WorldWideScience

Sample records for algae air dan

  1. Isolasi dan Identifikasi Protein Bioaktif Alga Merah Eucheuma cottonii serta Potensinya Sebagai Antikanker

    OpenAIRE

    Ismail, Ayu Indayanti

    2014-01-01

    Isolasi dan Identifikasi Senyawa Protein Bioaktif dari Alga Merah Eucheuma cottoni dari Teluk Laikang Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa protein bioaktif dari alga merah Eucheuma cottonii serta potensinya sebagai antikanker. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan tahapan perlakuan yaitu isolasi senyawa protein bioaktif dari alga merah Eucheuma cottonii melalui proses lisis, ...

  2. PERANAN PENGAPURAN DAN FAKTOR FISIKA KIMIA AIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN LOBSTER AIR TAWAR (Cherax sp.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Titin Kurniasih

    2008-12-01

    Full Text Available Pertumbuhan lobster air tawar (Cherax sp. hanya akan terjadi apabila didahului oleh proses pergantian kulit. Semakin sering pergantian kulit terjadi, maka pertumbuhannya makin pesat. Frekuensi ganti kulit dipengaruhi umur, kecukupan makanan dan kalsium media, serta kualitas air yang sesuai. Kadar kalsium perairan dapat ditingkatkan melalui pengapuran. Kualitas air yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan sintasan Cherax sp. antara lain: alkalinitas, pH, oksigen terlarut, suhu, amoniak, dan nitrit.

  3. Pengaruh Konsentrasi Nutrien dan Konsentrasi Bakteri Pada Produksi Alga Dalam Sistem Bioreaktor Proses Batch

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Minarti Oktafiani

    2013-09-01

    Full Text Available Bertambahnya populasi penduduk sebanding dengan meningkatnya kebutuhan manusia, sehingga berdampak negatif terhadap peningkatan kebutuhan akan energi khususnya energi yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak bumi. Oleh sebab itu diperlukan energi alternatif sebagai pengganti bahan baku minyak bumi. Salah satu energi alternatif yang digunakan sebagai pengganti bahan baku minyak bumi adalah biodiesel. Tujuan dari penelitian tugas akhir ini adalah untuk mengkaji pengaruh konsentrasi nutrien dan konsentrasi bakteri pada produksi alga dalam sistem bioreaktor proses batch. Pada penelitian tugas akhir ini menggunakan dua variabel yaitu variabel pertama dengan penambahan nutrien (N dan P dengan menggunakan pupuk NPK sebanyak tiga variasi konsentrasi yaitu 7,5 mg/L, 15 mg/L, 30 mg/L dan variabel kedua penambahan bakteri dengan menggunakan biakan bakteri dari saluran drainase sebanyak tiga variasi konsentrasi yaitu 50 mL, 100 mL, 150 mL. Dalam penelitian ini juga menambahkan mixing pompa sebagai pengadukan selama 24 jam dan waktu pencahayaan dengan bantuan cahaya lampu flourescent selama 12 jam. Penelitian ini dilakukan didalam ruangan. Waktu dalam penelitian tugas akhir ini dilakukan selama 14 hari dengan dua kali running dan waktu kontak 10 hari. Parameter yang akan diteliti dalam penelitian ini terbagi menjadi dua bagian yaitu parameter utama dan parameter tambahan. Parameter tersebut adalah konsentrasi MLSS/MLVSS, N-amonia, N-nitrat, Fosfat, Klorofil a sebagai parameter utama sedangkan untuk pH, suhu dan DO sebagai parameter tambahan.Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh hasil kondisi optimum penambahan konsentrasi nutrien dan konsentrasi bakteri yang dilakukan didalam ruangan yaitu penambahan nutrien sebesar 7,5 mg/L dan bakteri sebesar 150 mL,karena memiliki nilai klorofil a yang seimbang dibandingkan reaktor yang lainnya. Oleh sebab itu, penambahan nutrien dan bakteri yang tepat dapat memproduksi alga dengan jumlah yang optimal di

  4. CARA MENGHILANGKAN RASA DAN BAU PADA PENGOLAHAN AIR MINUM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Soewasti Soesanto

    2012-12-01

    Full Text Available Salah satu syarat kualitas air minum adalah tidak berwarna, tidak ada rasa, dan tidak berbau. Kebanyakan konsumen air minum menilai baik tidaknya kualitas air minum hanya secara visual, keruh atau jernih, berwarna atau tidak dan dengan indera pengecap apakah ada rasa atau tidak serta dengan indera pencium; berbau atau tidak. Tulisan ini hanya akan membahas dua aspek yaitu rasa dan bau yang sering dikeluhkan oleh konsumen.Sumber kontaminasi yang menimbulkan rasa dan bau dalam air dapat bersifat alami maupun anthropogenik.Untuk menghilangkan rasa dan bau karena sebab alami ada beberapa pilihan cara pengolahan yaitu sedimentasi konvensional secara gaya berat (Conventional Gravity Sedimentatin = CGS dan pengembangan udara terlarut (Dissolved Air Flotation = DAF, ozonisasi dan filtrasi dengan karbon aktif granular (Granular Activated Carbon = GAC. 

  5. Pengaruh Aerasi dan Sumber Nutrien terhadap Kemampuan Alga Filum Chlorophyta dalam Menyerap Karbon (Carbon Sink untuk Mengurangi Emisi CO2 di Kawasan Perkotaan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lancur Setoaji

    2013-09-01

    Full Text Available Penelitian terkait mitigasi pemanasan global, khususnya dalam penyerapan karbon dioksida (CO2, menjadi fokus utama di kalangan ilmuwan dunia. Secara alamiah, karbon dioksida dapat diserap oleh tumbuhan hijau, laut, karbonasi batuan kapur, dan alga. Pigmen hijau dalam alga atau klorofil dapat menyerap karbon dioksida dalam proses fotosintesis. Alga memiliki pertumbuhan yang sangat cepat sehingga cocok digunakan sebagai carbon sink. Penelitian terkait carbon sink ini bertujuan untuk menentukan kemampuan rata-rata serapan CO2 oleh alga di kawasan perkotaan dan menentukan pengaruh aerasi dan variasi sumber N terhadap pertumbuhan dan perkembangan alga. Penelitian ini dilakukan dalam skala laboratorium menggunakan reaktor dengan proses batch. Sampel alga yang digunakan didapatkan dari hasil pengembangbiakan yang bersumber dari perairan di kawasan perkotaan. Penelitian ini menggunakan dua variabel uji, yaitu aerasi dan sumber nutrien. Jumlah karbon dioksida yang diserap didapatkan dari perbandingan stoikiometri pada reaksi fotosintesis.  Berdasarkan perbandingan stoikiometri tersebut diketahui bahwa 1 gram sel alga yang terbentuk sebanding dengan 1,92 gram CO2 yang diserap. Dari hasil penelitian, alga dengan penambahan pupuk urea dapat menyerap 4,87 mg CO2/hari dalam kondisi tanpa aerasi atau 3,84 mg CO2/hari dengan aerasi. Sedangkan alga dengan penambahan pupuk NPK dapat menyerap 3,61 mg CO2/hari dalam kondisi tanpa aerasi atau 3,01 mg CO2/hari dengan aerasi.

  6. PEMBUATAN BIOETANOL DARI ALGA Codium geppiorum DAN PEMANFAATAN BATU KAPUR NUSA PENIDA TERAKTIVASI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS BIOETANOL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Wayan Karta

    2015-06-01

    Full Text Available  ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi penambahan ragi tape dan waktu fermentasi terhadap kadar etanol dalam pembuatan bioetanol berbahan alga Codium geppiorum, dan pengaruh variasi suhu aktivasi dan massa batu kapur Nusa Penida dalam meningkatkan kadar etanol. Penelitian adalah True Experiment dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL pola faktorial 3 x 4 yang terdiri dari dua faktor. Kadar etanol diukur dengan Gas Chromatography Varian 3300 dan dianalisis dengan Anava dua jalur menggunakan software SPSS 17.0. Hasil penelitian pada kadar etanol hasil fermentasi menunjukkan nilai Fhitung > Ftabel (38,212 > 2,51 dengan probabilitas 0,000 yang berarti adanya interaksi antara variasi konsentrasi ragi dan waktu fermentasi. Perlakuan yang optimum diperoleh pada W3D3 (waktu 7 hari dan konsentrasi 20% yaitu dengan rata-rata 3,03% dari massa sampel alga 25 gram. Hasil penelitian dehidrasi etanol menunjukkan nilai Fhitung > Ftabel (3,082 > 2,51 dengan probabilitas 0,022 yang berarti terdapat interaksi antara suhu aktivasi dan massa batu kapur dalam dehidrasi etanol. Perlakuan yang optimum adalah M1T1 (massa 50 gram dan suhu 800oC dengan rata-rata kadar etanol 99,15 %. Aplikasi batu kapur dengan dehidrasi optimum mampu meningkatkan kadar bioetanol dari 28,92% menjadi 83,78%. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa variasi konsentrasi ragi tape dan waktu fermentasi berpengaruh signifikan terhadap kadar etanol yang dihasilkan pada pembuatan bioetanol berbahan alga Codium geppiorum; dan variasi suhu aktivasi dan massa batu kapur berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kadar etanol.  ABSTRACT: The aims of this research are to determine the effect of the concentration of yeast addition and length of fermentation on the amount of ethanol produced in the fermentation of algae Codium geppiorum and the effect of activation temperature and the amount of Nusa Penida’s limestone on the concentration of ethanol in the

  7. PEMISAHAN ION KROM(III DAN KROM(IV DALAM LARUTAN DENGAN MENGGUNAKAN BIOMASSA ALGA HIJAU SPIROGYRA SUBSALSA SEBAGAI BIOSORBEN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M Mawardi

    2014-05-01

    Full Text Available Karakteristik pemisahan ion Cr3+ dan Cr6+ dalam larutan melalui proses biosorpsi menggunakan biomassa alga hijau Spirogyra subsalsa dengan sistem batch telah diteliti. Dalam pelaksanaannya diawali dengan melakukan analisis kualitatif gugus fungsi dalam biomassa menggunakan instrumen FTIR, kemudian dipelajari karakteristik pengaruh variabel pH awal larutan, ukuran partikel biosorben, kecepatan pengadukan, pengaruh pemanasan biosorben, laju penyerapan, pengaruh konsentrasi larutan ion logam terhadap kapasitas serapan biomassa alga. Berdasarkan spektra spektroskopi FTIR dapat disimpulkan bahwa  biomassa alga hijau S. Subsalsa mengandung gugus-gugus karboksilat, amina, amida, amino, karbonil dan hidroksil, disamping adanya senyawa silikon, belerang dan fosfor. Hasil penelitian yang diperoleh  memperlihatkan bahwa kapasitas biosorpsi sangat dipengaruhi oleh pH larutan, waktu kontak dan konsentrasi awal larutan. Biosorpsi optimum kation Cr3+ terjadi pada pH 4,0 sedangkan ion Cr6+ terjadi pada pH 2,0 kemudian berkurang dejalan dengan naiknya pH larutan. Perhitungan dengan persamaan Isoterm Langmuir diperoleh data kapasitas serapan maksimum biomassa alga S. subsalsa untuk masing-masing ion Cr3+ dan Cr6+ adalah 1,82 mg (0,035 mmol dan 1,51 mg (0,029 mmol per gram biomassa kering. Kinetika biosorpsi berlangsung relatif cepat, dimana selama selang waktu 30 menit, masing-masing ion terserap sekitar 95,7%; dan 86,5%. Daya serap biomassa juga dipengaruhi kecepatan pengadukan, sedangkan faktor ukuran partikel dan pemanasan biosorben kurang mempengaruhi daya serap biomassa. Key Word : biosorpsi, spirogyra subsalsa, krom(III, krom(VI, sistem batchAbstract Separation of Ion Chromium(III and Chromium(IV In Solution Using Green Algae Biomass Spirogyra subsalsa as Biosorbent. The characteristics of Cr3+andCr6+ ion separation in solution through biosorption process using green algal biomass Spirogyrasubsalsa with batch systems have been investigated. The study

  8. ANALISIS KANDUNGAN UNSUR ESENSIAL DAN TOKSIK DALAM TEH DAN AIR SEDUHANNYA DENGAN AKTIVASI NEUTRON

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Th. Rina Mulyaningsih

    2015-04-01

    Full Text Available Kadar unsur logam K, Ca, Mn, Mg, Fe, Na, Zn, Rb, Br, Cr, Cs, La,Sc dan Co dalam 14 sampel teh hijau, teh hitam, teh hitam dengan aroma melati, aroma vanila, bunga rosella dan air seduhan teh telah ditentukan dengan analisis aktivasi neutron. Sampel teh dipilih dari produksi dalam negeri dan diperoleh dari Pasar Swalayan di daerah Serpong. Iradiasi neutron sampel dilakukan di Fasilitas Iradiasi reaktor RSG-GAS pada fluks neutron thermal sekitar sekitar 1013 ncm-2s-1. Prosedur kerja menggunakan SOP yang dikeluarkan oleh FNCA. Sebagai kontrol mutu digunakan SRM-NIST 1573a Tomato leaves dan NIST 1547 Peach leaves. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi semua unsur bervariasi tergantung jenis teh. Konsentrasi Ca, K, Mg dan Mn dalam teh cukup tinggi > 100 mg/kg . Konsentrasi Ca dan K memiliki rentang nilai antara 1135,36-9123,21 dan 1064,41-2473,12 mg/kg serta Mg 2725,6-5528,5; dan Mn 95,38-815,48 mg/kg. Unsur mikroesensial Na, Fe, Co, La, Cr, Br, Sc, Cs, Rb dan Zn memiliki konsentrasi 100 mg/kg. Concentration of Ca and K have values in a range of 1135.36-9123.21 and 1064.41-2473.12 mg/kg as well as Mg of 2725.6-5528.5; and Mn of 95.38-815.48 mg/kg.Concentration of Na, Fe, Co, La, Cr, Br, Sc, Cs, Rb and Zn <100 mg/kg. Most elements in these tea were released into the infusions at defferent percentages in a range of 27.89-68.94% depending on the sort of the tea. There were not detected toxical elements Hg, Cd and As except Cr with low concentration. Therefore tea drink sare adequately good enough as essential elements source and content no toxic elements. Keywords: elemental analysis, essential, toxic, tea, neutron activation.

  9. Penggunaan Arang Tempurung Kelapa dan Eceng Gondok untuk Pengolahan Air Limbah Tahu dengan Variasi Konsentrasi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Angelica Alimsyah

    2013-03-01

    Full Text Available Air limbah tahu yang dibuang langsung tanpa pengolahan dapat mencemari badan air. Sesuai dengan hasil laboratorium, air limbah tahu yang dibuang memiliki kandungan nutrien yang tinggi dan tidak memenuhi baku mutu. Dengan adanya permasalahan tersebut maka diperlukan adanya pengolahan air limbah tahu. Salah satu alternatif pengolahan adalah menggunakan arang tempurung kelapa dan eceng gondok. Kontaminan pada air limbah tahu diharapkan dapat berkurang dengan adanya proses adsorpsi yang dilakukan arang tempurung kelapa dan fitoremediasi yang dilakukan oleh eceng gondok. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pengaruh konsentrasi air limbah tahu terhadap penurunan NH4, TSS, dan COD yang dilakukan oleh arang tempurung kelapa dan tumbuhan eceng gondok. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah konsentrasi air limbah 60% dan 50% serta Parameter yang digunakan adalah NH4, TSS, dan COD. Dari hasil penelitian terlihat peningkatan efisiensi dari berbagai macam kerapatan tumbuhan.

  10. BEBERAPA MARGA ALGA BENANG DAN HUBUNGANNYA DENGAN KEBERADAAN VEKTOR MALARIA DI BALI UTARA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I. G. Seregeg

    2012-09-01

    Full Text Available A study of filamentous algae and its relation to malaria vector control was conducted during the dry season in several lagoons at the north coast of Bali. Floating masses of these algae under the sunshine barricated the spread of solar-triton larvicide, reducing tremendously the effectiveness of the larvicide. Identification of the genera of these algae under the subphyllum of CYANOPHYTA (Blue Algae in the family of Cyanophyceae were Oscillatoria, Spirulina, Phormidium, Rivularia, Nostoc, and Anabaena; under the subphyllum of CHLOROPHYTA (Green Algae in the family of Chlorophyceae were Enteromorpha, Spirogyra, Mougeotia, Zygnema, and Oedogonium. The surface of water in between the floating masses of algae were an exellent breeding place of mosquitoes mainly Anopheles sundaicus. The density of Enteromorpha, the main attractant of An sundaicus compared to other filamantous algae, has no direct relation on the density of An. sundaicus larva. Hence Enteromorpha could only be considered as the indicator of the presence of larvae and not as the indicator of population densities of larvae Lagoons surrounded with mangrove plantations did not harbour filamentous algae and larvae of An. sundaicus were not found.

  11. KANDUNGAN LOGAM BERAT PADA AIR DAN SEDIMEN DI PERAIRAN SOCAH DAN KWANYAR KABUPATEN BANGKALAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wahyu Andy Nugraha

    2009-10-01

    Full Text Available Logam berat sangat berbahaya bagi biota laut maupun trofik level diatasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat di perairan Socah dan Kwanyar kabupaten Bangkalan. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan. Pengambilan sampel air menggunakan botol sampel, sedangkan pengambilan sampel sedimen menggunakan grab sampler. Sampel kemudian dianalisa dengan spektrofotometer serapan atom (SSA. Hasil menunjukkan bahwa kandungan logam berat Cd, Cu, Pb, dan Hg pada air di perairan Socah dan Kwanyar masih dibawah ambang batas baku mutu air laut, sedangkan kandungan logam berat di sedimen melebihi ambang batas baku mutu air laut untuk biota laut. Secara umum, kandungan logam berat di sedimen lebih tinggi dari pada kandungan logam berat di air. Kata Kunci : Logam berat, Pencemaran, Spektrophotometer  HEAVY METALS CONTENTS IN WATER AND SEDIMENT IN KWANYAR AND SOCAH WATER, BANGKALANHeavy metals are very dangerous for marine life as well as the trophic level above. This study aims to determine the content of heavy metals in the waters Socah and Kwanyar Bangkalan. This study was conducted over 3 months. Water sampled using a sample bottle, while sediment samples was taken using a grab sampler. The sample was then analyzed by atomic absorption spectrophotometer (AAS. Results showed that the content of heavy metals Cd, Cu, Pb and Hg in the water in the Socah and Kwanyar waters still below the seawater quality standard limits, whereas the heavy metal content in sediments exceeded the water quality standard for marine sea. In general, the content of heavy metals in sediment is higher than on the water.Keywords: Heavy metals, Pollution, AAS

  12. ANALISIS KUALITAS AIR PADA SUMBER MATA AIR DI KECAMATAN KARANGAN DAN KALIORANG KABUPATEN KUTAI TIMUR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Iin Sumbada Sulistyorini

    2017-02-01

    Full Text Available The purpose of this study was to determine the water quality based on some parameters of physical, chemical and biological properties of the three springs. One location site in the district of Kaliorang and then two location site in the District of Karangan. Landscape characteristics in the two districts almost equal in the hills with a small incision. Likewise, the third location of water sources is a hilly area of karst (limestone. Karst landscapes not only provide material goods, biodiversity, but also providers of ecosystem services such as clean water, the water regulator and the potential of the upper and lower surfaces such as caves. The results showed that the physical quality of water from the three water sources meet the quality standards required. From the results of laboratory testing, chemical water quality at three locations contain BOD (Biochemical Oxygen Demand and COD (Chemical Oxygen Demand is relatively high. The high value of BOD and COD indicated that the water conditions have polluted by the accumulation of organic materials, especially the litter of the forest vegetation. Furthermore, for total coliform and fecal coliform although the amount is below the threshold quality standards required, but its existence in the water indicates the contamination of water sources by sewage as from agricultural run-off, animal feces containing the bacteria, viruses, or disease-causing organisms more, Based on the designated class of water, the springs at the third location is very suitable for use as irrigation, facilities or infrastructure freshwater fish farming, recreation, and other designation that requires the same quality standards. As for the water designation for drinking water must through the processing or specific treatment. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas air berdasarkan beberapa parameter fisik, kimia dan biologi dari tiga sumber mata air, yaitu satu lokasi di kecamatan Kaliorang dan dua lokasi di

  13. Membran Polisulfon untuk Pengolahan Air: Dengan dan Tanpa Pra Perlakuan Koagulasi secara Ultrafiltrasi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bastian Arifin

    2014-06-01

    Full Text Available Membran polisulfon untuk pengolahan air telah dilakukan untuk mengurangi warna air dengan proses koagulasi dan tanpa proses koagulasi. Membran ultrafiltrasi polisulfone telah dikarakte-risasi dengan mengukur fluks, permeability (Lp, dan MWCO dengan bebagai variasi berat molekul dekstran. Morfologi membran diobservasi dengan scanning electron microscopy (SEM. Analisis SEM dilakukan terhadap permukaan membran dan penampang melintang membran. Proses koagulasi optimum dilakukan dengan menggunakan alat jar test, diperoleh kondisi optimum pada 50 ppm Al2(SO43 dan pH 7. Indeks warna rejeksi diperoleh dengan koagulasi adalah 85% dan tanpa koagulasi adalah 62%.

  14. Studi Kelayakan Pengolahan Air Laut Menjadi Air Bersih di Kawasan Wisata dan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN Pantai Prigi, Trenggalek

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Agista Ayuningtyas Puspita Dwijayani

    2013-09-01

    Full Text Available Ketersediaan air bersih diperlukan pula dalam bidang kepariwisataan. Salah satunya ialah kawasan wisata alam Pantai Prigi, Trenggalek. Namun kondisi air saat ini masih memiliki kandungan TDS (Total Dissolved Solid dan salinitas yang cukup tinggi sehingga dibutuhkan suatu teknologi untuk mengolah air asin menjadi air tawar agar memenuhi standar baku mutu air bersih. Salah satu teknologi yang dapat diterapkan untuk mengolah air asin atau payau menjadi air tawar adalah dengan sistem Reverse Osmosis (RO. Penentuan kapasitas SWRO ditentukan dengan memproyeksikan jumlah pengunjung kawasan wisata Pantai Prigi dan kebutuhan air kolam apung hingga tahun 2023. Hasil proyeksi diperoleh kebutuhan air sebesar 729,40 m3/hari pada penggunaan maksimum. Dengan desain SWRO yaitu menggunakan pretreatment rapid sand filter dan filter karbon aktif untuk meremoval kandungan TDS, kesadahan total, khlorida, sulfat, dan bilangan KMnO4 (zat organik. Biaya yang dibutuhkan untuk membuat sistem pengolahan air laut dengan SWRO sebesar Rp 5.077.307.500,00.Perencanaan sistem pengolahan air laut menjadi layak jika air reject dari SWRO sebesar 1463,28 m3/hari dimanfaatkan menjadi wisata kolam apung, garam, dan air nigari dengan investasi total sebesar Rp 7.326.095.500,00. Dengan analisa kelayakan secara ekonomi  menggunakan prinsip ekonomi teknik, pada alternatif ini diperoleh nilai NPV sebesar Rp 25.024.360.250,24 ; IRR sebesar 23,7% ; dan Payback periode pada tahun ke-3 dengan keuntungan yang diperoleh Rp 3.915.665.044,80 per tahun.

  15. Tempat Penampungan Air dan Kepadatan Jentik Aedes sp. di Daerah Endemis dan Bebas Demam Berdarah Dengue

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wanti Wanti

    2014-12-01

    Full Text Available Tingkat kepadatan jentik merupakan indikasi diketahuinya kepadatan nyamuk Aedes sp yang akan menularkan virus dengue sebagai penyebab penyakit demam berdarah dengue (DBD dan juga sebagai salah satu indikator keberhasilan kegiatan pengendalian vektor. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik tempat penampungan air (TPA dan perbedaan kepadatan jentik House Index, Container Index, Breatau Index (HI, CI, BI di Kelurahan Alak sebagai daerah endemis dan Kelurahan Belo sebagai daerah bebas DBD di Kota Kupang Tahun 2011. Penelitian observasional analitik ini menggunakan rancangan studi potong lintang. Variabel penelitian adalah jenis, kondisi, letak, bahan TPA dan kepadatan jentik Aedes sp. Data dikumpulkan dengan observasi langsung pada TPA dan rumah terpilih. Data disajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis dengan uji-t. Penelitian ini menemukan TPA positif jentik paling banyak adalah TPA untuk kebutuhan sehari-hari, kondisi TPA tidak tertutup rapat, letak TPA di luar rumah, bahan TPA adalah bahan keramik, dan warna TPA adalah warna putih. Hasil penelitian menunjukkan nilai dari HI 0,887, CI 0,146 dan BI 0,080, yang artinya tidak ada perbedaan kepadatan jentik antara Kelurahan Alak (daerah endemis dengan Kelurahan Belo (daerah bebas. Disimpulkan tidak ada perbedaan kepadatan jentik (HI, CI, dan BI antara daerah endemis dan daerah bebas DBD. Kedua daerah sama-sama memiliki tingkat kepadatan jentik yang tinggi, sehingga disarankan pemberantasan sarang nyamuk tidak hanya diprioritaskan pada daerah endemis DBD tetapi juga daerah daerah bebas DBD. Water Container and the Aedes sp. Larvae Density in Endemic and Free Dengue Haemorrhagic Fever The larva density is an indication of the density of Aedes sp known to be capable of transmitting the dengue virus as the cause of dengue haemorrhagic fever (DHF and also as one of the indicators of the success of vector control activities. This study aimed to determine the difference of the water

  16. PENGARUH PEMBERIAN GIBERELIN DAN AIR KELAPA TERHADAP PERKECAMBAHAN BIJI ANGGREK BULAN (Phalaenopsis sp.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lilik Hidayatul Mukminin

    2016-09-01

    Full Text Available Phalaenopsis sp. atau dikenal dengan nama dagang anggrek bulan termasuk famili Orchidaceae yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Pembudidayaan tanaman anggrek selama ini terkendala pada biji anggrek yang memiliki daya kecambah kurang dari 1%. Daya kecambah biji yang rendah disebabkan oleh ukuran biji yang kecil dan tidak mempunyai endosperm. Oleh karena itu, perkecambahan biji anggrek perlu didukung oleh hormon tumbuh yang sesuai. Giberelin dan air kelapa diketahui dapat berperan dalam perkecambahan biji. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian Giberelin (GA3 dan air kelapa terhadap perkecambahan biji anggrek bulan (Phalaenopsis sp. Tahapan penelitian yang dilakukan yaitu melakukan sterilisasi, kemudian biji Anggrek diinokulasikan dalam medium MS dengan perlakuan variasi konsentrasi GA3 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm dan perlakuan variasi konsentrasi air kelapa 10 mL, 20 mL, dan 25 mL beserta kombinasinya kemudian diamati pada hari ke-21. Parameter yang diamati berupa perkembangan morfologi protocorm dan fase perkembangan protocorm yang dianalisis secara deskriptif, sedangkan daya kecambah protocorm dianalisis ANOVA dan dilanjutkan uji Tukey pada tingkat kepercayaan 95% untuk melihat adanya perbedaan antarperlakuan. Perkembangan protocorm pada 3 perlakuan memperlihatkan fase perkembangan protocorm yang berbeda, yaitu embrio membengkak dan merobek testa, protocorm putih dengan absorbing hair, protocorm putih kekuningan, dan protocorm hijau bulat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian giberelin (GA3 3 ppm menghasilkan daya kecambah paling rendah dan pemberian kombinasi antara GA3 dan air kelapa menunjukan daya kecambah yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan MS.

  17. KOMBINASI ULTRAFILTRASI DAN DISSOLVED AIR FLOTATION UNTUK PEMEKATAN MIKROALGA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Nyoman Widiasa

    2014-05-01

    Full Text Available Abstrak Mikroalga merupakan mikroorganisme fotosintetik prokariotik atau eukariotik yang dapat tumbuh dengan cepat. Pemanfaatan mikroalga tidak hanya berorientasi sebagai pakan alami untuk akuakultur, tetapi terus berkembang untuk bahan baku produksi pakan ternak, pigmen warna, bahan farmasi (β-carotene, antibiotik, asam lemak omega-3, bahan kosmetik, pupuk organik, dan biofuel (biodiesel, bioetanol, biogas, dan biohidrogen. Studi ini bertujuan untuk menginvestigasi kombinasi ultrafiltrasi (UF – dissolved air flotation (DAF untuk pemekatan mikroalga skala laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan fluks membran UF secara tajam sebagai akibat dari deposisi sel mikroalga terjadi pada 20 menit pertama proses filtrasi. Backwash pada interval 20 menit selama 10 detik dengan tekanan 1 bar memberikan pengendalian fouling yang efektif dalam nilai kestabilan fluks yang layak. Membran UF yang digunakan dapat memberikan selektivitas pemisahan biomassa mikroalga ~ 100%. Kualitas permeat sangat stabil, yaitu kekeruhan < 0,5 NTU, kandungan organik < 10 mg/L, dan warna < 10 PCU. Lebih lanjut, pemekatan retentat membran dengan DAF pada tekanan saturasi 6 bar dapat menghasilkan pasta mikroalga dengan konsentrasi 20 g/L. Koagulan PAC perlu ditambahkan kedalam umpan DAF dengan dosis 1,3–1,6 mg PAC/mg padatan tersuspensi.   Kata Kunci: ultrafiltrasi; dissolved air flotation; pemanenan mikroalga; pemekatan mikroalga   Abstract COMBINATION OF Ultrafiltration and Dissolved Air Flotation for Microalgae CONCENTRATION. Microalgae is a prokaryotic photosynthetic microorganism or eukaryotic microorganism  that proliferate rapidly. Cultivation of the microalgae is not only oriented  as natural food for aquacultures, but also developed  for animal food, color pigment, pharmaceutical raw material (β-carotene, antibiotic, fatty acid omega-3, cosmetic raw material, organic fertilizer, and biofuels (biodiesel, bioethanol, biogas, and biohydrogen. This

  18. UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENCEMARAN AIR AKIBAT PENAMBANGAN EMAS DI SUNGAI KAHAYAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mrs. Heriamariaty

    2012-02-01

    Full Text Available The absence of Public Mining Area and continued use of mercury is responsible for the illegal gold mining and water pollution in Kahayan river. Efforts must be made to avoid and overcome environmental impact by strengthening coordination in central and regional level; empowering local community; and imposing sanction as law enforcement method. Belum adanya Wilayah Pertambangan Rakyat serta penggunaan merkuri mendorong terjadinya penambangan emas tanpa izin dan pencemaran air di Sungai Kahayan. Untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran ini diperlukan koordinasi di tingkat pusat dan daerah; penyuluhan dan pendekatan di bidang sosial, ekonomi, budaya, hukum, dan teknologi; serta penegakan hukum secara tegas melalui penerapan sanksi.

  19. Penurunan Kandungan Zat Kapur dalam Air Tanah dengan Menggunakan Media Zeolit Alam dan Karbon Aktif Menjadi Air Bersih

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gianina Qurrata Dinora

    2013-09-01

    Full Text Available Salah satu syarat kimia yang harus dipenuhi dalam air bersih adalah kesadahan. Salah satu penyebab utama terjadinya kesadahan adalah kandungan Ca2+ (kesadahan kalsium atau biasanya disebut air kapur. Selain kandungan air kapur yang tinggi, penyebab air tanah tidak dapat langsung digunakan adalah kadungan besi dan mangan yang tinggi pula. Untuk itu, dibutuhkan unit filter skala rumah tangga yang dapat menjadi pengolahan alternatif untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Penelitian ini  bertujuan untuk mendapatkan komposisi media filter yang efektif dan effisien untuk penyisihan kesadahan kalsium, Fe, dan Mn dalam air tanah dan mendapatkan waktu breakthrough. Media filter yang digunakan pada penelitian ini adalah media zeolit alam dan karbon aktif disusun secara stratifikasi dengan perbandingan ketinggian pada masing-masing reaktor filter. Media filter tersebut akan dialiri dengan tiga variasi konsentrasi kesdahan kalsium. Hasil dari penelitian ini, didapatkan komposisi media yang paling efektif dalam menurunkan kandungan kesadahan kalsium adalah komposisi III dengan perbandingan ketinggian media zeolit alam dan karbon aktif sebesar 30 cm : 60 cm. Pada variasi konsentrasi 1 mampu melakukan penyisihan sebesar 96,52%, konsentrasi 2 mampu melakukan penyisihan sampai 94,67%, dan konsentrasi 3 mampu melakukan penyisihan sebesar 90,22%

  20. Sampel Susu Formula dan Praktik Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tuti Nuraini

    2013-07-01

    Full Text Available Cakupan pemberian air susu ibu (ASI eksklusif di Kota Pagar Alam, tahun 2011 sekitar 43% tergolong rendah. Sebaliknya, pemberian susu formula meningkat tiga kali lipat dari 10,3% menjadi 32,5%. Iklan susu formula telah menyentuh bidan swasta dan puskesmas melalui pendekatan produsen susu formula dan pemberian susu formula secara gratis kepada ibu menyusui. Penelitian yang bertujuan mengetahui determinan kegagalan praktik pemberiaan ASI eksklusif di Kota Pagar Alam Provinsi Sumatera Selatan ini menggunakan desain studi unmatching kasus kontrol. Populasi adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi berusia 7 _ 12 bulan. Penarikan sampel dilakukan dengan metode proportional random sampling. Variabel terikat praktik adalah pemberian ASI eksklusif, variabel bebas adalah pemberian sampel susu formula. Ibu yang mendapat sampel susu formula dan yang tidak mendapat dukungan tenaga kesehatan berisiko 3,67 dan 4,2 kali lebih besar untuk tidak memberikan ASI eksklusif. The coverage of exclusive breastfeeding in the City of Pagar Alam in 2011 was by 43%. Advertising of infant formula has reached privately practicing midwives or health centers. The approach from infant formula manufacturers to midwives in health centers is by providing free milk formula to nursing mothers to be distributed under the pretext of promotion. The objective of this study is to analyze the determinants of exclusive breastfeeding practice failures in the City of Pagar Alam of South Sumatra Province. The population study with an unmatched case-control design was conducted in the City of Pagar Alam. The population was all breastfeeding mothers who had babies in the city of Pagar Alam of South Sumatra Province. The research subjects are breastfeeding mothers who had babies aged 7 - 12 months who selected with proportional random sampling method. The variables of the study included the dependent variable, i.e, the practice of exclusive breastfeeding, the independent variable, i.e, promotion of

  1. Kombinasi Proses Koagulasi dan Sistem Ultrafiltrasi dengan Membran Poliakrilonitril untuk Pemurnian Air Berwarna

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Aprilia

    2013-12-01

    Full Text Available Penelitian pengolahan air berwarna berdasarkan proses koagulasi dan ultrafiltrasi dengan membran poliakrilonitril (PAN telah dilakukan. Studi ini bertujuan untuk membuat dan mengevaluasi karakteristik membran PAN untuk aplikasi pada pengolahan air berwarna. Membran PAN berbentuk plat dibuat dengan melarutkan polimer PAN kedalam dimetilformamida (DMF. Konsentrasi PAN divariasikan pada 15, 20, dan 25 (% berat. Membran yang dihasilkan selanjutnya dikarakterisasi untuk parameter struktur morfologi dengan scanning electron microscopy (SEM, fluks dan rejeksi larutan menggunakan modul filtrasi tipe dead-end. Selanjutnya dilakukan uji molecular weight cut-off (MWCO membran menggunakan larutan dekstran dengan berat molekul 9500, 19500, dan 39000 Da. Hasil uji SEM menunjukkan bahwa membran mempunyai pori dengan struktur asimetrik. Uji ultrafiltrasi yang diawali dengan proses koagulasi dapat merejek warna air 92,5%, dengan perolehan fluks mencapai 364,8 ml/m2.s.

  2. Penggunaan Unit Slow Sand Filter, Ozon Generator dan Rapid Sand Filter Skala Rumah Tangga Untuk Meningkatkan Kualitas Air Sumur Dangkal Menjadi Air Layak Minum (Parameter Zat Organik dan Deterjen

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anindya Prawita Sari

    2014-09-01

    Full Text Available Air sumur merupakan air tanah yang sering kali digunakan masyarakat untuk aktivitas sehari-hari. Air sumur dengan kadar organik dan deterjen tinggi tidak layak dikonsumsi masyarakat karena dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Selain itu, adanya zat organik dan deterjen mempengaruhi warna dan bau air sumur sehingga tidak layak konsumsi. Slow sand filter merupakan unit pengolahan yang mampu meremoval zat organik pada air. Slow sand filter dan rapid sand filter tidak menggunakan bahan kimia dalam proses pengolahan sehingga lebih ekonomis dan efektif. Sedangkan ozon, efektif digunakan untuk meremoval zat organik yang ada dalam air dengan mengubah rantai zat organik menjadi lebih sederhana. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan penggunaan slow sand filter, ozon generator dan rapid sand filter dalam menyisihkan beban deterjen dan zat organik pada air sumur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi removal pada unit slow sand filter untuk beban organik dan deterjen sebesar 57,6% dan 60,5 %, pada unit ozonasi sebesar 47,4% dan 17,5%, dan pada unit rapid sand filter sebesar 50,0% dan 50,9 %.

  3. KARAKTERISASI GLIKOSAMINOGLIKAN DARI TULANG RAWAN IKAN PARI AIR LAUT (Neotrygon kuhlii DAN PARI AIR TAWAR (Himantura signifer

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bambang - Riyanto

    2014-06-01

    Full Text Available Ikan pari merupakan komoditas perikanan yang populasinya besar di Indonesia, tetapi pemanfaatannyabelum optimal. Jaringan tulang rawan ikan pari mengandung molekul glikosaminoglikan dan telahdimanfaatkan dalam terapi osteoarthritis. Tujuan penelitian ini adalah menentukan karakteristikglikosaminoglikan dari tulang rawan ikan pari air laut (Neotrygon kuhlii dan pari air tawar (Himanturasignifer. Spektrum FTIR memperlihatkan pola yang sama dengan kondroitin sulfat. Konsentrasiglikosaminoglikan pada pari air laut adalah 74,767 mg/100 mL, konsentrasi ini lebih tinggi dibandingkandari ikan pari air tawar, yaitu 66,767 mg/100 mL.Kata kunci: glikosaminoglikan, Himantura signifer, kondroitin sulfat, Neotrygon kuhlii, osteoarthritis

  4. Purwarupa Air Data, Attitude, dan Heading Reference System untuk Unmanned Aerial Vehicle

    OpenAIRE

    Manggala, Adrianus Prima; Sumiharto, Raden; Wibowo, Setyawan Bekti

    2012-01-01

    AbstrakADAHRS  (air data, attitude, and heading reference system )merupakan gabungan dari sensor air data (AD) dan sistem referensi attitude and heading (AHRS). Sistem ini memiliki peran penting dalam memberikan data parameter-parameter penerbangan yang akan digunakan oleh modul lain dalam UAV. Parameter penerbangan yssang dibaca oleh ADAHRS adalah sudut yaw, sudut pitch, sudut roll, serta data ketinggian, kecepatan, suhu, tekanan, dan koordinat GPS yang akan digunakan sebagai referensi dalam...

  5. PERANCANGAN DAN PEMBUATAB ALAT UKUR KADAR KROM DALAM AIR DENGAN MENGGUNAKAN PRINSIP SPEKTROSKOPI SERAPAN ATOM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tin Yunis Mahfudloh, Mohammad Tirono

    2012-04-01

    Full Text Available Air adalah bahan yang berperan penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Air steril dengan kandungan mineral yang cukup dan tidak terpolusi dapat berperan sebagai cairan yang menata keseimbangan tubuh. Apabila air yang dikosumsi manusia telah tercemar oleh sampah dan limbah industri yang mengandung zat-zat kimia/logam berat yang bersifat racun akan berbahaya Seperti kromium/krom dengan kode kimiawi Cr. Penelitian dilakukan untuk membuat alat ukur kadar krom dalam air dengan metode absorpsi dengan instrumen fotometri. Alat ukur kadar krom dalam air menggunakan prinsip spektroskopi serapan atom terdiri dari 2 sistem, yaitu sistem optik dan sistem elektronik. Sistem optik terdiri dari lampu halogen, filter cahaya dengan panjang gelombang 520.4, kuvet dan sensor photodioda. Sedangkan sistem elektronik terdiri dari ADC 0804, MCU AT89S51 dan LCD.  Prinsip keja alat ini adalah cahaya polikromatis yang dipancarkan oleh lampu halogen akan melewati filter sehingga cahaya polikromatis akan bersifat monokromatis. Cahaya akan melewati air dengan kadar krom 0% untuk mereset reagen dan pelarut kemudian dideteksi oleh sensor sehingga menghasilkan data I0. Setelah dideteksi air  akan bergeser ke atas dan sensor bergeser kebelakang untuk mendeteksi sampel yang mempunyai kadar krom tertentu dan menghasilkan data I1. Di dalam sampel ini terjadi penyerapan intensitas cahaya oleh atom krom. Kemudian data I0 dan I1 akan diolah oleh MCU AT89S51 dan ditampilkan pada LCD. Sampel yang digunakan adalah larutan H2O dengan K2Cr2O7 sebanyak 10 sampel dengan variasi kadar 0%, 1%, 1.5%, 2%, 2.5%, 3%, 3.5%, 4%, 4.5%, dan 5%. Larutan krom diperoleh dengan cara mengencerkan 10gr K2Cr2O7 dalam 100ml H2O sehingga didapatkan K2Cr2O7 10% sebagai larutan stok, selanjutnya untuk mendapatkan K2Cr2O7 dengan kadar tertentu, maka diambil dari larutan stok kemudian diencerkan sampai volume 25 ml sesuai dengan rumus M1 V1 =M 2 V2 Hasil pegujian pada sistem elektronik menunjukkan

  6. PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA AIR UNTUK IRIGASI DI KABUPATEN SLEMAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hery Listyawati

    2012-07-01

    Full Text Available Supervision and control of utilization of water resources for irrigation in Sleman regency is vital in realizing fair use of water resources. This descriptive-qualitative study finds that preventive-internal supervision has been consistent with those set forth in the working procedures and that repressiveinternal supervision is present in the form of sanctions. The locals enjoy preventive and repressive eksternal supervisionary role, which is manifested in local gatherings and public reporting system. We also find that the government exerts control by licensing, reprimands, advocacy, direction, and conflict resolution mechanisms. Practical problems include the absence of provincial irrigation commission and specific agencies that supervise the enforcement of mediation. Pengawasan dan pengendalian pemanfaatan sumber daya air untuk irigasi di Kabupaten Sleman sangat penting dalam mewujudkan penggunaan sumber daya air yang adil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawasan internal-preventif telah sesuai dengan yang dimandatkan oleh tugas pokok dan fungsi dan bahwa pengawasan internal-represif telah dilaksanakan dalam bentuk sanksi. Masyarakat melakukan pengawasan preventif dan represif dalam bentuk sarasehan/musyawarah dan sistem pelaporan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemerintah mengendalikan penggunaan sumber daya air dengan menyelenggarakan sistem perizinan, teguran, pembinaan, dan penyelesaian sengketa. Beberapa masalah yang ditemukan di lapangan antara lain adalah tidak adanya komisi irigasi provinsi dan lembaga pengawas khusus yang mengawasi pelaksanaan putusan mediasi.  

  7. PENGARUH PERBANDINGAN AIR DAN BUBUK TERHADAP LAMANYA WAKTU SETTING DENTAL STONE

    OpenAIRE

    Sila, Patri

    2012-01-01

    2012 Patri Sila. Dental stone adalah bahan yang terbuat dari gipsum yang kristalisasinya dikontrol secara hati ??? hati dengan tekanan uap dalam wadah tertutup dan biasanya di sebut sebagai ??-hemihidrat. Secara komersial, dental stone dibuat dari gipsum yang dipanaskan pada suhu 125?? C dibawah tekanan uap dalam autoklaf secara terus menerus sehingga terbentuk hemihidrat dengan porositas yang rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbandingan air dan bubuk terh...

  8. Kombinasi Metode Independent Component Analysis (ICA dan Beamforming untuk Pemisahan Sinyal Akustik Bawah Air

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mandala Anugerahwan Firstanto

    2013-09-01

    Full Text Available Pada bidang perkapalan atau kelautan, sinyal akustik merupakan sebuah sinyal noise. Hal ini dikarenakan sinyal akustik yang ingin kita analisis tercampur dengan sinyal lain. Perlu adanya metode untuk memisahkan sinyal akustik dari suara yang terdapat dalam medium air dan mengetahui arah datang sumber suara. Dalam tugas akhir ini dilakukan pemisahan sinyal akustik dengan menggunakan kombinasi metode ICA dan beamforming. Pemisahan sinyal akustik dilakukan tiga kali. Pertama, simulasi pemisahan suara menggunakan pemodelan shallowwaterdengan algoritma FastICA dan delayandsum(DS beamformer. Kedua, dengan menggunakan toolboxICALAB. Ketiga, pemisahan sinyal akustik secara riil, hasil rekaman dengan menggunakan hydrophone. Hasil simulasi menunjukkan bahwa, algoritma FastICA dapat memisahkan sinyal akustik dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan nilai MSE sebesar 3.6399×〖10〗^(-5 dan nilai SIR sebesar 45,72dB. Pada pemisahan suara secara riil, jarak antara speaker dengan hydrophone menentukan kualitas pemisahan suara. Semakin jauh jarak antara speaker dengan hydrophone, semakin berkurang nilai MSE dan SIR pada proses pemisahan suara bawah air. Hal ini dapat dilihat pada jarak 1 meter nilai mean SIR bernilai 51,29dB, jarak 5 meter bernilai 48.55dB, jarak 10 meter bernilai 41,73dB. Algoritma DS beamformer dapat menentukan sumber suara dalam medium air dengan jarak minimal speaker dengan hydrophone10 meter. Peletakan speaker dan hydrophone yang saling berhadapan akan mendapatkan hasil yang maksimal.

  9. KONSUMSI AIR PUTIH, STATUS GIZI, DAN STATUS KESEHATAN PENGHUNI PANTI WERDA DI KABUPATEN PACITAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Desy Dwi Aprillia

    2015-02-01

    Full Text Available ABSTRACTThe objective of this study was to learn and analyze the relationship between the consumption of plain water, nutritional status, and health status of panti werda residents in Pacitan. Design of this study was cross-sectional. Subject of this study were panti werda residents. As many as 24 people were chosen as subject. This result showed that 75% of subject had plain water sufficient levels were categorized as adequate and 25% were inadequate. Energy and protein sufficiency levels of subject were 33% and 42% categorized as normal. Micronutrient sufficient levels of subject consists of 83% phosphorus, 88% iron, and 100% vitamin A were categorized as adequate, but calcium and vitamin C sufficient levels as many as 96% and 100% were categorized as inadequate. As many as 42% subject had normal nutritional status, 25% were underweight, and 33% were overweight. Health status of subject as many as 54% were categorized as high and 46% were low. The Pearson and Spearman correlation test showed that nutritional status with nutrient intake, plain water consumption, and health status of subject had no significant relationship (p>0.05.Keywords: elderly, health status, nutrition intake, nutritional status, plain waterABSTRAKTujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan konsumsi air putih, status gizi, dan status kesehatan penghuni panti werda di Kabupaten Pacitan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 24 orang penghuni panti werda. Hasil studi menunjukkan bahwa 75% subjek memiliki tingkat kecukupan air putih yang tergolong kurang dan 25% tergolong cukup. Tingkat kecukupan energi dan protein subjek masing-masing sebesar 33% dan 42% tergolong normal. Tingkat kecukupan zat gizi mikro, yaitu 83% fosfor, 88% zat besi, dan 100% vitamin A termasuk dalam kategori cukup, namun tingkat kecukupan kalsium dan vitamin C, yaitu sebesar 96% dan 100% termasuk dalam kategori kurang. Sejumlah 42% subjek berstatus gizi normal, 25% gizi kurang, dan

  10. PENGARUH VISKOSITAS DAN LAJU ALIR TERHADAP HIDRODINAMIKA DAN PERPINDAHAN MASSA DALAM PROSES PRODUKSI ASAM SITRAT DENGAN BIOREAKTOR AIR-LIFT DAN KAPANG Aspergilus Niger

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Kristinah Haryani

    2012-04-01

    Full Text Available  EFFECT OF VISCOSITY AND FLOW RATE ON THE HYDRODYNAMICS AND MASS TRANSFER ON CITRIC ACID PRODUCTION USING Aspergilus Niger YEAST IN AN AIR-LIFT BIOREACTOR. Citric acid is an important organic acid that has many advantages used in foods, drinks, pharmaceuticals industries. Waste of pine apple (covers and core of the fruit still have high contents of glucose and sucrose components, that these are potentially used as basic material for making citric acid by means of fermentation using Aspergillus niger. The reactor to do so is a reactor air-lift external loop with 88 cm in height, 45.41 cm2 in riser area, and 2.01 cm2 in downcomer area. This research is intended to study the influence of volumetric flow and viscosity upon mass transfer in the fermentation process of citric. The variable factors are concentration of total sugar (5 to 25% and of volumetric flow of gas 9.4 to 23.3 cc/second. A dynamic method used to measure of the constants transfer  of gas-fluid mass where oxygen concentration soluted is measured every 30 second using DO meter device. Result of this research shows that the increase of viscosity causes the decrease of hold up gas and fluid circulation speed of the fluid, and the decrease of the constants of mass transfer. The increase of air speed flow will cause the increase of hold up gas and fluid circulation speed, and constants of mass transfer. Relation of the constraints of mass transfer to volumetric flow and viscosity is formulated as follow    Asam sitrat adalah asam organik penting yang sangat banyak kegunaannya seperti untuk industri makanan, minuman, farmasi, dan sebagainya. Limbah nanas (kulit dan bonggol masih mengandung kadar glukosa dan sukrosa yang cukup tinggi, sehingga sangat potensial sebagai bahan baku pembuatan asam sitrat dengan cara fermentasi bantuan kapang Aspergillus niger. Reaktor yang digunakan adalah reactor air-lift external loop. Reaktor yang digunakan berdimensi tinggi 88 cm, luas daerah riser 46

  11. Uji Kualitas Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Sukodono, Sidoarjo Ditinjau Dari Perilaku dan Pemeliharaan Alat

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yoga Ardy Pradana

    2013-09-01

    Full Text Available Seiring dengan kemajuan teknologi sekarang ini dan diiringi dengan semakin sibuknya aktivitas manusia maka masyarakat cenderung memilih cara yang lebih praktis dengan biaya relatif murah dalam memenuhi kebutuhan air minum yaitu dengan menggunakan air minum isi ulang  terutama di kecamatan Sukodono, Sidoarjo. Agar air minum isi ulang yang dikonsumsi oleh masyarakat di kecamatan Sukodono, Sidoarjo aman untuk dikonsumsi, maka perlu dilakukan uji kualitas apakah kandungan dalam air minum isi ulang sudah memenuhi Peraturan Menteri Kesehatan No 492/MENKES/PER/IV/2010 tantang persyaratan kualitas air minum. Parameter yang diuji meliputi Total Coliform, TDS, Kekeruhan dan Warna. Kualitas air minum isi ulang ditunjang oleh cara pemeliharaan peralatan produksi. Prosedur pemeliharaan alat dari masing-masing depo air minum isi ulang diperoleh melalui wawancara dan penggunaan kuesioner. Hasil uji laboratorium dari 8 depo air minum isi ulang ada yang belum memenuhi parameter Total Koliform sebanyak 5 depo. Berdasarkan hasil kuesioner 5 depo tersebut termasuk dalam kategori cukup, yang berarti masih kurang dalam melakukan pemeliharaan alat.

  12. SUHU OPTIMUM UNTUK LAJU PERTUMBUHAN DAN SINTASAN BENIH LOBSTER AIR TAWAR Cherax quadricarinatus

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Irin Iriana Kusmini

    2016-11-01

    Full Text Available Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh suhu air yang memberikan hasil terbaik bagi laju pertumbuhan dan sintasan benih lobster air tawar, red claw. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL yang terdiri atas empat perlakuan, yaitu pada suhu air 26°C, 28°C, 30°C, dan 32°C; masing-masing perlakuan tiga ulangan. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan harian dan sintasan benih lobster red claw. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan harian dan sintasan benih lobster tertinggi terdapat pada suhu 28°C, yaitu sebesar 1,15% dan 85,93%. Laju pertumbuhan harian dan sintasan benih lobster mencapai optimum pada suhu 28°C, yaitu sebesar 1,05% dan 85,93%. The aim this research was to find out the effect of water temperature to the growth and survival rate of red claw crayfish (Cherax quadricarinatus juvenile. The experiment design used completely randomized design (CRD with four treatments of water temperature i.e. 26°C, 28°C, 30°C, 32°C and each of the treatments was replicated three times. Parameters observed are daily growth rate and survival rate of red claw crayfish juvenile. The result showed that temperatures were effected to growth rate and survival rate of red claw crayfish juvenile which expressed through quadratic response curve. The highest daily growth rate and survival rate of red claw crayfish fry was found on temperature 28°C C i.e. 1.15% and 85.93%. The optimum growth rate and survival rate was found on temperature 28°C i.e. 1.05% and 85.93%.

  13. IMPLEMENTASI PENGELOLAAN AIR MINUM RUMAH TANGGA (PAM RT DI JAWA BARAT DAN (NUSA TENGGARA TIMUR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Athena Anwar

    2016-09-01

    Full Text Available Abstract In order to reduce waterborne diseases, the current government and its partners are developing ahousehold water treatment and safety storage (HWTS. This article is part of a study on Development ofAn Evidence-Based Guidelines for Promotion of HWTS which is conducted in three pilot sites: Bandungcity, Bandung district (West Java and Sikka district (East Nusa Tenggara in 2008. The aim of this studywas to find out how the program was implemented and how is the public opinion about the management(processing and storage of drinking water. Data collection was done by interview through a questionnaire.Data source were health officers and partners (qualitative data and the community (quantitative data.Qualitative data processing was performed by the content and the domain method, while quantitative datawas processed through SPSS software. The results show that the government develop the HWTS alongwith its partner: Aman Tirta (Bandung City, Pelita Indonesia (Bandung District, and Dian Desa (SikkaDistrict. Activity of HWTS was done through several stages, such as preparation/dissemination,implementation, monitoring and evaluation. Every partner will have its own way in carrying out the stagesof activity. Not all health officers of district/city states involved in the implementation of the HWTSprogram. It was only Sikka District Health officer that claimed to have fully engaged in the implementationof HWTS in the region. The results of processing and data analysis showed that more than 80% ofrespondents said the HWTS methods were suitable with drinking water treatment for their region. In termsof increasing the water quality, price of materials/tools, and easyness in the water treatment; respondents'opinions very widely.Keywords: HWTS, drinking water, water treatment Abstrak Dalam upaya menurunkan penyakit yang ditularkan melalui air, saat ini pemerintah dan mitrasedang mengembangkan pengelolaan air minum rumah tangga (PAM RT atau household water

  14. KORELASI PADAT TEBAR DAN DEBIT AIR DALAM TEKNIK PENDEDERAN BENIH UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii SECARA INTENSIF

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wartono Hadie

    2008-12-01

    Full Text Available Riset ini dilaksanakan untuk mengetahui korelasi antara padat tebar dan debit air dalam teknik pendederan udang galah. Riset dilakukan dengan menggunakan bak ukuran 4 m x 2 m x 0,75 m yang mempunyai sistem air mengalir. Perlakuan yang diaplikasikan adalah padat tebar dalam tiga tingkatan yaitu 250, 500, dan 750 ekor/m2 yang dikombinasikan dengan tiga tingkat debit air yaitu 0,010; 0,020; dan 0,030 liter/detik/m2. Setiap perlakuan dilakukan dengan 3 ulangan. Udang galah dalam penelitian ini adalah PL-44 dengan ukuran 0,04 g. Pendederan udang galah dilaksanakan selama 40 hari. Hasil riset menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara variabel padat tebar dan debit air. Variabel debit air memberikan kontribusi sebesar 57% dan variabel padat tebar mempunyai kontribusi 18% dalam mendukung sintasan benih udang galah. Hasil terbaik dicapai oleh perlakuan padat tebar 500 ekor/m2 dan debit air 0,030 liter/detik/m2 dengan laju pertumbuhan harian udang mencapai rata-rata 2,84% dan sintasan sebesar 89,6% selama 40 hari masa pemeliharaan. The research aim was to evaluate the correlation between fry density and water flow rate in the nursery of giant prawn. The experiment was conducted in concrete tanks. The treatment consisted of three levels, 250, 500, and 750 fry/m2 and combination of three levels of water flow, i.e. 0.010, 0.020, and 0.030 litre/second/m2. Three replications were used in each treatments. The prawn fry were PL-14 with 0.04 g of average weight. The research was conducted for 40 days of post-larvae rearing. Result of this experiment showed that there was interaction between density and water flow. The data analysis indicated that there were 57% contribution of water flow and 18% of fry density to survival rate of giant prawn. The best result was showed by the density of 500 fry/m2 and water flow of 0.030 litre/second/m2. The specimen have specific growth rate of 2.84% and survival rate of 89.6% for 40 days of rearing.

  15. LOBSTER AIR TAWAR (Parastacidae: Cherax, ASPEK BIOLOGI, HABITAT, PENYEBARAN, DAN POTENSI PENGEMBANGANNYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Titin Kurniasih

    2008-06-01

    Full Text Available Lobster air tawar (genus Cherax berasal dari Australia, Papua New Guinea, dan Irian Jaya, dengan spesies yang berbeda-beda. Salah satu spesiesnya yang bernilai ekonomis paling tinggi adalah Cherax quadricarinatus (red claw. Habitat Cherax adalah perairan tawar yang dangkal, dengan substrat berlumpur dan banyak terdapat celah serta rongga untuk menyembunyikan diri. Kelebihan terbaiknya adalah teknik budidayanya yang relatif mudah, toleransi terhadap lingkungan cukup tinggi dengan masalah penyakit yang relatif sedikit. Hanya disayangkan hingga saat ini perkembangan kegiatan budidaya Cherax masih sangat terbatas.

  16. Studi Kualitas Udara Melalui Pengamatan Tingkat Kandungan Suspended Particulate Matter(SPM) Dan Kimia Air Hujan (Kation Dan Anion) Di Kota Medan

    OpenAIRE

    Novika, Sutri

    2011-01-01

    Telah dilakukan analisis terhadap kualitas udara di Kota Medan. Analisis didasarkan pada tingkat kandungan konsentrasi Suspended Particulate Matter (SPM) tahun 2001-2009 dan kandungan kimia air hujan antara rentang tahun 2009. Data diperoleh dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Sampali Medan. Analisis terhadap konsentrasi SPM meliputi analisis perbandingan tingkat kandungan konsentrasi SPM tiap tahunnya dengan acuan baku mutu (230 μgram/Nm3 ). Pengolahan data dilaku...

  17. PENGARUH DAYA DAN DURASI OPERASI REAKTOR TERHADAP KONSENTRASI 3H DAN 14C DI AIR SISTEM PENDINGIN PRIMER REAKTOR RSG-GAS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Pande Made Udiyani

    2015-03-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian terhadap pengaruh daya dan durasi operasi reaktor terhadap konsentrasi 3H dan 14C dalam air sistem pendingin primer reaktor RSG-GAS. Keberadaan nuklida 3H dan 14C di dalam air sistem pendingin primer reaktor RSG-GAS merupakan hasil produk fisi dan aktivasi. Nuklida radioaktif ini mempunyai potensi bahaya radiasi interna dan eksterna, karena mempunyai umur paro yang panjang yaitu 12,26 tahun untuk 3H dan 5568 tahun untuk 14C, sehingga mempunyai dampak radiologis yang sangat berarti. Analisis dan pengukuran contoh cuplikan air pendingin primer dilakukan dengan menggunakan alat LSC (Liquid Scintillation Counter. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh daya dan durasi operasi reaktor terhadap konsentrasi nuklida 3H dan 14C dalam air sistem pendingin primer, korelasi konsentrasi kedua nuklida dengan komponen sistem reaktor yang berkaitan dengan penuaan komponen, dan estimasi penerimaan radiasi terhadap pekerja radiasi di reaktor RSG-GAS dalam kaitan dengan keselamatan daerah kerja dan keselamatan personil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya konsentrasi 3H dan 14C di air sistem pendingin primer reaktor RSG-GAS sebanding dengan daya yang dibangkitkan dan durasi operasi reaktor. Pertambahan konsentrasi 3H dan 14C di kolam reaktor RSG-GAS yang pesat setelah lima tahun pertama operasi reaktor diperkirakan karena intensitas pengoperasian reaktor yang tinggi, dan adanya proses akumulasi nuklida yang mempunyai umur paro yang panjang. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk mengkaji keselamatan operasi reaktor, keselamatan personil, keselamatan kerja, dan proses penuaan reaktor. Kata kunci : air pendingin primer, 3H, 14C, reaktor RSG-GAS   The influence of reactor power and operation duration on concentration of 3H and 14C in primary coolant water system RSG-GAS reactor has been studied. The existence of nuclides 3H and 14C in primary coolant system RSG-GAS reactor is a result of fission product and

  18. PENGUKURAN KADAR AIR AGREGAT DAN BETON SEGAR DENGAN MENGGUNAKAN MICROWAVE OVEN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Handoko Sugiharto

    2000-01-01

    Full Text Available The conventional method of water content measurement of aggregate and fresh concrete need along time to perform. As an alternative the use of microwave oven is explored in this research. The microwave oven used has 900 watt power and equiped with a turn table. Nine (9 type of aggregate consist of five (5 type of fine aggregate and four (4 type of coarse aggregate with varions water absorbsion value, are unvestigated. The rater contents measured is then compared with the once obtained using conventional oven. Four (4 type of mix using aggegate with varions water absorbsion values. Water content used for the fresh concrete mix is 0.3, 0.5 and 0.7. The test results show that this method can beused to measure water content of fine and coarse aggregate regardless of the water absorbsion values of the aggregates. For fine aggregate nine (9 minutes drying time is needed to get 100% accuracy while for coarse aggregate 11 minutes with 96% accuracy. For fresh concrete using aggregate with less than 5% absorbsion value 18 minutes is neede to get 98% accuracy, while for aggregate with 40% absorbsion value 35 minutes is needed to get 80% accuracy. Abstract in Bahasa Indonesia : Pengukuran kadar air pada agregat dan beton segar dengan metode konvensional memerlukan waktu yang cukup lama, maka dilakukan penelitian penggunaan microwave oven sebagai metode alternatifnya. Microwave oven yang digunakan mempunyai daya 900 watt dan dilengkapi dengan piring putar. Dilakukan penelitian terhadap 9 tipe agregat (5 jenis agregat halus dan 4 jenis agregat kasar dengan berbagai nilai absorpsi. Sedangkan untuk beton segar dibuat 4 macam campuran dengan berbagai nilai absorpsi agregat. Faktor air-semen yang digunakan adalah 0.3, 0.5 dan 0.7. Hasil pengukuran kadar airnya dengan microwave oven dibandingkan terhadap oven standard. Hasil tes yang diperoleh menunjukkan bahwa metode ini dapat digunakan untuk mengukur kadar air agregat halus dan kasar dengan tidak tergantung pada

  19. Pertumbuhan dan struktur anatomi daun dua varietas ganyong (Canna edulis) pada ketersediaan air berbeda

    OpenAIRE

    OCTAVIANA RAISA DEWI; ARI PITOYO; ENDANG ANGGARWULAN

    2014-01-01

    Dewi OR, Pitoyo A, Anggarwulan E. 2013. Pertumbuhan dan struktur anatomi daun dua varietas ganyong (Canna edulis) pada ketersediaan air berbeda. Bioteknologi 11: 5-10. The aim of the research was to study the effect of different water availability on growth and anatomical structure of leaves of two varieties of canna (Canna edulis Kerr.), which are verdos varieties (white varieties) and morados varieties (red varieties). Information about physiological and anatomical character of canna is imp...

  20. PENDUGAAN EROSI DAN PERENCANAAN KONSERVASI TANAH DAN AIR PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI OTAN KABUPATEN TABANAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    TATIEK KUSMAWATI

    2012-11-01

    Full Text Available Erosion Prediction and Planning of Soil Water Conservation at Otan Watershed, Tabanan Regency The aims of this research was to predict the erosion and planning of soil and water conservation when the erosion is more than tolerable erosion. The USLE (Universal Soil Loss Equation was used to predict erosion and planning of soil and water conservation. The result showed that the erosion level in this area was varied from very slight to very severe. The lowest erosion was on land unit 11 and 12 which were on the forest land. Slight erosion occurred on land units 2, 3, 4, 5, 10, 13, 18, 20, 22, 23, 25, 26, 28, 31, 32, 33, 34, 36, 37, 40, 41, and 43 on the use of forest land, irrigated fields, and mix crop land. Moderate erosion can be found at cocoa plantations, coffee plantations, scrub and dry land (land unit 1, 8, 16, 30, 38, dan 45. Severe and very severe erosion occurs at mixed crop land, coffee plantations, mixed crop and dry land (land unit 35 and 6, 7, 9, 14, 15, 17, 19, 21, 24, 27, 29, 39, 42, and 44 . The planning of soil and water conservation was focused on the very severe erosion by doing for some plant growing storied canopies, very high density, and constructed terrace for land unit of 6, 7, 14, 15 ,19, 21, 27, and, 29. While at land unit, 9, 17, 24, and 35 was purposed mixed estate crop with high density, it was combinated with mulch of 1 ton/ha and in land unit 39 were for traditional terrace with gogo rice and corn plant in rotation plantation.

  1. Algae-Based Jet Fuel: The Renewable Alternative to the Air Force’s Focus On Coal-To-Liquid Synthetic Fuel

    Science.gov (United States)

    2009-10-19

    with aircraft rubber seals causing them to expand. Without aromatics, aircraft seals don’t expand and aircraft fuel systems leak. 16 According to an...waste piles, mountain top removal, and coal dust pollution. 80 While increased coal mining has its own issues, FT CTL plants have additional...Compared to petroleum fuel, algae-based fuel emits fewer particulates, air toxins and carcinogens . 102 Additionally, algae cultivation can occur in

  2. Simulasi MCNP5 dalam Eksperimen Kritikalitas Larutan Plutonium Uranium Nitrat Dengan Reflektor Air dan Polyethelene

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dinan A.

    2011-12-01

    Full Text Available Banyak perangkat kritik dibangun untuk memenuhi kebutuhan studi fenomena kecelakaan kritikalitas pada larutan fisil di fasilitas daur bahan bakar nuklir. Salah satu diantaranya adalah perangkat kritik SCAMP. Di perangkat ini dikerjakan eksperimen kritikalitas menggunakan bejana silindris stainless steel berisi larutan plutonium uranium nitrat (Pu ditambah U nitrat. Sebanyak 7 eksperimen didemonstrasikan dengan reflektor air di semua sisi permukaan bejana larutan kecuali di bagian atas bejana. Makalah ini membahas simulasi transport Monte Carlo MCNP5 dalam eksperimen kritikalitas larutan Pu ditambah U nitrat dengan reflektor air dan polyethylene. Simulasi MCNP5 dengan pustaka ENDF/BVI memberikan hasil yang paling dekat dengan data eksperimen terutama pada kasus A untuk varian geometri 4. Dibandingkan pustaka ENDF/BV, perhitungan kritikalitas dengan pustaka ENDF/B-VI memberikan hasil lebih dekat dengan perhitungan MONK dimana bias perhitungannya kurang dari 0,44%, khususnya pada kasus A namun pada kasus B dan C simulasi MCNP5dengan pustaka ENDF/BV memberikan hasil dengan kecenderungan lebih baik dibandingkan pustaka ENDFB/VI dengan bias perhitungan kurang dari 2,67% dan kurang dari 1,13%. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa MCNP5 telah menunjukkan reliabilitasnya dalam simulasi kritikalitas larutan Pu ditambah U nitrat.

  3. Kromium, Timbal, dan Merkuri dalam Air Sumur Masyarakat di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Taufik Ashar

    2013-04-01

    Full Text Available Tempat pembuangan akhir (TPA sampah domestik dengan sistem penampungan terbuka sangat berisiko mencemari air tanah milik warga yang bermukim di sekitarnya melalui proses perlindian. Untuk mengetahui kandungan logam berat dalam air tanah di sekitar TPA, sebanyak 68 sampel air sumur gali (45 sumur Dusun I dan 23 sumur Dusun IV dari Desa Namobintang Kecamatan Pancurbatu Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, telah dianalisis dengan inductively couple plasma atomic emission spectroscopy. Hubungan jarak sumur dengan konsentrasi kromium, merkuri, dan timbal diuji dengan Mann-Whitney, Spearman’s Correlation dan analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi kromium, timbal, dan merkuri (rerata ± deviasi standar, mg/L masing-masing 0,036 ± 0,0096; 0,0003 ± 0,00018; dan 0,005 ± 0,0041 (Dusun I; 0,0370 ± 0,0115; 0,00026 ± 0,00013; dan 0,0070 ± 0,0069 (Dusun IV. Dari 68 sumur yang dianalisis, hanya ada 8 sumur yang konsentrasi timbalnya melebihi batas menurut Peraturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/Per/IV/2010. Sementara itu, tidak ada korelasi jarak sumur gali ke TPA dengan konsentrasi kromium, merkuri, dan timbal dalam air sumur gali tersebut. Disimpulkan bahwa perlindian sampah di Namobintang tidak mencemari air sumur-sumur gali yang berjarak 84 meter atau lebih dari TPA. Dumping site of domestic wastes has potential risk to contaminate groundwater of the surrounding population through leaching process. To determine heavy metals (chromium, lead, and mercury in groundwater at surrounding dumping site, a total of 68 dig well water samples (45 from Hamlet I and 23 from Hamlet IV of Namobintang Village, Pancurbatu Sub-District of Deli Serdang Regency, North Sumatra, were analyzed using Inductively Couple Plasma Atomic Emission Spectroscopy. The relationship between the dig well distance and chromium, mercury, and lead content was tested by Mann-Whitney, Spearman’s Correlation and Simple Linier

  4. EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI DAUN ZODIA (Evodia suaveolens DENGAN METODE MASERASI DAN DISTILASI AIR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Prima Astuti Handayani

    2014-10-01

    Full Text Available Daun zodia merupakan tumbuhan yang berpotensi sebagai insektisida nabati. Daun zodia mengandung senyawa aktif limonene yang bersifat neurotoksin terhadap serangga. Pengambilan minyak atsiri daun zodia dilakuan dengan metode maserasi dan metode distilasi air. Pada metode maserasi bahan digunakan etanol dan dimaserasi selama 3x24 jam. Kemudian didistilasi untuk menguapkan pelarut etanol. Untuk metode distilasi air bahan didistilasi selama 3 jam, campuran minyak dan air dipisahkan dengan menambahkan pelarut n-heksana. Kemudian pelarut n-heksana dipisahkan dari minyak atsiri dengan cara direcovery menggunakan alat sokhlet. Minyak atsiri daun zodia yang dihasilkan dianalisis dengan Gas Cromatography-Mass Spectrometry (GC-MS untuk mengetahui kandungan senyawa kimianya. Hasil percobaan diperoleh randemen minyak atsiri daun zodia dengan metode maserasi sebesar 1,0566% dengan kandungan senyawa limonene 2,6%, sedangkan metode distilasi diperoleh randemen sebesar 0,6471% dengan kandungan senyawa limonene 1,26 %.Zodia leaf is a plant which has a potential to be plant-based insecticide. Zodia leaf has limonene as its active component which is neurotoxin towards insect. The extraction of the essential oil of the zodiac leaf is conducted using maceration method and water distillation method. In the maceration process, the raw material was macerated using ethanol for 72 hours, after that it was distillated to evaporate the ethanol. In the water distillated method, the raw material was distillated for 3 hours, the mixture of water and oil are separated by adding n-hexane solvent. After that, the n-hexane solvent was separated from the essential oil using recovery method using soxhlet. The obtained essential oil of zodia leaf was analyzed using GC-MS to determine its chemical component. The result of the research provides the yield of essential oil of zodiac leaf using maceration method is 1.0566% with limonene component is 2.6%, whereas the distillation method

  5. Perbandingan Total Padatan Tersuspensi Dan Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) Pada Analisis Air Limbah Kelapa Sawit Di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS)

    OpenAIRE

    Arizta

    2009-01-01

    Komposisi utama dari air limbah kelapa sawit adalah bahan – bahan organik terutama seperti minyak dan serat dari TBS (Tandan Buah Segar) adalah parameter yang digunakan untuk menunjukkan karakter air limbah kelapa sawit meliputi parameter organik seperti Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) dan parameter fisika seperti Total Padatan Tersuspensi. Total Padatan Tersuspensi dengan metode gravimetri dan Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) ditentukan dengan metode Winkler pada temperatur 20ºC dengan masa...

  6. Epiphytic Terrestrial Algae (Trebouxia sp. as a Biomarker Using the Free-Air-Carbon Dioxide-Enrichment (FACE System

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Asmida Ismail

    2017-03-01

    Full Text Available The increasing concentration of CO2 in the atmosphere has caused significant environmental changes, particularly to the lower plants such as terrestrial algae and lichens that alter species composition, and therefore can contribute to changes in community landscape. A study to understand how increased CO2 in the atmosphere will affect algal density with minimal adjustment on its natural ecosystem, and the suitability of the algae to be considered as a biomarker, has been conducted. The current work was conducted in the Free-Air-Carbon Dioxide-Enrichment (FACE system located in Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Malaysia. CO2 was injected through special valves located along the ring surrounding specimen trees where 10 × 10 cm quadrats were placed. A total of 16 quadrats were randomly placed on the bark of 16 trees located inside the FACE system. This system will allow data collection on the effect of increased CO2 without interfering or changing other parameters of the surrounding environment such as the wind speed, wind direction, humidity, and temperature. The initial density Trebouxia sp. was pre-determined on 1 March 2015, and the final density was taken slightly over a year later, on 15 March 2016. The exposure period of 380 days shed some light in understanding the effect of CO2 on these non-complex, short life cycle lower plants. The results from this research work showed that the density of algae is significantly higher after 380 days exposure to the CO2-enriched environment, at 408.5 ± 38.5 × 104 cells/cm2, compared to the control site at 176.5 ± 6.9 × 104 cells/cm2 (independent t-test, p < 0.001. The distance between the trees and the injector valves is negatively correlated. Quadrats located in the center of the circular ring recorded lower algal density compared to the ones closer to the CO2 injector. Quadrat 16, which was nearing the end of the CO2 valve injector, showed an exceptionally high algal density—2-fold higher

  7. Meningkatkan Efesiensi Pemakaian Air dengan Mengatur Ketebalan Mulsa dan Interval Irigasi Untuk Kacang Hijau (Vigna radiata L.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Eko Sulistyono

    2016-03-01

    Full Text Available Mulsa diketahui sebagai teknologi budidaya untuk menurunkan evapotranspirasi dan meningkatkan efisiensi pemakaian air.  Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi antara ketebalan mulsa dan interval irigasi yang memberikan efisiensi pemakaian air paling tinggi. Percobaan rumah kaca dilakukan dengan lima tingkat ketebalan mulsa ( 0, 3, 6, 9 and 12 cm yang dikombinasikan dengan empat tingkat interval irigasi (2, 4, 6, and 8 hari.  Percobaan  di susun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Interaksi antara ketebalan mulsa dan interval irigasi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah cabang, bobot biji, evapotranspirasi dan efisiensi pemakaian air. Produksi maksimal diperoleh dengan perlakuan frekuensi irigasi 6 hari sekali atau keadaan air tanah sebelum irigasi sebesar 72.63 %AT saat umur tanaman 2-4 MST, 68.95 %AT saat umur tanaman 4-6 MST, 62.14 %AT saat umur tanaman 6-8 MST, 66.99 %AT saat tanaman umur >8 MST, dengan ketebalan mulsa 9 cm. Kombinasi ketebalan mulsa 9 cm dengan interval irigasi 6 hari sekali mempunyai nilai efisiensi pemakaian air sebesar 0.877 ± 1.754  g L-1.Kata kunci: mulsa

  8. Kajian Kinerja Teknis Proses dan Operasi Unit Koagulasi-Flokulasi-Sedimentasi pada Instalasi Pengolahan Air (IPA Kedunguling PDAM Sidoarjo

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Achmad Chamdan

    2013-09-01

    Full Text Available Salah satu instalasi pengolahan air (IPA yang akan dibahas dalam tugas akhir ini adalah IPA Kedunguling PDAM Sidoarjo. Dalam proses dan pengoperasian IPA Kedunguling, terdapat permasalahan yang cukup penting dikarenakan pembubuhan koagulan tanpa perhitungan dahulu (perkiraan sehingga tidak tercapai dosis optimum. Meninjau dari permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan kajian efisiensi proses dan operasi pada unit koagulasi-flokulasi-sedimentasi. Analisa proses dalam unit koagulasi-flokulasi-sedimentasi didapatkan dari hasil penelitian penentuan dosis optimum koagulan menggunakan metode jar test serta mengukur parameter air yaitu kekeruhan, pH air dan waktu pengendapan. Koagulan yang dipakai adalah Poly Aluminium Chloride (PAC. Sedangkan, analisa sistem operasionalnya didapatkan dari membandingkan antara hasil perhitungan menurut kondisi eksisting mengenai parameter yang merupakan faktor penting sistem operasional tiap unit bangunan dengan kriteria desain. Dosis optimum koagulan pada musim kemarau dan musim penghujan yang didapatkan sama yaitu 75 ppm sedangkan dosis koagulan rata – rata yang dipakai di IPA Kedunguling PDAM Sidoarjo adalah 78,56 ppm. Sistem operasional tiap unit bangunan sudah memenuhi kriteria desain bangunan koagulasi dan flokulasi, sedangkan tidak pada bangunan sedimentasi.

