future provide valid tools for the manipulation of aquaculture and environmental processes.

  3. Obituary: Professor Paul Dan Cristea

    OpenAIRE

    Tabus, Ioan; Serpedin, Erchin; Astola, Jaakko

    2013-01-01

    Paul Dan Cristea, professor of Electrical Engineering and Computer Science at ‘Politehnica’ University of Bucharest died on 17 April 2013, following several years of bravely battling a perfidious illness.

  4. PRAKTIK PEMBERIAN MAKANAN PADA BAYI DI BOGOR DAN FAKTOR-FAKTOR SOSIAL BUDAYA YANG MEMPENGARUHI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Arnelia Arnelia

    2012-11-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian di daerah perkotaan dan pedesaan Ciomas di Kabupaten Bogor, untuk mempelajari praktek pemberian makanan pada bayi serta faktor sosial budaya yang mempengaruhi dengan menggunakan metoda Rapid Assesment Procedures (RAP. Sampel penelitian adalah ibu-ibu yang mempunyai bayi umur (13-18 bulan, kader Posyandu, dukun bayi dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukan bahwa makanan pralaktasi berupa madu dan air putih, biasa diberikan kepada bayi baru lahir di kedua desa. Bayi di daerah perkotaan sudah diberi ASI sejak berusia sehari, sedangkan di pedesaan umumnya pada hari ke empat karena ASI pada tiga hari pertama dianggap kotor dan biasanya dibuang. Pemberian makanan tambahan dimulai pada usia terlalu dini, yaitu rata-rata usia dua minggu di pedesaan dan satu bulan di perkotaan. Sebaliknya pemberian sayuran hijau dan protein hewani umumnya terlambat. Sayuran hijau baru diberikan setelah usia sembilan bulan di perkotaan, dan setelah 18 bulan di pedesaan. Protein hewani umumnya baru mulai diberikan setelah bayi berusia 12 bulan. Bahkan di daerah pedesaan, jenis ikan basah baru diberikan setelah anak berusia tiga tahun.

  5. SCREENING DAN ANALISIS KADAR OMEGA-3 DARI RUMPUT LAUT PULAU LOMBOK NTB

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Erin Ryantin Gunawan

    2012-11-01

    Full Text Available Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengidentifikasi jenis rumput laut yang mengandung omega-3 dan mengetahui kadar omega-3 dari rumput laut yang terdapat di pantai Pulau Lombok NTB. Minyak yang terdapat dalam rumput laut diekstraksi dengan metoda soxhletasi. Identifikasi dan kadar asam lemak dalam rumput laut ditentukan dengan alat GC-MS. Sembilan jenis rumput laut telah dianalisa dengan kadar air berkisar antara 42% -86,5%. Minyak hasil ekstraksi mempunyai kadar antara 0,63%-4,39%. Dari ke sembilan jenis dipilih 4 jenis rumput laut yang mempunyai kadar minyak yang paling tinggi. Dua jenis rumput laut yang biasa dikonsumsi (Eucheuma Spinosum dan Eucheuma Cottoni dan dua jenis lagi yang tidak biasa dikonsumsi (Gracilaria salicornia dan Ulva sp. Asam-asam lemak omega-3 yang dapat teridentifikasi dari keempat jenis rumput laut adalah asam linolenat, Eikosatrienoat (ETE, eikosapentaenoat (EPA dan (dokosaheksaenoat DHA dalam jumlah yang bervariasi. Kadar asam lemak dalam keempat jenis rumput laut berkisar antara 26,8%-52,26% dan kandungan omega-3 antara 1,86%-5,46%.

  6. PENGAMATAN JENIS-JENIS JAMUR YANG DITEMUKAN PADA MINUMAN SUSU SEGAR DAN SUSU KEMASAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nunik Siti Aminah

    2012-10-01

    Full Text Available Minum susu dari wadah kemasan lebih praktis daripada minum susu segar yang harus dimasak lebih dahulu. Pengolahan susu biasanya dilakukan dengan dua cara yaitu dengan proses Ultra High Temperature (UHT yang menggunakan panas tinggi sekitar 140° C dalam waktu 14 detik dan cara Pasteurisasi yang menggunakan suhu 63° C dalam waktu 30 menit. Menurut label yang tertera dalam kemasan, susu dengan proses pengolahan di atas mempunyai daya simpan selama 10 bulan, terhindar dari cemaran bakteri serta efek luar seperti udara dan cahaya. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa susu dalam kemasan kardus, kaleng, botol kaca dan plastik tidak bebas dari cemaran jamur seperti Aspergillus sp. , Penicillium sp., Geotrichum sp. dan Khamir. Dari tempat pemerahan susu ditemukan cemaran jamur yang sama dengan jamur yang ditemukan pada susu kemasan. Jamur Geotrichum sp ditemukan pada tanah yang berada di sekitar tempat pemerahan susu. Aspergillus sp ditemukan pada pakan sapi perah yang berupa rumput - rumputan, Risophus sp ditemukan pada sumber air yang berada disekitar tempat pemerahan susu. Pada susu kemasan kaleng yang berasal dari luar negeri baik yang legal maupun yang ilegal hanya ditemukan Penicillium sp dan Khamir berarti cemaran jamur berasal dari udara. Sedangkan susu kemasan dalam negeri ditemukan jamur A.niger, Penicillium sp., Khamir, dan Geotrichum sp.yang menandakan dapat tercemar dari bahan/susu perah karena penanganannya kurang higienis. ' Keywords: Jamur, susu segar dan susu kemasan.

  7. PENGARUH LAMA DAN CARA PENYIMPANAN TERHADAP PERKEMBANGAN KANDUNGAN AFLATOKSIN PADA GAPLEK DI RUMAH TANGGA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sukati Saidin

    2012-11-01

    Full Text Available Aflatoksin yang mencemari makanan dapat menyebabkan timbulnya kanker hati. Gaplek merupakan salah satu komoditi yang dapat tercemar aflatoksin. Ada beberapa daerah di Indonesia yang menggunakan gaplek sebagai makanan pokok. Karena gaplek pada umumnya disimpan sampai panen berikutnya maka ada peluang untuk tercemar aflatoksin. Karena itu perlu diteliti sampai berapa jauh pencemaran aflatoksin pada gaplek. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh lama dan cara penyimpanan terhadap cemaran aflatoksin pada gaplek.Gaplek yang sudah dikeringkan dengan cara yang lazim dilakukan di daerah dengan makanan pokok gaplek dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama disimpan di lantai semen terbuka, bagian kedua disimpan dalam bakul terbuka dan bagian ketiga di simpan dalam karung goni yangdiikat. Analisa kandungan aflatoksin dan kadar air gaplek dilakukan pada permulaan dan 4, 8, 12, 16 dan 20 minggu dalam penyimpanan.Perkembangan cemaran aflatoksin gaplek dalam penyimpanan ini mengungkapkan makin lama gaplek disimpan makin tinggi kadar aflatoksinnya. Rata-rata kadar air gaplek selama penyimpanan berkisar antara 13,1% sampai 14,0%. Gaplek yang disimpan di lantai menunjukkan kandungan aflatoksin tertinggi, diikuti oleh gaplek yang disimpan dalam bakul dan dalam karung.Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa sampai waktu panen berikutnya sekitar 10 bulan, kandungan aflatoksin gaplek yang disimpan di dalam karung diikat belum mencapai taraf yang menbahayakan kesehatan.

  8. KINERJA Jurnal Bisnis dan Ekonomi

    OpenAIRE

    Kaaro, Hermeindito; Sukamulja, Sukmawati; Kusumastuti, Sri Yani; Krisnadewara, P. Didit; Lako, Andreas; Widiastuti, Theresia Diah; Ellitan, Lena; Priyogo, C. Jarot

    2004-01-01

    1. Kebangkrutan Versus Restrukturisasi:Evaluasi dan Prediksi Kelangsungan Hidup Perusahaan Pasca Krisis Keuangan 1997 oleh Hermeindito Kaaro 2. Morning LosSQS and Afternoon Price Volatility: Evidence of Jsksrts Stock Exchange oleh Sukmawati Sukamulja 3. Penentuan NilaiTukar: Pengujian Purchasing Power Parity diIndonesia oleh Sri Yani Kusumastuti 4. SurveiKinerja KoneksiInternet dan Kemampuan lnvestasi Warnet di Yogyakarta oleh P. Didit Krisnadewara 5. Peranan Corporate Str...

  9. ANALISIS JENIS, JUMLAH, DAN MUTU GIZI KONSUMSI SARAPAN ANAK INDONESIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fachruddin Perdana

    2013-11-01

    paling banyak dikonsumsi selama sarapan adalah air putih, teh, susu, kopi, dan sirup. Makanan yang dikonsumsi dengan rata-rata lebih dari 5 g/hari selama sarapan adalah nasi, kangkung, telur ayam, ikan, tempe, dan mie instan. Minuman yang dikonsumsi dengan rata-rata lebih dari 15 mL/hari selama sarapan adalah air putih, teh, dan susu. Hanya 10.6% dari sarapan anak yang mencukupi asupan energi>30%.Kata kunci: anak-anak, jenis sarapan, jumlah sarapan, mutu gizi pangan sarapan, sarapan

  10. THE USE OF ALGAE CONCENTRATES, DRIED ALGAE AND ALGAL SUBSTITUTES TO FEED BIVALVES

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ludi Parwadani Aji

    2011-01-01

    Full Text Available Microalgae have high nutritional value and are used to feed adult and larval stages of bivalves, the larvae of some fish and crustaceans and zooplankton. However, microalgae production for aquaculture animal is very expensive. To overcome this, the use of preserved microalgae such as algae concentrate and dried algae, or algal substitutes has been developed. There are both advantages and disadvantages to this alternative food. For example, even though the cost production for algal substitute yeast-based diet is cheaper, their nutritional value is much lower compared to fresh microalgae. Moreover, there is no significant difference in nutritional value between preserved (concentrated or dried and fresh microalgae; however, preserving microalgae for long periods will affect their nutritional value. In spite of this problem, preserved microalgae such as algal concentrate and dried algae seem to be more effective to feed bivalves than algal substitutes yeast based diet due to their availability and relatively high nutritional value. Furthermore, algae concentrates are more suitable to replace fresh algae than dried algae.

  11. Pengaruh pemberian pakan berupa campuran pelet ikan, ulat tepung (Tenebrio molitor, dan ganggang merah (Gracilaria foliifera terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan ikan sidat (Anguilla bicolor

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    MUHAMMAD A. AZIZ HENDITAMA

    2015-05-01

    Full Text Available Henditama MAA, Harini M, Budiharjo A. 2015. The effect of giving mixtured feed of fish pellet, mealworm (Tenebrio molitor and red algae (Gracilaria foliifera to the growth and survival rate of eel (Anguilla bicolor. Bioteknologi 12: 22-28. High demand of eels (Anguilla bicolor in the world has not followed by the capability of domestic production. The purpose of this research are to determine the effect and the precise composition of the feed mixture in the form of fish pellets, mealworms (Tenebrio molitor, red algae (Gracilaria foliifera to the growth and survival rate of eels. This research used completely randomized design with four variations of mixtured feed in the form of fish pellet, mealworms, and red algae specifically P1 (100% ; 0% ; 0%, P2 (75% ; 20% ; 5%, P3 (50% ; 45% ; 5%, P4 (25% ; 70% ; 5%. This research also has been done in 90 days with feeding in twice a day. The data of growth, survival rate, and water quality was collected once a week. The data result has been analized by ANOVA. The data result showed that have a real different to continue to the next analysis of DMRT with test level 5% to locate the differences between treatments. The eels growth after feeding a mixture feed in the form of fish pellets, mealworms, and red alga, specifically: P1 (K 26.3167 gram; P2 20.3167 gram; P3 28.2500 gram; and P4 22.0000 gram. The eels survival rate, specifically P1 (K 26.67%; P2 33.33%; P3 30%; dan P4 26.67%. Furthemore, the exact composition that give the best effect of growth and survival rate to eels is 50% fish pellets, 45% mealworms and 5% red alga.

  12. Contributions à l'apprentissage statistique dans les modèles parcimonieux

    OpenAIRE

    Alquier, Pierre

    2013-01-01

    Ce mémoire d'habilitation a pour objet diverses contributions à l'estimation et à l'apprentissage statistique dans les modeles en grande dimension, sous différentes hypothèses de parcimonie. Dans une première partie, on introduit la problématique de la statistique en grande dimension dans un modèle générique de régression linéaire. Après avoir passé en revue les différentes méthodes d'estimation populaires dans ce modèle, on présente de nouveaux résultats tirés de (Alquier & Lounici 2011) pou...

  13. PERBANDINGAN EFEKTIFITAS DISINFEKTAN KAPORIT, HIDROGEN PEROKSIDA, DAN PEREAKSI FENTON (H2O2/Fe2+

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Didik Setiawan

    2013-11-01

    Full Text Available Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi optimum dan efektifitas hidrogen peroksida dan pereaksi Fenton sebagai disinfektan dibandingkan dengan kaporit. Efektivitas disinfeksi ditentukan berdasarkan beberapa parameter yaitu: koefisien fenol disinfektan dan kualitas air yang dihasilkan yang diukur melalui pH, oksigen terlarut (DO, dissolved oxygen, dan suhunya serta harga disinfektan itu sendiri. Analisis statistik ANOVA dua arah tanpa interaksi  pada tingkat kesalahan 0.01 dilakukan guna menentukan disinfektan paling efektif dan konsentrasi optimumnya. Uji koefisien fenol dilakukan dengan mencampurkan disinfektan dengan konsentrasi tertentu dengan bakteri Salmonella typhosa dan Staphyllococcus aureuskemudian membandingkan hasilnya dengan fenol.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa koefisien fenol dari kaporit, hidrogen peroksida, dan reagen Fenton berturut-turut adalah 4, 6, dan 6. Air yang dihasilkan oleh kaporit mempunyai pH, DO dan suhu berturut-turut adalah 10.07 - 9.2, 6.63-8.07 mgL-1, dan 28.5-28.13oC. Air yang didisinfeksi dengan hidrogen peroksida mempunyai pH,DO, dan suhu berturut-turut adalah 9.03-7.33, 6.93-9.40 mgL-1  , dan 28.5-28.03oC. Sedangkan air hasil didisinfeksi dengan reagen Fenton mempunyai pH, DO, dan suhu berturut-turut adalah 5.97-4.57, 7.40-8.57 mgL-1 , dan 28.47-28.07oC.Meskipun kaporit paling murah, namun dari segi kesehatan hidrogen peroksida merupakan reagen yang paling aman dan paling efektif karena dengan daya disinfeksi enam kali dibandingkan fenol, tidak meninggalkan residu yang membahayakan. Fenton, dilain pihak, meskipun mempunyai daya disinfeksi setara dengan hidrogen peroksida, namun menghasilkan ion Besi (III dalam air sehingga memerlukan pengolahan lebih jauh.Dengan demikian, secara keseluruhan hidrogen peroksida merupakan disinfektan paling efektif dari ketiganya. The purpose of this study is to determine the optimum concentration and the effectiveness of hydrogen peroxide and Fenton

  14. STUDI KOMPARASI SIFAT FOTOKATALIS DAN AGLOMERITAS NANOPARTIKEL TIO2 SEBAGAI PENGARUH DISPERSANT ETILEN GLIKOL DAN TRITON X 100 DALAM DIRT-FREE PAINT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dyah Sawitri

    2014-05-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh variasi dispersant terhadap stabilitas fotokatalis dan aglomeritas nanopartikel TiO2 sebagai optimasi dirt-free paint, yaitu bahan komposit cat yang mempunyai sifat anti noda dan mampu membersihkan dirinya sendiri (self-cleaning dengan bantuan cahaya dan air. Dispersant yang digunakan Etilen Glikol dan Triton X 100. Komposisi massa TiO2 2% massa cat, dengan perbandingan anatase : rutile sebesar 90:10. Pengujian yang dilakukan meliputi uji DSC, XRD, FTIR, uji self-cleaning, dan SEM-EDX. Dari uji self-cleaning dengan dua macam pengotor, diperoleh hasil bahwa untuk pengotor lumpur, sampel terbaik adalah sampel dengan dispersant Etilen Glikol, dengan selisih luas pengotor 35,77%. Untuk pengotor pewarna makanan, sampel TiO2 dengan dispersant Triton X 100 memiliki selisih luas pengotor 17,64%. Hasil uji SEM-EDX menunjukkan ukuran partikel TiO2 rata-rata untuk cat tanpa dispersant adalah 132.02 nm, dan dengan dispersant Etilen Glikol menjadi 118.54 nm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa bahan dispersant dapat menimbulkan sifat self cleaning, serta mampu mendispersikan TiO2 di dalam cat dengan baik.

  15. KAJIAN BIOAKTIF DAN ZAT GIZI PROPOLIS INDONESIA DAN BRASIL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Eliza Halim

    2012-11-01

    Full Text Available ABSTRACTIndonesia has a potency to produce its own propolis, however the propolis market in Indonesia is dominated by imported product, such as from Brazil. Currently, still there is no reasearch which evaluate bioactive compound and nutrient content of Indonesian Propolis (IP compare with Brazilian Propolis (BP. The objectivesof this study were to analyze bioactive compounds and nutrient contents of IP compared to BP. Bioactive compounds and nutrients content were analyzed by gas chromatography–mass spectrophotometry. The resultsshowed both IP and BP contain fenol, α-amyrin, cylolanost, and pyrimidines. Bioactive compounds which specifically found in IP were eudesmane compound, ethyl acridine, lupeol, friedooleanan; while β amyrin and cinnamic acid compound only found in BP. The nutrient contents of IP were higher than BP except for vitamin A. In conclusion, IP might have potential health benefit, similar to BP.Key words: propolis, bioactive, nutrientABSTRAKIndonesia mempunyai potensi untuk menghasilkan propolis tetapi pemasaran propolis di Indonesia didominasi oleh propolis impor seperti propolis yang berasal Brasil. Sampai saat ini belum ada penelitian yang mengungkapkandungan bioaktif dan zat gizi propolis Indonesia (PI dibandingkan dengan propolis Brasil (PB. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan kajian kandungan bioaktif dan zat gizi (vitamin dan mineral PI dibandingkan dengan PB. Komponen bioaktif dan kandungn gizi dianalisis dengan metode gas chromatography–mass spectrometry. Hasil analisis menyatakan bahwa baik PI maupun PB mengandung senyawa fenol, α-amyrin, cylolanost, dan pirimidin. Komponen bioaktif unik yang ditemukan di dalam PI adalah senyawaeudesmane, ethyl acridine, lupeol dan friedooleanan; sedangkan β-amyrin dan senyawa asam sinamat hanya ditemukan di dalam PB. Kandungan zat gizi PI lebih tinggi dari PB kecuali kandungan vitamin A. Hal ini menunjukkan bahwa PI kemungkinan mempunyai khasiat untuk

  16. Pengaruh ENSO (El Niño and Southern Oscillation terhadap transpor massa air laut di Selat Malaka

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muhammad

    2012-04-01

    Full Text Available Abstrak. Penelitian ini mengkaji pengaruh ENSO (El Niño and Southern Oscillation di Selat Malaka dengan memakai indek osilasi selatan Samudera Pasifik dalam menentukan kondisi Normal, El Niño dan La Nina sebagai analisis transpor massa air laut, elevasi muka laut dan densitas laut. Metode penelitian menggunakan persamaan Navier-Stokes dengan gaya pembangkit pasang surut, angin dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP Tahun 1980-2007, Salinitas (Levitus dan Boyer, 1994a dan Temperatur (Levitus dan Boyer, 1994b. Persamaan gerak air laut tersebut dimodelkan dengan model Hamburg Shelf Ocean Model (HAMSOM. Hasil-hasil menunjukkan bahwa transpor di bagian barat laut Selat Malaka pergerakannya melemah dan transpor di bagian tenggara pergerakannya menguat dibandingkan pada kondisi tahun Normal dan La Nina. Sedangkan elevasi muka air di Selat Malaka pada kondisi tahun El Niño lebih rendah dibandingkan pada kondisi Normal dan La Nina. Selanjutnya densitas permukaan laut di Selat Malaka pada kondisi tahun Normal, El Niño dan La Nina berkisar 18,5 s/d 20,5 kg/m3. Densitas laut lapisan 30-50 m di Selat Malaka pada kondisi tahun Normal, El Niño dan La Nina berkisar 19 s/d 21 kg/m3. Densitas permukaan laut dan densitas laut kedalaman 30-50 m di bagian tenggara Selat Malaka pada kondisi El Niño lebih besar dibandingkan pada tahun Normal maupun tahun La Nina.

  17. Componentes funcionales en aceites de pescado y de alga Functional components in fish and algae oils

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A. Conchillo

    2006-06-01

    Full Text Available Buena parte del desarrollo de nuevos alimentos funcionales está encaminada al descubrimiento o aplicación de componentes de los alimentos que favorezcan la instauración de un perfil lipídico saludable en el organismo. El objetivo del trabajo fue realizar la caracterización de la fracción lipídica de dos tipos de aceites, de pescado y de alga, para valorar su potencial utilización como ingredientes funcionales, tanto en relación con el contenido en ácidos grasos de alto peso molecular como con la presencia de esteroles y otros componentes de la fracción insaponificable. Ambos aceites presentaron una fracción lipídica muy rica en ácidos grasos poliinsaturados ω-3 de alto peso molecular, con un 33,75% en el caso del aceite de pescado y un 43,97% en el de alga, siendo el EPA el ácido graso mayoritario en el pescado y el DHA en el alga. La relación ω-6/ω-3 fue en ambos aceites inferior a 0,4. En cuanto a la fracciσn insaponificable, el aceite de alga presentσ un contenido 3 veces menor de colesterol y una mayor proporciσn de escualeno. El contenido en fitosteroles fue significativamente superior en el aceite de alga.An important area of the development of new functional foods is facussed on finding or applying food components which favour achieving a healthier lipid profile in the organism. The objective of this work was to carry out the characterisation of the lipid fraction of two oils, fish oil and algae oil, to evaluate their potential use as functional ingredients, in relation to the high molecular weight fatty acid content and the presence of sterols and other components of the unsaponificable fraction. Both oils showed a lipid fraction rich in high molecular weight polyunsaturated ω-3 fatty acids, containing a 33.75% in the fish oil and a 43.97% in the algae oil. Eicosapentaenoic acid was the major fatty acid in fish oil, whereas docosahexaenoic was the most abundant fatty acid in algae oil. The ω-6/ω-3 ratio was lower

  18. Rancang Bangun Turbin Air Sungai Poros Vertikal Tipe Savonius dengan Menggunakan Pemandu Arah Aliran

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Adia Cahya Purnama

    2013-09-01

    Full Text Available Pemanfaatan sumber energi air terutama digunakan sebagai penyedia energi listrik melalui pembangkit listrik tenaga air maupun mikrohidro. Salah satu permasalahan adalah bagaimana memanfaatkan potensi energi aliran air yang relatif kecil. Maka dari itu guna memanfaatkan dan meningkatkan potensi energi aliran air yang relatif kecil diperlukan penelitian. Pemanfaatan energi air pada penelitian ini adalah pemanfaatan energi kinetik aliran air. Energi mekanik yang merupakan transformasi dari energi kinetik aliran air dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin atau kincir. Turbin poros vertikal tipe Savonius ini cocok digunakan untuk memanfaatkan energi aliran air yang relatif kecil. Penelitian dengan judul “Rancang Bangun Turbin Air Sungai Poros Vertikal Tipe Savonius dengan Menggunakan Pemandu Araha Aliran” dilakukan dengan metode eksperimen, dimana hasil dari rancang bangun turbin akan dilakukan pengujian dan pengambilan data. Data pengujian yang diperoleh berdasarkan dari pengaruh variasi kecepatan aliran 0,30 ; 0,57 ; 0,85 dan 1,08 (m/detik serta pengaruh dari pemandu arah aliran. Performansi diperoleh dari hasil pengujian dan pengukuran. Diperoleh Cp maksimum 0,13 pada TSR 1,53. Kecepatan putar turbin maksimum diperoleh sebesar 162 RPM dan daya keluaran maksimum generator sebesar 2,31 Watt. Penggunaan pemandu arah aliran dapat meningkatkan performansi turbin Savonius diperoleh efisiensi mekanis turbin rata-rata 90,40% dan efisiensi elektris generator rata-rata 90,20%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan kecepatan aliran air yang sangat rendah turbin tipe Savonius dapat membangkitkan energi listrik.

  19. Photodegradation of Norfloxacin in aqueous solution containing algae

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    Junwei Zhang; Dafang Fu; Jilong Wu

    2012-01-01

    Photodegradation of Norfloxacin in aqueous solution containing algae under a medium pressure mercury lamp (15 W,λmax =365 nm) was investigated.Results indicated that the photodegradation of Norfloxacin could be induced by the algae in the heterogeneous algaewater systems.The photodegradation rate of Norfloxacin increased with increasing algae concentration,and was greatly influenced by the temperature and pH of solution.Meanwhile,the cooperation action of algae and Fe(Ⅲ),and the ultrasound were beneficial to photodegradation of Norfloxaciu.The degradation kinetics of Norfloxacin was found to follow the pseudo zero-order reaction in the suspension of algae.In addition,we discussed the photodegradation mechanism of Norfloxacin in the suspension of algae.This work will be helpful for understanding the photochemical degradation of antibiotics in aqueous environment in the presence of algae,for providing a new method to deal with antibiotics pollution.

  20. Indoor air pollution: measurement campaign in six dwellings occupied by elderly. Relation between indoor air quality and declared symptoms; Pollution atmospherique interieure: campagne de mesures dans six logements occupes par des personnes agees, relation entre qualite de l'air et symptomes declares

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Coelho, C.

    2004-10-15

    The objective of this work was to analyse the indoor air quality in dwellings occupied by old people and to correlate pollutants with life habits and health statement. A sociological survey on 96 elderly people living in social housing was firstly undertaken in order to determine risk factors responsible for poor health. Then measurements of several pollutants (CO{sub 2}, CO, NO{sub X}, O{sub 3}, COVT, PM2,5, PS>0,3 and aero-biological counts) were carried out during five days in six typical dwellings. Results were analyzed in the light of activities and reported symptoms by the old people. Besides discomfort due to CO{sub 2} accumulation, several pollutants with levels near or over guidelines were identified in particular particulate matter under 1 {mu}m, airborne microbiological counts, permanent TVOC levels. Dust was at the origin of cough, eyes and throat irritations and flows of the nose, and fungi and bacteria seem to be responsible for skin irritations, digestive disorders, sneezes and rhinitis. However, most symptoms appeared after 10 hours of exposure time for people of all ages. The risks factors were amplified by ignorance about the hazard of inadequate ventilation. Experiences in laboratory were also performed to complement some observations and introduce further research. (author)

  1. MUWUJUDKAN BUDAYA POLITIK SANTUN, BERSIH DAN BERETIKA DALAM RANGKA MEMPERKOKOH KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wahyu Widodo

    2014-11-01

    Full Text Available Abstract Makalah ini membahas konsep budaya politik berpusat pada imajinasi (pikiran dan perasaan manusia yang merupakan dasar semua tindakan. Dalam rangka menuju arah pembangunan dan modernisasi suatu masyarakat akan menempuh jalan yang berbeda antara satu masyarakat dengan yang lain, dan itu terjadi karena peranan kebudayaan sebagai salah satu faktor. Budaya politik dapat membentuk aspirasi, harapan, preferensi, dan prioritas tertentu dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan sosial politik. Pada gilirannya, disimpulkan bahwa peran budaya politik santun, bersih dan beretika dalam rangka memperkokoh kehidupan berbangsa dan bernegara menuju Indonesia baru adalah: pertama, etika politik dan pemerintahan mengandung misi kepada setiap pejabat dan elite politik untuk bersikap jujur, amanah, sportif, siap melayani, berjiwa besar, memiliki keteladanan, rendah hati, dan siap untuk mundur dari jabatan publik apabila terbukti melakukan kesalahan dan secara moral kebijakannya bertentangan dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat. Kedua, perlu dilakukan upaya penanaman suatu kesadaran bahwa politik yang hendak kita perjuangkan bukan semata politik kekuasaan, melainkan suatu politik yang mengedepankan panggilan pengabdian demi kesejahteraan masyarakat luas, dialektika antara partai dan politikus serta masyarakat yang kritis. Ketiga, budaya politik santun, bersih dan beretika ini diperlukan karena dapat membuat para elite politik menjauhi sikap dan perbuatan yang dapat merugikan bangsa Indonesia. Akhirnya, disarankan agar dilaksanakan kembali pendidikan budi pekerti yang merupakan pondasi bagi pelaksanaan Civic Education agar tercipta generasi yang tidak hanya mau menjadi politisi, namun paham budaya dan etika politik.   Kata kunci: budaya politik, kehidupan berbangsa dan bernegara, menuju Indonesia baru

  2. Biofuels from algae for sustainable development

    International Nuclear Information System (INIS)

    Microalgae are photosynthetic microorganisms that can produce lipids, proteins and carbohydrates in large amounts over short periods of time. These products can be processed into both biofuels and useful chemicals. Two algae samples (Cladophora fracta and Chlorella protothecoid) were studied for biofuel production. Microalgae appear to be the only source of renewable biodiesel that is capable of meeting the global demand for transport fuels. Microalgae can be converted to biodiesel, bioethanol, bio-oil, biohydrogen and biomethane via thermochemical and biochemical methods. Industrial reactors for algal culture are open ponds, photobioreactors and closed systems. Algae can be grown almost anywhere, even on sewage or salt water, and does not require fertile land or food crops, and processing requires less energy than the algae provides. Microalgae have much faster growth-rates than terrestrial crops. the per unit area yield of oil from algae is estimated to be from 20,000 to 80,000 liters per acre, per year; this is 7-31 times greater than the next best crop, palm oil. Algal oil can be used to make biodiesel for cars, trucks, and airplanes. The lipid and fatty acid contents of microalgae vary in accordance with culture conditions. The effect of temperature on the yield of hydrogen from two algae (C. fracta and C. protothecoid) by pyrolysis and steam gasification were investigated in this study. In each run, the main components of the gas phase were CO2, CO, H2, and CH4.The yields of hydrogen by pyrolysis and steam gasification processes of the samples increased with temperature. The yields of gaseous products from the samples of C. fracta and C. protothecoides increased from 8.2% to 39.2% and 9.5% to 40.6% by volume, respectively, while the final pyrolysis temperature was increased from 575 to 925 K. The percent of hydrogen in gaseous products from the samples of C. fracta and C. protothecoides increased from 25.8% to 44.4% and 27.6% to 48.7% by volume, respectively

  3. BIONOMIK NYAMUK Anopheles DAN KEBIASAAN PENDUDUK YANG MENUNJANG KEJADIAN MALARIA DI KECAMATAN PAGEDONGAN KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2005

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jarohman Raharjo

    2013-03-01

    Full Text Available Malaria masih merupakan masalah kesehatan global termasuk di Indonesia. Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang mempunyai masalah malaria cukup serius. Sampai dengan tahun 2002 telah tercatat 86 desa endemis dari 276 desa yang ada, sedangkan 175 desa terancam menjadi daerah HCI (High Case lncidens, jumlah penderita malaria pada tahun 2001 sebanyak 6.793 orang (API: 7,47%o meningkat menjadi 13.401 orang (API: 15,33%o pada tahun 2002 dan 90,2% dari kasus penderita indigenous.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bionomik nyamuk anopheles dan kebiasaan penduduk yang menunjang kejadian malaria di lokasi penelitian.Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif, karena menggambarkan bionomik nyamuk vektor dan kebiasaan penduduk. Penelitian ini bertempat di Kecamatan Pagedongan, KabupatenBanjarnegara, Provinsi Jawa Tengah dilaksanakan pada bulan Februari Nopember 2005.Tempat berkembangbiak Anopheles spp positif adalah kobakan air (belik dan bekas galian pasir disungai dan mata air. Kebiasaan nyamuk Anopheles spp menggigit orang di dalam dan di luar rumah hampir sama banyaknya. Terjadi peningkatan jumlah nyamuk yang tajam pada bulan September. Aktivitas menggigit di dalam rumah dimulai pada pukul 18.00-19.00. Sedangkan aktivitas menggigit di luar rumah meningkat pada pukul 21. 00-22.00 dan mencapai puncaknya pada pukul 22. 00-23.00 dan 03.00-04.00.Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya nyamuk tersangka vektor, kondisi lingkungan dan pengetahuan masyarakat menjadi faktor yang menunjang kejadian malaria di desa wilayah Kecamatan Pagedongan. Saran yang diberikan adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang malaria dan mengurangi keberadaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk. Kata Kunci : Malaria, Biomonik

  4. RANCANG BANGUN MODEL KOMPRESI DAN TARIK PERMODELAN SANDBOX DAN MANFAATNYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fahrudin Fahrudin

    2015-07-01

    Full Text Available Permodelan sandbox dibuat dengan system tektonik konvergen dan divergen dengan menggunakan pergerakan satu sumbu. Permodelan ini bertujuan untuk membuat alat mesin sandbox yang bisa digunakan untuk penelitian dan pengajaran. Mesin berhasil dibuat dan sudah diujicobakan. Ujicoba dengan menggunakan satu lapisan pasir yang diambil dari Formasi Ngrayong. Percobaan selanjutnya dengan beberapa lapisan. Percobaan dilakukan dengan pengamatan yang meliputi pengamatan permukaan dan penampang verikal. Pengamatan yang aspek morfologi, kelurusan struktur, dan perkembangan sesar yang terbentuk. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pembentukan morfologi sangat berkaitan dengan pembentukan sesar. Struktur sesar dengan pola forward propagating thrust faults. Sesar tersebut disebabkan imbrikasi. Lipatan yang terbentuk akibat mekanisme propagasi sesar.[Design of Compression and Extensional of the Sandbox Model and Its Benefit] Divergent and convergent tectonic sytem can be studied from the sandbox modelling. This model has a axis of movement. Sandbox models itends to study the progress of structural geology such as fault and fold. We successfully made machine of sandbox. This machine has basal detachment from duraluminum. Material for model is taken by loose sand from Ngrayong Formation. This experiment focused to observation about morphology in surface and thrust or backthrust in subsurface. This experiment has compression system. Result of model was that morphological sequences associated with fault sequences. Fault is formed to have the pattern of forward propagating thrust faults. It’s caused by imbricate thrust system. Folding is formed by the mechanism of fault propagation folding. 

