WorldWideScience

Sample records for algae air dan

  1. Perubahan Populasi Protozoa dan Alga Dominan pada Air Genangan Tanah Padi Sawah yang Diberi Bokashi Berkelanjutan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ainin Niswati

    2008-09-01

    Full Text Available Protozoa and alga play important roles in biogeochemical nutrient cycles in freshwater environment, especially in the paddy fields. The changes from the conventional technologies to organic technologies will change the communities structures of organisms lived in the paddy fields environment. The fields experiment was conducted to study the population dynamic of protozoa and algae dominant inhabited in the floodwater of the paddy fields subjected by continues ‘bokashi’ application. The results showed that protozoa and algae inhabited in the paddy fields in present study were dominated by Euglena, Pleodorina, Volvox, and Diatom. The continued application of bokashi for 4 years significantly increased the total population of protozoa and algae, however, the significantly effect was obtained in the population of Volvox only. The population of protozoa and algae were affected by the time of flooding of paddy fields where it increases exponentially at the 20 and 30 days after flooding and stable after that, ecxept for Euglena where it increases sligthly by flooding time.

  2. PRODUKSI NANOFIBER DAN APLIKASINYA DALAM PENGOLAHAN AIR

    OpenAIRE

    Krisnandika, Vania Elita

    2017-01-01

    Abstrak Kebutuhan air meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk dan taraf kehidupan masyarakat. Pembangunan yang dilakukan secara terus-menerus dan sangat cepat di Indonesia mengakibatkan penurunan kualitas air permukaan. Teknologi membran merupakan salah satu teknologi pengolahan air yang menghasilkan produk dengan kualitas tinggi. Membran berstruktur nano, khususnya nanofiber, saat ini menjadi perhatian karena menjawab kebutuhan teknologi filtrasi yang efektif dan hemat biaya. Pr...

  3. Dissolved Air Flotation Process for Algae Removal | Mulaku ...

    African Journals Online (AJOL)

    This study investigated the performance of the Dissolved Air Flotation (DAF) process as an alternative to sedimentation for algae removal in surface water treatment in Kenya. Batch DAF experiments were carried out in the laboratory using algae laden surface water samples collected from the river and laboratory cultured ...

  4. Pengaruh Konsentrasi Nutrien dan Konsentrasi Bakteri Pada Produksi Alga Dalam Sistem Bioreaktor Proses Batch

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Minarti Oktafiani

    2013-09-01

    Full Text Available Bertambahnya populasi penduduk sebanding dengan meningkatnya kebutuhan manusia, sehingga berdampak negatif terhadap peningkatan kebutuhan akan energi khususnya energi yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak bumi. Oleh sebab itu diperlukan energi alternatif sebagai pengganti bahan baku minyak bumi. Salah satu energi alternatif yang digunakan sebagai pengganti bahan baku minyak bumi adalah biodiesel. Tujuan dari penelitian tugas akhir ini adalah untuk mengkaji pengaruh konsentrasi nutrien dan konsentrasi bakteri pada produksi alga dalam sistem bioreaktor proses batch. Pada penelitian tugas akhir ini menggunakan dua variabel yaitu variabel pertama dengan penambahan nutrien (N dan P dengan menggunakan pupuk NPK sebanyak tiga variasi konsentrasi yaitu 7,5 mg/L, 15 mg/L, 30 mg/L dan variabel kedua penambahan bakteri dengan menggunakan biakan bakteri dari saluran drainase sebanyak tiga variasi konsentrasi yaitu 50 mL, 100 mL, 150 mL. Dalam penelitian ini juga menambahkan mixing pompa sebagai pengadukan selama 24 jam dan waktu pencahayaan dengan bantuan cahaya lampu flourescent selama 12 jam. Penelitian ini dilakukan didalam ruangan. Waktu dalam penelitian tugas akhir ini dilakukan selama 14 hari dengan dua kali running dan waktu kontak 10 hari. Parameter yang akan diteliti dalam penelitian ini terbagi menjadi dua bagian yaitu parameter utama dan parameter tambahan. Parameter tersebut adalah konsentrasi MLSS/MLVSS, N-amonia, N-nitrat, Fosfat, Klorofil a sebagai parameter utama sedangkan untuk pH, suhu dan DO sebagai parameter tambahan.Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh hasil kondisi optimum penambahan konsentrasi nutrien dan konsentrasi bakteri yang dilakukan didalam ruangan yaitu penambahan nutrien sebesar 7,5 mg/L dan bakteri sebesar 150 mL,karena memiliki nilai klorofil a yang seimbang dibandingkan reaktor yang lainnya. Oleh sebab itu, penambahan nutrien dan bakteri yang tepat dapat memproduksi alga dengan jumlah yang optimal di

  5. Algae

    Czech Academy of Sciences Publication Activity Database

    Raven, John A.; Giordano, Mario

    2014-01-01

    Roč. 24, č. 13 (2014), s. 590-595 ISSN 0960-9822 Institutional support: RVO:61388971 Keywords : algae * life cycle * evolution Subject RIV: EE - Microbiology, Virology Impact factor: 9.571, year: 2014

  6. Pengaruh Aerasi dan Sumber Nutrien terhadap Kemampuan Alga Filum Chlorophyta dalam Menyerap Karbon (Carbon Sink untuk Mengurangi Emisi CO2 di Kawasan Perkotaan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lancur Setoaji

    2013-09-01

    Full Text Available Penelitian terkait mitigasi pemanasan global, khususnya dalam penyerapan karbon dioksida (CO2, menjadi fokus utama di kalangan ilmuwan dunia. Secara alamiah, karbon dioksida dapat diserap oleh tumbuhan hijau, laut, karbonasi batuan kapur, dan alga. Pigmen hijau dalam alga atau klorofil dapat menyerap karbon dioksida dalam proses fotosintesis. Alga memiliki pertumbuhan yang sangat cepat sehingga cocok digunakan sebagai carbon sink. Penelitian terkait carbon sink ini bertujuan untuk menentukan kemampuan rata-rata serapan CO2 oleh alga di kawasan perkotaan dan menentukan pengaruh aerasi dan variasi sumber N terhadap pertumbuhan dan perkembangan alga. Penelitian ini dilakukan dalam skala laboratorium menggunakan reaktor dengan proses batch. Sampel alga yang digunakan didapatkan dari hasil pengembangbiakan yang bersumber dari perairan di kawasan perkotaan. Penelitian ini menggunakan dua variabel uji, yaitu aerasi dan sumber nutrien. Jumlah karbon dioksida yang diserap didapatkan dari perbandingan stoikiometri pada reaksi fotosintesis.  Berdasarkan perbandingan stoikiometri tersebut diketahui bahwa 1 gram sel alga yang terbentuk sebanding dengan 1,92 gram CO2 yang diserap. Dari hasil penelitian, alga dengan penambahan pupuk urea dapat menyerap 4,87 mg CO2/hari dalam kondisi tanpa aerasi atau 3,84 mg CO2/hari dengan aerasi. Sedangkan alga dengan penambahan pupuk NPK dapat menyerap 3,61 mg CO2/hari dalam kondisi tanpa aerasi atau 3,01 mg CO2/hari dengan aerasi.

  7. KELIMPAHAN FITOPLANKTON PENYEBAB HAB (HARMFUL ALGAE BLOOM DI PERAIRAN TELUK LAMPUNG PADA MUSIM BARAT DAN MUSIM TIMUR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Giri Rohmad Barokah

    2017-05-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian tentang analisis kelimpahan fitoplankton penyebab HAB (Harmful Algal Bloom di Perairan Teluk Lampung pada musim barat dan musim timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi alga yang berpotensi menyebabkan HAB yang berada di Teluk Lampung dan melihat pola hubungan kelimpahan fitoplankton yang bepotensi menyebabkan HAB dengan nutrien yang terkandung di perairan Teluk Lampung, Kab. Pesawaran, Provinsi Lampung. Pengambilan sampel dilakukan pada musim timur (April dan musim barat (Oktober pada tahun 2015. Dari penelitian ini ditemukan bahwa pada musim timur fitoplankton yang teridentifikasi dan berpotensi menyebabkan HAB adalah Amphora sp., Nitzchia sp., Ceratium sp., Dynophisis sp., Gymnodinium sp., dan Nocticulla scintillans. Pada musim barat fitoplankon yang teridentifikasi dan berpotensi menyebabkan HAB adalah Amphora sp., Nitzchia sp., Pseudonitzchia sp., Alexadrium sp., Ceratium sp ., Cochlodium polykiroides, Dhynophisis sp ., Gambirdiscus toxicus, Gymnodinium sp., Nocticula scintillans, Procentrum sp., Pyrodinium bahamase dan Peridinium sp. Pada musim timur kelimpahan fitoplankton penyebab HAB yang terdapat di perairan Teluk Lampung didominasi oleh spesies Ceratium sp. dengan rata-rata 1,802 ind/L sedangkan pada musim barat kelimpahan fitoplankton di Teluk Lampung didominasi oleh Nitczchia sp ., dengan rata-rata kelimpahan 161,207ind/L.

  8. PEMBUATAN BIOETANOL DARI ALGA Codium geppiorum DAN PEMANFAATAN BATU KAPUR NUSA PENIDA TERAKTIVASI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS BIOETANOL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Wayan Karta

    2015-05-01

    Full Text Available ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi penambahan ragi tape dan waktu fermentasi terhadap kadar etanol dalam pembuatan bioetanol berbahan alga Codium geppiorum, dan pengaruh variasi suhu aktivasi dan massa batu kapur Nusa Penida dalam meningkatkan kadar etanol. Penelitian adalah True Experiment dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL pola faktorial 3 x 4 yang terdiri dari dua faktor. Kadar etanol diukur dengan Gas Chromatography Varian 3300 dan dianalisis dengan Anava dua jalur menggunakan software SPSS 17.0. Hasil penelitian pada kadar etanol hasil fermentasi menunjukkan nilai Fhitung > Ftabel (38,212 > 2,51 dengan probabilitas 0,000 yang berarti adanya interaksi antara variasi konsentrasi ragi dan waktu fermentasi. Perlakuan yang optimum diperoleh pada W3D3 (waktu 7 hari dan konsentrasi 20% yaitu dengan rata-rata 3,03% dari massa sampel alga 25 gram. Hasil penelitian dehidrasi etanol menunjukkan nilai Fhitung > Ftabel (3,082 > 2,51 dengan probabilitas 0,022 yang berarti terdapat interaksi antara suhu aktivasi dan massa batu kapur dalam dehidrasi etanol. Perlakuan yang optimum adalah M1T1 (massa 50 gram dan suhu 800oC dengan rata-rata kadar etanol 99,15 %. Aplikasi batu kapur dengan dehidrasi optimum mampu meningkatkan kadar bioetanol dari 28,92% menjadi 83,78%. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa variasi konsentrasi ragi tape dan waktu fermentasi berpengaruh signifikan terhadap kadar etanol yang dihasilkan pada pembuatan bioetanol berbahan alga Codium geppiorum; dan variasi suhu aktivasi dan massa batu kapur berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kadar etanol.  ABSTRACT: The aims of this research are to determine the effect of the concentration of yeast addition and length of fermentation on the amount of ethanol produced in the fermentation of algae Codium geppiorum and the effect of activation temperature and the amount of Nusa Penida’s limestone on the concentration of ethanol in the

  9. PEMISAHAN ION KROM(III DAN KROM(IV DALAM LARUTAN DENGAN MENGGUNAKAN BIOMASSA ALGA HIJAU SPIROGYRA SUBSALSA SEBAGAI BIOSORBEN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M Mawardi

    2014-05-01

    Full Text Available Karakteristik pemisahan ion Cr3+ dan Cr6+ dalam larutan melalui proses biosorpsi menggunakan biomassa alga hijau Spirogyra subsalsa dengan sistem batch telah diteliti. Dalam pelaksanaannya diawali dengan melakukan analisis kualitatif gugus fungsi dalam biomassa menggunakan instrumen FTIR, kemudian dipelajari karakteristik pengaruh variabel pH awal larutan, ukuran partikel biosorben, kecepatan pengadukan, pengaruh pemanasan biosorben, laju penyerapan, pengaruh konsentrasi larutan ion logam terhadap kapasitas serapan biomassa alga. Berdasarkan spektra spektroskopi FTIR dapat disimpulkan bahwa  biomassa alga hijau S. Subsalsa mengandung gugus-gugus karboksilat, amina, amida, amino, karbonil dan hidroksil, disamping adanya senyawa silikon, belerang dan fosfor. Hasil penelitian yang diperoleh  memperlihatkan bahwa kapasitas biosorpsi sangat dipengaruhi oleh pH larutan, waktu kontak dan konsentrasi awal larutan. Biosorpsi optimum kation Cr3+ terjadi pada pH 4,0 sedangkan ion Cr6+ terjadi pada pH 2,0 kemudian berkurang dejalan dengan naiknya pH larutan. Perhitungan dengan persamaan Isoterm Langmuir diperoleh data kapasitas serapan maksimum biomassa alga S. subsalsa untuk masing-masing ion Cr3+ dan Cr6+ adalah 1,82 mg (0,035 mmol dan 1,51 mg (0,029 mmol per gram biomassa kering. Kinetika biosorpsi berlangsung relatif cepat, dimana selama selang waktu 30 menit, masing-masing ion terserap sekitar 95,7%; dan 86,5%. Daya serap biomassa juga dipengaruhi kecepatan pengadukan, sedangkan faktor ukuran partikel dan pemanasan biosorben kurang mempengaruhi daya serap biomassa. Key Word : biosorpsi, spirogyra subsalsa, krom(III, krom(VI, sistem batchAbstract Separation of Ion Chromium(III and Chromium(IV In Solution Using Green Algae Biomass Spirogyra subsalsa as Biosorbent. The characteristics of Cr3+andCr6+ ion separation in solution through biosorption process using green algal biomass Spirogyrasubsalsa with batch systems have been investigated. The study

  10. Beberapa Marga Alga Benang dan Hubungannya dengan Keberadaan Vektor Malaria di Bali Utara

    OpenAIRE

    Seregeg, I. G

    1988-01-01

    A study of filamentous algae and its relation to malaria vector control was conducted during the dry season in several lagoons at the north coast of Bali. Floating masses of these algae under the sunshine barricated the spread of solar-triton larvicide, reducing tremendously the effectiveness of the larvicide. Identification of the genera of these algae under the subphyllum of CYANOPHYTA (Blue Algae) in the family of Cyanophyceae were Oscillatoria, Spirulina, Phormidium, Rivularia, Nostoc, an...

  11. Analisis Kadar Khlorida Pada Air Dan Air Limbah Dengan Metode Argentometri

    OpenAIRE

    Titis Utami Agung

    2009-01-01

    Limbah cair adalah air yang tak terpakai lagi dan merupakan hasil dari suatu produksi atau kegiatan manusia. Limbah cair yang di buang ke dalam tanah,sungai,danau,laut yang jika berlebihan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Salah satu zat kimia yang terkandung di dalam air dan air limbah adalah khlorida. Khlorida merupakan suatu senyawa kimia yang bersifat toksik terhadap lingkungan. Untuk itu perlu dilakukannya analisa klorida dengan menggunakan beberapa metode. Dengan pemilihan metode ...

  12. PERENCANAAN DAN ANALISA SISTEM SPRINKLER OTOMATIS DAN KEBUTUHAN AIR PEMADAMAN FIRE FIGHTING HOTEL XX

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rahesa Dwi Putri

    2017-02-01

    Full Text Available Dalam pembangunan sebuah gedung terdapat suatu utilitas keamanan salah satunya adalah sistem instalasi sprinkler yang dirancang sesuai dengan standar proteksi kebakaran yang disiapkan untuk mencegah, memadamkan dan menanggulangi kebakaran dalam bangunan gedung. Pada perencanaan sistem sprinkler ini bertujuan untuk memahami dan melakukan perhitungan pada kecepatan aliran dan tekanan serta merencanakan kebutuhan air pada pemadaman fire fighting gedung hotel. Penulis melakukan penganalisaan dan perhitungan dengan menentukan discharge coefficient of the sprinkler k-factor pada kecepatan aliran fluida, selanjutnya menggunakan presure loss dari Hazen-Williams dan dilakukan kebutuhan air dengan mengacu pada Azas Bernoulli, yang penulis sebut dengan metode Step by Step. Dari hasil perhitungan ini didapat bahwa hubungan antara kecepatan aliran pada sprinkler otomatis ini dengan pressure loss yang terjadi dipengaruhi oleh area yang direncanakan, diameter pipa yang digunakan serta panjang pipa. Dimana perencanaan ini mengacu pada standar yang berlaku seperti Standar Nasional Indonesia (SNI dan National Fire Protection Association (NFPA yang harus dipakai dalam perencanaan siste sprinkler otomatis pada sebuah gedung.

  13. Analisa Keuangan Rumah Toko Dengan Penerapan Pengolahan Air Limbah Dan Penampungan Air Hujan

    OpenAIRE

    Hadi, Antonius; Christian, Yohanes; Chandra, Herry Pintardi; Kusumastuti, Cilcia

    2016-01-01

    Pertumbuhan ekonomi di Indonesia sekarang ini memacu para investor properti untuk melakukan sebuah investasi, salah satunya pada bidang properti rumah toko. Dampak negatif pembangunan rumah toko adalah buangan air limbah yang tidak diolah dan langsung dibuang dapat mencemari lingkungan. Untuk mengatasi masalah pencemaran air akibat air buangan rumah toko diperlukan sistem pengolahan air limbah serta penampungan air hujan untuk mengurangi limpasan permukaan. Pada penelitian ini direncanakan se...

  14. Online Monitoring Kualitas Air Pada Budidaya Udang Berbasis WSN Dan IoT

    OpenAIRE

    Maulana, Yudi Yuliyus; Wiranto, Goib; Kurniawan, Dayat

    2016-01-01

    Dalam tulisan ini dijelaskan desain dan pengembangan sistem online monitoring kualitas air berbasis wireless sensor Network (WSN) dan Internet of Things (IoT). Sistem ini didesain dan dikembangkan untuk memantau parameter DO (Dissolved Oxygen), pH, conductivity dan temperatur pada budidaya udang. Sistem terdiri dari beberapa node sensor dengan komponen utama arduino uno yang terhubung dengan Xbee board dan master board dengan komponen utamanya adalah Raspberry Pi 2 (RPi2) board dan Xbee. Data...

  15. BEBERAPA MARGA ALGA BENANG DAN HUBUNGANNYA DENGAN KEBERADAAN VEKTOR MALARIA DI BALI UTARA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I. G. Seregeg

    2012-09-01

    Full Text Available A study of filamentous algae and its relation to malaria vector control was conducted during the dry season in several lagoons at the north coast of Bali. Floating masses of these algae under the sunshine barricated the spread of solar-triton larvicide, reducing tremendously the effectiveness of the larvicide. Identification of the genera of these algae under the subphyllum of CYANOPHYTA (Blue Algae in the family of Cyanophyceae were Oscillatoria, Spirulina, Phormidium, Rivularia, Nostoc, and Anabaena; under the subphyllum of CHLOROPHYTA (Green Algae in the family of Chlorophyceae were Enteromorpha, Spirogyra, Mougeotia, Zygnema, and Oedogonium. The surface of water in between the floating masses of algae were an exellent breeding place of mosquitoes mainly Anopheles sundaicus. The density of Enteromorpha, the main attractant of An sundaicus compared to other filamantous algae, has no direct relation on the density of An. sundaicus larva. Hence Enteromorpha could only be considered as the indicator of the presence of larvae and not as the indicator of population densities of larvae Lagoons surrounded with mangrove plantations did not harbour filamentous algae and larvae of An. sundaicus were not found.

  16. ANALISIS KANDUNGAN UNSUR ESENSIAL DAN TOKSIK DALAM TEH DAN AIR SEDUHANNYA DENGAN AKTIVASI NEUTRON

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Th. Rina Mulyaningsih

    2015-04-01

    Full Text Available Kadar unsur logam K, Ca, Mn, Mg, Fe, Na, Zn, Rb, Br, Cr, Cs, La,Sc dan Co dalam 14 sampel teh hijau, teh hitam, teh hitam dengan aroma melati, aroma vanila, bunga rosella dan air seduhan teh telah ditentukan dengan analisis aktivasi neutron. Sampel teh dipilih dari produksi dalam negeri dan diperoleh dari Pasar Swalayan di daerah Serpong. Iradiasi neutron sampel dilakukan di Fasilitas Iradiasi reaktor RSG-GAS pada fluks neutron thermal sekitar sekitar 1013 ncm-2s-1. Prosedur kerja menggunakan SOP yang dikeluarkan oleh FNCA. Sebagai kontrol mutu digunakan SRM-NIST 1573a Tomato leaves dan NIST 1547 Peach leaves. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi semua unsur bervariasi tergantung jenis teh. Konsentrasi Ca, K, Mg dan Mn dalam teh cukup tinggi > 100 mg/kg . Konsentrasi Ca dan K memiliki rentang nilai antara 1135,36-9123,21 dan 1064,41-2473,12 mg/kg serta Mg 2725,6-5528,5; dan Mn 95,38-815,48 mg/kg. Unsur mikroesensial Na, Fe, Co, La, Cr, Br, Sc, Cs, Rb dan Zn memiliki konsentrasi 100 mg/kg. Concentration of Ca and K have values in a range of 1135.36-9123.21 and 1064.41-2473.12 mg/kg as well as Mg of 2725.6-5528.5; and Mn of 95.38-815.48 mg/kg.Concentration of Na, Fe, Co, La, Cr, Br, Sc, Cs, Rb and Zn <100 mg/kg. Most elements in these tea were released into the infusions at defferent percentages in a range of 27.89-68.94% depending on the sort of the tea. There were not detected toxical elements Hg, Cd and As except Cr with low concentration. Therefore tea drink sare adequately good enough as essential elements source and content no toxic elements. Keywords: elemental analysis, essential, toxic, tea, neutron activation.

  17. Kandungan Logam Berat (Hg, Pb, Cd, dan Cu Pada Ikan, Air, dan Sedimen Di Waduk Cirata, Jawa Barat

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nandang Priyanto

    2008-06-01

    Full Text Available ABSTRAK Penelitian evaluasi kandungan logam berat pada ikan, air, dan sedimen serta evaluasi kualitas perairan dilakukan di Waduk Cirata, Jawa Barat. Pengambilan sampel dilakukan secara discrete pada 6 stasiun yang mewakili daerah inlet, outlet, dan sentra budidaya ikan (KJA. Waktu pengambilan sampel dilakukan tiga kali yaitu pada bulan Mei, Agustus, dan Nopember 2005. Parameter yang diamati meliputi logam berat (Hg, Pb, Cd, dan Cu, kualitas air (suhu, kecerahan, pH, DO, BOD, dan COD, serta unsur hara (amonia, nitrit, nitrat, sulfida, dan fosfat. Kandungan logam berat diamati dengan menggunakan alat Spektrofotometer Serapan Atom (AAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kandungan Hg, Pb, Cd, dan Cu pada berbagai jenis ikan yang ditangkap dari waduk lebih tinggi dibandingkan dalam air, tetapi lebih rendah dibandingkan pada sedimen. Kandungan Hg, Pb, Cd, dan Cu pada ikan masih di bawah ambang batas yang diijinkan. Sementara itu kandungan Hg, Cd, dan Cu dalam air di beberapa stasiun sudah ada yang melebihi ambang batas. Kandungan Hg, Pb, Cd, dan Cu pada sedimen umumnya juga masih di bawah ambang batas yang ditetapkan, kecuali kandungan Hg yang diambil pada bulan Mei di beberapa stasiun melebihi ambang batas yang diijinkan. Hasil pengamatan kualitas air yaitu suhu, pH, kecerahan, DO, BOD, COD, nitrat, dan fosfat umumnya masih dalam kisaran yang dipersyaratkan untuk kegiatan budidaya perikanan sesuai PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, meskipun COD pada beberapa stasiun yang diamati melebihi ambang batas. Sementara itu, kandungan nitrit, amonia, dan sulfida umumnya sudah melebihi ambang batas yang ditetapkan.

  18. LIFE CYCLE COSTING DAN EKSTERNALITAS BIODIESEL DARI MINYAK SAWIT DAN MINYAK ALGA DI INDONESIA (Life Cycle Costing and Externities of Palm and Algal Biodiesel in Indonesia

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Arif Dwi Santoso

    2014-10-01

    Full Text Available ABSTRAK Biaya produksi biodiesel menjadi salah satu hambatan program konversi bahan bakar minyak ke biodiesel negara-negara termasuk Indonesia dalam upaya mengantipasi terjadinya krisis energi. Salah satu penyebab biaya produksi yang tinggi adalah karena variabel biaya produksi yang diperbandingkan selama ini belum sepenuhnya mencerminkan keseluruhan potensi yang terkandung dalam biodiesel. Potensi biodiesel yang tergolong ke dalam komoditas lingkungan seperti sifat terbarukan, rendah dalam penggunaan lahan, dan ramah lingkungan perlu dimasukkan dalam perhitungan agar mendapatkan perbandingan perhitungan yang obyektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan komoditas lingkungan pada stuktur biaya produksi biodiesel dari minyak sawit dan minyak alga. Nilai komoditas lingkungan diperkirakan dengan metode metode benefit transfer dan untuk memperlihatkan nilai keuntungan digunakan pendekatan willing to pay (WTP. Nilai-nilai komoditas lingkungan diacu dari hasil perhitungan perangkat lunak Environmental Priority Strategy (EPS versi 2000. Untuk kasus Indonesia, nilai komoditas lingkungan EPS diinferensi dengan elastisitas berdasarkan dari perbandingan nilai pendapatan per kapita negara Swedia dan Indonesia. Hasil penelitian menyatakan bahwa analisis life cycle costing (LCC yang diaplikasikan dengan menambahkan variabel eksternalitas dapat memberikan informasi yang detil tentang komposisi biaya produksi biodiesel dan dapat digunakan sebagai metode untuk mendapatkan gambaran total biaya produksi yang paling kompetitif dari beberapa sumber.  Analisis juga menyimpulkan bahwa variabel eksternalitas turut mempengaruhi kenaikan total biaya produksi biodiesel hingga 14%. Hasil analisis profitabilitas menyatakan bahwa pasokan biomasa alga untuk produksi biodiesel lebih terjamin dan berkelanjutan dibandingkan biomasa sawit karena kendala teknis dan non teknis pada produksi biomasa alga lebih mudah diatasi selain itu juga keunggulan

  19. Pengaruh Media Budidaya Menggunakan Air Laut dan Air Tawar terhadap Sifat Kimia dan Fungsional Biomassa Kering (Spirulina platensis

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nurfitri Ekantari

    2017-09-01

    tempat dengan media budidaya air tawar maupun air laut. S. platensis dapat digunakan sebagai salah satu sumber kalsium karena kandungannya dapat mencapai 700-1000 mg/100 g biomassa kering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media budidaya air laut dan air tawar terhadap komposisi kimia dan sifat fungsional dari S. platensis. Parameter kimia yang diamati yaitu komposisi proksimat, kandungan mineral Ca, Mg dan P, kandungan gula, pati dan serat pangan. Parameter sifat fungsional meliputi kelarutan, kemampuan mengikat air dan lemak, emulsifikasi dan kemampuan membentuk busa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan abu dan mineral (Ca, Mg, P S. platensis budidaya air laut lebih tinggi daripada budidaya air tawar. S. platensis asal budidaya laut berpotensi sebagai alternatif sumber kalsium (512,53 mg Ca/100 g dengan rasio Ca:P = 1:1,79. Kandungan karbohidrat S. platensis hasil budidaya media air laut lebih rendah yaitu 28,41 %db (gula total dengan nilai 0,09 %db, pati 6,9 %db dan total serat pangan 24,81 %db, serat pangan terutama berupa serat pangan tak larut sebesar 24,18 %db. Sifat fungsional dipengaruhi oleh asal budidaya. Spirulina platensis asal budidaya laut memiliki sifat Water Holding Capacity (WHC yang lebih tinggi yaitu 4,46 ml/g dibandingkan sifat Oil Holding Capacity (OHC yaitu 2,35 ml/g, sedangkan Water Soluble Index (WSI, kapasitas membentuk busa dan emulsifikasi tidak dipengaruhi media budidaya.

  20. Kualitas Air Hujan dan Faktor Lingkungan yang Mempengaruhinya

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    S Sudarmadji

    2016-07-01

    Full Text Available Hujan merupakan masukan dalam sistem hidrologi. Ditinjau dari kualitasnya dibandingkan dengan air aami lainnya, air hujan merupakan air paling murni dalam arti komposisinya hampir mendekati H2O. Namun demikian, pada hakekatnya tidak pernah dijumpai air hujan yang betul-betul hanya tersusun atas H2O saja, berbagai faktor lingkungan telah mempengaruhi kualitas air hujan tersebut. Pencemaran udara yang terjadi di kota-kota besar, baik yang berupa buangan gas maupun emisi dari kendaraan bermotor. Serta buangan gas dari pabrik telah mempengaruhi kualitas air hujan yang jatuh di daerah kota. Air hujan di daerah pantai juga terpengaruh oleh laut dengan segala aktifitas dan komposisi airnya. Di daerah gunung api yang masih aktif air hujan juga dipengaruhi oleh aktifitas tersebut. Masing-masing lingkungan tersebut di atas mempengaruhi komposisi air hujan. Kajian kualitas air hujan dilakukan dengan mengambil hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya di daerah pulau Jawa, namun demikian hasil penelitian yang dilakukan di luar negeri juga digunakan sebagai pembanding.

  1. Pengolah Air Backwash Tangki Filtrasi Menggunakan Proses Koagulasi Flokulasi Dan Sedimestasi (Studi Kasus Unit Pengolahan Air Bersih Rsup Dr. Sarjito

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dina Asrifah

    2015-08-01

    Full Text Available Air backwash memiliki kadar Fe dan Mn masing-masing sebesar 74,87 mg/liter dan 1,74 mg/liter. Pengolahan dilakukan dengan koagulasi (terjunan, flokulasi (bak kelok dan sedimentasi. Tujuan penulisan ini adalah mengetahui dosis koagulan dan waktu pengendapan optimum pengolahan air bekas backwash. Pengolahan secara koagulasi dilakukan variasi terhadap dosis koagulan (0 mg/L, 0,1 mg/L, 0,5 mg/L, 0,7 mg/L, 0,9 mg/L dan dilakukan dengan metode jar test. Proses sedimentasi dilakukan variasi terhadap waktu tinggal/waktu pengendapan yaitu 0 menit, 30 menit dan 60 menit. Hasil penelitian ini diperoleh dosis optimum 0,1 g/L dan waktu optimum pengendapan adalah 30 menit. Kata Kunci : pengolahan, air backwash, koagulasi, flokulasi

  2. ANALISIS KUALITAS AIR PADA SUMBER MATA AIR DI KECAMATAN KARANGAN DAN KALIORANG KABUPATEN KUTAI TIMUR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Iin Sumbada Sulistyorini

    2017-02-01

    Full Text Available The purpose of this study was to determine the water quality based on some parameters of physical, chemical and biological properties of the three springs. One location site in the district of Kaliorang and then two location site in the District of Karangan. Landscape characteristics in the two districts almost equal in the hills with a small incision. Likewise, the third location of water sources is a hilly area of karst (limestone. Karst landscapes not only provide material goods, biodiversity, but also providers of ecosystem services such as clean water, the water regulator and the potential of the upper and lower surfaces such as caves. The results showed that the physical quality of water from the three water sources meet the quality standards required. From the results of laboratory testing, chemical water quality at three locations contain BOD (Biochemical Oxygen Demand and COD (Chemical Oxygen Demand is relatively high. The high value of BOD and COD indicated that the water conditions have polluted by the accumulation of organic materials, especially the litter of the forest vegetation. Furthermore, for total coliform and fecal coliform although the amount is below the threshold quality standards required, but its existence in the water indicates the contamination of water sources by sewage as from agricultural run-off, animal feces containing the bacteria, viruses, or disease-causing organisms more, Based on the designated class of water, the springs at the third location is very suitable for use as irrigation, facilities or infrastructure freshwater fish farming, recreation, and other designation that requires the same quality standards. As for the water designation for drinking water must through the processing or specific treatment. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas air berdasarkan beberapa parameter fisik, kimia dan biologi dari tiga sumber mata air, yaitu satu lokasi di kecamatan Kaliorang dan dua lokasi di

  3. KANDUNGAN LOGAM BERAT PADA AIR DAN SEDIMEN DI PERAIRAN SOCAH DAN KWANYAR KABUPATEN BANGKALAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wahyu Andy Nugraha

    2009-10-01

    Full Text Available Logam berat sangat berbahaya bagi biota laut maupun trofik level diatasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat di perairan Socah dan Kwanyar kabupaten Bangkalan. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan. Pengambilan sampel air menggunakan botol sampel, sedangkan pengambilan sampel sedimen menggunakan grab sampler. Sampel kemudian dianalisa dengan spektrofotometer serapan atom (SSA. Hasil menunjukkan bahwa kandungan logam berat Cd, Cu, Pb, dan Hg pada air di perairan Socah dan Kwanyar masih dibawah ambang batas baku mutu air laut, sedangkan kandungan logam berat di sedimen melebihi ambang batas baku mutu air laut untuk biota laut. Secara umum, kandungan logam berat di sedimen lebih tinggi dari pada kandungan logam berat di air. Kata Kunci : Logam berat, Pencemaran, Spektrophotometer  HEAVY METALS CONTENTS IN WATER AND SEDIMENT IN KWANYAR AND SOCAH WATER, BANGKALANHeavy metals are very dangerous for marine life as well as the trophic level above. This study aims to determine the content of heavy metals in the waters Socah and Kwanyar Bangkalan. This study was conducted over 3 months. Water sampled using a sample bottle, while sediment samples was taken using a grab sampler. The sample was then analyzed by atomic absorption spectrophotometer (AAS. Results showed that the content of heavy metals Cd, Cu, Pb and Hg in the water in the Socah and Kwanyar waters still below the seawater quality standard limits, whereas the heavy metal content in sediments exceeded the water quality standard for marine sea. In general, the content of heavy metals in sediment is higher than on the water.Keywords: Heavy metals, Pollution, AAS

  4. EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI DAUN ZODIA (Evodia suaveolens) DENGAN METODE MASERASI DAN DISTILASI AIR

    OpenAIRE

    Prima Astuti Handayani; Heti Nurcahyanti

    2014-01-01

    Daun zodia merupakan tumbuhan yang berpotensi sebagai insektisida nabati. Daun zodia mengandung senyawa aktif limonene yang bersifat neurotoksin terhadap serangga. Pengambilan minyak atsiri daun zodia dilakuan dengan metode maserasi dan metode distilasi air. Pada metode maserasi bahan digunakan etanol dan dimaserasi selama 3x24 jam. Kemudian didistilasi untuk menguapkan pelarut etanol. Untuk metode distilasi air bahan didistilasi selama 3 jam, campuran minyak dan air dipisahkan dengan menamba...

  5. Ekstraksi Minyak Atsiri Daun Zodia (Evodia Suaveolens) Dengan Metode Maserasi Dan Distilasi Air

    OpenAIRE

    Astuti Handayani, Prima; Nurcahyanti, Heti

    2014-01-01

    Daun zodia merupakan tumbuhan yang berpotensi sebagai insektisida nabati. Daun zodia mengandung senyawa aktif limonene yang bersifat neurotoksin terhadap serangga. Pengambilan minyak atsiri daun zodia dilakuan dengan metode maserasi dan metode distilasi air. Pada metode maserasi bahan digunakan etanol dan dimaserasi selama 3x24 jam. Kemudian didistilasi untuk menguapkan pelarut etanol. Untuk metode distilasi air bahan didistilasi selama 3 jam, campuran minyak dan air dipisahkan dengan menamba...

  6. Studi Kelayakan Pengolahan Air Laut Menjadi Air Bersih di Kawasan Wisata dan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN Pantai Prigi, Trenggalek

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Agista Ayuningtyas Puspita Dwijayani

    2013-09-01

    Full Text Available Ketersediaan air bersih diperlukan pula dalam bidang kepariwisataan. Salah satunya ialah kawasan wisata alam Pantai Prigi, Trenggalek. Namun kondisi air saat ini masih memiliki kandungan TDS (Total Dissolved Solid dan salinitas yang cukup tinggi sehingga dibutuhkan suatu teknologi untuk mengolah air asin menjadi air tawar agar memenuhi standar baku mutu air bersih. Salah satu teknologi yang dapat diterapkan untuk mengolah air asin atau payau menjadi air tawar adalah dengan sistem Reverse Osmosis (RO. Penentuan kapasitas SWRO ditentukan dengan memproyeksikan jumlah pengunjung kawasan wisata Pantai Prigi dan kebutuhan air kolam apung hingga tahun 2023. Hasil proyeksi diperoleh kebutuhan air sebesar 729,40 m3/hari pada penggunaan maksimum. Dengan desain SWRO yaitu menggunakan pretreatment rapid sand filter dan filter karbon aktif untuk meremoval kandungan TDS, kesadahan total, khlorida, sulfat, dan bilangan KMnO4 (zat organik. Biaya yang dibutuhkan untuk membuat sistem pengolahan air laut dengan SWRO sebesar Rp 5.077.307.500,00.Perencanaan sistem pengolahan air laut menjadi layak jika air reject dari SWRO sebesar 1463,28 m3/hari dimanfaatkan menjadi wisata kolam apung, garam, dan air nigari dengan investasi total sebesar Rp 7.326.095.500,00. Dengan analisa kelayakan secara ekonomi  menggunakan prinsip ekonomi teknik, pada alternatif ini diperoleh nilai NPV sebesar Rp 25.024.360.250,24 ; IRR sebesar 23,7% ; dan Payback periode pada tahun ke-3 dengan keuntungan yang diperoleh Rp 3.915.665.044,80 per tahun.

  7. Studi Perbandingan Proses Pengelasan Smaw Pada Lingkungan Darat dan Bawah Air Terhadap Ketahanan Uji Bending Weld Joint Material A36

    OpenAIRE

    Safira Dwi Anggraeni; Herman Pratikno; Yoyok Setyo Hadiwidodo

    2017-01-01

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan nilai kekuatan uji bending,  dan kekerasan pada sambungan weld joint plat baja A36 pada proses pengelasan SMAW di lingkungan darat dan bawah air. Penelitian ini menggunakan Baja A36 dengan variasi lingkungan pengelasan yakni di darat dan di bawah air dengan menggunakan las SMAW dan memakai elektroda E7018 diameter 3,2 mm. Spesimen dilakukan pengujian bending berupa face bend dan root bend, pengujian kekerasan dan foto mikro. Pada pengujian b...

  8. Analisis Kestabilan Model Dinamik Nitrogen Dan Hubungannya Dengan Pertumbuhan Logistik Alga

    OpenAIRE

    widowati, widowati; sutimin, sutimin; ps, hermin; is, Tarita

    2009-01-01

    The nitrogen dynamics model related to algae growth is proposed. The form of the model is nonlinear differential equation system. From these model, the stability of the equilibrium point is disscussed. The stability is analized through the eigen values of the Jacobian matrix that is obtained from linearized system. From the simulation results is found that ammonia-nitrogen, nitrite-nitrogen, and nitrate-nitrogen concentration will achieve to a certain value. The changed of ammonia-nitrogen,...

  9. Penentuan Umur Simpan Lengkuas dengan Model Arrhenius Berdasarkan Kadar Air dan Kadar Sari Larut dalam Air

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rita Khathir

    2014-04-01

    Full Text Available Abstrak. Lengkuas (Alpinia galanga adalah salah satu tanaman penting bagi masyarakat Indonesia. Tanaman ini dapat digunakan untuk bumbu masakan dan obat herbal. Tujuan kajian ini adalah untuk menduga umur simpan lengkuas segar dengan menggunakan model Arrhenius. Lengkuas segar yang baru dipanen dibersihkan dan dipotong-potong dengan ukuran 2cm, kemudian disimpan pada suhu 5, 10 dan 28°C. Evaluasi dilakukan oleh 25 orang panelis dengan menggunakan skala hedonic dari sangat suka sampai sangat tidak suka terhadap warna, kesegaran, aroma dan tekstur. Parameter yang diamati adalah kadar air dan kadar sari larut dalam air. Parameter tersebut diamati dalam interval 3 hari selama 21 hari atau sampai sampel dinyatakan tidak disukai oleh panelis pada salah satu kriteria hedoniknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pad asuhu 28°C, lengkuas dapat disimpan selama 3 hari, sedangkan pada suhu 10 dan 5°C, lengkuas dapat disimpan selama 12 dan 21 hari. Energi aktivasi (EA dan tingkat perubahan mutu (Q10 karena kadar sari larut dalam air lebih besar dari energi aktivasi (EA dan tingkat perubahan mutu (Q10 karena kadar air lengkuas. Namun demikian, kedua parameter tersebut tidak tepat digunakan untuk menduga umur simpan lengkuas.   Shelf-Life Prediction of Galanga by Using Arrhenius Model Based on Its Moisture and Water Soluble Extract Content Abstract. Galanga (Alpinia galanga is one of important plants for Indonesian people. It can be used as spices and also as herbal medicine. The aim of this study is to predict the shelf-life of fresh galanga by using Arrhenius model. Fresh harvested galanga, which was cleaned and chopped at width about 2 cm, was stored at temperatures 5, 10, and 28°C. The evaluation was done by 25 respondents by using hedonic scale from the range of like very much until dislike very much. This hedonic evaluation was assessed, based on colour, freshness, aroma, and texture. Parameters observed were moisture and water soluble extract

  10. Pendayagunaan Infrastruktur Sanitasi dan Air Bersih dalam Mendukung Kesehatan Masyarakat (Kasus Kabupaten Gresik, Jawa Timur

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nino Heri Setyoadi

    2012-06-01

    Full Text Available Penyakit diare dan muntaber merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah utama di Indonesia. Data kementerian kesehatan menunjukkan peningkatan kejadian diare dari tahun ke tahun. Penyediaan dan pendayagunaan infrastruktur sanitasi dan air bersih yang aman menjadi salah satu upaya untuk menekan angka kejadian diare/muntaber (penulisan dikalimat pertama diare dan muntaber. Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dukungan pendayagunaan infrastruktur sanitasi dan air bersih terhadap kesehatan masyarakat. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan level analisis kabupaten Gresik tahun 2011. Data utama yang digunakan bersumber dari data potensi desa tahun 2011 dengan teknik pengolahan data statistik tabulasi silang. Hasil pembahasan menunjukkan pendayagunaan infrastruktur sanitasi dan air bersih di kabupaten Gresik tahun 2011 belum mampu mendukung kesehatan masyarakat terbebas dari penyakit diare dan muntaber. Rekomendasi yang disarankan antara lain peningkatan cakupan air bersih perpipaan, mempromosikan sistem sanitasi perkotaan atau komunal yang aman dan ramah lingkungan, serta melembagakan ketentuan pengelolaan sanitasi dan air bersih aman dan ramah lingkungan dalam peraturan daerah.

  11. Tempat Penampungan Air dan Kepadatan Jentik Aedes sp. di Daerah Endemis dan Bebas Demam Berdarah Dengue

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wanti Wanti

    2014-12-01

    Full Text Available Tingkat kepadatan jentik merupakan indikasi diketahuinya kepadatan nyamuk Aedes sp yang akan menularkan virus dengue sebagai penyebab penyakit demam berdarah dengue (DBD dan juga sebagai salah satu indikator keberhasilan kegiatan pengendalian vektor. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik tempat penampungan air (TPA dan perbedaan kepadatan jentik House Index, Container Index, Breatau Index (HI, CI, BI di Kelurahan Alak sebagai daerah endemis dan Kelurahan Belo sebagai daerah bebas DBD di Kota Kupang Tahun 2011. Penelitian observasional analitik ini menggunakan rancangan studi potong lintang. Variabel penelitian adalah jenis, kondisi, letak, bahan TPA dan kepadatan jentik Aedes sp. Data dikumpulkan dengan observasi langsung pada TPA dan rumah terpilih. Data disajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis dengan uji-t. Penelitian ini menemukan TPA positif jentik paling banyak adalah TPA untuk kebutuhan sehari-hari, kondisi TPA tidak tertutup rapat, letak TPA di luar rumah, bahan TPA adalah bahan keramik, dan warna TPA adalah warna putih. Hasil penelitian menunjukkan nilai dari HI 0,887, CI 0,146 dan BI 0,080, yang artinya tidak ada perbedaan kepadatan jentik antara Kelurahan Alak (daerah endemis dengan Kelurahan Belo (daerah bebas. Disimpulkan tidak ada perbedaan kepadatan jentik (HI, CI, dan BI antara daerah endemis dan daerah bebas DBD. Kedua daerah sama-sama memiliki tingkat kepadatan jentik yang tinggi, sehingga disarankan pemberantasan sarang nyamuk tidak hanya diprioritaskan pada daerah endemis DBD tetapi juga daerah daerah bebas DBD. Water Container and the Aedes sp. Larvae Density in Endemic and Free Dengue Haemorrhagic Fever The larva density is an indication of the density of Aedes sp known to be capable of transmitting the dengue virus as the cause of dengue haemorrhagic fever (DHF and also as one of the indicators of the success of vector control activities. This study aimed to determine the difference of the water

  12. Kandungan Logam Berat Pada Ikan, Air Dan Sedimen Di Waduk Saguling Jawa Barat

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jovita Tri Murtini

    2007-12-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian kandungan logam berat pada ikan, air dan sedimen di Waduk Saguling, Jawa Barat pada bulan Mei, Agustus dan Nopember 2005. Pengambilan contoh dilakukan pada enam lokasi, yaitu satu lokasi di aliran air masuk, 4 lokasi di daerah Karamba Jaring Apung dan 1 lokasi di aliran air keluar dari waduk. Contoh yang diambil meliputi ikan, air dan sedimen, sedang analisis logam berat yang dilakukan meliputi Hg, Cd, Cu dan Pb. Disamping itu juga dilakukan analisis terhadap kondisi fisik air yaitu pH, suhu dan kecerahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan logam berat pada ikan di Waduk Saguling adalah, Hg antara 0,35‑48,44 ppb, Cd antara 1,89‑66,57 ppb, Cu antara 0,29‑247,40 ppb dan Pb sekitar 1,60­40,32 ppb. Nilai tersebut masih berada di bawah ambang batas maksimum yang diijinkan. Akan tetapi kandungan logam berat Hg dan Cd dalam air pada beberapa titik telah melebihi ambang batas, sedangkan Pb dan Cu masih di bawah ambang batas. Kandungan logam berat dalam semua contoh sedimen secara keseluruhan masih di bawah ambang batas yang diijinkan.

  13. KOMBINASI ULTRAFILTRASI DAN DISSOLVED AIR FLOTATION UNTUK PEMEKATAN MIKROALGA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Nyoman Widiasa

    2014-05-01

    Full Text Available Abstrak Mikroalga merupakan mikroorganisme fotosintetik prokariotik atau eukariotik yang dapat tumbuh dengan cepat. Pemanfaatan mikroalga tidak hanya berorientasi sebagai pakan alami untuk akuakultur, tetapi terus berkembang untuk bahan baku produksi pakan ternak, pigmen warna, bahan farmasi (β-carotene, antibiotik, asam lemak omega-3, bahan kosmetik, pupuk organik, dan biofuel (biodiesel, bioetanol, biogas, dan biohidrogen. Studi ini bertujuan untuk menginvestigasi kombinasi ultrafiltrasi (UF – dissolved air flotation (DAF untuk pemekatan mikroalga skala laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan fluks membran UF secara tajam sebagai akibat dari deposisi sel mikroalga terjadi pada 20 menit pertama proses filtrasi. Backwash pada interval 20 menit selama 10 detik dengan tekanan 1 bar memberikan pengendalian fouling yang efektif dalam nilai kestabilan fluks yang layak. Membran UF yang digunakan dapat memberikan selektivitas pemisahan biomassa mikroalga ~ 100%. Kualitas permeat sangat stabil, yaitu kekeruhan < 0,5 NTU, kandungan organik < 10 mg/L, dan warna < 10 PCU. Lebih lanjut, pemekatan retentat membran dengan DAF pada tekanan saturasi 6 bar dapat menghasilkan pasta mikroalga dengan konsentrasi 20 g/L. Koagulan PAC perlu ditambahkan kedalam umpan DAF dengan dosis 1,3–1,6 mg PAC/mg padatan tersuspensi.   Kata Kunci: ultrafiltrasi; dissolved air flotation; pemanenan mikroalga; pemekatan mikroalga   Abstract COMBINATION OF Ultrafiltration and Dissolved Air Flotation for Microalgae CONCENTRATION. Microalgae is a prokaryotic photosynthetic microorganism or eukaryotic microorganism  that proliferate rapidly. Cultivation of the microalgae is not only oriented  as natural food for aquacultures, but also developed  for animal food, color pigment, pharmaceutical raw material (β-carotene, antibiotic, fatty acid omega-3, cosmetic raw material, organic fertilizer, and biofuels (biodiesel, bioethanol, biogas, and biohydrogen. This

  14. PEMANFAATAN KITOSANDAN JAMUR LAPUK PUTIH (Trametes versicolorUNTUK MENURUNKAN KEKERUHAN DAN WARNA PADA AIR GAMBUT SEBAGAI SUMBER AIR BERSIH ALTERNATIF

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Karelius

    2013-05-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian tentang pemanfaatan kitosan dan jamur lapuk putih (trametes versicolor untuk menurunkan kekeruhan dan warna pada air gambut sebagai sumber air bersih alternatif dengan tujuan adalah mengetahui perbandingan dosis optimum kitosan dan jamur lapuk serta mempelajari kondisi optimum proses koagulasi dan flokulasi yaitu pengaruh waktu pengadukan dengan kecepatan 40 rpm dan pengendapan terhadap penurunan kekeruhan dan warna pada air gambut. Kitosan yang akan digunakan diisolasi dari limbah kulit udang yang dibuat melalui tiga tahap yakni tahap deproteinasi, demineralisasi dan deasetilasi. Penentuan dosis optimum dilakukan dengan variasi dosis kitosan dan jamur lapuk putih perbandingan 800 : 200; 600 : 400; 400 : 600 ; 500 : 500 dan 200 : 800 (mg/L air gambut. Pengaruh waktu pengadukan lambat terhadap efektifitas koagulasi dan flokulasi dipelajari dengan cara koagulasi dilakukan pada waktu bervariasi yaitu selama 5, 10, 15, 20 dan 25 menit. Pengaruh waktu pengendapan dipelajari dengan suspensi hasil koagulasi diendapkan dengan waktu yang bervariasi selama 15, 30, 45, 60 dan 90 menit. Setelah diketahui dosis dan kondisi optimum koagulasi dan flokulasi selanjutnya diaplikasikan pada 3 (tiga sampel air gambut yang diperoleh dari 3 (tiga lokasi yang berbeda. Perbandingan dosis optimum kitosan dan jamur lapuk putih parameter kekeruhan adalah 600 : 400 mg/L air gambut dengan efektifitas sebesar 95,06%, dan parameter warna dengan perbandingan dosis optimum 400 : 600 mg/L air gambut dengan efektifitas 96,20%. Waktu pengadukan dengan kecepatan 40 rpm optimum adalah 10 menit untuk parameter kekeruhan dan warna air gambut, dengan efektifitas masing-masing 96,34 % dan 96,68 %. Waktu pengendapan yang optimum adalah pada waktu 45 menit untuk parameter kekeruhan dan 60 menit untuk parameter warna air gambut, dengan efektifitas masing-masing 96,37 % dan 96,68 %. Aplikasi kitosan dan jamur lapuk putih pada air gambut, KLP 1 dan KLP 2 dapat

  15. UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENCEMARAN AIR AKIBAT PENAMBANGAN EMAS DI SUNGAI KAHAYAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mrs. Heriamariaty

    2012-02-01

    Full Text Available The absence of Public Mining Area and continued use of mercury is responsible for the illegal gold mining and water pollution in Kahayan river. Efforts must be made to avoid and overcome environmental impact by strengthening coordination in central and regional level; empowering local community; and imposing sanction as law enforcement method. Belum adanya Wilayah Pertambangan Rakyat serta penggunaan merkuri mendorong terjadinya penambangan emas tanpa izin dan pencemaran air di Sungai Kahayan. Untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran ini diperlukan koordinasi di tingkat pusat dan daerah; penyuluhan dan pendekatan di bidang sosial, ekonomi, budaya, hukum, dan teknologi; serta penegakan hukum secara tegas melalui penerapan sanksi.

  16. The impacts of replacing air bubbles with microspheres for the clarification of algae from low cell-density culture.

    Science.gov (United States)

    Ometto, Francesco; Pozza, Carlo; Whitton, Rachel; Smyth, Beatrice; Gonzalez Torres, Andrea; Henderson, Rita K; Jarvis, Peter; Jefferson, Bruce; Villa, Raffaella

    2014-04-15

    Dissolved Air Flotation (DAF) is a well-known coagulation-flotation system applied at large scale for microalgae harvesting. Compared to conventional harvesting technologies DAF allows high cell recovery at lower energy demand. By replacing microbubbles with microspheres, the innovative Ballasted Dissolved Air Flotation (BDAF) technique has been reported to achieve the same algae cell removal efficiency, while saving up to 80% of the energy required for the conventional DAF unit. Using three different algae cultures (Scenedesmus obliquus, Chlorella vulgaris and Arthrospira maxima), the present work investigated the practical, economic and environmental advantages of the BDAF system compared to the DAF system. 99% cells separation was achieved with both systems, nevertheless, the BDAF technology allowed up to 95% coagulant reduction depending on the algae species and the pH conditions adopted. In terms of floc structure and strength, the inclusion of microspheres in the algae floc generated a looser aggregate, showing a more compact structure within single cell alga, than large and filamentous cells. Overall, BDAF appeared to be a more reliable and sustainable harvesting system than DAF, as it allowed equal cells recovery reducing energy inputs, coagulant demand and carbon emissions. Copyright © 2014 Elsevier Ltd. All rights reserved.

  17. Pengaruh Pengurangan Kadar Air dan Penggunaan Bahan Pengikat Kadar Air dalam Pembuatan Cake Bengkuang

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wilsa Hermianti

    2016-12-01

    Full Text Available Yam contains a high water content ranging from 86-90% therefore when be processed to be a product such as cake will also result a high water content and cause the product is not durable. By the nature characteristics of the yam was then made utilization efforts became yam cake in order to develop yam processing, increase value added, and diversify food processing based on raw materials of local potential in Padang City. Yam can be used by processing them into a semi wet food such as cake with a dominant amount of yam up to 50% of the cake batter, but only had a shelf life for 3 days. To increase the shelf-life study was carried out water content reduction of raw materials and using of a binder in the making of yam cake. The treatment of water content reduction of yam was done using juicer and pressing. A comparison as a control was performed without reduction of water content. The use of water content binder was conducted with the addition of coconut, cornstarch, and rice flour. Yam cake formulas using binder of water content  with cornstarch and reduction the water content of raw material by pressing showed optimal results with a preferred value of organoleptic panelist, the water content 28.50%, carbohydrate 56.31%, protein 6.13%, fat 10.23%, energy 341.86 kcal/100g, dietary fiber 5.98%, calcium 27.77 mg/100g, and 5.92% inulin, storability for 5 days at room temperature and 4 weeks at refrigerator temperature.ABSTRAKBengkuang mengandung kadar air yang tinggi berkisar 86-90% sehingga jika diolah untuk menjadi produk berupa cake akan memberikan kadar air yang juga tinggi dan menyebabkan produk menjadi tidak tahan lama. Dengan sifat alami bengkuang tersebut maka dilakukan upaya pemanfaatannya menjadi cake bengkuang dalam rangka pengembangan olahan dari bengkuang, peningkatan nilai tambah, dan diversifikasi olahan pangan berbasis bahan baku lokal yang cukup potensi di kota Padang. Bengkuang dapat dimanfaatkan dengan mengolahnya menjadi pangan

  18. Sekam Padi untuk Menyerap Ion Logam Tembaga dan Timbal dalam Air Limbah

    OpenAIRE

    Nurhasni Nurhasni; Hendrawati Hendrawati; Nubzah Saniyyah

    2017-01-01

    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan sekam padi sebagai penyerap ion logam tembaga dan timbal dalam air limbah telah dilakukan. Metode yang digunakan adalah metode statis (batch). Penentuan kondisi optimum meliputi massa adsorben, pH, konsentrasi adsorbat dan lama pemanasan. Hasil analisis menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) menunjukkan efisiensi penyerapan tertinggi pada air limbah multikomponen mencapai 99.38% untuk ion logam Pb. Analisis air limbah laboratorium ...

  19. Sampel Susu Formula dan Praktik Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tuti Nuraini

    2013-07-01

    Full Text Available Cakupan pemberian air susu ibu (ASI eksklusif di Kota Pagar Alam, tahun 2011 sekitar 43% tergolong rendah. Sebaliknya, pemberian susu formula meningkat tiga kali lipat dari 10,3% menjadi 32,5%. Iklan susu formula telah menyentuh bidan swasta dan puskesmas melalui pendekatan produsen susu formula dan pemberian susu formula secara gratis kepada ibu menyusui. Penelitian yang bertujuan mengetahui determinan kegagalan praktik pemberiaan ASI eksklusif di Kota Pagar Alam Provinsi Sumatera Selatan ini menggunakan desain studi unmatching kasus kontrol. Populasi adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi berusia 7 _ 12 bulan. Penarikan sampel dilakukan dengan metode proportional random sampling. Variabel terikat praktik adalah pemberian ASI eksklusif, variabel bebas adalah pemberian sampel susu formula. Ibu yang mendapat sampel susu formula dan yang tidak mendapat dukungan tenaga kesehatan berisiko 3,67 dan 4,2 kali lebih besar untuk tidak memberikan ASI eksklusif. The coverage of exclusive breastfeeding in the City of Pagar Alam in 2011 was by 43%. Advertising of infant formula has reached privately practicing midwives or health centers. The approach from infant formula manufacturers to midwives in health centers is by providing free milk formula to nursing mothers to be distributed under the pretext of promotion. The objective of this study is to analyze the determinants of exclusive breastfeeding practice failures in the City of Pagar Alam of South Sumatra Province. The population study with an unmatched case-control design was conducted in the City of Pagar Alam. The population was all breastfeeding mothers who had babies in the city of Pagar Alam of South Sumatra Province. The research subjects are breastfeeding mothers who had babies aged 7 - 12 months who selected with proportional random sampling method. The variables of the study included the dependent variable, i.e, the practice of exclusive breastfeeding, the independent variable, i.e, promotion of

  20. PENGARUH KONSENTRASI MALTODEKSTRIN TERHADAP KADAR AIR DAN WAKTU MELARUTNYA SANTAN KELAPA BUBUK (COCONUT MILK POWDER DALAM AIR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Helmi Rizki Hayati

    2015-01-01

    Full Text Available Kelapa (Cocos nucifera L. merupakan tanaman yang banyak dikenal di Indonesia. Sangat banyak manfaat yang didapat dari bagian-bagian tanaman kelapa. Bagian buah jika diekstrak dan ditambahkan air akan menghasilkan santan. Santan dapat dikeringkan menggunakan pengering semprot (spray dryer menghasilkan santan kelapa bubuk (Coconut Milk Powder. Santan kelapa bubuk dapat digunakan untuk keperluan pangan misalnya sebagai bahan tambahan pada pembuatan kue, creamer pada minuman dan manfaat pada produk-produk non pangan, misalnya digunakan pada formulasi produk kesehatan, yaitu sebagai penjaga kelembaban kulit, dan perawatan untuk tubuh. Tujuan dari penelitian ini  adalah  mempelajari pengaruh konsentrasi maltodekstrin terhadap kadar air dan waktu melarutnya santan kelapa bubuk dalam air. Variasi komposisi  maltodekstrin (w/w yang digunakan terdiri dari 2%, 4%, 6%, 8%, 10% pada temperatur pengeringan inlet spray dryer 1500C. Metode pembuatan santan kelapa bubuk dilakukan dengan cara memisahkan skim dan krim dari santan kelapa, kemudian skim yang diperoleh ditambahkan maltodekstrin dengan berbagai variasi komposisi dan ditambahkan natrium kaseinat 3% (w/w kemudian diaduk agar homogen. Selanjutnya dilakukan pengeringan di dalam spray dryer pada temperatur 1500C. Pengujian sifat fisik santan kelapa bubuk yang dihasilkan meliputi kadar air dan waktu melarutnya dalam air.  Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar air paling baik untuk standar produk bubuk yaitu pada konsentarsi maltodekstrin 6% (w/w dengan persamaan regresi hubungan konsentrasi maltodekstrin (x dan kadar air (y mengikuti persamaan y = -0,0738x2 + 0,7255x + 6,154, R2=0,8556. Waktu melarutnya santan kelapa bubuk tercepat yaitu pada sampel dengan konsentrasi maltodekstrin (w/w 4%, yaitu selama 283 detik dengan persamaan regresi y = 6,0179x2 – 61,664x + 437,6, R2=0,8715.

  1. PENURUNAN KADAR MANGAN (Mn) DALAM AIR MENGGUNAKAN MEDIA MANGANESE GREENSAND DAN ZEOLIT TERPADUKAN RESIN

    OpenAIRE

    QASWAINI, ARNIA

    2017-01-01

    Kadar logam yang terlarut dalam air sumur salah satunya adalah logam Mangan (Mn). Terlarutnya kadar mangan dalam air menyebabkan warna air tersebut berubah menjadi kuning coklat setelah terjadi kontak dengan udara. Diperlukan teknologi untuk menurunkan kandungan mangan pada air sumur agar layak dikonsumsi oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan (1) untuk menganalisis efektivitas media filtrasi manganese greensand dan zeolit terpadukan resin terhadap penurunan kadar Mangan (Mn) dalam air. (2...