  9. Pola konsumsi air, susu dan produk susu, serta minuman manis sebagai faktor risiko obesitas pada anak sekolah dasar di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yayah Lakoro

    2016-03-01

    consumption of water, whereby higher comsumption of sweet drink meant lower consumption of water. Nutrition education embedded in the curriculum could be used as an alternative of obesity prevention in children by changing or building healthy lifestyle. KEYWORDS: risk factors, obese children, consumption of water, consumption of sweet drinkABSTRAKLatar belakang: Minuman manis diduga kuat sebagai penyebab terjadinya obesitas pada anak. Susu dan produk susu yang tidak sehat yang mengandung lemak dan gula tinggi dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya obesitas, sedangkan air putih merupakan minuman sehat tanpa kalori yang dapat membantu manajemen berat badan.Tujuan: Mengetahui pola konsumsi minuman pada anak obesitas.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kasus kontrol. Kasus adalah anak SD yang mengalami obesitas, kontrol  adalah anak SD yang dengan berat badan normal. Lokasi penelitian di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Penentuan sampel menggunakan metode probability proportional to size (PPS. Jumlah sampel adalah 488 sampel terdiri dari 244 kasus dan 244 kontrol. Pada subyek penelitian dilakukan matching asal sekolah dengan ketentuan siswa kasus dan kontrol berasal dari kelas yang sama. Uji statistic McNemar dan regresi logistik dilakukan untuk mengidentifi kasi variabel yang merupakan faktor risiko.Hasil: Terdapat perbedaan karakteristik jenis kelamin antara kedua kelompok (p=0,03. Rata-rata jumlah konsumsi air putih dan minuman manis pada anak obes berbeda secara signifi kan  dibandingkan dengan anak tidak obes, berturut-turut adalah 243,8 mL/hari (±2½ gelas/hari dan 397,3 mL/hari (± 2 gelas/hari, sedangkan rata-rata jumlah konsumsi susu dan produk susu tidak sehat pada anak obes dan tidak obes, tidak berbeda secara signifikan. Uji Mc Nemar menunjukkan bahwa konsumsi air putih dan minuman manis berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul  dengan nilai OR 2,1 (95% CI:1,4–3,05 dan OR 3,1 (95% CI: 2,1

  10. VARIASI KUALITAS AIR DAN ESTIMASI POTENSI PRODUKSI IKAN PERAIRAN DANAU BATUR, PROPINSI BALI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Samuel Samuel

    2016-03-01

    Full Text Available Danau Batur merupakan tipe danau vulkanik berbentuk kaldera di Propinsi Bali yang tidak mempunyai aliran air keluar (outlet. Danau ini mempunyai peranan penting sebagai sumber penyediaan protein hewani bagi masyarakat Kabupaten Bangli khususnya dan Bali pada umumnya. Informasi mengenai kondisi limnologi dan biologi perairan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk pengembangan dan pengelolaan perikanan belum banyak tersedia. Oleh karena itu, penelitian mengenai aspek limnologi dan estimasi potensi produksi ikan dilakukan pada Februari, Mei, September dan Nopember 2011.  Estimasi potensi produksi ikan diketahui dengan menerapkan rumus empiris dari hubungan antara produksi ikan dengan indeks morfoedafik. Dari nilai indeks status trofik perairan (55,17–61,14, perairan Danau Batur diklasifikasikan sebagai perairan dalam tingkat eutofik ringan sampai sedang. Dari nilai-nilai parameter daya hantar listrik, konsentrasi fosfat (PO4-P, nitrat (NO3-N, total nitrogen (TN, dan alkalinitas, perairan Danau Batur secara umum dapat dikategorikan sebagai perairan subur yang dapat dimanfaatkan oleh organisme air yang berfungsi sebagai makanan alami, yang dapat mendukung kehidupan ikan. Perairan Danau Batur yang relatif subur ini memberikan gambaran potensi produksi sebesar 98,56-99,48 kg/ha/tahun (rata-rata 99,15 kg/ha/tahun. Dengan memperhitungkan luas perairan danau, potensi ikan Danau Batur diperkirakan secara rata-rata sebesar 159 ton/tahun. Nilai potensi produksi ini relatif lebih tinggi dari target produksi perikanan pada 2010 sebesar 150 ton. Agar dapat mempertahankan keberlanjutan proiduksi perikanan tangkap di Danau Batur, disarankan agar produksi perikanan tidak melebihi nilai potensi produksi seperti yang diperoleh dalam penelitian ini. Lake Batur is a type of volcanic lake shaped caldera that has no water flow out (outlet. The lake has an important role to provide a protein source for the people of Bangli regency. However, the Information about the

  11. PENGARUH FLUKTUASI TINGGI MUKA AIR TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN DI SUNGAI DAN RAWA MAHAKAM HULU KALIMANTAN TIMUR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Kamaluddin Kasim

    2015-12-01

    Full Text Available Beberapa penelitian menyebutkan bahwa fluktuasi tinggi muka air (TMA dapat mempengaruhi hasil tangkapan ikan di perairan sungai dan rawa namun tidak terhadap semua jenis ikan.  Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hasil tangkapan jenis ikan sungai dan rawa sungai Mahakam yang mendapat pengaruh fluktuasi TMA dan jenis ikan yang tidak mendapatkan pengaruh langsung oleh fluktuasi TMA. Data mengenai hasil tangkapan ikan yang berasal dari alat tangkap pancing dan jaring diperoleh melalui enumerator di Tempat Pendaratan Ikan (TPI Selili Kota Samarinda pada periode 2007-2012, sedangkan nilai rata-rata Tinggi Muka Air (TMA DAS Mahakam secara bulanan diperlukan sebagai salah satu faktor yang diduga berpengaruh terhadap hasil tangkapan beberapa jenis ikan sungai dan rawa. Data dianalisis dengan metode regresi linear sederhana dan penentuan perbedaan hasil tangkapan pada musim hujan, peralihan dan kemarau dilakukan dengan Analysis of Variance (ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah hasil tangkapan ikan berkorelasi kuat (r=0,7 terhadap Tinggi Muka air (TMA dengan arah hubungan negatif atau berkebalikan, yakni semakin tinggi nilai TMA maka hasil tangkapan semakin rendah. Jenis ikan sungai dan rawa seperti patin, nila, sepat siam (Trichogaster pectoralis, lais dan betok (Anabas testudineus merupakan jenis ikan yang hasil tangkapannya dipengaruhi secara signifikan (P0,05 oleh fluktuasi TMA.   Some studies have showed that water level fluctuation may have a significant correlation to the catch of several commercial fish target in inland fishery and does not influence directly the cath of some commercial fish. This study aimed to determine which species are directly influenced and such species not inluenced by water level fluctuation for its catches. Catch data obtained from hand line and gill net are recorded by enumerators at Fish Landing Sites of Selili, Samarinda during the period of 2007-2012, while the data of surface water

  12. Urban air pollution; La pollution de l'air dans la ville

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    1997-07-01

    The theme of this congress concerns air pollution in urban areas. Cities are accumulation of populations and economic activities, and then pollutants activities. The first articles are devoted to pollutants and their effects on health. Then come articles relative to measurements and modeling. Finally, the traffic in city and the automobile pollution are examined. Transportation systems as well technology in matter of gas emissions are reviewed. (N.C.)

  13. Efektifitas Saringan Pasir Sederhana Tanpa Waterfall Aerator Dan Saringan Pasir Dengan Waterfall Aerator Dalam Menurunkan Kadar Fe (Besi) Pada Air Sumur Gali

    OpenAIRE

    Khairiyah

    2013-01-01

    Air merupakan kebutuhan essensial bagi kelangsungan hidup manusia. Air yang dibutuhkan manusia adalah air yang memenuhi persyaratan menurut Permenkes Nomor 416/MENKES/PER/1990 yang antara lain dicantumkan kadar besi ( Fe ) maksimum 1,0 mg/l. Pada air sumur gali sering terdapat kadar Fe yang tinggi. Kadar Fe yang tinggi dapat menimbulkan masalah dan kerugian pada manusia. Sehingga untuk mendapatkan air yang memenuhi syarat, maka air sumur gali harus melalui pengolahan terlebih dahulu....

  14. Pertumbuhan dan struktur anatomi daun dua varietas ganyong (Canna edulis pada ketersediaan air berbeda

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    OCTAVIANA RAISA DEWI

    2014-05-01

    Full Text Available Dewi OR, Pitoyo A, Anggarwulan E. 2013. Pertumbuhan dan struktur anatomi daun dua varietas ganyong (Canna edulis pada ketersediaan air berbeda. Bioteknologi 11: 5-10. The aim of the research was to study the effect of different water availability on growth and anatomical structure of leaves of two varieties of canna (Canna edulis Kerr., which are verdos varieties (white varieties and morados varieties (red varieties. Information about physiological and anatomical character of canna is important in order to their cropping development. The research done in randomized design with 2 factors and 3 replicates. The first factor was canna’s varieties (white and red. The second factor was water availability in 5 different fields capacities (20%, 40%, 60%, 80% and 100%. The treatments were be done in 8 weeks, with variable measured, the character growth of plant height, fresh weight, dry weight and leaf anatomical structure indexes include stomata, tick of mesophyll and epidermis. The data were analyzed by analysis of varians, followed by DMRT in 5% confident level. The results showed that differences in crop varieties and the availability of water affect the growth and anatomical structure of cannas’ leaves. Optimum growth found in 80% water availability FC both white and red varieties. Fresh weight, dry weight, stomatal index showed a significant difference, while plant height, thick mesophyll and epidermal thickness showed no significant difference. White varieties more resistant to water stress than red varieties.

  15. Rancang Bangun Mesin Pendingin Ruangan Dengan Menggunakan Energi Surya Dan Campuran Air, Garam,Dan Es Sebagai Media Pendingin

    OpenAIRE

    Wangsa, Stefanus

    2015-01-01

    The usage of cooling machine is to condition and cools the air of the room (air conditioning). There are other types of room cooling machine using electric and refrigerant. The room cooling machine that will be discussed is the one which can cool the room using solar energy as well as a mixture of water, salt, and ice as an friendly coolant. The mixture of water, salt, and ice can lower the freezing point of the liquid so that the absorption of heat will be more effective. The ...

  16. Pengujian Mesin Pendingin Ruangan Dengan Menggunakan Energi Surya Dan Campuran Air, Garam, Dan Es Sebagai Media Pendingin

    OpenAIRE

    Surya, Wunardi

    2015-01-01

    The usage of cooling machine is to condition and cools the air of the room (air conditioning). There are other types of room cooling machine using electric and refrigerant. The room cooling machine that will be discussed is the one which can cool the room using solar energy as well as a mixture of water, salt, and ice as an friendly coolant. The mixture of water, salt, and ice can lower the freezing point of the liquid so that the absorption of heat will be more effective. The ...

  17. Physical characteristic of brown algae (Phaeophyta from madura strait as irreversible hydrocolloid impression material

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Prihartini Widiyanti

    2012-09-01

    Sargassum sp dari Selat Madura sebagai bahan cetak hidrokoloid dan meneliti karakteristik fisiknya. Metode: Tahap pertama adalah ekstraksi natrium alginat dari Sargassum sp, tahap kedua yaitu sintesis bahan cetak gigi dan menguji karakteristik bahan seperti porositas, densitas, viskositas, kadar air, bahan cetak yang memenuhi standar bahan yang digunakan dalam aplikasi klinis bidang Kedokteran Gigi. Hasil: Hasil ekstraksi berupa natrium alginat bubuk dengan warna krem, tidak berbau, dan dapat larut dalam air. Kadar air natrium alginat sebesar 21,64% dengan viskositas 0,7 cPs. Porositas terbaik dalam sampel dengan penambahan trinatrium fosfat 4% yaitu 3,61%. Nilai densitas bahan cetak 3 gr/cm3. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa alga coklat Sargassum sp dari Selat Madura memiliki potensi sebagai bahan cetak hydrocolloid kedokteran gigi karena memiliki karakter fisik yang mirip dengan bahan cetak kedokteran gigi, namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengoptimalkan karakter fisiknya.

  18. Le parfait avec 'avoir' dans l'aire balkanique : approche multifactorielle et diversifiée d'un balkanisme

    OpenAIRE

    Adamou, Evangelia

    2012-01-01

    Sur la base de données actualisées, on revient sur la nécessité d'une approche multifactorielle et diversifiée pour l'analyse du parfait avec " avoir " dans l'aire balkanique. Les exemples concernent des variétés slaves de Grèce (nashta et pomaque), le bulgare et le macédonien littéraires, le romani de Grèce, l'albanais, l'aroumain et le judéo-espagnol.

  19. KARAKTERISTIK GENETIK Kappaphycus alvarezii SEHAT DAN TERINFEKSI PENYAKIT ICE-ICE DENGAN METODE Amplified Fragment Length Polymorphism (AFLP

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Emma Suryati

    2013-03-01

    Full Text Available Infeksi penyakit ice-ice pada Kappaphycus alvarezii seringkali menyebabkan penurunan produksi yang sangat signifikan. K. alvarezii merupakan alga merah penghasil karaginan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dimanfaatkan dalam berbagai industri, seperti farmasi, makanan, stabilizer, dan kosmetik. Perbaikan genetik sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kemiripan genetik K. alvarezii sehat dan terinfeksi penyakit dari Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP, Maros dengan metode Amplified Fragment Length Polymorphism (AFLP. Pada penelitian ini juga dianalisis K. alvarezii asal Bone (BNE, Gorontalo (GRL, Tambalang (TMB, dan Kendari (KND sebagai kontrol rumput laut sehat. Metode AFLP menggunakan enzim restriksi Psti dan Mset, preamplifikasi dan amplifikasi selektif diawali dengan isolsi DNA, uji genimoc DNA, restriksi dan ligasi. Hasil yang diperoleh menunjukkan penggunaan marker AFLP dengan primer forward P11 dan primer reverse M48, M49 dan M50 terhadap K. alvarezii yang berasal dari Takalar (TKL, dan Mataram (MTR, tanpa infeksi (sehat dan terinfeksi penyakit Takalar ice (TKL+, Mataram ice (MTR+, serta K. alvarezii kontrol (BNE, (GRL, (TMB, dan (KND menghasilkan 519 fragmen dalam 122 lokus dengan ukuran 50 - ~370 pb. Kemiripan genetik K. alvarezii yang terinfeksi penyakit ice-ice lebih rendah jika dibandingkan dengan yang sehat. Kemiripan genetik K. alvarezii dari Takalar sehat (TKL dan terinfeksi ice-ice (TKL+ adalah 0,8176 dan MTR-MTR+ adalah 0,8033.

  20. Optimasi Fase Gerak Metanol-Air Dan Laju Alir Pada Penetapan Kadar Campuran Teofilin Dan Efedrin HCL Dalam Tablet Dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

    OpenAIRE

    Pratiwi, Putri

    2011-01-01

    Asma bronkial atau lebih populer dengan sebutan asma atau sesak napas, telah dikenal luas di masyarakat. Salah satu obat yang digunakan dalam pengobatan penyakit asma bronkial adalah kombinasi antara teofilin dan efedrin HCl. Pada kombinasi obat tersebut, teofilin bekerja sebagai bronkodilator yang berfungsi sebagai relaksasi langsung otot polos bronki. Sedangkan efedrin HCl merupakan senyawa simpatomimetik dengan efek langsung dan tak langsung terhadap α dan β-adrenoseptor. Karena sifat vaso...

  1. Corrosion inhibition of magnesium heated in wet air, by surface fluoridation; Inhibition de la corrosion du magnesium chauffe dans l'air humide, par fluoruration superficielle

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Caillat, R.; Darras, R.; Leclercq, D. [Commissariat a l' Energie Atomique, Saclay (France).Centre d' Etudes Nucleaires

    1960-07-01

    The maximum temperature (350 deg. C) of magnesium corrosion resistance in wet air may be raised to 490-500 deg. C by the formation of a superficial fluoride film. This can be obtained by two different ways: either by addition of hydrofluoric acid to the corroding medium in a very small proportion such as 0,003 mg/litre; at atmospheric pressure, or by dipping the magnesium in a dilute aqueous solution of nitric and hydrofluoric acids at room temperature before exposing it to the corroding atmosphere. In both cases the corrosion inhibition is effective over a very long time, even several thousand hours. (author) [French] La temperature limite (350 deg. C) de resistance du magnesium a la corrosion par l'air humide, peut etre elevee jusque 490-500 deg. C par la formation d'une couche fluoruree superficielle. Deux procedes permettent d'obtenir ce resultat: l'atmosphere corrodante peut etre additionnee d'acide fluorhydrique a une concentration aussi faible que 0,003 mg/litre, a la pression atmospherique, ou bien le magnesium peut etre traite a froid, avant exposition a la corrosion, dans une solution aqueuse diluee d'acides nitrique et fluorhydrique. Dans les deux cas, la protection est assuree, meme pour de tres longues durees d'exposition: plusieurs milliers d'heures. (auteur)

  2. KUALITAS FISIK DAN KIMIA AIR PAM DI JAKARTA, BOGOR, TANGERANG, BEKASI TAHUN 1999 - 2001

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mariana Raini

    2012-09-01

    Full Text Available Drinking water quality of PAM in Jakarta, Bogor, Tangerang and Bekasi between the year of 1999 - 2001 has been studied. Water quality was determined by a series of physical and chemical test at Chemical Laboratory Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional as stated in Permenkes no.416/Menkes/Per/IX/1990 on condition and water quality control including smell, color, turbidity, contents of manganese, iron, nitrite, sulphate, organic subtance, turbidity, hardness and pH. Total sampling was done on all drinking water samples from DKI Jakarta, Bogor, Tangerang and Bekasi delivered to be tested at Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional between 1999-2001 and destilled water as control. Result of the study from 431 drinking water samples shows that samples that met the requirements as drinking water is 91,65% and 8,35% sub standard, most of the the sub standard drinking water is cause by the contents of manganese (4,41%, iron (2,09%, organic subtance (1,62%, chloride (0,93% and high water hardness (0,23% as well as pH (3,15%, turbidity (1,86% and colors (1,62% Statistically, the water quality of PAM in Jakarta, Bogor, Tangerang and Bekasi at 1999, 2000 and 2001 is not different.  Key word : water quality of PAM, drinking water, physical test, chemical test.

  3. Pemanfataan Pupuk Daun, Air Kelapa dan Bubur Pisang sebagai Komponen Medium Pertumbuhan Plantlet Anggrek Dendrobium Kelemense

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Uhwatul Hasanah

    2014-09-01

    Full Text Available Bahan alternatif alami diperlukan untuk menggantikan bahan kimia yang mahal untuk kegiatan kultur jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh merk, konsentrasi pupuk daun, interaksinya terhadap pertumbuhan plantlet anggrek Dendrobium dan menentukan konsentrasi yang paling optimal dalam menginduksi pertumbuhan plantlet. Percobaan dilakukan dengan rancangan acak lengkap faktorial yang terdiri dari dua perlakuan yaitu merk pupuk dan konsentrasi pupuk, masing-masing dengan tiga taraf perlakuan yaitu merk pupuk (growmore, hyponex, gandasil dan konsentrasi (1 g/l, 2 g/l, 3 g/l. Pertumbuhan plantlet anggrek pada penelitian ini diukur berdasarkan parameter tinggi plantlet, jumlah daun, luas daun, jumlah akar dan panjang akar. Data dianalisis dengan anava dua arah, bila signifikan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil anava menunjukkan merk pupuk berpengaruh signifikan terhadap penambahan jumlah daun, luas daun dan jumlah akar, konsentrasi pupuk berpengaruh signifikan terhadap penambahan tinggi plantlet dan panjang akar sedangkan interaksi merk pupuk dengan konsentrasi pupuk signifikan terhadap penambahan tinggi plantlet dan luas daun. Kombinasi perlakuan yang paling optimal yang menginduksi penambahan tinggi plantlet dan luas daun adalah pupuk hyponex dengan konsentrasi 2 g/l (5,40 cm dan 5,43 cm2. Untuk mendapatkan pertumbuhan plantlet paling tinggi dan luas daun paling optimal digunakan media pupuk hyponex dengan konsentrasi pupuk 2 g/l.Natural alternative materials needed to replace expensive chemicals for tissue culture activities. This study aimed to examine the influence of the brand, the concentration of foliar fertilizer, interaction on the growth of dendrobium orchid Dendrobium and determine the optimal concentration in inducing the growth of plantlets. Experiments were carried out with completely randomized factorial design consisting of two treatments, the brand of fertilizer and manure concentration, each with three levels

  4. Algae Resources

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    None

    2016-06-01

    Algae are highly efficient at producing biomass, and they can be found all over the planet. Many use sunlight and nutrients to create biomass, which contain key components—including lipids, proteins, and carbohydrates— that can be converted and upgraded to a variety of biofuels and products. A functional algal biofuels production system requires resources such as suitable land and climate, sustainable management of water resources, a supplemental carbon dioxide (CO2) supply, and other nutrients (e.g., nitrogen and phosphorus). Algae can be an attractive feedstock for many locations in the United States because their diversity allows for highpotential biomass yields in a variety of climates and environments. Depending on the strain, algae can grow by using fresh, saline, or brackish water from surface water sources, groundwater, or seawater. Additionally, they can grow in water from second-use sources such as treated industrial wastewater; municipal, agricultural, or aquaculture wastewater; or produced water generated from oil and gas drilling operations.

  5. PENYERAPAN KARBON PADA BUDIDAYA RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii dan Gracilaria gigas DI PERAIRAN TELUK GERUPUK, LOMBOK TENGAH, NUSA TENGGARA BARAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Erlania Erlania

    2013-08-01

    Full Text Available Pengikatan karbon oleh algae fotoautotrofik berpotensi untuk mengurangi pelepasan CO2 ke atmosfer dan dapat membantu mencegah percepatan terjadinya pemanasan global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penyerapan karbon pada budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii dan Gracilaria gigas berdasarkan aktivitas fotosintesis serta variabel-variabel yang mempengaruhinya. Budidaya rumput laut dilakukan dengan metode long-line di perairan Teluk Gerupuk, Lombok Tengah pada satu unit long-line dengan luas area 1.250 m2. Selama penelitian, dilakukan pengujian terhadap sampel rumput laut dan sampel air laut dari lokasi budidaya yang diambil pada hari ke-0, 10, 20, 30, dan 45 pemeliharaan. Laju penyerapan karbon total berdasarkan biomassa panen pada G. gigas hampir 300% lebih tinggi dibandingkan K. alvarezii. Selain itu, laju pertumbuhan dan produksi karbohidrat pada G. gigas juga lebih tinggi, yang mengindikasikan laju fotosintesis yang lebih tinggi, dan didukung oleh indeks percabangan yang juga lebih tinggi. Potensi penyerapan karbon di perairan Teluk Gerupuk mencapai 6.656,51 ton C/tahun untuk budidaya K. Alvarezii dan 19.339,02 ton C/tahun untuk budidaya G. gigas. Penyerapan karbon berhubungan dengan kandungan pigmen dan laju pertumbuhan rumput laut, serta konsentrasi CO2 dan kecerahan perairan.

  6. Qualité de l’air et nuisances sonores dans les vallées alpines de transit

    OpenAIRE

    Jürg Thudium

    2009-01-01

    Les conséquences du trafic routier, en termes de nuisances sonores et de qualité de l’air, ont été analysées et comparées pour quatre vallées de transit alpin (Fréjus, Mont Blanc, Gothard et Brenner) durant l’année 2004. Au regard du trafic alpin dans son ensemble, des disparités considérables apparaissent entre les vallées étudiées, mais également à l’intérieur de ces mêmes vallées. Les immissions (concentration de polluants) produites par unité d’émission du trafic routier sont deux à trois...

  7. Travailler dans le nucléaire, enquête au coeur d'un site à risques

    OpenAIRE

    Bourrier, Mathilde

    2013-01-01

    Pierre Fournier revient sur ce qui a constitué un travail de thèse réalisé au début des années 1990 et dont il avait déjà tiré des articles, notamment sur les conditions d'observation dans l'univers fermé et contreversé des installations nucléaires, ou sur les risques pris par le chercheur lorsqu'il enfile les habits du sous-traitant intérimaire en zone contrôlée. Le terrain sur lequel se fonde ce nouvel ouvrage n'est donc pas récent. Il est évident que la catastrophe de Fukushima a dû donner...

  8. The air quality in ventilation installations. Practical guidelines; Qualite de l'air dans les installations aerauliques. Guide pratique

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Angeli, L. [France Air, 91 - Chilly Mazarin (France); Bianchina, M. [Unelvent, 93 - Le Bourget (France); Blazy, M. [Anjos, 01 - Torcieu (France); Boulanger, X. [Aldes, 21 - Chenove (France); Chiesa, M. [Atlantic (France); Duclos, M. [Groupe Titanair, 69 - Lyon (France); Hubert, D.; Kridorian, O. [Groupe Astato, Blanc Mesnil (France); Josserand, O. [Carrier (Belgium); Lancieux, C. [Camfil, 60 - Saint Martin Longueau (France); Lemaire, J.C. [Agence de l' Environnement et de la Maitrise de l' Energie, ADEME, 75 - Paris (France); Petit, Ph. [Compagnie Industrielle d' Applications Thermiques ( CIAT ), 75 - Paris (France); Ribot, B. [Electricite de France (EDF), 75 - Paris (France); Tokarek, S. [Gaz de France (GDF), 75 - Paris (France); Bernard, A.M.; Tissot, A. [Centre Technique des Industries Aerauliques et Thermiques (CETIAT), 69 - Villeurbanne (France)

    2004-07-01

    The present guide aims to provide design departments, maintenance companies and builders with practical guidelines and recommendations for the installation of ventilation and air-conditioning systems. The objective is to ensure good Indoor Air Quality (IAQ) and to safeguard the health and well-being of the occupants. The guide deals with aspects of design, dimensioning, installation and servicing, all of which play a major role in guaranteeing IAQ and duct-work hygiene. These steps are reviewed for the principal ventilation systems met in both residential and commercial premises. The first part presents the system and draws the attention of the user to specific points which require particular care in term of IAQ. The second part details recommended practice component by component, in respect of design, installation and servicing. Application of these simple guidelines during the various project stages is essential, in order to ensure a good IAQ in ventilation systems. Content: introduction; good ventilation; systems: exhaust ventilation, balanced ventilation, air handling unit, terminal ventilation units, impact of systems on indoor air quality, components: air inlet, air filter, heat recovery unit, heating or cooling coil, humidifier, mechanical fan unit, cowl and hybrid ventilation fan, mixing box, ventilation duct-work, air outlet and air terminal device; references.

  9. Étude expérimentale de la couche limite dans l'air à proximité immédiate des vagues

    OpenAIRE

    Grare, Laurent; Giovanangeli, Jean-Paul; Branger, Hubert

    2009-01-01

    Des expériences ont été conduites dans la grande soufflerie air-eau du laboratoire IRPHE à Marseille, mettant en œuvre de nouvelles techniques de mesure des caractéristiques physiques de l'écoulement aérien dans la couche limite au dessus des vagues. D'une part un capteur de pression, monté sur un suiveur à vagues main- tenant l'appareil à une altitude constante par rapport à la surface de l'eau, nous a permis d'effectuer des mesures de fluctuations de pression statique à proximité immédiate ...

  10. Énergie nucléaire. Mesure de la radioactivité dans l'environnement. Eau. Mesurage de l'indice de radioactivité bêta globale en équivalent strontium 90 et yttrium 90 dans l'eau peu chargée en sels.

    CERN Document Server

    Association Française de Normalisation. Paris

    1997-01-01

    Énergie nucléaire. Mesure de la radioactivité dans l'environnement. Eau. Mesurage de l'indice de radioactivité bêta globale en équivalent strontium 90 et yttrium 90 dans l'eau peu chargée en sels.

  11. Qualité de l’air et nuisances sonores dans les vallées alpines de transit

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jürg Thudium

    2009-03-01

    Full Text Available Les conséquences du trafic routier, en termes de nuisances sonores et de qualité de l’air, ont été analysées et comparées pour quatre vallées de transit alpin (Fréjus, Mont Blanc, Gothard et Brenner durant l’année 2004. Au regard du trafic alpin dans son ensemble, des disparités considérables apparaissent entre les vallées étudiées, mais également à l’intérieur de ces mêmes vallées. Les immissions (concentration de polluants produites par unité d’émission du trafic routier sont deux à trois fois plus élevées dans ces vallées alpines qu’en plaine. Ceci s’explique principalement par la topographie et le climat particuliers de ces vallées. À de nombreux points d’observation, les seuils d’immission ont été dépassés. Les vallées sont également affectées durement par la pollution sonore. « L’effet amphithéâtre » transporte le bruit à des altitudes supérieures, qui n’auraient pas été exposées à autant d’irradiation acoustique si la source de nuisances était située à égale distance, mais dans un « paysage ouvert ». De plus, la protection contre le bruit qui se réfléchit sur les pentes est malaisée. En résumé, toutes les vallées de transit étudiées peuvent être considérées comme des régions sensibles.The environmental consequences of road transport with regard to air and noise in the transit valleys of Fréjus, Mont-Blanc, Gotthard, and Brenner have been analysed and compared with each other for the year 2004. In respect of the share of transport passing through the Alps in transport as a whole, there are in part considerable differences between the valleys under investigation as well as within the individual valleys. The air pollution produced per emission unit of road transport is two to three times higher than in the open country, mainly because of the topography and the climate. At numerous monitoring points, the thresholds for the air pollution were exceeded

  12. PEMBUATAN ELEKTRODA KARBON BERPORI DARI TEMPURUNG KEMIRI DAN PERANCANGAN PROTOTIPE SISTEM CAPACITIVE DEIONIZATION (CDI UNTUK DESALINASI AIR PAYAU

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A. Astuti

    2015-09-01

    Full Text Available Telah dilakukan pembuatan karbon aktif dengan bahan dasar tempurung kemiri menggunakan H3PO4 2,5% sebagai aktivator dengan suhu aktivasi (400, 500, dan 600 oC.Luas permukaan aktif yang dihasilkan masing-masing adalah (6,6; 95,6; dan 391,6 m2/g. Karbon yang diaktivasi pada suhu 600 oC digunakan sebagai bahan dasar pembuatan elektroda kapasitor untuk system capacitive deionization (CDI menggunakan polimer polyvinyl alcohol (PVA sebaga ipengikat. Berdasarkan data voltammogram siklik terhadap elektroda CDI diperoleh besar kapasitansi spesifik elektroda adalah 50,21 mF/g.  Proses desalinasi dilakukan pada larutanNaCl 0,24 M dengan menyusun elektroda menggunakan system monopolar dan diberitegangan DC 1,2 V.  Penurunan konduktivitas larutan NaCl menggunakan sistem CDI ini sebesar 61,58%, dengan penurunan kadar natrium dalam larutan NaCl yaitu dari 138,0 mg/L menjadi 80,7 mg/L  selama 40 menit. Karbon aktif tempurung kemiri ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai elektroda CDI untuk sistem desalinasi air payau.The writers had done the research of the activated carbon that prepared with the candlenut shell by using H3PO4 2,5% as the activating agent.  All samples were heated at the temperatures of (400, 500, and 600 oC.  The activated carbon have specific surface area (6.582; 95.623; and 391.567 m2/g respectively. Capacitor electrode for capacitive deionization (CDI was fabricated by using activated carbon that was heated at activation temperature of 600 oC with polyvinyl alcohol (PVA as the binder. Based on cyclicvoltammogram of electrode, specific capacitance of CDI electrode is 50.21 mF/g.  To observe desalination process of electrode, CDI was made by monopolar system and immersed in NaCl 0.24 M as brackish water sample.  Direct current voltage 1.2 V was applied to CDI cell.  The decreased of NaCl conductivity with CDI system respectively is 61.58%.  Sodium concentration in NaCl decreases from 138.000 mg/L to 80.667 mg/Labout 40

  13. IDENTIFIKASI SUMBER PENCEMAR DAN ANALISIS KUALITAS AIR TUKAD SABA PROVINSI BALI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Putu Desy Darmasusantini

    2016-01-01

    Full Text Available Availability of clean water for drinking water increasingly scarce, then efforts to utilize alternative flow of river water as drinking water and raw water industry one of them is Saba River. Purpose of research is to determine the characteristic of pollution source which will be impactto the changing of water quality in physical, chemical, and biological in up, middle and down stream area of Saba River, water quality and pollution index of Saba River. Determination of samples by using purposive sampling method. Sampels were taken at six points with repetitions three times at different times. Sampels taken at two points upstream, two points middle and two points downstream. Samples were analyzed in situ and ex situ. The results showed that the activities that affect water quality physical, chemical, and biological in up, middle and down stream area of Saba River is agricultural activities, livestock, restorant, blacksmith, home stay, residential, workshops, market, laundry and industrial activities. The upstream region until middle region (T1 no parameter exceeded the quality standard, parameters that exceed the quality standard in the middle region (T2 is TSS, BOD, fosfat and fecal coliform, in the downstream which exceeded the parameters in the downstream region (H1 is BOD, fosfat, fecal coliform dan total coliform and in the downstream region (H2 is DO, BOD, COD, fosfat, fecal coliform dan total coliform. Saba River quality status based on the method pollution index in the upstream region (U1 until middle region (T1 showed good condition, middle region (T2 until downstream pollutants classified as mild.

  14. PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) KOTA PADANG

    OpenAIRE

    Meri Oposma; Rizky Natassia; Yosi Eka Putri

    2013-01-01

    Human resources is a factor that determines the success of an organization in achieving a goal. Efforts should be made to improve the performance of employees, among others, with good leadership and motivation in the workplace is high. Attainable goal of this study was to determine, influence or leadership and motivation on employee performance in Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang. Object of study the research is employee to Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang with pop...

  15. Air-drying of cells, the novel conditions for stimulated synthesis of triacylglycerol in a Green Alga, Chlorella kessleri.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Takuma Shiratake

    Full Text Available Triacylglycerol is used for the production of commodities including food oils and biodiesel fuel. Microalgae can accumulate triacylglycerol under adverse environmental conditions such as nitrogen-starvation. This study explored the possibility of air-drying of green algal cells as a novel and simple protocol for enhancement of their triacylglycerol content. Chlorella kessleri cells were fixed on the surface of a glass fibre filter and then subjected to air-drying with light illumination. The dry cell weight, on a filter, increased by 2.7-fold in 96 h, the corresponding chlorophyll content ranging from 1.0 to 1.3-fold the initial one. Concomitantly, the triacylglycerol content remarkably increased to 70.3 mole% of fatty acids and 15.9% (w/w, relative to total fatty acids and dry cell weight, respectively, like in cells starved of nitrogen. Reduction of the stress of air-drying by placing the glass filter on a filter paper soaked in H2O lowered the fatty acid content of triacylglycerol to 26.4 mole% as to total fatty acids. Moreover, replacement of the H2O with culture medium further decreased the fatty acid content of triacylglycerol to 12.2 mole%. It thus seemed that severe dehydration is required for full induction of triacylglycerol synthesis, and that nutritional depletion as well as dehydration are crucial environmental factors. Meanwhile, air-drying of Chlamydomonas reinhardtii cells increased the triacylglycerol content to only 37.9 mole% of fatty acids and 4.8% (w/w, relative to total fatty acids and dry cell weight, respectively, and a marked decrease in the chlorophyll content, on a filter, of 33%. Air-drying thus has an impact on triacylglycerol synthesis in C. reinhardtii also, however, the effect is considerably limited, owing probably to instability of the photosynthetic machinery. This air-drying protocol could be useful for the development of a system for industrial production of triacylglycerol with appropriate selection of the

  16. Air-drying of cells, the novel conditions for stimulated synthesis of triacylglycerol in a Green Alga, Chlorella kessleri.

    Science.gov (United States)

    Shiratake, Takuma; Sato, Atsushi; Minoda, Ayumi; Tsuzuki, Mikio; Sato, Norihiro

    2013-01-01

    Triacylglycerol is used for the production of commodities including food oils and biodiesel fuel. Microalgae can accumulate triacylglycerol under adverse environmental conditions such as nitrogen-starvation. This study explored the possibility of air-drying of green algal cells as a novel and simple protocol for enhancement of their triacylglycerol content. Chlorella kessleri cells were fixed on the surface of a glass fibre filter and then subjected to air-drying with light illumination. The dry cell weight, on a filter, increased by 2.7-fold in 96 h, the corresponding chlorophyll content ranging from 1.0 to 1.3-fold the initial one. Concomitantly, the triacylglycerol content remarkably increased to 70.3 mole% of fatty acids and 15.9% (w/w), relative to total fatty acids and dry cell weight, respectively, like in cells starved of nitrogen. Reduction of the stress of air-drying by placing the glass filter on a filter paper soaked in H2O lowered the fatty acid content of triacylglycerol to 26.4 mole% as to total fatty acids. Moreover, replacement of the H2O with culture medium further decreased the fatty acid content of triacylglycerol to 12.2 mole%. It thus seemed that severe dehydration is required for full induction of triacylglycerol synthesis, and that nutritional depletion as well as dehydration are crucial environmental factors. Meanwhile, air-drying of Chlamydomonas reinhardtii cells increased the triacylglycerol content to only 37.9 mole% of fatty acids and 4.8% (w/w), relative to total fatty acids and dry cell weight, respectively, and a marked decrease in the chlorophyll content, on a filter, of 33%. Air-drying thus has an impact on triacylglycerol synthesis in C. reinhardtii also, however, the effect is considerably limited, owing probably to instability of the photosynthetic machinery. This air-drying protocol could be useful for the development of a system for industrial production of triacylglycerol with appropriate selection of the algal species.

  17. Analisis Perbandingan Algoritma ID3 Dan C4.5 Untuk Klasifikasi Penerima Hibah Pemasangan Air Minum Pada PDAM Kabupaten Kendal

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dana Melina Agustina

    2016-11-01

    Full Text Available Program hibah air minum bertujuan untuk meningkatkan cakupan pelayanan air minum yang diprioritaskan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dalam rangka meningkatkan derajat kualitas kesehatan masyarakat. Pengklasifikasian data masyarakat berperan untuk menentukan pemberian sambungan air minum secara objektif dan akurat. Dalam penelitian ini dilakukan perbandingan metode data mining yaitu algoritma ID3 dan C4.5 yang diterapkan pada data masyarakat berpenghasilan rendah pada PDAM Kabupaten Kendal dengan menggunakan RapidMiner. Hasil pengujian yang menunjukkan bahwa algoritma ID3 nilai akurasi sebesar 98,91%. Sedangkan pada algoritma C4.5 nilai accuracy sebesar 99,14%. Jadi algoritma C4.5 memiliki tingkat akurasi yang lebih besar dari pada algoritma ID3. Sehingga pada kasus penerima hibah pemasangan sambungan air minum diterapkan pada framework php dapat menentukan penerima hibah pemasangan sambungan air minum dengan menggunakan acuan pada algoritma C4.5 yang memiliki akurasi yang lebih baik. Kata kunci—Klasifikasi,Algoritma ID3,Algoritma C4.5, Air Minum, PDAM

  18. FORMULASI MIKROEMULSI MINYAK DALAM AIR (O/W YANG STABIL MENGGUNAKAN KOMBINASI TIGA SURFAKTAN NON IONIK DENGAN NILAI HLB RENDAH, TINGGI DAN SEDANG Stable O/W Microemulsion Formulation Using Combination of Three Nonionic Surfactants with Low, High and Med

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sih Yuwanti

    2012-05-01

    Full Text Available The aim of this research was to determine the proportion of oil, surfactant and water which could produce a stable O/W microemulsion using combination of three nonionic surfactants with low, high and medium HLB values; and to determine the role of surfactant with a medium HLB value in O/W microemulsion formulation. The first group of microemulsions were prepared using combination of Tween 80, Span 80 and Span 40 (80 %:10 %:10 % with dif- ferent proportions of VCO:surfactant (1:3, 1:3.5 dan 1:4.  The second goups of microemulsion were prepared using combination of Tween 80, Span 80 and Span 40 (90 %:5 %:5 % with different proportions of VCO:surfactant 1:4,1:4.5 dan 1:5.  The stability of microemulsion was determined during storage at room temperature and after being ovened at 105 0C 5 hours and centrifuged at 2300 g 15 minutes. Microemulsion stability was determined by measur- ing absorbance of the microemulsion at 502 nm and then converted to turbidity (%.  In order to determine the role of surfactant with a medium HLB value in the formulation of O/W microemulsion, one set microemulsions were made without surfactant with a medium HLB value, and another set of microemulsions were prepared with different ratios of low and medium HLB surfactant (1:1, 2:1 and 1:2. The most stable microemulsion was achieved when the proportion of VCO:surfactant:water was 4:20:76 and combination of Tween 80:Span 80:Span 40 with the ratio of 90:3.33:6.67. A more stable O/W microemulsion could be obtained when surfactant with a medium HLB value was added to O/W microemulsion formulation. Surfactant with a medium HLB value would link the oil phase and water phase with sur- factant layer, interaction of surfactant-oil and surfactant-water increased. It provided a smooth transition between oil phase and water phase, and the microemulsion became more stable. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan proporsi minyak, surfaktan dan air yang dapat

  19. Calculating emissions into the air. General methodological principles; Calcul des emissions dans l'air. Principes methodologiques generaux

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    2000-05-01

    Knowing the quantities of certain substances discharged into the atmosphere is a necessary and fundamental stage in any environmental protection policy to tackle today's problems such as acid rain, the degradation of air quality, global warming and climate change, the depletion of the ozone layer, etc. This quantification, usually known as an 'emission inventory', is built on a set of specific rules which may vary from one inventory to another. This state of affairs presents the enormous disadvantage that the data available are not comparable. At the international level, an attempt at harmonization has been going on for some years between the various international bodies. This work is being pursued in parallel with the improvement of methodologies to estimate discharges from various types of source. To take account of changes in specifications and of improvements in our understanding of phenomena giving rise to atmospheric pollution, the results of inventories of emissions need to be regularly revised, even retrospectively, to maintain a consistent series. CITEPA, which acts as a National Reference Centre, has developed a system of inventories as part of the CORALIE programme with financial help from the French Ministry for Planning and the Environment. (author)

  20. PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM KOTA PADANG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Meri Oposma

    2013-04-01

    Full Text Available Human resources is a factor that determines the success of an organization in achieving a goal. Efforts should be made to improve the performance of employees, among others, with good leadership and motivation in the workplace is high. Attainable goal of this study was to determine, influence or leadership and motivation on employee performance in Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM Kota Padang. Object of study the research is employee to Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM Kota Padang with population a mean 113 people employee. This study used a sample of 85 people selected by random cluster sampling technique. Analysis technique used is path analysis. Obtained in a partial amount of leadership influence on job motivation employee amount 0,231 with significant meaning hypotheses 0,034 positive and significant effect between leadership variables to job motivation, obtained in a number of partial influence of leadership on employee performance is equal to 0.291 with a mean of 0.007 significant positive and significant effect hypothesis between the variables of leadership on employee performance, obtained in a number of partial influence of work motivation on the performance of employees is equal to 0.212 with a mean of 0.045 significant positive and significant effect hypothesis between the variables of job motivation on employee performance and obtained in a number of partial influence of leadership and job motivation on employee performance with a value of 7.692 with a significant F value of 0.001 means that a positive and significant effect hypothesis between the variables of leadership and job motivation on employee performance. To achieve high employee performance and motivation of the employees' leadership at the Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM Kota Padang must be improved.

  1. HUBUNGAN LAYOUT PERUMAHAN DAN FAKTOR KRIMINALITAS DI PERUMNAS AIR PUTIH SAMARINDA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    HIDAYATI, Zakiah

    2012-12-01

    Full Text Available The enormous growth of Samarinda confronted the people with great problems of environmental pressures, included physical, social and economic factors. One of the social factors is crime. Crime rates tended to increase in urban areas, such as in public housings. Layout of public housing and crime were the two parameters. The object of this research was to analyze the correlation between housing layout and crime in Air Putih Public Housing, Samarinda. The method was deductive qualitative research. It was an empiric research, using case study. The results of this research, most factors correlated between housing layout and crime, were direct connection between single house with housing access (direct connection increased crime, the depths of space (the deeper space created more secure, index axial connectivity (more scores of index - more crime vulnerability, and mixed use (more houses near facilities area created more secure – while less houses created more crime. Less factor were access (direct or indirect to a single house, traffic jam, width of the road, and house position in row. Unrelated factors were access (direct or indirect to Perumnas Air Putih & zone 1-4, adjacency of single house to road junction, linear row, and house facing direction.

  2. Pembuatan Karbon Aktif Dari Arang Tempurung Kelapa Dengan Aktivator Zncl2 Dan Na2co3 Sebagai Adsorben Untuk Mengurangi Kadar Fenol Dalam Air Limbah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gilar S. Pambayun

    2013-03-01

    Full Text Available Tujuan dari penelitian ini adalah membuat karbon aktif dari arang tempurung kelapa sesuai dengan SII No.0258 – 79 ; untuk mengetahui karateristik kadar air, kadar abu,  iodine number dan surface area karbon aktif dari arang tempurung kelapa ; untuk mempelajari pengaruh konsentrasi dan jenis aktivator terhadap efisiensi penurunan kandungan konsentrasi fenol (persen removal menggunakan karbon aktif dari arang tempurung kelapa ; menentukan kapasitas optimum penyerapan fenol dengan karbon aktif dari arang tempurung kelapa. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa karbon aktif dapat dibuat dari arang tempurung kelapa dengan aktivasi kimia ZnCl2 dan Na2CO3 disertai pirolisis pada suhu 700 oC selama 4 jam. Karakteristik karbon aktif yang dihasilkan telah sesuai dengan SII No.0258–79, kadar air sebesar 0,382-1,619%, kadar abu 2,28-7,79%, iodine number 448,02-1599,72 mg/g, surface area 189,630-1900,69 m2/g. Semakin tinggi konsentrasi aktivator maka semakin tinggi persen removal dari fenol yang telah diadsorbsi oleh karbon aktif. Persen removal tertinggi didapat pada karbon aktif dengan zat aktivator Na2CO3 5% dengan persen removal sebesar 99,745%. Kapasitas optimum penyerapan fenol dengan karbon aktif dari arang tempurung kelapa terbaik didapat pada karbon aktif dengan zat aktivator Na2CO3 5% dengan kapasitas serapan sebesar 220,751 mg fenol/gram karbon aktif

  3. PEMODELAN DAN SIMULASI KEBIJAKAN DENGAN PENDEKATAN SYSTEM DYNAMICS 1 Kasus Permintaan Air PDAM di Salatiga

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yayuk Ariyani

    2015-06-01

    Full Text Available About 58,83 percent of Salatiga population consumes water from PDAM (Peru- sahaan Daerah Air Minum to fulfill their daily need. The demand for water, which is increasing in line with infrastructure development and economics growth in Salatiga while the availability of water is decreasing, lead to a lack of water in some regions in Salatiga. Therefore, a new policy is needed to solve this problem. Before that, a simulation of the policy is needed because it is not possible to do a direct research on the policy. Thus, this recent study attempts to model the phenomenon of demand for water in Salatiga with dynamics system approach since it can be used for a policy simulation. Based on the simulation result, it is suggested to solve the water scarcity problem by trying to reduce the rate of leaking in water distribution from 26 percent to 5 percent.

  4. Démantèlement des centrales nucléaires : le rôle du sous-traitant dans le processus de décision

    OpenAIRE

    Martin, Christophe; Guarnieri, Franck

    2013-01-01

    Le démantèlement des centrales nucléaires en cours et à venir repose avec acuité la question de la fiabilité organisationnelle. D'une part parce-que les organisations se recomposent face à de nouveaux enjeux, d'autre part parce qu'elles externalisent un grand nombre de tâches en lien avec le démantèlement. La sous-traitance n'est certes pas une nouveauté dans la maintenance des centrales, cependant la particularité des opérations de démantèlement nous conduit à ré-explorer l'organisation dans...

  5. Magnetic separation of algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Nath, Pulak; Twary, Scott N.

    2016-04-26

    Described herein are methods and systems for harvesting, collecting, separating and/or dewatering algae using iron based salts combined with a magnetic field gradient to separate algae from an aqueous solution.

  6. KANDUNGAN KATEKIN DAN KUALITAS (WARNA AIR SEDUHAN, FLAVOR, KENAMPAKAN ENAM KLON TEH (Camellia sinensis (L. O. Kuntze DI KETINGGIAN YANG BERBEDA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Suyadi Mitrowihardjo

    2012-05-01

    Full Text Available Catechins Content and Quality (Colour, Flavor, Appearance of Six Tea Clones (Camellia sinensis (L. O. Kuntze at Different Altitude Growings  ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi klon-klon yang dapat memberikan katekin dan kualitas hasil yang tinggi yang diharapkan bermanfaat sebagai arahan perbaikan dalam pengembangan tanaman teh ke depan. Ketinggian tempat tumbuh (1200 – 1300 m dari permukaan laut dan 700 – 900 m dari permukaan laut yang diduga berpengaruh terhadap kualitas hasil juga dievaluasi, karena terkait dengan ketersediaan lahan pengembangan. Analisis catechin (C, epicatechin (EC, epigallocatechin (EGC, epicatechin gallate (ECG, epigallocatechin gallate (EGCG dilakukan dengan metode HPLC (High Performance Liquid Chromatography, sedang evaluasi kualitas (warna air seduhan, flavor, kenampakan dilakukan oleh tiga orang tester teh bersertifi kat. Hasil analisis menunjukkan bahwa total katekin yang tinggi diperlihatkan TRI 2025, PGL 10, GMB 9 di lokasi ketinggian 1200-1300 m dpl, dan total katekin tinggi juga diperlihatkan PGL 15, GMB 9, dan PGL 10 di lokasi ketinggian 700 – 900 m dpl. Skor warna air seduhan tidak menunjukkan perbedaan antar klon maupun antar lokasi, namun skor flavor GMB 7 dan PGL 15 unggul di lokasi atas maupun di lokasi bawah. Ada kecenderungan skor fl avor lebih unggul di lokasi bawah dibanding dengan lokasi atas. Skor kenampakan ampas setelah teh diseduh tinggi untuk PGL 15, TRI 2025, dan GMB 9 di lokasi atas, sedang TRI 2025 tinggi di lokasi bawah. Serupa dengan skor fl avor, skor kenampakan ampas teh berkecenderungan unggul di lokasi bawah. Kata kunci: Teh, ketinggian tempat, katekin, kualitas (warna air seduhan, fl avor, kenampakan  ABSTRACT The purpose of the study was to fi nd out high catechins content and quality of six tea clones which might contribute to tea clone improvements in the future. Altitudes growing (1200 – 1300 m above sea level and 700 – 900 m above sea level which

  7. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dan Tingkat Ekonomi Keluarga Nelayan dengan Status Gizi Balita di Kelurahan Air Tawar Barat Kota Padang

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Pipit Amelia Burhani

    2016-09-01

    Full Text Available AbstrakStatus gizi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kesehatan individu, sehingga mempengaruhi kualitas sumber daya manusia dimasa yang akan datang. Status gizi balita tergantung pada asupan gizi, tingkat pengetahuan ibu, tingkat ekonomi keluarga, pendidikan ibu, pola asuh dan ketahanan pangan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan tingkat pengetahuan ibu dan tingkat ekonomi keluarga nelayan dengan status gizi balita. Penelitian ini dilakukan dari  Juli 2014 sampai Januari 2015. Desain penelitian adalah cross sectional study dengan jumlah subjek  21 orang ibu balita. Data dianalisis secara univariat dengan tabel frekuensi dan analisa bivariat dengan tabel silang lalu diuji dengan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian ialah balita yang memiliki gizi kurus sebanyak 9,5% dan yang memiliki gizi normal sebanyak 90,5%. Pengetahuan ibu rendah sebanyak 52,3% dan pengetahuan ibu tinggi sebanyak 47,6%.  Tingkat ekonomi keluarga didapatkan keluarga miskin sebanyak 95,2% dan keluarga tidak miskin sebanyak 4,8%. Hasil uji statistik didapatkan tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dan tingkat ekonomi keluarga dengan status gizi balita.Kata kunci: status gizi, balita, tingkat pengetahuan ibu, tingkat ekonomi keluarga AbstractNutritional status has a profound influence in individual’s health that affecting the quality of human resources in the future. Nutritional status depends on food intake, mother’s knowledge, family economics, mother’s education, nurturing pattern and food availability. The objective of this study was to determine the relationship level of mother’s knowledge and fishermen’s family economic with nutritional status of toddler. This research was conducted between July 2014 and January 2015 to 21 mothers with toddler. Cross sectional study was used as study design. Data were analyzed by univariate analysis with frequency tables and bivariate analysis with cross table using Rank Spearman

  8. Pengukuran Kadar Natrium Alginat dari Alga Cokelat Spesies Sargassum sp sebagai Bahan Dasar Pembuatan Bahan Cetak Kedokteran Gigi ( Irreversible Hydrocolloid/Dental Material

    OpenAIRE

    Nurlindah Hamrun, Dr.drg.Nurlindah Hamrun.M.Kes

    2016-01-01

    Kadar natrium alginat yang terkandung dalam dinding sel alga cokelat dipengaruhi oleh baberapa fakto, diantaranya : Kualitas spesies alga coklat,lokasi tempat tumbuh,waktu pengambilan sampel,bagian anatomis spesies alga cokelat dan metode ekstraksi Irrevevsible hydrocolloid merupakan bahan cetak yang relatif sering digunakan di bidang kedokteran gigi.Namun,bahan baku dari bahan cetak ini masih diimpor dari luar negeri.

  9. Optimisasi Suhu Pemanasan dan Kadar Air pada Produksi Pati Talas Kimpul Termodifikasi dengan Teknik Heat Moisture Treatment (HMT (Optimization of Heating Temperature and Moisture Content on the Production of Modified Cocoyam Starch Using Heat Moisture Treatment (HMT Technique

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Nengah Kencana Putra

    2016-12-01

    Full Text Available One of the physically starch modification technique is heat-moisture treatment (HMT. This technique can increase the resistance of starch to heat, mechanical treatment, and acid during processing.  This research aimed to find out the influence of heating temperature and moisture content in the modification process of cocoyam starch  with HMT techniques on the characteristic of product, and then to determine the optimum heating temperature and moisture content in the process. The research was designed with a complete randomized design (CRD with two factors factorial experiment.  The first factor was temperature of the heating consists of 3 levels namely 100 °C, 110 °C, and 120 °C. The second factor was the moisture content of starch which consists of 4 levels, namely 15 %, 20 %, 25 %, and 30 %. The results showed that the heating temperature and moisture content significantly affected water content, amylose content and swelling power of modified cocoyam starch product, but the treatment had no significant effect on the solubility of the product. HMT process was able to change the type of cocoyam starch from type B to type C. The optimum heating temperature and water content on modified cocoyam starch production process was 110 °C and 30 % respectively. Such treatment resulted in a modified cocoyam starch with moisture content of 6.50 %, 50,14 % amylose content, swelling power of 7.90, 0.0009% solubility, paste clarity of 96.310 % T, and was classified as a type C starch.   ABSTRAK Salah satu teknik modifikasi pati secara fisik adalah teknik Heat Moisture Treatment (HMT. Teknik ini dapat meningkatkan ketahanan pati terhadap panas, perlakuan mekanik, dan asam selama pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan kadar air pada proses modifikasi pati talas kimpul dengan teknik HMT terhadap karakteristik produk, dan selanjutnya menentukan suhu dan kadar air yang optimal dalam proses tersebut. Penelitian ini dirancang

  10. Alkaloids in Marine Algae

    OpenAIRE

    Ekrem Sezik; Aline Percot; Kasım Cemal Güven

    2010-01-01

    This paper presents the alkaloids found in green, brown and red marine algae. Algal chemistry has interested many researchers in order to develop new drugs, as algae include compounds with functional groups which are characteristic from this particular source. Among these compounds, alkaloids present special interest because of their pharmacological activities. Alkaloid chemistry has been widely studied in terrestrial plants, but the number of studies in algae is insignificant. In this review...

  11. Air condensation thermo-pumps for residential and small commercial buildings; Les thermopompes a condensation par air dans le residentiel et le petit tertiaire

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Carteret, P. [Societe Airwell, (France)

    1997-12-31

    The advantages of recent air conditioning systems in terms of temperature control, air quality, air renewal, humidity control, air distribution, acoustic comfort, flexibility, are reviewed and some aspects concerning the evolution of the market in France are discussed (steady growth of the AC residential market). The different types of air conditioning systems are presented (direct expansion with the split-system, and cool water system); the characteristics, advantages and investment/operation costs of split-system and multi-splits thermo-pumps and hot water / cooled water production central units are described

  12. Sistem Informasi Penjualan dan Pemesanan Layanan Berbasis Web dan SMS Gateway di Petshop "PetZone"

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Siska Fadhilah Wati

    2013-09-01

    Full Text Available Dewasa ini teknologi informasi sangat membantu dalam dunia bisnis. Kemudahan yang ditawarkan akan menjaring lebih banyak konsumen. Namun, perusahan tingkat menengah seperti PetZone saat ini masih jarang yang menawarkan kemudahan berbelanja atau pemesanan layanan secara online. Oleh karena itu diperlukan sebuah sistem berbasis web di perusahaan PetZone yang dapat memudahkan pemilik dan karyawan dalam apenjualan, pelayanan, dan pemasaran, serta memudahkan pelanggan dalam jual-beli barang dan jasa. Atas dasar masalah tersebut dibangun Sistem Informasi Penjualan dan Pemesanan Layanan Berbasis Web dan SMS Gateway untuk menunjang proses bisnis yang ada. Sistem informasi dibangun menggunakan bahasa pemrograman PHP framework Codeigniter, javascript untuk tampilan yang dinamis, dan database MySQL. Proses pembuatan dan pengembangan Sistem Informasi Penjualan ini menggunakan metode air terjun. Metode air terjun meliputi kebutuhan pengguna, analisis, rancangan, implementasi dan pengujian. Pemodelan Sistem Informasi yang dibangun menggunakan metode berorientasi objek UML (Unified Modeling Language yang terdiri dari Use case  diagram, Class diagram dan Sequence diagram. Hasil pengujian Sistem Informasi Penjualan dan Pemesanan Layanan Berbasis Web dan SMS Gateway menunjukkan bahwa semua fitur yang terdapat baik dalam sistem informasi maupun SMS gateway dapat bekerja dengan baikdengan ratusan sample data, dan server SMS gateway dapat memproses lebih dari satu SMS secara bersamaan. Dalam perkembangan ke depannya nanti, Sistem Informasi Penjualan dan Pemesanan Layanan Berbasis Web dan SMS Gateway masih dapat dikembangkan lagi dengan menambah fitur-fitur pada SMS gateway sehingga lebih memudahkan konsumen.

  13. Studi Pemanfaatan Catu Daya Hibrida PLTS 3,7 kWp Dan PLN Pada Instalasi Pengolahan Air Limbah Desa Pemecutan Kaja Denpasar Bali

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Aries Arimbawa

    2016-11-01

    Full Text Available Abstract—Pemecutan Kaja waste treatment plant (WTP was a community treatment plant located in one of Denpasar city ward to process sewerage produced by community members. The WTP uses radial flow anaerobic system which mainly consists of rabic pro and up flow tanks. The water produced by the WTP was released to nearby river as it already met envinronmental quality standard. The WTP was driven by an electric pump to circulate sewer material within the process flow. The pump was fed by hybrid power supply combining 3.7 kW solar PV and power from utility grid. The WTP was operated by village council of Pemecutan Kaja. The study presented here was result of firstly, evaluation on the utilization and performance of solar PV plant, and secondly, to propose managerial model that can manage the plant effectively and sustainably. The study found that daily average energy produced bythe PVplant was 23.59 kWh yielding cost of energy at IDR 7,766/kWh. Experiment to clean filters of the plant reduced daily energy consumption from 8.84 kWh to 3.05 kWh or 65%. Household that connected to the plant pay monthly subscription currently at IDR 10,000.  However, for sustainable operation of the plant, the household need to pay IDR 51,654. Keywords: Renewable Energy, Solar PV, Hybrid Power Supply, Waste Treatment, Managerial Model Abstrak—Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL Desa Pemecutan Kaja adalah IPAL yang terletak di salah satu lingkungan kota Denpasar yang berfungi untuk mengolah air limbah yang dihasilkan oleh anggota masyarakat. IPAL ini meggunakan sistem radial flow anaerobic yang terdiri tangki rabic pro dan tangki up flow filter. Air hasil pengolahan limbah dapat langsung disalurkan ke sungai karena sudah memenuhi baku mutu limbah cair. IPAL ini menggunakan pompa listrik untuk mengalirkan limbah menuju tangki penyaringan. Pompa ini mengunakan catu daya hibrida PLTS 3,7 kW dan PLN. IPAL ini dikelola langsung oleh masyarakat desa Pemecutan Kaja. Hasil

  14. Contribution à l’étude des interactions pauvreté-environnement : rôle des aires du patrimoine communautaire dans la lutte contre la pauvreté

    OpenAIRE

    Sitti, Anani Hudema

    2008-01-01

    Le 5ème Congrès Mondial sur les parcs, tenu à Durban en 2003, a fortement recommandé d’améliorer les connaissances sur les liens entre « aires protégées » et « pauvreté ». Cet article s’inscrit dans cette dynamique et se penche sur les rôles que peut jouer une certaine forme de gouvernance des aires protégées (l’Aire du Patrimoine Communautaire ou APC) dans la réduction de la pauvreté. Né au Sénégal d’une initiative des populations riveraines de la Réserve de Popenguine, le concept APC a reçu...

  15. ISOLASI, IDENTIFIKASI DAN UJI POTENSI BAKTERI YANG BERPERAN PADA PENGOLAHAN AIR LIMBAH YANG MENGANDUNG RHODAMIN B DALAM BIOSISTEM TANAMAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sang Ayu Sri Satya Laksmi Utari

    2015-05-01

    Full Text Available Rhodamin B is a dangerous synthetic dyes substances used as a fabric dye in thetextile industry. Biodegradation is one way that is used in the processing of liquid wasteRhodamin B. Biodegradation technique is leveraging the ability of microbial activitiesdegrade or eliminate pollutant compounds. The main objective of this research was toinvestigate the characteristic of bacteria that are capable of living on wastewater containingRhodamin B and the effectiveness of single and microbial consortium isolates to degradeRhodamin B on wastewater. The isolation of the bacteria was done by plating method and theidentification of the bacteria by using a Kit API 20E. Test of bacterial potential of RhodaminB dyes substance carried out in the Microbiology Laboratory, Biology Department, Facultyof Science, Udayana University. It was found in this research that five bacterial isolates wereobtained (Pseudomonas sp., Shigella spp., Stenotrophomonas sp., Pasteurella sp. dan Proteussp.. Pasteurella sp. had the highest percentage degrade effectiveness of 40.55%. Microbialpotential degrade Rhodamin B by Pasteurella sp. dan Proteus sp. results showed significantdifferences (P <0.05 to control.Keyword: bacteria, biodegradation, Rhodamin B

  16. Les réseaux d’équipements sportifs dans les stations balnéaires : l’exemple du tennis

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Françoise Rollan

    2004-03-01

    Full Text Available Les réseaux d’équipements sportifs sont indissociables de l’histoire du sport et de son développement dans notre pays. Le sport est passé en un siècle d’une activité, représentative du snobisme à un phénomène populaire. L’installation du sport moderne a été difficile car il s’opposait aux sports traditionnels. Le rôle de l’Etat a été fondamental dans le développement du sport et surtout la loi de 1901 sur les associations a permis aux réseaux sportifs de se constituer et d’initier les réseaux d’équipements, l’Etat prenant le relais dans un second temps. Dans les stations balnéaires, dont la hiérarchie était déjà établie avant la Première Guerre mondiale, ce sont les Anglais qui ont été à l’origine de l’installation des différents sports. Les classes très aisées ont suivi et ont participé à leur diffusion. Les équipements privés ont d’abord été pris en charge par l’Etat. Mais suite aux investissements massifs des années 1980, les réseaux d’équipements sportifs sont aujourd’hui sous-utilisés une partie de l’année. Les golfs des stations balnéaires des côtes de l’Atlantique, de la Manche et de la mer du Nord organisés en réseaux grâce aux programmes immobiliers qui les accompagnent sont quant à eux, rentabilisés tout au long de l’année.Sport facilities networks are an integral part of sport history and development in France. Starting as a snobbish activity, in one century sport became a popular phenomenon. Modern sport, going against traditional sport, met with a great many obstacles. On top of this, the legislation was not favourable since it forbade any association. Therefore the role of the State was essential. But, it was the 1901 Law concerning associations which made it truly possible for the sporting networks to be formed and for sport facilities networks to be initiated, the State taking over in a second time. On seaside resorts, the hierarchy of which

  17. Let them eat algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Ciferri, O.

    1981-09-24

    The blue-green alga, Spirulina appears to be one of the candidates for the solution of the global problems of energy, food and chemical feedstock supplies. The harvesting of algae from Lake Texcoco, Mexico for the making of bread was noted in the 16th century by the Spanish and over 400 years later, dried biscuits made from algae were noted in Chad. Recent investigations have shown that the alga contains a very high proportion of protein - even higher than soya beans and is of high quality. A pilot plant covering 2 hectares for culturing Spirulina in a closed system is under construction in Italy. The polyethylene tubes will function as solar collectors and so extend the production season of the algae in more temperate regions.

  18. Algae Derived Biofuel

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Jahan, Kauser [Rowan Univ., Glassboro, NJ (United States)

    2015-03-31

    One of the most promising fuel alternatives is algae biodiesel. Algae reproduce quickly, produce oils more efficiently than crop plants, and require relatively few nutrients for growth. These nutrients can potentially be derived from inexpensive waste sources such as flue gas and wastewater, providing a mutual benefit of helping to mitigate carbon dioxide waste. Algae can also be grown on land unsuitable for agricultural purposes, eliminating competition with food sources. This project focused on cultivating select algae species under various environmental conditions to optimize oil yield. Membrane studies were also conducted to transfer carbon di-oxide more efficiently. An LCA study was also conducted to investigate the energy intensive steps in algae cultivation.

  19. Simulation of the air flows in many industrial pleated filters; Modelisation des ecoulements d'air dans differents filtres industriels plisses

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Del Fabbro, L.; Brun, P. [FILTRAUTO, 78 - Saint-Quentin-en-Yvelines (France); Laborde, J.C.; Lacan, J.; Ricciardi, L. [CEA/Saclay, Inst. de Protection et de Surete Nucleaire, IPSN/DPEA/SERAC, 91 - Gif-sur-Yvette (France); Renoux, A. [Paris-12 Univ., Lab. de Physique des Aerosols et de Transfert des Contaminations, 94 - Creteil (France)

    2000-07-01

    The study presents results concerning the characterization of the charge loss and the air flow in nuclear and automobile type pleated filters. The experimental studies in correlation with the numerical models showed an homogenous distribution of the air flows in a THE nuclear type filter, whereas the distribution is heterogenous in the case of an automobile filter. (A.L.B.)

  20. KONDISI LINGKUNGAN PERAIRAN DAN KEANEKARAGAMAN SUMBER DAYA IKAN DI DANAU MANINJAU, SUMATERA BARAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sulastri Sulastri

    2016-04-01

    Full Text Available Danau Maninjau merupakan perairan eutrofik yang telah mengalami degradasi kualitas air serta sering terjadi kematian ikan secara masal. Degradasi kualitas air dikhawatirkan mempengaruhi perkembangan populasi dan keanekaragaman sumberdaya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kualitas air terkini dan perkembangan keanekaragaman sumber daya ikan di Danau Maninjau. Pengamatan kualitas air dilakukan pada tahun 2014 di delapan stasiun, mencakup parameter suhu, pH, DO, konduktivitas, potensi oksidasi reduksi, kecerahan perairan yang diukur secara in situ. Parameter amonia, nitrit, total nitrogen, fosfat, total fosfor, total bahan organik, klorofil-a dianalisis di laboratorium menggunakan metoda standard, dan fitoplankton menggunakan metoda Lacey Drop Microtransect. Informasi keanekaragaman sumber daya ikan diperoleh dari hasil tangkapan nelayan, pedagang ikan dan hasil pengamatan terdahulu. Kecerahan perairan menunjukkan nilai yang rendah (1,75-2,15 m. Suhu 27,5-30,33oC, nilai pH pH>9 atau di atas baku mutu untuk perikanan dijumpai di dua stasiun. Konsentrasi DO rendah (9 or above the standard value for fisheries was found at two stations. Low DO concentration (< 2 mg/L and anoxic zone was found at 9 to 15 m. Low DO concentration and anoxic zone ascend continuously to the upper water column indicated that water quality continuously degradation. In general amonia concentration was above the standard value for fisheries (< 0.02 mg/L   Lake Maninaju was rich of phosphorous and phytoplankton was dominated by Blue green algae (Planktolyngbia sp. Exotic species increased and some of them reported as an invasive species that tolerance to the low of water quality. On the other hand some of indigenous species was rarely and not found in this observation.

  1. The effect of algae species on the bioelectricity and biodiesel generation through open-air cathode microbial fuel cell with kitchen waste anaerobically digested effluent as substrate.

    Science.gov (United States)

    Hou, Qingjie; Nie, Changliang; Pei, Haiyan; Hu, Wenrong; Jiang, Liqun; Yang, Zhigang

    2016-10-01

    Five strains algae (Golenkinia sp. SDEC-16, Chlorella vulgaris, Selenastrum capricornutum, Scenedesmus SDEC-8 and Scenedesmus SDEC-13) were screened as an effective way to promote recover electricity from MFC for kitchen waste anaerobically digested effluent (KWADE) treatment. The highest OCV, power density, biomass concentration and total lipid content were obtained with Golenkinia sp. SDEC-16 as the co-inoculum, which were 170mV, 6255mWm(-3), 325mgL(-1) and 38%, respectively. Characteristics of the organics in KWADE were analyzed, and the result showed that the hydrophilic and acidic fractions were more readily degraded, compared to the neutral fractions during the operation. Maximum COD and TN removal efficiency were 43.59% and 37.39% when inoculated with Golenkinia sp. SDEC-16, which were roughly 3.22 and 3.04 times higher than that of S. capricornutum. This study demonstrated that Golenkinia sp. SDEC-16 was a promising species for bioelectricity generation, lipid production and KWADE treatment.

  2. ISOLASI DAN KULTUR PROTOPLAS RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii DI LABORATORIUM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Emma Suryati

    2007-12-01

    Full Text Available Isolasi protoplas rumput laut K. alvarezii, telah dilakukan dalam rangka penyiapan protoplas untuk penyilangan melalui fusi protoplas. Metode yang digunakan antara lain melalui cara kimia dengan melisis tallus rumput laut dengan campuran enzim komersial, kemudian enzim yang berasal dari viscera keong mas baik yang segar maupun yang beku, dengan media kultur yang digunakan pada pemeliharaan makro algae antara lain Conwy, PES, dan air laut steril. Tallus rumput laut yang digunakan berasal dari bagian pangkal, tengah dan ujung. Protoplas yang hidup diuji menggunakan evans blue 0,1%, hormon perangsang tumbuh yang digunakan pada media pertumbuhan antara lain auxin, IAA, dan Kinetin. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah protoplas hidup, pertumbuhan, dan sintasan.  Hasil percobaan memperlihatkan bahwa enzim yang paling baik digunakan adalah campuran enzim komersial dengan media kultur Conwy dengan jumlah protoplas mencapai 19,8 x 106 sel/mL, bagian tallus yang paling baik adalah bagian pangkal berkisar antara 8,1x106 hingga 18,8 x 106 sel/ mL.  Perangsang tumbuh yang paling baik adalah auxin. Filamen terbentuk setelah 5 hari dengan fotoperiod L:D=12:12. Isolation of seaweed’s protoplast Kappaphycus alvarezii had been done to provide protoplast for crossbreeding purpose by protoplast fusion. The method was chemically done by lyses of tallus used commercial enzyme mixture, enzyme from viscera of snail both fresh and frozen, culture media were Conwy (CW, PES, and sterile sea water (SSW which were used to maintain the macro algae. Part of used tallus were upper, middle and tip of tallus. The viable protoplast was examined by using 0.1% evans blue and the growth-stimulating hormone were auxin, IAA, and Kinetin. Observation was concerned to the amount of viable protoplast, the growth, and the long live. Result showed that the best enzyme was commercial enzyme mixture with Conwy as the best culture media, provided protoplast until 19.8 x 106 cell/mL. The

  3. Wastewater treatment with algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Wong Yukshan [Hong Kong Univ. of Science and Technology, Kowloon (China). Research Centre; Tam, N.F.Y. [eds.] [City Univ. of Hong Kong, Kowloon (China). Dept. of Biology and Chemistry

    1998-05-01

    Immobilized algal technology for wastewater treatment purposes. Removal of copper by free and immobilized microalga, Chlorella vulgaris. Biosorption of heavy metals by microalgae in batch and continuous systems. Microalgal removal of organic and inorganic metal species from aqueous solution. Bioaccumulation and biotransformation of arsenic, antimony and bismuth compounds by freshwater algae. Metal ion binding by biomass derived from nonliving algae, lichens, water hyacinth root and spagnum moss. Metal resistance and accumulation in cyanobacteria. (orig.)

  4. Exposition by inhalation to the formaldehyde in the air. Source, measures and concentrations; Exposition par inhalation au formaldehyde dans l'air. Source, mesures et concentrations

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Del Gratta, F.; Durif, M.; Fagault, Y.; Zdanevitch, I

    2004-12-15

    This document presents the main techniques today available to characterize the formaldehyde concentrations in the air for different contexts: urban and rural areas or around industrial installations but also indoor and occupational area. It provides information to guide laboratories and research departments. A synthesis gives also the main emissions sources of these compounds as reference concentrations measured in different environments. (A.L.B.)

  5. Study on Plantago major L. dan Phaseolus vulgaris L. chlorophyll and carotenoid content using as bioincator for air pollution

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    ENDANG ANGGARWULAN

    2007-10-01

    Full Text Available The aims of this research were to study using chlorophyll and carotenoid as bioindicator air quality. This research used completely randomized design 2 x 4 factorial with 5 replicates. The first factor was distance from source of exhaust automobile emissions, consists of 4 levels: 0,50, 100, and 200 m. The second factor was plant spesies, consist 2 level: Plantago major and Phaseolus vulgaris. Data collected were analyzed using Multiple Regression Analysis followed by Duncan Multiple Range Test in 5% confidence level. The result indicated that increasing distance from source exhaust automobile emission, increased growth and chlorophyll content. Chlorophyll content in Phaseolus is more sensitive as bioindicator for air pollution.

  6. Algae fuels : a tantalizing alternative

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Granson, E.

    2010-11-15

    This article surveyed the current state of research and development in the area of algae use as a basis for fuel and as a feedstock for the chemical industry. The constraints inhibiting the commercialization of algae-related processes were discussed and a brief overview of the history of algae research was presented. Interest in algae research has ebbed and flowed in conjunction with economic and social concerns. It is unknown whether algae can be grown on a scale and cost that is commercially viable. A bench-scale algae cultivation system involving photobioreactors was described. Algae are increasingly being used in treating wastewater from industrial processes, as algae can reduce ammonia and phosphate loads in effluent. Exhaust carbon dioxide is being used to feed algae crops. Advances are needed to make turning algae oil into fuel cost effective. A bench-stage process for extracting algae oil from water for biofuel conversion was described. The process results in easier-to-dry biomass without using chemical solvents or centrifuges. Algae biomass is also being explored for used as a polymer feedstock. Algae can be grown anywhere there is sun, but the challenge is in developing a large enough supply of algae biomass. Second generation algae plastic products will be more complex and may involve the creation of a monomer out of algae itself, which could make algae competitive with oil in the plastics industry. Skeptics doubt that algae processes can be commercialized, but some within the industry believe that algae biomass will eventually work within the norms of industrial processes. 5 figs.

  7. Kapasitas Jerap Niosom Terhadap Ketoprofen dan Perdiksi Penggunaan Transdermal

    OpenAIRE

    Rahman, Latifah; Ismail, Isriani; Wahyudin, Elly

    2013-01-01

    Niosom adalah system vesikel yang dapat digunakan sebagai pembawa obat lipofilik, hidrofilik dan ampifilik. Ketoprofen adalah salah satu golongan AINS yang sangat sukar larut dalam air dan dapat menyebabkan iritasi lambung pada penggunaan oral. System penghantaran obat secara transdermal sangat penting dikembangkan untuk ketoprofen. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi niosom yang dapat menjerap ketoprofen secara optimal dan dapat menghantarkan ketoprofen melalui rute pemberian transde...

  8. STUDI KUALITAS DAN PENGOLAHAN AIR SUMUR POMPA TANGAN DENGAN PEMANFAATAN ABU SEKAM DI DESA JALAN LURUS KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Febrianto Rahman

    2016-10-01

    hours immersion, so after the treatment is being doing proceeds all the Manganese rate become 0 mg/lt..  The turbidity mean up after the ash rice is being given on each concentration and immersion time. The higher escalation of turbidity mean happen on B1A4 treatment, because this A4 (20 gram treatment has the highest concentration ash rice dan the immersion time only 4 hours (B1. Based on the Health Minister Adjudication 907 year 2002, the well hand pump (SPT in Jalan Lurus Village Sungai Pandan District Hulu Sungai Utara Regency is not on the criteria as a drink water but only as a clean water.  Ash rice with concentration variety treatment and immersion time maximally can reduce the Fe and Mn rate and also can increase the water pH of SPT so can fullfil the drink water qualification.  Ash rice can increase the need for drink water but also need particular treatment.  E-Coli amount does not effect the treatment so need to be coked (240mpn/100 ml.

  9. DAMPAK DAN PENGENDALIAN HUJAN ASAM DI INDONESIA

    OpenAIRE

    Erni M Yatim

    2007-01-01

    Hujan asam ialah turunnya asam dalam bentuk hujan. Hal ini terjadi apabila asam di udara larut dalam butirbutir air di awan. Jika hujan turun dari awan itu, air hujan bersifat asam. Asam itu terhujankan atau rainout. Hujan asam dapat pula terjadi karena hujan turun melalui udara yang mengandung asam sehingga asam itu terlarut kedalam air hujan dan turun kebumi.

  10. Perbedaan Efek Daya Hambat Jus Kulit Buah Manggis dengan Air Rebusan Kulit Buah Manggis sebagai Antibakteri terhadap Bakteri Gram-Positif (Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes secara In Vitro

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nani Hendriani

    2016-01-01

    Full Text Available AbstrakBakteri Gram-positif seperti Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes telah resisten terhadap beberapa antibiotik, sehingga perlu dicari antibakteri alternatif lain. Manggis merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang telah lama digunakan sebagai antibakteri. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental terhadap kedua bakteri tersebut,  yang diberi enam perlakuan dengan enam kali pengulangan, yaitu kontrol positif (amoksisilin 25 mcg, kontrol negatif (larutan aquades, jus kulit buah manggis dosis I (konsentrasi 58,3% v/v dan dosis II (konsentrasi 29,15% v/v, serta air rebusan kulit buah manggis dosis I (konsentrasi 30,7% v/v dan dosis II (konsentrasi 15,35% v/v. Cawan petri dengan kedua isolat bakteri  yang telah ditanami cakram dengan 6 perlakuan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C, kemudian diukur diameter halo yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air rebusan kulit buah manggis memiliki efek daya hambat yang lebih baik daripada jus kulit buah manggis. Efek antibakteri jus dan air rebusan kulit buah manggis lebih sensitif pada bakteri Staphylococcus aureus dibanding bakteri Streptococcus pyogenes.Kata kunci: kulit buah manggis, jus, air rebusan, Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes AbstractGram-positive bacteria such as Staphylococcus aureus and Staphylococcus pyogenes have developed resistance to some antibiotic, therefore  need to find another alternative as antibacterial. Mangosteen well known as one of the traditional medicine used as antibacterial. This study was conducted in experimental fashion toward both of those bacteria which was given 6 treatment with 6 times repetition, consist of positive control (25 mcg of amoxicillin, negative control (aquades solution, mangosteen pericarp juice dose I (58% v/v and dose II (29,15% v/v, and boiled mengosteen pericarp dose I (30,7% v/v and dose II (15,35% v/v. Six paper disks treated with before mentioned treatment was putted on a petri dish

  11. PENGOLAHAN LIMBAH CAIR UREA MENGGUNAKAN PROSES GABUNGAN ACTIVATED MICROALGAE DAN NITRIFIKASI-DENITRIFIKASI AUTOTROFIK: UJI DENGAN RANCANGAN TAGUCHI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Indro Sumantri

    2012-05-01

    Full Text Available Proses konvensional untuk mengolah limbah cair industri urea biasanya menggunakan proses alga mikro atau bakteri heterotropik nitrifikasi-denitrifikasi. Proses alga mikro dapat menggunakan berbagai jenis alga mikro. Keuntungannya adalah murah karena hanya memerlukan nutrien Psedikit tetapi tidak dapat digunakan untuk menyusutkan amoniak. Proses nitrifikasi-denitrifikasi bakteri heterotropik memerlukan asupan karbon yang tinggi sehingga pengolahan menjadi mahal. Tujuan saat ini untuk penelitian adalah untuk mempelajari kombinasi yang potensial untuk proses alga mikro jenis tertentu dengan proses nitrifikasi-denitrifikasi ototrofik. Jenis alga mikro yang digunakan dalam proses alga mikro mempunyai kemampuan baik untuk penyusutan amoniak atau tahan dalam konsentrasi amoniak tinggi. Proses nitrifikasi-denitrifikasi ototrofik menggunakan bakteri nitrifikasi/lumpur sebagai biokatalis. Lumpur nitrifikasi awal adalah lumpur aktif kolam aerasi unit pengolahan limbah cair industri partikel board Pengayaan dan pembibitan lumpur nitrifikasi dilakukan dalam konsentrasi amoniak yang tinggi dan kondisi ototrofik. Berdasarkan penelitian, pengayaan dan pembibitan alga mikro yang mempunyai kemampuan untuk penyusutan amoniak dan tahan konsentrasi amoniak yang tinggi mudah. Evaluasi substrat pembatas penghambat amonium terhadap pertumbuhan alga tidak terbukti. Tujuh variabel yang dipilih lewat penapisan adalah : MLSS, waktu tinggal, konsentrasi NH3-N, laju aerasi, kadar CaCO3, nutrien mikro, rasio N:P. Variabel yang berpengaruhadalah konsentrasi NH3-N, laju aerasi, kadar CaCO3.

  12. SURVIE EMBRYONNAIRE DU SAUMON ATLANTIQUE (SALMO SALAR L. DANS UN COURS D’EAU DU SUD DE SON AIRE DE RÉPARTITION, LA NIVELLE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    DUMAS J.

    2007-01-01

    Full Text Available L’évaluation de la survie du saumon Atlantique entre la ponte et l’émergence des alevins hors des graviers est réalisée dans le bassin de la Nivelle dans les domaines accessible (trois tronçons et non accessible (trois tronçons aux géniteurs. Pour ce faire, des capsules d’incubation de 12 cm3, contenant des œufs fraîchement fécondés, sont insérées dans des frayères artificielles et naturelles. Le débit et la température de l’eau de surface, l’oxygène dissous des eaux de surface et interstitielle et les caractéristiques granulométriques du substrat des frayères sont contrôlés pendant toute la durée de l’expérience. La survie, de 28,6 % en moyenne dans l’ensemble des sites, est plus élevée dans les tronçons de l’amont (52,7 % dans la Très Haute Nivelle et son affluent, le Lapitxuri que dans les autres sites, dont ceux actuellement colonisés par l’espèce (21,5 %. Il n’est pas observé de différence de survie entre les frayères artificielles et naturelles. Les mortalités interviennent essentiellement lors des épisodes de crues avant l’éclosion. Une corrélation positive forte existe entre la saturation en oxygène de l’eau interstitielle et la survie. Pour une saturation minimum en oxygène au-dessous de 62 %, la survie reste inférieure à 27 %. En revanche, la composition granulométrique du substrat ne semble pas agir directement sur la survie. Ce facteur n’étant pas corrélé avec l’oxygène dissous, ceci suggère que dans ce cours d’eau, le flux circulant dans les frayères ne provient pas uniquement de l’eau de surface, mais aussi de la nappe alluviale pauvre en oxygène dissous.