  5. Studi Salinitas Air Tanah Dangkal Di Daerah Pesisir Bagian Utara Kota Makassar

    OpenAIRE

    Damayanti, Annisa Dwi

    2015-01-01

    Air tanah merupakan salah satu dari sekian banyak alternatif sumber air yang mempunyai kualitas yang baik. Penggunaan air tanah yang berlebihan menyebabkan terjadinya intrusi air laut dan menimbulkan perubahan kualitas air tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran salinitas air tanah dangkal di daerah pesisir bagian utara Kota Makassar yang mengacu pada SNI 6989.58:2008. Selanjutnya pengukuran salinitas air tanah dangkal ini dilakukan terhadap beberapa faktor yang diperkira...

  6. Propagation des ondes élastiques dans les matériaux non linéaires Aperçu des résultats de laboratoire obtenus sur les roches et des applications possibles en géophysique Propagation of Elastic Waves in Nonlinear Materials Survey of Laboratory Results on Rock and Geophysical Applications

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rasolofosaon P.

    2006-12-01

    Full Text Available Les roches présentent souvent un comportement élastique nettement non linéaire, entraînant des conséquences importantes sur la propagation des ondes. Cette non-linéarité élastique est surtout causée par les microdéfauts mécaniques ubiquistes (microfissures, joints de grains, macles, etc. dont la rigidité varie sous l'effet de la contrainte. Ce sujet fait l'objet d'études de plus en plus nombreuses. Nous nous proposons de présenter très sommairement les bases théoriques et les résultats expérimentaux permettant d'avoir un ordre de grandeur des effets caractéristiques observés dans les roches afin de pouvoir proposer une approche critique des possibilités d'applications en géophysique. Deux disciplines se sont développées en parallèle à partir du même principe physique et avec des formalismes très proches : - L'acousto-élasticité étudie l'effet des précontraintes statiques sur les vitesses de propagation des ondes élastiques. On dispose d'un formalisme mécanique élaboré permettant de relier quantitativement variation de contrainte et variation de vitesse élastique (par exemple pour ce qui concerne l'anisotropie acoustique induite par un état de contrainte et d'une méthode expérimentale de mesure des coefficients de non-linéarité. - L'acoustique non linéaire s'intéresse aux conséquences de la variation des modules élastiques au passage d'une onde qui ne peut plus être considérée comme une petite perturbation, mais qui induit localement des modifications mesurables du milieu de propagation ; modifications entraînant l'apparition de phénomènes inconnus en acoustique linéaire tels que la génération d'harmoniques et l'interaction onde-onde. Les applications à la sismique pétrolière semblent fort lointaines puisque, avec les méthodes classiques de surface ou de puits, il y a peu d'espoir de réussir à faire propager jusqu'aux couches profondes des ondes dont l'amplitude dépasserait le seuil de

  7. KINERJA KEPALA SEKOLAH DALAM KEGIATAN BIMBINGAN DAN KONSELING

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Abu Bakar M.Luddin

    2014-06-01

    Abstrak: Kinerja Kepala Sekolah dalam Kegiatan Bimbingan dan Konseling. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kinerja kepala sekolah dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Penelitian dilaksanakan di SMU Negeri 2 Kota Binjai, dengan memergunakan rancangan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah kepala sekolah, koordinator bimbingan dan konseling, dan guru pembimbing. Data di­kumpulkan dengan observasi, wawancara mendalam, dan kajian dokumen, dan selanjutnya dianalisis sete­lah melalui proses triangulasi antarsubjek dan informasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kinerja kepala sekolah terkait dengan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling masih belum sepenuhnya sebagaimana yang diharapkan. Kepala sekolah perlu meningkatkan kinerjanya dalam menjalankan fungsi koordinasi dan kepengawasan untuk mencapai kegiatan bimbingan dan konseling yang efektif.

  8. Microbes and algae for biodiesel production - Microfuel

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Ruohonen, L. [VTT Technical Research Centre of Finland, Espoo (Finland)], email: laura.ruohonen@vtt.fi; Tamminen, T. [Finnish Environment Institute (SYKE), Helsinki (Finland)

    2012-07-01

    There is an acute need to identify alternatives to replace fossil resources, in particular in transportation fuels. Thus, biomass-based biofuels such as bioethanol and biodiesel have gained significant attention towards this goal. However, the source of biomass has raised concerns; competition with the food chain and arable land must be avoided. The project focused on identification of alternative ways to produce biomass for triacylglycerides production as raw material for biodiesel, that of autotrophic production by algae, and heterotrophic production by fungi. The fungal production process is already presently implemented by Neste Oil: In the press release on 28 August 2012, Neste Oil announced the completion of the first phase of its microbial oil pilot plant. A joint algae research programme between Neste Oil and SYKE was launched in August 2011, with the aim of further developing the knowledge basis for cost-effective microalgal production in industrial-scale volumes for future production needs.

  9. Structurally Distinct Cation Channelrhodopsins from Cryptophyte Algae.

    Science.gov (United States)

    Govorunova, Elena G; Sineshchekov, Oleg A; Spudich, John L

    2016-06-01

    Microbial rhodopsins are remarkable for the diversity of their functional mechanisms based on the same protein scaffold. A class of rhodopsins from cryptophyte algae show close sequence homology with haloarchaeal rhodopsin proton pumps rather than with previously known channelrhodopsins from chlorophyte (green) algae. In particular, both aspartate residues that occupy the positions of the chromophore Schiff base proton acceptor and donor, a hallmark of rhodopsin proton pumps, are conserved in these cryptophyte proteins. We expressed the corresponding polynucleotides in human embryonic kidney (HEK293) cells and studied electrogenic properties of the encoded proteins with whole-cell patch-clamp recording. Despite their lack of residues characteristic of the chlorophyte cation channels, these proteins are cation-conducting channelrhodopsins that carry out light-gated passive transport of Na(+) and H(+). These findings show that channel function in rhodopsins has evolved via multiple routes. PMID:27233115

  10. Radiokinetic study in betony marine algae

    International Nuclear Information System (INIS)

    The influx and outflux kinetics of some radionuclides in algae of the Rio de Janeiro coastline, were studied in order to select bioindicators for radioactive contamination in aquatic media, due to the presence of Nuclear Power Stations. Bioassays of the concentration and loss of radionuclides such as 137Cs, 51Cr, 60Co and 131I were performed in 1000cm3 aquarium under controlled laboratory conditions, using a single channel gamma counting system, to study the species of algae most frequently found in the region. The concentration and loss parameters for all the species and radionuclides studied were obtained from the normalized results. The loss parameters were computerwise adjusted using Powell's multiparametric method. (author)

  11. ANALISIS PERBANDINGAN SPAP, IAS DAN SPKN

    OpenAIRE

    Maylia Pramono Sari

    2012-01-01

    Dalam mewujudkan Good Goveronance  akan dilakukan analisis perbandingan mengenai standar pemeriksaan nasional yaitu SPAP, ISA, dan SPKN untuk menemukan standar yang lebih tepat dan lebih lengkap untuk pemeriksaan sektor publik. Persamaan SPKN dan ISS  adalah tanggungjawab manajemen dan tanggungjawab auditor sedangkan perbedaannya adalah badan yang menerbitkannya. Perbedaan yang mendasar terletak pada karakter pemeriksaan BPK. Karakter tersebut adalah keharusan pemeriksa BPK untuk merancang ...

  12. Analyse de l’air piégé dans les carottes de glace de Dôme C et Talos Dôme pour mieux contraindre le rôle du forçage orbital et des gaz à effet de serre dans les variations glaciaire-interglaciaire

    OpenAIRE

    Bazin, Lucie

    2015-01-01

    In order to study the climate variations recorded by ice cores, it is necessary to have precise chronologies for the ice and gas phases. The aim of this work has been to improve ice cores chronologies, covering the last 800 000 years, through new measurements of the isotopic composition of the air δ15N, δ18Oatm et δO2/N2) trapped in EPICA Dome C (EDC) ice core and the use of the Datice dating tool.The first important result of this PhD has been the production of the Antarctic Ice Core Chronol...

  13. PENGARUH KUALITAS LAYANAN (SERVQUAL), CITRA PERUSAHAAN (CORPORATE IMAGE), DAN KEPUASAN PADA GETHOK TULAR POSITIF SERTA NIAT BELI ULANG Studi Pada Penerbangan Berbiaya Rendah di Indonesia

    OpenAIRE

    Oktavianti, Maria Christina Dwi

    2015-01-01

    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas layanan (servqual), citra perusahaan (corporate image), dan kepuasan pada gethok tular positif serta niat beli ulang, studi pada penerbangan berbiaya rendah di Indonesia. Populasi pada penelitian ini ialah seluruh konsumen yang pernah menggunakan layanan maskapai penerbangan berbiaya rendah (low cost carrier), maskapai Lion Air dan atau Air Asia dalam waktu satu tahun terakhir. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara (purposive ...

  14. Pengelolaan Pupuk Organik Dan Kalium Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Rosela (Hibiscus sabdariffa L.)

    OpenAIRE

    Hutasoit, Christina

    2010-01-01

    CHRISTINA HUTASOIT: Pengelolaan Pupuk Organik dan Kalium terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Rosela (Hibiscus sabdariffa L.), dibimbing oleh J. M. Sitanggang dan Sabar Ginting. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui dosis pupuk Organik dan pupuk Kalium terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Penelitian telah dilakukan di lahan percobaan Kelurahan Sempakata, Kecamatan Medan Selayang pada bulan Desember – April 2010 menggunakan Rancangan Acak Kelo...

  15. Flavonoids from the Red Alga Acanthophora spicifera

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    ZENG Long-Mei(曾陇梅); 曾陇梅; WANG Chao-Jie(王超杰); 王超杰; SU Jing-Yu(苏镜娱); 苏镜娱; LI Du(李笃); 李笃; OWEN Noel L.; OWEN Noel L; LU Yang(吕扬); 吕扬; LU Nan(鲁南); 鲁南; ZHENG Qi-Tai(郑启泰); 郑启泰

    2001-01-01

    Two new flavonoids, acanthophorin A (1) and acanthophorin B (2), along with three known compounds tiliroside (3),( - )-catechin (4) and quercetin (5) were isolated from the red alga Acanthophora spicifera. The structures of 1 and 2were determined to be kaempferol 3-O-α-L-fucopyranoside (1) and quercetin 3-O-α-L-fucopyranoside (2) by spectroscopic methods. Both 1 and 2 showed significant anfioxidant activity.

  16. Algae as reservoirs for coral pathogens.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Michael J Sweet

    Full Text Available Benthic algae are associated with coral death in the form of stress and disease. It's been proposed that they release exudates, which facilitate invasion of potentially pathogenic microbes at the coral-algal interface, resulting in coral disease. However, the original source of these pathogens remains unknown. This study examined the ability of benthic algae to act as reservoirs of coral pathogens by characterizing surface associated microbes associated with major Caribbean and Indo-Pacific algal species/types and by comparing them to potential pathogens of two dominant coral diseases: White Syndrome (WS in the Indo-Pacific and Yellow Band Disease (YBD in the Caribbean. Coral and algal sampling was conducted simultaneously at the same sites to avoid spatial effects. Potential pathogens were defined as those absent or rare in healthy corals, increasing in abundance in healthy tissues adjacent to a disease lesion, and dominant in disease lesions. Potentially pathogenic bacteria were detected in both WS and YBD and were also present within the majority of algal species/types (54 and 100% for WS and YBD respectively. Pathogenic ciliates were associated only with WS and not YBD lesions and these were also present in 36% of the Indo-Pacific algal species. Although potential pathogens were associated with many algal species, their presence was inconsistent among replicate algal samples and detection rates were relatively low, suggestive of low density and occurrence. At the community level, coral-associated microbes irrespective of the health of their host differed from algal-associated microbes, supporting that algae and corals have distinctive microbial communities associated with their tissue. We conclude that benthic algae are common reservoirs for a variety of different potential coral pathogens. However, algal-associated microbes alone are unlikely to cause coral death. Initial damage or stress to the coral via other competitive mechanisms is

  17. Cytoskeleton and Early Development in Fucoid Algae

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    2007-01-01

    Cell polarization and asymmetric cell divisions play important roles during development in many multicellular eukaryotes.Fucoid algae have a long history as models for studying early developmental processes, probably because of the ease with which zygotes can be observed and manipulated in the laboratory. This review discusses cell polarization and asymmetric cell divisions in fucoid algal zygotes with an emphasis on the roles played by the cytoskeleton.

  18. Selenium Uptake and Volatilization by Marine Algae

    Science.gov (United States)

    Luxem, Katja E.; Vriens, Bas; Wagner, Bettina; Behra, Renata; Winkel, Lenny H. E.

    2015-04-01

    Selenium (Se) is an essential trace nutrient for humans. An estimated one half to one billion people worldwide suffer from Se deficiency, which is due to low concentrations and bioavailability of Se in soils where crops are grown. It has been hypothesized that more than half of the atmospheric Se deposition to soils is derived from the marine system, where microorganisms methylate and volatilize Se. Based on model results from the late 1980s, the atmospheric flux of these biogenic volatile Se compounds is around 9 Gt/year, with two thirds coming from the marine biosphere. Algae, fungi, and bacteria are known to methylate Se. Although algal Se uptake, metabolism, and methylation influence the speciation and bioavailability of Se in the oceans, these processes have not been quantified under environmentally relevant conditions and are likely to differ among organisms. Therefore, we are investigating the uptake and methylation of the two main inorganic Se species (selenate and selenite) by three globally relevant microalgae: Phaeocystis globosa, the coccolithophorid Emiliania huxleyi, and the diatom Thalassiosira oceanica. Selenium uptake and methylation were quantified in a batch experiment, where parallel gas-tight microcosms in a climate chamber were coupled to a gas-trapping system. For E. huxleyi, selenite uptake was strongly dependent on aqueous phosphate concentrations, which agrees with prior evidence that selenite uptake by phosphate transporters is a significant Se source for marine algae. Selenate uptake was much lower than selenite uptake. The most important volatile Se compounds produced were dimethyl selenide, dimethyl diselenide, and dimethyl selenyl sulfide. Production rates of volatile Se species were larger with increasing intracellular Se concentration and in the decline phase of the alga. Similar experiments are being carried out with P. globosa and T. oceanica. Our results indicate that marine algae are important for the global cycling of Se

  19. Algae-Derived Dietary Ingredients Nourish Animals

    Science.gov (United States)

    2015-01-01

    In the 1980s, Columbia, Maryland-based Martek Biosciences Corporation worked with Ames Research Center to pioneer the use of microalgae as a source of essential omega-3 fatty acids, work that led the company to develop its highly successful Formulaid product. Now the Nutritional Products Division of Royal DSM, the company also manufactures DHAgold, a nutritional supplement for pets, livestock and farm-raised fish that uses algae to deliver docosahexaenoic acid (DHA).

  20. KOMPOSISI KIMIA MINYAK ATSIRI BUAH SIRIH HIJAU (PIPER BETLE L, KEMUKUS (PIPER CUBEBA L DAN CABE JAWA (PIPER RETROFRACTUM VAHL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M. Widyo Wartono

    2014-05-01

    Full Text Available Tumbuhan genus Piper mempunyai kandungan minyak atsiri hampir disemua bagiannya, namun komposisi kimianya belum semua dilaporkan. Pada laporan ini kami melakukan isolasi dan identifikasi senyawa kimia minyak atsiri pada bagian buah tumbuhan Piper. Isolasi minyak atsiri buah Piper dilakukan dengan destilasi air menggunakan destilasi Stahl dan analisis komposisi kimia dengan kromatografi gas-spektroskopi masa (GC-MS. Kandungan minyak atsiri buah sirih hijau (Piper betle 1,4% (v/b, cabe jawa (Piper retrofractum 1% (v/b, dan buah kemukus (Piper cubeba 1,7% (v/b. Hasil analisis GC-MS menunjukan kandungan utama minyak atsiri adalah senyawa golongan monoterpen, seskuiterpen dan fenil propanoid. Kandungan utama minyak atsiri buah sirih hijau (P. betle adalah eugenol (12,36%, isokaryofillena (9,55% dan β-selinena (8,09%, sedangkan komponen utama buah cabe jawa (Piper retrofractum adalah isokaryofilen (8,88%, β-bisabolen (7,01% dan zingiberen (6,32%, dan minyak atsiri buah kemukus (Piper cubeba adalah spathulanol (27,05%, sativen (8,73% dan germakren D (7,50%.

  1. PRINSIP DAN METODE ANALISIS RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Defriman Djafri

    2014-04-01

    Full Text Available Analisis risiko kesehatan lingkungan merupakan penilaian atau penaksiran risiko kesehatan yang bisa terjadi di suatu waktu pada populasi manusia berisiko. Kajian prediktif ini menghasilkan karakteristik risiko secara kuantitatif, pilihan-pilihan manajemen risiko dan strategi komunikasi untuk meminimalkan risiko tersebut. Data kualitas lingkungan yang bersifat agent specific dan site specific, karakteristik antropometri dan pola aktivitas populasi terpajan dibutuhkan untuk kajian ini.

  2. PRINSIP DAN METODE ANALISIS RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN

    OpenAIRE

    Defriman Djafri

    2014-01-01

    Analisis risiko kesehatan lingkungan merupakan penilaian atau penaksiran risiko kesehatan yang bisa terjadi di suatu waktu pada populasi manusia berisiko. Kajian prediktif ini menghasilkan karakteristik risiko secara kuantitatif, pilihan-pilihan manajemen risiko dan strategi komunikasi untuk meminimalkan risiko tersebut. Data kualitas lingkungan yang bersifat agent specific dan site specific, karakteristik antropometri dan pola aktivitas populasi terpajan dibutuhkan untuk kajian ini.

  3. Hubungan Stress Dengan Penyakit Dan Perawatan Periodontal

    OpenAIRE

    Der, William

    2009-01-01

    Stress adalah istilah yang mendefenisikan reaksi psiko-fisiologis tubuh terhadap berbagai rangsangan emosional atau fisik yang mengganggu homeostasis, dan ditemukan dapat mengeksaserbasi hasil dari penyakit infeksi bakteri dan virus pada model hewan dan manusia. Stres telah lama dinyatakan sebagai suatu faktor predisposisi yang penting untuk Gingivitis Ulseratif Nekrotik Akut (GUNA). Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa stres psikologis atau kondisi psikosomatik mendorong terjadinya peru...

  4. Antibody Production in Plants and Green Algae.

    Science.gov (United States)

    Yusibov, Vidadi; Kushnir, Natasha; Streatfield, Stephen J

    2016-04-29

    Monoclonal antibodies (mAbs) have a wide range of modern applications, including research, diagnostic, therapeutic, and industrial uses. Market demand for mAbs is high and continues to grow. Although mammalian systems, which currently dominate the biomanufacturing industry, produce effective and safe recombinant mAbs, they have a limited manufacturing capacity and high costs. Bacteria, yeast, and insect cell systems are highly scalable and cost effective but vary in their ability to produce appropriate posttranslationally modified mAbs. Plants and green algae are emerging as promising production platforms because of their time and cost efficiencies, scalability, lack of mammalian pathogens, and eukaryotic posttranslational protein modification machinery. So far, plant- and algae-derived mAbs have been produced predominantly as candidate therapeutics for infectious diseases and cancer. These candidates have been extensively evaluated in animal models, and some have shown efficacy in clinical trials. Here, we review ongoing efforts to advance the production of mAbs in plants and algae. PMID:26905655

  5. Pembuatan Paving Block Berbasis Semen Polimer Dengan Limbah Padat Grit Sebagai Substitusi Pasir Dan Perekat Polivinyl Alkohol (PVA)

    OpenAIRE

    Tiambun Roswati

    2009-01-01

    Paving block dalam penelitian ini adalah campuran dari material pasir, grit, semen, Polivinyl Alkohol dan air. Variabel pada paving block ini adalah komposisi grit terhadap pasir : 0 : 100; 10 : 90; 20 : 80; 30 : 70; 40 : 60; 50 : 50; 60 : 40; 70 : 30; 80 : 20; 90 : 10; 100 : 0 (%volume). Adapun tujuan penelitian adalah pemanfaatan limbah industri bubur kertas yaitu grit sebagai substitusi pasir dan penggunaan Polivinyl Alkohol sebagai perekat pada pembuatan paving block. Semen seba...

  6. Perbedaan Ikan Cupang Bias (Betta Splendens Crown Tail) Dan Ikan Hias Maanvis (Pterophyllum Altum) Sebagai Predator Jentik Nyamuk

    OpenAIRE

    Hijra Wati Tarihoran

    2009-01-01

    Nyamuk adalah salah satu jenis serangga yang merupakan vektor penularan penyakit terhadap manusia. Oleh karena itu populasi nyamuk harus dikendalikan sebagaimana mestinya. Salah satu cara atau metode pengendaliannya adalah dengan memanfaatkan ikan pemakan jentik nyamuk yaitu ikan cupang bias dan ikan bias maanvis. Ikan cupang hias dan ikan maanvis mempunyai habitat bidup yang sama, mampu hidup pada kondisi air yang bervariasi. Namun kedua jenis ikan ini mempunyai perbedaan kemampuan dalam hal...

  7. Studi Korelasi Antara Bod Dengan Unsur Hara N, P Dan K Dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (PKS)

    OpenAIRE

    Hidup Simanjuntak

    2009-01-01

    Telah dilakukan penelitian tentang studi korelasi antara BOD dengan unsur hara N, P dan K dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit. Sampel Limbah Cair Pabrik Kelapa sawit berasal dari Instalasi Pengolahan Air Limbah PT. Nusantara II (Persero) unit Pengolahan Sawit Seberang Kabupaten Langkat. Sampel diambil dari kolam Anaerobik primer 1, kolam Anaerobik primer 2, kolam Anaerobik sekunder 1 dan kolam Anaerobik sekunder 2. BOD dianalisa dengan metode Winkler, N dengan metode Dekstruksi Kjehldahl...

  8. Electro-coagulation-flotation process for algae removal.

    Science.gov (United States)

    Gao, Shanshan; Yang, Jixian; Tian, Jiayu; Ma, Fang; Tu, Gang; Du, Maoan

    2010-05-15

    Algae in surface water have been a long-term issue all over the world, due to their adverse influence on drinking water treatment process as well as drinking water quality. The algae removal by electro-coagulation-flotation (ECF) technology was investigated in this paper. The results indicated that aluminum was an excellent electrode material for algae removal as compared with iron. The optimal parameters determined were: current density=1 mA/cm(2), pH=4-7, water temperature=18-36 degrees C, algae density=0.55 x 10(9)-1.55 x 10(9) cells/L. Under the optimal conditions, 100% of algae removal was achieved with the energy consumption as low as 0.4 kWh/m(3). The ECF performed well in acid and neutral conditions. At low initial pH of 4-7, the cell density of algae was effectively removed in the ECF, mainly through the charge neutralization mechanism; while the algae removal worsened when the pH increased (7-10), and the main mechanism shifted to sweeping flocculation and enmeshment. The mechanisms for algae removal at different pH were also confirmed by atomic force microscopy (AFM) analysis. Furthermore, initial cell density and water temperature could also influence the algae removal. Overall, the results indicated that the ECF technology was effective for algae removal, from both the technical and economical points of view. PMID:20042280

  9. Electro-coagulation-flotation process for algae removal

    International Nuclear Information System (INIS)

    Algae in surface water have been a long-term issue all over the world, due to their adverse influence on drinking water treatment process as well as drinking water quality. The algae removal by electro-coagulation-flotation (ECF) technology was investigated in this paper. The results indicated that aluminum was an excellent electrode material for algae removal as compared with iron. The optimal parameters determined were: current density = 1 mA/cm2, pH = 4-7, water temperature = 18-36 deg. C, algae density = 0.55 x 109-1.55 x 109 cells/L. Under the optimal conditions, 100% of algae removal was achieved with the energy consumption as low as 0.4 kWh/m3. The ECF performed well in acid and neutral conditions. At low initial pH of 4-7, the cell density of algae was effectively removed in the ECF, mainly through the charge neutralization mechanism; while the algae removal worsened when the pH increased (7-10), and the main mechanism shifted to sweeping flocculation and enmeshment. The mechanisms for algae removal at different pH were also confirmed by atomic force microscopy (AFM) analysis. Furthermore, initial cell density and water temperature could also influence the algae removal. Overall, the results indicated that the ECF technology was effective for algae removal, from both the technical and economical points of view.

  10. Electro-coagulation-flotation process for algae removal

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Gao Shanshan, E-mail: luck81919@hotmail.com [State Key Laboratory of Urban Water Resource and Environment, Harbin Institute of Technology, 73 Huanghe Road, Nangang District, Harbin 150090, Hei Longjiang (China); Yang Jixian; Tian Jiayu; Ma Fang; Tu Gang; Du Maoan [State Key Laboratory of Urban Water Resource and Environment, Harbin Institute of Technology, 73 Huanghe Road, Nangang District, Harbin 150090, Hei Longjiang (China)

    2010-05-15

    Algae in surface water have been a long-term issue all over the world, due to their adverse influence on drinking water treatment process as well as drinking water quality. The algae removal by electro-coagulation-flotation (ECF) technology was investigated in this paper. The results indicated that aluminum was an excellent electrode material for algae removal as compared with iron. The optimal parameters determined were: current density = 1 mA/cm{sup 2}, pH = 4-7, water temperature = 18-36 deg. C, algae density = 0.55 x 10{sup 9}-1.55 x 10{sup 9} cells/L. Under the optimal conditions, 100% of algae removal was achieved with the energy consumption as low as 0.4 kWh/m{sup 3}. The ECF performed well in acid and neutral conditions. At low initial pH of 4-7, the cell density of algae was effectively removed in the ECF, mainly through the charge neutralization mechanism; while the algae removal worsened when the pH increased (7-10), and the main mechanism shifted to sweeping flocculation and enmeshment. The mechanisms for algae removal at different pH were also confirmed by atomic force microscopy (AFM) analysis. Furthermore, initial cell density and water temperature could also influence the algae removal. Overall, the results indicated that the ECF technology was effective for algae removal, from both the technical and economical points of view.

  11. PEMODELAN STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAERAH SUMBER AIR PANAS SONGGORITI KOTA BATU BERDASARKAN DATA GEOMAGNETIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dafiqiy Ya’lu Ulin Nuha, Novi Avisena

    2012-05-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian dengan metode geomagnetik pada tanggal 26 -27 April 2011 di daerah Songgoriti Kota Batu dengan tujuan untuk mengetahui pola Anomali Magnet Total dan struktur geologi bawah permukaan. Setelah dilakukan koreksi data yang meliputi koreksi diurnal dan koreksi IGRF maka didapatkan nilai anomali magnet total serta kontinuasi ke atas dan reduksi ke kutub. Selanjutnya dilakukan interpretasi secara kualitatif dan kuantitatif. Interpretasi kuantitatif dilakukan dengan membaca pola kontur anomali magnet lokal dan reduksi ke kutub, sedangkan interpretasi kualitatif dilakukan dengan membuat penampang 2,5 D pada dua lintasan AB dan CD. Berdasarkan interpretasi kuantitatif pada kontur anomali  magnetik lokal didapatkan variasi nilai anomali antara -800 nT-600 nT dengan anomali tinggi terdapat pada arah timur dan barat daerah penelitian, anomali sedang terletak pada daerah tengah penelitian dan anomali rendah terdapat pada sedikit   daerah   tengah   penelitian.   Daerah   penelitian   didominasi   anomali   magnetik   sedang. Berdasarkan interpretasi kualitatif pada model penampang 2,5 D lintasan AB dan CD, didapatkan tujuh body yaitu batuan tufa, batuan tufa, batuan breksi vulkanik, batuan breksi tufaan, batuan lava, batuan basalt, dan batuan andesit. Berdasarkan sifat fisik dari tiap lapisan batuan, diduga batuan sarang dalam sistem geothermal yang berupa sumber air panas di daerah penelitian adalah batuan breksi vulkanik dengan batuan penutup (cap rock berupa batuan tufa. Kata Kunci : Anomali Magnet, Struktur Geologi, Air Panas.

  12. KERACUNAN BAHAN KIMIA BERACUN DI RUMAH TANGGA DAN PENANGGULANGANNYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Satmoko Satmoko

    2012-10-01

    Full Text Available Pada umumnya semua bahan kimia merupakan racun, termasuk obat-obatan. Bahan kimia beracun di dalam rumah setiap saat dapat mengancam keselamatan kita, terutama anak-anak.Bahan bahan kimia yang sering digunakan dan, disimpan di rumah tangga adalah sangat beragam. Hal ini perlu diperhatikan oleh masyarakat umum karena bahan kimia tersebut dapat membahayakan anak-anak, khususnya balita atau bahkan orang dewasa apabila dalam pelabelan tidak jelas atau memindahkan wadah asli bahan kimia ke wadah lain tanpa diberikan keterangan atau label.Bahan kimia yang sering disimpan di rumah tangga adalah antara lain, spiritus (metil alkohol, asam cuka, air aki, aseton (penghapus cat kuku, bensin, pestisida, deterjen, karnper, kaporit, karbol, minyak tanah, terpentin, oli, obat obatan (boorwater, asetosal, obat-obatan penurun panas, barbiturat, mereurochrom, dan lain sebagainya.  