  2. PERANCANGAN DAN PEMBUATAB ALAT UKUR KADAR KROM DALAM AIR DENGAN MENGGUNAKAN PRINSIP SPEKTROSKOPI SERAPAN ATOM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tin Yunis Mahfudloh, Mohammad Tirono

    2012-04-01

    Full Text Available Air adalah bahan yang berperan penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Air steril dengan kandungan mineral yang cukup dan tidak terpolusi dapat berperan sebagai cairan yang menata keseimbangan tubuh. Apabila air yang dikosumsi manusia telah tercemar oleh sampah dan limbah industri yang mengandung zat-zat kimia/logam berat yang bersifat racun akan berbahaya Seperti kromium/krom dengan kode kimiawi Cr. Penelitian dilakukan untuk membuat alat ukur kadar krom dalam air dengan metode absorpsi dengan instrumen fotometri. Alat ukur kadar krom dalam air menggunakan prinsip spektroskopi serapan atom terdiri dari 2 sistem, yaitu sistem optik dan sistem elektronik. Sistem optik terdiri dari lampu halogen, filter cahaya dengan panjang gelombang 520.4, kuvet dan sensor photodioda. Sedangkan sistem elektronik terdiri dari ADC 0804, MCU AT89S51 dan LCD.  Prinsip keja alat ini adalah cahaya polikromatis yang dipancarkan oleh lampu halogen akan melewati filter sehingga cahaya polikromatis akan bersifat monokromatis. Cahaya akan melewati air dengan kadar krom 0% untuk mereset reagen dan pelarut kemudian dideteksi oleh sensor sehingga menghasilkan data I0. Setelah dideteksi air  akan bergeser ke atas dan sensor bergeser kebelakang untuk mendeteksi sampel yang mempunyai kadar krom tertentu dan menghasilkan data I1. Di dalam sampel ini terjadi penyerapan intensitas cahaya oleh atom krom. Kemudian data I0 dan I1 akan diolah oleh MCU AT89S51 dan ditampilkan pada LCD. Sampel yang digunakan adalah larutan H2O dengan K2Cr2O7 sebanyak 10 sampel dengan variasi kadar 0%, 1%, 1.5%, 2%, 2.5%, 3%, 3.5%, 4%, 4.5%, dan 5%. Larutan krom diperoleh dengan cara mengencerkan 10gr K2Cr2O7 dalam 100ml H2O sehingga didapatkan K2Cr2O7 10% sebagai larutan stok, selanjutnya untuk mendapatkan K2Cr2O7 dengan kadar tertentu, maka diambil dari larutan stok kemudian diencerkan sampai volume 25 ml sesuai dengan rumus M1 V1 =M 2 V2 Hasil pegujian pada sistem elektronik menunjukkan

  3. Optimasi Rasio Air dan Bahan Yang ditambahkan pada Pembuatan Pupuk Organik Granul dari Tepung Rumput Laut Sargassum sp.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Putri Wullandari

    2017-06-01

    Full Text Available Telah dilakukan pembuatan pupuk organik granul dari tepung rumput laut Sargassum sp. dengan menggunakan granulator hasil rancang bangun Loka Penelitian dan Pengembangan Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasio air dan bahan yang tepat dalam proses pembuatan pupuk granul sehingga menghasilkan rendemen pupuk organik granul tertinggi dan mengetahui kualitas pupuk yang dihasilkan. Metode granulasi yang digunakan yaitu metode granulasi basah (wet granulation. Bahan yang digunakan yaitu tepung rumput laut Sargassum sp., kapur pertanian, dan air. Variasi rasio air dengan bahan (tepung rumput laut Sargassum sp. dan kapur pertanian yaitu 10:30, 11:30, 12:30, dan 13:30 (ml air/g bahan. Pupuk organik granul dengan rendemen tertinggi yang terpilih kemudian dianalisa kandungan hara makro, C organik, kadar air, kadar hara mikro, dan logam berat. Sebagai pembanding digunakan pupuk organik komersial. Rendemen pupuk organik granul yang sudah diayak menunjukkan nilai tertinggi sebesar 26,43% pada rasio air : bahan sebesar 12:30. Kadar C organik pupuk organik granul terpilih dan pupuk organik granul komersial berturut-turut adalah 15,1% dan 20,2% dengan rasio C/N berturut-turut adalah 18,41% dan 3,10%. Kadar air pupuk organik granul terpilih dan pupuk organik granul komersial berturut-turut adalah 19,47% dan 13,79%. Kadar timbal (Pb pupuk organik granul terpilih dan pupuk organik granul komersial berturut-turut adalah kurang dari 0,04 ppm, dan 6,20 ppm sedangkan kadar Fe total pupuk organik granul terpilih dan pupuk organik komersial berturut-turut adalah 8.031 ppm dan 5.316 ppm.

  4. PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA AIR UNTUK IRIGASI DI KABUPATEN SLEMAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hery Listyawati

    2012-07-01

    Full Text Available Supervision and control of utilization of water resources for irrigation in Sleman regency is vital in realizing fair use of water resources. This descriptive-qualitative study finds that preventive-internal supervision has been consistent with those set forth in the working procedures and that repressiveinternal supervision is present in the form of sanctions. The locals enjoy preventive and repressive eksternal supervisionary role, which is manifested in local gatherings and public reporting system. We also find that the government exerts control by licensing, reprimands, advocacy, direction, and conflict resolution mechanisms. Practical problems include the absence of provincial irrigation commission and specific agencies that supervise the enforcement of mediation. Pengawasan dan pengendalian pemanfaatan sumber daya air untuk irigasi di Kabupaten Sleman sangat penting dalam mewujudkan penggunaan sumber daya air yang adil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawasan internal-preventif telah sesuai dengan yang dimandatkan oleh tugas pokok dan fungsi dan bahwa pengawasan internal-represif telah dilaksanakan dalam bentuk sanksi. Masyarakat melakukan pengawasan preventif dan represif dalam bentuk sarasehan/musyawarah dan sistem pelaporan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemerintah mengendalikan penggunaan sumber daya air dengan menyelenggarakan sistem perizinan, teguran, pembinaan, dan penyelesaian sengketa. Beberapa masalah yang ditemukan di lapangan antara lain adalah tidak adanya komisi irigasi provinsi dan lembaga pengawas khusus yang mengawasi pelaksanaan putusan mediasi.  

  5. Dampak Penggunaan "Slow Released Rhodifused - Iod" Untuk Iodisasi Air Tanah Terhadap Kandungan Iodium Air Minum, Urine Anak Sekolah Dan Ibu Hamil

    OpenAIRE

    Rosmalina, Yuniar; Murdiana, Ance; Moecherdiyantiningsih, Moecherdiyantiningsih; Permaesih, Dewi; Muhilal, Muhilal

    1994-01-01

    Telah dilakukan penelitian mengenai iodisasi air menggunakan sistim Rhodifused-Iod yang dilakukan di desa Cigadog, kabupaten Garut Subyek penelitian adalah anak sekolah dasar, 100 anak di daerah perlakuan dan 100 anak di daerah kontrol. Diperoleh 30 ibu hamil sebagai subyek penelitian di  daerah perlakuan dan 16 ibu hamil di daerah kontrol. Bahan yang digunakan untuk iodisasi air ialah Polymer Silikon Rhodifuse Iod yang diletakkan di dalam sumber air minum (mata air) yang kemudian air tersebu...

  6. Evaluasi Potensi Airtanah Bebas untuk Penyediaan Air di Kalasan dan Prambanan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dina Asrifah

    2016-10-01

    Full Text Available ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah 1 mengkaji ketersediaan, kualitas dan pola pemanfaatan airtanah bebas untuk kebutuhan air bersih, serta 2 mengevaluasi kondisi dan tingkat kekrilisan airtanah bebas untuk penyediaan air bersih di Kecamatan Kalasan dan Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Penelitian dilakukan dengan pendekatan penelitian deskriptif dengan cara penelitian survei (lapangan, pengambilan data dan sampel, serta analisis laboratorium. Pengumpulan data primer dengan observasi, quesioner, analisis laboratorium. Penelitian lapangan dengan teknik sampling yaitu 1purposive sampling untuk sumur gali dan sampel kualitas airtanah dan 2 randomsampling untuk wawancara. Analisis data secara matematis, kualitatif, skoring, dan spasial. Daerah penelitian terdiri atas 3 jenis sistem Akuifer, yaitu : a. Sistem Akuifer Merapi dengan potensi airtanah bebas sangat tinggi dan tinggi, dan kualilas tercemar ringan - baik; b. Sistem Akuifer Dataran Bokoharjo dengan potensi airtanah bebas tinggi - sedang, dan kualilas tercemar ringan - baik; c. Sistem Akuifer Perbukitan Bokoharjo dengan potensi airtanah bebas sangat rendah, dan kualitas tercemar ringan. Jenis sistem akuifer di daerah penelitian berpengaruh terhadap ketesediaan dan pola penggunaan, akan tetapi tidak berpengaruh pada kualitas airtanah bebas. Kualilas airtanah bebas dipengaruhi oleh kondisi sanitasi lingkungan dan aktivitas manusia. Pada tahun 2020, Kecamatan Prambanan sudah mengalami kekritisan air bersih. ABSTRACT This research aims at assessing the avialability, quality and usage of unconfined groundwater, evaluating the conditions and the critical level of unconfined groundwater for water availability in those areas. n", study was conducted by descriptive approach by means of survey research (in field, dahl and sample collection, and laboratory analysis. The primary data were collected through observation, quesioner, laboratory analysis, field research by sampling techniques are 1

  7. KEBUTUHAN AIR, EFISIENSI PENGGUNAAN AIR DAN KETAHANAN KEKERINGAN KULTIVAR KEDELAI (Water Use, Water Use Efficiency and Drought Tolerance of Soybean Cultivars

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Suryanti

    2015-05-01

    gram/mm. Kultivar Sibayak, Tanggamus, Anjasmoro, Wilis, Garut, Gepak Kuning, Sinabung, dan Seulawah merupakan kultivar yang tidak tahan terhadap cekaman kekeringan dengan kebutuhan air antara  5,37 sampai 5,95 mm dan efisiensi penggunaan air antara  3,49 sampai 5,60 gram/mm. Kata kunci: Kebutuhan air, efisiensi penggunaan air, ketahanan kekeringan, kultivar kedelai

  8. Studi Perbandingan Proses Pengelasan Smaw Pada Lingkungan Darat dan Bawah Air Terhadap Ketahanan Uji Bending Weld Joint Material A36

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Safira Dwi Anggraeni

    2017-01-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan nilai kekuatan uji bending,  dan kekerasan pada sambungan weld joint plat baja A36 pada proses pengelasan SMAW di lingkungan darat dan bawah air. Penelitian ini menggunakan Baja A36 dengan variasi lingkungan pengelasan yakni di darat dan di bawah air dengan menggunakan las SMAW dan memakai elektroda E7018 diameter 3,2 mm. Spesimen dilakukan pengujian bending berupa face bend dan root bend, pengujian kekerasan dan foto mikro. Pada pengujian bending pengelasan di darat tidak menghasilkan cacat yang berarti, sedangkan untuk hasil pengujian bending face dan root pada pengelasan bawah air terdapat cacat sepanjang daerah lasan sebesar 38 mm, hal ini tidak dapat diterima karena ukuran cacat lebih besar dari persyaratan yang ada pada ASME Section IX edisi 2015. Pada pengujian kekerasan, nilai kekerasan tertinggi pada pengelasan di darat adalah 200,5 HVN sedangkan nilai kekerasan teritinggi pada pengelasan bawah air adalah 290,2 HVN. Hasil pengujian kekerasan tertinggi pada pengelasan bawah air lebih rendah dari persyaratan AWS D3.6M – Underwater Welding Code, sehinga nilai kekerasan memenuhi persyaratan standar. Hasil foto mikro pada pengelasan di darat pada daerah base metal, persentase struktur mikro untuk ferit adalah 75,44% dan perlit adalah 24,56%. Pada daerah HAZ, persentase struktur mikro untuk ferit adalah 70,11% dan perlit adalah 28,89%. Pada daerah weld metal, persentase struktur mikro untuk ferit adalah 61,11% dan perlit adalah 38,89%. Sedangkan untuk hasil foto mikro pada pengelasan di bawah air pada daerah base metal, persentase struktur mikro untuk ferit adalah 74,89% dan perlit adalah 25,11%. Pada daerah HAZ, persentase struktur mikro untuk martensit adalah 46,11%,   struktur mikro ferit adalah 18,22% dan struktur mikro perlit adalah 35,67%. Pada daerah weld metal, persentase struktur mikro untuk ferit adalah 48,9% dan struktur mikro perlit adalah 51,1%. 

  9. HUBUNGAN ASUPAN SERAT MAKANAN DAN AIR DENGAN POLA DEFEKASI ANAK SEKOLAH DASAR DI KOTA BOGOR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Elyzzabeth Mayorga Ambarita

    2014-08-01

    Full Text Available ABSTRACTThe study aimed to analyze correlation between dietary fiber and water intake with defecation pattern among elementary school students. A Cross-sectional design was used in this study. Subjects were 527 students of V and VI grades. The results showed that the mean of fiber and water intake of students was categorized as low. The average dietary fiber intake was 12.4 g/d. The average water intake was 1 086 ml. The average frequency of bowel movements was six times/week with the consistency of the stool according to Bristol Stools Chart categories was normal (type 4. Based on correlation test, there was significant correlation between fiber intake with stool frequency and consistency of stool (p<0.05. However, there was no significant correlation between fiber intake with painfulness during defecation, water intake with stool frequency, consistency of stool, painfulness during defecation, and constipation (p>0.05.Keywords: constipation, defecation pattern, fiber intake, stool frequency, water intakeABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan serat makanan dan air dengan pola defekasi pada siswa sekolah dasar di Kota Bogor. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V dan VI sebanyak 527 siswa. Hasil menunjukkan rata-rata asupan serat dan air subjek masih kurang. Rata-rata asupan serat subjek yaitu 12.4 g/hari. Rata-rata asupan air subjek adalah 1 086 ml/hari. Rata-rata frekuensi BAB sebanyak 6 kali/minggu dengan mayoritas konsistensi feses menurut Bristol Stool Chart termasuk kategori normal (tipe 4. Terdapat hubungan yang signifikan antara asupan serat dengan frekuensi BAB dan konsistensi feses (p<0.05. Tetapi, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan serat dengan rasa nyeri ketika BAB dan keluhan konstipasi, asupan air dengan frekuensi BAB, konsistensi feses, rasa nyeri ketika BAB dan keluhan konstipasi (p>0.05.Kata kunci: asupan air, asupan

  10. Analisa Hubungan Saturasi Air terhadap Fungsi Sigma (F) untuk Mengkarakterisasi Batuan Sedimen Dangkal di Kawasan Musi II dan Lingkar Barat Pelambang

    OpenAIRE

    Sailah, Siti; Sutopo, Sutopo

    2008-01-01

    Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan dan menganalisa hubungan antara kecepatan gelombang seismik, porositas air dan kejenuhan dan juga fungsi sigma untuk mengkarakterisasikan batuan sedimen dangkal. Metoda penelitian digunakan untuk membelokkan gelombang yang dicatat di permukaan bergantung pada porositai dan kejenuhan air yang dilakukan dengan mengambil contoh pada batuan di setiap tempat dan kemudian proses analisa dilakkan di labolatorium. Prosesing data menghasilkan bahwa pada Sun...

  11. PENGARUH VISKOSITAS DAN LAJU ALIR TERHADAP HIDRODINAMIKA DAN PERPINDAHAN MASSA DALAM PROSES PRODUKSI ASAM SITRAT DENGAN BIOREAKTOR AIR-LIFT DAN KAPANG Aspergilus Niger

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Kristinah Haryani

    2012-04-01

    Full Text Available  EFFECT OF VISCOSITY AND FLOW RATE ON THE HYDRODYNAMICS AND MASS TRANSFER ON CITRIC ACID PRODUCTION USING Aspergilus Niger YEAST IN AN AIR-LIFT BIOREACTOR. Citric acid is an important organic acid that has many advantages used in foods, drinks, pharmaceuticals industries. Waste of pine apple (covers and core of the fruit still have high contents of glucose and sucrose components, that these are potentially used as basic material for making citric acid by means of fermentation using Aspergillus niger. The reactor to do so is a reactor air-lift external loop with 88 cm in height, 45.41 cm2 in riser area, and 2.01 cm2 in downcomer area. This research is intended to study the influence of volumetric flow and viscosity upon mass transfer in the fermentation process of citric. The variable factors are concentration of total sugar (5 to 25% and of volumetric flow of gas 9.4 to 23.3 cc/second. A dynamic method used to measure of the constants transfer  of gas-fluid mass where oxygen concentration soluted is measured every 30 second using DO meter device. Result of this research shows that the increase of viscosity causes the decrease of hold up gas and fluid circulation speed of the fluid, and the decrease of the constants of mass transfer. The increase of air speed flow will cause the increase of hold up gas and fluid circulation speed, and constants of mass transfer. Relation of the constraints of mass transfer to volumetric flow and viscosity is formulated as follow    Asam sitrat adalah asam organik penting yang sangat banyak kegunaannya seperti untuk industri makanan, minuman, farmasi, dan sebagainya. Limbah nanas (kulit dan bonggol masih mengandung kadar glukosa dan sukrosa yang cukup tinggi, sehingga sangat potensial sebagai bahan baku pembuatan asam sitrat dengan cara fermentasi bantuan kapang Aspergillus niger. Reaktor yang digunakan adalah reactor air-lift external loop. Reaktor yang digunakan berdimensi tinggi 88 cm, luas daerah riser 46

  12. Effects of Uranium Oxides on Some of the Algae Native to Eglin Air Force Base, Florida.

    Science.gov (United States)

    1982-06-01

    ident- ified and verified by comparison with type specimens in the Herbarium of the Academy of Natural Sciences in Philadelphia (Table 2). Twenty-three...AFATL-TR-82-40 4. TITLE (and Subtitle) TYPE OF REPORT & PERIOD COVEREDFinal Report: EFFECTS OF URANIUM OXIDES ON SOME OF THE ALGAE February 1977...temperatures, with special reference to sandstone- type uranium deposits; Econ. Geol., v. 57, pp. 137-167. Krauskopf, K. B., 1967; Introduction to Geochemistry

  13. KORELASI PADAT TEBAR DAN DEBIT AIR DALAM TEKNIK PENDEDERAN BENIH UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii SECARA INTENSIF

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wartono Hadie

    2008-12-01

    Full Text Available Riset ini dilaksanakan untuk mengetahui korelasi antara padat tebar dan debit air dalam teknik pendederan udang galah. Riset dilakukan dengan menggunakan bak ukuran 4 m x 2 m x 0,75 m yang mempunyai sistem air mengalir. Perlakuan yang diaplikasikan adalah padat tebar dalam tiga tingkatan yaitu 250, 500, dan 750 ekor/m2 yang dikombinasikan dengan tiga tingkat debit air yaitu 0,010; 0,020; dan 0,030 liter/detik/m2. Setiap perlakuan dilakukan dengan 3 ulangan. Udang galah dalam penelitian ini adalah PL-44 dengan ukuran 0,04 g. Pendederan udang galah dilaksanakan selama 40 hari. Hasil riset menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara variabel padat tebar dan debit air. Variabel debit air memberikan kontribusi sebesar 57% dan variabel padat tebar mempunyai kontribusi 18% dalam mendukung sintasan benih udang galah. Hasil terbaik dicapai oleh perlakuan padat tebar 500 ekor/m2 dan debit air 0,030 liter/detik/m2 dengan laju pertumbuhan harian udang mencapai rata-rata 2,84% dan sintasan sebesar 89,6% selama 40 hari masa pemeliharaan. The research aim was to evaluate the correlation between fry density and water flow rate in the nursery of giant prawn. The experiment was conducted in concrete tanks. The treatment consisted of three levels, 250, 500, and 750 fry/m2 and combination of three levels of water flow, i.e. 0.010, 0.020, and 0.030 litre/second/m2. Three replications were used in each treatments. The prawn fry were PL-14 with 0.04 g of average weight. The research was conducted for 40 days of post-larvae rearing. Result of this experiment showed that there was interaction between density and water flow. The data analysis indicated that there were 57% contribution of water flow and 18% of fry density to survival rate of giant prawn. The best result was showed by the density of 500 fry/m2 and water flow of 0.030 litre/second/m2. The specimen have specific growth rate of 2.84% and survival rate of 89.6% for 40 days of rearing.

  14. IMPLEMENTASI PENGELOLAAN AIR MINUM RUMAH TANGGA (PAM RT DI JAWA BARAT DAN (NUSA TENGGARA TIMUR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Athena Anwar

    2016-09-01

    Full Text Available Abstract In order to reduce waterborne diseases, the current government and its partners are developing ahousehold water treatment and safety storage (HWTS. This article is part of a study on Development ofAn Evidence-Based Guidelines for Promotion of HWTS which is conducted in three pilot sites: Bandungcity, Bandung district (West Java and Sikka district (East Nusa Tenggara in 2008. The aim of this studywas to find out how the program was implemented and how is the public opinion about the management(processing and storage of drinking water. Data collection was done by interview through a questionnaire.Data source were health officers and partners (qualitative data and the community (quantitative data.Qualitative data processing was performed by the content and the domain method, while quantitative datawas processed through SPSS software. The results show that the government develop the HWTS alongwith its partner: Aman Tirta (Bandung City, Pelita Indonesia (Bandung District, and Dian Desa (SikkaDistrict. Activity of HWTS was done through several stages, such as preparation/dissemination,implementation, monitoring and evaluation. Every partner will have its own way in carrying out the stagesof activity. Not all health officers of district/city states involved in the implementation of the HWTSprogram. It was only Sikka District Health officer that claimed to have fully engaged in the implementationof HWTS in the region. The results of processing and data analysis showed that more than 80% ofrespondents said the HWTS methods were suitable with drinking water treatment for their region. In termsof increasing the water quality, price of materials/tools, and easyness in the water treatment; respondents'opinions very widely.Keywords: HWTS, drinking water, water treatment Abstrak Dalam upaya menurunkan penyakit yang ditularkan melalui air, saat ini pemerintah dan mitrasedang mengembangkan pengelolaan air minum rumah tangga (PAM RT atau household water

  15. LOBSTER AIR TAWAR (Parastacidae: Cherax, ASPEK BIOLOGI, HABITAT, PENYEBARAN, DAN POTENSI PENGEMBANGANNYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Titin Kurniasih

    2008-06-01

    Full Text Available Lobster air tawar (genus Cherax berasal dari Australia, Papua New Guinea, dan Irian Jaya, dengan spesies yang berbeda-beda. Salah satu spesiesnya yang bernilai ekonomis paling tinggi adalah Cherax quadricarinatus (red claw. Habitat Cherax adalah perairan tawar yang dangkal, dengan substrat berlumpur dan banyak terdapat celah serta rongga untuk menyembunyikan diri. Kelebihan terbaiknya adalah teknik budidayanya yang relatif mudah, toleransi terhadap lingkungan cukup tinggi dengan masalah penyakit yang relatif sedikit. Hanya disayangkan hingga saat ini perkembangan kegiatan budidaya Cherax masih sangat terbatas.

  16. Penentuan Kadar Fosfat Dan COD Pada Proses Pengolahan Air Limbah PT. Sinar Oleochemical International (PT.SOCI)

    OpenAIRE

    Rosnida Wati R

    2009-01-01

    Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organis yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses mikrobiologi,dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air. Analisa COD berdasarkan, hampir semua bahan organik dapat dioksidasi menjadi karbondioksida dan air dengan bantuan k2Cr2O7 dalam suasana asam.Dari analisa,kadar COD pada air limbah di PT.SOCI adalah 20 mg/L-38 mg/L.Phosfat adalah salah satu molekul yang ditemukan pada air limbah industri.Pengukuran kad...

  17. DAMPAK PENGGUNAAN "SLOW RELEASED RHODIFUSED - IOD" UNTUK IODISASI AIR TANAH TERHADAP KANDUNGAN IODIUM AIR MINUM, URINE ANAK SEKOLAH DAN IBU HAMIL

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yuniar Rosmalina

    2012-11-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian mengenai iodisasi air menggunakan sistim Rhodifused-Iod yang dilakukan di desa Cigadog, kabupaten Garut Subyek penelitian adalah anak sekolah dasar, 100 anak di daerah perlakuan dan 100 anak di daerah kontrol. Diperoleh 30 ibu hamil sebagai subyek penelitian di  daerah perlakuan dan 16 ibu hamil di daerah kontrol. Bahan yang digunakan untuk iodisasi air ialah Polymer Silikon Rhodifuse Iod yang diletakkan di dalam sumber air minum (mata air yang kemudian air tersebut dialirkan ke masing-masing MC (mandi cuci sebagai sumber air minum. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan kandungan iodium air dari 4-5 ug/l menjadi 17,6-34,6 ug/l. Namun pada 5 bulan setelah iodisasi mulai terjadi penurunan kandungan iodium. Hasil analisis kandungan iodium urin pada anak sekolah menunjukkan prosentase perubahan status iodium urin sebelum dan sesudah iodisasi adalah 45,5% di daerah perlakuan dan 38,6% di daerah kontrol. Sedangkan prosentase perubahan status iodium urin pada ibu hamil sebelum dan sesudah iodisasi adalah 58,6% di daerah perlakuan dan 36,4% di daerah kontrol.

  18. KAJIAN KUALITAS AIR DAN SEDIMEN DASAR SUNGAI KUTAI LAMA-KAB. KUTAI KARTANEGARA SEBAGAI PERTIMBANGAN AWAL RENCANA PENGERUKAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mardi Wibowo

    2017-03-01

    Full Text Available Rona lingkungan awal kualitas air sungai dan sedimen dasar sangat diperlukan sebelum dilakukan pengerukan sebagai bahan untuk memperkirakan dampak lingkungan yang muncul akibat kegiatan pengerukan. Pengambilan sampel air dilakukan dengan mengikuti Standard Method dari APHA-AWWA (1995 dan dianalisis di laboratorium dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Berdasarkan hasil analisis dan kajian ini diketahui bahwa kualitas air sungai di Kutai Lama masih tergolong baik (berdasarkan baku mutu air Kelas I PeraturanPemerintah No. 82 Tahun 2001. Beberapa parameter yang melebihi baku mutu air Kelas I PP No. 82 Tahun 2001 adalah BOD, COD, DO, Besi (Fe, deterjen sebagai MBAS. Khusus untuk kandungan logam berat semuanya masih memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan. Kualitas sedimen dasar: konsentrasi logam mangan (Mn sangat tinggi jika dibandingkan dengan konsentrasi logam-logam lainnya. Konsentrasi logam berat yang ditemukan dalam jumlah besar berikutnya adalah besi (Fe, seng (Zn, tembaga (Cu dan yang terkecil adalah timbal (Pb.Berdasarkan standar baku mutu sedimen yang dibuat oleh United State Environmental Protection Agency (USEPA dan Kementerian Lingkungan Kanada, semua konsentrasi logam-logam berat di daerah kajian termasuk dalam kategori tercemar berat.

  19. KAJIAN KUAT BENDING DAN KADAR AIR PADA KOMPOSIT DARI SEKAM PADI DAN SERAT BAMBU MENGGUNAKAN STATISTIK TAGUCHI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Joko Yunianto Prihatin

    2017-11-01

    Full Text Available Kayu merupakan komoditi utama dalam pembuatan mebel yang berasal dari alam. Dewasa ini penyusutan  hutan  dunia  telah  mengkhawatirkan mencapai  80%.  Sehingga  kebutuhan  oksigen  akan menurun karena tidak sesuai dengan upaya reboisasi. Disisi lain bambu memiliki kelebihan dalam hal masa panen yang lebih cepat berkisar 2–3 tahun. Sedangkan sekam padi adalah limbah yang dihasilkan dari kegiatan pengolahan hasil pertanian yang pemanfaatannya selama ini hanya sebagai bahan pembantu dalam aktifitas produksi, maka nilai ekonomis sekam padi ini sangat rendah. Berdasarkan permasalahan diatas, maka penelitian ini dititik beratkan pada pembuatan komposit anyaman bambu dan sekam padi sebagai pengganti kayu dalam industri mebel. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen statistik taguchi, sehingga meghasilkan nilai kuat bending optimal 35,58N/mm2 dengan kadar air 0,334%. Kondisi optimal tersebut terdiri dari A3B2C2D1 Variasi anyaman Satin, Tekanan hidrolik 60N, Waktu pemanasan sebelum pengecoran pada suhu 105oC adalah 45 menit, dan Komposisi = Resin 100 : Katalis 0,75.

  20. Efektifitas Al2(SO43 dan FeCl3 Dalam Pengolahan Air Menggunakan Gravel Bed Flocculator Ditinjau Dari Parameter Kekeruhan dan Total Coli

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mega Puspitasari

    2014-09-01

    Full Text Available Air permukaan yang ada di bumi ini tidak selamanya dapat dimanfaatkan menjadi air bersih, karena kondisinya masih jauh dari standar kualitas baku mutu air. Air permukaan tersebut masih banyak mengandung zat padat tersuspensi maupun koloid. Pada pengolahan air bersih, proses yang dapat meremoval zat-zat padat tersebut adalah koagulasi dan flokulasi. Pada proses koagulasi dan flokulasi dilakukan penambahan koagulan yang berfungsi untuk membentuk flok yang kemudian diendapkan. Gravel Bed Flocculator adalah salah satu alat flokulasi yang menggunakan pengadukan secara hidrolis. Pengadukan hidrolis adalah pengadukan dengan memanfaatkan gerakan air sebagai energi pengaduk seperti energi gesek media butiran. Keuntungan dari gravel bed flocculator adalah mampu mengendapkan flok dalam waktu singkat berkisar 3-5 menit yang setara dengan waktu 15 menit uji jar test atau sekitar 25 menit waktu proses flokulasi yang berlangsung secara konvensional. Pada penelitian ini menggunakan 2 variabel yaitu variasi jenis koagulan (Al2(SO43 dan FeCl3 dan variasi waktu tinggal (waktu tinggal 3 menit dan waktu tinggal 4 menit dengan jenis aliran pada penelitian ini adalah aliran upflow. Hasil penelitian menunjukan efektifitas removal tertinggi pada koagulan Al2(SO43 terhadap parameter kekeruhan terjadi pada waktu tinggal 4 menit yaitu sebesar 93,28% sedangkan untuk koagulan FeCl3 terjadi pada waktu tinggal 4 menit juga yaitu sebesar 93,50% dan efektifitas removal tertinggi pada koagulan Al2(SO43 terhadap parameter coliform terjadi pada waktu tinggal 4 menit yaitu sebesar 99,74% sedangakan untuk koagulan FeCl3 terjadi pada waktu tinggal 4 menit juga yaitu sebesar 99,99%.

  1. EFEKTIVITAS KRIM EKSTRAK METANOL BATANG DAN DAUN PACAR AIR (Impatiens balsamina L. TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wendy Wendy

    2017-03-01

    Full Text Available Colonization of Propionibacterium acnes is one of factors that causes acne vulgaris. The present study was conducted to evaluate antiacne effect from cream of methanolic extract from stems and leaves of Impatiens balsamina L. towards Propionibacterium acnes, concentration that gives greatest antiacne effect and to evaluate physical and chemical properties of creams. Simplicia were extracted using soxhlet technique and methanol as solvent. Extract then formulated in cream in three variations of concentration as following 10%(F1, 15%(F2 and 20%(F3. The determination of antiacne effect was done using disc diffusion method. Evaluation of physical and chemical properties of those creams includes organoleptic examination, spreadability, adhesion and pH testing. Determination results showed the diameter of inhibition zone from F1, F2 and F3 were 8,37±2,205; 10,78±2,551; and 17,42±3,029 mm respectively. Analysis results showed that cream of F3 gave significantly greatest antiacne effect compared to F1 and F2 (p0,05. The evaluation of creams showed that they had homogenous texture, nongreasy, easily washed, spreadability of 10,18±0,285 to 11,55±0,687 cm2, adhesion force of 33,299±2,821 to 60±0 minutes, and pH of 6,07±0,058 to 6,37±0,115, this showed that creams have good physical and chemical properties. Keywords: Antiacne, Impatiens balsamina L. stems and leaves extract, Propionibacterium acnes   ABSTRAK Kolonisasi bakteri Propionibacterium acnes merupakan salah satu penyebab terjadinya jerawat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek antijerawat krim ekstrak metanol batang dan daun pacar air (Impatiens balsamina L. terhadap bakteri Propionibacterium acnes, mengetahui konsentrasi krim yang memberikan efek antijerawat yang paling besar serta mengevaluasi sifat fisik dan kimia krim. Simplisia disokletasi menggunakan pelarut metanol. Ekstrak diformulasikan ke dalam sediaan krim dengan variasi konsentrasi ekstrak yaitu 10%(F1, 15%(F2 dan 20

  2. Analisis Kewajaran dan Penerimaan Harga Tiket Penerbangan Lion Air

    OpenAIRE

    Dwi Hastjarja KB, Wiyono &

    2012-01-01

    The purpose of research: 1) To know Price Fairness of influence to Customer Satisfaction; 2) To know the role of customer satisfaction and price fairness of the effect to customer loyalty; 3) To know the role of customer satisfaction and customer loyalty of the mediating of the effect price fairness to price acceptance. Data was obtained 150 customer Lion Air in Surakarta. The data was analyzed by Structural Equation Modelling (SEM), The result is: 1) Price fairness is positive significantly ...

  3. Formation and evolution of aerosols in filtered air and in natural air. Effect of radioactivity; Formation et evolution des aerosols dans l'air filtre et dans l'air naturel action de la radioactivite

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Madelaine, G.J. [Commissariat a l' Energie Atomique, 92 - Fontenay-aux-Roses (France). Centre d' Etudes Nucleaires

    1968-06-01

    Results are presented concerning the formation, the evolution, the coagulation and the electrical charge of aerosols which form in natural filtered air containing only gaseous impurities, under the influence of solar light (photolysis) and of radioactive disintegrations (radiolysis). The modifications brought about in the aerosol by an increase in the sulphur dioxide content and in the natural radioactive gas content are studied. The work is then repeated with non-filtered natural atmospheric air. A comparison is also made of the behaviour of non-radioactive and radioactive particles (active thoron deposit). In conclusion, the possible consequences of these phenomena on the origin and the size distribution of particles occurring in the atmosphere is considered. (author) [French] On expose les resultats obtenus sur la formation, l'evolution, la coagulation et la charge electrique des aerosols qui se forment dans l'air naturel filtre, ne contenant que des impuretes gazeuses, sous l'influence de la lumiere solaire (photolyse) et des desintegrations radioactives (radiolyse). On examine les modifications apportees a l'aerosol forme par l'augmentation de la teneur de l'air en anhydride sulfureux et en gaz radioactif naturel. Cette etude est ensuite reprise mais avec de l'air naturel atmospherique non filtre. On compare egalement le comportement des particules non radioactives et radioactives (depot actif du thoron). En conclusion, on examine les consequences que peuvent avoir ces phenomenes sur l'origine et la granulometrie des particules contenues dans l'atmosphere. (auteur)

  4. PENGARUH KEDALAMAN AIR TERHADAP SHORT TERM MEMORY DAN KONSUMSI ENERGI PADA PENYELAM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rini Dharmastiti

    2012-02-01

    Full Text Available Penelitian ini akan melihat pengaruh kedalaman air terhadap short term memory dan konsumsi energi penyelam. Penelitian ini mengambil sampel 10 mahasiswa pria dan 5 wanita. Pengukuran performansi short term memory dilakukan dengan cara setiap obyek diperlihatkan deretan 7 angka acak yang diberikan selama 5 detik dan setelah 15 detik kemudian dilakukan pemanggilan kembali informasi yang baru saja diberikan. Setiap obyek diuji sebangak 30 kali untuk setiap kedalaman (1 m; 2,5 m; dan 4 m. Pengukuran konsumsi energi dilakukan dengan menghitung denyut jantung menggunakan metode palpasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin meningkat kedalaman air, maka performasi short term memory penyelam tersebut semakin menurun.  Penurunan ini berlaku untuk pria dan wanita. Penambahan kedalaman ini juga meningkatkan konsumsi energi baik pada pria maupun wanita. Perbedaan jenis kelamin mempengaruhi performansi short term memory secara signifikan. Pria memiliki performansi rata-rata short term memory sebesar 91,67% pada kedalaman 1 m, 90,67% pada kedalaman 2,5 m, dan 86,33% pada kedalaman 4 m. Sedangkan wanita memiliki performansi rata-rata sebesar 86% pada kedalaman 1 m, 84% pada kedalaman 2,5 m, dan 80,67% pada kedalaman 4 m. Rata-rata konsumsi energi pria adalah 3,19 kkal, 3,34 kkal, dan 3,65 kkal pada kedalaman 1 m; 2,5 m; dan 4 m berturut-turut. Sedangkan rata-rata konsumsi energi wanita adalah 3,81 kkal, 4,07 kkal, dan 4,54 kkal pada kedalaman yang sama dengan pria.     Kata kunci : tekanan, kedalaman air, performansi short term memory, konsumsi energi.       This research is to observe water depth effects on short term memory and energy expenditure of diver. This research objects are 10 male and 5 female students. Short term memory performance measurement held by every object has been shown 7 random numerics (as information for 5 seconds and after 15 seconds later they write down the information on a paper. Every object got 30 tests for every

  5. PENDUGAAN EROSI DAN PERENCANAAN KONSERVASI TANAH DAN AIR PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI OTAN KABUPATEN TABANAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    TATIEK KUSMAWATI

    2012-11-01

    Full Text Available Erosion Prediction and Planning of Soil Water Conservation at Otan Watershed, Tabanan Regency The aims of this research was to predict the erosion and planning of soil and water conservation when the erosion is more than tolerable erosion. The USLE (Universal Soil Loss Equation was used to predict erosion and planning of soil and water conservation. The result showed that the erosion level in this area was varied from very slight to very severe. The lowest erosion was on land unit 11 and 12 which were on the forest land. Slight erosion occurred on land units 2, 3, 4, 5, 10, 13, 18, 20, 22, 23, 25, 26, 28, 31, 32, 33, 34, 36, 37, 40, 41, and 43 on the use of forest land, irrigated fields, and mix crop land. Moderate erosion can be found at cocoa plantations, coffee plantations, scrub and dry land (land unit 1, 8, 16, 30, 38, dan 45. Severe and very severe erosion occurs at mixed crop land, coffee plantations, mixed crop and dry land (land unit 35 and 6, 7, 9, 14, 15, 17, 19, 21, 24, 27, 29, 39, 42, and 44 . The planning of soil and water conservation was focused on the very severe erosion by doing for some plant growing storied canopies, very high density, and constructed terrace for land unit of 6, 7, 14, 15 ,19, 21, 27, and, 29. While at land unit, 9, 17, 24, and 35 was purposed mixed estate crop with high density, it was combinated with mulch of 1 ton/ha and in land unit 39 were for traditional terrace with gogo rice and corn plant in rotation plantation.

  6. HUBUNGAN JARAK DAN KUALITAS FISIK SUMUR TERHADAP JUMLAH KOLIFORM TINJA DAN KADAR ZAT ORGANIK AIR SUMUR SEKITAR PETERNAKAN BABI DAN INDUSTRI TAHU DI DESA NGESTIHARJO KECAMATAN KASIHAN KABUPATEN BANTUL (The Relationship between Distance and Physical

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Mukti Suhardini

    2005-07-01

    Full Text Available ABSTRAK Penelitian ini mengamati korelasi jarak dan kualitas fisik sumur terhadap jumlah koliform tinjad dan kadar zat organik air sumur sekitar peternakan babi dan industri tahu. Penelitian ini menerapkan cross sectoral design variabel independen meliputi jarak dan kualitas fisik sumur, sedangkan variabel dependen adalah jumlah koliform tinja dan kadar zat organik di dalam air sumur. Sampel air diteliti di laboratorium dengan menggunakan metode multiple tube. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1 ditemukan korelasi yang sangat signifikan antara kualitas fisik sumur dan jumlah koliform tinja di sekitar peternakan babi, (2 terkait dengan jarak dan kualitas fisik sumur di sekitar peternakan babi, tidak ada korelasi yang signifikan dengan kadar zat organik dan (3 tidak ada korelasi antara jarak dan kualitas fisik sumur terhadap kadar zat organik di sekitar industri tahu.   ABSTRACT The purpose of the study was observe the correlation between distance and Physical Quality of Wells to the number of fecal coliforms and content of organic matter of wells water around the pig husbandry, and around tofu industry. The study applied a cross sectional design. Independent variables were the number of fecal coliforms and content of organic matters of wells water. They were examined in the laboratory by means of a multiple tube method for the content of organic matter of wells water. The result of the research indicated (1 there was found a very significant correlation between well physics quality and the number of fecal coliforms around the pig husbandry; (2 regarding both distance and well physics quality around the pig husbandry there was no significant correlation with the content of organic matter; and (3 there was no correlation between the distance and the well physics quality to the content of organic matter of wells water around the tofu industry.

  7. Pengaruh Perlakuan Pemecahan Dinding Sel Botryococcus braunii dan Nannochloropsis Menggunakan Microwave dan Sonikator terhadap Minyak yang Dihasilkan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Amini

    2014-06-01

    Full Text Available Penelitian pengaruh pemecahan dinding sel Botryococcus braunii dan Nannochloropsis menggunakan microwave dan sonikator terhadap jumlah minyak yang dihasilkan telah dilakukan di Laboratorium BBP4BKP, Slipi, Jakarta. Botryococcus braunii dan Nannochloropsis telah dikultur di dalam bak fiber ukuran 1000 liter berisi air laut, diaerasi terus menerus dan diberi cahaya sinar matahari. Conwy media ditambahkan ke dalam media air laut sebagai nutrisi suplemen pada kultur. Biomassa Botryococcus braunii dan Nannochloropsis dipanen pada umur 4 hari, lalu dipecah dinding selnya menggunakan microwave dengan frekuensi 2540 MHz dan sonikator dengan frekuensi 20 KHz. Minyak algae diekstraksi menggunakan pelarut heksan dilanjutkan dengan evaporasi menggunakan rotavapor. Hasil menunjukkan bahwa jumlah minyak dari Botryococcus braunii hasil pemecahan dinding sel menggunakan sonikator yaitu 22,24% dan microwave yaitu 7,92%. Jumlah minyak Nannochloropsis dengan pemecahan dinding sel menggunakan sonikator adalah 11,92% dan microwave adalah 16,54%. Ekstraksi minyak tanpa pemecahan dinding sel Botryococcu braunii sebesar 0,84% dan Nannochloropsis sebesar 1,54%. Asam lemak jenuh pada Botryococcus braunii antara lain asam stearat (18%, palmitat (5%, behenat (1%, dan arachidat (4% dengan jumlah total 28%. sedangkan pada Nannochloropsis adalah asam stearat (21%, palmitat (9%, behenat (1%, dan arachidat (2% dengan jumlah total 33%.

  8. Pengaruh Perlakuan Uap Air Panas dengan Sistem Pemanasan Terbuka terhadap Kesehatan dan Viabilitas Benih Jagung

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Singgih Kurniawan

    2008-12-01

    Full Text Available The existence of seed-borne fungi could degrade the seed quality in its viability and may cause disease after planting. The aim of this research was to know the hot vapor treatment effectiveness in controlling that fungal disease and its influence to the viability of corn seed. The treatment effectiveness was measured based on the reduction of the fungal growth and sporulation on Potato DextroseAgar (PDA, the fungal infection on seed, and not reduced the seed viability significantly after treatment. Hot vapor treatment was done in 50°C, 60°C, and 70°C temperature for 20 minutes and a control. The temperature treatments cover 5 minutes of antecedent treatment in the form of appliance warm-up until the target temperature obtained, 10 minutes in the treatment drum and 5 minutes for resting time while the faucet is being shut down but the exhaust fan remain to be opened. Result of the research show that in vitro test of hot water vapor on 60oC and 70oC killed Aspergillus flavus, A. niger, Fusarium sp., and Penicillium sp. isolates. Both of the temperatures reduced the corn seed viability significantly. Infection of A. flavus still dominant in corn seed after treated on the three temperatures.The hot vapor treatment with 50oC is good for seed treatment of 408.9 g corn seed although the seed had been stored for about 9 months.   Adanya jamur terbawa benih dapat menurunkan viabilitas dan kemungkinan dapat menimbulkan penyakit setelah benih ditanam di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan perlakuan uap air panas untuk mengendalikan jamur terbawa benih dan pengaruhnya terhadap viabilitas benih jagung. Keefektifan perlakuan diukur berdasarkan kekuatan mereduksi pertumbuhan koloni dan sporulasi jamur yang ditumbuhkan pada medium Potato Dextrose Agar (PDA, tingkat infeksi jamur pada biji dan tidak menurunkan viabilitas biji. Perlakuan ini menggunakan suhu 50o C, 60o C, dan 70o C selama 20 menit serta tanpa perlakuan sebagai

  9. FUNGSI BAK AIR CIGAROKROK DAN PASIRGOMBONG KAITANNYA DENGAN TAMBANG EMAS COKOTOK ABAD XX The Function of Cigarokrok and Pasirgombong Water Tubs and Its Relation with the History of Cikotok Gold Mining in 20th Century

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Effie Latifundia

    2016-07-01

    Abstrak Tujuan tulisan ini berupaya mengungkap dan mendokumentasikan bak air Cigarokrok dan bak air Pasirgombong yang dibangun pada masa kolonial dikaitkan dengan sejarah tambang emas Cikotok. Data diperoleh berdasarkan hasil penelitian  arkeologis tentang  pola persebaran situs-situs di kawasan Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten pada tahun 2007 dengan metode survei yang dilengkapi studi kepustakaan dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian, dua bak penampung dan pembagi air ini dibangun zaman Belanda bersamaan dengan pembangunan pabrik tambang emas Cikotok. Kedua bak air memiliki nilai sejarah dan arkeologi yang masih terus berfungsi dan dimanfaatkan oleh masyarakat sampai saat ini. Fungsi bangunan bak air Cigarokrok adalah tempat atau wadah penampung dan pembagi air untuk kebutuhan air bersih sehari-hari bagi warga yang ada di kompleks perumahan dinas perusahaan tambang emas Cikotok, perkantoran tambang emas Cikotok, dan masyarakat sekitar. Sedang fungsi bak air Pasirgombong merupakan bak atau kolam penampung air untuk dialirkan ke mesin (turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA, dan kemudian aliran listrik tersebut disalurkan untuk penggerak mesin-mesin yang terdapat di pabrik tambang emas Cikotok. Selain itu, listrik tersebut dimanfaatkan untuk penerang rumah-rumah penduduk masyarakat Cikotok dan sekitarnya. Bak air Cigarokrok dan bak air Pasirgombong menjadi bukti fisik bangunan masa kejayaan tambang emas Cikotok yang dibangun masa kolonial dengan bentuk dan fungsi masih bertahan dan berlanjut hingga sekarang ini sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan untuk dipelihara dan dilindungi.   Kata Kunci: air, bak air, tambang emas, kawasan Cikotok

  10. PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI KARTON BOX DENGAN METODE INTEGRASI UPFLOW ANAEROBIC SLUDGE BED REACTOR (UASB DAN ELEKTROKOAGULASI-FLOTASI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Hanny Vistanty

    2015-05-01

    Full Text Available             Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi kinerja teknologi integrasi Upflow Anaerobic Sludge Bed Reactor (UASB dengan elektrokoagulasi-flotasi (ECF sebagai unit pengolah air limbah industri karton box dalam berbagai kondisi operasi. Sebelum diaplikasikan, unit UASB diawali dengan proses aklimatisasi selama 7 hari menggunakan dua jenis substrat, yaitu gula dan pati. Operasional UASB secara kontinyu dilakukan pada berbagai OLR dan HRT konstan (24 jam. Air limbah terproses UASB kemudian dielektroflotasi menggunakan anoda alumunium (Al dan besi (Fe. Optimalisasi proses ECF dikaji pada berbagai variabel pH dan waktu elektrolisis. Proses UASB dengan susbtrat pati menunjukkan efektivitas aklimatasi yang tinggi dibanding subtrat gula. Kondisi steady-state akan tercapai setelah 6 hari operasional dengan efisiensi penurunan COD 91% dan OLR 25 kg COD/m3 hari. Aplikasi UASB secara kontinyu telah mampu menurunkan COD 94% dengan waktu tinggal 24 jam. Proses ECF mampu menurunkan COD air limbah terolah UASB sekitar 70-81%. Kondisi optimum penurunan COD tercapai pada pH 7,5  untuk anoda Al dan pH 6 atau 9 untuk anoda Fe. Penambahan waktu elektrolisis di atas 10 menit sangat mempengaruhi efektivitas penurunan COD untuk anoda Fe sedangkan anoda Al tidak terjadi penurunan yang signifikan.  Jumlah sludge yang dihasilkan oleh proses ECFsebanyak 4 kg/m3 untuk anoda Al dan 5 kg/m3 untuk anoda Fe. Biaya kebutuhan energi berkisar antara 4,5 hingga 18 kWh/m3dan konsumsi elektroda sebanyak 0,17 kg Al/m3 atau 0,515 kg Fe/m3. Integrasi UASB dan ECF berpotensi untuk diaplikasikan sebagai sistem pengolahan air limbah industri karton box yang efektif. 

  11. Sekam Padi untuk Menyerap Ion Logam Tembaga dan Timbal dalam Air Limbah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nurhasni Nurhasni

    2017-03-01

    Full Text Available Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan sekam padi sebagai penyerap ion logam tembaga dan timbal dalam air limbah telah dilakukan. Metode yang digunakan adalah metode statis (batch. Penentuan kondisi optimum meliputi massa adsorben, pH, konsentrasi adsorbat dan lama pemanasan. Hasil analisis menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (AAS menunjukkan efisiensi penyerapan tertinggi pada air limbah multikomponen mencapai 99.38% untuk ion logam Pb. Analisis air limbah laboratorium kimia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menunjukkan penyerapan tertinggi mencapai 78.57% untuk ion logam Cu. Kata kunci : sekam padi, adsorben ion logaam timbal, adsorben ion logam tembaga, air limbah   Abstract This research aims to  rice huskas absorbent of copper and lead metalions in the waste water. The method used is a static method (batch. Determination of optimum conditions includes adsorbent mass, pH, absorbate concentration and duration of heating. The analysis using Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS showed the highest absorption efficiency of Pb metal ion in multicomponent wastewater reached 99,38%. The analysis of wastewater from chemistry laboratorium UIN Syarif Hidayatullah Jakarta showed, the highest absorption of Cu metal ion was 78,57%. Keywords : rice husk, the metal ions cadmium, chromium metal ions, wastewater

  12. Rancang Bangun dan Studi Eksperimen Alat Penukar Panas untuk Memanfaatkan Energi Referigerant Keluar Kompresor AC sebagai Pemanas Air pada ST/D=4 dengan Variasi Volume Air

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Binar Kusumah Bagja

    2017-01-01

    Full Text Available Sistem referigerasi memiliki energi yang besar dalam melepaskan kalor. Kalor akibat kompresi pada kompresor bisa dimanfaatkan misalnya untuk pemanasan air. Pemanfaatan kalor tersebut dilakukan dengan cara menambahkan water heater sebelum aliran fluida referigeran masuk ke kondensor. Water heater tersebut dalam keadaan tercelup di dalam sebuah tangki berisi air untuk melepas kalor terhadap air. Perancangan water heater dilakukan dengan mencari panjang tube (L, diameter tube (D, dan jarak antar tube. Water Heater ini diletakkan setelah komponen kompressor pada sistem AC. Proses awal untuk mencari rancangan water heater adalah dengan mencari temperatur keluaran kompresor dimana untuk mencari potensi panas yang akan dimanfaatkan untuk memanaskan air. Setelah mencari potensi panas yang dihasilkan dari energi keluaran kompresor adalah mencari kapasitas kalor yang akan diberikan water heater terhadap air dan kemudian selanjutnya mencari perpindahan panas yang terjadi pada proses pemanasan air tersebut yang kemudian dilakukan perhitungan untuk mencari panjang tube (L dan penentuan jarak ST/D pada tube. Setelah diperoleh geometri water heater, langkah selanjutnya adalah melakukan simulasi numerik dengan menggunakan perangkat lunak FLUENT 6.3.2 untuk mengetahui karaketeristik perpindahan panas yang terjadi di dalam proses pemanasan air dengan jarak ST/D yang telah ditentukan sebelumnya. Langkah selanjutnya melakukan eksperimen. Eksperimen dilakukan dengan memvariasikan volume air dalam tangki yaitu sebesar 75 liter; 85 liter; dan 100 liter. Hasil simulasi numerik diperoleh bahwa pola aliran kecepatan dengan nilai tertinggi berada pada daerah sekitaran tube inlet dikarenakan temperatur yang paling tinggi dibandingkan tube lainnya sehingga menimbulkan perbedaan temperatur dan juga densitas pada sekitaran tube inlet. Hasil eksperimen diperoleh bahwa volume air yang besar yaitu sebesar 100 liter memiliki Coefficient of Performance (COP tertinggi yaitu sebesar

  13. Analisis dan Rencana Pengembangan Jaringan Distribusi Air Bersih Unit Cabang Timur PDAM Kabupaten Klaten

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ana Tri Lestari

    2017-01-01

    Full Text Available Unit Cabang Timur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM Kabupaten Klaten dibagi menjadi 3 unit pelayanan Ibu Kota Kecamatan (IKK dan mempunyai tingkat pelayanan yang masih rendah pada tahun 2015, yaitu Unit IKK Ceper 17,6%; Unit IKK Pedan 2,43%; dan Unit IKK Cawas 31,26% sehingga peningkatan persen pelayanan menjadi hal yang perlu dilakukan. Hal ini didukung dengan adanya penambahan debit produksi sebesar 50 liter/detik. Selain itu, jaringan distibusi belum dibentuk blok pelayanan sehingga sulit untuk mengontrol kehilangan air. Perencanaan ini dilakukan pembagian blok pelayanan menjadi 26 blok dan 5 tapping. Setelah itu dilakukan analisis kondisi eksiting. Hasil analisis kondisi eksisting menunjukkan kondisi hidrolika perpipaan kecuali kecepatan masih memenuhi kriteria, yaitu tekanan antara (15,43-59,99 m, kecepatan (0-0,91 m/detik, unit headloss (0-3,51 m/km. Kemudian dilakukan pengembangan jaringan yang dibagi menjadi 2 tahap, dimana tahap 1 meningkatkan persen pelayanan, sedangkan tahap 2 menambah daerah pelayanan baru. Blok pelayanan setelah pengembangan menjadi 29 blok dan 5 titik tapping. Kemudian analisis rencana pengembangan dilakukan dan menunjukkan bahwa kondisi hidrolika pipa untuk tekanan di jaringan distribusi IKK Cawas bernilai negatif. Hal ini dikarenakan unit headloss yang terjadi pada pipa dari reservoir menuju titik tapping pertama IKK Cawas sebesar 5,78 m/km dengan panjang pipa 14,35 km sehingga headloss  sebesar 82,94 m menyebabkan tekanan menjadi -2,89 m. Permasalahan ini dapat diatasi dengan parallel pipa diameter 200 mm sepanjang 9 km. Parallel pipa tersebut mengakibatkan tekanan  pada titik tapping pertama IKK Cawas menjadi 34,65 m dan titik tapping terjauh (blok 19 sebesar 16,34 m.  Hasil analisis hidrolika, seperti unit headloss berada pada rentang (0-5,78 m/km, namun kecepatan masih ada yang di bawah 0,3 m/detik. Rencana anggaran biaya (RAB yang dibutuhkan untuk melakukan pengembangan jaringan sebesar Rp 2.470.153,051.71.

  14. Kromium, Timbal, dan Merkuri dalam Air Sumur Masyarakat di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Taufik Ashar

    2013-04-01

    Full Text Available Tempat pembuangan akhir (TPA sampah domestik dengan sistem penampungan terbuka sangat berisiko mencemari air tanah milik warga yang bermukim di sekitarnya melalui proses perlindian. Untuk mengetahui kandungan logam berat dalam air tanah di sekitar TPA, sebanyak 68 sampel air sumur gali (45 sumur Dusun I dan 23 sumur Dusun IV dari Desa Namobintang Kecamatan Pancurbatu Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, telah dianalisis dengan inductively couple plasma atomic emission spectroscopy. Hubungan jarak sumur dengan konsentrasi kromium, merkuri, dan timbal diuji dengan Mann-Whitney, Spearman’s Correlation dan analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi kromium, timbal, dan merkuri (rerata ± deviasi standar, mg/L masing-masing 0,036 ± 0,0096; 0,0003 ± 0,00018; dan 0,005 ± 0,0041 (Dusun I; 0,0370 ± 0,0115; 0,00026 ± 0,00013; dan 0,0070 ± 0,0069 (Dusun IV. Dari 68 sumur yang dianalisis, hanya ada 8 sumur yang konsentrasi timbalnya melebihi batas menurut Peraturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492/Per/IV/2010. Sementara itu, tidak ada korelasi jarak sumur gali ke TPA dengan konsentrasi kromium, merkuri, dan timbal dalam air sumur gali tersebut. Disimpulkan bahwa perlindian sampah di Namobintang tidak mencemari air sumur-sumur gali yang berjarak 84 meter atau lebih dari TPA. Dumping site of domestic wastes has potential risk to contaminate groundwater of the surrounding population through leaching process. To determine heavy metals (chromium, lead, and mercury in groundwater at surrounding dumping site, a total of 68 dig well water samples (45 from Hamlet I and 23 from Hamlet IV of Namobintang Village, Pancurbatu Sub-District of Deli Serdang Regency, North Sumatra, were analyzed using Inductively Couple Plasma Atomic Emission Spectroscopy. The relationship between the dig well distance and chromium, mercury, and lead content was tested by Mann-Whitney, Spearman’s Correlation and Simple Linier

  15. Studi Eksperimen Pengaruh Variasi Kecepatan DanTemperatur Air Heater Terhadap Karakteristik Pengeringan Batubara Pada Coal Dryer Dengan Tube Heater Tersusun Aligned

    OpenAIRE

    Pakarti, Anindya Ayu; Ichsani, Djatmiko

    2013-01-01

    Salah satu model pengeringan batubara adalah coal dryer yang memberikan keuntungan seperti tingginya tingkat perpindahan panas dan massa.Dari penelitian ini dapat diketahui karakteristik pengeringan pada ruang pengering batubara dengan tube heater tersusun aligned. Hasil eksperimen kuantitatif menunjukkan peningkatan temperatur air heater diikuti dengan penurunan moisture content batubara dan peningkatan drying rate. Pengurangan moisture content terbesar dan drying rate tertinggi didapatkan ...

  16. Pembentukan mother plant Bacopa australis secara In-vitro dan aklimatisasi dalam aquascape air tawar

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Media Fitri Isma Nugraha

    2017-12-01

    Full Text Available Tanaman air adalah bagian penting dari ekosistem air tawar. Salah satu spesies yang terkenal adalah Bacopa australis. Hobiis aquascape saat ini memiliki ketertarikan tinggi terhadap tanaman air dengan kualitas yang bagus dari setiap spesiesnya. Metode perbanyakan tanaman air tanpa tanah, lahan pertanian dan air perlu dilakukan untuk memenuhi keinginan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan formula media kultur jaringan dan zat pengatur tumbuh yang tepat untuk multiplikasi dalam perakitan mother plant (tanaman induk Bacopa australis, serta mendapatkan media terbaik untuk aklimatisasi. Media yang digunakan adalah media Murashige dan Skoog (MS A padat dengan perbedaan konsentrasi zat pengatur tumbuh. Perlakuan uji dalam kombinasi zat pengatur tumbuh (a 0,50 mg/L BAP + 0,50 mg/L kinetin; (b 0,50 mg/L BAP; dan (c 0,50 mg/L 2,4-D. Aklimatisasi tanaman induk dilakukan pada berbagai media antara lain 1 pasir silika + pupuk aqua soil amazonia, 2. pasir malang + pupuk aqua soil amazonia, 3 pasir silika + pupuk cair; 4 pasir malang + pupuk. Hasil yang diperoleh, yaitu formula media kultur terbaik untuk multiplikasi tunas tanaman B. australis secara in-vitro adalah media MS (A yang diperkaya dengan 0,5 mg/L BAP + 0,5 mg/L kinetin, sedangkan aklimatisasi terbaik pada media pasir malang + pupuk aqua soil amazonia. Water plant is an important part of freshwater ecosystems. One of the famous species is Bacopa australis. Today, many aquascape hobbyists have a high interest in aquatic plant species that have good aesthetic appearances. To answer this challenge, a new method in-vitro propagation of aquatic plants, planted without soil, agricultural land and water was conducted. The aim of this research was to find the best growth regulator hormon formula and aclimatisation medium, in creating the mother plant Bacopa australis. The medium used was MS (Murashige and Skoog, 1974 with different growth regulator hormon, i.e: (a 0.50 mg L-1 BAP

  17. PENURUNAN KANDUNGAN LOGAM PB DAN CR LEACHATE MELALUI FITOREMEDIASI BAMBU AIR (EQUISETUM HYEMALE DAN ZEOLIT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Bambang Suharto

    2016-11-01

    Full Text Available The very large numbers of trash in the TPA (end disposal place will cause the natural decomposition process goes on massively as well. The decomposition process will change trash into organic fertilizer that if there any water input from the outside, it will dissolve metals that later become the byproduct that is leachate. The introduction of chemical contained in the leachate into the waters ecosystem may also affect the existing biota. Therefore, it is need the waste treatment before released into the environment. Leachate waste treatment by using the phytoremediation principle by means of Bambu air plant (Equisetum hyemale, with zeolite planting media was to be the choice in the effort of liquid waste treatment the Phytoremediation system was taken with a various considerations that very potential to develop into new innovation in the process of leachate waste treatment.This research had the purpose to know the effectiveness of phytoremediation system using water bamboo plant (Equisetum hyemale and zeolit planting media by batch system and continue system in reducing Pb and Cr heavy metals contents of leachate. Research method used was the experimental method. Observations carried out involved environmental temperature and humidity, solution pH and treatment temperature, Reduction of Pb and Cr Metals Contents on leachate.Batch system and continue system as a whole, mean of leachate pH tested during this treatment was about 7,466. Leachate pH tested did not less than 7,200 and not more that 7,810. Mean of leachate temperature from the first week through third week was of 22,283°C. The best treatment was on the K­2S1 (60 batch system plants treatment with reduction of Pb metal content of 82,2% in the last week of observation. While the reduction of Cr metal of 61,2% was on the K2S2 (60 continue system plants treatment.