  13. Efek Durasi Pencahayaan Pada Sistem HRAR Untuk Menurunkan Kandungan Minyak Solar Dalam Air Limbah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dian Puspitasari

    2014-09-01

    Full Text Available Kandungan minyak di dalam air limbah industri perminyakan umumnya bersifat toksik terhadap mikroorganisme dan mengganggu proses pengolahan secara biologis. Sistem HRAR diperkirakan dapat mengatasi hambatan tersebut melalui proses fotosintesis untuk menghasilkan oksigen yang dibutuhkan mikroorganisme dalam mendegradasi senyawa hidrokarbon. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh perpanjangan waktu pencahayaan pada kemampuan HRAR dalam menurunkan kandungan minyak di dalam limbah. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah variasi durasi pencahayaan dan variasi penambahan volume minyak solar yang ditambahkan ke dalam reaktor. Variasi durasi pencahayaan yang digunakan adalah pencahayaan selama 12 jam dan pencahayaan selama 24 jam. Sedangkan penambahan volume minyak solar ke dalam masing-masing reaktor adalah sebesar 346 ppm, 519 ppm dan 692 ppm. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah durasi pencahayaan selama 12 jam memiliki efek yang lebih baik terhadap penurunan konsentrasi minyak dibandingkan pencahayaan selama 24 jam. Hal ini dapat terlihat dari baiknya pertumbuhan alga dan bakteri di dalam reaktor serta tingginya penurunan konsentrasi minyak solar di dalamnya. Penurunan konsentrasi minyak solar terbaik terdapat pada reaktor dengan penambahan minyak solar sebesar 346 ppm. Pada reaktor dengan durasi pencahayaan selama 12 jam terjadi penurunan konsentrasi minyak sebesar 78,4%. Sedangkan penurunan kandungan minyak solar pada reaktor dengan durasi pencahayaan selama 24 jam adalah sebesar 73,9%.

  14. Spiruline, a virtuous algae

    OpenAIRE

    Various, Authors

    2015-01-01

    A short video about a local development practice focusing on the production and commercialization of spiruline, an algae used as an nutritional integrator. The practice was one of six prize winners resulting from a national competition for innovative practices of local development, launched by the Senegalese Ministry of local governance, development and territorial planning, with funding from the Italian Cooperation and technical support from the KIP International School.

  15. ANALISIS KUALITAS RUMPUT LAUT Gracilaria gigas YANG DIBUDIDAYA PADA HABITAT LAUT DAN TAMBAK, NUSA TENGGARA BARAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Farah Diana

    2014-03-01

    dengan kandungan N perairan dan indeks percabangan. Kualitas rumput laut berhubungan erat dengan suhu, DO, PO4-P, dan NH3-N terlarut dalam air. Tingginya rendemen agar dan kekuatan gel di tambak disebabkan oleh banyaknya kandungan nutrien dan unsur hara, sedangkan tingginya produktivitas hasil budidaya Gracilaria gigas di laut disebabkan oleh adanya respons struktural dan tekanan turgor pada rumput laut.

  16. Penggunaan Fungsi Pedotransfer untuk Memperkirakan Permeabilitas Tanah di Sumatera Selatan dan Riau

    OpenAIRE

    Harum Maharani, Bambang Hendro Sunarminto, dan Eko Hanudin, Puspita

    2015-01-01

    Penelitian ini bertujuan untuk menduga nilai permeabilitas tanah dalam keadaan jenuh di Sumatera Selatan dan Riau dari tekstur tanah, porositas dan kedalaman tengah profil. Permeabilitas tanah dalam keadaan jenuh merupakan salah satu parameter sifat fisik tanah untuk memprediksi pergerakan air di dalam tanah dan zat terlarut yang berada dalam air tanah. Sebagian besar data permeabilitas tanah yang dianalisis di laboratorium dianggap tidak praktis, membutuhkan banyak waktu dan biaya. Permeabil...

  17. Pengaruh Ketebalan Media Geotextile dan Arah Aliran Slow Sand Filter Rangkaian Seri untuk Menyisihkan P Total dan N Total

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ayuningtyas Ayuningtyas Ayuningtyas

    2014-03-01

    Full Text Available Pada penelitian ini dilakukan pengujian terhadap parameter-parameter yang berkaitan dengan standar kualitas air minum berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.492/MENKES/PER/IV/2010 pada air baku Kali Surabaya yang terlebih dahulu diolah pada unit pretreatment di IPAM Ngagel 1 Surabaya dan air yang akan diolah berasal dari outlet prasedimentasi. Air outlet prasedimentasi diolah terlebih dahulu menggunakan 4 unit roughing filter yang disusun secara seri kemudian diolah lebih lanjut ke unit slow sand filter dengan rangkaian seri. Digunakan dua variabel yaitu variasi arah aliran dan variasi ketebalan media geotextile. Media geotextile yang digunakan berjenis geotextile non woven. Ketebalan media geotextile yang digunakan sebesar 4 cm dan 6 cm sedangkan variasi arah aliran yang digunakan yaitu downflow-upflow dan downflow-downflow. Digunakan unit pengolahan slow sand filter dengan rangkaian seri sebanyak 2 reaktor. Pada penelitian ini akan dilakukan penambahan media geotextile di unit slow sand filter dan nantinya diharapkan supaya kandungan N total dan P total dapat diturunkan. Flow rate yang digunakan pada unit slow sand filter sebesara 0,3 m3/m2 jam. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui ketebalan media geotextile dan arah aliran yang optimum pada unit slow sand filter dan menganalisis pengaruh penambahan media geotextile terhadap kualitas air hasil olahan unit slow sand filter untuk menyisihkan N total dan P total.

  18. Miocene Coralline algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Bosence, D.W.J.

    1988-01-01

    The coralline algae (Order Corallinales) were sedimentologically and ecologically important during the Miocene, a period when they were particularly abundant. The many poorly described and illustrated species and the lack of quantitative data in coralline thalli make specific determinations particularly difficult, but some species are well known and widespread in the Tethyan area. The sedimentologic importance of the Miocene coralline algae is reflected in the abundance of in-situ coralline buildups, rhodoliths, and coralline debris facies at Malta and Spain; similar sequences are known throughout the Tethyan Miocene. In-situ buildups vary from leafy crustose biostromes to walled reefs with dense coralline crusts and branches. Growth forms are apparently related to hydraulic energy. Rhodoliths vary from leafy, crustose, and open-branched forms in muddy sediments to dense, crustose, and radial-branching forms in coarse grainstones. Rhodolith form and internal structure correlate closely with hydraulic energy. Coralline genera are conservative and, as such, are useful in paleoenvironmental analysis. Of particular interest are the restricted depth ranges of recent coralline genera. More research is needed on the sedimentology, paleoecology, and systematics of the Cenozoic corallines, as they have particular value in paleoenvironmental analysis.

  19. Gulf ring algae

    Science.gov (United States)

    Although they rank among the tiniest of the microspcopic phytoplankton, coccolithophore algae aid oceanographers studying the Gulf Stream rings and the ring boundaries. The algal group could help to identify more precisely the boundary of the warm rings of water that spin off from the Gulf Stream and become independent pools of warm water in the colder waters along the northeastern U.S. coast.Coccolithophore populations in the Gulf Stream rings intrigue oceanographers for two reasons: The phytoplankton are subjected to an environment that changes every few days, and population explosions within one coccolithophore species seem to be associated with changes in the characteristics of ocean water, said Pat Blackwelder, an associate professor at the Nova Oceanographic Center in Dania, Fla. She is one of many studying the physics, chemistry, and biology of warm core rings. A special oceanography session on these rings was held at the recent AGU Fall Meeting/ASLO Winter Meeting.

  20. PENGARUH KETEBALAN IRISAN DAN LAMA PEREBUSAN (BLANCHING TERHADAP GAMBARAN MAKROSKOPIS DAN KADAR MINYAK ATSIRI SIMPLISIA DRINGO (Acorus calamus L.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Heru Sudrajad

    2012-10-01

    Full Text Available Beberapa simplisia perlu mengalami proses seperti perajangan dan blanching. Perajangan dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan penggilingan. Semakin tipis bahan yang dikeringkan, semakin cepat penguapan air yang dikandung, sehingga mempercepat waktu pengeringan. Namun irisan yang terlalu tipis menyebabkan zat yang mudah menguap seperti minyak atsiri akan berkurang kadarnya, sehingga mempengaruhi komposisi, bau dan rasa terutama pada simplisia seperti temu lawak, temu giring, jahe, kencur dan bahan sejenis lainnya. Perebusan (blanching adalah suatu proses pemanasan yang diberikan kepada bahan mentah selama beberapa menit  pada  suhu  air  mendidih yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas produk yang diolah. Rimpang tanaman ini secara empiris digunakan sebagai insektisida, demam nifas, karminatif. disentri dan limpa bengkak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh ketebalan irisan dan lama perebusan (blanching terhadap gambaran makroskopis dan kadar minyak atsiri simplisia dringo (Acorus calamus L. Sebagai model digunakan Acorus calamus L. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap menggunakan 2 faktor perlakuan, yaitu faktor pertama ketebalan irisan (K. yaitu K1 =2 mm, K2 =4 mm. K3 = 6 mm dan lama blanching (B yaitu BO = tanpa blanching, B 1 = 5 menit dan B2 = 10 menit. Pengamatan dilakukan terhadap kualitas (warna, bentuk permukaan dan tekstur simplisia dan kadar minyak atsiri rimpang dringo. Simplisia dengan ketebalan irisan 2 mm tanpa perlakuan blanching menghasilkan minyak atsiri lebih tinggi (4,5% dengan kualitas simplisia yang lebih baik (warna putih kekuningan, permukaan rata dan tekstur liat, mudah dipatahkan sedangkan yang hasil terendah diperoleh pada perlakuan ketebalan irisan 2 mm dengan perlakuan lama blanching 10 menit yaitu  warna simplisia coklat, keadaan fisik irisan bergelombang, permukaan keras, sukar dipatahkan dengan kadar minyak atsiri (2%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tebal

  1. Karakteristik Fisik, Kimia, Sensoris, dan Kandungan B-Karoten Bakso yang Terbuat dari Kombinasi Daging Sapi dan Daging Ayam Petelur Afkir dengan Penambahan Daun Katuk (Sauropus androgynus

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rio Olympias Sujarwanta

    2013-02-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik, kimia, sensoris, dan kandungan β-karoten bakso yang terbuat dari kombinasi daging sapi dan daging ayam petelur afkir dengan penambahan daun katuk. Penelitian ini dilakukan dengan lima macam perlakuan yaitu imbangan daging sapi dan daging ayam petelur afkir dengan perbandingan 100:0, 75:25, 50:50, 25:75, dan 0:100. Lima macam perlakuan tersebut selanjutnya disuplementasi daun katuk dengan konsentrasi 0; 2,5; dan 5% dari berat daging. Pengujian yang dilakukan meliputi uji karakteristik fisik (pH, daya ikat air, dan keempukan, karakteristik kimia (kadar air, protein, dan lemak, karakteristik sensoris (warna, aroma, tekstur, kekenyalan, dan daya terima, dan kandungan β-karoten. Data karakteristik fisik dan kimia dianalisis variansi pola faktorial (3 faktor penambahan daun katuk x 5 faktor imbangan daging. Data karakteristik sensoris dianalisis non-parametrik yaitu uji Hedonik Kruskal-Wallis, dilanjutkan uji Quantitative Descriptive Analysis (QDA dalam model jaring laba-laba (spider web. Perbedaan yang signifikan dilanjutkan dengan uji Duncan’s New Multiple Range Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imbangan daging sapi dan ayam petelur afkir sebesar  0:100% dapat meningkatkan pH, daya ikat air, keempukan, kadar air, kadar protein, dan kandungan β-karoten bakso berturut-turut sebesar 0,20; 5,8%; 4,74 mm/45 g; 5,58%; 4,28%; dan 8,39 μg/100 g; tetapi menurunkan kadar lemak sebesar 0,31% (P<0,05. Penambahan daun katuk pada level 2,5% dapat meningkatkan daya ikat air, kadar air, kadar protein, dan kandungan β-karoten masing-masing sebesar 2,72%; 2,70%; 1,10%; dan 17,82 μg/100 g; tetapi menurunkan pH, keempukan, dan kadar lemak berturut-turut sebesar 0,35; 2,01 mm/45 g; dan 0,08% (P<0,05. Imbangan daging dan level penambahan daun katuk secara umum tidak mengubah karakteristik sensoris dan tidak menunjukkan interaksi antara masing-masing perlakuan. Imbangan daging sapi dan ayam

  2. Gestion des déchets ménagers dans l’aire de santé Bulaska à Mbuji-Mayi en République Démocratique du Congo

    Science.gov (United States)

    Kangoy, Kasangye; Ngoyi, John; Mudimbiyi, Olive

    2016-01-01

    Introduction La présence des déchets ménagers dans les voies publiques a une influence sur l’hygiène de l’environnement, ils entrainent l’insalubrité et peuvent être facteurs des certaines maladies dont quelques-unes peuvent être épidémiques. Au cours des deux dernières décennies, la question de la gestion des déchets est devenue de plus en plus complexe autant pour les pays développés que ceux sous-développés. L’objectif de cette étude était de déterminer les types de déchets et le mode de gestion des déchets génère par les ménages. Méthodes Cette étude est descriptive transversale, réalisée dans l’aire de sante Bulaska, Kasaï oriental, c’est une approche prospective appuyée par l’interview et l’observation active. Le questionnaire a été adressé au responsable du ménage ou au délègue, du 21 au 25 juin 2010, sur 170 ménages ce qui constituent un échantillon de convenance. Résultats Cette étude a révélé ce qui suit: 94,7% des enquêtes qui avaient répondu a notre questionnaire étaient de sexe féminin; 47% des enquêtes avaient un niveau d’étude primaire; 41,1% des enquêtes étaient des ménagères; la taille médiane de ménage était de 7 personnes par ménage; dans 83,5% des cas les déchets génères étaient solides; 50% des ménages de l’aire de sante utilisent la voie publique comme poubelle. Conclusion Eu égard au résultat de cette étude, développer plus les programmes de sensibilisation sur l’assainissement de l’environnement s’avère nécessaire. PMID:27800105

  3. Transgenic algae engineered for higher performance

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Unkefer, Pat J; Anderson, Penelope S; Knight, Thomas J

    2014-10-21

    The present disclosure relates to transgenic algae having increased growth characteristics, and methods of increasing growth characteristics of algae. In particular, the disclosure relates to transgenic algae comprising a glutamine phenylpyruvate transaminase transgene and to transgenic algae comprising a glutamine phenylpyruvate transaminase transgene and a glutamine synthetase.

  4. PENENTUAN CAMPURAN LUMPUR LAPINDO SEBAGAI SUBSTITUSI PASIR DAN SEMEN DALAM PEMBUATAN PAVING BLOCK RAMAH LINGKUNGAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ganjar Samudro

    2016-03-01

    Full Text Available Lumpur Lapindo (LL atau Lumpur Sidoarjo (Lusi merupakan lumpur panas, yang pemanfaatannya sangat terbatas dan menimbulkan dampak sosial dan lingkungan yang cukup besar. Karakteristik Lumpur Lapindo mengandung silikat (SiO2 dan kapur (CaO yang cukup tinggi dan bersifat pozoland. Selain kandungan kimia yang menguntungkan, Lumpur Lapindo juga bersifat B3 dengan kandungan logam berat Pb 35,41 ppm dan Cu 21,9 ppm yang melebihi baku mutu Kepmenkes no.907/2002, PP no.82/2001 dan PP no.18/1999. Teknik olidifikasi menjadi paving block dapat digunakan untuk mengubah watak fisik dan kimia limbah B3 dengan cara penambahan senyawa pengikat sehingga pergerakan senyawa-senyawa B3 dapat dihambat dan membentuk ikatan massa monolit dengan struktur yang kekar. Penambahan Lumpur Lapindo sebagai substitusi semen dan pasir ditentukan sebesar 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%, dengan pengujian terhadap kuat tekan, daya serap air dan perlindian. Penelitian ini didapatkan variasi Lumpur Lapindo sebagai substitusi pasir dan semen optimum asingmasing sebesar 30% dengan kuat tekan 408 kg/cm2 , daya serap air 10,17% dan uji perlindian dihasilkan dibawah 0,03 ppm Pb dan Cu, serta biaya pembuatan 1 buah paving block berkurang dari Rp 1.302,86 per buah menjadi Rp 1.059,40 per buah. Lumpur Lapindo sebagai substitusi semen lebih baik penggunaannya dalam pembuatan paving block ramah ingkungan.

  5. PENGARUH WAKTU PANEN DAN NUTRISI MEDIA TERHADAP BIOPIGMEN Spirulina platensis

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Iriani - setyaningsih

    2014-06-01

    Full Text Available Spirulina platensis merupakan alga hijau biru yang mengandung biopigmen fi kosianin dan antioksidanyang bermanfaat bagi kesehatan. Produksi biopigmen dipengaruhi oleh nutrien dan umur kultur. Penelitianini bertujuan menentukan pengaruh media dan umur panen terhadap kandungan fi kosianin dan aktivitasantioksidan. Kultivasi S. platensis dilakukan di dalam laboratorium menggunakan media KT, MT, dan Walne.Ekstraksi fi kosianin dilakukan menggunakan pelarut akuades dan bufer fosfat. Kandungan fi kosianin S.platensis dalam media MT (10,07 mg/mL tidak berbeda nyata dengan media Walne (7,49 mg/mL, tetapiberbeda nyata dengan media KT (0,71 mg/mL. Aktivitas antioksidan S. platensis pada ketiga media tidakberbeda nyata. Kandungan fi kosianin S. platensis pada hari ke-12 (10,42 mg/mL berbeda nyata dengan harike-6 (2,70 mg/mL, hari ke-14 (8,14 mg/mL, dan hari ke-17 (3,09 mg/mL. Aktivitas antioksidan S. platensispada keempat umur panen tidak berbeda nyata.Kata kunci: antioksidan, fi kosianin, Spirulina platensis, waktu panen

  6. PENGARUH WAKTU PANEN DAN NUTRISI MEDIA TERHADAP BIOPIGMEN Spirulina platensis

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Iriani - setyaningsih

    2015-07-01

    Full Text Available Spirulina platensis merupakan alga hijau biru yang mengandung biopigmen fi kosianin dan antioksidanyang bermanfaat bagi kesehatan. Produksi biopigmen dipengaruhi oleh nutrien dan umur kultur. Penelitianini bertujuan menentukan pengaruh media dan umur panen terhadap kandungan fi kosianin dan aktivitasantioksidan. Kultivasi S. platensis dilakukan di dalam laboratorium menggunakan media KT, MT, dan Walne.Ekstraksi fi kosianin dilakukan menggunakan pelarut akuades dan bufer fosfat. Kandungan fi kosianin S.platensis dalam media MT (10,07 mg/mL tidak berbeda nyata dengan media Walne (7,49 mg/mL, tetapiberbeda nyata dengan media KT (0,71 mg/mL. Aktivitas antioksidan S. platensis pada ketiga media tidakberbeda nyata. Kandungan fi kosianin S. platensis pada hari ke-12 (10,42 mg/mL berbeda nyata dengan harike-6 (2,70 mg/mL, hari ke-14 (8,14 mg/mL, dan hari ke-17 (3,09 mg/mL. Aktivitas antioksidan S. platensispada keempat umur panen tidak berbeda nyata.Kata kunci: antioksidan, fi kosianin, Spirulina platensis, waktu panen

  7. KANDUNGAN GIZI, RENDEMEN TEPUNG, DAN KADAR FENOL TOTAL ALPUKAT (Persea americana, Mill VARIETAS I JO PANJANG DAN I JO BUNDAR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wuri Marsigit

    2016-04-01

    Full Text Available The aims of the study were to determine pulp proportion, dried pulp rendement, nutrient dan  total phenolic content avocado variety of Ijo Panjang dan Ijo Bundar. Variety of Ijo Panjang and Ijo Bundar were selected because both of varieties were categorized as excelent varities and recomendedto develop in Indonesia. Water, carbohydrate, protein, fat dan ash content were determined by using proxymate analysis (AOAC, vitamin A dan E using spectrophotometry method, vitamin C using titration method, dan minerals using AAS method. Total phenolic content were determined by using Follin-Cialcetau method. The result of the studies found that pulp portion Ijo Bundar Variety higher than Ijo Panjang. Water content dan zinc of Ijo Panjang variety higher than Ijo Bundar. Dried pulp rendement of Ijo Bundar higher than Ijo Panjang. Protein, fat,  ash, minerals (Fe, Na, K dan P avocado variety of Ijo Bundar higher than Ijo Panjang. Magnesium dan mangan content of both varieties have not significant different. Total phenolic content of pulp dan dried pulp were higher in Ijo Bundar than Ijo Bundar. Keywords: Pulp proportion, dried pulp rendement, nutrients dan total phenolics content   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi daging buah, rendemen tepung, kandungan gizi dan fenol total alpukat varietas Ijo Panjang dan Ijo Bundar. Pemilihan kedua varietas tersebut karena merupakan varietas unggul dan direkomendasikan untuk dikembangkan di Indonesia. Kandungan, air, karbohidat, protein, lemak dan abu dilakukan dengan analisis proksimat (AOAC, kandungan vitamin A dan E dengan metode spektrofotometri dan vitamin C dengan metode titrasi, analisis mineral dengan metode AAS. Total fenol dianalisis dengan metode Folin-Ciocalteu. Hasil penelitian menunjukan bahwa proporsi daging buah, kadar air, seng varietas Ijo Panjang lebih tinggi dibandingkan Ijo Bundar. Rendemen tepung alpukat lebih tinggi pada varietas Ijo Bundar. Kandungan protein, lemak, abu

  8. Distribusi patogen dan kualitas lingkungan pada budidaya perikanan laut di Provinsi Kepulauan Riau

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Romi Novriadi

    2014-04-01

    Full Text Available Peningkatan laju produksi perikanan budidaya secara umum berperan penting dalam peningkatan masalah lingkungan dan patogen di beberapa unit produksi budidaya. Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian penyakit saat ini menjadi prioritas untuk menjamin keberlanjutan industri ini. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan monitoring dan menilai distribusi patogen pada beberapa sentra produksi perikanan laut di Provinsi Kepulauan Riau. Monitoing dilakukan mulai Februari 2011 sampai Desember 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nodavirus dan Iridovirus merupakan agen penyebab penyakit virus yang umum ditemukan di budidaya ikan laut. Sementara Vibrio spp., Aeromonas spp. dan Edwardsiella spp. merupakan mikroorganisme patogen yang umum ditemukan di sentra budidaya ikan laut dan ikan air tawar. Hasil kajian monitoring juga menunjukkan bahwa Diplectanum sp., Gyrodactilus sp., Caligus sp., Trichodina sp., Rhexanella sp., Hirudinae sp., Benedenia sp. dan Cylodonela sp. merupakan parasit yang memiliki distribusi tinggi di berbagai sentra produksi ikan air laut dan tawar di Kepulauan Riau.

  9. Application of algae-biosensor for environmental monitoring.

    Science.gov (United States)

    Umar, Lazuardi; Alexander, Frank A; Wiest, Joachim

    2015-01-01

    Environmental problems including water and air pollution, over fertilization, insufficient wastewater treatment and even ecological disaster are receiving greater attention in the technical and scientific area. In this paper, a method for water quality monitoring using living green algae (Chlorella Kessleri) with the help of the intelligent mobile lab (IMOLA) is presented. This measurement used two IMOLA systems for measurement and reference simultaneously to verify changes due to pollution inside the measurement system. The IMOLA includes light emitting diodes to stimulate photosynthesis of the living algae immobilized on a biochip containing a dissolved oxygen microsensor. A fluid system is used to transport algae culture medium in a stop and go mode; 600s ON, 300s OFF, while the oxygen concentration of the water probe is measured. When the pump stops, the increase in dissolved oxygen concentration due to photosynthesis is detected. In case of a pollutant being transported toward the algae, this can be detected by monitoring the photosynthetic activity. Monitoring pollution is shown by adding emulsion of 0,5mL of Indonesian crude palm oil and 10mL algae medium to the water probe in the biosensor.

  10. La participation associative dans les quartiers populaires : associations, problèmes publics et configurations politiques locales dans la périphérie urbaine de Paris et de Buenos Aires.

    OpenAIRE

    2014-01-01

    This thesis is situated at the intersection of two historical phenomena: the publicization of social problems and the transformation of activist commitment. The research undertaken has sought to explain, through an approach that is both local and international in scope, the rise of grassroots volunteering since the 1970s in working-class urban neighborhoods on the periphery of Paris and Buenos Aires. The first part presents an analysis of the various political theories which relate to the vol...

  11. MUTU ORGANOLEPTIK DAN KIMIAWI TERASI UDANG REBON DENGAN KADAR GARAM BERBEDA DAN LAMA FERMENTASI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    apri dwi anggo

    2014-07-01

    Full Text Available Terasi merupakan produk fermentasi udang dengan penambahan garam. Fermentasi dengan garam menyebabkan perombakan protein menjadi asam amino misalnya asam glutamat sebagai penghasil cita rasa khas terasi. Kadar garam dan lama fermentasi merupakan faktor penting pada proses pembuatan terasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perbedaan konsentrasi garam dan lama fermentasi terhadap kualitas terasi rebon terutama kandungan asam glutamat. Bahan baku yang digunakan pada penelitian ini adalah rebon (Acetes sp. kering tawar dengan panjang ±2 cm per ekor. Perlakuan garam dengan konsentrasi 2%, 8,5%, 15% dan lama fermentasi (8 hari dan 32 hari. Metode penelitian menggunakan metode experimental field dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK pola split plot in time 3 kali ulangan. Parameter yang diuji meliputi organoleptik, pH, kadar protein, asam glutamat, kadar air dan profil asam amino. Parameter kadar protein, asam glutamat dan profil asam amino pada fermentasi hari ke 32 yang diamati hanya perlakuan konsentrasi kadar garam terbaik pada hari ke 8. Nilai organoleptik terasi berkisar antara 7,65-8,32 artinya produk tersebut dapat diterima konsumen. Nilai pH Nilai pH terasi rebon berkisar antara 7,09 sampai 7,89. Konsentrasi garam 2% pada terasi rebon menghasilkan kadar protein dan asam glutamat tertinggi yaitu 47,14%+0,20 (dry base. Asam amino yang dominan pada terasi rebon adalah asam glutamat dan asam aspartat. Lama fermentasi menyebabkan penurunan asam glutamat terasi rebon.Kata kunci: asam glutamat, fermentasi, garam, rebon

  12. APLIKASI METODE GEOLISTRIK DALAM SURVEY POTENSI HIDROTHERMAL (STUDI KASUS: SEKITAR SUMBER AIR PANAS KASINAN PESANGGRAHAN BATU

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ika Yulia Sulistyarini, Irjan

    2012-03-01

    Hasil penelitian menunjukkan lapisan penyusun bawah permukaan pada lintasan B dan C tidak kontinu dan didominasi oleh lapisan yang tidak memiliki sifat pembawa air panas yang berupa batuan lava dan campuran batuan lava dengan andesit yang menunjukkan kemas tertutup dan porositas batuan jelek. Potensi air panas masih kecil dan diduga air panas yang muncul ke permukaan berasal dari aliran air panas dari arah songgoriti-cangar. Air panas tersebut muncul ke permukaan diduga karena adanya rekahan batuan di bawah permukaan. Kata Kunci : Air Panas (Hidrothermal, Geolistrik Resistivitas Konfigurasi Wenner, Potensi air panas.

  13. Valeurs repères d'aide à la gestion dans l'air des espaces clos. Le formaldéhyde

    OpenAIRE

    Le Moullec, Y; BOARINI, S; BROCHARD, P; Casellas, C.; Chiron, M.; DEROUBAIX, P; Henry, E.; Paris, C.; PUCH, J; ROUBATY, JL; VERGER, P; Zmirou-Navier, D

    2009-01-01

    Le formaldéhyde est un produit génotoxique et un irritant de l'appareil respiratoire et des muqueuses oculaires. En 2004, le Centre international de recherche sur le cancer l'a classé cancérogène certain pour l'Homme (groupe 1), sur la base d'un excès de cancers du nasopharynx observé lors d'expositions professionnelles. Le formaldéhyde se caractérise par une forte réactivité avec les tissus biologiques au site de contact, ce qui explique son faible passage dans le sang. C'est une substance u...

  14. Aires protégées, gestion participative des ressources environnementales et développement touristique durable et viable dans les régions ultra-périphériques

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jean-Marie Breton

    2009-09-01

    Full Text Available Le tourisme est souvent présenté comme l’un des instruments d’un développement durable, même s’il connaît une expansion difficilement maîtrisable, au détriment du patrimoine environnemental, insulaire et littoral en particulier, comme dans les DOM-TOM.Le tourisme a des impacts, culturels et sociaux notamment, sur l’environnement. Les ressources du patrimoine alimentent de leur côté la demande et l’offre touristiques. Un tourisme assis sur une gestion ad hoc des ressources du patrimoine constitue un facteur puissant de durabilité du développement local. La soumission de l’activité touristique aux exigences de protection, de conservation et de gestion reproductible de la biodiversité et du patrimoine naturel, dans les aires protégées de la Caraïbe française en particulier, génère des approches, des stratégies et des comportements nouveaux. La démarche écotouristique appelle une gestion participative et intégrée des ressources et des espaces, et constitue un défi pour les opérateurs du tourisme comme pour les acteurs de l’environnement, et une opportunité de "réappropriation" de leur milieu de vie par les populations locales. Il faut alors en clarifier le concept et les implications ; puis en analyser les objectifs et les enjeux dans une perspective de développement durable.Tourism often appears as one a tool for a sustainable development, even if it is not easy to control, in the détriment of island and costal environment heritage, as in French overseas regions. Besides the cultural and social impacts of tourism upon environment, the heritage resources nuture the touristic request and offer. If based on an appropriate management of those resources, it may be a strong incentive for local sustainable development. The respect of protection, conservation and sustainable management of biodiversity and natural resources by tourism, especially in the overseas regions of French West Indies, produces new

  15. Algae Bloom in a Lake

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    David Sanabria

    2008-01-01

    Full Text Available The objective of this paper is to determine the likelihood of an algae bloom in a particular lake located in upstate New York. The growth of algae in this lake is caused by a high concentration of phosphorous that diffuses to the surface of the lake. Our calculations, based on Fick's Law, are used to create a mathematical model of the driving force of diffusion for phosphorous. Empirical observations are also used to predict whether the concentration of phosphorous will diffuse to the surface of this lake within a specified time and under specified conditions.

  16. Cyanobacteria: algas productoras de toxinas

    OpenAIRE

    Echenique, Ricardo Omar; Giannuzzi, Leda; Andrinolo, Darío

    2007-01-01

    El de las Cyanobacteria es un grupo de algas con características particulares. Por su coloración, dada por los pigmentos que posee, comúnmente se las conoce como algas verde-azules. Según registros fósiles, son los primeros organismos fotosintéticos aparecidos en nuestro planeta (3000-3500 millones de años), por esto se los consideran los responsables de originar la atmósfera inicial que posibilitó la evolución del resto de los seres vivos habitantes de la Tierra. Estos organismos, desde micr...

  17. Dampak Pencemaran Air terhadap Kesehatan Lingkungan dalam Perspektif Hukum Lingkungan (Studi Kasus Sungai Code di Kelurahan Wirogunan Kecamatan Mergangsan dan Kelurahan Prawirodirjan Kecamatan Gondomanan Yogyakarta

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dinarjati Eka Puspitasari

    2012-02-01

    Full Text Available This research is aimed to know the contribution government and societies in Yogyakarta for maintaining the water pollution on Code River. Code River is a river in Yogyakarta which has crowded area on its river flow region. The research location is in Code’s river flow region, especially in Kelurahan Prawirodirjan Kecamatan Gondomanan dan Kelurahan Wirogunan Kecamatan Mergangsan Yogyakarta.Data in this research were obtained through field research and library research. The field research was carried out by using interview guidance and sample waste data testing from Balai Besar Teknik Lingkungan (BBTKL Yogyakarta, whereas the library research was done by documentary study by collecting and analyzing selected laws and regulation which were relevant to the research.The result showed that the environmental data to maintain environment health and social condition in the field research has not been served. Beside that, the result of laboratory testing BBTKL showed that water condition on field research has contained pollutant. However, the government and societies just give less contribution to decrease the effect of water pollution on Code River. In this case, the contribution of laws and regulation has been needed to decrease the water pollution.

  18. Formation of algae growth constitutive relations for improved algae modeling.

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Gharagozloo, Patricia E.; Drewry, Jessica Louise.

    2013-01-01

    This SAND report summarizes research conducted as a part of a two year Laboratory Directed Research and Development (LDRD) project to improve our abilities to model algal cultivation. Algae-based biofuels have generated much excitement due to their potentially large oil yield from relatively small land use and without interfering with the food or water supply. Algae mitigate atmospheric CO2 through metabolism. Efficient production of algal biofuels could reduce dependence on foreign oil by providing a domestic renewable energy source. Important factors controlling algal productivity include temperature, nutrient concentrations, salinity, pH, and the light-to-biomass conversion rate. Computational models allow for inexpensive predictions of algae growth kinetics in these non-ideal conditions for various bioreactor sizes and geometries without the need for multiple expensive measurement setups. However, these models need to be calibrated for each algal strain. In this work, we conduct a parametric study of key marine algae strains and apply the findings to a computational model.

  19. Air pollution emission reduction techniques in combustion plants; Technique de reduction des emissions de polluants atmospheriques dans les installations de combustion

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Bouscaren, R. [CITEPA, Centre Interprofessionnel Technique d`Etudes de la Pollution Atmospherique, 75 - Paris (France)

    1996-12-31

    Separating techniques offer a large choice between various procedures for air pollution reduction in combustion plants: mechanical, electrical, filtering, hydraulic, chemical, physical, catalytic, thermal and biological processes. Many environment-friendly equipment use such separating techniques, particularly for dust cleaning and fume desulfurizing and more recently for the abatement of volatile organic pollutants or dioxins and furans. These processes are briefly described

  20. STUDI PENDAHULUAN OZONASI (KATALITIK DAN NON KATALITIK LIMBAH CAIR KARBOFURAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Enjarlis Enjarlis

    2012-02-01

    Full Text Available Karbofuran adalah insektisida yang banyak digunakan oleh petani padi di Indonesia. Di perairan karbofuran berpotensi membentuk organoklorida dengan klor atau turunan klor. Oleh sebab itu,   karbofuran  digunakan sebagai objek  penelitian untuk disisihkan dalam air dengan proses ozonasi. Proses ozonasi  mampu menguraikan organik kompleks menjadi sederhana dan  meningkatkan sifat biodegradable. Tujuan penelitian yaitu membandingkan  penyisihan karbofuran  dalam air dengan proses ozonasi non-katalitik dan katalitik menggunakan katalis karbon aktif. Ragam percobaan yaitu pH (2, 7, dan 9 pada  suhu kamar  selama  60 menit.  Analisis konsentrasi karbofuran  menggunakan kromatografi gas dan konsentrasi zat organik  sebagai Chemical Oxigen Deman (COD secara titrasi pada satiap10 menit selama 60 menit. Hasil percobaan memperlihatkan proses ozonasi katalitik dan non-katalitik terbaik  pada kondisi basa (pH 9  dengan penyisihan karbofuran 100 % dan COD turun dari 134 ppm menjadi 38 ppm untuk ozonasi katalitik, sedangkan pada ozonasi non-katalitik penyisihan  karbofuran  46,4 % dan  COD turun menjadi  70 ppm. Perubahan suhu dan pH selama proses baik ozonasi katalitik maupun non-katalitik  tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

  1. 21 CFR 184.1120 - Brown algae.

    Science.gov (United States)

    2010-04-01

    ... 21 Food and Drugs 3 2010-04-01 2009-04-01 true Brown algae. 184.1120 Section 184.1120 Food and Drugs FOOD AND DRUG ADMINISTRATION, DEPARTMENT OF HEALTH AND HUMAN SERVICES (CONTINUED) FOOD FOR HUMAN... Substances Affirmed as GRAS § 184.1120 Brown algae. (a) Brown algae are seaweeds of the species...

  2. IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI SMP NEGERI 8 DAN SMP NEGERI 9 PURWOKERTO

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tutuk Ningsih

    2016-10-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan mendeskripsikan; (1 implementasi pendidikan karakter (IPK di SMP Negeri 8 dan SMP Negeri 9 Purwokerto; (2 peran kepala sekolah, guru, dan siswa dalam IPK; dan (3 aktualisasi nilai-nilai karakter dalam IPK. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode kualitatif dengan pendekatan kualitatif-naturalistik.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Berdasarkan hasil penelitian ditarik kesimpulan berikut ini. (1 Implementasi pendidikan karakter yang lakukan melalui pola kegiatan terpadu antara kegiatan intrakurikuler dan ektrakurikuler. (2 Implementasi pendidikan karakter yang dilakukan oleh kepala sekolah, guru, dan siswa mempunyai peranan yang positif dalam pembentukan kultur sekolah yang berkarakter. Peran kepala sekolah, guru, dan siswa dalam IPK diwujudkan dalam: (a peran kepala sekolah sebagai motivator, pemberi contoh keteladanan, pelindung, penggerak kegiatan, perancang kegiatan, pendorong, dan pembimbing; (b peran guru sebagai pendidik, pengasih, dan pengasuh; dan (c peran siswa sebagai subjek didik dan pelaksana kegiatan di sekolah. (3 Aktualisasi nilai-nilai karakter dalam IPK cenderung mengacu pada prinsip ABITA (Aku Bangga Indonesia Tanah Airku berbasis kebangsaan dan religius yang meliputi 18 nilai karakter, yaitu: (a nilai religius, (b kejujuran, (c demokratis, (d tanggungjawab, (e disiplin, (f peduli lingkungan, (g peduli sosial, (h kerja keras, (i mandiri, (j cinta tanah air, (k semangat kebangsaan, (l rasa ingin tahu, (m gemar membaca, (n menghargai prestasi, (o cinta damai, (p bersahabat/komunikatif, (q toleran, dan (r kreatif. (4 Terdapat persamaan dan perbedaan dalam IPK di kedua SMP tersebut, persamaannya adalah mengacu pada nilai-nilai yang ada pada prinsip ABITA, perbedaannya kalau di SMP Negeri 8 melaksanakan 12 nilai karakter dan kegiatan

  3. Optimization of Dissolved Air Flotation for Algal Harvesting at the Logan, Utah Wastewater Treatment Plant

    OpenAIRE

    Elder, Andrew R.

    2011-01-01

    This research evaluated dissolved air flotation (DAF) as a separation method for algae and phosphorus from municipal wastewater at the City of Logan, Utah Wastewater Reclamation Facility. DAF uses the supersaturation of air to raise suspended algae and other particles to the surface, where they can be easily removed. DAF, in conjunction with chemical coagulants and flocculants, can approach 95% algae and phosphorus removal. The algae removed using the DAF process will be used in the productio...

  4. STUDI PENGGUNAAN PRODUK KIMIA DAN BIOLOGI PADA BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei DI TAMBAK KABUPATEN PESAWARAN PROVINSI LAMPUNG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Akhmad Mustafa

    2016-11-01

    Full Text Available Kemerosotan kualitas lingkungan menyebabkan terjadinya serangan penyakit udang vaname (Litopenaeus vannamei, sehingga penggunaan produk kimia dan biologi  menjadi penting sebagai konsekuensi dalam mempertahankan produksi di tambak. Oleh karena itu, studi ini dilakukan untuk mengetahui produk kimia dan biologi yang digunakan di tambak udang vaname Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung sebagai upaya awal untuk mengantisipasi dampaknya terhadap lingkungan. Produk kimia dan biologi serta karakteristik budidaya tambak diketahui melalui pengajuan kuisioner secara terstruktur kepada responden di 29 usaha budidaya tambak di Kecamatan Padang Cermin dan Punduh Pidada Kabupaten Pesawaran. Pengukuran dan pengambilan contoh air dilakukan pada siklus hujan dan kemarau. Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui gambaran umum data penggunaan produk kimia dan biologi serta kualitas air. Uji-T digunakan untuk mengetahui perbedaan karakteristik budidaya tambak intensif dan super-intensif. Hasil studi menunjukkan bahwa ada 48 jenis produk kimia dan biologi yang digunakan di tambak dan dapat dibagi atas 5 kelompok yaitu: disinfektan, pestisida, pupuk, perbaikan tanah, dan air serta tambahan pakan yang masing-masing dibagi lagi menjadi beberapa sub-kelompok. Pestisida organik dan kapur adalah sub-kelompok produk yang banyak digunakan dan sebaliknya pestisida anorganik adalah sub-kelompok produk yang paling sedikit digunakan di tambak udang vaname. Produk kimia dan biologi yang bersifat sangat beracun, sulit terurai, dapat terakumulasi dalam tubuh organisme dan berbahaya bagi keselamatan makanan ternyata tidak digunakan dalam budidaya tambak udang vaname. Dengan berdasar pada produksi dan luasan tambak udang vaname intensif dan super-intensif maka dihasilkan beban limbah sebesar 21.349-35.582 kg N dan 3.050-6.100 kg P pada setiap siklus budidaya yang memiliki potensi sebagai pencemar untuk budidaya udang vaname itu sendiri di Kabupaten Pesawaran

  5. Algae -- a poor man's HAART?

    Science.gov (United States)

    Teas, Jane; Hebert, James R; Fitton, J Helen; Zimba, Paul V

    2004-01-01

    Drawing inferences from epidemiologic studies of HIV/AIDS and in vivo and in vitro HIV inhibition by algae, we propose algal consumption as one unifying characteristic of countries with anomalously low rates. HIV/AIDS incidence and prevalence in Eastern Asia ( approximately 1/10000 adults in Japan and Korea), compared to Africa ( approximately 1/10 adults), strongly suggest that differences in IV drug use and sexual behavior are insufficient to explain the 1000-fold variation. Even in Africa, AIDS/HIV rates vary. Chad has consistently reported low rates of HIV/AIDS (2-4/100). Possibly not coincidentally, most people in Japan and Korea eat seaweed daily and the Kanemba, one of the major tribal groups in Chad, eat a blue green alga (Spirulina) daily. Average daily algae consumption in Asia and Africa ranges between 1 and 2 tablespoons (3-13 g). Regular consumption of dietary algae might help prevent HIV infection and suppress viral load among those infected.

  6. Scenario studies for algae production

    NARCIS (Netherlands)

    Slegers, P.M.

    2014-01-01

    Microalgae are a promising biomass for the biobased economy to produce food, feed, fuel, chemicals and materials. So far, large-scale production of algae is limited and as a result estimates on the performance of such large systems are scarce. There is a need to estimate large-scale biomass producti

  7. Meteorological effects on variation of airborne algae in Mexico

    Science.gov (United States)

    Rosas, Irma; Roy-Ocotla, Guadalupe; Mosiño, Pedro

    1989-09-01

    Sixteen species of algae were collected from 73.8 m3 of air. Eleven were obtained in Minatitlán and eleven in México City. The data show that similar diversity occurred between the two localities, in spite of the difference in altitude. This suggests that cosmopolitan airborne microorganisms might have been released from different sources. Three major algal divisions (Chlorophyta, Cyanophyta and Chrysophyta) formed the airborne algal group. Also, a large concentration of 2220 algae m-3 was found near sea-level, while lower amounts were recorded at the high altitude of México City. The genera Scenedesmus, Chlorella and Chlorococcum dominated. Striking relationships were noted between the concentration of airborne green and blue-green algae, and meteorological conditions such as rain, vapour pressure, temperature and winds for different altitudes. In Minatitlán a linear relationship was established between concentration of algae and both vapour pressure (mbar) and temperature (° C), while in México City the wind (m s-1) was associated with variations in the algal count.

  8. Controlled artificial upwelling in a fjord to combat toxic algae

    Science.gov (United States)

    McClimans, T. A.; Hansen, A. H.; Fredheim, A.; Lien, E.; Reitan, K. I.

    2003-04-01

    During the summer, primary production in the surface layers of some fjords depletes the nutrients to the degree that some arts of toxic algae dominate the flora. We describe an experiment employing a bubble curtain to lift significant amounts of nutrient-rich seawater to the light zone and provide an environment in which useful algae can survive. The motivation for the experiment is to provide a local region in which mussels can be cleansed from the effects of toxic algae. Three 100-m long, perforated pipes were suspended at 40 m depth in the Arnafjord, a side arm of the Sognefjord. Large amounts of compressed air were supplied during a period of three weeks. The deeper water mixed with the surface water and flowed from the mixing region at 5 to 15 m depth. Within a few days, the mixture of nutrient-rich water covered most of the inner portion of Arnafjord. Within 10 days, the plankton samples showed that the artificial upwelling produced the desired type of algae and excluded the toxic blooms that were occurring outside the manipulated fjord arm. The project (DETOX) is supported by the Norwegian ministries of Fisheries, Agriculture and Public Administration.

  9. Natural gas air conditioning in the tertiary sector. Ambitions, realizations and tools; Climatisation au gaz naturel dans le tertiaire. Ambitions, realisations et outils

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    2002-04-01

    This meeting, organized by the research center of Gaz de France (Cegibat), makes a status of the market of natural gas air conditioning in office and public buildings: experience feedback, improvements of the technology, available tools. After a brief presentation of the status and perspectives of this market in France, the representatives of different companies involved in the fitting of natural gas air conditioning systems present their point of view about this technology. A last part presents the 'climogaz.com' tool launched by Gaz de France. It consists in a web site devoted to the share of knowledge and experience about this technology between professionals and applied to hotels, swimming pools, office buildings, food trade and other trades. (J.S.)

  10. DAN IDENTIFIKASI PATOGEN POTENSIAL YANG MENGINFEKSI IKAN RAINBOW (Melanotaenia sp.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lili Sholichah

    2014-03-01

    Full Text Available Pemeliharaan ikan rainbow (Melanotaenia sp. di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias selalu terjadi kematian secara bertahap mulai calon induk hingga proses pemijahan. Hal ini terjadi berulang kali sehingga ketersediaan induk Melanotaenia sp. sangat terancam. Ikan ini berasal dari Papua yang diperoleh mengandalkan penangkapan di alam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginventarisir dan mengidentifikasi berbagai patogen (parasit, jamur, bakteri potensial yang menginfeksi ikan rainbow yang dipelihara di dalam akuarium berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm dengan sistem aliran air stagnan. Tiga jenis rainbow yang dipelihara yaitu: rainbow Sungai Salawati, asal Sungai Sawiat, dan asal Danau Kurumoi. Setiap ikan masing-masing berjumlah 100 ekor dipelihara di akuarium dengan penambahan batu karang dan tanpa penambahan karang (kontrol ke dalam akuarium. Ikan diberi pakan sekenyangnya berupa jentik nyamuk dan cacing rambut beku setiap pagi dan sore hari. Sampling dilakukan secara random sebulan sekali dan secara unrandom setiap ada kejadian ikan sakit. Gejala klinis ikan yang sakit sebagai berikut: ikan berenang di permukaan dan menggosok-gosokkan badan di dinding akuarium, nafsu makan berkurang, gerakan berputar-putar, warna memudar menjadi putih, penekanan warna hitam pada sirip punggung dan perut meningkat, pendarahan pada perut, lendir berlebihan dan sangat berbau, serta sisik berdiri/terbuka. Diagnosa dan deteksi penyakit awal berupa pengamatan parasit baik ektoparasit maupun endoparasit, pengamatan dan isolasi jamur pada media selektif jamur, dan isolasi bakteri dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis patogen yang menginfeksi ketiga jenis ikan rainbow. Selanjutnya dilakukan uji histologi dan analisa DNA beberapa patogen. Hasil pengamatan diperoleh patogen berupa parasit (Ichthyophthirius sp., Dactylogyrus sp., Gyrodactylus sp., dan Trichodina sp. dan bakteri (Aeromonas hydrophila, Acinetobacter sp

  11. Analisis Kebijakan dan Efektivitas Organisasi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Amir Syarifudin Kiwang

    2015-05-01

    Full Text Available Penerapan Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 8 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Pendidikan dan Pelatihan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah pada Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah dalam rangka untuk meningkatkan efektivitas kerja organisasi pada UPT Diklat Koperasi dan UMKM. Penelitian ini berusaha untuk melihat dampak kebijakan organisasi terhadap efektivitas organisasi dengan menggunakan enam elemen variabel dari kebijakan dan praktik manajemen. Keenam elemen tersebut adalah penetapan tujuan strategis, pencarian dan pemanfaatan sumber daya, lingkungan prestasi, proses komunikasi, kepemimpinan dan pengambilan keputusan, serta adaptasi dan inovasi organisasi. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data model Miles dan Huberman, yang terdiri atas reduksi data, display/penyajian data, dan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas organisasi pada UPT Diklat koperasi dan UMKM belum berjalan secara baik, hal ini dapat dilihat dari beberapa hal antara lain, belum adanya tenaga spesialisasi pengelola diklat dan tenaga khusus (sarjana di bidang perkoperasian dan kondisi lingkungan kerja (lingkungan prestasi pada UPT Diklat koperasi dan UMKM yang belum efektif. Penempatan pegawai juga belum tepat, mutasi ke UPT Diklat Koperasi dan UMKM tidak memperhatikan latar belakang pendidikan dan spesialisasi/keahlian pegawai sehingga membutuhkan waktu dalam proses penyesuaian serta menurunkan jumlah pelaksanaan diklat dikarenakan keterbatasan alokasi dana.

  12. Pemetaan Sebaran Dan Karakter Populasi Tanaman Buah Di Sepanjang Koridor Jalur Wisatadesa Kemiren, Tamansuruh, Dan Kampunganyar, Kabupaten Banyuwangi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Zakiyah Zakiyah

    2013-09-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peta persebaran tanaman buah, karakter populasi tanaman buah, serta persepsi masyarakat pemilik tanaman buah di sepanjang jalur wisata Desa Kemiren, Tamansuruh, dan Kampunganyar, Kabupaten Banyuwangi. Metode yang dilakukan meliputi survei pemetaan tanaman buah (mangga, rambutan, manggis, durian, jambu air dan jambu biji dengan merekam titik koordinat dari GPS untuk setiap tanaman buah. Penentuan karakter populasi tanaman buah dilakukan dengan mengamati morfologi tanaman terkait vitalitas dan periodisitas. Persepsi masyarakat dilakukan dengan wawancara dan kuisioner. Analisis data dilakukan dengan mengolah data koordinat dan data pengamatan karakter populasi tanaman buah ke dalam peta dasar melalui aplikasi GIS. Pemetaan persepsi masyarakat diperoleh dengan wawancara dan kuisioner yang dihitung dengan skala Likert kemudian dipetakan sebaran spasialnya dengan aplikasi GIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persebaran tanaman buah yang ada di pekarangan rumah banyak tersebar di sepanjang jalur desa wisata dengan perbandingan jumlah buah yang ditemukan di Desa Kemiren 76 pohon, Tamansuruh 53 pohon, dan Kampunganyar 40 pohon. Kondisi tanaman buah dalam keadaan tumbuh dengan baik, bertunas, berbunga dan berbuah, hal ini dikarenakan pada saat penelitian waktunya tanaman buah memasuki masa berbuah dan masa panen. Antusiasme masyarakat tinggi untuk menjadikan tanaman buah yang ada di sepanjang jalur desa wisata sebagai daya tarik wisatawan. Kata Kunci: jalur wisata, karakter populasi, pemetaan, persepsi, tanaman buah

  13. Macro algae as substrate for biogas production

    DEFF Research Database (Denmark)

    Møller, Henrik; Sarker, Shiplu; Gautam, Dhan Prasad

    Algae as a substrate for biogas is superior to other crops since it has a much higher yield of biomass per unit area and since algae grows in the seawater there will be no competition with food production on agricultural lands. So far, the progress in treating different groups of algae as a source...... of energy is promising. In this study 5 different algae types were tested for biogas potential and two algae were subsequent used for co-digestion with manure. Green seaweed, Ulva lactuca and brown seaweed Laminaria digitata was co-digested with cattle manure at mesophilic and thermophilic condition...

  14. Perancangan Sistem Pengukuran pH dan Temperatur Pada Bioreaktor Anaerob Tipe Semi-Batch

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dimas Prasetyo Oetomo

    2013-12-01

    Full Text Available Proses pada bioreaktor dapat dilakukan secara aerob yaitu menggunakan bantuan oksigen dan anaerob yaitu tidak menggunakan bantuan oksigen. Pada penelitian ini dilakukan fermentasi  enceng gondok untuk menghasilkan biogas menggunakan bioreaktor anaerob tipe semi-batch. Enceng gondok memiliki rasio C/N sebesar 22.5 – 35.84% yang merupakan komposisi optimum untuk ekstraksi biogas. Kinerja dari bioreaktor dalam produksi biogas dipengaruhi oleh beberapa parameter seperti pH dan temperatur. Pada penelitian ini dilakukan perancangan sistem pengukuran besaran pH dan temperatur secara online sehingga memudahkan dalam pengambilan data. Bahan yang digunakan pada proses fermentasi adalah campuran enceng gondok yang telah dicincang dan dicampur air dengan dua komposisi penambahan berbeda untuk dibandingkan. Pada Bioreaktor1 digunakan komposisi enceng gondok dan air sebesar 1:3 dan pada bioreaktor 2 digunakan komposisi enceng gondok dan air sebesar 0,75: 1,25. Hasil penelitian menyebutkan bahwa bioreaktor 2 dengan komposisi enceng gondok dan air sebesar 0,75: 1,25 menghasilkan biogas lebih aktif dibandingkan dengan bioreaktor 1 dengan komposisi enceng gondok dan air sebesar 1 : 3. Hal tersebut diketahui dari hasil pengukuran selama 76 hari. Dari hasil pengukuran juga diketahui bahwa penurunan nilai COD pada bioreaktor 2 lebih besar dari pada  bioreaktor 1.

  15. Nos voisines, les bêtes : situation des conflits avec la faune sauvage dans une aire protégée de la périphérie de Manaus (Amazonas, Brésil

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Guillaume Marchand

    2012-05-01

    Full Text Available Au cours des trente dernières années, les différentes expérimentations menées en matière de protection de la faune sauvage au Brésil ont conduit à l’élaboration d’aires protégées habitées, jugées plus acceptables et justes sur le plan social. Or, depuis la création de ces espaces, de nombreuses voix ont remis en cause le bien-fondé de ce genre de réserve, considérant que la cohabitation avec la faune sauvage pouvait potentiellement avoir des effets négatifs dans les domaines environnementaux et sociaux. Cet article s’intéresse à l’état des conflits entre humains et faune sauvage dans une communauté appartenant à la réserve de développement durable de Tupé, à la périphérie de Manaus. Il observe notamment la façon dont les conflits sont perçus et résolus afin de montrer la diversité des représentations quant aux espèces problématiques ainsi que les enjeux sociaux et environnementaux qui reposent sur leur protection.  During the last thirty years, few different experiments on protection of wild fauna in Brazil have led to the development of inhabited protected areas, seen as socially more acceptable and fairer. However, since their creation, the validity of this kind of protected areas has been questioned, considering that the coexistence between men and wild fauna may have negative effects for environment as well as local communities. This paper focuses on human/wildlife conflicts in a rural community in the sustainable development reserve of Tupé, located in the periphery of Manaus city. It mainly observes how conflicts are perceived and resolved and it shows how diverse are the representations regarding problematic species, as well as environmental and social issues related to their protection.

  16. Keratoacanthoma Dan Perawatannya

    OpenAIRE

    Indah Heriyanti

    2008-01-01

    Keratoacanthoma adalah suatu tumor jinak yang berasal dari jaringan epitel dan biasanya di jumpai pada permukaan kulit yang umumnya terjadi pada bagian kulit yang sering terkena sinar matahari dimana tumor ini dapat sembuh dengan spontan. Lesi ini biasanya berawal sebagai makula yang kecil yang berwarna merah dan kemudian menjadi papula yang kokoh dan bersisik pada permukaanya. Papul ini dengan cepat membesar selama 2 sampai 8 minggu. Pada awalnya berbentuk bulat atau oval,kokoh menonjol ...

  17. Allelopatrhic effect of Acorus tatarinowii upon algae

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    2001-01-01

    Besides competing with algae for light and mineralnutrients (i.e. N, P, etc.), the root system of Acorus tatarinowii excretes some chemical substances, which injure and eliminate alga cells, to inhibit the growth of the algae. When the algae cells were treated in "A. tatarinowii water", some of the chlorophyll a were destroyed and the photosynthetic rate of algae decreased markedly and the ability of alga cells to deoxidize triphenyltetrazolium chloride (TTC) reduced greatly. Then alga cells turned from bright red to bluish green under fluorescence microscope. These showed that the allelopathic effects of A.tatarinowii on algae were obvious and planting A. tatarinowii can control some green algae. The experiment on the extractions of the secretions of the root system showed that the inhibitory effect had a concentration effect. If the concentration of the root secretion was below 30 /disc, the inhibitory rate was negative; if it was over 45 /disc, the inhibitory rate was positive. This proved that the influence of the root secretion on the same acceptor was a kind of concentration effect. When the concentration of the root secretion was low, it promoted the growth of algae; when the concentration reached a definite threshold value, it restrained the growth of algae. In present case, the threshold value was between 30 /disc and 45 u?disc.

  18. DEPRESI DAN GANGGUAN TIDUR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wayan Eko Radityo

    2012-12-01

    Full Text Available Depresi merupakan gangguan mood berupa kesedihan yang intens, berlangsung dalamwaktu lama, dan mengganggu kehidupan normal yang insidennya semakin meningkatseiring dengan meningkatnya tekanan hidup. Tahun 2020, depresi diperkirakanmenempati urutan kedua penyakit di dunia. Gejala-gejala depresi terdiri dari gangguanemosi, gangguan kognitif, keluhan somatik, gangguan psikomotor, dan gangguanvegetatif. Salah satu gejala depresi yang muncul adalah gangguan tidur yang bisaberupa insomnia, bangun secara tiba-tiba, dan hipersomnia. Hal ini disebabkan olehgangguan neurotransmiter dan regulasi hormon. Selain sebagai gejala depresi, gangguantidur juga bisa merupakan penyebab depresi. Beberapa penelitian memberikanhubungan gangguan tidur dapat meningkatkan risiko depresi di kemudian hari.

  19. Pembuatan Sistem Informasi Rental Mobil dengan Menggunakan Java dan Mysql

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Annisa Rahmawati

    2015-08-01

    Full Text Available Pangsa pasar yang semakin berkembang di berbagai bidang usaha khususnya pada jasa, membuat sistem pembukuan penjualan yang belum menggunakan komputer menjadi tidak efektif. Salah satu contoh bidang usaha tersebut adalah usaha rental mobil. Proses pengolahan data transaksi perusahaan tersebut semakin tidak akurat dan lambat seiring dengan meningkatnya transaksi yang dilakukan. Atas dasar tersebut digunakan Sistem Informasi Rental Mobil yang berbasis komputer sehingga lebih cepat dan akurat. Sistem Informasi tersebut dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman Java dan menggunakan database MySQL yang tertanam langsung pada aplikasi. Proses pembuatan dan pengembangan Sistem Informasi Rental Mobil ini menggunakan metode SDLC (Software Development Life Cycle model air terjun. Hasil dari perancangan aplikasi ini adalah suatu aplikasi desktop yang dapat memudahkan pengguna dalam pencarian mobil yang sedang tersedia, penagihan pembayaran dan pengembalian mobil jika batas waktu pengembalian sudah tiba.

  20. Les monoterpènes : sources et implications dans la qualité de l'air intérieur

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Marlet, C.

    2011-01-01

    Full Text Available Monoterpenes: sources and implications in the indoor air quality. Terpenes are recurrent in indoor environments. Their sources, biogenic or anthropological origin, are very varied: plants, wooden building materials, household products and furnishings, paints, air fresheners, perfumed candles. However, in spite of their natural character, these compounds can have significant effects on occupant's health. Indeed, some monoterpenes are recognized as irritating or allergenic. Furthermore, they react with the other molecules to form potentially more harmful secondary products such as formaldehyde. Numerous studies demonstrated that reactions between monoterpenes and ozone produced airborne particulate matter as well as secondary pollutants among which formaldehyde, acetaldehyde and acetone. However, few studies were realized in the indoor to demonstrate the terpenes and secondary pollutants evolution. The most frequently used technique for the monoterpenes analysis is the TD-GC-MS. The sampling mode depends on the sample introduction system, either the sampling on sorbent tube, or the sampling in a tank. The attraction for the wooden constructions and ecological materials leads to higher indoor monoterpenes concentrations. Has this occurrence to arouse our interest? The present article has the objective to review the knowledge relative to terpenes, and more exactly on the monoterpenes sources in indoor and their implication in its quality.

  1. Réduction des approvisionnements pétroliers multiples dans les programmes linéaires de raffinage Reduction of Multiple Oil Supplies in Linear Refining Programs

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bond J.

    2006-11-01

    Full Text Available L'article propose une méthode pour réduire le nombre des pétroles bruts nécessaires pour représenter un approvisionnement lors de l'utilisation de programmes linéaires de raffinage, ceci afin de diminuer la taille et les temps de calcul de ces modèles. Les techniques utilisées sont celles de l'analyse de données multidimensionnelles. Un exemple est traité pour illustrer la méthode. The article proposes a method for reducing the number of crude ails needed to make up the supply in linear programs of refining, in order ta cut clown on the size and calculation time of such models. The method uses techniques of multidimensional data analysis. An exemple is considered in order to illustrate the method.

  2. L’insécurité foncière dans et autour des Aires Protégées de Madagascar : un obstacle à surmonter pour la conservation de la biodiversité et le développement rural

    OpenAIRE

    Aubert, Sigrid; Rambintsaotra, Saholy; Razafiarijaona, Jules

    2014-01-01

    Récemment, la législation foncière malgache a été intégralement révisée. Dans ce contexte, « les terrains relevant du domaine d’application de la législation relative aux Aires protégées et ceux servant de support à la mise en application de conventions signées dans le cadre de la législation sur la gestion des ressources naturelles » devront faire l’objet d’un régime foncier spécifique (article 38 de la loi 2005-019 du 17 octobre 2005 fixant les principes régissant les différents statuts des...

  3. Synthetic polyester from algae oil.

    Science.gov (United States)

    Roesle, Philipp; Stempfle, Florian; Hess, Sandra K; Zimmerer, Julia; Río Bártulos, Carolina; Lepetit, Bernard; Eckert, Angelika; Kroth, Peter G; Mecking, Stefan

    2014-06-23

    Current efforts to technically use microalgae focus on the generation of fuels with a molecular structure identical to crude oil based products. Here we suggest a different approach for the utilization of algae by translating the unique molecular structures of algae oil fatty acids into higher value chemical intermediates and materials. A crude extract from a microalga, the diatom Phaeodactylum tricornutum, was obtained as a multicomponent mixture containing amongst others unsaturated fatty acid (16:1, 18:1, and 20:5) phosphocholine triglycerides. Exposure of this crude algae oil to CO and methanol with the known catalyst precursor [{1,2-(tBu2 PCH2)2C6H4}Pd(OTf)](OTf) resulted in isomerization/methoxycarbonylation of the unsaturated fatty acids into a mixture of linear 1,17- and 1,19-diesters in high purity (>99 %). Polycondensation with a mixture of the corresponding diols yielded a novel mixed polyester-17/19.17/19 with an advantageously high melting and crystallization temperature.

  4. Parasites in algae mass culture

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Todd William Lane

    2014-06-01

    Full Text Available Parasites are now known to be ubiquitous across biological systems and can play an important role in modulating algal populations. However, there is a lack of extensive information on their role in artificial ecosystems such as algal production ponds and photobioreactors. Parasites have been implicated in the demise of algal blooms. Because individual mass culture systems often tend to be unialgal and a select few algal species are in wide scale application, there is an increased potential for parasites to have a devastating effect on commercial scale monoculture. As commercial algal production continues to expand with a widening variety of applications, including biofuel, food and pharmaceuticals, the parasites associated with algae will become of greater interest and potential economic impact. A number of important algal parasites have been identified in algal mass culture systems in the last few years and this number is sure to grow as the number of commercial algae ventures increases. Here, we review the research that has identified and characterized parasites infecting mass cultivated algae, the techniques being proposed and or developed to control them, and the potential impact of parasites on the future of the algal biomass industry.

  5. Mekanisme Proses Pemanasan Air Di Dalam Boiler Dengan Mempergunakan Heater Tambahan Untuk Efisiensi Pembakaran

    OpenAIRE

    Helmon Sihombing

    2010-01-01

    Pada proses pemanasan air, air yang berasal dari raw water (air tanah) tidak langsung dibakar didalam boiler. dalam hal ini digunakan peralatan instrumen Deaerator dan economizer yang berfungsi untuk pemanasan awal sebelum dibakar didalam boiler. Fungsi deaerator dan economizer ini adalah sebagai komponen pembantu untuk memanaskan air sebelum dibakar didalam boiler. Apabila pemanasan air langsung dilakukan didalam boiler maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan menggunakan bahan b...

  6. Pengaruh Jenis Dan Konsentrasi Pelarut Dalam Reduksi Ekses Lumpur Aktif

    OpenAIRE

    Maya Sarah

    2009-01-01

    Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan sistem lumpur aktif masih belum efektif karena biomassa yang terbentuk terlalu banyak sehingga membutuhkan penanganan khusus. Salah satu upaya penanganan ekses biomassa adalah dengan mereduksi volume biomassa pada kondisi anaerobik menggunakan pelarut NaOH dan HCl. Dalam penelitian ini ekses lumpur aktif yang digunakan adalah ekses lumpur aktif yang dihasilkan industri pembuatan kertas, dan yang menjadi indikator keberhasilan proses adalah kemam...

  7. Diagnosis dan Penatalaksanaan Abses Retrofaring pada Anak

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Novialdi .

    2012-11-01

    Full Text Available Abstrak Pendahuluan: Abses retrofaring adalah terkumpulnya nanah di ruang retrofaring yang merupakan salah satu daerah potensial di leher dalam. Abses retrofaring merupakan kasus yang jarang tetapi dapat menyebabkan kematian terutama pada umur di bawah 5 tahun. Sejak ditemukannya antibiotika, angka kesakitan dan kematian akibat abses menurun drastis. Metode: Dilaporkan satu kasus abses retrofaring dengan riwayat ketulangan pada anak gizi kurang umur 9 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologi. Pada pemeriksaan foto polos jaringan lunak leher, terlihat gambaran pelebaran ruang retrofaring dan air fluid level. Diskusi: Penatalaksanaan meliputi pemberian antibiotika, drainase dan eksplorasi abses serta perbaikan keadaan umum. Kata kunci: abses retrofaring, benda asing, drainase Abstract Introduction: Retropharyngeal abscess is defined as accumulation pus in retropharyngeal space which is a potential area in deep neck space. Retropharyngeal abscess is a rare case but it can cause death especially in children under five years old. Since antibiotics were found, morbidity and mortality of this case was drastically decreased. Methods: A retropharyngeal abscess of child 9 years old with history of swallowed foreign body (fishbone and lack of nutrition has been reported. Diagnosis was based on anamnesis, physical examination and radiographic finding. In soft tissue cervical radiograph we found, widening of retropharyngeal space with air fluid level. Discussion: Management for abscess is intravenous antibiotics, drainage and exploration abscess and improve general condition has been performed Keywords:Retropharyngeal abscess, foreign body, drainage

  8. KERAGAMAN FENOTIPE TRUSS MORFOMETRIK DAN GENOTIPE IKAN GABUS (Channa striata) DARI JAWA BARAT, SUMATERA SELATAN, DAN KALIMANTAN TENGAH

    OpenAIRE

    Irin Iriana Kusmini; Vitas Atmadi Prakoso; Kusdiarti Kusdiarti

    2015-01-01

    Ikan gabus di Indonesia awalnya hanya terdapat di Barat garis Wallace (Sumatera, Jawa, dan Kalimantan) yang kemudian diintroduksi ke Indonesia bagian Timur. Ikan gabus termasuk ke dalam deretan ikan air tawar sebagai sumber daya genetik untuk menunjang diversifikasi usaha budidaya. Guna menyukseskan program diversifikasi tersebut, maka perlu diketahui keragaman genetik ikan gabus dari Jawa Barat, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Tengah agar dapat direkomendasikan sebagai dasar pemuliaan. Tuju...

  9. KERAGAMAN FENOTIPE TRUSS MORFOMETRIK DAN GENOTIPE IKAN GABUS (Channa striata DARI JAWA BARAT, SUMATERA SELATAN, DAN KALIMANTAN TENGAH

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Irin Iriana Kusmini

    2015-12-01

    Full Text Available Ikan gabus di Indonesia awalnya hanya terdapat di Barat garis Wallace (Sumatera, Jawa, dan Kalimantan yang kemudian diintroduksi ke Indonesia bagian Timur. Ikan gabus termasuk ke dalam deretan ikan air tawar sebagai sumber daya genetik untuk menunjang diversifikasi usaha budidaya. Guna menyukseskan program diversifikasi tersebut, maka perlu diketahui keragaman genetik ikan gabus dari Jawa Barat, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Tengah agar dapat direkomendasikan sebagai dasar pemuliaan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis keragaman dan kekerabatan antara populasi ikan gabus dari Jawa Barat, Sumatera Selatan, dan Kalimantan tengah. Metode penelitian dilakukan dengan analisis fenotipe terhadap 16 ekor ikan sampel dari masing-masing daerah tersebut, sedangkan untuk analisis keragaman genotipe masing-masing digunakan 10 ekor ikan dari setiap daerah. Analisis tersebut dilakukan melalui truss morfometrik dan RAPD dengan primer OPA-10, OPA-11, dan OPA-15. Hasil penelitian menunjukkan keragaman berdasarkan truss morfometrik dan hasil PCR ikan gabus asal Sumatera Selatan lebih tinggi dibandingkan Kalimantan Tengah dan Jawa Barat. Kekerabatan ikan gabus Kalimantan Tengah lebih dekat dengan ikan gabus Sumatera Selatan dibandingkan dengan ikan gabus Jawa Barat. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi untuk pertimbangan dalam program pemuliaan.

  10. Exposition by inhalation to the benzene, toluene, ethyl-benzene and xylenes (BTEX) in the air. Sources, measures and concentrations; Exposition par inhalation au benzene, toluene, ethylbenzene et xylenes (BTEX) dans l'air. Source, mesures et concentrations

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Del Gratta, F.; Durif, M.; Fagault, Y.; Zdanevitch, I

    2004-12-15

    This document presents the main techniques today available to characterize the benzene, toluene, ethyl-benzene and xylene (BTEX) concentrations in the air for different contexts: urban and rural areas or around industrial installations but also indoor and occupational area. It provides information to guide laboratories and research departments. A synthesis gives also the main emissions sources of these compounds as reference concentrations measured in different environments. (A.L.B.)

  11. Perbedaan Kandungan Asam Salisilat Dalam Sayuran Sebelum Dan Sesudah Dimasak Yang Dijual Di Pasar Swalayan Di Kota Medan Tahun 2008

    OpenAIRE

    Ester Simatupang

    2009-01-01

    Sayuran merupakan tumbuhan yang dapat dimakan sebagai pelengkap makanan karena mengandung vitamin dan mineral. Dalam budidaya sayuran tidak terlepas dari masalah hama dan penyakit tanaman. Dalam mengatasi masalah tersebut penggunaan bahan kimia untuk mempertahankan produksi sayuran sudah tak asing lagi seperti penggunaan asam salisilat. Asam salisilat sukar larut dalam air dan larut dalam air mendidih dimana titik didih asam salisilat adalah 2800C. Asam salisilat pada sayuran dosisnya memang ...

  12. Toxic Effects of Phthalates on Ocean Algae

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    2005-01-01

    This article discusses the interaction of phthalates and ocean algae based on the standard appraisal method of chemical medicine for algae toxicity. Through the experiments on the toxic effects of dimethyl (o-) phthalate (DMP), diethyl (o-) phthalate (DEP), dibutyl (o-)phthalate (DBP) on ocean algae, the 50 % lethal concentration of the three substances in 48 h and 96 h for plaeodectylum tricornutum, platymonas sp, isochrysis galbana, and skeletonema costatum is obtained. Tolerance limits of the above ocean algae of DMP, DEP, and DBP are discussed.

  13. Photobioreactors for mass cultivation of algae.

    Science.gov (United States)

    Ugwu, C U; Aoyagi, H; Uchiyama, H

    2008-07-01

    Algae have attracted much interest for production of foods, bioactive compounds and also for their usefulness in cleaning the environment. In order to grow and tap the potentials of algae, efficient photobioreactors are required. Although a good number of photobioreactors have been proposed, only a few of them can be practically used for mass production of algae. One of the major factors that limits their practical application in algal mass cultures is mass transfer. Thus, a thorough understanding of mass transfer rates in photobioreactors is necessary for efficient operation of mass algal cultures. In this review article, various photobioreactors that are very promising for mass production of algae are discussed.

  14. LIMBAH CAIR INDUSTRI KECIL DAN PENCEMARAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Kumoro Palupi

    2012-10-01

    Full Text Available Beberapa jenis industri kecil yang banyak tersebar, antara lain adalah pabrik tempe, tabu, kecap, dan sirup. Kualitas limbah yang dihasilkan industri-industri tersebut sangat jauh dari memenuhi syarat. Selain itu, limbah cair tersebut dibuang langsung ke saluran terbuka/tertutup yang bermuara di badan-badan air terdekat.Untuk mengurangi besamya beban pencemaran, sejak tahun 1989 pemerintah DKI Jakarta mengadakan Program Kali Bersih  (Prokasih. Sasaran progam adalah penurunan beban pencemaran dari sumbemya secara bertahap sehingga kualitas air sungai akan menjadi lebih baik. Sumber pencemaran yang menjadi sasaran dalam Prokasih adalah industri-industri skala besar dan menengah, sedangkan industri-industri kecil belum termasuk sasaran Prokasih untuk sementara waktu ini. 

  15. PENGARUH PERSENTASE PELEPAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jack DAN KULIT DURIAN (Durio Zibethinus Murr TERHADAP SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA PAPAN SEMEN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Violet Burhanuddin

    2016-08-01

    Full Text Available Penelitian sifat fisika meliputi kerapatan, kadar air, penyerapan air dan pengembangan tebal dan sifat mekanika meliputi keteguhan lentur (MoE keteguhan patah (MoR serta  pengurangan tebal akibat tekanan. Rancangan Percobaan Yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL dengan 3 perlakuan yaitu 100% pelepah kelapa sawit; 100% kulit durian dan  50% pelepah kelapa sawit : 50% kulit durian dengan 3 kali ulangan. Standar yang digunakan untuk perbandingan  yaitu SNI–03– 2104-1991-A. Hasil penelitian adalah sebagai berikut : Sifat Fisika yaitu kerapatan rata-rata antara 100% Pelepah Kelapa Sawit, 100% Kulit Durian dan 50% Pelepah kelapa sawit : 50% kulit Durian berturut-turut adalah 0,90 gr/ cm3, 0,91 gr/ cm3, 0,81 gr/ cm3, Kadar air rata-rata antara 100% Pelepah Kelapa Sawit, 100% Kulit Durian dan 50% Pelepah kelapa sawit : 50% kulit Durian berturut-turut adalah 7,37%, 6,59%, 7,08%, Penyerapan air rata-rata antara 100% Pelepah Kelapa Sawit, 100% Kulit Durian dan 50% Pelepah kelapa sawit : 50% kulit Durian berturut-turut adalah 49,51%, 44,99%, 50,11%, Pengembangan tebal rata-rata antara 100% Pelepah Kelapa Sawit, 100% Kulit Durian dan 50% Pelepah kelapa sawit : 50% kulit Durian berturut-turut adalah 1,67%, 2,04%, 3,44%, Kerapatan, kadar air, penyerapan air dan pengembangan tebal tidak berpengaruh nyata. Sifat Mekanika yaitu Keteguhan lentur (MoE rata-rata antara 100% Pelepah Kelapa Sawit, 100% Kulit Durian dan 50% Pelepah kelapa sawit : 50% kulit Durian berturut-turut adalah 7.350,68 kg/cm2, 3.590,43 kg/cm2, Keteguhan patah (MoR rata-rata antara 100% Pelepah Kelapa Sawit, 100% Kulit Durian dan 50% Pelepah kelapa sawit : 50% kulit Durian berturut-turut adalah 11,82kg/cm2, 8,66kg/cm2, 4,53 kg/cm2Pengurangan tebal akibat tekanan rata-rata antara 100% Pelepah Kelapa Sawit, 100% Kulit Durian dan 50% Pelepah kelapa sawit : 50% kulit Durian berturut-turut adalah 8,92 %, 10,01 %, 9,92 %, Keteguhan patah (MoR berpengaruh nyata sedangkan keteguhan

  16. PENGARUH PENAMBAHAN PLASTICIZER TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK EDIBLE FILM PATI JAGUNG

    OpenAIRE

    Adiansyah; Bastian, Februadi

    2008-01-01

    ABSTRAK AGROKOMPLEKS 2008 Edible film adalah lapisan tipis dan kontinyu yang dibuat dari bahan yang dapat dimakan, diletakkan diantara komponen makanan (film) yang berfungsi sebagai penghambat terhadap transfer massa (uap air, oksigen dan zat terlarut) dan sebagai carrier bahan makanan atau aditif. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap yaitu ekstraksi pati jagung. Pada tahap ini akan diperoleh pati jagung sebagai bahan dasar edible film. Parameter yang diukur pada pati jagung yaitu...

  17. POTENSI EKSTRAK DAN FRAKSI BUAH KEMLOKO (Phyllanthus emblica L. SEBAGAI SUMBER ANTIOKSIDAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Meiny Suzery

    2013-11-01

    Full Text Available Tanaman KemLoko (Phyllanthus emblica L. merupakan tanaman yang sering digunakan oleh masyarakat sebagai bahan obat tradisional. Aktivitas biologis tanaman tersebut diduga disebabkan oleh keberadaan senyawa-senyawa kelompok fenolat, terutama golongan flavonoid. Riset mengenai analisis kandungan senyawa fenolat, flavonoid dan aktivitas antioksidan dari ekstrak beserta fraksi-fraksi dari buah kemLoko dari Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Indonesia, untuk pertama kalinya dilaporkan pada publikasi ini. Buah kemLoko kering dimaserasi dalam metanol, diikuti partisi dengan gradien pelarut sehingga diperoleh fraksi n-heksana, fraksi diklorometana, fraksi etil asetat dan fraksi air. Analisis fenolat total, flavonoid total dan aktivitas peredaman radikal DPPH dilakukan terhadap ekstrak atau fraksi yang menunjukan test positif fenolat dan flavonoid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-heksana dan fraksi diklorometana negatif pada uji fenolat dan flavonoid. Kandungan fenolat total ekstrak metanol, fraksi etil asetat dan fraksi air berturut turut adalah 351, 436 dan 111 mg ekuaivalen asam galat/g ekstrak atau fraksi, sedangkan flavonoid total berturut-turut 200, 216 dan 70 mg ekuivalen quercetin/g ekstrak atau fraksi. Aktivitas antioksidan ketiga sampel uji tersebut memiliki IC50 berkisar 58,4 sampai 120,9. Fraksi etil asetat merupakan sampel uji yang paling aktif sebagai antioksidan, selain memiliki kadar fenolat total dan flavonoid total tertinggi.

  18. Pengaruh Media Pendingin pada Heat Treatment Terhadap Struktur Mikro dan Sifat Mekanik Friction Wedge AISI 1340

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bayu Adie Septianto

    2013-09-01

    Full Text Available Baja AISI 1340 termasuk baja paduan rendah dengan komposisi karbon 0.38-0.43% dan Mangan 1,78%. Baja ini digunakan untuk komponen kereta api Friction Wedge yang memiliki standar kekerasan minimal 300 BHN. Untuk menambah kekerasan, salah satu cara yang digunakan adalah heat treatment. Pada penelitian ini variasi yang digunakan adalah media pendingin air, oli SAE 20W, PVA 20% dan pendinginan udara pada tempertaur austenitisasi 8400C dan waktu tahan 20 menit. Kekerasan yang dihasilkan oleh media pendingin air adalah 556,6 BHN, sedangkan quench oli dan polimer 461,8 BHN dan 416 BHN. Pada pendinginan udara dihasilkan kekerasan dibawah 300 BHN. Perbedaan media pendingin berpengaruh terhadap struktur mikro yang terbentuk. Pada pendinginan dengan media air dan oli diperoleh struktur martensit dengan bentuk kristal BCT. Sedangkan pada pendinginan udara terbentuk struktur ferrit dan perlit dengan bentuk kristal BCC. Selain berpengaruh pada sifat mekanik dan struktur mikronya, variasi media pendingin juga memberikan efek terhadap sifat termalnya dan berpengaruh terhadap elongation pada temperatur maksimum kerja. Dari hasil uji TMA, performa paling baik pada temperatur 300oC dihasilkan pada pendinginan quench oli SAE 20W, dengan pertambahan panjang sebesar 0,65%.