  13. Studi Numerik dan Eksperimental Aliran 3-D pada Kombinasi Airfoil Pelat Datar dengan Variasi Permukaan Bawah dan Pengaruh Celah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gunawan Nugroho

    2005-01-01

    Full Text Available Recently, the complexity of 3-D flow around airfoil/flat plate junction at endwall region has attracted many researchers of Aerodynamics. The majority of its experimental and numerical observations are conducted to compressor cascade. Because of that importance, stronger conceptual basis of 3-D flow is required, so the present study has stressed on single body airfoil/flat plate which clearance effect is exist. Variation of angle of attack and geometry on lower surface in this research have been carried out numerically and experimentally. Numerical study has been implemented by putting inlet velocity 25 m/s as initial condition while air density and viscosity are assumed constants. Trends of coefficient of pressure and velocity vector are studied accurately. Experimental study was conducted in wind tunnel with inlet velocity 25 m/s by means of measurement of static pressure on wall and airfoil which endwall and midspan are included. Two previous methods were supported by flow visualisation in the manner of examining the details of skin friction line. It was evidenced that 2-D history flow was strongly influenced 3-D flow characteristics. It was clarified by lower surface variation and by usage of wider blade thickness model, that was when incoming flow attached to leading edge would experience stronger adverse pressure gradient with the result that separated earlier and so was when it pass more curved surface, stronger adverse pressure gradient is responsible for generating greater pressure difference between upper and lower surface and finally, tip clearance flow is induced more intensivelly. Those effects are amplified when angle of attack is applied. Saddle point is formed further away in front of leading edge and tend to move on pressure side below, Wider branch separation line is detected and jet flow is amplified. Abstract in Bahasa Indonesia : Kompleksnya aliran 3-D pada daerah endwall dan ujung dari kombinasi airfoil/plat datar telah

  14. Short-term effects of air pollution on mortality: a combined analysis in mine French cities; Effets a court terme de la pollution atmospherique sur la mortalite: resultats d'une analyse combinee realisee dans 9 villes francaises

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Quenel, P.; Le Tertre, A.; Eilstein, D.; Zeghnoun, A.; Saviuc, P.; Prouvost, H.; Cassadou, S.; Pascal, L.; Medina, S.; Le Goaster, C. [Institut de Veille Sanitaire, Dept. Sante Environnement, 94415 - Saint-Maurice (France); Declercq, C. [Observatoire Regional de la Sante Nord Pas de Calais, 59 - Lille (France)

    2000-08-01

    The objective of this study is to estimate the short term effects of air pollution on the activity of a medical practitioners network and to test if this network can contribute to epidemiological monitoring of atmospheric pollution. Twenty-two physicians counted respiratory, ocular and neurological symptoms between February 1996 and September 1997 in the Urban Area of Strasbourg. The indicators of pollution were the maximum and mean of daily concentrations for sulphur dioxide (SO{sub 2}), air particles (PM13) and nitrogen dioxide (NO{sub 2}), daily maximum and mean of 8-hours for ozone (O{sub 3}). The statistical method for correlation between symptoms and pollutants was a Poisson regression based on a Generalized Additive Model (GAM) which takes into account auto-regression, seasonal variations, influenza epidemics, pollen counts and meteorological factors. Statistically significant associations are presented below (in brackets: relative increase of daily number of the symptoms associated with an inter-quartile increase of pollutant's concentration). Maximum of SO{sub 2} was associated with cough (7.9%) and number of symptomatic patients (4.6%); mean of SO{sub 2} with hoarseness (5.4%) and headache (6.5%): maximum of PM13 with pharynx symptoms (5.5%), cough (5.6%), wheezing dyspnea (7.3%) and number of symptomatic patients (5.7%); mean of PM13 with pharynx symptoms (2.9%), cough (3.1%) and number of symptomatic patients (4.8%); maximum of NO{sub 2} with cough (4.4%) and number of symptomatic patients (2.8%); mean of NO{sub 2} with rhinorrhea (7.4%), pharynx symptoms (5.7%), cough (11.2%), wheezing dyspnea (9.7%) and no wheezing dyspnea (6.6%), headache (9.6%) and number of symptomatic patients (5.8%); maximum of O{sub 3} with ocular irritation (12.6%); mean of O{sub 3} with ocular irritation (10.9%). Using of a medical practitioners network is possible under several conditions (recall, workshops, easy collection of symptoms) and may be recommended for

  15. Pengujian Pengaturan dan Penyeimbangan dalam Sistem Pengkondisian Udara

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Soejono Tjitro

    1999-01-01

    Full Text Available The design and installation of an air conditioning system may be carried out properly, but if it is not adjusted and balanced to meet design conditions, it will not perform satisfactorily. The complexity of modern air conditioning systems may make the balancing process quite involved. Even some experienced personnel frequently are unaware of the difficulties and requirements of balancing. In the past it was often possible to get by with making a few adjustments and checking if people were comfortable. This is no longer satisfactory on large systems. Organized procedures are required to balance a system so that it will result in comfort in all seasons. Furthermore, the increased need for minimizing energy waste also requires correct balancing techniques. An improperly balanced system will almost certainly use excess energy. The testing and balancing process is often carried out by the contractor upon completion of the installation but for large systems a whole new profession has grown, with organizations and specialist who do only this work. This has happened not only because of the complexity of the task, but it also means an independent organization verifies that the system is operating correctly. Abstract in Bahasa Indonesia : Desain dan pelaksanaan pemasangan sistem pengkondisian udara bisa saja sudah dilakukan dengan tepat, tetapi jika tidak diatur (adjusted dan diseimbangkan (balanced sesuai dengan kondisi desain, maka tidak akan menunjukkan hasil yang memuaskan. Kompleksitas sistem pengkondisian udara modern menjadikan proses penyeimbangan cukup rumit. Bahkan para ahli seringkali tidak sadar akan kesulitan dan persyaratan balancing. Pada masa lalu, seringkali mungkin mendapatkan penghuni merasa nyaman dengan sedikit pengaturan dan pemeriksaan. Hal itu tidak akan memuaskan untuk sistem yang besar. Prosedur yang terorganisir dibutuhkan untuk menyeimbangkan sistem tersebut sehingga menghasilkan kenyamanan sepanjang waktu. Terlebih lagi

  16. Pencemaran merkuri di perairan dan karakteristiknya: suatu kajian kepustakaan ringkas

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M. Adlim

    2016-05-01

    emas menggunakan unsur merkuri yang sukar larut dalam air, kelarutannya hanya 0,06 g per ton unsur merkuri  namun kelarutannya dapat meningkat jika di dasar laut yang gelap dan banyak oksigen terlarut. Berdasarkan sifat kelarutannya, dapat dipahami bahwa kadar merkuri di Sungai Teunom masih di bawah batas toleransi, namun aktivitas penambangan emas tetap saja memiliki resiko kerusakan lingkungan apalagi jika tidak mendapat pengawasan yang memadai. Banyak peneliti berusaha membuktikan perubahan merkuri menjadi metil merkuri (biometilasi tetapi mereka menggunakan garam merkuri dan bukan unsur merkuri dalam ekperimen mereka. Metil merkuri memang ditemukan di alam tetapi proses perubahan dari senyawa merkuri menjadi metil merkuri masih diperdebatkan dan belum diperoleh bukti yang kuat perubahan dari unsur merkuri menjadi metil merkuri dalam air sehingga di Peraian Aceh belum tentu tercemar metil merkuri sebagaimana kasus Minamata. Kata kunci: Aceh; metil-merkuri; minamata; penambangan; emas

  17. Study and determination of the national dosimetric standards in terms of air kerma for X-rays radiation fields of low and medium-energies; Etude et realisation des references dosimetriques nationales en termes de kerma dans l'air pour les faisceaux de rayons X de basses et moyennes energies

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Ksouri, W

    2008-12-15

    Progress in radiation protection and radiotherapy, and the increased needs in terms of accuracy lead national metrology institutes to improve the standard. For ionizing radiation, the standard is defined by an absolute instrument used for air kerma rate measurement. The aim of the thesis is to establish standards, in terms of air kerma for X-rays beams of low and medium-energies. This work enables to complement the standard beam range of the Laboratoire National Henri Becquerel (LNHB). Two free-air chambers have been developed, WK06 for medium-energy and WK07 for low-energy. The air-kerma rate is corrected by several correction factors. Some are determined experimentally; and the others by using Monte Carlo simulations. The uncertainty budget of the air-kerma rate at one standard deviation has been established. These dosimetric standards were compared with those of counterparts' laboratories and are consistent in terms of degree of equivalence. (author)

  18. Heat wave during the summer 2003: relationship between temperature, air pollution and mortality in nine French towns; Vague de chaleur de l'ete 2003: relations entre temperatures, pollution atmospherique et mortalite dans neuf villes francaises

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    2006-07-01

    The objective of this study is to estimate, by taking the a particular period of summer 2003, the relationship between the exposure to ozone and the mortality risk. This estimation has for aim to realize a more valid, scientifically, evaluation of sanitary impact, for the period of heat wave that this one that could has been lead from anterior results. This study searches also to estimate, for the period of heat wave, the excess of mortality risk linked with the exposure to temperature and air pollution and the relative part of each of these factors in this combined effect. The analysis searches to evaluate an eventual displacement of mortality at short term that is to say a period of under mortality occurring at the immediate declining of the heat wave. (N.C.)

  19. Etude du rôle du récepteur nucléaire CAR, Constitutive Androstane Receptor, dans le métabolisme des lipides et la susceptibilité à l'athérosclérose

    OpenAIRE

    Sberna, Anne-Laure

    2011-01-01

    Le récepteur CAR, Constitutive Androstane Receptor, appartient à la-famille NR1 des récepteurs nucléaires. Initialement décrit comme un récepteur orphelin, CAR est en fait activé par un grand nombre de molécules exogènes et une des fonctions principales de CAR est celle de xénosenseur. L'activation CAR par ses différents ligands stimule la transcription des enzymes de phase I, II et III nécessaires à la détoxification et à l'élimination des xénobiotiques. Parallèlement, CAR a fait l'objet de ...

  20. Pengaturan dan Pengawasan pada Bank Syariah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ali Syukron

    2012-06-01

    Full Text Available Peran bank dalam melaksanakan tugas dan fungsinya perlu diatur secara baik dan benar. Hal ini bertujuan untuk menjaga kepercayaan nasabah terhadap aktivitas perbankan. Salah satu peraturan yang perlu dibuat untuk mengatur perbankan adalah peraturan mengenai permodalan bank yang berfungsi sebagai penyangga terhadap kemungkinan terjadinya kerugian. Tulisan ini merupakan studi pustaka dimana penulis mengelaborasi bagaimana pengaturan dan pengawasan pada bank syariah yang ada di berbagai negera. Dalam tulisan ini, penulis mengambil sampel negara Malaysia,  Pakistan, Kuwait, dan Inggris. Alasan memilih keempat negara tersebut karena Malaysia dan Kuwait memiliki kemiripan dengan Indonesia yang mengadopsi dual banking system.

  1. Eradication of algae in ships' ballast water by electrolyzing

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    DANG Kun; SUN Pei-ting; XIAO Jing-kun; SONG Yong-xin

    2006-01-01

    In order to verify the effectiveness of electrolytic treatment on ships' ballast water,experiments are carried out by a pilot system in laboratory. The raw seawater and seawater with different concentrations of different algae are simulated as ships' ballast water. The algae in the raw seawater can be killed if it is treated by electrolysis with an initial residual chlorine concentration of 5 mg/L. If the seawater with one kind of algae (Nitzschia closterum, Dicrateria spp., or Pyramidomonnas sp.105cells/mL) is treated by electrolysis with an initial residual chlorine concentration of 5 mg/L, the alga can be sterilized. If the seawater with one kind of algae (Dunaliella sp., Platymonas or Chlorella spp.)is directly treated by electrolyzing with an initial residual chlorine concentration of 4 mg/L, the instant mortality changes with the concentration of different algae. However, after 72 hours, in all treated samples, there are no live algal cells found.

  2. Removal of Pb(2+) by biomass of marine algae.

    Science.gov (United States)

    Hamdy, A A

    2000-10-01

    New biosorbent material derived from ubiquitous marine algae has been examined in packed-bed flow for Pb(2+) removal through sorption columns. Mixed biomass of marine algae has been used, consisting of representative species of the following algae: Ulva lactuca (green algae), Jania rubens (red algae), and Sargassum asperifolium (brown algae). A mixture of these three species showed a promising removal capacity for Pb(2+) from aqueous solution. Lead uptake up to 281.8 mg/g dry algal mixture was observed. Equilibrium was achieved after 120 min. No significant effect of changing the flow rate on the removal capacity was noticed. It was found that Langmuir model expresses the system at pH 4. Mineral acids exhibited good elution properties (a mean of 93%) for recovery of sorbed biomass ions as compared with the tested alkalies (about 60%). PMID:10977889

  3. CCQM key comparison CCQM-K75: Determination of toxic metals in algae

    Science.gov (United States)

    Shakhashiro, A.; Toervenyi, A.; Gaudino, S.; Rosamilia, S.; Belli, M.; Turk, G. C.

    2011-01-01

    The determination of mass fraction of toxic elements and especially platinum emitted from automobile catalytic converters in the air is a critical factor in assessing air quality and the potential impact of possible pollutants. Air is in fact one of the main pathways for human exposure to toxic elements. Biomonitors, such as lichen and algae, are examples of environmental samples that have been widely used by the scientific community to assess and monitor the level of environmental pollution. For this purpose, the IAEA-450 algae material containing heavy metals and platinum at low level was prepared by IAEA Seibersdorf Laboratories in collaboration with the Italian National Institute for Environmental Protection—ISPRA (former APAT). During the April meeting in 2009 of the Inorganic Analysis Working Group (IAWG) of the CCQM it was agreed to organize a key comparison K75 for Pt and Ni and a parallel pilot study P118 for As, Cd, Cr, Hg, Ni, Pb and Pt using this algae material. The key comparison CCQM-K75 was successfully organized. The participating NMIs demonstrated a high level of measurement capabilities and technical competence in analysing nickel and platinum at a low level of concentration in environmental samples such as algae. The between-laboratories reproducibility standard deviation for nickel and platinum was 1.9% and 3.6% respectively, which reflects an excellent agreement of between-laboratories measurement results. The ratio between the bias and its expanded uncertainty for nickel and platinum was below 2.0 for all reported results except in one case. This study was a practical demonstration of a CCQM comparison to use the 'core-capabilities' utilized by participants as a mean of providing evidence for Calibration and Measurement Capabilities (CMC) claims for Ni and Pt. Based on this CCQM international key comparison, the measurement capability of the NMIs which participated in the CCQM-K75 has been demonstrated directly for determination of Pt and Ni

  4. STRUKTUR DAN PRODUKSI LEBAH Trigona spp. PADA SARANG BERBENTUK TABUNG DAN BOLA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Putu Ade Hinduari Putra

    2015-12-01

    Full Text Available Lebah tanpa sengat (Trigona spp. dapat menghasilkan madu yang bermanfaat bagi kesehatan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui : (1 morfologi Trigona spp., (2 struktur internal sarang Trigona spp. pada sarang berbentuk tabung dan bola, (3 volume sarang serta perkiraan produksi madu, beebread dan selanakan Trigona spp. pada sarang berbentuk tabung dan bola. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2014. Sampel yang digunakan adalah koloni dan sarang Trigona spp. berbentuk tabung dan bola yang diambil di Desa Padang Tunggal,Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali. Hasil penelitian menunjukan bahwa nama spesies dari sampel koloni Trigona spp. pada sarang berbentuk tabung dan bola adalah Trigona laeviceps. Struktur internal sarang Trigona spp. pada sarang berbentuk tabung dan bola mempunyai pola susunan yaitu pot madu, pot beebread dan pot sel anakan. Volume sarang besar memberikan perkiraan total jumlah produksi madu, beebread dan selanakan lebih banyak dibandingkan volume sarang kecil.

  5. PENGARUH PEMBERIAN HIJAUAN DAN KONSENTRAT MENGANDUNG UREA-KAPUR DAN UBI KAYU TERHADAP PENAMPILAN KAMBING PE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I G. Mahardika

    2015-06-01

    Full Text Available Penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian hijauan dan konsentrat yang mengandung urea-kapur dan ubi kayu terhadap produktivitas kambing. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Ke empat perlakuan yang dicobakan adalah Perlakuan A: ransum dengan 75% konsentrat (mengandung 4% urea, 2% kapur dan 50% ubikayu dan 25% hijauan (40% gamal dan 60% rumput raja, perlakuan B: rasnsum yang terdiri 60% konsentrat 40% hijauan, perlakuan C: ransum dengan 45% konsentrat dan 55% hijauan dan perlakuan D: ransum dengan 30% konsentrat dan 70% hijauan. Hasil penelitian mendapatkan bahwa produktivitas kambing yang mendapat ransum dengan level konsentrat 45% sampai 75% tidak berbeda sedangkan yang mendapat ransum dengan level konsentrat 30% lebih rendah. Ransum yang memebrikan nilai ekonomi tertinggi adalah ransum yang mengandung konsentrat antara 45% sampai 60%.

  6. Bromophenols from Marine Algae with Potential Anti-Diabetic Activities

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    LIN Xiukun; LIU Ming

    2012-01-01

    Marine algae contain various bromophenols with a variety of biological activities,including antimicrobial,anticancer,and anti-diabetic effects.Here,we briefly review the recent progress in researches on the biomaterials from marine algae,emphasizing the relationship between the structure and the potential anti-diabetic applications.Bromophenols from marine algae display their hyperglycemic effects by inhibiting the activities of protein tyrosine phosphatase 1B,α-glucosidase,as well as other mechanisms.

  7. Method and apparatus for iterative lysis and extraction of algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Chew, Geoffrey; Boggs, Tabitha; Dykes, Jr., H. Waite H.; Doherty, Stephen J.

    2015-12-01

    A method and system for processing algae involves the use of an ionic liquid-containing clarified cell lysate to lyse algae cells. The resulting crude cell lysate may be clarified and subsequently used to lyse algae cells. The process may be repeated a number of times before a clarified lysate is separated into lipid and aqueous phases for further processing and/or purification of desired products.

  8. Overall Energy Considerations for Algae Species Comparison and Selection in Algae-to-Fuels Processes

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Link, D.; Kail, B.; Curtis, W.; Tuerk,A.

    2011-01-01

    The controlled growth of microalgae as a feedstock for alternative transportation fuel continues to receive much attention. Microalgae have the characteristics of rapid growth rate, high oil (lipid) content, and ability to be grown in unconventional scenarios. Algae have also been touted as beneficial for CO{sub 2} reuse, as algae can be grown using CO{sub 2} emissions from fossil-based energy generation. Moreover, algae does not compete in the food chain, lessening the 'food versus fuel' debate. Most often, it is assumed that either rapid production rate or high oii content should be the primary factor in algae selection for algae-to-fuels production systems. However, many important characteristics of algae growth and lipid production must be considered for species selection, growth condition, and scale-up. Under light limited, high density, photoautotrophic conditions, the inherent growth rate of an organism does not affect biomass productivity, carbon fixation rate, and energy fixation rate. However, the oil productivity is organism dependent, due to physiological differences in how the organisms allocate captured photons for growth and oil production and due to the differing conditions under which organisms accumulate oils. Therefore, many different factors must be considered when assessing the overall energy efficiency of fuel production for a given algae species. Two species, Chlorella vulgaris and Botryococcus braunii, are popular choices when discussing algae-to-fuels systems. Chlorella is a very robust species, often outcompeting other species in mixed-culture systems, and produces a lipid that is composed primarily of free fatty acids and glycerides. Botryococcus is regarded as a slower growing species, and the lipid that it produces is characterized by high hydrocarbon content, primarily C28-C34 botryococcenes. The difference in growth rates is often considered to be an advantage oiChlorella. However, the total energy captured by each algal

  9. ANALISA DISTRIBUSI PRODUK DENGAN PENDEKATAN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DAN APLIKASI BEER GAME

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Indah Pratiwi

    2007-08-01

    Full Text Available Di dunia industri terutama menyangkut pendistribusian produk saat ini masih sering terdapat bullwhip effect, yaitu adanya simpangan yang jauh antara persediaan yang ada dengan permintaan. Hal ini dikarenakan kesalahan dari interpretasi data permintaan di rantai distribusi dan sistem informasi didalam sistem pendistribusiannya, yang disebabkan kurang terintegrasinya level-level supply chain dalam menyampaikan informasi permintaan dari konsumen ke level atasnya. Hal itu juga yang dialami oleh PT Bangun Indopralon Sukses Cabang Yogyakarta yang merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pendistribusian produk tangki air, pipa PVC, pintu PVC, sambungan, slang air, ember cor, pagar BRC dan talang di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Dimana terdapat masalah pengiriman dengan lead time yang terlalu lama membuat retailer tidak dapat memperhitungkan persediaan ketika melakukan pemesanan. Karena itu terjadi bullwhip effect di 11 retailer untuk pengukuran ω1 pada pengukuran upstream. Untuk melakukan suatu perbaikan dalam proses pendistribusian digunakan konsep Supply Chain Management (SCM, dimana didalamnya tidak hanya membahas mengenai pendistribusian produk saja, tetapi juga mengenai persediaan dan sistem informasi yang mendukung penerapan SCM. Selain itu juga diperlukan suatu peramalan agar perusahaan dapat memprediksi permintaan yang akan datang dimana dalam kasus ini menggunakan metode yang memiliki nilai MAD (Mean Absolute Deviation terkecil. Selain itu juga digunakan aplikasi Beer Game untuk mengidentifikasi adanya bullwhip effect, dan memilih beberapa kebijakan (policy untuk meminimalkan terjadinya bullwhip effect.

  10. Accumulation of 210Po by benthic marine algae

    International Nuclear Information System (INIS)

    The accumulation of polonium 210Po by various species of benthic marine seaweeds collected from 4 different points on the coast of Rio de Janeiro, showed variations by species and algal groups. The highest value found was in red alga, Plocamium brasiliensis followed by other organisms of the same group. In the group of the brown alga, the specie Sargassum stenophylum was outstanding. The Chlorophyta presented the lowest content of 210Po. The algae collected in open sea, revealed greater concentration factors of 210Po than the same species living in bays. The siliceous residue remaining after mineralization of the algae did not interfere with the detection of polonium. (author)

  11. Exploring the potential of using algae in cosmetics.

    Science.gov (United States)

    Wang, Hui-Min David; Chen, Ching-Chun; Huynh, Pauline; Chang, Jo-Shu

    2015-05-01

    The applications of microalgae in cosmetic products have recently received more attention in the treatment of skin problems, such as aging, tanning and pigment disorders. There are also potential uses in the areas of anti-aging, skin-whitening, and pigmentation reduction products. While algae species have already been used in some cosmetic formulations, such as moisturizing and thickening agents, algae remain largely untapped as an asset in this industry due to an apparent lack of utility as a primary active ingredient. This review article focuses on integrating studies on algae pertinent to skin health and beauty, with the purpose of identifying serviceable algae functions in practical cosmetic uses. PMID:25537136

  12. Accumulation of /sup 210/Po by benthic marine algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Gouvea, R.C.; Branco, M.E.C.; Santos, P.L.; Gouvea, V.A.

    1988-08-01

    The accumulation of polonium /sup 210/Po by various species of benthic marine seaweeds collected from 4 different points on the coast of Rio de Janeiro, showed variations by species and algal groups. The highest value found was in red alga, Plocamium brasiliensis followed by other organisms of the same group. In the group of the brown alga, the specie Sargassum stenophylum was outstanding. The Chlorophyta presented the lowest content of /sup 210/Po. The algae collected in open sea, revealed greater concentration factors of /sup 210/Po than the same species living in bays. The siliceous residue remaining after mineralization of the algae did not interfere with the detection of polonium.

  13. Importance of algae oil as a source of biodiesel

    International Nuclear Information System (INIS)

    Algae are the fastest-growing plants in the world. Industrial reactors for algal culture are open ponds, photobioreactors and closed systems. Algae are very important as a biomass source. Algae will some day be competitive as a source for biofuel. Different species of algae may be better suited for different types of fuel. Algae can be grown almost anywhere, even on sewage or salt water, and does not require fertile land or food crops, and processing requires less energy than the algae provides. Algae can be a replacement for oil based fuels, one that is more effective and has no disadvantages. Algae are among the fastest-growing plants in the world, and about 50% of their weight is oil. This lipid oil can be used to make biodiesel for cars, trucks, and airplanes. Microalgae have much faster growth-rates than terrestrial crops. the per unit area yield of oil from algae is estimated to be from 20,000 to 80,000 l per acre, per year; this is 7-31 times greater than the next best crop, palm oil. The lipid and fatty acid contents of microalgae vary in accordance with culture conditions. Most current research on oil extraction is focused on microalgae to produce biodiesel from algal oil. Algal-oil processes into biodiesel as easily as oil derived from land-based crops.

  14. Exploring the potential of using algae in cosmetics.

    Science.gov (United States)

    Wang, Hui-Min David; Chen, Ching-Chun; Huynh, Pauline; Chang, Jo-Shu

    2015-05-01

    The applications of microalgae in cosmetic products have recently received more attention in the treatment of skin problems, such as aging, tanning and pigment disorders. There are also potential uses in the areas of anti-aging, skin-whitening, and pigmentation reduction products. While algae species have already been used in some cosmetic formulations, such as moisturizing and thickening agents, algae remain largely untapped as an asset in this industry due to an apparent lack of utility as a primary active ingredient. This review article focuses on integrating studies on algae pertinent to skin health and beauty, with the purpose of identifying serviceable algae functions in practical cosmetic uses.

  15. Algae Bioreactor Using Submerged Enclosures with Semi-Permeable Membranes

    Science.gov (United States)

    Trent, Jonathan D (Inventor); Gormly, Sherwin J (Inventor); Embaye, Tsegereda N (Inventor); Delzeit, Lance D (Inventor); Flynn, Michael T (Inventor); Liggett, Travis A (Inventor); Buckwalter, Patrick W (Inventor); Baertsch, Robert (Inventor)

    2013-01-01

    Methods for producing hydrocarbons, including oil, by processing algae and/or other micro-organisms in an aquatic environment. Flexible bags (e.g., plastic) with CO.sub.2/O.sub.2 exchange membranes, suspended at a controllable depth in a first liquid (e.g., seawater), receive a second liquid (e.g., liquid effluent from a "dead zone") containing seeds for algae growth. The algae are cultivated and harvested in the bags, after most of the second liquid is removed by forward osmosis through liquid exchange membranes. The algae are removed and processed, and the bags are cleaned and reused.

  16. Method and apparatus for lysing and processing algae

    Science.gov (United States)

    Chew, Geoffrey; Reich, Alton J.; Dykes, Jr., H. Waite H.; Di Salvo, Roberto

    2013-03-05

    Methods and apparatus for processing algae are described in which a hydrophilic ionic liquid is used to lyse algae cells at lower temperatures than existing algae processing methods. A salt or salt solution is used as a separation agent and to remove water from the ionic liquid, allowing the ionic liquid to be reused. The used salt may be dried or concentrated and reused. The relatively low lysis temperatures and recycling of the ionic liquid and salt reduce the environmental impact of the algae processing while providing biofuels and other useful products.

  17. Persepsi Manajer Tentang Pengaruh Total Quality Management Terhadap Kinerja Manajerial Dengan Faktor Kondisional Sebagai Variabel Moderating Pada Perusahaan Daerah Air Minum Tirtanadi Propinsi Sumatera Utara

    OpenAIRE

    Jumirin

    2008-01-01

    Penelitian ini adalah penelitian empiris yang dilakukan pada tahun 2006, yang bertujuan untuk menguji pengaruh interaksi antara total quality management terhadap kinerja manajerial dan sistem pengukuran kinerja, sistem penghargaan dan sistem penetapan tanggungjawab sebagai variabel moderating pada Perusahaan Daerah Air Minum Tirtanadi Propinsi Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survey, dengan sample manajer Perusahaan Daerah Air Minum Tirtanadi seb...

  18. EFIKASI Bacillus thuringiensis H-14 YANG DIBIAKAN DALAM MEDIA KELAPA PADA PENYIMPANAN SUHU KAMAR DAN REFRIGERATOR (SUHU 40C TERHADAP VEKTOR DBD DAN MALARIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lulus Susanti

    2011-12-01

    air kelapa pada suhu 40C dan suhu kamar selama 1 hari. Tujuan penelitian ini untuk menentukan efikasi B. thuringiensis H-14 yang dibiakan dalam berbagai pH media air kelapa pada penyimpanan temperatur kamar dan suhu 40C terhadap vektor DBD dan malaria. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa Bacillus thuringiensis H-14 yang dikembangbiakan pada berbagai pH media air kelapa yang disimpan pada suhu 40C dan suhu kamar berturut-turut membutuhkan konsentrasi sebesar 90 ppm untuk membunuh jentik Ae. aegypti dan 0,64 % untuk membunuh jentik An aconitus sebesar 100 %. Pertumbuhan sel hidup dan spora hidup B.thuringiensis H-14 yang terbanyak dari media yang disimpan pada 40C adalah pada pH 7,5 berturut-turut sebesar 24, x 1011 sel/ml dan 23,9 x 1011 spora/ml, sedangkan dari media yang disimpan pada suhu kamar adalah 27,1 x 1011 sel/ml dan 5,.3 x 1011 spora/ml pada pH 8,5.Hasil uji analisa air kelapa adalah kandungan karbohidrat 1.68%, protein 0.12%, kadar gula reduksinya 1.52%. dan lemak 0.01%, Media air kelapa merupakan media lokal yang potensial bagi pengembangbiakan B. thuringiensis H-14.

  19. Study of air entrainment in high pressure spray: optics diagnostics and application to the Diesel injection; Etude de l'entrainement d'air dans un spray haute pression: diagnostics optiques et application a l'injection diesel

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Arbeau, A.

    2004-12-15

    The actual development of the engine must reply to a will of fuel consumption reduction and to norms more and more strict concerning the pollutant emissions. Although the Diesel engines are efficient, the NO{sub x} and particle emissions mainly come from the existence of wealthy fuel zone preventing an optimal combustion. Therefore, the air / fuel mixing preparation, highly controlled by the air entrainment in spray, is essential. In this context, we have developed metrological tools in order to analyse the air entrainment mechanism in a dense spray. The Particle Image Velocimetry (PIV) technique is first applied to a conical spray with an injection pressure less than 100 bars to study the air entrainment in spray. A transfer of the methodologies allows then the characterisation and the understanding of the air entrainment mechanism in high pressure full spray (injection pressure less than 1600 bars) type Diesel one. The influence of injection parameters (injection pressure and back pressure) on the mixing rate is studied. The increase of the injection pressure from 800 to 1600 bars implies an increase of the mixing rate of 60 %. Moreover, the thermodynamic conditions of the ambient air, simulated by the chamber back pressure, widely favours the mixing rate. Actually, this latter increases of 350 % when the chamber back pressure varies from 1 to 7 bars. The experimental results do not follow classical laws of air entrainment in one-phase flow jet with variable density, but are in good agreement with an integral model for air entrainment in an axisymmetric full spray. Finally, the Fluorescence Particle Image Velocimetry (FPIV) is introduced in order to extend the PIV application field in dense two-phase flows. (author)

  20. Interactions between arsenic species and marine algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Sanders, J.G.