  18. EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI DAUN ZODIA (Evodia suaveolens DENGAN METODE MASERASI DAN DISTILASI AIR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Prima Astuti Handayani

    2014-10-01

    Full Text Available Daun zodia merupakan tumbuhan yang berpotensi sebagai insektisida nabati. Daun zodia mengandung senyawa aktif limonene yang bersifat neurotoksin terhadap serangga. Pengambilan minyak atsiri daun zodia dilakuan dengan metode maserasi dan metode distilasi air. Pada metode maserasi bahan digunakan etanol dan dimaserasi selama 3x24 jam. Kemudian didistilasi untuk menguapkan pelarut etanol. Untuk metode distilasi air bahan didistilasi selama 3 jam, campuran minyak dan air dipisahkan dengan menambahkan pelarut n-heksana. Kemudian pelarut n-heksana dipisahkan dari minyak atsiri dengan cara direcovery menggunakan alat sokhlet. Minyak atsiri daun zodia yang dihasilkan dianalisis dengan Gas Cromatography-Mass Spectrometry (GC-MS untuk mengetahui kandungan senyawa kimianya. Hasil percobaan diperoleh randemen minyak atsiri daun zodia dengan metode maserasi sebesar 1,0566% dengan kandungan senyawa limonene 2,6%, sedangkan metode distilasi diperoleh randemen sebesar 0,6471% dengan kandungan senyawa limonene 1,26 %.Zodia leaf is a plant which has a potential to be plant-based insecticide. Zodia leaf has limonene as its active component which is neurotoxin towards insect. The extraction of the essential oil of the zodiac leaf is conducted using maceration method and water distillation method. In the maceration process, the raw material was macerated using ethanol for 72 hours, after that it was distillated to evaporate the ethanol. In the water distillated method, the raw material was distillated for 3 hours, the mixture of water and oil are separated by adding n-hexane solvent. After that, the n-hexane solvent was separated from the essential oil using recovery method using soxhlet. The obtained essential oil of zodia leaf was analyzed using GC-MS to determine its chemical component. The result of the research provides the yield of essential oil of zodiac leaf using maceration method is 1.0566% with limonene component is 2.6%, whereas the distillation method

  19. soil algae

    African Journals Online (AJOL)

    Timothy Ademakinwa

    Also, the importance of algae in soil formation and soil fertility improvement cannot be over emphasized as the world is working ... farms further establishes the role of blue green algae in soil nutrients for plant growth. Key words- Soil Fertility, Soil ... with sunlight will promote the growth of soil algae and their contribution to ...

  20. ANALISIS RISIKO KANDUNGAN LOGAM KROMIUM HEKSAVALEN (CR6+ DAN ARSEN (AS DALAM AIR MINUM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ahmad Mursidi

    2015-11-01

    Full Text Available Abstract: Risk Analysis Metal Content of Hexavalent Chromium (Cr6 + and arsenic (As in drinking water. The research objective is to determine estimates of health risks from exposure to hexavalent chromium metal and arsenic in drinking water. Research conducted on Kalanganyar population that uses clean water supply wells for drinking water as many as 200 people, and the examination of samples of drinking water as many as 32 samples. Design research using cross-sectional design using the descriptive-analytic method. The results showed that the percentage of respondents who have a non-cancerous disease risk due to exposure to hexavalent chromium (RQ≥1 by 16%, while the percentage of respondents that have exceeded the risk of non-cancer diseases due to exposure to arsenic (RQ≥1 by 59%. The risk of cancer due to arsenic exposure on average the respondents amounted to 1.5 per 10,000 population. The concentration of hexavalent chromium has relation with health risk (p <0.05 with r = 0.927. Arsenic concentrations also have a relationship with a health risk (p <0.05 with r = 0.936. Abstrak : Analisis Risiko Kandungan Logam Kromium Heksavalen (Cr6+ Dan Arsen (As Dalam Air Minum. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui perkiraan risiko kesehatan akibat pajanan logam kromium heksavalen dan arsen dalam air minum. Penelitian dilakukan terhadap penduduk Kalanganyar yang menggunakan sarana air bersih sumur gali sebagai sumber air minum sebanyak 200 orang, dan pemeriksaan sampel air minum sebanyak 32 sampel. Rancang penelitian menggunakan desain Cross Sectional dengan menggunakan metode deskriptif analitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase responden yang mempunyai risiko penyakit non kanker akibat pajanan kromium heksavalen (RQ≥1 sebesar 16%, sedangkan persentase responden yang telah melampaui batas risiko penyakit non kanker akibat pajanan arsen (RQ≥1 sebesar 59%. Besar risiko kanker akibat pajanan arsen rata-rata pada responden sebesar 1

  1. PERKEMBANGAN AERENKIM AKAR KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans Poir DAN KANGKUNG AIR (Ipomoea aquatic Forsk

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Aliya Ningsih

    2016-09-01

    Full Text Available Abstrak Penelitian tentang perkembangan aerenkim pada kangkung darat dan kangkung air telah dilakukan pada bulan Oktober 2014 sampai Februari 2015 di Laboratorium Struktur Perkembangan Tumbuhan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas. Jaringan akar diproses dengan metode parafin, kemudian dideskripsikan secara kuantitatif. Rongga aerenkim pada kangkung air terbentuk pada minggu ke tiga dengan jumlah dua rongga sel sedangkan pada kangung darat terbentuk pada minggu ke empat. Proses pembentukan aerenkim terjadi melalui proses pelisisan sel korteks.Abstract Research of aerenchyma development on terrestrial kale Ipomea reptans poir and water kale Ipomoea aquatic Forsk was conducted from October, 2014 until February, 2015 at Laboratory of plant growth structure, the Faculty of Math and Science, Department of Biology, Andalas University. Kales were analyzed by using paraffin method then described by quantitive data. Results showed: (i aerenchyma cavities were formed in the 1st week, (ii aquatic Forsks with two cell cavities were formed in the 3rd week, (iii terrestrial kales were formed in the 4th week. The formation process of aerenchyma occurred through lysis process of cortical cell.

  2. Evaluasi Kinerja Pemeliharaan PLTA dengan Pendekatan Maintenance Scorecard dan Objective Matrix (OMAX (Studi Kasus Unit Pembangkit Listrik Tenaga Air Maninjau

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Taufik Taufik

    2016-04-01

    Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA merupakan salah satu jenis pembangkit listrik. Pembangkit tersebut memiliki serangkaian mesin dan peralatan yang memiliki umur pemakaian tertentu. Sebagai langkah antisipasi terhadap habisnya umur pakai tersebut, diperlukan kegiatan perawatan untuk mengembalikan kondisi mesin dan peralatan sehingga bisa menjalankan fungsinya dengan lancar. Beberapa indikator dibutuhkan untuk menentukan tingkat kinerja aktivitas perawatan agar kegiatan perawatan yang dilakukan dapat memberikan hasil yang optimal. Metode pengukuran tradisional memiliki keterbatasan yang menjadikannya sulit diimplementasikan dalam lingkungan industri. Oleh karena itu dibutuhkan metode pengukuran performansi yang dapat melakukan penilaian dari berbagai perspektif secara seimbang terhadap kinerja sistem secara keseluruhan. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan metode Maintenance Scorecard dan Objective Matrix (OMAX untuk menilai kinerja perawatan PLTA. Tujuan penelitian dalam penilaian ini adalah untuk mengintegrasikan pendekatan Maintenance Scorecard dan OMAX pada PLTA Maninjau. Key Performance Indicators (KPI didefinisikan dari 6 perspektif: perspektif produktivitas, perspektif efektifitas biaya, perspektif keselamatan kerja, perspektif lingkungan, perspektif kualitas dan perspektif pembelajaran. Prioritas ditentukan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP. Kinerja perawatan kemudian diukur menggunakan OMAX sampai diperoleh tingkat kinerja pada kondisi nyata. Hasil yang diperoleh kemudian digunakan untuk merancang maintenance scorecard bagi PLTA Maninjau, menghasilkan 20 KPI yang terdiri atas 9 KPI untuk perspektif produktivitas, 4 KPI untuk perspektif kualitas, 2 KPI untuk perspektif keselamatan kerja, 2 KPI untuk perspektif lingkungan dan 3 KPI untuk perspektif pembelajaran. Terdapat 5 KPI untuk level korporat, 8 KPI untuk level strategis dan 7 KPI untuk level fungsional. Hasil penilaian menunjukkan bahwa

  3. KAROTENOID PADA ALGAE: KAJIAN TENTANG BIOSINTESIS, DISTRIBUSI SERTA FUNGSI KAROTENOID

    OpenAIRE

    Merdekawati, Windu; Karwur, Ferry F.; Susanto, A. B.

    2017-01-01

    ABSTRAK   Karotenoid terdistribusi pada archaea, bakteri, jamur, tumbuhan, hewan serta algae. Karotenoid dihasilkan dari komponen isopentenyl pyrophosphate (IPP) yang mengalami proses secara bertahap untuk membentuk beragam jenis karotenoid. Terdapat dua kelompok karotenoid yaitu karoten dan xantofil dengan berbagai jenis turunannya. Struktur kimia pada karotenoid algae yaitu allene, acetylene serta acetylated carotenoids. Algae mempunyai karotenoid spesifik yang menarik untuk dipe...

  4. Pemberian Whey-Dangke dalam Air Minum Menekan Kadar Kolesterol, Trigliserida dan Lipoprotein Darah Ayam Broiler

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sulmiyati Sulmiyati

    2017-06-01

    Full Text Available Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh penambahan whey dangke terhadap kadar kolesterol, trigliserida, LDL (low density lipoprotein, HDL (high density lipoprotein, VLDL (very low density lipoprotein darah ayam broiler dan mengukur konsentrasi pemberian whey dangke dalam air minum yang diberikan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan enam perlakuan pemberian whey dangke dalam air minum dengan empat ulangan. Konsentrasi P0 adalah kelompok kontrol 0%; P1=pemberian whey dangke dengan konsentrasi 10%; P2 = pemberian whey dangke dengan konsentrasi 20%; P3 = pemberian whey dangke dengan konsentrasi 30%; P4 = pemberian whey dangke dengan konsentrasi 40%; dan P5 = pemberian whey dangke dengan konsentrasi 50%. Pemberian whey dangke pada ayam broiler strain cobb SR 707 dilakukan selama 15 hari (umur 20–35 hari. Parameter yang diamati adalah kadar kolesterol, trigliserida, LDL, HDL, dan VLDL darah ayam broiler. Data dianalisis dengan analisis sidik ragam, dan jika menunjukkan pengaruh nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian whey dangke dalam air minum tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05 terhadap parameter kolesterol, trigliserida, dan lipoprotein. Namun, terlihat kecenderungan penurunan kadar kolesterol seiring dengan peningkatan konsentrasi pemberian whey dangke. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil uji in vivo menunjukkan pemberian whey dangke dalam air minum pada ayam broiler pada konsentrasi 50% memperlihatkan penurunan kadar kolesterol hingga 15%. Abstract The purposes of research is to determine the effect of whey dangke against cholesterol levels, triglycerides, LDL, HDL, and VLDL broiler blood and measuring the concentration of whey dangke in water provided. The research was conducted using a completely randomized design with six treatments and four replications. P0 is the control group 0%; P1 = whey dangke added with a concentration

  5. Pola konsumsi air, susu dan produk susu, serta minuman manis sebagai faktor risiko obesitas pada anak sekolah dasar di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yayah Lakoro

    2016-03-01

    consumption of water, whereby higher comsumption of sweet drink meant lower consumption of water. Nutrition education embedded in the curriculum could be used as an alternative of obesity prevention in children by changing or building healthy lifestyle. KEYWORDS: risk factors, obese children, consumption of water, consumption of sweet drinkABSTRAKLatar belakang: Minuman manis diduga kuat sebagai penyebab terjadinya obesitas pada anak. Susu dan produk susu yang tidak sehat yang mengandung lemak dan gula tinggi dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya obesitas, sedangkan air putih merupakan minuman sehat tanpa kalori yang dapat membantu manajemen berat badan.Tujuan: Mengetahui pola konsumsi minuman pada anak obesitas.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kasus kontrol. Kasus adalah anak SD yang mengalami obesitas, kontrol  adalah anak SD yang dengan berat badan normal. Lokasi penelitian di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Penentuan sampel menggunakan metode probability proportional to size (PPS. Jumlah sampel adalah 488 sampel terdiri dari 244 kasus dan 244 kontrol. Pada subyek penelitian dilakukan matching asal sekolah dengan ketentuan siswa kasus dan kontrol berasal dari kelas yang sama. Uji statistic McNemar dan regresi logistik dilakukan untuk mengidentifi kasi variabel yang merupakan faktor risiko.Hasil: Terdapat perbedaan karakteristik jenis kelamin antara kedua kelompok (p=0,03. Rata-rata jumlah konsumsi air putih dan minuman manis pada anak obes berbeda secara signifi kan  dibandingkan dengan anak tidak obes, berturut-turut adalah 243,8 mL/hari (±2½ gelas/hari dan 397,3 mL/hari (± 2 gelas/hari, sedangkan rata-rata jumlah konsumsi susu dan produk susu tidak sehat pada anak obes dan tidak obes, tidak berbeda secara signifikan. Uji Mc Nemar menunjukkan bahwa konsumsi air putih dan minuman manis berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul  dengan nilai OR 2,1 (95% CI:1,4–3,05 dan OR 3,1 (95% CI: 2,1

  6. Fitoremediasi limbah budidaya sidat menggunakan filamentous algae (Spirogyra sp.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tri Apriadi

    2014-09-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dari filamentous algae (Spirogyra sp. sebagai agen bioremediasi dalam mereduksi kandungan bahan organik limbah budidaya sidat. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan perbedaan dosis limbah (25 %, 50 %, 75 %, 100%. Wadah penelitian berupa akuarium resirkulasi menggunakan sistem carrousel. Dilakukan pengukuran secara rutin terhadap beberapa parameter kualitas air serta perubahan bobot Spirogyra sp. selama dua minggu retensi. Diperoleh hasil bahwa penurunan konsentrasi bahan organik menggunakan Spirogyra sp. berlangsung efektif hingga hari keenam. Spirogyra sp. mampu mentolelir limbah budidaya sidat pada dosis limbah 25% dan 50%. Spirogyra sp. pada perlakuan dosis limbah 50% memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menurunkan bahan organik limbah budidaya sidat.

  7. Kondisi Sanitasi Lingkungan Perumahan dan Kontaminasi Escherichia coli pada Penyajian Makanan Pendamping Air Susu Ibu Lokal

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Aria Kusuma

    2013-02-01

    Full Text Available Bayi sangat rentan terhadap penyakit yang disebabkan oleh Makanan Pendamping Air Susu Ibu lokal (MP-ASI lokal. Sampai saat ini belum diketahui keamanan penyajiannya dari kontaminasi mikrobiologi. Penelitian ini bertujuan mengetahui kontaminasi Escherichia coli (E. coli pada penyajian MP-ASI lokal dan mengamati hubungan antara kondisi sanitasi rumah, seperti Sarana Air Bersih (SAB, tempat mencuci peralatan makan bayi, kondisi Saluran Pembuangan Air Limbah (S PAL, kondisi tempat sampah dan keberadaan hewan berkeliaran di dalam rumah terhadap kontaminasi E. coli pada penyajian. Desain penelitian ini adalah potong lintang yang mengamati penyajian MP-ASI lokal bagi bayi usia 6-12 bulan pada 138 rumah. Lokasi penelitian pada 21 Dusun di Kabupaten S olok. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi gambaran kontaminasi E. coli pada penyajian M P-ASI lokal, kondisi faktor sanitasi rumah tangga, mengetahui hubungan antara faktor sanitasi rumah dengan kontaminasi E. coli dan faktor yang paling berhubungan dengan kontaminasi tersebut . Penelitian ini menemukan lebih dari separuh (72,5% MP-ASI lokal yang disajikan terkont aminasi E. coli. Keberadaan hewan yang berkeliaran di dalam rumah memiliki risiko dua kali lebih besar terkontaminasi E. coli pada penyajian MP-ASI lokal bagi bayi usia 6-12 bulan di rumah tangga. Infant is the most vulnerable groupof safer infectious diseases caused by complementary food. Meanwhile complementary food safety was unknown. The study aimed to know Escheriacoli (E. coli contamination in serving complementary food and relationship of house sanitation condition as clean water facilities, places for dishes infant food utensils,domestic wastewater facilities condition, garbage facilities condition and the present of domestic animals in houseto E. coli contaminationin serving. Study design was cross sectional, object of observation were 138 household that serving complementary food for 6-12 month old infants. Location of study was in

  8. Variasi Temporal dan Stabilitas Fisik dan Kimia Senyawa Bioaktif Karotenoid Rumput Laut Coklat Turbinaria decurrens

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rini Susilowati

    2014-06-01

    Full Text Available Pada pengembangan senyawa bioaktif karotenoid dari rumput laut coklat Turbinaria decurrens sebagai produk nutrasetikal atau pangan fungsional, pengetahuan mengenai variasi temporal dan stabilitas fisik dan kimia senyawa tersebut merupakan hal yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan variasi temporal dan stabilitas fisik dan kimia senyawa karotenoid dari T. decurrens. Bahan baku T. decurrens diambil dari Pantai Binuangeun, Banten. Kuantifikasi kadar karotenoid pada sampel dilakukan terhadap ekstrak kasar etanol dari sampel dengan menggunakan teknik spektrofotometri UV-Vis. Variasi temporal kadar karotenoid dilakukan dengan pengambilan sampel pada musim penghujan (Februari, musim peralihan (April dan Oktober, serta musim kemarau (Juni dan Agustus, pada tahun 2012. Analisis variabel air (DO, pH, suhu, temperatur, salinitas, fosfat, dan nitrogen anorganik terlarut dari titik pengambilan sampel juga dilakukan, untuk mengetahui faktor utama yang mempengaruhi produksi senyawa ini di alam. Analisis stabilitas senyawa dilakukan dengan perlakuan penambahan asam, basa, oksidator, dan suhu. Hasil pengujian menunjukan bahwa kadar karotenoid temporal dari alga ini berkisar 0,002–0,063 mg/g (bobot segar. Analisis korelasi terhadap variabel air menunjukkan bahwa kadar karotenoid dipengaruhi faktor musim, tidak tergantung pada variabel air lokal. Terkait dengan probabilitas fungsinya dalam fotosintesis, kadar tertinggi senyawa ini terdapat pada musim penghujan. Karotenoid dapat meluruh sebesar 84% pada perlakuan asam, 15% pada perlakukan basa, 28% pada perlakukan oksidasi, dan 15% pada suhu tinggi (70 oC. Dengan demikian, pada pengembangannya sebagai produk pangan fungsional atau nutrasetikal, diperlukan teknik mikroenkapsulasi untuk menjaga stabilitas fisik dan kimia senyawa karotenoid T. decurrens.

  9. The role of algal organic matter in the separation of algae and cyanobacteria using the novel "Posi" - Dissolved air flotation process.

    Science.gov (United States)

    Hanumanth Rao, Narasinga Rao; Yap, Russell; Whittaker, Michael; Stuetz, Richard M; Jefferson, Bruce; Peirson, William L; Granville, Anthony M; Henderson, Rita K

    2018-03-01

    Algae and cyanobacteria frequently require separation from liquid media in both water treatment and algae culturing for biotechnology applications. The effectiveness of cell separation using a novel dissolved air flotation process that incorporates positively charged bubbles (PosiDAF) has recently been of interest but has been shown to be dependent on the algae or cyanobacteria species tested. Previously, it was hypothesised that algal organic matter (AOM) could be impacting the separation efficiency. Hence, this study investigates the influence of AOM on cell separation using PosiDAF, in which bubbles are modified using a commercially available cationic polyelectrolyte poly(N, N-diallyl-N,N-dimethylammonium chloride) (PDADMAC). The separation of Chlorella vulgaris CS-42/7, Mychonastes homosphaera CS-556/01 and two strains of Microcystis aeruginosa (CS-564/01 and CS-555/1), all of which have similar cell morphology but different AOM character, was investigated. By testing the cell separation in the presence and absence of AOM, it was determined that AOM enhanced cell separation for all the strains but to different extents depending on the quantity and composition of carbohydrates and proteins in the AOM. By extracting AOM from the strain for which optimal separation was observed and adding it to the others, cell separation improved from 90%. This was attributed to elevated levels of acidic carbohydrates as well as glycoprotein-carbohydrate conjugations, which in turn were related to the nature and quantity of proteins and carbohydrates present in the AOM. Therefore, it was concluded that process optimisation requires an in-depth understanding of the AOM and its components. If culturing algae for biotechnology applications, this indicates that strain selection is not only important with respect to high value product content, but also for cell separation. Copyright © 2017 Elsevier Ltd. All rights reserved.

  10. Urban air pollution; La pollution de l'air dans la ville

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    1997-07-01

    The theme of this congress concerns air pollution in urban areas. Cities are accumulation of populations and economic activities, and then pollutants activities. The first articles are devoted to pollutants and their effects on health. Then come articles relative to measurements and modeling. Finally, the traffic in city and the automobile pollution are examined. Transportation systems as well technology in matter of gas emissions are reviewed. (N.C.)

  11. Pendidikan Ibu dan Durasi Pemberian Air Susu Ibu dalam Peningkatan Kecerdasan Siswa Usia Sekolah Dasar

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Maryam Said

    2013-11-01

    Full Text Available Riwayat pemberian Air Susu Ibu (ASI, karakteristik ibu dan anak serta pola asuh berpengaruh terhadap kecerdasan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi tingkat kecerdasan anak, riwayat pemberian ASI, karakteristik ibu dan anak, serta faktor dominan yang berhubungan dengan tingkat kecerdasan anak pada siswa SDSN Pekayon Jaya VI Kota Bekasi. Penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang dengan metode systematic random sampling dengan jumlah sampel sebesar 166 responden (siswa/i yang berumur 7 - 9 tahun beserta ibunya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2013. Pada siswa dilakukan tes kecerdasan menggunakan tes Raven sedangkan ibunya mengisi kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kecerdasan rendah 6%, rata-rata 36,7%, dan tinggi 57,2%. Variabel yang berhubungan dengan kecerdasan adalah durasi pemberian ASI dan pendidikan ibu. Pendidikan ibu adalah faktor dominan terhadap kecerdasan, bahwa ibu yang berpendidikan tinggi berpeluang mempunyai anak dengan kecerdasan tinggi yaitu 3,556 kali lebih besar dibandingkan ibu berpendidikan rendah setelah dikontrol variabel durasi ASI. Untuk Dinas Pendidikan Kota Bekasi agar menyelenggarakan berbagai aktivitas seperti seminar/pelatihan/konseling bagi orang tua murid tentang pentingnya peran orangtua terhadap tumbuh kembang anak. Breastfeeding history, mother and children characteristics, and child care are considered influential on child intellegence. This study aimed to determine the proportion of exclusive breastfeeding, the level of childrens intellegence, mother and children characteristics, the relationship between duration of breastfeeding with the level of students intellegence. This research used a cross-sectional design and through systematic random sampling with a sample size of 166 respondents (students aged 7 - 9 years old and their mothers. The intellegence was tested using the Raven test while their mothers were interviewed. The results showed that the level

  12. PENGARUH FLUKTUASI TINGGI MUKA AIR TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN DI SUNGAI DAN RAWA MAHAKAM HULU KALIMANTAN TIMUR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Kamaluddin Kasim

    2015-12-01

    Full Text Available Beberapa penelitian menyebutkan bahwa fluktuasi tinggi muka air (TMA dapat mempengaruhi hasil tangkapan ikan di perairan sungai dan rawa namun tidak terhadap semua jenis ikan.  Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hasil tangkapan jenis ikan sungai dan rawa sungai Mahakam yang mendapat pengaruh fluktuasi TMA dan jenis ikan yang tidak mendapatkan pengaruh langsung oleh fluktuasi TMA. Data mengenai hasil tangkapan ikan yang berasal dari alat tangkap pancing dan jaring diperoleh melalui enumerator di Tempat Pendaratan Ikan (TPI Selili Kota Samarinda pada periode 2007-2012, sedangkan nilai rata-rata Tinggi Muka Air (TMA DAS Mahakam secara bulanan diperlukan sebagai salah satu faktor yang diduga berpengaruh terhadap hasil tangkapan beberapa jenis ikan sungai dan rawa. Data dianalisis dengan metode regresi linear sederhana dan penentuan perbedaan hasil tangkapan pada musim hujan, peralihan dan kemarau dilakukan dengan Analysis of Variance (ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah hasil tangkapan ikan berkorelasi kuat (r=0,7 terhadap Tinggi Muka air (TMA dengan arah hubungan negatif atau berkebalikan, yakni semakin tinggi nilai TMA maka hasil tangkapan semakin rendah. Jenis ikan sungai dan rawa seperti patin, nila, sepat siam (Trichogaster pectoralis, lais dan betok (Anabas testudineus merupakan jenis ikan yang hasil tangkapannya dipengaruhi secara signifikan (P0,05 oleh fluktuasi TMA.   Some studies have showed that water level fluctuation may have a significant correlation to the catch of several commercial fish target in inland fishery and does not influence directly the cath of some commercial fish. This study aimed to determine which species are directly influenced and such species not inluenced by water level fluctuation for its catches. Catch data obtained from hand line and gill net are recorded by enumerators at Fish Landing Sites of Selili, Samarinda during the period of 2007-2012, while the data of surface water

  13. The Study of Algae

    Science.gov (United States)

    Rushforth, Samuel R.

    1977-01-01

    Included in this introduction to the study of algae are drawings of commonly encountered freshwater algae, a summary of the importance of algae, descriptions of the seven major groups of algae, and techniques for collection and study of algae. (CS)

  14. Pengaruh Kepadatan dan Durasi dalam Kondisi Transportasi Sistem Kering Terhadap Kelulusan Hidup Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Theresia Dwi Suryaningrum

    2008-12-01

    selama dalam kondisi transportasi. Kemasan dengan kepadatan 6 ekor/kotak plastik menghasilkan kelulusan hidup yang lebih baik dibandingkan dengan kemasan dengan kepadatan 8 ekor/kotak plastik. Semakin lama waktu dalam kondisi transportasi, semakin rendah kelulusan hidup dan bobot lobster. Durasi dalam kondisi transportasi sampai 7 hari dapat menurunkan bobot lobster sampai 10%. Transportasi lobster dengan kepadatan 6 ekor/kotak plastik selama 6 hari menghasilkan kelulusan hidup 97% dan tetap sehat setelah dibugarkan kembali. Oleh karena itu, lobster air tawar sebaiknya ditransportasikan dengan durasi tidak lebih dari 6 hari.

  15. Physical characteristic of brown algae (Phaeophyta from madura strait as irreversible hydrocolloid impression material

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Prihartini Widiyanti

    2012-09-01

    Sargassum sp dari Selat Madura sebagai bahan cetak hidrokoloid dan meneliti karakteristik fisiknya. Metode: Tahap pertama adalah ekstraksi natrium alginat dari Sargassum sp, tahap kedua yaitu sintesis bahan cetak gigi dan menguji karakteristik bahan seperti porositas, densitas, viskositas, kadar air, bahan cetak yang memenuhi standar bahan yang digunakan dalam aplikasi klinis bidang Kedokteran Gigi. Hasil: Hasil ekstraksi berupa natrium alginat bubuk dengan warna krem, tidak berbau, dan dapat larut dalam air. Kadar air natrium alginat sebesar 21,64% dengan viskositas 0,7 cPs. Porositas terbaik dalam sampel dengan penambahan trinatrium fosfat 4% yaitu 3,61%. Nilai densitas bahan cetak 3 gr/cm3. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa alga coklat Sargassum sp dari Selat Madura memiliki potensi sebagai bahan cetak hydrocolloid kedokteran gigi karena memiliki karakter fisik yang mirip dengan bahan cetak kedokteran gigi, namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengoptimalkan karakter fisiknya.

  16. Selektivitas fraksi R f < 0,5 ekstrak etil asetat (EtOAc biji putat air (Barringtonia racemosaterhadap keong mas (Pomacea canaliculata dan ikan lele lokal (Clarias batrachus

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Musri Musman

    2012-08-01

    Full Text Available Penelitian untuk mengetahui selektivitas fraksi Rf < 0,5 ekstrak EtOAc biji putat air (Barringtonia racemosa terhadap keong mas (Pomacea canaliculata dan lele lokal (Clarias batrachus telah dilakukan pada bulan Februari 2012 di Laboratorium Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Laboratorium Kimia Laut Koordinatorat Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala. Kromatografi lapis tipis digunakan sebagai teknik pemisahan komponen senyawaan dalam ekstrak cuplikan, dan pengujian keaktifan biologi didasarkan pada kaedah yang dianjurkan oleh FAO. Data mortalitas keong mas dan lele lokal yang diperoleh karena pemberian fraksi Rf < 0,5 ekstrak EtOAc biji B. racemosa dianalisa dengan program Probit, dan harga selektivitas (S diolah berdasarkan formula Feng dan Wang. Harga LC50 fraksi Rf< 0,5 ekstrak EtOAc biji B. racemosa terhadap P. canaliculata dan C.batracus masing-masing adalah 29,26 ppm dan 44,47 ppm. Nilai selektivitas fraksi Rf< 0,5 ekstrak EtOAc biji B.racemosa terhadap organisme uji adalah 1.51. Penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi Rf < 0,5 ekstrak EtOAc biji putat air memiliki bioaktif sebagai moluskosida keong mas.

  17. HUTAN DAN PERILAKU ALIRAN AIR: KLARIFIKASI KEBERADAAN HUTAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP BANJIR DAN KEKURANGAN AIR (Forest and Stream Flow Behaviour: Clarification on Forest Relation With Flood and Drought Issues

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Chay Asdak

    2002-03-01

    Full Text Available ABSTRAK Banjir bandang di wilayah hilir Daerah Aliran Sungai (DAS seringkali dihubungkan dengan penebangan hutan di wilayah hulu DAS. Hal ini terkait dengan dua hal: (1 perhatian masyarakat terhadap tingginya laju degradasi sumberdaya hutan di banyak tempat di Indonesia, dan (2 adanya kesenjangan pemahaman tentang keterkaitan antara vegetasi, air, dan tanah. kedua hal ini mendorong terbentuknya pemahaman bersama (masyarakat luas termasuk akademisi yang cenderung bersifat simplistik bahwa banjir bandang tersebut terjadi karena mengingkatnya penebangan hutan. Apakah pemahaman tersebut di atas didukung oleh bukti-bukti ilmiah? Atau karena didorong oleh emosi bahwa kerusakan hutan makin meningkat. Tulisan ini mencoba untuk menunjukkan hasil penelitian bahwa, pada banyak kasus, banjir bandang lebih disebabkan oleh tingginya intensitas curah hujan.   ABSTRACT Big floods found in downstream areas that occurred in the wettest months of rainy season are often said to be associated with forest cutting in the upper parts of a watershed. This is partly caused by an increasing strong concerned from many people on high rate of forest destruction in many parts of Indonesia. Partly by false perception on forest-water-soil interaction. In the mean time, there is a common perception among the people including some scientific communities that large floods with severe economic impact are closely linked with the increasing forest cutting. Does this allegation have scientific justification? Or is it just a public emotion driven by the fact that many forest stands are becoming degraded overtime. This article is trying to bring up some scientific findings that, in many cases, big floods were often associated with extreme rainfall. Some illustrations used in this article are mainly from research findings in the temperate climates, with small protions from tropical regions.

  18. STUDI KEANEKARAGAMAN CAPUNG (ODONATA SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS AIR SUNGAI BRANTAS BATU-MALANG DAN SUMBER BELAJAR BIOLOGI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Candra Virgiawan

    2015-07-01

    Full Text Available Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan suatu peristiwa dan kejadian yang terjadi, penelitian kuantitatif bertujuan untuk menjelaskan angka-angka data analisis mengunakan statistik. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 25 Juli-16 Agustus 2014 pagi hari dengan metode jelajah (visual day flying. Data dikumpulkan dengan melakukan observasi atau pengamatan langsung terhadap populasi yang diselidiki. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan sepuluh jenis spesies capung (Odonata, delapan jenis termasuk dalam sub ordo Anisoptera, Famili Libellulidae yaitu Diplacodes trivalis, Neurothemis ramburii, Orthetrum glaucum, Orthetrum pruinosum, Orthetrum sabina, Pantela flavescens, Trithemis festiva, Zyxomma obtusum, dan dua jenis termasuk dalam subordo Zygoptera, Famili Chlorocyphidae yaitu. Libellago lineate dan famili Coenagrionidae yaitu Ischnura sinegalensis. Odonata yang memiliki indeks nilai penting tertinggi yaitu 1.80% dari famili Libelludae, Genus Orthetrum, dan jenis Orthetrum Sabina. Nilai keanekaragaman tertinggi terdapat pada lokasi A yaitu 1.62. Nilai indeks kemerataan disemua lokasi mendekati 1 menunjukkan bahwa kondisi habitat pada semua stasiun penelitian adalah heterogen. Berdasarkan hasil analisis korelasi terdapat beberapa faktor abiotik yang memiliki korelasi yang kuat dengan jumlah jenis capung yang di temukan, faktor abiotik tersebut diantaranya adalah intensitas cahaya, DO, dan BOD. Hasil analisis FBI (Famili Biotik Indeks diperoleh nilai 7,00, hal ini menunjukan bahwa kualitas air sungai Brantas Batu-Malang tergolong dalam kategori buruk dengan tingkat pencemaran terpolusi sangat banyak.

  19. Analisis Kondisi Galon dan Kondisi Dispenser Serta Perilaku Konsumen Terhadap Keberadaan Bakteri E.coli pada Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Galon

    OpenAIRE

    Hidayatika, Zahra

    2017-01-01

    131000396 Air minum dalam kemasan (AMDK) galon adalah air baku yang telah diproses, dan dikemas dalam kemasan dengan volume 19 liter. Di kota besar, masyarakat mengkonsumsi AMDK galon karena praktis dan dianggap lebih higienis. Namun meskipun demikian, AMDK galon tetap saja bisa terkontaminasi oleh bakteri phatogen baik saat pendistribusian, maupun penggunaan melalui dispenser. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan bakteri E.coli pada AMDK galon berdasarkan kondisi AM...

  20. Studi Efektivitas Antidiabetik Ekstrak Air Dan Ekstrak Etanol Buah Pare (Momordica Charantia Linn) Pada Mencit Diabet Aloksan

    OpenAIRE

    Evacuasiany, Endang; Darsono, Lusiana; Rosnaeni

    2005-01-01

    Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik menahun yang ditandai dengan kadar glukosadarah yang melebihi nilai normal. Untuk mengatasi DM atau kadar glukosa darah yang tinggi pada penderita DM, diperlukan terapi alternatif dengan menggali potensi lokal yaitu tanaman obat.Telah dilakukan uji perbandinganefektivitas antidiabetik ekstrak air dan ekstrak etanol buah pare (Momordica charantia Linn). Uji dilakukan pada mencit jantan normal galur Swiss Webster yang dibuat menjadi diabet den...

  1. Uji selektivitas ekstrak etil asetat (EtOAc biji putat air (Barringtonia racemosa terhadap keong mas (Pomacea canaliculata dan ikan lele lokal (Clarias batrachus

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Musri Musman

    2012-04-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk menentukan selektivitas ekstrak etil asetat (EtOAc biji putat air (Barringtonia racemosa dalam pengendalian hama keong mas (Pomacea canaliculata yang dibandingkan terhadap ikan lele lokal (Clarias batrachus. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Laut Jurusan Ilmu Kelautan Koordinatorat Kelautan dan Perikanan dan Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala dari bulan Juni sampai Juli 2011. Serbuk biji putat air diekstraksi berdasarkan kepolarannya secara berurutan, yaitu diklorometana, etil asetat, dan metanol. Pada penelitian ini digunakan ekstrak etil asetat dari simplisia. Penelitian ini dirancang dengan lima perlakuan konsentrasi (25, 50, 100, 200, dan 400 ppm. Masing – masing sebanyak 10 individu organisme uji (ikan lele lokal, keong mas digunakan pada tiap perlakuan. Tiap perlakuan dilakukan tiga kali ulangan. Ekstrak biji putat air dipajan ke dalam aquarium pengujian. Data hasil pengamatan mortalitas organisme uji dianalisis dengan program Trimmed Spearman Karber (TSK version 1.5. Nilai selektivitas dihitung berdasarkan harga LC50 yang diperoleh dari program TSK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1 LC50 ekstrak biji putat air terhadap keong mas adalah 25,00 ppm dan LC50 ekstrak biji putat air terhadap lele lokal adalah 87,06 ppm. (2 selektivitas ekstrak biji putat air sebagai antimoluska keong mas terhadap ikan lele lokal adalah 3,48.

  2. Estimasi Kanal Akustik Bawah Air Untuk Perairan Dangkal Menggunakan Metode Least Square (LS dan Minimum Mean Square Error (MMSE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mardawia M Panrereng

    2015-06-01

    Full Text Available Dalam beberapa tahun terakhir, sistem komunikasi akustik bawah air banyak dikembangkan oleh beberapa peneliti. Besarnya tantangan yang dihadapi membuat para peneliti semakin tertarik untuk mengembangkan penelitian dibidang ini. Kanal bawah air merupakan media komunikasi yang sulit karena adanya attenuasi, absorption, dan multipath yang disebabkan oleh gerakan gelombang air setiap saat. Untuk perairan dangkal, multipath disebabkan adanya pantulan dari permukaan dan dasar laut. Kebutuhan pengiriman data cepat dengan bandwidth terbatas menjadikan Ortogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM sebagai solusi untuk komunikasi transmisi tinggi dengan modulasi menggunakan Binary Phase-Shift Keying (BPSK. Estimasi kanal bertujuan untuk mengetahui karakteristik respon impuls kanal propagasi dengan mengirimkan pilot simbol. Pada estimasi kanal menggunakan metode Least Square (LS nilai Mean Square Error (MSE yang diperoleh cenderung lebih besar dari metode estimasi kanal menggunakan metode Minimum Mean Square (MMSE. Hasil kinerja estimasi kanal berdasarkan perhitungan Bit Error Rate (BER untuk estimasi kanal menggunakan metode LS dan metode MMSE tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan yaitu berselisih satu SNR untuk setiap metode estimasi kanal yang digunakan.

  3. Algae Resources

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    None

    2016-06-01

    Algae are highly efficient at producing biomass, and they can be found all over the planet. Many use sunlight and nutrients to create biomass, which contain key components—including lipids, proteins, and carbohydrates— that can be converted and upgraded to a variety of biofuels and products. A functional algal biofuels production system requires resources such as suitable land and climate, sustainable management of water resources, a supplemental carbon dioxide (CO2) supply, and other nutrients (e.g., nitrogen and phosphorus). Algae can be an attractive feedstock for many locations in the United States because their diversity allows for highpotential biomass yields in a variety of climates and environments. Depending on the strain, algae can grow by using fresh, saline, or brackish water from surface water sources, groundwater, or seawater. Additionally, they can grow in water from second-use sources such as treated industrial wastewater; municipal, agricultural, or aquaculture wastewater; or produced water generated from oil and gas drilling operations.

  4. Sistem Pemantauan Kadar pH, Suhu dan Warna pada Air Sungai Melalui Web Berbasis Wireless Sensor Network

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ahmad Sabiq

    2017-07-01

    Full Text Available Water is a very important natural resource for human life and other living things. Water pollution, especially in river water, should be controlled because of the rapid development. One technology to monitor multiple physical quantities scattered in a region is the Wireless Sensor Network (WSN. WSN technology has the ability to transmit data from sensor readings and forward data received from other nodes. In this study, prototype monitoring system of pH level, temperature, and color based on WSN that can be monitored through the developed web. The sensors at each node are connected to Arduino Uno as a processing unit, data read from the sensor is sent to the sync node via XBee wireless device. In the sink, the PC also serves as a database server and a web server is used. Test results with two different dispersion indicate that sensor readings can be read by all nodes and received by the sync node and can be displayed on web pages that have been built. Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. Pencemaran air khususnya air sungai perlu dikendalikan seiring makin cepatnya pembangunan. Salah satu teknologi untuk melakukan pemantauan besaran fisik dalam wilayah yang tersebar adalah Wireless Sensor Network (WSN, yang memiliki kemampuan untuk mengirimkan data hasil pembacaan sensor serta meneruskan data yang diterima dari node lain. Pada penelitian ini dikembangkan purwarupa sistem pemantauan kadar pH, suhu dan warna berbasis WSN yang dapat dipantau melalui web. Sensor pada setiap node dihubungkan ke Arduino Uno sebagai unit pemroses, data yang dibaca dari sensor dikirimkan ke node sink melalui perangkat XBee nirkabel. Pada sink digunakan PC yang berfungsi juga sebagai database server dan web server. Hasil dari pengujian dengan dua penyebaran yang berbeda didapatkan hasil bahwa pembacaan sensor dapat dibaca oleh seluruh node dan diterima oleh sink serta dapat ditampilkan melalui laman web yang

  5. De quelques retours de M. Chat : Historiographie politique dans Le fond de l’air est rouge

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jeremy Hamers

    2012-10-01

    Full Text Available Dans son film de montage Le fond de l’air est rouge, Chris Marker compile un ensemble de représentations hétérogènes issues d’une décennie de luttes (ouvrières, étudiantes, indépendantistes, etc. dans le monde. Par l’assemblage de ces images, le cinéaste déploie une historiographie a priori mélancolique et défaitiste. Le présent texte entend dépasser cette interprétation unilatérale de la critique politique des images pour y identifier les traces d’un retour chronique à l’espoir militant.

  6. STUDI BIOAKUMULASI MERKURI DARI JALUR AIR LAUT OLEH KERANG DARAH (ANADARA GRANOSA DAN KERANG HIJAU (PERNA VIRIDIS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Heny Suseno

    2016-10-01

    Full Text Available ABSTRACT Blood cockle and green mussel are source of protein that vulnerable to contamination by mercury (Hg through bioaccumulation process. The research of Hg2+ bioaccumulation ability by bloodcockle (Anadara granosa and green mussel (Perna viridis using the radiotracer 203Hg2+ was conducted based on laboratory experiments design. Biokinetic parameters, such as the uptake and depuration rate and Concentration Factor, were determined to obtain predictions of Bioconcentration Factor (BCF and steady state conditions. The results of experiment using non-linear model showed that blood cockle and green mussel have the capability to accumulate Hg2+ by 15429.38 and 6963.68 times higher than its concentration in seawater after 51 days. Based on the BCF value obtained from the experiments, the predicted concentration of mercury in Anadara granosa and Perna viridis from Jakarta Bay was 1.327 and 0.599 mg.Kg-1 respectively. The predicted concentration of Hg2+ in Anadara granosa exceeds those required by ISO 7387:2009. On the other hand, the predicted in Perna viridis still meet the requirements of ISO 7387 2009. Keywords: Bioaccumulation, mercury, Perna viridis, Anadara granosa   ABSTRAK Kerang darah dan kerang hijau merupakan salah satu sumber protein yang rentan terkontaminasi merkuri (Hg melalui proses bioakumulasi. Penelitian kemampuan bioakumulasi Hg2+ oleh kerang darah (Anadara granosa dan kerang hijau (Perna viridis menggunakan radiotracer 203Hg2+ dilakukan dengan desain eksperimen di laboratorium. Parameter biokinetika seperti kecepatan pengambilan, kecepatan pelepasan dan Faktor Konsentrasi ditetapkan untuk memprediksi Faktor Biokonsentrasi dan kondisi steady state proses bioakumulasi. Hasil percobaan yang dimodelkan dalam persamaan non linier menunjukkan bahwa Anadara granosa maupun Perna viridis mampu mengakumulasi Hg2+ masing-masing 15429,38 dan 6963,68 kali dari konsentrasinya di dalam air laut setelah 51 hari. Berdasarkan nilai BCF masing

  7. Studi Numerik Karakteristik Pengeringan Batubara pada Fluidized Bed Coal Dyer Terhadap Pengaruh Variasi Temperatur Air Heater dengan Tube Heater Tersusun Staggered dan Perbandingan Volume Chamber dan Volume Batubara Sebesar 50%

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ayu Sarah Novrizqa

    2013-03-01

    Full Text Available Indonesia mempunyai sumber daya batubara yang cukup besar dan sebagian besar sumber daya tersebut termasuk ke dalam batubara peringkat rendah berupa lignit dan sub-bituminus yang memiliki kadar air yang tinggi. Tingginya kadar air menyebabkan rendahnya nilai kalor, sehingga pemanfaatan batubara jenis ini menjadi terbatas dan sulit untuk dipasarkan. Oleh karena itu perlu adanya teknologi pengeringan yang dapat meningkatkan nilai kalor dari batubara tersebut. Dalam proses pengeringan akan melibatkan perpindahan panas dan massa. Proses ini akan didefinisikan dalam suatu studi numerik, dimana penelitian ini dilakukan dengan metode numerik dengan software Fluent 6.3.26. Pemilihan kondisi simulasi digunakan model turbulensi k-ε realizable dan skema interpolasi first-order upwind. Serta mempelajari pengaruh temperatur inlet udara pengering yang divariasikan. Variasi temperatur adalah 316 K, 327 K, 339 K. Dari penelitian ini  dapat diketahui nilai drying rate serta pengaruh temperatur dan posisi batubara dalam proses pengeringan pada drying chamber fluidized bed coal dryer dengan tube heater tersusun staggered serta pengaruh dari perbandingan volume batubara dengan volume chamber sebesar 50%. Moisture content batubara yang paling banyak berkurang dialami oleh temperature outlet terbesar yaitu 339 K dari 0,22 hingga 0,0167. Laju pengeringan yang memiliki waktu paling cepat yaitu pada temperatur 339 K, sekitar 1100 detik, sedangkan yang memiliki waktu paling lama yaitu pada temperatur 316 K, sekitar 4600 detik.

  8. AKTIVASI DAN APLIKASI ZEOLIT ALAM SEBAGAI ADSORBEN LOGAM KROMIUM DALAM AIR LIMBAH INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    lucky wahyu nuzulia setyaningsih

    2017-09-01

    Full Text Available Industri penyamakan kulit menghasilkan limbah cair dengan jumlah yang cukup besar dan mengandung logam berat kromium yang bersifat non-biodegradable sehingga keberadaanya di lingkungan akan terakumulasi hingga mencapai kadar yang berbahaya bagi lingkungan dan manusia. Salah satu metode untuk menangani masalah ini adalah adsorpsi dengan memanfaatkan zeolit alam sebagai adsorben. Zeolit alam  dipilih karena memiliki potensi sebagai penjerap dan keberadaanya di alam cukup melimpah. Variasi metode aktivasi dengan pemanasan dan penambahan larutan KOH sebagai aktivator dengan konsentrasi 2M, 4M, 6M akan diuji untuk meningkatkan kemampuan penjerapan. Metode aktivasi secara kimia menggunakan konsentrasi KOH 6M memberikan presentase penjerapan paling baik dengan daya serap terhadap kromium sebesar 12,1065 mg/g. Pengujian model Isotherm yang mewakili proses adsorpsi ini adalah Model Freundlich.

  9. PENENTUAN KANDUNGAN LOGAM Pb DAN Cr PADA AIR DAN SEDIMEN DI SUNGAI AO DESA SAM SAM KABUPATEN TABANAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    NI PUTU DIANTARIANI

    2012-11-01

    Full Text Available Research on the heavy metal content, Pb and Cr in water and sediment of Ao River in Sam SamVillage, Tabanan Regency have been carried out. Sample of water taken at 8 location per week during 4weeks, while sample of sediment only taken once at 8 location. Determination of metal content of Pb and Crconducted using destruction method with mixture of HNO3 dan HCl (3:1 and analysed with AbsorptionAtomic Spectrophotometer.The result showed that mean metal content of Pb and Cr in water of Ao river at the location aftertextile industry (location 5 until 8 from four times intake of samples have passed enabled boundarythreshold that is 0,03 mg/L for Pb and 0,05 mg/L for Cr. Mean Pb content in sediment at location 1, 2, 3, 4and 5 still under natural content while location 6, 7 and 8 over the natural boundary threshold. Meanwhile forthe Cr metal only at location 8 over the natural boundary threshold. The highest metal content of Pb and Cr insediment and water found at location 8 that is each of 0,496 mg/L and 0,213 mg/L for Pb and Cr in water and141,844 mg/Kg and 33,489 mg/Kg for Pb and Cr in sediment respectively.

  10. Evaluasi Pengolahan Air Limbah Pabrik Kelapa Sawit (Studi Kasus : Pabrik Kelapa Sawit Dan Pabrik Inti Sawit, PTPN - I –Tg. Seumentoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang)

    OpenAIRE

    Harahap, Arsyad Hadomuan

    2013-01-01

    PKS Tg. Seumentoh merupakan salah satu pabrik penghasil minyak sawit yang dimiliki oleh PTPN I yang didirikan pada tahun 13 juli 1977. PKS ini merupakan salah satu sentral perkebunan khususnya bagi Aceh tamiang dan umumnya bagi seluruh NAD, karena memiliki kapasitas olah yang besar yaitu: 60 ton TBS/jam sehingga sangat memegang peranan penting dalam peningkatan hasil yaitu sebesar 25 %. Penulisan tugas akhir ini dilakukan dengan metode deskriptif dan kuantitatif. Proses penyaluran air limb...

  11. PERBAIKAN SIFAT MEKANIK DAN LAJU TRANSMISI UAP AIR EDIBLE FILM DARI PATI GANYONG TERMODIFIKASI DENGAN MENGGUNAKAN LILIN LEBAH DAN SURFAKTAN Improving the Mechanical and Water Vapour Transmission Rate Properties of Edible Film from Modified Ganyong Starc

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Budi Santoso

    2012-05-01

    Full Text Available Edible film from ganyong starch without and with modification were incorporated by CMC and lecithin as surfactants. Edible film were characterized with respect to water vapor transmission rate and mechanical properties. Incorporation of CMC 2 % and lecithin 1 % as surfactants decreased water vapor transmission rate. Puncture strength decreased but still fulfill Japanese Industrial Standard (JIS 1975 min 50 gf.  Elongation of edible film increased and not fulfill JIS 1975 min 70 %.   Keywords: Carboxymethyl cellulose, lecithin, modification, starch, surfactants   ABSTRAK Edible film pati ganyong sebelum dan setelah dimodifikasi ditambahkan surfaktan CMC dan lesitin. Karakteristik edible film yang diamati adalah laju transmisi uap air dan sifat mekanik (kuat tekan dan persen pemanjangan. Penambahan CMC dengan konsentrasi 2 % dan lesitin 1 % menurunkan laju transmisi uap air edible film pati ganyong. Kuat tekan edible film pati ganyong mengalami penurunan, namun masih memenuhi standar JIS 1975 minimal 50gf. Nilai persen pemanjangan edible film pati ganyong meningkat tetapi belum memenuhi standar JIS 1975. Kata kunci: Carboxymethyl cellulose, lesitin, modifikasi, pati, surfaktan

  12. PERBAIKAN METODE IDENTIFIKASI POTENSI PENGEMBANGAN LAHAN UNTUK TAMBAK AIR PAYAU SISTEM EKSTENSIF LEWAT INTEGRASI LOGIKA SAMAR DAN PENGINDERAAN JAUH

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tarunamulia Tarunamulia

    2016-11-01

    Full Text Available Tersedianya data potensi lahan tambak yang cepat, akurat dan lengkap untuk kebutuhan pengelolaan kawasan pengembangan perikanan budidaya air payau harus didukung oleh metode identifikasi yang efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengupayakan peningkatan kualitas metode klasifikasi multispektral dalam penginderaan jauh dalam mengidentifikasi potensi lahan tambak ekstensif dengan mengintegrasikan logika samar dalam proses klasifikasi citra. Citra landsat-7 ETM+ (30 m, data elevasi digital dan data pengecekan lapang untuk wilayah pantai (kawasan tambak ekstensif/tradisional Kecamatan Kembang Tanjung, Pidie, Nangroe Aceh Darussalam (NAD digunakan sebagai bahan utama dalam penelitian ini. Klasifikasi multispektral standar secara terbimbing diperbaiki melalui pengambilan data training secara cermat, yang diikuti dengan uji keterpisahan objek, pemrosesan pasca-klasifikasi dan analisis tingkat ketelitian. Hasil klasifikasi dengan tingkat ketelitian terbaik dari berbagai algoritma yang diujikan untuk tiga saluran selanjutnya dibandingkan dengan hasil klasifikasi dengan menggunakan logika samar. Dari hasil penelitian diketahui bahwa klasifikasi multispektral standar dengan algoritma Maximum Likelihood mampu menghasilkan informasi penutup lahan yang cukup lengkap dan rinci pada wilayah pertambakan dengan ketelitian yang cukup baik (>86%. Tingkat ketelitian yang sama juga masih dijumpai walaupun hanya melibatkan kombinasi 3 saluran terbaik (5,4, dan 3 yang dipilih berdasarkan analisis statistik nilai kecerahan piksel. Dengan membandingkan hasil terbaik dari metode klasifikasi standar yang berbasis logika biner (boolean dengan hasil klasifikasi citra dengan logika samar dalam pengklasifikasian wilayah tambak, diketahui bahwa klasifikasi citra dengan logika samar mampu memperlihatkan hasil klasifikasi yang sangat baik untuk menentukan batas wilayah tambak yang tidak bisa dilakukan secara langsung bahkan oleh metode standar dengan algoritma

  13. KUALITAS FISIK DAN KIMIA AIR PAM DI JAKARTA, BOGOR, TANGERANG, BEKASI TAHUN 1999 - 2001

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Mariana Raini

    2012-09-01

    Full Text Available Drinking water quality of PAM in Jakarta, Bogor, Tangerang and Bekasi between the year of 1999 - 2001 has been studied. Water quality was determined by a series of physical and chemical test at Chemical Laboratory Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional as stated in Permenkes no.416/Menkes/Per/IX/1990 on condition and water quality control including smell, color, turbidity, contents of manganese, iron, nitrite, sulphate, organic subtance, turbidity, hardness and pH. Total sampling was done on all drinking water samples from DKI Jakarta, Bogor, Tangerang and Bekasi delivered to be tested at Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional between 1999-2001 and destilled water as control. Result of the study from 431 drinking water samples shows that samples that met the requirements as drinking water is 91,65% and 8,35% sub standard, most of the the sub standard drinking water is cause by the contents of manganese (4,41%, iron (2,09%, organic subtance (1,62%, chloride (0,93% and high water hardness (0,23% as well as pH (3,15%, turbidity (1,86% and colors (1,62% Statistically, the water quality of PAM in Jakarta, Bogor, Tangerang and Bekasi at 1999, 2000 and 2001 is not different.  Key word : water quality of PAM, drinking water, physical test, chemical test.

  14. PENGARUH PENUTUPAN MANGROVE TERHADAP PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN INTRUSI AIR LAUT DI HILIR DAS CIASEM DAN DAS CIPUNEGARA, KABUPATEN SUBANG (Effect of Mangrove Vegetation Cover to the Shoreline Change and Seawater Intrusion at Downstream of Ciasem

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Andi Gustiani Salim

    2016-09-01

    Full Text Available ABSTRAK Perubahan penggunaan lahan dari hutan ke penggunaan lainnya seringkali diikuti oleh penurunan fungsi tanah sebagai pengatur tata air. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh tutupan mangrove terhadap perubahan garis pantai dan intrusi air laut pada hilir DAS. Penelitian difokuskan pada penentuan jenis penggunaan lahan pantai melalui interpretasi citra satelit dan pengecekan lapangan, analisis kondisi fisik tanah, pengamatan intrusi air laut, dan analisis perubahan garis pantai akibat abrasi atau ekresi. Hasil penelitian menunjukkan pada periode tahun 1989 hingga 2013, tambak yang ditanami mangrove di Kabupaten Subang mengalami penurunan luas dari 3402,6 ha menjadi 2384,9 ha, sebaliknya terjadi peningkatan luas tambak tanpa mangrove dari 5745 ha menjadi 8741,5 ha. Analisis perubahan garis pantai menunjukkan adanya abrasi di Ujung Pamanukan dan Teluk Ciasem mencapai 1,2 km ke arah daratan. Akresi dijumpai di Teluk Blanakan dan Muara Cipunagara mencapai 1,3 km dalam kurun waktu 1989 – 2013, sedangkan di Muara Sungai Cipunagara mencapai 1,7 km. Air tanah di Desa Muara dan Desa Legon Wetan termasuk air agak payau karena memiliki nilai DHL yang lebih besar dari 1500 µS/cm dan TDS di Legon Wetan > 1000 ppm, sedangkan di Muara TDS nya mendekati 1000 ppm. Perbandingan konsentrasi khlorida-bikarbonat di Desa Muara dan Desa Legon Wetan menunjukkan angka R > 1 sehingga tingginya kadar garam pada air tanah diakibatkan oleh intrusi air laut. Hal sebaliknya terjadi di Desa Tegalurung yang penggunaan pantainya didominasi tambak bermangrove memiliki nilai DHL dan TDS air tanah yang masuk dalam klasifikasi air tawar.   ABSTRACT Changes in land use from forest to other uses are often followed by a decrease in soil functions as a regulator of the water system. This research aimed to study the effect of mangrove cover to a change of a coastline and sea water intrusion in the downstream watershed. The research were focused on determining the

  15. The air quality in ventilation installations. Practical guidelines; Qualite de l'air dans les installations aerauliques. Guide pratique

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Angeli, L. [France Air, 91 - Chilly Mazarin (France); Bianchina, M. [Unelvent, 93 - Le Bourget (France); Blazy, M. [Anjos, 01 - Torcieu (France); Boulanger, X. [Aldes, 21 - Chenove (France); Chiesa, M. [Atlantic (France); Duclos, M. [Groupe Titanair, 69 - Lyon (France); Hubert, D.; Kridorian, O. [Groupe Astato, Blanc Mesnil (France); Josserand, O. [Carrier (Belgium); Lancieux, C. [Camfil, 60 - Saint Martin Longueau (France); Lemaire, J.C. [Agence de l' Environnement et de la Maitrise de l' Energie, ADEME, 75 - Paris (France); Petit, Ph. [Compagnie Industrielle d' Applications Thermiques ( CIAT ), 75 - Paris (France); Ribot, B. [Electricite de France (EDF), 75 - Paris (France); Tokarek, S. [Gaz de France (GDF), 75 - Paris (France); Bernard, A.M.; Tissot, A. [Centre Technique des Industries Aerauliques et Thermiques (CETIAT), 69 - Villeurbanne (France)

    2004-07-01

    The present guide aims to provide design departments, maintenance companies and builders with practical guidelines and recommendations for the installation of ventilation and air-conditioning systems. The objective is to ensure good Indoor Air Quality (IAQ) and to safeguard the health and well-being of the occupants. The guide deals with aspects of design, dimensioning, installation and servicing, all of which play a major role in guaranteeing IAQ and duct-work hygiene. These steps are reviewed for the principal ventilation systems met in both residential and commercial premises. The first part presents the system and draws the attention of the user to specific points which require particular care in term of IAQ. The second part details recommended practice component by component, in respect of design, installation and servicing. Application of these simple guidelines during the various project stages is essential, in order to ensure a good IAQ in ventilation systems. Content: introduction; good ventilation; systems: exhaust ventilation, balanced ventilation, air handling unit, terminal ventilation units, impact of systems on indoor air quality, components: air inlet, air filter, heat recovery unit, heating or cooling coil, humidifier, mechanical fan unit, cowl and hybrid ventilation fan, mixing box, ventilation duct-work, air outlet and air terminal device; references.

  16. Penapisan dan Karakterisasi Protease dari Bakteri Termo-Asidofilik P5-A dari Sumber Air Panas Tambarana

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dewi Seswita Zilda

    2008-12-01

    (ekstrak kasar bekerja optimal pada pH 6 dan suhu 500C. Aktivitas enzim dipacu oleh adanya ion Ca2+ dan Fe2+ (sebagai garam klorida;1mM, sedangkan Co2+, Zn2+, dan EDTA dalam konsentrasi yang sama menghambat aktivitas enzim tersebut. Enzim protease P5-a tahan terhadap deterjen (SDS 1%, Triton X-100 (5%, dan PMSF (1 dan 5 mM, menunjukkan bahwa enzim protease tersebut kemungkinan termasuk ke dalam protease logam.