  19. Studi Proses Pemisahan Bitumen dari Asbuton dengan Proses Hot Water Menggunakan Bahan Pelarut Kerosin dan Larutan Surfaktan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mochamad Sidiq

    2013-09-01

    Full Text Available Penelitian ini merupakan studi proses pemisahan bitumen dari asbuton dengan proses hot water menggunakan bahan pelarut kerosin dan larutan surfaktan. Asbuton adalah aspal alam yang terdeposit dalam batuan dengan kadar bitumen antara 15-30% yang terdapat di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara dengan jumlah deposit aspal sebesar 677juta ton. Bitumen dapat digunakan sebagai campuran aspal minyak untuk pembangunan dan pemeliharaan sarana infrastruktur berupa jalan raya. Salah satu cara pemisahan bitumen dari mineral adalah dengan proses hot water menggunakan bahan pelarut kerosin dan larutan surfaktan. Sistem yang ditinjau dalam penelitian ini adalah tangki berpengaduk berbentuk silinder dengan kapasitar 2000cm2. Dalam penelitian ini akan ditinjau pengaruh dari penambahan ratio larutan surfaktan/asbuton dan penambahan kerosin terhadap %recovery bitumen. Proses ekstraksi dilakukan selama 20 menit dengan suhu proses 90oC dan kecepatan putar pengaduk 1500 rpm. Hasil proses ini akan terbentuk 3 lapisan yaitu lapisan atas terdiri dari larutan bitumen (kerosin dan bitumen, lapisan tengah terdiri dari air, larutan surfaktan dan mineral murni yang terpisah, dan lapisan bawah terdiri dari asbuton yang tidak terekstrak, kerosin dan sedikit air. Lapisan paling atas di ambil dan dilakukan analisa densitasnya untuk diketahui konsentrasi bitumennya. Sehingga dapat dihitung %recovery bitumen yang dihasilkan. Lapisan paling atas dipisahkan dan dianalisa konsentrasi bitumennya dengan mengukur densitasnya. Dari hasil eksperimen diperoleh kesimpulan bahwa (% recovery bitumen tertinggi adalah pada penambahan kerosin 50% dan 0,1% konsentrasi larutan surfaktan 35 % sebesar 80,797%.

  20. ANALISIS KANDUNGAN GIZI DAN LOGAM BERAT IKAN BELANAK (Mugil sp.DI SEKITARDI PERAIRAN SOCAH

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    H Hafiludin

    2012-10-01

    Full Text Available Meningkatnya aktivitas manusia di sekitar perairan Kecamatan Socah seperti limbah industri dan rumah tangga dari Bangkalan, tumpahan bahan bakar kapal yang langsung terbuang ke laut, tumpukan sampah yang sengaja dibuang ke laut dan aktivitas lewatnya kapal laut memungkinkan berpengaruh terhadap biota perairan.Ikan belanak sudah banyak dan ditangkap di perairan Socah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan gizi dan kadungan logam berat ikan belanak (Mugil sp. yang berada di sekitar perairan Socah.Penelitian dimulai dengan pengambilan dan preparasi sampel, pengujian kandungan proksimat dan logam berat dengan perlakuan ukuran ikan (12 cm dan 25 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen ikan belanak ukuran 12 cm sebesar 37,79% dan 38,87% untuk ikan belanak ukuran 25%. Kandungan kadar air berkisar 75,96-76,70%, kandungan protein berkisar 17,64-19,57%, kandungan lemak berkisar 2,83-3,33%, asam lemak bebas berkisar 1,43-1,47%, kandungan abu berkisar 1,14-2,94% dan kandungan karbohidrat berkisar 0,29-0,49%. Tidak terindikasi adanya logam berat Pb dan Hg pada perairan Socah dan pada daging ikan belanak.Kata kunci : belanak(Mugil sp, gizi, logam berat, perairan Socah

  1. BIOAVAILABILITAS FORTIFIKAN, DAYA CERNA PROTEIN, SERTA KONTRIBUSI GIZI BISKUIT YANG DITAMBAH TEPUNG IKAN GABUS (Ophiocephalus striatus DAN DIFORTIFIKASI SENG DAN BESI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dewi Kartika Sari

    2015-02-01

    dilakukan analisis bioavailabilitas Zn dan Fe. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa bioavailabilitas Zn dan Fe tidak berbeda nyata pada berbagai taraf fortifikasi (p>0.05. Biskuit hasil fortifikasi Zn dan Fe sebesar 50% AKG memiliki bioavailabilitas tertinggi, yaitu masing-masing 76,32% dan 41,80%. Formula biskuit ini dipilih untuk dianalisis lebih lanjut, yang meliputi analisis sifat fisik, kimia, dan daya cerna protein. Hasil analisis menunjukkan bahwa biskuit terpilih tersebut lebih renyah daripada biskuit komersial. Dalam 100 g biskuit tersebut terkandung air, abu, protein, lemak, dan karbohidrat berturut-turut sebesar 2,73 g; 2,08 g; 13,34 g; 24,53 g; 57,32 g; serta energi sebesar 503 kkal. Kadar Fe dan Zn biskuit terpilih tersebut adalah 11,7 mg dan 8,83 mg/100 g; dengan daya cerna protein sebesar 78,45%. Biskuit berbasis tepung ikan gabus 15% yang difortifikasi Zn dan Fe sebesar 50% AKG memenuhi standar kualitas biskuit SNI 01-2973-1992. Kontribusi biskuit terpilih terhadap AKG energi, protein, Fe dan Zn berturut-turut adalah 19,48%; 20,51%; 74,44%; 54.44%. Kata kunci: Bioavailabilitas, biskuit ikan gabus, daya cerna protein, fortifikasi

  2. Cultivation of macroscopic marine algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Ryther, J.H.

    1982-11-01

    The red alga Gracilaria tikvahiae may be grown outdoors year-round in central Florida with yields averaging 35.5 g dry wt/m/sup 2/.day, greater than the most productive terrestrial plants. This occurs only when the plants are in a suspended culture, with vigorous aeration and an exchange of 25 or more culture volumes of enriched seawater per day, which is not cost-effective. A culture system was designed in which Gracilaria, stocked at a density of 2 kg wet wt/m/sup 2/, grows to double its biomass in one to two weeks; it is then harvested to its starting density, and anaerobically digested to methane. The biomass is soaked for 6 hours in the digester residue, storing enough nutrients for two weeks' growth in unenriched seawater. The methane is combusted for energy and the waste gas is fed to the culture to provide mixing and CO/sub 2/, eliminating the need for aeration and seawater exchange. The green alga Ulva lactuca, unlike Gracilaria, uses bicarbonate as a photosynthesis carbon source, and can grow at high pH, with little or no free CO/sub 2/. It can therefore produce higher yields than Gracilaria in low water exchange conditions. It is also more efficiently converted to methane than is Gracilaria, but cannot tolerate Florida's summer temperatures so cannot be grown year-round. Attempts are being made to locate or produce a high-temperature tolerant strain.

  3. Dan Performer Mei Lanfang

    DEFF Research Database (Denmark)

    Risum, Janne

    2010-01-01

    The convention of performing female characters (dan characters) in Beijing opera, as practised by its most prominent male performer of female characters Mei Lanfang, and its and his cultural context and aesthetic aim...

  4. Liever kraanwater dan bronwater

    NARCIS (Netherlands)

    Kole, A.P.W.

    2011-01-01

    Een test in het Restaurant van de Toekomst van de invloed van CO2-labels op het aankoopgedrag van consumenten, heeft nog geen duidelijk beeld opgeleverd. Wel pakten mensen vaker kraanwater dan bronwater.

  5. Modeling and optimization of algae growth

    NARCIS (Netherlands)

    Thornton, Anthony; Weinhart, Thomas; Bokhove, Onno; Zhang, Bowen; Sar, van der Dick M.; Kumar, Kundan; Pisarenco, Maxim; Rudnaya, Maria; Savceno, Valeriu; Rademacher, Jens; Zijlstra, Julia; Szabelska, Alicja; Zyprych, Joanna; Schans, van der Martin; Timperio, Vincent; Veerman, Frits; Frank, J.; van der Mei, R.; den Boer, A.; Bosman, J.; Bouman, N.; van Dam, S.; Verhoef, C.

    2010-01-01

    The wastewater from greenhouses has a high amount of mineral contamination and an environmentally-friendly method of removal is to use algae to clean this runo water. The algae consume the minerals as part of their growth process. In addition to cleaning the water, the created algal bio-mass has a v

  6. Vanadium in marine mussels and algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Sperling, K.R.; Bahr, B. [Alfred-Wegener-Institut fuer Polar- und Meeresforschung, Bremerhaven (Germany); Ott, J. [Fachhochschule Hamburg (Germany). Fachbereich Naturwissenschaftliche Technik, Studiengang Biotechnologie

    2000-01-01

    A method is presented which is sensitive enough for the determination of vanadium (V) in marine organisms such as mussels and algae. It was sufficiently checked by a reference material and it was applied to V determination in blue mussels and brown algae from the German Bight. (orig.)

  7. Take a Dip! Culturing Algae Is Easy.

    Science.gov (United States)

    James, Daniel E.

    1983-01-01

    Describes laboratory activities using algae as the organisms of choice. These include examination of typical algal cells, demonstration of alternation of generations, sexual reproduction in Oedogonium, demonstration of phototaxis, effect of nitrate concentration on Ankistrodesmus, and study of competition between two algae in the same environment.…

  8. Makna Dan Ideologi Punk

    OpenAIRE

    Daniar Wikan Setyanto

    2015-01-01

    Punk Sebagai sebuah subkultur telah diadaptasi oleh para remaja Indonesia bukan hanya sebagai semangat bermusik, namun merambah sebagai ideologi dan gaya hidup. Punk merupakan warisan budaya dari barat yang awalnya bergerak pada bidang musik, namun lambat lain punk telah menjadi sebuah identitas global yang mewakili para remaja radikal yang memiliki visi anti kemapanan dan anti pemerintah. Selain ideologinya yang kontroversi, punk mempengaruhi dinamika fashion di dunia. Asesoris punk diadapta...

  9. Composting of waste algae: a review.

    Science.gov (United States)

    Han, Wei; Clarke, William; Pratt, Steven

    2014-07-01

    Although composting has been successfully used at pilot scale to manage waste algae removed from eutrophied water environments and the compost product applied as a fertiliser, clear guidelines are not available for full scale algae composting. The review reports on the application of composting to stabilize waste algae, which to date has mainly been macro-algae, and identifies the peculiarities of algae as a composting feedstock, these being: relatively low carbon to nitrogen (C/N) ratio, which can result in nitrogen loss as NH3 and even N2O; high moisture content and low porosity, which together make aeration challenging; potentially high salinity, which can have adverse consequence for composting; and potentially have high metals and toxin content, which can affect application of the product as a fertiliser. To overcome the challenges that these peculiarities impose co-compost materials can be employed.

  10. Algae inhibition experiment and load characteristics of the algae solution

    Science.gov (United States)

    Xiong, L.; Gao, J. X.; Zhang, Y. X.; Yang, Z. K.; Zhang, D. Q.; He, W.

    2016-08-01

    It is necessary to inhibit microbial growth in an industrial cooling water system. This paper has developed a Monopolar/Bipolar polarity high voltage pulser with load adaptability for an algal experimental study. The load characteristics of the Chlorella pyrenoidosa solution were examined, and it was found that the solution load is resistive. The resistance is related to the plate area, concentration, and temperature of the solution. Furthermore, the pulser's treatment actually inhibits the algae cell growth. This article also explores the influence of various parameters of electric pulses on the algal effect. After the experiment, the optimum pulse parameters were determined to be an electric field intensity of 750 V/cm, a pulse width per second of 120μs, and monopolar polarity.

  11. PENGARUH PERENDAMAN DAN PEREBUSAN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN, GULA, TOTAL FENOLIK DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KERANDANG (Canavalia virosa

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Titiek Farianti Djaafar

    2013-03-01

    Full Text Available The Effect of Soaking and Boiling on Protein, Oligosaccharides, Total Phenolic Content and Antioxidant Activity ofKerandang (Canavalia virosa Titiek Farianti Djaafar, Umar Santosa, Muhammad Nur Cahyanto, Endang Sutriswati Rahayu ABSTRAK Kerandang (Canavalia virosa tergolong tanaman legum dan menghasilkan biji, tumbuh menjalar di lahan pasir pantaiDaerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di Kabupaten Bantul dan Kulon Progo dengan luas lahan sekitar 3.500 ha.Tanaman kerandang merupakan sumber protein nabati, mengandung senyawa fenolik dan memiliki aktivitas antioksidan.Penelitian tentang aktivitas antioksidan biji kerandang belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh perendaman dan perebusan terhadap perubahan kandungan protein, gula, total fenolik dan aktivitas antioksidanbiji kerandang. Perendaman dilakukan pada 0, 12, dan 24 jam dengan rasio biji kerandang dan air sebesar 1:6 (b/v.Perlakuan perendaman ini dikombinasikan dengan perebusan biji pada suhu didih air (80 – 90 ºC selama 0, 10, dan20 menit. Perbandingan biji kerandang dan air untuk perebusan adalah 1:5 (b/v. Pengujian yang dilakukan meliputikadar protein, jenis gula, total fenolik dan aktivitas antioksidan. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan AcakLengkap dengan ulangan dua kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein biji kerandang menurun denganperlakuan perendaman dan perebusan. Biji kerandang mengandung oligosakarida tahan cerna (raÞ nosa yang cukuptinggi. Kandungan total fenolik biji kerandang segar sebesar 7,42 g GAE/100 g biji kerandang. Perlakuan perendamandan perebusan menyebabkan kandungan total fenolik menurun sampai dengan 74,93 %. Aktivitas antioksidan bijikerandang dinyatakan sebagai Radical Scavenging Activity sebesar 10,22 %. Pada perendaman selama 12 dan 24 jamterjadi penurunan aktivitas antioksidan.Kata kunci: kerandang, total fenol, aktivitas antioksidan ABSTRACT Kerandang (Canavalia virosa is legume crops and producing seeds

  12. KARAKTER FISIK DAN SOSIAL REALESTAT DALAM TINJAUAN GERAKAN NEW URBANISM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Timoticin Kwanda

    2001-01-01

    Full Text Available Rapid urbanization will be critical to urban environments. The immediate and most critical urban environment problems facing several big cities, such as Jakarta and Surabaya, what are referred to as the "brown" problems, among them: lack of safe water, pollution from vehicles and industrial facilities, and congestion. To cope with these urban environmental problems, New Urbanism through the Traditional Neighborhood Development (TND believes that it will cure the problems by pedestrian oriented planning, encouraging people to drive less, mixed land uses, higher density, then traffice congestion is reduced,and mitigate air pollution. Moreover, the other physical and social characters are mixed housing types, front porches, more park that will encourage more interaction, then restore a sense of community. Based on this concept, this paper discusses the physical and social characters of real estates in Jakarta and Surabaya. The results show that real estate developments in these suburban areas is one of the causes of urban environment problems. Abstract in Bahasa Indonesia : Cepatnya urbanisasi akan menyebabkan lingkungan perkotaan yang kritis. Masalah lingkungan kritis yang dihadapi oleh kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya adalah apa yang disebut dengan masalah "warna coklat" yaitu kurangnya air yang sehat, polusi udara yang berasal dari kendaraan bermotor dan industri, serta kemacetan lalu lintas. Untuk menyelesaikan masalah lingkungan ini, gerakan New Urbanism melalui konsep Traditional Neighborhood Development (TND percaya bahwa masalah lingkungan ini dapat diatasi dengan perencanaan permukiman yang berorientasi pada pejalan kaki, multi fungsi, kepadatan tinggi, sehingga mengurangi kendaraan bermotor dan berakibat pada berkurangnya kemacetan lalu lintas dan polusi udara. Karakter fisik dan sosial lainnya adalah multi tipe rumah, taman publik yang lebih banyak dan rumah berteras depan yang akan mendorong interaksi sosial dalam lingkungan

  13. Algae Biofuel in the Nigerian Energy Context

    Science.gov (United States)

    Elegbede, Isa; Guerrero, Cinthya

    2016-05-01

    The issue of energy consumption is one of the issues that have significantly become recognized as an important topic of global discourse. Fossil fuels production reportedly experiencing a gradual depletion in the oil-producing nations of the world. Most studies have relatively focused on biofuel development and adoption, however, the awareness of a prospect in the commercial cultivation of algae having potential to create economic boost in Nigeria, inspired this research. This study aims at exploring the potential of the commercialization of a different but commonly found organism, algae, in Nigeria. Here, parameters such as; water quality, light, carbon, average temperature required for the growth of algae, and additional beneficial nutrients found in algae were analysed. A comparative cum qualitative review of analysis was used as the study made use of empirical findings on the work as well as the author's deductions. The research explored the cultivation of algae with the two major seasonal differences (i.e. rainy and dry) in Nigeria as a backdrop. The results indicated that there was no significant difference in the contribution of algae and other sources of biofuels as a necessity for bioenergy in Nigeria. However, for an effective sustainability of this prospect, adequate measures need to be put in place in form of funding, provision of an economically-enabling environment for the cultivation process as well as proper healthcare service in the face of possible health hazard from technological processes. Further studies can seek to expand on the potential of cultivating algae in the Harmattan season.

  14. DGDG and Glycolipids in Plants and Algae.

    Science.gov (United States)

    Kalisch, Barbara; Dörmann, Peter; Hölzl, Georg

    2016-01-01

    Photosynthetic organelles in plants and algae are characterized by the high abundance of glycolipids, including the galactolipids mono- and digalactosyldiacylglycerol (MGDG, DGDG) and the sulfolipid sulfoquinovosyldiacylglycerol (SQDG). Glycolipids are crucial to maintain an optimal efficiency of photosynthesis. During phosphate limitation, the amounts of DGDG and SQDG increase in the plastids of plants, and DGDG is exported to extraplastidial membranes to replace phospholipids. Algae often use betaine lipids as surrogate for phospholipids. Glucuronosyldiacylglycerol (GlcADG) is a further glycolipid that accumulates under phosphate deprived conditions. In contrast to plants, a number of eukaryotic algae contain very long chain polyunsaturated fatty acids of 20 or more carbon atoms in their glycolipids. The pathways and genes for galactolipid and sulfolipid synthesis are largely conserved between plants, Chlorophyta, Rhodophyta and algae with complex plastids derived from secondary or tertiary endosymbiosis. However, the relative contribution of the endoplasmic reticulum- and plastid-derived lipid pathways for glycolipid synthesis varies between plants and algae. The genes for glycolipid synthesis encode precursor proteins imported into the photosynthetic organelles. While most eukaryotic algae contain the plant-like galactolipid (MGD1, DGD1) and sulfolipid (SQD1, SQD2) synthases, the red alga Cyanidioschyzon harbors a cyanobacterium-type DGDG synthase (DgdA), and the amoeba Paulinella, derived from a more recent endosymbiosis event, contains cyanobacterium-type enzymes for MGDG and DGDG synthesis (MgdA, MgdE, DgdA).

  15. Biodiesel Fuel Production from Algae as Renewable Energy

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A. B.M. Sharif Hossain

    2008-01-01

    Full Text Available Biodiesel is biodegradable, less CO2 and NOx emissions. Continuous use of petroleum sourced fuels is now widely recognized as unsustainable because of depleting supplies and the contribution of these fuels to the accumulation of carbon dioxide in the environment. Renewable, carbon neutral, transport fuels are necessary for environmental and economic sustainability. Algae have emerged as one of the most promising sources for biodiesel production. It can be inferred that algae grown in CO2-enriched air can be converted to oily substances. Such an approach can contribute to solve major problems of air pollution resulting from CO2 evolution and future crisis due to a shortage of energy sources. This study was undertaken to know the proper transesterification, amount of biodiesel production (ester and physical properties of biodiesel. In this study we used common species Oedogonium and Spirogyra to compare the amount of biodiesel production. Algal oil and biodiesel (ester production was higher in Oedogonium than Spirogyra sp. However, biomass (after oil extraction was higher in Spirogyra than Oedogonium sp. Sediments (glycerine, water and pigments was higher in Spirogyra than Oedogonium sp. There was no difference of pH between Spirogyra and Oedogonium sp. These results indicate that biodiesel can be produced from both species and Oedogonium is better source than Spirogyra sp.

  16. Konsentrasi merkuri dan hubungannya dengan indeks kepadatan keong popaco (Telescopium telescopium) di Kao Teluk, Halmahera Utara

    OpenAIRE

    Ardan Samman; Djamar T.F. Lumban Batu; Isdradjad Setyobudiandi

    2014-01-01

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi merkuri pada air laut, sedimen dan keong popaco (T. telescopium), serta hubungannya dengan indeks kepadatan. Sampling dilakukan pada tiga stasiun yaitu di muara Sungai Balaotin, Cibok dan Kobok. Analisis konsentrasi merkuri menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi merkuri pada air laut pada ketiga stasiun di Perairan Kao Teluk berkisar antara 0,000239-0,000560 ppm. Konsentrasi merkuri pada ...

  17. KAJIAN EKSPERIMENTAL POROUS CONCRETE YANG MENGGUNAKAN SEMEN PORTLAND POZZOLAN DAN SERAT POLYPROPYENE

    OpenAIRE

    Irmawaty, Rita; Tjaronge, M. Wihardi

    2008-01-01

    ABSTRAK TEKNOSAINS 2009 Porous concrete adalah beton tanpa agregat halus dan hanya terdiri dari agregat kasar,semen dan air serta bahan kimia tambahan.Porositas atau lubang-lubang pada porous concrete bermanfaat untuk menyaring kotoran sehingga tidak terbawa ke dalam tanah atau saluran air.Selain itu,lubang-lubang tersebut diharapkan dapat menyerap energy sinar matahari.Porous concrete telah banyak digunakan sebagai lapisan permukaan jalan pada daerah pedestrian seperti tempat-tempat untuk...

  18. 21 CFR 73.275 - Dried algae meal.

    Science.gov (United States)

    2010-04-01

    ... 21 Food and Drugs 1 2010-04-01 2010-04-01 false Dried algae meal. 73.275 Section 73.275 Food and... ADDITIVES EXEMPT FROM CERTIFICATION Foods § 73.275 Dried algae meal. (a) Identity. The color additive dried algae meal is a dried mixture of algae cells (genus Spongiococcum, separated from its culture...

  19. Dipeptides from the red alga Acanthopora spicifera

    Digital Repository Service at National Institute of Oceanography (India)

    Wahidullah, S.; DeSouza, L.; Kamat, S.Y.

    An investigation of red alga Acanthophora spicifera afforded the known peptide, aurantiamide acetate and a new diastereoisomer of this dipeptide (dia-aurantiamide acetate). This is a first report of aurantiamide acetate from a marine source...

  20. 2011 Biomass Program Platform Peer Review: Algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Yang, Joyce [Office of Energy Efficiency and Renewable Energy (EERE), Washington, DC (United States)

    2012-02-01

    This document summarizes the recommendations and evaluations provided by an independent external panel of experts at the 2011 U.S. Department of Energy Biomass Program’s Algae Platform Review meeting.

  1. Makna Dan Ideologi Punk

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Daniar Wikan Setyanto

    2015-08-01

    Full Text Available Punk Sebagai sebuah subkultur telah diadaptasi oleh para remaja Indonesia bukan hanya sebagai semangat bermusik, namun merambah sebagai ideologi dan gaya hidup. Punk merupakan warisan budaya dari barat yang awalnya bergerak pada bidang musik, namun lambat lain punk telah menjadi sebuah identitas global yang mewakili para remaja radikal yang memiliki visi anti kemapanan dan anti pemerintah. Selain ideologinya yang kontroversi, punk mempengaruhi dinamika fashion di dunia. Asesoris punk diadaptasi oleh budaya bopuler sebagai pernak-pernik fashion. Kini punk, telah menjadi bagian dari dunia fashion di seluruh dunia. Apa sebenarnya yang melatar belakangi munculnya Punk? bagaimana Punk bisa berkembang di Indonesia? Kata Kunci: punk, fashion, budaya populer

  2. DanRIS

    DEFF Research Database (Denmark)

    Skou, Carl Verner

    2009-01-01

    Windows 2000/XP/Vista platform computerprogram til DanRIS indberetning baseret på indskrivning af klienter på CPR, klientsforløb, faseforløb, ASI EuropASI composite score beregninger. Udgave: 2.1.0.5 Udgivelsesdato: 01-01-2009......Windows 2000/XP/Vista platform computerprogram til DanRIS indberetning baseret på indskrivning af klienter på CPR, klientsforløb, faseforløb, ASI EuropASI composite score beregninger. Udgave: 2.1.0.5 Udgivelsesdato: 01-01-2009...

  3. THE SOIL ALGAE OF CIBODAS FOREST RESERVE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anne Johnson

    2014-01-01

    Full Text Available Three species of green algae and one blue-green alga were recorded from eight samples of soil found associated with bryophytes in the Cibodas Forest Reserve. Chemical analysis of the soil showed severe leaching of soluable mineral substances associated with a low pH. The low light intensity under forest conditions and the low pH may account for the limited algal flora.

  4. Antioxidant Activity of Hawaiian Marine Algae

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anthony D. Wright

    2012-02-01

    Full Text Available Marine algae are known to contain a wide variety of bioactive compounds, many of which have commercial applications in pharmaceutical, medical, cosmetic, nutraceutical, food and agricultural industries. Natural antioxidants, found in many algae, are important bioactive compounds that play an important role against various diseases and ageing processes through protection of cells from oxidative damage. In this respect, relatively little is known about the bioactivity of Hawaiian algae that could be a potential natural source of such antioxidants. The total antioxidant activity of organic extracts of 37 algal samples, comprising of 30 species of Hawaiian algae from 27 different genera was determined. The activity was determined by employing the FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power assays. Of the algae tested, the extract of Turbinaria ornata was found to be the most active. Bioassay-guided fractionation of this extract led to the isolation of a variety of different carotenoids as the active principles. The major bioactive antioxidant compound was identified as the carotenoid fucoxanthin. These results show, for the first time, that numerous Hawaiian algae exhibit significant antioxidant activity, a property that could lead to their application in one of many useful healthcare or related products as well as in chemoprevention of a variety of diseases including cancer.

  5. Air quality. How to give it back its original purity? The proliferation of air cleansers. Filters must be changed regularly. Measurement of the filtering efficiency of air treatment systems. The air treatment plants on the way of certification. Essential oils in a high building; Qualite de l'air. Comment lui rendre sa purete originelle? La proliferation des purificateurs d'air. Il faut changer les filtres regulierement. Mesure de l'efficacite de filtration des systemes de traitement d'air. Les centrales de traitement d'air sur la voie de la certification. Des huiles essentielles dans un immeuble de grande hauteur

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Grumel, N.

    2000-07-01

    Outside air is polluted while the ambient indoor air is saturated with microorganisms. Inside buildings, the aeraulic networks are the link between both environments and the privileged place to clean the air using filtering systems. However, the notion of air quality is still badly perceived by owners, in particular in tertiary buildings. In France, efforts have to be made on the maintenance of aeraulic networks by hygiene specialists. Air quality inside buildings must be taken into consideration using communication and regulations. This dossier takes stock of the problem of air quality and of the available means to ensure a good air quality inside residential and tertiary buildings. The maintenance of air filters in one of the key points. It should be integrated in the general maintenance concept of buildings. The dossier includes a study of the in-situ measurement of the filtering efficiency of air treatment systems. This method is described in the Eurovent recommendation 4/10 of 1996. It has been experimented by the French technical centre of aeraulic and thermal industries (Cetiat) and the results are reported in the study. The performances of air treatment plants are now certified by Eurovent. This European organization has defined a program of tests which is conformable with the European EN 1886 and EN 13053 European standards. Finally, a new protocol of air decontamination based on the micronizing of essential oils in the aeraulic network of a 29 floors building is presented. (J.S.)

  6. Akromegali Dan Gigantisme

    OpenAIRE

    Silvani, Melati; Pase, M. Aron; Syafril, Santi; Lindarto, Dharma; Solin, Steffie S

    2016-01-01

    Hormon pertumbuhan manusia (Growth Hormone/GH) merupakan peptida rantai tunggal yang terdiri dari 191 asam amino, yang diisolasi dari sel somatotrop pada kelenjar hipofisis anterior pada tahun 1956, dan pertama kali digunakan sebagai terapi untuk penatalaksanaan dwarfisme hipofisis pada tahun 1958. Dwarfisme hipofisis adalah bentuk klasik dari defisiensi hormon pertumbuhan pada anak-anak Melati Silvani

  7. Macapat dan Santiswara

    OpenAIRE

    Darusuprapta, Darusuprapta

    2013-01-01

    Dalam khazanah kebudayaan Indonesia, khusus Jawa, hidup berkembangan kesenian macapat yang disebut juga  macapatan, dan kesenian santiswara yang disebut pula santiswaran. Macapatan lebih mengutamakan pembacaan teks dengan dendangan tembang kemudian diikuti sarasehan atau diskusi yang membahas segala segi isi teks bacaannya, sedangkan santiswaran lebih mengutamakan alunan swara dengan dendangan tembang disertai iringan bunyi tabuh-tabuhan.

  8. Discours rapporté et point de vue dans la théorie polyphonique linguistique : le cas des débats télévisés du magazine d'information C dans l'air

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Léon-Mahdjoub Inès

    2014-07-01

    réponse. L’objectif de cette étude est de montrer comment l’animateur LOC va construire l’image discursive du téléspectateur qu’il fait entrer dans son propre discours. Pour ce faire, on prendra appui sur le cadre théorique de la théorie scandinave de la polyphonie (2004 qui s’inspire des travaux de Ducrot (1984.

  9. RANCANG BANGUN ALAT PENJERNIH AIR LIMBAH CAIR LAUNDRY DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA PENYARING KOMBINASI PASIR – ARANG AKTIF

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hery Setyobudiarso

    2014-05-01

    Full Text Available Perkembangan jasa pencucian pakaian (laundry berkontribusi pada peningkatan penggunaan air tanah dan pemakaian deterjen sehingga menghasilkan limbah cair yang dapat mencemari lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengolahan air limbah laundry menjadi air bersih. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh bahan penyaring pasir silika, zeolit dan arang aktif terhadap hasil olahan air limbah laundry dan mengetahui  pengaruh tekanan dan waktu pemakaian reaktor penyaring. Metode pengolahan yang digunakan adalah filtrasi menggunakan filtrasi pasir silika, adsorpsi karbon aktif, serta gabungan pengolahan filtrasi pasir aktif dan adsorpsi karbon aktif untuk menghasilkan air bersih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengolahan koagulasi dan flokulasi, filtrasi pasir aktif, adsorpsi karbon aktif serta gabungan filtrasi pasir aktif dan adsorpsi karbon aktif mampu menurunkan kekeruhan hingga batas maksimum air bersih. Karakteristik limbah laundry pada tekanan 1 bar memiliki nilai warna, COD dan TSS yang cenderung menurun dari menit ke 20 hingga menit ke 60 , warna nilai 138, COD 908 mg/l dan TSS 215 mg/l. Sedangkan pada tekanan 2 bar memiliki nilai warna, COD dan TSS yang cenderung menurun dari menit ke 20 hingga menit ke 60 , masing-masing masing-masing warna nilai 40, COD 746 mg/l dan TSS 210 mg/l.  Air yang dihasilkan bukan merupakan air bersih tetapi aman untuk dibuang ke lingkungan.

  10. El giro patrimonial del tango: políticas oficiales, turismo y campeonatos de baile en la ciudad de Buenos Aires O tombamento do tango como patrimônio cultural: políticas oficiais, turismo e concursos de dança na cidade de Buenos Aires The turn of inheritance in tango: official policies, tourism, dance championship in the city of Buenos Aires

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hernán Morel

    2009-12-01

    Full Text Available En este artículo nos proponemos analizar algunos aspectos del proceso de activación patrimonial del tango en base a la intervención del Estado local a fines de los años '90. Luego de analizar ciertos aspectos que caracterizan y rigen los procesos de patrimonialización contemporáneos, relevamos las principales normativas y actividades culturales instituidas en torno al tango. Posteriormente, nos concentramos en el desarrollo de una sucesión de políticas públicas y actividades vinculadas a festivales y campeonatos de baile en la ciudad de Buenos Aires. Asimismo, exploramos las construcciones y los sentidos de "autenticidad" en distintas dimensiones culturales. Por un lado, nos enfocamos en el "turismo cultural" vinculado al tango en la ciudad, mientras que, por otro lado, analizamos los sentidos otorgados a las performances de tango-danza de salón en el contexto de los campeonatos oficiales.Neste artigo analisamos alguns aspectos do processo de patrimonialização do tango com base no exame das ações da prefeitura local a finais da década de 1990. Em primeiro lugar, descrevem-se as características dos processos de patrimonialização contemporâneos. Na seqüência, examinamos as principais leis e práticas culturais associadas ao tango na cidade de Buenos Aires e descrevemos as políticas públicas e atividades relacionadas aos festivais e concursos de dança. Analisam-se, também, as formas em que é construída a "autenticidade" em diferentes âmbitos culturais. Por um lado, o foco centra-se no "turismo cultural" relacionado ao tango na cidade; por outro, analisam-se os sentidos dados às performances do tango-dança de salão no contexto dos concursos oficiais.In this article, we pursue to analyse some aspects regarding the process of inheritance activation of tango as a result of the intervention of the local State in the late '90s. After having analysed some aspects which characterise and reing the contemporary processes of

  11. PERTUMBUHAN DAN SINTASAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei DENGAN KOMBINASI PAKAN BERBEDA DALAM WADAH TERKONTROL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Suwardi Tahe

    2011-04-01

    Full Text Available Pakan merupakan satu di antara faktor yang perlu diperhatikan dalam sistem budidaya udang di tambak, karena berpengaruh terhadap pertumbuhan, sintasan, dan efisiensi biaya produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi pakan yang tepat terhadap pertumbuhan dan sintasan udang vaname (Litopenaeus vannamei. Penelitian dilaksanakan di Instalasi Perbenihan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau. Wadah yang digunakan adalah bak fiber glass ukuran 1 m x 1 m x 0,7 m sebanyak 9 buah. Setiap bak diisi air laut salinitas 32 ppt sebanyak 500 L dan dilengkapi 1 buah aerasi. Hewan uji yang digunakan adalah tokolan udang vaname dengan bobot rata-rata 0,45 g/ekor dan ditebar kepadatan 100 ekor/bak. Penelitian diset menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan yaitu: (A pakan PV 100%, (B pakan PV 75% + pakan EB 25%, dan (C pakan PV 50% + EB 50%, masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Selama pemeliharan 85 hari, udang diberi pakan dosis 50-5% dari total bobot biomassa/hari. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa kombinasi pakan berpengaruh nyata (P<0,05 terhadap pertumbuhan, sintasan, rasio konversi pakan, dan produksi udang vaname. Pertumbuhan dan sintasan udang vaname terbaik yaitu masing-masing 6,31g dan 86% diperoleh pada perlakuan B bila dibanding perlakuan lainnya.

  12. Algae production for energy and foddering

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Bai, Attila; Jobbagy, Peter; Durko, Emilia [University of Debrecen, Faculty of Applied Economics and Rural Development (UD-FAERD), Centre for Agricultural and Applied Economic Sciences, Debrecen (Hungary)

    2011-09-15

    This study not only presents the results of our own experiments in alga production, but also shows the expected economic results of the various uses of algae (animal feed, direct burning, pelleting, bio-diesel production), the technical characteristics of a new pelleting method based on literature, and also our own recommended alga production technology. In our opinion, the most promising alternative could be the production of alga species with high levels of oil content, which are suitable for utilization as by-products for animal feed and in the production of bio-diesel, as well as for use in waste water management and as a flue gas additive. Based on the data from our laboratory experiments, of the four species we analyzed, Chlorella vulgaris should be considered the most promising species for use in large-scale experiments. Taking expenses into account, our results demonstrate that the use of algae for burning technology purposes results in a significant loss under the current economic conditions; however, the utilization of algae for feeding and bio-diesel purposes - in spite of their innovative nature - is nearing the level needed for competitiveness. By using the alga production technology recommended by us and described in the present study in detail, with an investment of 545 to 727 thousand EUR/ha, this technology should be able to achieve approximately 0-29 thousand EUR/ha net income, depending on size. More favorable values emerge in the case of the 1-ha (larger) size, thanks to the significant savings on fixed costs (depreciation and personnel costs). (orig.)

  13. Algae Biofuel in the Nigerian Energy Context

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Elegbede Isa

    2016-05-01

    Full Text Available The issue of energy consumption is one of the issues that have significantly become recognized as an important topic of global discourse. Fossil fuels production reportedly experiencing a gradual depletion in the oil-producing nations of the world. Most studies have relatively focused on biofuel development and adoption, however, the awareness of a prospect in the commercial cultivation of algae having potential to create economic boost in Nigeria, inspired this research. This study aims at exploring the potential of the commercialization of a different but commonly found organism, algae, in Nigeria. Here, parameters such as; water quality, light, carbon, average temperature required for the growth of algae, and additional beneficial nutrients found in algae were analysed. A comparative cum qualitative review of analysis was used as the study made use of empirical findings on the work as well as the author’s deductions. The research explored the cultivation of algae with the two major seasonal differences (i.e. rainy and dry in Nigeria as a backdrop. The results indicated that there was no significant difference in the contribution of algae and other sources of biofuels as a necessity for bioenergy in Nigeria. However, for an effective sustainability of this prospect, adequate measures need to be put in place in form of funding, provision of an economically-enabling environment for the cultivation process as well as proper healthcare service in the face of possible health hazard from technological processes. Further studies can seek to expand on the potential of cultivating algae in the Harmattan season.

  14. Considering the sanitary aspects in regional plans for air quality. Situation of sanitary impacts of urban air pollution studies; Prise en compte des aspects sanitaires dans les Plans regionaux pour la qualite de l'air. Bilan des etudes d'impact sanitaires de la pollution atmospherique urbaine realisees

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    2003-12-15

    The law on air and the rational use of energy of the 30. september 1996 forecasts the setting up of regional planning for the air quality that have to rely on the support of an evaluation of sanitary effects of air pollution. To help the local sanitary authorities in this mission, the National Institute of Sanitary Surveillance and the C.I.R.E. have realised a methodological guide on evaluation of sanitary impact of urban air pollution in different contexts. (N.C.)

  15. KARAKTERISTIK KIMIA DAN TEKSTUR TEMPE SETELAH DIPROSES DENGAN KARBON DIOKSIDA BERTEKANAN TINGGI (Chemical Charactersitics and Texture of Tempe Processed with High Pressure Carbon Dioxides

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Maria Erna Kusyawati

    2015-09-01

    kimia dan tekstur tempe setelah diproses dengan karbon dioksida bertekanan tinggi. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok yang disusun faktorial dengan dua faktor perlakuan dan tiga kali pengulangan. Tempe yang diperlakukan dengan tekanan 7,6 MPa selanjutnya disebut tempe PS sedangkan yang diperlakukan dengan tekanan 6,3 MPa disebut tempe PC. Faktor pertama adalah tekanan dengan dua level perlakuan meliputi 7,6 MPa dan 6,3 MPa, sedangkan faktor ke dua adalah lama waktu tekanan dengan 4 level yaitu 5, 10, 15, 20 menit. Parameter yang diamati meliputi tekstur, kadar air, protein, lemak, abu dan karbohidrat, mineral kalsium, dan vitamin B1, B2, B pada tempe kontrol dan tempe perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan, lama waktu tekanan dan interaksinya berpengaruh nyata terhadap kadar air, protein, lemak dan abu, tetapi tidak berpengaruh terhadap tekstur. Karbon dioksida tekanan tinggi baik pada 7,6 MPa maupun 6,3 MPa menurunkan kadar air dan lemak, tetapi kadar air tempe PC lebih tinggi dibanding tempe PS. CO2 3 tekanan 7,6 MPa yang menurunkan kadar protein. Perlakuan tekanan tinggi (7,6 MPa dan 6,3 MPa juga menurunkan mineral kalsium tetapi tidak mempengaruhi kandungan vit B.   Kata kunci: Karakteristik kimia, CO2, tekanan tinggi, tempe

  16. ALGAE PROLIFERATION ON SUBSTRATES IMMERSED IN BIOLOGICALLY TREATED SEWAGE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tomasz Garbowski

    2017-01-01

    Full Text Available Due fast biomass production, high affinity for N and P and possibilities to CO2 sequestration microalgae are currently in the spotlight, especially in renewable energy technologies sector. The majority of studies focus their attention on microalgae cultivation with respect to biomass production. Fuel produced from algal biomass can contribute to reducing consumption of conventional fossil fuels and be a remedy for a rising energy crisis and global warming induced by air pollution. Some authors opt for possibilities of using sewage as a nutrient medium in algae cultivation. Other scientists go one step further and present concepts to introduce microalgal systems as an integral part of wastewater treatment plants. High costs of different microalgal harvesting methods caused introduction of the idea of algae immobilization in a form of periphyton on artificial substrates. In the present study the attention has focused on possibilities of using waste materials as substrates to proliferation of periphyton in biologically treated sewage that contained certain amounts of nitrogen and phosphorus.

  17. KARAKTERISASI FILM KOMPOSIT ALGINAT DAN KITOSAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nur Rokhati

    2012-11-01

    swelling terhadap air adalah yang  paling besar kemudian diikuti oleh ethanol teknis (± 95% dan yang terkecil adalah ethanol PA (> 99,9%. Kekuatan mekanik film kitosan lebih besar dibanding dengan film alginat. Film komposit alginat-kitosan yang dibuat dengan metode layer by layer memberikan karakteristik yang lebih baik dibanding dengan film komposit yang dibuat dengan pencampuran larutan alginat dan larutan kitosan.

  18. Biological toxicity of lanthanide elements on algae.

    Science.gov (United States)

    Tai, Peidong; Zhao, Qing; Su, Dan; Li, Peijun; Stagnitti, Frank

    2010-08-01

    The biological toxicity of lanthanides on marine monocellular algae was investigated. The specific objective of this research was to establish the relationship between the abundance in the seawater of lanthanides and their biological toxicities on marine monocellular algae. The results showed that all single lanthanides had similar toxic effects on Skeletonema costatum. High concentrations of lanthanides (29.04+/-0.61 micromol L(-1)) resulted in 50% reduction in growth of algae compared to the controls (0 micromol L(-1)) after 96 h (96 h-EC50). The biological toxicity of 13 lanthanides on marine monocellular algae was unrelated with the abundance of different lanthanide elements in nature, and the "Harkins rule" was not appropriate for the lanthanides. A mixed solution that contained equivalent concentrations of each lanthanide element had the same inhibition effect on algae cells as each individual lanthanide element at the same total concentration. This phenomenon is unique compared to the groups of other elements in the periodic table. Hence, we speculate that the monocellular organisms might not be able to sufficiently differentiate between the almost chemically identical lanthanide elements.

  19. Oil from algae; salvation from peak oil?

    Science.gov (United States)

    Rhodes, Christopher J

    2009-01-01

    A review is presented of the use of algae principally to produce biodiesel fuel, as a replacement for conventional fuel derived from petroleum. The imperative for such a strategy is that cheap supplies of crude oil will begin to wane within a decade and land-based crops cannot provide more than a small amount of the fuel the world currently uses, even if food production were allowed to be severely compromised. For comparison, if one tonne of biodiesel might be produced say, from rape-seed per hectare, that same area of land might ideally yield 100 tonnes of biodiesel grown from algae. Placed into perspective, the entire world annual petroleum demand which is now provided for by 31 billion barrels of crude oil might instead be met from algae grown on an area equivalent to 4% of that of the United States. As an additional benefit, in contrast to growing crops it is not necessary to use arable land, since pond-systems might be placed anywhere, even in deserts, and since algae grow well on saline water or wastewaters, no additional burden is imposed on freshwater-a significant advantage, as water shortages threaten. Algae offer the further promise that they might provide future food supplies, beyond what can be offered by land-based agriculture to a rising global population.

  20. La détermination de l'âge par scalimétrie chez le saumon atlantique (Salmo salar dans son aire de répartition méridionale : utilisation pratique et difficultés de la méthode

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    BAGLINIÈRE J. L.

    1985-07-01

    Full Text Available Ce rapport confirme les critères d'interprétation scalimétrique utilisés pour âger le saumon atlantique en eau douce et en mer à l'aide d'exemples typiques. Il synthétise également les difficultés rencontrées pour la détermination d'âge des populations naturelles et d'élevage en les illustrant à l'aide d'exemples atypiques. Enfin, il propose un certain nombre de recommandations pour permettre une meilleure connaissance des populations de saumon atlantique dans son aire de répartition méridionale.

  1. BAHAYA RADIASI DAN CARA PROTEKSINYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Badunggawa P

    2014-09-01

    Full Text Available Radiasi yang kita terima setiap saat, termasuk radiasi untuk tujuan kedokteran, mempunyai dampak positif dan negatif terhadap keselamatan manusia dan lingkungan. Dampak positif dari radiasi terhadap keselamatan manusia diantaranya adalah digunakan sebagai pengobatan dan dampak negatifnya adalah tergantung dari besar dosis yang diterima diantaranya adalah mulai dari mual, muntah, pusing-pusing, rambut rontok, menyebabkan kanker, diturunkan secara genetik, dan yang lebih berbahaya lagi adalah menyebabkan kematian. Oleh karena itu kita harus berhati-hati terhadap bahaya yang ditimbulkannya, baik terhadap pekerja radiasi maupun masyarakat umum termasuk pasien. Perlindungan terhadap bahaya yang ditimbulkan radiasi ini dikenal dengan istilah proteksi radiasi. Sehingga dosis yang diterima pertahun oleh pekerja atau masyarakat umum tidak melebihi batas dosis yang ditetapkan oleh Bapeten. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meminimalkan bahaya tersebut sehingga pekerja dan pasien merasa aman melakukan dan dikenai tindakan medik.[medicina 2009;40:47-51].  

  2. Nilai Dan Fungsi Ndungndungen Karo

    OpenAIRE

    Rosita Ginting

    2010-01-01

    Tesis ini berjudul “Nilai dan Fungsi Ndungndungen Karo”. Tesis ini menjabarkan tentang macam-macam Ndungndungen Karo, nilai-nilai yang terkandung dalam Ndungndungen Karo, fungsi Ndungndungen Karo, dan bagaimana penggunaan Ndungndungen Karo pada saat sekarang ini. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, dengan teknik rekaman dan interviu. Metode kepustakaan juga digunakan dalam penelitian ini karena data sekunder dari penelitian ini adalah data-data ya...

  3. Freshwater algae of the Nevada Test Site

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Taylor, W.D.; Giles, K.R.

    1979-06-01

    Fifty-two species of freshwater algae were identified in samples collected from the eight known natural springs of the Nevada Test Site. Although several species were widespread, 29 species were site specific. Diatoms provided the greatest variety of species at each spring. Three-fifths of all algal species encountered were diatoms. Well-developed mats of filamentous green algae (Chlorophyta) were common in many of the water tanks associated with the springs and accounted for most of the algal biomass. Major nutrients were adequate, if not abundant, in most spring waters - growth being limited primarily by light and physical habitat. There was some evidence of cesium-137 bioconcentration by algae at several of the springs.

  4. Algae a promising alternative for biofuel

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M.H. Sayadi

    2011-08-01

    Full Text Available Research on renewable and environmentally friendly fuel is growing rapidly and many scientists and governments are interested to grow it fast due to limitation of conventional fuel sources and their harmful effects on the environment. Biofuels are not only the best and reliably available fuels attained from renewable sources which are environment friendly. Besdies biofuels are abundantly available in all the locations easily accessible and highly sustainable. In the present review, the authors present a brief highlight of challenges that necessitates to be covered in order to make both, micro as well as macro algae a viable option to produce renewable biofuels. It is interesting to note that algae are varied, pervasive, and productive and also having less impact with plants as a food for human and animals. Further research is required to a high quantity of product innovation because most dedicated algae are faced uneconomically high costs.

  5. Sifat Anatomi dan Fisis Kelapa Hibrida

    OpenAIRE

    Hutabarat, Marihot Hamonangan

    2010-01-01

    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat anatomis dan fisis batang kelapa hibrida. Ciri anatomi diamati langsung pada sampel dan menggunakan mikroskop untuk pengamatan dimensi seratnya, dan pengujian sifat fisis menggunakan British Standard. Sifat anatomis dan fisis batang kelapa hibrida bervariasi menurut ketinggian dan kedalaman. Struktur anatomis batang kelapa hibrida didominasi oleh vascular bundle dan parenkim. Serat kayu dapat ditemukan didalam vascular bundle dengan rata-r...

  6. Study of metal bioaccumulation by nuclear microprobe analysis of algae fossils and living algae cells

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Guo, P.; Wang, J.; Li, X.; Zhu, J. E-mail: iamzhu@hotmail.com; Reinert, T.; Heitmann, J.; Spemann, D.; Vogt, J.; Flagmeyer, R.-H.; Butz, T

    2000-03-01

    Microscopic ion-beam analysis of palaeo-algae fossils and living green algae cells have been performed to study the metal bioaccumulation processes. The algae fossils, both single cellular and multicellular, are from the late Neoproterozonic (570 million years ago) ocean and perfectly preserved within a phosphorite formation. The biosorption of the rare earth element ions Nd{sup 3+} by the green algae species euglena gracilis was investigated with a comparison between the normal cells and immobilized ones. The new Leipzig Nanoprobe, LIPSION, was used to produce a proton beam with 2 {mu}m size and 0.5 nA beam current for this study. PIXE and RBS techniques were used for analysis and imaging. The observation of small metal rich spores (<10 {mu}m) surrounding both of the fossils and the living cells proved the existence of some specific receptor sites which bind metal carrier ligands at the microbic surface. The bioaccumulation efficiency of neodymium by the algae cells was 10 times higher for immobilized algae cells. It confirms the fact that the algae immobilization is an useful technique to improve its metal bioaccumulation.

  7. UPAYA PENINGKATAN MUTU DAN EFISIENSI PROSES PENGERINGAN JAGUNG DENGAN MIXED-ADSORPTION DRYER

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Luqman Buchori

    2013-11-01

    Full Text Available THE EFFORT OF EFFICIENCY AND QUALITY IMPROVEMENT ON CORN DRYING PROCESS USING MIXED-ADSORPTION DRYER. The main problem in corn drying process is the low of energy efficiency (50% and quality products. Consequently, operating costs in large for fuel consumption and the short shelf life of corn. Zeolite adsorption dryers have the potential to overcome this problem. This research aims to study composition of corn-zeolite and the effect of temperature on drying speed and protein and fat content in corn. Research variables are the ratio of corn and zeolite (1:0, 1:3, 1:1, 3:1 and intake air temperature (room temperature, 30oC, 40oC, 50oC. Sampling for moisture testing performed every 15 minutes. For energy purposes also calculated the energy efficiency (h based on the amount of heat used to evaporate water from the corn (Qevap divided by the total heat requirement to regenerate the zeolite and raising the air temperature (Qintr. Profiles of temperature and water in the mixed adsorption dryer are also studied. The results showed that the greater number of zeolite used, the water content of the final outcome a little more drying, protein and fat content of the final result of drying is relatively constant. The larger intake air temperature, the water content of the less drying results, protein content decreases, and the fat content does not change/relatively constant. The best variable was a ratio of corn: zeolite is 1:3 and air temperature was 50oC. While the variables that are suitable and in accordance with ISO standards for dry foods (14% are air temperature of between 40oC and 50oC with a ratio of corn:zeolite is 1:3. The energy efficiency of 81.23% is obtained. Modeling done with FEMLAB (COMSOL can describe the moisture content and temperature profiles in the corn and zeolite. Keywords: corn; drying; energy efficiency; mixed adsorption dryer; zeolite Abstrak Masalah utama proses pengeringan jagung adalah rendahnya efisiensi energi (50% dan mutu

  8. NYERI KEPALA DAN GANGGUAN TIDUR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lina Kamelia

    2014-09-01

    Full Text Available Nyeri kepala dan tidur merupakan dua fenomena yang saling mempengaruhi dengan patomekanisme yang kompleks. Nyeri kepala primer, terutama migren, nyeri kepala klaster dan hypnic headache dapat timbul karena pengurangan waktu tidur, parasomnia, maupun gangguan pada regulasi arsitektur tidur terutama fase rapid eye movement. Sebaliknya, adanya nyeri kepala memicu timbulnya berbagai macam gangguan tidur. Studi pencitraan otak dan biokimia menunjukkan peranan penting melatonin dan nukleus suprachiasmatik   yang mengalami disfungsi pada penderita nyeri kepala yang berhubungan dengan gangguan tidur. [MEDICINA 2013;44:101-104].

  9. Perancangan dan Implementasi Modul Praktikum

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gita Indah Hapsari

    2015-05-01

    Full Text Available Kemajuan teknologi berbasis komputer berkembang dengan sangat pesat. Seiring dengan perkembangan jaman, kemajuan  tersebut memberikan pengaruh  terhadap  perubahan cara penyampaian pengajaran yang mengarah pada penggunaan jenis media penyampaian. Praktikum merupakan salah satu bentuk pengajaran yang memberikan pengalaman belajar secara nyata terhadap kondisi sebenarnya di lapangan mengenai penggunaan dan implementasi alat praktek yang berhubungan dengan berbagai materi yang dipelajari oleh mahasiswa dan memiliki tujuan untuk memberikan keterampilan dan pengenalan terhadap mahasiswa/peserta didik. Penelitian ini melakukan implementasi teknologi augmented reality terhadap salah satu modul praktikum yaitu pengenalan tata letak hardware dan Port I/O pada motherboard dan bertujuan sebagai alat bantu penyampaian pengajaran praktikum. Pengimplementasian teknologi augmented reality melibatkan aksi oleh user terhadap media penangkapan gambar motherboard menggunakan web camera dan tampilan pemetaan tata letak hardware dan port i/o pada motherboard. Penelitian telah diimplementasikan dan diujicoba terhadap 3 kelas dengan 97 responder. Adapun hasil dari penelitiannya adalah 83% responder menyukai aplikasi, 77% memahami materi, 84,5% menginginkan aplikasi ini menjadi alat bantu ajar, 65,98% meminta materi untuk dilengkapi dan diperbanyak, 77,3% dapat belajar mandiri menggunakan aplikasi ini, tanpa bantuan dari dosen ataupun asisten.

  10. ASIMETRI INFORMASI DAN UNDERPRICING

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tety Anggita Safitri

    2013-03-01

    Full Text Available Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh asimetri informasi terhadap underpricing. Penelitian ini menggunakan sampel 63 perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana di Bursa Efek Indonesia dalam kurun waktu 2005-2010. Analisis data menggunakan regresi linier berganda, yaitu menguji proksi asimetri informasi yang terdiri atas ukuran perusahaan, umur perusahaan, proporsi saham yang ditawarkan kepada masyarakat, reputasi underwriter dan reputasi auditor terhadap underpricing. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa reputasi underwriter dan reputasi auditor berpengaruh terhadap underpricing. Ukuran perusahaan, umur perusahaan dan proporsi saham yang ditawarkan tidak berpengaruh terhadap underpricing.The aim of this research is to examine the effect of assymetric information on underpricing. This research used a sample of 63 companies that make initial public offering on the Indonesia Stock Exchange in the period of 2005-2010. The data analysis is using multiple linear regression, which is testing the proxy of asymmetric information which consists of the firm size, the firm age, the proportion of shares offered to the public, underwriter reputation and auditor reputation on underpricing. This research indicates that underwriter reputation and auditor reputation have a significant effect on underpricing. The firm size, the firm age and the proportion of shares offered to the public have no significant effect on underpricing.

  11. Aires protégées, gestion participative des ressources environnementales et développement touristique durable et viable dans les régions ultra-périphériques

    OpenAIRE

    Jean-Marie Breton

    2009-01-01

    Le tourisme est souvent présenté comme l’un des instruments d’un développement durable, même s’il connaît une expansion difficilement maîtrisable, au détriment du patrimoine environnemental, insulaire et littoral en particulier, comme dans les DOM-TOM.Le tourisme a des impacts, culturels et sociaux notamment, sur l’environnement. Les ressources du patrimoine alimentent de leur côté la demande et l’offre touristiques. Un tourisme assis sur une gestion ad hoc des ressources du patrimoine consti...

  12. Microspectroscopy of the photosynthetic compartment of algae.

    Science.gov (United States)

    Evangelista, Valtere; Frassanito, Anna Maria; Passarelli, Vincenzo; Barsanti, Laura; Gualtieri, Paolo

    2006-01-01

    We performed microspectroscopic evaluation of the pigment composition of the photosynthetic compartments of algae belonging to different taxonomic divisions and higher plants. The feasibility of microspectroscopy for discriminating among species and/or phylogenetic groups was tested on laboratory cultures. Gaussian bands decompositions and a fitting algorithm, together with fourth-derivative transformation of absorbance spectra, provided a reliable discrimination among chlorophylls a, b and c, phycobiliproteins and carotenoids. Comparative analysis of absorption spectra highlighted the evolutionary grouping of the algae into three main lineages in accordance with the most recent endosymbiotic theories.

  13. Serpins in plants and green algae

    DEFF Research Database (Denmark)

    Roberts, Thomas Hugh; Hejgaard, Jørn

    2008-01-01

    . Serpins have been found in diverse species of the plant kingdom and represent a distinct clade among serpins in multicellular organisms. Serpins are also found in green algae, but the evolutionary relationship between these serpins and those of plants remains unknown. Plant serpins are potent inhibitors...... of mammalian serine proteinases of the chymotrypsin family in vitro but, intriguingly, plants and green algae lack endogenous members of this proteinase family, the most common targets for animal serpins. An Arabidopsis serpin with a conserved reactive centre is now known to be capable of inhibiting...

  14. Foresight Brief: Seaweed & Algae as Biofuels Feedstocks

    OpenAIRE

    Institute, Marine

    2008-01-01

    Seaweed is a known potential carbon-dioxide (CO2) neutral source of second generation biofuels. When seaweed grows it absorbs CO2 from the atmosphere and this CO2 is released back to the atmosphere during combustion. What makes seaweed, and in particular micro algae, so promising as a fuel source is their growth rates and high lipid (oil) content. Algae are among the fastest-growing plants in the world. Energy is stored inside the cell as lipids and carbohydrates, and can be converted into fu...

  15. Disain Sistem SCADA jarak Jauh Menggunakan Layanan VPN 3G Untuk Penggerak Pompa pada Sistem Pengolahan Air

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Asep Insani

    2013-03-01

    Full Text Available Dalam pengolahan air gambut menjadi air bersih yang menggunakan metode AOP dan RO ini, pengaturan tekanan pompa merupakan sesuatu yang sangat vital pada saat dilakukan suplay air yang akan diolah ke sistem. Sistem pengolahan air yang menggunakan pompa tersebut harus selalu dipastikan beroperasi dengan normal disesuaikan dengan peruntukannya. Manajemen terbaru sistem pengolahan air memerlukan teknologi yang terbaru pada peralatan remote control system, dan yang paling fundamental untuk hal ini adalah penggunaan layanan public untuk akusisi dan pengawasan dari data yang diambil dari peralatan kontrol. Untuk mewujudkan remote control untuk pompa dengan tekanan tertentu dengan PLC, didisain dengan kombinasi antara internet, arsitektur dan implementasi dari sistem SCADA, yang menggabungkan jaringan komputer, PLC, WinCC, dan teknologi VPN. Dalam melakukan disain, perlu diperhatikan poin-poin penting baik dari sisi server maupun sisi controller. Disain sistem SCADA remote dapat mengefisienkan waktu bagi operator dan pemantauan lebih lanjut untuk suplay air.

  16. Association of thraustochytrids and fungi with living marine algae

    Digital Repository Service at National Institute of Oceanography (India)

    Raghukumar, C.; Nagarkar, S.; Raghukumar, S.

    only in C. clavulatum, Sargassum cinereum and Padina tetrastromatica whilst mycelial fungi occurred in all. Growth experiments in the laboratory indicated that the growth of thraustochytrids was inhibited on live algae, whereas killed algae supported...

  17. An Overview of Algae Biofuel Production and Potential Environmental Impact

    Science.gov (United States)

    Algae are among the most potentially significant sources of sustainable biofuels in the future of renewable energy. A feedstock with virtually unlimited applicability, algae can metabolize various waste streams (e.g., municipal wastewater, carbon dioxide from industrial flue gas)...

  18. Respons Imunoglobulin-G dan Imunoglobulin-M Mencit yang Diberi Ekstrak Methanol Alga Biru Hijau dan Diinfeksi Dengan Takizoit

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sorta Basar Ida Simanjuntak

    2012-11-01

    Full Text Available Toxoplasmosis is an infectious disease caused by Toxoplasma gondii. This disease could severelyaffect humans and animals. Up to now there has been no simple treatment to fight toxoplasmosis. Aprospective alternative treatment to overcome this problem is by increasing immunity of the body using animmunostimulant such as Spirulina platensis. The aims of this research were to observe the potency of S.platensis as an immunostimulant and to find the most potential fraction of S. Platensis that can increasethe responses of IgG and IgM antibodies againts toxoplasma. The responses of these antibodies weremeasured using ELISA method. The isolation of compounds from S. platensis using Preparative ThinLayer Chromatography (PTLC found three fractions which were a top fraction (I, a middle fraction (II,and a lower fraction (III. Forty-eight mice used in this research were divided into four different groupswith 12 mice in each group and treated differently. The top, middle, and lower fractions of S. platensis wereadministered orally to three groups of mice respectively at dose of 3mg/ml for each mouse while the micein the fourth group were kept as untreated controls. The treatment was conducted for 14 days consecutivelyand on the next day, all mice, including the controls, were challenged with tachizoit. The effect of S.platensisfractions on the responses of IgG and IgM antibodies were then measured at various time intervals, i.e. day0 (before infection and day 1, 2, and 3 after infection. The results showed that IgG response increased inthe day 0 (2.504 OD and the day 3 after infection (2.608 OD while IgM response increased in day 1 afterinfection (2.898 OD. In conclusion, S. platensis was an immunostimulant and the middle fraction (II of S.Platensis was the most potential fraction to increase immunity againts toxoplasma .

  19. DIVERSITAS DAN KERAPATAN MANGROVE, GASTROPODA DAN BIVALVIA DI ESTUARI PERANCAK, BALI

    OpenAIRE

    2011-01-01

    Penelitian ini bertujuan membandingkan diversitas dan kerapatan mangrove dengan kepadatan gastropoda dan bivalvia di mangrove alami dan rehabilitasi. Pengukuran ekosistem mangrove menggunakan transek kuadrat 10 m x 10 m. Kelimpahan dan kepadatan gastropoda dan bialvia menggunakan transek kuadrat berukuran 1 m x 1 m. Analisis nMDS, cluster untuk melihat hubungan karekteristik mangrove alami dan rehabilitasi dianalisis secara deskriptif dan analisis regresi untuk mendetermi...

  20. STRESS PADA LANSIA MENJADI FAKTOR PENYEBAB DAN AKIBAT TERJADINYA PENYAKIT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nur Hidaayah

    2015-11-01

    Full Text Available Stress conditions in the elderly means an imbalance condition of biological, psychological, and social are closely related to the response to the threats and dangers faced by the elderly. Pressure or interference that is not fun is usually created when the elderly see a mismatch between the state and the 3 systems available resources. Maintenance actions that need to be done there are 2 types, namely : prevention of exposure to a stressor (precipitation factor and serious treatment of the imbalance condition/ illness (precipitation factor. Prevention includes: sports, hobbies, friendship, avoid eating foods high in free radicals and harmful substances, sex and setting arrangements adequate rest. Habits of the above if done at a young age to avoid exposure to stress in the elderly. Treatment of the imbalance condition / illness, include : drinking water, meditation, eating fresh fruit, and adequate rest.Abstrak : Kondisi stres pada lansia berarti ketidakseimbangan kondisi biologis, psikologis, dan sosial yang erat kaitannya dengan respons terhadap ancaman dan bahaya yang dihadapi pada lanjut usia. Adanya tekanan atau gangguan yang tidak menyenangkan yang biasanya tercipta ketika lansia tersebut melihat ketidaksepadanan antara keadaan dan 3 sistem sumber daya yang dimiliki. Tindakan perawatan yang perlu dilakukan ada 2 jenis yaitu pencegahan dari paparan stressor (faktor presipitasi dan penanganan serius terhadap ketidakseimbangan kondisi/ sakit (faktor presipitasi. Pencegahannya meliputi: olah raga, penyaluran hobi, persahabatan, menghindari makan makanan tinggi radikal bebas dan zat berbahaya, pengaturan kegiatan seks dan pengaturan istirahat yang cukup. Kebiasaan tersebut diatas jika dilakukan sejak usia muda dapat menghindarkan paparan stres di lanjut usia. Penanganan terhadap ketidakseimbangan kondisi/ sakit, meliputi : minum air putih, meditasi, makan buah segar, dan istirahat yang cukup. 

  1. IJTIHAD KONTEMPORER (Problem dan Solusinya

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mustaqim Mustaqim

    2011-04-01

    Full Text Available Ijtiha>d adalah merupakan bahasan yang tak henti-hentinya menjadi kajian ketat para ulama sejak dulu sampai kini, seperti imam al-Ghaza>li> membahas dalam bukunya al mustasfa, demikian juga imam assyaukani membahas dalam bukunya irsyadul puhul dan masih banyak lagi ulama yung membahas dalam masalah ijtiha>d ini, Begitu juga dari kalangan ulama kontemporer seperti, Shaykh Ah}mad Ibra>hi>m, Shaykh ‘Abd al-Wahha>b Khala>f, Dr. Yu>suf al-Qarad}awi>, Dr. T{a>ha> Jabi>r dan masih banyak lagi selain mereka. Bersama itu, pintu ijtiha>d tak pernah tertutup, karena kehidupan masih terus berlanjut, dan kejadian-kejadian masih terus berkembang, timbulnya krisis ekonomi dan sosial, rangkaian masalah dan berbagai macam solusinya, desakan kejadian yang tak pernah dipersiapkan oleh manusia yang menimbulkan aneka ragam kesulitan, dan terus mengakar sampai menyelami kehidupan tekhnologi, perdagangan, atau kehidupan individu dan umum. Berawal dari sini maka merupakan cambuk bagi seorang muslim dengan kebebasan berpikirnya untuk mengerahkan segala kemampuannya terhadap seluruh masalah, sebab islam adalah agama kehidupan yang mencakup segala aspek, Islam bukan hanya berurusan dengan masalah akhirat saja, tapi Islam lahir dalam bentuk yang luas, mampu mengobati penyakit sosial, ekonomi, internasional, dll, dan fiqih sendiri bukan hanya merupakan peraturan belaka, melainkan fiqih mencakup segala masalah tergantung kejadian dan kebutuhan, fiqih masih siap menerima perubahan selama masih tetap dalam rel qur’an dan sunnah, dari sinilah perlu adanya ijtiha>d, Ijtiha>d merupakan hal yang terbuka bagi seorang muslim agar merasakan kebebasan berfikir yang sempurna karena ijtiha>d adalah merupakan sebuah bukti akan luas dan mudahnya syariat islam.

  2. ANALISIS KARAKTERISTIK SAMPAH DAN LIMBAH CAIR PASAR BADUNG DALAM UPAYA PEMILIHAN SISTEM PENGELOLAANNYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Wayan Jana

    2012-11-01

    Full Text Available Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan analisis data di lakukan di lapangan danlaboratorium. Pengukuran kuantitas sampah dilakukan selama satu minggu berturut-turut, sedangkanpengukuran karakteristik yang meliputi komposisi, kepadatan dan kadar air sampah dilakukan sebanyak tigakali pengukuran. Pengukuran kuantitas dan kualitas limbah cair juga dilakukan sebanyak tiga kali. Parameterlimbah yang diukur adalah parameter kimia dan fisik yang meliputi BOD5 dengan metode elektroda, CODdengan titrimetrik, TSS dengan metode filter membran, serta parameter bakteriologis menggunakan metodeMPN dengan tabung fermentasi.Hasil penelitian menunjukkan, bahwa timbulan sampah pasar Badung sebanyak 33,13 M3 per hari,yang terdiri dari empat komponen, yaitu; sampah organik sebesar 71,51 %, sampah plastik sebesar 14,61%,sampah kertas dan karton sebesar 12,59 %, dan sisa-sisa potongan kain dan lain lain sebesar 1,29 % dengandensitas sebesar 244,33 kg/m3 dan kadar air mencapai 25,67%. Perkiraan volume limbah cair yang dihasilkanPasar Badung adalah sebesar 49.056 liter per hari dengan kualitas termasuk kedalam kualitas limbah klas IIIberdasarkan kandungan TSS dan termasuk kedalam kualitas limbah klas IV berdasarkan kandungan BODdan COD serta adanya indikator tercemar tinja manusia karena mengandung bakteri Coliform maupun E.coli. Limbah cair ini memberikan beban pencemaran secara langsung terhadap Kali Badung.Berdasarkan karakteristik sampah yang didapatkan, maka alternatif yang paling tepat diterapkanuntuk pengolahan sampah Pasar Badung adalah dengan melakukan pemilahan pada sumbernya kemudiansampah organik diolah dengan metode komposting dan sampah anorganik dilakukan upaya daur ulang,sehingga kebutuhan TPA menjadi berkurang serta nilai ekonomis sampah bisa diangkat. Berdasarkan kualitaslimbah cair, maka limbah cair yang dihasilkan Pasar Badung sudah seharusnya dibuatkan suatu instalasipengolahan air limbah (IPAL secara lengkap, sehingga tidak

  3. Novel Fiber Optic Fluorometer for the Measurement of Alga Concentration

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    2001-01-01

    A novel fluorometer based on fiber optics is briefly introduced for the measurement of alga concentration. Both the exciting light and the fluorescence from alga chlorophyll are transmitted along a fiber cable. By this way, we can get alga concentration by measuring its chlorophyll-a fluorescence intensity. The experiment results show that this instrument is characterized by good sensitivity, linearity and accuracy.

  4. Inventory of North-West European algae initiatives

    NARCIS (Netherlands)

    Spruijt, J.

    2015-01-01

    In 2012 an inventory of North-West European (NWE) algae initiatives was carried out to get an impression of the market and research activities on algae production and refinery, especially for bioenergy purposes. A questionnaire was developed that would provide the EnAlgae project with information on

  5. New methodologies for integrating algae with CO2 capture

    NARCIS (Netherlands)

    Hernandez Mireles, I.; Stel, R.W. van der; Goetheer, E.L.V.

    2014-01-01

    It is generally recognized, that algae could be an interesting option for reducing CO2 emissions. Based on light and CO2, algae can be used for the production various economically interesting products. Current algae cultivation techniques, however, still present a number of limitations. Efficient fe

  6. How to Identify and Control Water Weeds and Algae.

    Science.gov (United States)

    Applied Biochemists, Inc., Mequon, WI.

    Included in this guide to water management are general descriptions of algae, toxic algae, weed problems in lakes, ponds, and canals, and general discussions of mechanical, biological and chemical control methods. In addition, pictures, descriptions, and recommended control methods are given for algae, 6 types of floating weeds, 18 types of…

  7. 21 CFR 73.185 - Haematococcus algae meal.

    Science.gov (United States)

    2010-04-01

    ... 21 Food and Drugs 1 2010-04-01 2010-04-01 false Haematococcus algae meal. 73.185 Section 73.185... COLOR ADDITIVES EXEMPT FROM CERTIFICATION Foods § 73.185 Haematococcus algae meal. (a) Identity. (1) The color additive haematococcus algae meal consists of the comminuted and dried cells of the...

  8. ANALISA PERUBAHAN KECEPATAN DAN KEKUATAN MEMANJANG AKIBAT PERUBAHAN BENTUK LAMBUNG PADA PATROL SPEED BOAT “GRASS CARP” DI RAWAPENING

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ari Wibawa BS

    2012-02-01

    Full Text Available Pada penelitian ini, sebuah Fibreglass Patrol Speed Boat GRASS CARP yang dioperasikan di wilayah perairan Rawapening Kab. Semarang dihitung dan dianalisa kecepatannya menggunakan Maxsurf Hullspeed version 11.03 dan untuk analisa dan perhitungan kekuatan memanjang menggunakan Maxsurf Hidromax version 11.03. Perhitungan dan analisa kecepatan dilakukan untuk mengetahui hambatan total yang yang diterima baik kapal rancangan maupun kapal sesungguhnya, daya yang dibutuhkan untuk mencapai kecepatan maksimal yang sama dengan kapal rancangan yaitu 13 knot, serta penyebab terjadinya perbedaan kecepatan. Sedangkan analisa pada kekuatan memanjang dilakukan untuk mengetahui apakah GRASS CARP telah memenuhi syarat BKI dilihat dari segi tegangan perhitungan, faktor keamanan kondisi air tenang dan sagging serta hogging, dan nilai modulus serta momen inersianya.

  9. PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI ASAM, TEMPERATUR DAN WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP KARAKTERISTIK FISH GLUE DARI LIMBAH IKAN TENGGIRI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tony Handoko

    2012-05-01

    Full Text Available THE EFFECTS OF TYPES AND ACID CONCENTRATIONS, TEMPERATURES AND EXTRACTION TIME ON THE FISH GLUE CHARACTERISTIC OBTAINED FROM MACKEREL FISH BONE WASTE. As a maritime nation, Indonesia produced fresh fish products up to 4,408,419 tons in 2005. Mackerel fish is one of them. Its bone waste has an economic value as a source for fish glue production. The purpose of this research was to determine the optimum conditions in fish glue processing. Preliminary research was done to determine the acid type (CH3COOH and HCl and its concentration (4%, 5%, and 6% in soaking process. While the main research was then done to determine the best temperature (45oC, 60oC, and 75oC and time of extraction (4 hrs, 5 hrs, 6 hrs. The fish glue products were analyzed their adhesion and physical characteristics, such as density, viscosity, pH, and water content. The results showed that weak acid (CH3COOH of 5% concentration is the best solution in soaking process and extraction in 4 hrs at 45oC has given the optimum condition for producing fish glue. The glue has a nice odor but its adhesion strength remains poor.      Abstrak   Sebagai negara maritim, Indonesia menghasilkan produk perikanan yang sangat besar mencapai 4.408.419 ton pada tahun 2005 dan terus bertambah. Salah satu produk perikanan yang terbesar adalah ikan tenggiri dengan limbah tulang yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi sebagai bahan baku fish glue. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kondisi proses yang dapat menghasilkan fish glue yang baik melalui dua tahap yaitu penelitian pendahuluan dan utama. Penelitian pendahuluan bertujuan mendapatkan jenis asam (CH3COOH dan HCl dan konsentrasi asam terbaik (4%, 5%, dan 6% pada  proses perendaman tulang ikan. Penelitian utama bertujuan  menentukan temperatur ekstraksi (45oC, 60oC, dan 75oC dan waktu ekstraksi (4 jam, 5 jam, 6 jam. Analisis fish glue yang dilakukan adalah uji kerekatan dan sifat fisik berupa densitas, viskositas, pH, dan kadar air

  10. Research and development for algae-based technologies in Korea: a review of algae biofuel production.

    Science.gov (United States)

    Hong, Ji Won; Jo, Seung-Woo; Yoon, Ho-Sung

    2015-03-01

    This review covers recent research and development (R&D) activities in the field of algae-based biofuels in Korea. As South Korea's energy policy paradigm has focused on the development of green energies, the government has funded several algae biofuel R&D consortia and pilot projects. Three major programs have been launched since 2009, and significant efforts are now being made to ensure a sustainable supply of algae-based biofuels. If these R&D projects are executed as planned for the next 10 years, they will enable us to overcome many technical barriers in algae biofuel technologies and help Korea to become one of the leading countries in green energy by 2020.

  11. Fucoidans - sulfated polysaccharides of brown algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Usov, Anatolii I; Bilan, M I [N.D.Zelinsky Institute of Organic Chemistry, Russian Academy of Sciences, Moscow (Russian Federation)

    2009-08-31

    The methods of isolation of fucoidans and determination of their chemical structures are reviewed. The fucoidans represent sulfated polysaccharides of brown algae, the composition of which varies from simple fucan sulfates to complex heteropolysaccharides. The currently known structures of such biopolymers are presented. A variety of the biological activities of fucoidans is briefly summarised.

  12. Fucoidans — sulfated polysaccharides of brown algae

    Science.gov (United States)

    Usov, Anatolii I.; Bilan, M. I.

    2009-08-01

    The methods of isolation of fucoidans and determination of their chemical structures are reviewed. The fucoidans represent sulfated polysaccharides of brown algae, the composition of which varies from simple fucan sulfates to complex heteropolysaccharides. The currently known structures of such biopolymers are presented. A variety of the biological activities of fucoidans is briefly summarised.

  13. Pheromone signaling during sexual reproduction in algae.

    Science.gov (United States)

    Frenkel, Johannes; Vyverman, Wim; Pohnert, Georg

    2014-08-01

    Algae are found in all aquatic and many terrestrial habitats. They are dominant in phytoplankton and biofilms thereby contributing massively to global primary production. Since algae comprise photosynthetic representatives of the various protoctist groups their physiology and appearance is highly diverse. This diversity is also mirrored in their characteristic life cycles that exhibit various facets of ploidy and duration of the asexual phase as well as gamete morphology. Nevertheless, sexual reproduction in unicellular and colonial algae usually has as common motive that two specialized, sexually compatible haploid gametes establish physical contact and fuse. To guarantee mating success, processes during sexual reproduction are highly synchronized and regulated. This review focuses on sex pheromones of algae that play a key role in these processes. Especially, the diversity of sexual strategies as well as of the compounds involved are the focus of this contribution. Discoveries connected to algal pheromone chemistry shed light on the role of key evolutionary processes, including endosymbiotic events and lateral gene transfer, speciation and adaptation at all phylogenetic levels. But progress in this field might also in the future provide valid tools for the manipulation of aquaculture and environmental processes.

  14. Spirulina: The Alga That Can End Malnutrition.

    Science.gov (United States)

    Fox, Ripley D.

    1985-01-01

    One approach to eliminating malnutrition worldwide is to grow spirulina in recycled village wastes. Spirulina is a blue-green alga and a natural concentrated food. Spirulina can give poor villages a nutritional food supplement they can grow themselves and can reduce infectious disease at the same time. (Author/RM)

  15. Research for Developing Renewable Biofuels from Algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Black, Paul N. [Univ. of Nebraska, Lincoln, NE (United States)

    2012-12-15

    Task A. Expansion of knowledge related to lipid production and secretion in algae A.1 Lipid biosynthesis in target algal species; Systems biology approaches are being used in combination with recent advances in Chlorella and Chlamydomonas genomics to address lipid accumulation in response to defined nutrient regimes. The UNL Algal Group continues screening additional species of Chlorella and other naturally occurring algae for those with optimal triglyceride production; Of the strains examined by the DOE's Aquatic Species Program, green algae, several species of Chlorella represent the largest group from which oleaginous candidates have been identified; A.1.1. Lipid profiling; Neutral lipid accumulation is routinely monitored by Nile red and BODIPY staining using high throughput strategies to screen for naturally occurring algae that accumulate triglyceride. These strategies complement those using spectrofluorometry to quantify lipid accumulation; Neutral lipid accumulation is routinely monitored by high performance thin-layer chromatography (HPTLC) and high performance liquid chromatography (HPLC) of lipid extracts in conjunction with; Carbon portioning experiments have been completed and the data currently are being analyzed and prepared for publication; Methods in the Black lab were developed to identify and quantify triacylglycerol (TAG), major membrane lipids [diacylglycerol trimethylhomoserine, phosphatidylethanolamine and chloroplast glycolipids], biosynthetic intermediates such as diacylglycerol, phosphatidic acid and lysophospholipids and different species of acyl-coenzyme A (acyl CoA).

  16. Bromophenols in Marine Algae and Their Bioactivities

    DEFF Research Database (Denmark)

    Ming, Liu; Hansen, Poul Erik; Lin, Xiukun

    2011-01-01

    Marine algae contain various bromophenols that have been shown to possess a variety of biological activities, including antioxidant, antimicrobial, anticancer, anti-diabetic, and anti-thrombotic effects. Here, we briefly review the recent progress of these marine algal biomaterials, with respect...

  17. Isolation of glycoproteins from brown algae

    DEFF Research Database (Denmark)

    2015-01-01

    The present invention relates to a novel process for the isolation of unique anti-oxidative glycoproteins from the pH precipitated fractions of enzymatic extracts of brown algae. Two brown seaweeds viz, Fucus serratus and Fucus vesiculosus were hydrolysed by using 3 enzymes viz, Alcalase, Viscozyme...

  18. Design your own Algae Photobioreactor Facade

    NARCIS (Netherlands)

    Juarez Ortiz, T.V.; Choi, Z.F.