    1978-01-01

    The arsenic concentration and speciation of marine algae varies widely, from 0.4 to 23 ng.mg/sup -1/, with significant differences in both total arsenic content and arsenic speciation occurring between algal classes. The Phaeophyceae contain more arsenic than other algal classes, and a greater proportion of the arsenic is organic. The concentration of inorganic arsenic is fairly constant in macro-algae, and may indicate a maximum level, with the excess being reduced and methylated. Phytoplankton take up As(V) readily, and incorporate a small percentage of it into the cell. The majority of the As(V) is reduced, methylated, and released to the surrounding media. The arsenic speciation in phytoplankton and Valonia also changes when As(V) is added to cultures. Arsenate and phosphate compete for uptake by algal cells. Arsenate inhibits primary production at concentrations as low as 5 ..mu..g.1/sup -1/ when the phosphate concentration is low. The inhibition is competitive. A phosphate enrichment of > 0.3 ..mu..M alleviates this inhibition; however, the As(V) stress causes an increase in the cell's phosphorus requirement. Arsenite is also toxic to phytoplankton at similar concentrations. Methylated arsenic species did not affect cell productivity, even at concentrations of 25 ..mu..g.1/sup -1/. Thus, the methylation of As(V) by the cell produces a stable, non-reactive compound which is nontoxic. The uptake and subsequent reduction and methylation of As(V) is a significant factor in determining the arsenic biogeochemistry of productive systems, and also the effect that the arsenic may have on algal productivity. Therefore, the role of marine algae in determining the arsenic speciation of marine systems cannot be ignored. (ERB)

  1. Corner Office: Google's Dan Clancy

    Science.gov (United States)

    Albanese, Andrew Richard; Oder, Norman

    2009-01-01

    This article presents an interview with Dan Clancy, engineering director for Google Book Search. In this interview, Clancy talks about the pending Google Book Search settlement, involving millions of volumes digitized from libraries, which drew a lawsuit from the Association of American Publishers and the Authors Guild. He also discusses pricing,…

  2. Lõuka tuuliku restaureerimine / Dan Lukas

    Index Scriptorium Estoniae

    Lukas, Dan

    2005-01-01

    Hiiumaal Pühalepa vallas Vahtrepa külas Lõuka talu maadel asuva pukktuuliku ajaloost, restaureerimise käigust. Teostus: Dan Lukas. Muinsuskaitseline järelevalve: Tõnu Sepp, tema kommentaar. Ill.:pukktuuliku lõiked ja korruste plaanid, 7 värv. fotot

  3. Rancang Bangun Turbin Air Sungai Poros Vertikal Tipe Savonius dengan Menggunakan Pemandu Arah Aliran

    OpenAIRE

    Adia Cahya Purnama; Ridho Hantoro; Gunawan Nugroho

    2013-01-01

    Pemanfaatan sumber energi air terutama digunakan sebagai penyedia energi listrik melalui pembangkit listrik tenaga air maupun mikrohidro. Salah satu permasalahan adalah bagaimana memanfaatkan potensi energi aliran air yang relatif kecil. Maka dari itu guna memanfaatkan dan meningkatkan potensi energi aliran air yang relatif kecil diperlukan penelitian. Pemanfaatan energi air pada penelitian ini adalah pemanfaatan energi kinetik aliran air. Energi mekanik yang merupakan transformasi dari energ...

  4. A technical evaluation of biodiesel from vegetable oils vs. algae. Will algae-derived biodiesel perform?

    Science.gov (United States)

    Biodiesel, one of the most prominent renewable alternative fuels, can be derived from a variety of sources including vegetable oils, animal fats and used cooking oils as well as alternative sources such as algae. While issues such as land-use change, food vs. fuel, feedstock availability, and produc...

  5. Documentation of endotoxins present in the ambient air of Quebec textile plants that process cotton fibre : studies and research projects; Documentation des endoxotines presentes dans l'air ambiant des usines textiles du Quebec traitant la fibre de coton : etudes et recherches

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Marchand, G.; Lalonde, M.; Pepin, C.; Beaudet, Y.; Boivin, G.; Villeneuve, S.

    2003-12-01

    Quebec's textile industry employs 33,000 workers across 750 factories that handle cotton fibre. It has been recognized that workers in the textile industry are at risk for pulmonary diseases resulting from endotoxins present in the ambient air of textile plants. This project examined the presence of airborne endotoxins at different stages of cotton fibre processing in four Quebec factories. The objective was to identify the factors that affect the levels of endotoxins. In each factory, ambient air, water and dust samples were analyzed 3 times for all the different processing stages. Despite significant variability, certain processes proved to be major generators of endotoxins. The study suggested an effective tracking method to demonstrate a relationship between endotoxin levels in the air, in materials or in the water of air washers. The results of the tracking method can be used to identify conditions and techniques where levels should be controlled. It was also suggested that the levels of endotoxins may be influenced by the ventilation system and the percentage of recirculated air, the humidity in the air and the maintenance of the HVAC system. 25 refs., 8 tabs., 10 figs.

  6. PENGARUH SUHU DAN TEKANAN UDARA MASUK TERHADAP KINERJA MOTOR DIESEL TIPE 4 JA 1

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rahardjo Tirtoatmodjo

    2000-01-01

    Full Text Available One of the factor that influences optimation of performance of diesel engine is an imperfect combustion in the combustion chamber. To optimize performance of this engine it is necessary to do modification by increasing air temperature and air pressure into combustion chamber. A change of inlet air temperature in the combustion chamber will effect the air density, so will influence the amount of air in the combustion chamber. The increasing air pressure into the combustion chamber will help the mixture to reach its combustion condition faster. So that combustion deceleration, specially in the high rotation speed condition can be avoided. The result of the research showed that the optimal condition can be achieved at the temperature 50°C and the pressure 3 bars. Abstrak in Bahasa Indonesia : Salah satu faktor yang mempengaruhi optimalisasi kinerja pada motor diesel adalah pembakaran kurang sempurna di dalam ruang bakar. Untuk mengoptimalkan kinerja dari motor bakar tersebut dilakukan modifikasi dengan jalan meningkatkan suhu dan tekanan udara masuk ke ruang bakar. Perubahan suhu udara masuk ruang bakar akan berpengaruh terhadap kerapatan udara, sehingga akan mempengaruhi jumlah udara yang masuk ke ruang bakar. Penambahan tekanan pada udara yang masuk ke ruang bakar akan membantu campuran mencapai kondisi pembakaran dengan lebih cepat, sehingga keterlambatan pembakaran, terutama pada kondisi kecepatan putaran yang tinggi dapat dihindari. Hasil penelitian melalui percobaan menunjukkan bahwa kondisi optimal melalui peningkatan suhu dan udara masuk ruang bakar akan dicapai pada 50°C dan tekanan 3 bar. Kata kunci : Modifikasi Motor Diesel

  7. ALGAE AS AN ALTERNATIVE SOURCE OF ENERGY

    OpenAIRE

    Тітлова, О.А.

    2015-01-01

    Today humanity is beginning to understand the consequences of ill-considered use of energy resources. In the last decade  a new direction of the economy is actively developing – «The Blue Economy». Its aim is to find innovative solutions that are safe for the environment and society. Bioenergy is one of the directions of the «Blue Economy» which is actively developing lately. The article discusses the possibility, advisability and examples of the algae use as a feedstock for the energy resour...

  8. Gangguan Fungsi Penghidu dan Pemeriksaannya

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Effy Huriyati

    2014-01-01

    Full Text Available AbstrakLatar belakang: Fungsi penghidu pada manusia memegang peranan penting. Gangguan penghidu dapat mempengaruhi keselamatan dan kualitas hidup seseorang. Tujuan: Untuk mengetahui jenis gangguan penghidu, penyebab gangguan penghidu, dan pemeriksaannya. Tinjauan Pustaka: Gangguan penghidu dapat berupa anosmia yaitu hilangnya kemampuan penghidu, atau hiposmia yaitu berkurangnya kemampuan penghidu. Gangguan penghidu disebabkan gangguan konduksi, gangguan sensoria dan gangguan neural. Penyakit tersering penyebab gangguan penghidu yaitu rinosinusitis kronis, rinitis alergi, infeksi saluran nafas atas dan trauma kepala. Ada beberapa modalitas pemeriksaan kemosensoris fungsi penghidu diantaranya Tes “Sniffin sticks”. Dengan tes „Sniffin sticks” dapat diketahui ambang penghidu, diskriminasi penghidu dan identifikasi penghidu seseorang. Kesimpulan: Gangguan penghidu memerlukan perhatian khusus. Diantara beberapa modalitas pemeriksaan kemosensoris penghidu, tes “Sniffin sticks” mempunyai beberapa kelebihan.Kata kunci: Gangguan penghidu, anosmia, hiposmia, tes “Sniffin sticks”.AbstractBackground: Olfactory function in humans plays an important role. Olfactory disorders can affect the safety and quality of life. Objective: To determine the type of olfactory disorder, the causes of olfactory disorders, and the examination. Literature Review: Olfactory disorder can be not smell anything or anosmia, and reduced of smell or hyposmia. Olfactory disorders caused by conduction disturbances, neural disturbances and sensoris disturbances. Disease that often causes disturbances of olfactory function is, chronic rhinosinusitis, allergic rhinitis, upper respiratory tract infections and head trauma. There are several modalities to examine chemosensoris smelling function, one of them is “Sniffin sticks” test. This test can examine threshold, discrimination, and identification of smelling. Conclusions: Impaired smelling require special attention

  9. PENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KREATIF DAN PRODUKTIF

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rini Ntowe Oya

    2014-01-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan sebagai berikut: (1 mengetahui pelaksanaan model pembelajaran kreatif dan produktif dalam upaya peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa kelas V SDN Bhayangkara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan (2 mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas V SDN Bhayangkara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia setelah menggunakan model pembelajaran kreatif dan produktif. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang  dilaksanakan dalam dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1 pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan model pembelajaran kreatif dan produktif kelas V di SDN Bhayangkara untuk peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa telah terlaksana dan dilakukan dengan tahapan yaitu: (1 tahap orientasi, (2 tahap eksplorasi, (3 tahap interpretasi, (4 tahap rekreasi, dan (5 tahap evaluasi. Hasil lembar observasi menunjukkan bahwa motivasi dan hasil belajar bahasa Indonesia di akhir Siklus II telah mencapai kategori sangat baik yaitu hasil observasi motivasi dan hasil belajar siswa 100%. (2 Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari hasil belajar pada siklus 1 sebanyak 27 siswa atau 87,09% telah memenuhi KKM dan 4 siswa atau 12,91% belum memenuhi KKM. Setelah dilakukan perbaikan hasil belajar siswa pada siklus 2, jumlah siswa yang memenuhi KKM sebanyak 31 siswa atau 100%. Kata kunci: model pembelajaran kreatif dan produktif, motivasi, dan hasil belajar.

  10. KINERJA DAN EFISIENSI BANK PEMERINTAH (BUMN DAN BUSN YANG GO PUBLIK DI INDONESIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sugeng Haryanto

    2012-06-01

    Full Text Available Penelitian ini menganalisis kinerja dan tingkat efisiensi bank-bank BUMN dan BUSN yang go Publik di Bursa Efek Indonesia.  Sample penelitian ini mengambil  tiga bank BUMN Bank BNI 46, Bank Mandiri dan Bank BRI  dan tiga bank BUSN (Bank BCA, Bank Niaga dan Bank Panin dengan periode analisis tahun 2005-2011. Varibael yang digunakan meliputi ROA, ROE, LAR. LDR, NPL dan BOPO. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat dan menganalisis perbedaan kinerja antara Bank BUMN dan BUSN yang go public di Bursa Efek Indonesia tahun 2005-2011.  Pendekatan pengukuran kinerja yang digunakan adalah Return on Asset (ROA, Return on Equity (ROE dan Loan to Deposit Ratio (LDR, Loan to Asset Ratio (LAR,  dan efisiensi bank. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa 1 Bank-bank nasional, baik itu bank BUMN maupun BUSN menunjukkan kinerja yang semakin baik, 2 tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja bank BUMN dan BUSN untuk variabel ROA, ROE, LAR, LDR, dan BOPO sedangkan variabel NPL yang merupakan indikator risiko kredit menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara Bank BUMN dan BUSN

  11. ESTIMASI ALIRAN AIR LINDI TPA BANTAR GEBANG BEKASI MENGGUNAKAN METODA SP

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Syamsu Rosid

    2012-02-01

    Full Text Available Air lindi merupakan limbah sampah organik yang biasanya diproduksi dari sampah rumah tangga. Pencemaran air tanah (groundwater oleh air lindi menjadi ancaman yang serius bagi masyarakat. Penduduk Bantar Gebang, Bekasi merasa terancam kehidupannya dengan adanya tempat pembuangan akhir (TPA sampah yang dikirim dari DKI Jakarta. Beberapa penduduk di sekitar TPA mengeluhkan bahwa air sumurnya agak bau dan tidak lagi terasa segar. Untuk mengetahui seperti apa polusi air lindi yang terjadi, ke arah mana dan sudah sejauh mana sebarannya, dan memetakan daerah resiko tinggi terkena polusi maka telah dilakukan pengukuran geolistrik metoda self potential (SP di sebelah Tenggara dan Selatan daerah TPA Bantar Gebang, Bekasi. Dari data SP diketahui bahwa aliran air tanah bawah permukaan di daerah tersebut berarah Selatan ke Utara. Meskipun lokasi TPA berada di Utara daerah penelitian, limbah air lindi diduga telah mencemari air tanah bawah permukaan hingga radius ratusan meter dari lokasi TPA. Penyebaran air limbah ini  diperkirakan melalui proses osmosis, mekanisme kapilaritas dan proses elektrokinetik.   Kata kunci: air lindi, metoda SP, TPA Bantar Gebang.

  12. Pengaruh Citra Merek dan Reputasi Perusahaan Terhadap Keputusan Pembelian Smartphone Samsung pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

    OpenAIRE

    Tarigan, Roy Marthin

    2015-01-01

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis seberapa besar pengaruh citra merek dan reputasi perusahaan terhadap pengambilan keputusan pembelian smartphone Samsung pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Metode penelitian yang digunakan yakni dengan metode observasi, kuesioner dan studi kepustakaan yang dilakukan secara sistematik berdasarkan tujuan penelit...

  13. The Halogenated Metabolism of Brown Algae (Phaeophyta, Its Biological Importance and Its Environmental Significance

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Stéphane La Barre

    2010-03-01

    Full Text Available Brown algae represent a major component of littoral and sublittoral zones in temperate and subtropical ecosystems. An essential adaptive feature of this independent eukaryotic lineage is the ability to couple oxidative reactions resulting from exposure to sunlight and air with the halogenations of various substrates, thereby addressing various biotic and abiotic stresses i.e., defense against predators, tissue repair, holdfast adhesion, and protection against reactive species generated by oxidative processes. Whereas marine organisms mainly make use of bromine to increase the biological activity of secondary metabolites, some orders of brown algae such as Laminariales have also developed a striking capability to accumulate and to use iodine in physiological adaptations to stress. We review selected aspects of the halogenated metabolism of macrophytic brown algae in the light of the most recent results, which point toward novel functions for iodide accumulation in kelps and the importance of bromination in cell wall modifications and adhesion properties of brown algal propagules. The importance of halogen speciation processes ranges from microbiology to biogeochemistry, through enzymology, cellular biology and ecotoxicology.

  14. EFEK PEMBERIAN KOMBINASI BUAH SIRIH (Piper betle L FRUIT, DAUN MIYANA (Plectranthus scutellarioides (L. R. BR. LEAF, MADU DAN KUNING TELUR TERHADAP PENINGKATAN AKTIVITAS DAN KAPASITAS FAGOSITOSIS SEL MAKROFAG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yun Astuti Nugroho

    2012-11-01

    Full Text Available Latar belakang, kombinasi buah sirih (Piper betle L, daun miyana (Plectranthus scutellarioides (L. R. BR, madu dan kuning telur dimanfaatkan oleh masyarakat Sulawesi Utara untuk mengobati malaria.  Diharapkan kombinasi buah sirih (Piper betle L, daun miyana (Plectranthus scutellarioides (L. R. BR, madu dan kuning telur juga memiliki potensi untuk merangsang respon imun. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi buah sirih (Piper betle L, daun miyana (Plectranthus scutellarioides (L. R. BR, madu dan kuning telur terhadap aktivitas dan kapasitas sel makrofag. Metode, tiga puluh ekor mencit Swiss dibagi ke dalam 5 grup. Grup I mendapatkan air suling, grup II mendapatkan 0,55 mg/20g BB Stimuno. Sementara kelompok perlakuan: grup III sampai V masing-masing mendapatkan  0,07 mL; 0,21 mL; 0,6 mL/20 g BB. Bahan uji diberikan secara oral pada hari pertama sampai dengan ketujuh. Pada hari kedelapan, kepada masing-masing mencit disuntik secara intraperitoneal bakteri Staphylococcus aureus (SA. Aktivitas dan kapasitas sel  makrofag dihitung dari sediaan apus cairan peritoneum dengan menghitung persentase fagosit yang melakukan fagositosis dari 100 fagosit. Kapasitas fagositosis ditetapkan berdasarkan jumlah SA yang difagositosis oleh 50 fagosit aktif. Hasil, aktivitas dan kapasitas sel makrofag meningkat seiring dengan peningkatan dosis kombinasi buah sirih (Piper betle L, daun miyana (Plectranthus scutellarioides (L. R. BR, madu dan kuning telur dibandingkan dengan kontrol negatif. Kata  kunci: Buah sirih, Piper betle L, Makrofag, Fagositosis 

  15. INDUSTRIALISASI DAN TANTANGANNYA PADA SEKTOR PENDIDIKAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Arif Unwanullah

    2015-10-01

    Full Text Available Abstrak: Industrialisasi dan Tantangannya pada Sektor Pendidikan. Sumbangan pendidikan dalam perubahan dan pembangunan masa lalu telah bergeser dengan kemajuan teknoekonomi dan komunikasi. Perubahan yang terjadi telah menggeser tatanan kehidupan dan pandangan masyarakat. Materialisme, kapitalisme, efisiensi, dan efektivitas telah menjadi tujuan dan semangat hidup. Pergeseran pandangan masyarakat telah mengubah pula pandangan keberhasilan dan mutu pendidikan, di mana pendidikan diukur dari keberhasilan dalam keterserapan lulusan dalam dunia kerja, oleh karenanya pendidikan dianalisis dari karakteristik sebagai investasi (capital-investment. Pergeseran makna dan tanggung jawab pendidikan mendorong dunia pendidikan melakukan pembaruan dengan alternatif: membangun pembaruan penalaran warganya menuju pemerdekaan dan pendewasaan, pendidikan dilaksanakan secara komprehensif dan bekerjasama dengan semua pihak secara kemitraan, dan membangun visi pendidikan secara komprehensif dan simultan dengan semua pihak. Kata kunci: perubahan sosial, materialistik, modernisasi dan kapitalis Abstract: Industrialization and its education Sector challenges. Contribution of education has shifted with the progress of technology, economy, and communication. The changes have shifted the society's views. Materialism, capitalism, efficiency, and effectiveness have become of interest and enthusiasm for life. The shift has changed society's view, i.e. the view of success and quality of education, in which education is measured from a rate of the absorption of graduates into labor market, therefore education is analyzed from the characteristics of an investment (capital-investment. A shift in meaning and responsibility of education encourages the education sector to create reformation through these following alternatives: creating new thoughts towards liberation and maturation, implementing education comprehensively and cooperating with all parties in partnership, and creating

  16. D-lactate metabolism in the alga, Chlamydomonas Reinhardtii

    International Nuclear Information System (INIS)

    [14C]D-lactate rapidly accumulates in Chlamydomonas cells under anaerobic conditions from the sugar-phosphate pools which are labeled during photosynthesis with 14CO2. A soluble D-lactate dehydrogenase (30 μmol NADH oxidized/h/mg Chl), which functions only in the direction of pyruvate reduction, has been partially purified and characterized. The D-lactate is reoxidized in Chlamydomonas by a mitochondrial membrane-bound dehydrogenase. This enzyme is known in the plant literature as glycolate dehydrogenase, an enzyme of the oxidative photosynthetic carbon (C2) cycle. This dehydrogenase may be linked to the mitochondrial electron transport chain, although the direct electron acceptor is unknown. Therefore, D-lactate accumulation may be, in part, due to the shut down of electron transport during anaerobiosis. In vivo chase experiments have shown that the D-lactate turns over rapidly when algal cells, which have been grown with air levels of CO2 (0.04%), are returned to aerobic conditions in the light. Such turnover is not observed in cells which had been grown with 1 to 5% CO2. Cells grown with high CO2 have lower levels of glycolate dehydrogenase activity. They are currently using mutants of Chlamydomonas deficient in mitochondrial respiration to study the role of D-lactate oxidation in these algae

  17. DISAIN SISTEM KENDALI MESIN AIR LEAK TEST MENGGUNAKAN SISTEM KENDALI PLC OMRON CJ2M DI HVAC (HEATING, VENTILATING, AND AIR CONDITIONING LINE 6

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Syahril Ardi

    2015-03-01

    Full Text Available Pada proses produksi pembuatan komponen HVAC (Heating, Ventilating, and Air Conditioning dari perusahaan manufaktur di Indonesia, memerlukan proses pengecekan kebocoran pada bagian HVAC. Proses pengecekan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada komponen HVAC yang bocor sebelum dikirim ke pihak pelanggan. Penelitian ini dilakukan untuk membuat system dan alat air leak test. Mesin air leak test ini menggunakan prinsip kerja differential pressure air leak test, yaitu metode yang membandingkan antara tekanan udara yang diberikan ke produk dan master produk. Pada penelitian ini, kami membuat disain mesin air leak test menggunakan sistem kendali berupa air leak tester, PLC, dan HMI. Berdasarkan kondisi dengan kapasitas produksi yang meningkat karena bertambahnya permintaan dari customer, dapat ditanggulangi dengan adanya share loading produksi dari HVAC line 4 ke line baru, yaitu HVAC line 6. Hasil yang didapat dari pengujian deteksi kebocoran produk,didapat nilai parameter kebocoran produk sebesar 2.23 ml/min.

  18. Penentuan Kadar COD (Chemical Oxygen Demand) Pada Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit, Pabrik Karet Dan Domestik

    OpenAIRE

    Nurhasanah

    2009-01-01

    Telah dilakukan penentuan kadar COD pada limbah cair pabrik kelapa sawit, industri karet, dan domestik dengan metode titrimetri. Dari hasil analisa COD diperoleh kadar limbah kelapa sawit sebesar 206,33mg/l, limbah industri karet sebesar 31,74 mg/l, dan limbah domestik sebesar 162,68 mg/l. dimana menurut Standart baku mutu yang telah ditetapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup Nomor: Kep-51/MENLH/10/1995, kadar maksimum COD dalam air limbah industri kelapa sawit sebesar 350 mg/l, dalam indust...

  19. La chitine dans le règne animal

    OpenAIRE

    Jeuniaux, Charles

    1982-01-01

    La chitine, haut polymère linéaire B-1,4 de la N-acétyl-D-glucosamine, est largement utilisée dans le règne animal comme trame organique de structures exosquelettiques et cuticulaires. Une méthode enzymatique, rigoureusement spécifique, permet de déceler la chitine, de mesurer son importance quantitative, et de reconnaître l'existence de liaisons avec d'autres constituants (chitine "masquée" et chitine "libre"). Elle se présente principalement sous forme de microfibrilles (complexes glycopro...

  20. Algae-based oral recombinant vaccines.

    Science.gov (United States)

    Specht, Elizabeth A; Mayfield, Stephen P

    2014-01-01

    Recombinant subunit vaccines are some of the safest and most effective vaccines available, but their high cost and the requirement of advanced medical infrastructure for administration make them impractical for many developing world diseases. Plant-based vaccines have shifted that paradigm by paving the way for recombinant vaccine production at agricultural scale using an edible host. However, enthusiasm for "molecular pharming" in food crops has waned in the last decade due to difficulty in developing transgenic crop plants and concerns of contaminating the food supply. Microalgae could be poised to become the next candidate in recombinant subunit vaccine production, as they present several advantages over terrestrial crop plant-based platforms including scalable and contained growth, rapid transformation, easily obtained stable cell lines, and consistent transgene expression levels. Algae have been shown to accumulate and properly fold several vaccine antigens, and efforts are underway to create recombinant algal fusion proteins that can enhance antigenicity for effective orally delivered vaccines. These approaches have the potential to revolutionize the way subunit vaccines are made and delivered - from costly parenteral administration of purified protein, to an inexpensive oral algae tablet with effective mucosal and systemic immune reactivity. PMID:24596570

  1. Energy from algae using microbial fuel cells

    KAUST Repository

    Velasquez-Orta, Sharon B.

    2009-08-15

    Bioelectricity production froma phytoplankton, Chlorella vulgaris, and a macrophyte, Ulva lactuca was examined in single chamber microbial fuel cells (MFCs). MFCs were fed with the two algae (as powders), obtaining differences in energy recovery, degradation efficiency, and power densities. C. vulgaris produced more energy generation per substrate mass (2.5 kWh/kg), but U. lactuca was degraded more completely over a batch cycle (73±1% COD). Maximum power densities obtained using either single cycle or multiple cycle methods were 0.98 W/m2 (277 W/m3) using C. vulgaris, and 0.76 W/m2 (215 W/m3) using U. lactuca. Polarization curves obtained using a common method of linear sweep voltammetry (LSV) overestimated maximum power densities at a scan rate of 1 mV/s. At 0.1 mV/s, however, the LSV polarization data was in better agreement with single- and multiple-cycle polarization curves. The fingerprints of microbial communities developed in reactors had only 11% similarity to inocula and clustered according to the type of bioprocess used. These results demonstrate that algae can in principle, be used as a renewable source of electricity production in MFCs. © 2009 Wiley Periodicals, Inc.

  2. Algae-based oral recombinant vaccines.

    Science.gov (United States)

    Specht, Elizabeth A; Mayfield, Stephen P

    2014-01-01

    Recombinant subunit vaccines are some of the safest and most effective vaccines available, but their high cost and the requirement of advanced medical infrastructure for administration make them impractical for many developing world diseases. Plant-based vaccines have shifted that paradigm by paving the way for recombinant vaccine production at agricultural scale using an edible host. However, enthusiasm for "molecular pharming" in food crops has waned in the last decade due to difficulty in developing transgenic crop plants and concerns of contaminating the food supply. Microalgae could be poised to become the next candidate in recombinant subunit vaccine production, as they present several advantages over terrestrial crop plant-based platforms including scalable and contained growth, rapid transformation, easily obtained stable cell lines, and consistent transgene expression levels. Algae have been shown to accumulate and properly fold several vaccine antigens, and efforts are underway to create recombinant algal fusion proteins that can enhance antigenicity for effective orally delivered vaccines. These approaches have the potential to revolutionize the way subunit vaccines are made and delivered - from costly parenteral administration of purified protein, to an inexpensive oral algae tablet with effective mucosal and systemic immune reactivity.

  3. Algae-based oral recombinant vaccines

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Elizabeth A Specht

    2014-02-01

    Full Text Available Recombinant subunit vaccines are some of the safest and most effective vaccines available, but their high cost and the requirement of advanced medical infrastructure for administration make them impractical for many developing world diseases. Plant-based vaccines have shifted that paradigm by paving the way for recombinant vaccine production at agricultural scale using an edible host. However, enthusiasm for molecular pharming in food crops has waned in the last decade due to difficulty in developing transgenic crop plants and concerns of contaminating the food supply. Microalgae are poised to become the next candidate in recombinant subunit vaccine production, and they present several advantages over terrestrial crop plant-based platforms including scalable and contained growth, rapid transformation, easily obtained stable cell lines, and consistent transgene expression levels. Algae have been shown to accumulate and properly fold several vaccine antigens, and efforts are underway to create recombinant algal fusion proteins that can enhance antigenicity for effective orally-delivered vaccines. These approaches have the potential to revolutionize the way subunit vaccines are made and delivered – from costly parenteral administration of purified protein, to an inexpensive oral algae tablet with effective mucosal and system immune reactivity.

  4. Analysis of transient flows in gasoline direct injection systems: effects on unsteady air entrainment by the spray; Analyse des ecoulements transitoires dans les systemes d'injection directe essence: effets sur l'entrainement d'air instationnaire du spray

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Delay, G.

    2005-03-15

    The aim of this study is to determine instantaneous liquid flow rate oscillations effect on non stationary air entrainment of an injector conical spray (Gasoline Direct Injection). The tools we use are either experimental or numerical ones. An instantaneous flow rate determination method is used. It is based on pulsated flows physics and only requires the velocity at the centerline of a pipe mounted just before the injector. So, it is possible to 'rebuild' the instantaneous velocity distributions and then to get the instantaneous liquid flow rate (Laser Doppler Anemometry measurements). A mechanical and hydraulics modeling software (AMESim) is necessary to get injector outlet flow rate. Simulations are validated by both 'rebuilding' method results and common rail pressure measurements. Fluorescent Particle Image Velocimetry (FPIV), suited to dense two -phase flows, is used to measure air flow around and inside the conical spray. Velocity measurements close to the spray frontier are used to compute instantaneous air entrainment. Considering droplets momentum exchange with air and thanks to droplets diameters and liquid velocities measurements at the nozzle exit, a transient air entrainment model is proposed according to FPIV measurements. (author)

  5. Epiphytic algae on mosses in the vicinity of Syowa Station, Antarctica

    OpenAIRE

    Shuji, Ohtani

    1986-01-01

    Species composition and abundance of epiphytic algae on mosses growing in the vicinity of Syowa Station were investigated. Moss samples were collected from three localities, East Ongul Island, Mukai Rocks and Langhovde. The epiphytic algae identified in these samples were 23 species in total, 16 of blue-green algae, 4 of diatoms, 3 of green algae. Blue-green algae were more frequently found among these epiphytic algae on mosses in each locality. Among the three localities, Langhovde was the m...