  17. Desain dan Analisis Variabel Air Gap pada Motor Axial Flux Brushless DC Berbasis 3D Finite Element Method Untuk Aplikasi Kendaraan Listrik

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Achmad Abdul Ghoni

    2015-12-01

    Full Text Available Seiring berjalannya waktu dibutuhkan pengembangan teknologi pada motor penggerak pada kendaraan yang beredar dipasaran. Karena sumber energi fosil merupakan energi yang tidak dapat diperbarui, maka pengembangan kendaraan dengan listrik sebagai sumber energi adalah solusi untuk penghematan energi dimasa depan. Salah satu jenis motor yang tepat untuk digunakan sebagai penggerak kendaraan akan dibahas pada tugas akhir ini, yaitu motor axial flux brushless DC. Pada tugas akhir ini dilakukan pembuatan desain dan analisis simulasi  variabel air gap pada motor axial flux brushless DC dengan rating daya output 12 kW, tegangan DC input 400 V, frekuensi 200 Hz, dan kecepatan 2388 rpm. Varasi variabel air gap dilakukan dengan cara membuat jarak air gap pada jari-jari dalam lebih lebar dibandingkan jari-jari luar. Variasi variabel air gap yang diberikan menghasilkan perubahan nilai pada beberapa parameter kelistrikan motor. Dari simulasi yang didapatkan variasi variabel air gap terbaik pada 1,5 mm dengan kompensasi penambahan ketebalan magnet permanen sebesar 5 mm. Hasil dari variabel air gap pada motor axial flux brushless DC adalah rating daya output yang meningkat menjadi 14,5 kW dengan efisiensi 78,8 persen dan core loss sebesar 356,2 W.

  18. Modes participatifs et stratégies associatives dans la mise en oeuvre de la loi sur l'air

    OpenAIRE

    FRERE, S

    2004-01-01

    Dans le cadre d'un projet de recherche financé par le programme concertation, décision, environnement du ministère de l'écologie et du développement durable, nous avons étudié la manière dont les associations prenaient part à trois dispositifs de planification : PRQA (plan régional pour la qualité de l'air), PPA (plan de protection de l'atmosphère) et le PDU (plan de déplacements urbains). Cet article présente partiellement les conclusions de ce travail. L'analyse a porté à la fois sur la faç...

  19. PENYERAPAN KARBON PADA BUDIDAYA RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii dan Gracilaria gigas DI PERAIRAN TELUK GERUPUK, LOMBOK TENGAH, NUSA TENGGARA BARAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Erlania Erlania

    2013-08-01

    Full Text Available Pengikatan karbon oleh algae fotoautotrofik berpotensi untuk mengurangi pelepasan CO2 ke atmosfer dan dapat membantu mencegah percepatan terjadinya pemanasan global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penyerapan karbon pada budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii dan Gracilaria gigas berdasarkan aktivitas fotosintesis serta variabel-variabel yang mempengaruhinya. Budidaya rumput laut dilakukan dengan metode long-line di perairan Teluk Gerupuk, Lombok Tengah pada satu unit long-line dengan luas area 1.250 m2. Selama penelitian, dilakukan pengujian terhadap sampel rumput laut dan sampel air laut dari lokasi budidaya yang diambil pada hari ke-0, 10, 20, 30, dan 45 pemeliharaan. Laju penyerapan karbon total berdasarkan biomassa panen pada G. gigas hampir 300% lebih tinggi dibandingkan K. alvarezii. Selain itu, laju pertumbuhan dan produksi karbohidrat pada G. gigas juga lebih tinggi, yang mengindikasikan laju fotosintesis yang lebih tinggi, dan didukung oleh indeks percabangan yang juga lebih tinggi. Potensi penyerapan karbon di perairan Teluk Gerupuk mencapai 6.656,51 ton C/tahun untuk budidaya K. Alvarezii dan 19.339,02 ton C/tahun untuk budidaya G. gigas. Penyerapan karbon berhubungan dengan kandungan pigmen dan laju pertumbuhan rumput laut, serta konsentrasi CO2 dan kecerahan perairan.

  20. EVEDADA comme processus d'apprentissage Dans l'aire culturelle ...

    African Journals Online (AJOL)

    facilitent l'acquisition des connaissances, d'où la nécessité pour nous de partir de l'anthropologie du langage pour argumenter la problématique de l'intégration des jeux endogènes dans la pratique des loisirs au Bénin. Il s'agit pour nous de redécouvrir les jeux endogènes par la mise en oeuvre des savoirs et savoir faire y ...

  1. EFEKTIVITAS GEL ANTIJERAWAT EKSTRAK METANOL DAUN PACAR AIR (Impatiens balsamina L. TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis SECARA IN VITRO

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Septira Murtiningsih

    2014-06-01

    Full Text Available Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis is an inflamation triggering bacterias in acne vulgaris. Plants that has been studied for antibacterial effect is Impatiens balsamina. Gel bases for acnes therapy are hydrophilic bases like HPMC (Hydroxypropyl methylcellulose and carbopol. The aim of this study was to know the optimum combination of Carbopol and HPMC (Hydroxypropyl metylcellulose in gel formulation that gives best antibacterial effect and to evaluate physical and chemical properties of gel. Extraction was performed by soxhlet method with methanol as solvent. The design of optimum gel formulation was performed using simplex lattice design. Optimum gel formulation was combination of 21% HPMC and 79% Carbopol. Verification results showed that optimum gel of inhibition zone of P. acnes and S. epidermidis is 17.61±0.93 mm and 16.01±1.01 mm respectively. Positive control compared to optimum gel showed inhibition zone toward P.acnes and S.epidermidis of 29.1±1.34 mm and 24.98±1.83 mm respectively. Analysis results using T-test showed that p-value was lower than 0.05 (p<0.05 hence the effectivity from optimum gel was significantly different from positive control that has greater activity than optimum gel. Evaluation of optimum gel showed gel has dark brown color, specific odor from extract, adhesive force of 3.17 minutes, spreadibility of 32.69 cm2, viscosity of 436.66 cP and as well as the pH of 5.23. Keywords: Methanolic extracts of Impatiens balsamina leaves, Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, gel, carbopol, HPMC   ABSTRAK Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis adalah bakteri pemicu peradangan pada jerawat. Tanaman yang telah banyak diteliti sebagai antibakteri adalah pacar air (Impatiens balsamina L.. Bahan dasar gel yang cocok untuk terapi jerawat adalah bahan dasar hidrofilik seperti HPMC (Hydroxypropyl methylcellulose dan karbopol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui

  2. Qualité de l’air et nuisances sonores dans les vallées alpines de transit

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jürg Thudium

    2009-03-01

    Full Text Available Les conséquences du trafic routier, en termes de nuisances sonores et de qualité de l’air, ont été analysées et comparées pour quatre vallées de transit alpin (Fréjus, Mont Blanc, Gothard et Brenner durant l’année 2004. Au regard du trafic alpin dans son ensemble, des disparités considérables apparaissent entre les vallées étudiées, mais également à l’intérieur de ces mêmes vallées. Les immissions (concentration de polluants produites par unité d’émission du trafic routier sont deux à trois fois plus élevées dans ces vallées alpines qu’en plaine. Ceci s’explique principalement par la topographie et le climat particuliers de ces vallées. À de nombreux points d’observation, les seuils d’immission ont été dépassés. Les vallées sont également affectées durement par la pollution sonore. « L’effet amphithéâtre » transporte le bruit à des altitudes supérieures, qui n’auraient pas été exposées à autant d’irradiation acoustique si la source de nuisances était située à égale distance, mais dans un « paysage ouvert ». De plus, la protection contre le bruit qui se réfléchit sur les pentes est malaisée. En résumé, toutes les vallées de transit étudiées peuvent être considérées comme des régions sensibles.The environmental consequences of road transport with regard to air and noise in the transit valleys of Fréjus, Mont-Blanc, Gotthard, and Brenner have been analysed and compared with each other for the year 2004. In respect of the share of transport passing through the Alps in transport as a whole, there are in part considerable differences between the valleys under investigation as well as within the individual valleys. The air pollution produced per emission unit of road transport is two to three times higher than in the open country, mainly because of the topography and the climate. At numerous monitoring points, the thresholds for the air pollution were exceeded

  3. Énergie nucléaire. Mesure de la radioactivité dans l'environnement. Eau. Mesurage de l'indice de radioactivité bêta globale en équivalent strontium 90 et yttrium 90 dans l'eau peu chargée en sels.

    CERN Document Server

    Association Française de Normalisation. Paris

    1997-01-01

    Énergie nucléaire. Mesure de la radioactivité dans l'environnement. Eau. Mesurage de l'indice de radioactivité bêta globale en équivalent strontium 90 et yttrium 90 dans l'eau peu chargée en sels.

  4. Pengaruh Kepemimpinan dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Karyawan pada Perusahaan Daerah Air Minum (Pdam) Kota Padang

    OpenAIRE

    Putri, Yosi Eka; NATASSIA, RIZKY; Oposma, Meri

    2013-01-01

    Human resources is a factor that determines the success or not of an organization in achieving a goal. Efforts should be made to improve the performance of employees, among others, with good leadership and motivation in the workplace is high. Attainable goal of this study was to determine, influence or leadership and motivation on employee performance in Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang. Object of study the research is employee to Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang w...

  5. Pengaruh Kepemimpinan dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Karyawan pada Perusahaan Daerah Air Minum (Pdam) Kota Padang

    OpenAIRE

    Yosi Eka Putri, Meri Oposma Rizky Natassia

    2013-01-01

    Human resources is a factor that determines the success of an organization in achieving a goal. Efforts should be made to improve the performance of employees, among others, with good leadership and motivation in the workplace is high. Attainable goal of this study was to determine, influence or leadership and motivation on employee performance in Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang. Object of study the research is employee to Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang with pop...

  6. PEMBUATAN ELEKTRODA KARBON BERPORI DARI TEMPURUNG KEMIRI DAN PERANCANGAN PROTOTIPE SISTEM CAPACITIVE DEIONIZATION (CDI UNTUK DESALINASI AIR PAYAU

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A. Astuti

    2015-01-01

    Full Text Available Telah dilakukan pembuatan karbon aktif dengan bahan dasar tempurung kemiri menggunakan H3PO4 2,5% sebagai aktivator dengan suhu aktivasi (400, 500, dan 600 oC.Luas permukaan aktif yang dihasilkan masing-masing adalah (6,6; 95,6; dan 391,6 m2/g. Karbon yang diaktivasi pada suhu 600 oC digunakan sebagai bahan dasar pembuatan elektroda kapasitor untuk system capacitive deionization (CDI menggunakan polimer polyvinyl alcohol (PVA sebaga ipengikat. Berdasarkan data voltammogram siklik terhadap elektroda CDI diperoleh besar kapasitansi spesifik elektroda adalah 50,21 mF/g.  Proses desalinasi dilakukan pada larutanNaCl 0,24 M dengan menyusun elektroda menggunakan system monopolar dan diberitegangan DC 1,2 V.  Penurunan konduktivitas larutan NaCl menggunakan sistem CDI ini sebesar 61,58%, dengan penurunan kadar natrium dalam larutan NaCl yaitu dari 138,0 mg/L menjadi 80,7 mg/L  selama 40 menit. Karbon aktif tempurung kemiri ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai elektroda CDI untuk sistem desalinasi air payau.The writers had done the research of the activated carbon that prepared with the candlenut shell by using H3PO4 2,5% as the activating agent.  All samples were heated at the temperatures of (400, 500, and 600 oC.  The activated carbon have specific surface area (6.582; 95.623; and 391.567 m2/g respectively. Capacitor electrode for capacitive deionization (CDI was fabricated by using activated carbon that was heated at activation temperature of 600 oC with polyvinyl alcohol (PVA as the binder. Based on cyclicvoltammogram of electrode, specific capacitance of CDI electrode is 50.21 mF/g.  To observe desalination process of electrode, CDI was made by monopolar system and immersed in NaCl 0.24 M as brackish water sample.  Direct current voltage 1.2 V was applied to CDI cell.  The decreased of NaCl conductivity with CDI system respectively is 61.58%.  Sodium concentration in NaCl decreases from 138.000 mg/L to 80.667 mg/Labout 40

  7. IDENTIFIKASI SUMBER PENCEMAR DAN ANALISIS KUALITAS AIR TUKAD SABA PROVINSI BALI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Putu Desy Darmasusantini

    2016-01-01

    Full Text Available Availability of clean water for drinking water increasingly scarce, then efforts to utilize alternative flow of river water as drinking water and raw water industry one of them is Saba River. Purpose of research is to determine the characteristic of pollution source which will be impactto the changing of water quality in physical, chemical, and biological in up, middle and down stream area of Saba River, water quality and pollution index of Saba River. Determination of samples by using purposive sampling method. Sampels were taken at six points with repetitions three times at different times. Sampels taken at two points upstream, two points middle and two points downstream. Samples were analyzed in situ and ex situ. The results showed that the activities that affect water quality physical, chemical, and biological in up, middle and down stream area of Saba River is agricultural activities, livestock, restorant, blacksmith, home stay, residential, workshops, market, laundry and industrial activities. The upstream region until middle region (T1 no parameter exceeded the quality standard, parameters that exceed the quality standard in the middle region (T2 is TSS, BOD, fosfat and fecal coliform, in the downstream which exceeded the parameters in the downstream region (H1 is BOD, fosfat, fecal coliform dan total coliform and in the downstream region (H2 is DO, BOD, COD, fosfat, fecal coliform dan total coliform. Saba River quality status based on the method pollution index in the upstream region (U1 until middle region (T1 showed good condition, middle region (T2 until downstream pollutants classified as mild.

  8. Magnetic separation of algae

    Science.gov (United States)

    Nath, Pulak; Twary, Scott N.

    2016-04-26

    Described herein are methods and systems for harvesting, collecting, separating and/or dewatering algae using iron based salts combined with a magnetic field gradient to separate algae from an aqueous solution.

  9. Algae-Based Jet Fuel: The Renewable Alternative to the Air Force’s Focus On Coal-To-Liquid Synthetic Fuel

    Science.gov (United States)

    2009-10-19

    figure 2: the photobioreactor (PBR) and open racetrack pond. 11 Figure 2. Algae cultivation methods: PBR and open racetrack ponds (left to...right) (Reprinted from Darzins, “Algal Biofuels Technologies”). Researchers found that both photobioreactors (PBR) and shallow open racetrack ponds are

  10. Analisis Perbandingan Algoritma ID3 Dan C4.5 Untuk Klasifikasi Penerima Hibah Pemasangan Air Minum Pada PDAM Kabupaten Kendal

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dana Melina Agustina

    2016-11-01

    Full Text Available Program hibah air minum bertujuan untuk meningkatkan cakupan pelayanan air minum yang diprioritaskan bagi masyarakat berpenghasilan rendah dalam rangka meningkatkan derajat kualitas kesehatan masyarakat. Pengklasifikasian data masyarakat berperan untuk menentukan pemberian sambungan air minum secara objektif dan akurat. Dalam penelitian ini dilakukan perbandingan metode data mining yaitu algoritma ID3 dan C4.5 yang diterapkan pada data masyarakat berpenghasilan rendah pada PDAM Kabupaten Kendal dengan menggunakan RapidMiner. Hasil pengujian yang menunjukkan bahwa algoritma ID3 nilai akurasi sebesar 98,91%. Sedangkan pada algoritma C4.5 nilai accuracy sebesar 99,14%. Jadi algoritma C4.5 memiliki tingkat akurasi yang lebih besar dari pada algoritma ID3. Sehingga pada kasus penerima hibah pemasangan sambungan air minum diterapkan pada framework php dapat menentukan penerima hibah pemasangan sambungan air minum dengan menggunakan acuan pada algoritma C4.5 yang memiliki akurasi yang lebih baik. Kata kunci—Klasifikasi,Algoritma ID3,Algoritma C4.5, Air Minum, PDAM

  11. Pendugaan Kadar Air dan Total Karoten Tandan Buah Segar (TBS Kelapa Sawit Menggunakan NIR Spektroskopi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Zaqlul Iqbal

    2014-10-01

    Full Text Available The aim of this research is to develop a Near Infrared (NIR calibration model based on water content and total carotene that can be used as a standard of ripe fruit. There are three steps of the research. The first step is NIR spectral data aquisition of 60 samples by using NIRFlex N-500. Next step is measuring water content and total carotene from each sample using destructive method. The last step is development of NIR calibration model using (Partial Least Square PLS and applying pretreatment data Standard Normal Variate (SNV, normalization (N01, dan First Derivative Savitzky-Golay 9 Point (DG1. The result show that water content could be predicted well by applying SNV with R2 (calibration =0.89, R2 (validation = 0.88 and RPD = 2.84. Total carotene also could be predicted well by applying DG1 with R2 (calibration = 0.84, R2 (validation = 0.77 and RPD = 2.06.

  12. Calculating emissions into the air. General methodological principles; Calcul des emissions dans l'air. Principes methodologiques generaux

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    2000-05-01

    Knowing the quantities of certain substances discharged into the atmosphere is a necessary and fundamental stage in any environmental protection policy to tackle today's problems such as acid rain, the degradation of air quality, global warming and climate change, the depletion of the ozone layer, etc. This quantification, usually known as an 'emission inventory', is built on a set of specific rules which may vary from one inventory to another. This state of affairs presents the enormous disadvantage that the data available are not comparable. At the international level, an attempt at harmonization has been going on for some years between the various international bodies. This work is being pursued in parallel with the improvement of methodologies to estimate discharges from various types of source. To take account of changes in specifications and of improvements in our understanding of phenomena giving rise to atmospheric pollution, the results of inventories of emissions need to be regularly revised, even retrospectively, to maintain a consistent series. CITEPA, which acts as a National Reference Centre, has developed a system of inventories as part of the CORALIE programme with financial help from the French Ministry for Planning and the Environment. (author)

  13. METODA PENGHILANGAN ZAT BESI DAN MANGAN DI DALAM PENYEDIAAN AIR MINUM DOMESTIK

    OpenAIRE

    Said, Nusa Idaman

    2018-01-01

    Small amounts of iron and manganese are quite common in domestic water supply because of the presence of iron and manganese in the soil and rock formations through which the water passes in reaching the point of use. Iron and manganese is characterized by red-brown staining of bathroom fixtures and laundry, and cause taste and odor problems. Iron and manganese are brought into solution by biological reactions under anaerobic reducing conditions. When the water is exposed to air or oxygen, oxi...

  14. Pelayanan Tiket Domestik Dan Fasilitas Kemudahan Pada PT.Indonesia Air Asia Station Medan

    OpenAIRE

    Ridha Hafny S.

    2011-01-01

    Dengan di dukukung potensi sumber daya alam di Sumatera Utara banyak kita temukan objek – objek wisata. Wisatawan dari dalam maupun luar negeri dapat menikmati indahnya corak kebudayaan. Wisatawan dari dalam maupun luar negeri umumnya mengambil jarur singkat dengan menggunakan alat angkutan udara. Sebagai pelopor Low Cost Carrier, Indonesia AirAsia menjadi pilihan semua kalangan yang akan bepergian menggunakan transportasi udara. Walaupun beberapa pelayanan dikurangi akan tetapi tergant...

  15. PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM KOTA PADANG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Meri Oposma

    2013-04-01

    Full Text Available Human resources is a factor that determines the success of an organization in achieving a goal. Efforts should be made to improve the performance of employees, among others, with good leadership and motivation in the workplace is high. Attainable goal of this study was to determine, influence or leadership and motivation on employee performance in Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM Kota Padang. Object of study the research is employee to Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM Kota Padang with population a mean 113 people employee. This study used a sample of 85 people selected by random cluster sampling technique. Analysis technique used is path analysis. Obtained in a partial amount of leadership influence on job motivation employee amount 0,231 with significant meaning hypotheses 0,034 positive and significant effect between leadership variables to job motivation, obtained in a number of partial influence of leadership on employee performance is equal to 0.291 with a mean of 0.007 significant positive and significant effect hypothesis between the variables of leadership on employee performance, obtained in a number of partial influence of work motivation on the performance of employees is equal to 0.212 with a mean of 0.045 significant positive and significant effect hypothesis between the variables of job motivation on employee performance and obtained in a number of partial influence of leadership and job motivation on employee performance with a value of 7.692 with a significant F value of 0.001 means that a positive and significant effect hypothesis between the variables of leadership and job motivation on employee performance. To achieve high employee performance and motivation of the employees' leadership at the Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM Kota Padang must be improved.

  16. Aplikasi Plasma Lucutan Berpenghalang Dielektrik Pada Pengolahan Air Sumur : Pengaruh Terhadap Ph, Kesadahan, Dan Total Coliform

    OpenAIRE

    Maylia, Rizky; Nur, Muhammad; Muhlisin, Zaenul

    2014-01-01

    Has conducted research on dielectric barrier discharge plasma applications configured with spiral – chylindrical electrodes to generate ozone free air source. Purpose of this study was to determine the effect of ozone dissolved in water quality through pH, hardness ( CaCO3 ), and total coliform in the waterin the eastern part of the village Gemah. Electrodes used in this study has a diameter of 3 cm and a length of 15cm. Plasma generation using AC voltage with a voltage of 7 kV. A...

  17. UJI TOKSISITAS AKUT FRAKSI ETIL ASETAT BATANG DAN DAUN PACAR AIR (Impatiens balsamina Linn TERHADAP TIKUS PUTIH BETINA GALUR SPRAGUE DAWLEY

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nia Anzini

    2014-06-01

    ,05, tidak ada perbedaan yang signifikan pada konsumsi minum harian antara kelompok perlakuan dengan kontrol aquadest  (p>0,05 dan terdapat perbedaan signifikan antara tikus kontrol CMC dan perlakuan (p<0,05. Berdasarkan hasil scoring kerusakan hati dan ginjal menunjukkan fraksi etil asetat batang dan daun pacar air secara histologi merusak organ hati, namun tidak menyebabkan kerusakan ginjal hewan uji Kata kunci:    toksisitas akut, fraksi etil asetat, Impatiens balsamina Linn, OECD 425

  18. Fluid Dynamics Problems of Vehicles Operating Near or in the Air-Sea Interface (Problemes de Dynamique des Fluides des Vehicules Evoluant dans ou pres de L’interface Air-Mer).

    Science.gov (United States)

    1999-02-01

    Departamento de Mecanica de Fluidos Plaza del Cardenal Cisneros 3 28040 Madrid - Spain Prof. Dr. Cahit CIRAY Aeronautical Eng. Department Middle...Engenharia Mecanica Instituto Superior Tecnico 1096 Lisboa Codex - Portugal Prof. Javier JIMENEZ Escuela Technica Superior de Ingenieros Aeronauticos... de dynamique des fluides des vehicules evoluant dans ou pres de 1’interface air-mer) Papers presented and discussions recorded at the RTO Applied

  19. Hyperspectral imaging of snow algae and green algae from aeroterrestrial habitats

    Science.gov (United States)

    Holzinger, Andreas; Allen, Michael C.; Deheyn, Dimitri D.

    2016-01-01

    Snow algae and green algae living in aeroterrestrial habitats are ideal obbjects to study adaptation to high light irradiation. Here, we used a detailed description of the spectral properties as a proxy for photo-acclimation/protection in snow algae (Chlamydomonas nivalis, Chlainomonas sp. and Chloromonas sp.) and charopyhte green algae (Zygnema sp., Zygogonium ericetorum and Klebsormidium crenulatum). The hyperspectral microscopic mapping and imaging technique allowed us to acquire total absorbance spectra of these microalgae in the waveband of 400-900 nm. Particularly in Chlamydomonas nivalis and Chlainomonas sp., a high absorbance in the wave band of 400-550 nm was observed, due to naturally occurring secondary carotenoids; in Chloromonas sp. and in the charopyhte algae this was missing, the latter being close relatives to land plants. To investigate if cellular water loss has an influence on the spectral properties, the cells were plasmolysed in sorbitol or desiccated at ambient air. While in snow algae, these treatments did not change the spectral properties, in the charopyhte algae the condensation of the cytoplasm and plastids increased the absorbance in the lower waveband of 400 – 500 nm. These changes might be ecologically relevant and photoprotective, as aeroterrestrial algae are naturally exposed to occasional water limitation, leading to desiccation, which are conditions usually occurring together with higher irradiation. PMID:27442511

  20. Hyperspectral imaging of snow algae and green algae from aeroterrestrial habitats.

    Science.gov (United States)

    Holzinger, Andreas; Allen, Michael C; Deheyn, Dimitri D

    2016-09-01

    Snow algae and green algae living in aeroterrestrial habitats are ideal objects to study adaptation to high light irradiation. Here, we used a detailed description of the spectral properties as a proxy for photo-acclimation/protection in snow algae (Chlamydomonas nivalis, Chlainomonas sp. and Chloromonas sp.) and charophyte green algae (Zygnema sp., Zygogonium ericetorum and Klebsormidium crenulatum). The hyperspectral microscopic mapping and imaging technique allowed us to acquire total absorption spectra of these microalgae in the waveband of 400-900nm. Particularly in Chlamydomonas nivalis and Chlainomonas sp., a high absorbance between 400-550nm was observed, due to naturally occurring secondary carotenoids; in Chloromonas sp. and in the charopyhte algae this high absorbance was missing, the latter being close relatives to land plants. To investigate if cellular water loss has an influence on the spectral properties, the cells were plasmolysed in sorbitol or desiccated at ambient air. While in snow algae, these treatments did hardly change the spectral properties, in the charopyhte algae the condensation of the cytoplasm and plastids increased the absorbance in the lower waveband of 400-500nm. These changes might be ecologically relevant and photoprotective, as aeroterrestrial algae are naturally exposed to occasional water limitation, leading to desiccation, which are conditions usually occurring together with higher irradiation. Copyright © 2016 The Authors. Published by Elsevier B.V. All rights reserved.

  1. HUBUNGAN LAYOUT PERUMAHAN DAN FAKTOR KRIMINALITAS DI PERUMNAS AIR PUTIH SAMARINDA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    HIDAYATI, Zakiah

    2012-12-01

    Full Text Available The enormous growth of Samarinda confronted the people with great problems of environmental pressures, included physical, social and economic factors. One of the social factors is crime. Crime rates tended to increase in urban areas, such as in public housings. Layout of public housing and crime were the two parameters. The object of this research was to analyze the correlation between housing layout and crime in Air Putih Public Housing, Samarinda. The method was deductive qualitative research. It was an empiric research, using case study. The results of this research, most factors correlated between housing layout and crime, were direct connection between single house with housing access (direct connection increased crime, the depths of space (the deeper space created more secure, index axial connectivity (more scores of index - more crime vulnerability, and mixed use (more houses near facilities area created more secure – while less houses created more crime. Less factor were access (direct or indirect to a single house, traffic jam, width of the road, and house position in row. Unrelated factors were access (direct or indirect to Perumnas Air Putih & zone 1-4, adjacency of single house to road junction, linear row, and house facing direction.

  2. Pembuatan Karbon Aktif Dari Arang Tempurung Kelapa Dengan Aktivator Zncl2 Dan Na2co3 Sebagai Adsorben Untuk Mengurangi Kadar Fenol Dalam Air Limbah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gilar S. Pambayun

    2013-03-01

    Full Text Available Tujuan dari penelitian ini adalah membuat karbon aktif dari arang tempurung kelapa sesuai dengan SII No.0258 – 79 ; untuk mengetahui karateristik kadar air, kadar abu,  iodine number dan surface area karbon aktif dari arang tempurung kelapa ; untuk mempelajari pengaruh konsentrasi dan jenis aktivator terhadap efisiensi penurunan kandungan konsentrasi fenol (persen removal menggunakan karbon aktif dari arang tempurung kelapa ; menentukan kapasitas optimum penyerapan fenol dengan karbon aktif dari arang tempurung kelapa. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa karbon aktif dapat dibuat dari arang tempurung kelapa dengan aktivasi kimia ZnCl2 dan Na2CO3 disertai pirolisis pada suhu 700 oC selama 4 jam. Karakteristik karbon aktif yang dihasilkan telah sesuai dengan SII No.0258–79, kadar air sebesar 0,382-1,619%, kadar abu 2,28-7,79%, iodine number 448,02-1599,72 mg/g, surface area 189,630-1900,69 m2/g. Semakin tinggi konsentrasi aktivator maka semakin tinggi persen removal dari fenol yang telah diadsorbsi oleh karbon aktif. Persen removal tertinggi didapat pada karbon aktif dengan zat aktivator Na2CO3 5% dengan persen removal sebesar 99,745%. Kapasitas optimum penyerapan fenol dengan karbon aktif dari arang tempurung kelapa terbaik didapat pada karbon aktif dengan zat aktivator Na2CO3 5% dengan kapasitas serapan sebesar 220,751 mg fenol/gram karbon aktif

  3. PEMODELAN DAN SIMULASI KEBIJAKAN DENGAN PENDEKATAN SYSTEM DYNAMICS 1 Kasus Permintaan Air PDAM di Salatiga

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yayuk Ariyani

    2015-06-01

    Full Text Available About 58,83 percent of Salatiga population consumes water from PDAM (Peru- sahaan Daerah Air Minum to fulfill their daily need. The demand for water, which is increasing in line with infrastructure development and economics growth in Salatiga while the availability of water is decreasing, lead to a lack of water in some regions in Salatiga. Therefore, a new policy is needed to solve this problem. Before that, a simulation of the policy is needed because it is not possible to do a direct research on the policy. Thus, this recent study attempts to model the phenomenon of demand for water in Salatiga with dynamics system approach since it can be used for a policy simulation. Based on the simulation result, it is suggested to solve the water scarcity problem by trying to reduce the rate of leaking in water distribution from 26 percent to 5 percent.

  4. PEMILIHAN DESAIN INSTALASI PENGELOLAAN AIR LIMBAH BATIK YANG EFEKTIF DAN EFISIEN DENGAN MENGGUNAKAN METODE LIFE CYCLE COST (Studi Kasus di Kampung Batik Semarang

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Miranti Marita Sari

    2015-01-01

    Full Text Available Kampung Batik Semarang belum memiliki Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL sehingga air limbah hasil produksi batik langsung di buang pada saluran pembuangan air. Limbah air yang berasal dari proses pewarnaan menyebabkan masalah terhadap lingkungan. Hal ini menyebabkan pencemaran pada saluran pembuangan air di lingkungan tersebut sehingga air di dalam saluran pembuangan bewarna hitam pekat. Uji terhadap BOD dan COD pada naftol sebesar 5 mg/l dan 83,9 mg/l, sedangkan pada garam sebesar 14mg/l dan 839 mg/l. Nilai COD tersebut melebihi baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah sebesar 100 mg/l. Penelitian ini menggunakan rancangan IPAL proses fisika kimia dan elektrokoagulasi. Rancangan tersebut diharapkan dapat mengurangi COD yang terkandung dalam limbah batik. Penelitian ini adalah IPAL dengan menggunakan IPAL dengan proses fisika kimia mempunyai efisiensi sebesar 19,85% hingga 72,7%. Biaya IPAL dengan proses fisika kimia adalah sebesar Rp 5.409.909,00 per tahun dengan menggunakan metode Life Cycle Cost (LCC. Sedangkan IPAL dengan proses elektrokoagulasi mempunyai efisiensi sebesar 89% dengan biaya yang di butuhkan sebesar Rp 7.887.546,00 per tahun dengan menggunakan metode Life Cycle Cost (LCC. Maka rekomendasi IPAL terpilih untuk Kampung Batik Semarang adalah  IPAL dengan proses fisika kimia.   Kata Kunci: limbah cair batik, IPAL, fisika kimia, elektrokoagulasi, life cycle cost (LCC Abstract Kampung Batik Semarang has not had Installing a Wastewater Treatment Plant (WWTP so that the waste water from batik production directly flows to sewer. Waste water from the dyeing process is cause environmental problems . This leads to contamination of the water in the drain so that the water in the sewer colored black. BOD and COD test against the naphthol at 5 mg / l and 83.9 mg / l , while the salt of 14mg / l and 839 mg / l . The COD value exceeds the quality standards set by the government at 100 mg/l. This study uses the WWTP design

  5. ANALISIS KUALITAS PELAYANAN DENGAN MENGGUNAKAN INTEGRASI IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS (IPA DAN MODEL KANO (Studi Kasus di PT. Perusahaan Air Minum Lyonnaise Jaya Jakarta

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nia Budi Puspitasari

    2012-02-01

    Full Text Available Dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari-hari, air merupakan hal yang penting untuk diperhatikan karena seiring dengan pertambahan penduduk maka kebutuhan air tidak dapat dipungkiri akan semakin meningkat. Maka dalam menyikapi hal tersebut PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja hadir di Jakarta untuk meningkatkan penyediaan dan pelayanan air bersih. Dari 306 Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM yang ada di Indonesia, hanya 10 % yang dalam keadaan sehat. Dengan melihat kondisi tersebut maka Palyja perlu untuk mengarah pada inovasi-inovasi. Di dalam penelitian ini dilakukan studi kualitas layanan dengan integrasi Importance Performance Analysis (IPA dan Model Kano. Pendekatan ini bertujuan untuk membantu Palyja dalam mengevaluasi kepuasan pelanggan mereka, bukan hanya untuk mengidentifikasi apakah harapan konsumen telah terpenuhi atau belum tetapi juga mengidentifikasi atribut-atribut layanan yang fungsional dan disfungsional. Sehingga dari integrasi tersebut dapat diketahui atribut layanan apa yang perlu mendapat prioritas untuk ditingkatkan. Selanjutnya dari model ini, dapat diidentifikasi rekomendasi perbaikan yang dapat dilakukan Palyja. Dari hasil integrasi tersebut dapat diketahui bahwa atribut yang perlu mendapat prioritas untuk ditingkatkan adalah penerapan fasilitas air Palyja yang dapat langsung diminum oleh konsumen. Tentunya dengan memperhatikan kualitas air yang bersih dan aman untuk diminum. Kata Kunci : Kualitas Pelayanan, Importance Performance Analysis (IPA, Model Kano, Palyja     In order to meet daily needs, water is important to note because along with the increase of population, the water demand will inevitably increase. So in addressing these PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja present in Jakarta to improve the provision and water services. Of the 306 Regional Water Company (PDAM that exist in Indonesia, only 10% are in good health. By looking at current economic conditions, Palyja need to lead to innovations. Within this study, quality of

  6. Plasmodesmata of brown algae

    OpenAIRE

    Terauchi, Makoto; Nagasato, Chikako; Motomura, Taizo

    2014-01-01

    Plasmodesmata (PD) are intercellular connections in plants which play roles in various developmental processes. They are also found in brown algae, a group of eukaryotes possessing complex multicellularity, as well as green plants. Recently, we conducted an ultrastructural study of PD in several species of brown algae. PD in brown algae are commonly straight plasma membrane-lined channels with a diameter of 10?20?nm and they lack desmotubule in contrast to green plants. Moreover, branched PD ...

  7. Fasilitas Edukasi dan Rekreasi Kalimas di Surabaya

    OpenAIRE

    Harsono, Meiliana Sutanto

    2013-01-01

    Fasilitas Edukasi dan Rekreasi Kalimas di Surabaya” merupakan fasilitas yang bertujuan mengenalkan dan mengedukasi masyarakat mengenai manfaat, permasalahan, dan sejarah Kalimas secara interaktif dengan memanfaatkan air olahan sungai Kalimas. Fasilitas ini diharapkan mampu mengangkat keberadaan sungai Kalimas di kawasan Dinoyo yang juga merupakan salah satu titik rencana revitalisasi Kalimas oleh Pemerintah kota. Karya desain arsitektur dan pendalaman ruang yang didesain diharapkan mampu meny...

  8. KANDUNGAN LOGAM BERAT (Hg, Cd, dan Pb DALAM AIR TANAH PADA PERUMAHAN TIPE KECIL DI JABOTABEK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Athena Athena

    2012-09-01

    Full Text Available A survey of heavy metals (Hg, Cd, Pb in drinking water at small and very small houses was conducted in Jakarta, Bogor, Tangerang and Bekasi (Jabotabek, in 1992. The purpose of this study was to get information about water quality and environmental condition of water sources at low cost housing and very low cost housing in Jabotabek. Forty to sixty water samples were taken from each location and analyzed by Atomic Absorption Spectrophotometer. The mercury concentration was analyzed using Cold Vapor Technique, whereas Cd and Pb were analized using The Air-acetylene method. Water samples were collected in dry season and rainy season. Interview of the owners of the house and of environmental observation of the water sources were done to get information about the condition of drinking water sources. The highest concentration of mercury detected in Jakarta was in the rainy season (2.50 mg/l. Cadmium and Lead were detected in Bogor, (Cd: 0.26 mg/l in the rainy season and Pb : 0.16 mg/l in dry season. However 41.5% water samples from Jakarta were exceeding the mercury concentration standard, 25.4% water samples from Bogor were exceeding cadmium concentration standard, and 41.1% water samples from Bogor were exceeding lead concentration standard Heavy metals concentration in drinking water at Bekasi and Tangerang were relatively lower than Bogor and Jakarta. The environmental condition of shallow wells in Bekasi and Tangerang were also better than Bogor and Jakarta.

  9. TANGKI SEPTIK DAN MASALAHNYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Soewasti Soesanto

    2012-10-01

    Full Text Available Manusia yang sehat tiap hari membuang tinja yang harus ditampung dan/atau diolah secara saniter. Meskipun Indonesia telah 55 tahun merdeka dan telah memiliki banyak ahli sanitasi/teknik penyehatan baik lulusan dalam maupun luar negeri, namun cara pengelolaan tinja yang ada kebanyakan masih belum memenuhi syarat kesehatan. Tangki septik dianggap sebagai cara penampungan tinja yang terbaik, padahal sebenarnya masih terjadi pencemaran tanah dan air melalui saluran perembesan.Tangki septik (septic tank merupakan salah satu macam sarana pengolahan tinja manusia yang pada garis besarnya terdiri dari sebuah tangki pembusukan lumpur (sludge digester dan saluran perembesan efluen. Tangki pembusukan harus memenuhi syarat mengenai perbandingan panjang dan lebar serta syarat kedalaman maksimum dan minimum, agar pembusukan lumpur dari tinja manusia dapat berjalan sempurna malahan tidak berbau busuk lagi.

  10. [Harmful algae and health].

    Science.gov (United States)

    Kankaanpää, Harri T

    2011-01-01

    Harmful algae are a worldwide problem. Phycotoxins is a general term for toxic compounds produced by harmful species of the phytoplankton. This review deals with the occurrence of harmful algae and phycotoxins in the Baltic Sea and other domestic waters, the ways of getting exposed to them, and their effects. Advice on how to avoid the exposure is provided.

  11. Algae Derived Biofuel

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Jahan, Kauser [Rowan Univ., Glassboro, NJ (United States)

    2015-03-31

    One of the most promising fuel alternatives is algae biodiesel. Algae reproduce quickly, produce oils more efficiently than crop plants, and require relatively few nutrients for growth. These nutrients can potentially be derived from inexpensive waste sources such as flue gas and wastewater, providing a mutual benefit of helping to mitigate carbon dioxide waste. Algae can also be grown on land unsuitable for agricultural purposes, eliminating competition with food sources. This project focused on cultivating select algae species under various environmental conditions to optimize oil yield. Membrane studies were also conducted to transfer carbon di-oxide more efficiently. An LCA study was also conducted to investigate the energy intensive steps in algae cultivation.

  12. Pengaruh Limbah Cair Industri Pelapisan Logam Terhadap Kandungan Cu, Zn, Cn, Ni, Ag dan SO4 dalam Air Tanah Bebas diDesa Banguntapan, Bantul

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ivone De Carlo

    2016-04-01

    Full Text Available AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh limbah cair industri pelapisan logam di Desa Banguntapan terhadap kandungan Cu, Zn, CN, Ni Ag dan SO, dalam air tanah bebas di lokasi industri dan pada mintakat kemungkinan tercemar di hilir lokasi industri. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder. Pengambilan sampel dilakukan secara purpose sampling dengan membagi daerah penelitian atas 3 zona berdasarkan lokasi industri. Zona 1 yaitu zona di hulu lokasi industri yang dianggap sebagai zona kontrol. Zona 2 yaitu zona yang merupakan daerah aktivitas industri zona 3 yaitu zona di hilir lokasi industri yang penetapan titik sampelnya dilakukan secara Empirical Point Count System yang dikembangkan oleh Le Grand. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah cair industri pelapisan logam telah meningkatkan kandungan Cu, Zn, Cn, dan Ag dalam air tanah di lokasi industri, tetapi masih memenuhi Baku Mutu Air Bahan Air Golongan B. Kandungan Zn dalam air tanah pada mintakat kemungkinan tercemar di hilir lokasi industri telah meningkat, karena kandungan Zn dalam limbah cair industri pelapisan logam.Kata kunci: limbah pelapisan logam, kualitas air tanah, banguntapan AbstractThis study aimed to investigate the effect of metal plating wastewater industry in the village Banguntapan the content of Cu, Zn, CN, Ni Ag and SO4, the free on-site groundwater industry and the possibility of contaminated zone in the downstream industry. The research was conducted by collecting secondary and primary data. Sampling was done in purpose sampling by dividing the study area on 3 zones based on the location industry. Zone1 is zone at locations upstream industry is considered as zone control. Zone 2 is a zone that is an area of industrial  activity. Zone 3 is downstream industry zone in the determination of the point of the sample conducted empirical Point Count System developed by Le Grand. The results showed that the metal plating industry wastewater has

  13. Air

    Science.gov (United States)

    ... gov/ Home The environment and your health Air Air While we don’t often think about the ... do to protect yourself from dirty air . Indoor air pollution and outdoor air pollution Air can be ...

  14. KANDUNGAN KATEKIN DAN KUALITAS (WARNA AIR SEDUHAN, FLAVOR, KENAMPAKAN ENAM KLON TEH (Camellia sinensis (L. O. Kuntze DI KETINGGIAN YANG BERBEDA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Suyadi Mitrowihardjo

    2012-05-01

    Full Text Available Catechins Content and Quality (Colour, Flavor, Appearance of Six Tea Clones (Camellia sinensis (L. O. Kuntze at Different Altitude Growings  ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi klon-klon yang dapat memberikan katekin dan kualitas hasil yang tinggi yang diharapkan bermanfaat sebagai arahan perbaikan dalam pengembangan tanaman teh ke depan. Ketinggian tempat tumbuh (1200 – 1300 m dari permukaan laut dan 700 – 900 m dari permukaan laut yang diduga berpengaruh terhadap kualitas hasil juga dievaluasi, karena terkait dengan ketersediaan lahan pengembangan. Analisis catechin (C, epicatechin (EC, epigallocatechin (EGC, epicatechin gallate (ECG, epigallocatechin gallate (EGCG dilakukan dengan metode HPLC (High Performance Liquid Chromatography, sedang evaluasi kualitas (warna air seduhan, flavor, kenampakan dilakukan oleh tiga orang tester teh bersertifi kat. Hasil analisis menunjukkan bahwa total katekin yang tinggi diperlihatkan TRI 2025, PGL 10, GMB 9 di lokasi ketinggian 1200-1300 m dpl, dan total katekin tinggi juga diperlihatkan PGL 15, GMB 9, dan PGL 10 di lokasi ketinggian 700 – 900 m dpl. Skor warna air seduhan tidak menunjukkan perbedaan antar klon maupun antar lokasi, namun skor flavor GMB 7 dan PGL 15 unggul di lokasi atas maupun di lokasi bawah. Ada kecenderungan skor fl avor lebih unggul di lokasi bawah dibanding dengan lokasi atas. Skor kenampakan ampas setelah teh diseduh tinggi untuk PGL 15, TRI 2025, dan GMB 9 di lokasi atas, sedang TRI 2025 tinggi di lokasi bawah. Serupa dengan skor fl avor, skor kenampakan ampas teh berkecenderungan unggul di lokasi bawah. Kata kunci: Teh, ketinggian tempat, katekin, kualitas (warna air seduhan, fl avor, kenampakan  ABSTRACT The purpose of the study was to fi nd out high catechins content and quality of six tea clones which might contribute to tea clone improvements in the future. Altitudes growing (1200 – 1300 m above sea level and 700 – 900 m above sea level which

  15. Blue-Green Algae

    Science.gov (United States)

    ... people with hepatitis C or hepatitis B. HIV/AIDS. Research on the effects of blue-green algae in people with HIV/AIDS has been inconsistent. Some early research shows that taking 5 grams of blue-green ...

  16. Sustainable Algae Biodiesel Production in Cold Climates

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rudras Baliga

    2010-01-01

    Full Text Available This life cycle assessment aims to determine the most suitable operating conditions for algae biodiesel production in cold climates to minimize energy consumption and environmental impacts. Two hypothetical photobioreactor algae production and biodiesel plants located in Upstate New York (USA are modeled. The photobioreactor is assumed to be housed within a greenhouse that is located adjacent to a fossil fuel or biomass power plant that can supply waste heat and flue gas containing CO2 as a primary source of carbon. Model results show that the biodiesel areal productivity is high (19 to 25 L of BD/m2/yr. The total life cycle energy consumption was between 15 and 23 MJ/L of algae BD and 20 MJ/L of soy BD. Energy consumption and air emissions for algae biodiesel are substantially lower than soy biodiesel when waste heat was utilized. Algae's most substantial contribution is a significant decrease in the petroleum consumed to make the fuel.

  17. Biofuels and algae

    International Nuclear Information System (INIS)

    Anon.

    2011-01-01

    Bio-fuels based on micro-algae are promising, their licensing for being used in plane fuels in a mix containing 50% of fossil kerosene is expected in the coming months. In United-States research on bio-fuels has been made more important since 2006 when 2 policies were launched: 'Advanced energy initiative' and 'Twenty-in-ten', the latter aiming to develop alternative fuels. In Europe less investment has been made concerning micro-algae fuels but research programs were launched in Spain, United-Kingdom and France. In France 3 important projects were launched: SHAMASH (2006-2010) whose aim is to produce lipidic fuels from micro-algae, ALGOHUB (2008-2013) whose aim is to use micro-algae as a raw material for humane and animal food, medicine and cosmetics, SYMBIOSE (2009-2011) whose aim is the optimization of the production of methane through the anaerobic digestion of micro-algae, SALINALGUE (2010-2016) whose aim is to grow micro-algae for the production of bio-energies and bio-products. (A.C.)

  18. Air condensation thermo-pumps for residential and small commercial buildings; Les thermopompes a condensation par air dans le residentiel et le petit tertiaire

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Carteret, P. [Societe Airwell, (France)

    1997-12-31

    The advantages of recent air conditioning systems in terms of temperature control, air quality, air renewal, humidity control, air distribution, acoustic comfort, flexibility, are reviewed and some aspects concerning the evolution of the market in France are discussed (steady growth of the AC residential market). The different types of air conditioning systems are presented (direct expansion with the split-system, and cool water system); the characteristics, advantages and investment/operation costs of split-system and multi-splits thermo-pumps and hot water / cooled water production central units are described

  19. Anticoagulant effect of marine algae.

    Science.gov (United States)

    Kim, Se-Kwon; Wijesekara, Isuru

    2011-01-01

    Recently, a great deal of interest has been developed in the nutraceutical and pharmaceutical industries to isolate natural anticoagulant compounds from marine resources. Among marine resources, marine algae are valuable sources of novel bioactive compounds with anticoagulant effect. Phlorotannins and sulfated polysaccharides such as fucoidans in brown algae, carrageenans in red algae, and ulvans in green algae have been recognized as potential anticoagulant agents. Therefore, marine algae-derived phlorotannins and SPs have great potential for developing as anticoagulant drugs in nutraceutical and pharmaceutical areas. This chapter focuses on the potential anticoagulant agents in marine algae and presents an overview of their anticoagulant effect. Copyright © 2011 Elsevier Inc. All rights reserved.

  20. Plasmodesmata of brown algae.

    Science.gov (United States)

    Terauchi, Makoto; Nagasato, Chikako; Motomura, Taizo

    2015-01-01

    Plasmodesmata (PD) are intercellular connections in plants which play roles in various developmental processes. They are also found in brown algae, a group of eukaryotes possessing complex multicellularity, as well as green plants. Recently, we conducted an ultrastructural study of PD in several species of brown algae. PD in brown algae are commonly straight plasma membrane-lined channels with a diameter of 10-20 nm and they lack desmotubule in contrast to green plants. Moreover, branched PD could not be observed in brown algae. In the brown alga, Dictyota dichotoma, PD are produced during cytokinesis through the formation of their precursor structures (pre-plasmodesmata, PPD). Clustering of PD in a structure termed "pit field" was recognized in several species having a complex multicellular thallus structure but not in those having uniseriate filamentous or multiseriate one. The pit fields might control cell-to-cell communication and contribute to the establishment of the complex multicellular thallus. In this review, we discuss fundamental morphological aspects of brown algal PD and present questions that remain open.

  1. PERAN AIR DALAM PENYEBARAN PENYAKIT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dwi Priyanto

    2012-10-01

    Full Text Available Air merupakan komponen penting dalam kehidupan, semua jenis makhluk hidup memerlukan air untuk kelangsungan hidupnya. Untuk kepentingan manusia, air tidak saja digunakan untuk minum, masak dan cuci, tetapi juga untuk keperluan agrikultur, industri, transportasi, perikanan dan pembuangan limbah cair domestik dan industri. Dalam bidang kesehatan, beberapa  jenis penyakit melibatkan media air dalam proses penyebarannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penyebaran penyakit secara tidak langsung oleh air disebabkan oleh kandungan bahan kimia terlarut dalam badan air yang bersifat toxic bagi tubuh manusia. Adanya bahan-bahan ini dalam air disebabkan aktifitas industri, pertanian maupun limbah domestik rumah tangga yang dibuang dan mencemari air.

  2. Optimisasi Suhu Pemanasan dan Kadar Air pada Produksi Pati Talas Kimpul Termodifikasi dengan Teknik Heat Moisture Treatment (HMT (Optimization of Heating Temperature and Moisture Content on the Production of Modified Cocoyam Starch Using Heat Moisture Treatment (HMT Technique

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Nengah Kencana Putra

    2016-12-01

    Full Text Available One of the physically starch modification technique is heat-moisture treatment (HMT. This technique can increase the resistance of starch to heat, mechanical treatment, and acid during processing.  This research aimed to find out the influence of heating temperature and moisture content in the modification process of cocoyam starch  with HMT techniques on the characteristic of product, and then to determine the optimum heating temperature and moisture content in the process. The research was designed with a complete randomized design (CRD with two factors factorial experiment.  The first factor was temperature of the heating consists of 3 levels namely 100 °C, 110 °C, and 120 °C. The second factor was the moisture content of starch which consists of 4 levels, namely 15 %, 20 %, 25 %, and 30 %. The results showed that the heating temperature and moisture content significantly affected water content, amylose content and swelling power of modified cocoyam starch product, but the treatment had no significant effect on the solubility of the product. HMT process was able to change the type of cocoyam starch from type B to type C. The optimum heating temperature and water content on modified cocoyam starch production process was 110 °C and 30 % respectively. Such treatment resulted in a modified cocoyam starch with moisture content of 6.50 %, 50,14 % amylose content, swelling power of 7.90, 0.0009% solubility, paste clarity of 96.310 % T, and was classified as a type C starch.   ABSTRAK Salah satu teknik modifikasi pati secara fisik adalah teknik Heat Moisture Treatment (HMT. Teknik ini dapat meningkatkan ketahanan pati terhadap panas, perlakuan mekanik, dan asam selama pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan kadar air pada proses modifikasi pati talas kimpul dengan teknik HMT terhadap karakteristik produk, dan selanjutnya menentukan suhu dan kadar air yang optimal dalam proses tersebut. Penelitian ini dirancang

  3. Air emissions in France. France metropolitan and overseas territories departments; Emissions dans l'air en France. Arrondissements de la metropole et des DOM

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    2000-05-01

    Air emission of SO{sub 2}, NO{sub x}, NMVOCs, CO, NH{sub 3}, and CO{sub 2} have been estimated at the scale of arrondissements and urban units over 100 000 inhabitants in the frame of work relating to the implementation of Regional Air Quality Plans (PRQA) in application to the Law on the Air and the Rational Use of Energy (LAURE). Data presented refer to to the year 1994 and include all man-made and non man-made sources except maritime traffic, air traffic above 1000 m and, for CO{sub 2}, non man-made emissions and sinks. (author)

  4. Studi Pemanfaatan Catu Daya Hibrida PLTS 3,7 kWp Dan PLN Pada Instalasi Pengolahan Air Limbah Desa Pemecutan Kaja Denpasar Bali

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Aries Arimbawa

    2016-11-01

    Full Text Available Abstract—Pemecutan Kaja waste treatment plant (WTP was a community treatment plant located in one of Denpasar city ward to process sewerage produced by community members. The WTP uses radial flow anaerobic system which mainly consists of rabic pro and up flow tanks. The water produced by the WTP was released to nearby river as it already met envinronmental quality standard. The WTP was driven by an electric pump to circulate sewer material within the process flow. The pump was fed by hybrid power supply combining 3.7 kW solar PV and power from utility grid. The WTP was operated by village council of Pemecutan Kaja. The study presented here was result of firstly, evaluation on the utilization and performance of solar PV plant, and secondly, to propose managerial model that can manage the plant effectively and sustainably. The study found that daily average energy produced bythe PVplant was 23.59 kWh yielding cost of energy at IDR 7,766/kWh. Experiment to clean filters of the plant reduced daily energy consumption from 8.84 kWh to 3.05 kWh or 65%. Household that connected to the plant pay monthly subscription currently at IDR 10,000.  However, for sustainable operation of the plant, the household need to pay IDR 51,654. Keywords: Renewable Energy, Solar PV, Hybrid Power Supply, Waste Treatment, Managerial Model Abstrak—Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL Desa Pemecutan Kaja adalah IPAL yang terletak di salah satu lingkungan kota Denpasar yang berfungi untuk mengolah air limbah yang dihasilkan oleh anggota masyarakat. IPAL ini meggunakan sistem radial flow anaerobic yang terdiri tangki rabic pro dan tangki up flow filter. Air hasil pengolahan limbah dapat langsung disalurkan ke sungai karena sudah memenuhi baku mutu limbah cair. IPAL ini menggunakan pompa listrik untuk mengalirkan limbah menuju tangki penyaringan. Pompa ini mengunakan catu daya hibrida PLTS 3,7 kW dan PLN. IPAL ini dikelola langsung oleh masyarakat desa Pemecutan Kaja. Hasil

  5. KARAKTERISTIK DAN MOTIVASI WISATAWAN DOMESTIK PENGGUNA LOW COST CARRIER PADA MASKAPAI PENERBANGAN LION AIR DI BANDARA INTERNASIONAL NGURAH RAI BALI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Roels Ni Made Sri Puspa Dewi

    2016-07-01

    Full Text Available Low Cost Carrier has a tight competition, nowadays. There are more product offering to interest tourist which one is cheap ticket price or be familiar call Low Cost Carrier. Which one company in Indonesia applying Low Cost Carrier is Lion Air company. The aims of this study is to determine how the characteristics and motivation domestic tourists used Low Cost Carrier at Lion Air in Ngurah Rai International Airport Bali. The study was conducted at Lion Air. The object of this research was the characteristics and motivation of tourists who as means of transport choose Low Cost Carrier. Sample of respondents was 105 respondents. The collected data were observation, questionnaire, interview, literature study and documentation. The questionnaires was used as measuring the characteristics and motivation domestic tourists. The research was conducted using descriptive qualitative technique. The result of this research is domestic tourist characteristic used Lion Air divided into trip descriptor and tourist descriptor. By trip descriptor the tourist has short time to holiday around 3 untill 3 days with purposes of the trip is family trip with period using Lion Air around 2 untill more than 5 times. By tourist descriptor the tourists using Lion Air was teenager or adolescent with average income less than one million. Tourist motivation seen from push factor used Lion Air is cheaper ticket price while pull factor is there are more discount offering by Lion Air. Tourist motivation divided into intrinsic motivation and extrinsic motivation. Intrinsically, domestic tourist motivation used Lion Air by using Maslow theory is Social needs. While extrinsically is nowadays trends used airlines which applying Low Cost Carrier. Recommendation for Lion Air is to improve airlines network to avoid the delay of Lion Airlines.

  6. Conflits et organisation de l’espace public dans les processus décisionnaires en France et au Brésil: la négociation d’aires protégées

    OpenAIRE

    Tilbeurgh, Véronique Van; Costa, Guilherme Borges da

    2016-01-01

    L´objectif de cet article est d’interroger le lien entre le conflit et l’organisation de l’espace public dans les processus de négociation d’une décision publique. Nous comparons les négociations dans deux zones protégées, le parc marin en mer d’Iroise (en France) et l´aire protégée Várzea do Rio Tietê (au Brésil). Cette comparaison montre que dans les deux cas, la décision devant être négociée a été imposée par une des parties, mais cette situation n’a eu un effet amplificateur du conflit qu...

  7. DESAIN VEGETASI BERNILAI KONSERVASI DAN EKONOMI PADA KAWASAN PENYANGGA SISTEM TATA AIR DAS BOLANGO (Designing of Vegetation which Conservation and Economic Values in the Buffer Area of Water System at the Bolango Watershed

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Danang Wahyu Purnomo

    2016-02-01

    Full Text Available ABSTRAK Perencanaan pembangunan arboretum di DAS Bolango dengan konsep konservasi dan ekonomi perlu dilakukan karena DAS ini memiliki peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat sekitar. Tujuan penelitian ini adalah memberikan rekomendasi tentang komposisi dan struktur vegetasi penyusun hutan pada kawasan arboretum sebagai pemelihara mata air Sungai Bolango. Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi sumber mata air, tanah, dan kondisi vegetasi eksisting. Metode wawancara kepada masyarakat setempat dilakukan untuk mendukung data etnobotani. Kajian lahan dilakukan antara lain tata guna, kelas kemampuan, konsep pengelolaan, kesesuaian lahan, dan penentuan vegetasinya. Hasil identifikasi sumber mata air menunjukkan bahwa terdapat 3 lokasi yang potensial dibangun arboretum, yaitu Desa Meranti Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango, Desa Dulamayo Selatan Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo, dan Desa Mongiilo Kecamatan Bolango Ulu Kabupaten Bone Bolango. Berdasarkan data kualitas tanah, ketiga lokasi memiliki media perakaran yang cukup baik untuk tanaman budi daya. Secara umum, semua jenis tanaman budi daya sesuai untuk ditanam di ketiga lokasi arboretum. Perlu dilakukan pembuatan teras dan penerapan pola tanam konservasi yang mengaplikasikan tanaman penutup tanah (cover crop, tanaman budi daya, dan pohon penyusun hutan. Selain itu, perlu pemberian pupuk organik berupa kompos dan pupuk kandang.   ABSTRACT Arboretum development planning in Bolango Watershed using concept of conservation and economy is conducted because the watershed has an important role in people's lives around. This study aims to provide recommendations about composition and structure of forest vegetation in the arboretum area for conserving of Bolango River’s water springs. The study began by identifying the source of the springs, soil, and the existing vegetation. Interview to local communities was conducted to support the data of ethnobotany. Land observation was studied

  8. Les réseaux d’équipements sportifs dans les stations balnéaires : l’exemple du tennis

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Françoise Rollan

    2004-03-01

    Full Text Available Les réseaux d’équipements sportifs sont indissociables de l’histoire du sport et de son développement dans notre pays. Le sport est passé en un siècle d’une activité, représentative du snobisme à un phénomène populaire. L’installation du sport moderne a été difficile car il s’opposait aux sports traditionnels. Le rôle de l’Etat a été fondamental dans le développement du sport et surtout la loi de 1901 sur les associations a permis aux réseaux sportifs de se constituer et d’initier les réseaux d’équipements, l’Etat prenant le relais dans un second temps. Dans les stations balnéaires, dont la hiérarchie était déjà établie avant la Première Guerre mondiale, ce sont les Anglais qui ont été à l’origine de l’installation des différents sports. Les classes très aisées ont suivi et ont participé à leur diffusion. Les équipements privés ont d’abord été pris en charge par l’Etat. Mais suite aux investissements massifs des années 1980, les réseaux d’équipements sportifs sont aujourd’hui sous-utilisés une partie de l’année. Les golfs des stations balnéaires des côtes de l’Atlantique, de la Manche et de la mer du Nord organisés en réseaux grâce aux programmes immobiliers qui les accompagnent sont quant à eux, rentabilisés tout au long de l’année.Sport facilities networks are an integral part of sport history and development in France. Starting as a snobbish activity, in one century sport became a popular phenomenon. Modern sport, going against traditional sport, met with a great many obstacles. On top of this, the legislation was not favourable since it forbade any association. Therefore the role of the State was essential. But, it was the 1901 Law concerning associations which made it truly possible for the sporting networks to be formed and for sport facilities networks to be initiated, the State taking over in a second time. On seaside resorts, the hierarchy of which

  9. Studies on allergenic algae of Delhi area: botanical aspects.

    Science.gov (United States)

    Mittal, A; Agarwal, M K; Shivpuri, D N

    1979-04-01

    To study distribution of algae in and around Delhi aerobiological surveys were undertaken for two consecutive years (September, 1972, to August, 1974). The surveys were accomplished by (a) slide exposure method and (b) culture plate exposure method. A total of 850 slides were exposed using Durham's gravity sampling device. Of these, 560 slides were exposed during 1973 (272 slides at two meter and 288 at ten meter height) and the rest (290 slides) were exposed during 1974 at ten meter height. A total of 858 culture plates were exposed (276 for one hour and 282 for two hours) during 1973 and the rest (300 culture plates) were exposed during 1974 at ten meter height for two hours duration only. Air was found to be rich in algae flora during the months of September to November. The dominant forms of algae present were all blue greens. This might be due to the relative greater resistance of blue green algae to unfavorable conditions.

  10. Genomics of Volvocine Algae

    Science.gov (United States)

    Umen, James G.; Olson, Bradley J.S.C.