    2014-01-01

    This "designers' manual" is made during the TIDO-course AR0533 Innovation & Sustainability. There are several reasons why to implement algae in the building facade. Imagine our future buildings covered with photosynthetic skins and vertical gardens, collecting the sun’s energy and making buildings

  19. Respons Peristalsis dan Neuron Mienterik Nitrergik Usus Halus Kelinci yang Diinfeksi Eimeria magna

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Amelia Hana

    2012-11-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon usus kelinci yang diinfeksi Eimeria magna denganmengamati frekuensi dan amplitudo kontraksi peristalsis, dan jumlah neuron mienterik nitrergik usushalus. Hewan percobaan yang digunakan adalah 60 ekor kelinci jantan lokal sehat umur 5 bulan dengankisaran berat badan 1,5-1,8 kg, dan bebas koksidiosis. Seluruh kelinci percobaan diadaptasikan dengankondisi lingkungan penelitian selama 7 hari dengan pakan pellet dan air minum ad libitum. Kelincidipelihara dalam kandang individual. Enam puluh ekor kelinci tersebut dibagi secara acak menjadi 3kelompok masing-masing 20 ekor. Kelompok I sebagai kontrol (K-0 diberi 1,0 ml akuades/ekor per oral,kelompok II (K-10 diinfeksi 10x106 ookista E. magna/ekor per oral dosis tunggal, dan kelompok III (K-20diinfeksi 20x106 ookista E. magna /ekor per oral dosis tunggal. Pascainfeksi setiap hari 4 ekor per kelompokdianestesi dengan uretan (1,55 g/kg BB dalam larutan 25%, secara intraperitoneal, kemudian dibedah,diambil segmen usus halus (duodenum, jejunum, dan ileum. Segera setelah itu kelinci dibunuh dengancara dislokasi cervikal. Segmen usus halus diukur gerak peristalsis secara elektromiografik. Selanjutnyasampel tersebut dibuat preparat histokimia dengan teknik pewarnaan Nicotinamide Adenine DincleotidePhosphate-diaphorase (NADPH-d untuk mengetahui jumlah neuron mienterik nitrergiknya. Data frekuensidan amplitudo kontraksi peristalsis, dan jumlah neuron mienterik nitrergik usus halus kelinci dianalisissecara statistika dengan sidik ragam dan uji-t (LSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infeksi10x106 dan 20x106 ookista E. magna dapat menyebabkan timbulnya peningkatan frekuensi peristalsisusus halus (p<0,01, penurunan amplitudo kontraksi usus halus (P<0,01, dan penurunan jumlah neuronmienterik nitrergik usus halus (P<0,01 dibandingkan kelompok kontrol (K-0. Dari hasil disimpulkanbahwa infeksi ookista E. magna dapat menyebabkan peningkatan frekuensi peristalsis

  20. Formulasi Niosom Ketoprofen Dan Prediksi Penggunaan Transdermal Secara In Vivo Pada Kelinci

    OpenAIRE

    Ismail, Isriani; Wahyudin, Elly; Rahman, Latifah

    2013-01-01

    Niosom adalah system vesikel yang dapat digunakan sebagai pembawa obat lipofilik, hidrofilik dan ampifilik. Ketoprofen adalah salah satu golongan AINS yang sangat sukar larut dalam air dan dalam pH cairan lambung, paparan lama pada mukosa lambung dapat memperparah ulcus, sehingga bahan obat patut dikembangkan dalam bentuk sediaan lain dengan rute yang lebih nyaman, misalnya dalma bentuk sedian transdermal. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi niosom yang dapat menjerap ketoprofen secar...

  1. PENGARUH PENAMBAHAN NATRIUM METABISULFIT DAN SUHU PEMASAKAN DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI VAKUM TERHADAP KUALITAS GULA MERAH TEBU

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dewi Maya Maharani

    2015-02-01

    gula merah menunjukkan kualitas yang paling baik. Nilai masing-masing parameternya dari perlakuan terbaik sebagai berikut: parameter kimia dan fisik dengankadar air 8,97%, gula reduksi 7,96 %, kadar abu 2,65%, total padatan tak larut 0,60 %, nilai kekerasan 15,68 kg/cm2, parameter organoleptik denganwarna 5,50, rasa 5,04 dan tekstur 5,36. Kata kunci: Nira tebu, natrium metabisulfit, suhu, evaporator vakum, gula merah

  2. Atonik Dan Super Bionik Mempengaruhi Pertumbuhan Bibit Sambung Pucuk Mangga (Mangifera indica L.)

    OpenAIRE

    Indra, Aswim Syah

    2012-01-01

    Penelitian ini dilaksanakan di Balai Benih Induk (BBI) Hortikultura Gedung Johor, Medan dengan ketinggian + 25 meter dpi. Dilaksanakan mulai awal bulan Juni sampai akhir Oktober 2002. Bertujuan untuk mengetahui pengaruh Atonik dan Super Bionik terhadap pertumbuhan bibit sambung pucuk mangga. Menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor perlakuan dan 3 ulangan. Faktor I aaalah konsentrasi Atonik (A) yang terdiri dari 4 taraf yaitu : Ao = 0 cc/liter air, Ax = 0,5 cc...

  3. DEODORISASI LIMBAH CAIR BATIK MENGGUNAKAN LIMBAH BAGLOG Pleurotus ostreatus DENGAN KOMBINASI VOLUME DAN WAKTU INKUBASI BERBEDA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Heru Teguh Sumarko

    2013-11-01

    Full Text Available Limbah cair batik yang dibuang ke lingkungan tanpa diolah terlebih dahulu bersifat toksik, mengakibatkan penurunan kualitas air disekitar lingkungan dan kesehatan dengan munculnya masalah utama seperti bau tidak sedap. Kondisi tersebut diperlukan penanganan agar efek pencemaran rendah atau menjadikan limbah cair batik tidak toksik. Penelitian tentang pengelolaan limbah cair batik berupa deodorisasi menggunakan limbah baglog Pleurotus ostreatus dengan kombinasi volume dan waktu inkubasi berbeda telah diujikan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kemampuan limbah baglog P. ostreatusdengan kombinasi volume dan waktu inkubasi berbeda dalam mendeodorisasi limbah cair batik, dan untuk mengetahui perlakuan yang terbaik dalam mendeodorisasi limbah cair batik menggunakan limbah baglog P. ostreatus dengan kombinasi volume dan waktu inkubasi berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah baglog P. ostreatus dengan kombinasi volume dan waktu inkubasi berbeda mampu mendeodorisasi limbah cair batik. Hasil terbaik berupa penurunan skala bau 3 (tidak bau yang diikuti persentase penurunan nilai BOD sebesar 93,95% (3301 mg/l menjadi 200 mg/l dan COD 79,66% (15200 mg/l menjadi 3120 mg/l pada perlakuan 100 ml volume limbah cair batik dan 96 jam waktu inkubasi.

  4. THE USE OF ALGAE CONCENTRATES, DRIED ALGAE AND ALGAL SUBSTITUTES TO FEED BIVALVES

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ludi Parwadani Aji

    2011-01-01

    Full Text Available Microalgae have high nutritional value and are used to feed adult and larval stages of bivalves, the larvae of some fish and crustaceans and zooplankton. However, microalgae production for aquaculture animal is very expensive. To overcome this, the use of preserved microalgae such as algae concentrate and dried algae, or algal substitutes has been developed. There are both advantages and disadvantages to this alternative food. For example, even though the cost production for algal substitute yeast-based diet is cheaper, their nutritional value is much lower compared to fresh microalgae. Moreover, there is no significant difference in nutritional value between preserved (concentrated or dried and fresh microalgae; however, preserving microalgae for long periods will affect their nutritional value. In spite of this problem, preserved microalgae such as algal concentrate and dried algae seem to be more effective to feed bivalves than algal substitutes yeast based diet due to their availability and relatively high nutritional value. Furthermore, algae concentrates are more suitable to replace fresh algae than dried algae.

  5. Langmuir-Blodgett film of phycobilisomes from blue-green alga Spirulina platensis.

    Science.gov (United States)

    Chen, Chao; Zhang, Yu-Zhong; Chen, Xiu-Lan; Zhou, Bai-Cheng; Gao, Hong-Jun

    2003-10-01

    The phycobilisomes were isolated from blue-green alga Spirulina platensis, and could form monolayer film at air/water interface. The monolayer film of phycobilisomes was transferred to newly cleaved mica, and coated with gold. Scanning tunneling microscope was used to investigate the structure of the Langmuir-Blodgett film of phycobilisomes. It was shown that phycobilisomes in the monolayer arrayed in rows with core attaching on the substrate surface and rods radiating towards the air phase, this phenomenon was similar to the arrangement of phycobilisomes on cytoplasmic surface of thylakoid membrane in vivo. The possible applications of the Langmuir-Blodgett film of phycobilisomes were also discussed.

  6. Konsentrasi merkuri dan hubungannya dengan indeks kepadatan keong popaco (Telescopium telescopium di Kao Teluk, Halmahera Utara

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ardan Samman

    2014-08-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi merkuri pada air laut, sedimen dan keong popaco (T. telescopium, serta hubungannya dengan indeks kepadatan. Sampling dilakukan pada tiga stasiun yaitu di muara Sungai Balaotin, Cibok dan Kobok. Analisis konsentrasi merkuri menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi merkuri pada air laut pada ketiga stasiun di Perairan Kao Teluk berkisar antara 0,000239-0,000560 ppm. Konsentrasi merkuri pada sedimen berkisar antara 0,003-0,08 ppm. Konsentrasi merkuri pada keong berkisar antara 0,06-0,15 ppm. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 tentang baku mutu air laut, dan US Environmental Protection Agency tentang baku mutu sedimen, serta World Health Organization/Food and Agriculture Organization (WHO/FAO tentang keamanan pangan maka kandungan merkuri pada air, sedimen dan keong popaco masih berada dibawah baku mutu yang ditetapkan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara konsentrasi merkuri pada air dan sedimen dengan indek kepadatan keong popaco, dimana pada kepadatan tinggi maka kandungan merkuri cenderung rendah.

  7. Analisis dan Optimasi Desain Sistem Reaktor Gas Temperatur Tinggi RGTT200K dan RGTT200KT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mohammad Dhandhang Purwadi

    2013-03-01

    dengan penyelesaian persamaan aljabar linier dari model RGTT200K dan RGTT200KT. Dari analisis dan optimasi ini dihasilkan desain konseptual sistem RGTT200K dan RGTT200KT dengan spesifikasi thermal-flow teras sama, dan peningkatan EUF dari 63% menjadi 80,14% (untuk RGTT200K dan dari 63,6% menjadi 78,02% (untuk RGTT200KT.

  8. Exfoliative Cheilitis dan Penatalaksanaannya

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dewi Agustina

    2012-12-01

    Full Text Available Latar Belakang: Exfoliative cheilitis adalah suatu keadaan inflamatori kronis superfisisal yang ditandai dengan adanya pengelupasan permukaankeratin bibir sedangkan area yang lain terjadi pembentukan lapisan keratin. Tujuan: untuk melaporkan suatu  kasus Exfoliative cheilitis yang diikuti +  selama 2 bulan beserta penatalaksanaanya. Laporan kasus: seorang wanita berusia 52 tahun mengeluh bibir bawahnya pecah-pecah, terasa kering dan panas berdasarkan pemeriksaan subyektif dan klinis, Exfoliative cheilitis ditetapkan sebagai diagnosis kerja. Penatalaksanaanya: Komunikasi-Informasi-Edukasi (KIE diberikan kepada pasien pada awal kunjungan disertai pemberian metil prednisolon, Vitamin B1,6,12 dan anjuran untuk menghentikan kebiasaan menjilat-jilat bibir bawah, menghindari stress dan meningkatkan asupan makanan yang mengandung vitamin A. Pada kunjungna berikutnya pemberian metil prednisolon dihentikan karena terdeteksi adanya peningkatan tekanan darah. Untuk selanjutnya kondisi bibir bawah dievaluasi +  selama 2 bulan. Kesimpulan: Progresitas Exfoliative cheilitis dapat dihentikan dengan bantuan KIE serta menghindari faktor pemicu stress, yang pada akhirnya akan dapat meminimalisir aktivitas factitious berupa menjilat-jilat bibir bawah.    Background: Exfoliative cheilitis is a chronic superficial inflammatory condition that is characterized by regular peeling of a superficial excessive layer of karatin, on the other hand, keratinization is developed in the other area. Aim: to report an Exfoliative cheilitis case monitored for two months and its management. Case Report: a 52 year female has been suffering from fissured lower lip with dry and burning sensations. According to subjective and clinical examinations, Exfoliative cheilitis was determined as the working diagnosis. Management: Communication-Information-Education (CIE were given to the patient at the first visit, besides metyl prednisolon and vitamin B1,6,12 administrations. Patient was

  9. Karakteristik habitat dan pola pertumbuhan kepiting kelapa (Birgus latro di Pulau Ternate dan Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rugaya H. Serosero

    2016-07-01

    Full Text Available Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik habitat dan pola pertumbuhan kepiting kelapa (Birgus latro di Takome Pulau Ternate dan Idamdehe Kecamatan Jailolo Propinsi Maluku Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Juli 2014. Data yang dikumpulkan adalah tekstur substrat dengan metode pipet, penentuan kandungan nitrat danfosfat tanah dengan metode spektofotometer, pengukuran panjang + rostrum (cp+r kepiting kelapa dan pola pertumbuhannya. Selain it juga diukur suhu udara, suhu lubang dan kelembaban udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Idamdehe memiliki karakteristik pantai yang curam, bahkan di beberapa lokasi penangkapan sangat terjal, sedangkan  di lokasi Takome Pulau Ternate memiliki karakteristik pantai yang lebih landai. Tekstur substrat di lokasi Takome Pulau Ternate terdiri atas pasir (55,76 %, debu (18,4% dan liat (25,84% dan Stasiun Idamdehe memiliki tekstur pasir (49,17%, debu (25,61% dan liat (25,22%dankandungan bahan organik substrat (Total N di Takome adalah 0,31% dan total P adalah 0,09% sedangkan di Idamdehe Total N adalah 0,19% dan Total P 0,02%. Suhu udara di lokasi Idamdehe berkisar 26-280C dan di Takome 27-280C. Kelembaban udara 73%-98% di Idamdehe dan 71%-90% di Takome. Parameter lingkungan berupa suhu udara, kelembaban udara, tekstur substrat dan kandungan bahan organik di kedua lokasi penelitian mendukung kehidupan kepiting kelapa di habitat alaminya. Pola pertumbuhan kepiting kelapa di kedua lokasi Idamdehe adalah allometrik negatif. Kata kunci: Karakteristik habitat, Idamdehe, Takome, Birgus latro, isometrik, allometrik negatif Abstract. This objectives of the present study were to evaluate the habitat characteristics and growth patterns of the coconut crabs in Takome and Idamdehe waters North Maluku Province. This study was conducted during April-July 2014. The collected data were the substrate texture, nitrate and phosphate contents of soil using spectrophotometric method, length

  10. SARANA PENGUJIAAN MUTU MAKANAN PADA BEBERAPA PABRIK MAKANAN YANG MEMPRODUKSI PRODUK OLAHAN HASIL PETERNAKAN DAN PERIKANAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ani Isnawati

    2012-10-01

    oleh 7 pabrik (30,4 %, Gas Chromatografi dan Spektrofotometer Serapan Atom dimiliki hanya oleh 1 pabrik (4,3%. Untuk uji Mikrobiologi peralatan yang dipunyai pabrik adalah autoclave dan oven dipunyai 12 pabrik (52,2 % dan Laminar air flow hanya dimiliki oleh 2 pabrik  (8, 7 %.

  11. Persepsi Masyarakat tentang Makam Raja dan Wali Gorontalo

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muhammad Rusli Ibrahim

    2016-06-01

    Full Text Available This study aims to elucidate community perception of royal cemetry and friends of God of Gorontalo by using an approach of phenomenlogy of religion. The result of research pointed out that cemetry was interpreted as a resting place of human kinds after realm. The purpose of cemetry pilgrimage also has a variety, such as, the place of religious excursion, the efficacious place for praying, the place to get blessing from God by invoking the remains, the place to recall the goodness of a hero and a carrier of Islam, the place to learn both of  the history and Ladunni. A conducting variant procession of visiting cemetry is divided into by self-praying and praying by a priets. Particular things brought for the cemetry of Sultan Amai are for graping the water believed to have a blessing whereas pilgrims, at Ju Pangola, bring bottled water placed before cemetry and prayed by priests and also take glebe to get grace. Boon for pilgrims is:  to get a grace of life with praying for the King and Friends of God, appreciate the kindness of Islamic spreaders and Islamic heroes, and to be a guidance of life that human beings will end and return to the God. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi masyarakat tentang makam raja dan wali Gorontalo dengan menggunakan pendekatan fenomenologi agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makam dimaknai sebagai tempat peristirahatan manusia setelah alam dunia. Adapun tujuan ziarah makam memiliki varian yakni: Makam sebagai tempat wisata religi; Tempat mustajab berdoa; Tempat untuk mendapatkan berkah dari Allah dengan mendoakan si mayit; Tempat untuk mengenang jasa pahlawan dan pembawa Islam; Tempat untuk belajar baik sejarah maupun ilmu Ladunni. Varian prosesi pelaksanaan ziarah kubur terbagi dua berdoa sendiri dan didoakan oleh imam. Adapun perlengkapan yang menyertai khususnya di makam Sultan Amai adalah mengambil air sumur yang diyakini memiliki berkah sedangkan di makam Ju Pangola adalah air mineral kemasan

  12. Componentes funcionales en aceites de pescado y de alga Functional components in fish and algae oils

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A. Conchillo

    2006-06-01

    Full Text Available Buena parte del desarrollo de nuevos alimentos funcionales está encaminada al descubrimiento o aplicación de componentes de los alimentos que favorezcan la instauración de un perfil lipídico saludable en el organismo. El objetivo del trabajo fue realizar la caracterización de la fracción lipídica de dos tipos de aceites, de pescado y de alga, para valorar su potencial utilización como ingredientes funcionales, tanto en relación con el contenido en ácidos grasos de alto peso molecular como con la presencia de esteroles y otros componentes de la fracción insaponificable. Ambos aceites presentaron una fracción lipídica muy rica en ácidos grasos poliinsaturados ω-3 de alto peso molecular, con un 33,75% en el caso del aceite de pescado y un 43,97% en el de alga, siendo el EPA el ácido graso mayoritario en el pescado y el DHA en el alga. La relación ω-6/ω-3 fue en ambos aceites inferior a 0,4. En cuanto a la fracciσn insaponificable, el aceite de alga presentσ un contenido 3 veces menor de colesterol y una mayor proporciσn de escualeno. El contenido en fitosteroles fue significativamente superior en el aceite de alga.An important area of the development of new functional foods is facussed on finding or applying food components which favour achieving a healthier lipid profile in the organism. The objective of this work was to carry out the characterisation of the lipid fraction of two oils, fish oil and algae oil, to evaluate their potential use as functional ingredients, in relation to the high molecular weight fatty acid content and the presence of sterols and other components of the unsaponificable fraction. Both oils showed a lipid fraction rich in high molecular weight polyunsaturated ω-3 fatty acids, containing a 33.75% in the fish oil and a 43.97% in the algae oil. Eicosapentaenoic acid was the major fatty acid in fish oil, whereas docosahexaenoic was the most abundant fatty acid in algae oil. The ω-6/ω-3 ratio was lower

  13. Pola Asuh Makan pada Balita dengan Status Gizi Kurang di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Kalimantan Tengah, Tahun 2011

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Merryana Adriani

    2013-12-01

    Full Text Available Latar belakang: Menurut UNICEF, penyebab secara langsung terjadinya kurang gizi pada balita, adalah konsumsi makanan balita yang tidak seimbang dan adanya penyakit infeksi, sedangkan faktor tidak langsung diantaranya adalahpola asuh balita. Metode: Desain penelitian dilakukan secara potong lintang. Penelitian dilakukan selama 10 bulan pada tahun 2011, di tiga provinsi yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah dan Kalimantan Tengah. Pengumpulan data dilakukan secara kuantitatif, dengan cara wawancara menggunakan kuesioner terstruktur pada ibu balita dengan status gizi bawah garis merah (BGM. Pengambilan sampel balita BGM dilakukan secara purposive, di masing-masing lokasi penelitian. Hasil: Sebagian besar (33,3% ibu balita mempunyai tingkat pendidikan sekolah dasar (SD, dan 26,7% tamat SMP dan SMA. Di kabupaten Sumenep terdapat 45,8% ibu balita berpendidikan tamat SD, sedangkan ibu balita tamat SMA di kota Semarang dan kabupaten Gunung Mas, berturut-turut sebanyak 38% dan 35,1%. Balita kurang gizi/BGM yang mempunyai ayah dengan tingkat pendidikan tidak tamat sekolah sebanyak 16,7% ada di kabupaten Sumenep, sedangkan di kota Semarang dan kabupaten Gunung Mas sebagian besar ayah balita berpendidikan tamat SMA yaitu sebanyak 44,8% dan 35,1%. Jenis penyakit yang sering diderita oleh balita kurang gizi/BGM & gizi buruk di 3 (tiga lokasi penelitian adalah demam/panas (68,9%, batuk/pilek sebanyak 15,6% dan diare/mencret sebesar 8,9%. Pola makan yang diberikan selain ASI pada anak usia 0–6 bulan meliputi madu, air tajin, susu formula, biskuit bayi, pisang yang dilembutkan, bubur susu, makanan lunak,nasi, sayur, ikan, telur, daging sapi, jajanan dan camilan, dengan alasan agar anak mau makan dan tidak menangis. Kesimpulan: Pola makan yang kurang tepat pada balita mengakibatkan inisiasi menyusu dini dan pemberianASI ekslusif tidak dapat diterapkan dengan baik dan benar.

  14. Photodegradation of Norfloxacin in aqueous solution containing algae

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    Junwei Zhang; Dafang Fu; Jilong Wu

    2012-01-01

    Photodegradation of Norfloxacin in aqueous solution containing algae under a medium pressure mercury lamp (15 W,λmax =365 nm) was investigated.Results indicated that the photodegradation of Norfloxacin could be induced by the algae in the heterogeneous algaewater systems.The photodegradation rate of Norfloxacin increased with increasing algae concentration,and was greatly influenced by the temperature and pH of solution.Meanwhile,the cooperation action of algae and Fe(Ⅲ),and the ultrasound were beneficial to photodegradation of Norfloxaciu.The degradation kinetics of Norfloxacin was found to follow the pseudo zero-order reaction in the suspension of algae.In addition,we discussed the photodegradation mechanism of Norfloxacin in the suspension of algae.This work will be helpful for understanding the photochemical degradation of antibiotics in aqueous environment in the presence of algae,for providing a new method to deal with antibiotics pollution.

  15. POROSITAS DAN PERMEABILITAS KOMPOSIT BERPORI DENGAN BAHAN DASAR LIMBAH KACA (CULT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    MI Savitri

    2014-11-01

    Full Text Available Komposit berpori dengan bahan dasar limbah kaca dan Polyethylen Glycol  (PEG telah dihasilkan dengan metode pencampuran sederhana. Pori pada komposit terbentuk akibat PEG yang menguap ketika dipanaskan pada temperature 700oC selama 2,5 jam. Variasi pori dihasilkan dengan mengatur komposisi PEG yaitu 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, dan 9%. Komposit berpori memiliki nilai porositas yang bertambah dengan kenaikan komposisi PEG. Komposit berpori memiliki porositas pada rentang 1% hingga 5% dan nilai permeabilitas komposit berpori yaitu (0.3-25x10-15 m2. Potensi komposit berpori sebagai filter air diujicobakan dengan mengalirkan limbah air sungai. Hasil pengujian diperoleh air dengan sifat fisis air bening dan tidak berbau, sehingga komposit berpori dari limbah kaca dapat menyaring air limbah.  {0>Komposit berpori dengan bahan dasar limbah kaca dan Polyethylen Glicol (PEG telah dihasilkan dengan metode pencampuran sederhana.<}0{>Porous composites from waste glass and Polyethylene Glycol (PEG have been synthesized by a simple mixing method.<0} {0>Pori pada komposit terbentuk akibat PEG yang menguap ketika dipanaskan pada temperature 700oC selama 2,5 jam.Variasi pori dihasilkan dengan mengatur komposisi PEG yaitu 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, dan 9%.Komposit berpori memiliki nilai porositas yang bertambah dengan kenaikan komposisi PEG.<}0{>The pores of the composite were formed due to the evaporation of PEG when heated at temperature of 700oC for 2.5 hours. The pore variation may be obtained by adjusting the PEG composition, i.e. 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, and 9%. The porous composites have higher porosity because of the PEG composition.<0} {0>Komposit berpori memiliki porositas pada rentang 1% hingga 5% dan nilai permeabilitas komposit berpori yaitu (0.3-25x10-15m2.Potensi komposit berpori sebagai filter air diujicobakan dengan mengalirkan limbah air sungai.<}0{>Mesoporous composites have porosity ranging from 1% to 5% and the permeability has value

  16. SUMBER DAN TERJADINYA ARSEN DI LINGKUNGAN (REVIEW

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sukar Sukar

    2012-11-01

    Full Text Available Arsenic is a ubiquitous element with metalloid properties. Its chemistry is complex and there are many different compounds of both organic and inorganic arsenic. In nature, it is widely distributed in rocks, soil and sediments. In water, arsenic occurs in both inorganic and organic forms. The main organic arsenics, methylarsenic  acid and dimethylarsenic. In air, particulate matters have been shown to contain both inorganic and organic arsenic compounds. Plants grown on soil, marine algae and seaweed usually also contain considerable amount of arsenic. In industries arsenic compounds are mainly used in agriculture and forestry. Much smaller amount is used in the glass and chemical industries as feet, additive and drugs. Arsenic can be a source of environmental pollution, near sites of coal burning and smelting of metals.   Keywords: Arsenic, the natural and environment  

  17. LINTASAN SEJARAH FILSAFAT PENDIDIKAN PERENIALISME DAN AKTUALISASINYA

    OpenAIRE

    2015-01-01

    Antara filsafat dan pendidikan terdapat kaitan yang erat. Filsafat memiliki aspek-aspek utama yang dapat dijadikan landasan bagi pendidikan. Aspek-aspek yang dimaksud adalah aspek-aspek metafisis, epistemologis, dan aksiologis. Aspek metafisis antara lain berkaitan dengan persoalan realitas yang tercermin pada bahan ajar, pengalaman dan keterampilan. Aspek epistemologis berkaitan dengan persoalan pengetahuan dan kebenaran, termasuk di dalamnya sumber belajar dan metode pembelajaran. Aspek aks...

  18. Singkatan Dan Akronim Dalam Chatting Di Internet

    OpenAIRE

    Hervina M. S.

    2010-01-01

    Penelitian ini menganalis pola singkatan dan akronim dalam chatting di internet. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pola singkatan dan akronim dalam chatting di internet dan mendeskripsikan pola singkatan dan akronim yang paling dominan digunakan dalam chatting di internet. Teori yang digunakan adalah singkatan, akronim, bahasa dalam chatting, sosiolinguistik. Pengumpulan data digunakan dengan metode simak, yaitu penyimakan terhadap penggunaan bahasa (Sudaryanto,1993:133), dan tekni...

  19. RESISTENSI AGAMA DAN BUDAYA MASYARAKAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    David Samiyono

    2013-12-01

    Interaksi antar etnis, agama dan budaya bukanlah barang langka di Bali. Sejak semula hal tersebut sudah ada, ketika pulau ini menjadi locus perdagangan hasil bumi. Sebab sesungguhnya kebudayaan Bali menjujung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi antar manusia dengan Tuhan (perhyangan, dengan sesama (pawongan dan dengan lingkungan (palemahan. Konsep ini disebut Tri hita karana. Bali kini berubah. Budayanya berorientasi pada jasa, yang berkait dengan industri pariwisata. Sikap orang Bali kini tidak lagi ramah dan harmoni. Akibat ledakan bom dalam bulan Oktober 2002 dan 2005, masyarakat lebih berhati-hati terhadap para pendatang. Ajeg Bali merupakan kearifan lokal –agama dan budaya– masyarakat Bali dalam rangka menanggulangi pengaruh luar yang mengakibatkan perubahan di berbagai bidang sehingga identitas kebalian mengalami degradasi. Ajeg Bali merupakan bentuk resistensi masyar­akat Bali dalam rangka membatasi pendatang dari luar Bali. Kajian ini berusaha untuk menjawab pertanyaan “apakah Ajeg Bali, sebuah kearifan lokal masyarakat Bali dapat membendung pengaruh budaya, agama dan ekonomi masyarakat Bali?”

  20. Pariisi-kiri / Aire Allikmets

    Index Scriptorium Estoniae

    Allikmets, Aire

    1997-01-01

    Fanny de Siversile pühendatud vastuvõtust College de France'i Sinises Salongis 27. märtsil 1997 ja temale pühendatud koguteosest 'Contacts de langues et de cultures dans l'aire Baltique' (koost. M. M. Jocelyne Fernendez ja Raimo Raag)

  1. KARAKTERISTIK KIMIA, FISIK DAN INDERAWI TEPUNG UBI JALAR UNGU (Ipomoea batatas Poiret DAN PRODUK OLAHANNYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ade Krisna Nindyarani

    2012-05-01

    Full Text Available The objectives of the research were to determine the chemical and physical characteristics of purple-flesh sweet potato flour as base of suitability for processed foods production, and to determine the acceptability of products by panelists. Cookies and pound cake were made by using purple-flesh sweet potato flour as raw material and using stages of process as follows: dough preparation, molding, shaping and baking. The results showed that purple-flesh sweet potato flour contain moisture 10.92 ± 0.09 % (db, protein 6.44 ± 0.27 % (db, starch 74.57 ± 0.32 % (db, amylose 24.79 ± 0.94 % (db, reducing sugar 3.15 ± 0.30 % (db, and crude fiber 2.40 ± 0.35 % (db. Peak viscosity at 65 oC was 6.17 dPa.s and setback viscosity was similar to the peak viscosity. Starch granules of purple-flesh sweet potato were  polygonal with size of 10-25 μm. The cookies made by using mixture of 25 % wheat flour and 75 % purple-flesh sweet potato flour, and pound cake made by using 100 % purple-flesh sweet potato flour were acceptable for panelists. Keywords: Purple-flesh sweet potato flour, cookies, pound cake   Abtrak Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik kimia dan fisik tepung ubi jalar ungu sebagai dasar penentuan kesesuaian untuk pembuatan pangan olahan berbasis tepung ubi jalar ungu serta untuk mengetahui tingkat penerimaan panelis. Tepung ubi jalar ungu diolah menjadi cookies dan pound cake mengikuti tahap penyiapan adonan, pencetakan, dan pemanggangan. Dilakukan uji inderawi cookies dan pound cake melalui uji kesukaan oleh panelis yang  meliputi parameter warna, aroma, cita-rasa, tekstur, dan kesukaan keseluruhan serta uji deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung ubi jalar ungu memiliki berturut-turut komponen kadar air 10,92 ± 0,09 % (bk, protein 6,44 ± 0,27 % (bk, pati 74,57 ± 0,32 % (bk, amilosa 24,79 ± 0,94 % (bk, gula reduksi 3,15 ± 0,30 % (bk, dan serat kasar 2,40 ± 0,35 % (bk. Viskositas puncak tepung ubi jalar

  2. FAUNA DAN TEMPAT PERKEMBANGBIAKAN POTENSIAL NYAMUK Anopheles spp DI KECAMATAN MAYONG, KABUPATEN JEPARA, JAWA TENGAH

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mardiana Mardiana

    2012-10-01

    Full Text Available Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di beberapa daerah pedesaan di Jawa Tengah. Usaha pemberantasan malaria telah dilakukan oleh program baik secara kimiawi maupun hayati, guna memutuskan rantai penularan. Penelitian fauna dan tempat perindukan potensial nyamuk Anopheles telah dilakukan di Desa Buaran, Kecamatan Mayong I, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Penangkapan nyamuk dengan umpan orang dilakukan di dalam dan di luar rumah pada malam hari dari pukul 18.00-24.00 yang masing-masing dilakukan oleh dua orang kolektor. Penangkapan nyamuk yang istirahat di dalam dan luar rumah (vegetasi pada pagi hari dilakukan pukul 06.00-08.00, yang dilakukan satu bulan 4 kali penangkapan selama 6 bulan. Pengambilan larva dan pupa dilakukan dari pukul 06.00-08.00 pagi di tempat genangan air dan sawah serta tempat yang potensial diduga sebagai perindukan Anopheles. Hasil penangkapan selama 6 bulan, diperoleh 1248 ekor nyamuk Anopheles yang terdiri dari 6 spesies yaitu: An. aconitus 442 ekor (35,42%, An. annularis 69 ekor (5,53% , An. barbirostris 30 ekor (2,4%, An. maculatus 2 ekor (0,16%, An. tesselatus 5 ekor (0,40% dan An. vagus 700 ekor (56,09%. Populasi aconitus ditemukan dari penangkapan di luar rumah, pada bulan Juli (56,40%, Agustus (42,80% dan Oktober (39,50% sedangkan pada bulan Mei (52,9%, Juni (44% dan September (50,40% dari penangkapan di kandang sapi. Pengambilan larva dan pupa Anopheles dilakukan di tempat habitat seperti sawah yang pada bulan Aguslus terbanyak ditemukan sebesar 85 (1.70, di sungai ditemukan hanya 4 (0.08 serta di genangan air bekas telapak kaki/kobokan ditemukan sebesar 6 (0.12. Ternyata tempat perindukan yang potensial larva Anopheles pada musim kemarau, ditemukan pada sungai yang ditanami kangkung oleh masyarakat selempat. Kata kunci: Fauna, tempat perindukan, Anopheles, vector

  3. Les AOC dans la mondialisation

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jean-Claude Hinnewinkel

    2004-12-01

    Full Text Available Fruit du conflit plusieurs fois séculaire entre les producteurs et le négoce, le terroir vitivinicole est né de phénomènes de « distinction » qui en Bordelais donnent les « crus ». Ces terroirs de production identifiés, il fallut les faire durer, face à conjoncture, face au négoce. Les réussites les plus nettes sont le résultat d’un projet collectif dont l’AOC à la française est l’une des plus spectaculaires. Renforcer le terroir, compris comme un espace de production géré par les producteurs, devient alors une des conditions essentielles de la durabilité du système. L’avenir des AOC réside sans doute dans une meilleure gestion du conflit négoce/production par l’interprofession mais aussi (surtout ! dans un renforcement de la gestion de la production au sein de l’aire de production qu’est le terroir. L’avenir du terroir relève de la gouvernance de cette aire de production avec trois partenaires : la puissance publique (INAO, l’interprofession et le syndicat des producteurs. Se pose dès lors la question du partage des compétences et la durabilité des AOC paraît liée en grande partie à une définition claire du rôle et donc du statut des syndicats de producteurs, à une véritable gouvernance locale, seule capable de donner du sens à l’ancrage géographique des vins dits de « terroir ». Mais alors ne faut-il pas impliquer un troisième partenaire, la société locale toute entière à travers ses représentations démocratique et associative ?Resulting from century-long conflicts between producers and merchants, vineyards have developped out of "distinction" phenomenons which in the Bordeaux region gave birth to "crus" (vintages. Such identified terroirs had to be defended: the French collective AOC (Denomination of Origin project is one of the most spectacular success. The terroir, as production territory organized by producers, is one of the essential conditions for sustainability

  4. Kitab kuning dan perempuan, perempuan dan kitab kuning

    NARCIS (Netherlands)

    Bruinessen, M.M. van

    2007-01-01

    Kitab Kuning dan Emansipasi Perempuan: Konflik Budaya? Pengamatan-pengamatan Masdar mengenai kedudukan perempuan dalam diskursus (wacana, bahasan) dominan kitab kuning terasa tidak enak didengar tetapi memang sulit dibantah. Baik dalam penggunaan bahasa (yang sangat memihak kepada jenis mudzakkar) m

  5. Pengaruh pemberian pakan berupa campuran pelet ikan, ulat tepung (Tenebrio molitor, dan ganggang merah (Gracilaria foliifera terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan ikan sidat (Anguilla bicolor

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    MUHAMMAD A. AZIZ HENDITAMA

    2015-05-01

    Full Text Available Henditama MAA, Harini M, Budiharjo A. 2015. The effect of giving mixtured feed of fish pellet, mealworm (Tenebrio molitor and red algae (Gracilaria foliifera to the growth and survival rate of eel (Anguilla bicolor. Bioteknologi 12: 22-28. High demand of eels (Anguilla bicolor in the world has not followed by the capability of domestic production. The purpose of this research are to determine the effect and the precise composition of the feed mixture in the form of fish pellets, mealworms (Tenebrio molitor, red algae (Gracilaria foliifera to the growth and survival rate of eels. This research used completely randomized design with four variations of mixtured feed in the form of fish pellet, mealworms, and red algae specifically P1 (100% ; 0% ; 0%, P2 (75% ; 20% ; 5%, P3 (50% ; 45% ; 5%, P4 (25% ; 70% ; 5%. This research also has been done in 90 days with feeding in twice a day. The data of growth, survival rate, and water quality was collected once a week. The data result has been analized by ANOVA. The data result showed that have a real different to continue to the next analysis of DMRT with test level 5% to locate the differences between treatments. The eels growth after feeding a mixture feed in the form of fish pellets, mealworms, and red alga, specifically: P1 (K 26.3167 gram; P2 20.3167 gram; P3 28.2500 gram; and P4 22.0000 gram. The eels survival rate, specifically P1 (K 26.67%; P2 33.33%; P3 30%; dan P4 26.67%. Furthemore, the exact composition that give the best effect of growth and survival rate to eels is 50% fish pellets, 45% mealworms and 5% red alga.

  6. Estimasi Dosis Alumunium Sulfat pada Proses Penjernihan Air Menggunakan Metode Genetic Algorithm

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Meilinda Ayundyahrini

    2013-09-01

    Full Text Available Kualitas air minum tergantung dari kekeruhan dan pH. Proses koagulasi merupakan proses utama penjernihan air yang bertujuan untuk mengikat partikel-partikel dalam air menggunakan koagulan. Hubungan kualitas air dan dosis membentuk kurva U sehingga dosis optimum merupakan titik minimum dari kurva. Ketika pemberian dosis tidak tepat maka bisa merusak kualitas air itu sendiri. Metode yang digunakan untuk mencari dosis minimum adalah Algoritma Genetika dengan tahapan meliputi normalisasi data, stratifikasi, inialisasi populasi, evaluasi individu, seleksi turnamen, pindah silang, mutasi, dan elitisme. Persamaan least square error dan kesalahan sesaat digunakan sebagai persamaan fitness. Pencarian persamaan optimum dibagi menjadi dua musim, yaitu musim kemarau dan penghujan. Musim kemarau, persamaan optimum didapat dengan mengelompokkan data menjadi tiga kelompok waktu menggunakan persamaan kesalahan sesaat. Sedangkan pada musim penghujan, persamaan optimum didapatkan melalui pengelompokan data menjadi tiga golongan terhadap kekeruhan menggunakan persamaan kesalahan sesaat. Hasil simulasi menunjukkan jika data estimasi dosis mampu mengikuti data dosis tawas perusahaan.

  7. Automation on computer of the partial area method in the analysis of resonances induced by 'S' neutrons 2. with an interference term and extension of the method to the treatment of multi resonances (1963); Automatisation sur ordinateur de la methode des aires partielles dans l'analyse des resonances induites par les neutrons ''S''. 2, avec terme d'interference et extension de la methode au traitement des multiresonances (1963)

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Bianchi, G.; Corge, C.R. [Commissariat a l' Energie Atomique, Saclay (France). Centre d' Etudes Nucleaires

    1963-07-01

    This report deals with the numerical analysis on an I.B.M. 7090 computer of transmission resonances induced by 's' wave neutrons in time of flight experiments. The analysis method used is the partial area one. In this second part the interference term is taken into account. Modifications have been made in the programs and subroutines described in the first part, to determine the resonant transmissions from experimental raw data, and the relating partial areas. Also programs and subroutines are thoroughly described, which estimate the resonance parameters. The field of the partial area method has been extended to cover the case where several resonances have to be treated simultaneously, provided they do not interfere. (authors) [French] Le pretent rapport a pour objet l'analyse numerique sur ordinateur I.B.M. 7090 des resonances dues aux neutrons ''s'' dans les experiences de transmission par temps de vol, la methode d'analyse utilisee etant la methode dea aires partielles. Dans cette deuxieme partie il a ete tenu compte du terme d'interference. On y trouvera une description des amenagements apportes aux programmes et sous-programmes decrits dans la premiere partie pour determiner les transmissions interfero-resonnantes a partir des donnees experimentales brutes et les aires partielles afferentes. Sont egalement decrits les programmes et sous-programmes necessaires au calcul des parametres caracteristiques des resonances. Le domaine d'application de la methode a ete etendu au traitement simultane de plusieurs resonances groupees n'interferant pas entre elles. (auteurs)

  8. Perancangan dan Analisis Redistribution Routing Protocol OSPF dan EIGRP

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    DWI ARYANTA

    2016-02-01

    Full Text Available Abstrak OSPF (Open Shortest Path First dan EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol adalah dua routing protokol yang banyak digunakan dalam jaringan komputer. Perbedaan karakteristik antar routing protokol menimbulkan masalah dalam pengiriman paket data. Teknik redistribution adalah solusi untuk melakukan komunikasi antar routing protokol. Dengan menggunakan software Cisco Packet Tracer 5.3 pada penelitian ini dibuat simulasi OSPF dan EIGRP yang dihubungkan oleh teknik redistribution, kemudian dibandingkan kualitasnya dengan single routing protokol EIGRP dan OSPF. Parameter pengujian dalam penelitian ini adalah nilai time delay dan trace route. Nilai trace route berdasarkan perhitungan langsung cost dan metric dibandingkan dengan hasil simulasi. Hasilnya dapat dilakukan proses redistribution OSPF dan EIGRP. Nilai delay redistribution lebih baik 1% dibanding OSPF dan 2-3% di bawah EIGRP tergantung kepadatan traffic. Dalam perhitungan trace route redistribution dilakukan 2 perhitungan, yaitu cost untuk area OSPF dan metric pada area EIGRP. Pengambilan jalur utama dan alternatif pengiriman paket berdasarkan nilai cost dan metric yang terkecil, hal ini terbukti berdasarkan perhitungan dan simulasi. Kata kunci: OSPF, EIGRP, Redistribution, Delay, Cost, Metric. Abstract OSPF (Open Shortest Path First and EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol are two routing protocols are widely used in computer networks. Differences between the characteristics of routing protocols pose a problem in the delivery of data packets. Redistribution technique is the solution for communication between routing protocols. By using the software Cisco Packet Tracer 5.3 in this study were made simulating OSPF and EIGRP redistribution linked by technique, then compared its quality with a single EIGRP and OSPF routing protocols. Testing parameters in this study is the value of the time delay and trace route. Value trace route based on direct calculation of cost

  9. Karakteristik Edible Film Pati Sagu Alami dan Pati Sagu Fosfat dengan Penambahan Gliserol (Characteristics of Edible Film from Native and Phosphate Sago Starches with the Addition of Glycerol

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Febby Jeanry Polnaya

    2016-12-01

    Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh penambahan beberapa konsentrasi gliserol pada pembuatan edible film dari pati sagu alami dan pati sagu fosfat terhadap sifat fisik, mekanik dan barrier film. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap yang terdiri dari dua faktor yaitu perlakuan jenis pati sagu dengan dua taraf perlakuan yaitu: pati sagu alami dan pati sagu fosfat dan tiga taraf konsentrasi gliserol yaitu: 0,5, 1,0 dan 1,5 % (b/b. Peubah yang diamati adalah tensile strength¸ elongasi, daya larut, transparansi, dan laju transmisi uap air. Karakteristik edible film yang dihasilkan meliputi tensile strength adalah 3,05 - 31,49 MPa, elongasi 3,03 - 20,94 %, daya larut 33,44 - 42,43 %, transparansi 0,59 - 4,14 %, dan laju transmisi uap air 7,76 - 15,80 g/m2.jam. Penambahan gliserol menyebabkan elongasi, daya larut, dan laju transmisi uap air meningkat, tetapi tensile strength dan transparansinya menurun. Perlakuan pati sagu fosfat hanya menyebabkan daya larut film meningkat, tetapi tidak untuk sifat-sifat film lainnya. Kata kunci: Edible film; gliserol; pati sagu alami; pati sagu fosfat

  10. Algae-Derived Dietary Ingredients Nourish Animals

    Science.gov (United States)

    2015-01-01

    In the 1980s, Columbia, Maryland-based Martek Biosciences Corporation worked with Ames Research Center to pioneer the use of microalgae as a source of essential omega-3 fatty acids, work that led the company to develop its highly successful Formulaid product. Now the Nutritional Products Division of Royal DSM, the company also manufactures DHAgold, a nutritional supplement for pets, livestock and farm-raised fish that uses algae to deliver docosahexaenoic acid (DHA).

  11. Cytoskeleton and Early Development in Fucoid Algae

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    2007-01-01

    Cell polarization and asymmetric cell divisions play important roles during development in many multicellular eukaryotes.Fucoid algae have a long history as models for studying early developmental processes, probably because of the ease with which zygotes can be observed and manipulated in the laboratory. This review discusses cell polarization and asymmetric cell divisions in fucoid algal zygotes with an emphasis on the roles played by the cytoskeleton.

  12. Flavonoids from the Red Alga Acanthophora spicifera

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    ZENG Long-Mei(曾陇梅); 曾陇梅; WANG Chao-Jie(王超杰); 王超杰; SU Jing-Yu(苏镜娱); 苏镜娱; LI Du(李笃); 李笃; OWEN Noel L.; OWEN Noel L; LU Yang(吕扬); 吕扬; LU Nan(鲁南); 鲁南; ZHENG Qi-Tai(郑启泰); 郑启泰

    2001-01-01

    Two new flavonoids, acanthophorin A (1) and acanthophorin B (2), along with three known compounds tiliroside (3),( - )-catechin (4) and quercetin (5) were isolated from the red alga Acanthophora spicifera. The structures of 1 and 2were determined to be kaempferol 3-O-α-L-fucopyranoside (1) and quercetin 3-O-α-L-fucopyranoside (2) by spectroscopic methods. Both 1 and 2 showed significant anfioxidant activity.

  13. Selenium Uptake and Volatilization by Marine Algae

    Science.gov (United States)

    Luxem, Katja E.; Vriens, Bas; Wagner, Bettina; Behra, Renata; Winkel, Lenny H. E.

    2015-04-01

    Selenium (Se) is an essential trace nutrient for humans. An estimated one half to one billion people worldwide suffer from Se deficiency, which is due to low concentrations and bioavailability of Se in soils where crops are grown. It has been hypothesized that more than half of the atmospheric Se deposition to soils is derived from the marine system, where microorganisms methylate and volatilize Se. Based on model results from the late 1980s, the atmospheric flux of these biogenic volatile Se compounds is around 9 Gt/year, with two thirds coming from the marine biosphere. Algae, fungi, and bacteria are known to methylate Se. Although algal Se uptake, metabolism, and methylation influence the speciation and bioavailability of Se in the oceans, these processes have not been quantified under environmentally relevant conditions and are likely to differ among organisms. Therefore, we are investigating the uptake and methylation of the two main inorganic Se species (selenate and selenite) by three globally relevant microalgae: Phaeocystis globosa, the coccolithophorid Emiliania huxleyi, and the diatom Thalassiosira oceanica. Selenium uptake and methylation were quantified in a batch experiment, where parallel gas-tight microcosms in a climate chamber were coupled to a gas-trapping system. For E. huxleyi, selenite uptake was strongly dependent on aqueous phosphate concentrations, which agrees with prior evidence that selenite uptake by phosphate transporters is a significant Se source for marine algae. Selenate uptake was much lower than selenite uptake. The most important volatile Se compounds produced were dimethyl selenide, dimethyl diselenide, and dimethyl selenyl sulfide. Production rates of volatile Se species were larger with increasing intracellular Se concentration and in the decline phase of the alga. Similar experiments are being carried out with P. globosa and T. oceanica. Our results indicate that marine algae are important for the global cycling of Se

  14. Perawatan Pergeseran Mandibula dan Kliking Menggunakan Teknik Edgewise dan Trainer

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rully Utami

    2014-06-01

    Full Text Available Kasus ini terjadi pada perempuan usia 22 tahun yang bersedia dipublikasikan untuk kepentingan  ilmu pengetahuan. Keluhan utama mandibula dan dagunya bergeser ke kanan, gigitan terbuka posterior dan bunyi click di persendian temporomandibular. Diagnosis pasien adalah maloklusi Angle kelas III tipe dento skeletal, pergeseran garis tengah mandibula dan dagu ke kanan, gigitan terbuka posterior dan clicking pada sendi temporomandibular. Perawatan dilakukan dengan teknik Edgewise dan trainer. Leveling dan unraveling dilakukan menggunakan kawat stainless steel bulat diameter 0,014 mm dengan multiloop. Trainer digunakan untuk koreksi pergeseran mandibula. Perawatan dilakukan selama 11 bulan, dan menunjukkan hasil hubungan molar pertama kanan menjadi kelas I. Overjet meningkat dari 0,1 mm menjadi 2 mm, overbite meningkat dari 0,2 mm menjadi 2,57 mm, garis tengah mandibula yang semula bergeser ke kanan 4,38 mm menjadi 2,53 mm, gigitan terbuka posterior dan clicking telah terkoreksi. Compromised Treatment of Class III Malocclusion with Mandibular Shifting, Posterior Openbite and Clicking Using Edgewise Technique and Trainer In Adult. This case report described the treatment of an adult female 22 years old who complained that her mandibula and chin shift to the right, posterior openbite and clicking. The patient diagnosed class III molar relationship, skeletal class III malocclusion, mandibular midline and chin shift to the right, posterior openbite and clicking on temporomandibular joint. Treatment was conducted using combination between  Edgewise Technique and trainer.  Leveling and unraveling are achieved by round stainless steel archwire 0,014 mm with multiloop. Trainer used to corrected the mandibular shifting. Result after 1 years treatment showed that the right molar relationship became class I, overjet increased  from 0,1 mm to 2 mm, overbite increased  from 0,2 mm to 2,57 mm, mandibular midline shifting decresed from 4,38 mm to 2,53 mm

  15. PERKEMBANGAN TELUR DAN SPERMA INDUK IKAN BELIDA, Notopterus chitala YANG DIPELIHARA DI KOLAM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anang Hari Kristanto

    2016-12-01

    Full Text Available Penelitian pengamatan telur dan sperma induk ikan belida (Notopterus chitala yang dipelihara di kolam telah dilakukan dari bulan Agustus 2006—Maret 2007. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan telur dan sperma induk ikan belida yang dipelihara di kolam. Induk ikan belida dipelihara di kolam dengan pola induk betina saja, induk jantan saja, induk betina dan induk jantan secara bersama. Pengukuran dilakukan terhadap suhu harian, curah hujan, dan konduktivitas selama pemeliharaan serta melihat pengaruhnya terhadap perkembangan telur dan jumlah sperma serta motilitasnya. Selama pengamatan tujuh bulan, peningkatan curah hujan menyebabkan perubahan suhu dan konduktivitas air kolam pemeliharaan dan mempengaruhi jumlah spermatozoa dan motilitasnya demikian juga terhadap perkembangan telurnya. Induk jantan yang dipelihara secara terpisah, setiap bulannya dijumpai induk matang, sedangkan yang dicampur, pada bulan Februari dan Maret tidak dijumpai sperma matang. Pada induk betina baik yang terpisah maupun dicampur, bulan Februari dan Maret tidak dijumpai induk matang. Research on eggs and sperm development of featherback (Notopterus chitala reared in earthen pond was conducted during August 2006—March 2007. The aim of the research was to observe the eggs and sperm development. Featherback broodstocks were reared in ponds as female only, male only, and female and male broodstock together. Measurement was done on the daily water temperature, conductivity and amount of rainfall during rearing period and also was obseved the eggs development and amount of sperms and their motilities. During the seven months of rearing, increasing the rainfall caused the alteration of temperature and conductivity of pond water. They influenced the amount of sperm and their motility and so did the eggs development. The males broodstock in separated rearing, each month was found matured sperm, while in mixed rearing, on Februari and March was not found. In

  16. PERBEDAAAN PADAT TEBAR TERHADAP TINGKAT PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP POST PEURULUS LOBSTER PASIR (Panulirus homarus PADA BAK TERKONTROL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nunik Cokrowati

    2012-10-01

    Full Text Available Prospek budidaya Panulirus homarus menjanjikan dari segi ekonomi dan keadaan alam di wilayah NTB serta merupakan spesies komoditi ekspor utama di Indonesia.Potensi akuakultur lobster pasir tentunya membutuhkan teknik budidaya yang sesuai agar mendapatkan hasil yang optimal.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan padat tebar terhadap pertumbuhan dan nilai Survival rate (SR serta untuk mengetahui padat tebar yang dapat menghasilkan pertumbuhan dan nilai SR optimum post puerulus Panulirus homarus.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL dengan faktor tunggal yaitu padat tebar dengan densitas 20 ekor/m2, 40 ekor/m2, 60 ekor/m2, dan 80 ekor/m2. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan spesifik dan kelangsungan hidup (SR post puerulus Panulirus homarus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan perbedaan padat tebar berpengaruh (P<0,05 terhadap pertumbuhan spesifik dan kelangsungan hidup (SR post puerulus Panulirus homarus. Nilai SGR dan SR tertinggi terdapat pada kepadatan 20 ekor/m2 sebesar 2,15425% dengan nilai SR 75%, dengan kualitas air sebagai faktor pembatas dengan nilai rata-rata pH 7,2, suhu 26,930 C, salinitas 34,4 ppt dan DO 5,86 mg/l nilai tersebut dalam batas toleransi  sebagai kehidupan biota air khususnya  lobster pasir. Kata kunci : Panulirus homarus, padat tebar, survival rate

  17. [Pharmacology and toxicology of Spirulina alga].

    Science.gov (United States)

    Chamorro, G; Salazar, M; Favila, L; Bourges, H

    1996-01-01

    Spirulina, a unicellular filamentous blue-green alga has been consumed by man since ancient times in Mexico and central Africa. It is currently grown in many countries by synthetic methods. Initially the interest in Spirulina was on its nutritive value: it was found almost equal to other plant proteins. More recently, some preclinical testing suggests it has several therapeutic properties such as hypocholesterolemic, immunological, antiviral and antimutagenic. This has led to more detailed evaluations such as nucleic acid content and presence of toxic metals, biogenic toxins and organic chemicals: they have shown absence or presence at tolerable levels according to the recommendations of international regulatory agencies. In animal experiments for acute, subchronic and chronic toxicity, reproduction, mutagenicity, and teratogenicity the algae did not cause body or organ toxicity. In all instances, the Spirulina administered to the animals were at much higher amounts than those expected for human consumption. On the other hand there is scant information of the effects of the algae in humans. This area needs more research.

  18. Screening for bioactive compounds from algae.

    Science.gov (United States)

    Plaza, M; Santoyo, S; Jaime, L; García-Blairsy Reina, G; Herrero, M; Señoráns, F J; Ibáñez, E

    2010-01-20

    In the present work, a comprehensive methodology to carry out the screening for novel natural functional compounds is presented. To do that, a new strategy has been developed including the use of unexplored natural sources (i.e., algae and microalgae) together with environmentally clean extraction techniques and advanced analytical tools. The developed procedure allows also estimating the functional activities of the different extracts obtained and even more important, to correlate these activities with their particular chemical composition. By applying this methodology it has been possible to carry out the screening for bioactive compounds in the algae Himanthalia elongata and the microalgae Synechocystis sp. Both algae produced active extracts in terms of both antioxidant and antimicrobial activity. The obtained pressurized liquid extracts were chemically characterized by GC-MS and HPLC-DAD. Different fatty acids and volatile compounds with antimicrobial activity were identified, such as phytol, fucosterol, neophytadiene or palmitic, palmitoleic and oleic acids. Based on the results obtained, ethanol was selected as the most appropriate solvent to extract this kind of compounds from the natural sources studied.

  19. Environmental life cycle comparison of algae to other bioenergy feedstocks.

    Science.gov (United States)

    Clarens, Andres F; Resurreccion, Eleazer P; White, Mark A; Colosi, Lisa M

    2010-03-01

    Algae are an attractive source of biomass energy since they do not compete with food crops and have higher energy yields per area than terrestrial crops. In spite of these advantages, algae cultivation has not yet been compared with conventional crops from a life cycle perspective. In this work, the impacts associated with algae production were determined using a stochastic life cycle model and compared with switchgrass, canola, and corn farming. The results indicate that these conventional crops have lower environmental impacts than algae in energy use, greenhouse gas emissions, and water regardless of cultivation location. Only in total land use and eutrophication potential do algae perform favorably. The large environmental footprint of algae cultivation is driven predominantly by upstream impacts, such as the demand for CO(2) and fertilizer. To reduce these impacts, flue gas and, to a greater extent, wastewater could be used to offset most of the environmental burdens associated with algae. To demonstrate the benefits of algae production coupled with wastewater treatment, the model was expanded to include three different municipal wastewater effluents as sources of nitrogen and phosphorus. Each provided a significant reduction in the burdens of algae cultivation, and the use of source-separated urine was found to make algae more environmentally beneficial than the terrestrial crops.

  20. Electro-coagulation-flotation process for algae removal.

    Science.gov (United States)

    Gao, Shanshan; Yang, Jixian; Tian, Jiayu; Ma, Fang; Tu, Gang; Du, Maoan

    2010-05-15

    Algae in surface water have been a long-term issue all over the world, due to their adverse influence on drinking water treatment process as well as drinking water quality. The algae removal by electro-coagulation-flotation (ECF) technology was investigated in this paper. The results indicated that aluminum was an excellent electrode material for algae removal as compared with iron. The optimal parameters determined were: current density=1 mA/cm(2), pH=4-7, water temperature=18-36 degrees C, algae density=0.55 x 10(9)-1.55 x 10(9) cells/L. Under the optimal conditions, 100% of algae removal was achieved with the energy consumption as low as 0.4 kWh/m(3). The ECF performed well in acid and neutral conditions. At low initial pH of 4-7, the cell density of algae was effectively removed in the ECF, mainly through the charge neutralization mechanism; while the algae removal worsened when the pH increased (7-10), and the main mechanism shifted to sweeping flocculation and enmeshment. The mechanisms for algae removal at different pH were also confirmed by atomic force microscopy (AFM) analysis. Furthermore, initial cell density and water temperature could also influence the algae removal. Overall, the results indicated that the ECF technology was effective for algae removal, from both the technical and economical points of view.

  1. KONSEP DAN PRAKTIK PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI AMERIKA SERIKAT DAN INDONESIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Juju Masunah

    2011-11-01

    Full Text Available Abstract: Concepts and Practices of Multi Cultural Education in the United States and in Indonesia. The purpose of this article is to discuss multicultural education consepts and practices in the U.S.A and its application to Indonesia. Data is based on a case study research of two dance educators who implemented multicultural education concept in Columbus, Ohio in year 2007. The result of this research is that two dance educators teach students equally by developing a curriculum and pedagogy that face democracy for all students. This concept and practice is possible to be applied to dance education in Indonesia. Abstrak: Konsep dan Praktik Pendidikan Multikultural di Amerika Serikat dan Indonesia. Tujuan artikel ini adalah untuk mendiskusikan konsep dan praktik pendidikan multikultural di Amerika Serikat dan Indonesia. Data-data diperoleh dari hasil penelitian studi kasus dua orang pendidik tari di Columbus, Ohio yang menerapkan konsep pendidikan multikultural dalam pembelajaran tari pada tahun 2007. Peneli­tian ini menyimpulkan bahwa dua guru tari tersebut memberi perlakuan yang sama dan adil terhadap se­mua siswa dengan cara yang demokratis dengan memperhatikan keberagaman dan keperbedaan siswa. Cara-cara ini sangat memungkinkan untuk diaplikasikan dalam pendidikan tari di Indonesia.

  2. KELEBIHAN ASUPAN IODIUM YANG KRONIK PADA IBU MENYUSUI DAN BAYINYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Djoko Kartono

    2015-04-01

    . Di Kabupaten Demak, median ekskresi iodium urin (EIU sangat tinggi namun belum ada informasi tentang gangguan tiroid penduduknya. Melakukan analisis status iodium ibu menyusui dan bayinya dan sumber utama iodium. Sampel adalah ibu menyusui dan bayi umur <6 bulan. Data yang dikumpulkan meliputi EIU dari urin sesaat, thyroid stimulating hormone (TSH dan free thyroxine (fT4 serum ibu menyusui dan darah bayi, iodium air susu ibu (ASI, iodium garam dan air minum. Median EIU ibu menyusui dan bayi adalah 1040 dan 1995 μg/L. Tidak ada ibu menyusui maupun bayi mempunyai EIU <100 μg/L, namun, proporsi EIU >500 μg/L adalah 66,9 persen dan 90,8 persen. Median kadar iodium ASI adalah 850 μg/L dan sebanyak 4,2 persen mempunyi iodium ASI <120 μg/L. Rata-rata TSH ibu menyusui dan bayi adalah 1,49+0,99 dan 11,25+3,94 μIU/mL. Proporsi TSH <0,3 μIU/mL ibu menyusui adalah 10,2 persen tapi tidak ada TSH>6,2 μIU/mL. Sementara itu, tidak ada bayi mempunyai TSH <0,7 μIU/mL tetapi 3,1 persen mempunyai TSH >34,0 μIU/mL. Rata-rata fT4 ibu menyusui adalah 1,04+0,26 μmol/L. Proporsi fT4 <0,8 μmol/L adalah 11,5 persen dan tidak ada yang mempunyai fT4 > 2,0 μmol/L. Rata-rata iodium garam rumah tangga adalah 30,0+20,8 ppm (rentang: 7,1- 78,3 ppm. Sementara itu, median iodium air minum adalah 650 μg/L (rentang: 50-1791 μg/L. Asupan iodium ibu menyusui dan bayinya, dari air minum, adalah sangat tinggi. Pada ibu menyusui ada risiko hipertiroidisme subklinik maupun hipertiroidisme. Sebaliknya, ada risiko hipotiroidisme pada bayi umur < 6 bulan. [Penel Gizi Makan 2013, 36(2:103-112]Kata kunci: kelebihan iodium, status iodium, ibu menyusui, bayi, garam, air

  3. FORMULASI DAN STABILITAS MIKROEMULSI O/W SEBAGAI PEMBAWA FUCOXANTHIN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lutfi Suhendra

    2013-03-01

    Full Text Available FORMULASI DAN STABILITAS MIKROEMULSI O/W SEBAGAI PEMBAWAFUCOXANTHIN Formulation and Stability of O/W Microemulsion as Fucoxanthin Delivery Lutfi Suhendra, Sri Raharjo, Pudji Hastuti, Chusnul Hidayat ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh mikroemulsi minyak dalam air (o/w yang mengandung fucoxanthinyang stabil dan jernih untuk diaplikasikan dalam sistem makanan aqueous. Virgin coconut oil (VCO digunakansebagai fase minyak dan kombinasi Tween 80, Tween 20 dan Span 80 sebagai surfaktan non ionik yang masingmasingmempunyai nilai HLB (Hydrophilic-Lipophilic Balance tinggi, medium dan rendah. Formulasi mikroemulsio/w ditentukan nilai HLB akhir masing-masing 13,5; 14, dan 14,5. Masing-masing nilai HLB tersebut ditentukan tigaformula yang berbeda. Semua formulasi mikroemulsi kemudian dipanaskan dalam oven pada suhu 105 oC selama 5jam, disentrifugasi pada kecepatan 4500 rpm selama 30 menit, diinkubasi pada pH yang berbeda (3,5; 4,5 dan 6,5,diencerkan dengan akuades dan stabilitas diuji secara fotooksidasi. Mikroemulsi paling stabil selanjutnya dipilih dandigunakan untuk pembawa fucoxanthin sebagai antioksidan hidrofobik dalam sistem aqueous. Fotooksidasi ditentukandengan menempatkan mikroemulasi di bawah sinar ß ouresensi 4000 lux selama 4 jam pada suhu ruang. Angkaperoksida diukur setiap jam menggunakan metode feri thiosianat. Mikroemulsi o/w yang stabil diperoleh pada HLB14,5 dengan rasio minyak : surfaktan = 3 : 17 dan rasio minyak + surfaktan : air = 35 : 65. Rasio Tween 80 : Tween 20: Span 80 adalah 92.0 : 2.5 : 5.5. Mikroemulsi fucoxanthin yang diperoleh stabil pada pH 3,5 sampai 6,5 dan bahkansetelah perlakuan pemanasan, sentrifugasi dan pengenceran. Namun angka peroksida meningkat selama fotooksidasi.Fucoxanthin dalam mikroemulasi lebih dari 12 ppm tidak efektif untuk menghambat fotooksidasi dalam mikroemulsio/w.Kata kunci: Mikroemulsi, fucoxanthin, fotooksidasi, surfaktan ABSTRACT The objective of this study was to obtain a clear

  4. ANALISIS JENIS, JUMLAH, DAN MUTU GIZI KONSUMSI SARAPAN ANAK INDONESIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fachruddin Perdana

    2013-11-01

    paling banyak dikonsumsi selama sarapan adalah air putih, teh, susu, kopi, dan sirup. Makanan yang dikonsumsi dengan rata-rata lebih dari 5 g/hari selama sarapan adalah nasi, kangkung, telur ayam, ikan, tempe, dan mie instan. Minuman yang dikonsumsi dengan rata-rata lebih dari 15 mL/hari selama sarapan adalah air putih, teh, dan susu. Hanya 10.6% dari sarapan anak yang mencukupi asupan energi>30%.Kata kunci: anak-anak, jenis sarapan, jumlah sarapan, mutu gizi pangan sarapan, sarapan

  5. PRAKTIK PEMBERIAN MAKANAN PADA BAYI DI BOGOR DAN FAKTOR-FAKTOR SOSIAL BUDAYA YANG MEMPENGARUHI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Arnelia Arnelia

    2012-11-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian di daerah perkotaan dan pedesaan Ciomas di Kabupaten Bogor, untuk mempelajari praktek pemberian makanan pada bayi serta faktor sosial budaya yang mempengaruhi dengan menggunakan metoda Rapid Assesment Procedures (RAP. Sampel penelitian adalah ibu-ibu yang mempunyai bayi umur (13-18 bulan, kader Posyandu, dukun bayi dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukan bahwa makanan pralaktasi berupa madu dan air putih, biasa diberikan kepada bayi baru lahir di kedua desa. Bayi di daerah perkotaan sudah diberi ASI sejak berusia sehari, sedangkan di pedesaan umumnya pada hari ke empat karena ASI pada tiga hari pertama dianggap kotor dan biasanya dibuang. Pemberian makanan tambahan dimulai pada usia terlalu dini, yaitu rata-rata usia dua minggu di pedesaan dan satu bulan di perkotaan. Sebaliknya pemberian sayuran hijau dan protein hewani umumnya terlambat. Sayuran hijau baru diberikan setelah usia sembilan bulan di perkotaan, dan setelah 18 bulan di pedesaan. Protein hewani umumnya baru mulai diberikan setelah bayi berusia 12 bulan. Bahkan di daerah pedesaan, jenis ikan basah baru diberikan setelah anak berusia tiga tahun.

  6. SINTESIS DAN KARAKTERISASI MEMBRAN KITOSAN UNTUK APLIKASI SENSOR DETEKSI LOGAM BERAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Agung Nugroho CS

    2011-11-01

    Full Text Available Penelitian tentang pemanfaatan membran kitosan sebagai sensor deteksi logam berat berdasarkan sifat optic belum pernah dilaporkan. Penelitian ini melaporkan kajian tentang sintesis membrane kitosan untuk diaplikasikan sebagai sensor deteksi logam berat berdasarkan sifat optic. Sebagai laporan awal, pada artikel ini baru akan dilaporkan kajian sintesis membrane kitosan dari serbuk kitosan hasil preparasi dari cangkang kepiting dan karakterisasinya. Penelitian awal ini bertujuan untuk mensintesis membrane kitosan dari serbuk kitosan dan karakterisasinya. Serbuk kitosan dipreparasi dari cangkang kepiting melalui proses deproteinasi, demineralisasi dan deasetilasi. Membran kitosan dibuat dari kitosan dengan penambahan agen crosslingking berupa glutaraldehida. Kitosan dikarakterisasi meliputi uji kadar air, kadar abu, kadar nitrogen, viskositas, derajat deasetilasi, analisis gugus fungsi dengan spektroskopi IR dan kristalinitas dengan difraksi sinar X. Membran kitosan dilakukan karakterisasi penampilan fisik, analisis gugus fungsi dan kristalinitas. Kesimpulan penelitian adalah 1 kitosan dapat dipreparasi dari limbah cangkang kepiting melalui proses deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi, 2 membran kitosan dapat disintesis dari serbuk kitosan dengan menggunakan agen crosslinking glurataldehida, 3 semakin tinggi konsentrasi kitosan yang digunakan untuk membuat membran, maka membran yang dihasilkan akan menunjukkan warna yang pekat dan kurang transparan, 4 struktur kimia kitosan dalam bentuk membran kitosan tidak mengalami perubahan tetapi kristalinitasnya berubah.

  7. SCREENING DAN ANALISIS KADAR OMEGA-3 DARI RUMPUT LAUT PULAU LOMBOK NTB

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Erin Ryantin Gunawan

    2012-11-01

    Full Text Available Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengidentifikasi jenis rumput laut yang mengandung omega-3 dan mengetahui kadar omega-3 dari rumput laut yang terdapat di pantai Pulau Lombok NTB. Minyak yang terdapat dalam rumput laut diekstraksi dengan metoda soxhletasi. Identifikasi dan kadar asam lemak dalam rumput laut ditentukan dengan alat GC-MS. Sembilan jenis rumput laut telah dianalisa dengan kadar air berkisar antara 42% -86,5%. Minyak hasil ekstraksi mempunyai kadar antara 0,63%-4,39%. Dari ke sembilan jenis dipilih 4 jenis rumput laut yang mempunyai kadar minyak yang paling tinggi. Dua jenis rumput laut yang biasa dikonsumsi (Eucheuma Spinosum dan Eucheuma Cottoni dan dua jenis lagi yang tidak biasa dikonsumsi (Gracilaria salicornia dan Ulva sp. Asam-asam lemak omega-3 yang dapat teridentifikasi dari keempat jenis rumput laut adalah asam linolenat, Eikosatrienoat (ETE, eikosapentaenoat (EPA dan (dokosaheksaenoat DHA dalam jumlah yang bervariasi. Kadar asam lemak dalam keempat jenis rumput laut berkisar antara 26,8%-52,26% dan kandungan omega-3 antara 1,86%-5,46%.

  8. PENGAMATAN JENIS-JENIS JAMUR YANG DITEMUKAN PADA MINUMAN SUSU SEGAR DAN SUSU KEMASAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nunik Siti Aminah

    2012-10-01

    Full Text Available Minum susu dari wadah kemasan lebih praktis daripada minum susu segar yang harus dimasak lebih dahulu. Pengolahan susu biasanya dilakukan dengan dua cara yaitu dengan proses Ultra High Temperature (UHT yang menggunakan panas tinggi sekitar 140° C dalam waktu 14 detik dan cara Pasteurisasi yang menggunakan suhu 63° C dalam waktu 30 menit. Menurut label yang tertera dalam kemasan, susu dengan proses pengolahan di atas mempunyai daya simpan selama 10 bulan, terhindar dari cemaran bakteri serta efek luar seperti udara dan cahaya. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa susu dalam kemasan kardus, kaleng, botol kaca dan plastik tidak bebas dari cemaran jamur seperti Aspergillus sp. , Penicillium sp., Geotrichum sp. dan Khamir. Dari tempat pemerahan susu ditemukan cemaran jamur yang sama dengan jamur yang ditemukan pada susu kemasan. Jamur Geotrichum sp ditemukan pada tanah yang berada di sekitar tempat pemerahan susu. Aspergillus sp ditemukan pada pakan sapi perah yang berupa rumput - rumputan, Risophus sp ditemukan pada sumber air yang berada disekitar tempat pemerahan susu. Pada susu kemasan kaleng yang berasal dari luar negeri baik yang legal maupun yang ilegal hanya ditemukan Penicillium sp dan Khamir berarti cemaran jamur berasal dari udara. Sedangkan susu kemasan dalam negeri ditemukan jamur A.niger, Penicillium sp., Khamir, dan Geotrichum sp.yang menandakan dapat tercemar dari bahan/susu perah karena penanganannya kurang higienis. ' Keywords: Jamur, susu segar dan susu kemasan.

  9. PENGARUH LAMA DAN CARA PENYIMPANAN TERHADAP PERKEMBANGAN KANDUNGAN AFLATOKSIN PADA GAPLEK DI RUMAH TANGGA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sukati Saidin

    2012-11-01

    Full Text Available Aflatoksin yang mencemari makanan dapat menyebabkan timbulnya kanker hati. Gaplek merupakan salah satu komoditi yang dapat tercemar aflatoksin. Ada beberapa daerah di Indonesia yang menggunakan gaplek sebagai makanan pokok. Karena gaplek pada umumnya disimpan sampai panen berikutnya maka ada peluang untuk tercemar aflatoksin. Karena itu perlu diteliti sampai berapa jauh pencemaran aflatoksin pada gaplek. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh lama dan cara penyimpanan terhadap cemaran aflatoksin pada gaplek.Gaplek yang sudah dikeringkan dengan cara yang lazim dilakukan di daerah dengan makanan pokok gaplek dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama disimpan di lantai semen terbuka, bagian kedua disimpan dalam bakul terbuka dan bagian ketiga di simpan dalam karung goni yangdiikat. Analisa kandungan aflatoksin dan kadar air gaplek dilakukan pada permulaan dan 4, 8, 12, 16 dan 20 minggu dalam penyimpanan.Perkembangan cemaran aflatoksin gaplek dalam penyimpanan ini mengungkapkan makin lama gaplek disimpan makin tinggi kadar aflatoksinnya. Rata-rata kadar air gaplek selama penyimpanan berkisar antara 13,1% sampai 14,0%. Gaplek yang disimpan di lantai menunjukkan kandungan aflatoksin tertinggi, diikuti oleh gaplek yang disimpan dalam bakul dan dalam karung.Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa sampai waktu panen berikutnya sekitar 10 bulan, kandungan aflatoksin gaplek yang disimpan di dalam karung diikat belum mencapai taraf yang menbahayakan kesehatan.

  10. Eradication of algae in ships' ballast water by electrolyzing

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    DANG Kun; SUN Pei-ting; XIAO Jing-kun; SONG Yong-xin

    2006-01-01

    In order to verify the effectiveness of electrolytic treatment on ships' ballast water,experiments are carried out by a pilot system in laboratory. The raw seawater and seawater with different concentrations of different algae are simulated as ships' ballast water. The algae in the raw seawater can be killed if it is treated by electrolysis with an initial residual chlorine concentration of 5 mg/L. If the seawater with one kind of algae (Nitzschia closterum, Dicrateria spp., or Pyramidomonnas sp.105cells/mL) is treated by electrolysis with an initial residual chlorine concentration of 5 mg/L, the alga can be sterilized. If the seawater with one kind of algae (Dunaliella sp., Platymonas or Chlorella spp.)is directly treated by electrolyzing with an initial residual chlorine concentration of 4 mg/L, the instant mortality changes with the concentration of different algae. However, after 72 hours, in all treated samples, there are no live algal cells found.

  11. Pengaruh Jenis Kelamin dan Kebiasaan Merokok terhadap Kadar Timbal Darah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wirsal Hasan

    2013-11-01

    Full Text Available Penarik becak dayung dan becak bermesin, pengatur lalu lintas, pedagang asongan, dan pedagang kaki lima banyak terpapar dengan polusi timbal dari udara ambien yang merupakan ancaman terhadap para pekerja pinggir jalan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan karakteristik responden dengan kadar timbal dalam darah. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 109 orang terdiri dari 58 orang penarik becak dayung, 30 orang penarik becak bermesin dan 21 orang pedagang kaki lima yang ditarik secara consecutive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan antara variabel usia, tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik terhadap kadar timbal dalam darah (p>0,05. Rerata kadar timbal dalam darah berbeda bermakna menurut jenis kelamin (p=0,047 dan kebiasaan merokok (p=0,003. Rerata kadar timbal dalam darah berdasarkan jenis pekerjaan, lama bekerja, tingkat pendidikan, tempat beristirahat, lokasi tempat tinggal, kebiasaan minum susu, dan kebiasaan minum alkohol tidak ada perbedaan bermakna. Uji korelasi Pearson dan korelasi Spearman menemukan tidak ada korelasi antara variabel usia dan tekanan darah terhadap kadar timbal dalam darah (p>0,05. Paddle rickshaw puller, motorized rickshaw pullers, traffic police, street vendors and roadside vendors is that many workers are exposed to lead from ambient air pollution. Lead pollution is a threat to roadside workers. This study is observational. The purpose of the study was to determine the association between respondent characteristic with blood lead levels. The 109 samples in this study was the 58 paddle rickshaw puller, 30 motorized rickshaw pullers and 21 hawkers, drawn with consecutive sampling. The results showed that there were no significant correlation between age, blood pressure and blood lead level (p>0.005, there were differences in mean blood lead levels by sex (p = 0.047 and smoking (p = 0.003, there was no difference in mean blood lead levels based on the type

  12. KAJIAN BIOAKTIF DAN ZAT GIZI PROPOLIS INDONESIA DAN BRASIL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Eliza Halim

    2012-11-01

    Full Text Available ABSTRACTIndonesia has a potency to produce its own propolis, however the propolis market in Indonesia is dominated by imported product, such as from Brazil. Currently, still there is no reasearch which evaluate bioactive compound and nutrient content of Indonesian Propolis (IP compare with Brazilian Propolis (BP. The objectivesof this study were to analyze bioactive compounds and nutrient contents of IP compared to BP. Bioactive compounds and nutrients content were analyzed by gas chromatography–mass spectrophotometry. The resultsshowed both IP and BP contain fenol, α-amyrin, cylolanost, and pyrimidines. Bioactive compounds which specifically found in IP were eudesmane compound, ethyl acridine, lupeol, friedooleanan; while β amyrin and cinnamic acid compound only found in BP. The nutrient contents of IP were higher than BP except for vitamin A. In conclusion, IP might have potential health benefit, similar to BP.Key words: propolis, bioactive, nutrientABSTRAKIndonesia mempunyai potensi untuk menghasilkan propolis tetapi pemasaran propolis di Indonesia didominasi oleh propolis impor seperti propolis yang berasal Brasil. Sampai saat ini belum ada penelitian yang mengungkapkandungan bioaktif dan zat gizi propolis Indonesia (PI dibandingkan dengan propolis Brasil (PB. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan kajian kandungan bioaktif dan zat gizi (vitamin dan mineral PI dibandingkan dengan PB. Komponen bioaktif dan kandungn gizi dianalisis dengan metode gas chromatography–mass spectrometry. Hasil analisis menyatakan bahwa baik PI maupun PB mengandung senyawa fenol, α-amyrin, cylolanost, dan pirimidin. Komponen bioaktif unik yang ditemukan di dalam PI adalah senyawaeudesmane, ethyl acridine, lupeol dan friedooleanan; sedangkan β-amyrin dan senyawa asam sinamat hanya ditemukan di dalam PB. Kandungan zat gizi PI lebih tinggi dari PB kecuali kandungan vitamin A. Hal ini menunjukkan bahwa PI kemungkinan mempunyai khasiat untuk

  13. Bromophenols from Marine Algae with Potential Anti-Diabetic Activities

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    LIN Xiukun; LIU Ming

    2012-01-01

    Marine algae contain various bromophenols with a variety of biological activities,including antimicrobial,anticancer,and anti-diabetic effects.Here,we briefly review the recent progress in researches on the biomaterials from marine algae,emphasizing the relationship between the structure and the potential anti-diabetic applications.Bromophenols from marine algae display their hyperglycemic effects by inhibiting the activities of protein tyrosine phosphatase 1B,α-glucosidase,as well as other mechanisms.

  14. Freshwater Cyanobacteria (Blue-Green Algae) Toxins: Isolation and Characterization

    Science.gov (United States)

    1989-01-15

    exclusively caused by strains of species that are members of the L division Cyanophyta , commonly called blue -green algae or cyanobacteria . Although...0 0 Lfl (NAD FRESHWATER CYANOBACTERIA ( BLUE -GREEN ALGAE ) TOXINS: ISOLATION AND CHARACTERIZATION ANNCUAL REPORT Wayne W. Carmichael Sarojini Bose...Frederick, Maryland 21701-5012 62770A 6277GA871 AA 378 11 TITLE &who* Secwn~y C11mrfaon) Freshwater Cyanobacteria ( blue -green algae ) Toxins: Isolation

  15. Effects of triphenyltin exposure on the red alga Eucheuma denticulatum

    OpenAIRE

    Rumampuk, Natalie D. C.; Grevo, Gerung S.; Rumengan, Inneke F. M.; Ohji, Madoka; Arai, Takaomi; Miyazaki, Nobuyuki

    2004-01-01

    Toxic effects of triphenyltin (TPT) on the marine alga Eucheuma denticulatum obtained from Nain Island, North Sulawesi, Indonesia have been examined in laboratory condition. The algal samples were first acclimated in laboratory prepared seawater for three days. The algae were then divided into 12 culture chambers for treatments with different concentrations of TPT between 5-30 μgl^ with 5μgl^ interval, and in another container for control. After two-week experimentation, some samples of algae...

  16. Method and apparatus for iterative lysis and extraction of algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Chew, Geoffrey; Boggs, Tabitha; Dykes, Jr., H. Waite H.; Doherty, Stephen J.

    2015-12-01

    A method and system for processing algae involves the use of an ionic liquid-containing clarified cell lysate to lyse algae cells. The resulting crude cell lysate may be clarified and subsequently used to lyse algae cells. The process may be repeated a number of times before a clarified lysate is separated into lipid and aqueous phases for further processing and/or purification of desired products.

  17. Overall Energy Considerations for Algae Species Comparison and Selection in Algae-to-Fuels Processes

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Link, D.; Kail, B.; Curtis, W.; Tuerk,A.