  6. PERTUMBUHAN STEK CABE JAMU (Piper retrofractum. Vahl PADA BERBAGAI CAMPURAN MEDIA TANAM DAN KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH ROOTONE-F

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muhammad Irwan Budianto

    2013-09-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai campuran media tanam dan konsentrasi pemberian zat pengatur tumbuh Rootone F terhadap pertumbuhan stek tanaman cabe jamu (Piper retrofractum Vahl. Penelitian dilakukan di rumah plastik kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura di Desa Telang Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkalan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari -  Mei 2012. Penelitian menggunakan Metode Rancangan Acak Lengkap (RAL Faktorial. Faktor pertama adalah berbagai campuran media tanam yaitu tanah : pasir (1 : 1 (Z1, tanah : pasir : kompos (1 : 1 : 1 (Z2, dan tanah : pasir : 2 kompos (1 : 1 : 2 (Z3, sedagkan faktor yang kedua adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh Rootone-F, terdiri dari 4 taraf yaitu kontrol (S0, 100 ppm (S1, 200 ppm (S2, dan 300 ppm (S3. Bahan yang digunakan adalah stek cabe jamu dari Sulur Panjat, air, media tanah, pasir, kompos, Alkohol 95 % dan zat pengatur tumbuh Rootone F. Hasil pengamatan dianalisis menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan Uji Jarak Duncan (UJD taraf 5%. Perlakuan media Z2 dan Z3 sama-sama memberikan pengaruh terbaik pada variable jumlah ruas, jumlah daun, luas daun, dan biomasa tanaman. Perlakuan pemberian  zat pengatur tumbuh Rootone-F S2 memberikan pengaruh terbaik pada pertambahan jumlah ruas. Sedangkan Kombinasi perlakuan terbaik adalah S3Z2 menunjukkan pengaruh yang paling baik pada pertambahan  panjang akar.Kata kunci: stek cabe jamu, media tanam, Rootone F

  7. Study on the effect of irradiation on algae by proteomics

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Choi, Jong Il; Yoon, Yo Han; Kim, Jae Hun

    2010-06-15

    Algae has been utilized as food material from long time ago, and recently newly recognized as functional materials and the source of bio-fuel. But, the study on the algae is just beginning and the study on protein expression and growth by the change of condition was not reported. In this study, the effect of radiation on the protein expression was investigated for the protection mechanisms and new genome source and furthermore, isolation of new mutant strains. To monitor the growth of algae, absorbance and FDA staining methods were developed and the content of lipid of algae species were measured. With these methods, the radiation sensitivity of algae species was determined. To investigate the proteome of algae, 2D-electrophoresis methods was applied. From the comparison of proteomes, the radiation specific expressed protein was identified as thioredoxin-h and its nucleotide sequences was defined. The expression of thioredoxin-h was further defined on the mRNA level. Also, the extract of algae species was analyzed for its antioxidant activity and polyphenolic content. The changes in antioxidant activity of extract by radiation was investigated. From the radiation experiments, mutant Spirogyra species having higher resistant against radical stress was obtained. The mutant strain has higher antioxidant activity. This results can provide the proteome date and mutation technology of algae and further contribute in the activation of fishery industry and national health enhancement

  8. Study on the effect of irradiation on algae by proteomics

    International Nuclear Information System (INIS)

    Algae has been utilized as food material from long time ago, and recently newly recognized as functional materials and the source of bio-fuel. But, the study on the algae is just beginning and the study on protein expression and growth by the change of condition was not reported. In this study, the effect of radiation on the protein expression was investigated for the protection mechanisms and new genome source and furthermore, isolation of new mutant strains. To monitor the growth of algae, absorbance and FDA staining methods were developed and the content of lipid of algae species were measured. With these methods, the radiation sensitivity of algae species was determined. To investigate the proteome of algae, 2D-electrophoresis methods was applied. From the comparison of proteomes, the radiation specific expressed protein was identified as thioredoxin-h and its nucleotide sequences was defined. The expression of thioredoxin-h was further defined on the mRNA level. Also, the extract of algae species was analyzed for its antioxidant activity and polyphenolic content. The changes in antioxidant activity of extract by radiation was investigated. From the radiation experiments, mutant Spirogyra species having higher resistant against radical stress was obtained. The mutant strain has higher antioxidant activity. This results can provide the proteome date and mutation technology of algae and further contribute in the activation of fishery industry and national health enhancement

  9. The algae biodiesel physical property and spray parameters modeling

    OpenAIRE

    Колодницька, Руслана Віталіївна; Васильєв, Руслан

    2015-01-01

    The modelling of micro-algae biodiesel density, viscosity and surface tension was performed. The spray middle diameters of droplets in diesel engine were counted.   It was shown that the property of algae biodiesel can be compare with  traditional biodiesel based on rapeseed oil.

  10. New Records for the Freshwater Algae of Turkey

    OpenAIRE

    BAYKAL, Tülay; AKBULUT, Aydın; İlkay AÇIKGÖZ

    2009-01-01

    Algae samples were collected from important dam lakes and running waters of the Lower Euphrates Basin. Eighteen new records of Turkish freshwater algae were identified. Among these new records, 5 belong to Cyanophyta, 10 to Chlorophyta, 1 to Xanthophyta, and 2 to Bacillariophyta.

  11. First Case of Osteomyelitis Due to Shewanella algae

    OpenAIRE

    Botelho-Nevers, E.; Gouriet, F.; Rovery, C.; Paris, P.; Roux, V.; Raoult, D.; Brouqui, P.

    2005-01-01

    Shewanella spp. are infrequently recovered from clinical specimens. We report here on the first case of osteomyelitis due to Shewanella algae. This bacterium, at first misidentified by phenotypic tests as Shewanella putrefaciens, was subsequently identified correctly as S. algae by 16S rRNA gene sequence analysis.

  12. Video micrography of algae photomovement and vectorial method of biomonitoring

    Science.gov (United States)

    Posudin, Yuri I.; Massjuk, N. P.; Lilitskaya, G. G.

    1996-01-01

    The simultaneous recording of several photomovement parameters of algae as test-functions during biomonitoring is proposed. Green alga Dunaliella viridis Teod. was used as the test- object for the estimation of different heavy metals. The quantitative changes of photomovement parameters as a criterion of toxicity were determined by means of the vectorial method of biomonitoring.

  13. TRANSFORMASI ORGANISASIONAL DAN MSDM: HAMBATAN DAN IMPLIKASINYA PADA REKRUTMEN DAN SELEKSI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Licen Indahwati Darsono

    2002-01-01

    Full Text Available Rapid change of environment is an external force that causes the organization to transform. Fundamentally, the main purpose of the transformation is to change the organizational structure to be more flexible and competitive with fewer hierarchial levels, managers, and employees. The transformation needs to be radical, causing resistance from the organization's members. Their resistance can cause the transformation to fail, therefore organization must find ways to lessen this resistance. First, organization must learn about the diversity of its members' cultures and values. Second, organization must build its own organizational culture which can support the success of the transformation, by communicating it with the members of the organization. To support organizational culture building efforts, it needs changes in human resources practices, especially recruitment and selection. Abstract in Bahasa Indonesia : Perubahan yang cepat dalam lingkungan merupakan kekuatan eksternal yang mengakibatkan transformasi dalam sebuah organisasi. Pada dasarnya, tujuan utama dari transformasi tersebut adalah merubah struktur organisasi agar menjadi lebih fleksibel dan mampu bersaing, dengan tingkat structural yang sedikit, serta jumlah manajer dan karyawan yang lebih kecil. Transformasi tersebut harus menyeluruh, dan hal ini dapat menyebabkan resistensi dari para anggota organisasi yang memperhambat perubahan tersebut. Resistensi itu bisa menyebabkan perubahan tersebut batal, oleh karena itu organisasi harus mencari jalan untuk mengurangi hambatan-hambatan tersebut. Pertama, organisasi harus belajar keanekaragaman dari budaya dan nilai anggotanya. Kedua, organisasi harus mengembangkan budaya organisasi sendiri melalui komunikasi yang baik dengan anggotanya. Untuk mendukung usaha mengembangkan budaya organisasi, harus ada perubaban pada kebijakan sumber daya manusia, terutama dalam rekrutmen dan seleksi karyawan. Kata kunci: transformasi, resistensi, budaya

  14. Les immigrants dans les regions metropolitaines de recensement au Canada

    OpenAIRE

    Schellenberg, Grant

    2004-01-01

    Dans ce rapport, on examine les facteurs des immigrants dans les regions metropolitaines de recensement (RMR) au Canada, les repercussions sur les services publics offerts dans les regions urbaines et les caracteristiques de l'emploi des immigrants.

  15. Rancang Bangun Permainan Edukasi Matematika dan Fisika dengan Memanfaatkan Accelerometer dan Physics Engine Box2d pada Android

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Putri Nikensasi

    2012-09-01

    Full Text Available Perkembangan industri permainan mobil yang semakin meningkat memotivasi para pengembang permainan mobil untuk membuat inovasi-inovasi terbaru dalam permainannya. Salah satu inovasi tersebut yaitu permainan edukasi, namun saat ini permainan edukasi kurang diminati karena aturan permainannya yang cenderung membosankan. Pengembangan permainan ini ditujukan untuk membuat sebuah permainan mobil edukasi dengan memanfaatkan teknologi mobil terbaru dalam aturan permainannya sehingga permainan tersebut tidak membosankan. Aplikasi yang dikembangkan merupakan aplikasi permainan mobil edukasi yang mengajarkan ilmu matematika dan fisika kepada pemainnya. Teknologi baru yang digunakan dalam permainan ini yaitu accelerometer pada sistem operasi Android yang diintegrasikan dengan Physics Engine Library Box2D. Selain itu, permainan ini dibangun dengan menggunakan Adobe Flash CS5.5 dan bahasa pemrograman Actionscript 3 (AS3 serta Adobe Air sebagai runtime aplikasinya. Uji coba dilakukan dengan menggunakan perangkat Android versi 2.3. Dari uji coba dapat disimpulkan bahwa Adobe Flash CS5.5 dapat digunakan untuk membuat permainan mobil edukasi pada perangkat Android dan mengakses sensor accelerometer-nya.

  16. European inter-comparison of Monte Carlo codes users for the uncertainty calculation of the kerma in air beside a caesium-137 source; Intercomparaison europeenne d'utilisateurs de codes monte carlo pour le calcul d'incertitudes sur le kerma dans l'air aupres d'une source de cesium-137

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    De Carlan, L.; Bordy, J.M.; Gouriou, J. [CEA Saclay, LIST, Laboratoire National Henri Becquerel, Laboratoire de Metrologie de la Dose 91 - Gif-sur-Yvette (France)

    2010-07-01

    Within the frame of the CONRAD European project (Coordination Network for Radiation Dosimetry), and more precisely within a work group paying attention to uncertainty assessment in computational dosimetry and aiming at comparing different approaches, the authors report the simulation of an irradiator containing a caesium 137 source to calculate the kerma in air as well as its uncertainty due to different parameters. They present the problem geometry, recall the studied issues (kerma uncertainty, influence of capsule source, influence of the collimator, influence of the air volume surrounding the source). They indicate the codes which have been used (MNCP, Fluka, Penelope, etc.) and discuss the obtained results for the first issue

  17. KESESUAIAN BERAT BADAN DAN TINGGI BADAN TERHADAP ESTIMASI BERAT BADAN DAN TINGGI BADAN PADA ETNIS MANDAR

    OpenAIRE

    Nurfadilla; Citrakesumasari; Syam, Aminuddin

    2015-01-01

    Data berat badan dan tinggi badan sangat diperlukan dalam penilaian status gizi dan penentuan kebutuhan zat gizi pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui kesesuaian (koefisien korelasi) antara BBA dengan estimasi BB berdasarkan LiLA dan TBA dengan estimasi TB berdasarkan tinggi lutut, dan rentang lengan pada usia dewasa etnis mandar. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif numerik dengan desain cross sectional. Teknik sampling menggunakan systematic random sampling, sebanyak 111 oran...

  18. Bruxims Dan Pengaruhnya Pada Wajah Dan Mulut Anak

    OpenAIRE

    Ringan Mariana Sitepu

    2008-01-01

    Bruxism merupakan salah satu kebiasaan buruk yang dilakukan anak. Kebiasaan ini biasanya dilakukan selama tidur tanpa disadari oleh anak. Suara bising yang ditimbulkan oleh kekuatan grinding biasanya didengar oleh orang tua atau orang yang menemani anak tidur. Awalnya bruxism tidak memberi pengaruh terhadap gigi tetapi selalu menimbulkan sakit kepala dan kelelahan otot pada miofasial ketika bangun tidur pada pagi hari, Rasa sakit pada kepala inilah yang sering dikeluhkan oleh anak pender...

  19. [Marine algae of Baja California Sur, Mexico: nutritional value].

    Science.gov (United States)

    Carrillo Domínguez, Silvia; Casas Valdez, Margarita; Ramos Ramos, Felipe; Pérez-Gil, Fernando; Sánchez Rodríguez, Ignacio

    2002-12-01

    The Baja California Peninsula is one of the richest regions of seaweed resources in México. The objective of this study was to determine the chemical composition of some marine algae species of Baja California Sur, with an economical potential due to their abundance and distribution, and to promote their use as food for human consumption and animal feeding. The algae studied were Green (Ulva spp., Enteromorpha intestinalis, Caulerpa sertularoides, Bryopsis hypnoides), Red (Laurencia johnstonii, Spyridia filamentosa, Hypnea valentiae) and Brown (Sargassum herporizum, S. sinicola, Padina durvillaei, Hydroclathrus clathrathus, Colpomenia sinuosa). The algae were dried and ground before analysis. In general, the results showed that algae had a protein level less than 11%, except L. johnstonii with 18% and low energy content. The ether extract content was lower than 1%. However, the algae were a good source of carbohydrates and inorganic matter. PMID:12868282

  20. Algae Farming in Low Earth Orbit: Past Present and Future

    Science.gov (United States)

    Morrison, N.

    Algal strains used as a production engine represent a novel example of living mechanical systems with tremendous potential for applications in space. Algae use photosynthesis to create lipids, glycerin, and biomass, with different strains of algae producing different oils. Algae can be grown to produce many types of oils, with low, medium or long hydrocarbon chain lengths. This article examines the history of algae research, as well as its value to astronauts as both a food supplement and as an oxygen production and carbon sequester engine. Consideration is given to ways algae is currently being used and tested in space, followed by a look forward envisioning dynamic living technological systems that can help to sustain our race as we travel the void between stars.

  1. Studi Biblika Dan Teologis Surat 2 Petrus Pasal 3

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Eliezer Lewis

    2014-10-01

    Full Text Available Pengajaran yang benar tentang Kedatangan Kristus yang kedua kali sangat penting agar umat Allah tetap setia menanti kedatangan Kristus yang kedua kali. Kemunculan guru-guru palsu yang memberikan pengajaran yang tidak benar yang dialami oleh gereja mula-mula, menjadi pembelajaran bagi gereja masa kini. Ajaran guru-guru palsu berkaitan dengan adanya penolakan terhadap firman Allah, penolakan terhadap keilahian Kristus, dan penolakan terhadap kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Secara biblika, Surat 2 Petrus 3 mengajarkan tentang penciptaan dan peristiwa air bah. Secara teologis surat ini menekankan tentang Kedatangan Kristus yang kedua kali, langit baru dan bumi baru, keselamatan untuk hidup yang kekal dan Alkitab sebagai firman Allah yang berotoritas.Kata-kata kunci: guru-guru palsu, Kedatangan Kristus kedua kali, penciptaan, pengajaran KristenCorrect teaching concerning the Second Coming of Christ is essential so that the Church is faithful in waiting for Jesus Christ’s return. The emergence of false teachers which was experienced by the early church serves as a lesson for the contemporary church. The teaching of the false teachers is related to rejection of the Word of God, the rejection of the divinity of Christ, and the rejection of theteaching about the Second Coming of Christ. From a biblical point of view, 2 Peter 3 teaches about creation and the flood. Theologically, this letter emphasizes the Second Coming of Christ, a new heaven and earth, salvation that leads to eternal life, and the Bible as the authoritative Word of God. Keywords: false teachers, the Second Coming of Christ, creation, Christian teaching

  2. PERBEDAAN KUALITAS TIDUR DAN KUALITAS MIMPI ANTARA MAHASISWA LAKI-LAKI DAN MAHASISWA PEREMPUAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fuad Nashori, R. Rachmy Diana R. Rachmy Diana

    2012-11-01

    Full Text Available AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas tidur dan kualitas mimpiantara mahasiswa pria dan mahasiswa wanita. Hipotesis yang diajukan adalah (a adaperbedaan kualitas tidur antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan,mahasiswawanita memiliki kualitas tidur yang lebih tinggi dibanding mahasiswa laki-laki, dan (b adaperbedaan kualitas mimpi antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan, mahasiswawanita memiliki kualitas mimpi yang lebih tinggi dibanding mahasiswa laki-laki.Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Kualitas Tidur danSkala Kualitas Mimpi. Alat ukur Skala Kualitas Tidur dan Skala Kualitas Mimpidirumuskan berdasarkan teori kualitas tidur yang disusun oleh penulis. Subjek penelitian iniadalah 319 mahasiswa Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, yang berasal dari delapanfakultas (psikologi, kedokteran, matematika dan ilmu pengetahuan, teknologi industri, teksniksipil dan perencanaan, ilmu agama islam, hukum, dan ekonomi.Hasil penelitian menunjukkan (a ada perbedaan kualitas tidur antara mahasiswa priadan wanita; mahasiswa wanita memiliki kualitas tidur yang lebih tinggi dibanding mahasiswalaki-laki, dan (b tidak ada perbedaan kualitas mimpi antara mahasiswa pria dan wanita.Kata kunci:    kualitas tidur, kualitas mimpi, jenis kelamin

  3. Dayak Punan: Eksploitasi Gaharu dan Ancaman Subsistensi

    OpenAIRE

    Marahalim Siagian

    2009-01-01

    Studi lapangan ini melihat subsistensi masyarakat Dayak Punan di interior hutan Kalimantan Timur (Kaltim) yang terisolasi, di mana gaharu (Aquilaria becacariana) merupakan hasil hutan utama yang diperdagangkan dan merupakan produk yang terintegrasi dengan pasar internasional. Tingginya harga dan permintaan pasar menyebabkan gaharu terus dieksploitasi. Akibat eksploitasi gaharu yang terus-menerus, gaharu menjadi sangat langka dan pencaharian Punan mulai terancam. ker-jul2006- (1)

  4. Des paysans dans la jungle

    OpenAIRE

    Krauskopff, Gisèle

    2003-01-01

    Cet article décrit les techniques de piégeage au filet utilisées par les Tharu. paysans qui vivent dans la forêt paludéenne du Terai. La chasse, comme la pêche, se pratique sans effusion de sang. Lorsqu'ils s'adressent aux esprits de la malemort, responsables de la plupart des maladies, les prêtres utilisent des techniques rituelles différentes selon la « catégorie du paysage » à laquelle les esprits sont associés, site habité ou forêt. « Dans la forêt », le prêtre, installé sur ses ma...

  5. Violence dans l’appareil

    OpenAIRE

    Bégin, Richard

    2008-01-01

    Dans une communauté médiatique comme la nôtre, de plus en plus fondée sur l’accessibilité de l’information (Youtube), l’économie des télé-réalités (Loft Story) et les diverses marques d’authenticité (Facebook), l’image s’échange et se monnaie davantage qu’elle ne se manifeste et ne se révèle à l’esprit. En d’autres termes, l’image dans l’hypermodernité occidentale perd constamment de sa force évocatrice au “profit” des seuls pouvoirs de la représentation et de la communication. L’image ainsi ...

  6. KOMPLIKASI, PENCEGAHAN DAN PENANGANAN EKSTRAVASASI AGEN KEMOTERAPI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I G A Mirah K

    2012-12-01

    Full Text Available Ekstravasasi agen kemoterapi ke jaringan sekitarnya merupakan kecelakaan yangdapat menyebabkan kerusakan jaringan progresif ireversibel dalam hitungan jamsampai hari. Manifestasi klinis ekstravasasi berupa nyeri, edema, eritema, danindurasi yang kemudian berkembang menjadi ulkus dan eschar hitam dankerusakan jaringan yang mendasarinya. Pencegahan terjadinya ekstravasasi dapatdilakukan dengan menggunakan pembuluh darah yang paten dan dengan aliranyang cepat dan tetap memperhatikan keluhan yang disampaikan pasien. Setiaptenaga kesehatan yang akan menangani pasien kanker dengan kemoterapi, dituntutmemiliki pengetahuan mengenai ekstravasasi agen kemoterapi yang bergunadalam meningkatkan pelayanan pada pasien dan mengurangi morbiditas.

  7. Snow algae in an ice core drilled on Grigoriev Ice cap in the Kyrgyz Tien Shen Mountains

    Science.gov (United States)

    Honda, M.; Takeuchi, N.; Sera, S.; Fujita, K.; Okamoto, S.; Naoki, K.; Aizen, V. B.

    2012-12-01

    .6 x 103μm3 mL-1 (mean: 56μm3 mL-1 ), the unicellular cyanobacterium varied from 0.0 to 3.0 x 104μm3 mL-1 (mean: 1.2 x 103μm3 mL-1 ), and Green algae varied from 0.0 to 2.3 x 104μm3 mL-1 (mean: 2.2 x 103μm3 mL-1 ). Based on the dating by pollen grains, the 64 m core covers 237 years. The results suggest that the snow algae did not grow every year on the top of the ice cap, and their biomass and community structure varied greatly from year to year. The total biomass after the 1960s was significantly higher than those before the 1950s. This suggested suggests that the surface conditions changed more favorable to the growth of algae in the 1960s. Annal variation of the algal biomass was found to be significantly correlated with air temperature at the nearest observing station from Grigoriev the iIce cap and hydrogen stable isotope (δD) in the ice core. The results suggest that the algal growth is more preferable in warmer year.

  8. Subcellular Sequestration and Impact of Heavy Metals on the Ultrastructure and Physiology of the Multicellular Freshwater Alga Desmidium swartzii

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ancuela Andosch

    2015-05-01

    Full Text Available Due to modern life with increasing traffic, industrial production and agricultural practices, high amounts of heavy metals enter ecosystems and pollute soil and water. As a result, metals can be accumulated in plants and particularly in algae inhabiting peat bogs of low pH and high air humidity. In the present study, we investigated the impact and intracellular targets of aluminum, copper, cadmium, chromium VI and zinc on the filamentous green alga Desmidium swartzii, which is an important biomass producer in acid peat bogs. By means of transmission electron microscopy (TEM and electron energy loss spectroscopy (EELS it is shown that all metals examined are taken up into Desmidium readily, where they are sequestered in cell walls and/or intracellular compartments. They cause effects on cell ultrastructure to different degrees and additionally disturb photosynthetic activity and biomass production. Our study shows a clear correlation between toxicity of a metal and the ability of the algae to compartmentalize it intracellularly. Cadmium and chromium, which are not compartmentalized, exert the most toxic effects. In addition, this study shows that the filamentous alga Desmidium reacts more sensitively to aluminum and zinc when compared to its unicellular relative Micrasterias, indicating a severe threat to the ecosystem.

  9. Air Pollution

    Science.gov (United States)

    Air pollution is a mixture of solid particles and gases in the air. Car emissions, chemicals from factories, dust, pollen and ... Ozone, a gas, is a major part of air pollution in cities. When ozone forms air pollution, ...

  10. Fermentation of algae sludge. Fermentering av algeslam

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Hanssen, J.F. (Norges Landbrugshoegskole, Aas (NO). Mikrobiologisk institutt)

    1989-01-01

    Marine brown algae are used for production of alginate. In Norway Protan A/S, Drammen harvest Laminaria sp. and Ascophyllum nodosum along the Norwegian western coast for production of alginate. About 160000 tons fresh weight per year are harvested. The amount of precipitation and flotation sludges from the alginate production is estimated to 14000 ton dry weight per year. The sludges from the alginate production contain a high fraction of organic matter (75-80 % VS). Since the sludges from the alginic acid extraction process are considered as bulky wastes with a high pollution load a research programme on anaerobic digestion of these residues has been started. Preliminary results have shown that the sludges can be digested with a high yield of methane (0.15-0.30 m{sup 3}/kg VS added).

  11. The economics of producing biodiesel from algae

    International Nuclear Information System (INIS)

    Biodiesel is an alternative fuel for conventional diesel that is made from natural plant oils, animal fats, and waste cooking oils. This paper discusses the economics of producing biodiesel fuel from algae grown in open ponds. There is potential for large-scale production of biodiesel from algal farms on non-arable land; however, previous studies have failed to demonstrate an economically viable process that could be scalable to a commercialized industry. The problems include inconsistent and insufficient algal productivities, uncertain capital and operating costs, volatile market prices and unknown levels of government support. Although intensive work is being done on many technological issues, the economic studies and data are incomplete and out of date. This paper presents an updated financial analysis of the production and economic conditions that could have a profound effect on the success of this important alternative fuel production process. (author)

  12. High-fidelity phototaxis in biflagellate algae

    Science.gov (United States)

    Leptos, Kyriacos; Chioccioli, Maurizio; Furlan, Silvano; Pesci, Adriana; Goldstein, Raymond

    2015-11-01

    The single-cell alga Chlamydomonas reinhardtii is a motile biflagellate that can swim towards light for its photosynthetic requirements, a behavior referred to as phototaxis. The cell responds upon light stimulation through its rudimentary eye - the eyespot - by changing the beating amplitude of its two flagella accordingly - a process called the photoresponse. All this occurs in a coordinated fashion as Chlamydomonas spins about its body axis while swimming, thus experiencing oscillating intensities of light. We use high-speed video microscopy to measure the flagellar dynamics of the photoresponse on immobilized cells and interpret the results with a mathematical model of adaptation similar to that used previously for Volvox. These results are incorporated into a model of phototactic steering to yield trajectories that are compared to those obtained by three-dimensional tracking. Implications of these results for the evolution of multicellularity in the Volvocales are discussed.

  13. An algae-covered alligator rests warily

    Science.gov (United States)

    2000-01-01

    An algae-covered alligator keeps a wary eye open as it rests in one of the ponds at Kennedy Space Center. American alligators feed and rest in the water, and lay their eggs in dens they dig into the banks. The young alligators spend their first several weeks in these dens. The Center shares a boundary with the Merritt Island National Wildlife Refuge, which encompasses 92,000 acres that are a habitat for more than 331 species of birds, 31 mammals, 117 fishes, and 65 amphibians and reptiles. The marshes and open water of the refuge provide wintering areas for 23 species of migratory waterfowl, as well as a year-round home for great blue herons, great egrets, wood storks, cormorants, brown pelicans and other species of marsh and shore birds, as well as a variety of insects.

  14. CATFISH KECIL UNIK, Corydoras sp. UNTUK AKUARIUM, TINGKAH LAKU BIOLOGI DAN REPRODUKSINYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Darti Satyani

    2008-12-01

    Full Text Available Corydoras sp. termasuk dalam familia Collichthyidae, kelas Siluridae dan sangat dikenal olah para hobiis ikan hias air tawar. Genus Corydoras yang berasal dari Amerika Selatan ini mempunyai banyak spesies tetapi yang banyak beredar dan sudah dibudidayakan ada 10 spesies yaitu C. aeneus, C. adolfoi, C. barbatus, C. paleatus, C. panda, C. pygmaeus, C. rabauti, C. septentrionalis, C. sterbai, dan C. sychri. Selain ukurannya yang umumnya kecil (maksimum 7,5 cm dibandingkan dengan jenis catfish lain, jenis ini mempunyai dua baris sisik keras. Bentuk badannya kompak agak pipih ke samping dengan mulut menghadap ke bawah. Hidup merayap di dasar pada suhu 24°C--28°C (tergantung spesiesnya; pH 7,0--7,5; dan hardness sekitar 10° dH. Disebut “tukang bersih-bersih” karena senang membersihkan dinding akuarium dengan mulutnya. Tingkah laku reproduksinya amat unik. Sebelum ovulasi induk betina akan menempatkan mulutnya kearah genital induk jantan yang dikenal dengan “posisi T” dan akan mengisap spermanya. Sperma ini akan dilepas melewati usus bersama dengan lepasnya telur kedalam “kantong” yang dibentuk oleh kedua sirip perutnya. Pembuahan efektif terjadi di sini. Kemudian telur akan dilekatkan ke substrat atau objek (daun, batu datar, dan sebagainya yang sebelumnya telah dibersihkan oleh induk jantannya. Telur yang ditinggalkan akan menetas di substrat bila kondisi airnya sesuai dan cukup baik.

  15. EFEK PENAMBAHAN KAFEIN, HEPARIN DAN CALSIUM IONOPHORE TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS SEMEN KAMBING BOER HASIL PEMISAHAN KROMOSOM X DAN Y

    OpenAIRE

    Sutomo Syawal, S.Pt.

    2005-01-01

    Tujuan penelitian ini yaitu untuk membandingkan kualitas semen kabing Boer hasil pemisahan kromosom X dan Y dengan penambahan kafein, heparin dan calsium ionophore. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 3 x 6 dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah medium pemisah (10% dan 30%), faktor kedua penambahan kafein (0,1,2 dan 4 mM/L), heparin (0,1,2 dan 4 IU/mL) dan calsium ionophore (0,0,1,0,2 dan 0,4 mm/L ) dan faktor ketiga adalah lama penyimpanan (1...

  16. ANALISIS KARAKTERISTIK PENGARUH SUHU DAN KONTAMINAN TERHADAP VISKOSITAS OLI MENGGUNAKAN ROTARY VISCOMETER

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hardiyatul Maulida, Erika Rani

    2012-03-01

    Full Text Available Pada zat cair, ukuran partikel menentukan tingkat kekentalan (viskositas dari cairan itu sendiri.  Perbedaan  viskositas  pada  zat  cair  menunjukkan  fungsi  zat  cair  tersebut.  Contohnya viskositas air lebih rendah dari pada oli, hal itu menyebabkan air dapat dikonsumsi dan oli tidak. Masing-masing oli juga mempunyai viskositas berbeda  sesuai dengan fungsi oli dan mesin yang digunakan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengetahui oli yang viskositasnya lebih cepat menurun pada saat suhu yang  diberikan semakin tinggi, serta mengetahui oli yang baik menurut peneltian tersebut.  Hasil  yang didapatkan dari  penelitian  pengaruh suhu terhadap viskositas  oli adalah persamaan eksponensial untuk oli bensin yaitu oli A (y = 1196.e-0.06x, oli B (y = 1169.e-0.06x, oli C (y = 919.7e-0.04x. Oli diesel yaitu oli D (y = 522.9e-0.05x, oli E (y = 1125.e-0.04x, dan oli F (y = 849.9e-0.04x. Sedangkan untuk oli samping yaitu oli G (y = 908.7e-0.05x, oli H (y = 653.8e-0.05x, dan oli I (y = 925.7e-0.06x. Berdasarkan grafik yang didapatkan dari data hasil penelitian dapat diketahui bahwa oli yang lebih cepat encer ketika dipanaskan hingga suhu 800C adalah oli B (untuk oli bensin, oli D (untuk oli Diesel, dan oli H (untuk oli samping. Adapun oli yang baik adalah oli C (untuk oli bensin, oli E (untuk oli diesel, dan oli G (untuk oli samping.

  17. Comparaison des effets des irradiations γ, X et UV dans les fibres optiques

    Science.gov (United States)

    Girard, S.; Ouerdane, Y.; Baggio, J.; Boukenter, A.; Meunier, J.-P.; Leray, J.-L.

    2005-06-01

    Les fibres optiques présentent de nombreux avantages incitant à les intégrer dans des applications devant résister aux environnements radiatifs associés aux domaines civil, spatial ou militaire. Cependant, leur exposition à un rayonnement entraîne la création de défauts ponctuels dans la silice amorphe pure ou dopée qui constitue les différentes parties de la fibre optique. Ces défauts causent, en particulier, une augmentation transitoire de l'atténuation linéique des fibres optiques responsable de la dégradation voire de la perte du signal propagé dans celles-ci. Dans cet article, nous comparons les effets de deux types d'irradiation: une impulsion X et une dose γ cumulée. Les effets de ces irradiations sont ensuite comparés avec ceux induits par une insolation ultraviolette (244 nm) sur les propriétés d'absorption des fibres optiques. Nous montrons qu'il existe des similitudes entre ces différentes excitations et qu'il est possible, sous certaines conditions, d'utiliser celles-ci afin d'évaluer la capacité de certaines fibres optiques à fonctionner dans un environnement nucléaire donné.

  18. Isoprenoid biosynthesis in eukaryotic phototrophs: A spotlight on algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Lohr M.; Schwender J.; Polle, J. E. W.