    2015-01-01

    Volvocine algae are a group of chlorophytes that together comprise a unique model for evolutionary and developmental biology. The species Chlamydomonas reinhardtii and Volvox carteri represent extremes in morphological diversity within the Volvocine clade. Chlamydomonas is unicellular and reflects the ancestral state of the group, while Volvox is multicellular and has evolved numerous innovations including germ-soma differentiation, sexual dimorphism, and complex morphogenetic patterning. The Chlamydomonas genome sequence has shed light on several areas of eukaryotic cell biology, metabolism and evolution, while the Volvox genome sequence has enabled a comparison with Chlamydomonas that reveals some of the underlying changes that enabled its transition to multicellularity, but also underscores the subtlety of this transition. Many of the tools and resources are in place to further develop Volvocine algae as a model for evolutionary genomics. PMID:25883411

  11. Sistem Informasi Penjualan dan Pemesanan Layanan Berbasis Web dan SMS Gateway di Petshop "PetZone"

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Siska Fadhilah Wati

    2013-09-01

    Full Text Available Dewasa ini teknologi informasi sangat membantu dalam dunia bisnis. Kemudahan yang ditawarkan akan menjaring lebih banyak konsumen. Namun, perusahan tingkat menengah seperti PetZone saat ini masih jarang yang menawarkan kemudahan berbelanja atau pemesanan layanan secara online. Oleh karena itu diperlukan sebuah sistem berbasis web di perusahaan PetZone yang dapat memudahkan pemilik dan karyawan dalam apenjualan, pelayanan, dan pemasaran, serta memudahkan pelanggan dalam jual-beli barang dan jasa. Atas dasar masalah tersebut dibangun Sistem Informasi Penjualan dan Pemesanan Layanan Berbasis Web dan SMS Gateway untuk menunjang proses bisnis yang ada. Sistem informasi dibangun menggunakan bahasa pemrograman PHP framework Codeigniter, javascript untuk tampilan yang dinamis, dan database MySQL. Proses pembuatan dan pengembangan Sistem Informasi Penjualan ini menggunakan metode air terjun. Metode air terjun meliputi kebutuhan pengguna, analisis, rancangan, implementasi dan pengujian. Pemodelan Sistem Informasi yang dibangun menggunakan metode berorientasi objek UML (Unified Modeling Language yang terdiri dari Use case  diagram, Class diagram dan Sequence diagram. Hasil pengujian Sistem Informasi Penjualan dan Pemesanan Layanan Berbasis Web dan SMS Gateway menunjukkan bahwa semua fitur yang terdapat baik dalam sistem informasi maupun SMS gateway dapat bekerja dengan baikdengan ratusan sample data, dan server SMS gateway dapat memproses lebih dari satu SMS secara bersamaan. Dalam perkembangan ke depannya nanti, Sistem Informasi Penjualan dan Pemesanan Layanan Berbasis Web dan SMS Gateway masih dapat dikembangkan lagi dengan menambah fitur-fitur pada SMS gateway sehingga lebih memudahkan konsumen.

  12. Transcriptomics in brown algae

    OpenAIRE

    Heinrich, Sandra

    2015-01-01

    Brown algae are distributed worldwide on rocky shores. They are importenet components of ecosystems, they provide habitat, shelter and serve as nurseries for various marine organisms. The geographic as well as depth distribution of macroalgae is constrained by abiotic factors, especially light and temperature. It is therefore likely that due to the global change, distribution patterns of these organisms will change. In this work the molecular acclimation of two prominent brown macroalgae, Sac...

  13. Exposition by inhalation to the formaldehyde in the air. Source, measures and concentrations; Exposition par inhalation au formaldehyde dans l'air. Source, mesures et concentrations

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Del Gratta, F.; Durif, M.; Fagault, Y.; Zdanevitch, I

    2004-12-15

    This document presents the main techniques today available to characterize the formaldehyde concentrations in the air for different contexts: urban and rural areas or around industrial installations but also indoor and occupational area. It provides information to guide laboratories and research departments. A synthesis gives also the main emissions sources of these compounds as reference concentrations measured in different environments. (A.L.B.)

  14. Study on Plantago major L. dan Phaseolus vulgaris L. chlorophyll and carotenoid content using as bioincator for air pollution

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    ENDANG ANGGARWULAN

    2007-10-01

    Full Text Available The aims of this research were to study using chlorophyll and carotenoid as bioindicator air quality. This research used completely randomized design 2 x 4 factorial with 5 replicates. The first factor was distance from source of exhaust automobile emissions, consists of 4 levels: 0,50, 100, and 200 m. The second factor was plant spesies, consist 2 level: Plantago major and Phaseolus vulgaris. Data collected were analyzed using Multiple Regression Analysis followed by Duncan Multiple Range Test in 5% confidence level. The result indicated that increasing distance from source exhaust automobile emission, increased growth and chlorophyll content. Chlorophyll content in Phaseolus is more sensitive as bioindicator for air pollution.

  15. Ekstraksi Dan Uji Stabilitas Zat Warna Alami Dari Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus Rosa-sinensis L) Dan Bunga Rosela (Hibiscus Sabdariffa L)

    OpenAIRE

    Siregar, Yusraini Dian Inayati; Nurlela, Nurlela

    2011-01-01

    Ekstraksi dan Uji Stabilitas Zat Warna Alami dari Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L) dan Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L) telah dilakukan. Penelitian bertujuan untuk mengekstraksi bunga kembang sepatu dan bunga rosella dengan mencari temperatur dan konsentrasi yang optimum untuk mendapatkan pigmen dari bunga kembang sepatu dan bunga rosella dengan pelarut air dan etanol, selain itu dilakukan juga uji stabilitas zat warna. Analisa kadar zat warna dilakukan dengan metode spektr...

  16. Ekstraksi dan Uji Stabilitas Zat Warna Alami dari Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L) dan Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L)

    OpenAIRE

    Yusraini Dian Inayati Siregar; Nurlela Nurlela

    2017-01-01

    Ekstraksi dan Uji Stabilitas Zat Warna Alami dari Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L) dan Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L) telah dilakukan. Penelitian bertujuan untuk mengekstraksi bunga kembang sepatu dan bunga rosella dengan mencari temperatur dan konsentrasi yang optimum untuk mendapatkan pigmen dari bunga kembang sepatu dan bunga rosella dengan pelarut air dan etanol, selain itu dilakukan juga uji stabilitas zat warna. Analisa kadar zat warna dilakukan dengan metode spektr...

  17. PENGAMATAN KADAR SENYAWA POLISIKLIK AROMATIK HIDROKARBON (PAH: (BENZO [a] PYREN, BENZO [a] ANTRASEN, BENZO [b] FLUORANTEN, DI-BENZO [a,h] ANTRASEN, DAN BENZO [g,h,i] PERYLEN DALAM AIR LAUT DI TELUK JAKARTA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    E Edward

    2018-02-01

    Full Text Available Pengukuran kadar senyawa polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH: Benzo[a]Pyren, Benzo[a] Antrasen, Benzo[b]fluoranten, Di-benzo[a,h]Antrasen, dan Benzo[g,h,i]Perylen dalam air laut di Teluk Jakarta telah dilakukan pada bulan Maret, Mei 2013, Maret dan Juli 2011. Tujuannya adalah untuk menentukan tingkat pencemaran kelima senyawa PAH tersebut dalam air laut dalam kaitannya dengan perlindungan biota laut. Contoh air laut diambil dengan menggunakan alat pengambil contoh air (water sampler di 12 stasiun penelitian. Posisi stasiun ditentukan dengan menggunakan GPS. Contoh dianalisis dengan menggunakan khromatografi gas. Hasil penelitian menunjukkan kadar ke lima senyawa tersebut pada bulan Maret lebih tinggi dibandingkan dengan Mei dan Juli. Kadar kelima senyawa tersebut telah melebihi nilai ambang batas yang aman untuk kehidupan biota laut. Keyword: Teluk Jakarta, air laut, polisiklik aromatik hidrokarbon, pengamatanABSTRACTMeasurement of polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs compound concentration: Benzo[a] Pyrene, Benzo[a]Anthracene, Benzo[b]Fluoranthene, Di-Benzo[a,h]Anthracene, and Benzo [g,h,i] Perylene in seawater of Jakarta Bay were carried out in March, May 2013, March and April 2011. The purpose of this research was to determined the level of pollution  of the five PAH compound in seawater  in relation to the protection of marine organisms. Sea water samples  have taken by using a water sampler at 12 research stations. Station positions is determined by using Geographic Position System (GPS. All samples analyzed by using Gas Chromatography. The results of this research showed that the concentration of that fifth PAH compounds in seawater in March were higher compared to May and July. The content of that fifth compound has exceeded the safely threshold value for marine organism life. Keyword: Jakarta Bay,  seawater, polycyclic aromatic hydrocarbon, observation

  18. Kesiapan Institusi Lokal dalam Menghadapi Bencana Tsunami: Studi Kasus Kelurahan Air Manis dan Kelurahan Purus, Kota Padang

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Khoirul Anam

    2018-04-01

    Full Text Available Aceh Tsunami’s in 2004 has a significant impact on Indonesia disaster management. Shifting of disaster management paradigm has directed to proactive preparedness that is involving some stakeholders including local institution like villages. At any level, the preparedness for the tsunami disaster of a government institution has been studied, including local government. However, in the lower level of local government such as villages have few of studies about that. Villages are institutions that deal directly with local communities. Therefore, the description of the preparedness/readiness of local institutions is needed. This study aims to give an overview of the readiness of local institutions in the face of the tsunami disaster by cases in the Air Manis Urban Village and Purus Village. Both of urban villages are located in the coastal area of Padang City which is one of the areas with high tsunami risk. This study uses descriptive qualitative approach, by using a primary data collection through in-depth interview with the key informant and secondary data collection through documents related to disaster management in Padang City. The local institution preparedness in both areas is identified through physical and non-physical aspects related to tsunami risk reduction. The results of the study showed that physically and non-physically Purus Village has better readiness compared to Air Manis Village. However, from the non-physical aspects of TRANTIB-PB and KSB as a representation of the involvement of local institutions in disaster management, it is still necessary to improve the governance in order not to become a mere formality. These two urban villages as a tourism destination are not considered in disaster management.

  19. Efek Durasi Pencahayaan Pada Sistem HRAR Untuk Menurunkan Kandungan Minyak Solar Dalam Air Limbah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dian Puspitasari

    2014-09-01

    Full Text Available Kandungan minyak di dalam air limbah industri perminyakan umumnya bersifat toksik terhadap mikroorganisme dan mengganggu proses pengolahan secara biologis. Sistem HRAR diperkirakan dapat mengatasi hambatan tersebut melalui proses fotosintesis untuk menghasilkan oksigen yang dibutuhkan mikroorganisme dalam mendegradasi senyawa hidrokarbon. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh perpanjangan waktu pencahayaan pada kemampuan HRAR dalam menurunkan kandungan minyak di dalam limbah. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah variasi durasi pencahayaan dan variasi penambahan volume minyak solar yang ditambahkan ke dalam reaktor. Variasi durasi pencahayaan yang digunakan adalah pencahayaan selama 12 jam dan pencahayaan selama 24 jam. Sedangkan penambahan volume minyak solar ke dalam masing-masing reaktor adalah sebesar 346 ppm, 519 ppm dan 692 ppm. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah durasi pencahayaan selama 12 jam memiliki efek yang lebih baik terhadap penurunan konsentrasi minyak dibandingkan pencahayaan selama 24 jam. Hal ini dapat terlihat dari baiknya pertumbuhan alga dan bakteri di dalam reaktor serta tingginya penurunan konsentrasi minyak solar di dalamnya. Penurunan konsentrasi minyak solar terbaik terdapat pada reaktor dengan penambahan minyak solar sebesar 346 ppm. Pada reaktor dengan durasi pencahayaan selama 12 jam terjadi penurunan konsentrasi minyak sebesar 78,4%. Sedangkan penurunan kandungan minyak solar pada reaktor dengan durasi pencahayaan selama 24 jam adalah sebesar 73,9%.

  20. KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK DAUN STROBILANTHUS CRISPUS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ani Isnawati

    2012-10-01

    Full Text Available Khasiat obat tradisional disebabkan oleh adanya senyawa kimia yang  dikandungnya. Bahan baku obat dari hasil pertanian atau kumpulan tumbuhan liar tentunya kandungan kimianya tidak dapat dijamin selalu konstan (ajeg karena adanya variabel bibit, tempat tumbuh, iklim, kondisi (umur dan cara panen. Kandungan senyawa kimia yang bertanggung jawab terhadap respon biologis harus mempunyai spesifikasi kimia, yaitu informasi  komposisi (jenis dan kadar. 0leh karena itu penetapan karakterisasi suatu simplisia dan ekstrak perlu dilakukan guna menjamin bahwa bahan suatu produk obat tradisional dapat diketahui mutunya. Karakterisasi dilakukan terhadap Tanaman Strobilanthus crispus (BL, yaitu simplisia bagian daun dan ekstrak 50% tanaman tersebut. Karakterisasi simplisa meliputi : penetapan kadar abu, kadar abu larut air, kadar abu tidak larut asam, kadar sari larut air, kadar sari larut asam, dan kadar air secar·a destilasi. Cara penetapan diatas dilakukan sesuai prosedur yang Ielah ditetapkan MMI, 1979. Sedangkan karakterisasi ekstrak mencakup : karakterisasi non spesifik yang meliputi penetapan bobot  jenis, kadar air, kadar sisa pelarut, kadar abu dan karakterisasi spesifik yang mencakup  pemeriksaan·senyawa yang terlarut dalam pelarut air dan etanol, pola kromatografi dengan cara KLT-densitometri, pemeriksaan golongan kimia ekstrak dan penetapan kadar zat kimia. Hasil penetapan karakterisasi simplisia menunjukkan spesifikasi tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan MMI, hanya penetapan sari larut etanol yang memenuhi persyaratan. Penetapan karakterisasi ekstrak etanol 50% menunjukkan tidak terdapat etanol dalam ekstrak, kadar air 13,3 %; bobot jenis 1,262%, senyawa terlarut dalam pelarut air 95,06%, senyawa terlarut dalam pelarut etanol 18,69 % dan kadar flavonoid  17,59 % serta  profil  kromatogram komponen utama fraksi heksan, Khloroform dan etanol.

  1. EVALUASI UNJUK KERJA TURBIN AIR PELTON TERBUAT DARI KAYU DAN BAMBU SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK RAMAH LINGKUNGAN UNTUK PEDESAAN (Performance Evaluation of Hydraulic Pelton Turbine Made of Wood and Bamboo as Environmentally Friendly Electric Generation

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Samsul Kamal

    2013-07-01

    Full Text Available ABSTRAK Pemanfaatan energi air di Indonesia, khususnya untuk pembangkit listrik skala kecil di pedesaan masih perlu diprioritaskan untuk ditingkatkan dalam program memperoleh energi bersih yang ramah lingkungan. Pemanfaatan tersebut masih terkendala oleh biaya investasi yang relatif tinggi serta teknologi yang sesuai. Pemerintah mendorong pemanfaatan energi baru dan terbarukan melalui program Desa Mandiri Energi dengan menggunakan potensi dan sumber daya yang tersedia di pedesaan. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi unjuk kerja turbin air Pelton untuk pembangkit listrik skala kecil dengan sudu terbuat dari bambu dan roda turbin dari kayu. Data yang terkumpul menunjukkan bahwa efisiensi pembangkitan mampu mencapai sekitar 28% untuk debit aliran 28 liter/detik dan tinggi jatuh efektif 7 m menggunakan nosel berpenampang empat persegi panjang. Walaupun dari aspek teknik dan lingkungan penggunaan bambu sebagai sudu turbin adalah baik dan sesuai untuk digunakan di pedesaan, namun unjuk kerja yang diperoleh masih perlu ditingkatkan dibanding dengan umumnya turbin Pelton yang terbuat dari logam. Hal ini diperkirakan karena bentuk alamiah lengkung bambu yang tidak optimum untuk sudu serta bentuk penampang nosel yang masih harus disesuaikan.   ABSTRACT The use of hydroenergy in Indonesia, especially for small electric generation in rural areas is still to be priority increased in a program to find a clean and environmentally friendly energy.  The use is still limited by relatively high investation cost and appropriate technology. Government has pushed the use of new and renewable energy through the Village Self-Relliant Energy Supply Program by using potential and available resources in the village. The objective of this study is to evaluate the performance of a hydraulic Pelton turbine for small electric generation with the buckets are made of bamboo and the runner is made of wood. Data collected from the study show that the efficiency of the

  2. Isolasi dan Identifikasi Mikroba Lipolitik dari Limbah Cair Surimi dan Rajungan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Devi Ambarwati Oktavia

    2017-05-01

    Full Text Available Industri pengolahan hasil perikanan di sepanjang pantai Utara Jawa seperti pengalengan rajungan di Cirebon (Jawa Barat dan pengolahan surimi di Kendal (Jawa Tengah, menghasilkan air limbah yang mengandung banyak protein dan lemak. Bakteri yang hidup di limbah yang banyak mengandung protein dan lemak tersebut diperkirakan memiliki kemampuan untuk menghidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bioremedian alami bagi penanganan air limbah hasil perikanan di tempat lain. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penapisan dan identifikasi bakteri lipolitik potensial sebagai bioremedian air limbah perikanan. Penapisan dilakukan terhadap 11 isolat bakteri lipolitik dari air limbah yang diambil dari industri pengalengan rajungan di Cirebon dan pengolahan surimi di Kendal dengan menggunakan media spesifik agar tributirin. Isolat bakteri lipolitik potensial ditentukan berdasarkan zona bening yang terbentuk di sekitar koloni, yaitu sekurang-kurangnya 6 mm. Isolat bakteri potensial ini selanjutnya diidentifikasi secara molekuler berdasarkan analisis sekuen 16S-rDNA. Dari penapisan diperoleh empat isolat bakteri potensial, yaitu isolat SPB, SHj, SOr dan SKn. Identifikasi molekuler menunjukkan bahwa isolat SPB dan SHj masing-masing adalah Serratia fonticola 10AdanBacillus cereus strain 103.2.2dengan kemiripan 97%, isolat SOr memiliki kemiripan 96% dengan Bacillus pumilus strain vit bac1 dan isolat SKn adalah Enterococcus pseudoavium strain L3C21K2dengan kemiripan 87%. Keempat isolat tersebut berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bioremedian pada air limbah dari industri pengolahan hasil perikanan di Indonesia.

  3. RISIKO KESEHATAN MASYARAKAT AKIBAT KONSUMSI AIR BERSIH DAN HASIL LAUT YANG MENGANDUNG KADMIUM (CD DI KEPULAUAN SERIBU

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Athena Athena

    2012-11-01

    Full Text Available The Risk of Public Health Impact of Cadmium (Cd Contaminated Drinking Water and Marine products in Kepulauan Seribu.Study on the risk assessment of public health impact of Cadmium contaminated drinking waterand marine products (fish and shellfish was conducted on Lancang, Panggang, Untung Jawa and TidungIs land Kepulauan Seribu District, OK! Jakarta in 2006. The aim of this research was to predict risk due tothe consumption of drinking water and marine products. Forty three samples of drinking the water and 110 samples of marine products were taken. Samples were determined by using atomic absorption spectrophotometer (AAS, with air-acetylene flame method. One hundred and fifty two respondents who have dietary habits (including marine products consumption were interviewed to study consumption pattern of drinking water and marine products. The results were: Soil water, rain water, and reverse osmosis product were used as drinking water resources in Kepulauan Seribu which has below detection limit up to 0.021 ppm level of cadmium concentration. More than 30% drinking water samples were exceeding the cadmium concentration standard (regulation of the Ministry of Health, Permenkes no.416/1990. The highest concentration of cadmium was detected in Tidung island (7 times higher than permissible standard levels. The result of marine products sample analysis showed that Cadmium concentration was in the range of 0.024-0.795 part per million (ppm. Risk assessment showed that detected Cd in drinking water and marine products in all area did not have significant impact to its public health (RQ<1.Keywords: Cadmium, risk asssessment, drinking water, marine products

  4. Dan Wang

    Indian Academy of Sciences (India)

    Home; Journals; Bulletin of Materials Science. Dan Wang. Articles written in Bulletin of Materials Science. Volume 36 Issue 6 November 2013 pp 1013-1017. Adhesion enhancement for liquid silicone rubber and different surface by organosilane and Pt catalyst at room temperature · Fang Wang Yanni Li Dan Wang.

  5. Fuel From Algae: Scaling and Commercialization of Algae Harvesting Technologies

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    None

    2010-01-15

    Broad Funding Opportunity Announcement Project: Led by CEO Ross Youngs, AVS has patented a cost-effective dewatering technology that separates micro-solids (algae) from water. Separating micro-solids from water traditionally requires a centrifuge, which uses significant energy to spin the water mass and force materials of different densities to separate from one another. In a comparative analysis, dewatering 1 ton of algae in a centrifuge costs around $3,400. AVS’s Solid-Liquid Separation (SLS) system is less energy-intensive and less expensive, costing $1.92 to process 1 ton of algae. The SLS technology uses capillary dewatering with filter media to gently facilitate water separation, leaving behind dewatered algae which can then be used as a source for biofuels and bio-products. The biomimicry of the SLS technology emulates the way plants absorb and spread water to their capillaries.

  6. Shewanella algae in acute gastroenteritis

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    S Dey

    2015-01-01

    Full Text Available Shewanella algae is an emerging bacteria rarely implicated as a human pathogen. Previously reported cases of S. algae have mainly been associated with direct contact with seawater. Here we report the isolation of S. algae as the sole etiological agent from a patient suffering from acute gastroenteritis with bloody diarrhoea. The bacterium was identified by automated identification system and 16S rRNA gene sequence analysis. Our report highlights the importance of looking for the relatively rare aetiological agents in clinical samples that does not yield common pathogens. It also underscores the usefulness of automated systems in identification of rare pathogens.

  7. Air

    CERN Document Server

    Rivera, Andrea

    2017-01-01

    Air is all around us. Learn how it is used in art, technology, and engineering. Five easy-to-read chapters explain the science behind air, as well as its real-world applications. Vibrant, full-color photos, bolded glossary words, and a key stats section let readers zoom in even deeper. Aligned to Common Core Standards and correlated to state standards. Abdo Zoom is a division of ABDO.

  8. Transgenic algae engineered for higher performance

    Science.gov (United States)

    Unkefer, Pat J; Anderson, Penelope S; Knight, Thomas J

    2014-10-21

    The present disclosure relates to transgenic algae having increased growth characteristics, and methods of increasing growth characteristics of algae. In particular, the disclosure relates to transgenic algae comprising a glutamine phenylpyruvate transaminase transgene and to transgenic algae comprising a glutamine phenylpyruvate transaminase transgene and a glutamine synthetase.

  9. Pengaruh Susunan dan Ukuran Bilah Bambu Petung (Dendrocalamus asper Dan Bambu Apus (Gigantochloa apus Terhadap Kekuatan Tarik, Kekuatan Tekan Dan Kekuatan Lentur Untuk Komponen Konstruksi Kapal

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Parlindungan Manik

    2017-11-01

    Full Text Available Bambu laminasi merupakan bahan bangunan rekayasa yang dibentuk dengan sistem perekatan beberapa bilah bambu sehingga memiliki kelebihan dapat dibuat dalam berbagai ukuran dan sifat mekanika yang lebih uniform dari bahan bambu alami. Teknik laminasi dari bahan bambu menjadi solusi untuk mengembangkan sebuah produk kayu yang memiliki struktur dan sifat mekanik lebih kuat dan awet. Prosedur pembuatan dan pengujian spesimen kayu laminasi bambu petung dan bambu apus mengacu pada SNI-03-3958-1995, SNI-03-3399-1994 dan SNI 03-3959-1995. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai kuat tarik, kuat tekan dan kuat lentur dari dua jenis variasi susunan bilah horizontal dan bata/carvel dengan tebal bilah 3 mm, 5 mm dan 7 mm. Hasil penelitian pada laminasi bambu petung dan bambu apus diperoleh kadar air 12-13 % dan berat jenis 0,60-0,65 gr/cm3 memiliki kuat tarik terbesar 96,72 Mpa (kode PA7H, kuat lentur 101,69 MPa (kode PA7B dan kuat tekan 22,11 MPa (kode PA7B. Variasi susunan bata dan tebal bilah semakin besar mempengaruhi kekuatan tekan dan lentur. Namun sebaliknya untuk kuat tarik, susunan horizontal lebih baik dari susunan bata. Nilai tersebut memenuhi persyaratan kayu lapis sebagai bahan material kapal kayu menurut BKI dan termasuk dalam kelas kuat II sehingga dapat digunakan sebagai material konstruksi kapal.

  10. Identifikasi dan Kelimpahan Lalat Buah Bactrocera pada Berbagai Buah Terserang

    OpenAIRE

    Dyah Rini Indriyanti; Yanuarti Nur Isnaini; Bambang Priyono

    2014-01-01

    Penelitian bertujuan mengidentifikasi spesies dan kelimpahan Bactrocera yang menyerang berbagai buah di Kecamtan Demak dan Dempet Kabupaten Demak. Penelitian menggunakan metode purposive sampling. Penelitian dilakukan dengan mengambil 5 macam buah yang terserang (jambu air, belimbing, jambu biji, melinjo dan mangga), pengambilan data faktor klimatik dilakukan pada saat pengambilan sampel. Buah terserang kemudian dilakukan rearing, Bactrocera spp yang didapat dilakukan identifikasi. Bactrocera...

  11. Algae biotechnology: products and processes

    National Research Council Canada - National Science Library

    Bux, F; Chisti, Yusuf

    2016-01-01

    This book examines the utilization of algae for the development of useful products and processes with the emphasis towards green technologies and processes, and the requirements to make these viable...

  12. Algae: America's Pathway to Independence

    National Research Council Canada - National Science Library

    Custer, James

    2007-01-01

    .... Oil dependency is an unacceptable risk to U.S. national strategy. This paper advocates independence from foreign oil by converting the national transportation fleet to biodiesel derived from algae...

  13. Biological importance of marine algae.

    Science.gov (United States)

    El Gamal, Ali A

    2010-01-01

    Marine organisms are potentially prolific sources of highly bioactive secondary metabolites that might represent useful leads in the development of new pharmaceutical agents. Algae can be classified into two main groups; first one is the microalgae, which includes blue green algae, dinoflagellates, bacillariophyta (diatoms)… etc., and second one is macroalgae (seaweeds) which includes green, brown and red algae. The microalgae phyla have been recognized to provide chemical and pharmacological novelty and diversity. Moreover, microalgae are considered as the actual producers of some highly bioactive compounds found in marine resources. Red algae are considered as the most important source of many biologically active metabolites in comparison to other algal classes. Seaweeds are used for great number of application by man. The principal use of seaweeds as a source of human food and as a source of gums (phycocollides). Phycocolloides like agar agar, alginic acid and carrageenan are primarily constituents of brown and red algal cell walls and are widely used in industry.

  14. Air

    International Nuclear Information System (INIS)

    Gugele, B.; Scheider, J.; Spangl, W.

    2001-01-01

    In recent years several regulations and standards for air quality and limits for air pollution were issued or are in preparation by the European Union, which have severe influence on the environmental monitoring and legislation in Austria. This chapter of the environmental control report of Austria gives an overview about the legal situation of air pollution control in the European Union and in specific the legal situation in Austria. It gives a comprehensive inventory of air pollution measurements for the whole area of Austria of total suspended particulates, ozone, volatile organic compounds, nitrogen oxides, sulfur dioxide, carbon monoxide, heavy metals, benzene, dioxin, polycyclic aromatic hydrocarbons and eutrophication. For each of these pollutants the measured emission values throughout Austria are given in tables and geographical charts, the environmental impact is discussed, statistical data and time series of the emission sources are given and legal regulations and measures for an effective environmental pollution control are discussed. In particular the impact of fossil-fuel power plants on the air pollution is analyzed. (a.n.)

  15. ANALISIS KETERSEDIAAN AIR SUNGAI BAWAH TANAH DAN PEMANFAATAN BERKELANJUTAN DI KAWASAN KARST MAROS SULAWESI SELATAN (Analysis of Underground River Water Availability and Its Sustainable uses at Karst Maros Area in South Sulawesi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muhammad Arsyad

    2014-05-01

    Full Text Available ABSTRAK Kawasan Karst Maros mempunyai tata air yang kondusif, baik yang berada di bawah gua maupun yang muncul sebagai sungai permukaan, seperti DAS Bantimurung. DAS Bantimurung bahagian hulunya dipergunakan sebagai tempat pariwisata, air irigasi bagi pertanian dan air baku PDAM Kabupaten Maros. Untuk itu, perlu dilakukan valuasi ekonomi terhadap sumberdaya air tersebut, berupa nilai total ekonomi. Besarnya debit air yang terdapat di Kawasan Karst Maros selama 20 tahun (1990-2010 cenderung berada pada angka 7,00 m3/s, dengan debit air terendah terjadi bulan September, sekitar 1,00 m3/s dan tertinggi pada bulan Januari mencapai 20 m3/s. Perhitungan nilai guna langsung  (direct use value sebesar Rp.385.479.052.214, nilai guna tidak langsung (indirect use value sebesar Rp.13.251.588.000,  dan nilai bukan guna (non  use value sebesar Rp.20.016.148.000, sehingga nilai ekonomi total (Total Economic Value, TEV dari setiap tahunnya sebesar Rp.418.746.788.214. Untuk keberlanjutan pemanfaatan air sungai bawah tanah Kawasan Karst Maros diperoleh kebutuhan air seluruh irigasi pertanian di Kabupaten Maros adalah 5,32 m3/s dan PDAM sebesar 2.037.943 m3 setiap tahun.  Sedangkan air yang tersedia di Kawasan Karst Maros adalah 220,8 juta m3 setiap tahun, sehingga masih ada surplus air sebesar 15,10 juta m3 setiap tahun.   ABSTRACT The karst region of Maros has water system that is conducive both under the cave and emerge as the river surface, such as watershed Bantimurung. The upstream of DAS Bantimurung is used as a place of tourism , agriculture and irrigation for raw water in Maros PDAM. To that end, economic valuation needed to be done to water resource, in the form of total economic value. The amount of discharge water contained in Maros Karst area for 20 years (1990-2010 tended stands at 7,00 m3/s, with the lowest water discharge occurred in September, approximately 1,00 m3/s and the highest in January at 20 m3/s. Direct use value amounted to Rp 385

  16. ENERGI DAN DAMPAKNYA TERHADAP LINGKUNGAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Made Astra

    2010-11-01

    Full Text Available Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang  lainnya, perubahannya sering mempengaruhi lingkungan dan udara yang kita hirup dengan berbagai cara. Energy kimia dalam bahan bakar fosil diubah menjadi energy panas, mekanik, atau listrik melalui pembakaran dan  ini sebagai penghasil polutan terbesar. Dan dengan demikian pembangkit listrik, kendaraan bermotor, dan kompor adalah penyebab utama terjadinya polusi udara.  Polutan yang dikeluarkan biasanya dikelompokan menjadi  hidrokarbon (HC, nitrogen oksida (NOx, dan  karbon monoksida (CO. Polutan yang dihasilkan pada pembakaran fosil merupakan faktor terbesar terjadinya asap, hujan asam,  pemanasan global dan perubahan iklim.   The conversion of energy from one form to another often affects the environment and the air we breath in many ways. Pollutants are emitted as the chemical energy in fossil fuels is converten to thermal, mechanical, or electrical energy via combustion, and thus power plants, motor vehicles, and even stoves take the blame for air pollution, and  the pollutants released by the vehicles are usually grouped as hydrocarbons (HC, nitrogen oxides (NOx, and carbon monoxide (CO. Pollutans emitted during the combustion of fossil fuels are responsible for smog, acid rain, and global warming and climate change.

  17. SISTEM PENGOLAHAN AIR ASAM TAMBANG PADA WATER POND DAN APLIKASI MODEL ENCAPSULATION IN-PIT DISPOSAL PADA WASTE DUMP TAMBANG BATUBARA (Acid Mine Drainage Treatment System in Water Pond and Application of Encapsulation In-Pit Disposal Model in Waste Dump

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Andy R. Erwin Wijaya

    2010-03-01

    Full Text Available ABSTRAK Kegiatan pertambangan batubara umumnya dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan di lokasi penambangan. Salah satu dampak negatif yang signifikan adalah terjadinya pencemaran air asam tambang yang dapat merusak fungsi lingkungan seperti komponen air dan tanah. Umumnya lokasi tambang batubara yang berpotensi besar sebagai sumber terbentuknya air asam tambang adalah kolam penampungan air tambang (water pond dan tempat penimbunan material buangan sulfida (waste dump. Penelitian ini bertujuan untuk mengendalikan rembesan air asam tambang yang berasal dari kolam penampungan air (water pond dan mengurangi terbentuknya air asam tambang pada tempat penimbunan material buangan sulfida (waste dunp. Sistem pengendalian pencemaran air asam tambang meliputi pengolahan air asam tambang (water pond dan pengelolaan material sulfida (waste dump. Metode pengolahan air asam tambang adalah menetralisasi air asam dengan reagen alkali. Reagen alkali yang paling efektif dan ekonomis adalah batugamping (kalsium karbonat. Jumlah batugamping yang dibutuhkan untuk menetralkan air asam lambang pada water pond (5040 m3 sebesar 104,56 kg. Pengelolaan material buangan sulfida (waste dump adalah menerapkan model encapsulation in-pit disposal. Hal ini sangat efektif untuk mencegah terbentuknya air asam tambang. Material perlapisan yang digunakan adalah lempung (clay, karena mempunyai nilai permeabilitas yang sangat kecil yaitu sebesar 2,3148 x 10-9 m/det dan ketersediaannya mencukupi.   ABSTRACT Coal mining activity generally can generate negative impact to environment on mining location. One of the negative impact is contamination of acid mine drainage which able to destroy environment and ecosystem as water and soil. High potency source of acid mine drainage formed on coal mining location are water pond and waste dump. This aim of the research are control of acid mine drainage from water pond and prevention of acid mine drainage formed on the waste dump

  18. Identifikasi lokasi untuk pengembangan budidaya keramba jaring apung (KJA berdasarkan faktor lingkungan dan kualitas air di perairan pantai timur Bangka Tengah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Junaidi M. Affan

    2012-04-01

    Full Text Available Perairan pantai timur Kabupaten Bangka memiliki sumberdaya laut yang baik dikembangkan sebagai lokasi budidaya perikanan. Teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG dapat digunakan untuk menentukan lokasi tersebut dengan metode interpolasi parameter oseanografi hasil pengukuran di stasiun yang telah ditetapkan secara acak dan sistematis. Analisis spasial terhadap masing-masing parameter dilakukan tumpang tindih (overlayuntuk memperoleh lokasi kelayakan dengan kategori sangat layak, cukup layak, layak bersyarat dan tidak layak terhadap kelayakan kegiatan budidaya laut. Dari hasil analisis terdapat potensi lokasi seluas 127.746 ha, dimana 122.950 ha (96,25% diantaranya sangat layak sampai layak, dab 4.796 ha (3,75% cukup layak untuk peruntukan budidaya ikan. Namun demikian berdasarkan hasil verifikasi lapangan hanya 8.627 ha saja yang direkomendasikan untuk pengemabangan, lokasi ini terletak di sekitar Pulau Ketawai, Pulau Panjang dan Pulau Bujur.

  19. Algae-Based Carbon Sequestration

    Science.gov (United States)

    Haoyang, Cai

    2018-03-01

    Our civilization is facing a series of environmental problems, including global warming and climate change, which are caused by the accumulation of green house gases in the atmosphere. This article will briefly analyze the current global warming problem and propose a method that we apply algae cultivation to absorb carbon and use shellfish to sequestrate it. Despite the importance of decreasing CO2 emissions or developing carbon-free energy sources, carbon sequestration should be a key issue, since the amount of carbon dioxide that already exists in the atmosphere is great enough to cause global warming. Algae cultivation would be a good choice because they have high metabolism rates and provides shellfish with abundant food that contains carbon. Shellfish’s shells, which are difficult to be decomposed, are reliable storage of carbon, compared to dead organisms like trees and algae. The amount of carbon that can be sequestrated by shellfish is considerable. However, the sequestrating rate of algae and shellfish is not high enough to affect the global climate. Research on algae and shellfish cultivation, including gene technology that aims to create “super plants” and “super shellfish”, is decisive to the solution. Perhaps the baton of history will shift to gene technology, from nuclear physics that has lost appropriate international environment after the end of the Cold War. Gene technology is vital to human survival.

  20. Analisi Kinerja Harga Pengaruhnya Terhadap Reputasi Dan Keputusan Menggunakan Jasa Penerbangan (Survei Terhadap Penumpang Air Asia Dengan Rute Bandung – Denpasar)

    OpenAIRE

    Rosdiana, Anisa

    2014-01-01

    Penumpang memiliki peran sentral selaku pembuat keputusan untuk menggunakan maskapai penerbangan. Namun pertumbuhan jumlah penumpang Air Asia mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena reputasi Air Asia yang kurang baik. Melalui upaya kinerja harga, diharapkan dapat meningkatkan jumlah pertumbuhan penumpang Air Asia.Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) gambaran kinerja harga pada penumpang maskapai penerbangan Air Asia (2) gambaran reputasi Air Asia pada penumpang m...

  1. VARASI DAN SPECIES TUMBUHAN DI WILAYAH KONSERVASI (WILDLIFE CONSERVATION DAN UPAYA PELESTARIANNYA DI UNIVERSITAS LA TROBE, BUNDOORA DAN BENDIGO, MELBOURNE, AUSTRALIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Achmad Munandar

    2008-12-01

    Full Text Available Penelitian deskriptif ini difokuskan pada tiga permasalahan hal yaitu pertama penelitian flora yang terdapat di kampus Universitas La Trobe dan di lingkungan SMU wilayah Bendigo, Melbourne Utara. Kedua jenis-jenis tumbuhan apa saja yang sudah dikembangkan/diteliti universitas tersebut untuk kepentingan industri dan bisnis. Ketiga mengobservasi upaya-upaya mereka dalam melestarikan flora asli Australia melalui pendidikan. Landasan teoritik yang berkaitan dengan masalah ini adalah hubungan antara klimatologi dengan flora yang terdapat di daerah sub tropis. Faktor-faktor klimatologi ini adalah: Suhu, kelembaban, cahaya dsb., yang berbeda dengan daerah tropis, demikian halnya dengan floranya. Hasil pengamatan (observasi di universitas ini menunjukkan bahwa implementasi oendidikan untuk memanfaatkan flora untuk industri dan oengelolaan lingkungan: oelestarian flora, fauna, konservasi air dan tanah sudah diwujudkan baik dalam teori maupun praktek. Metode penelitian dilakukan dengan metode dan pendekatan: tanya jawab, diskusi dan mengamati langsung flora yang terdapat di lingkungan universitas dan sekolah, serta pemanfaatannya. Kesimpulan: pertama, flora di daerah ini menunjukkan variasinya sedikit, namun jumlahnya besar (a.l. Eycalyptus sp.. Pemanfaatan flora yang terdapat di lingkungan kampus untuk keperluan industri dan farmasi, dilakukan melalui Riset dan Pengembangan (Research and Development secara teratur dan terus menerus. Hal yang sama pada pelestarian flora dengan malalui implementasi pendidikan. Rekomendasi: Variasi flora di suatu wilayah local, regional, nasional dan internasional seyogyanya dipelajari dengan baik dan dicari guna manfaatnya dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk serta berupaya melestarikannya untuk generasi yang akan dating, yang dilakukan melalui pendidikan di sekolah dan universitas.

  2. Algae Bloom in a Lake

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    David Sanabria

    2008-01-01

    Full Text Available The objective of this paper is to determine the likelihood of an algae bloom in a particular lake located in upstate New York. The growth of algae in this lake is caused by a high concentration of phosphorous that diffuses to the surface of the lake. Our calculations, based on Fick's Law, are used to create a mathematical model of the driving force of diffusion for phosphorous. Empirical observations are also used to predict whether the concentration of phosphorous will diffuse to the surface of this lake within a specified time and under specified conditions.

  3. Microscopic Gardens: A Close Look at Algae.

    Science.gov (United States)

    Foote, Mary Ann

    1983-01-01

    Describes classroom activities using algae, including demonstration of eutrophication, examination of mating strains, and activities with Euglena. Includes on algal morphology/physiology, types of algae, and field sources for collecting these organisms. (JN)

  4. Sitotoksisitas Ekstrak Aseton Dan Kandungan Fukosantin Rumput Laut Sargassum

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muhammad Nursid

    2015-12-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik dua jenis algae coklat (Sargassum cinerum dan Sargassum polycystum dan kandungan fukosantin kedua jenis rumput laut tersebut. Rumput laut diperoleh dari pantai Binuangeun, Lebak, Banten, Indonesia. Ekstrak aseton yang diperoleh dipekatkan dengan menggunakan konsentrator vakum. Aktivitas sitotoksik terhadap sel HeLa dan T47D dievaluasi dengan menggunakan uji MTT (3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl-2,5-diphenyltetrazolium bromide. Kandungan fukosantin pada ekstrak aseton S. cinerum dan S. polycystum dianalisis dengan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT. Hasil uji sitotoksik memperlihatkan bahwa ekstrak S. cinerum dan S. polycystum memiliki aktivitas sitotoksik yang lebih tinggi terhadap sel T47D dibanding terhadap sel HeLa. Nilai IC50 S. cinerum dan S. polycystum terhadap sel T47D masing-masing sebesar 79,2 dan 52,2 µg/ml. Analisis KCKT memperlihatkan kadar fukosantin pada ekstrak aseton S. cinerum dan S. polycystum masing-masing sebesar 0,179 dan 0,318 mg/g ekstrak.

  5. Formation of algae growth constitutive relations for improved algae modeling.

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Gharagozloo, Patricia E.; Drewry, Jessica Louise.

    2013-01-01

    This SAND report summarizes research conducted as a part of a two year Laboratory Directed Research and Development (LDRD) project to improve our abilities to model algal cultivation. Algae-based biofuels have generated much excitement due to their potentially large oil yield from relatively small land use and without interfering with the food or water supply. Algae mitigate atmospheric CO2 through metabolism. Efficient production of algal biofuels could reduce dependence on foreign oil by providing a domestic renewable energy source. Important factors controlling algal productivity include temperature, nutrient concentrations, salinity, pH, and the light-to-biomass conversion rate. Computational models allow for inexpensive predictions of algae growth kinetics in these non-ideal conditions for various bioreactor sizes and geometries without the need for multiple expensive measurement setups. However, these models need to be calibrated for each algal strain. In this work, we conduct a parametric study of key marine algae strains and apply the findings to a computational model.

  6. 21 CFR 184.1120 - Brown algae.

    Science.gov (United States)

    2010-04-01

    ... 21 Food and Drugs 3 2010-04-01 2009-04-01 true Brown algae. 184.1120 Section 184.1120 Food and Drugs FOOD AND DRUG ADMINISTRATION, DEPARTMENT OF HEALTH AND HUMAN SERVICES (CONTINUED) FOOD FOR HUMAN... Substances Affirmed as GRAS § 184.1120 Brown algae. (a) Brown algae are seaweeds of the species Analipus...

  7. 21 CFR 184.1121 - Red algae.

    Science.gov (United States)

    2010-04-01

    ... 21 Food and Drugs 3 2010-04-01 2009-04-01 true Red algae. 184.1121 Section 184.1121 Food and Drugs FOOD AND DRUG ADMINISTRATION, DEPARTMENT OF HEALTH AND HUMAN SERVICES (CONTINUED) FOOD FOR HUMAN... Substances Affirmed as GRAS § 184.1121 Red algae. (a) Red algae are seaweeds of the species Gloiopeltis...

  8. ANALISIS KUALITAS RUMPUT LAUT Gracilaria gigas YANG DIBUDIDAYA PADA HABITAT LAUT DAN TAMBAK, NUSA TENGGARA BARAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Farah Diana

    2014-03-01

    dengan kandungan N perairan dan indeks percabangan. Kualitas rumput laut berhubungan erat dengan suhu, DO, PO4-P, dan NH3-N terlarut dalam air. Tingginya rendemen agar dan kekuatan gel di tambak disebabkan oleh banyaknya kandungan nutrien dan unsur hara, sedangkan tingginya produktivitas hasil budidaya Gracilaria gigas di laut disebabkan oleh adanya respons struktural dan tekanan turgor pada rumput laut.

  9. KAJIAN UJI HAYATI AIR LIMBAH HASIL INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT DR. RAMELAN SURABAYA

    OpenAIRE

    Candra Putra Prakoso; Agus Romadhon; Apri Arisandi

    2009-01-01

    Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui kualitas air limbah hasil pengolahan dan mengkaji respon ikan uji yang digunakan sebagai parameter pengolahan buangan air limbah dengan berbagai konsentrasi yang berbeda. Analisa kualitas air saat percobaan dilakukan pada awal dan akhir percobaan. Parameter kualitas air yang diukur adalah suhu, pH, oksigen terlarut (DO). Metode analisa data dilakukan dengan metode deskriptif dan korelasi statistik. Dari hasil perhitungan statistik dapat disimpulkan bah...

  10. DISAIN SIMULATOR AUTOMOTIVE AIR CONDITIONING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MAHASISWA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Kamin Sumardi

    2015-08-01

    Full Text Available Perkembangan teknologi automotive air conditioning dan aplikasinya sangat cepat, salah satunya dengan menerapkan green technology. Penerapan green technology pada teknologi air conditioning, karena masih menggunakan refrigeran yang mengandung unsur kimia yang merusak lapisan ozon dan pemanasan global. Alih teknologi bidang air conditioning yang ramah lingkungan, belum dibarengi dengan ketersediaan tenaga kerja pada tingkat SMK dan perguruan tinggi yang memadai, baik kuantitas maupun kompetensinya. Pada level SMK dan perguruan tinggi, kompetensi akademik dan vokasional bidang automotive air conditioning harus terus ditingkatkan dan diperbaharui sesuai dengan perkembangan teknologinya. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan simulator automotive air conditioner dan model pembelajaran tata udara pada otomotif berwawasan teknologi ramah lingkungan. Penelitian menggunakan metode research and development dengan langkah-langkah: studi pendahuluan, perencanaan, pengembangan melalui uji coba simulator, validasi, dan produk akhir. Simulator dibuat sesuai dengan kondisi di dunia kerja agar tidak terjadi miskonsepsi dan mala-praktek automotive air conditioning. Simulator ini dibuat secara kompak dan mobile atau dapat dipindah dan dibawa. Model pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan kompetensi yang dipersyaratkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan bantuan simulator automotive air conditioner dan model pembelajaran yang tepat mahasiswa mampu menyerap konsep dan praktek lebih cepat 85%. Hasil belajar pada ranah afektif, kognitif, psikomotor dan kompetensi meningkat secara signifikan.

  11. Propagation du bruit des erreurs expérimentales dans les modèles théoriques gérés par des systèmes linéaires. Deux applications en transfert thermique

    Science.gov (United States)

    Depecker, P.; Draoui, A.; Beghein, Cl.

    1992-01-01

    This paper reports sensitivity analysis relative to the field of uncertainty of experimental measured parameters used as model imputs. After describing the experimental uncertainty and its consequences, we present the mathematical tool adapted to models based on linear system resolution. Using examples from heat transfer field, we report two of the most common situations arising to the physicist. The former situation comes up to the experimenter who cannot determine directly some characteristics of his physical system. As the direct measurement of these characteristics is impossible, they are calculated from a model representing the experimental set up. The latter occurs to the model builder, who developes a theoretical model. Building such a model requires knowledge of physical basic characteristics, supposed to be previously determined from experimental measurement. In both cases, measurement induces unertainties spreading into the models. The first application of these principles deals with the study of radiant emitters in real scale dwelling cells. The second one refers to the modeling of coupled heat transfer in a semi-transparent medium such as glass. From both examples, the author point out that the stability of model solutions should be checked, such a stability being not a priori detectable. Ce texte introduit la notion de sensibilité des modèles aux incertitudes avec lesquelles on connaît les paramètres mesurés expérimentalement (donc entachés d'erreurs) entrant dans le formalisme de ces modèles. Après avoir exposé une problématique générale de l'erreur expérimentale et de ses conséquences, on décrit l'outillage mathématique permettant de cerner la question dans le cas des modèles fondés sur des systèmes linéaires. On s'intéresse ensuite aux deux situations les plus classiques dans lesquelles peut se trouver le physicien, en s'appuyant sur des exemples empruntés au domaine des transferts thermiques. La première est celle de l

  12. Scenario studies for algae production

    NARCIS (Netherlands)

    Slegers, P.M.

    2014-01-01

    Microalgae are a promising biomass for the biobased economy to produce food, feed, fuel, chemicals and materials. So far, large-scale production of algae is limited and as a result estimates on the performance of such large systems are scarce. There is a need to estimate large-scale biomass

  13. Algae. LC Science Tracer Bullet.

    Science.gov (United States)

    Niskern, Diana, Comp.

    The plants and plantlike organisms informally grouped together as algae show great diversity of form and size and occur in a wide variety of habitats. These extremely important photosynthesizers are also economically significant. For example, some species contaminate water supplies; others provide food for aquatic animals and for man; still others…

  14. EKSISTENSI DAN SEBARAN NYAMUK AEDES AEGYPTI DAN AEDES ALBOPICTUS DI KAMPUS UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yosefina Dota T

    2015-03-01

    Full Text Available Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui eksistensi dan sebaran nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus telah dilakukan di Kampus Universitas Hasanuddin, Kec. Tamalanrea, Makassar. Penelitian bersifat eksploratif dengan melakukan sampling terhadap lima lokasi yaitu : a Fak. Peternakan (Utara, b Fak. Hukum (Timur, c Pusat Kegiatan Penelitian/PKP (Selatan, d Workshop/Dekat Pondokan mahasiswa (Barat dan e Fak. MIPA (Tengah. Sampling nyamuk menggunakan metode ovitrap (menggunakan attraktan Eluisine Indica L. dan survei terhadap berbagai tempat penampungan air. Sampel telur dan larva nyamuk yang diperoleh disimpan dalam microtube berisi alkohol 70% kemudian diidentifikasi berdasarkan Rueda (2004. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nyamuk Ae. aegypti dan Ae. albopictus ditemukan hidup dan berkembang biak di kampus Universitas Hasanuddin, Makassar. Eksistensi dan sebaran kedua jenis nyamuk tersebut dipengaruhi oleh faktor adanya manusia/masyarakat kampus yang beraktivitas baik di dalam ruangan (indoor maupun di luar ruangan (outdoor, adanya berbagai tempat penampungan air baik buatan (bak mandi, ember maupun barang bekas (botol/kaleng bekas, tempurung kelapa, vegetasi/tanaman dan berbagai macam hewan yang berada di sekitaran kampus. Hasil penelitian dalam ruangan (indoor menunjukkan bahwa nyamuk Ae. aegypti lebih banyak ditemukan hidup di dalam ruangan gedung PKP sedangkan Ae.albopictus lebih banyak di Fak. Hukum. Hasil penelitian di luar ruangan (outdoor menunjukkan bahwa nyamuk Ae. aegypti lebih banyak ditemukan hidup di area Workshop sedangkan Ae.albopictus lebih banyak di area PKP.

  15. Monitoring Distribusi Air Bersih

    OpenAIRE

    Sutono Sutono

    2016-01-01

    Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pilihan solusi permasalahan penyaluran air pada Wilayah Babakan Irigasi yang memiliki masalah terbatasnya Kuota Air Bersih untuk memenuhi kebutuhan penggunaan air sehari-hari. Pemanfaatan Mikrokontroler Arduino Atmega328 pada Arduino UNO yang dirancang dengan menambahkan beberapa komponen pendukung seperti Sensor Flowmeter, Selenoid Valve dan Pompa Air dibuat menjadi sistem kran air otomatis. Sistem ini bekerja dengan dikontrol oleh timer da...

  16. Macro algae as substrate for biogas production

    DEFF Research Database (Denmark)

    Møller, Henrik; Sarker, Shiplu; Gautam, Dhan Prasad

    Algae as a substrate for biogas is superior to other crops since it has a much higher yield of biomass per unit area and since algae grows in the seawater there will be no competition with food production on agricultural lands. So far, the progress in treating different groups of algae as a source...... of energy is promising. In this study 5 different algae types were tested for biogas potential and two algae were subsequent used for co-digestion with manure. Green seaweed, Ulva lactuca and brown seaweed Laminaria digitata was co-digested with cattle manure at mesophilic and thermophilic condition...

  17. Perbedaan Daya Hambat Bakteri dari Propolis Cair yang Ada di Pasaran Terhadap Escherichia Coli dan Staphylococcus Aureus Secara In Vitro

    OpenAIRE

    Bangun Azhari Yusuf; Aziz Djamal; Asterina ,

    2015-01-01

    Abstrak Propolis adalah zat yang digunakan lebah melindungi sarangnya dari berbagai ancaman. Komponen utama propolis adalah resin yang dikumpulkan lebah dan dicampur dengan air liurnya. Manusia juga menggunakan propolis sebagai obat berbagai penyakit, seperti infeksi bakteri. Propolis memiliki kemampuan antibakteri terhadap Escherichiacoli dan Staphylococcus aureus. Kualitas dan jenis propolis sesuai dengan komposisi kimia, iklim dan tempat berkembang biak. Tujuan penelitian ini adalah meliha...

  18. [Value of specific 16S rDNA fragment of algae in diagnosis of drowning: an experiment with rabbits].

    Science.gov (United States)

    Li, Peng; Xu, Qu-Yi; Chen, Ling; Liu, Chao; Zhao, Jian; Wang, Yu-Zhong; Yu, Zheng-Liang; Hu, Sun-Lin; Wang, Hui-Jun

    2015-08-01

    To establish a method for amplifying specific 16S rDNA fragment of algae related with drowning and test its value in drowning diagnosis. Thirty-five rabbits were randomly divided into 3 the drowning group (n=15), postmortem water immersion group (n=15, subjected to air embolism before seawater immersion), and control group(n=5, with air embolism only). Twenty samples of the liver tissues from human corpses found in water were also used, including 14 diatom-positive and 6 diatom-negative samples identified by microwave digestion-vacuum filtration-automated scanning electron microscopy (MD-VF-Auto SEM). Seven known species of algae served as the control algae (Melosira sp, Nitzschia sp, Synedra sp, Navicula sp, Microcystis sp, Cyclotella meneghiniana, and Chlorella sp). The total DNA was extracted from the tissues and algae to amplify the specific fragment of algae followed by 8% polyacrylamide gelelectrophoresis and sliver-staining. In the drowning group, algae was detected in the lungs (100%), liver (86%), and kidney (86%); algae was detected in the lungs in 2 rabbits in the postmortem group (13%) and none in the control group. The positivity rates of algae were significantly higher in the drowning group than in the postmortem group (Palgae, including sample that had been identified as diatom-negative by MD-VF-Auto SEM. All the 7 control algae samples yielded positive results in PCR. The PCR-based method has a high sensitivity in algae detection for drowning diagnosis and allows simultaneous detection of multiple algae species related with drowning.

  19. PENGARUH APLIKASI MEDAN ELEKTROMAGNET TERHADAP SIFAT FISIS AIR SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP KECEPATAN PERTUMBUHAN TANAMAN

    OpenAIRE

    Fitri Purworini,; Avin Ainur Fitrianingsih

    2015-01-01

    Ketersediaan air bersih yang berkualitas bagi manusia semakin terbatas. Tujuan dari penelitian ini mengaplikasi medan elektromagnet untuk memperbaiki kualitas air tersebut. Pada penelitian ini beberapa pipa telah dibuat yakni pipa toroida, pipa rodin dan pipa cadeceus yang kemudian dialiri air PDAM dan dihubungkan dengan medan elektromagnet. Air hasil olahan pipa-pipa tersebut kemudian diuji sifat fisis air yang meliputi uji pH, uji suhu, dan uji konduktifitas listrik air. Air ini diamati p...

  20. Synthetic polyester from algae oil.

    Science.gov (United States)

    Roesle, Philipp; Stempfle, Florian; Hess, Sandra K; Zimmerer, Julia; Río Bártulos, Carolina; Lepetit, Bernard; Eckert, Angelika; Kroth, Peter G; Mecking, Stefan

    2014-06-23

    Current efforts to technically use microalgae focus on the generation of fuels with a molecular structure identical to crude oil based products. Here we suggest a different approach for the utilization of algae by translating the unique molecular structures of algae oil fatty acids into higher value chemical intermediates and materials. A crude extract from a microalga, the diatom Phaeodactylum tricornutum, was obtained as a multicomponent mixture containing amongst others unsaturated fatty acid (16:1, 18:1, and 20:5) phosphocholine triglycerides. Exposure of this crude algae oil to CO and methanol with the known catalyst precursor [{1,2-(tBu2 PCH2)2C6H4}Pd(OTf)](OTf) resulted in isomerization/methoxycarbonylation of the unsaturated fatty acids into a mixture of linear 1,17- and 1,19-diesters in high purity (>99 %). Polycondensation with a mixture of the corresponding diols yielded a novel mixed polyester-17/19.17/19 with an advantageously high melting and crystallization temperature. © 2014 WILEY-VCH Verlag GmbH & Co. KGaA, Weinheim.

  1. Growing swimming algae for bioenergy

    Science.gov (United States)

    Croze, Ottavio

    Biofuel production from photosynthetic microalgae is not commercially viable due to high processing costs. New engineering and biological solutions are being sought to reduce these costs by increasing processing efficiency (productivity per energy input). Important physics, however, is ignored. For example, the fluid dynamics of algal suspensions in photobioreactors (ponds or tube arrays) is non-trivial, particularly if the algae swim. Cell reorientation by passive viscous and gravitational torques (gyrotaxis) or active reorientation by light (phototaxis) cause swimming algae in suspension to structure in flows, even turbulent ones. This impacts the distribution and dispersion of swimmers, with significant consequences for photobioreactor operation and design. In this talk, I will describe a theory that predicts swimmer dispersion in laminar pipe flows. I will then then present experimental tests of the theory, as well as new results on the circadian suspension dynamics of the algaChlamydomonas reinhardtii in lab-scale photobioreactors. Finally, I will briefly consider the implications of our work, and related active matter research, for improving algal bioprocessing efficiency. Winton Programme for the Physics of Sustainability.

  2. Parasites in algae mass culture

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Todd William Lane

    2014-06-01

    Full Text Available Parasites are now known to be ubiquitous across biological systems and can play an important role in modulating algal populations. However, there is a lack of extensive information on their role in artificial ecosystems such as algal production ponds and photobioreactors. Parasites have been implicated in the demise of algal blooms. Because individual mass culture systems often tend to be unialgal and a select few algal species are in wide scale application, there is an increased potential for parasites to have a devastating effect on commercial scale monoculture. As commercial algal production continues to expand with a widening variety of applications, including biofuel, food and pharmaceuticals, the parasites associated with algae will become of greater interest and potential economic impact. A number of important algal parasites have been identified in algal mass culture systems in the last few years and this number is sure to grow as the number of commercial algae ventures increases. Here, we review the research that has identified and characterized parasites infecting mass cultivated algae, the techniques being proposed and or developed to control them, and the potential impact of parasites on the future of the algal biomass industry.

  3. Bioethanol Production from Indigenous Algae

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Madhuka Roy

    2015-02-01

    Full Text Available Enhanced rate of fossil fuel extraction is likely to deplete limited natural resources over short period of time. So search for alternative fuel is only the way to overcome this problem of upcoming energy crisis. In this aspect biofuel is a sustainable option. Agricultural lands cannot be compromised for biofuel production due to the requirement of food for the increasing population. Certain species of algae can produce ethanol during anaerobic fermentation and thus serve as a direct source for bioethanol production. The high content of complex carbohydrates entrapped in the cell wall of the microalgae makes it essential to incorporate a pre-treatment stage to release and convert these complex carbohydrates into simple sugars prior to the fermentation process. There have been researches on production of bioethanol from a particular species of algae, but this work was an attempt to produce bioethanol from easily available indigenous algae. Acid hydrolysis was carried out as pre-treatment. Gas Chromatographic analysis showed that 5 days’ fermentation by baker’s yeast had yielded 93% pure bioethanol. The fuel characterization of the bioethanol with respect to gasoline showed comparable and quite satisfactory results for its use as an alternative fuel.DOI: http://dx.doi.org/10.3126/ije.v4i1.12182International Journal of Environment Volume-4, Issue-1, Dec-Feb 2014/15, page: 112-120  

  4. Diapers Bagi Kesehatan Bayi dan Lingkungan

    OpenAIRE

    Noriko, Nita

    2013-01-01

    Bayi yang berusia 0 sampai hingga 1 tahun termasuk golongan rentan, karena memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna. Kekebalan tubuh yang dimiliki bayi adalah kekebalan pasif . Terpaparnya bayi terhadap antigen dapat terjadi melalui udara, air, makanan maupun perlengkapan yang digunakan seperti alas perlindungan (diapers) terhadap enupresis dan enkopresis. Diapers dikenal di Indonesia sejak tahun 1980 karena penggunaannya yang praktis dan mudah Penggunaan diapers menimbulkan ...