    2011-01-01

    The controlled growth of microalgae as a feedstock for alternative transportation fuel continues to receive much attention. Microalgae have the characteristics of rapid growth rate, high oil (lipid) content, and ability to be grown in unconventional scenarios. Algae have also been touted as beneficial for CO{sub 2} reuse, as algae can be grown using CO{sub 2} emissions from fossil-based energy generation. Moreover, algae does not compete in the food chain, lessening the 'food versus fuel' debate. Most often, it is assumed that either rapid production rate or high oii content should be the primary factor in algae selection for algae-to-fuels production systems. However, many important characteristics of algae growth and lipid production must be considered for species selection, growth condition, and scale-up. Under light limited, high density, photoautotrophic conditions, the inherent growth rate of an organism does not affect biomass productivity, carbon fixation rate, and energy fixation rate. However, the oil productivity is organism dependent, due to physiological differences in how the organisms allocate captured photons for growth and oil production and due to the differing conditions under which organisms accumulate oils. Therefore, many different factors must be considered when assessing the overall energy efficiency of fuel production for a given algae species. Two species, Chlorella vulgaris and Botryococcus braunii, are popular choices when discussing algae-to-fuels systems. Chlorella is a very robust species, often outcompeting other species in mixed-culture systems, and produces a lipid that is composed primarily of free fatty acids and glycerides. Botryococcus is regarded as a slower growing species, and the lipid that it produces is characterized by high hydrocarbon content, primarily C28-C34 botryococcenes. The difference in growth rates is often considered to be an advantage oiChlorella. However, the total energy captured by each algal

  18. Exploring the potential of using algae in cosmetics.

    Science.gov (United States)

    Wang, Hui-Min David; Chen, Ching-Chun; Huynh, Pauline; Chang, Jo-Shu

    2015-05-01

    The applications of microalgae in cosmetic products have recently received more attention in the treatment of skin problems, such as aging, tanning and pigment disorders. There are also potential uses in the areas of anti-aging, skin-whitening, and pigmentation reduction products. While algae species have already been used in some cosmetic formulations, such as moisturizing and thickening agents, algae remain largely untapped as an asset in this industry due to an apparent lack of utility as a primary active ingredient. This review article focuses on integrating studies on algae pertinent to skin health and beauty, with the purpose of identifying serviceable algae functions in practical cosmetic uses.

  19. Acetone, butanol, and ethanol production from wastewater algae.

    Science.gov (United States)

    Ellis, Joshua T; Hengge, Neal N; Sims, Ronald C; Miller, Charles D

    2012-05-01

    Acetone, butanol, and ethanol (ABE) fermentation by Clostridium saccharoperbutylacetonicum N1-4 using wastewater algae biomass as a carbon source was demonstrated. Algae from the Logan City Wastewater Lagoon system grow naturally at high rates providing an abundant source of renewable algal biomass. Batch fermentations were performed with 10% algae as feedstock. Fermentation of acid/base pretreated algae produced 2.74 g/L of total ABE, as compared with 7.27 g/L from pretreated algae supplemented with 1% glucose. Additionally, 9.74 g/L of total ABE was produced when xylanase and cellulase enzymes were supplemented to the pretreated algae media. The 1% glucose supplement increased total ABE production approximately 160%, while supplementing with enzymes resulted in a 250% increase in total ABE production when compared to production from pretreated algae with no supplementation of extraneous sugar and enzymes. Additionally, supplementation of enzymes produced the highest total ABE production yield of 0.311 g/g and volumetric productivity of 0.102 g/Lh. The use of non-pretreated algae produced 0.73 g/L of total ABE. The ability to engineer novel methods to produce these high value products from an abundant and renewable feedstock such as algae could have significant implications in stimulating domestic energy economies.

  20. Algae Bioreactor Using Submerged Enclosures with Semi-Permeable Membranes

    Science.gov (United States)

    Trent, Jonathan D (Inventor); Gormly, Sherwin J (Inventor); Embaye, Tsegereda N (Inventor); Delzeit, Lance D (Inventor); Flynn, Michael T (Inventor); Liggett, Travis A (Inventor); Buckwalter, Patrick W (Inventor); Baertsch, Robert (Inventor)

    2013-01-01

    Methods for producing hydrocarbons, including oil, by processing algae and/or other micro-organisms in an aquatic environment. Flexible bags (e.g., plastic) with CO.sub.2/O.sub.2 exchange membranes, suspended at a controllable depth in a first liquid (e.g., seawater), receive a second liquid (e.g., liquid effluent from a "dead zone") containing seeds for algae growth. The algae are cultivated and harvested in the bags, after most of the second liquid is removed by forward osmosis through liquid exchange membranes. The algae are removed and processed, and the bags are cleaned and reused.

  1. Importance of algae oil as a source of biodiesel

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Demirbas, Ayhan [Sirnak University, Dean of Engineering Faculty, Sirnak (Turkey); Fatih Demirbas, M. [Sila Science, University Mah., Mekan Sok No. 24, Trabzon (Turkey)

    2011-01-15

    Algae are the fastest-growing plants in the world. Industrial reactors for algal culture are open ponds, photobioreactors and closed systems. Algae are very important as a biomass source. Algae will some day be competitive as a source for biofuel. Different species of algae may be better suited for different types of fuel. Algae can be grown almost anywhere, even on sewage or salt water, and does not require fertile land or food crops, and processing requires less energy than the algae provides. Algae can be a replacement for oil based fuels, one that is more effective and has no disadvantages. Algae are among the fastest-growing plants in the world, and about 50% of their weight is oil. This lipid oil can be used to make biodiesel for cars, trucks, and airplanes. Microalgae have much faster growth-rates than terrestrial crops. the per unit area yield of oil from algae is estimated to be from 20,000 to 80,000 l per acre, per year; this is 7-31 times greater than the next best crop, palm oil. The lipid and fatty acid contents of microalgae vary in accordance with culture conditions. Most current research on oil extraction is focused on microalgae to produce biodiesel from algal oil. Algal-oil processes into biodiesel as easily as oil derived from land-based crops. (author)

  2. PERBANDINGAN KARAKTERISTIK KIMIA KOPI LUWAK DAN KOPI BIASA DARI JENIS KOPI ARABIKA (Cafeea arabica. L) DAN ROBUSTA (Cafeea canephora. L)

    OpenAIRE

    Israyanti, -

    2012-01-01

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan jumlah kafein, karakteristik proksimat (protein dan lemak) dan rasa dan aroma antara kopi luwak dan kopi biasa dari jenis arabika (Cafeea arabica. L) dan robusta (Cafeea canephora. L). Perlakuan penelitian yakni A1 (luwak robusta), A2 (luwak arabika), B1 (robusta biasa) dan B2 (arabika biasa). Parameter penelitian yaitu pengujian organoleptik pada rasa (metode hedonik) dan aroma (metode ranking), analisa kafein dan uji proksimat berupa ...

  3. STUDI KOMPARASI SIFAT FOTOKATALIS DAN AGLOMERITAS NANOPARTIKEL TIO2 SEBAGAI PENGARUH DISPERSANT ETILEN GLIKOL DAN TRITON X 100 DALAM DIRT-FREE PAINT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dyah Sawitri

    2014-05-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh variasi dispersant terhadap stabilitas fotokatalis dan aglomeritas nanopartikel TiO2 sebagai optimasi dirt-free paint, yaitu bahan komposit cat yang mempunyai sifat anti noda dan mampu membersihkan dirinya sendiri (self-cleaning dengan bantuan cahaya dan air. Dispersant yang digunakan Etilen Glikol dan Triton X 100. Komposisi massa TiO2 2% massa cat, dengan perbandingan anatase : rutile sebesar 90:10. Pengujian yang dilakukan meliputi uji DSC, XRD, FTIR, uji self-cleaning, dan SEM-EDX. Dari uji self-cleaning dengan dua macam pengotor, diperoleh hasil bahwa untuk pengotor lumpur, sampel terbaik adalah sampel dengan dispersant Etilen Glikol, dengan selisih luas pengotor 35,77%. Untuk pengotor pewarna makanan, sampel TiO2 dengan dispersant Triton X 100 memiliki selisih luas pengotor 17,64%. Hasil uji SEM-EDX menunjukkan ukuran partikel TiO2 rata-rata untuk cat tanpa dispersant adalah 132.02 nm, dan dengan dispersant Etilen Glikol menjadi 118.54 nm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa bahan dispersant dapat menimbulkan sifat self cleaning, serta mampu mendispersikan TiO2 di dalam cat dengan baik.

  4. Pengaruh Ketebalan Media Geotekstil dan Arah Aliran Terhadap Penyisihan Kekeruhan dan Total Coli pada Slow Sand Filter Rangkaian Seri

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    AA Dewi Hendrayani

    2014-03-01

    Full Text Available Proses pembersihan pada slow sand filter dikenal dengan cara scrapping. Hal ini memerlukan biaya yang kurang ekonomis jika ditinjau dari segi proses pembaharuan media setelah proses scrapping. Cara scrapping dapat diminimisasi dengan penggunaan geotekstil pada slow sand filter. Selain itu juga dapat meningkatkan kinerja slow sand filter karena struktur geotekstil yang baik untuk proses filtrasi. Pada penelitian ini dilakukan pengolahan air menggunakan slow sand filter dengan perpaduan variasi ketebalan media geotekstil dan arah aliran. Ketebalan media geotekstil yang digunakan adalah 4 cm dan 6 cm. Geotekstil yang digunakan pada penelitian ini adalah tipe nonwoven. Sedangkan untuk arah aliran yang digunakan adalah down-up dan down-down. Slow sand filter yang digunakan disusun secara seri dengan tambahan unit pretreatment yaitu roughing filter. Parameter yang dianalisis pada penelitian ini adalah kekeruhan dan total coli. Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh penyisihan kekeruhan yang lebih baik pada penelitian ini sebesar 91,55%. Penyisihan total coli yang lebih baik pada penelitian ini yaitu sebesar 99,38%. Hasil penyisihan kedua parameter tersebut diperoleh dari variasi ketebalan 6 cm dengan arah aliran down-down.

  5. PERANAN KOMPETENSI INTI DALAM MERGER DAN AKUISISI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dwi Sulistiani

    2013-11-01

    Full Text Available Dalam era globalisasi dan pedagangan  bebas dewasa ini strategi merger dan akuisisi  merupakan fenomena yang semakin marak dilakukan oleh para pelaku bisnis dan  semakin menarik untuk dicermati bersama. Untuk menjalankan perusahaan para manajemen perusahaan selalu dituntut menjaga pertumbuhan usahanya secara optimal. Penerapan strategi merger dan akuisisi merupakan jalan pintas untuk mewujudkan pertumbuhan usaha tanpa perusahaan perlu memulai dari awal suatu jenis usaha yang baru. Dalam suatu kondisi perusahaan yang kuat cenderung membeli perusahaan lain untuk meningkatkan daya saing dan penghematan biaya. Perusahaan yang terlibat dalam merger dan akuisisi akan dapat diperoleh pangsa pasar yang lebih besar dan efisiensi terhadap biaya. Perusahaan yang merasa tidak dapat bertahan hidup secara individual biasanya merelakan diri untuk menjadi target akuisisi. Merger dan akuisisi merupakan suatu realitas dan tantangan yang harus siap dihadapi oleh para pelaku usaha dalam era perdagangan bebas saat ini. Namun tingkat kesuksesan dalam melakukan kegiatan merger dan akuisisi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi internal perusahaan meliputi sumber daya, kapabilitas dan kompetensi inti yang dimiliki oleh perusahaan. Tulisan ini akan mencoba memberikan pemahaman bahwa sumber daya, kapabilitas dan  kompetensi inti merupakan faktor penting dalam melakukan kegiatan penggabungan usaha yang pada akhirnya dapat menentukan tingkat keberhasilan proses merger dan akuisisi yang sedang dijalankan oleh perusahaan

  6. RANCANG BANGUN MODEL KOMPRESI DAN TARIK PERMODELAN SANDBOX DAN MANFAATNYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fahrudin Fahrudin

    2015-07-01

    Full Text Available Permodelan sandbox dibuat dengan system tektonik konvergen dan divergen dengan menggunakan pergerakan satu sumbu. Permodelan ini bertujuan untuk membuat alat mesin sandbox yang bisa digunakan untuk penelitian dan pengajaran. Mesin berhasil dibuat dan sudah diujicobakan. Ujicoba dengan menggunakan satu lapisan pasir yang diambil dari Formasi Ngrayong. Percobaan selanjutnya dengan beberapa lapisan. Percobaan dilakukan dengan pengamatan yang meliputi pengamatan permukaan dan penampang verikal. Pengamatan yang aspek morfologi, kelurusan struktur, dan perkembangan sesar yang terbentuk. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pembentukan morfologi sangat berkaitan dengan pembentukan sesar. Struktur sesar dengan pola forward propagating thrust faults. Sesar tersebut disebabkan imbrikasi. Lipatan yang terbentuk akibat mekanisme propagasi sesar.[Design of Compression and Extensional of the Sandbox Model and Its Benefit] Divergent and convergent tectonic sytem can be studied from the sandbox modelling. This model has a axis of movement. Sandbox models itends to study the progress of structural geology such as fault and fold. We successfully made machine of sandbox. This machine has basal detachment from duraluminum. Material for model is taken by loose sand from Ngrayong Formation. This experiment focused to observation about morphology in surface and thrust or backthrust in subsurface. This experiment has compression system. Result of model was that morphological sequences associated with fault sequences. Fault is formed to have the pattern of forward propagating thrust faults. It’s caused by imbricate thrust system. Folding is formed by the mechanism of fault propagation folding. 

  7. Interactions between arsenic species and marine algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Sanders, J.G.

    1978-01-01

    The arsenic concentration and speciation of marine algae varies widely, from 0.4 to 23 ng.mg/sup -1/, with significant differences in both total arsenic content and arsenic speciation occurring between algal classes. The Phaeophyceae contain more arsenic than other algal classes, and a greater proportion of the arsenic is organic. The concentration of inorganic arsenic is fairly constant in macro-algae, and may indicate a maximum level, with the excess being reduced and methylated. Phytoplankton take up As(V) readily, and incorporate a small percentage of it into the cell. The majority of the As(V) is reduced, methylated, and released to the surrounding media. The arsenic speciation in phytoplankton and Valonia also changes when As(V) is added to cultures. Arsenate and phosphate compete for uptake by algal cells. Arsenate inhibits primary production at concentrations as low as 5 ..mu..g.1/sup -1/ when the phosphate concentration is low. The inhibition is competitive. A phosphate enrichment of > 0.3 ..mu..M alleviates this inhibition; however, the As(V) stress causes an increase in the cell's phosphorus requirement. Arsenite is also toxic to phytoplankton at similar concentrations. Methylated arsenic species did not affect cell productivity, even at concentrations of 25 ..mu..g.1/sup -1/. Thus, the methylation of As(V) by the cell produces a stable, non-reactive compound which is nontoxic. The uptake and subsequent reduction and methylation of As(V) is a significant factor in determining the arsenic biogeochemistry of productive systems, and also the effect that the arsenic may have on algal productivity. Therefore, the role of marine algae in determining the arsenic speciation of marine systems cannot be ignored. (ERB)

  8. MUWUJUDKAN BUDAYA POLITIK SANTUN, BERSIH DAN BERETIKA DALAM RANGKA MEMPERKOKOH KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wahyu Widodo

    2014-11-01

    Full Text Available Abstract Makalah ini membahas konsep budaya politik berpusat pada imajinasi (pikiran dan perasaan manusia yang merupakan dasar semua tindakan. Dalam rangka menuju arah pembangunan dan modernisasi suatu masyarakat akan menempuh jalan yang berbeda antara satu masyarakat dengan yang lain, dan itu terjadi karena peranan kebudayaan sebagai salah satu faktor. Budaya politik dapat membentuk aspirasi, harapan, preferensi, dan prioritas tertentu dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan sosial politik. Pada gilirannya, disimpulkan bahwa peran budaya politik santun, bersih dan beretika dalam rangka memperkokoh kehidupan berbangsa dan bernegara menuju Indonesia baru adalah: pertama, etika politik dan pemerintahan mengandung misi kepada setiap pejabat dan elite politik untuk bersikap jujur, amanah, sportif, siap melayani, berjiwa besar, memiliki keteladanan, rendah hati, dan siap untuk mundur dari jabatan publik apabila terbukti melakukan kesalahan dan secara moral kebijakannya bertentangan dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat. Kedua, perlu dilakukan upaya penanaman suatu kesadaran bahwa politik yang hendak kita perjuangkan bukan semata politik kekuasaan, melainkan suatu politik yang mengedepankan panggilan pengabdian demi kesejahteraan masyarakat luas, dialektika antara partai dan politikus serta masyarakat yang kritis. Ketiga, budaya politik santun, bersih dan beretika ini diperlukan karena dapat membuat para elite politik menjauhi sikap dan perbuatan yang dapat merugikan bangsa Indonesia. Akhirnya, disarankan agar dilaksanakan kembali pendidikan budi pekerti yang merupakan pondasi bagi pelaksanaan Civic Education agar tercipta generasi yang tidak hanya mau menjadi politisi, namun paham budaya dan etika politik.   Kata kunci: budaya politik, kehidupan berbangsa dan bernegara, menuju Indonesia baru

  9. Pheromones in marine algae: A technical approach

    Science.gov (United States)

    Gassmann, G.; Müller, D. G.; Fritz, P.

    1995-03-01

    It is now well known that many marine organisms use low-molecular volatile substances as signals, in order to coordinate activities between different individuals. The study of such pheromones requires the isolation and enrichment of the secretions from undisturbed living cells or organisms over extended periods of time. The Grob-Hersch extraction device, which we describe here, avoids adverse factors for the biological materials such as strong water currents, rising gas bubbles or chemical solvents. Furthermore, the formation of sea-water spray is greatly reduced. The application of this technique for the isolation of pheromones of marine algae and animals is described.

  10. Desain Mobile Unit Instalasi Pengolahan Air Minum Untuk Kondisi Darurat Bencana Banjir Menggunakan Membran Mikrofiltrasi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Angie Prabhata Putra

    2015-03-01

    Full Text Available Banjir dan kekeringan merupakan sebuah fenomena yang rutin dihadapi di berbagai daerah dengan kerugian yang tidak kecil contohnya di wilayah Jabodetabek pada bulan februari tahun 2007, banjir yang terjadi selama 5 hari mencapai kerugian sekitar 8,6 triliyun rupiah. Saat terjadi banjir pengungsi sangat sulit untuk mendapat air bersih maupun air minum, di karenakan sumur penduduk yang dipenuhi lumpur dan kotoran. Kesulitan dalam memperoleh air bersih maupun air minum pada saat maupun paska bencana banjir, berdampak pada timbulnya berbagai penyakit terkait air bersih yaitu seperti muntaber, diare dan gatal-gatal. Oleh karena itu diperlukan solusi atau penanggulangan masalah air bersih dan air siap minum baik saat maupun paska bencana banjir. Menurut buku Introduction to International Disaster Management (2007, disebutkan bahwa ada beberapa alternatif dalam penyediaan air bersih dan air siap minum pada saat kondisi banjir yaitu  penyediaan air melalui tangki truk, atau dari tangki yang di datangkan  dari luar daerah banjir, melakukan proses pengolahan air banjir itu sendiri untuk menghasilkan air bersih sebagai contoh menggunakan filter. Solusi dalam hal masalah ini adalah pengolahan air minum yang berbasis mobile water treatment. Dalam kaitan tentang masalah ini perlu adanya perencanaan tentang desain instalasi pengolahan air minum secara mobile untuk kondisi darurat bencana banjir. Dalam hal ini rencana desain atau DED (Detail Engineering Design yang akan digunakan adalah mobile water treatment membran mikrofiltrasi, keuntungan dari menggunakan membran ini adalah dapat menyisihkan bakteri patogenik dan beberapa jenis virus. Pada perencanaan ini direncanakan unit-unit sebelum dan sesudah membran mikrofiltrasi agar kualitas air hasil pengolahan (effluent memenuhi baku mutu air siap minum yang sesuai dengan PERMENKES RI No.492/MEN.KES/PER/IV/2010.

  11. APLIKASI TEKNIK AAN DI REAKTOR RSG-GAS PADA PENENTUAN UNSUR ESENSIAL DAN TOKSIK DI DALAM IKAN DAN PAKAN IKAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Saeful Yusuf

    2015-03-01

    Full Text Available Pada makalah ini diuraikan tentang aplikasi teknik AAN (Analisis Aktivasi Neutron dalam penentuan konsentrasi unsur-unsur esensial dan cemaran yang terkandung di dalam beberapa spesies ikan dan pakan ikan. Unsur-unsur esensial yang terkandung dalam pakan ikan buatan juga dianalisis untuk mengetahui pengaruhnya terhadap ikan. Penentuan unsur menggunakan teknik AAN dengan metode perbandingan dan metode k0-AAN. Sampel diiradiasi di reaktor RSG-GAS yang memiliki fluks neutron thermal 5 x 1013 n.cm-2.s-1 pada daya 15 MW. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 unsur di dalam 11 spesies ikan air laut dan air tawar telah ditentukan yaitu As, Br, Cr, Co, Cs, Fe, Hg, K, Na, Rb, Se and Zn. Konsentrasi cemaran As didalam ikan laut sudah melampaui batas maksimum 1 mg/kg, sedangkan konsentrasi cemaran Hg masih dibawah batas maksimum 0,5 mg/kg, baik untuk ikan laut maupun ikan air tawar. Unsur K dan Na merupakan unsur makroesensial sedangkan unsur Cr, Co, Fe, Se and Zn adalah termasuk unsur mikroesensial. Secara umum ditunjukkan bahwa kandungan mineral didalam ikan laut lebih tinggi konsentrasinya dibandingkan ikan air tawar. Br, Cs dan Rb merupakan unsur-unsur non esensial yang teridentifikasi dalam semua ikan yang dianalisis. Penelitian terhadap pakan ikan air tawar menunjukkan bahwa semua unsur yang teridentifikasi juga terdapat di dalam ikan laut dan ikan air tawar. Hal ini menunjukkan bahwa pakan ikan berkontribusi terhadap konsentrasi unsur di dalam ikan air tawar. Kata kunci : Analisis aktivasi neutron, unsur esensial, unsur cemaran, ikan, pakan ikan   This paper reported on the application of NAA (Neutron Activation Analysis Technique in the determination of the concentration of the essential and toxic elements in some species of fish and fish feed. Determination of elements using instrumental NAA technique with comparison and k0-INAA methods. Samples were irradiated in the RSG-GAS which has a thermal neutron flux  5.0E +13 ncm-2s-1. The results

  12. BIONOMIK NYAMUK Anopheles DAN KEBIASAAN PENDUDUK YANG MENUNJANG KEJADIAN MALARIA DI KECAMATAN PAGEDONGAN KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2005

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jarohman Raharjo

    2013-03-01

    Full Text Available Malaria masih merupakan masalah kesehatan global termasuk di Indonesia. Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang mempunyai masalah malaria cukup serius. Sampai dengan tahun 2002 telah tercatat 86 desa endemis dari 276 desa yang ada, sedangkan 175 desa terancam menjadi daerah HCI (High Case lncidens, jumlah penderita malaria pada tahun 2001 sebanyak 6.793 orang (API: 7,47%o meningkat menjadi 13.401 orang (API: 15,33%o pada tahun 2002 dan 90,2% dari kasus penderita indigenous.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bionomik nyamuk anopheles dan kebiasaan penduduk yang menunjang kejadian malaria di lokasi penelitian.Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif, karena menggambarkan bionomik nyamuk vektor dan kebiasaan penduduk. Penelitian ini bertempat di Kecamatan Pagedongan, KabupatenBanjarnegara, Provinsi Jawa Tengah dilaksanakan pada bulan Februari Nopember 2005.Tempat berkembangbiak Anopheles spp positif adalah kobakan air (belik dan bekas galian pasir disungai dan mata air. Kebiasaan nyamuk Anopheles spp menggigit orang di dalam dan di luar rumah hampir sama banyaknya. Terjadi peningkatan jumlah nyamuk yang tajam pada bulan September. Aktivitas menggigit di dalam rumah dimulai pada pukul 18.00-19.00. Sedangkan aktivitas menggigit di luar rumah meningkat pada pukul 21. 00-22.00 dan mencapai puncaknya pada pukul 22. 00-23.00 dan 03.00-04.00.Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya nyamuk tersangka vektor, kondisi lingkungan dan pengetahuan masyarakat menjadi faktor yang menunjang kejadian malaria di desa wilayah Kecamatan Pagedongan. Saran yang diberikan adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang malaria dan mengurangi keberadaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk. Kata Kunci : Malaria, Biomonik

  13. KORELASI ANTARA ISLAM DAN EKONOMI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Akmal Zainal Abidin

    2015-03-01

    Full Text Available CORELATION BETWEEN ISLAM AND ECONOMY. This paper aims to identifies about the correlation between economic and Islam. Islam is the perfect religion that governs all things in life, including the economy. This is evident with the concept of  well-being which is described in the al-Quran and Sunnah. Basically the goal of every human life is to prosper, although humans make sense of  well- being with a different perspective. Most understand economics assume that welfare is the welfare of  earthly material. But to make sense of well-being with the term al-Falah, is meaning holistic wellbeing and balance between material and spiritual dimensions. al-Quran and Sunnah have taught that the human being will be achieved if  living in balance between material and spiritual. This is because human life does not just stop in the life of this world, but there is still a second life that will be faced by humanity in the hereafter, and well-being will be achieved with the truth is that people can balance the needs of the world and the hereafter, and that is what is taught in Islamic economics. Keywords: Islam, Economy, Prosperity. Tulisan ini bertujuan untuk menjelasakn tentang korelasi antara ekonomi  dan  Islam.  Islam  adalah  agama  yang  sempurna  yang mengatur segala hal dalam kehidupan ini, termasuk juga ekonomi. Hal ini terbukti dengan konsep kesejahteraan yang dipaparkan dalam al-Quran dan Sunnah. Pada dasarnya tujuan hidup setiap manusia adalah untuk mencapai kesejahteraan, meskipun manusia memaknai kesejahteraan dengan perspektif  yang berbeda-beda. Sebagian besar paham ekonomi menganggap bahwa kesejahteraan adalah kesejahteraan material duniawi. Namun Islam memaknai kesejahteraan dengan istilah  Falah  yang  berarti  kesejahteraan  holistik  dan  seimbang antara dimensi material dan spiritual. Al-Quran dan Sunnah telah mengajarkan bahwa kesejahteraan akan tercapai jika manusia menjalani hidup secara seimbang antara material dan

  14. The Halogenated Metabolism of Brown Algae (Phaeophyta, Its Biological Importance and Its Environmental Significance

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Stéphane La Barre

    2010-03-01

    Full Text Available Brown algae represent a major component of littoral and sublittoral zones in temperate and subtropical ecosystems. An essential adaptive feature of this independent eukaryotic lineage is the ability to couple oxidative reactions resulting from exposure to sunlight and air with the halogenations of various substrates, thereby addressing various biotic and abiotic stresses i.e., defense against predators, tissue repair, holdfast adhesion, and protection against reactive species generated by oxidative processes. Whereas marine organisms mainly make use of bromine to increase the biological activity of secondary metabolites, some orders of brown algae such as Laminariales have also developed a striking capability to accumulate and to use iodine in physiological adaptations to stress. We review selected aspects of the halogenated metabolism of macrophytic brown algae in the light of the most recent results, which point toward novel functions for iodide accumulation in kelps and the importance of bromination in cell wall modifications and adhesion properties of brown algal propagules. The importance of halogen speciation processes ranges from microbiology to biogeochemistry, through enzymology, cellular biology and ecotoxicology.

  15. Rancang Bangun Turbin Air Sungai Poros Vertikal Tipe Savonius dengan Menggunakan Pemandu Arah Aliran

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Adia Cahya Purnama

    2013-09-01

    Full Text Available Pemanfaatan sumber energi air terutama digunakan sebagai penyedia energi listrik melalui pembangkit listrik tenaga air maupun mikrohidro. Salah satu permasalahan adalah bagaimana memanfaatkan potensi energi aliran air yang relatif kecil. Maka dari itu guna memanfaatkan dan meningkatkan potensi energi aliran air yang relatif kecil diperlukan penelitian. Pemanfaatan energi air pada penelitian ini adalah pemanfaatan energi kinetik aliran air. Energi mekanik yang merupakan transformasi dari energi kinetik aliran air dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin atau kincir. Turbin poros vertikal tipe Savonius ini cocok digunakan untuk memanfaatkan energi aliran air yang relatif kecil. Penelitian dengan judul “Rancang Bangun Turbin Air Sungai Poros Vertikal Tipe Savonius dengan Menggunakan Pemandu Araha Aliran” dilakukan dengan metode eksperimen, dimana hasil dari rancang bangun turbin akan dilakukan pengujian dan pengambilan data. Data pengujian yang diperoleh berdasarkan dari pengaruh variasi kecepatan aliran 0,30 ; 0,57 ; 0,85 dan 1,08 (m/detik serta pengaruh dari pemandu arah aliran. Performansi diperoleh dari hasil pengujian dan pengukuran. Diperoleh Cp maksimum 0,13 pada TSR 1,53. Kecepatan putar turbin maksimum diperoleh sebesar 162 RPM dan daya keluaran maksimum generator sebesar 2,31 Watt. Penggunaan pemandu arah aliran dapat meningkatkan performansi turbin Savonius diperoleh efisiensi mekanis turbin rata-rata 90,40% dan efisiensi elektris generator rata-rata 90,20%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan kecepatan aliran air yang sangat rendah turbin tipe Savonius dapat membangkitkan energi listrik.

  16. Indoor air pollution: measurement campaign in six dwellings occupied by elderly. Relation between indoor air quality and declared symptoms; Pollution atmospherique interieure: campagne de mesures dans six logements occupes par des personnes agees, relation entre qualite de l'air et symptomes declares

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Coelho, C.

    2004-10-15

    The objective of this work was to analyse the indoor air quality in dwellings occupied by old people and to correlate pollutants with life habits and health statement. A sociological survey on 96 elderly people living in social housing was firstly undertaken in order to determine risk factors responsible for poor health. Then measurements of several pollutants (CO{sub 2}, CO, NO{sub X}, O{sub 3}, COVT, PM2,5, PS>0,3 and aero-biological counts) were carried out during five days in six typical dwellings. Results were analyzed in the light of activities and reported symptoms by the old people. Besides discomfort due to CO{sub 2} accumulation, several pollutants with levels near or over guidelines were identified in particular particulate matter under 1 {mu}m, airborne microbiological counts, permanent TVOC levels. Dust was at the origin of cough, eyes and throat irritations and flows of the nose, and fungi and bacteria seem to be responsible for skin irritations, digestive disorders, sneezes and rhinitis. However, most symptoms appeared after 10 hours of exposure time for people of all ages. The risks factors were amplified by ignorance about the hazard of inadequate ventilation. Experiences in laboratory were also performed to complement some observations and introduce further research. (author)

  17. KINERJA KEPALA SEKOLAH DALAM KEGIATAN BIMBINGAN DAN KONSELING

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Abu Bakar M.Luddin

    2014-06-01

    Abstrak: Kinerja Kepala Sekolah dalam Kegiatan Bimbingan dan Konseling. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kinerja kepala sekolah dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Penelitian dilaksanakan di SMU Negeri 2 Kota Binjai, dengan memergunakan rancangan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah kepala sekolah, koordinator bimbingan dan konseling, dan guru pembimbing. Data di­kumpulkan dengan observasi, wawancara mendalam, dan kajian dokumen, dan selanjutnya dianalisis sete­lah melalui proses triangulasi antarsubjek dan informasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kinerja kepala sekolah terkait dengan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling masih belum sepenuhnya sebagaimana yang diharapkan. Kepala sekolah perlu meningkatkan kinerjanya dalam menjalankan fungsi koordinasi dan kepengawasan untuk mencapai kegiatan bimbingan dan konseling yang efektif.

  18. Evidence for the occurrence of photorespiration in synurophyte algae.

    Science.gov (United States)

    Bhatti, Shabana; Colman, Brian

    2011-09-01

    The fluxes of CO(2) and oxygen during photosynthesis by cell suspensions of Tessellaria volvocina and Mallomonas papillosa were monitored mass spectrometrically. There was no rapid uptake of CO(2,) only a slow drawdown to compensation concentrations of 26 μM for T. volvocina and 18 μM for M. papillosa, when O(2) evolution ceased, indicating a lack of active bicarbonate uptake by the cells. Darkening of the cells after a period of photosynthesis did not cause rapid release of CO(2), indicating the absence of an intracellular inorganic carbon pool. However, upon darkening a brief burst of CO(2) was observed similar to the post-illumination burst characteristic of C(3) higher plants. Treatment of the cells of both species with the membrane-permeable carbonic anhydrase inhibitor ethoxyzolamide had no adverse effect on photosynthetic rate, but stimulated the dark CO(2) burst indicating the dark oxidation of a compound formed in the light. In the absence of any active accumulation of inorganic carbon photosynthesis in these species should be inhibited by O(2). This was investigated in four synurophyte species T. volvocina, M. papillosa, Synura petersenii, and Synura uvella: photosynthetic O(2) evolution rates in all four algae, measured by O(2) electrode, were significantly higher (40-50%) in media at low O(2) (4%) than in air-equilibrated (21% O(2)) media, indicating an O(2) inhibition of photosynthesis (Warburg effect) and thus the occurrence of photorespiration in these species.

  19. REKOMENDASI SEMILOKA NASIONAL KONSERVASI BIODIVERSITAS UNTUK PERLINDUNGAN DAN PENYELAMATAN PLASMA NUTFAH DI PULAU JAWA, SURAKARTA 17-20 JULI 2000

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    AHMAD DWI SETYAWAN

    2000-07-01

    Full Text Available Assalamu’alaikum Wr. Wb.Dengan mengucap syukur alhamdulillah, bersama ini kami sampaikan rumusan rekomendasi kegiatan “SEMILOKA NASIONAL KONSERVASI BIODIVERSITAS UNTUK PERLINDUNGAN DAN PENYELAMATAN PLASMA NUTFAH DI PULAU JAWA”, yang diselenggarakan oleh Panitia Konservasi Biodiversitas Flora dan Fauna di Gunung Lawu, Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta, Kegiatan Seminar dilaksanakan pada tanggal 17-18 Juli 2000, dilanjutkan Lokakarya pada tanggal 19-20 Juli 2000. Kegiatan ini dilatarbelakangi tingginya tingkat kerusakan alam/habitat di Pulau Jawa, serta belum adanya kawasan konservasi setingkat Taman Nasional di daratan Pulau Jawa bagian tengah, khususnya Propinsi Jawa Tengah, oleh karenanya dirasa perlu adanya upaya untuk turut serta memberikan sumbang saran dalam permasalahan ini, serta mendorong terbentuknya kawasan konservasi di wilayah tersebut, sehingga usaha perlindungan, penyelamatan, penelitian dan pemanfaatkan kekayaan hayati di Jawa dapat dioptimalkan. Adapun garis besar rekomendasi kegiatan tersebut adalah:Visi: 1.Mempertahankan status Gunung Lawu sebagai sumber air bagi masyarakat di sekitarnya pada khususnya dan di Pulau Jawa pada umumnya.2.Melestarikan sumber daya alam hayati dan ekosistem di Gunung Lawu (keanekaragaman hayati sebagai modal dasar pembangunan yang berkelanjutan.Misi:1.Melakukan upaya konservasi sumber daya alam dan lingkungan di Gunung Lawu melalui pendekatan bioprospecting.2.Mengupayakan perubahan status hutan produksi di sekitar Gunung Lawu menjadi hutan lindung untuk memperluas kawasan konservasi, serta sebagai langkah awal peningkatan status perlindungan kawasan tersebut hingga tingkat taman nasional.Harapan kami, rekomendasi ini mendapatkan perhatian dan tanggapan sebagaimana mestinya, sehingga upaya pelestarian sumber daya alam dan lingkungan di Gunung Lawu khususnya dan di Pulau Jawa pada umumnya dapat menjadi agenda bersama yang mendesak untuk dikerjakan, mengingat penurunan kualitas lingkungan di

  20. Pengolahan Limbah Cair Industri Pewarnaan Jeans Menggunakan Membran Silika Nanofiltrasi Aliran Cross Flow untuk Menurunkan Warna dan Kekeruhan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Veny Rachmawati

    2013-09-01

    Full Text Available Limbah cair industri tekstil disamping mengandung bahan pencemar organik yang tinggi, juga mengandung bahan pewarna organik rantai panjang yang relatif sukar diolah dengan proses biologis. Sedangkan proses pengolahan secara kimia seringkali kurang efektif dikarenakan biaya untuk pembelian bahan kimianya cukup tinggi dan pada umumnya pengolahan air limbah secara kimia akan menghasilkan sludge. Sehingga dipilih teknologi membran sebagai media filtrasi baik yang digunakan pada skala laboratorium maupun industri, proses berlangsung cepat, cara pengoperasian sederhana, mudah dalam penggandaan skala, tidak memerlukan ruang yang besar, dan dapat mendapatkan permeat dengan kualitas sangat baik. Pasir silika merupakan bahan yang dapat digunakan sebagai sumber silika untuk pembuatan membran. Metode yang digunakan untuk sintesis silika yaitu metode alkalifussion dikarenakan  metode ini menghasilkan silika dengan kemurnian 99%.Membran silika merupakan membran yang terbuat dari silika dengan perekat poly vinyl alcohol (PVA, pengemulsi poly ethylen glykol (PEG, dan semen putih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh massa silika dan konsentrasi limbah terhadap koefisien rejeksi, fluks, struktur dan morfologi membran. Uji struktur dan morfologi membran dilakukan dengan FTIR serta SEM.  Parameter yang digunakan pada penelitian ini adalah warna dan kekeruhan. Nilai koefisien rejeksi tertinggi sebesar 96,86% untuk warna dan 99,31% untuk kekeruhan yang diperoleh dari massa campuran silika 5 gram (28,65  %wt, volume limbah 100% dengan kandungan warna 1,123 Co dan kekeruhan 180,5 NTU. Nilai fluks tertinggi sebesar 3,432 liter.m-2.jam-1 yang diperoleh dari massa campuran silika 8 gram (39,12 %wt dengan penggunaan volume limbah 25% yang mengandung  warna 0,525 Co dan kekeruhan 40,9 NTU. Membran silika yang optimum untuk menurunkan warna dan kekeruhan diperoleh dari massa campuran silika 5 gram (28,65  %wt dengan % volume limbah 100%.

  1. PEMBELAJARAN SENI TARI: AKTIF, INOVATIF DAN KREATIF

    OpenAIRE

    Gandes Nurseto

    2015-01-01

    Pendidikan seni tari perlu diberikan pada Sekolah Dasar karena keunikan, kebermaknaan terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk berapresiasi dan menggunakan model pembelajaran yang PAIKEM Pembelajaran, Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenagkan dalam proses pembelajaran didalam kelas dari Standar Kompetensi dan Komptensi Dasar mengapresiasi karya seni tari tunggal nusantara yang bertujuan untuk mengenalkan karya seni tari daerah lain. Masalah dalam penelitian ini bagaiman...

  2. Kandidiasis di Mulut akibat Khemoterapi dan Penatalaksanaannya

    OpenAIRE

    2016-01-01

    Latar belakang: kandidiasis (kandidosis) adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh spesies Candida biasanya Candida albicans. Faktor predisposisi yang memicu kandidiasis adalah terganggunya ekologi mulut karena antara lain pemakaian antibiotika, kortikosteroid, penyakit kronis dan keganasan, beberapa gangguan darah; terapi radiasi di leher dan kepala; khemoterapi; leukimia, obat sitotoksik, juga kebersihan mulut yang buruk. Tujuan: melaporkan kasus kandidiasis di mulut karena khemoterapi dan ...

  3. Propagation des ondes élastiques dans les matériaux non linéaires Aperçu des résultats de laboratoire obtenus sur les roches et des applications possibles en géophysique Propagation of Elastic Waves in Nonlinear Materials Survey of Laboratory Results on Rock and Geophysical Applications

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rasolofosaon P.

    2006-12-01

    Full Text Available Les roches présentent souvent un comportement élastique nettement non linéaire, entraînant des conséquences importantes sur la propagation des ondes. Cette non-linéarité élastique est surtout causée par les microdéfauts mécaniques ubiquistes (microfissures, joints de grains, macles, etc. dont la rigidité varie sous l'effet de la contrainte. Ce sujet fait l'objet d'études de plus en plus nombreuses. Nous nous proposons de présenter très sommairement les bases théoriques et les résultats expérimentaux permettant d'avoir un ordre de grandeur des effets caractéristiques observés dans les roches afin de pouvoir proposer une approche critique des possibilités d'applications en géophysique. Deux disciplines se sont développées en parallèle à partir du même principe physique et avec des formalismes très proches : - L'acousto-élasticité étudie l'effet des précontraintes statiques sur les vitesses de propagation des ondes élastiques. On dispose d'un formalisme mécanique élaboré permettant de relier quantitativement variation de contrainte et variation de vitesse élastique (par exemple pour ce qui concerne l'anisotropie acoustique induite par un état de contrainte et d'une méthode expérimentale de mesure des coefficients de non-linéarité. - L'acoustique non linéaire s'intéresse aux conséquences de la variation des modules élastiques au passage d'une onde qui ne peut plus être considérée comme une petite perturbation, mais qui induit localement des modifications mesurables du milieu de propagation ; modifications entraînant l'apparition de phénomènes inconnus en acoustique linéaire tels que la génération d'harmoniques et l'interaction onde-onde. Les applications à la sismique pétrolière semblent fort lointaines puisque, avec les méthodes classiques de surface ou de puits, il y a peu d'espoir de réussir à faire propager jusqu'aux couches profondes des ondes dont l'amplitude dépasserait le seuil de

  4. Energy from algae using microbial fuel cells

    KAUST Repository

    Velasquez-Orta, Sharon B.

    2009-08-15

    Bioelectricity production froma phytoplankton, Chlorella vulgaris, and a macrophyte, Ulva lactuca was examined in single chamber microbial fuel cells (MFCs). MFCs were fed with the two algae (as powders), obtaining differences in energy recovery, degradation efficiency, and power densities. C. vulgaris produced more energy generation per substrate mass (2.5 kWh/kg), but U. lactuca was degraded more completely over a batch cycle (73±1% COD). Maximum power densities obtained using either single cycle or multiple cycle methods were 0.98 W/m2 (277 W/m3) using C. vulgaris, and 0.76 W/m2 (215 W/m3) using U. lactuca. Polarization curves obtained using a common method of linear sweep voltammetry (LSV) overestimated maximum power densities at a scan rate of 1 mV/s. At 0.1 mV/s, however, the LSV polarization data was in better agreement with single- and multiple-cycle polarization curves. The fingerprints of microbial communities developed in reactors had only 11% similarity to inocula and clustered according to the type of bioprocess used. These results demonstrate that algae can in principle, be used as a renewable source of electricity production in MFCs. © 2009 Wiley Periodicals, Inc.

  5. Algae-based oral recombinant vaccines.

    Science.gov (United States)

    Specht, Elizabeth A; Mayfield, Stephen P

    2014-01-01

    Recombinant subunit vaccines are some of the safest and most effective vaccines available, but their high cost and the requirement of advanced medical infrastructure for administration make them impractical for many developing world diseases. Plant-based vaccines have shifted that paradigm by paving the way for recombinant vaccine production at agricultural scale using an edible host. However, enthusiasm for "molecular pharming" in food crops has waned in the last decade due to difficulty in developing transgenic crop plants and concerns of contaminating the food supply. Microalgae could be poised to become the next candidate in recombinant subunit vaccine production, as they present several advantages over terrestrial crop plant-based platforms including scalable and contained growth, rapid transformation, easily obtained stable cell lines, and consistent transgene expression levels. Algae have been shown to accumulate and properly fold several vaccine antigens, and efforts are underway to create recombinant algal fusion proteins that can enhance antigenicity for effective orally delivered vaccines. These approaches have the potential to revolutionize the way subunit vaccines are made and delivered - from costly parenteral administration of purified protein, to an inexpensive oral algae tablet with effective mucosal and systemic immune reactivity.

  6. Algae-based oral recombinant vaccines

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Elizabeth A Specht

    2014-02-01

    Full Text Available Recombinant subunit vaccines are some of the safest and most effective vaccines available, but their high cost and the requirement of advanced medical infrastructure for administration make them impractical for many developing world diseases. Plant-based vaccines have shifted that paradigm by paving the way for recombinant vaccine production at agricultural scale using an edible host. However, enthusiasm for molecular pharming in food crops has waned in the last decade due to difficulty in developing transgenic crop plants and concerns of contaminating the food supply. Microalgae are poised to become the next candidate in recombinant subunit vaccine production, and they present several advantages over terrestrial crop plant-based platforms including scalable and contained growth, rapid transformation, easily obtained stable cell lines, and consistent transgene expression levels. Algae have been shown to accumulate and properly fold several vaccine antigens, and efforts are underway to create recombinant algal fusion proteins that can enhance antigenicity for effective orally-delivered vaccines. These approaches have the potential to revolutionize the way subunit vaccines are made and delivered – from costly parenteral administration of purified protein, to an inexpensive oral algae tablet with effective mucosal and system immune reactivity.

  7. KERACUNAN BAHAN KIMIA BERACUN DI RUMAH TANGGA DAN PENANGGULANGANNYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Satmoko Satmoko

    2012-10-01

    Full Text Available Pada umumnya semua bahan kimia merupakan racun, termasuk obat-obatan. Bahan kimia beracun di dalam rumah setiap saat dapat mengancam keselamatan kita, terutama anak-anak.Bahan bahan kimia yang sering digunakan dan, disimpan di rumah tangga adalah sangat beragam. Hal ini perlu diperhatikan oleh masyarakat umum karena bahan kimia tersebut dapat membahayakan anak-anak, khususnya balita atau bahkan orang dewasa apabila dalam pelabelan tidak jelas atau memindahkan wadah asli bahan kimia ke wadah lain tanpa diberikan keterangan atau label.Bahan kimia yang sering disimpan di rumah tangga adalah antara lain, spiritus (metil alkohol, asam cuka, air aki, aseton (penghapus cat kuku, bensin, pestisida, deterjen, karnper, kaporit, karbol, minyak tanah, terpentin, oli, obat obatan (boorwater, asetosal, obat-obatan penurun panas, barbiturat, mereurochrom, dan lain sebagainya.  

  8. INOVASI PUPUK ORGANIK KOTORAN AYAM DAN ECENG GONDOK DIKOMBINASI DENGAN BIOTEKNOLOGI MIKORIZA BENTUK GRANUL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A Asngad

    2014-06-01

    Full Text Available Tujuan penelitian ini adalah membuat formula pupuk organik limbah dari campuran kotoran ayam dan eceng gondok sebagai pupuk organik dasar dan memproduksi pupuk organik unggul kombinasi pupuk organik dasar dan pupuk hayati spora CMA dalam kemasan granul. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen dan analisis laboratorium dilakukan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas hara pupuk yang dihasilkan, serta kandungan logam berat. Pupuk secara diskriptif dibandingkan dengan baku mutu pupuk organik menurut SK Mentan 2009. Hasil analisis hara makro dan mikro, serta logam berat pada pupuk organik dasar sudah memenuhi persyaratan baku mutu pupuk organik. Perbanyakan pupuk  hayati CMA diperoleh 35 butir spora CMA/gram. Formula pembuatan campuran pupuk organik dasar: 2 kotoran ayam, 1 eceng gondok. Pupuk tersebut ditambah dengan 1 kg inokulum CMA atau pupuk hayati, 0,5 kg clay merah, 0,5 kg fosfat alam, 0,25 kg clay putih; 500 cc air. Hasil analisis hara makro dan mikro, campuran pupuk organik dasar dan hayati yang telah digranul sesuai dengan standar pupuk organik dari SK Mentan 2009. Disimpulkan bahwa campuran pupuk organik dari bahan dasar (kotoran ayam dan gulma air, yang ditambah dengan pupuk hayati dapat digunakan sebagai alternatif pengganti pupuk anorganik. Pupuk granul lebih efisien dan efektif digunakan untuk berbagai campuran dan di lapang. The research objective is to make the formula of organic fertilizer from water weed and chicken poop mixture as the basic organic fertilizer and to produce excellent organic fertilizer from the combination of basic organic fertilizer and biologic CMA spore fertilizer in a granule package. The study was conducted with an experimental method and laboratory analysis to determine the quantity and quality of fertilizer nutrients and heavy metal content that was descriptively compared to the standard organic fertilizer by SK Mentan 2009. The results showed that the quantity and quality of the fertilizer

  9. Studi Korelasi Antara Bod Dengan Unsur Hara N, P Dan K Dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (PKS)

    OpenAIRE

    Hidup Simanjuntak

    2009-01-01

    Telah dilakukan penelitian tentang studi korelasi antara BOD dengan unsur hara N, P dan K dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit. Sampel Limbah Cair Pabrik Kelapa sawit berasal dari Instalasi Pengolahan Air Limbah PT. Nusantara II (Persero) unit Pengolahan Sawit Seberang Kabupaten Langkat. Sampel diambil dari kolam Anaerobik primer 1, kolam Anaerobik primer 2, kolam Anaerobik sekunder 1 dan kolam Anaerobik sekunder 2. BOD dianalisa dengan metode Winkler, N dengan metode Dekstruksi Kjehldahl...

  10. FORMULASI MINUMAN SINBIOTIK DENGAN PENAMBAHAN PUREE PISANG AMBON (Musa paradisiaca var sapientum DAN INULIN MENGGUNAKAN INOKULUM Lactobacillus casei

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dewi Desnilasari

    2014-10-01

    sinbiotik terpilih adalah formulasi perbandingan puree pisang dan susu skim 1:1 dengan penambahan inulin 2%. Hasil analisis mutu minuman sinbiotik dengan kadar air 84,46%, abu 0,75%, protein 2,79%, lemak 0,2%, karbohidrat 11,8%, total BAL 3,6 x 10 9 cfu/ml, cemaran Coliform dibawah ambang batas yang ditetapkan dan Salmonella negatif. Kata kunci: Pisang ambon, minuman sinbiotik, L. casei

  11. KOMPOSISI KIMIA MINYAK ATSIRI BUAH SIRIH HIJAU (PIPER BETLE L, KEMUKUS (PIPER CUBEBA L DAN CABE JAWA (PIPER RETROFRACTUM VAHL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M. Widyo Wartono

    2014-05-01

    Full Text Available Tumbuhan genus Piper mempunyai kandungan minyak atsiri hampir disemua bagiannya, namun komposisi kimianya belum semua dilaporkan. Pada laporan ini kami melakukan isolasi dan identifikasi senyawa kimia minyak atsiri pada bagian buah tumbuhan Piper. Isolasi minyak atsiri buah Piper dilakukan dengan destilasi air menggunakan destilasi Stahl dan analisis komposisi kimia dengan kromatografi gas-spektroskopi masa (GC-MS. Kandungan minyak atsiri buah sirih hijau (Piper betle 1,4% (v/b, cabe jawa (Piper retrofractum 1% (v/b, dan buah kemukus (Piper cubeba 1,7% (v/b. Hasil analisis GC-MS menunjukan kandungan utama minyak atsiri adalah senyawa golongan monoterpen, seskuiterpen dan fenil propanoid. Kandungan utama minyak atsiri buah sirih hijau (P. betle adalah eugenol (12,36%, isokaryofillena (9,55% dan β-selinena (8,09%, sedangkan komponen utama buah cabe jawa (Piper retrofractum adalah isokaryofilen (8,88%, β-bisabolen (7,01% dan zingiberen (6,32%, dan minyak atsiri buah kemukus (Piper cubeba adalah spathulanol (27,05%, sativen (8,73% dan germakren D (7,50%.

  12. Pengujian Pengaturan dan Penyeimbangan dalam Sistem Pengkondisian Udara

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Soejono Tjitro

    1999-01-01

    Full Text Available The design and installation of an air conditioning system may be carried out properly, but if it is not adjusted and balanced to meet design conditions, it will not perform satisfactorily. The complexity of modern air conditioning systems may make the balancing process quite involved. Even some experienced personnel frequently are unaware of the difficulties and requirements of balancing. In the past it was often possible to get by with making a few adjustments and checking if people were comfortable. This is no longer satisfactory on large systems. Organized procedures are required to balance a system so that it will result in comfort in all seasons. Furthermore, the increased need for minimizing energy waste also requires correct balancing techniques. An improperly balanced system will almost certainly use excess energy. The testing and balancing process is often carried out by the contractor upon completion of the installation but for large systems a whole new profession has grown, with organizations and specialist who do only this work. This has happened not only because of the complexity of the task, but it also means an independent organization verifies that the system is operating correctly. Abstract in Bahasa Indonesia : Desain dan pelaksanaan pemasangan sistem pengkondisian udara bisa saja sudah dilakukan dengan tepat, tetapi jika tidak diatur (adjusted dan diseimbangkan (balanced sesuai dengan kondisi desain, maka tidak akan menunjukkan hasil yang memuaskan. Kompleksitas sistem pengkondisian udara modern menjadikan proses penyeimbangan cukup rumit. Bahkan para ahli seringkali tidak sadar akan kesulitan dan persyaratan balancing. Pada masa lalu, seringkali mungkin mendapatkan penghuni merasa nyaman dengan sedikit pengaturan dan pemeriksaan. Hal itu tidak akan memuaskan untuk sistem yang besar. Prosedur yang terorganisir dibutuhkan untuk menyeimbangkan sistem tersebut sehingga menghasilkan kenyamanan sepanjang waktu. Terlebih lagi

  13. Pencemaran merkuri di perairan dan karakteristiknya: suatu kajian kepustakaan ringkas

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M. Adlim

    2016-05-01

    emas menggunakan unsur merkuri yang sukar larut dalam air, kelarutannya hanya 0,06 g per ton unsur merkuri  namun kelarutannya dapat meningkat jika di dasar laut yang gelap dan banyak oksigen terlarut. Berdasarkan sifat kelarutannya, dapat dipahami bahwa kadar merkuri di Sungai Teunom masih di bawah batas toleransi, namun aktivitas penambangan emas tetap saja memiliki resiko kerusakan lingkungan apalagi jika tidak mendapat pengawasan yang memadai. Banyak peneliti berusaha membuktikan perubahan merkuri menjadi metil merkuri (biometilasi tetapi mereka menggunakan garam merkuri dan bukan unsur merkuri dalam ekperimen mereka. Metil merkuri memang ditemukan di alam tetapi proses perubahan dari senyawa merkuri menjadi metil merkuri masih diperdebatkan dan belum diperoleh bukti yang kuat perubahan dari unsur merkuri menjadi metil merkuri dalam air sehingga di Peraian Aceh belum tentu tercemar metil merkuri sebagaimana kasus Minamata. Kata kunci: Aceh; metil-merkuri; minamata; penambangan; emas

  14. ANALISIS HUBUNGAN SISTEM BANGUNAN DENGAN KINERJA TOTAL DAN INTEGRASI BANGUNAN PADA BERBAGAI GEDUNG BERTINGKAT DI SURABAYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Herry Pintardi Chandra

    2001-01-01

    Full Text Available Factors in building system design have target in achieving maximum performance when they have proper correlation with total performance and building integrity. The purpose of this research is to find out the influence of building system: structural, envelope, mechanical and interior, to the performance and building integrity: spatial, thermal, indoor air quality, acoustical, and performance visual and building integrity. The analysis shows that: Structural system has dominant influence to the spatial performance, indoor air quality and building integrity (mean 4,75, envelope system has dominant influence to the thermal performance (mean 4,75, mechanical system has dominant influence to the visual performance (mean 5,00, interior system has dominant influence to the spatial performance (mean 4,75, In conclusion, there are differences in which building systems affect the total performance and building integrity. Abstract in Bahasa Indonesia : Faktor-faktor dalam desain sistem bangunan mempunyai sasaran dalam mencapai kinerja maksimum bila memiliki hubungan yang sesuai dengan kinerja total dan integrasi bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana faktor-faktor dalam sistem bangunan: structural, envelope, mechanical dan interior berpengaruh terhadap kinerja dan integrasi bangunan: spatial, thermal, indoor air quality, acoustical dan visual performance serta building integrity. Dari hasil analisis data, didapat: Structural system memiliki pengaruh yang dominan terhadap spatial performance, indoor air quality dan building integrity (mean 4,75, envelope system memiliki pengaruh yang dominan terhadap thermal performance (mean 4,75, mechanical system memiliki pengaruh yang dominan terhadap visual performance (mean 5,00, interior system memiliki pengaruh yang dominan terhadap spatial performance (mean 4,75. Disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pengaruh desain sistem terhadap kinerja total dan integrasi bangunan.

  15. Sustainability of algae derived biodiesel: a mass balance approach.

    Science.gov (United States)

    Pfromm, Peter H; Amanor-Boadu, Vincent; Nelson, Richard

    2011-01-01

    A rigorous chemical engineering mass balance/unit operations approach is applied here to bio-diesel from algae mass culture. An equivalent of 50,000,000 gallons per year (0.006002 m3/s) of petroleum-based Number 2 fuel oil (US, diesel for compression-ignition engines, about 0.1% of annual US consumption) from oleaginous algae is the target. Methyl algaeate and ethyl algaeate diesel can according to this analysis conceptually be produced largely in a technologically sustainable way albeit at a lower available diesel yield. About 11 square miles of algae ponds would be needed with optimistic assumptions of 50 g biomass yield per day and m2 pond area. CO2 to foster algae growth should be supplied from a sustainable source such as a biomass-based ethanol production. Reliance on fossil-based CO2 from power plants or fertilizer production renders algae diesel non-sustainable in the long term.

  16. Heat wave during the summer 2003: relationship between temperature, air pollution and mortality in nine French towns; Vague de chaleur de l'ete 2003: relations entre temperatures, pollution atmospherique et mortalite dans neuf villes francaises

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    2006-07-01

    The objective of this study is to estimate, by taking the a particular period of summer 2003, the relationship between the exposure to ozone and the mortality risk. This estimation has for aim to realize a more valid, scientifically, evaluation of sanitary impact, for the period of heat wave that this one that could has been lead from anterior results. This study searches also to estimate, for the period of heat wave, the excess of mortality risk linked with the exposure to temperature and air pollution and the relative part of each of these factors in this combined effect. The analysis searches to evaluate an eventual displacement of mortality at short term that is to say a period of under mortality occurring at the immediate declining of the heat wave. (N.C.)

  17. Study and determination of the national dosimetric standards in terms of air kerma for X-rays radiation fields of low and medium-energies; Etude et realisation des references dosimetriques nationales en termes de kerma dans l'air pour les faisceaux de rayons X de basses et moyennes energies

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Ksouri, W

    2008-12-15

    Progress in radiation protection and radiotherapy, and the increased needs in terms of accuracy lead national metrology institutes to improve the standard. For ionizing radiation, the standard is defined by an absolute instrument used for air kerma rate measurement. The aim of the thesis is to establish standards, in terms of air kerma for X-rays beams of low and medium-energies. This work enables to complement the standard beam range of the Laboratoire National Henri Becquerel (LNHB). Two free-air chambers have been developed, WK06 for medium-energy and WK07 for low-energy. The air-kerma rate is corrected by several correction factors. Some are determined experimentally; and the others by using Monte Carlo simulations. The uncertainty budget of the air-kerma rate at one standard deviation has been established. These dosimetric standards were compared with those of counterparts' laboratories and are consistent in terms of degree of equivalence. (author)

  18. PENGARUH PEMBERIAN HIJAUAN DAN KONSENTRAT MENGANDUNG UREA-KAPUR DAN UBI KAYU TERHADAP PENAMPILAN KAMBING PE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I G. Mahardika

    2015-06-01

    Full Text Available Penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian hijauan dan konsentrat yang mengandung urea-kapur dan ubi kayu terhadap produktivitas kambing. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Ke empat perlakuan yang dicobakan adalah Perlakuan A: ransum dengan 75% konsentrat (mengandung 4% urea, 2% kapur dan 50% ubikayu dan 25% hijauan (40% gamal dan 60% rumput raja, perlakuan B: rasnsum yang terdiri 60% konsentrat 40% hijauan, perlakuan C: ransum dengan 45% konsentrat dan 55% hijauan dan perlakuan D: ransum dengan 30% konsentrat dan 70% hijauan. Hasil penelitian mendapatkan bahwa produktivitas kambing yang mendapat ransum dengan level konsentrat 45% sampai 75% tidak berbeda sedangkan yang mendapat ransum dengan level konsentrat 30% lebih rendah. Ransum yang memebrikan nilai ekonomi tertinggi adalah ransum yang mengandung konsentrat antara 45% sampai 60%.

  19. STRUKTUR DAN PRODUKSI LEBAH Trigona spp. PADA SARANG BERBENTUK TABUNG DAN BOLA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Putu Ade Hinduari Putra

    2015-12-01

    Full Text Available Lebah tanpa sengat (Trigona spp. dapat menghasilkan madu yang bermanfaat bagi kesehatan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui : (1 morfologi Trigona spp., (2 struktur internal sarang Trigona spp. pada sarang berbentuk tabung dan bola, (3 volume sarang serta perkiraan produksi madu, beebread dan selanakan Trigona spp. pada sarang berbentuk tabung dan bola. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2014. Sampel yang digunakan adalah koloni dan sarang Trigona spp. berbentuk tabung dan bola yang diambil di Desa Padang Tunggal,Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali. Hasil penelitian menunjukan bahwa nama spesies dari sampel koloni Trigona spp. pada sarang berbentuk tabung dan bola adalah Trigona laeviceps. Struktur internal sarang Trigona spp. pada sarang berbentuk tabung dan bola mempunyai pola susunan yaitu pot madu, pot beebread dan pot sel anakan. Volume sarang besar memberikan perkiraan total jumlah produksi madu, beebread dan selanakan lebih banyak dibandingkan volume sarang kecil.

  20. PERAN KEPALA SEKOLAH DAN PUSTAKAWAN DALAM PEMBERDAYAAN PERPUSTAKAAN SD MUHAMMADIYAH SAPEN DAN SD NEGERI GIWANGAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Widya Setyaningrum Bagyoastuti

    2016-04-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1 peran kepala sekolah dalam memberdayakan perpustakaan sekolah dasar, dan (2 peran pustakawan dalam memberdayakan perpustakaan sekolah dasar. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan menjadikan perpustakaan SD Muhammadiyah Sapen dan SD Negeri Giwangan sebagai subjek penelitian. Data penelitian dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi kemudian dianalisis dengan mengacu pada model interaktif menurut Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan perpustakaan sekolah dasar dimulai manakala terdapat dukungan kepala sekolah dan hadirnya pustakawan penuh waktu yang profesional. Kepala sekolah berperan sebagai (1 manajer sekolah, (2 pemimpin instruksional, dan (3 agen perubahan. Pustakawan berperan sebagai (1 manajer perpustakaan, (2 ahli informasi dan penggiat literasi informasi, (3 pelaku instruksional, dan (4 kolaborator. Pemberdayaan perpustakaan dapat dilakukan dengan (1 meningkatkan partisipasi warga sekolah dalam pengembangan koleksi pustaka, (2 meningkatkan kolaborasi antara pustakawan dengan guru dalam pembelajaran, dan (3 pengembangan literasi informasi yang terintegrasi ke dalam pembelajaran.

  1. IDENTIFIKASI DAN TEKNIK PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT BENIH PULAI (Alstonia scholaris

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Evayusvita Rustam

    2016-09-01

    Full Text Available Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan mengendalikan hama dan penyakit benih pulai yang terbawa dari lapangan. Identifikasi cendawan dilakukan dengan menginkubasi benih selama 7 hari, sedangkan untuk pengendalian terhadap hama dan penyakit benih diberi insektisida nabati dan kimia. Dari hasil identifikasi jenis cendawan pada benih pulai yaitu Aspergillus sp, Curvularia sp., Fusarium sp., Penicillium sp. dan Rhizopus sp. Persentase infeksi cendawan tertinggi pada benih pulai asal Nagrak (Aspergillus sp. sebesar 92%, Curvularia sp. 29% dan Fusarium sp. 21%, sedangkan persentase infeksi cendawan terendah pada benih pulai asal Jambi (Aspergillus sp. 2% dan Fusarium sp. 1%. Perlakuan terbaik yang dapat mengendalikan hama pada benih pulai adalah perlakuan yang diberi ekstrak daun suren dalam wadah plastik tertutup dan disimpan di ruang suhu kamar 270C selama 2 bulan. Pengendalian penyakit, terbaik pada benih adalah memberi bubuk kunyit ke dalam wadah plastik tertutup dan disimpan di lemari es 160C. Perlakuan tersebut menghasilkan daya kecambah masing-masing 70%.

  2. GRIYA DAN OMAH Penelusuran Makna dan Signifikasi di Arsitektur Jawa

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Josef Prijotomo

    1999-01-01

    Full Text Available Terms and names in architecture may sometimes be powerful in exploring history of ideas. Philology and hermeneutics are discipline of knowledge that utilize this notion in a very throgh and critical way. Inspired by those discipline of knowledge, this musing on `Griya' and `Omah' tries to demonstrate that their meaning is not `house' as many still understand them. Rather, both terms understood by the Jawanese as `any building' constructed. Critical assessment upon old documents named `Kawruh Griya' not only supportive for this understanding among the Javanese, but also provide us with a hint on one of ideals of `what a home is' among the Jawanese. The Javanese once had a notion that to dwell in a house is like sheltering under a shady tree. Since `griya' and `omah' may open our musing up to regions and cultures outside Jawa, this paper will limit its musing within the Jawanese. Abstract in Bahasa Indonesia : Kata, sebutan dan istilah yang digunakan dalam arsitektur terkadang memiliki kemampuan untuk membantu dan menjadi bahan kajian sejarah bagi dunia arsitektur. Kajian filologi dan hermeneutika dengan baik telah memanfaatkan kemampuan tersebut. Tanpa harus memaksakan diri untuk mengikuti dengan ketat bidang pengetahuan tersebut, penelusuran atas arti `griya' dan `omah' ini mencoba untuk mengungkap sebagian kecil dari sejarah arsitektur Jawa. Melalui interpretasi-menerangkan (Poespoprodjo 1987: 194-195 atas arti kedua kata tersebut di dalam berbagai naskah Kawruh Griya, keduanya samasekali tidak memiliki arti: `rumah'. Dengan penelusuran ini ditemukan pula petunjuk yang mengarah pada salah satu gagasan orang Jawa tentang rumah yakni `bagaikan berteduh di bawah pohon'. Meskipun kedua kata tersebut dapat membawa penelusuran ini ke wilayah di luar arsitektur dan masyarakat Jawa, harus diakui bahwa penelusuran ini masih dibatasi pada telusuran internal bahasa Jawa, yakni hanya mengkaji kedua kata tersebut di dalam perjalanan kebahasaan bahasa Jawa

  3. Subcellular Sequestration and Impact of Heavy Metals on the Ultrastructure and Physiology of the Multicellular Freshwater Alga Desmidium swartzii

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ancuela Andosch

    2015-05-01

    Full Text Available Due to modern life with increasing traffic, industrial production and agricultural practices, high amounts of heavy metals enter ecosystems and pollute soil and water. As a result, metals can be accumulated in plants and particularly in algae inhabiting peat bogs of low pH and high air humidity. In the present study, we investigated the impact and intracellular targets of aluminum, copper, cadmium, chromium VI and zinc on the filamentous green alga Desmidium swartzii, which is an important biomass producer in acid peat bogs. By means of transmission electron microscopy (TEM and electron energy loss spectroscopy (EELS it is shown that all metals examined are taken up into Desmidium readily, where they are sequestered in cell walls and/or intracellular compartments. They cause effects on cell ultrastructure to different degrees and additionally disturb photosynthetic activity and biomass production. Our study shows a clear correlation between toxicity of a metal and the ability of the algae to compartmentalize it intracellularly. Cadmium and chromium, which are not compartmentalized, exert the most toxic effects. In addition, this study shows that the filamentous alga Desmidium reacts more sensitively to aluminum and zinc when compared to its unicellular relative Micrasterias, indicating a severe threat to the ecosystem.

  4. Reduction of water and energy requirement of algae cultivation using an algae biofilm photobioreactor.

    Science.gov (United States)

    Ozkan, Altan; Kinney, Kerry; Katz, Lynn; Berberoglu, Halil

    2012-06-01

    This paper reports the construction and performance of an algae biofilm photobioreactor that offers a significant reduction of the energy and water requirements of cultivation. The green alga Botryococcus braunii was cultivated as a biofilm. The system achieved a direct biomass harvest concentration of 96.4 kg/m(3) with a total lipid content 26.8% by dry weight and a productivity of 0.71 g/m(2) day, representing a light to biomass energy conversion efficiency of 2.02%. Moreover, it reduced the volume of water required to cultivate a kilogram of algal biomass by 45% and reduced the dewatering energy requirement by 99.7% compared to open ponds. Finally, the net energy ratio of the cultivation was 6.00 including dewatering. The current issues of this novel photobioreactor are also identified to further improve the system productivity and scaleup.

  5. PERANCANGAN DAN PENGEMBANGAN PROTOTYPE SISTEM PARKIR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Indah Ayu Septriyaningrum

    2016-10-01

    Abstrak  Sistem parkir manual pada pelayanan parkir mall memerlukan pengelolaan dan pengembangan sistem yang lebih rumit dan jauh dari kata efisien. Informasi yang didapatkan pengelola parkir terkait kondisi parkir di lapangan setiap harinya masih kurang. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang dan mengembangkan prototype sistem parkir. Metode pengembangan dan perancangan sistem pada penelitian ini adalah metode Waterfall. Hasil yang didapatkan adalah sistem ini dapat mendeteksi keberadaan mobil pada slot parkir yang tersedia dengan bantuan Intel Galileo Board Gen 2 sebagai kontroler, sensor LDR (Light Dependent Resistor dan sensor ultrasonik (PING sebagai alat bantu pendeteksi keberadaan mobil. Sistem dapat menampilkan aktifitas parkir pada aplikasi web seperti kondisi lahan parkir kosong, lahan terisi, waktu masuk, waktu keluar, lama parkir dan kapasitas parkir yang tersedia serta grafik pemakaian lahan parkir. Dapat disimpulkan bahwa perancangan dan pengembangan sistem berhasil diimplementasikan. Kata Kunci : Sistem parkir, waterfall, Intel Galileo Board Gen 2,sensor LDR (Light Dependent Resistor, sensor ultrasonik

  6. Pengaruh penggorengan belut sawah (Monopterus albus terhadap komposisi asam amino, asam lemak, kolesterol dan mineral

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ika Astiana

    2015-05-01

    Full Text Available Abstract. The nutrition contains on eel flash aremainly amino acids, fatty acids, cholesterol, and mineral. The chemical content of foods are change during frying process. The aim of this research was to studythe rendemen, proximate composition (moisture, ashes, protein, and fat content, and analyzing the influence of deep fryingon amino acids, fatty acids, cholesterol, and mineralof eel. The research  measures were eel morfometric which includes length, diameter, circumference, total weight, yield, proximat,  amino acids, fatty acids, cholesterol, and mineral analysis on fresh eel and  after frying in 180 oC temperature for 5 minutes.Rendemen of fried eel reducedabout 26%. The increasing of  proximate levels were found on ashes by 2.56% and  fat by 14.47% while water, protein, and carbohydrate were decreased about 55.43%, 2.84%, and 14.19% respectively. All of the eel amino acids were decrease after deep frying. The highest non essensial amino acid on fresh and fried eel were glutamic acids by 12,89 g/100g and 9,06 g/100g respectively, and essensial amino acid were lisin by 7,13 g/100g and 4,91 g/100g respectively. Limit amino acid on fresh and fried eel were histidine by 1,54 g/100g and 1,18 g/100g respectively.Deep frying could increase palmitic acid by 17.37%, oleic acid by 24.31%,and EPA by 1.42%. Cholesterol content average of fresh eel was 30.15 mg /100 grams and fried eel was 170.44 mg /100 grams. Calcium, natrium, kalium, magnesium, iron, and zinc are decrease and the copper wereincrease. Keywords : composition; eel; heating; nutrition; processing Abstrak. Kandungan gizi dalam daging belut sawah diantaranya adalah asam amino, asam lemak, kolesterol, dan mineral. Proses penggorengan dapat mempengaruhi kandungan kimia suatu bahan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari rendemen, komposisi proksimat (air, abu, protein, dan lemak serta menganalisis pengaruh penggorengan terhadap kandungan asam amino, asam lemak, kolesterol

  7. Phycobiliproteins: A Novel Green Tool from Marine Origin Blue-Green Algae and Red Algae.

    Science.gov (United States)

    Chandra, Rashmi; Parra, Roberto; Iqbal, Hafiz M N

    2017-01-01

    Marine species are comprising about a half of the whole global biodiversity; the sea offers an enormous resource for novel bioactive compounds. Several of the marine origin species show multifunctional bioactivities and characteristics that are useful for a discovery and/or reinvention of biologically active compounds. For millennia, marine species that includes cyanobacteria (blue-green algae) and red algae have been targeted to explore their enormous potential candidature status along with a wider spectrum of novel applications in bio- and non-bio sectors of the modern world. Among them, cyanobacteria are photosynthetic prokaryotes, phylogenetically a primitive group of Gramnegative prokaryotes, ranging from Arctic to Antarctic regions, capable of carrying out photosynthesis and nitrogen fixation. In the recent decade, a great deal of research attention has been paid on the pronouncement of bio-functional proteins along with novel peptides, vitamins, fine chemicals, renewable fuel and bioactive compounds, e.g., phycobiliproteins from marine species, cyanobacteria and red algae. Interestingly, they are extensively commercialized for natural colorants in food and cosmetics, antimicrobial, antioxidant, anti-inflammatory, neuroprotective, hepatoprotective agents and fluorescent neo-glycoproteins as probes for single particle fluorescence imaging fluorescent applications in clinical and immunological analysis. However, a comprehensive knowledge and technological base for augmenting their commercial utilities are lacking. Therefore, this paper will provide an overview of the phycobiliproteins-based research literature from marine cyanobacteria and red algae. This review is also focused towards analyzing global and commercial activities with application oriented-based research. Towards the end, the information is also given on the potential biotechnological and biomedical applications of phycobiliproteins.

  8. HUKUM DAN PERUBAHAN MASYARAKAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Antoni Antoni

    2015-05-01

    Full Text Available Abstract: Where there is sugar there must be an ant, or likefish and water, as it were appropriate parable likens the Lawand Society, because where there is society there must be lawswill be needed. Law and society are two sides of which aredifficult to separate, because they will need each other andinfluence each other.ملخص:حیث یوجد السكر یجب أن یكون ھناك نملة، أو مثل السمك والماء، كما انھاكانت مناسبة المثل یشبھ القانون والمجتمع، وذلك لأن عندما یكون ھناك مجتمع یجبأن یكون ھناك وستكون ھناك حاجة القوانین .القانون والمجتمع وجھان لوالتي یصعبفصل، لأنھا سوف نحتاج إلى بعضنا البعض وتؤثر على بعضھا البعض.Kata Kunci: hukum dan perubahan masyarakat

  9. The globins of cyanobacteria and algae.

    Science.gov (United States)

    Johnson, Eric A; Lecomte, Juliette T J

    2013-01-01

    Approximately, 20 years ago, a haemoglobin gene was identified within the genome of the cyanobacterium Nostoc commune. Haemoglobins have now been confirmed in multiple species of photosynthetic microbes beyond N. commune, and the diversity of these proteins has recently come under increased scrutiny. This chapter summarizes the state of knowledge concerning the phylogeny, physiology and chemistry of globins in cyanobacteria and green algae. Sequence information is by far the best developed and the most rapidly expanding aspect of the field. Structural and ligand-binding properties have been described for just a few proteins. Physiological data are available for even fewer. Although activities such as nitric oxide dioxygenation and oxygen scavenging are strong candidates for cellular function, dedicated studies will be required to complete the story on this intriguing and ancient group of proteins.

  10. Kondisi perairan dan struktur komunitas makrozoobentos di Sungai Belumai Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Erni Dian Fisesa

    2014-04-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan menilai kondisi perairan dan komunitas makrozoobentos di Sungai Belumai, Sumatera Utara. Penelitian dilakukan pada Bulan Maret sampai Mei 2013 di empat 4 stasiun, pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga kali dengan interval sebulan sekali. Parameter yang diukur adalah suhu air, kecepatan arus, lebar sungai, kedalaman, kekeruhan, pH, DO, COD, TOM, dan Makrozoobentos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Belumai memiliki tingkat kekeruhan yang tinggi yaitu 163,57 – 242,6 NTU dan nilai COD telah melewati ambang batas baku mutu kelas 1, yang diperuntukkan untuk baku mutu air minum. Makrozoobentos yang mendominasi yaitu dari kelas Oligochaeta sebesar 79%. Analisis Agglomerative Hierarchical Clustering (AHC, menghasilkan 2 kelompok dendogram, yaitu kelompok A (Stasiun 1 memiliki kondisi perairan yang cukup baik ditandai dengan keberadaan organisme yang bersifat fakultatif yaitu dari kelas Gastropoda sedangkan kelompok B (Stasiun 2,3, dan 4 telah tercemar ditandai dengan keberadaan organisme dari kelas Oligochaeta yang jumlahnya mendominasi. Oligochaeta merupakan organisme yang memiliki sifat toleran terhadap bahan pencemar dan menjadi indikasi adanya pencemaran.

  11. ANALISA DISTRIBUSI PRODUK DENGAN PENDEKATAN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DAN APLIKASI BEER GAME

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Indah Pratiwi

    2007-08-01

    Full Text Available Di dunia industri terutama menyangkut pendistribusian produk saat ini masih sering terdapat bullwhip effect, yaitu adanya simpangan yang jauh antara persediaan yang ada dengan permintaan. Hal ini dikarenakan kesalahan dari interpretasi data permintaan di rantai distribusi dan sistem informasi didalam sistem pendistribusiannya, yang disebabkan kurang terintegrasinya level-level supply chain dalam menyampaikan informasi permintaan dari konsumen ke level atasnya. Hal itu juga yang dialami oleh PT Bangun Indopralon Sukses Cabang Yogyakarta yang merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pendistribusian produk tangki air, pipa PVC, pintu PVC, sambungan, slang air, ember cor, pagar BRC dan talang di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Dimana terdapat masalah pengiriman dengan lead time yang terlalu lama membuat retailer tidak dapat memperhitungkan persediaan ketika melakukan pemesanan. Karena itu terjadi bullwhip effect di 11 retailer untuk pengukuran ω1 pada pengukuran upstream. Untuk melakukan suatu perbaikan dalam proses pendistribusian digunakan konsep Supply Chain Management (SCM, dimana didalamnya tidak hanya membahas mengenai pendistribusian produk saja, tetapi juga mengenai persediaan dan sistem informasi yang mendukung penerapan SCM. Selain itu juga diperlukan suatu peramalan agar perusahaan dapat memprediksi permintaan yang akan datang dimana dalam kasus ini menggunakan metode yang memiliki nilai MAD (Mean Absolute Deviation terkecil. Selain itu juga digunakan aplikasi Beer Game untuk mengidentifikasi adanya bullwhip effect, dan memilih beberapa kebijakan (policy untuk meminimalkan terjadinya bullwhip effect.

  12. PEMODELAN STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAERAH SUMBER AIR PANAS SONGGORITI KOTA BATU BERDASARKAN DATA GEOMAGNETIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dafiqiy Ya’lu Ulin Nuha, Novi Avisena

    2012-05-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian dengan metode geomagnetik pada tanggal 26 -27 April 2011 di daerah Songgoriti Kota Batu dengan tujuan untuk mengetahui pola Anomali Magnet Total dan struktur geologi bawah permukaan. Setelah dilakukan koreksi data yang meliputi koreksi diurnal dan koreksi IGRF maka didapatkan nilai anomali magnet total serta kontinuasi ke atas dan reduksi ke kutub. Selanjutnya dilakukan interpretasi secara kualitatif dan kuantitatif. Interpretasi kuantitatif dilakukan dengan membaca pola kontur anomali magnet lokal dan reduksi ke kutub, sedangkan interpretasi kualitatif dilakukan dengan membuat penampang 2,5 D pada dua lintasan AB dan CD. Berdasarkan interpretasi kuantitatif pada kontur anomali  magnetik lokal didapatkan variasi nilai anomali antara -800 nT-600 nT dengan anomali tinggi terdapat pada arah timur dan barat daerah penelitian, anomali sedang terletak pada daerah tengah penelitian dan anomali rendah terdapat pada sedikit   daerah   tengah   penelitian.   Daerah   penelitian   didominasi   anomali   magnetik   sedang. Berdasarkan interpretasi kualitatif pada model penampang 2,5 D lintasan AB dan CD, didapatkan tujuh body yaitu batuan tufa, batuan tufa, batuan breksi vulkanik, batuan breksi tufaan, batuan lava, batuan basalt, dan batuan andesit. Berdasarkan sifat fisik dari tiap lapisan batuan, diduga batuan sarang dalam sistem geothermal yang berupa sumber air panas di daerah penelitian adalah batuan breksi vulkanik dengan batuan penutup (cap rock berupa batuan tufa. Kata Kunci : Anomali Magnet, Struktur Geologi, Air Panas.