    2012-04-01

    Isoprenoids are one of the largest groups of natural compounds and have a variety of important functions in the primary metabolism of land plants and algae. In recent years, our understanding of the numerous facets of isoprenoid metabolism in land plants has been rapidly increasing, while knowledge on the metabolic network of isoprenoids in algae still lags behind. Here, current views on the biochemistry and genetics of the core isoprenoid metabolism in land plants and in the major algal phyla are compared and some of the most pressing open questions are highlighted. Based on the different evolutionary histories of the various groups of eukaryotic phototrophs, we discuss the distribution and regulation of the mevalonate (MVA) and the methylerythritol phosphate (MEP) pathways in land plants and algae and the potential consequences of the loss of the MVA pathway in groups such as the green algae. For the prenyltransferases, serving as gatekeepers to the various branches of terpenoid biosynthesis in land plants and algae, we explore the minimal inventory necessary for the formation of primary isoprenoids and present a preliminary analysis of their occurrence and phylogeny in algae with primary and secondary plastids. The review concludes with some perspectives on genetic engineering of the isoprenoid metabolism in algae.

  19. La simplicité dans la vie

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    王沫涵

    2011-01-01

    Il para(i)t qu'il n'y a plus de choses simples dans la vie.On ne peut pas se lever sans radioréveil;on ne peut pas prendre le petit déjeuner sans réfrigérateur ni four à micro-onde;on ne peut pas suivre un cours sans projecteur,ou bien sans didacticiel;on ne peut pas écrire sans ordinateur,et encore,on ne peut pas s'endormir sans berceuse é1ectronique.On ne peut pas remercier quelqu'un sans cadeau précieux.Un garcon ne peut pas avoir le coeur de sa petite amie sans lui offri 999 roses.Une femme ne veut passe marier avec un homme sans voiture ni maison.Une mère ne peut pas élever un enfant sans remède ni recette compliqués,ou bien sans jouet animé.Le monde ne peut pas acquérir la paix sans force de dissuasion nucléaire.

  20. Analisa Efisiensi Water Tube Boiler Berbahan Bakar Fiber dan Cangkang di Palm Oil Mill Dengan Kapasitas 45 Ton TBS/Jam

    OpenAIRE

    Batubara, Pesulima

    2015-01-01

    Beberapa faktor yang mempengaruhi efisiensi boiler adalah tekanan superheater, temperatur air umpan, temperatur uap, jumlah uap yang dihasilkan, jumlah konsumsi bahan bakar, dan nilai kalor pembakaran bahan bakar. Penggunaan software chemicallogic steamtab companion untuk menghitung nilai enthalpy. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan hubungan variasi tekanan superheater dengan efisiensi boiler, hubungan variasi suhu air umpan dengan efisiensi boiler, hubungan variasi jumlah uap yang...

  1. Pemanfaatan Biji Asam Jawa (TamarindusIndica sebagai Koagulan Alternatif dalam Proses Menurunkan Kadar COD dan BOD dengan Studi Kasus pada Limbah Cair Industri Tempe

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gary Intan Ramadhani

    2013-03-01

    Full Text Available Biji asam jawa yang selama ini jarang dimanfaatkan perlu dikembangkan lebih lanjut untuk pengolahan limbah cair yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.  Kandungan polisakarida dalam biji asam jawa (Tamarindus Indica merupakan koagulan alami yang terbukti cukup efektif dalam peningkatan kualitas air limbah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh biji asam jawa sebagai koagulan pada limbah cair industri tempe sehingga diperoleh hasil yang optimum. Adapun yang dimaksud dengan hasil optimum yaitu dengan tercapainya penurunan kadar COD, BOD, dan TSS pada limbah cair yang digunakan sesuai dengan baku mutu dan kondisi yang tidak membahayakan lingkungan. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah pH, TSS, kadar COD dan BOD dengan membandingkan dari tiap-tiap variasi. Variabel penelitian yang digunakan adalah pemberian dosis biji asam jawa sebagai koagulan dengan variasi (500, 1500, 2500, 3500 mg/l, kecepatan putaran pada proses koagulasi-flokulasi dan lama pengadukan lambat (flokulasi. Pada penelitian ini, terdapat korelasi antara dosis koagulan dan kecepatan pengadukan yang diberikan terhadap efisiensi penurunan kadar BOD, COD dan TSS. Dosis optimum yang diperoleh yaitu 1500 mg/l limbah. Sedangkan hasil optimum diperoleh pada kecepatan koagulasi 180 rpm selama 1 menit dan flokulasi 80 rpm dengan lama waktu pengadukan 45 menit.

  2. Uptake of technetium by marine algae: autoradiographic localization

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Bonotto, S.; Nuyts, G.; Robbrecht, V.; Cogneau, M.; Ben, D. van der

    1988-02-01

    The uptake of technetium (sup(95m)Tc) by marine algae was localized by autoradiography. In the brown (Ascophyllum nodosum, Fucus spiralis and F. vesiculosus) as well as in the red (Porphyra umbilicalis) species, the distribution of technetium was heterogeneous, this radioelement being mostly accumulated in the parts of the plant which bear reproductive cells or which contain young tissues. Since brown algae have high concentration factors, they could constitute an important link in the transfer of technetium through the food chain. On the contrary, the edible alga Porphyra umbilicalis shows a very low incorporation of technetium.

  3. Algae Technology for Reduction of Atmospheric CO2 Concentrations

    International Nuclear Information System (INIS)

    After a short overview about the climate situation with regard to CO2, the physiology of photosynthesis will be explained in nonprofessional's style using algae as an example. The photosynthesis products and their conversions into valuable materials for human nutrition or into base substances for diverse industries will be described. Furthermore, I will introduce the state of the art on current scientific projects aiming to improve algae productivity and for the synthesis of therapeutically medicinal proteins. A highly productive algae facility will be introduced including its integration in an energy concept.(author)

  4. Dinitrogen fixation by blue-green algae from paddy fields

    International Nuclear Information System (INIS)

    Recent work using radioactive nitrogen on the blue-green algae of paddy fields has been reviewed. These algae fix dinitrogen and photoassimilate carbon evolving oxygen, thereby augmenting nitrogen and carbon status of the soil and also providing oxygen to the water-logged rice paddies. Further studies using radioactive isotopes 13N, 24Na and 22Na on their nitrogen fixation, nitrogen assimilation pathways; regulation of nitrogenase, heterocysts production and sporulation and sodium transport and metabolism have been carried out and reported. The field application of blue green algae for N2 fixation was found to increase the status of soil nitrogen and yield of paddy. (M.G.B.)

  5. Shewanella alga bacteremia in two patients with lower leg ulcers

    DEFF Research Database (Denmark)

    Domínguez, H.; Vogel, Birte Fonnesbech; Gram, Lone;

    1996-01-01

    The first Danish cases of Shewanella alga bacteremia in two patients with chronic lower leg ulcers are reported. Both patients were admitted to the hospital during the same month of a very warm summer and had been exposed to the same marine environment, thereby suggesting the same source of infec......The first Danish cases of Shewanella alga bacteremia in two patients with chronic lower leg ulcers are reported. Both patients were admitted to the hospital during the same month of a very warm summer and had been exposed to the same marine environment, thereby suggesting the same source......'Etoile, France), but further genetic and physiological analyses identified them as Shewanella alga....

  6. Photobiological hydrogen production with switchable photosystem-II designer algae

    Science.gov (United States)

    Lee, James Weifu

    2014-02-18

    A process for enhanced photobiological H.sub.2 production using transgenic alga. The process includes inducing exogenous genes in a transgenic alga by manipulating selected environmental factors. In one embodiment inducing production of an exogenous gene uncouples H.sub.2 production from existing mechanisms that would downregulate H.sub.2 production in the absence of the exogenous gene. In other embodiments inducing an exogenous gene triggers a cascade of metabolic changes that increase H.sub.2 production. In some embodiments the transgenic alga are rendered non-regenerative by inducing exogenous transgenes for proton channel polypeptides that are targeted to specific algal membranes.

  7. Propagation and Dissolution of CO2 bubbles in Algae Photo-bioreactors

    Science.gov (United States)

    Kosaraju, Srinivas

    2015-11-01

    Research grade photo-bioreactors are used to study and cultivate different algal species for biofuel production. In an attempt to study the growth properties of a local algal species in rain water, a custom made bioreactor is designed and being tested. Bio-algae consumes dissolved CO2 in water and during its growth cycle, the consumed CO2 must be replenished. Conventional methods use supply of air or CO2 bubbles in the growth medium. The propagation and dissolution of the bubbles, however, are strongly dependent on the design parameters of the photo-bioreactor. In this paper, we discuss the numerical modeling of the air and CO2 bubble propagation and dissolution in the photo-bioreactor. Using the results the bioreactor design will be modified for maximum productivity.

  8. ANALISIS TINGKAT KEPUASAN DAN HARAPAN PASEN TERHADAP PELAYANAN PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT DAERAH PROVINSI DIY

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sunarto Sunarto

    2010-10-01

    Full Text Available Kepuasan merupakan perasaan seseorang mengenai kesenangan atau kekecewaan sebagai hasil membandingkan antara kinerja dan harapan. Jumlah kunjungan Puskesmas tahun 2007 sebesar 3.094.027 pasien yang terdiri dari 3.076442 rawat jalan dan 17.585 rawat inap. Penelitian untuk mengentahui gambaran tingkat kepuasan dan untuk mengetahui perbedaan tingkat kepuasan dan harapan pasien yang mendapatkan pelayanan Puskemas dan rumah sakit menurut wilayah Kabupatet / Kota di Propinsi DIY Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan rancangan cros sectional. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuisioner dengan 35 item pernyataan yang diambil dari atribut-atribut SERVQUAL dalam 5 dimensi. Total sampel untuk lima Kabupaten Kota sebanyak 1000, masing-masing Kabupaten Kota 200. Penelitian ini dilakukan terhadap pasien yang menerima pelayanan kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit Daerah di Kabupaten-Kota Daerah Istimewa Yogyakarta. Penilaian tingkat kepuasan pasien ketika mereka berobat ke Puskesmas dan Rumah Sakit di Propinsi DIY, dengan menggunakan skala O sampai 4. Hasilnya adalah dimensi tangibles, rata-rata kepuasan pasien (2,96 cukup dan harapan pasien (3,38 pada dimensi reliability, rata-rata kepuasan pasien (3,01 bagus dan harapan pasien (3,40. Pada dimensi responsiveness, rata-rata kepuasan pa-sien (3,07 bagus dan harapan pasien (3,42. Dimensi assurance, rata-rata kepuasan pasien (3, 1 0 bagus dan harapan pasien (3 ,42. pada dimensi emphaty, rata-rata kepuasan pasien (3,02 bagus dan harapan pasien (3,35. Hasil uji statistik didapatkan nilai p > 0.05, berarti pada alpha 5%, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat kepuasan diantara kelima wilayah kabupaten/kota di DIY. Penilaian tingkat kepuasan pasien, ketika mereka berkunjung ke Puskesmas dan Rumah Sakit di DIY secara rata-rata bagus dan tidak ada perbedaan tingkat kepuasan menurut wilayah Kabupaten-Kota di Propinsi DIY. Kata Kunci : Kepuasan, harapan

  9. Pengaruh Variasi Temperatur Hidrotermal Pada Sintesis Lithium Mangan Oksida (Limn2o4) Spinel Terhadap Efisiensi Adsorpsi Dan Desorpsi Ion Lithium Dari Lumpur Sidoarjo

    OpenAIRE

    Yusuf Kurniawan; Lukman Noerochim

    2014-01-01

    Perkembangan teknologi dalam bidang material menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir.Salah satu material yang sangat dibutuhkan dalam berbagai aplikasi adalah lithium. Lithium sendiri bisa didapatkan dari air laut brines dan geothermal fluid. Salah satunya adalah Lumpur Sidoarjo. Lithium Mangan Oksida Spinel digunakan sebagai material absorben karena murah, tidak beracun dan mudah didapatkan. Pada penelitian ini metode hidrotermal digunakan sebagai metode sint...

  10. Perubahan suhu transisi kaca dan massa resin akrilik heat cured akibat kelembaban dan lama penyimpanan (Changes in glass transition temperature and heat cured acrylic resin mass due to moisture and storage time

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sherman Salim

    2014-09-01

    Full Text Available Background: Acrylic resins, especially poly methyl methacrylate (PMMA was introduced in 1937. Acrylic resin has favorable properties, among others, aesthetic, color and texture similar to that of the gingival aesthetic in the mouth, relatively low water absorption and dimensional changes. However, some studies suggest that the duration of storage of acrylic resin will affect the changes in the glass transition temperature and the mass of acrylic resin. Purpose: The objective of this research was to study the effect of humidity and storage time led to changes in the glass transition temperature and the mass of the acrylic resin. Methods: The research method is experimental laboratory. Acrylic resin specimens are kept in conditions of humidity of 90%, 70%, 40% and 30% for 24 hours, one week, one month and two months. In this study used three methods of curing, namely conventional JIs, 24-hour curing at 70 °C and using the microwave. Results: Low humidity causes changes in the glass transition temperature and the mass of acrylic resin. Longer storage of acrylic resins in low humidity, can affect change greater than the glass transition temperature and the mass of acrylic resin. Conclusion: It can be concluded that the humidity and longer storage of acrylic resins can affect the glass transition temperature and a change in mass.Latar belakang: Resin akrilik terutama poli metil metakrilat (PMMA telah diperkenalkan pada tahun 1937. Resin akrilik memiliki sifat yang menguntungkan antara lain estetis, warna dan tekstur mirip dengan gingiva sehingga estetik di dalam mulut baik, daya serap air relatif rendah dan perubahan dimensi kecil. Akan tetapi, dari beberapa penelitian menyatakan bahwa lamanya waktu penyimpanan resin akrilik akan berpengaruh pada perubahan suhu transisi kaca dan massa resin akrilik. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh kelembaban dan waktu penyimpanan yang menyebabkan perubahan suhu transisi kaca dan

  11. Dhenggung Asmarandana dan Dhegung Banten: Sebuah Komparasi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Teguh -

    2013-11-01

    Full Text Available The Comparation of Dhenggung Asmarandana and Dhegung Banten. Penelitian ini membahas perbandinganantara gending Dhenggung Asmaradana gaya Surakarta dengan gending Dhegung Banten gaya Yogyakarta.Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa kedua gending memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaankeduanya terletak pada laras, pathet, bentuk gendhing, struktur gendhing, serta balungan gending. Sedangkanperbedaannya hanya pada nama dan garap tabuhan bonang.

  12. A survey of Marine Algae and Seagrasses of İstanbul, (Turkey)

    OpenAIRE

    Aysel, V.; Erduğan, H.; Dural, B.; Okudan, E.Ş.

    2008-01-01

    Abstract In this research, have been studied marine algae in the upper infralittoral zone of the Bosphorus coasts of İstanbul (including Bosphorus) . A total of 244 taxon have been determined. 11 of them belong to blue-green bacteria (Cyanophyta), 127 to red algae (Rhodophyta), 46 to brown algae (Heterokontophyta), 60 to green algae (Chlorophyta) and 2 to flowering plants (Tracheophyta).

  13. Nyamuk Vektor Malaria dan Hubungannya Dengan Aktivitas Kehidupan Manusia Di Indonesia

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Amrul Munif

    2009-12-01

    Full Text Available Nyamuk merupakan organisme hidup yang tersebar di berbagai penjuru dunia, yang sebagian besar dapat merugikan bagi kehidupan manusia karena perannya dapat menyebar luaskan penyakit menular (penyakit tular vektor diantaranya malaria, demam berdarah, radang otak hencephalitis, filaria, chikungunya. Tidak semua spesies nyamuk betina dapat berperan sebagai penular penyakit hanya beberapa saja diantaranya genus Anopheles, culex, Aedes dan Mansonia. Penyakit penting yang dapat ditularkan oleh keempat genus tersebut adalah malaria, filaria, demam berdarah dan Japanese encephalitis. Tujuan dari penulisan ini mengkaji sejahu mana nyamuk Anopheles dapat menimbulkan masalah kesehatan masyarakat serta sebarannya yang terkait dengan aktivitas kehidupan manusia di Indonesia. Berbagai aktivitas manusia dapat memberikan kontribusi terhadap tempat perkembangbiakan bagi kehidupan nyamuk, apabila tempat-tempat tersebut tidak terawat /terkontrol dengan baik. Hal ini akan memberikan kerugian bagi manusia sendiri, karena populasi nyamuk bertambah memberi peluang kontak gigitan nyamuk terhadap manusia. Spesies nyamuk vektor tertentu mempunyai kaitan erat dengan aktivitas kehidupan manusia dari mulai pengelolaan lahan sawah, tambak ikan, perkebunan, peternakan, menampung air sampai pembuangan air limbah rumah tangga akan memberikan peluang nyamuk untuk berkembangbiak. Pada umumnya vektor malaria di Indonesia mempunyai sifat perilaku zoofilik dan sedikit antropofilik yang berbeda pada setiap daerah endemis, dan bersifat eksofagik, eksofilik berbeda pula sebagai parameter entomologi kesehatan.

  14. PENDUGAAN EROSI DAN PERENCANAAN KONSERVASI TANAH DAN AIR PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI OTAN KABUPATEN TABANAN

    OpenAIRE

    TATIEK KUSMAWATI

    2012-01-01

    Erosion Prediction and Planning of Soil Water Conservation at Otan Watershed, Tabanan Regency The aims of this research was to predict the erosion and planning of soil and water conservation when the erosion is more than tolerable erosion. The USLE (Universal Soil Loss Equation) was used to predict erosion and planning of soil and water conservation. The result showed that the erosion level in this area was varied from very slight to very severe. The lowest erosion was on land unit 11 a...

  15. Penentuan Kadar Air Pada Cake Brownies Dan Roti Two In One Nenas Dan Es

    OpenAIRE

    Saragih, Indah Pratiwi

    2011-01-01

    In indonesia, food industry is growing rapidly and product various kinds of snack foods and beverages. With technological advances, the food industry produces snacks such as bread, cake (sponge). By using raw materials of carbohydrate, fats, protein, produced must have the value of good nutrition to support health. To know the nutritional value is one of them by analyzing the water content of the product. Analyzed the water content made in kinds of snack foods such as Brownies and bread Two I...

  16. Effects of elevated CO2 on sensitivity of six species of algae and interspecific competition of three species of algae

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    2006-01-01

    Effects of elevated CO2 (5000 μl/L) on sensitivity comparison of six species of algae and interspecific competition of three species of algae were investigated. The results showed that, the cell densities of six species of algae grown in elevated CO2significantly increased compared to those in ambient CO2 (360 μl/L), and with the time prolonged, the increasing extent increased.Therefore, elevated CO2 can promote the growth of six species of algae. However, there were differences in sensitivity between six species of algae. Based on the effects of elevated CO2 on biomass, the sensitive order (from high to low) was Platymanas sp.,Platymanas subcordiformis, Nitzschia closterium, Isochrysis galbana Parke 8701, Dunaliella salina, Chlorella sp., on the condition of solitary cultivation. Compared to ambient CO2, elevated CO2 promoted the growth of three species of algae, Platymanas subcordiformis, Nitzschia closterium and Isochrysis galbana Parke 8701 under the condition of mixed cultivation. The sensitivity of the three species to elevated CO2 in mixed cultivation changed a lot compared to the condition of solitary cultivation. When grown in elevated CO2 under the condition of mixed cultivation, the sensitive order from high to low were Nitzschia clostertium, Platymonas subcordiformis and Isochrysis galbana Parke 8701. However, under the condition of solitary cultivation, the sensitive order in elevated CO2 was Isochrysis galbana Parke 8701, Nitzschia clostertium, Platymonas subcordiformis, from sensitive to less sensitive. On the day 21, the dominant algae, the sub-dominant algae and inferior algae grown in elevated CO2 did not change. However, the population increasing dynamic and composition proportion of three algal species have significantly changed.

  17. PEMERIKSAAN KADAR AIR, WAKTU HANCUR, DAN MIKROBIOLOGI JAMU MADURA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lestari Handayani

    2012-10-01

    Full Text Available The research on Madura traditional medicine (Jamu Madura especially woman reproductive remedies was carried out to find out the quality of the 'jamu". Fourteen "jamu" were collected from fourteen industries located in Bangkalan, Sampang, Pamekasan and Sumenep regencies. Eight powder preparations were examined concerning with organoleptic, water content and microbiological contamination Six pill preparations (dry and wet were examined for organoleptic, soluble time and microbiologic test.The result showed that all samples fulfilled the water content, soluble time and microbiological test with the exception of three pills. Two out of three pill remedies were contaminated by patological bacteries. A remedy was found that the total plate count bacterial number was bigger than standard. Those conditions might be caused by incorrect procedure or unhygienic production, inadequate packaging or storing. This study recommended the Ministry of Health to supervise and control the traditional medicine industri more frequent than before. To improve the knowledge and skill of traditional medicine industry personnel, training on production process and quality control should be conducted. These efforts might improve the quality of traditional medicine industry products in order to protect the consumers from side effect of the remedies.   Keywords: Traditional medicine - Jamu Madura -quality

  18. PERUBAHAN, KEBUDAYAAN, DAN AGAMA: PERSPEKTIF ANTROPOLOGI KEKUASAAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wa Ode Sifatu

    2015-06-01

    Full Text Available Perubahan, kebudayaan, dan agama, merupakan temayang menarik untuk dikaji secara antropologis mengingatmasyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRImerupakan masyarakat majemuk dalam segala aspekkehidupan. Bagaimana perubahan, kebudayaan, dan agamamenjadi sumber konflik dalam kehidupan berasyarakat diIndonesia. Tulisan ini menelusuri kedudukan perubahan,kekuasaan, dan agama melalui penelusuran kepustakaanuntuk memahami nilai analitis yang bersifat heuristikdalam konteks antropologi kekuasaan.Sejak keberadaan manusia di muka bumi,manusia selalu bertanya tentang asal-usul keberadaannya,kehidupannya, dan keberadaannya nanti setelah kematian.Manusia berupaya menjawab pertanyaan tersebutmelalui berbagai cara di antaranya melalui agama danilmu pengetahuan. Namun agama menyediakan surgadan neraka, serta ilmu pengetahuan melahirkan berbagaikemudahan dan efek samping yang menimbulkan kerugianbagi manusia sehingga manusia selalu diselimuti olehperasaan takut. Dalam kondisi seperti itu, banyak pihakyang karena kekuasaannya mengklaim kelompoknyasebagai ahli surga sedangkan kelompok lain adalah ahlineraka.

  19. Sterol composition of the Adriatic Sea algae Ulva lactuca, Codium dichotomum, Cystoseira adriatica and Fucus virsoides

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    RADOMIR KAPETANOVIC

    2005-12-01

    Full Text Available The sterol composition of two green algae and two brown algae from the South Adriatic was determined. In the green alga Ulva lactuca, the principal sterols were cholesterol and isofucosterol. In the brown alga Cystoseira adriatica, the main sterols were cholesterol and stigmast-5-en-3ß-ol, while the characteristic sterol of the brown algae, fucosterol, was found only in low concentration. The sterol fractions of the green alga Codium dichotomum and the brown alga Fucus virsoides contained practically only one sterol each, comprising more than 90 % of the total sterols (clerosterol in the former and fucosterol in the latter.

  20. AlgaeEconomics: bio-economic production models of micro-algae and downstream processing to produce bio energy carriers

    OpenAIRE

    Spruijt, J.; Schipperus, R.; Kootstra, A.M.J.; de Visser

    2015-01-01

    This report describes results of work carried out within the EnAlgae project to describe production costs and identify the variables that have most effect in determining future cost prices so that R&D can be focussed on these issues. This has been done by making use of pilots within the EnAlgae consortium and by describing the process in Excel models that have been spread among and discussed with stakeholders active in the field of commercial algae production. The expectation is that this...

  1. DETERMINAN TRUE DISCOUNT DAN MARKET REACTIONS PENAWARAN SAHAM

    OpenAIRE

    Muniya Alteza

    2013-01-01

    Abstrak: Determinan True Discount dan Market Reactions Penawaran Saham. Penelitian ini bertujuan menguji beberapa variabel sebagai determinan initial return penawaran saham perdana. Initial return dihitung dalam dua komponen, true discount dan market reaction. Determinan true discount dan market reactions dipilih berdasarkan hipotesis asimetri informasi dan hipotesis aftermarket liquidity. Total sampel yang dikumpulkan mencakup 40 penawaran saham perdana periode 2005-2008. Teknik analisis dat...

  2. Application of synthetic biology in cyanobacteria and algae

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bo eWang

    2012-09-01

    Full Text Available Cyanobacteria and algae are becoming increasingly attractive cell factories for producing renewable biofuels and chemicals due to their ability to capture solar energy and CO2 and their relatively simple genetic background for genetic manipulation. Increasing research efforts from the synthetic biology approach have been made in recent years to modify cyanobacteria and algae for various biotechnological applications. In the article, we critically review recent progresses in developing genetic tools for characterizing or manipulating cyanobacteria and algae, the applications of genetically modified strains for synthesizing renewable products such as biofuels and chemicals. In addition, the emergent challenges in the development and application of synthetic biology for cyanobacteria and algae are also discussed.

  3. Chemical examination of the Red alga Acanthophora spicifera

    Digital Repository Service at National Institute of Oceanography (India)

    Wahidullah, S.; Kamat, S.Y.

    Analyses of petroleum ether and chloroform extracts of the marine alga Acanthophora spicifera exhibiting antifertility activity led to the isolation of sterols and fatty acids as well as the rare dipeptides aurantiamides. All the compounds were...

  4. Kalaärimeeste kohus algas venitamisega / Hindrek Riikoja

    Index Scriptorium Estoniae

    Riikoja, Hindrek

    2007-01-01

    Harju maakohtus algas kohtuprotsess veterinaar- ja toiduameti endise asejuhi Vladimir Razumovski väidetava altkäemaksuvõtmise üle, kus on süüdistavaid eraisikuid ja ettevõtjaid. Lisa: Kes on kohtu all?

  5. Glycolipids from the red alga Chondria armata (Kutz.) Okamura

    Digital Repository Service at National Institute of Oceanography (India)

    Al-Fadhli, A.; Wahidullah, S.; DeSouza, L.

    Three distinct fractions containing polar glycolipids (PF1–3) were isolated from the chloroform soluble fraction of crude methanolic extract of red alga Chondria armata (Kütz.) Okamura on gel chromatography over Sephadex LH20. Their structure...

  6. Colourful Cultures: Classroom Experiments with the Unicellular Alga Haematococcus pluvialis.

    Science.gov (United States)

    Delpech, Roger

    2001-01-01

    Describes an investigation into the photosynthetic potential of the different developmental stages of the green unicellular alga Haematococcus pluvialis. Reviews the biotechnological applications of astaxanthin, the red pigment which can be extracted from Haematococcus pluvialis. (Author/MM)

  7. Evaluation of filamentous green algae as feedstocks for biofuel production.

    Science.gov (United States)

    Zhang, Wei; Zhao, Yonggang; Cui, Binjie; Wang, Hui; Liu, Tianzhong

    2016-11-01

    Compared with unicellular microalgae, filamentous algae have high resistance to grazer-predation and low-cost recovery in large-scale production. Green algae, as the most diverse group of algae, included numerous filamentous genera and species. In this study, records of filamentous genera and species in green algae were firstly censused and classified. Then, seven filamentous strains subordinated in different genera were cultivated in bubbled-column to investigate their growth rate and energy molecular (lipid and starch) capacity. Four strains including Stigeoclonium sp., Oedogonium nodulosum, Hormidium sp. and Zygnema extenue were screened out due to their robust growth. And they all could accumulate triacylglycerols and starch in their biomass, but with different capacity. After nitrogen starvation, Hormidium sp. and Oedogonium nodulosum respectively exhibited high capacity of lipid (45.38% in dry weight) and starch (46.19% in dry weight) accumulation, which could be of high potential as feedstocks for biodiesel and bioethanol production. PMID:27598569

  8. Bicarbonate produced from carbon capture for algae culture.

    Science.gov (United States)

    Chi, Zhanyou; O'Fallon, James V; Chen, Shulin

    2011-11-01

    Using captured CO(2) to grow microalgae is limited by the high cost of CO(2) capture and transportation, as well as significant CO(2) loss during algae culture. Moreover, algae grow poorly at night, but CO(2) cannot be temporarily stored until sunrise. To address these challenges, we discuss a process where CO(2) is captured as bicarbonate and used as feedstock for algae culture, and the carbonate regenerated by the culture process is used as an absorbent to capture more CO(2). This process would significantly reduce carbon capture costs because it does not require additional energy for carbonate regeneration. Furthermore, not only would transport of the aqueous bicarbonate solution cost less than for that of compressed CO(2), but using bicarbonate would also provide a superior alternative for CO(2) delivery to an algae culture system.

  9. Pengujian Parameter Biji Sorghum dan Pengaruh Analisa Total Asam Laktat dan pH pada Tepung Sorghum Terfermentasi Menggunakan Baker’s Yeast (Saccharomyces Cereviceae

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Amelinda Angelina

    2013-09-01

    Full Text Available Sorghum, Sorghum bicolor (L Moench, adalah sereal paling penting kelima setelah beras, jagung, barley dan gandum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan substitusi biji sorghum terhadap tepung terigu bisa mencapai 50-75%, walaupun nilai protein pembentuk glutennya tidak dapat menyamai tepung terigu. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh waktu fermentasi terhadap penurunan total asam laktat, nilai pH, dan jumlah total khamir (baker’s yeast tanpa menggunakan nutrient kimia tambahan . Analisa komposisi biji sorghum yang diinvestigasi dalam keadaan wet basis dari laboratorium menghasilkan kadar air, lemak, serat, protein, karbohidrat, dan abu masing-masing sebesar 12.85%, 3.10%, 0.56%, 5.87%, 75.82%, dan 1.79%. Untuk nilai energi total dengan metode bomb kalori didapatkan 4375.94 kcal/kg. Pengujian biji sorghum menghasilkan C-organik sebesar 12,47%. Berdasarkan analisa didapatkan hasil optimal dalam membuat tepung sorghum terfermentasi pada proses fermentasi 60 jam dengan jumlah yeast yang dihasilkan 1,7 x 105 sel/ml dengan kondisi yield % asam laktat 0,214%.