  5. Advanced emission control system: CO2 sequestration using algae integrated management system (AIMS)

    International Nuclear Information System (INIS)

    Syed Isa Syed Alwi; Mohd Norsham Che Yahya; Ruzanna Abdul Rahman

    2010-01-01

    One of the companies under Algae tech, Sasaran Bio fuel Sdn. Bhd. provides project management, technology transfer and technical expertise to develop a solution to minimize and mitigate Carbon Dioxide (CO 2 ) emissions through the diversion of the CO 2 to open algal ponds and enclosed photo-bioreactors as algal propagation technologies to consume CO 2 waste stream. The company is presently consulting a listed company from Indonesia to address the technology know-how and implementation of microalgae development from the flue gas of the Groups power plants. Nowadays, one of the aspects that contribute to the air pollution is the emission of flue gases from the factories. So, we provide a system that can reduce the emission of flue gas to the atmosphere and at the same time, cultivate certain strain of algae. With the technology, Algae Integrated Management System (AIMS), it will be for sure a new beginning for way to reduce air pollution. The utilization of power plant resources for growing selected microalgae at a low energy cost for valuable products and bio-fuels while providing CO 2 sequestering. In the same time, it also a low cost algae agriculture. By doing so, it provides all year algae production which can be an income. This residual energy used CO 2 produced from power stations and industrial plants to feed the process (CO 2 recycling and bio-fixation) in cultivation of algae. This will be a low cost flue gas (CO 2 ) to the developer. In a nutshell, CO 2 Sequestration by algae reactors is a potential to reduce greenhouse gas emission by using the CO 2 in the stack gases to produce algae. (author)

  6. Bacterial quorum sensing and the role of algae in bacterial diseases control in aquaculture

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    . Wiyoto

    2010-07-01

    Full Text Available Bacterial disease is one of the most common diseases in aquaculture practices which have a significant impact. Several researches noted that pathogenicity of a certain bacteria can be determined by its quorum sensing activity. Quorum sensing is a communication process of a certain bacteria with the same or different species of bacteria which involves the releasing and capturing of signal molecule to and from the environment. This activity will activate a certain target gene which further resulted in the expression of a phenotype by the bacteria. With regard to this characteristic, one of the methods to control bacterial diseases is by quorum sensing disruption. Several species of algae, both micro and macro, have been found to be able to intervense bacterial quorum sensing and thus can be used as an alternative in bacterial disease control.    Key words: quorum sensing, bacterial disease, aquaculture, algae  Abstrak Penyakit bakteri adalah salah satu penyakit yang paling umum dalam akuakultur dengan dampak yang cukup signifikan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat patogenitas suatu bakteri salah satunya ditentukan oleh aktivitas kuorum sensing bakteri. Kuorum sensing bakteri merupakan suatu proses komunikasi yang dilakukan oleh bakteri dengan bakteri lainnya baik yang sejenis maupun berlainan jenis yang berupa pelepasan dan penangkapan molekul sinyal menuju dan dari lingkungan sekitar bakteri tersebut. Aktivitas inilah yang akan menentukan ekspresi suatu gen target seperti patogenitas, sehingga salah satu metode yang dapat digunakan dalam mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh bakteri adalah dengan mengganggu aktivitas kuorum sensing bakteri. Beberapa jenis alga, baik mikro maupun makro, diketahui dapat mengintervensi aktivitas kuorum sensing, dan dapat menjadi salah satu alternatif bagi pengendalian penyakit bakterial. Kata-kata kunci: kuorum sensing, penyakit bakterial, akuakultur, alga

  7. Bacterial Enhancement of Vinyl Fouling by Algae

    OpenAIRE

    Holmes, Paul E.

    1986-01-01

    The role of bacteria in the development of algae on low-density vinyl was investigated. Unidentified bacterial contaminants in unialgal stock cultures of Phormidium faveolarum and Pleurochloris pyrenoidosa enhanced, by 1 to 2 orders of magnitude, colonization of vinyl by these algae, as determined by epifluorescence microscopy counts and chlorophyll a in extracts of colonized vinyl. Colonization by bacteria always preceded that by algae. Scanning electron microscopy of the colonized Phormidiu...

  8. Antioxidant Activity of Hawaiian Marine Algae

    OpenAIRE

    Kelman, Dovi; Posner, Ellen Kromkowski; McDermid, Karla J.; Tabandera, Nicole K.; Wright, Patrick R.; Wright, Anthony D.

    2012-01-01

    Marine algae are known to contain a wide variety of bioactive compounds, many of which have commercial applications in pharmaceutical, medical, cosmetic, nutraceutical, food and agricultural industries. Natural antioxidants, found in many algae, are important bioactive compounds that play an important role against various diseases and ageing processes through protection of cells from oxidative damage. In this respect, relatively little is known about the bioactivity of Hawaiian algae that cou...

  9. Stochastic Forecasting of Algae Blooms in Lakes

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Wang, Peng; Tartakovsky, Daniel M.; Tartakovsky, Alexandre M.

    2013-01-15

    We consider the development of harmful algae blooms (HABs) in a lake with uncertain nutrients inflow. Two general frameworks, Fokker-Planck equation and the PDF methods, are developed to quantify the resultant concentration uncertainty of various algae groups, via deriving a deterministic equation of their joint probability density function (PDF). A computational example is examined to study the evolution of cyanobacteria (the blue-green algae) and the impacts of initial concentration and inflow-outflow ratio.

  10. Pengaruh E-Service Quality dan E-Recovery Service Quality terhadap E-Satisifaction Serta Implikasinya pada E-Loyalty Pelanggan Maskapai Penerbangan Air Asia

    OpenAIRE

    Komara, Anton Tirta

    2013-01-01

    The research objective is to be achieved (1) To determine the relationship E-service quality, E-recovery service quality customer Airlines Air Asia and (2) To determine the effect of E-service quality, E-recovery service quality of the customer E-Satisfaction Customer Airlines Air Asia and its impact on customer E-Loyalty. The study population is customer Air Aviation Services Asia which are members of the backpacker communitys and the study sample was taken as many as 349 people. This sample...

  11. Perkecambahan dan Pematahan Dormansi Benih Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Benedicta Lamria Siregar

    2014-06-01

    Full Text Available Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC. adalah tanaman rempah liar yang dijumpai di Sumatera Utara. Benihandaliman sulit berkecambah. Penelitian ini bertujuan mempelajari perkecambahan benih andaliman dan pematahandormansi benih andaliman. Rancangan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak dengan 4 ulangan. Perlakuan terdiri atas enam perlakuan, yaitu: 1 benih tanpa perlakuan pematahan dormansi sebagai kontrol; 2 benihdirendam  dengan  air  hangat  60 C  dan  dibiarkan  hingga  dingin  selama 24 jam; 3 benih direndam dengan air hangat60 ooC dan dibiarkan hingga dingin selama 24 jam dan air diganti; 4 benih direndam KNO3 0.6 g L selama 24 jam; 5  benihdirendam KNO3 0.6 g L-1 selama 24 jam dan larutan diganti; 6 benih direndam KNO3 1 g L-1-1 selama 24 jam dan larutandiganti. Perkecambahan benih andaliman relatif lama dan bervariasi, berkisar 21-99 hari setelah pengecambahan (HSP. Laju perkecambahan  benih andaliman tertinggi terjadi pada 40-90 HSP, dan menurun setelah itu. Perlakuan pematahandormansi tidak  meningkatkan persentase perkecambahan dan tidak mempercepat perkecambahan benih andaliman.Perlakuan benih disiram dengan air hangat 60 C dan  dibiarkan hingga dingin selama 24 jam, dan air diganti menghasilkanpersen perkecambahan 36.25%  pada 63.31 HSP sehingga potensial meningkatkan daya berkecambah  benih andaliman.Kata kunci: KNO3o, perlakuan benih, perkecambahan, rempah

  12. L'air piégé dans les glaces polaires: Contraintes chronologiques et caractérisation de la variabilité climatique rapide

    OpenAIRE

    Capron, Emilie

    2010-01-01

    Polar regions are particularly sensitive to the present climate change because of amplification mechanisms at play. Ice cores from Antarctica and Greenland provide precious archives of paleoclimatic variations at these high latitudes but also provide information on environmental changes at lower latitudes. This work takes advantage of information inferred from the air trapped in ice: the elemental and isotopic composition of air (N2, O2, Ar and Kr) and the methane concentration. Our results p...

  13. Evolution comparée de la production et de la compétitivité du tournesol dans différentes aires de production*

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Pouzet André

    2001-03-01

    Full Text Available En réponse à un accroissement important de la demande en huiles végétales, les productions correspondantes se sont considérablement développées au cours des trente dernières années avec des augmentations des surfaces plantées en palmiers en Asie du Sud-Est. Les productions de graines oléagineuses ont également contribué à cet accroissement de l’offre en huiles végétales, comme le montre la figure 1. Au cours des vingt dernières années, la production de tournesol a été multipliée par 1,8 environ, tout comme celle du soja, alors que la production de colza était multipliée par 4. À la différence des plantations pérennes, les cultures de graines oléagineuses trouvent leur place dans des rotations de cultures annuelles (voire même avec plusieurs cultures successives au cours de la même année et sont gérées par des agriculteurs ayant une capacité annuelle d’ajustement de la répartition des différentes cultures sur leur exploitation. L’évolution dans le temps de la production d’une culture comme le tournesol dépend donc de la consolidation d’un très grand nombre de décisions individuelles prenant en compte les marchés (plus ou moins ouverts selon les différentes régions de production, les potentialités agronomiques locales et la compétitivité relative des différentes productions possibles sur chaque ferme, qu’il s’agisse du tournesol, d’autres cultures oléagineuses ou bien encore de céréales. Au niveau régional, l’évolution de l’assolement traduit l’évolution de la compétitivité relative des différentes cultures. Au niveau de chaque agriculteur, c’est principalement l’espérance de rentabilité attendue qui peut rendre compte des décisions individuelles. Indépendamment de l’attractivité du marché, qui n’entre pas dans notre propos aujourd’hui, c’est finalement l’espérance de la productivité qui devient le critère déterminant d’appréciation de la comp

  14. Aires protégées, gestion participative des ressources environnementales et développement touristique durable et viable dans les régions ultra-périphériques

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Jean-Marie Breton

    2009-09-01

    Full Text Available Le tourisme est souvent présenté comme l’un des instruments d’un développement durable, même s’il connaît une expansion difficilement maîtrisable, au détriment du patrimoine environnemental, insulaire et littoral en particulier, comme dans les DOM-TOM.Le tourisme a des impacts, culturels et sociaux notamment, sur l’environnement. Les ressources du patrimoine alimentent de leur côté la demande et l’offre touristiques. Un tourisme assis sur une gestion ad hoc des ressources du patrimoine constitue un facteur puissant de durabilité du développement local. La soumission de l’activité touristique aux exigences de protection, de conservation et de gestion reproductible de la biodiversité et du patrimoine naturel, dans les aires protégées de la Caraïbe française en particulier, génère des approches, des stratégies et des comportements nouveaux. La démarche écotouristique appelle une gestion participative et intégrée des ressources et des espaces, et constitue un défi pour les opérateurs du tourisme comme pour les acteurs de l’environnement, et une opportunité de "réappropriation" de leur milieu de vie par les populations locales. Il faut alors en clarifier le concept et les implications ; puis en analyser les objectifs et les enjeux dans une perspective de développement durable.Tourism often appears as one a tool for a sustainable development, even if it is not easy to control, in the détriment of island and costal environment heritage, as in French overseas regions. Besides the cultural and social impacts of tourism upon environment, the heritage resources nuture the touristic request and offer. If based on an appropriate management of those resources, it may be a strong incentive for local sustainable development. The respect of protection, conservation and sustainable management of biodiversity and natural resources by tourism, especially in the overseas regions of French West Indies, produces new

  15. PENENTUAN CAMPURAN LUMPUR LAPINDO SEBAGAI SUBSTITUSI PASIR DAN SEMEN DALAM PEMBUATAN PAVING BLOCK RAMAH LINGKUNGAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ganjar Samudro

    2016-03-01

    Full Text Available Lumpur Lapindo (LL atau Lumpur Sidoarjo (Lusi merupakan lumpur panas, yang pemanfaatannya sangat terbatas dan menimbulkan dampak sosial dan lingkungan yang cukup besar. Karakteristik Lumpur Lapindo mengandung silikat (SiO2 dan kapur (CaO yang cukup tinggi dan bersifat pozoland. Selain kandungan kimia yang menguntungkan, Lumpur Lapindo juga bersifat B3 dengan kandungan logam berat Pb 35,41 ppm dan Cu 21,9 ppm yang melebihi baku mutu Kepmenkes no.907/2002, PP no.82/2001 dan PP no.18/1999. Teknik olidifikasi menjadi paving block dapat digunakan untuk mengubah watak fisik dan kimia limbah B3 dengan cara penambahan senyawa pengikat sehingga pergerakan senyawa-senyawa B3 dapat dihambat dan membentuk ikatan massa monolit dengan struktur yang kekar. Penambahan Lumpur Lapindo sebagai substitusi semen dan pasir ditentukan sebesar 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%, dengan pengujian terhadap kuat tekan, daya serap air dan perlindian. Penelitian ini didapatkan variasi Lumpur Lapindo sebagai substitusi pasir dan semen optimum asingmasing sebesar 30% dengan kuat tekan 408 kg/cm2 , daya serap air 10,17% dan uji perlindian dihasilkan dibawah 0,03 ppm Pb dan Cu, serta biaya pembuatan 1 buah paving block berkurang dari Rp 1.302,86 per buah menjadi Rp 1.059,40 per buah. Lumpur Lapindo sebagai substitusi semen lebih baik penggunaannya dalam pembuatan paving block ramah ingkungan.

  16. Pressurized thermal and hydrothermal decomposition of algae, wood chip residue, and grape marc: A comparative study

    International Nuclear Information System (INIS)

    Subagyono, Dirgarini J.N.; Marshall, Marc; Jackson, W. Roy; Chaffee, Alan L.

    2015-01-01

    Pressurized thermal decomposition of two marine algae, Pinus radiata chip residue and grape marc using high temperature, high pressure reactions has been studied. The yields and composition of the products obtained from liquefactions under CO of a mixture of biomass and H 2 O (with or without catalyst) were compared with products from liquefaction of dry biomass under N 2 , at different temperatures, gas pressures and for CO runs, water to biomass ratios. Thermochemical reactions of algae produced significantly higher dichloromethane solubles and generally higher product yields to oil and asphaltene than Pinus radiata and grape marc under the reaction conditions used. Furthermore, the biofuels derived from algae contained significant concentrations of aliphatic hydrocarbons as opposed to those from radiata pine and grape marc which were richer in aromatic compounds. The possibility of air transport fuel production from algae thus appears to have considerable advantages over that from radiata pine and grape marc. - Highlights: • Liquefaction of algae gave more oil than that of Pinus radiata and grape marc. • Reactions under CO/H 2 O produced higher yields of oil than N 2 . • Water to biomass ratio had little effect on the yields. • Bio-oil from algae contained substantial amounts of aliphatic hydrocarbons. • Pinus radiata oil was low in N but high in O

  17. KOMPARASI ANALISIS TOTAL COLIFORM DENGAN MENGGUNAKAN METODE MPN 5 TABUNG DAN ENZIM SUBSTRAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Novarina Irnaning Handayani

    2016-11-01

    Full Text Available Dalam pemantauan kualitas lingkungan untuk air minum, air bersih, air limbah, dan air sungai, mensyaratkan aspek mikrobiologi parameter coliform dan atau coli tinja sebagai indikator pencemaran lingkungan. Pada saat ini metode yang paling banyak digunakan adalah Number (MPN 5 tabung yang memiliki waktu pengerjaan minimal 4 hari. Penelitian ini dilakukan untuk menjajaki kemungkinan pemakaian metode lain yang telah terstandarisasi dan memiliki beberapa keunggulan. Metode yang dipilih adalah enzim substrat. Uji laboratorium dilakukan dengan membandingkan hasil analisis antara MPN 5 tabung dan enzim substrat, masing-masing dengan ulangan 7 kali. Hasil komparasi menunjukkan bahwa analisa dengan menggunakan metode enzim substrat memberikan hasil yang lebih besar atau lebih sensitif dibanding MPN 5 tabung. Pada sampel yang mengandung bakteri coli yang tinggi, dalam hal ini pada sampel air limbah dan air sungai perbedaan hasil antara MPN 5 tabung dan enzim substrat sangat signifikan, sedangkan pada sampel dengan kandungan coli kecil atau tidak ada, hasil keduanya sama.  Metode enzim substrat sangat direkomendasikan untuk sampel air minum dan air bersih sehingga akan memberikan hasil yang lebih meyakinkan bagi penggunanya. Kandungan coliform pada sampel air minum dan air bersih walaupun sangat kecil akan benar-benar terdeteksi oleh metode yang memiliki sensitifitas lebih baik.

  18. Distribusi patogen dan kualitas lingkungan pada budidaya perikanan laut di Provinsi Kepulauan Riau

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Romi Novriadi

    2014-04-01

    Full Text Available Peningkatan laju produksi perikanan budidaya secara umum berperan penting dalam peningkatan masalah lingkungan dan patogen di beberapa unit produksi budidaya. Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian penyakit saat ini menjadi prioritas untuk menjamin keberlanjutan industri ini. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan monitoring dan menilai distribusi patogen pada beberapa sentra produksi perikanan laut di Provinsi Kepulauan Riau. Monitoing dilakukan mulai Februari 2011 sampai Desember 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nodavirus dan Iridovirus merupakan agen penyebab penyakit virus yang umum ditemukan di budidaya ikan laut. Sementara Vibrio spp., Aeromonas spp. dan Edwardsiella spp. merupakan mikroorganisme patogen yang umum ditemukan di sentra budidaya ikan laut dan ikan air tawar. Hasil kajian monitoring juga menunjukkan bahwa Diplectanum sp., Gyrodactilus sp., Caligus sp., Trichodina sp., Rhexanella sp., Hirudinae sp., Benedenia sp. dan Cylodonela sp. merupakan parasit yang memiliki distribusi tinggi di berbagai sentra produksi ikan air laut dan tawar di Kepulauan Riau.

  19. Pengaruh E-Service Quality Dan E-Recovery Service Quality Terhadap E-Satisifaction Serta Implikasinya Pada E-Loyalty Pelanggan Maskapai Penerbangan Air Asia

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anton Tirta Komara

    2013-10-01

    Full Text Available The research objective is to be achieved (1 To determine the relationship E-service quality, E-recovery service quality customer Airlines Air Asia and (2 To determine the effect of E-service quality, E-recovery service quality of the customer E-Satisfaction Customer Airlines Air Asia and its impact on customer E-Loyalty. The study population is customer Air Aviation Services Asia which are members of the backpacker community's and the study sample was taken as many as 349 people. This sample was taken by random sampling. Data processing technique using path analysis. The results showed that in fact the electronic-based services after the transaction should be further improved. Therefore it is proven that the electronic-based services in theory and research results proved able to satisfy customers who eventually become loyal customers, however there are still some elements of the service that should be improved by the company.

  20. Cultivation of macroscopic marine algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Ryther, J.H.

    1982-11-01

    The red alga Gracilaria tikvahiae may be grown outdoors year-round in central Florida with yields averaging 35.5 g dry wt/m/sup 2/.day, greater than the most productive terrestrial plants. This occurs only when the plants are in a suspended culture, with vigorous aeration and an exchange of 25 or more culture volumes of enriched seawater per day, which is not cost-effective. A culture system was designed in which Gracilaria, stocked at a density of 2 kg wet wt/m/sup 2/, grows to double its biomass in one to two weeks; it is then harvested to its starting density, and anaerobically digested to methane. The biomass is soaked for 6 hours in the digester residue, storing enough nutrients for two weeks' growth in unenriched seawater. The methane is combusted for energy and the waste gas is fed to the culture to provide mixing and CO/sub 2/, eliminating the need for aeration and seawater exchange. The green alga Ulva lactuca, unlike Gracilaria, uses bicarbonate as a photosynthesis carbon source, and can grow at high pH, with little or no free CO/sub 2/. It can therefore produce higher yields than Gracilaria in low water exchange conditions. It is also more efficiently converted to methane than is Gracilaria, but cannot tolerate Florida's summer temperatures so cannot be grown year-round. Attempts are being made to locate or produce a high-temperature tolerant strain.

  1. Modeling and optimization of algae growth

    NARCIS (Netherlands)

    Thornton, Anthony Richard; Weinhart, Thomas; Bokhove, Onno; Zhang, Bowen; van der Sar, Dick M.; Kumar, Kundan; Pisarenco, Maxim; Rudnaya, Maria; Savceno, Valeriu; Rademacher, Jens; Zijlstra, Julia; Szabelska, Alicja; Zyprych, Joanna; van der Schans, Martin; Timperio, Vincent; Veerman, Frits; Frank, J.; van der Mei, R.; den Boer, A.; Bosman, J.; Bouman, N.; van Dam, S.; Verhoef, C.

    2010-01-01

    The wastewater from greenhouses has a high amount of mineral contamination and an environmentally-friendly method of removal is to use algae to clean this runo water. The algae consume the minerals as part of their growth process. In addition to cleaning the water, the created algal bio-mass has a

  2. SSMILes: Measuring the Nutrient Tolerance of Algae.

    Science.gov (United States)

    Hedgepeth, David J.

    1995-01-01

    Presents an activity integrating mathematics and science intended to introduce students to the use of metric measurement of mass as a way to increase the meaningfulness of observations about variables in life sciences. Involves measuring the nutrient tolerance of algae. Contains a reproducible algae nutrient graph. (Author/MKR)

  3. Modeling and optimization of algae growth

    NARCIS (Netherlands)

    Thornton, Anthony Richard; Weinhart, Thomas; Bokhove, Onno; Zhang, Bowen; van der Sar, Dick M.; Kumar, Kundan; Pisarenco, Maxim; Rudnaya, Maria; Savcenco, Valeriu; Rademacher, Jens; Zijlstra, Julia; Szabelska, Alicja; Zyprych, Joanna; van der Schans, Martin; Timperio, Vincent; Veerman, Frits

    2010-01-01

    The wastewater from greenhouses has a high amount of mineral contamination and an environmentally-friendly method of removal is to use algae to clean this runoff water. The algae consume the minerals as part of their growth process. In addition to cleaning the water, the created algal bio-mass has a

  4. Algae commensal community in Genlisea traps

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Konrad Wołowski

    2011-01-01

    Full Text Available The community of algae occurring in Genlisea traps and on the external traps surface in laboratory conditions were studied. A total of 29 taxa were found inside the traps, with abundant diatoms, green algae (Chlamydophyceae and four morphotypes of chrysophytes stomatocysts. One morphotype is described as new for science. There are two ways of algae getting into Genlisea traps. The majority of those recorded inside the traps, are mobile; swimming freely by flagella or moving exuding mucilage like diatoms being ablate to colonize the traps themselves. Another possibility is transport of algae by invertebrates such as mites and crustaceans. In any case algae in the Genlisea traps come from the surrounding environment. Two dominant groups of algae (Chladymonas div. and diatoms in the trap environment, show ability to hydrolyze phosphomonoseters. We suggest that algae in carnivorous plant traps can compete with plant (host for organic phosphate (phosphomonoseters. From the spectrum and ecological requirements of algal species found in the traps, environment inside the traps seems to be acidic. However, further studies are needed to test the relations between algae and carnivorous plants both in laboratory conditions and in the natural environment. All the reported taxa are described briefly and documented with 74 LM and SEM micrographs.

  5. KELIMPAHAN DAN KOMPOSISI FITOPLANKTON DI WADUK SELOREJO KECAMATAN NGANTANG KABUPATEN MALANG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Asus Maizar Suryanto

    2011-10-01

    Full Text Available Penelitian dilakukan di waduk Selorejo pada bulan April-Mei 2008. Tujuannya adalah untuk mengetahui kelimpahan dan komposisi fitoplankton di waduk Selorejo. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan pengambilan data primer dan sekunder. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali setiap minggu pada 4 stasiun. Kelimpahan fitoplankton berkisar antara 120 – 930 ind/ml. Data kualitas air diperoleh suhu perairan yaitu berkisar antara 24 – 260C, kecerahan 32 – 55 cm, warna air warna hijau dan coklat keruh, pH 8 – 9, nitrat 0,33 – 1,04 mg/l, dan fosfat 0,9 – 0,55 mg/l. Sebagai usaha untuk menjaga kondisi perairan waduk Selorejo disarankan perlunya penanganan dan upaya manajemen bagi masyarakat sekitar tentang pemanfaatan dan pelestarian perairan sungai dan juga waduk Selorejo bagi kehidupan manusia. Kata Kunci : Fitoplankton, Waduk Selorejo, Kualitas Air 

  6. Algae façade as green building method: application of algae as a method to meet the green building regulation

    Science.gov (United States)

    Poerbo, Heru W.; Martokusumo, Widjaja; Donny Koerniawan, M.; Aulia Ardiani, Nissa; Krisanti, Susan

    2017-12-01

    The Local Government of Bandung city has stipulated a Green Building regulation through the Peraturan Walikota Number 1023/2016. Signed by the mayor in October 2016, Bandung became the first city in Indonesia that put green building as mandatory requirement in the building permit (IMB) process. Green Building regulation is intended to have more efficient consumption of energy and water, improved indoor air quality, management of liquid and solid waste etc. This objective is attained through various design method in building envelope, ventilation and air conditioning system, lighting, indoor transportation system, and electrical system. To minimize energy consumption of buildings that have large openings, sun shading device is often utilized together with low-E glass panes. For buildings in hot humid tropical climate, this method reduces indoor air temperature and thus requires less energy for air conditioning. Indoor air quality is often done by monitoring the carbon dioxide levels. Application of algae as part of building system façade has recently been introduced as replacement of large glass surface in the building façade. Algae are not yet included in the green building regulation because it is relatively new. The research will investigate, with the help of the modelling process and extensive literature, how effective is the implementation of algae in building façade to reduce energy consumption and improve its indoor air quality. This paper is written based on the design of ITB Innovation Park as an ongoing architectural design-based research how the algae-integrated building façade affects the energy consumption.

  7. KANDUNGAN GIZI, RENDEMEN TEPUNG, DAN KADAR FENOL TOTAL ALPUKAT (Persea americana, Mill VARIETAS I JO PANJANG DAN I JO BUNDAR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wuri Marsigit

    2016-04-01

    Full Text Available The aims of the study were to determine pulp proportion, dried pulp rendement, nutrient dan  total phenolic content avocado variety of Ijo Panjang dan Ijo Bundar. Variety of Ijo Panjang and Ijo Bundar were selected because both of varieties were categorized as excelent varities and recomendedto develop in Indonesia. Water, carbohydrate, protein, fat dan ash content were determined by using proxymate analysis (AOAC, vitamin A dan E using spectrophotometry method, vitamin C using titration method, dan minerals using AAS method. Total phenolic content were determined by using Follin-Cialcetau method. The result of the studies found that pulp portion Ijo Bundar Variety higher than Ijo Panjang. Water content dan zinc of Ijo Panjang variety higher than Ijo Bundar. Dried pulp rendement of Ijo Bundar higher than Ijo Panjang. Protein, fat,  ash, minerals (Fe, Na, K dan P avocado variety of Ijo Bundar higher than Ijo Panjang. Magnesium dan mangan content of both varieties have not significant different. Total phenolic content of pulp dan dried pulp were higher in Ijo Bundar than Ijo Bundar. Keywords: Pulp proportion, dried pulp rendement, nutrients dan total phenolics content   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi daging buah, rendemen tepung, kandungan gizi dan fenol total alpukat varietas Ijo Panjang dan Ijo Bundar. Pemilihan kedua varietas tersebut karena merupakan varietas unggul dan direkomendasikan untuk dikembangkan di Indonesia. Kandungan, air, karbohidat, protein, lemak dan abu dilakukan dengan analisis proksimat (AOAC, kandungan vitamin A dan E dengan metode spektrofotometri dan vitamin C dengan metode titrasi, analisis mineral dengan metode AAS. Total fenol dianalisis dengan metode Folin-Ciocalteu. Hasil penelitian menunjukan bahwa proporsi daging buah, kadar air, seng varietas Ijo Panjang lebih tinggi dibandingkan Ijo Bundar. Rendemen tepung alpukat lebih tinggi pada varietas Ijo Bundar. Kandungan protein, lemak, abu

  8. Advances in genetic engineering of marine algae.

    Science.gov (United States)

    Qin, Song; Lin, Hanzhi; Jiang, Peng

    2012-01-01

    Algae are a component of bait sources for animal aquaculture, and they produce abundant valuable compounds for the chemical industry and human health. With today's fast growing demand for algae biofuels and the profitable market for cosmetics and pharmaceuticals made from algal natural products, the genetic engineering of marine algae has been attracting increasing attention as a crucial systemic technology to address the challenge of the biomass feedstock supply for sustainable industrial applications and to modify the metabolic pathway for the more efficient production of high-value products. Nevertheless, to date, only a few marine algae species can be genetically manipulated. In this article, an updated account of the research progress in marine algal genomics is presented along with methods for transformation. In addition, vector construction and gene selection strategies are reviewed. Meanwhile, a review on the progress of bioreactor technologies for marine algae culture is also revisited. Copyright © 2012 Elsevier Inc. All rights reserved.

  9. Cars will be fed on algae

    International Nuclear Information System (INIS)

    Peltier, G.

    2012-01-01

    The development of the first and second generations of bio-fuels has led to a rise in food prices and the carbon balance sheet is less good than expected. Great hopes have been put on unicellular algae for they can synthesize oils, sugar and even hydrogen and the competition with food production is far less harsh than with actual bio-fuels. Moreover, when you grow micro-algae, the loss of water through evaporation is less important than in the case of intensive farm cultures. In 2009 10.000 tonnes of micro-algae were produced worldwide, they were mainly used for the production of fish food and of complements for humane food (fat acids and antioxidants). Different research programs concern unicellular algae: they aim at modifying micro-algae genetically in order to give them a higher productivity or to make them produce an oil more adapted for motor fuel or more easily recoverable. (A.C.)

  10. Potential biomedical applications of marine algae.

    Science.gov (United States)

    Wang, Hui-Min David; Li, Xiao-Chun; Lee, Duu-Jong; Chang, Jo-Shu

    2017-11-01

    Functional components extracted from algal biomass are widely used as dietary and health supplements with a variety of applications in food science and technology. In contrast, the applications of algae in dermal-related products have received much less attention, despite that algae also possess high potential for the uses in anti-infection, anti-aging, skin-whitening, and skin tumor treatments. This review, therefore, focuses on integrating studies on algae pertinent to human skin care, health and therapy. The active compounds in algae related to human skin treatments are mentioned and the possible mechanisms involved are described. The main purpose of this review is to identify serviceable algae functions in skin treatments to facilitate practical applications in this high-potential area. Copyright © 2017 Elsevier Ltd. All rights reserved.

  11. Ekstraksi Dan Karakterisasi Pektin Dari Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi,l)

    OpenAIRE

    Roikah, Sri; Rengga, Wara Dyah Pita; Latifah, Latifah; Kusumastuti, Ella

    2016-01-01

    Telah dilakukan ekstraksi pektin dari belimbing wuluhdengan variasi suhu ekstraksi 60 dan 100°C, serta variasi waktu ekstraksi 30, 60, 90 dan 120 menit.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu dan waktu ekstraksi terbaik. Proses ekstraksi dengan metode refluks menggunakan air destilatyang telah ditambahkan dengan asam klorida. Proses selanjutnya adalah pengendapkan,pencucian dan pengeringan. Pektin yang dihasilkan dianalisis kemudian pektin terbaik dipilih menggunakan perhitungan met...

  12. EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI PEKTIN DARI BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi,L)

    OpenAIRE

    Sri Roikah; Wara Dyah Pita Rengga; Latifah Latifah; Ella Kusumastuti

    2016-01-01

    Telah dilakukan ekstraksi pektin dari belimbing wuluhdengan variasi suhu ekstraksi 60 dan 100°C, serta variasi waktu ekstraksi 30, 60, 90 dan 120 menit.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu dan waktu ekstraksi terbaik. Proses ekstraksi dengan metode refluks menggunakan air destilatyang telah ditambahkan dengan asam klorida. Proses selanjutnya adalah pengendapkan,pencucian dan pengeringan. Pektin yang dihasilkan dianalisis kemudian pektin terbaik dipilih menggunakan perhitungan m...

  13. Characterization of the particulate air pollution in contrasted mega cities; Caracterisation physico-chimique de la pollution particulaire dans les megapoles contrastees

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Favez, O

    2008-02-15

    This work aims at characterizing the physics and the chemistry that govern particulate air pollution in two mega cities (Paris and Cairo) for which the size distribution and the chemical composition of airborne particles were poorly documented. Seasonal variations of the main aerosol sources and transformation processes are investigated in these two urban centres, with a particular attention to semi-volatile material and secondary organic aerosols. Short-term health effects of Paris size-segregated aerosols, as well as particulate pollution during the Cairo 'Black Cloud' season, are also emphasized here. Finally, the comparison of results obtained for the two mega cities and for another one (Beijing) allows investigating main factors responsible for particulate air pollution in urban centres with contrasted climatic conditions and development levels. Notably, this work also allows the build-up of an experimental dataset which is now available for the modelling of urban air quality and of environmental impacts of mega city air pollution. (author)

  14. Air pollution emission reduction techniques in combustion plants; Technique de reduction des emissions de polluants atmospheriques dans les installations de combustion

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Bouscaren, R. [CITEPA, Centre Interprofessionnel Technique d`Etudes de la Pollution Atmospherique, 75 - Paris (France)

    1996-12-31

    Separating techniques offer a large choice between various procedures for air pollution reduction in combustion plants: mechanical, electrical, filtering, hydraulic, chemical, physical, catalytic, thermal and biological processes. Many environment-friendly equipment use such separating techniques, particularly for dust cleaning and fume desulfurizing and more recently for the abatement of volatile organic pollutants or dioxins and furans. These processes are briefly described

  15. Streptophyte algae and the origin of embryophytes.

    Science.gov (United States)

    Becker, Burkhard; Marin, Birger

    2009-05-01

    Land plants (embryophytes) evolved from streptophyte green algae, a small group of freshwater algae ranging from scaly, unicellular flagellates (Mesostigma) to complex, filamentous thalli with branching, cell differentiation and apical growth (Charales). Streptophyte algae and embryophytes form the division Streptophyta, whereas the remaining green algae are classified as Chlorophyta. The Charales (stoneworts) are often considered to be sister to land plants, suggesting progressive evolution towards cellular complexity within streptophyte green algae. Many cellular (e.g. phragmoplast, plasmodesmata, hexameric cellulose synthase, structure of flagellated cells, oogamous sexual reproduction with zygote retention) and physiological characters (e.g. type of photorespiration, phytochrome system) originated within streptophyte algae. Phylogenetic studies have demonstrated that Mesostigma (flagellate) and Chlorokybus (sarcinoid) form the earliest divergence within streptophytes, as sister to all other Streptophyta including embryophytes. The question whether Charales, Coleochaetales or Zygnematales are the sister to embryophytes is still (or, again) hotly debated. Projects to study genome evolution within streptophytes including protein families and polyadenylation signals have been initiated. In agreement with morphological and physiological features, many molecular traits believed to be specific for embryophytes have been shown to predate the Chlorophyta/Streptophyta split, or to have originated within streptophyte algae. Molecular phylogenies and the fossil record allow a detailed reconstruction of the early evolutionary events that led to the origin of true land plants, and shaped the current diversity and ecology of streptophyte green algae and their embryophyte descendants. The Streptophyta/Chlorophyta divergence correlates with a remarkably conservative preference for freshwater/marine habitats, and the early freshwater adaptation of streptophyte algae was a major

  16. Situation actuelle de la schistosomiase dans l'aire de santé de Santchou, (District de santé de Santchou, Région de l'Ouest-Cameroun)

    Science.gov (United States)

    Tchouanguem, Huguette Nguedie; Fouelifack, Florent Ymele; Keugoung, Basile; Fouelifa, Loic Dongmo; Moyou, Roger Somo

    2016-01-01

    Introduction La schistosomiase, deuxième endémie parasitaire mondiale, est une parasitose due aux trématodes du genre Schistosoma. Nos objectifs étaient d’évaluer les prévalences des différentes espèces de schistosomes (Schistosoma mansoni, haematobium, et intercalatum) chez les écoliers, et d'identifier les facteurs de risques, les signes cliniques de la schistosomiase, et les mollusques hôtes intermédiaires des schistosomiases dans les eaux stagnantes. Méthodes L’étude était transversale et s'est déroulée sur 3 mois. Elle consistait en l'enregistrement des données sociodémographiques et cliniques, le prélèvement des échantillons de selles et d'urines, la recherche des mollusques et le traitement des écoliers positifs à d'autres helminthes. Les examens de laboratoire se sont déroulés à l'Institut de recherches Médicales et d’études des Plantes Médicinales à Yaoundé où on examinait les échantillons de selles et d'urine par les méthodes de KATO KATZ et de centrifugation respectivement, et un malacologiste déterminait l'espèce des mollusques. Résultats Au total, 400 élèves âgés entre 8-16 ans, soit 223 (55.7%) filles et 177 (44.3%) garçons répartis dans 4 écoles primaires ont participé à l’étude. L'enquête sociale a révélé que 154 écoliers sur 400 (soit 38.5%) étaient en contact avec les eaux de rivière au moins une fois par semaine, dont 58% aux environs de midi. Tous les élèves avaient au moins un signe de schistosomiase bien que non spécifique prédominé par des douleurs abdominales à 72% (n= 288 sur 400). Sur le plan biologique aucun œuf de schistosomiase n'a été mis en évidence. Le taux d’émission de cercaire était négatif chez les 100 espèces aquatiques retrouvées. Conclusion L'aire de santé de Santchou n'est pas un foyer actif de schistosomiase, mais reste une zone à risque du fait de la riziculture et de la présence des eaux stagnantes. L'intensification des campagnes d

  17. Dampak Pencemaran Air terhadap Kesehatan Lingkungan dalam Perspektif Hukum Lingkungan (Studi Kasus Sungai Code di Kelurahan Wirogunan Kecamatan Mergangsan dan Kelurahan Prawirodirjan Kecamatan Gondomanan Yogyakarta

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dinarjati Eka Puspitasari

    2012-02-01

    Full Text Available This research is aimed to know the contribution government and societies in Yogyakarta for maintaining the water pollution on Code River. Code River is a river in Yogyakarta which has crowded area on its river flow region. The research location is in Code’s river flow region, especially in Kelurahan Prawirodirjan Kecamatan Gondomanan dan Kelurahan Wirogunan Kecamatan Mergangsan Yogyakarta.Data in this research were obtained through field research and library research. The field research was carried out by using interview guidance and sample waste data testing from Balai Besar Teknik Lingkungan (BBTKL Yogyakarta, whereas the library research was done by documentary study by collecting and analyzing selected laws and regulation which were relevant to the research.The result showed that the environmental data to maintain environment health and social condition in the field research has not been served. Beside that, the result of laboratory testing BBTKL showed that water condition on field research has contained pollutant. However, the government and societies just give less contribution to decrease the effect of water pollution on Code River. In this case, the contribution of laws and regulation has been needed to decrease the water pollution.

  18. Alat Bantu Survey Bawah Air Menggunakan Amoba, Robot Berbasis ROV

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Made Santo Gitakarma

    2015-01-01

    Full Text Available Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah 1 menghasilkan rancangan prototipe robot alat monitor dan observasi bawah air (AMOBA berbasis ROV (remotely operated vehicle yang mampu bergerak di dalam air; 2 melakukan uji coba prototipe robot AMOBA di bawah air dan mengkaji hasilnya; 3 memperoleh kinerja prototipe robot AMOBA sebagai alat yang memiliki kemampuan survey (monitoring and observation bawah air. ROV merupakan robot bawah air yang dikendalikan oleh operator dalam pengoperasiannya, dan didukung oleh perangkat kendali dalam pengoperasiannya. Pada penelitian ini dikembangkan prototipe ROV yang mampu bernavigasi di bawah air dengan kendali berbasis mikrokontroller dari permukaan air menggunakan kabel 15m dan beberapa aktuator dengan propellernya dari pompa air. Pompa air yang digunakan sebanyak 8 buah (2 buah pompa untuk belok kiri, 2 buah pompa untuk belok kanan, 2 buah pompa untuk maju ke depan, dan 2 buah pompa untuk naik ke atas. Robot AMOBA yang dikembangkan dilengkapi dengan IPCamera yang dapat dikendalikan untuk menampilkan visual bawah air dan dapat diputar sepanjang 1200 (kiri, kanan, atas, dan bawah. Metode yang akan digunakan untuk mencapai tujuan diatas adalah metode penelitian dan pengembangan (research and development atau R&D menurut Borg dan Gall. Analisis dalam penelitian ini menggunakan konsep SMART (specific, measurable, achievable, realistic, time-based. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kecepatan robot 21,5 cm/detik dengan bobot 23kg. Kecepatan robot tergolong lambat dan saat pergerakan di awal pelan kemudian perlahan-lahan cepat akibat perlunya daya yang kuat untuk mendorong robot di awal. Semakin dalam robot di air maka tekanan air semakin besar dan berakibat terhentinya pompa air bekerja. Pompa air yang digunakan hanya dapat bekerja maksimal hingga kedalaman 3 m. Sehingga diperlukan aktuator dengan propeller yang lebih kuat apabila ingin dikembangkan untuk menjangkau kedalaman air lebih dari 3 m.

  19. Guidebook of natural gas air conditioning in the buildings of territorial organizations; Guide de la climatisation gaz naturel dans les batiments des collectives territotiales

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    2003-06-01

    In the framework of the 'common energy' approach, a partnership between Gaz de France (GdF) and the territorial associations (association of French territorial engineers (AITF) and association of French territorial graduate technicians (ATTF)), the publication since 15 years of this book of good practices makes a status of the implementation of natural gas air-conditioning in the buildings of the territorial organizations. Its aim is to supply information about the absorption principle, the existing products, the design of a natural gas air-conditioning system, its implementation, exploitation and maintenance. It presents also some experience feedbacks (town halls, swimming pools..) and three reference files in appendix. (J.S.)

  20. Algae biodiesel - a feasibility report

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Gao Yihe

    2012-04-01

    Full Text Available Abstract Background Algae biofuels have been studied numerous times including the Aquatic Species program in 1978 in the U.S., smaller laboratory research projects and private programs. Results Using Molina Grima 2003 and Department of Energy figures, captial costs and operating costs of the closed systems and open systems were estimated. Cost per gallon of conservative estimates yielded $1,292.05 and $114.94 for closed and open ponds respectively. Contingency scenarios were generated in which cost per gallon of closed system biofuels would reach $17.54 under the generous conditions of 60% yield, 50% reduction in the capital costs and 50% hexane recovery. Price per gallon of open system produced fuel could reach $1.94 under generous assumptions of 30% yield and $0.2/kg CO2. Conclusions Current subsidies could allow biodiesel to be produced economically under the generous conditions specified by the model.

  1. Algae biodiesel - a feasibility report

    Science.gov (United States)

    2012-01-01

    Background Algae biofuels have been studied numerous times including the Aquatic Species program in 1978 in the U.S., smaller laboratory research projects and private programs. Results Using Molina Grima 2003 and Department of Energy figures, captial costs and operating costs of the closed systems and open systems were estimated. Cost per gallon of conservative estimates yielded $1,292.05 and $114.94 for closed and open ponds respectively. Contingency scenarios were generated in which cost per gallon of closed system biofuels would reach $17.54 under the generous conditions of 60% yield, 50% reduction in the capital costs and 50% hexane recovery. Price per gallon of open system produced fuel could reach $1.94 under generous assumptions of 30% yield and $0.2/kg CO2. Conclusions Current subsidies could allow biodiesel to be produced economically under the generous conditions specified by the model. PMID:22540986

  2. Modélisation de la décharge négative dans les longs intervalles d'air - Application à la foudre

    OpenAIRE

    Rakotonandrasana , Jean ,

    2008-01-01

    This work deals with the modelling of the negative discharge in long air gaps subjected to constant or bi-exponential (lightning or switching) voltages. A dynamic and autonomous model enabling to predict the whole macroscopic parameters of negative discharge taking into account the different phases of propagation (first corona inception, pilot system, electrode and spatial leaders, junction and re-illuminations, final jump) up the return stroke is presented. This model is based on equivalent ...

  3. Considering a point-source in a regional air pollution model; Prise en compte d`une source ponctuelle dans un modele regional de pollution atmospherique

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Lipphardt, M.

    1997-06-19

    This thesis deals with the development and validation of a point-source plume model, with the aim to refine the representation of intensive point-source emissions in regional-scale air quality models. The plume is modelled at four levels of increasing complexity, from a modified Gaussian plume model to the Freiberg and Lusis ring model. Plume elevation is determined by Netterville`s plume rise model, using turbulence and atmospheric stability parameters. A model for the effect of a fine-scale turbulence on the mean concentrations in the plume is developed and integrated in the ring model. A comparison between results with and without considering micro-mixing shows the importance of this effect in a chemically reactive plume. The plume model is integrated into the Eulerian transport/chemistry model AIRQUAL, using an interface between Airqual and the sub-model, and interactions between the two scales are described. A simulation of an air pollution episode over Paris is carried out, showing that the utilization of such a sub-scale model improves the accuracy of the air quality model

  4. Improved algal harvesting using suspended air flotation.

    Science.gov (United States)

    Wiley, Patrick E; Brenneman, Kristine J; Jacobson, Arne E

    2009-07-01

    Current methods to remove algae from a liquid medium are energy intensive and expensive. This study characterized algae contained within a wastewater oxidation pond and sought to identify a more efficient harvesting technique. Analysis of oxidation pond wastewater revealed that algae, consisting primarily of Chlorella and Scenedesmus, composed approximately 80% of the solids inventory during the study period. Results demonstrated that suspended air flotation (SAF) could harvest algae with a lower air:solids (A/S) ratio, lower energy requirements, and higher loading rates compared to dissolved air flotation (DAF) (P plants by enabling cost effective means to reduce solids content of the final effluent. Furthermore, use of SAF to harvest commercially grown Chlorella and Scenedesmus may reduce manufacturing costs of algal-based products such as fuel, fertilizer, and fish food.

  5. Method and apparatus for processing algae

    Science.gov (United States)

    Chew, Geoffrey; Reich, Alton J.; Dykes, Jr., H. Waite; Di Salvo, Roberto

    2012-07-03

    Methods and apparatus for processing algae are described in which a hydrophilic ionic liquid is used to lyse algae cells. The lysate separates into at least two layers including a lipid-containing hydrophobic layer and an ionic liquid-containing hydrophilic layer. A salt or salt solution may be used to remove water from the ionic liquid-containing layer before the ionic liquid is reused. The used salt may also be dried and/or concentrated and reused. The method can operate at relatively low lysis, processing, and recycling temperatures, which minimizes the environmental impact of algae processing while providing reusable biofuels and other useful products.

  6. Errors When Extracting Oil from Algae

    Science.gov (United States)

    Murphy, E.; Treat, R.; Ichiuji, T.

    2014-12-01

    Oil is in popular demand, but the worldwide amount of oil is decreasing and prices for it are steadily increasing. Leading scientists have been working to find a solution of attaining oil in an economically and environmentally friendly way. Researchers at the U.S. Department of Energy's Pacific Northwest National Laboratory (PNNL) have determined that "a small mixture of algae and water can be turned into crude oil in less than an hour" (Sheehan, Duhahay, Benemann, Poessler). There are various ways of growing the algae, such as closed loop and open loop methods, as well as processes of extracting oil, such as hydrothermal liquefaction and the hexane-solvent method. Our objective was to grow the algae (C. reinhardtii) and extract oil from it using NaOH and HCl, because we had easy access to those specific chemicals. After two trials of attempted algae growth, we discovered that a bacteria was killing off the algae. This led us to further contemplation on how this dead algae and bacteria are affecting our environment, and the organisms within it. Eutrophication occurs when excess nutrients stimulate rapid growth of algae in an aquatic environment. This can clog waterways and create algal blooms in blue-green algae, as well as neurotoxic red tide phytoplankton. These microscopic algae die upon consumption of the nutrients in water and are degraded by bacteria. The bacteria respires and creates an acidic environment with the spontaneous conversion of carbon dioxide to carbonic acid in water. This process of degradation is exactly what occurred in our 250 mL flask. When the phytoplankton attacked our algae, it created a hypoxic environment, which eliminated any remaining amounts of oxygen, carbon dioxide, and nutrients in the water, resulting in a miniature dead zone. These dead zones can occur almost anywhere where there are algae and bacteria, such as the ocean, and make it extremely difficult for any organism to survive. This experiment helped us realize the

  7. 21 CFR 73.275 - Dried algae meal.

    Science.gov (United States)

    2010-04-01

    ... 21 Food and Drugs 1 2010-04-01 2010-04-01 false Dried algae meal. 73.275 Section 73.275 Food and... ADDITIVES EXEMPT FROM CERTIFICATION Foods § 73.275 Dried algae meal. (a) Identity. The color additive dried algae meal is a dried mixture of algae cells (genus Spongiococcum, separated from its culture broth...

  8. 21 CFR 73.185 - Haematococcus algae meal.

    Science.gov (United States)

    2010-04-01

    ... 21 Food and Drugs 1 2010-04-01 2010-04-01 false Haematococcus algae meal. 73.185 Section 73.185... COLOR ADDITIVES EXEMPT FROM CERTIFICATION Foods § 73.185 Haematococcus algae meal. (a) Identity. (1) The color additive haematococcus algae meal consists of the comminuted and dried cells of the alga...

  9. Nos voisines, les bêtes : situation des conflits avec la faune sauvage dans une aire protégée de la périphérie de Manaus (Amazonas, Brésil

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Guillaume Marchand

    2012-05-01

    Full Text Available Au cours des trente dernières années, les différentes expérimentations menées en matière de protection de la faune sauvage au Brésil ont conduit à l’élaboration d’aires protégées habitées, jugées plus acceptables et justes sur le plan social. Or, depuis la création de ces espaces, de nombreuses voix ont remis en cause le bien-fondé de ce genre de réserve, considérant que la cohabitation avec la faune sauvage pouvait potentiellement avoir des effets négatifs dans les domaines environnementaux et sociaux. Cet article s’intéresse à l’état des conflits entre humains et faune sauvage dans une communauté appartenant à la réserve de développement durable de Tupé, à la périphérie de Manaus. Il observe notamment la façon dont les conflits sont perçus et résolus afin de montrer la diversité des représentations quant aux espèces problématiques ainsi que les enjeux sociaux et environnementaux qui reposent sur leur protection.  During the last thirty years, few different experiments on protection of wild fauna in Brazil have led to the development of inhabited protected areas, seen as socially more acceptable and fairer. However, since their creation, the validity of this kind of protected areas has been questioned, considering that the coexistence between men and wild fauna may have negative effects for environment as well as local communities. This paper focuses on human/wildlife conflicts in a rural community in the sustainable development reserve of Tupé, located in the periphery of Manaus city. It mainly observes how conflicts are perceived and resolved and it shows how diverse are the representations regarding problematic species, as well as environmental and social issues related to their protection.

  10. Les monoterpènes : sources et implications dans la qualité de l'air intérieur

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Marlet, C.

    2011-01-01

    Full Text Available Monoterpenes: sources and implications in the indoor air quality. Terpenes are recurrent in indoor environments. Their sources, biogenic or anthropological origin, are very varied: plants, wooden building materials, household products and furnishings, paints, air fresheners, perfumed candles. However, in spite of their natural character, these compounds can have significant effects on occupant's health. Indeed, some monoterpenes are recognized as irritating or allergenic. Furthermore, they react with the other molecules to form potentially more harmful secondary products such as formaldehyde. Numerous studies demonstrated that reactions between monoterpenes and ozone produced airborne particulate matter as well as secondary pollutants among which formaldehyde, acetaldehyde and acetone. However, few studies were realized in the indoor to demonstrate the terpenes and secondary pollutants evolution. The most frequently used technique for the monoterpenes analysis is the TD-GC-MS. The sampling mode depends on the sample introduction system, either the sampling on sorbent tube, or the sampling in a tank. The attraction for the wooden constructions and ecological materials leads to higher indoor monoterpenes concentrations. Has this occurrence to arouse our interest? The present article has the objective to review the knowledge relative to terpenes, and more exactly on the monoterpenes sources in indoor and their implication in its quality.

  11. Algae: putting carbon dioxide in a bind

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Ewers, J.; Wiechers, G. [RWE Power (Germany)

    2009-03-15

    German utility RWE Power has initiated a cutting edge project that is investigating the use of marine microalgae to capture carbon dioxide produced during lignite combustion. At its Niederaussem power plant, a pilot plant has been erected for the production of microalgae. Flue gas is withdrawn from the lignite-based power plant and transported through polyethylene pipes to the microalgae production plant. The CO{sub 2} in the flue gas is dissolved in the algae suspension and adsorbed by the algae for growth in photobioreactors, developed by Noragreen Projektmanagement GmbH. The photobioreactors which consist of clear plastic hoses, fixed in V shape to supports. The study is aiming to optimise the entire algae production process and subsequent conversion and use of the algae biomass produced. Uses being investigated include hydrothermal carbonization to obtain hydrocarbon products. 1 figs., 1 photo.

  12. The Biology of blue-green algae

    National Research Council Canada - National Science Library

    Carr, Nicholas G; Whitton, B. A

    1973-01-01

    .... Their important environmental roles, their part in nitrogen fixation and the biochemistry of phototrophic metabolism are some of the attractions of blue-geen algae to an increasing number of biologists...

  13. Collection, Isolation and Culture of Marine Algae.

    Science.gov (United States)

    James, Daniel E.

    1984-01-01

    Methods of collecting, isolating, and culturing microscopic and macroscopic marine algae are described. Three different culture media list of chemicals needed and procedures for preparing Erdschreiber's and Provasoli's E. S. media. (BC)

  14. 2011 Biomass Program Platform Peer Review: Algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Yang, Joyce [Office of Energy Efficiency and Renewable Energy (EERE), Washington, DC (United States)

    2012-02-01

    This document summarizes the recommendations and evaluations provided by an independent external panel of experts at the 2011 U.S. Department of Energy Biomass Program’s Algae Platform Review meeting.

  15. Dipeptides from the red alga Acanthopora spicifera

    Digital Repository Service at National Institute of Oceanography (India)

    Wahidullah, S; De; Kamat, S

    An investigation of red alga Acanthophora spicifera afforded the known peptide, aurantiamide acetate and a new diastereoisomer of this dipeptide (dia-aurantiamide acetate). This is a first report of aurantiamide acetate from a marine source...

  16. ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI NITRIFIKASI DAN DENITRIFIKASI SEBAGAI KANDIDAT PROBIOTIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yosmaniar Yosmaniar

    2018-01-01

    Full Text Available Senyawa nitrogen yang tinggi pada limbah budidaya perikanan intensif dapat memperburuk kualitas air, sehingga perlu diatasi dengan penambahan probiotik untuk proses bioremediasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi yang berpotensi sebagai kandidat probiotik pengendali senyawa nitrogen pada budidaya ikan air tawar. Tahap penelitian terdiri atas: 1 koleksi sampel air dan sedimen dari kolam budidaya ikan patin di kawasan minapolitan Desa Pudak Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi dan Desa Koto Mesjid Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar Provinsi Riau; 2 pengujian sampel secara in vitro yang meliputi: a Isolasi dan seleksi bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi; b Karakterisasi morfologis bakteri terpilih; c Karakterisasi fisiologi/biokimia isolat bakteri terpilih; d Karakterisasi genetika isolat bakteri terpilih dengan sekuensing 16S-rRNA. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh empat isolat bakteri nitrifikasi dan empat isolate bakteri denitrifikasi. Isolat bakteri nitrifikasi Pandoraea pnomenusa strain 1318 (NP1; Pseudomonas aeruginosa strain PSE12 (NP2; Pseudomonas aeruginosa strain PSE12 (NP3; Burkholderia vietnamiensis strain NE 7 (NP4; dan denitrifikasi Achromobacter xylosoxidans strain TPL14 (DP1; Stenotrophomonas acidaminiphila strain BTY (DP2; Stenotrophomonas maltophilia strain BHWSL2 (DP3; Ochrobactrum intermedium strain: SQ 20 (DP4 Achromobacter xylosoxidans strain TPL14 (DP1; Stenotrophomonas acidaminiphila strain BTY (DP2; Stenotrophomonas maltophilia strain BHWSL2 (DP3; Ochrobactrum intermedium strain: SQ 20 (DP4; yang berpotensi digunakan sebagai kandidat probiotik pengendali senyawa nitrogen pada budidaya ikan air tawar. Wastes from an intensive aquaculture contain nitrogen compounds which, if untreated, could rapidly reduce water quality condition within the system. The addition of probiotics as bioremediation to

  17. Stochastic Forecasting of Algae Blooms in Lakes

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Wang, Peng; Tartakovsky, Daniel M.; Tartakovsky, Alexandre M.

    2013-01-03

    We consider a general framework to predict the development of harmful algal blooms (HABs) in a lake driven by uncertain parameters. To quantify the concentration uncertainty of those algae groups via their joint probabilistic density function (PDF), we explore an approach based on the Fokker-Planck equation. Our result is presented in an example where abundant nutrients contribute to the proliferation of cyanobacteria and other minor algae groups.

  18. Ekstraksi dan Uji Stabilitas Zat Warna Alami dari Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L dan Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yusraini Dian Inayati Siregar

    2017-03-01

    Full Text Available Ekstraksi dan Uji Stabilitas Zat Warna Alami dari Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L dan Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L telah dilakukan. Penelitian bertujuan untuk mengekstraksi bunga kembang sepatu dan bunga rosella dengan mencari temperatur dan konsentrasi yang optimum untuk mendapatkan pigmen dari bunga kembang sepatu dan bunga rosella dengan pelarut air dan etanol, selain itu dilakukan juga uji stabilitas zat warna. Analisa kadar zat warna dilakukan dengan metode spektrofotometri. Hasil ekstrasi optimum menggunakan metode maserasi dengan pelarut air  adalah pada temperatur 90°C dan dengan pelarut etanol pada konsentrasi 96 %.Uji stabilitas warna memberikan hasil sebagai berikut: a Kondisi penyimpanan, sinar matahari dan sinar lampu dapat mempengaruhi stabilitas zat warna ekstrak Hibiscus rosa-sinensis L dan Hibiscus sabdariffa L dengan meningkatnya nilai absorbansi pada kedua ekstrak. b Penambahan oksidator, H2O2 dapat mempengaruhi stabilitas zat warna ekstrak Hibiscus rosa-sinensis L dan Hibiscus sabdariffa L dengan perubahan dari ekstrak berwarna menjadi ekstrak tidak berwarna karena menghasilkan turunan asam benzoat. c Nilai pH yang semakin meningkat, dari pH 4 ke pH 5, mempengaruhi stabilitas zat warna ekstrak Hibiscus rosa-sinensis L dan Hibiscus sabdariffa L dengan perubahan ekstrak berwarna menjadi tidak berwarna karena terbentuknya basa kuinodal.   Kata Kunci: Ekstraksi, Hibiscus rosa-sinensis L, Hibiscus sabdariffa L, Spektrofotometri UV-Vis

  19. Biogas production experimental research using algae.

    Science.gov (United States)

    Baltrėnas, Pranas; Misevičius, Antonas

    2015-01-01

    The current study is on the the use of macro-algae as feedstock for biogas production. Three types of macro-algae, Cladophora glomerata (CG), Chara fragilis (CF), and Spirogyra neglecta (SN), were chosen for this research. The experimental studies on biogas production were carried out with these algae in a batch bioreactor. In the bioreactor was maintained 35 ± 1°C temperature. The results showed that the most appropriate macro-algae for biogas production are Spirogyra neglecta (SN) and Cladophora glomerata (CG). The average amount of biogas obtained from the processing of SN - 0.23 m(3)/m(3)d, CG - 0.20 m(3)/m(3)d, and CF - 0.12 m(3)/m(3)d. Considering the concentration of methane obtained during the processing of SN and CG, which after eight days and until the end of the experiment exceeded 60%, it can be claimed that biogas produced using these algae is valuable. When processing CF, the concentration of methane reached the level of 50% only by the final day of the experiment, which indicates that this alga is less suitable for biogas production.

  20. Antioxidant Activity of Hawaiian Marine Algae

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anthony D. Wright

    2012-02-01

    Full Text Available Marine algae are known to contain a wide variety of bioactive compounds, many of which have commercial applications in pharmaceutical, medical, cosmetic, nutraceutical, food and agricultural industries. Natural antioxidants, found in many algae, are important bioactive compounds that play an important role against various diseases and ageing processes through protection of cells from oxidative damage. In this respect, relatively little is known about the bioactivity of Hawaiian algae that could be a potential natural source of such antioxidants. The total antioxidant activity of organic extracts of 37 algal samples, comprising of 30 species of Hawaiian algae from 27 different genera was determined. The activity was determined by employing the FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power assays. Of the algae tested, the extract of Turbinaria ornata was found to be the most active. Bioassay-guided fractionation of this extract led to the isolation of a variety of different carotenoids as the active principles. The major bioactive antioxidant compound was identified as the carotenoid fucoxanthin. These results show, for the first time, that numerous Hawaiian algae exhibit significant antioxidant activity, a property that could lead to their application in one of many useful healthcare or related products as well as in chemoprevention of a variety of diseases including cancer.