  13. Lõuka tuuliku restaureerimine / Dan Lukas

    Index Scriptorium Estoniae

    Lukas, Dan

    2005-01-01

    Hiiumaal Pühalepa vallas Vahtrepa külas Lõuka talu maadel asuva pukktuuliku ajaloost, restaureerimise käigust. Teostus: Dan Lukas. Muinsuskaitseline järelevalve: Tõnu Sepp, tema kommentaar. Ill.:pukktuuliku lõiked ja korruste plaanid, 7 värv. fotot

  14. Corner Office: Google's Dan Clancy

    Science.gov (United States)

    Albanese, Andrew Richard; Oder, Norman

    2009-01-01

    This article presents an interview with Dan Clancy, engineering director for Google Book Search. In this interview, Clancy talks about the pending Google Book Search settlement, involving millions of volumes digitized from libraries, which drew a lawsuit from the Association of American Publishers and the Authors Guild. He also discusses pricing,…

  15. Pengembangan Reaktor Fotokatalitik Rotating Drum untuk Pengolahan Air Limbah Industri Tekstil

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Cholid Syahroni

    2015-11-01

    Full Text Available Reaksi oksidasi fotokatalitik memiliki potensi untuk mendegradasi senyawa organik hingga tingkat mineralisasi, sehingga tidak meninggalkan residu (sludge. Penelitian ini bertujuan membuat reaktor fotokatalitik rotating drum dan mengaplikasikan pada industri tekstil. Langkah percobaan meliputi pembuatan katalis TiO2 secara anodizing serta karakterisasi dengan XRD dan SEM, pembuatan reaktor fotokatalitik  rotating drum dan uji coba degradasi air limbah industri tekstil. Proses anodizing dilakukan dengan bias potensial sebesar 40 volt selama 2 jam menggunakan elektrolit etilen glikol yang mengandung amonium fluorida dan air. Uji karakterisasi secara XRD dan SEM menunjukkan bahwa struktur kristal TiO2 adalah anatase dengan ukuran kristalit 8–19 nm. Bentuk kristal nanotube, dengan diameter 30–110 nm. Hasil uji coba menunjukkan bahwa  degradasi secara fotokatalitik dengan penambahan H2O2 0,15% terhadap air limbah bisa menurunkan COD 72,12% dalam waktu 2 jam. 

  16. KUALITAS BAHAN MAKANAN DAN MAKANAN JAJANAN YANG DIJUAL DI PASAR TRADISIONAL DI BEBERAPA KOTA DI INDONESIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Supraptini Supraptini

    2015-03-01

    Full Text Available Pasar tradisional merupakan fasilitas umum untuk tempat jual beli bahan makanan/ makanan jajanan yang banyak dikunjungi masyarakat . Di Indonesia terdapat sekitar 13.450 pasar tradisional dengan 12.625 juta pedagang beraktivitas di dalamnya.  Selama ini masih sering terjadi keracunan makanan di masyarakat, oleh karena itu perlu diteliti kualitas makanan/ bahan makanan yang dijajakan. Penelitian ini bertujuan mengukur kualitas makanan (bahan makanan dan makanan jajanan yang dijual di pasar tradisional. Populasi adalah pasar tradisional yang sudah pernah dibina oleh Ditjen PP-PL. Sampel diambil secara purposif dari pasar yang telah dibina, kemudian diambil pasar yang mewakili daerah Jawa (Kab.Sragen dan Bali (Kab.Gianyar karena daerah Sumatera yang tadinya akan diwakili pasar Payakumbuh tidak dapat dilakukan akibat gempa yang menghancurkan pasar tersebut. Penelitian diaksanakan buan Februari – Nvember 2010. Metode pemeriksaan cemaran bakteriologi pada sampel makanan dengan Profile Method. Pemeriksaan cemaran kimia pada sampel uji petik makanan dengan Comparation Method, dan amino antipirin method. Dari hasil pemeriksaan beberapa makanan jajanan baik di pasar yang dibina maupun belum dibina mengandung bahan pewarna Rhodamin-B pada kue mangkok merah, cenil warna merah, kue ku merah, geplak merah, roll cake merah-kuning kerupuk warna-warni, kembang goyang orange mengandung Rhodamin-B. Methanyl Yellow ditemukan pada kerupuk warna-warni. Selain itu pengawet bahan makanan formalin ditemukan pada mie kuning di pasar yang dibina. Hasil pemeriksaan bakteriologis E. coli dan Coliform pada semua sampel daging negatif, tetapi ada beberapa sampel total mikroba positif antara 104 sampai dengan 107, yang artinya masih ada pencemaran mikroba lain selain E. coli dan Coliform. Kualitas air bersih yang digunakan di sebagian besar pasar tradisional masih memenuhi persyaratan Permenkes No.41/1999. Kesimpulan : Beberapa bahan makanan dan makanan jajanan yang dijual

  17. EFIKASI Bacillus thuringiensis H-14 YANG DIBIAKAN DALAM MEDIA KELAPA PADA PENYIMPANAN SUHU KAMAR DAN REFRIGERATOR (SUHU 40C TERHADAP VEKTOR DBD DAN MALARIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lulus Susanti

    2011-12-01

    air kelapa pada suhu 40C dan suhu kamar selama 1 hari. Tujuan penelitian ini untuk menentukan efikasi B. thuringiensis H-14 yang dibiakan dalam berbagai pH media air kelapa pada penyimpanan temperatur kamar dan suhu 40C terhadap vektor DBD dan malaria. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa Bacillus thuringiensis H-14 yang dikembangbiakan pada berbagai pH media air kelapa yang disimpan pada suhu 40C dan suhu kamar berturut-turut membutuhkan konsentrasi sebesar 90 ppm untuk membunuh jentik Ae. aegypti dan 0,64 % untuk membunuh jentik An aconitus sebesar 100 %. Pertumbuhan sel hidup dan spora hidup B.thuringiensis H-14 yang terbanyak dari media yang disimpan pada 40C adalah pada pH 7,5 berturut-turut sebesar 24, x 1011 sel/ml dan 23,9 x 1011 spora/ml, sedangkan dari media yang disimpan pada suhu kamar adalah 27,1 x 1011 sel/ml dan 5,.3 x 1011 spora/ml pada pH 8,5.Hasil uji analisa air kelapa adalah kandungan karbohidrat 1.68%, protein 0.12%, kadar gula reduksinya 1.52%. dan lemak 0.01%, Media air kelapa merupakan media lokal yang potensial bagi pengembangbiakan B. thuringiensis H-14.

  18. Gangguan Fungsi Penghidu dan Pemeriksaannya

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Effy Huriyati

    2014-01-01

    Full Text Available AbstrakLatar belakang: Fungsi penghidu pada manusia memegang peranan penting. Gangguan penghidu dapat mempengaruhi keselamatan dan kualitas hidup seseorang. Tujuan: Untuk mengetahui jenis gangguan penghidu, penyebab gangguan penghidu, dan pemeriksaannya. Tinjauan Pustaka: Gangguan penghidu dapat berupa anosmia yaitu hilangnya kemampuan penghidu, atau hiposmia yaitu berkurangnya kemampuan penghidu. Gangguan penghidu disebabkan gangguan konduksi, gangguan sensoria dan gangguan neural. Penyakit tersering penyebab gangguan penghidu yaitu rinosinusitis kronis, rinitis alergi, infeksi saluran nafas atas dan trauma kepala. Ada beberapa modalitas pemeriksaan kemosensoris fungsi penghidu diantaranya Tes “Sniffin sticks”. Dengan tes „Sniffin sticks” dapat diketahui ambang penghidu, diskriminasi penghidu dan identifikasi penghidu seseorang. Kesimpulan: Gangguan penghidu memerlukan perhatian khusus. Diantara beberapa modalitas pemeriksaan kemosensoris penghidu, tes “Sniffin sticks” mempunyai beberapa kelebihan.Kata kunci: Gangguan penghidu, anosmia, hiposmia, tes “Sniffin sticks”.AbstractBackground: Olfactory function in humans plays an important role. Olfactory disorders can affect the safety and quality of life. Objective: To determine the type of olfactory disorder, the causes of olfactory disorders, and the examination. Literature Review: Olfactory disorder can be not smell anything or anosmia, and reduced of smell or hyposmia. Olfactory disorders caused by conduction disturbances, neural disturbances and sensoris disturbances. Disease that often causes disturbances of olfactory function is, chronic rhinosinusitis, allergic rhinitis, upper respiratory tract infections and head trauma. There are several modalities to examine chemosensoris smelling function, one of them is “Sniffin sticks” test. This test can examine threshold, discrimination, and identification of smelling. Conclusions: Impaired smelling require special attention

  19. PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN USAHA KECIL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sentot Harman Glendoh

    2001-01-01

    Full Text Available Small business as an economic activity of society on a small scale, has a central role in the economy of Indonesia. Although the economic crisis has created a great disturbance in the live of large and middle-size business, apparently small business continues to function well in the lower levels of the economy. The main role of small business is: 1 use excess labor; 2 as a producer of goods and services at reachable prices for the lower economic levels of society; 3 as a potential producer of foreign exchange because of the success of this type of industry in producing non-oil commodities for export. Remembering that the role of small business is large and has great influence on the lower economic levels of society, it is quite necessary to pay attention to the development of this sector. Abstract in Bahasa Indonesia : Usaha kecil sebagai kegiatan ekonomi rakyat berskala kecil memiliki peran sentral dalam perekonomian Indonesia. Walaupun krisis ekonomi telah memporakporandakan kehidupan bidang usaha besar dan menengah, ternyata usaha kecil tetap tegar dan berjalan marak dikawasan kehidupan ekonomi tingkat bawah. Peran pokok usaha kecil ini adalah: (1 sebagai penyerap tenaga kerja, (2 sebagai penghasil barang dan jasa pada tingkat harga yang terjangkau bagi kebutuhan rakyat banyak yang berpenghasilan rendah, (3 sebagai penghasil devisa negara yang potensial kerena keberhasilannya dalam meproduksi komoditi ekspor non migas. Mengingat peran usaha kecil tersebut sangat besar andilnya bagi negara dan masyarakat kecil dilapisan bawah, maka pembinaan dan pengembangannya sangat perlu diperhatikan. Kata kunci: pembinaan, pengembangan, usaha kecil.

  20. Perbaikan Sifat Fisik, Kimia, dan Antibakteri Edible Film Berbasis Pati Ganyong

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Budi Santoso

    2017-02-01

    0,28 mm, persen pemanjangan berkisar 37,17 hingga 84,4 %, kelarutan edible film dalam air berkisar 41,00 hingga 69,67 %, laju transmisi uap air edible film berkisar antara 4,09 hingga 11,77 g.m-2.hari-1, dan bersifat antibakteri Staphylococcus aureus dengan nilai diameter daya hambat (DDH berkisar 0,44 hingga 2,79 mm.

  1. Desiccation induces accumulations of antheraxanthin and zeaxanthin in intertidal macro-alga Ulva pertusa (Chlorophyta.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Xiujun Xie

    Full Text Available For plants and algae, exposure to high light levels is deleterious to their photosynthetic machineries. It also can accelerate water evaporation and thus potentially lead to drought stress. Most photosynthetic organisms protect themselves against high light caused photodamages by xanthophyll cycle-dependent thermal energy dissipation. It is generally accepted that high light activates xanthophyll cycle. However, the relationship between xanthophyll cycle and drought stress remains ambiguous. Herein, Ulva pertusa (Chlorophyta, a representative perennial intertidal macro-algae species with high drought-tolerant capabilities and simple structures, was used to investigate the operation of xanthophyll cycle during desiccation in air. The results indicate that desiccation under dim light induced accumulation of antheraxanthin (Ax and zeaxanthin (Zx at the expense of violaxanthin (Vx. This accumulation could be arrested by dithiothreitol completely and by uncoupler (carbonyl cyanide p-trifluoromethoxyphenylhydrazone partially, implying the participation of Vx de-epoxidase in conversion of Vx to Ax and Zx. Treatment with inhibitors of electron transport along thylakoid membrane, e.g. DCMU, PG and DBMIB, did not significantly arrest desiccation-induced accumulation of Ax and Zx. We propose that for U. pertusa, besides excess light, desiccation itself could also induce accumulation of Ax and Zx. This accumulation could proceed without electron transport along thylakoid membrane, and is possibly resulting from the reduction of thylakoid lumen volume during desiccation. Considering the pleiotropic effects of Ax and Zx, accumulated Ax and Zx may function in protecting thylakoid membrane and enhancing thermal quenching during emersion in air.

  2. PENGARUH KOMBINASI JENIS BAKTERI PROBIOTIK BERBEDA TERHADAP SINTASAN DAN PRODUKSI UDANG WINDU DI TAMBAK SEMI-INTENSIF

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Endang Susianingsih

    2012-12-01

    Full Text Available Penelitian dilaksanakan selama 16 minggu bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi bakteri probiotik berbeda terhadap sintasan dan produksi udang windu di tambak semi-intensif dengan padat penebaran tokolan 10 ekor/m2. Tiga kombinasi bakteri probiotik yang diuji adalah: A Kombinasi bakteri probiotik A (BL542+ MR55+BT951; B Pergiliran bakteri probiotik BL542 pada bulan I, MR55 bulan II, BT951 bulan III, dan BL542 bulan IV; dan (C Pergiliran bakteri probiotik BT951 pada bulan I, MY1112 bulan II, BL542 bulan III, dan BT951 bulan IV. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL. Penelitian menggunakan 9 petak tambak di Instalasi Tambak Percobaan (ITP Marana, Maros yang berukuran 25 m x 10 m, yang masing-masing diaerasi dengan blower supercharge. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa sintasan dan produksi udang windu tertinggi dicapai pada perlakuan probiotik C (76,6% dan 484,5 kg/ha, diikuti perlakuan probiotik B (56,2% dan 440,0 kg/ha, dan probiotik A (58,8% dan 320,8 kg/ha, namun secara statistik ketiga perlakuan ini berbeda tidak nyata (P>0,05. Relatif tingginya sintasan udang windu pada penelitian ini terkait dengan kemampuan bakteri probiotik dalam menekan jumlah bakteri Vibrio spp., kandungan Total Ammonium Nitrogen (TAN dan nitrit-nitrogen air tambak.

  3. SPESIFIKASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK ETANOL BIJI PINANG (ARECA CATECHU L ASAL TAWANGMANGU SERTA TOKSISITAS AKUT DAN KHASIAT HEMOSTATIKNYA PADA HEWAN COBA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sa'roni Sa'roni

    2012-10-01

    Full Text Available Biji pinang (Areca catechu L secara tradisional diantaranya digunakan untuk obat menghentikan cucur darah dan haid banyak mengeluarkan darah. Untuk membuktikan penggunaan tersebut perlu dilakukan penelitian apakah ekstrak biji pinang mempunyai khasiat hemostatik, yaitu dapat mempercepat waktu beku darah serta untuk mendapatkan gambaran toksisitasnya ditentukan harga LD50 nya. Sebelum penelitian dilakukan spesifikasi simplisia dan ekstrak total dari biji pinang. Penelitian LD50 menurut cara Weil ,C.S dengan menggunakan hewan mencit dan penelitian khasiat hemostatik menurut cara Lee-White dengan menggunakan hewan tikus putih. Penelitian khasiat hemostatik dilakukan pada 3 macam  dosis ekstrak biji pinang yaitu 1,63mg, 4,9mg dan 16,3mg/100g.bobot badan tikus. Spesifikasi simplisia biji pinang asal Tawangmangu berwarna coklat, rasa pahit, kadar abu 4,2%± 0,1 kadar air  6,9%± 0,27. Spesifikasi ekstrak etanol biji pinang berwarna coklat kemerahan rasa pahit, kental, mengandung kaloid, saponin, flavonoid, tanin, polifenol dan antrakinon. Besar LD50 ekstrak etanol biji pinang 4,14 (3,31-5,18mg/10g. bobot badan secara ip pada mencit. Ekstrak dosis 16,3mg/100g.bobot badan tikus mempunyai khasiat hemostatik yang tidak berbeda dengan transamin dosis 4,5mg/100g.bobot badan tikus.   Kata kunci :  Areca catecu L; Toksisitas akut; Hemostatik

  4. Shewanella alga bacteremia in two patients with lower leg ulcers

    DEFF Research Database (Denmark)

    Domínguez, H.; Vogel, Birte Fonnesbech; Gram, Lone;

    1996-01-01

    The first Danish cases of Shewanella alga bacteremia in two patients with chronic lower leg ulcers are reported. Both patients were admitted to the hospital during the same month of a very warm summer and had been exposed to the same marine environment, thereby suggesting the same source of infec......The first Danish cases of Shewanella alga bacteremia in two patients with chronic lower leg ulcers are reported. Both patients were admitted to the hospital during the same month of a very warm summer and had been exposed to the same marine environment, thereby suggesting the same source......'Etoile, France), but further genetic and physiological analyses identified them as Shewanella alga....

  5. Study of air entrainment in high pressure spray: optics diagnostics and application to the Diesel injection; Etude de l'entrainement d'air dans un spray haute pression: diagnostics optiques et application a l'injection diesel

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Arbeau, A.

    2004-12-15

    The actual development of the engine must reply to a will of fuel consumption reduction and to norms more and more strict concerning the pollutant emissions. Although the Diesel engines are efficient, the NO{sub x} and particle emissions mainly come from the existence of wealthy fuel zone preventing an optimal combustion. Therefore, the air / fuel mixing preparation, highly controlled by the air entrainment in spray, is essential. In this context, we have developed metrological tools in order to analyse the air entrainment mechanism in a dense spray. The Particle Image Velocimetry (PIV) technique is first applied to a conical spray with an injection pressure less than 100 bars to study the air entrainment in spray. A transfer of the methodologies allows then the characterisation and the understanding of the air entrainment mechanism in high pressure full spray (injection pressure less than 1600 bars) type Diesel one. The influence of injection parameters (injection pressure and back pressure) on the mixing rate is studied. The increase of the injection pressure from 800 to 1600 bars implies an increase of the mixing rate of 60 %. Moreover, the thermodynamic conditions of the ambient air, simulated by the chamber back pressure, widely favours the mixing rate. Actually, this latter increases of 350 % when the chamber back pressure varies from 1 to 7 bars. The experimental results do not follow classical laws of air entrainment in one-phase flow jet with variable density, but are in good agreement with an integral model for air entrainment in an axisymmetric full spray. Finally, the Fluorescence Particle Image Velocimetry (FPIV) is introduced in order to extend the PIV application field in dense two-phase flows. (author)

  6. KINERJA DAN EFISIENSI BANK PEMERINTAH (BUMN DAN BUSN YANG GO PUBLIK DI INDONESIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sugeng Haryanto

    2012-06-01

    Full Text Available Penelitian ini menganalisis kinerja dan tingkat efisiensi bank-bank BUMN dan BUSN yang go Publik di Bursa Efek Indonesia.  Sample penelitian ini mengambil  tiga bank BUMN Bank BNI 46, Bank Mandiri dan Bank BRI  dan tiga bank BUSN (Bank BCA, Bank Niaga dan Bank Panin dengan periode analisis tahun 2005-2011. Varibael yang digunakan meliputi ROA, ROE, LAR. LDR, NPL dan BOPO. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat dan menganalisis perbedaan kinerja antara Bank BUMN dan BUSN yang go public di Bursa Efek Indonesia tahun 2005-2011.  Pendekatan pengukuran kinerja yang digunakan adalah Return on Asset (ROA, Return on Equity (ROE dan Loan to Deposit Ratio (LDR, Loan to Asset Ratio (LAR,  dan efisiensi bank. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa 1 Bank-bank nasional, baik itu bank BUMN maupun BUSN menunjukkan kinerja yang semakin baik, 2 tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja bank BUMN dan BUSN untuk variabel ROA, ROE, LAR, LDR, dan BOPO sedangkan variabel NPL yang merupakan indikator risiko kredit menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara Bank BUMN dan BUSN

  7. Propagation and Dissolution of CO2 bubbles in Algae Photo-bioreactors

    Science.gov (United States)

    Kosaraju, Srinivas

    2015-11-01

    Research grade photo-bioreactors are used to study and cultivate different algal species for biofuel production. In an attempt to study the growth properties of a local algal species in rain water, a custom made bioreactor is designed and being tested. Bio-algae consumes dissolved CO2 in water and during its growth cycle, the consumed CO2 must be replenished. Conventional methods use supply of air or CO2 bubbles in the growth medium. The propagation and dissolution of the bubbles, however, are strongly dependent on the design parameters of the photo-bioreactor. In this paper, we discuss the numerical modeling of the air and CO2 bubble propagation and dissolution in the photo-bioreactor. Using the results the bioreactor design will be modified for maximum productivity.

  8. KARAKTERISTIK MINYAK IKAN DARI LIMBAH PENGOLAHAN FILET IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypopthalmus DAN PATIN JAMBAL (Pangasius djambal

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ema Hastarini

    2013-03-01

    ABSTRAK Ikan Patin merupakan salah satu ikan air tawar ekonomis penting di Indonesia yang dikenal dengan sebutan catfish. Ikan patin memiliki kandungan lemak yang tinggi dan merupakan sumber asam lemak tidak jenuh termasuk asam lemak omega 3 yang memiliki fungsi positif bagi kesehatan manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan data karakteristik minyak ikan dari limbah pengolahan fillet ikan patin jenis Siam (Pangasius hypopthalmus dan Jambal (Pangasius djambal terutama mengenai profil asam lemaknya. Proses pengolahan filet menghasilkan filet sebagai produk utama dan sisanya berupa 6 komponen limbah yang terdiri dari kepala, tulang-ekor, kulit, daging trimm (sisa perapian fillet, daging belly flap (daging bagian perut dan isi perut. Ekstraksi minyak ikan dilakukan menggunakan metode wet rendering yang dimodifikasi. Bagian kepala, daging belly flap dan isi perut merupakan bagian yang potensial digunakan sebagai bahan baku pembuatan minyak ikan dengan rendemen minyak ikan kasar yang dihasilkan berturut – turut sebesar 9,84%, 28,52% dan 20,34% untuk ikan patin Siam dan 9,54%, 25,60% dan 30,05% untuk ikan patin Jambal. Profil asam lemak dari minyak ikan patin Siam maupun Jambal menunjukkan bahwa asam lemak palmitat dan oleat merupakan komponen utama. Persentase asam lemak tak jenuh memiliki jumlah yang lebih tinggi dibandingkan asam lemak jenuh dari total asam lemak secara keseluruhan yaitu sebesar 53,24%, 54,38%, 52,74% dan 62,70%, 62,92%, 61,97% berturut–turut untuk ikan patin jenis Siam dan Jambal bagian kepala, daging belly flap dan isi perut. Asam lemak omega 3 yaitu linolenat, EPA dan DHA terdeteksi pada kedua jenis minyak ikan patin dengan jumlah yang relatif kecil. Hasil analisis DSC minyak ikan patin Siam menunjukkan tiga kisaran zona pencairan minyak yang terdeteksi, yaitu pada kisaran suhu – 30 sampai – 16 oC, kisaran suhu – 16 sampai 25 oC, dan kisaran suhu 25 sampai 46 oC. Pada patin Jambal pencairan minyak terdeteksi lebih awal yaitu

  9. INDUSTRIALISASI DAN TANTANGANNYA PADA SEKTOR PENDIDIKAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Arif Unwanullah

    2015-10-01

    Full Text Available Abstrak: Industrialisasi dan Tantangannya pada Sektor Pendidikan. Sumbangan pendidikan dalam perubahan dan pembangunan masa lalu telah bergeser dengan kemajuan teknoekonomi dan komunikasi. Perubahan yang terjadi telah menggeser tatanan kehidupan dan pandangan masyarakat. Materialisme, kapitalisme, efisiensi, dan efektivitas telah menjadi tujuan dan semangat hidup. Pergeseran pandangan masyarakat telah mengubah pula pandangan keberhasilan dan mutu pendidikan, di mana pendidikan diukur dari keberhasilan dalam keterserapan lulusan dalam dunia kerja, oleh karenanya pendidikan dianalisis dari karakteristik sebagai investasi (capital-investment. Pergeseran makna dan tanggung jawab pendidikan mendorong dunia pendidikan melakukan pembaruan dengan alternatif: membangun pembaruan penalaran warganya menuju pemerdekaan dan pendewasaan, pendidikan dilaksanakan secara komprehensif dan bekerjasama dengan semua pihak secara kemitraan, dan membangun visi pendidikan secara komprehensif dan simultan dengan semua pihak. Kata kunci: perubahan sosial, materialistik, modernisasi dan kapitalis Abstract: Industrialization and its education Sector challenges. Contribution of education has shifted with the progress of technology, economy, and communication. The changes have shifted the society's views. Materialism, capitalism, efficiency, and effectiveness have become of interest and enthusiasm for life. The shift has changed society's view, i.e. the view of success and quality of education, in which education is measured from a rate of the absorption of graduates into labor market, therefore education is analyzed from the characteristics of an investment (capital-investment. A shift in meaning and responsibility of education encourages the education sector to create reformation through these following alternatives: creating new thoughts towards liberation and maturation, implementing education comprehensively and cooperating with all parties in partnership, and creating

  10. Macro-economics of algae products : Output WP2A7.02

    NARCIS (Netherlands)

    Voort, van der M.P.J.; Vulsteke, E.; Visser, de C.L.M.

    2015-01-01

    This report is part of the EnAlgae Workpackage 2, Action 7, directed at the economics of algae production. The goal of this report is to highlight potential markets for algae. Per type of algae market the market size, product alternatives, constraints and prices are highlighted. Based on these marke

  11. Pengaruh Variasi Komposisi Serbuk Kayu Dengan Pengikat Semen Pada Pasir Cetak Terhadap Cacat Porositas Dan Kekasaran Permukaan Hasil Pengecoran Aluminium Alloy 6061

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fatkhur M Rohman

    2014-09-01

    Full Text Available Proses pengecoran dilakukan dengan cara mencairkan logam dalam dapur pelebur, kemudian dituangkan ke dalam cetakan dan dibiarkan membeku hingga dapat dikeluarkan dari dalam cetakan. Faktor yang berpengaruh terhadap kualitas hasil pengecoran cetakan pasir, diantaranya adalah komposisi cetakan pasir dan perancangan sistem saluran (gatting system. Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh variasi komposisi serbuk kayu dengan pengikat semen pada pasir cetak terhadap cacat porositas dan kekasaran permukaan hasil pengecoran aluminium alloy 6061. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah aluminium Alloy 6061 dan komposisi semen dan air sebesar 6%, komposisi serbuk kayu sebesar 1%, 2%, 3%, 4%, 5% dan 6%  komposisi pasir silika sebesar 87%, 86%, 85%, 84%, 83% dan 82%. Dari hasil penelitian ini didapatkan nilai uji permeabilitas pasir cetak cenderung bertambah seiring dengan bertambahnya serbuk kayu. Nilai uji kompresi pasir cetak cenderung berkurang seiring dengan bertambahnya serbuk kayu.. Nilai pengujian porositas benda hasil coran didapatkan nilai terkecil terletak pada komposisi serbuk kayu 6% dan nilainya sebesar 0,25%, sedangkan nilai pengujian porositas benda hasil coran terbesar terletak pada komposisi serbuk kayu 1% dengan nilai sebesar 4,96%. Nilai pengujian kekasaran permukaan benda hasil coran didapatkan nilai terkecil terletak pada komposisi serbuk kayu 6% dan nilainya sebesar 0,06µm, sedangkan nilai pengujian kekasaran permukaan benda hasil coran terbesar terletak pada komposisi serbuk kayu 1% dengan nilai sebesar 2,00µm.

  12. NILAI CERNA DAN BIODEGRADASI THEOBROMIN POD KAKAO DENGAN PERLAKUAN FERMENTASI MENGGUNAKAN INOKULUM MULTI MIKROBIA (Digestibility Value and Theobromine Biodegradation of Cocoa Pod with Treatment of Fermentation Using Multi Microbial Inoculum

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Suci Wulandari

    2014-07-01

    SBP terhadap nilai cerna serat dan biodegradasi theobromin. Pod kakao difermentasi dalam kondisi anaerob pada suhu ruang. Kadar inokulum yang ditambahkan adalah 0; 0,05; dan 0,1 %. Selama fermentasi dilakukan pengambilan sampel pada hari ke-0, 3, dan 6 untuk mengetahui pertumbuhan bakteri selama fermentasi pod kakao, perubahan pH, perubahan nilai cerna, dan degradasi theobromin selama fermentasi, kemudian dilanjutkan dengan isolasi bakteri untuk mengetahui karakteristik isolat bakteri dari pod kakao terfermentasi dengan cara isolat yang diperoleh diuji kemampuannya dalam menghasilkan enzim selulase (CMC-ase dan β-glukoseidase dan kemampuannya dalam mendegradasi theobromin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama fermentasi pod kakao terjadi kenaikan populasi bakteri asam laktat dan bakteri total, penurunan pH, kenaikan nilai cerna serat, dan penurunan kandungan theobromin dalam pod kakao. Perubahan parameter tersebut lebih nyata terjadi pada pod kakao yang difermentasi dengan kadar air 40% dan diinokulasi dengan SBP® dosis 0,05% dengan lama fermentasi 6 hari. Penurunan theobromin pada pod kakao fermentasi terbesar mencapai 17,02%. Kenaikan nilai cerna serat dan penurunan kandungan theobromin selama fermentasi pod kakao oleh inokulan SBP dikonfirmasi dengan karakteristik isolat-isolat bakteri yang diperoleh dari pod kakao yang terfermentasi. Ada 8 isolat bakteri yang mampu menghasilkan enzim CMC-ase dan β-glukosidase dengan tingkat produksi yang berbeda-beda. Beberapa isolat bakteri juga mampu menurunkan kandungan theobromin dalam kultur cair sampai sebesar 27,07%. Kata kunci: Pod kakao, theobromin, nilai cerna serat, selulase

  13. Effects of elevated CO2 on sensitivity of six species of algae and interspecific competition of three species of algae

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    2006-01-01

    Effects of elevated CO2 (5000 μl/L) on sensitivity comparison of six species of algae and interspecific competition of three species of algae were investigated. The results showed that, the cell densities of six species of algae grown in elevated CO2significantly increased compared to those in ambient CO2 (360 μl/L), and with the time prolonged, the increasing extent increased.Therefore, elevated CO2 can promote the growth of six species of algae. However, there were differences in sensitivity between six species of algae. Based on the effects of elevated CO2 on biomass, the sensitive order (from high to low) was Platymanas sp.,Platymanas subcordiformis, Nitzschia closterium, Isochrysis galbana Parke 8701, Dunaliella salina, Chlorella sp., on the condition of solitary cultivation. Compared to ambient CO2, elevated CO2 promoted the growth of three species of algae, Platymanas subcordiformis, Nitzschia closterium and Isochrysis galbana Parke 8701 under the condition of mixed cultivation. The sensitivity of the three species to elevated CO2 in mixed cultivation changed a lot compared to the condition of solitary cultivation. When grown in elevated CO2 under the condition of mixed cultivation, the sensitive order from high to low were Nitzschia clostertium, Platymonas subcordiformis and Isochrysis galbana Parke 8701. However, under the condition of solitary cultivation, the sensitive order in elevated CO2 was Isochrysis galbana Parke 8701, Nitzschia clostertium, Platymonas subcordiformis, from sensitive to less sensitive. On the day 21, the dominant algae, the sub-dominant algae and inferior algae grown in elevated CO2 did not change. However, the population increasing dynamic and composition proportion of three algal species have significantly changed.

  14. Penentuan Kadar COD (Chemical Oxygen Demand) Pada Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit, Pabrik Karet Dan Domestik

    OpenAIRE

    Nurhasanah

    2009-01-01

    Telah dilakukan penentuan kadar COD pada limbah cair pabrik kelapa sawit, industri karet, dan domestik dengan metode titrimetri. Dari hasil analisa COD diperoleh kadar limbah kelapa sawit sebesar 206,33mg/l, limbah industri karet sebesar 31,74 mg/l, dan limbah domestik sebesar 162,68 mg/l. dimana menurut Standart baku mutu yang telah ditetapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup Nomor: Kep-51/MENLH/10/1995, kadar maksimum COD dalam air limbah industri kelapa sawit sebesar 350 mg/l, dalam indust...

  15. Proust et l’esthétique du temps dans À la Recherche du temps perdu

    OpenAIRE

    Lebon, Stéphanie

    2016-01-01

    Nous essaierons de montrer dans cet article comment chez Proust l’expérience du temps reflète le cheminement et les impressions d’une conscience à la recherche d’une expérience existentielle et comment notre auteur va créer une esthétique littéraire nouvelle (en France) afin d’y parvenir. Nous verrons donc, dans une première partie, que percevoir le monde à travers la conscience humaine, c’est appréhender la vie selon le temps humain et non chronologique, linéaire. C’est pourquoi Proust ne va...

  16. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMUNGUTAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Arifuddin - Sahabu

    2012-05-01

    Full Text Available ABSTRAKS   Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan bentuk studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, dokumentasi, dan observasi. Analisis data mengunakan metode analisis Miles dan Huberman, dengan melalui tiga prosedur yaitu reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan/verifikasi. Sedangkan keabsahan menggunakan teknik berdasarkan atas kriteria derajat kepercayaan, keteralihan, ketergantungan, dan kepastian suatu data. Tuntutan menghadapi  implementasi Otonomi Daerah mengandung arti pentingnya Pemerintah Daerah memperhatikan kemampuan “self suporting” dalam bidang keuangan. Sumber pendapatan daerah tidak hanya di peroleh dari Pendapatan Asli Daerah, tetapi juga berupa pemberian bagi hasil dari penerimaan Pemerintah Pusat. Diantara sumber penerimaan tersebut adalah Pajak Bumi dan Bangunan. Dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 Tentang perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat  dan Daerah, diantaranya dijelaskan bahwa sumber penerimaan daerah dalam penyelenggaraan desentralisasi berasal dari dana perimbangan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan disamping pemberian Dana Alokasi Umum dan Alokasi Khusus. Langkah Implementasi dari pelaksanan pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan tersebut dilakukan Departemen Keuangan melalui Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan, sedang Pemerintah daerah menerima pelimpahan penagihan pada Sektor Perkotaan dan Sektor Pedesaan. Meskipun telah ada pelimpahan kewenangan kepada daerah, akan tetapi pelimpahan kewenangan tersebut terbatas pada mekanisme penagihan saja, sedang implementor yang menyangkut masalah administrasi masih berada pada Kantor Pelayan Pajak Bumi dan Bangunan. Kondisi demikian ini ditambah dengan kurangnya koordinasi antara unit organisasi pelaksana menyebabkan setiap tahun terjadi tunggakan. Sebagai sandaran teoritik utama  untuk mendiskripsikan serta menganalisis hambatan-hambatan implementasi kebijakan publik (dalam hal ini pemungutan

  17. Sterol composition of the Adriatic Sea algae Ulva lactuca, Codium dichotomum, Cystoseira adriatica and Fucus virsoides

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    RADOMIR KAPETANOVIC

    2005-12-01

    Full Text Available The sterol composition of two green algae and two brown algae from the South Adriatic was determined. In the green alga Ulva lactuca, the principal sterols were cholesterol and isofucosterol. In the brown alga Cystoseira adriatica, the main sterols were cholesterol and stigmast-5-en-3ß-ol, while the characteristic sterol of the brown algae, fucosterol, was found only in low concentration. The sterol fractions of the green alga Codium dichotomum and the brown alga Fucus virsoides contained practically only one sterol each, comprising more than 90 % of the total sterols (clerosterol in the former and fucosterol in the latter.

  18. EFEK PEMBERIAN KOMBINASI BUAH SIRIH (Piper betle L FRUIT, DAUN MIYANA (Plectranthus scutellarioides (L. R. BR. LEAF, MADU DAN KUNING TELUR TERHADAP PENINGKATAN AKTIVITAS DAN KAPASITAS FAGOSITOSIS SEL MAKROFAG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yun Astuti Nugroho

    2012-11-01

    Full Text Available Latar belakang, kombinasi buah sirih (Piper betle L, daun miyana (Plectranthus scutellarioides (L. R. BR, madu dan kuning telur dimanfaatkan oleh masyarakat Sulawesi Utara untuk mengobati malaria.  Diharapkan kombinasi buah sirih (Piper betle L, daun miyana (Plectranthus scutellarioides (L. R. BR, madu dan kuning telur juga memiliki potensi untuk merangsang respon imun. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi buah sirih (Piper betle L, daun miyana (Plectranthus scutellarioides (L. R. BR, madu dan kuning telur terhadap aktivitas dan kapasitas sel makrofag. Metode, tiga puluh ekor mencit Swiss dibagi ke dalam 5 grup. Grup I mendapatkan air suling, grup II mendapatkan 0,55 mg/20g BB Stimuno. Sementara kelompok perlakuan: grup III sampai V masing-masing mendapatkan  0,07 mL; 0,21 mL; 0,6 mL/20 g BB. Bahan uji diberikan secara oral pada hari pertama sampai dengan ketujuh. Pada hari kedelapan, kepada masing-masing mencit disuntik secara intraperitoneal bakteri Staphylococcus aureus (SA. Aktivitas dan kapasitas sel  makrofag dihitung dari sediaan apus cairan peritoneum dengan menghitung persentase fagosit yang melakukan fagositosis dari 100 fagosit. Kapasitas fagositosis ditetapkan berdasarkan jumlah SA yang difagositosis oleh 50 fagosit aktif. Hasil, aktivitas dan kapasitas sel makrofag meningkat seiring dengan peningkatan dosis kombinasi buah sirih (Piper betle L, daun miyana (Plectranthus scutellarioides (L. R. BR, madu dan kuning telur dibandingkan dengan kontrol negatif. Kata  kunci: Buah sirih, Piper betle L, Makrofag, Fagositosis 

  19. Sistem Distribusi Air Siap Minum PDAM Kota Malang : Studi Kasus Kecamatan Blimbing

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bariqul Haq

    2014-09-01

    Full Text Available PDAM Kota Malang telah menerapkan sistem distribusi air siap minum, sistem distribusi tersebut dinamakan Zona Air Minum Prima (ZAMP. Pada daerah ZAMP, kuantitas, kontinuitas dan kualitas air yang didistribusikan dijamin memenuhi standar air siap minum. ZAMP merupakan program CATNIP (Certification and Training for Network Improvement Project hasil kerjasama antara Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI dengan US-AID yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas air minum melalui program sertifikat dan pelatihan untuk perbaikan jaringan perpipaan PDAM. Saat ini ZAMP PDAM Kota Malang sudah melayani 82% wilayah Kota Malang. Wilayah yang belum terlayani nantinya akan dikembangankan dan salah satu wilayahnya adalah Kecamatan Blimbing. Pengembangan ZAMP ini menggunakan bantuan program EPANET 2.0. Program EPANET 2.0 ini digunakan untuk merencanakan sistem distribusi air siap minum dan analisa kualitas sisa klor pada air PDAM Kota Malang. Analisa kualitas sisa klor, data awal konsentrasi sisa klor didapatkan dari hasil sampling langsung ke pelanggan PDAM. Pengembangan Zona Air Minum Prima (ZAMP PDAM Kota Malang di Kecamatan Blimbing ini dengan direncanakan District Meter Area atau DMA II.2 dan DMA II.10 dengan jumlah layanan mencapai 500 SR tiap DMA. Analisis perencanaan ZAMP PDAM di Kecamatan Blimbing Kota Malang ini menggunakan program EPANET 2.0 untuk mempermudah dalam pengerjaannya. Selain itu dilakukan analisis mengenai kualitas, kuantitas dan kontinuitas air minum yang akan didistribusikan. Kualitas air di DMA dipantau secara eksternal dan internal yang dilakukan secara berkala. Kualitas yang dipentingkan pada perencanaan ini adalah sisa klor yang dijaga minimal 0,2 mg/L agar memenuhi parameter kualitas air minum.

  20. VAKSIN DENGUE DAN PERKEMBANGANNYA SAAT INI DAN DI MASA MENDATANG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Triwibowo Ambar Garjito

    2012-09-01

    Full Text Available Dengue virus merupakan salah satu virus anggota dari famili Flaviviridae yang sejak tahun 1956 telah dikenal dapat menimbulkan demam dengue maupun demam berdarah dengue (DBD. Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini diperkirakan telah menjangkiti pada selatar 50-100 juta manusia dengan 500.000 kasus di antaranya dalam manifestasi yang ganas yang dikenal sebagai dengue haemorrhagic fever dan dengue shock syndrome dan 25.000 di antaranya berakibat fatal (meninggal. Saat ini pengembangan vaksin merupakan salah satu solusi yang diharapkan dapat menekan penyebaran penyakit tersebut. E (envelope merupakan salah satu bagian dari protein struktural virus yang sangat penting dalam pengembangan vaksin, yaitu sebagai badan yang memproduksi antibodi netralisasi untuk protein. Non-struktural protein l juga telah diketahui sebagai salah satu komponen penting dalam pengembangan vaksin oleh karena kemampuannya untuk dapat diekspresi pada permukaan sel yang diinfeksi yang dapat menjadi target untuk immune cytolisis. Ada dua pendekatan yang digunakan dalam memproduksi suatu vaksin dengue, yaitu: a. Vaksin hidup yang telah dilemahkan (live attenuated vaccine: b. Vaksin hasil rekayasa (engineered vaccine. Penelitian terhadap vaksin DENV baik rekombinan maupun non-rekombinan yang didasarkan pada uji virus telah dilakukan secara terus-menerus baik pada monyet dan manusia. Sampai saat ini telah dikembangkan sejumlah kandidat vaksin DENV yang berdasar pada tetravalent virus dengue, yaitu a. vaksin konvensional, b. vaksin dengue rekombinan berdasar pada flavivirus, c. vaksin intertypic chimeric, d. vaksin chimerivac, e. vaksin dengue rekombinan menggunakan vector non-ftavivirus dan f. vector adenovirus. Namun demikian, sampai sekarang belum ada vaksin yang siap digunakan untuk menangkal infeksi ke empat serotype virus dengue, sehingga masih diharapkan untuk pengembangan virus lebih lanjut.   Kata kunci: Aedes aegypti, dengue virus, vaksin dengue.

  1. Muhammad sebagai pemimpin agama dan negara periode Makkah dan Madinah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ummu Zakiyah Maulidah

    2014-07-01

    Full Text Available Muhammad was born in Mecca between AD 570 and 580 in the Banu Hashims,a reputable family of Quraysh. In Mecca, Muhammad is portrayed as a privatecitizen, as he had to limit himself and adapt his behavior to face the situationduring jahiliyyah era. While, in Medina he governed the community and guidedthem in religious life. His arrival in Medina has significant contribution towardhis role as political leader. His power in this city had protected himself and hisfollowers from violent opposition of the Quraysh. The doctrines he employedin politics were inseparable from the religious values rooted from the Quran.Through his innovation and skillful diplomacy, he had converted the peopleof Mecca and Medina into brighter Arab civilization. Such a positive changereflected his monumental accomplishment for the people.Muhammad lahir di kota Makkah antara tahun 570 sampai 580 Masehi dikeluarga Bani Hasyim, suku Quraisy terkemuka di Arab. Di kota Makkah,Muhammad dianggap sebagai masyarakat biasa, sebab ia harus membatasidirinya dan menyesuaikan prilakunya dalam menghadapi keadaan yangterjadi pada zaman jahiliyyah. Sedangkan di Madinah, ia dianggap sebagaipemimpin masyarakat dan menjadi pembimbing umat dalam hidup beragama.Kedatangannya di Madinah juga memberikan konstribusi besar pada perannyasebagai pemimpin politik. Kekuasaan di kota ini sangat membantu dirinya danpara pengikutnya dari kerasnya kelompok oposisi Quraisy. Doktin-doktrin yangdigunakan Muhammad dalam dunia politik juga tidak lepas dari nilai-nilaiagama yang bersumber dari al Quran. Dengan kreatifitas dan inovasinya dalammemimpin, Muhammad mampu mengarahkan masyarakat Makkah dan Madinah menuju kebangkitan peradaban bangsa Arab yang lebih cemerlang.Kondisi yang semakin membaik tersebut, tidak lain merupakan sebuah karyadan jasa monumental yang telah diukir oleh Muhammad untuk umatnya.

  2. Suita Zodiak: Komposisi Musik untuk String Kuartet dan Trio Woodwind

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ovan Bagus Jatmika

    2016-04-01

    Full Text Available Zodiak adalah rasi bintang di sepanjang garis ekliptika yang terdiri atas 12 bagian, yaitu Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, dan Pisces. Ke-12 zodiak tersebut memiliki karakter yang berbeda karena dibedakan oleh modus (cardinal, fixed, mutable dan elemen (api, tanah, udara, air yang menyusunnya. Fenomena ini, dalam konteks komposisi musik, merupakan hal-hal ekstra musikal. Hal-hal ekstra musikal inilah yang akan diangkat ke dalam komposisi musik programa dengan judul “Suita Zodiak”. Komposisi ini disusun dalam 12 gerakan dan disusun dalam 12 tonalitas yang berbeda. Masing-masing gerakan menggambarkan karakter 12 zodiak dari Aries hingga Pisces. Karakter dari ketiga modus yang menyusun zodiak ditransformasi ke musik melalui pembedaan tekstur, sedangkan karakter dari keempat elemen yang menyusun zodiak ditransformasi ke musik melalui pembedaan karakter melodi, suasana musikal, dan pembedaan tempo. Pemaknaan tentang karakter 12 zodiak kemudian dijadikan batasan dalam penciptaan “Suita Zodiak” bersifat arbitrer. Hal ini mengacu pada beberapa karya yang pernah diciptakan sebelumnya, yang sebagian besar menghubungkan karya musik dengan unsur ekstra musikalnya secara arbitrer. Karya ini digarap dalam format string kuartet dan trio woodwind dengan mengembangkan beberapa konsep melodi yang diambil dari thesaurus of scales and melodic pattern.   Zodiac Suite: Music Composition for String Quaertet and Trio Woodwind. Zodiac is the constellations along the ecliptic line consisting of 12 parts, namely Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius, and Pisces. The 12 zodiacs have different characters because they are distinguished by the mode (cardinal, fixed, mutable and elements (fire, earth, air, water that are arranged them. This phenomenon, in the context of musical composition, is extra-musical things. These extra-musical things will be lifted

  3. Rancang Bangun Permainan Edukasi Matematika dan Fisika dengan Memanfaatkan Accelerometer dan Physics Engine Box2d pada Android

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Putri Nikensasi

    2012-09-01

    Full Text Available Perkembangan industri permainan mobil yang semakin meningkat memotivasi para pengembang permainan mobil untuk membuat inovasi-inovasi terbaru dalam permainannya. Salah satu inovasi tersebut yaitu permainan edukasi, namun saat ini permainan edukasi kurang diminati karena aturan permainannya yang cenderung membosankan. Pengembangan permainan ini ditujukan untuk membuat sebuah permainan mobil edukasi dengan memanfaatkan teknologi mobil terbaru dalam aturan permainannya sehingga permainan tersebut tidak membosankan. Aplikasi yang dikembangkan merupakan aplikasi permainan mobil edukasi yang mengajarkan ilmu matematika dan fisika kepada pemainnya. Teknologi baru yang digunakan dalam permainan ini yaitu accelerometer pada sistem operasi Android yang diintegrasikan dengan Physics Engine Library Box2D. Selain itu, permainan ini dibangun dengan menggunakan Adobe Flash CS5.5 dan bahasa pemrograman Actionscript 3 (AS3 serta Adobe Air sebagai runtime aplikasinya. Uji coba dilakukan dengan menggunakan perangkat Android versi 2.3. Dari uji coba dapat disimpulkan bahwa Adobe Flash CS5.5 dapat digunakan untuk membuat permainan mobil edukasi pada perangkat Android dan mengakses sensor accelerometer-nya.

  4. Exploration of the gasification of Spirulina algae in supercritical water.

    Science.gov (United States)

    Miller, Andrew; Hendry, Doug; Wilkinson, Nikolas; Venkitasamy, Chandrasekar; Jacoby, William

    2012-09-01

    This study presents non-catalytic gasification of Spirulina algae in supercritical water using a plug flow reactor and a mechanism for feeding solid carbon streams into high pressure (>25 MPa) environments. A 2(III)(3-1) factorial experimental design explored the effect of concentration, temperature, and residence time on gasification reactions. A positive displacement pump fed algae slurries into the reactor at a temperature range of 550-600°C, and residence times between 4 and 9s. The results indicate that algae gasify efficiently in supercritical water, highlighting the potential for a high throughput process. Additional experiments determined Arrhenius parameters of Spirulina algae. This study also presents a model of the gasification reaction using the estimated activation energy (108 kJ/mol) and other Arrhenius parameters at plug flow conditions. The maximum rate of gasification under the conditions studied of 53 g/Ls is much higher than previously reported.

  5. Application of synthetic biology in cyanobacteria and algae

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bo eWang

    2012-09-01

    Full Text Available Cyanobacteria and algae are becoming increasingly attractive cell factories for producing renewable biofuels and chemicals due to their ability to capture solar energy and CO2 and their relatively simple genetic background for genetic manipulation. Increasing research efforts from the synthetic biology approach have been made in recent years to modify cyanobacteria and algae for various biotechnological applications. In the article, we critically review recent progresses in developing genetic tools for characterizing or manipulating cyanobacteria and algae, the applications of genetically modified strains for synthesizing renewable products such as biofuels and chemicals. In addition, the emergent challenges in the development and application of synthetic biology for cyanobacteria and algae are also discussed.

  6. Lab on a chip technologies for algae detection: a review.

    Science.gov (United States)

    Schaap, Allison; Rohrlack, Thomas; Bellouard, Yves

    2012-08-01

    Over the last few decades, lab on a chip technologies have emerged as powerful tools for high-accuracy diagnosis with minute quantities of liquid and as tools for exploring cell properties in general. In this paper, we present a review of the current status of this technology in the context of algae detection and monitoring. We start with an overview of the detection methods currently used for algae monitoring, followed by a review of lab on a chip devices for algae detection and classification, and then discuss a case study based on our own research activities. We conclude with a discussion on future challenges and motivations for algae-oriented lab on a chip technologies.

  7. Bicarbonate produced from carbon capture for algae culture.

    Science.gov (United States)

    Chi, Zhanyou; O'Fallon, James V; Chen, Shulin

    2011-11-01

    Using captured CO(2) to grow microalgae is limited by the high cost of CO(2) capture and transportation, as well as significant CO(2) loss during algae culture. Moreover, algae grow poorly at night, but CO(2) cannot be temporarily stored until sunrise. To address these challenges, we discuss a process where CO(2) is captured as bicarbonate and used as feedstock for algae culture, and the carbonate regenerated by the culture process is used as an absorbent to capture more CO(2). This process would significantly reduce carbon capture costs because it does not require additional energy for carbonate regeneration. Furthermore, not only would transport of the aqueous bicarbonate solution cost less than for that of compressed CO(2), but using bicarbonate would also provide a superior alternative for CO(2) delivery to an algae culture system.

  8. Kalaärimeeste kohus algas venitamisega / Hindrek Riikoja

    Index Scriptorium Estoniae

    Riikoja, Hindrek

    2007-01-01

    Harju maakohtus algas kohtuprotsess veterinaar- ja toiduameti endise asejuhi Vladimir Razumovski väidetava altkäemaksuvõtmise üle, kus on süüdistavaid eraisikuid ja ettevõtjaid. Lisa: Kes on kohtu all?

  9. Evaluation of filamentous green algae as feedstocks for biofuel production.

    Science.gov (United States)

    Zhang, Wei; Zhao, Yonggang; Cui, Binjie; Wang, Hui; Liu, Tianzhong

    2016-11-01

    Compared with unicellular microalgae, filamentous algae have high resistance to grazer-predation and low-cost recovery in large-scale production. Green algae, as the most diverse group of algae, included numerous filamentous genera and species. In this study, records of filamentous genera and species in green algae were firstly censused and classified. Then, seven filamentous strains subordinated in different genera were cultivated in bubbled-column to investigate their growth rate and energy molecular (lipid and starch) capacity. Four strains including Stigeoclonium sp., Oedogonium nodulosum, Hormidium sp. and Zygnema extenue were screened out due to their robust growth. And they all could accumulate triacylglycerols and starch in their biomass, but with different capacity. After nitrogen starvation, Hormidium sp. and Oedogonium nodulosum respectively exhibited high capacity of lipid (45.38% in dry weight) and starch (46.19% in dry weight) accumulation, which could be of high potential as feedstocks for biodiesel and bioethanol production.

  10. Colourful Cultures: Classroom Experiments with the Unicellular Alga Haematococcus pluvialis.

    Science.gov (United States)

    Delpech, Roger

    2001-01-01

    Describes an investigation into the photosynthetic potential of the different developmental stages of the green unicellular alga Haematococcus pluvialis. Reviews the biotechnological applications of astaxanthin, the red pigment which can be extracted from Haematococcus pluvialis. (Author/MM)

  11. Scenario analysis of large scale algae production in tubular photobioreactors

    NARCIS (Netherlands)

    Slegers, P.M.; Beveren, van P.J.M.; Wijffels, R.H.; Straten, van G.; Boxtel, van A.J.B.

    2013-01-01

    Microalgae productivity in tubular photobioreactors depends on algae species, location, tube diameter, biomass concentration, distance between tubes and for vertically stacked systems, the number of horizontal tubes per stack. A simulation model for horizontal and vertically stacked horizontal tubul

  12. Chemical examination of the Red alga Acanthophora spicifera

    Digital Repository Service at National Institute of Oceanography (India)

    Wahidullah, S.; Kamat, S.Y.

    Analyses of petroleum ether and chloroform extracts of the marine alga Acanthophora spicifera exhibiting antifertility activity led to the isolation of sterols and fatty acids as well as the rare dipeptides aurantiamides. All the compounds were...

  13. ESTIMASI ALIRAN AIR LINDI TPA BANTAR GEBANG BEKASI MENGGUNAKAN METODA SP

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Syamsu Rosid

    2012-02-01

    Full Text Available Air lindi merupakan limbah sampah organik yang biasanya diproduksi dari sampah rumah tangga. Pencemaran air tanah (groundwater oleh air lindi menjadi ancaman yang serius bagi masyarakat. Penduduk Bantar Gebang, Bekasi merasa terancam kehidupannya dengan adanya tempat pembuangan akhir (TPA sampah yang dikirim dari DKI Jakarta. Beberapa penduduk di sekitar TPA mengeluhkan bahwa air sumurnya agak bau dan tidak lagi terasa segar. Untuk mengetahui seperti apa polusi air lindi yang terjadi, ke arah mana dan sudah sejauh mana sebarannya, dan memetakan daerah resiko tinggi terkena polusi maka telah dilakukan pengukuran geolistrik metoda self potential (SP di sebelah Tenggara dan Selatan daerah TPA Bantar Gebang, Bekasi. Dari data SP diketahui bahwa aliran air tanah bawah permukaan di daerah tersebut berarah Selatan ke Utara. Meskipun lokasi TPA berada di Utara daerah penelitian, limbah air lindi diduga telah mencemari air tanah bawah permukaan hingga radius ratusan meter dari lokasi TPA. Penyebaran air limbah ini  diperkirakan melalui proses osmosis, mekanisme kapilaritas dan proses elektrokinetik.   Kata kunci: air lindi, metoda SP, TPA Bantar Gebang.

  14. Pengaruh Variasi pH dan Temperatur Sintering Terhadap Nilai Sensitivitas Material TiO2 Sebagai Sensor Gas CO

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ika Silviana Widianti

    2015-03-01

    Full Text Available Telah dilakukan berbagai macam pengupayaan untuk mengoptimalkan potensi Titanium dioksida (TiO2 sebagai sensor gas, mengingat TiO2 merupakan semikonduktor metal oksida. Pada penelitian ini digunakan TiO2 dalam bentuk serbuk, dengan pelarutnya H2SO4 yang diencerkan dengan air distilasi sehingga terbentuk variasi pH 1, 3, dan 5. Metode sol-gel dilakukan dengan perendaman dan dilanjutkan stiring selama 2,5 jam, kecepatan 700 rpm, dan temperatur 200ºC . Drying dilakukan selama 2 jam pada temperatur 350ºC, selanjutnya serbuk dikompaksi pada tekanan 200 bar agar terbentuk pellet. Pelet kemudian disintering pada temperatur 700,800, dan 900ºC selama 1 jam. Karakterisasi material dilakukan dengan Scanning Electron Microscope (SEM dan X-Ray Diffraction (XRD. Sedangkan untuk luas permukaan spesifik sampel TiO2 diuji dengan BET Analyser. Morfologi TiO2 yang dihasilkan dari proses sol-gel berbentuk bulat (spherical dan memiliki fase stabil anatase. Nilai sensitivitas didapatkan dari pengujian pada temperatur operasi 100ºC dan variasi volume gas CO 5L, 12,5L, 25L. Respon tercepat adalah material TiO2 pH 3 yang disinter dengan temperatur 900ºC, serta memiliki ukuran pori 50,83 nm

  15. PERTUMBUHAN STEK CABE JAMU (Piper retrofractum. Vahl PADA BERBAGAI CAMPURAN MEDIA TANAM DAN KONSENTRASI ZAT PENGATUR TUMBUH ROOTONE-F

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muhammad Irwan Budianto

    2013-09-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai campuran media tanam dan konsentrasi pemberian zat pengatur tumbuh Rootone F terhadap pertumbuhan stek tanaman cabe jamu (Piper retrofractum Vahl. Penelitian dilakukan di rumah plastik kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura di Desa Telang Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkalan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari -  Mei 2012. Penelitian menggunakan Metode Rancangan Acak Lengkap (RAL Faktorial. Faktor pertama adalah berbagai campuran media tanam yaitu tanah : pasir (1 : 1 (Z1, tanah : pasir : kompos (1 : 1 : 1 (Z2, dan tanah : pasir : 2 kompos (1 : 1 : 2 (Z3, sedagkan faktor yang kedua adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh Rootone-F, terdiri dari 4 taraf yaitu kontrol (S0, 100 ppm (S1, 200 ppm (S2, dan 300 ppm (S3. Bahan yang digunakan adalah stek cabe jamu dari Sulur Panjat, air, media tanah, pasir, kompos, Alkohol 95 % dan zat pengatur tumbuh Rootone F. Hasil pengamatan dianalisis menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan Uji Jarak Duncan (UJD taraf 5%. Perlakuan media Z2 dan Z3 sama-sama memberikan pengaruh terbaik pada variable jumlah ruas, jumlah daun, luas daun, dan biomasa tanaman. Perlakuan pemberian  zat pengatur tumbuh Rootone-F S2 memberikan pengaruh terbaik pada pertambahan jumlah ruas. Sedangkan Kombinasi perlakuan terbaik adalah S3Z2 menunjukkan pengaruh yang paling baik pada pertambahan  panjang akar.Kata kunci: stek cabe jamu, media tanam, Rootone F

  16. Analysis of transient flows in gasoline direct injection systems: effects on unsteady air entrainment by the spray; Analyse des ecoulements transitoires dans les systemes d'injection directe essence: effets sur l'entrainement d'air instationnaire du spray

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Delay, G.

    2005-03-15

    The aim of this study is to determine instantaneous liquid flow rate oscillations effect on non stationary air entrainment of an injector conical spray (Gasoline Direct Injection). The tools we use are either experimental or numerical ones. An instantaneous flow rate determination method is used. It is based on pulsated flows physics and only requires the velocity at the centerline of a pipe mounted just before the injector. So, it is possible to 'rebuild' the instantaneous velocity distributions and then to get the instantaneous liquid flow rate (Laser Doppler Anemometry measurements). A mechanical and hydraulics modeling software (AMESim) is necessary to get injector outlet flow rate. Simulations are validated by both 'rebuilding' method results and common rail pressure measurements. Fluorescent Particle Image Velocimetry (FPIV), suited to dense two -phase flows, is used to measure air flow around and inside the conical spray. Velocity measurements close to the spray frontier are used to compute instantaneous air entrainment. Considering droplets momentum exchange with air and thanks to droplets diameters and liquid velocities measurements at the nozzle exit, a transient air entrainment model is proposed according to FPIV measurements. (author)

  17. Analisis Kesesuaian dan Daya Dukung untuk Wisata Pantai dan Snorkeling di Pulau Hoga, Kabupaten Wakatobi.

    OpenAIRE

    Ahmad, Bahar

    2014-01-01

    Kawasan wisata bahari agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan maka pemanfaatan yang dilakukan harus berkesesuaian dengan kondisi dan daya dukung kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian dan daya dukung untuk wisata pantai dan snorkeling di Pulau Hoga Kabupaten Wakatobi. Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer menggunakan metode survei lapangan, sedangkan data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statis...

  18. KONSEP WANUA DAN PALILI DI KONFEDERASI AJATAPPARENG: SEJARAH DAN BUDAYA POLITIK ORANG BUGIS DI SULAWESI SELATAN

    OpenAIRE

    Abd. Latif

    2014-01-01

    Kajian ini akan mendiskusikan tentang konsep wanua dan palili dalam struktur kerajaan-kerajaan yang tergabung dalam Konfederasi Ajatappareng di Sulawesi Selatan. Wanua dan palili adalah dua istilah yang digunakan oleh kerajaan pusat terhadap daerah bawahannya. Pertanyaannya, mengapa ada daerah bawahan yang disebut wanua dan yang lainnya disebut palili. Apakah kriteria yang mesti dipunyai satu daerah untuk disebut sebagai wanua dan apakah pula kriteria yang mesti dipunyai satu daerah untuk dis...

  19. PERJANJIAN SEWA GUNA USAHA ANTARA LESSEE DAN LESSOR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Aprilianti Aprilianti

    2014-03-01

    Full Text Available Perjanjian sewa guna usaha (leasing yang diadakan oleh Lessor dan Lesseen dilakukan secara tertulis dalam bentuk perjanjian standar. Isi perjanjian tersebut ditentukan oleh jenis dari leasing itu sendiri dan hubungan hukum (hak dan kewajiban timbal balik antara Lessor dan Lessee. Bagi Lessor, hak dan kewajibannya adalah memperoleh pembayaran sebagai imbalan jasa dan menyerahkan barang modal kepada Lessee. Sedangkan hak dan kewajiban Lessee adalah meperoleh kegunaan dari barang modal dan membayar sewa secara berkala. Tidak dipenuhinya hak dan kewajiban masing-masing pihak maka dapat disebut wanprestasi. Perjanjian akan berakhir jika hak dan kewajiban Lessor dan Lessee telah dilaksanakan sesuai dengan perjanjian. Kata Kunci: Leasing, Lessor, Lessee, hak dan kewajiban.

  20. KONTEKS DAN KONSTRUKSI SOSIAL MENGENAI KEMATIAN ELEKTIF ( EUTHANASIA ∗

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Helly Prajitno Soetjipto

    2015-09-01

    konteks sosial dan konstruksi sosial kematian. Euthanasia didiskusikan di dalam suatu kerangka pikir yang mencoba memberi perhatian kepada hal-hal yang kontekstual dan interpretatif fenomena sosial suatu proses kematian dan kejadian kematian

  1. KEBEBASAN BERAGAMA DAN NORMA-NORMANYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Abdillah Halim

    2013-04-01

      Abstrak Perdebatan tidak berkesudahan terus mewarnai perbincangan dan praktek kebebasan beragama, terutama mengenai kata “kebebasan” yang dilekatkan pada agama dan kepercayaan. Jika “kebebasan” dimaknai sebagai kemerdekaan, apa lantas berarti tidak adanya batasan terhadap kemerdekaan tersebut, dalam arti bahwa kebebasan tersebut bersifat mutlak. Atau barangkali “kebebasan” di sini dimaknai sebagai kebebasan relatif yang membuka kemungkinan perumusan definisi dan ruang lingkup yang jelas. Penulis berpandangan bahwa kebebasan beragama bukan kebebasan mutlak yang tidak menuntut pendefinisian, perumusan ruang-lingkup serta norma norma, dan pengaturan. Kebebasan mutlak pada taraf yang demikian bukan kebebasan yang bermakna sebenarnya, namun dapat berarti sebuah keadaan anarki dan anomi. Kebebasan beragama adalah kebebasan relatif yang menuntut adanya penjelasan tentang definisi, ruang lingkup, norma-norma, dan batasan-batasannya.

  2. Persebaran Layanan dan Infrastruktur Telekomunikasi Provinsi Papua

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Prajna Deshanta Ibnugraha

    2014-05-01

    Full Text Available Layanan dan infrastruktur telekomunikasi merupakan bagian penting dari kehidupan modern karena hampir di segala bidang membutuhkan hal tersebut seperti pendidikan, pemerintahan, ekonomi dan sebagainya. Oleh karena pentingnya sektor telekomunikasi di Indonesia sebagai negara kepulauan maka perlu evaluasi tentang penyebaran layanan dan infrastrukturnya selain dilihat dari sisi fungsional dan perkembangan teknologinya. Provinsi Papua adalah provinsi terbesar di Indonesia namun justru memiliki layanan telekomunikasi yang paling sedikit dan terbatas. Demikian pula untuk penyebaran layanan ke kabupaten maupun ke distrik (kecamatan masih belum merata. Hal tersebut terbukti dari laporan hasil distribusi pita frekuensi yang hanya 1,5% untuk kawasan Maluku dan Papua serta kerapatan layanan tiap kabupaten yang ditunjukkan pada hasil penelitian ini.

  3. Studi Biblika Dan Teologis Surat 2 Petrus Pasal 3

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Eliezer Lewis

    2014-10-01

    Full Text Available Pengajaran yang benar tentang Kedatangan Kristus yang kedua kali sangat penting agar umat Allah tetap setia menanti kedatangan Kristus yang kedua kali. Kemunculan guru-guru palsu yang memberikan pengajaran yang tidak benar yang dialami oleh gereja mula-mula, menjadi pembelajaran bagi gereja masa kini. Ajaran guru-guru palsu berkaitan dengan adanya penolakan terhadap firman Allah, penolakan terhadap keilahian Kristus, dan penolakan terhadap kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Secara biblika, Surat 2 Petrus 3 mengajarkan tentang penciptaan dan peristiwa air bah. Secara teologis surat ini menekankan tentang Kedatangan Kristus yang kedua kali, langit baru dan bumi baru, keselamatan untuk hidup yang kekal dan Alkitab sebagai firman Allah yang berotoritas.Kata-kata kunci: guru-guru palsu, Kedatangan Kristus kedua kali, penciptaan, pengajaran KristenCorrect teaching concerning the Second Coming of Christ is essential so that the Church is faithful in waiting for Jesus Christ’s return. The emergence of false teachers which was experienced by the early church serves as a lesson for the contemporary church. The teaching of the false teachers is related to rejection of the Word of God, the rejection of the divinity of Christ, and the rejection of theteaching about the Second Coming of Christ. From a biblical point of view, 2 Peter 3 teaches about creation and the flood. Theologically, this letter emphasizes the Second Coming of Christ, a new heaven and earth, salvation that leads to eternal life, and the Bible as the authoritative Word of God. Keywords: false teachers, the Second Coming of Christ, creation, Christian teaching

  4. FORMULASI FLAKES PATI GARUT DAN TEPUNG IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus SEBAGAI PANGAN KAYA ENERGI PROTEIN DAN MINERAL UNTUK LANSIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Firda Amalia

    2013-11-01

    Full Text Available ABSTRACTThe objective of this study was to produce arrowroot starch flakes with dumbo catfish (Clarias gariepinus flour, as a rich energy, protein, and mineral food for elderly. Design of this study was complete randomized design with four formulas and each combination was replicated two times. A selected formula was determined based on semi trained panelists preference. Acceptance of selected flakes formula was examined by elderly using hedonic test. Flakes by addition of 33.00% of dumbo catfish flour was the selected formula. The chemical properties for selected flakes were as follows 4.00% of water, 4.84% ash, 16.90% protein, 5.21% fat, 69.06% carbohydrate, 14.48% calcium, and 8.61% phosphor. The selected flakes contain 391 kcals energy per 100 g. The selected flakes had contributed more than 20.00% of energy, protein, calcium, and phosphor for elderly people so it can be claimed as a food product rich in energy, protein and minerals.Keywords: arrowroot starch, dumbo catfish flour, flakes, mineral, proteinABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan flakes pati garut dan tepung ikan lele dumbo (Clarias gariepinus sebagai pangan kaya energi, protein, dan mineral untuk lansia. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat formula dan setiap kombinasi diulang dua kali. Formula terpilih ditentukan berdasarkan preferensi panelis agak terlatih. Penerimaan flakes terpilih oleh lansia dilakukan dengan menggunakan uji hedonik. Flakes dengan penambahan tepung ikan lele dumbo sebanyak 33.00% merupakan formula terpilih. Sifat kimia flakes terpilih yaitu 4.00% kadar air, 4.84% abu, 16.90% protein, 5.21% lemak, 69.06% karbohidrat, 14.48% kalsium, dan 8.61% fosfor. Flakes terpilih mengandung 391 kkal energi per 100 g. Flakes terpilih memiliki kontribusi lebih dari 20.00% untuk energi, protein, mineral kalsium, dan fosfor untuk lansia sehingga dapat diklaim sebagai produk makanan yang kaya energi, protein, dan mineral.Kata kunci

  5. PERFORMANSI FISIOLOGIS UDANG VANAME, Litopenaeus vannamei YANG DIPELIHARA PADA MEDIA AIR TAWAR DENGAN APLIKASI KALIUM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Aan Fibro Widodo

    2011-08-01

    Full Text Available Kalium sangat penting bagi udang terutama yang dipelihara pada media air tawar. Kalium merupakan mineral mikro yang penting bagi udang terutama dalam menjaga keseimbangan elektrolit cairan tubuh, penghantaran impuls saraf, serta pembebasan tenaga yang berasal dari protein, lemak, dan karbohidrat pada proses metabolisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performansi udang vaname, Litopenaeus vannamei, yang dipelihara pada media air tawar dengan aplikasi kalium. Penelitian dilakukan di Laboratorium Basah Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros. Hewan uji yang digunakan adalah udang vaname umur 62 hari dengan bobot awal rata-rata 5,80±0,02 g. Penelitian dirancang dengan pola rancangan acak lengkap (RAL yang terdiri atas 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah aplikasi KCl sebagai sumber kalium pada air tawar pengencer media bersalinitas 1-0 ppt, masingmasing konsentrasi kalium pada perlakuan A, B, C, dan D secara berurutan adalah 25, 50, 75, dan 0 mg/L (kontrol. Sebelum penelitian berlangsung, udang diadaptasikan di air payau dengan salinitas 25 ppt selama 10 hari. Selanjutnya salinitas diturunkan sampai 1 ppt selama 3 hari, dilanjutkan pemeliharaan pada salinitas 0 ppt sampai akhir penelitian (30 hari. Peubah yang diamati adalah tingkat kerja osmotik, laju konsumsi oksigen, konsentrasi glukosa darah, sintasan, laju pertumbuhan bobot, dan panjang spesifik harian serta peubah kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi kalium 25-75 mg/L pada media pemeliharaan air tawar dapat meningkatkan kemampuan osmoregulasi dan mengurangi tingkat stres udang vaname sehingga dapat meningkatkan laju pertumbuhan dan sintasannya. Uji statistik terhadap tingkat kerja osmotik, tingkat konsumsi oksigen, dan konsentrasi glukosa darah berbeda nyata (P<0,05 antar perlakuan, namun performansi fisiologis udang vaname terbaik dengan tingkat osmotik, laju konsumsi oksigen, dan konsentrasi glukosa darah terendah diperoleh pada

  6. Calculating the global contribution of coralline algae to carbon burial

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    L. H. van der Heijden

    2015-05-01

    Full Text Available The ongoing increase in anthropogenic carbon dioxide (CO2 emissions is changing the global marine environment and is causing warming and acidification of the oceans. Reduction of CO2 to a sustainable level is required to avoid further marine change. Many studies investigate the potential of marine carbon sinks (e.g. seagrass to mitigate anthropogenic emissions, however, information on storage by coralline algae and the beds they create is scant. Calcifying photosynthetic organisms, including coralline algae, can act as a CO2 sink via photosynthesis and CaCO3 dissolution and act as a CO2 source during respiration and CaCO3 production on short-term time scales. Long-term carbon storage potential might come from the accumulation of coralline algae deposits over geological time scales. Here, the carbon storage potential of coralline algae is assessed using meta-analysis of their global organic and inorganic carbon production and the processes involved in this metabolism. Organic and inorganic production were estimated at 330 g C m−2 yr−1 and 880 g CaCO3 m−2 yr−1 respectively giving global organic/inorganic C production of 0.7/1.8 × 109 t C yr−1. Calcium carbonate production by free-living/crustose coralline algae (CCA corresponded to a sediment accretion of 70/450 mm kyr−1. Using this potential carbon storage by coralline algae, the global production of free-living algae/CCA was 0.4/1.2 × 109 t C yr−1 suggesting a total potential carbon sink of 1.6 × 109 t C yr−1. Coralline algae therefore have production rates similar to mangroves, saltmarshes and seagrasses representing an as yet unquantified but significant carbon store, however, further empirical investigations are needed to determine the dynamics and stability of that store.

  7. Biomethanation of Red Algae from the Eutrophied Baltic Sea

    OpenAIRE

    Biswas, Rajib

    2009-01-01

    In the semi-enclosed Baltic Sea, excessive filamentous macro-algal biomass growth as a result of eutrophication is an increasing environmental problem. Drifting huge masses of red algae of the genera Polysiphonia, Rhodomela, and Ceramium accumulate on the open shore, up to five tones of algae per meter beach. During the aerobic decomposition of these algal bodies, large quantities of red colored effluents leak into the water what are toxic for the marine environment. In this study, feasibilit...

  8. Lipid constituents of the red alga Acantophora spicifera

    Digital Repository Service at National Institute of Oceanography (India)

    Wahidullah, S.; De; Govenkar, M.B.

    solitary reference on the pollution of marine alga Stoechospermum marginatum \\[13\\] by the esters. Ortho-phthalic esters are being reported here for the first time as pollutants of marine red alga Acantophora spic(\\['era. The presence of para... compounds in the order designated as 1 2, 3 and 4. All these compounds were purified by repeated chromatography over silica gel. Acknowledgements--The authors wish to thank Dr. E. DeSa, Director, National Institute of Ocean- ography, for his keen...

  9. Biodiesel Fuel Production from Algae as Renewable Energy

    OpenAIRE

    Sharif Hossain, A.B.M.; Aishah Salleh; Amru Nasrulhaq Boyce; Partha chowdhury; Mohd Naqiuddin

    2008-01-01

    Biodiesel is biodegradable, less CO2 and NOx emissions. Continuous use of petroleum sourced fuels is now widely recognized as unsustainable because of depleting supplies and the contribution of these fuels to the accumulation of carbon dioxide in the environment. Renewable, carbon neutral, transport fuels are necessary for environmental and economic sustainability. Algae have emerged as one of the most promising sources for biodiesel production. It can be inferred that algae grown in CO...

  10. DISAIN SISTEM KENDALI MESIN AIR LEAK TEST MENGGUNAKAN SISTEM KENDALI PLC OMRON CJ2M DI HVAC (HEATING, VENTILATING, AND AIR CONDITIONING LINE 6

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Syahril Ardi

    2015-03-01

    Full Text Available Pada proses produksi pembuatan komponen HVAC (Heating, Ventilating, and Air Conditioning dari perusahaan manufaktur di Indonesia, memerlukan proses pengecekan kebocoran pada bagian HVAC. Proses pengecekan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada komponen HVAC yang bocor sebelum dikirim ke pihak pelanggan. Penelitian ini dilakukan untuk membuat system dan alat air leak test. Mesin air leak test ini menggunakan prinsip kerja differential pressure air leak test, yaitu metode yang membandingkan antara tekanan udara yang diberikan ke produk dan master produk. Pada penelitian ini, kami membuat disain mesin air leak test menggunakan sistem kendali berupa air leak tester, PLC, dan HMI. Berdasarkan kondisi dengan kapasitas produksi yang meningkat karena bertambahnya permintaan dari customer, dapat ditanggulangi dengan adanya share loading produksi dari HVAC line 4 ke line baru, yaitu HVAC line 6. Hasil yang didapat dari pengujian deteksi kebocoran produk,didapat nilai parameter kebocoran produk sebesar 2.23 ml/min.

  11. Imunopatogenesis Treponema pallidum dan Pemeriksaan Serologi

    OpenAIRE

    Efrida ,; Elvinawaty .

    2014-01-01

    AbstrakSifilis adalah penyakit menular seksual yang sangat infeksius, disebabkan oleh bakteri berbentuk spiral, Treponema pallidum subspesies pallidum. Penyebaran sifilis di dunia telah menjadi masalah kesehatan yang besar dengan jumlah kasus 12 juta pertahun. Infeksi sifilis dibagi menjadi sifilis stadium dini dan lanjut. Sifilis stadium dini terbagi menjadi sifilis primer, sekunder, dan laten dini. Sifilis stadium lanjut termasuk sifilis tersier (gumatous, sifilis kardiovaskular dan neurosi...

  12. Manifestasi Kehamilan Di Rongga Mulut Dan Perawatannya

    OpenAIRE

    Fatimah

    2008-01-01

    Kehamilan merupakan sebuah proses fisiologis yang melibatkan banyak sistem dalam tubuh dan mengakibatkan terjadinya perubahan pada sistem baik secara anatomis maupun fisiologis seperti pada sistem reproduksi, endokrin, sirkulasi pencernaan dan juga rongga mulut. Manifestasi kehamilan di rongga mulut merupakan suatu kondisi yang sering tetjadi, baik pada gigi maupun pada jaringan di sekitamya. Hal ini dapat terlihat dan tingginya tingkat karies, erosi enamel, terjadinya gingivitis kehamila...

  13. Feeding preferences of mesograzers on aquacultured Gracilaria and sympatric algae

    Science.gov (United States)

    Cruz-Rivera, Edwin; Friedlander, Michael

    2011-01-01

    While large grazers can often be excluded effectively from algal aquaculture operations, smaller herbivores such as small crustaceans and gastropods may be more difficult to control. The susceptibility of three Gracilaria species to herbivores was evaluated in multiple-choice experiments with the amphipod Ampithoe ramondi and the crab Acanthonyx lunulatus. Both mesograzers are common along the Mediterranean coast of Israel. When given a choice, the amphipod preferred to consume Gracilaria lemaneiformis significantly more than either G. conferta or G. cornea. The crab, however, consumed equivalent amounts of G. lemaneiformis and G. conferta, but did not consume G. cornea. Organic content of these algae, an important feeding cue for some mesograzers, could not account for these differences. We further assessed the susceptibility of a candidate species for aquaculture, G. lemaneiformis, against local algae, including common epiphytes. When given a choice of four algae, amphipods preferred the green alga Ulva lactuca over Jania rubens. However, consumption of U. lactuca was equivalent to those of G. lemaneiformis and Padina pavonica. In contrast, the crab showed a marked and significant preference for G. lemaneiformis above any of the other three algae offered. Our results suggest that G. cornea is more resistant to herbivory from common mesograzers and that, contrary to expectations, mixed cultures or epiphyte growth on G. lemaneiformis cannot reduce damage to this commercially appealing alga if small herbivores are capable of recruiting into culture ponds. Mixed cultures may be beneficial when culturing other Gracilaria species. PMID:22711945

  14. Development of Green Fuels From Algae - The University of Tulsa

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Crunkleton, Daniel; Price, Geoffrey; Johannes, Tyler; Cremaschi, Selen

    2012-12-03

    The general public has become increasingly aware of the pitfalls encountered with the continued reliance on fossil fuels in the industrialized world. In response, the scientific community is in the process of developing non-fossil fuel technologies that can supply adequate energy while also being environmentally friendly. In this project, we concentrate on green fuels which we define as those capable of being produced from renewable and sustainable resources in a way that is compatible with the current transportation fuel infrastructure. One route to green fuels that has received relatively little attention begins with algae as a feedstock. Algae are a diverse group of aquatic, photosynthetic organisms, generally categorized as either macroalgae (i.e. seaweed) or microalgae. Microalgae constitute a spectacularly diverse group of prokaryotic and eukaryotic unicellular organisms and account for approximately 50% of global organic carbon fixation. The PI's have subdivided the proposed research program into three main research areas, all of which are essential to the development of commercially viable algae fuels compatible with current energy infrastructure. In the fuel development focus, catalytic cracking reactions of algae oils is optimized. In the species development project, genetic engineering is used to create microalgae strains that are capable of high-level hydrocarbon production. For the modeling effort, the construction of multi-scaled models of algae production was prioritized, including integrating small-scale hydrodynamic models of algae production and reactor design and large-scale design optimization models.

  15. Study on Algae Removal by Immobilized Biosystem on Sponge

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    PEI Haiyan; HU Wenrong

    2006-01-01

    In this study, sponges were used to immobilize domesticated sludge microbes in a limited space, forming an immobilized biosystem capable of algae and microcystins removal. The removal effects on algae, microcystins and UV260 of this biosystem and the mechanism of algae removal were studied. The results showed that active sludge from sewage treatment plants was able to remove algae from a eutrophic lake's water after 7 d of domestication. The removal efficiency for algae,organic matter and microcystins increased when the domesticated sludge was immobilized on sponges. When the hydraulic retention time (HRT) was 5h, the removal rates of algae, microcystins and UV260 were 90%, 94.17% and 84%, respectively.The immobilized biosystem consisted mostly of bacteria, the Ciliata and Sarcodina protozoans and the Rotifer metazoans.Algal decomposition by zoogloea bacteria and preying by microcreatures were the two main modes of algal removal, which occurred in two steps: first, absorption by the zoogloea; second, decomposition by the zoogloea bacteria and the predacity of the microcreatures.