  10. Hubungan Sanitasi Lingkungan Rumah dengan Kejadian Askariasis dan Trikuriasis pada Siswa SD N 29 Purus Padang

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hildya Kusmi

    2015-09-01

    Full Text Available Abstrak Prevalensi infeksi kecacingan masih tinggi terutama pada anak usia sekolah dasar. Cacing yang sering menginfeksi yaitu Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura. Infeksi ini erat kaitannya dengan masalah lingkungan, perilaku manusia dan manipulasi terhadap lingkungan. Tujuan penelitian adalah menentukan hubungan sanitasi lingkungan rumah yaitu kepemilikan jamban keluarga yang sehat, ketersediaan sumber air bersih, sarana pembuangan sampah dan jenis lantai rumah dengan kejadian askariasis dan trikuriasis. Ini adalah penelitian analitikdengan desain cross-sectional study. Jumlah populasi sebanyak 71 orang dengan jumlah subjek sebanyak 55 orang.Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan tinja dan kuesioner. Metode analisis data menggunakan uji chisquare.Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase infeksi kecacinganpada siswa SD Negeri 29 Purus Padang adalah 38%, terdiri dari; infeksi Ascaris lumbricoides (33%, Trichuris trichiura (9,1% dan infeksi kedua spesies (3,6%. Hasil uji chi-square menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara kepemilikan jamban keluarga, ketersediaan sumber air bersih, kepemilikan sarana pembuangan sampah dan jenis lantai rumah dengan angka kejadian askariasis dan trikuriasis (p > 0,05. Masih tingginya infeksi kecacingan pada siswa sekolah dasar perluperhatian yang lebih baik misalnya diadakannya program pemberantasan kecacingan baik oleh sekolah maupun petugas kesehatan setempat.Kata kunci: infeksi kecacingan, sanitasi lingkungan, askariasis, trikuriasis Abstract Prevalence of worms infestation is still high, especially found among children at the elementary school age. Type of worms that often infect are Ascaris lumbricoides and Trichuris trichiura. The infection is  related to envi ronment issues, human behavior and manipulation of the environment.  The objective of this study was to determine the relationship between environmental sanitation of home, consist of latrine ownership, availability of

  11. Calculating the global contribution of coralline algae to carbon burial

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    L. H. van der Heijden

    2015-05-01

    Full Text Available The ongoing increase in anthropogenic carbon dioxide (CO2 emissions is changing the global marine environment and is causing warming and acidification of the oceans. Reduction of CO2 to a sustainable level is required to avoid further marine change. Many studies investigate the potential of marine carbon sinks (e.g. seagrass to mitigate anthropogenic emissions, however, information on storage by coralline algae and the beds they create is scant. Calcifying photosynthetic organisms, including coralline algae, can act as a CO2 sink via photosynthesis and CaCO3 dissolution and act as a CO2 source during respiration and CaCO3 production on short-term time scales. Long-term carbon storage potential might come from the accumulation of coralline algae deposits over geological time scales. Here, the carbon storage potential of coralline algae is assessed using meta-analysis of their global organic and inorganic carbon production and the processes involved in this metabolism. Organic and inorganic production were estimated at 330 g C m−2 yr−1 and 880 g CaCO3 m−2 yr−1 respectively giving global organic/inorganic C production of 0.7/1.8 × 109 t C yr−1. Calcium carbonate production by free-living/crustose coralline algae (CCA corresponded to a sediment accretion of 70/450 mm kyr−1. Using this potential carbon storage by coralline algae, the global production of free-living algae/CCA was 0.4/1.2 × 109 t C yr−1 suggesting a total potential carbon sink of 1.6 × 109 t C yr−1. Coralline algae therefore have production rates similar to mangroves, saltmarshes and seagrasses representing an as yet unquantified but significant carbon store, however, further empirical investigations are needed to determine the dynamics and stability of that store.

  12. Green algae Chlamydomonas reinhardtii possess endogenous sialylated N-glycans

    OpenAIRE

    Mamedov, Tarlan; Yusibov, Vidadi

    2011-01-01

    Green algae have a great potential as biofactories for the production of proteins. Chlamydomonas reinhardtii, a representative of eukaryotic microalgae, has been extensively used as a model organism to study light-induced gene expression, chloroplast biogenesis, photosynthesis, light perception, cell–cell recognition, and cell cycle control. However, little is known about the glycosylation machinery and N-linked glycan structures of green algae. In this study, we performed mass spectrometry a...

  13. MORPHOLOGICAL ANATOMICAL AND PHITOCHEMICAL CHARACTERISTICS OF SOME ALGAE

    OpenAIRE

    N. S. Kaysheva; M. N. Arkhipova; A. S. Kayshev

    2014-01-01

    Morphological and anatomical features of thalluses of brown (Laminaria saccharina, Fucus vesiculosus) and red (Ahnfeltia plicata) algae, procured at a coastal strip of the Northern basin in gulfs of Ura-Guba and Palkina-Guba at different depths. Compliance of Fucus and Ahnfeltia with pharmacopoeial norms and merchandising indices for Laminaria was established, except for high concentration of sand in Ahnfeltia thalluses. The identity of algae between each other was shown based on the results ...

  14. Homogeneity of Danish Environmental and Clinical Isolates of Shewanella algae

    OpenAIRE

    Vogel, Birte Fonnesbech; Holt, Hanne Marie; Gerner-Smidt, Peter; Bundvad, Anemone; Søgaard, Per; Gram, Lone

    2000-01-01

    Danish isolates of Shewanella algae constituted by whole-cell protein profiling a very homogeneous group, and no clear distinction was seen between strains from the marine environment and strains of clinical origin. Although variation between all strains was observed by ribotyping and random amplified polymorphic DNA analysis, no clonal relationship between infective strains was found. From several patients, clonally identical strains of S. algae were reisolated up to 8 months after the prima...

  15. Molecular Characterization of Epiphytic Bacterial Communities on Charophycean Green Algae

    OpenAIRE

    Fisher, Madeline M.; Wilcox, Lee W.; Linda E Graham

    1998-01-01

    Epiphytic bacterial communities within the sheath material of three filamentous green algae, Desmidium grevillii, Hyalotheca dissiliens, and Spondylosium pulchrum (class Charophyceae, order Zygnematales), collected from a Sphagnum bog were characterized by PCR amplification, cloning, and sequencing of 16S ribosomal DNA. A total of 20 partial sequences and nine different sequence types were obtained, and one sequence type was recovered from the bacterial communities on all three algae. By phyl...

  16. Removal of nutrients by algae from municipal wastewater contaminated with heavy metals

    OpenAIRE

    Aryal, Bigyan

    2015-01-01

    Selected species of algae (green algae and blue green algae) were cultivated in municipal wastewater using PBR (photo-bioreactor) bottles. Uptake of nutrients by these algae species was measured on different dates. From the results of the experiments, it was observed that a combination of certain blue green algae species (cyanobacteria) was able to remove most of the nutrients from the wastewater. The presence of heavy metal ions in the wastewater also affected the nutrient-absorbing capacit...

  17. THE ALGAE OF LITTORAL SALT MARSHES OF THE MOLOCHNIY LIMAN LEFT BANK

    OpenAIRE

    Yaroviy S.O.; Solonenko A.M.; Yarovaya T.A.

    2011-01-01

    Data on algae floristic spectrum of coastal salt marshes of the left bank of Molochny liman were presented. Thealgae diversity was presented by four compartments: Cyanophyta, Chlorophyta, Bacillariophyta, and Xanthophyta. Theregistered algae belong to 15 orders, 20 families, and 27 genera. The Cyanophyta algae were the dominant in exploredsalt marshes, counted 56% from total discovered species. The schematic algae structure of left bank salt marshes ofMolochniy liman was performed, some algae...

  18. Macro-economics of algae products : Output WP2A7.02

    OpenAIRE

    Voort, van der, R.; Vulsteke, E.; de Visser

    2015-01-01

    This report is part of the EnAlgae Workpackage 2, Action 7, directed at the economics of algae production. The goal of this report is to highlight potential markets for algae. Per type of algae market the market size, product alternatives, constraints and prices are highlighted. Based on these market characteristics a conclusion is drawn on the market potential for algae products. Per market desk research is done and literature is consulted to create a reliable market outlook.

  19. POLIKULTUR RAJUNGAN (Portunus pelagicus, UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei , IKAN BANDENG (Chanos chanos, DAN RUMPUT LAUT (Gracilaria sp. DI TAMBAK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Suharyanto Suharyanto

    2008-12-01

    Full Text Available Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data dan informasi tentang sintasan dan produksi rajungan, udang vaname, ikan bandeng, dan rumput laut yang dipelihara secara polikultur di tambak. Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Tambak Percobaan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Marana-Maros selama 105 hari. Tambak yang digunakan berukuran 25 m x 10 m/250 m2 dengan kedalaman 100 cm. Rajungan yang ditebar berukuran bobot 0,05 g sebanyak 500 ind., udang vaname dengan bobot 0,009 g sebanyak 1.000 ind., ikan bandeng berbobot 25 g sebanyak 50 ind., sedangkan rumput laut sebanyak 25 kg. Selama pemeliharaan diberikan pakan ikan rucah (Clupea sp. dengan dosis 15% dari total biomass per hari. Sampling dilakukan pada awal dan akhir percobaan. Data yang diperoleh dibahas secara deskriptif. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sintasan dan produksi rajungan masing-masing adalah 32,6% (18 kg, udang vaname 70% (10 kg, ikan bandeng 100% (30 kg, dan rumput laut 125% (36,25 kg.

  20. AKUMULASI LISTRIK STATIS PADA GELAS PLASTIK PRODUKSI MESIN INJECTION MOLDING: PENGARUH KELEMBABAN UDARA, TEMPERATUR, DAN BAHAN ADITIF

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ratnawati Ratnawati

    2014-12-01

    Full Text Available Akumulasi listrik statis pada gelas polipropilena hasil produksi mesin injection molding dapat menyebabkan gelas memiliki gaya elektrostatik dan tidak dapat turun secara gravitasi. Masalah ini menghambat aplikasi gelas pada mesin pengisian air minum dalam kemasan (AMDK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kelembaban udara, temperatur, dan penambahan bahan aditif TiO2 terhadap potensial listrik permukaan gelas polipropilena. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensial listrik permukaan dipengaruhi oleh kelembaban udara ruang produksi, temperatur, dan penambahan TiO2. Potensial listrik permukaan semakin kecil dengan naiknya kelembaban udara. Setelah kelembaban mencapai 68% potensial listrik permukaan cenderung konstan. Ditinjau dari beda potensial (DV antara permukaan dua gelas, kelembaban optimum adalah 67-68%, yang ditandai dengan beda potensial yang paling rendah. Beda potensial ≤ 5,2 kV menyebabkan gelas cepat turun, beda potensial 5,2 kV < DV ≤ 6,7 kV menyebabkan gelas turun dengan lambat, dan DV ≥ 6,7 kV menyebabkan gelas sangat lambat turun atau menempel. Potensial listrik turun dengan naiknya temperatur. Potensial listrik statis permukaan hanya sedikit turun akibat penambahan 0,75% berat TiO2. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa penggunaan gelas dengan potensial listrik permukaan rendah dapat menaikkan kecepatan mesin pengisian AMDK menjadi 220-250 rpm dan 140-160 rpm, masing-masing untuk mesin pengisian gelas 180 ml dan 225 ml.

  1. Pengaruh variasi Holding Time Pada Perlakuan Panas Quench Annealing Terhadap Sifat mekanik dan Mikro Struktur Pada Baja mangan AISI 3401

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Boby Endi Kurniawan

    2014-03-01

    Full Text Available 800x600 Baja mangan merupakan salah satu baja penting yang digunakan dalam industri dan memiliki aplikasi yang luas karena mempunyai wear resisten yang baik, kemampuan work hardening yang tinggi dengan ketangguhan dan keuletan yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa pengaruh perubahan struktur mikro dan sifat mekanik pada baja mangan austenitic AISI 3401 .Penelitian baja mangan austenitk AISI 3401 ini dilakukan dengan perlakuan quench annneling pada temperature 10000C dengan empat variasi waktu tahan 30 menit, 60 menit, 120 menit yang diikuti pendinginan cepat media air, dan tanpa perlakuan. Kemudian dilakukan pengujian metalografi untuk mengetahui struktur mikro, uji kekerasan untuk mengetahui sifat mekanik dan uji XRD untuk menganalisis fasa hasil dari perlakuan quench annealing pada temperature 10000C dengan menggunakan empat variasi tersebut. Hasil penelitian diperoleh adanya pembentukan karbida dan austenit pada semua spesimen. Sedangkan hasil uji kekerasan yang didapatkan nilai yang tertinggi adalah pada waktu tahan 30 menit, yaitu 27 HRc Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

  2. An overview of algae biofuel production and potential environmental impact.

    Science.gov (United States)

    Menetrez, Marc Y

    2012-07-01

    Algae are among the most potentially significant sources of sustainable biofuels in the future of renewable energy. A feedstock with virtually unlimited applicability, algae can metabolize various waste streams (e.g., municipal wastewater, carbon dioxide from industrial flue gas) and produce products with a wide variety of compositions and uses. These products include lipids, which can be processed into biodiesel; carbohydrates, which can be processed into ethanol; and proteins, which can be used for human and animal consumption. Algae are commonly genetically engineered to allow for advantageous process modification or optimization. However, issues remain regarding human exposure to algae-derived toxins, allergens, and carcinogens from both existing and genetically modified organisms (GMOs), as well as the overall environmental impact of GMOs. A literature review was performed to highlight issues related to the growth and use of algal products for generating biofuels. Human exposure and environmental impact issues are identified and discussed, as well as current research and development activities of academic, commercial, and governmental groups. It is hoped that the ideas contained in this paper will increase environmental awareness of issues surrounding the production of algae and will help the algae industry develop to its full potential. PMID:22681590

  3. Development of Green Fuels From Algae - The University of Tulsa

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Crunkleton, Daniel; Price, Geoffrey; Johannes, Tyler; Cremaschi, Selen

    2012-12-03

    The general public has become increasingly aware of the pitfalls encountered with the continued reliance on fossil fuels in the industrialized world. In response, the scientific community is in the process of developing non-fossil fuel technologies that can supply adequate energy while also being environmentally friendly. In this project, we concentrate on green fuels which we define as those capable of being produced from renewable and sustainable resources in a way that is compatible with the current transportation fuel infrastructure. One route to green fuels that has received relatively little attention begins with algae as a feedstock. Algae are a diverse group of aquatic, photosynthetic organisms, generally categorized as either macroalgae (i.e. seaweed) or microalgae. Microalgae constitute a spectacularly diverse group of prokaryotic and eukaryotic unicellular organisms and account for approximately 50% of global organic carbon fixation. The PI's have subdivided the proposed research program into three main research areas, all of which are essential to the development of commercially viable algae fuels compatible with current energy infrastructure. In the fuel development focus, catalytic cracking reactions of algae oils is optimized. In the species development project, genetic engineering is used to create microalgae strains that are capable of high-level hydrocarbon production. For the modeling effort, the construction of multi-scaled models of algae production was prioritized, including integrating small-scale hydrodynamic models of algae production and reactor design and large-scale design optimization models.

  4. Radionuclides and trace metals in eastern Mediterranean Sea algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Al-Masri, M.S. E-mail: msmasri@aec.org.sy; Mamish, S.; Budier, Y

    2003-07-01

    Three types of sea alga distributed along the Syrian coast have been collected and analyzed for radioactivity and trace elements. Results have shown that {sup 137}Cs concentrations in all the analyzed sample were relatively low (less than 1.2 Bq kg{sup -1} dry weight) while the levels of naturally occurring radionuclides, such as {sup 210}Po and {sup 210}Pb, were found to be high in most samples; the highest observed value (27.43 Bq kg{sup -1} dry weight) for {sup 210}Po being in the red Jania longifurca alga. In addition, most brown alga species were also found to accumulate {sup 210}Po, which indicates their selectivity to this isotope. On the other hand, brown alga (Cystoseira and Sargassum Vulgare) have shown a clear selectivity for some trace metals such as Cr, As, Cu and Co, this selectivity may encourage their use as biomonitor for pollution by trace metals. Moreover, the red alga species were found to contain the highest levels of Mg while the brown alga species were found to concentrate Fe, Mn, Na and K and nonmetals such as Cl, I and Br.

  5. Study on Algae Removal by Immobilized Biosystem on Sponge

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    PEI Haiyan; HU Wenrong

    2006-01-01

    In this study, sponges were used to immobilize domesticated sludge microbes in a limited space, forming an immobilized biosystem capable of algae and microcystins removal. The removal effects on algae, microcystins and UV260 of this biosystem and the mechanism of algae removal were studied. The results showed that active sludge from sewage treatment plants was able to remove algae from a eutrophic lake's water after 7 d of domestication. The removal efficiency for algae,organic matter and microcystins increased when the domesticated sludge was immobilized on sponges. When the hydraulic retention time (HRT) was 5h, the removal rates of algae, microcystins and UV260 were 90%, 94.17% and 84%, respectively.The immobilized biosystem consisted mostly of bacteria, the Ciliata and Sarcodina protozoans and the Rotifer metazoans.Algal decomposition by zoogloea bacteria and preying by microcreatures were the two main modes of algal removal, which occurred in two steps: first, absorption by the zoogloea; second, decomposition by the zoogloea bacteria and the predacity of the microcreatures.

  6. Feeding preferences of mesograzers on aquacultured Gracilaria and sympatric algae.

    Science.gov (United States)

    Cruz-Rivera, Edwin; Friedlander, Michael

    2011-12-21

    While large grazers can often be excluded effectively from algal aquaculture operations, smaller herbivores such as small crustaceans and gastropods may be more difficult to control. The susceptibility of three Gracilaria species to herbivores was evaluated in multiple-choice experiments with the amphipod Ampithoe ramondi and the crab Acanthonyx lunulatus. Both mesograzers are common along the Mediterranean coast of Israel. When given a choice, the amphipod preferred to consume Gracilaria lemaneiformis significantly more than either G. conferta or G. cornea. The crab, however, consumed equivalent amounts of G. lemaneiformis and G. conferta, but did not consume G. cornea. Organic content of these algae, an important feeding cue for some mesograzers, could not account for these differences. We further assessed the susceptibility of a candidate species for aquaculture, G. lemaneiformis, against local algae, including common epiphytes. When given a choice of four algae, amphipods preferred the green alga Ulva lactuca over Jania rubens. However, consumption of U. lactuca was equivalent to those of G. lemaneiformis and Padina pavonica. In contrast, the crab showed a marked and significant preference for G. lemaneiformis above any of the other three algae offered. Our results suggest that G. cornea is more resistant to herbivory from common mesograzers and that, contrary to expectations, mixed cultures or epiphyte growth on G. lemaneiformis cannot reduce damage to this commercially appealing alga if small herbivores are capable of recruiting into culture ponds. Mixed cultures may be beneficial when culturing other Gracilaria species. PMID:22711945

  7. Micro-algae: French players discuss the matter

    International Nuclear Information System (INIS)

    About 75000 species of algae have been reported so far, the domains of application are huge and investment are increasing all around the world. One of the difficulties is to find the most appropriate algae to a specific application. Some development programs have failed scientifically or economically for instance the production of protein for animal food from the chlorella algae or the production of bio-fuel from C14-C18 chains, from zeaxanthine and from phycoerytrine. On the other side some research programs have led to promising industrial applications such as the production of food for fish and farm animals. Some research fields are completely innovative such as the use of micro-algae for the construction of bio-walls for buildings. Micro-algae are diverse and fragile. Photo-bioreactors have been designed to breed fragile algae like some types of chlorophycees used in bio-fuel and in cosmetics, a prototype has been tested for 15 months and its production is about 2 kg of dry matter a day. (A.C.)

  8. PERSEPSI NEGATIF PASIEN KANKER PAYUDARA DAN KOLOREKTAL TERHADAP KEMOTERAPI DAN RADIOTERAPI DI RUMAH SAKIT DI KOTA DENPASAR, BALI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gede Wara Samsarga Samsarga

    2015-01-01

    Full Text Available Terapi adjuvan yang biasanya diberikan pada pasien kanker payudara dan kanker kolorektal adalah kemoterapi dan radioterapi. Terapi adjuvan biasanya diberikan setelah terapi primer untuk meningkatkan angka kesembuhan penyakit, mencegah rekurensi, dan membunuh sel-sel kanker yang tersisa ataupun yang telah bermetastasis (terutama mikrometastasis. Terapi adjuvan juga berfungsi sebagai terapi paliatif untuk meningkatkan harapan hidup pasien kanker. Dalam kenyataannya banyak pasien kanker, khususnya kanker payudara dan kolorektal yang menghindari tindakan kemoterapi dan radioterapi. Dari 38 orang pasien kanker payudara dan kolorektal, didapatkan bahwa 26,3% takut gagal, 39,5% takut efek samping, 7,9% biaya yang mahal, 10,5% karena berlangsung dalam jangka waktu yang lama, dan 15,8% tidak takut terhadap kemoterapi dan radioterapi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman pasien kanker payudara dan kanker kolorektal terhadap tindakan kemoterapi dan radioterapi masih cukup rendah dimana 68,4% sampel tidak tahu dan tidak mengerti tentang tindakan kemoterapi dan radioterapi. Pemahaman yang kurang tentang tindakan kemoterapi dan radioterapi ini nantinya dapat mengakibatkan timbulnya persepsi negatif terhadap tindakan kemoterapi dan radioterapi. Maka dari itu sangat diperlukan adanya suatu edukasi yang baik bagi setiap pasien tentang penyakit dan modalitas terapi yang akan diberikan. Dokter diharapkan mampu untuk mengubah persepsi negatif pasien terkait tindakan kemoterapi dan radioterapi.  

  9. Microfluidic one-way streets for algae

    Science.gov (United States)

    Dunkel, Jorn; Kantsler, Vasily; Polin, Marco; Goldstein, Raymond E.

    2012-02-01

    Controlling locomotion and transport of microorganisms is a key challenge in the development of future biotechnological applications. Here, we demonstrate the use of optimized microfluidic ratchets to rectify the mean swimming direction in suspensions of the unicellular green alga Chlamydomonas reinhardtii, which is a promising candidate for the photosynthetic production of hydrogen. To assess the potential of microfluidic barriers for the manipulation of algal swimming, we studied first the scattering of individual C. reinhardtii from solid boundaries. High-speed imaging reveals the surprising result that these quasi-spherical ``puller''-type microswimmers primarily interact with surfaces via direct flagellar contact, whereas hydrodynamic effects play a subordinate role. A minimal theoretical model, based on run-and-turn motion and the experimentally measured surface-scattering law, predicts the existence of optimal wedge-shaped ratchets that maximize rectification of initially uniform suspensions. We confirm this prediction in experimental measurements with different geometries. Since the mechano-elastic properties of eukaryotic flagella are conserved across many genera, we expect that our results and methods are applicable to a broad class of biflagellate microorganisms.

  10. Is the Future Really in Algae?

    Science.gov (United States)

    Trent, Jonathan

    2011-01-01

    Having just emerged from the warmest decade on record and watching as the oceans acidify, global resources peak, the world's population continues to climb, and nearly half of all known species face extinction by the end of the century. We stand on the threshold of one of the most important transition in human history-the transition from hunting-and-gathering our energy to cultivating sustainable, carbon-neutral, environmentally-friendly energy supplies. Can we "cultivate" enerm without competing with agriculture for land, freshwater, or fertilizer? Can we develop an "ecology of technology" that optimizes our use of limited resources? Is human activity compatible with improved conditions in the world's oceans? Will our ingenuity prevail in time to make a difference for our children and the children of all species? With support from NASA ARMD and the California Energy Commission, a group of dedicated scientists and engineers are working on a project called OMEGA (Offshore Membrane Enclosures for Growing Algae), to provide practical answers to these critical questions and to leave a legacy of hope for the oceans and for the future.

  11. Perancangan dan Pembuatan Kapal Wisata dengan Motor Generator Listrik Tenaga Surya Sebagai Energi Alternatif Penggerak Propeler

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sudiyono Sudiyono

    2008-01-01

    Full Text Available The development of solar energy as an alternative energy is highly supported by the weather at Surabaya and its surroundings. It is supported as well by development of tourism particularly in water sector with the existence of river running along downtown. As we know, the revenue of water sector tourism is much less than the one of industrial. On the river bank, had already developed places of interest such as Submarine Monument, JMP City Mall, Kalimas Tradisional Port, Kayoon Florist Center, etc. One solution to improve water tourism especially river tourism is by designing and producing a tour ship. With solar energy, that will reduce pollution level and bring better atmosphere and environment. Considering the stream of Kalimas river, design constrains implemented for tour ship are: 2 passenger and 1 captain ship with Loa: 3,48 m, Lpp: 2,9 m, B: 1,38 m, T: 0,27 m, v: 3 Knot, and battery recharging time for solar cell is 3,3 hrs starting from empty to fully charged. Abstract in Bahasa Indonesia: Kondisi cuaca wilayah Surabaya dan sekitarnya sangat mendukung untuk mengem¬bangkan pemanfaatan energi matahari sebagai energi alternative, khususnya pada sektor pariwisata terutama pariwisata air yang juga didukung oleh sungai yang mengalir ditengah kota. Melihat pemasukan disektor pariwisata terutama pariwisata air yang masih sangat sedikit dibandingkan dari sector industri, maka untuk meningkatkan pemasukan tersebut dikembangkan beberapa wilayah pinggir sungai sebagai tempat wisata seperti Monumen Kapal Selam, wisata kota (Mall JMP, pelabuhan tradisional Kali Mas, pasar bunga Kayoon dan lain – lain. Perancangan dan pembuatan kapal wisata merupakan salah satu solusi/usaha untuk lebih mendekatkan pada wisata air terutama wisata sungai. Dengan pembuatan kapal wisata tenaga surya akan semakin mengurangi polusi dan lebih mendekatkan pada suasana lingkungan yang lebih baik. Dengan melihat kondisi sungai Kali Mas, maka dilakukan pendekatan perhitungan

  12. Desain Dan Analisis Perhitungan Roda Pendaratan Pesawat Tanpa Awak

    OpenAIRE

    Aulia, T. Muhammad Rinaldi

    2015-01-01

    Landing gear merupakan struktur pesawat yang berfungsi menahan beban statis pesawat dan juga beban dinamis ketika pesawat melakukan pendaratan. Dalam mendesain landing gear dilakukan pemilihan jenis landing gear dan dilakukan analisis perhitungan pada tiap komponen landing gear yang meliputi pusat gravitasi, tinggi pesawat, wheel base, wheel track, dan roda. Desain dan analisis perhitungan dilakukan dengan metode studi pustaka dimana setiap desain dan perhitungan didasarkan pada literatur pu...

  13. PENGARUH RELIGIUSITAS DAN ETIKA KERJA ISLAMI TERHADAP MOTIVASI KERJA

    OpenAIRE

    Fauzan Fauzan; Irma Tyasari

    2015-01-01

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara religiustas dan etika kerja islami terhadap motivasi kerja. Dugaan awal, religiustas dan etika kerja islami berpengaruh terhadap motivasi kerja. Subjek penelitian ini adalah para guru di SMP yang dikelola oleh LP Ma’arif Kota Malang. Penelitian ini menggunakan kuesioner adaptasi dan modifikasi skala Islamic Work Ethics yang dkembangkan oleh Abbas Ali ( 1987) dan skala religiusitas yang dikembangkan oleh Glock dan Stark (1996...

  14. UJI POTENSI Gliocladium sp TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TOMAT

    OpenAIRE

    Lina Herlina

    2013-01-01

    AbstrakMikroorganisme tanah seperti Gliocladium sp dapat bertindak sebagai dekomposer dan juga sebagai agen pengendali hayati patogen tanaman hal ini memberikan harapan untuk mengurangi penggunaan pupuk dan fungisida sintetik. Tujuan penelitian untuk menguji potensi biofertililzer Gliocladium sp terhadap pertumbuhan dan produksi buah tomat. Variabel bebas yaitu bioferlizer Gliocladium sp  dengan dosis (g/tanaman) 0,50, 100, 150, dan 200 .Variabel tergantung adalah pertumbuhan dan produksi tan...

  15. Air Abrasion

    Science.gov (United States)

    ... delivered directly to your desktop! more... What Is Air Abrasion? Article Chapters What Is Air Abrasion? What Happens? The Pros and Cons Will I Feel Anything? Is Air Abrasion for Everyone? print full article print this ...

  16. Sistem Komputerisasi Pengolahan Buku Induk Pegawai Pada UPT Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga Kecamatan Banjarmangu Berbasis PHP Dan MYSQL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Elisa Usada

    2011-11-01

    Full Text Available Permasalahan yang akan dibahas adalah bagaimana membuat sistem pengolahan buku induk pegawai di UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kecamatan Banjarmangu berbasis PHP dan MySQL. Sistem pengolahan buku induk pegawai  berbasis PHP dan MySQL ini dirancang komputerisasi menggunakan PHP dan database MySQL dengan tujuan agar pengolahan data pegawai di UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kecamatan Banjarmangu dapat terpusat. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan metode waterfall. Sistem pengolahan buku induk pegawai ini menggunakan jaringan client server dan dapat diakses oleh administrator dan Kepala UPT dan Pegawai. Kelebihan dari sistem pengolahan ini adalah dilindungi password dan hak akses yang berbeda untuk setiap user sehingga keamanan data dapat terjamin, sedangkan kekurangannya adalah program yang dihasilkan belum maksimal karena mengkhususkan data pegawai pada buku induk saja. Saran dari sistem pengolahan ini yaitu pengembangan dari segi keamanan data, kelengkapan data, dan ketelitian sistem dalam input data untuk mengurangi kesalahan.

  17. HASIL ANALISIS VITAMIN A DAN β-KAROTEN BAHAN MAKANAN SUMBER VITAMIN A DAN KAROTEN DENGAN METODE HPLC

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yuniar Rosmalina

    2012-11-01

    Full Text Available Telah dilakukan analisis vitamin A DAN β-Karoten terhadap beberapa jenis pangan dengan menggunakan metode HPLC. Analisis dilakukan terhadap 9 jenis serealia dan umbi-umbian, 3 jenis kacang-kacangan, 40 jenis sayuran, 11 jenis daging dan hasilnya, 7 jenis telur dan hasilnya, 8 jenis ikan, 12 jenis buah-buahaan, dan 7 jenis kelompok lain-lain. Hasilnya menunjukkan sumber β-Karoten yang tinggi pada kelompok serealia dan umbi-umbian adalah umbi jalar, pada kelompok sayuran adalah daun katuk, daun pepaya, daun singkong, daun melinjo, daun talas dan daun sintrong, pada kelompok telur adalah telur bebek, pada kelompok buah-buahan adalah mangga golek dan mangga gedong. Sedangkan kelompok kacang-kacangan dan kelompok daging kandungan β-Karotennya rendah. Hati ayam, hati bebek, dan hati kambing merupakan sumber vitamin A yang tinggi, sedangkan pada kelompok ikan didapati ikan lele mempunyai kandungan vitamin A yang lebih tinggi dibandingkan jenis ikan lainnya.

  18. TINJAUAN UMUM TENTANG HELPDESK DAN FRAMEWORK TERKAIT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ali Tarmuji

    2013-04-01

    Full Text Available Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK di suatu instansi sangat banyak dampaknya, baik positif maupun negatif. Seiring perkembangan teknologi semakin banyak pemanfaatan media TIK ini untuk membantu pelaksanaan suatu pekerjaan bahkan hampir seluruh bidang di suatu instansi. Dalam perjalanan penggunaan TIK sering muncul permasalahan-permasalahan yang jika tidak ditangani akan mengakibatkan adanya kemunduran kinerja dari bagian/seseorang yang menggunakan peralatan TIK untuk menunjang kerja mereka. Suatu instansi yang sudah sedemikian kompleksnya dalam penggunaan peralatan TIK di instansinya maka diperlukan suatu mekanisme dan unit khusus yang menangani penggunaan dan permasalahan dalam hal penggunaan TIK tersebut. Mekanisme dan unit khusus tersebut sering dinamakan tim helpdesk yang tujuan utamanya adalah menangani penyelesaian terhadap permasalahan yang muncul dari penggunaan suatu peralatan TIK tersebut sehingga mampu memperlancar kerja yang terkait. Suatu instansi dalam hal penerapan tim helpdesk memerlukan suatu perencanaan yang matang dan terorganisir. Langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh instansi dalam implementasi tim helpdesknya antara lain, (1 membentuk tim khusus untuk menganalisis organisasinya terkait kebutuhan implementasi helpdesk tersebut, (2 membentuk organisasi helpdesk sesuai kebutuhan, (3 memilih workflow helpdesk yang disesuaikan dengan kondisi instansi, (4 memilih framework yang tepat untuk mendasari jalannya implementasi helpdesk di instansi terkait, dan (5 menuangkan aturan-aturan dasar (standard operation procedur-SOP untuk menguatkan kiprah tim helpdesk di instansi terkait.Terbentuknya tim helpdesk diharapkan dapat mengatasi permasalahan dan memberikan layanan terhadap seluruh permasalahan bidang TIK baik yang bersifat internal (pengembang aplikasi maupun seluruh permasalahan operasional aplikasi ataupun hal-hal yang berhubungan dengan sistem dan teknologi informasi dan komunikasi.