  1. Antioxidant activity of Hawaiian marine algae.

    Science.gov (United States)

    Kelman, Dovi; Posner, Ellen Kromkowski; McDermid, Karla J; Tabandera, Nicole K; Wright, Patrick R; Wright, Anthony D

    2012-02-01

    Marine algae are known to contain a wide variety of bioactive compounds, many of which have commercial applications in pharmaceutical, medical, cosmetic, nutraceutical, food and agricultural industries. Natural antioxidants, found in many algae, are important bioactive compounds that play an important role against various diseases and ageing processes through protection of cells from oxidative damage. In this respect, relatively little is known about the bioactivity of Hawaiian algae that could be a potential natural source of such antioxidants. The total antioxidant activity of organic extracts of 37 algal samples, comprising of 30 species of Hawaiian algae from 27 different genera was determined. The activity was determined by employing the FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) assays. Of the algae tested, the extract of Turbinaria ornata was found to be the most active. Bioassay-guided fractionation of this extract led to the isolation of a variety of different carotenoids as the active principles. The major bioactive antioxidant compound was identified as the carotenoid fucoxanthin. These results show, for the first time, that numerous Hawaiian algae exhibit significant antioxidant activity, a property that could lead to their application in one of many useful healthcare or related products as well as in chemoprevention of a variety of diseases including cancer.

  2. Fluorescence Properties of Chlorella sp. Algae

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tibor Teplicky

    2017-01-01

    Full Text Available Water quality and its fast and reliable monitoring is the challenge of the future. Design of appropriate biosensors that would be capable of non-invasive identification of water pollution is an important prerequisite for such challenge. Chlorophylls are pigments, naturally presented in all plants that absorb light. The main forms of chlorophyll in algae are chlorophyll a and chlorophyll b, other pigments include xantophylls and beta-carotenes. Our aim was to characterize endogenous fluorescence of the Chlorella sp. algae, present naturally in drinking water. We recorded spatial, spectral and lifetime fluorescence distribution in the native algae. We noted that the fluorescence was evenly distributed in the algae cytosol, but lacked in the nucleus and reached maximum at 680-690 nm. Fluorescence decay of chlorella sp. was double-exponential, and clearly shorter than that of its isolated pigments. For the first time, fluorescence lifetime image of the algae is presented. Study of the fluorescence properties of algae is aimed at the improvement of water supply contamination detection and cleaning.

  3. Perencanaan SPAL dan IPAL Komunal di Kabupaten Ngawi (Studi Kasus Perumahan Karangtengah Prandon, Perumahan Karangasri dan Kelurahan Karangtengah

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Azimah Ulya

    2014-09-01

    Full Text Available Kabupaten Ngawi mempunyai rencana untuk meningkatkan kondisi sanitasi di daerahnya. Salah satu caranya dengan membangun IPAL komunal di tiga titik. Hal tersebut dikarenakan selama ini masih belum mempunyai IPAL komunal untuk limbah domestiknya. Tiga titik yang dimaksud adalah perumahan Karangtengah Prandon, perumahan Karangsari dan kelurahan Karangtengah. Lokasi itu dipilih karena termasuk kawasan yang ODF (Open Defecation Free. Sistem penyaluran air limbah untuk 3 lokasi perumahan ini menggunakan sistem shallow sewer yaitu air limbah domestik dari alat saniter (jamban, wastafel, floor drain, kitchen sink dll langsung dihubungkan menggunakan pipa air limbah dan sistem penyaluran air limbah pada perencanaan ini menggunakan sistem gravitasi. Dimensi pipa yang digunakan adalah 100 mm untuk air limbah dari pipa service dan 150 mm untuk saluran pipa induk menuju ke IPAL. IPAL komunal yang digunakan adalah ABR (Anaerobic Baffled Reactor dengan 6 kompartemen tiap ABR.

  4. POMPA AIR BERTENAGA HIBRID UNTUK IRIGASI TANAMAN BUAH NAGA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Danar Susilo Wijayanto

    2016-12-01

    Full Text Available Pemanfaatan angin dan radiasi matahari sebagai sumber energi bisa mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan bahan bakar fosil, mengurangi biaya operasional dalam jangka panjang, dan mendukung konservasi sumber daya alam. Pengabdian ini menerapkan penggunaan sumber energi terbarukan untuk pompa air yang digunakan sebagai sumber irigasi tanaman buah dan sayuran pada pertanian organik di Balai Percontohan Pertanian (BPP Ngasinan, Kelurahan Beji, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri. Teknologi hibrid menggabungkan turbin tenaga angin dan sel surya untuk memberikan pasokan listrik kepada pompa yang mengangkat air dengan Total Dynamic Head (TDH 12 meter. Sistem hibrid turbin angin dan solar sel mampu menghidupkan pompa air, sehingga pompa bisa mengalirkan air dari sumur ke tandon air. Sistem irigasi tetes dari tandon ke tanaman buah naga menyebabkan tanaman selalu lembab, sehingga mengurangi resiko kekeringan dan penyakit tanaman.

  5. STUDI PENDAHULUAN OZONASI (KATALITIK DAN NON KATALITIK LIMBAH CAIR KARBOFURAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Enjarlis Enjarlis

    2012-02-01

    Full Text Available Karbofuran adalah insektisida yang banyak digunakan oleh petani padi di Indonesia. Di perairan karbofuran berpotensi membentuk organoklorida dengan klor atau turunan klor. Oleh sebab itu,   karbofuran  digunakan sebagai objek  penelitian untuk disisihkan dalam air dengan proses ozonasi. Proses ozonasi  mampu menguraikan organik kompleks menjadi sederhana dan  meningkatkan sifat biodegradable. Tujuan penelitian yaitu membandingkan  penyisihan karbofuran  dalam air dengan proses ozonasi non-katalitik dan katalitik menggunakan katalis karbon aktif. Ragam percobaan yaitu pH (2, 7, dan 9 pada  suhu kamar  selama  60 menit.  Analisis konsentrasi karbofuran  menggunakan kromatografi gas dan konsentrasi zat organik  sebagai Chemical Oxigen Deman (COD secara titrasi pada satiap10 menit selama 60 menit. Hasil percobaan memperlihatkan proses ozonasi katalitik dan non-katalitik terbaik  pada kondisi basa (pH 9  dengan penyisihan karbofuran 100 % dan COD turun dari 134 ppm menjadi 38 ppm untuk ozonasi katalitik, sedangkan pada ozonasi non-katalitik penyisihan  karbofuran  46,4 % dan  COD turun menjadi  70 ppm. Perubahan suhu dan pH selama proses baik ozonasi katalitik maupun non-katalitik  tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

  6. Pengolahan Limbah Laundry Menggunakan Membran Nanofiltrasi Aliran Cross Flow untuk Menurunkan Kekeruhan dan Fosfat

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Aufiyah Aufiyah

    2013-09-01

    Full Text Available Dilakukan penelitian mengenai pembuatan membran silika nanofiltrasi untuk mengurangi kekeruhan dan fosfat menggunakan reaktor dengan aliran cross flow dengan variasi massa silika 5, 8, dan 10 gram. Silika didapatkan dari sintesis pasir silika menggunakan metode alkali fussion menggunakan peleburan dengan KOH. Variasi limbah yang digunakan adalah 100% limbah, 50% pengenceran dan 75% pengenceran (25% air limbah dengan air PDAM. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh massa silika terhadap koefisien rejeksi dan nilai fluks pada setiap variasi membran. Data koefisien rejeksi dan nilai fluks menunjukkan variasi membran terbaik yang selanjutnya akan dianalisa morfologinya dengan metode SEM (Scanning Electron Microscopy dan analisa gugus fungsi dengan metode FTIR (Fourier Transform Infra Red. Didapatkan koefisien rejeksi terbaik adalah 5 gram 100% limbah dengan nilai rejeksi kekeruhan 91,33%. Rejeksi fosfat 56, 07%. Nilai fluks terbaik didapatkan membran 8 gram 25% air limbah dengan nilai fluks 2,81 L/m2.jam.

  7. Exposition by inhalation to the benzene, toluene, ethyl-benzene and xylenes (BTEX) in the air. Sources, measures and concentrations; Exposition par inhalation au benzene, toluene, ethylbenzene et xylenes (BTEX) dans l'air. Source, mesures et concentrations

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Del Gratta, F.; Durif, M.; Fagault, Y.; Zdanevitch, I

    2004-12-15

    This document presents the main techniques today available to characterize the benzene, toluene, ethyl-benzene and xylene (BTEX) concentrations in the air for different contexts: urban and rural areas or around industrial installations but also indoor and occupational area. It provides information to guide laboratories and research departments. A synthesis gives also the main emissions sources of these compounds as reference concentrations measured in different environments. (A.L.B.)

  8. Etude des variations passées du CO2 atmosphérique à partir de l'analyse de l'air piégé dans la glace : détermination du niveau pré-industriel, description de la transition âge glaciaire-holocène

    OpenAIRE

    Barnola, Jean-Marc

    1984-01-01

    L'objectif essentiel de ce travail est de déterminer les variations passées du CO2 atmosphérique à partir de l'analyse de l'air piégé dans la glace. Cette étude a été centrée sur deux époques du passé, à savoir : l'époque récente couvrant en particulier les derniers siècles, afin de déterminer le niveau en CO2 de l'atmosphère "pré-industrielle", la fin de la dernière glaciation (vers 18 000 B.P.) et la transition âge glaciaire-Holocène afin de préciser les résultats obtenus précédemment. Dans...

  9. STRATEGI ADAPTASI NELAYAN LANJUT USIA DAN HUBUNGANNYA DENGAN KETAHANAN SOSIAL. STUDI KASUS DI NAGARI AIR BANGIS, KECAMATAN SUNGAI BEREMAS, KABUPATEN PASAMAN BARAT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ermayanti .

    2014-09-01

    social security is to improve safety in these villages with mutual respect, tolerance and collaboration, because the villagers' Air Bangis already feel safe. In Nagari Air Bangis rarely finds conflicts between fishermen here, even if there was only a small problem, which can be directly solved maslaah. Usually the elderly fisherman to keep track of security among citizens just always maintain good relations between people, mutual help for anyone who needs and mutually saluted each other. Not distinguish economic status or the status of their fishermen. The main problem in this village is still the economic problems of society, because there are many people here who are in the poverty level.

  10. Desain dan Uji Kinerja Fungsional Sistem Penggerak dan Kendali ROVERGARD

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Moh Fikri Pomalingo

    2017-04-01

    Full Text Available Abstract The high population rate has an impact on increasing of land function change from agricultural land become housing and commercial building. As a result, it is difficult to get land for planting in the urban area. Therefore, this research is aimed to design equipment that can be used for planting in the narrow land using vertical gardening. This paper will report about design and functional testing of drive and control system on ROVERGARD. Drive system is based on water pump with additional gear train and chainsprocket mechanism. Control system use was on open loop type based on timer. The performance test of drive system was focused on electrical energy consumption and rotational speed of the system that was measured by multifunctional mini ammeter and tachometer. The control system was tested during 4 days, to evaluate their performances between set point and actual timing while filling water tank and rotate the system at maximal load condition. Electrical power consumption was 208 W at average rotational speed 2703 rpm. Increasing load caused an increase of energy consumption but made the drive rotation decline. The position control performance had on position error around 50 cm. Consequently, setting time on timer must be adjusted. Abstrak Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi, mengakibatkan tingginya alih fungsi lahan pertanian menjadi bangunan perumahan dan komersial. Masalah ini mengakibatkan sulitnya mencari lahan pertanian di daerah padat penduduk khususnya perkotaan. Oleh karena itu perlu dirancang sebuah alat yang dapat digunakan untuk bercocok tanam di lahan sempit. Tujuan dari penelitian ini adalah mendesain dan menguji sistem penggerak dan kendali pada ROVERGARD. Sistem penggerak berasal dari pompa air yang dimodifikasi. Sedangkan sistem kendali menggunakan tipe open loop berbasis waktu dimana timer sebagai komponen utamanya. Pengujian kinerja penggerak difokuskan pada konsumsi listrik dan rpm yang diukur menggunakan

  11. Radiation sterilization of harmful algae in water

    International Nuclear Information System (INIS)

    Byung Chull An; Jae-Sung Kim; Seung Sik Lee; Shyamkumar Barampuram; Eun Mi Lee; Byung Yeoup Chung

    2007-01-01

    Complete text of publication follows. Objective: Drinking water, water used in food production and for irrigation, water for fish farming, waste water, surface water, and recreational water have been recently recognized as a vector for the transmission of harmful micro-organisms. The human and animal harmful algae is a waterborne risk to public health and economy because the algae are ubiquitous and persistent in water and wastewater, not completely removed by physical-chemical treatment processes, and relatively resistant to chemical disinfection. Gamma and electron beam radiation technology is of growing in the water industry since it was demonstrated that gamma and electron beam radiation is very effective against harmful algae. Materials and Methods: Harmful algae (Scenedesmus quadricauda(Turpin) Brebisson 1835 (AG10003), Chlorella vulgaris Beijerinck 1896 (AG30007) and Chlamydomonas sp. (AG10061)) were distributed from Korean collection for type cultures (KCTC). Strains were cultured aerobically in Allen's medium at 25□ and 300 umol/m2s for 1 week using bioreactor. We investigated the disinfection efficiency of harmful algae irradiated with gamma (0.05 to 10 kGy for 30 min) and electron beam (1 to 19 kGy for 5 sec) rays. Results and Conclusion: We investigated the disinfection efficiency of harmful algae irradiated with gamma and electron beam rays of 50 to 19000 Gy. We established the optimum sterilization condition which use the gamma and electron beam radiation. Gamma ray disinfected harmful algae at 400 Gy for 30 min. Also, electron beam disinfected at 1000 Gy for 5 sec. This alternative disinfection practice had powerful disinfection efficiency. Hence, the multi-barrier approach for drinking water treatment in which a combination of various disinfectants and filtration technologies are applied for removal and inactivation of different microbial pathogens will guarantee a lower risk of microbial contamination.

  12. Algae Biofuel in the Nigerian Energy Context

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Elegbede Isa

    2016-05-01

    Full Text Available The issue of energy consumption is one of the issues that have significantly become recognized as an important topic of global discourse. Fossil fuels production reportedly experiencing a gradual depletion in the oil-producing nations of the world. Most studies have relatively focused on biofuel development and adoption, however, the awareness of a prospect in the commercial cultivation of algae having potential to create economic boost in Nigeria, inspired this research. This study aims at exploring the potential of the commercialization of a different but commonly found organism, algae, in Nigeria. Here, parameters such as; water quality, light, carbon, average temperature required for the growth of algae, and additional beneficial nutrients found in algae were analysed. A comparative cum qualitative review of analysis was used as the study made use of empirical findings on the work as well as the author’s deductions. The research explored the cultivation of algae with the two major seasonal differences (i.e. rainy and dry in Nigeria as a backdrop. The results indicated that there was no significant difference in the contribution of algae and other sources of biofuels as a necessity for bioenergy in Nigeria. However, for an effective sustainability of this prospect, adequate measures need to be put in place in form of funding, provision of an economically-enabling environment for the cultivation process as well as proper healthcare service in the face of possible health hazard from technological processes. Further studies can seek to expand on the potential of cultivating algae in the Harmattan season.

  13. Pencemaran Tanah dan Air Tanah oleh Pestisida dan Cara Menanggulanginya

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rachman Sutanto

    2001-07-01

    Full Text Available The large increase in the use of modern agricultural chemicals, including pesticides and fertilizers has made agriculture an important non-point source of soil and groundwater contamination. Nitrogen, heavy metals, and organic associated with pesticides are presumably the most common contaminants introduced into the environment by modern agricultural practices. The present and abundance of the chemical contaminants in the soil and underlying groundwater largely depends on their chemical species as well as the various physical, biological and chemical properties of the soil. Understanding these processes and interactions between the contaminants and soil constituents would be useful in identifying effective techniques to restore the soil and groundwater contaminated by modern agricultural practices and others modern society activities. When the level of these contaminants in the soil are such that the quality of the plants, food crops and the groundwater are being compromised, then remedial actions are necessary. Such remediation could include in situ technologies, including bioremediation or phytoremediation combined as well as agronomic-types approaches. The best strategy in reducing soil contamination is to reduce pollution at the source and to use best management practices, such as adopting the most appropriate land use for a given type of soil contamination. Key words: pesticide, contamination, adsorption, bioremediation

  14. DAN IDENTIFIKASI PATOGEN POTENSIAL YANG MENGINFEKSI IKAN RAINBOW (Melanotaenia sp.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lili Sholichah

    2014-03-01

    Full Text Available Pemeliharaan ikan rainbow (Melanotaenia sp. di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias selalu terjadi kematian secara bertahap mulai calon induk hingga proses pemijahan. Hal ini terjadi berulang kali sehingga ketersediaan induk Melanotaenia sp. sangat terancam. Ikan ini berasal dari Papua yang diperoleh mengandalkan penangkapan di alam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginventarisir dan mengidentifikasi berbagai patogen (parasit, jamur, bakteri potensial yang menginfeksi ikan rainbow yang dipelihara di dalam akuarium berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm dengan sistem aliran air stagnan. Tiga jenis rainbow yang dipelihara yaitu: rainbow Sungai Salawati, asal Sungai Sawiat, dan asal Danau Kurumoi. Setiap ikan masing-masing berjumlah 100 ekor dipelihara di akuarium dengan penambahan batu karang dan tanpa penambahan karang (kontrol ke dalam akuarium. Ikan diberi pakan sekenyangnya berupa jentik nyamuk dan cacing rambut beku setiap pagi dan sore hari. Sampling dilakukan secara random sebulan sekali dan secara unrandom setiap ada kejadian ikan sakit. Gejala klinis ikan yang sakit sebagai berikut: ikan berenang di permukaan dan menggosok-gosokkan badan di dinding akuarium, nafsu makan berkurang, gerakan berputar-putar, warna memudar menjadi putih, penekanan warna hitam pada sirip punggung dan perut meningkat, pendarahan pada perut, lendir berlebihan dan sangat berbau, serta sisik berdiri/terbuka. Diagnosa dan deteksi penyakit awal berupa pengamatan parasit baik ektoparasit maupun endoparasit, pengamatan dan isolasi jamur pada media selektif jamur, dan isolasi bakteri dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis patogen yang menginfeksi ketiga jenis ikan rainbow. Selanjutnya dilakukan uji histologi dan analisa DNA beberapa patogen. Hasil pengamatan diperoleh patogen berupa parasit (Ichthyophthirius sp., Dactylogyrus sp., Gyrodactylus sp., dan Trichodina sp. dan bakteri (Aeromonas hydrophila, Acinetobacter sp

  15. PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI ARANG DARI BATANG TANAMAN GUMITIR (Tagetes erecta PADA BERBAGAI SUHU DAN WAKTU PIROLISIS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    I Made Siaka

    2017-03-01

    Full Text Available ABSTRAK: Telah dilakukan penelitian tentang pembuatan dan karakterisasi arang dari batang tanaman gumitir (Tagetes erecta pada berbagai suhu dan waktu pirolisis. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh suhu dan waktu yang optimum dalam pembuatan arang serta mengetahui karakteristik arang yang dihasilkan pada suhu dan waktu optimumnya. Karakteristik arang mengacu pada SNI 06–3730-1995 dengan melakukan analisis terhadap kadar air, abu, volatile, dan karbon serta daya serapnya terhadap odine dan metilen biru. Suhu optimum pirolisis pembuatan arang adalah 300oC dengan karakteristik terbaik berupa rendemen, kadar air, volatile, abu, dan karbon berturut-turut sebesar 40,27 ±; 4,00 ± 0,00; 6,58 ± 0,07; 4,34 ± 1,22; dan 85,06%, serta daya serapnya terhadap iodin dan metilen biru sebesar 631,0935 ± 0,00 dan 131,34 ± 1,7 mg/g arang. Waktu pirolisis optimum adalah 90 menit dengan karakterisitik paling baik, yakni rendemen, kadar air, volatile, abu, dan karbon berturut-turut sebesar 42,30 ± 8,7; 2,00 ± 0,00; 2,87 ± 0,07; 9,68 ± 1,17; dan 85,44% serta daya serapnya terhadap iodin dan metilen biru sebesar 647,4642 ± 0,00 dan 136,20 ± 1,28 mg/g arang. Arang yang dihasilkan dari pirolisis pada suhu dan waktu optimum memiliki karakteristik yang sesuai dengan SNI 06-3730-1995 memiliki gugus fungsi O-H dan berupa karbon alifatik.   ABSTRACT: This paper discusses the manufacture and characterization of carbon made from the stems of marigold (Tagetes erecta at various temperatures and times of pyrolysis. This research aimed to obtain the optimum temperature and time of pyrolising in producing carbon, as well asto recognize the characteristics of the carbon produced. Characteristics of the carbon quality followed the Indonesian National Standard (SNI 06-3730-1995 by analyzing the contents of water, volatile substances, ash, and carbon, as well as, the ability of the carbon in absorption capacities of iodine and methylene blue. The optimum pyrolysis

  16. Ekstraksi Pektin dari Kulit dan Tandan Pisang dengan Variasi Suhu dan Metode (Pectin Extraction from Banana Peels and Bunch with Various Temperatures and Methods

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nurhayati Nurhayati

    2016-12-01

    ABSTRAK Seiring peningkatan produksi pisang tentu akan diikuti dengan peningkatan limbah pisang seperti kulit dan tandan buah pisang. Pemanfaatan limbah pisang tersebut masih belum optimal. Padahal di dalamnya terkandung substansi alami tanaman yang memiliki nilai guna tinggi yaitu pektin yang tersusun atas molekul asam galakturonat membentuk asam poligalakturonat. Pektin dimanfaatkan sebagai bahan penstabil pada sari buah, jelly, jam dan marmalade. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik tepung dari kulit dan tandan pisang, mengetahui pengaruh perlakuan suhu (60 °C dan 80 °C dan metode ekstraksi (satu, dua dan tiga tingkat terhadap rendemen pektin, serta karakteristik pektin yang terekstrak. Limbah pisang berasal dari pisang varietas agung dan embug. Ekstraksi pektin dilakukan dengan menggunakan pelarut air pada perbandingan tepung dan air sebesar 1:54 (ekstraksi satu tingkat, 1:27 (ekstraksi dua tingkat dan 1:18 (ekstraksi tiga tingkat. Hasil penelitian menunjukkan karakrestik tepung limbah pisang yaitu kadar air berkisar antara 8,14 sampai dengan 9,05 % dengan kadar pektin tertinggi terdapat pada kulit pisang embug 4,54 % dan derajat putih tepung limbah pisang berkisar antara 50,80 sampai dengan 55,21 %. Rendemen pektin dapat terekstrak optimal pada kondisi ekstraksi suhu ekstraksi 80 °C dengan dua tingkat ekstraksi. Kulit pisang mengandung pektin lebih banyak daripada tandan pisang. Pektin yang terekstrak memiliki derajat putih sekitar 31,31 sampai dengan 38,12 %. Gugus fungsi pektin limbah pisang tersusun atas gugus alkohol (primer, sekunder dan tersier, amina primer, amida (monosub dan dwisubtitusi serta karbonat kovalen. Kata kunci: Kulit dan tandan pisang; ekstraksi; gugus fungsi; pektin; suhu

  17. APLIKASI BERBAGAI JENIS ADSORBEN PADA PENGOLAHAN AIR ASAM TAMBANG SINTETIK SKALA MINI PLANT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Subriyer Nasir

    2016-09-01

    Full Text Available Pengolahan air asam tambang sintetis dengan memanfaatkan abu terbang batubara, tanah diatom dan abu sekam padi sebagai adsorben yang diikuti dengan pengolahan menggunakan metode sand filtrasi, ultrafiltrasi dan reverse osmosis. air asam tambang sintetik dibuat dengan variasi pH 3; .,5; dan 4. Persentase kenaikan pH karena pemakaian masing-masing adsorben dan penurunan kadar ion besi, mangan dan sulfat juga diteliti. Hasil yang diperoleh coal fly ash merupakan adsorben yang paling efektif dalam menaikkan pH dan menurunkan EC serta ion logam dari air asam tambang sintetik. Persentase kenaikan pH sebesar 97,40%, persentase penurunan EC 96,71%, dan persentase penurunan ion logam mangan, besi, sulfat tertinggi berturut-turut adalah 99,1%, 98,4%, dan 99,7% serta prosentase perolehan air (WRP sebesar 75%. .

  18. ALGAE PROLIFERATION ON SUBSTRATES IMMERSED IN BIOLOGICALLY TREATED SEWAGE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tomasz Garbowski

    2017-01-01

    Full Text Available Due fast biomass production, high affinity for N and P and possibilities to CO2 sequestration microalgae are currently in the spotlight, especially in renewable energy technologies sector. The majority of studies focus their attention on microalgae cultivation with respect to biomass production. Fuel produced from algal biomass can contribute to reducing consumption of conventional fossil fuels and be a remedy for a rising energy crisis and global warming induced by air pollution. Some authors opt for possibilities of using sewage as a nutrient medium in algae cultivation. Other scientists go one step further and present concepts to introduce microalgal systems as an integral part of wastewater treatment plants. High costs of different microalgal harvesting methods caused introduction of the idea of algae immobilization in a form of periphyton on artificial substrates. In the present study the attention has focused on possibilities of using waste materials as substrates to proliferation of periphyton in biologically treated sewage that contained certain amounts of nitrogen and phosphorus.

  19. Pengaruh Suhu dan Metode Perlakuan Panas terhadap Sifat Fisika dan Kualitas Finishing Kayu Mahoni

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ragil Widyorini

    2016-03-01

    Full Text Available Perlakuan panas dikenal sebagai metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan stabilitas dimensi dan menurunkan higroskopisitas. Di sisi lain, perlakuan panas dapat membuat warna kayu menjadi lebih gelap, penurunan sifat mekanika kayu, dan sifat wetabilitas kayu. Oleh karena itu, penelitian mengenai perlakuan panas pada kondisi yang optimum sangat menarik untuk dilakukan agar menghasilkan kayu dengan kualitas yang lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh interaksi suhu dan metode perlakuan panas terhadap sifat fisika dan kualitas finishing kayu mahoni. Contoh uji perlakuan dibuat dari kayu mahoni yang berasal dari industri penggergajian kayu rakyat. Penelitian ini menggunakan 2 metode perlakuan panas yaitu metode oven dan penguapan (steaming pada variasi suhu 90°C, 120°C, dan 150°C selama 2 jam waktu efektif. Pengujian sifat fisika diuji berdasarkan standar ASTM, yang meliputi : kadar air seimbang, perubahan dimensi, perubahan warna, dan wetabilitas. Pengujian finishing meliputi cross cut test, uji delaminasi, dan uji kekilapan (glossy test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara suhu dan metode perlakuan panas berpengaruh sangat nyata terhadap perubahan warna, serta berpengaruh nyata terhadap penyusutan radial, cross cut test, dan uji delaminasi. Metode oven menghasilkan contoh uji dengan kadar air dan pengembangan radial yang lebih rendah, warna yang lebih terang, serta uji delaminasi yang lebih baik dibandingkan dengan metode penguapan. Kata kunci: perlakuan panas, metode oven, metode penguapan, suhu, finishing   Effect of temperature and heat treatment on physical properties and finishing quality of mahagony wood Abstract Heat treatment is well known as a method for increasing dimensional stability and reducing hygroscopicity of wood. However, heat tratment can cause the color of wood become darker and reduce the wettability, as well as its mechanical properties. Therefore, the optimum condition of heat

  20. Biological toxicity of lanthanide elements on algae.

    Science.gov (United States)

    Tai, Peidong; Zhao, Qing; Su, Dan; Li, Peijun; Stagnitti, Frank

    2010-08-01

    The biological toxicity of lanthanides on marine monocellular algae was investigated. The specific objective of this research was to establish the relationship between the abundance in the seawater of lanthanides and their biological toxicities on marine monocellular algae. The results showed that all single lanthanides had similar toxic effects on Skeletonema costatum. High concentrations of lanthanides (29.04+/-0.61 micromol L(-1)) resulted in 50% reduction in growth of algae compared to the controls (0 micromol L(-1)) after 96 h (96 h-EC50). The biological toxicity of 13 lanthanides on marine monocellular algae was unrelated with the abundance of different lanthanide elements in nature, and the "Harkins rule" was not appropriate for the lanthanides. A mixed solution that contained equivalent concentrations of each lanthanide element had the same inhibition effect on algae cells as each individual lanthanide element at the same total concentration. This phenomenon is unique compared to the groups of other elements in the periodic table. Hence, we speculate that the monocellular organisms might not be able to sufficiently differentiate between the almost chemically identical lanthanide elements. Copyright (c) 2010 Elsevier Ltd. All rights reserved.

  1. Phospholipids of New Zealand Edible Brown Algae.

    Science.gov (United States)

    Vyssotski, Mikhail; Lagutin, Kirill; MacKenzie, Andrew; Mitchell, Kevin; Scott, Dawn

    2017-07-01

    Edible brown algae have attracted interest as a source of beneficial allenic carotenoid fucoxanthin, and glyco- and phospholipids enriched in polyunsaturated fatty acids. Unlike green algae, brown algae contain no or little phosphatidylserine, possessing an unusual aminophospholipid, phosphatidyl-O-[N-(2-hydroxyethyl) glycine], PHEG, instead. When our routinely used technique of 31 P-NMR analysis of phospholipids was applied to the samples of edible New Zealand brown algae, a number of signals corresponding to unidentified phosphorus-containing compounds were observed in total lipids. NI (negative ion) ESI QToF MS spectra confirmed the presence of more familiar phospholipids, and also suggested the presence of PHEG or its isomers. The structure of PHEG was confirmed by comparison with a synthetic standard. An unusual MS fragmentation pattern that was also observed prompted us to synthesise a number of possible candidates, and was found to follow that of phosphatidylhydroxyethyl methylcarbamate, likely an extraction artefact. An unexpected outcome was the finding of ceramidephosphoinositol that has not been reported previously as occurring in brown algae. An uncommon arsenic-containing phospholipid has also been observed and quantified, and its TLC behaviour studied, along with that of the newly synthesised lipids.

  2. Effect of ferrate on green algae removal.

    Science.gov (United States)

    Kubiňáková, Emília; Híveš, Ján; Gál, Miroslav; Fašková, Andrea

    2017-09-01

    Green algae Cladophora aegagropila, present in cooling water of thermal power plants, causes many problems and complications, especially during summer. However, algae and its metabolites are rarely eliminated by common removal methods. In this work, the elimination efficiency of electrochemically prepared potassium ferrate(VI) on algae from cooling water was investigated. The influence of experimental parameters, such as Fe(VI) dosage, application time, pH of the system, temperature and hydrodynamics of the solution on removal efficiency, was optimized. This study demonstrates that algae C. aegagropila can be effectively removed from cooling water by ferrate. Application of ferrate(VI) at the optimized dosage and under the suitable conditions (temperature, pH) leads to 100% removal of green algae Cladophora from the system. Environmentally friendly reduction products (Fe(III)) and coagulation properties favour the application of ferrate for the treatment of water contaminated with studied microorganisms compared to other methods such as chlorination and use of permanganate, where harmful products are produced.

  3. Radiation effects on algae and its application

    International Nuclear Information System (INIS)

    Dwivedi, Rakesh Kumar

    2013-01-01

    The effects of radiation on algae have been summarized in this article. Today, algae are being considered to have the great potential to fulfill the demand of food, fodder, fuel and various pharmaceutical products. Red algae are particularly rich in the content of polysaccharides present in their cell wall. For isolation of these polysaccharides, separation of cells cemented together by middle lamella is essential. The gamma rays are known to bring about biochemical changes in the cell wall and cause the breakdown of the middle lamella. These rays ate also known to speed up the starch sugar inter-conversion in the cells which is very useful for the tapping the potential of algae to be used as biofuel as well as in pharmaceutical industries. Cyanobacteria, among algae and other plants are more resistant to the radiation. In some cyanobacteria the radiation treatment is known to enhance the resistance against the antibiotics. Radiation treatment is also known to enhance the diameter of cell and size of the nitrogen fixing heterocyst. (author)

  4. Controlled regular locomotion of algae cell microrobots.

    Science.gov (United States)

    Xie, Shuangxi; Jiao, Niandong; Tung, Steve; Liu, Lianqing

    2016-06-01

    Algae cells can be considered as microrobots from the perspective of engineering. These organisms not only have a strong reproductive ability but can also sense the environment, harvest energy from the surroundings, and swim very efficiently, accommodating all these functions in a body of size on the order of dozens of micrometers. An interesting topic with respect to random swimming motions of algae cells in a liquid is how to precisely control them as microrobots such that they swim according to manually set routes. This study developed an ingenious method to steer swimming cells based on the phototaxis. The method used a varying light signal to direct the motion of the cells. The swimming trajectory, speed, and force of algae cells were analyzed in detail. Then the algae cell could be controlled to swim back and forth, and traverse a crossroad as a microrobot obeying specific traffic rules. Furthermore, their motions along arbitrarily set trajectories such as zigzag, and triangle were realized successfully under optical control. Robotize algae cells can be used to precisely transport and deliver cargo such as drug particles in microfluidic chip for biomedical treatment and pharmacodynamic analysis. The study findings are expected to bring significant breakthrough in biological drives and new biomedical applications.

  5. Efektivitas KMK dan Na2 EDTA dalam Mengabsorbsi Paparan Merkuri pada Ikan Lele (Clarias batrachus

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tuti Hartati Siregar

    2010-12-01

    Full Text Available Penelitian ini dilaksanakan untuk mengamati efektivitas karboksimetil kitosan (KMK sebagai bahan pengkelat alami dan Na2 EDTA sebagai bahan pengkelat sintetis logam berat merkuri (Hg pada ikan lele. Ikan lele yang digunakan adalah jenis lele dumbo yang diperoleh dari Bogor. Ikan dipelihara dalam kolam berukuran 380 x 150 x 60 cm 3. Air kolam sebanyak 570 L yang berisi 200 ekor ikan lele dipapar dengan Hg 60–90 ppb secara bertahap selama 1 bulan dan penggantian air kolam dilakukan setiap minggu. Sebelum pemaparan dengan Hg dilakukan, ikan lele dikondisikan pada kolam percobaan selama 1 minggu. Pada minggu ke dua ikan dipapar merkuri 60 ppb, kemudian konsentrasi merkuri dinaikkan 15 ppb setiap minggu sampai dengan minggu ke empat. Pemaparan dihentikan setelah minggu ke empat. Setelah itu ikan dipanen kemudian difilet dan dikelat dengan cara direndam dalam larutan KMK dan Na 2EDTA masing-masing pada konsentrasi 0; 0,5; 1,0; dan 1,5% selama 0, 30, 60, dan 90 menit. Perendaman dalam air digunakan sebagai kontrol terhadap perlakuan tersebut. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Pengamatan yang dilakukan meliputi kandungan awal dan kandungan akhir Hg setelah perlakuan perendaman. Analisis dilakukan menggunakan instrumen AAS (Perkin Elmer tipe Aanalyst800. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perendaman dalam KMK dan Na 2 EDTA 0,5% selama 30 menit memberikan hasil yang terbaik, dan tidak ada perbedaan antara KMK dan Na2EDTA dalam fungsinya sebagai absorben logam berat.

  6. Diskursus Bahan Bakar Air

    OpenAIRE

    Hidayatulloh, Poempida

    2015-01-01

    Kebutuhan akan energi bagi manusia adalah suatu keniscayaan. Oleh karena itu pencarian manusia dalam menemukan suatu energi yang berkelanjutan (sustainable) adalah suatu proses alamiah yang terjadi secara terus-menerus. Keterbatasan manusia dalam mendapatkan energi selalu berkutat pada paradigma keberadaan hukum kekekalan energi yang menjadi basis pemikiran fisika klasik. Air adalah suatu senyawa yang senantiasa ada di sekitar kita dan tersedia dalam berbagai wujud. Senyawa Air (H2O) terdiri ...

  7. AKTIVITAS ANTIMIKROBA YOGURT BERBASIS AIR KELAPA MENGHAMBAT BAKTERI PATOGEN SECARA IN VITRO

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lindawati S. A.

    2014-11-01

    Full Text Available Yogurt merupakan minuman susu yang difermentasi dengan menggunakan bakteri asam laktat Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophyllus sebagai starter. Tujuan penelitian untuk mengetahui kemampuan tertinggi dari yogurt berbasis air kelapa dalam menghambat pertumbuhan bakteri pathogen (Salmonella, Staphylococcus, Klebsiela pneumonia dan E.coli secara in vitro. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Keempat perlakuan tersebut: Ko: susu skim 12%+air; K1: susu skim 12%+air kelapa gading; K2: susu skim 12%+kelapa gading bulan; K3: susu skim 12%+air kelapa hijau. Peubah yang diamati adalah aktivitas antimikroba yogurt terhadap bakteri pathogen (Salmonellatyphi, Staphylococcus, Klebsiella pneumonia dan E.coli, total plate count (TPC, total bakteri asam laktat dan E,coli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antimikroba tertinggi diperoleh pada yogurt berbasis air kelapa bulan terhadap bakeri Salmonella typhi dan Staphylococcus masing-masing sebesar 0,21 dan 0,26 cm dengan total bakteri asam laktat1,1×107 cfu/mL sedangkan untuk Klebsiella pneumonia dan E.coli diperoleh pada yogurt berbasis air kelapa gading sebesar 0,38 dan 0,64 mm dengan total bakteri asam laktat 3,1×106 cfu/mL.Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa yogurt berbasis air kelapa gading, bulan, hijau dan tanpa air kelapa memiliki aktivitas antimikroba berspektrum luas (menghambat bakteri gram positif dan negatif.

  8. Freshwater algae of the Nevada Test Site

    International Nuclear Information System (INIS)

    Taylor, W.D.; Giles, K.R.

    1979-06-01

    Fifty-two species of freshwater algae were identified in samples collected from the eight known natural springs of the Nevada Test Site. Although several species were widespread, 29 species were site specific. Diatoms provided the greatest variety of species at each spring. Three-fifths of all algal species encountered were diatoms. Well-developed mats of filamentous green algae (Chlorophyta) were common in many of the water tanks associated with the springs and accounted for most of the algal biomass. Major nutrients were adequate, if not abundant, in most spring waters - growth being limited primarily by light and physical habitat. There was some evidence of cesium-137 bioconcentration by algae at several of the springs

  9. Freshwater algae of the Nevada Test Site

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Taylor, W.D.; Giles, K.R.

    1979-06-01

    Fifty-two species of freshwater algae were identified in samples collected from the eight known natural springs of the Nevada Test Site. Although several species were widespread, 29 species were site specific. Diatoms provided the greatest variety of species at each spring. Three-fifths of all algal species encountered were diatoms. Well-developed mats of filamentous green algae (Chlorophyta) were common in many of the water tanks associated with the springs and accounted for most of the algal biomass. Major nutrients were adequate, if not abundant, in most spring waters - growth being limited primarily by light and physical habitat. There was some evidence of cesium-137 bioconcentration by algae at several of the springs.

  10. Behaviour of technetium in marine algae

    International Nuclear Information System (INIS)

    Bonotto, S.; Kirchmann, R.; Van Baelen, J.; Hurtger, C.; Cogneau, M.; Van der Ben, D.; Verthe, C.; Bouquegneau, J.M.

    1985-01-01

    Uptake and distribution of technetium were studied in several green (Acetabularia acetabulum, Boergesenia forbesii, Ulva lactuca) and brown (Ascophyllum nodosum, Fucus serratus, Fucus spiralis and Fucus vesiculosus) marine algae. Technetium was supplied to the algae as Tc-95m-pertechnetate. Under laboratory conditions, the algae were capable of accumulating technetium, with the exception, however, of Boergesenia, which showed concentration factors (C.F.) comprised between 0.28 and 0.71. The concentration of technetium-99 in Fucus spiralis, collected along the Belgian coast, was measured by a radiochemical procedure. The intracellular distribution of technetium was studied by differential centrifugation in Acetabularia and by the puncturing technique in Boergesenia. The chemical forms of technetium penetrated into the cells were investigated by selective chemical extractions, molecular sieving and thin layer chromatography

  11. Behaviour of technetium in marine algae

    International Nuclear Information System (INIS)

    Bonotto, S.; Kirchmann, R.; Baelen, J. van; Hurtgen, C.; Cogneau, M.; Ben, D. van der; Verthe, C.; Bouquegneau, J.M.

    1986-01-01

    Uptake and distribution of technetium were studied in several green (Acetabularia acetabulum, Boergesenia forbesii, Ulva lactuca) and brown (Ascophyllum nodosum, Fucus serratus, Fucus spiralis and Fucus vesiculosus) marine algae. Technetium was supplied to the algae as Tc-95-pertechnetate. Under laboratory conditions, the algae were capable of accumulating technetium, with the exception, however, of Boergesenia, which showed concentration factors (C.F.) comprised between 0.28 and 0.71. The concentration of technetium-99 in Fucus spiralis, collected along the Belgian coast, was measured by a radiochemical procedure. The intracellular distribution of technetium was studied by differential centrifugation in Acetabularia and by the puncturing technique in Boergesenia. The chemical forms of technetium penetrated into the cells were investigated by selective chemical extractions, molecular sieving and thin layer chromatography. (author)

  12. Study of metal bioaccumulation by nuclear microprobe analysis of algae fossils and living algae cells

    International Nuclear Information System (INIS)

    Guo, P.; Wang, J.; Li, X.; Zhu, J.; Reinert, T.; Heitmann, J.; Spemann, D.; Vogt, J.; Flagmeyer, R.-H.; Butz, T.

    2000-01-01

    Microscopic ion-beam analysis of palaeo-algae fossils and living green algae cells have been performed to study the metal bioaccumulation processes. The algae fossils, both single cellular and multicellular, are from the late Neoproterozonic (570 million years ago) ocean and perfectly preserved within a phosphorite formation. The biosorption of the rare earth element ions Nd 3+ by the green algae species euglena gracilis was investigated with a comparison between the normal cells and immobilized ones. The new Leipzig Nanoprobe, LIPSION, was used to produce a proton beam with 2 μm size and 0.5 nA beam current for this study. PIXE and RBS techniques were used for analysis and imaging. The observation of small metal rich spores (<10 μm) surrounding both of the fossils and the living cells proved the existence of some specific receptor sites which bind metal carrier ligands at the microbic surface. The bioaccumulation efficiency of neodymium by the algae cells was 10 times higher for immobilized algae cells. It confirms the fact that the algae immobilization is an useful technique to improve its metal bioaccumulation

  13. Sosiologi Ruang dan Tempat

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    John Urry

    2017-09-01

    Full Text Available Diterjemahkan dari John Urry “The Sociology of Space and Place”, dalam Blau (editor The Blackwell Companion to Sociology, Malden: Blackwell, 2004, hlm. 3-15. Artikel ini membahas bahwa ruang (dan tempat perlu menjadi pusat perhatian sosiologi. Artikel ini merangkum beberapa tulisan “klasik” tentang ruang yang dikembangkan dalam konteks kolonisasi geografi atas ruang. Artikel ini juga menunjukkan apa yang mengubah pandangan itu pada akhir 1970an dan kembalinya ruang dalam teori sosiologi dan ilmu sosial secara lebih umum. Pada bagian analisis akhir dihadirkan perkembangan terkini tentang sebuah proyek penelitian sosiologi tentang ruang yang mengikutsertakan pentingnya perbedaan mobilitas spasial antara, dalam, dan melampaui ruang-ruang tersebut.

  14. DEPRESI DAN GANGGUAN TIDUR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wayan Eko Radityo

    2012-12-01

    Full Text Available Depresi merupakan gangguan mood berupa kesedihan yang intens, berlangsung dalamwaktu lama, dan mengganggu kehidupan normal yang insidennya semakin meningkatseiring dengan meningkatnya tekanan hidup. Tahun 2020, depresi diperkirakanmenempati urutan kedua penyakit di dunia. Gejala-gejala depresi terdiri dari gangguanemosi, gangguan kognitif, keluhan somatik, gangguan psikomotor, dan gangguanvegetatif. Salah satu gejala depresi yang muncul adalah gangguan tidur yang bisaberupa insomnia, bangun secara tiba-tiba, dan hipersomnia. Hal ini disebabkan olehgangguan neurotransmiter dan regulasi hormon. Selain sebagai gejala depresi, gangguantidur juga bisa merupakan penyebab depresi. Beberapa penelitian memberikanhubungan gangguan tidur dapat meningkatkan risiko depresi di kemudian hari.

  15. Sifat Fisis Dan Stabilisasi Dimensi Beberapa Jenis Bambu Komersial

    OpenAIRE

    Barly, Barly; Ismanto, Agus; Martono, Dominicus; Abdurachman, Abdurachman; Andianto, Andianto

    2012-01-01

    Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh formula yang dapat digunakan untuk memperbaiki sifatfisis dan stabilitas dimensi bambu agar optimal penggunaannya sebagai bahan konstruksi. Hasilpenelitian menunjukkan panjang batang, jumlah ruas dan panjang ruas pada tiap jenis bambu nilainyabervariasi. Kadar air bambu segar bervariasi bergantung jenis, yaitu bambu hijau atau ater (236,15%),mayan (181,52% ), tali (117,32% ), hitam (111,83%). Kerapatan bambu bervariasi, yaitu bambu tali(0,93), andong ...

  16. Aktivitas Antioksidan Padina sp. pada Berbagai Suhu dan Lama Pengeringan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Amir Husni

    2014-11-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama pengeringan dalam oven terhadap aktivitas antioksidan Padina sp. Pengeringan dilakukan pada suhu 50, 55, dan 60 °C masing-masing selama 4, 6, dan 8 jam. Sebagai pembanding dilakukan pengeringan di bawah sinar matahari selama 8 jam. Parameter yang diamati meliputi rendemen, kadar air, aktivitas antioksidan, total fenol, dan uji fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen Padina sp. berkisar antara 12,86–18,28%, kadar air 14,52–21,80%, IC50 antioksidan 37,68–48,03 ppm, total fenol 0,18–0,35 mg PGE/mg, dan hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa Padina sp. mengandung senyawa fenol. Pengeringan oven bersuhu 50 °C selama 4 jam menghasilkan aktivitas antioksidan dan total fenol tertinggi, dengan nilai IC50 37,68 ppm dan total fenol 0,35 mg PGE/mg.

  17. Modeling and optimization of algae growth

    OpenAIRE

    Thornton, Anthony Richard; Weinhart, Thomas; Bokhove, Onno; Zhang, Bowen; van der Sar, Dick M.; Kumar, Kundan; Pisarenco, Maxim; Rudnaya, Maria; Savceno, Valeriu; Rademacher, Jens; Zijlstra, Julia; Szabelska, Alicja; Zyprych, Joanna; van der Schans, Martin; Timperio, Vincent

    2010-01-01

    The wastewater from greenhouses has a high amount of mineral contamination and an environmentally-friendly method of removal is to use algae to clean this runo water. The algae consume the minerals as part of their growth process. In addition to cleaning the water, the created algal bio-mass has a variety of applications including production of bio-diesel, animal feed, products for pharmaceutical and cosmetic purposes, or it can even be used as a source of heating or electricity. The aim of t...

  18. Modeling and optimization of algae growth

    OpenAIRE

    Thornton, A; Weinhart, T; Bokhove, O; Zhang, B; Sar, van der, DM; Kumar, K Kundan; Pisarenco, M Maxim; Rudnaya, M Maria; Savcenco, V Valeriu; Rademacher, JDM; Zijlstra, J; Szabelska, A; Zyprych, J; Schans, van der, M Martin; Timperio, V

    2010-01-01

    The wastewater from greenhouses has a high amount of mineral contamination and an environmentally-friendly method of removal is to use algae to clean this runoff water. The algae consume the minerals as part of their growth process. In addition to cleaning the water, the created algal bio-mass has a variety of applications including production of bio-diesel, animal feed, products for pharmaceutical and cosmetic purposes, or it can even be used as a source of heating or electricity . The aim o...

  19. Serpins in plants and green algae

    DEFF Research Database (Denmark)

    Roberts, Thomas Hugh; Hejgaard, Jørn

    2008-01-01

    . Serpins have been found in diverse species of the plant kingdom and represent a distinct clade among serpins in multicellular organisms. Serpins are also found in green algae, but the evolutionary relationship between these serpins and those of plants remains unknown. Plant serpins are potent inhibitors...... of mammalian serine proteinases of the chymotrypsin family in vitro but, intriguingly, plants and green algae lack endogenous members of this proteinase family, the most common targets for animal serpins. An Arabidopsis serpin with a conserved reactive centre is now known to be capable of inhibiting...

  20. Costic's technical day: thermodynamical heating and air conditioning in accommodations (heat pumps and heating/cooling floors). Air systems and their application in collective installations; Journee technique Costic: chauffage thermodynamique et climatisation dans l'habitat (les pompes a chaleur, les planchers chauffants-rafraichissants). Les systemes a air les applications en collectif

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Lenotte, J.J.

    2002-07-01

    Direct expansion air systems are now currently used in individual residential houses. Some of these systems are used also in collective residential buildings where they allow to take into account the individualization of consumptions, as wished by some property developers. Some other centralized air-conditioning systems can be used. They require a distribution water loop for the supply of terminal units of ventilation-convection type. This document presents successively: the direct expansion air systems (direct emission air/air heat pumps, aeraulic distribution air/air heat pumps, production dimensioning, implementation, regulation, systems with variable flow rate of refrigerant); the centralized air/water systems with ventilation-convection systems (production dimensioning, implementation, regulation); the air distribution and diffusion. (J.S.)

  1. ANALISIS PEMANFAATAN DUA ELEMEN PELTIER PADA PENGONTROLAN TEMPERATUR AIR

    OpenAIRE

    Yusfi, Meqorry; Gandi, Frima; Palka, Heru Sagito

    2017-01-01

    Abstrak Elemen peltier bisa digunakan sebagai pemanas dan pendingin. Pada penelitian ini elemen peltier digunakan sebagai pendingin air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan hasil pemakaian antara satu dan dua elemen peltier pada sistem kontrol temperatur air. Alat dirancang dengan menggunakan LM35 sebagai sensor temperatur dan mikrokontroler Atmega 8535 untuk mengontrol sebelum ditampilkan ke LCD. Sistem kontrol On-off digunakan pada sistem ini. Hasil penelitian menunjukk...

  2. [Comparative chemical composition of the Barents Sea brown algae].

    Science.gov (United States)

    Obluchinskaia, E D

    2008-01-01

    Comparative study of phytochemical compositions of the most widespread brown algae species (one laminarian and four fucoid algae) from Barents Sea has been performed. A modified technique for mannitol determination in brown algae is proposed. It was revealed that fucus algae (fam. Fucaceae) contain 3% (of total dry weight) less mannitol than laminaria (Laminaria saccharina). The contents of alginic acid and laminaran in the Barents Sea fucoids are more than 10% less compared to laminaria. The alga L. saccharina contains almost two times more iodine than the species of fam. Fucaceae. The amounts of fucoidan and sum lipids in the Barents Sea fucoid algae is higher than in Laminaria saccharina (4-7% and 1-3%, respectively). In terms of contents of main biologically active compounds, fucus and laminarian algae from Barents Sea are inferior to none of the Far-Eastern species. The Barents Sea algae may become an important source of biologically active compounds.

  3. Use of Brown Algae to Demonstrate Natural Products Techniques.

    Science.gov (United States)

    Porter, Lee A.

    1985-01-01

    Background information is provided on the natural products found in marine organisms in general and the brown algae in particular. Also provided are the procedures needed to isolate D-mannitol (a primary metabolite) and cholesterol from brown algae. (JN)

  4. WASP7 BENTHIC ALGAE - MODEL THEORY AND USER'S GUIDE

    Science.gov (United States)

    The standard WASP7 eutrophication module includes nitrogen and phosphorus cycling, dissolved oxygen-organic matter interactions, and phytoplankton kinetics. In many shallow streams and rivers, however, the attached algae (benthic algae, or periphyton, attached to submerged substr...

  5. Association of thraustochytrids and fungi with living marine algae

    Digital Repository Service at National Institute of Oceanography (India)

    Raghukumar, C.; Nagarkar, S.; Raghukumar, S.

    only in C. clavulatum, Sargassum cinereum and Padina tetrastromatica whilst mycelial fungi occurred in all. Growth experiments in the laboratory indicated that the growth of thraustochytrids was inhibited on live algae, whereas killed algae supported...

  6. An Overview of Algae Biofuel Production and Potential Environmental Impact

    Science.gov (United States)

    Algae are among the most potentially significant sources of sustainable biofuels in the future of renewable energy. A feedstock with virtually unlimited applicability, algae can metabolize various waste streams (e.g., municipal wastewater, carbon dioxide from industrial flue gas)...

  7. OPTIMASI PRODUKSI MALTODEKSTRIN BERBASIS PATI SAGU MENGGUNAKAN α-AMILASE DAN METODE SPRAY DRYING

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Vioni Derosya

    2017-03-01

    Full Text Available Sagu (Metroxylon sagu Rottb merupakan sumber pati melimpah di Indonesia namun belum dimanfaatkan secara optimal. Di satu sisi, Indonesia masih mengimpor pati termodifikasi termasuk maltodekstrin yang berbahan dasar pati untuk memenuhi kebutuhan industri terutama obat-obatan dan pangan. Produksi maltodekstrin dari pati sagu diharapkan dapat mendukung pengembangan produk turunan pati berbasis tanaman lokal. Pada penelitian ini, maltodekstrin berbasis pati sagu diproduksi menggunakan spray dryer dengan konsentrasi 10%, 20% dan 30% sedangkan enzim alfa amilase yang digunakan adalah 0,05 ml dan 0,1 ml.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi konsentrasi substrat pati sagu dan konsentrasi enzim yang menghasilkan maltodekstrin dengan kadar air, rendemen, viskositas, dan gula reduksi terbaik. Kadar air dari maltodekstrin berbasis pati sagu berkisar dari 3,46-5,68% dengan rendemen berkisar 17,84 - 41,36 %, viskositas 0-32 BU, dan gula pereduksi berkisar antara 0,73-1,47 %.

  8. Harmful impact of filamentous algae (Spirogyra sp.) on juvenile crayfish

    OpenAIRE

    Ulikowski Dariusz; Chybowski Łucjan; Traczuk Piotr

    2015-01-01

    The aim of this study was to determine the impact of filamentous algae on the growth and survival of juvenile narrow-clawed crayfish, Astacus leptodactylus (Esch.), in rearing basins. Three stocking variants were used: A - basins with a layer of filamentous algae without imitation mineral substrate; B - basins with a layer of filamentous algae with imitation mineral substrate; C - basins without filamentous algae but with mineral substrate. The crayfish were reared from June 12 to October 10 ...

  9. European comparison of Monte Carlo codes users on the uncertainty calculations of air kerma determined in front of a cesium-137 beam; Intercomparaison europeenne d'utilisateurs de codes Monte Carlo pour le calcul d'incertitudes sur le kerma dans l'air determine dans un faisceau de cesium-137

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    De carlan, L.; Bordy, J.M.; Gouriou, J. [CEA Saclay, LIST, Laboratoire National Henri Becquerel, Laboratoire de Metrologie de la Dose, 91191 Gif-Sur-Yvette Cedex (France)

    2011-07-15

    Within the framework of the European project CONRAD (Coordinated Network for Radiation Dosimetry, contract FP6-12684) coordinated by EURADOS (European Radiation Dosimetry group), WP4 was devoted to numerical dosimetry under the title 'Uncertainty assessment in computational dosimetry: an intercomparison of approaches'. Within this activity, a working group sent a list of eight exercises, dealing with radiation transport of photons, neutrons, protons and electrons, to be solved by the international community. This paper presents exercise number 4, dealing with the calculation of air kerma for a {sup 137}Cs beam. This problem was aimed at estimating the components of the uncertainty on the air kerma which cannot be measured, namely those due to geometrical data such as the source location, the diameter of the collimator, the material density, etc. 12 institutes of 10 different countries took part in this work, showing the interest in this proposal. (authors)

  10. PRODUKSI BIOGAS DARI SAMPAH BUAH DAN SAYUR : PENGARUH VOLATILE SOLID DAN LIMONEN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Piyantina Rukmini

    2016-10-01

    Full Text Available Abstrak- Biogas merupakan salah satu sumber energi alternatif yang sedang dikembangkan dan sumber energi yang terbarukan. Bahan baku yang digunakan adalah kulit jeruk busuk (Citrus sinensia osbeck dan kobis (Brassica oleracea. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh volatile solid dan limonen terhadap produksi biogas. Penelitian menggunakan erlenmeyer 500 mL sebanyak 6 buah, waterbath, manometer air, dan thermometer. Volume total digester 350 mL. Penelitian dilakukan dengan cara menghancurkan bahan baku supaya lebih mudah didegradasi oleh bakteri. Oksigen yang bersifat toxic bagi bakteri anaerobik, dapat dihilangkan dengan penambahan N2 dalam digester pada awal operasi. Penelitian dilakukan pada kondisi mesofilik (30 – 400C selama 50 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada digester yang memiliki VS sama (T1 dan T3 dengan 15% VS, dan T2 dan T4 dengan 20% VS, dengan konsentrasi kulit jeruk/limonen berbeda (T1= 114ppm< T3= 170ppm, dan T2= 152ppm

  11. POTENSI PERKEMBANGAN WILAYAH DAN KAITANNYA DENGAN TATA RUANG DI KAWASAN LERENG MERAPI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Luthfi Muta'ali

    2016-10-01

    Full Text Available ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi dan perkembangan wilayah kawasan lereng Merapi yang dikalikan dengan peruntukan fungsi tata ruang. Lingkup wilayah dan unit analisis adalah seluruh desa di kawasan pengembangan Lereng Merapi, yaitu sejumlah 206 desa yang tersebar di Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Banta Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif analitis, dengan menggunakan data sekunder. Potensi perkembangan wilayah diidentifikasi dengan indikator demografis, karakteristik social ekonomi, penggunaan lahan dan infrastruktur, dan aksesibilitas. Sedangkan data peruntukan ruang dikelompokkan dalam peruntukan fungsi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Teknik analisis yang digunakan antara lain stalistik deskriptip, penentuan tipologi wilayah, analisis deskriminan, shift analysis, dan pemetaan. Hasil penelitian menunjukkan, pola perkembangan wilayah di kawasan lereng Merapi terkonsentrasi di bagian tengah (kota Yogyakarta dan pinggirannya dan menuju kearah lereng atas (Kabupaten Sleman. Pada fungsi budidaya, sebagian besar wilayah bertipe 1: (besar tumbuh berada di daerah perkotaan dan perluasannya, sedangkan wilayah ripe 1l (kecil tumbuh urnumnya berfungsi sebagai daerah pertanian lahan basah. Pada peruntukan fungsi lindung, khususnya lindung bawahan (resapan air, terdapat 36,7% (18 desa yang berpotensi berkembang pesat. Analisis basis ekonomi juga menunjukkan bahwa potensi perkembangan wilayah tinggi, akan diiringi oleh pergeseran menguatnya peran sektor non pertanian. Tipologi wilayah menurut fungsi kawasan dapat digunakan sebagai dasar dalam determinasi perkembangan wilayah, karena memiliki tingkat perbedaan yang signifikan antara fungsi lindung dan budidaya. Gejala potensi perkembangan wilayah yang tinggi di lereng bagian tengah dan atas yang berfungsi sebagai kawasan lindung dan resapan tidak menguntungkan dart sisi ekologis, dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu penelitian ini

  12. KARAKTERISTIK EDIBLE FILM YANG DIPRODUKSI DARI KOMBINASI GELATIN KULIT KAKI AYAM DAN SOY PROTEIN ISOLATE

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muhamad Hasdar

    2012-09-01

    SDS-PAGE dan menunjukkan sebagai molekul kolagen. Hasil analisis kandungan asam amino edible film menggunakan HPLC dihasilkan komposisi residu asam amino terbesar adalah glysin yaitu 29,42%, 37,88%, 38,32%, 39,28% dan 39,17% pada masing-masing perlakuan. Hal itu menggambarkan bahwa profil protein edible film dapat dipastikan sebagian besar berasal dari kolagen gelatin. Pengamatan dengan scaning electron microscope menunjukkan telah terbentuk cross linking antara molekul protein gelatin dan molekul soy protein isolate dan yang ditunjukan semakin berkurangnya retakan seiring dengan meningkatnya konsentrasi gelatin. Perbedaan kombinasi gelatin kulit kaki ayam dan soy protein isolate untuk membentuk edible film tidak memberikan pengaruh nyata pada kekuatan tarik (tensile strenght, dan kemuluran (elongation, namun berpengaruh nyata pada laju transmisi uap air (Water Vapour Transmision Rate. Kombinasi 95:5 protein gelatin kulit kaki ayam dan soy protein isolate menghasilkan edible film yang terbaik. (Kata kunci: Edible film, Gelatin kaki ayam, Soy protein isolate

  13. PENGGUNAAN MIKORIZA DAN PUPUK NPK DALAM PEMBIBITAN JABON MERAH (Anthocephalus macrophyllus (Roxb. Havil

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    NFN Danu

    2016-09-01

    Full Text Available Pembangunan hutan tanaman jabon merah (Anthocephalus macrophyllus (Roxb. Havil memerlukan bibit yang bermutu. Bibit berkualitas dapat dihasilkan dengan mengoptimalkan proses fisiologis tanaman seperti fotosintesa dan metabolisme yang dipengaruhi oleh faktor luar seperti sinar matahari, air, hara mineral dan kondisi tempat tumbuh. Penambahan inokulan mikoriza dan pupuk sebagai penyedia hara dapat memacu pertumbuhan dan meningkatkan daya hidup bibit. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh penggunaan mikoriza dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan bibit jabon merah. Penambahan mikoriza 5 gram dan NPK 0,5 - 1,0 gram/polybag media tanah solum B dapat menghasilkan bibit jabon merah dengan tinggi 28,33 – 30,33 cm dan diameter 5,42 – 6,70 mm pada umur 5 bulan.

  14. Relationships between algae taxa and physico-chemical ...

    African Journals Online (AJOL)

    A study of algae flora was performed on 16 samples collected in different aquatic environments in Bamenda (Cameroon) in order to evidence the relationships between algae assemblages and physico-chemical parameters of the milieu. A total of 22 algae species were identified, the most represented class being ...