  16. Moderate increase of radioactivity in air, attributable of beta emitter radionuclides, in France at the end of September 2011; Elevation moderee de la radioactivite dans l'air, imputable aux radionucleides emetteurs beta, en France fin septembre 2011. Note d'information

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    2011-07-01

    Within the frame of the regular monitoring of radioactivity in the environment about its nuclear sites, EDF has noticed a moderate but unusual increase of radioactivity in the air. This radioactivity is attributed to beta emitter radionuclides. This document reports and comments measurements performed by EDF and the IRSN (the French Institute for radiation protection and nuclear safety), and additional investigations performed by the IRSN. The possible origin of the radioactivity increase is discussed in terms of meteorological conditions and dust accumulation levels, and of their incidence of activity levels in the air

  17. European inter-comparison of Monte Carlo codes users for the uncertainty calculation of the kerma in air beside a caesium-137 source; Intercomparaison europeenne d'utilisateurs de codes monte carlo pour le calcul d'incertitudes sur le kerma dans l'air aupres d'une source de cesium-137

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    De Carlan, L.; Bordy, J.M.; Gouriou, J. [CEA Saclay, LIST, Laboratoire National Henri Becquerel, Laboratoire de Metrologie de la Dose 91 - Gif-sur-Yvette (France)

    2010-07-01

    Within the frame of the CONRAD European project (Coordination Network for Radiation Dosimetry), and more precisely within a work group paying attention to uncertainty assessment in computational dosimetry and aiming at comparing different approaches, the authors report the simulation of an irradiator containing a caesium 137 source to calculate the kerma in air as well as its uncertainty due to different parameters. They present the problem geometry, recall the studied issues (kerma uncertainty, influence of capsule source, influence of the collimator, influence of the air volume surrounding the source). They indicate the codes which have been used (MNCP, Fluka, Penelope, etc.) and discuss the obtained results for the first issue

  18. Analisis Kinerja EIGRP dan OSPF pada Topologi Ring dan Mesh

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    DWI ARYANTA

    2016-02-01

    Full Text Available ABSTRAK EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol dan OSPF (Open Shortest Path Fisrt adalah routing protokol yang banyak digunakan pada suatu jaringan komputer. EIGRP hanya dapat digunakan pada perangkat Merk CISCO, sedangkan OSPF dapat digunakan pada semua merk jaringan. Pada penelitian ini dibandingkan delay dan rute dari kedua routing protokol yang diimplementasikan pada topologi Ring dan Mesh. Cisco Packet Tracer 5.3 digunakan untuk mensimulasikan kedua routing protokol ini. Skenario pertama adalah perancangan jaringan kemudian dilakukan pengujian waktu delay 100 kali dalam 5 kasus. Skenario kedua dilakukan pengujian trace route untuk mengetahui jalur yang dilewati paket data lalu memutus link utama. Pada skenario kedua juga dilakukan perbandingan nilai metric dan cost hasil simulasi dengan perhitungan rumus. Skenario ketiga dilakukan pengujian waktu konvergensi untuk setiap routing protokol pada setiap topologi. Hasilnya EIGRP lebih cepat 386 µs daripada OSPF untuk topologi Ring sedangkan OSPF lebih cepat 453 µs daripada EIGRP untuk topologi Mesh. Hasil trace route menunjukan rute yang dipilih oleh routing protokol yaitu nilai metric dan cost yang terkecil. Waktu konvergensi rata-rata topologi Ring pada EIGRP sebesar 12,75 detik dan 34,5 detik pada OSPF sedangkan topologi Mesh di EIGRP sebesar 13 detik dan 35,25 detik di OSPF. Kata Kunci : EIGRP, OSPF, Packet Tracer 5.3, Ring, Mesh, Konvergensi ABSTRACT EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol and OSPF (Open Shortest Path Fisrt is the routing protocol that is widely used in a computer network. EIGRP can only be used on devices Brand CISCO, while OSPF can be used on all brands of network. In this study comparison of both the delay and the routing protocol implemented on Ring and Mesh topology. Cisco Packet Tracer 5.3 is used to simulate both the routing protocol. The first scenario is the design of the network and then do the test of time delay 100 times in 5 cases. The

  19. Detection of Cyanotoxins in Algae Dietary Supplements

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Audrey Roy-Lachapelle

    2017-02-01

    Full Text Available Algae dietary supplements are marketed worldwide as natural health products. Although their proprieties have been claimed as beneficial to improve overall health, there have been several previous reports of contamination by cyanotoxins. These products generally contain non-toxic cyanobacteria, but the methods of cultivation in natural waters without appropriate quality controls allow contamination by toxin producer species present in the natural environment. In this study, we investigated the presence of total microcystins, seven individual microcystins (RR, YR, LR, LA, LY, LW, LF, anatoxin-a, dihydroanatoxin-a, epoxyanatoxin-a, cylindrospermopsin, saxitoxin, and β-methylamino-l-alanine in 18 different commercially available products containing Spirulina or Aphanizomenon flos-aquae. Total microcystins analysis was accomplished using a Lemieux oxidation and a chemical derivatization using dansyl chloride was needed for the simultaneous analysis of cylindrospermopsin, saxitoxin, and β-methylamino-l-alanine. Moreover, the use of laser diode thermal desorption (LDTD and ultra-high performance liquid chromatography (UHPLC both coupled to high resolution mass spectrometry (HRMS enabled high performance detection and quantitation. Out of the 18 products analyzed, 8 contained some cyanotoxins at levels exceeding the tolerable daily intake values. The presence of cyanotoxins in these algal dietary supplements reinforces the need for a better quality control as well as consumer’s awareness on the potential risks associated with the consumption of these supplements.

  20. Coccolithophorid algae culture in closed photobioreactors.

    Science.gov (United States)

    Moheimani, Navid R; Isdepsky, Andreas; Lisec, Jan; Raes, Eric; Borowitzka, Michael A

    2011-09-01

    The feasibility of growth, calcium carbonate and lipid production of the coccolithophorid algae (Prymnesiophyceae), Pleurochrysis carterae, Emiliania huxleyi, and Gephyrocapsa oceanica, was investigated in plate, carboy, airlift, and tubular photobioreactors. The plate photobioreactor was the most promising closed cultivation system. All species could be grown in the carboy photobioreactor. However, P. carterae was the only species which grew in an airlift photobioreactor. Despite several attempts to grow these coccolithophorid species in the tubular photobioreactor (Biocoil), including modification of the airlift and sparger design, no net growth could be achieved. The shear produced by turbulence and bubble effects are the most likely reasons for this failure to grow in the Biocoil. The highest total dry weight, lipid and calcium carbonate productivities achieved by P. carterae in the plate photobioreactors were 0.54, 0.12, and 0.06 g L(-1) day(-1) respectively. Irrespective of the type of photobioreactor, the productivities were P. carterae > E. huxleyi > G. oceanica. Pleurochrysis carterae lipid (20-25% of dry weight) and calcium carbonate (11-12% of dry weight) contents were also the highest of all species tested.

  1. KONTEKTUALISASI DAN (KEMUNGKINAN KONSEKUENSINYA BAGI PSIKOLOGI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Prof. Supratiknya

    2015-09-01

    jaran di perguruan tinggi seperti kita kenal sekarang (selanjutnya disebut psikologi, lahir di Jerman pada penghujung abad ke‐19. Selanjutnya psikologi berkembang pesat di Amerika Utara khususnya Amerika Serikat dan negara‐negara lain di Eropa yang lebih dulu mengalami industrialisasi khususnya di Eropa Barat. 1 Alhasil, paling tidak sampai dasawarsa 1980‐an perkembangan dan persebaran psikologi di tingkat global ditandai oleh ketimpangan di antara apa yang oleh Moghaddam (1987 disebut tiga dunia tempat psikologi dikembangkan dan dipraktekkan, disimak antara lain berdasarkan besarnya produksi pengetahuan psikologis yang disebarluaskan melalui penyelenggaraan pendidikan tinggi psikologi maupun lewat publikasi ilmiah berupa baik berkala maupun buku rujukan dan buku teks.

  2. KECEMASAN DAN STRATEGI COPING WARIA PELACUR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Haris Herdiansyah

    2007-05-01

    Full Text Available Dunia pelacuran adalah penuh dengan tekanan, ancaman dan hal negatif cacat yang menyebabkan ketertarikan kepada pelacur oleh karena itu mendorong pelacur untuk menciptakan strategi menghadapi cukup untuk menghadapi apa yang rasa mereka . Tujuan dari studi ini akan meliputi ke luar ketertarikan dan strategi pelacur yang menghadapi transgender di tiga lingkungan sosial berbeda termasuk dalam keluarga, masyarakat dan “ cebongan” ( tempat di mana pelacur bekerja. Ini adalah suatu riset kualitatif. Karena alat pengumpulan data adalah wawancara, dan pengamatan. Studi ini menggunakan purposive sampling. Ada 3 subjek dan 4 orang informan. Untuk menganalisis data menggunakan model interaktif dari Miles & Huberman yang terdiri dari 3 langkah, yaitu reduksi data, menampilkan data dan kesimpulan serta verifikasi. Hasil dari penelitian ini, banyak kecemasan yang dialami oleh waria pelacur yang datang dari lingkungan yang berbeda-beda. Dari keluarga misalnya, merupakan sumber kecemasan tertinggi, ketika keluarga waria mengetahui profesi mereka. Sumber lain berasal dari pengucilan oleh masyarakat dan mucikari, penangkapan oleh polisi dan preman, persaingan antar pelacur dan kekerasan dari pengguna mereka di “cebongan”

  3. KOMPLIKASI, PENCEGAHAN DAN PENANGANAN EKSTRAVASASI AGEN KEMOTERAPI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I G A Mirah K

    2012-12-01

    Full Text Available Ekstravasasi agen kemoterapi ke jaringan sekitarnya merupakan kecelakaan yangdapat menyebabkan kerusakan jaringan progresif ireversibel dalam hitungan jamsampai hari. Manifestasi klinis ekstravasasi berupa nyeri, edema, eritema, danindurasi yang kemudian berkembang menjadi ulkus dan eschar hitam dankerusakan jaringan yang mendasarinya. Pencegahan terjadinya ekstravasasi dapatdilakukan dengan menggunakan pembuluh darah yang paten dan dengan aliranyang cepat dan tetap memperhatikan keluhan yang disampaikan pasien. Setiaptenaga kesehatan yang akan menangani pasien kanker dengan kemoterapi, dituntutmemiliki pengetahuan mengenai ekstravasasi agen kemoterapi yang bergunadalam meningkatkan pelayanan pada pasien dan mengurangi morbiditas.

  4. ESTIMASI PARAMETER PERTUMBUHAN SERTA MORTALITAS IKAN TAWES DAN NILA DI DANAU TEMPE SULAWESI SELATAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Samuel Samuel

    2016-03-01

    Full Text Available Penelitian tentang pertumbuhan, mortalitas dan laju eksploitasi terhadap ikan tawes dan nila di Danau Tempe dari bulan Februari sampai Nopember tahun 2010, bertujuan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dalam rangka pengelolaannya di Danau Tempe. Estimasi parameter pertumbuhan, mortalitas dan laju eksploitasi dihitung menggunakan program FISAT. Hasil Penelitian menunjukkan pertumbuhan ikan tawes dan nila di Danau Tempe termasuk rendah dibandingkan dengan pertumbuhan jenis ikan tawes dan nila di beberapa badan air lainnya di Indonesia. Parameter pertumbuhan Von Bertalanffy ikan tawes mempunyai panjang infinitif (L∞= 29,1 cm dengan laju pertumbuhan (K= 0,30/tahun dan laju eksploitasi (E= 0,46 sedikit dibawah nilai tangkap maksimum. Ikan nila mempunyai panjang infinitif  (L∞= 31,8 cm dengan laju pertumbuhan (K= 0,22/tahun dan laju eksploitasi (E sebesar 0,50, tepat pada nilai tangkap maksimum. Untuk pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan di Danau Tempe agar tetap lestari perlu adanya pembatasan jumlah alat tangkap dan pengawasan terhadap aktivitas penangkapan di zona inti ketika air surut. Research on growth, mortality and exploitation rate of these two fish species in Lake Tempe was conducted from February to November 2010. The aim of the research was to obtain information for management of these two fish species in Lake Tempe. Estimation of growth, mortality and exploitation rate was calculated using FISAT program. The results showed that java barb had infinitive length (L∞ = 29.1 cm with a growth rate of 0.30/year and exploitation rate of 0.46, slightly below the optimum fishing value. Nile tilapia had infinitive length (L∞ = 31.8 cm with a growth rate of 0.22/year and exploitation rate of 0.50, same as the optimum fishing value. Growth rate of java barb and nile tilapia in Lake Tempe were lower compared with the growth of these two fish species in others water bodies in Indonesia. For management and utilization of fish

  5. PENENTUAN KANDUNGAN UNSUR PADA INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL RSUP DR. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN DENGAN METODE ANALISIS AKTIVASI NEUTRON REAKTOR KARTINI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    - Niati

    2012-01-01

    Full Text Available Limbah cair hasil aktivasi manusia misalnya di Rumah Sakit harus diolah terlebih dahulu sebelum dialirkan ke lingkungan. Pengolahan limbah cair ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya suatu hal yang berbahaya atau tidak aman bagi lingkungan. Permasalahan yang dikaji adalah dengan mengetahui jenis unsur dan kadarnya apakah melebihi dari batas kadar baku mutu limbah dan air minum. Metode  Analisis Aktivasi Neutron (AAN untuk analisis kualitatif yaitu mengetahui jenis unsur dan analisis kuantitatif yaitu menghitung kadar dari jenis unsur tersebut. Sampel limbah cair diaktivasi menggunakan sumber neutron dari Reaktor Kartini, kemudian dicacah menggunakan Spektrometri-γ, barulah analisis kualitatif dan kuantitatif dapat dilakukan. Hasil penelitian sampel air sumur dan limbah cair RS secara kualitatif terdapat jenis unsur dengan waktu peluruhan pendek seperti : Fe, Cl, dan Al dan waktu peluruhan panjang terdapat jenis unsur Br dan Na. Secara kuantitatif untuk waktu peluruhan pendek dengan evaporasi kadar Cl antara (0,0849-3,01E-06 ppm, kadar Al antara (2,3197-3,9841E-07 ppm; tanpa evaporasi kadar Cl antara (0,65785-2,3197E-07 ppm, kadar Al antara (2,5113-2,7761E-09 ppm. Untuk waktu peluruhan panjang dengan evaporasi kadar Br antara (0,069846-1,9147E-04 ppm, kadar Na antara (0,8058-3,2544E-05 ppm; tanpa evaporasi kadar Br 5,031E-06 ppm, kadar Na antara (6,7857-8,3285E-07 ppm. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa waktu peluruhan dan perbedaan perlakuan sampel mengakibatkan jenis unsur dan kadar unsur yang dihasilkan juga berbeda-beda. Berdasarkan penghitungan kadar jenis unsur dan setelah dibandingkan dengan kadar baku mutu limbah dan mutu air maka limbah cair RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dalam batas aman apabila dibuang ke lingkungan dan air sumur tersebut juga aman untuk dikonsumsi. Kata kunci : Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL, AAN, Reaktor Kartini

  6. Analisis Perbandingan Database Jurnal Elektronik Emerald, ProQuest ABI/INFORM dan SpringerLink Bidang Manajemen dan Ekonomi

    OpenAIRE

    Karyatin, Arianiansyah

    2016-01-01

    Penelitian ini dilakukan pada situs database jurnal elektronik Emerald, ProQuest ABI/INFORM dan SpringerLink. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana konten (muatan) subjek kajian manajemen dan ekonomi pada database Emerald, ProQuest ABI/INFORM dan SpringerLink dan untuk mengetahui di dalam database manakah diantara database Emerald, ProQuest ABI/INFORM, dan Springerlink yang memuat bidang kajian manajemen dan ekonomi yang paling lengkap. Metode yang digunakan dalam pene...

  7. RESPONS PERTUMBUHAN DAN EKSPRESI GEN UDANG VANAME, Litopenaeus vannamei SETELAH DIRENDAM DALAM LARUTAN HORMON PERTUMBUHAN REKOMBINAN IKAN KERAPU KERTANG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Siti Subaidah

    2012-12-01

    Full Text Available Pertumbuhan ikan dapat ditingkatkan menggunakan hormon pertumbuhan rekombinan. Penelitian ini bertujuan mengkaji respons pertumbuhan dan ekspresi gen udang vaname, Litopenaeus vannamei setelah direndam dengan hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang, Epinephelus lanceolatus (rElGH. Pada percobaan pertama, post larva stadia 2 (PL-2 sebanyak 1.500 ekor direndam selama 1 jam dalam 1 liter air laut yang mengandung rElGH lima dosis berbeda, yaitu 150; 15; 1,5; 0,15; dan 0,015 mg/L dan bovine serum albumin 0,01%. Setiap perlakuan diulang 3 kali. Perendaman dilakukan dalam kantong plastik ditambah oksigen (volume air :oksigen = 1:5. Udang dipelihara dalam akuarium volume 60 liter dengan kepadatan 25 ekor/litersampai PL-14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 15 mg/L memberikan peningkatan bobot badan, panjang badan, dan sintasan tertinggi (P<0,05 masing-masing sebesar 37,77%; 12,75%; dan 9,45% dibandingkan dengan kontrol. Ekspresi mRNA single insulin binding domain (SIBD pada PL-14 yang dianalisis dengan realtime PCR menunjukkan kenaikan sebesar 3,3 kali pada udang yang direndam rElGH dibandingkan dengan kontrol, dan dapat dinyatakan bahwa SIBD berperan penting dalam induksi pertumbuhan. Tingkat ekspresi moult inhibiting hormone meningkat sekitar 13%, sedangkan ekspresi cyclopilin A pada udang yang direndam rElGH sama dengan kontrol. Pada percobaan kedua, perendaman PL-2 dalam larutan rElGH dosis 15 mg/L dengan lama waktu 3 jam meningkatkan bobot badan sebesar 62,18% lebih tinggi daripada perendaman 1 jam. Dengan demikian, perendaman udang dalam larutan rElGH meningkatkan pertumbuhan dan ekspresi gen SIBD, dan metode ini dapat berguna dalam peningkatan produksi budidaya.

  8. La simplicité dans la vie

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    王沫涵

    2011-01-01

    Il para(i)t qu'il n'y a plus de choses simples dans la vie.On ne peut pas se lever sans radioréveil;on ne peut pas prendre le petit déjeuner sans réfrigérateur ni four à micro-onde;on ne peut pas suivre un cours sans projecteur,ou bien sans didacticiel;on ne peut pas écrire sans ordinateur,et encore,on ne peut pas s'endormir sans berceuse é1ectronique.On ne peut pas remercier quelqu'un sans cadeau précieux.Un garcon ne peut pas avoir le coeur de sa petite amie sans lui offri 999 roses.Une femme ne veut passe marier avec un homme sans voiture ni maison.Une mère ne peut pas élever un enfant sans remède ni recette compliqués,ou bien sans jouet animé.Le monde ne peut pas acquérir la paix sans force de dissuasion nucléaire.

  9. SOIL ALGAE OF BLADE OF COIL IN DONETSK REGION

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Maltseva I.A.

    2011-12-01

    Full Text Available On territory of Donbass for more than 200 years the underground coal mining has produced, accompanied by the formation of the mine dumps. Finding ways to reduce their negative impact on the environment should be based on their comprehensive study. The soil algae are active participants in the syngenetic processes in industrial dumps of different origin. The purpose of this paper is to identify the species composition and dominant algae groups in dump mine SH/U5 “Western” in the western part of Donetsk.The test blade is covered with vegetation to the middle from all sides, and on the north side of 20-25 m to the top. The vegetation cover of the lower and middle tiers of all the exposures range in 70-80%. Projective vegetation cover of upper tiers of the northern, north-eastern and north-western exposures are in the range of 20-40%, other – 5-10%. We revealed some 38 algae species as a result of our research in southern, northern, western, and eastern slopes of the blade “Western”. The highest species diversity has Chlorophyta - 14 species (36.8% of the total number of species, then Cyanophyta - 9 (23,7%, Bacillariophyta - 7 (18,4%, Xantophyta - 5 (13.2%, and Eustigmatophyta - 3 (7.9%. The dominants are represented by Hantzschia amphyoxys (Ehrenberg Grunow in Cleve et Grunow, Bracteacoccus aerius, Klebsormidium flaccidum (Kützing Silva et al., Phormidium autumnale, Pinnularia borealis Ehrenberg, Planothidium lanceolatum (Brebisson in Kützing Bukhtiyarova, Xanthonema exile (Klebs Silva.It should be noted that the species composition of algae groups in different slopes of the blade was significantly different. Jacquard coefficient was calculated for algae communities varied in the range of 15,4-39,1%. The smallest number of algae species was observed on the southern slope of the blade (14 species, maximum was registered in the areas of north and west slopes. Differences in the species composition of algae were also observed in three

  10. CATFISH KECIL UNIK, Corydoras sp. UNTUK AKUARIUM, TINGKAH LAKU BIOLOGI DAN REPRODUKSINYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Darti Satyani

    2008-12-01

    Full Text Available Corydoras sp. termasuk dalam familia Collichthyidae, kelas Siluridae dan sangat dikenal olah para hobiis ikan hias air tawar. Genus Corydoras yang berasal dari Amerika Selatan ini mempunyai banyak spesies tetapi yang banyak beredar dan sudah dibudidayakan ada 10 spesies yaitu C. aeneus, C. adolfoi, C. barbatus, C. paleatus, C. panda, C. pygmaeus, C. rabauti, C. septentrionalis, C. sterbai, dan C. sychri. Selain ukurannya yang umumnya kecil (maksimum 7,5 cm dibandingkan dengan jenis catfish lain, jenis ini mempunyai dua baris sisik keras. Bentuk badannya kompak agak pipih ke samping dengan mulut menghadap ke bawah. Hidup merayap di dasar pada suhu 24°C--28°C (tergantung spesiesnya; pH 7,0--7,5; dan hardness sekitar 10° dH. Disebut “tukang bersih-bersih” karena senang membersihkan dinding akuarium dengan mulutnya. Tingkah laku reproduksinya amat unik. Sebelum ovulasi induk betina akan menempatkan mulutnya kearah genital induk jantan yang dikenal dengan “posisi T” dan akan mengisap spermanya. Sperma ini akan dilepas melewati usus bersama dengan lepasnya telur kedalam “kantong” yang dibentuk oleh kedua sirip perutnya. Pembuahan efektif terjadi di sini. Kemudian telur akan dilekatkan ke substrat atau objek (daun, batu datar, dan sebagainya yang sebelumnya telah dibersihkan oleh induk jantannya. Telur yang ditinggalkan akan menetas di substrat bila kondisi airnya sesuai dan cukup baik.

  11. ANALISIS KARAKTERISTIK PENGARUH SUHU DAN KONTAMINAN TERHADAP VISKOSITAS OLI MENGGUNAKAN ROTARY VISCOMETER

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hardiyatul Maulida, Erika Rani

    2012-03-01

    Full Text Available Pada zat cair, ukuran partikel menentukan tingkat kekentalan (viskositas dari cairan itu sendiri.  Perbedaan  viskositas  pada  zat  cair  menunjukkan  fungsi  zat  cair  tersebut.  Contohnya viskositas air lebih rendah dari pada oli, hal itu menyebabkan air dapat dikonsumsi dan oli tidak. Masing-masing oli juga mempunyai viskositas berbeda  sesuai dengan fungsi oli dan mesin yang digunakan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengetahui oli yang viskositasnya lebih cepat menurun pada saat suhu yang  diberikan semakin tinggi, serta mengetahui oli yang baik menurut peneltian tersebut.  Hasil  yang didapatkan dari  penelitian  pengaruh suhu terhadap viskositas  oli adalah persamaan eksponensial untuk oli bensin yaitu oli A (y = 1196.e-0.06x, oli B (y = 1169.e-0.06x, oli C (y = 919.7e-0.04x. Oli diesel yaitu oli D (y = 522.9e-0.05x, oli E (y = 1125.e-0.04x, dan oli F (y = 849.9e-0.04x. Sedangkan untuk oli samping yaitu oli G (y = 908.7e-0.05x, oli H (y = 653.8e-0.05x, dan oli I (y = 925.7e-0.06x. Berdasarkan grafik yang didapatkan dari data hasil penelitian dapat diketahui bahwa oli yang lebih cepat encer ketika dipanaskan hingga suhu 800C adalah oli B (untuk oli bensin, oli D (untuk oli Diesel, dan oli H (untuk oli samping. Adapun oli yang baik adalah oli C (untuk oli bensin, oli E (untuk oli diesel, dan oli G (untuk oli samping.

  12. FORMULASI RUMPUT LAUT Gracilaria sp. DALAM PEMBUATAN BAKSO DAGING SAPI TINGGI SERAT DAN IODIUM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lovi Dwi Princestasari

    2016-04-01

    Full Text Available ABSTRACTThe objective of this study was to formulate seaweed Gracilaria sp. in producing meatballs with high fiber and iodine content. The formulation was made by seaweed porridge addition as much as 30%, 40%, and 50% of total weight of raw material. Meatball product with the addition of 40% of seaweed porridge was the most accepted in organoleptic tests. The proximate analysis of the selected meatballs showed that the content of water, ash, fat, protein, and carbohydrate was 76.93%, 2.31%, 0.5%, and 8.11% respectively. The total dietary fiber and iodine content was 5.98% and 1.14 ppm. The acceptance test done by 31 elementary school students showed that 90% of them stated “like” and could accept the product properly. The contribution of selected product to nutrient adequacy level of 6-12 years old’s children was 2.12-2.67% for energy, 7.03-12.05% for protein, 0.36-0.42% for fat, 2.19-2.87% for carbohydrate, 10.37-14.13% for fiber, and 49.4% for iodine. Hence, the meatball product with addition of Gracilaria sp. 40% is a high fiber and iodine product.Keywords: fiber, Gracilaria sp. seaweed, iodine, meatballsABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memformulasikan rumput laut Gracilaria sp. dalam pembuatan bakso daging sapi agar diperoleh produk dengan kadar serat dan iodium yang tinggi. Formulasi dibuat dengan penambahan bubur rumput laut Gracilaria sp. sebesar 30%, 40%, dan 50% terhadap berat adonan total. Produk bakso dengan penambahan rumput laut sebanyak 40% menunjukkan nilai penerimaan tertinggi secara organoleptik dan dipilih sebagai produk terpilih. Hasil uji proksimat kadar air, abu, lemak, protein, dan karbohidrat secara berturut-turut adalah 76,93%; 2,31%; 0,5%; 8,11%, dan 12,16%. Kadar serat pangan total dan iodium produk terpilih masing-masing adalah 5,98% dan 1,14 ppm. Hasil uji daya terima terhadap 31 anak SD menunjukkan 90,3% subjek menyatakan suka dan dapat menerima produk bakso terpilih dengan baik. Produk bakso terpilih

  13. Comparaison des effets des irradiations γ, X et UV dans les fibres optiques

    Science.gov (United States)

    Girard, S.; Ouerdane, Y.; Baggio, J.; Boukenter, A.; Meunier, J.-P.; Leray, J.-L.

    2005-06-01

    Les fibres optiques présentent de nombreux avantages incitant à les intégrer dans des applications devant résister aux environnements radiatifs associés aux domaines civil, spatial ou militaire. Cependant, leur exposition à un rayonnement entraîne la création de défauts ponctuels dans la silice amorphe pure ou dopée qui constitue les différentes parties de la fibre optique. Ces défauts causent, en particulier, une augmentation transitoire de l'atténuation linéique des fibres optiques responsable de la dégradation voire de la perte du signal propagé dans celles-ci. Dans cet article, nous comparons les effets de deux types d'irradiation: une impulsion X et une dose γ cumulée. Les effets de ces irradiations sont ensuite comparés avec ceux induits par une insolation ultraviolette (244 nm) sur les propriétés d'absorption des fibres optiques. Nous montrons qu'il existe des similitudes entre ces différentes excitations et qu'il est possible, sous certaines conditions, d'utiliser celles-ci afin d'évaluer la capacité de certaines fibres optiques à fonctionner dans un environnement nucléaire donné.

  14. Two-Step Evolution of Endosymbiosis between Hydra and Algae

    KAUST Repository

    Ishikawa, Masakazu

    2016-07-09

    In the Hydra vulgaris group, only 2 of the 25 strains in the collection of the National Institute of Genetics in Japan currently show endosymbiosis with green algae. However, whether the other non-symbiotic strains also have the potential to harbor algae remains unknown. The endosymbiotic potential of non-symbiotic strains that can harbor algae may have been acquired before or during divergence of the strains. With the aim of understanding the evolutionary process of endosymbiosis in the H. vulgaris group, we examined the endosymbiotic potential of non-symbiotic strains of the H. vulgaris group by artificially introducing endosymbiotic algae. We found that 12 of the 23 non-symbiotic strains were able to harbor the algae until reaching the grand-offspring through the asexual reproduction by budding. Moreover, a phylogenetic analysis of mitochondrial genome sequences showed that all the strains with endosymbiotic potential grouped into a single cluster (cluster γ). This cluster contained two strains (J7 and J10) that currently harbor algae; however, these strains were not the closest relatives. These results suggest that evolution of endosymbiosis occurred in two steps; first, endosymbiotic potential was gained once in the ancestor of the cluster γ lineage; second, strains J7 and J10 obtained algae independently after the divergence of the strains. By demonstrating the evolution of the endosymbiotic potential in non-symbiotic H. vulgaris group strains, we have clearly distinguished two evolutionary steps. The step-by-step evolutionary process provides significant insight into the evolution of endosymbiosis in cnidarians.

  15. KANDUNGAN ASAM AMINO, TAURIN, MINERAL MAKRO-MIKRO, DAN VITAMIN B12 UBUR-UBUR (Aurelia aurita SEGAR DAN KERING

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    - - Nurjanah

    2014-06-01

    Full Text Available Tujuan penelitian adalah menentukan komposisi gizi, asam amino, taurin, mineral makro dan mikro,dan vitamin B12 pada ubur-ubur (Aurelia aurita segar dan kering. Asam amino esensial pada ubur-uburyaitu arginina, leusina, valina, treonina, lisina, isoleusina, fenilalanina, metionina, dan histidina, sedangkanasam amino non esensial yaitu asam glutamat, glisina, asam aspartat, serina, alanina, dan tirosina. Asamamino esensial tertinggi segar dan kering adalah arginina sebesar 1,72% (bk dan 1,44% (bk dan terendahhistidina yaitu sebesar 0,19% (bk dan 0,13% (bk. Asam amino non esensial segar dan kering tertinggiadalah asam glutamat dan glisina yaitu sebesar 3,26% (bk dan 2,62% (bk dan terkecil tirosina sebesar0,38% (bk dan 0,41% (bk. Taurin segar sebesar 2,68% (bk dan kering sebesar 0,67% (bk. Mineral makrotertinggi segar dan kering adalah natrium yaitu 180.092,1 ppm (bk dan 111.209,4 ppm (bk, terkecil adalahkalsium yaitu 5.750,2 ppm (bk dan 11,1 ppm (bk. Mineral mikro tertinggi segar dan kering adalah iodium yaitu8.291,5 ppm (bk dan 1.800 ppm (bk dan yang terkecil adalah tembaga yaitu 1,1 ppm (bk dan 0,6 ppm (bk.Vitamin B12 segar adalah 396,6 μm/100 g (bk dan kering 63,5 μm/100 g (bk.Kata kunci: asam amino, mineral, taurin, ubur-ubur (Aurelia aurita, vitamin B12

  16. Plasticity predicts evolution in a marine alga.

    Science.gov (United States)

    Schaum, C Elisa; Collins, Sinéad

    2014-10-22

    Under global change, populations have four possible responses: 'migrate, acclimate, adapt or die' (Gienapp et al. 2008 Climate change and evolution: disentangling environmental and genetic response. Mol. Ecol. 17, 167-178. (doi:10.1111/j.1365-294X.2007.03413.x)). The challenge is to predict how much migration, acclimatization or adaptation populations are capable of. We have previously shown that populations from more variable environments are more plastic (Schaum et al. 2013 Variation in plastic responses of a globally distributed picoplankton species to ocean acidification. Nature 3, 298-230. (doi:10.1038/nclimate1774)), and here we use experimental evolution with a marine microbe to learn that plastic responses predict the extent of adaptation in the face of elevated partial pressure of CO2 (pCO2). Specifically, plastic populations evolve more, and plastic responses in traits other than growth can predict changes in growth in a marine microbe. The relationship between plasticity and evolution is strongest when populations evolve in fluctuating environments, which favour the evolution and maintenance of plasticity. Strikingly, plasticity predicts the extent, but not direction of phenotypic evolution. The plastic response to elevated pCO2 in green algae is to increase cell division rates, but the evolutionary response here is to decrease cell division rates over 400 generations until cells are dividing at the same rate their ancestors did in ambient CO2. Slow-growing cells have higher mitochondrial potential and withstand further environmental change better than faster growing cells. Based on this, we hypothesize that slow growth is adaptive under CO2 enrichment when associated with the production of higher quality daughter cells.

  17. Performance testing of an air/water heat pump using CO{sub 2} (R744) as refrigerant for the preparation of sanitary hot water in a hospital; Mesures des donnees energetiques d'une pompe a chaleur air/eau au CO{sub 2} (R744) pour preparation d'eau chaude sanitaire dans un hopital

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Anstett, P.

    2006-07-01

    This final report prepared for the Swiss Federal Office of Energy (SFOE) describes the monitoring equipment and the results of performance tests made on a prototype heat pump of 60 kW power output used for hot water production at the hospital of Le Locle, Switzerland. The heat pump uses carbon dioxide (R744) as the working fluid and ambient air as the heat source. The heat output and the coefficient of performance for various values of cold water temperature and air temperature have been measured. The practically measured values of heat output and COP showed a low reproducibility and remained far behind the theoretical values given by the manufacturer. Instead of producing hot water at 80 {sup o}C as intended originally the authors recommend to use the heat pump only for preheating the water to 60 {sup o}C.

  18. ANALISIS TINGKAT KEPUASAN DAN HARAPAN PASEN TERHADAP PELAYANAN PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT DAERAH PROVINSI DIY

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sunarto Sunarto

    2010-10-01

    Full Text Available Kepuasan merupakan perasaan seseorang mengenai kesenangan atau kekecewaan sebagai hasil membandingkan antara kinerja dan harapan. Jumlah kunjungan Puskesmas tahun 2007 sebesar 3.094.027 pasien yang terdiri dari 3.076442 rawat jalan dan 17.585 rawat inap. Penelitian untuk mengentahui gambaran tingkat kepuasan dan untuk mengetahui perbedaan tingkat kepuasan dan harapan pasien yang mendapatkan pelayanan Puskemas dan rumah sakit menurut wilayah Kabupatet / Kota di Propinsi DIY Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan rancangan cros sectional. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuisioner dengan 35 item pernyataan yang diambil dari atribut-atribut SERVQUAL dalam 5 dimensi. Total sampel untuk lima Kabupaten Kota sebanyak 1000, masing-masing Kabupaten Kota 200. Penelitian ini dilakukan terhadap pasien yang menerima pelayanan kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit Daerah di Kabupaten-Kota Daerah Istimewa Yogyakarta. Penilaian tingkat kepuasan pasien ketika mereka berobat ke Puskesmas dan Rumah Sakit di Propinsi DIY, dengan menggunakan skala O sampai 4. Hasilnya adalah dimensi tangibles, rata-rata kepuasan pasien (2,96 cukup dan harapan pasien (3,38 pada dimensi reliability, rata-rata kepuasan pasien (3,01 bagus dan harapan pasien (3,40. Pada dimensi responsiveness, rata-rata kepuasan pa-sien (3,07 bagus dan harapan pasien (3,42. Dimensi assurance, rata-rata kepuasan pasien (3, 1 0 bagus dan harapan pasien (3 ,42. pada dimensi emphaty, rata-rata kepuasan pasien (3,02 bagus dan harapan pasien (3,35. Hasil uji statistik didapatkan nilai p > 0.05, berarti pada alpha 5%, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat kepuasan diantara kelima wilayah kabupaten/kota di DIY. Penilaian tingkat kepuasan pasien, ketika mereka berkunjung ke Puskesmas dan Rumah Sakit di DIY secara rata-rata bagus dan tidak ada perbedaan tingkat kepuasan menurut wilayah Kabupaten-Kota di Propinsi DIY. Kata Kunci : Kepuasan, harapan

  19. Vast voer in zoogperiode belangrijker dan gedacht

    NARCIS (Netherlands)

    Peet-Schwering, van der C.M.C.; Binnendijk, G.P.; Troquet, L.M.P.

    2012-01-01

    Biggen die voor spenen vast voer opnemen (eters) groeien na spenen circa 50 gram per dag sneller dan biggen die tijdens de zoogperiode geen vast voer opnemen (niet-eters). Daarnaast groeien zwaardere biggen bij spenen circa 50 gram per dag sneller dan lichtere biggen bij spenen. Dit blijkt uit onder

  20. Radiations cosmiques : danger dans l'Espace

    Science.gov (United States)

    Bonnet-Bidaud, J. M.; Dzitko, H.

    2000-06-01

    Au sol, l'atmosphere nous protege plus ou moins bien. Mais dans l'espace ou a bord des avions de ligne, l'homme est directement expose aux rayonnements cosmiques qui peuvent etre mortels. Un veritable frein a la presence humaine prolongee dans l'espace. Une menace que les agences spatiales prennent tres au serieux.

  1. Dhenggung Asmarandana dan Dhegung Banten: Sebuah Komparasi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Teguh -

    2013-11-01

    Full Text Available The Comparation of Dhenggung Asmarandana and Dhegung Banten. Penelitian ini membahas perbandinganantara gending Dhenggung Asmaradana gaya Surakarta dengan gending Dhegung Banten gaya Yogyakarta.Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa kedua gending memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaankeduanya terletak pada laras, pathet, bentuk gendhing, struktur gendhing, serta balungan gending. Sedangkanperbedaannya hanya pada nama dan garap tabuhan bonang.

  2. STRATEGI PERSONAL BRANDING FOTOGRAFER HOTEL DAN RESORT

    OpenAIRE

    GUSTAFIAN, THOMAS HENRY ADRIAN

    2014-01-01

    Identitas brand menjadi masalah penting dalam lingkungan bisnis yang semakin kompleks dan penuh dengan persaingan. Salah satu cara yang dapat dilakukan seorang entrepreneur untuk menunjukkan identitas brand adalah melalui personal branding. Strategi personal branding sangat dipengaruhi oleh konsep diri dan strategi komunikasi yang dimiliki oleh seorang entrepreneur. Tulisan ini menggambarkan bagaimana strategi personal branding mempengaruhi keberhasilan seorang entrepreneur

  3. Pengaruh Massa Adsorben Dan Waktu Kontak Terhadap Penurunan Bilangan Peroksida Pada Minyak Goreng Bekas Oleh Arang Aktif Tempurung Kemiri (Aleurites Moluccana)

    OpenAIRE

    Asyhar, M Aidil

    2015-01-01

    Adsorpsi minyak goreng bekas terhadap arang aktif tempurung kemiri telah dilakukan. Tempurung kemiri yang telah dicuci bersih dan kering ditanur pada suhu 750o C selama 90 menit selanjutnya arang diayak dengan ayakan 100 mesh. Kemudian arang yang lolos saringan 100 mesh direndam dalam larutan NaCl 30% selama 24 jam lalu dicuci dengan aquades dan dikeringkan dalam oven pada suhu 110oC selama 3 jam. Karakterisasi arang aktif meliputi uji kadar air, kadar abu, uji ukuran partikel dan uji analisa...

  4. Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Perilaku Fisiologis dan Pertumbuhan Bibit Black Locust (Robinia pseudoacacia

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Novita Anggraini

    2016-03-01

    Full Text Available Black locust (Robinia pseudoacacia merupakan tanaman asli Amerika Utara dan telah tersebar ke Eropa dan Asia serta menjadi salah satu spesies yang digunakan untuk rehabilitasi lahan semiarid dan arid. Walau demikian, kemampuan adaptasi black locust pada daerah persebarannya cukup meresahkan disebabkan jenis ini memiliki potensi invasif yang cenderung menekan pertumbuhan tanaman asli setempat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh cekaman kekeringan berupa volume penyiraman dan interval penyiraman terhadap perilaku fisiologis dan pertumbuhan bibit black locust, serta untuk menganalisis tingkat toleransi black locust terhadap kekeringan melalui karakter efisiensi penggunaan air (WUE dan kandungan klorofil. Perlakuan volume penyiraman berupa kapasitas lapang 30-40 % mewakili kondisi kekeringan dan kapasitas lapang 70-80 % mewakili kondisi air yang memadai, sementara periode interval penyiraman adalah 1 hari, 3 hari dan 7 hari. Metode analisis yang digunakan ialah analisis tren. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah semakin rendah volume penyiraman (KL 30-40 % dan semakin lama interval penyiraman (ke 7 hari maka fotosintesis, transpirasi, konduktansi stomata, serta pertumbuhan (tinggi, diameter, berat kering tajuk dan akar akan semakin rendah, sementara untuk WUE dan kandungan klorofil semakin tinggi. Peningkatan WUE dan kandungan klorofil merupakan dua indikator bahwa black locust mampu beradaptasi (toleran pada kondisi cekaman kekeringan. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan black locust dalam upaya reklamasi lahan kering perlu didahului studi khusus dan pertimbangan yang matang agar tidak membawa dampak invasif pada kehidupan mendatang. Kata kunci: black locust, cekaman kekeringan, jenis invasif, water use efficiency, kandungan klorofil.   Effect of drought stress on physiological behavior and growth ofblack locust (Robinia pseudoacacia seedlings Abstract Black locust (Robinia pseudoacacia is a native

  5. Penerapan Sistem Remunerasi dan Kinerja Pelayanan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tri Wisesa Soetisna

    2015-08-01

    Full Text Available Remunerasi dapat memengaruhi motivasi pegawai sekaligus meningkatkan kinerjanya. Demikian halnya di rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan yang padat modal, sumber daya manusia serta padat ilmu dan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi pegawai terhadap implementasi sistem remunerasi dan kinerja unit pelayanan bedah jantung dewasa (UPBJD di rumah sakit. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods (kuantitatif dan kualitatif. Desain penelitian kuantitatif adalah potong lintang menggunakan instrumen kuesioner self-assessment. Sedangkan desain penelitian kualitatif adalah deskriptif, dilakukan melalui focus group discussion dan telaah dokumen pada data berupa buku jadwal, buku registrasi, catatan keperawatan, dan rekam medis. Pengambilan data dilakukan pada tahun 2013 di salah satu rumah sakit di Jakarta. Responden/informan adalah staf medis fungsional, perawat, dan petugas administrasi berjumlah 29 orang. Data dianalisis secara univariat (metode kuantitatif, dan content analysis (metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar staf medis fungsional dan perawat tidak puas (71,2% dengan beberapa hal dalam penerapan sistem remunerasi, seperti pada sistem penggajian dan penentuan grading. Terlihat kinerja unit pelayanan bedah jantung dewasa mengalami kenaikan setiap tahun sebelum dan setelah penerapan sistem remunerasi. Diharapkan agar rumah sakit ini dapat memperbaiki sistem remunerasi yang sesuai ketentuan kebijakan dan menyusun formulasi insentif dan bonus yang lebih sesuai dengan kondisi saat ini serta perlu dilakukan sosialisasi yang tepat dan evaluasi secara berkala. Implementation of Remuneration System and Service Performance Remuneration can influence worker`s motivation, and improve their performance. Likewise in hospital as capital-intensive, human resources-intensive as well as knowledge and technology-intensive health care institution. This study aimed to analyze employee

  6. Nyamuk Vektor Malaria dan Hubungannya Dengan Aktivitas Kehidupan Manusia Di Indonesia

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Amrul Munif

    2009-12-01

    Full Text Available Nyamuk merupakan organisme hidup yang tersebar di berbagai penjuru dunia, yang sebagian besar dapat merugikan bagi kehidupan manusia karena perannya dapat menyebar luaskan penyakit menular (penyakit tular vektor diantaranya malaria, demam berdarah, radang otak hencephalitis, filaria, chikungunya. Tidak semua spesies nyamuk betina dapat berperan sebagai penular penyakit hanya beberapa saja diantaranya genus Anopheles, culex, Aedes dan Mansonia. Penyakit penting yang dapat ditularkan oleh keempat genus tersebut adalah malaria, filaria, demam berdarah dan Japanese encephalitis. Tujuan dari penulisan ini mengkaji sejahu mana nyamuk Anopheles dapat menimbulkan masalah kesehatan masyarakat serta sebarannya yang terkait dengan aktivitas kehidupan manusia di Indonesia. Berbagai aktivitas manusia dapat memberikan kontribusi terhadap tempat perkembangbiakan bagi kehidupan nyamuk, apabila tempat-tempat tersebut tidak terawat /terkontrol dengan baik. Hal ini akan memberikan kerugian bagi manusia sendiri, karena populasi nyamuk bertambah memberi peluang kontak gigitan nyamuk terhadap manusia. Spesies nyamuk vektor tertentu mempunyai kaitan erat dengan aktivitas kehidupan manusia dari mulai pengelolaan lahan sawah, tambak ikan, perkebunan, peternakan, menampung air sampai pembuangan air limbah rumah tangga akan memberikan peluang nyamuk untuk berkembangbiak. Pada umumnya vektor malaria di Indonesia mempunyai sifat perilaku zoofilik dan sedikit antropofilik yang berbeda pada setiap daerah endemis, dan bersifat eksofagik, eksofilik berbeda pula sebagai parameter entomologi kesehatan.

  7. Temporal changes in the characteristics of algae in Dianchi Lake, Yunnan Province, China

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ruixia SHEN,Chunyan TIAN,Zhidan LIU,Yuanhui ZHANG,Baoming LI,Haifeng LU,Na DUAN

    2015-09-01

    Full Text Available Algal blooms have become a worldwide environmental concern due to water eutrophication. Dianchi Lake in Yunnan Province, China is suffering from severe eutrophication and is listed in the Three Important Lakes Restoration Act of China. Hydrothermal liquefaction allows a promising and direct conversion of algal biomass into biocrude oil. In this study, algal samples were collected from Dianchi Lake after a separation procedure including dissolved air flotation with polyaluminum chloride and centrifugation during four months, April, June, August and October. The algal biochemical components varied over the period; lipids from 0.7% to 2.1% ash-free dry weight (afdw, protein from 20.9% to 33.4% afdw and ash from 36.6% to 45.2% dry weight. The algae in June had the highest lipid and protein concentrations, leading to a maximum biocrude oil yield of 24.3% afdw. Biodiversity analysis using pyrosequencing revealed different distributions of microbial communities, specifically Microcystis in April (89.0%, June (63.7% and August (84.0%, and Synechococcus in April (2.2%, June (12.0% and August (1.0%. This study demonstrated remarkable temporal changes in the biochemical composition and biodiversity of algae harvested from Dianchi Lake and changes in biocrude oil production potential.

  8. Pemanfaatan Biji Asam Jawa (TamarindusIndica sebagai Koagulan Alternatif dalam Proses Menurunkan Kadar COD dan BOD dengan Studi Kasus pada Limbah Cair Industri Tempe

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gary Intan Ramadhani

    2013-03-01

    Full Text Available Biji asam jawa yang selama ini jarang dimanfaatkan perlu dikembangkan lebih lanjut untuk pengolahan limbah cair yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.  Kandungan polisakarida dalam biji asam jawa (Tamarindus Indica merupakan koagulan alami yang terbukti cukup efektif dalam peningkatan kualitas air limbah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh biji asam jawa sebagai koagulan pada limbah cair industri tempe sehingga diperoleh hasil yang optimum. Adapun yang dimaksud dengan hasil optimum yaitu dengan tercapainya penurunan kadar COD, BOD, dan TSS pada limbah cair yang digunakan sesuai dengan baku mutu dan kondisi yang tidak membahayakan lingkungan. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah pH, TSS, kadar COD dan BOD dengan membandingkan dari tiap-tiap variasi. Variabel penelitian yang digunakan adalah pemberian dosis biji asam jawa sebagai koagulan dengan variasi (500, 1500, 2500, 3500 mg/l, kecepatan putaran pada proses koagulasi-flokulasi dan lama pengadukan lambat (flokulasi. Pada penelitian ini, terdapat korelasi antara dosis koagulan dan kecepatan pengadukan yang diberikan terhadap efisiensi penurunan kadar BOD, COD dan TSS. Dosis optimum yang diperoleh yaitu 1500 mg/l limbah. Sedangkan hasil optimum diperoleh pada kecepatan koagulasi 180 rpm selama 1 menit dan flokulasi 80 rpm dengan lama waktu pengadukan 45 menit.

  9. Method and apparatus using an active ionic liquid for algae biofuel harvest and extraction

    Science.gov (United States)

    Salvo, Roberto Di; Reich, Alton; Dykes, Jr., H. Waite H.; Teixeira, Rodrigo

    2012-11-06

    The invention relates to use of an active ionic liquid to dissolve algae cell walls. The ionic liquid is used to, in an energy efficient manner, dissolve and/or lyse an algae cell walls, which releases algae constituents used in the creation of energy, fuel, and/or cosmetic components. The ionic liquids include ionic salts having multiple charge centers, low, very low, and ultra low melting point ionic liquids, and combinations of ionic liquids. An algae treatment system is described, which processes wet algae in a lysing reactor, separates out algae constituent products, and optionally recovers the ionic liquid in an energy efficient manner.

  10. Air Pollution

    Science.gov (United States)

    Air pollution is a mixture of solid particles and gases in the air. Car emissions, chemicals from factories, dust, ... a gas, is a major part of air pollution in cities. When ozone forms air pollution, it's ...

  11. THE FAMILY CALCIFOLIACEAE EMEND.,MISSISSIPPIAN-EARLY PENNSYLVANIAN ALGAE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    DANIEL VACHARD

    2006-03-01

    Full Text Available The family Fasciellaceae was created as a group of red algae. It was emended as a tribe Fascielleae of incertae sedis algae, and related to the tribe Calcifolieae Shuysky emend. Vachard & Cózar. The tribes Fascielleae and Calcifolieae both constitute the family Calcifoliaceae emend. This family is actually a homogeneous group, and could be more or less closely related with some questionable Moravamminales and Aoujgaliales: Claracrustaceae, Labyrinthoconaceae and Donezellaceae. All these microfossils were successively considered as green algae, red algae, "phylloid" algae, or fibres of calcispongia. The genera included in Fascielleae are: Fasciella, Praedonezella, and ?Kulikaella. The genera Calcifolium, Falsocalcifolium and Frustulata are included in the Calcifolieae. The phylogeny of the Calcifoliaceae is reconstructed. Thus, the family appears to be ancestrally linked, in the early Mississippian and even earlier in the Devonian, to Kulikaella, Stacheoidella, Pseudostacheoides, Pokorninella and Precorninella. The Calcifoliaceae are important for the zonation of the Late Mississippian-earliest Pennsylvanian (early Bashkirian interval (Asbian to Siuransky in the carbonate platform facies from western Palaeotethys and Ural Oceans.

  12. Method to transform algae, materials therefor, and products produced thereby

    Science.gov (United States)

    Dunahay, Terri Goodman; Roessler, Paul G.; Jarvis, Eric E.

    1997-01-01

    Disclosed is a method to transform chlorophyll C-containing algae which includes introducing a recombinant molecule comprising a nucleic acid molecule encoding a dominant selectable marker operatively linked to an algal regulatory control sequence into a chlorophyll C-containing alga in such a manner that the marker is produced by the alga. In a preferred embodiment the algal regulatory control sequence is derived from a diatom and preferably Cyclotella cryptica. Also disclosed is a chimeric molecule having one or more regulatory control sequences derived from one or more chlorophyll C-containing algae operatively linked to a nucleic acid molecule encoding a selectable marker, an RNA molecule and/or a protein, wherein the nucleic acid molecule does not normally occur with one or more of the regulatory control sequences. Further specifically disclosed are molecules pACCNPT10, pACCNPT4.8 and pACCNPT5.1. The methods and materials of the present invention provide the ability to accomplish stable genetic transformation of chlorophyll C-containing algae.

  13. Boron uptake, localization, and speciation in marine brown algae.

    Science.gov (United States)

    Miller, Eric P; Wu, Youxian; Carrano, Carl J

    2016-02-01

    In contrast to the generally boron-poor terrestrial environment, the concentration of boron in the marine environment is relatively high (0.4 mM) and while there has been extensive interest in its use as a surrogate of pH in paleoclimate studies in the context of climate change-related questions, the relatively depth independent, and the generally non-nutrient-like concentration profile of this element have led to boron being neglected as a potentially biologically relevant element in the ocean. Among the marine plant-like organisms the brown algae (Phaeophyta) are one of only five lineages of photosynthetic eukaryotes to have evolved complex multicellularity. Many of unusual and often unique features of brown algae are attributable to this singular evolutionary history. These adaptations are a reflection of the marine coastal environment which brown algae dominate in terms of biomass. Consequently, brown algae are of fundamental importance to oceanic ecology, geochemistry, and coastal industry. Our results indicate that boron is taken up by a facilitated diffusion mechanism against a considerable concentration gradient. Furthermore, in both Ectocarpus and Macrocystis some boron is most likely bound to cell wall constituent alginate and the photoassimilate mannitol located in sieve cells. Herein, we describe boron uptake, speciation, localization and possible biological function in two species of brown algae, Macrocystis pyrifera and Ectocarpus siliculosus.

  14. Ocean acidification weakens the structural integrity of coralline algae.

    Science.gov (United States)

    Ragazzola, Federica; Foster, Laura C; Form, Armin; Anderson, Philip S L; Hansteen, Thor H; Fietzke, Jan

    2012-09-01

    The uptake of anthropogenic emission of carbon dioxide is resulting in a lowering of the carbonate saturation state and a drop in ocean pH. Understanding how marine calcifying organisms such as coralline algae may acclimatize to ocean acidification is important to understand their survival over the coming century. We present the first long-term perturbation experiment on the cold-water coralline algae, which are important marine calcifiers in the benthic ecosystems particularly at the higher latitudes. Lithothamnion glaciale, after three months incubation, continued to calcify even in undersaturated conditions with a significant trend towards lower growth rates with increasing pCO2 . However, the major changes in the ultra-structure occur by 589 μatm (i.e. in saturated waters). Finite element models of the algae grown at these heightened levels show an increase in the total strain energy of nearly an order of magnitude and an uneven distribution of the stress inside the skeleton when subjected to similar loads as algae grown at ambient levels. This weakening of the structure is likely to reduce the ability of the alga to resist boring by predators and wave energy with severe consequences to the benthic community structure in the immediate future (50 years).

  15. Perubahan suhu transisi kaca dan massa resin akrilik heat cured akibat kelembaban dan lama penyimpanan (Changes in glass transition temperature and heat cured acrylic resin mass due to moisture and storage time

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sherman Salim

    2014-09-01

    Full Text Available Background: Acrylic resins, especially poly methyl methacrylate (PMMA was introduced in 1937. Acrylic resin has favorable properties, among others, aesthetic, color and texture similar to that of the gingival aesthetic in the mouth, relatively low water absorption and dimensional changes. However, some studies suggest that the duration of storage of acrylic resin will affect the changes in the glass transition temperature and the mass of acrylic resin. Purpose: The objective of this research was to study the effect of humidity and storage time led to changes in the glass transition temperature and the mass of the acrylic resin. Methods: The research method is experimental laboratory. Acrylic resin specimens are kept in conditions of humidity of 90%, 70%, 40% and 30% for 24 hours, one week, one month and two months. In this study used three methods of curing, namely conventional JIs, 24-hour curing at 70 °C and using the microwave. Results: Low humidity causes changes in the glass transition temperature and the mass of acrylic resin. Longer storage of acrylic resins in low humidity, can affect change greater than the glass transition temperature and the mass of acrylic resin. Conclusion: It can be concluded that the humidity and longer storage of acrylic resins can affect the glass transition temperature and a change in mass.Latar belakang: Resin akrilik terutama poli metil metakrilat (PMMA telah diperkenalkan pada tahun 1937. Resin akrilik memiliki sifat yang menguntungkan antara lain estetis, warna dan tekstur mirip dengan gingiva sehingga estetik di dalam mulut baik, daya serap air relatif rendah dan perubahan dimensi kecil. Akan tetapi, dari beberapa penelitian menyatakan bahwa lamanya waktu penyimpanan resin akrilik akan berpengaruh pada perubahan suhu transisi kaca dan massa resin akrilik. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh kelembaban dan waktu penyimpanan yang menyebabkan perubahan suhu transisi kaca dan

  16. Pengaruh Konsentrasi Asam Askorbat dan Waktu Perendaman terhadap Kadar Air dan Bilangan Peroksida pada Minyak Kopra

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Erma Suryani

    2016-04-01

    Full Text Available (Effect of Ascorbic Acid Concentration and Soaking Time on Water Content And Peroxide Numbers of Copra Oil  ABSTRACT. Copra oil is a product produced from the dried coconut through several stages of drying until the moisture content reaches 5-6%. Copra oil susceptible to oxidation due to containing high fat content. This causes the oil susceptible to rancidity, discoloration and odor. One of the efforts to prevent the oxidation of foods high in fat can be done with the giving ascorbic acid as an antioxidant. The purpose of this study was to determine the ascorbic acid concentration and coconut meat soaking time in the solution as well as to determine the effect of ascorbic acid on the water content and peroxide numbers of copra oil. This study used a Complete Randomized Design (CRD with 2 factorial and three levels: (1 ascorbic acid concentration (0.5%, 1% and 1.55% and (2 soaking time (10 minutes, 20 minutes and 30 minutes. The results showed that ascorbic acid concentration has significant effect (P≤0,01 on peroxide number. While soaking time has significant effect on the water content and peroxide.

  17. PENGARUH FREKUENSI IRIGASI DAN WAKTU PEMBERIAN AIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KENCUR (Kaempferia galangal L.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Eko Sulistyono

    2011-09-01

    Full Text Available The research was conducted to result F factor value (fraction of available water that could be absorbed by Kaempferia galangal L.. This value was needed for determining irrigation frequency.  Factorial experiment was arranged in Randomized Block Design with three replications.  The first factor was irrigation frequency included irrigation until field capacity every 2, 4, 6, 8 days respectively, irrigation every 2 days until 75%, 50%, and 25% of available water respectively.  The second factor was irrigation time included from planting, 2 weeks before harvesting, and 4 weeks before harvesting until harvesting respectively. Interaction between irrigation frequency and irrigation time effected plant height, leaf area index, evapotranspiration, but did not affect yield.  Treatment that resulted the highest plant, the biggest leaf area index and the least evapotranspiration was irrigation until field capacity every 6 days from 4 weeks before harvesting until harvesting. The research resulted F factor value (fraction of available water that could be absorbed by Kaempferia galangal L. as much as 48%.

  18. PEMERIKSAAN KADAR AIR, WAKTU HANCUR, DAN MIKROBIOLOGI JAMU MADURA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lestari Handayani

    2012-10-01

    Full Text Available The research on Madura traditional medicine (Jamu Madura especially woman reproductive remedies was carried out to find out the quality of the 'jamu". Fourteen "jamu" were collected from fourteen industries located in Bangkalan, Sampang, Pamekasan and Sumenep regencies. Eight powder preparations were examined concerning with organoleptic, water content and microbiological contamination Six pill preparations (dry and wet were examined for organoleptic, soluble time and microbiologic test.The result showed that all samples fulfilled the water content, soluble time and microbiological test with the exception of three pills. Two out of three pill remedies were contaminated by patological bacteries. A remedy was found that the total plate count bacterial number was bigger than standard. Those conditions might be caused by incorrect procedure or unhygienic production, inadequate packaging or storing. This study recommended the Ministry of Health to supervise and control the traditional medicine industri more frequent than before. To improve the knowledge and skill of traditional medicine industry personnel, training on production process and quality control should be conducted. These efforts might improve the quality of traditional medicine industry products in order to protect the consumers from side effect of the remedies.   Keywords: Traditional medicine - Jamu Madura -quality

  19. POTENSI MAGGOT UNTUK PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN STATUS KESEHATAN IKAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Melta Rini Fahmi

    2016-11-01

    Full Text Available Penggunaan maggot sebagai pakan alternatif ikan telah dikaji di Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT, Depok. Maggot merupakan larva serangga black soldier (Hermetia illusence yang dapat mengkonversi material organik menjadi biomassanya. Salah satu keunggulan maggot adalah dapat diproduksi dalam berbagai ukuran, sesuai dengan kebutuhan. Penyimpanan maggot pada suhu rendah dapat menghambat pertumbuhan dan mempertahankan kehidupannya. Produksi maggot pada ukuran kecil dimulai dari penyediaan telur, penetasan, dan pembesaran dalam media PKM (Palm Kernel Meal atau bungkil kelapa sawit, pemanenan dan penyimpanan dalam suhu rendah. Nilai nutrisi maggot pada umur 6-7 hari adalah protein: 60,2%; lemak: 13,3%; abu: 7,7%; karbohidrat: 18,8%. Percobaan pemanfaatan maggot sebagai suplemen pakan diujikan terhadap ikan Balashark (Balantiocheilus melanopterus Bleeker ukuran 2,0 ± 0,2 g. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa pemberian maggot memberikan pertumbuhan dan sintasan yang lebih baik. Dampak penambahan maggot pada ikan terlihat signifikan terhadap gambaran darah ikan yang menunjukkan daya tahan tubuh ikan yang lebih baik. Maggot utilization as fish feed alternative has been studied at Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT, Depok. Maggot is an insect larvae of black soldier (Hermetia illusence that can convert organic material to its body biomass. One of the advantages in maggot culture is that it can be produced in different sizes according to fish requirement. Keeping maggot at low temperature can delay its growth while keeping it alive. Production of small size maggot starts from eggs preparation, hatching, and rearing in media of PKM (Palm Kernel Meal or coconut oil cake of palm, cropping and then keeping it in low temperature. Nutritional value of maggot at the age of 6-7 days is as follows: protein, 60.2%, fat; 13.3%, ash; 7.7%, carbohydrate; 18.8%. Trial feeding using maggot as feed supplement was done on Balashark

  20. TUGAS DAN WEWENANG PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN (PPATK DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Johari Johari

    2014-03-01

    Full Text Available Tugas dan wewenang Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK terdapat di dalam Pasal 26 dan Pasal 27 Undang-Undang No. 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pencucian Uang. Berdasarkan ketentuan tersebut, tugas dan wewenang PPATK tersebut bertujuan untuk mendeteksi terjadinya tindak pidana pencucian uang, dan membantu penegakan hukum yang berkaitan dengan pencucian uang, termasuk tindak pidana asal yang melahirkannya (predicate offences. Namun, Peranan PPATK akan berjalan secara efektif apabila aparat penegak hukum seperti Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, Bea dan Cukai, para regulator seperti Bank Indonesia, Departemen Keuangan, Badan Pengawas Pasar Modal serta Penyedia Jasa Keuangan, industri perbankan, asuransi, perusahaan pembiayaan, dana pensiun, perusahaan efek, pengelola reksadana, media massa, masyarakat bekerjasama secara terorganisir dan terpadu dalam pemberantasan tindak pencucian uang di Indonesia. Dengan kewenangan yang dimilikinya, PPATK dapat mengejar hasil dari kejahatan, apabila hasil kejahatan tersebut dapat dikejar dan disita maka negara dengan sendirinya akan mengurangi tindak kejahatan itu sendiri. Kata kunci : Pencucian uang, tindak pidana pencucian uang (money laundering, kejahatan terorganisir, dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK.

  1. Pengujian Parameter Biji Sorghum dan Pengaruh Analisa Total Asam Laktat dan pH pada Tepung Sorghum Terfermentasi Menggunakan Baker’s Yeast (Saccharomyces Cereviceae

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Amelinda Angelina

    2013-09-01

    Full Text Available Sorghum, Sorghum bicolor (L Moench, adalah sereal paling penting kelima setelah beras, jagung, barley dan gandum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan substitusi biji sorghum terhadap tepung terigu bisa mencapai 50-75%, walaupun nilai protein pembentuk glutennya tidak dapat menyamai tepung terigu. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh waktu fermentasi terhadap penurunan total asam laktat, nilai pH, dan jumlah total khamir (baker’s yeast tanpa menggunakan nutrient kimia tambahan . Analisa komposisi biji sorghum yang diinvestigasi dalam keadaan wet basis dari laboratorium menghasilkan kadar air, lemak, serat, protein, karbohidrat, dan abu masing-masing sebesar 12.85%, 3.10%, 0.56%, 5.87%, 75.82%, dan 1.79%. Untuk nilai energi total dengan metode bomb kalori didapatkan 4375.94 kcal/kg. Pengujian biji sorghum menghasilkan C-organik sebesar 12,47%. Berdasarkan analisa didapatkan hasil optimal dalam membuat tepung sorghum terfermentasi pada proses fermentasi 60 jam dengan jumlah yeast yang dihasilkan 1,7 x 105 sel/ml dengan kondisi yield % asam laktat 0,214%.

  2. Hubungan Sanitasi Lingkungan Rumah dengan Kejadian Askariasis dan Trikuriasis pada Siswa SD N 29 Purus Padang

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hildya Kusmi

    2015-09-01

    Full Text Available Abstrak Prevalensi infeksi kecacingan masih tinggi terutama pada anak usia sekolah dasar. Cacing yang sering menginfeksi yaitu Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura. Infeksi ini erat kaitannya dengan masalah lingkungan, perilaku manusia dan manipulasi terhadap lingkungan. Tujuan penelitian adalah menentukan hubungan sanitasi lingkungan rumah yaitu kepemilikan jamban keluarga yang sehat, ketersediaan sumber air bersih, sarana pembuangan sampah dan jenis lantai rumah dengan kejadian askariasis dan trikuriasis. Ini adalah penelitian analitikdengan desain cross-sectional study. Jumlah populasi sebanyak 71 orang dengan jumlah subjek sebanyak 55 orang.Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan tinja dan kuesioner. Metode analisis data menggunakan uji chisquare.Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase infeksi kecacinganpada siswa SD Negeri 29 Purus Padang adalah 38%, terdiri dari; infeksi Ascaris lumbricoides (33%, Trichuris trichiura (9,1% dan infeksi kedua spesies (3,6%. Hasil uji chi-square menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara kepemilikan jamban keluarga, ketersediaan sumber air bersih, kepemilikan sarana pembuangan sampah dan jenis lantai rumah dengan angka kejadian askariasis dan trikuriasis (p > 0,05. Masih tingginya infeksi kecacingan pada siswa sekolah dasar perluperhatian yang lebih baik misalnya diadakannya program pemberantasan kecacingan baik oleh sekolah maupun petugas kesehatan setempat.Kata kunci: infeksi kecacingan, sanitasi lingkungan, askariasis, trikuriasis Abstract Prevalence of worms infestation is still high, especially found among children at the elementary school age. Type of worms that often infect are Ascaris lumbricoides and Trichuris trichiura. The infection is  related to envi ronment issues, human behavior and manipulation of the environment.  The objective of this study was to determine the relationship between environmental sanitation of home, consist of latrine ownership, availability of

  3. Are anti-fouling effects in coralline algae species specific?

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Alexandre Bigio Villas Bôas

    2004-03-01

    Full Text Available The crustose coralline algae are susceptible to be covered by other algae, which in turn can be affected by anti-fouling effects. In this study the hypothesis tested was that these algae can inhibit the growth of epiphytes in a species specific way. In the laboratory, propagules of Sargassum furcatum and Ulva fasciata were liberated and cultivated on pieces of coralline algae and slide covers (controls and their survival and growth were compared. Spongites and Hydrolithon significantly inhibited the growth of U. fasciata but not Sargassum. In the field, pieces of three species of live and dead coralline algae and their copies in epoxy putty discs were fixed on the rock. After one month epiphytic algae were identified and their dry mass quantified. Lithophyllum did not affect the epiphyte growth. In contrast Spongites and an unidentified coralline significantly inhibited the growth of Enteromorpha spp., Ulva fasciata and Hincksia mitchelliae. Colpomenia sinuosa was absent on all living crusts, but present on controls. Results show that the epiphyte-host relation depends on the species that are interacting. The sloughing of superficial cells of coralline crusts points to the possible action of physical anti-fouling effect, though a chemical one is not rejected.As algas calcárias crostosas são susceptíveis ao recobrimento por outras algas, entretanto, estas podem ser afetadas por efeitos anti-incrustantes. Neste estudo foi testada a hipótese de que estas algas possam inibir o crescimento somente de algumas espécies de epífitas. No laboratório, propágulos de Sargassum furcatum e Ulva fasciata foram liberados e cultivados sobre pedaços de algas calcárias e lamínulas de microscopia (controle e as suas sobrevivência e crescimento comparadas. Spongites e Hydrolithon inibiram significativamente o crescimento de U. fasciata, mas não de Sargassum. No campo, pedaços de três espécies de algas calcárias vivas, mortas e cópias destas em

  4. An updated comprehensive techno-economic analysis of algae biodiesel.

    Science.gov (United States)

    Nagarajan, Sanjay; Chou, Siaw Kiang; Cao, Shenyan; Wu, Chen; Zhou, Zhi

    2013-10-01

    Algae biodiesel is a promising but expensive alternative fuel to petro-diesel. To overcome cost barriers, detailed cost analyses are needed. A decade-old cost analysis by the U.S. National Renewable Energy Laboratory indicated that the costs of algae biodiesel were in the range of $0.53-0.85/L (2012 USD values). However, the cost of land and transesterification were just roughly estimated. In this study, an updated comprehensive techno-economic analysis was conducted with optimized processes and improved cost estimations. Latest process improvement, quotes from vendors, government databases, and other relevant data sources were used to calculate the updated algal biodiesel costs, and the final costs of biodiesel are in the range of $0.42-0.97/L. Additional improvements on cost-effective biodiesel production around the globe to cultivate algae was also recommended. Overall, the calculated costs seem promising, suggesting that a single step biodiesel production process is close to commercial reality.

  5. Cycloartane triterpenes from marine green alga Cladophora fascicularis

    Institute of Scientific and Technical Information of China (English)

    HUANG Xinping; ZHU Xiaobin; DENG Liping; DENG Zhiwei; LIN Wenhan

    2006-01-01

    Six cycloartanes were isolated from ethanol extract of marine green alga Cladophora fascicularis by column chromatography. Procedure of isolation and description of these compounds are given in this paper. The structures were elucidated as (1). 24-hydroperoxycycloart-25- en-3β-ol; (2).cycloart-25-en-3β 24-diol; (3). 25-hydroperoxycycloart-23-en-3β-ol; (4). cycloart-23-en-3β, 25-diol; (5).cycloart-23, 25-dien-3β-ol; and (6). cycloart-24-en-3β-ol by spectroscopic (MS, 1D and 2D NMR) data analysis. Cycloartane derivatives are widely distributed in terrestrial plants, but only few were obtained in the alga. All these compounds that have been isolated from terrestrial plants, were found in the marine alga for the first time.

  6. Benefits of using algae as natural sources of functional ingredients.

    Science.gov (United States)

    Ibañez, Elena; Cifuentes, Alejandro

    2013-03-15

    Algae have been suggested as a potential source of bioactive compounds to be used in the food and pharmaceutical industries. With the strong development of functional foods as a method to improve or maintain health, the exploration of new compounds with real health effects is now an intense field of research. The potential use of algae as source of functional food ingredients, such as lipids, proteins, polysaccharides, phenolics, carotenoids, etc., is presented, together with the different possibilities of improving valuable metabolites production either using the tools and the knowledge provided by marine biotechnology or improving the different factors involved in the production on a large scale of such metabolites. The bio-refinery concept is also presented as a way to improve the efficient use of algae biomass while favouring process sustainability.

  7. [Nutritive value of the spirulina algae (Spirulina maxima)].

    Science.gov (United States)

    Tejada de Hernández, I; Shimada, A S

    1978-06-01

    Nine experiments were conducted, five of them in vivo to determine the limiting amino acids and digestibility of spiruline algae for the rat, and four in vitro to determine the digestibility of the product in pepsin and ruminal liquid. None of the amino acids studied (lysine, methionine, histidine) added alone or in combination to 10% protein (either crude or true) diets provided exclusively by spiruline, seems to be limiting although the results could be masked by the low palatability and acceptability of the product by the rats. The apparent digestibility of the algae was 67.4%. For the in vitro tests, the algae were subjected to several physical or chemical treatments, and the digestibility of the resulting product determined by four different techniques. In no case did the tested treatments have any effect on its digestibility.

  8. GROWTH-REGULATORY ACTIVITY OF THE ALGAE EXTRACT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    О. V. Кyrychenkо

    2013-10-01

    Full Text Available The growth-regulatory activity of the complex algae extract from Spirogira sp. at pre-so wing treatment of soybean seeds was studied in green-house and field experiments. It was shown that phytoextract has stimulated seeds germination on 12%, plants growth on 11–37%, soybean productivity increased on 6–27% as well as activated the development and functional ability of rhizospheric nitrogen-fixing microorganisms. The quantity of oligoazotrophes increased in 1,5–6,3 times, nitrogenase activity in 1,5–1,7 times. The possibility aspects of growth-regulatory activity of the algae extract in both plants and rhizospheric microorganisms is under discussion. Our results have confirmed the perspectives of practical use of the biological activity substances from the algae at soybean growing in order to increase plants productivity and improve microbiological indexes of soil.

  9. A look at diacylglycerol acyltransferases (DGATs) in algae.

    Science.gov (United States)

    Chen, Jit Ern; Smith, Alison G

    2012-11-30

    Triacylglycerols (TAGs) from algae are considered to be a potentially viable source of biodiesel and thereby renewable energy, but at the moment very little is known about the biosynthetic pathway in these organisms. Here we compare what is currently known in eukaryotic algal species, in particular the characteristics of algal diacylglycerol acyltransferase (DGAT), the last enzyme of de novo TAG biosynthesis. Several studies in plants and mammals have shown that there are two DGAT isoforms, DGAT1 and DGAT2, which catalyse the same reaction but have no clear sequence similarities. Instead, they have differences in functionality and spatial and temporal expression patterns. Bioinformatic searches of sequenced algal genomes reveal that most algae have multiple copies of putative DGAT2s, whereas other eukaryotes have single genes. Investigating whether these putative isoforms are indeed functional and whether they confer significantly different phenotypes to algal cells will be vital for future efforts to genetically modify algae for biofuel production.

  10. Extremophilic micro-algae and their potential contribution in biotechnology.

    Science.gov (United States)

    Varshney, Prachi; Mikulic, Paulina; Vonshak, Avigad; Beardall, John; Wangikar, Pramod P

    2015-05-01

    Micro-algae have potential as sustainable sources of energy and products and alternative mode of agriculture. However, their mass cultivation is challenging due to low survival under harsh outdoor conditions and competition from other, undesired, species. Extremophilic micro-algae have a role to play by virtue of their ability to grow under acidic or alkaline pH, high temperature, light, CO2 level and metal concentration. In this review, we provide several examples of potential biotechnological applications of extremophilic micro-algae and the ranges of tolerated extremes. We also discuss the adaptive mechanisms of tolerance to these extremes. Analysis of phylogenetic relationship of the reported extremophiles suggests certain groups of the Kingdom Protista to be more tolerant to extremophilic conditions than other taxa. While extremophilic microalgae are beginning to be explored, much needs to be done in terms of the physiology, molecular biology, metabolic engineering and outdoor cultivation trials before their true potential is realized.

  11. Designer proton-channel transgenic algae for photobiological hydrogen production

    Science.gov (United States)

    Lee, James Weifu

    2011-04-26

    A designer proton-channel transgenic alga for photobiological hydrogen production that is specifically designed for production of molecular hydrogen (H.sub.2) through photosynthetic water splitting. The designer transgenic alga includes proton-conductive channels that are expressed to produce such uncoupler proteins in an amount sufficient to increase the algal H.sub.2 productivity. In one embodiment the designer proton-channel transgene is a nucleic acid construct (300) including a PCR forward primer (302), an externally inducible promoter (304), a transit targeting sequence (306), a designer proton-channel encoding sequence (308), a transcription and translation terminator (310), and a PCR reverse primer (312). In various embodiments, the designer proton-channel transgenic algae are used with a gas-separation system (500) and a gas-products-separation and utilization system (600) for photobiological H.sub.2 production.

  12. Algae from the arid southwestern United States: an annotated bibliography

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Thomas, W.H.; Gaines, S.R.

    1983-06-01

    Desert algae are attractive biomass producers for capturing solar energy through photosynthesis of organic matter. They are probably capable of higher yields and efficiencies of light utilization than higher plants, and are already adapted to extremes of sunlight intensity, salinity and temperature such as are found in the desert. This report consists of an annotated bibliography of the literature on algae from the arid southwestern United States. It was prepared in anticipation of efforts to isolate desert algae and study their yields in the laboratory. These steps are necessary prior to setting up outdoor algal culture ponds. Desert areas are attractive for such applications because land, sunlight, and, to some extent, water resources are abundant there. References are sorted by state.

  13. Importance of algae as a potential source of biofuel.

    Science.gov (United States)

    Singh, A K; Singh, M P

    2014-12-24

    Algae have a great potential source of biofuels and also have unique importance to reduce gaseous emissions, greenhouse gases, climatic changes, global warming receding of glaciers, rising sea levels and loss of biodiversity. The microalgae, like Scenedesmus obliquus, Neochloris oleabundans, Nannochloropsis sp., Chlorella emersonii, and Dunaliella tertiolecta have high oil content. Among the known algae, Scenedesmus obliquus is one of the most potential sources for biodiesel as it has adequate fatty acid (linolenic acid) and other polyunsaturated fatty acids. Bio—ethanol is already in the market of United States of America and Europe as an additive in gasoline. Bio—hydrogen is the cleanest biofuel and extensive efforts are going on to bring it to market at economical price. This review highlights recent development and progress in the field of algae as a potential source of biofuel.

  14. Kandidiasis di Mulut akibat Khemoterapi dan Penatalaksanaannya

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Budiarti Wonso Hardjono

    2016-10-01

    Full Text Available Latar belakang: kandidiasis (kandidosis adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh spesies Candida biasanya Candida albicans. Faktor predisposisi yang memicu kandidiasis adalah terganggunya ekologi mulut karena antara lain pemakaian antibiotika, kortikosteroid, penyakit kronis dan keganasan, beberapa gangguan darah; terapi radiasi di leher dan kepala; khemoterapi; leukimia, obat sitotoksik, juga kebersihan mulut yang buruk. Tujuan: melaporkan kasus kandidiasis di mulut karena khemoterapi dan penatalaksanaannya. Kasus dan penatalaksanaannya: seorang anak laki-laki umur 3 tahun 11 bulan penderita Leukimia Limfoblastik Akut (LLA sedang dalam perawatan khemoterapi menderita kandidiasis di mulut sehingga mengalami disfoni dan disfagia. Makanan dimasukkan lewat hidung. Klinis pasien terlihat lemah infus lewat tangan. Dalam mulut terlihat patch putih tebal menutupi permukaan dorsal dan ventral lidah, palatum durum dan ventral lidah, palatum durum dan molle, mukosa pipi kanan kiri dan gingiva rahang atas dan bawah. Pasien disedasi untuk dilakukan pengerokan lapisan kandida di mulut; pemberian Nystatin solution dan ketokonazol dilanjutkan. Pengerokan psedomembran kandidiasis telah memberikan hasil yang memuaskan, satu minggu kemudian rongga mulut pasien sudah terlihat bersih, pasien sudah dapat makan minum melalui mulut, juga sudah dapat berbicara lagi/tidak serah. Kesimpulan: Pembersihan jamur dengan pengerokan telah dilakukan, kandidiasis pseudomembran dapat diangkat dan mulut pasien sudah bersih, pasien dapat makan dan berbicara lagi.   Background: Candidiasis (candidosis is an fungal infection caused by Candida species usually Candida albicans. Predisposing factors which trigger candidiasis are the ecological disruption caused by use of oral antibiotics, corticosteroids, malignancy and chronic disease; some blood disorders; head and neck radiation; chemotherapy; leukimia, cytotoxic drugs, as well as poor oral hygiene. Aim: To report a case of

  15. KONSTRUKSI DETERMINAN DALAM FRASA NOMINA BAHASA PRANCIS DAN BAHASA INDONESIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Roswita Lumban Tobing

    2012-06-01

    Full Text Available Artikel ini bertujuan untuk memaparkan konstruksi determinan pada frasa nomina bahasa Perancis dan bahasa Indonesia. Analisis yang digunakan adalah analisis kontrastif. Hasil analisis menunjukkan bahwa nomina bahasa Perancis memiliki jenis kelamin (maskulin/feminin dan jumlah (tunggal/jamak. Gender dan jumlah dalam bahasa Prancis memiliki aturan konkordansi yang dapat memengaruhi bentuk dan makna nomina. Dalam bahasa Indonesia, meskipun nomina memiliki konsep gender tunggal dan jamak, jenis dan jumlah dalam bahasa Indonesia tidak muncul secara eksplisit. Bentuk ini hanya ditandai dengan karakteristik semantik tertentu yang dapat menunjukkan jenis kelamin, bentuk tunggal, dan bentuk jamak.

  16. Characteristics of Red Algae Bioplastics/Latex Blends under Tension

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M. Nizar Machmud