  19. PENGARUH PROSES PENGERINGAN DAN IMOBILISASI TERHADAP AKTIVITAS DAN KESTABILAN ENZIM BROMELAIN DARI BUAH NENAS (Ananas comosus (L) Merr)

    OpenAIRE

    ISHAK, MEILTY CHRISTY

    2012-01-01

    Meilty Christy Ishak (G61108260). Pengaruh Proses Pengeringan dan Imobilisasi Terhadap Aktivitas dan Kestabilan Enzim Bromelain dari Buah Nenas (Ananas comosus (L) Merr) (Di Bawah Bimbingan Februadi Bastian dan Amran Laga). RINGKASAN Enzim bromelain merupakan enzim protease dari buah nenas, enzim ini memiliki sifat seperti enzim rennin (renat), papain, dan fisin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh proses pengeringan enzim terhadap aktivitas enzim, dan untuk men...

  20. Tanggap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Jagung Manis (Zea mays Saccharata Sturt.) Terhadap Pemberian Pupuk Anorganik Cair Dan Umur Pemangkasan Daun

    OpenAIRE

    Sianipar, Rimna Regina

    2012-01-01

    Tanaman jagung yang masuk ke Indonesia belum dapat dipastikan, tetapi pendapat umum menyatakan bahwa tanaman ini masuk ke Indonesia sekitar 3-4 abad yang lalu oleh orang-orang Portugis dan Spanyol melalui India dan Tiongkok. Pertanaman jagung di Indonesia terutama terdapat di Jawa, Madura dan Sulawesi. Hingga saat ini tanaman jagung merupakan tanaman makanan yang penting di daerah tropis dan subtropis. Luas pertanaman jagung di dunia menempati urutan ke-3 setelah tanaman gandum dan padi ...

  1. PENGARUH SEKAM PADI, KOMPOS DAN PUPUK KANDANG SAPI TERHADAP BEBERAPA SIFAT KIMIA, FISIKA DAN BIOLOGI ENDAPAN LUMPUR SIDOARJO

    OpenAIRE

    santoso, Slamet

    2014-01-01

    Endapan lumpur Sidoarjo terbentuk dari lumpur yang keluar dari bekas pengeboran minyak PT. Lapindo Brantas. Endapan lumpur Sidoarjo mengandung unsur hara, liat yang tinggi dan beberapa populasi mikroba. Sekam padi, kompos dan pupuk kandang sapi diketahui dapat meningkatkan hara, memperbaiki porositas dan menambah keragaman mikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sekam padi, kompos dan pupuk kandang sapi terhadap beberapa sifat kimia, fisika dan biologi endapan lumpur ...

  2. Penskalaan Butir Format Respons Pilihan dan Respons Bebas Berdasarkan Model Rasch dan Partial Credit

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Eko Hariadi

    2007-06-01

    Full Text Available Penelitian melihat pengaruh jumlah parameter butir, kategori respons bebas (RB, pengaruh sampel terhadap akurasi estimasi parameter kemampuan untuk menghasilkan estimasi yang stabil dan pengaruh pembobotan butir RP dan butir RB terhadap kesalahan baku. Penelitian dalam dua tahap, simulasi menggunakan 30 kondisi dengan replikasi 50 dengan variabel panjang tes, jumlah kategori, dan jumlah parameter butir, dan analisis deskriptif, dilanjutkan penerapan penskalaan gabungan butir tipe respons pilihan (rp dan butir respons bebas (rb pada konstruksi tes elektronika yang terdiri 40 butir pilihan ganda dan 4 butir jawaban tersusun, 3 butir memiliki lima kategori jawaban dan 1 butir dengan 4 kategori jawaban, melibatkan 355 siswa. Hasil penelitian menunjukkan: ukuran sampel kurang berpengaruh pada root mean square error atau (RSME> dan korelasi antara 9 dengan 0, namun berpengaruh terhadap akurasi estimasi parameter butir pilihan ganda (/>/y,dan parameter butir respons tersusun (3^- Jumlah parameter butir berpengaruh terhadap parameter kemampuan, tetapi tidak berpengaruh terhadap akurasi dari b^, dan S„,. Estimasi dari parameter tingkat kesulitan butir jawaban tersusun tiga kategori lebih akurat daripada butir jawaban tersusun lima kategori. Estimasi tahan {robust untuk parameter kesulitan butir jawaban tersusun 5 kategori memerlukan sampel minimal 250 responden, sedangkan untuk butir respons tersusun 3 kategori memerlukan sampel minimal 100 responden. Estimasi parameter kemampuan dari skor total (0^^ tidak sama dengan rata-rata jumlah tbeta dari masing-masing subtes (0^ + 0CR. Theta dari tes yang dikalibrasi bersama-sama berbeda dengan theta dari total subtes yang dikalibrasi secara terpisah. Korelasi kemampuan yang mengunakan pembobotan dan kemampuan tanpa pembobotan mempunyai suatu rentang dari 0,988 sampai 0,948. Kata kunci: penyekaiaan, model rash dan partial credit.

  3. Perbedaan Kadar Malondialdehide dan Tromboksan B2 pada Remaja dengan Dismenore dan Tanpa Dismenore

    OpenAIRE

    Berliana Irianti; Ermawati .; Arni Amir

    2015-01-01

    Abstrak Penyebab dismenore belum semuanya diketahui, ada dugaan peningkatan proses peroksida lipid yang akan mengaktivasi mediator inflamasi pada endometrium yang menimbulkan rasa nyeri haid (dismenore). Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan kadar malondialdehide dan tromboksan B 2  pada dismenore dan tanpa dismenore. Studi observasional ini menggunakan desain potong lintang komparatif. Subjek penelitian terdiri dari dua kelompok yaitu 23 remaja dismenore dan 23 remaja tanpa disme...

  4. Jane Air: The Heroine as Caged Bird in Charlotte Brontë’s Jane Eyre and Alfred Hitchcock’s Rebecca L’héroïne, oiseau en cage dans Jane Eyre de Charlotte Brontë et Rebecca d’Alfred Hitchcock

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Paul Marchbanks

    2009-12-01

    Full Text Available Dans le quatrième chapitre de son ouvrage intitulé Brontë Transformations (1996, Patsy Stoneman révèle l’importance des reprises et transformations dont a fait l’objet Jane Eyre (1847 de Charlotte Brontë dans diverses pièces de théâtre, romans et films depuis sa publication initiale. L’un des avatars les plus intéressants mentionné par P. Stoneman est Rebecca d’Alfred Hitchcock (1940 d’après le roman à succès éponyme de Daphné Du Maurier paru en 1938. Parmi les nombreux éléments communs au roman de Brontë et au film d’Hitchcock figurent l’héroïne orpheline consciente de son physique ordinaire, un personnage masculin maussade doté d’une épouse “présente-absente” et une intendante dont le tempérament influence l’atmosphère du manoir dans lequel l’héroïne réside temporairement. Un autre point commun, plus difficile à déceler car profondément intégré à chaque œuvre, est le portrait de l’héroïne en oiseau prisonnier. Ce(tte subtile trope/métaphore mérite d’être remarqué(e car non seulement l’image constitue un lien entre les deux œuvres mais elle permet aussi, dans ses diverses manifestations, de les différencier. Tandis que dans Jane Eyre, l’image de l’oiseau apparaît chaque fois que Jane s’échappe d’un lieu qui l’emprisonne, celle de la cage s’avère être l’élément dominant dans le film d’Hitchcock, imposant finalement des limites infranchissables à la liberté de l’héroïne.

  5. Livres et lecture dans le monde ottoman

    OpenAIRE

    Anastassiadou, Meropi; Arnaud, Jean-Luc; Balta, Evangelia; Bilici, Faruk; Bounfour, Abdallah; Clayer, Nathalie; Denoix, Sylvie; Depaule, Jean-Charles; Dévényid, Kinga; Establet, Colette; Guichard, Pierre; Henry, Jean-Robert; Heyberger, Bernard; Hitzel, Frédéric; Kenderova, Stoyanka

    2004-01-01

    Au cours de ces dernières années, l'histoire du livre et de la lecture s'est affirmée comme l'un des domaines majeurs de l'histoire culturelle. Dans l'Empire ottoman, cette histoire prend une forme particulière car non seulement l'imprimerie en caractères arabes ne fait officiellement son apparition à Istanbul qu'en 1729, mais encore parce que, dans cet empire, cohabitent dans une civilisation commune, des langues et des religions différentes. Les études ici réunies dressent un premier bilan ...

  6. Être dans la musique

    OpenAIRE

    Legrain, Laurent

    2011-01-01

    “Être dans la musique”… cette expression maintes fois entendue dans le cadre d’interviews ou de discussions informelles menées avec des amateurs de jazz montre toute l’importance de ces moments musicaux particuliers dans les trajectoires des amateurs. Mais comment approcher analytiquement cet état fugace et, à la manière des amateurs, le placer au centre de nos préoccupations ? En dénouant le corset kantien qui enserre l’esthétique, de nombreux auteurs ont esquissé les contours d’une notion, ...

  7. HOSPES PERANTARA DAN HOSPES RESERVOIR FASCIOLOPSIS BUSKI DI INDONESIA Studi Epidemiologi F. buski di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan Tahun 2002 dan 2010

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anorital -

    2013-12-01

    . Bahkan dalam beberapa periode terkesan naik, meskipun upaya penanggulangannya terus dilaksanakan melalui berbagai survei yang diakhiri dengan pemberian obat. Tidak diketahuinya dengan pasti hospesperantara I, II dan hospes reservoir; merupakan salah satu kendala dalam pengendalian penyakit. Untuk mengetahui siklus epidemiologi F. buski, telah dilakukan dua studi oleh dua institusi penelitian yang berada di bawah Badan Litbangkes pada tahun 2002  oleh Anorital, dkk dan 2010 oleh Annida. Hasil dari kedua studi tersebut diketahui bahwa terdapat 3 jenis tanaman air (hospes perantara II yang dikonsumsi masyarakat yaitu teratai (Nymphea alba, teratai burung (Nymphea lotus dan kangkung (Ipomea aquatica yang positif serkaria dan metaserkaria. Dari spesimen 4 jenis siput/keong air tawar (hospes perantara I yang diperiksa  diperoleh 2 jenis siput/keong yang positif redia dan serkaria yaitu siput kalambuai (Lymnea sp dan siput pipih (Indoplanorbis sp. Dari 4 jenis spesimen kotoran hewan yang diperiksa, diperoleh 1 spesimen positif  telur F. buski yang ditemukan pada kotoran kerbau. Selain itu ditemukan  juga 2 spesimen dari kotoran ayam dan itik alabio telur yang dari segi bentuk mirip F. buski.  Namun dari segi ukuran, telur parasit yang ditemukan ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan telur F. buski yang sebenarnya. Meski adanya temuan positif tersebut, perlu adanya konfirmasi dari institusi penelitian lainnya yang berpengalaman dalam melakukan identifikasi F. buski. Dengan mulai terkuaknya gambaran siklus epidemiologi F. buski ini, diharapkan upayapenanggulangan dan pengendalian penyakit kecacingan buski (fasciolopsiosis dapat dilakukan dengan lebih terfokus dan efektif. Agar siklus epidemiologi F. buski dapat memberikan gambaran yang lebih jelas lagi, diperlukan suatu studi yang lebih mendalam dengan jumlah sampel/spesimen yang lebih banyak.  Kata kunci: Fasciolopsis buski, fasciolopsiosis

  8. KERENTANAN KAWASAN TEPI AIR TERHADAP KENAIKAN PERMUKAAN AIR LAUT Kasus Kawasan Tepi Air Kota Surabaya

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Iwan Suprijanto

    2003-01-01

    Full Text Available Even though global warming are still debates whether it will or not be happened, the changes on climate will influence activities of human. Regarding global warming issue, one of the impact that is very interesting to be investigated is sea level rise. Sea level rise is predicted has very big impact since, in general, in coastal areas locate a lot of important activities for such city or country. On the context of Indonesian locality, most of big cities such as Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar, etc. are located on the coastal area. Since a lot of important activities located on those cities, in general, sea level rise will influence the development processes of those cities. On the basis of the observation gathering in Surabaya City, the impact of sea level rise will influence not only the development of coastal area but also development of Surabaya City in general. The influence is because the area accommodates activities which are very important in city development both for present and future. The activities are port, industrial estate and location for new housing. Abstract in Bahasa Indonesia : Terlepas dari ketidakpastian mengenai terjadi atau tidaknya pemanasan global, setiap perubahan iklim di bumi akan memberikan dampak terhadap kelangsungan hidup manusia. Salah satu kajian yang saat ini banyak dilakukan berkaitan dengan isu pemanasan global adalah mengenai kenaikan permukaan air laut. Pengkajian mengenai kenaikan permukaan air laut tersebut penting mengingat dampak yang akan ditimbulkannya dan dengan kenyataan secara umum kawasan tepi air memegang peranan penting dalam perkembangan suatu kota ataupun negara. Hal ditandai dengan banyaknya aktivitas yang berlokasi di kawasan tepi air. Kondisi geografis Indonesia dengan duapertiga bagian wilayahnya adalah perairan, menjadikan Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Hal tersebut menjadikan pula beberapa bagian wilayah di Indonesia merupakan kawasan pesisir atau tepi air

  9. EFIKASI DAN KEAMANAN DIHIDROARTEMISININ-PIPERAKUIN PADA PENDERITA PLASMODIUM VIVAX DI KALIMANTAN DAN SULAWESI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Armedy Ronny Hasugian

    2012-11-01

    Full Text Available Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian “Monitoring drug resistance in subject with P.falciparum and  P.vivax malaria in Kalimantan and Sulawesi, Indonesia” yang bertujuan untuk menilai efikasi dan keamanan Dihydroartemisinin – Piperaquine (DHP pada penderita malaria vivaks di Kalimantan dan Sulawesi. Disain penelitian adalah potong lintang dengan prospektif evaluasi terhadap 87 subyek penderita P. vivax. Efikasi dan keamanan DHP dinilai berdasarkan kriteria WHO. Hasil analisis menunjukkan bahwa efikasi DHP secara Intention To Treat (ITT pada Hari 28 (H28 setelah pengobatan DHP adalah 94,3% (95%CI: 87,2 – 97,5 dan H42 adalah 92% (95%CI: 87,2 – 97,5. Efikasi DHP secara Per Protokol (PP pada H28 adalah 100% dan H42 adalah 97,6% (95%CI:91,5 – 99,3. Bebas parasit 100% terjadi pada H2. Bebas gametosit 100% terjadi pada H7. Bebas demam 100% terjadi pada H7. Bebas gejala klinis tidak pernah mencapai 100% pasca pengobatan DHP. Kejadian sampingan yang ditemukan adalah berkeringat, tidak nafsu makan dan diare,  tetapi ringan dan dapat ditolerir.  Oleh karena itu dapat disimpulkan efikasi dan keamanan DHP sesuai dengan kriteria WHO dan dapat direkomendasikan untuk penggunaan secara luas.   Kata Kunci: Malaria, Efikasi, dihidroartemisinin, piperaquine, Kalimantan, Sulawesi 

  10. PENGARUH PENYIMPANAN BEKU SANTAN DAN KELAPA PARUT TERHADAP CITA RASA SANTAN DAN MUTU MINYAK YANG DIHASILKAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Uken S. Soetrisno

    2012-11-01

    Full Text Available Santan dan kelapa parut yang disimpan beku selama 1 sampai dengan 4 minggu telah diuji cita rasa santan dan mutu kimiawi dari minyak yang dihasilkannya. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa asam lemak bebas dan bilangan peroksida, yang dipakai sebagai petunjuk kerusakan minyak mengalami kenaikan yang cukup tinggi dan sangat bermakna secara statistik setelah penyimpanan satu minggu, meskipun dengan percepatan yang berbeda. Angka-angka tersebut masih di bawah batas yang ditentukan dalam standar Industri Indonesia. Uji cita rasa menunjukkan bahwa lamanya penyimpanan serta bentuk bahan sangat berpengaruh terhadap tingkat kesukaan panelis. Santan yang berasal dari kelapa parut beku masih disukai sampai dengan penyimpanan dua minggu.

  11. Two-Step Evolution of Endosymbiosis between Hydra and Algae

    KAUST Repository

    Ishikawa, Masakazu

    2016-07-09

    In the Hydra vulgaris group, only 2 of the 25 strains in the collection of the National Institute of Genetics in Japan currently show endosymbiosis with green algae. However, whether the other non-symbiotic strains also have the potential to harbor algae remains unknown. The endosymbiotic potential of non-symbiotic strains that can harbor algae may have been acquired before or during divergence of the strains. With the aim of understanding the evolutionary process of endosymbiosis in the H. vulgaris group, we examined the endosymbiotic potential of non-symbiotic strains of the H. vulgaris group by artificially introducing endosymbiotic algae. We found that 12 of the 23 non-symbiotic strains were able to harbor the algae until reaching the grand-offspring through the asexual reproduction by budding. Moreover, a phylogenetic analysis of mitochondrial genome sequences showed that all the strains with endosymbiotic potential grouped into a single cluster (cluster γ). This cluster contained two strains (J7 and J10) that currently harbor algae; however, these strains were not the closest relatives. These results suggest that evolution of endosymbiosis occurred in two steps; first, endosymbiotic potential was gained once in the ancestor of the cluster γ lineage; second, strains J7 and J10 obtained algae independently after the divergence of the strains. By demonstrating the evolution of the endosymbiotic potential in non-symbiotic H. vulgaris group strains, we have clearly distinguished two evolutionary steps. The step-by-step evolutionary process provides significant insight into the evolution of endosymbiosis in cnidarians.

  12. Two-step evolution of endosymbiosis between hydra and algae.

    Science.gov (United States)

    Ishikawa, Masakazu; Shimizu, Hiroshi; Nozawa, Masafumi; Ikeo, Kazuho; Gojobori, Takashi

    2016-10-01

    In the Hydra vulgaris group, only 2 of the 25 strains in the collection of the National Institute of Genetics in Japan currently show endosymbiosis with green algae. However, whether the other non-symbiotic strains also have the potential to harbor algae remains unknown. The endosymbiotic potential of non-symbiotic strains that can harbor algae may have been acquired before or during divergence of the strains. With the aim of understanding the evolutionary process of endosymbiosis in the H. vulgaris group, we examined the endosymbiotic potential of non-symbiotic strains of the H. vulgaris group by artificially introducing endosymbiotic algae. We found that 12 of the 23 non-symbiotic strains were able to harbor the algae until reaching the grand-offspring through the asexual reproduction by budding. Moreover, a phylogenetic analysis of mitochondrial genome sequences showed that all the strains with endosymbiotic potential grouped into a single cluster (cluster γ). This cluster contained two strains (J7 and J10) that currently harbor algae; however, these strains were not the closest relatives. These results suggest that evolution of endosymbiosis occurred in two steps; first, endosymbiotic potential was gained once in the ancestor of the cluster γ lineage; second, strains J7 and J10 obtained algae independently after the divergence of the strains. By demonstrating the evolution of the endosymbiotic potential in non-symbiotic H. vulgaris group strains, we have clearly distinguished two evolutionary steps. The step-by-step evolutionary process provides significant insight into the evolution of endosymbiosis in cnidarians. PMID:27404042

  13. PENGGUNAAN MEMBRAN SERAT BERONGGA SEBAGAI AERATOR DALAM SISTEM KULTIVASI UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI BIOMASSA DAN BIOFIKSASI CO2 DARI Chlorella vulgaris

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    D Dianursanti

    2015-06-01

    Full Text Available Pemanasan global yang memicu terjadinya perubahan iklim, sebagian besar disebabkan karena merebaknya gas CO2.  Pemanfaatan mikroalga Chlorella sp. untuk mereduksi gas CO2 menjadi potensi yang menjanjikan. Hal ini mengingat, bahwa Chlorella dapat dengan efisien mereduksi CO2 karena mereka dapat tumbuh dengan cepat dan mudah diadaptasikan ke dalam rekayasa sistem fotobioreaktor. Dalam penelitian ini akan diupayakan pengaturan sistem aerasi berfilter untuk kultivasi Chlorella vulgaris dalam reaktor agar proses transfer massa gas CO2 dalam kultur mikroalga menjadi lebih baik. Dengan demikian nilai KLa (CO2 menjadi salah satu parameter penentu dalam peningkatan produksi biomassa Chlorella. Nilai KLa yang tinggi menunjukkan proses transfer massa CO2 yang lebih baik dalam kultur mikroalga. Namun nilai KLa (CO2 yang terlalu besar sangat mungkin menyebabkan terjadinya shear stress pada alga.Dengan menggunakan membran serat berongga sebagai aerator, permasalahan shear stress pada alga dapat dihindari. Dengan diameter pori yang sangat kecil, membran ini dapat memberikan laju alir dan transfer massa CO2 dalam kultur yang optimal, tanpa menimbulkan efek shear strees. Dengan demikian penggunaan membran ini dapat menghasilkan produktivitas Chlorella yang lebih baik serta dapat meningkatkan kemampuan biofiksasi CO2 selama proses kultivasinya. Penggunaan membran serat berongga sebagai aerator telah terbukti mampu meningkatkan produksi biomassa C. vulgaris  sebesar 27,2 %. Abstract Global warming triggering climate change is largely due to the presence of CO2. Utilization of microalgae Chlorella vulgaris to reduce CO2 gas is potential as it efficiently reduces CO2while growing quickly and adapting to the photobioreactor systems engineering. This study explored filter aeration system settings for cultivating C. vulgaris in the reactor thus mass transfer of CO2 in microalgae cultures becomes more efficient. Value of KLa (CO2 is one of the parameters in

  14. Studi Kasus; “Koreksi terhadap Pengukuran Polutan di Udara Unit Perajin Logam dan Dampaknya terhadap Kesehatan”

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Husaini Husaini

    2016-09-01

    Full Text Available AbstractUnderstanding on the reaction of various air pollutants until today continues to grow, even it is hard to find information about the results of the reaction of various air pollutants standard. The aim of the research was to analyze and to correct of the the various air pollutants as well as to determine the health impact of blacksmith in 2014. The samples consisted of 38 blacksmith from 38 working units in Hulu Sungai Selatan of South Kalimantan. Analytical approach of the examination of air pollutants, blood samples and pulmonary functions of selected workers was applied in this study. The results showed a decrease in lung function and abnormalization workers immune response, as a result of exposure to various air pollutants. It is very difficult to determine and predict the causality of air pollution and health impact since there must be various factors contributing to the the health impact. because it is caused by pollutants singly or may be caused from the various reactions of these pollutants, for that, the correction need on the measurement and analysis of air pollutants that made so far, including its impact on the human body. The benefit of this research as a form of correction to use the Threshold Limit Value (TLV and measurement of air pollutants, including the impact of the target organ in the human body.Keywords : Measurements correction, pollutants, lung function, immune response.AbstrakPemahaman reaksi berbagai polutan di udara sampai saat ini terus berkembang, bahkan hampir tidak ditemukan informasi tentang standar hasil reaksi berbagai polutan di udara. Tujuan penelitian untuk menganalisis dan koreksi pengukuran berbagai polutan di udara serta dampaknya terhadap kesehatan perajin logam. Studi kasus dilakukan pada 38 perajin logam serta 38 unit kerjanya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan tahun 2013 dengan pendekatan observational analitik beserta pengambilan contoh polutan di udara dan pengambilan sampel

  15. [Comparison of histone-like proteins from blue-green algae with ribosomal basic proteins of alga and wheat germ histones].

    Science.gov (United States)

    Gofshteĭn, L V; Iurina, N P; Romashkin, V I; Oparin, A I

    1975-01-01

    Histone-like proteins was found in blue-green alga Anacystis nidulans, which has no nucleus. F2b2, F2a2, F2a1 fractions were found in histone-like algae proteins and no fraction F1. Content of basic amino acids (arginine being prevailing in algae protein) is quite identical in histone-like algae proteins and in wheat germs histones, while the content of acid amino acids is considerably higher in algae. The presence in procaryotic cells of basic proteins similar in a number of properties to histones of higher organisms suggests that these proteins are evolutionary precursors of eucaryotic histones. PMID:813782

  16. Precise measurement of the absolute fluorescence yield of nitrogen in air. Consequences on the detection of ultra-high energy cosmic rays; Mesure precise du rendement absolu de la fluorescence de l'azote dans l'air. Consequences sur la detection des rayons cosmiques d'ultra-haute energie

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Lefeuvre, G

    2006-07-15

    The study of the energy spectrum of ultra-high energy cosmic rays (E > 10{sup 20} eV) requires to determine the energy with much more precision than what is currently achieved. The shower of particles created in the atmosphere can be detected either by sampling particle on the ground, or by detecting the fluorescence induced by the excitation of nitrogen by shower electrons. At present, the measurement of the fluorescence is the simplest and the most reliable method, since it does not call upon hadronic physics laws at extreme energies, a field still inaccessible to accelerators. The precise knowledge of the conversion factor between deposited energy and the number of fluorescence photons produced (the yield) is thus essential. Up to now, it has been determined with an accuracy of 15 % only. This main goal of this work is to measure this yield to better than 5 per cent. To do this, 1 MeV electrons from a radioactive source excite nitrogen of the air. The accuracy has been reached thanks to the implementation of a new method for the absolute calibration of the photomultipliers detecting the photons, to better than 2 per cent. The fluorescence yield, measured and normalized to 0.85 MeV, 760 mmHg and 15 Celsius degrees, is (4.23 {+-} 0.20) photons per meter, or (20.46 {+-} 0.98) photons per deposited MeV. In addition, and for the first time, the absolute fluorescence spectrum of nitrogen excited by a source has been measured with an optical grating spectrometer. (author)

  17. Conversion coefficients from air kerma to personal dose equivalent H{sub p}(3) fir eye-lens dosimetry; Coeficients de conversion du kerma dans l'air a l'equivalent de dose individuel H{sub p}(3) pour la dosimetrie du cristalin

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Daures, J.; Gouriou, J.; Bordy, J.M

    2009-07-01

    This work has been performed within the frame of the European Union ORAMED project (Optimization of Radiation protection for Medical staff). The main goal of the project is to improve standards of protection for medical staff for procedure resulting in potentially high exposures and to develop methodologies for better assessing and for reducing exposures to medical staff. The Work Package WP2 is involved in the development of practical eye lens dosimetry in interventional radiology. This study is complementary of the part of the ENEA report concerning the calculations with the MCNP code of the conversion factors related to the operational quantity H{sub p}(3). A set of energy and angular dependent conversion coefficients H{sub p}(3)/K{sub air} in the new proposed square cylindrical phantom of ICRU tissue, have been calculated with the Monte-Carlo code PENELOPE. The H{sub p}(3) values have been determined in terms of absorbed dose, according to the definition of this quantity, and also with the kerma approximation as formerly reported in ICRU reports. At low photon energy, up to 1 MeV, the two sets of conversion coefficients are consistent. Nevertheless, the differences increase at higher energy. This is mainly due to the lack of electronic equilibrium, especially for small angle incidences. The values of the conversion coefficients obtained with the code MCNP published by ENEA, agree with the kerma approximation calculations with PENELOPE. They are coherent with previous calculations in phantoms different in shape. But above 1 MeV, differences between conversion coefficient values calculated with the absorbed dose and with kerma approximation are significantly increasing, especially at low incidence angles. At those energies the electron transport has to be simulated. (author)

  18. A new microscopic method to analyse desiccation-induced volume changes in aeroterrestrial green algae.

    Science.gov (United States)

    Lajos, K; Mayr, S; Buchner, O; Blaas, K; Holzinger, A

    2016-08-01

    Aeroterrestrial green algae are exposed to desiccation in their natural habitat, but their actual volume changes have not been investigated. Here, we measure the relative volume reduction (RVRED ) in Klebsormidium crenulatum and Zygnema sp. under different preset relative air humidities (RH). A new chamber allows monitoring RH during light microscopic observation of the desiccation process. The RHs were set in the range of ∼4 % to ∼95% in 10 steps. RVRED caused by the desiccation process was determined after full acclimation to the respective RHs. In K. crenulatum, RVRED (mean ± SE) was 46.4 ± 1.9%, in Zygnema sp. RVRED was only 34.3 ± 2.4% at the highest RH (∼95%) tested. This indicates a more pronounced water loss at higher RHs in K. crenulatum versus Zygnema sp. By contrast, at the lowest RH (∼4%) tested, RVRED ranged from 75.9 ± 2.7% in K. crenulatum to 83.9 ± 2.2% in Zygnema sp. The final volume reduction is therefore more drastic in Zygnema sp. These data contribute to our understanding of the desiccation process in streptophytic green algae, which are considered the closest ancestors of land plants. PMID:27075881

  19. The impact of algal properties and pre-oxidation on solid-liquid separation of algae.

    Science.gov (United States)

    Henderson, Rita; Parsons, Simon A; Jefferson, Bruce

    2008-04-01

    Algae are traditionally classified according to biological descriptors which do not give information on surface characteristics that are important with respect to removal by water treatment processes. This review examines the character of freshwater algal populations from a water treatment perspective and evaluates the impact of their varying properties and the use of pre-oxidation on their removal by solid-liquid separation processes.. The characteristics shown to impact on treatment were morphology, motility, surface charge, cell density and the extracellular organic matter (EOM) composition and concentration. With the exception of density, these are not phyla specific. It was also shown that dissolved air flotation (DAF) was the most robust clarification method, where up to 99.8% removal was achieved compared to 94% for sedimentation when using metal coagulants. However, successful clarification relied heavily on the optimisation of preceding coagulation and flocculation and coagulant demand was important in this respect. Comparison of all available data reveals a relationship between cell surface area and coagulant demand. It is thus suggested that cell surface area would provide a basis for regrouping algae such that the classification is informative with respect to water treatment. However, the absolute coagulant demand is a result of both surface area and EOM influences. The latter are relatively poorly understood in comparison to natural organic matter (NOM) systems and this remains a limit in current knowledge. PMID:18261761

  20. Sintesa dan Karakteristik Sifat Mekanik Karet Nanokomposit

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Pocut Nurul Alam

    2007-06-01

    Full Text Available Peningkatan sifat mekanik karet alam dengan penambahan tanah liat nanokomposit pada kosentrasi berbeda yaitu 1, 3 dan 5 % berat sudah berhasil diteliti. Pada percobaan ini pengujian dilakukan dengan X-Ray Difraction (X-RD untuk analisa morphologi dan Instron untuk analisa uji tarik. Penambahan tanah liat nanokomposit kedalam matrik polimer adalah untuk meningkatkan sifat mekanik dari material asli dan juga untuk menghasilkan suatu produk polimer yang lebih murah. Hasil yang diperoleh adalah terjadinya peningkatan yang drastis terhadap basal spacing dari matrik polimer dan menunjukkan intercalasi diantara polimer dengan pengisinya. Uji tarik juga menununjukkan peningkatan yang sangat signifikan yaitu 14.983 MPa pada karet alam menjadi 40.178 MPa pada karet alam-tanah liat nanokomposit 5% berat. Kata kunci: karet alam, sifat mekanik, tanah liat nanokomposit