  15. Composition of phytoplankton algae in Gubi Reservoir, Bauchi ...

    African Journals Online (AJOL)

    Studies on the distribution, abundance and taxonomic composition of phytoplankton algae in Gubi reservoir were carried out for 12 months (from January to December 1995). Of the 26 algal taxa identified, 14 taxa belonged to the diatoms, 8 taxa were green algae while 4 taxa belonged to the blue-green algae. Higher cell ...

  16. Can the primary algae production be measured precisely?

    International Nuclear Information System (INIS)

    Olesen, M.; Lundsgaard, C.

    1996-01-01

    Algae production in seawater is extremely important as a basic link in marine food chains. Evaluation of the algae quantity is based on 14CO 2 tracer techniques while natural circulation and light absorption in seawater is taken insufficiently into account. Algae production can vary by 500% in similar nourishment conditions, but varying water mixing conditions. (EG)

  17. Inventory of North-West European algae initiatives

    NARCIS (Netherlands)

    Spruijt, J.

    2015-01-01

    In 2012 an inventory of North-West European (NWE) algae initiatives was carried out to get an impression of the market and research activities on algae production and refinery, especially for bioenergy purposes. A questionnaire was developed that would provide the EnAlgae project with information on

  18. How to Identify and Control Water Weeds and Algae.

    Science.gov (United States)

    Applied Biochemists, Inc., Mequon, WI.

    Included in this guide to water management are general descriptions of algae, toxic algae, weed problems in lakes, ponds, and canals, and general discussions of mechanical, biological and chemical control methods. In addition, pictures, descriptions, and recommended control methods are given for algae, 6 types of floating weeds, 18 types of…

  19. New methodologies for integrating algae with CO2 capture

    NARCIS (Netherlands)

    Hernandez Mireles, I.; Stel, R.W. van der; Goetheer, E.L.V.

    2014-01-01

    It is generally recognized, that algae could be an interesting option for reducing CO2 emissions. Based on light and CO2, algae can be used for the production various economically interesting products. Current algae cultivation techniques, however, still present a number of limitations. Efficient

  20. Agricultural importance of algae | Abdel-Raouf | African Journal of ...

    African Journals Online (AJOL)

    Algae are a large and diverse group of microorganisms that can carry out photosynthesis since they capture energy from sunlight. Algae play an important role in agriculture where they are used as biofertilizer and soil stabilizers. Algae, particularly the seaweeds, are used as fertilizers, resulting in less nitrogen and ...

  1. The algae of Gaborone wastewater stabilization ponds: Implications ...

    African Journals Online (AJOL)

    The types of algae found in the wastewater stabilization ponds in Gaborone were studied. Being the base of the food chain in any aquatic habitat, algae contribute significantly to the functioning and value of the ponds. The (liversit)' and abundance of the algae in the two pond systems at Broadhurst and Phakalane were ...

  2. Analisa Biomassa dan Kandungan Logam Berat Pada Beras Merah Hasil Pemupukan Kompos Sludge dari Pabrik Kertas dan Pulp

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Thamzil Las

    2017-03-01

    Full Text Available Pabrik kertas dan pulp menghasilkan limbah cair dan limbah padat (sludge. Limbah cair dikelolamelalui instalansi pengelolaan air limbah (IPAL, sedangkan sludge hanya di timbun dalam tanah.Upaya yang dilakukan untuk mengelola sludge adalah diubah menjadi pupuk melaluipengomposan, karena sludge mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Penelitian inibertujuan menguji kandungan logam berat yang terdapat pada sampel padi merah hasil pemupukankompos sludge yang diperoleh dari penelitian sebelumnya. Dari tanaman padi merah terlebihdahulu dilakukan uji biomassa, selanjutnya dilakukan pengujian kadar protein dan kadar logam,terhadap beras merah. Analisis kandungan protein dengan metode Kjedahl dan pengukurankonsentrasi logam dan logam berat dengan metode spektrofotometer serapan atom. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa padi merah hasil pemupukan kompos sludge memiliki biomassa yang lebihtinggi dari pada kontrol (yang tidak dilakukan pemupukan kompos sludge. Peningkatan optimalbiomassa dan kadar protein pada pemupukan kompos sludge 3 kg/m2 yaitu 78 gram dan 11,1%.Biomassa tanaman padi meningkat sebanyak 20 gram (dari 58 gram menjadi 78 gram ketika padapemupukan kompos sludge 0 kg/m2 menjadi 3 kg/m2. Kandungan protein beras merah meningkatsebanyak 2,8% (dari 8,3% menjadi 11% ketika pada pemupukan kompos sludge 0 kg/m2 menjadi3 kg/m2. Hasil analisis logam pada beras merah menunjukkan penambahan dosis kompos sludgetidak menaikkan kandungan logam (α = 0,05. Kandungan logam Cu, Zn, Mn dan Fe berturut-turut2,41 ppm; 7,77 ppm; 32,7 ppm dan 37,71 ppm. Kandungan logam Cu dan Zn yang teranalisismasih aman untuk beras. Logam berat seperti Pb, Cd dan Cr tidak terdeteksi walaupun pada sampelyang pemupukannya 4,5 kg/m2.

  3. Developing a source-receptor methodology for the characterization of VOC sources in ambient air; Developpement d'une methodologie sources-recepteurs pour la caracterisation des sources des COV dans l'air ambiant

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Borbon, A. [Paris-12 Univ., Lab. Interuniversitaire des Systemes Atmospheriques (LISA), Faculte des Sciences et Technologies, 94 - Creteil (France); Badol, C.; Locoge, N. [Ecole des Mines de Douai, Lab. Central de Surveillance de la Qualite de l' Air, 59 - Douai (France)

    2005-10-15

    Since 2001, in France, a continuous monitoring of about thirty ozone precursor non-methane hydrocarbons (NMHC) is led in some urban areas. The automated system for NMHC monitoring consists of sub-ambient preconcentration on a cooled multi-sorbent trap followed by thermal desorption and bidimensional Gas Chromatography/Flame Ionisation Detection analysis.The great number of data collected and their exploitation should provide a qualitative and quantitative assessment of hydrocarbon sources. This should help in the definition of relevant strategies of emission regulation as stated by the European Directive relative to ozone in ambient air (2002/3/EC). The purpose of this work is to present the bases and the contributions of an original methodology known as source-receptor in the characterization of NMHC sources. It is a statistical and diagnostic approach, adaptable and transposable in all urban sites, which integrates the spatial and temporal dynamics of the emissions. The methods for source identification combine descriptive or more complex complementary approaches: 1) univariate approach through the analysis of NMHC time series and concentration roses, 2) bivariate approach through a Graphical Ratio Analysis and a characterization of scatterplot distributions of hydrocarbon pairs, 3) multivariate approach with Principal Component Analyses on various time basis. A linear regression model is finally developed to estimate the spatial and temporal source contributions. Apart from vehicle exhaust emissions, sources of interest are: combustion and fossil fuel-related activities, petrol and/or solvent evaporation, the double anthropogenic and biogenic origin of isoprene and other industrial activities depending on local parameters. (author)

  4. PENGARUH PERSENTASE PELEPAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jack DAN KULIT DURIAN (Durio Zibethinus Murr TERHADAP SIFAT FISIKA DAN MEKANIKA PAPAN SEMEN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Violet Burhanuddin

    2016-08-01

    Full Text Available Penelitian sifat fisika meliputi kerapatan, kadar air, penyerapan air dan pengembangan tebal dan sifat mekanika meliputi keteguhan lentur (MoE keteguhan patah (MoR serta  pengurangan tebal akibat tekanan. Rancangan Percobaan Yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL dengan 3 perlakuan yaitu 100% pelepah kelapa sawit; 100% kulit durian dan  50% pelepah kelapa sawit : 50% kulit durian dengan 3 kali ulangan. Standar yang digunakan untuk perbandingan  yaitu SNI–03– 2104-1991-A. Hasil penelitian adalah sebagai berikut : Sifat Fisika yaitu kerapatan rata-rata antara 100% Pelepah Kelapa Sawit, 100% Kulit Durian dan 50% Pelepah kelapa sawit : 50% kulit Durian berturut-turut adalah 0,90 gr/ cm3, 0,91 gr/ cm3, 0,81 gr/ cm3, Kadar air rata-rata antara 100% Pelepah Kelapa Sawit, 100% Kulit Durian dan 50% Pelepah kelapa sawit : 50% kulit Durian berturut-turut adalah 7,37%, 6,59%, 7,08%, Penyerapan air rata-rata antara 100% Pelepah Kelapa Sawit, 100% Kulit Durian dan 50% Pelepah kelapa sawit : 50% kulit Durian berturut-turut adalah 49,51%, 44,99%, 50,11%, Pengembangan tebal rata-rata antara 100% Pelepah Kelapa Sawit, 100% Kulit Durian dan 50% Pelepah kelapa sawit : 50% kulit Durian berturut-turut adalah 1,67%, 2,04%, 3,44%, Kerapatan, kadar air, penyerapan air dan pengembangan tebal tidak berpengaruh nyata. Sifat Mekanika yaitu Keteguhan lentur (MoE rata-rata antara 100% Pelepah Kelapa Sawit, 100% Kulit Durian dan 50% Pelepah kelapa sawit : 50% kulit Durian berturut-turut adalah 7.350,68 kg/cm2, 3.590,43 kg/cm2, Keteguhan patah (MoR rata-rata antara 100% Pelepah Kelapa Sawit, 100% Kulit Durian dan 50% Pelepah kelapa sawit : 50% kulit Durian berturut-turut adalah 11,82kg/cm2, 8,66kg/cm2, 4,53 kg/cm2Pengurangan tebal akibat tekanan rata-rata antara 100% Pelepah Kelapa Sawit, 100% Kulit Durian dan 50% Pelepah kelapa sawit : 50% kulit Durian berturut-turut adalah 8,92 %, 10,01 %, 9,92 %, Keteguhan patah (MoR berpengaruh nyata sedangkan keteguhan

  5. Pengaruh Ukuran Partikel Tempurung Sawit Dan Tekanan Kempa Terhadap Kualitas Biobriket

    OpenAIRE

    Purwanto, Djoko

    2015-01-01

    Industri kelapa sawit dalam kapasitas 100 ribu ton bahan baku per tahun akan menghasilkan sekitar 6 ribu ton limbah tempurung kelapa sawit. Limbah padat ini pemanfaatannya belum optimal yaitu sebagai bahan bakar boiler dan pengeras jalan disekitar pabrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran partikel tempurung sawit dan tekanan kempa terhadap kadar air, kadar abu, zat terbang, kadar karbon, kalori, kerapatan dan kuat tekan. Prosedur penelitian meliputi: pengeringan seca...

  6. Research and development for algae-based technologies in Korea: a review of algae biofuel production.

    Science.gov (United States)

    Hong, Ji Won; Jo, Seung-Woo; Yoon, Ho-Sung

    2015-03-01

    This review covers recent research and development (R&D) activities in the field of algae-based biofuels in Korea. As South Korea's energy policy paradigm has focused on the development of green energies, the government has funded several algae biofuel R&D consortia and pilot projects. Three major programs have been launched since 2009, and significant efforts are now being made to ensure a sustainable supply of algae-based biofuels. If these R&D projects are executed as planned for the next 10 years, they will enable us to overcome many technical barriers in algae biofuel technologies and help Korea to become one of the leading countries in green energy by 2020.

  7. Keragaman dan Peran Biologi Arthrophoda pada Sawah Irigasi dan Tegalan

    OpenAIRE

    Suwarno, Suwarno

    2016-01-01

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman arthropoda dan peran biologinya pada tanah sawah irigasi dan tegalan. Penelitian ini dilaksanakan di daerah persawahan di daerah Sragen pada bulan Maret – Mei 2016. Metode Penelitian dengan menggunakan pitfall trap atau perangkap jebakan yang diletakkan area persawahan dan tegalan. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan purposive sampling. Sampel arthropoda yang diperoleh diidentifikasi dan dianalisis di Laboratorium pendidikan Biologi. ...

  8. Photoprotection strategies of the alga Nannochloropsis gaditana

    NARCIS (Netherlands)

    Chukhutsina, Volha U.; Fristedt, Rikard; Morosinotto, Tomas; Croce, Roberta

    2017-01-01

    Nannochloropsis spp. are algae with high potential for biotechnological applications due to their capacity to accumulate lipids. However, little is known about their photosynthetic apparatus and acclimation/photoprotective strategies. In this work, we studied the mechanisms of non-photochemical

  9. Selenium accumulation and metabolism in algae.

    Science.gov (United States)

    Schiavon, Michela; Ertani, Andrea; Parrasia, Sofia; Vecchia, Francesca Dalla

    2017-08-01

    Selenium (Se) is an intriguing element because it is metabolically required by a variety of organisms, but it may induce toxicity at high doses. Algae primarily absorb selenium in the form of selenate or selenite using mechanisms similar to those reported in plants. However, while Se is needed by several species of microalgae, the essentiality of this element for plants has not been established yet. The study of Se uptake and accumulation strategies in micro- and macro-algae is of pivotal importance, as they represent potential vectors for Se movement in aquatic environments and Se at high levels may affect their growth causing a reduction in primary production. Some microalgae exhibit the capacity of efficiently converting Se to less harmful volatile compounds as a strategy to cope with Se toxicity. Therefore, they play a crucial role in Se-cycling through the ecosystem. On the other side, micro- or macro-algae enriched in Se may be used in Se biofortification programs aimed to improve Se content in human diet via supplementation of valuable food. Indeed, some organic forms of selenium (selenomethionine and methylselenocysteine) are known to act as anticarcinogenic compounds and exert a broad spectrum of beneficial effects in humans and other mammals. Here, we want to give an overview of the developments in the current understanding of Se uptake, accumulation and metabolism in algae, discussing potential ecotoxicological implications and nutritional aspects. Copyright © 2017 Elsevier B.V. All rights reserved.

  10. Isolation of glycoproteins from brown algae.

    OpenAIRE

    Surendraraj, Alagarsamy; Farvin Koduvayur Habeebullah , Sabeena; Jacobsen, Charlotte

    2015-01-01

    The present invention relates to a novel process for the isolation of unique anti-oxidative glycoproteins from the pH precipitated fractions of enzymatic extracts of brown algae. Two brown seaweeds viz, Fucus serratus and Fucus vesiculosus were hydrolysed by using 3 enzymes viz, Alcalase, Viscozyme and Termamyl and the glycoproteins were isolated from these enzyme extracts.

  11. Fucoidans — sulfated polysaccharides of brown algae

    Science.gov (United States)

    Usov, Anatolii I.; Bilan, M. I.

    2009-08-01

    The methods of isolation of fucoidans and determination of their chemical structures are reviewed. The fucoidans represent sulfated polysaccharides of brown algae, the composition of which varies from simple fucan sulfates to complex heteropolysaccharides. The currently known structures of such biopolymers are presented. A variety of the biological activities of fucoidans is briefly summarised.

  12. The ice nucleation activity of extremophilic algae

    Czech Academy of Sciences Publication Activity Database

    Kvíderová, Jana; Hájek, J.; Worland, M. R.

    2013-01-01

    Roč. 34, č. 2 (2013), s. 137-148 ISSN 0143-2044 R&D Projects: GA AV ČR KJB601630808; GA AV ČR KJB600050708 Institutional support: RVO:67985939 Keywords : Ice nucleation * snow algae * lichen photobionts Subject RIV: EF - Botanics Impact factor: 0.640, year: 2013

  13. Washington State University Algae Biofuels Research

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    chen, Shulin [Washington State Univ., Pullman, WA (United States). Dept. of Biological Systems Engineering; McCormick, Margaret [Targeted Growth, Inc., Seattle, WA (United States); Sutterlin, Rusty [Inventure Renewables, Inc., Gig Harbor, WA (United States)

    2012-12-29

    The goal of this project was to advance algal technologies for the production of biofuels and biochemicals by establishing the Washington State Algae Alliance, a collaboration partnership among two private companies (Targeted Growth, Inc. (TGI), Inventure Chemicals (Inventure) Inc (now Inventure Renewables Inc) and Washington State University (WSU). This project included three major components. The first one was strain development at TGI by genetically engineering cyanobacteria to yield high levels of lipid and other specialty chemicals. The second component was developing an algal culture system at WSU to produce algal biomass as biofuel feedstock year-round in the northern states of the United States. This system included two cultivation modes, the first one was a phototrophic process and the second a heterotrophic process. The phototrophic process would be used for algae production in open ponds during warm seasons; the heterotrophic process would be used in cold seasons so that year-round production of algal lipid would be possible. In warm seasons the heterotrophic process would also produce algal seeds to be used in the phototrophic culture process. Selected strains of green algae and cyanobacteria developed by TGI were tested in the system. The third component was downstream algal biomass processing by Inventure that included efficiently harvesting the usable fuel fractions from the algae mass and effectively isolating and separating the usable components into specific fractions, and converting isolated fractions into green chemicals.

  14. Isolation of glycoproteins from brown algae

    DEFF Research Database (Denmark)

    2015-01-01

    The present invention relates to a novel process for the isolation of unique anti-oxidative glycoproteins from the pH precipitated fractions of enzymatic extracts of brown algae. Two brown seaweeds viz, Fucus serratus and Fucus vesiculosus were hydrolysed by using 3 enzymes viz, Alcalase, Viscozyme...

  15. Bromophenols in Marine Algae and Their Bioactivities

    DEFF Research Database (Denmark)

    Ming, Liu; Hansen, Poul Erik; Lin, Xiukun

    2011-01-01

    Marine algae contain various bromophenols that have been shown to possess a variety of biological activities, including antioxidant, antimicrobial, anticancer, anti-diabetic, and anti-thrombotic effects. Here, we briefly review the recent progress of these marine algal biomaterials, with respect...

  16. Taxonomic Challenges and Distribution of Gracilarioid Algae ...

    African Journals Online (AJOL)

    This paper reviews the taxonomical literature of the gracilarioid algae from Tanzania, and provides information about their ecology and distribution based on an intensive regime of local collection. Its aim was to provide names, even if on a preliminary basis, for local gracilarioid taxa. Our revision shows that species ...

  17. Research for Developing Renewable Biofuels from Algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Black, Paul N. [Univ. of Nebraska, Lincoln, NE (United States)

    2012-12-15

    Task A. Expansion of knowledge related to lipid production and secretion in algae A.1 Lipid biosynthesis in target algal species; Systems biology approaches are being used in combination with recent advances in Chlorella and Chlamydomonas genomics to address lipid accumulation in response to defined nutrient regimes. The UNL Algal Group continues screening additional species of Chlorella and other naturally occurring algae for those with optimal triglyceride production; Of the strains examined by the DOE's Aquatic Species Program, green algae, several species of Chlorella represent the largest group from which oleaginous candidates have been identified; A.1.1. Lipid profiling; Neutral lipid accumulation is routinely monitored by Nile red and BODIPY staining using high throughput strategies to screen for naturally occurring algae that accumulate triglyceride. These strategies complement those using spectrofluorometry to quantify lipid accumulation; Neutral lipid accumulation is routinely monitored by high performance thin-layer chromatography (HPTLC) and high performance liquid chromatography (HPLC) of lipid extracts in conjunction with; Carbon portioning experiments have been completed and the data currently are being analyzed and prepared for publication; Methods in the Black lab were developed to identify and quantify triacylglycerol (TAG), major membrane lipids [diacylglycerol trimethylhomoserine, phosphatidylethanolamine and chloroplast glycolipids], biosynthetic intermediates such as diacylglycerol, phosphatidic acid and lysophospholipids and different species of acyl-coenzyme A (acyl CoA).

  18. Usos industriales de las algas diatomeas.

    OpenAIRE

    Illana Esteban, Carlos

    2007-01-01

    Las diatomeas son algas microscópicas que habitan tanto en aguas dulces como marinas. Aparte de su destacado papel en la cadena trófica de los ecosistemas acuáticos, con el tiempo forman depósitos a los que el hombre ha encontrado abundantes aplicaciones prácticas.

  19. The Biology of blue-green algae

    National Research Council Canada - National Science Library

    Carr, Nicholas G; Whitton, B. A

    1973-01-01

    .... This book, extensively illustrated and thoroughly referenced, will provide the source material for students, and experienced as well as new research workers should find it of great value. A series of short appendices summarize details of culture collections, media and some specialized aspects of growing blue-green algae.

  20. Spirulina: The Alga That Can End Malnutrition.

    Science.gov (United States)

    Fox, Ripley D.

    1985-01-01

    One approach to eliminating malnutrition worldwide is to grow spirulina in recycled village wastes. Spirulina is a blue-green alga and a natural concentrated food. Spirulina can give poor villages a nutritional food supplement they can grow themselves and can reduce infectious disease at the same time. (Author/RM)

  1. Sterol chemotaxonomy of marine pelagophyte algae.

    Science.gov (United States)

    Giner, José-Luis; Zhao, Hui; Boyer, Gregory L; Satchwell, Michael F; Andersen, Robert A

    2009-07-01

    Several marine algae of the class Pelagophyceae produce the unusual marine sterol 24-propylidenecholesterol, mainly as the (24E)-isomer. The (24Z)-isomer had previously been considered as a specific biomarker for Aureococcus anophagefferens, the 'brown tide' alga of the Northeast coast of the USA. To test this hypothesis and to generate chemotaxonomic information, the sterol compositions of 42 strains of pelagophyte algae including 17 strains of Aureococcus anophagefferens were determined by GC analysis. A more comprehensive sterol analysis by HPLC and (1)H-NMR was obtained for 17 selected pelagophyte strains. All strains analyzed contained 24-propylidenecholesterol. In all strains belonging to the order Sarcinochrysidales, this sterol was found only as the (E)-isomer, while all strains in the order Pelagomonadales contained the (Z)-isomer, either alone or together with the (E)-isomer. The occurrence of Delta(22) and 24alpha-sterols was limited to the Sarcinochrysidales. The first occurrence of Delta(22)-24-propylcholesterol in an alga, CCMP 1410, was reported. Traces of the rare sterol 26,26-dimethyl-24-methylenecholesterol were detected in Aureococcus anophagefferens, and the (25R)-configuration was proposed, based on biosynthetic considerations. Traces of a novel sterol, 24-propylidenecholesta-5,25-dien-3beta-ol, were detected in several species.

  2. DISKURSUS BAHAN BAKAR AIR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Poempida Hidayatulloh

    2015-06-01

    Full Text Available Kebutuhan akan energi bagi manusia adalah suatu keniscayaan. Oleh karena itu pencarian manusia dalam menemukan suatu energi yang berkelanjutan (sustainable adalah suatu proses alamiah yang terjadi secara terus-menerus. Keterbatasan manusia dalam mendapatkan energi selalu berkutat pada paradigma keberadaan hukum kekekalan energi yang menjadi basis pemikiran fisika klasik. Air adalah suatu senyawa yang senantiasa ada di sekitar kita dan tersedia dalam berbagai wujud. Senyawa Air (H2O terdiri dari atom hidrogen (H2 dan oksigen (O2 yang keduanya dapat dibakar dan membantu proses pembakaran. Di mana dalam pembakaran akan tercipta energi yang dapat dimanfaatkan untuk menjadi energi gerak seperti dalam mesin bakar (combustion engine. Proses penguraian senyawa air menjadi hidrogen dan Oksigen dapat dilakukan melalui proses elektrolisa. Proses elektrolisa secara langsung akan membutuhkan energi listrik dalam jumlah yang tidak sedikit. Namun proses elektrolisa yang tepat dapat menghasilkan Brown Gas (HHO yang mempunyai daya bakar yang cukup besar. Tulisan ini membahas dilema pemakaian Brown Gas dalam konteks energi yang dihasilkan dengan perbandingan energi yang diperlukan untuk menghasilkannya. Komparasi energi ini ditujukan untuk menunjukkan apakah kemudian Brown Gas dapat lebih lanjut digunakan untuk menjadi energi penggerak mesin yang ekonomis. Pembahasan tentang terjadinya pelanggaran terhadap hukum kekekalan energi berbasis fisika klasik secara filosofis pun termaktub.

  3. Étude numérique du couplage thermohydromécanique dans les roches. Influence des termes de couplage non linéaires pour un matériau isotrope linéaire Numerical Analysis of a Thermohydromechanical Coupling in Rocks. Influence of Nonlinear Coupling Terms on a Linear Isotropic Material

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Henry J. P.

    2006-11-01

    Full Text Available Nous présentons dans ce travail une étude numérique basée sur la méthode des éléments finis, du comportement thermoporoélastique de certaines roches. Les trois effets de couplage : déformabilité de la roche, pression interstitielle et température sont pris en compte simultanément dans la résolution numérique. Une application simple sur un puits pétrolier en conditions axisymétriques est finalement présentée afin de dégager en particulier l'influence du terme de couplage convectif non linéaire, obtenu dans l'équation de diffusivité thermique, sur l'évolution de la température et de la pression interstitielle autour du forage. This article describes a finite-element method for solving the problem of nonlinear coupling between interstitial pressure and temperature during stress on a poroelastic rock. Such coupling phenomena occur during massive injection of cold water into a petroleum borehole for example. The implementation of such a numerical solution, used here with the assumption of small deformations, first requires a review of the behavior law of the material (Eq. 2. 2 and of the equations for hydraulic diffusivity (Eq. 2. 3 and thermal diffusivity (Eq. 2. 4. This last equation (2. 4 is the one containing the nonlinear coupling terms in Grad P Grad P and Grad T. Grad P. During simulation of flow at a high flow rate, these products can no longer be neglected as shown by the results in Fig. 2. The variational formulation of the problem is then determined in relation to the three equations for equilibrium, thermal diffusivity and hydraulic diffusivity. After geometric and temporal discretizations, this formulation leads to a finite-element calculating scheme resulting in the simultaneous solving of all three equations. This solution, based on the inversion of the system of equations (2. 15, requires the updating of the rigidity matrix at each time step to take nonlinear coupling into consideration. Calculations with an

  4. Rapid sampling of BTEX in air by SPME in the city of Nice and at the Nice-Cote d'Azur airport; Echantillonnage rapide des BTEX dans l'air par SPME dans la ville de Nice et a l'aeroport Nice-Cote d'Azur

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Tumbiolo, S.; Gal, J.F.; Maria, P.Ch. [Nice Univ. Sophia Antipolis, Lab. de Radiochimie, Sciences Analytique et Environnement, Faculte des Sciences, 06 (France); Laborde, P.; Teton, S. [Qualitair, Nice Leader, 06 - Nice (France)

    2006-04-15

    This article presents the results of a tentative application of Solid Phase Micro Extraction (SPME) to the analysis of BTEX (benzene, toluene, ethyl-benzene and xylenes) at the {mu}g/m{sup 3} level in indoor and outdoor air. The salient features of the method validation are reported. Sampling by QUALITAIR using Radiello passive samplers, was carried out from 2001 to 2004 in the city of Nice and its airport. Urban traffic impact was proved, but a link between BTX concentrations and the variations of airport activities was not clearly established. During the same period, several samplings were performed using SPME. Taking into account the short (30 minutes) sampling time, rapid changes of BTEX concentrations were evidenced, as for example the start of airplane engines. As field studies have shown, SPME technique appears as a method of choice for fast qualitative analysis and quantitative determination of Volatile Organic Compounds (VOC). The small dimensions of the SPME sampling system and the short sampling time let envisage its utilisation for the rapid diagnostic and the monitoring of indoor air quality. (author)

  5. Sulfated polysaccharides as bioactive agents from marine algae.

    Science.gov (United States)

    Ngo, Dai-Hung; Kim, Se-Kwon

    2013-11-01

    Recently, much attention has been paid by consumers toward natural bioactive compounds as functional ingredients in nutraceuticals. Marine algae are considered as valuable sources of structurally diverse bioactive compounds. Marine algae are rich in sulfated polysaccharides (SPs) such as carrageenans in red algae, fucoidans in brown algae and ulvans in green algae. These SPs exhibit many health beneficial nutraceutical effects such as antioxidant, anti-allergic, anti-human immunodeficiency virus, anticancer and anticoagulant activities. Therefore, marine algae derived SPs have great potential to be further developed as medicinal food products or nutraceuticals in the food industry. This contribution presents an overview of nutraceutical effects and potential health benefits of SPs derived from marine algae. Copyright © 2013 Elsevier B.V. All rights reserved.

  6. Pengaruh Asam Kuat, Pengamplasan, Dan Lama Perendaman Terhadap Laju Imbibisi Dan Perkecambahan Biji Aren (Arenga pinnata

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Marina Silalahi

    2017-08-01

    Full Text Available Abstrak Biji Arenga pinnata memiliki kulit biji  keras dan berlignin sehingga menghambat masuknya air ke dalam biji. Lapisan lignin pada kulit biji dapat didegradasi melalui reaksi kimia maupun perlakuan fisik. Perendaman biji aren dengan asam kuat (HNO3, H2SO4, dan HCl dan pengamplasan akan mempengaruhi laju imbibisi air melewati kulit biji. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah konsentrasi asam kuat (HNO3, H2SO4, dan HCl, luas pengamplasan, air panas, lama perendaman, sedangkan variabel terikat laju imbibisi pada biji aren. Konsentrasi asam kuat yang digunakan adalah 1M dan 0,5M untuk masing-masing HNO3, H2SO4, dan HCl. Pengamplasan dilakukan di bagian pangkal biji, dan luas pengamplasan bervariasi (tanpa amplas, amplas ½ bagian, dan amplas keseluruhan. Setiap perlakuan direndam selama 18, 24 dan 36 jam. Biji aren yang diberi perlakuan fisik maupun kimia mengalami pengelupasan kulit biji. Laju imbibisi biji pada perendaman 24 jam lebih tinggi dibandingkan dengan lama perendaman 18 maupun 36 jam. Laju imbibisi tertinggi terjadi pada waktu perendaman 1M HCl dan amplas penuh dengan lama perendaman 24 jam sebesar 0,038 ± 0,002 mL/jam dan 0,038 ± 0,007 mL/jam . Biji aren yang diberi perlakuan fisik dan kimia mulai berkecambah 7 minggu setelah tanam dengan daya kecambah tertinggi pada pemberian HNO3 dan lama perendaman 18 jam.Abstract Arenga pinnata seed has a hard seed coat and lignin that inhibit the absorption of water into the seed. The lignin in the seed coat can be degraded by chemical or physical treatments. Soaking of the palm seeds into strong acids (HNO3, H2SO4, or HCl and sanding may affect the imbibition rate. The research was conducted to investigate the effect of a strong acid, sanding, and soaking time to the imbibition rate of A. pinnata seed. The independent variables in this research are concentration of the strong acids HNO3, H2SO4, and HCl; sanding, and soaking time, while the dependent variable is the rate of imbibition

  7. Pengaruh Konsentrasi Subletal Deltametrin terhadap Nutrisi dan Pertumbuhan Tanaman Padi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yuni Ratna

    2011-12-01

    Full Text Available Increasing the reproductive capacity through increasing plant growth and nutrition is one plausible mechanism of resurgence. This research was intended to determine the effect of deltamethrin on plant vigor and nutrition contents. The experiment was carried out outdoor. The treatments tested were deltamethrin (50 ppm, buprofezin (100 ppm, and control (water. Insecticide applications were applied one time (at age 26 d or 50 d and two times (at age 26 and 50 d. Deltamethrin applications as many as two times did not increase the total chlorophyll and the photosynthesis rate, nutrients (total nitrogen, total protein, total sugar, total reducing sugar at aged 26 d, and sucrose, growth (plant height and number of tillers, and yield (number of panicles. However, application of deltamethrin at aged 26 d increased the amount of asparagine. Asparagine is known to be associated with the feeding rate of Nilaparvata lugens stimulation. Therefore, increasing level of asparagine after application of deltamethrin at sublethal concentration was considered as one of the factors that might be involved in the mechanism of N. lugens resurgence. Salah satu mekanisme resurjensi adalah peningkatan reproduksi hama melalui peningkatan nutrisi dan pertumbuhan tanaman. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat pengaruh deltametrin terhadap kandungan nutrisi dan vigor tanaman. Pengujian dilakukan di lapangan. Perlakuan yang diuji adalah deltametrin 50 ppm, buprofezin 100 ppm, dan kontrol (air. Aplikasi insektisida dilakukan satu kali masing-masing pada umur tanaman 26 dan 50 hst dan dua kali pada umur 26 dan 50 hst. Aplikasi deltametrin sebanyak dua kali tidak meningkatkan total klorofil dan laju fotosintesis, nutrisi (total nitrogen, total protein, total gula, total gula reduksi pada 26 hst, dan sukrosa kecuali asparagin, pertumbuhan (tinggi tanaman dan jumlah anakan, dan hasil (jumlah malai tanaman. Oleh karena asparagin berperan sebagai pemacu laju makan Nilaparvata

  8. SISTEM PENGOLAHAN AIR MINUM SEDERHANA (PORTABLE WATER TREATMENT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Isna Syauqiah

    2017-04-01

    Full Text Available Abstrak- Air merupakan kebutuhan yang paling utama bagi makhluk hidup. Belakangan ini timbul masalah yang sangat krusial yaitu sulit untuk mendapatkan air bersih dan layak untuk dikonsumsi. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui keefektifan alat dalam mengolah air sungai menjadi air minum dan mengetahui waktu optimum dalam pengolahan air. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap. Pertama yaitu perancangan portable water treatment itu sendiri yaitu dengan membuat kolom-kolom aerasi, kolom filtrasi, kolom adsorpsi, dan kolom desinfeksi yang mana alat-alat tersebut dibuat bongkar pasang. Kedua, yaitu pengoptimasian alat-alat yang bertujuan untuk menentukan waktu dan volume optimum masing-masing alat. Sehingga akan didapatkan waktu dan volume optimum untuk alat secara keseluruhan. Ketiga, hasil analisa air sungai Martapura. Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa desain alat ini kurang efektif dengan kondisi kualitas sungai air Martapura untuk diolah menjadi air minum yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat sekitar karena kualitas air minum yang dihasilkan belum mencapai standar baku mutu air minum yang ditetapkan. Waktu optimum untuk alat ini adalah 135 s dengan lama desinfeksi selama 2 menit dan volume optimum air masuk adalah sebesar 2 L

  9. ANALISIS KANDUNGAN GIZI DAN LOGAM BERAT IKAN BELANAK (Mugil sp.DI SEKITARDI PERAIRAN SOCAH

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    H Hafiludin

    2012-10-01

    Full Text Available Meningkatnya aktivitas manusia di sekitar perairan Kecamatan Socah seperti limbah industri dan rumah tangga dari Bangkalan, tumpahan bahan bakar kapal yang langsung terbuang ke laut, tumpukan sampah yang sengaja dibuang ke laut dan aktivitas lewatnya kapal laut memungkinkan berpengaruh terhadap biota perairan.Ikan belanak sudah banyak dan ditangkap di perairan Socah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan gizi dan kadungan logam berat ikan belanak (Mugil sp. yang berada di sekitar perairan Socah.Penelitian dimulai dengan pengambilan dan preparasi sampel, pengujian kandungan proksimat dan logam berat dengan perlakuan ukuran ikan (12 cm dan 25 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen ikan belanak ukuran 12 cm sebesar 37,79% dan 38,87% untuk ikan belanak ukuran 25%. Kandungan kadar air berkisar 75,96-76,70%, kandungan protein berkisar 17,64-19,57%, kandungan lemak berkisar 2,83-3,33%, asam lemak bebas berkisar 1,43-1,47%, kandungan abu berkisar 1,14-2,94% dan kandungan karbohidrat berkisar 0,29-0,49%. Tidak terindikasi adanya logam berat Pb dan Hg pada perairan Socah dan pada daging ikan belanak.Kata kunci : belanak(Mugil sp, gizi, logam berat, perairan Socah

  10. BIOAVAILABILITAS FORTIFIKAN, DAYA CERNA PROTEIN, SERTA KONTRIBUSI GIZI BISKUIT YANG DITAMBAH TEPUNG IKAN GABUS (Ophiocephalus striatus DAN DIFORTIFIKASI SENG DAN BESI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dewi Kartika Sari

    2015-02-01

    dilakukan analisis bioavailabilitas Zn dan Fe. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa bioavailabilitas Zn dan Fe tidak berbeda nyata pada berbagai taraf fortifikasi (p>0.05. Biskuit hasil fortifikasi Zn dan Fe sebesar 50% AKG memiliki bioavailabilitas tertinggi, yaitu masing-masing 76,32% dan 41,80%. Formula biskuit ini dipilih untuk dianalisis lebih lanjut, yang meliputi analisis sifat fisik, kimia, dan daya cerna protein. Hasil analisis menunjukkan bahwa biskuit terpilih tersebut lebih renyah daripada biskuit komersial. Dalam 100 g biskuit tersebut terkandung air, abu, protein, lemak, dan karbohidrat berturut-turut sebesar 2,73 g; 2,08 g; 13,34 g; 24,53 g; 57,32 g; serta energi sebesar 503 kkal. Kadar Fe dan Zn biskuit terpilih tersebut adalah 11,7 mg dan 8,83 mg/100 g; dengan daya cerna protein sebesar 78,45%. Biskuit berbasis tepung ikan gabus 15% yang difortifikasi Zn dan Fe sebesar 50% AKG memenuhi standar kualitas biskuit SNI 01-2973-1992. Kontribusi biskuit terpilih terhadap AKG energi, protein, Fe dan Zn berturut-turut adalah 19,48%; 20,51%; 74,44%; 54.44%. Kata kunci: Bioavailabilitas, biskuit ikan gabus, daya cerna protein, fortifikasi

  11. Biofuels from algae for sustainable development

    International Nuclear Information System (INIS)

    Demirbas, M. Fatih

    2011-01-01

    Microalgae are photosynthetic microorganisms that can produce lipids, proteins and carbohydrates in large amounts over short periods of time. These products can be processed into both biofuels and useful chemicals. Two algae samples (Cladophora fracta and Chlorella protothecoid) were studied for biofuel production. Microalgae appear to be the only source of renewable biodiesel that is capable of meeting the global demand for transport fuels. Microalgae can be converted to biodiesel, bioethanol, bio-oil, biohydrogen and biomethane via thermochemical and biochemical methods. Industrial reactors for algal culture are open ponds, photobioreactors and closed systems. Algae can be grown almost anywhere, even on sewage or salt water, and does not require fertile land or food crops, and processing requires less energy than the algae provides. Microalgae have much faster growth-rates than terrestrial crops. the per unit area yield of oil from algae is estimated to be from 20,000 to 80,000 liters per acre, per year; this is 7-31 times greater than the next best crop, palm oil. Algal oil can be used to make biodiesel for cars, trucks, and airplanes. The lipid and fatty acid contents of microalgae vary in accordance with culture conditions. The effect of temperature on the yield of hydrogen from two algae (C. fracta and C. protothecoid) by pyrolysis and steam gasification were investigated in this study. In each run, the main components of the gas phase were CO 2 , CO, H 2 , and CH 4 .The yields of hydrogen by pyrolysis and steam gasification processes of the samples increased with temperature. The yields of gaseous products from the samples of C. fracta and C. protothecoides increased from 8.2% to 39.2% and 9.5% to 40.6% by volume, respectively, while the final pyrolysis temperature was increased from 575 to 925 K. The percent of hydrogen in gaseous products from the samples of C. fracta and C. protothecoides increased from 25.8% to 44.4% and 27.6% to 48.7% by volume

  12. DISTRIBUSI NITROGEN DAN FOSFOR PADA BUDIDAYA IKAN GABUS (Channa striata DENGAN APLIKASI ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes DAN PROBIOTIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Adang Saputra

    2018-01-01

    Full Text Available Permasalahan yang dihadapi pembudidaya ikan dengan sistem intensif adalah meningkatnya limbah yang terakumulasi pada air dan sedimen. Limbah budidaya ikan pada umumnya berupa padatan dan nutrien terlarut pada air terutama nitrogen dan fosfor. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji distribusi nitrogen total dan fosfor total pada budidaya ikan gabus secara intensif yang diberi eceng gondok Eichhornia crassipes dan probiotik (Pseudomonas aeruginosa dan Achromobacter insuavis. Penelitian dirancang menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan pemberian kombinasi eceng gondok dan probiotik (A, pemberian eceng gondok (B, dan pemberian probiotik (C, masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Benih ikan gabus yang digunakan berukuran panjang 14,74 ± 0,01 cm dan bobot 25,53 ± 0,09 g dengan padat tebar 175 ekor/kolam (50 ekor/m3. Selama 90 hari masa pemeliharaan, ikan gabus diberi pakan berupa pelet dengan kandungan protein sekitar 30%. Jumlah pemberian pakan 5% dari biomassa dengan frekuensi pemberian empat kali dalam sehari (pagi, siang, sore, dan malam. Hasil penelitian menunjukkan nitrogen dan fosfor pada budidaya ikan gabus terdistribusi pada eceng gondok, sedimen, air, dan ikan. Eceng gondok menyerap nitrogen dan fosfor paling tinggi (P<0,05 dibandingkan air, ikan, dan sedimen. Laju pertumbuhan spesifik bobot (4,37 ± 0,01%/hari dan biomassa (1,88 ± 0,01 g ikan gabus tertinggi dicapai pada pemberian kombinasi eceng gondok dan probiotik. Hasil ini dapat dijadikan landasan untuk pengelolaan limbah nitrogen dan fosfor pada budidaya ikan gabus secara intensif. One of the problems in intensive aquaculture system is the the accumulation of waste in the water and sediment. Aquaculture wastes are discharged into the water in form of solids and dissolved nutrients which mostly consisted of nitrogen and phosphorus. The purpose of this study was to study the dynamics of total nitrogen and phosphorus in an intensive aquaculture media supplied with water

  13. Desiccation stress and tolerance in green algae: consequences for ultrastructure, physiological and molecular mechanisms

    Science.gov (United States)

    Holzinger, Andreas; Karsten, Ulf

    2013-01-01

    Although most green algae typically occur in aquatic ecosystems, many species also live partly or permanently under aeroterrestrial conditions, where the cells are exposed to the atmosphere and hence regularly experience dehydration. The ability of algal cells to survive in an air-dried state is termed desiccation tolerance. The mechanisms involved in desiccation tolerance of green algae are still poorly understood, and hence the aim of this review is to summarize recent findings on the effects of desiccation and osmotic water loss. Starting from structural changes, physiological, and biochemical consequences of desiccation will be addressed in different green-algal lineages. The available data clearly indicate a range of strategies, which are rather different in streptophycean and non-streptophycean green algae. While members of the Trebouxiophyceae exhibit effective water loss-prevention mechanisms based on the biosynthesis and accumulation of particular organic osmolytes such as polyols, these compounds are so far not reported in representatives of the Streptophyta. In members of the Streptophyta such as Klebsormidium, the most striking observation is the appearance of cross-walls in desiccated samples, which are strongly undulating, suggesting a high degree of mechanical flexibility. This aids in maintaining structural integrity in the dried state and allows the cell to maintain turgor pressure for a prolonged period of time during the dehydration process. Physiological strategies in aeroterrestrial green algae generally include a rapid reduction of photosynthesis during desiccation, but also a rather quick recovery after rewetting, whereas aquatic species are sensitive to drying. The underlying mechanisms such as the affected molecular components of the photosynthetic machinery are poorly understood in green algae. Therefore, modern approaches based on transcriptomics, proteomics, and/or metabolomics are urgently needed to better understand the molecular

  14. Desiccation stress and tolerance in green algae: Consequences for ultrastructure, physiological and molecular mechanisms

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Andreas eHolzinger

    2013-08-01

    Full Text Available Although most green algae typically occur in aquatic ecosystems, many species also live partly or permanently under aeroterrestrial conditions, where the cells are exposed to the atmosphere and hence regularly experience dehydration. The ability of algal cells to survive in an air-dried state is termed desiccation tolerance. The mechanisms involved in desiccation tolerance of green algae are still poorly understood, and hence the aim of this review is to summarize recent findings on the effects of desiccation and osmotic water loss. Starting from structural changes, physiological and biochemical consequences of desiccation will be addressed in different green-algal lineages. The available data clearly indicate a range of strategies, which are rather different in streptophycean and non-streptophycean green algae. For example, Trebouxiophyceae exhibit effective water loss-prevention mechanisms based on the biosynthesis and accumulation of particular organic osmolytes such as polyols, these compounds are so far not reported in representatives of the Streptophyta. In members of the Streptophyta such as Klebsormidium, the most striking observation is the appearance of cross-walls in desiccated samples, which are strongly undulating, suggesting a high degree of mechanical flexibility. This allows the cell to maintain turgor pressure for a prolonged period of time during the dehydration process. Physiological strategies in aeroterrestrial green algae generally include a rapid reduction of photosynthesis during desiccation, but also a rather quick recovery after rewetting, whereas aquatic species are sensitive to drying. The underlying mechanisms such as the affected molecular components of the photosynthetic machinery are poorly understood in green algae. Therefore, modern approaches based on transcriptomics, proteomics and/or metabolomics are urgently needed to better understand the molecular mechanisms involved in desiccation-stress physiology of

  15. Effects of Tidally Driven Variation on the Response of Coralline Algae to Ocean Acidification

    Science.gov (United States)

    Ets-Hokin, J. M.; Fachon, E.; Donham, E. M.; Price, N.

    2016-02-01

    As atmospheric CO2 levels continue to rise, our oceans are becoming more acidic, making it difficult for calcareous organisms like coralline algae to calcify. Coralline algae are early colonizers after disturbances and foundational species that initiate succession by inducing larval settlement of many invertebrate species. However, coralline algae tend to be more susceptible to experimentally elevated pCO2 than other calcifiers, likely due to the higher magnesium content in their calcite skeleton, which can render them more soluble. Magnesium content varies between individuals and is context dependent, thus could be a mechanism of acclimation for algae recruiting to harsh environments. To test this hypothesis, we collected Corallina officinalis from tide pools that experience extreme daily variation and from a well-flushed site that experiences lower daily variation in seawater pH. Samples were placed for 22 days in 1L microcosms bubbled with air enriched with pCO2, with values ranging from preindustrial lows (280 uatm) to predicted highs over the next century (1120 uatm) over 6 treatment levels. C. officinalis collected in the isolated tide pools showed decreased growth ( 50%) both in net calcification (measured via buoyant weight method) and linear extension (visualized with fluorescent stain) in low and high pCO2 levels, with growth peaking at an optimal pCO2 value of approximatly 300 uatm similar to present-day conditions. In contrast C. officinalis collected from the flushed site had no response to pCO2 treatments but had significantly lower growth overall. Tide pool two showed higher inclusion of magnesium in its carbonate skeleton which could explain its more pronounced response to the pCO2 treatments. While living in harsh environments can acclimate coralline algae to high pCO2, overall growth rates are substantially lower and will likely be insufficient to alleviate effects of ocean acidification.

  16. Considering the sanitary aspects in regional plans for air quality. Situation of sanitary impacts of urban air pollution studies; Prise en compte des aspects sanitaires dans les Plans regionaux pour la qualite de l'air. Bilan des etudes d'impact sanitaires de la pollution atmospherique urbaine realisees

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    NONE

    2003-12-15

    The law on air and the rational use of energy of the 30. september 1996 forecasts the setting up of regional planning for the air quality that have to rely on the support of an evaluation of sanitary effects of air pollution. To help the local sanitary authorities in this mission, the National Institute of Sanitary Surveillance and the C.I.R.E. have realised a methodological guide on evaluation of sanitary impact of urban air pollution in different contexts. (N.C.)

  17. Bioconcentration of tetrachlorobenzene in marine algae

    Science.gov (United States)

    Wang, Xiu-Lin; Ma, Yan-Jun; Cheng, Gang; Yu, Wei-Jun; Zhang, Li-Jun

    1997-09-01

    Bioconcentration of tetrachlorobenzene (TeCB) in Chlorella marine, Nannochloropsis oculata, Pyramidomonas sp., Platymonas subcordiformis, and Phaeodactylum tricornutum; and toxicity of TeCB to the marine algae were tested. Values of bioconcentration potential parameters, including uptake rate constant k 1, elimination rate constant k 2 and bioconcentration factor BCF, were obtained not only from the time course of TeCB uptake by the marine algae by using a bioconcentration model, but also from the acute toxicity test data for percent inhibition PI(%)˜exposure concentration of TeCB-time by using a combined bioconcentration and probability model. The results showed good relationship between k 1(TOXIC) and k 1(UPTAKE) and k 2(TOXIC), k 2(UPTAKE), and BCF D(IOXIC) and BCF D(UPTAKE). Especially, the values of BCF D(TOXIC) were well consistent with those of BCF D(UPTAKE).

  18. [Chemical constituents from red alga Corallina pilulifera].

    Science.gov (United States)

    Yuan, Zhao-Hui; Han, Li-Jun; Fan, Xiao; Li, Shuai; Shi, Da-Yong; Sun, Jie; Ma, Ming; Yang, Yong-Chun; Shi, Jian-Gong

    2006-11-01

    To investigate the chemical constituents of red alga Corallina pilulifera. Compounds were isolated by normal phase silica gel and Sephadex LH - 20 gel column chromatography, reverse phase HPLC and recrystallization. Their structures were elucidated by spectroscopic methods including MS, 1H-NMR, 13C-NMR, HSQC, HMBC. Cytotoxicity of the compounds was screened by using standard MTT method. Seven compounds were isolated from red alga C. pilulifera, their structures were identified as (E) -phytol epoxide (1), phytenal (2), phytol (3), dehydrovomifoliol (4), loliolide (5), 3beta-hydroxy-5alpha, 6alpha-epoxy-7-megastigmene-9-one (6), 4-hydroxybenzaldehyde (7). All of the compounds were obtained from this species for the first time. These compounds were inactive (IC50 > 10 microg x mL(-1)) in the MTT assay.

  19. Radiokinetic study in betony marine algae

    International Nuclear Information System (INIS)

    Azevedo Gouvea, V. de.

    1981-01-01

    The influx and outflux kinetics of some radionuclides in algae of the Rio de Janeiro coastline, were studied in order to select bioindicators for radioactive contamination in aquatic media, due to the presence of Nuclear Power Stations. Bioassays of the concentration and loss of radionuclides such as 137 Cs, 51 Cr, 60 Co and 131 I were performed in 1000cm 3 aquarium under controlled laboratory conditions, using a single channel gamma counting system, to study the species of algae most frequently found in the region. The concentration and loss parameters for all the species and radionuclides studied were obtained from the normalized results. The loss parameters were computerwise adjusted using Powell's multiparametric method. (author)

  20. Hyperaccumulation of radioactive isotopes by marine algae

    International Nuclear Information System (INIS)

    Ishii, Toshiaki; Hirano, Shigeki; Watabe, Teruhisa

    2003-01-01

    Hyperaccumlators are effective indicator organisms for monitoring marine pollution by heavy metals and artificial radionuclides. We found a green algae, Bryopsis maxima that hyperaccumulate a stable and radioactive isotopes such as Sr-90, Tc-99, Ba-138, Re-187, and Ra-226. B. maxima showed high concentration factors for heavy alkali earth metals like Ba and Ra, compared with other marine algae in Japan. Furthermore, this species had the highest concentrations for Tc-99 and Re-187. The accumulation and excretion patterns of Sr-85 and Tc-95m were examined by tracer experiments. The chemical states of Sr and Re in living B. maxima were analyzed by HPLC-ICP/MS, LC/MS, and X-ray absorption fine structure analysis using synchrotron radiation. (author)

  1. PENENTUAN MUSIM TANAM, JENIS VARIETAS, DAN TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN PADI TERKAIT MITIGASI EMISI METANA (CH4 (Determination of Early Planting Season, Type Varieties, and Cultivation Techniques of Rice as Mitigation to Methane Emission

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lilik Slamet Supriatin

    2017-01-01

    Full Text Available ABSTRAK Emisi metana (CH4 dari pertanian padi lahan sawah dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti cara pemberian air, pengolahan tanah, varietas padi, dan iklim. Pada penelitian ini dikaji tahap penentuan musim tanam, pemilihan varietas padi, dan tahap terakhir adalah teknik budidaya pertanian padi lahan sawah yang terkait mitigasi emisi CH4. Hasil kajian menunjukkan bahwa musim tanam padi pada musim kemarau menghasilkan emisi CH4 lebih kecil daripada di musim hujan dengan pengurangan emisi CH4 sebesar 18,13%. Indonesia yang memiliki tiga tipe pola curah hujan tahunan (monsunal, equatorial, lokal mengakibatkan periode musim tanam rendah emisi CH4 berbeda antara tipe curah hujan yang satu dengan lainnya. Varietas padi Way apo buru adalah varietas yang menghasilkan emisi CH4 terendah tetapi tetap optimum dalam produksi gabah sehingga dapat dipilih menjadi prioritas pertama untuk ditanam. Teknik budidaya pertanian padi lahan sawah yang menghasilkan rendah emisi CH4 dapat dilakukan dengan membuat genangan air yang dangkal saja, dengan cara pemberian air berselang, dan kombinasi antara pemeliharaan padi, ganggang, tanaman paku air, ikan air tawar, dan bakteri metanotrof dalam satu petak lahan sawah (mina padi plus. Pemberian air dengan cara berselang menurunkan emisi CH4 pada musim kemarau sebesar 59,36% dan pada musim hujan sebesar 51,68% jika dibandingkan dengan pemberian air secara terus-menerus (kontinyu. Teknik budidaya mina padi plus mengurangi emisi CH4 sebesar 21,5 kg/ha/musim tanam dan bakteri metanotrof mengurangi emisi CH4 ke atmosfer sebesar 20-60 Tg. Sawah dapat dijadikan sebagai instalasi terbuka pengolahan udara berlimbah CH4.  ABSTRACT Methane (CH4 emissions from rice cultivation can be influenced by several factors i.e. the provision of water, soil cultivation, varieties of rice, and the climate. This study will examine the determination of the growing season, the selection of rice varieties and cultivation techniques of rice

  2. Multiplicity of viral infection in brown algae

    OpenAIRE

    Stevens, Kim

    2014-01-01

    Brown algae are important primary producers and habitat formers in coastal environments and are believed to have evolved multicellularity independently of the other eukaryotes. The phaeoviruses that infect them form a stable lysogenic relationship with their host via genome integration, but have only been extensively studied in two genera: Ectocarpus and Feldmannia. In this study I aim to improve our understanding of the genetic diversity, host range and distribution of phaeoviruses. Seq...

  3. Algae-Derived Dietary Ingredients Nourish Animals

    Science.gov (United States)

    2015-01-01

    In the 1980s, Columbia, Maryland-based Martek Biosciences Corporation worked with Ames Research Center to pioneer the use of microalgae as a source of essential omega-3 fatty acids, work that led the company to develop its highly successful Formulaid product. Now the Nutritional Products Division of Royal DSM, the company also manufactures DHAgold, a nutritional supplement for pets, livestock and farm-raised fish that uses algae to deliver docosahexaenoic acid (DHA).

  4. Electro-coagulation-flotation process for algae removal

    International Nuclear Information System (INIS)

    Gao Shanshan; Yang Jixian; Tian Jiayu; Ma Fang; Tu Gang; Du Maoan

    2010-01-01

    Algae in surface water have been a long-term issue all over the world, due to their adverse influence on drinking water treatment process as well as drinking water quality. The algae removal by electro-coagulation-flotation (ECF) technology was investigated in this paper. The results indicated that aluminum was an excellent electrode material for algae removal as compared with iron. The optimal parameters determined were: current density = 1 mA/cm 2 , pH = 4-7, water temperature = 18-36 deg. C, algae density = 0.55 x 10 9 -1.55 x 10 9 cells/L. Under the optimal conditions, 100% of algae removal was achieved with the energy consumption as low as 0.4 kWh/m 3 . The ECF performed well in acid and neutral conditions. At low initial pH of 4-7, the cell density of algae was effectively removed in the ECF, mainly through the charge neutralization mechanism; while the algae removal worsened when the pH increased (7-10), and the main mechanism shifted to sweeping flocculation and enmeshment. The mechanisms for algae removal at different pH were also confirmed by atomic force microscopy (AFM) analysis. Furthermore, initial cell density and water temperature could also influence the algae removal. Overall, the results indicated that the ECF technology was effective for algae removal, from both the technical and economical points of view.

  5. Regulating cellular trace metal economy in algae.

    Science.gov (United States)

    Blaby-Haas, Crysten E; Merchant, Sabeeha S

    2017-10-01

    As indispensable protein cofactors, Fe, Mn, Cu and Zn are at the center of multifaceted acclimation mechanisms that have evolved to ensure extracellular supply meets intracellular demand. Starting with selective transport at the plasma membrane and ending in protein metalation, metal homeostasis in algae involves regulated trafficking of metal ions across membranes, intracellular compartmentalization by proteins and organelles, and metal-sparing/recycling mechanisms to optimize metal-use efficiency. Overlaid on these processes are additional circuits that respond to the metabolic state as well as to the prior metal status of the cell. In this review, we focus on recent progress made toward understanding the pathways by which the single-celled, green alga Chlamydomonas reinhardtii controls its cellular trace metal economy. We also compare these mechanisms to characterized and putative processes in other algal lineages. Photosynthetic microbes continue to provide insight into cellular regulation and handling of Cu, Fe, Zn and Mn as a function of the nutritional supply and cellular demand for metal cofactors. New experimental tools such as RNA-Seq and subcellular metal imaging are bringing us closer to a molecular understanding of acclimation to supply dynamics in algae and beyond. Copyright © 2017 Elsevier Ltd. All rights reserved.

  6. New records of marine algae in Vietnam

    Science.gov (United States)

    Le Hau, Nhu; Ly, Bui Minh; Van Huynh, Tran; Trung, Vo Thanh

    2015-06-01

    In May, 2013, a scientific expedition was organized by the Vietnam Academy of Science and Technology (VAST) and the Far Eastern Branch of the Russian Academy of Sciences (FEBRAS) through the frame of the VAST-FEBRAS International Collaboration Program. The expedition went along the coast of Vietnam from Quang Ninh to Kien Giang. The objective was to collect natural resources to investigate the biological and biochemical diversity of the territorial waters of Vietnam. Among the collected algae, six taxa are new records for the Vietnam algal flora. They are the red algae Titanophora pikeana (Dickie) Feldmann from Cu Lao Xanh Island, Laurencia natalensis Kylin from Tho Chu Island, Coelothrix irregularis (Harvey) Børgesen from Con Dao Island, the green algae Caulerpa oligophylla Montagne, Caulerpa andamanensis (W.R. Taylor) Draisma, Prudhomme et Sauvage from Phu Quy Island, and Caulerpa falcifolia Harvey & Bailey from Ly Son Island. The seaweed flora of Vietnam now counts 833 marine algal taxa, including 415 Rhodophyta, 147 Phaeophyceae, 183 Chlorophyta, and 88 Cyanobacteria.

  7. Functional properties of carotenoids originating from algae.

    Science.gov (United States)

    Christaki, Efterpi; Bonos, Eleftherios; Giannenas, Ilias; Florou-Paneri, Panagiota

    2013-01-15

    Carotenoids are isoprenoid molecules which are synthesised de novo by photosynthetic plants, fungi and algae and are responsible for the orange, yellow and some red colours of various fruits and vegetables. Carotenoids are lipophilic compounds, some of which act as provitamins A. These compounds can be divided into xanthophylls and carotenes. Many macroalgae and microalgae are rich in carotenoids, where these compounds aid in the absorption of sunlight. Industrially, these carotenoids are used as food pigments (in dairy products, beverages, etc.), as feed additives, in cosmetics and in pharmaceuticals, especially nowadays when there is an increasing demand by consumers for natural products. Production of carotenoids from algae has many advantages compared to other sources; for example, their production is cheap, easy and environmentally friendly; their extraction is easier, with higher yields, and there is no lack of raw materials or limited seasonal variation. Recently, there has been considerable interest in dietary carotenoids with respect to their antioxidant properties and their ability to reduce the incidence of some chronic diseases where free radicals are involved. Possibly, carotenoids protect cells from oxidative stress by quenching singlet oxygen damage with various mechanisms. Therefore, carotenoids derived from algae could be a leading natural resource in the research for potential functional ingredients. Copyright © 2012 Society of Chemical Industry.

  8. PENGARUH PERENDAMAN DAN PEREBUSAN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN, GULA, TOTAL FENOLIK DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KERANDANG (Canavalia virosa

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Titiek Farianti Djaafar

    2013-03-01

    Full Text Available The Effect of Soaking and Boiling on Protein, Oligosaccharides, Total Phenolic Content and Antioxidant Activity ofKerandang (Canavalia virosa Titiek Farianti Djaafar, Umar Santosa, Muhammad Nur Cahyanto, Endang Sutriswati Rahayu ABSTRAK Kerandang (Canavalia virosa tergolong tanaman legum dan menghasilkan biji, tumbuh menjalar di lahan pasir pantaiDaerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di Kabupaten Bantul dan Kulon Progo dengan luas lahan sekitar 3.500 ha.Tanaman kerandang merupakan sumber protein nabati, mengandung senyawa fenolik dan memiliki aktivitas antioksidan.Penelitian tentang aktivitas antioksidan biji kerandang belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh perendaman dan perebusan terhadap perubahan kandungan protein, gula, total fenolik dan aktivitas antioksidanbiji kerandang. Perendaman dilakukan pada 0, 12, dan 24 jam dengan rasio biji kerandang dan air sebesar 1:6 (b/v.Perlakuan perendaman ini dikombinasikan dengan perebusan biji pada suhu didih air (80 – 90 ºC selama 0, 10, dan20 menit. Perbandingan biji kerandang dan air untuk perebusan adalah 1:5 (b/v. Pengujian yang dilakukan meliputikadar protein, jenis gula, total fenolik dan aktivitas antioksidan. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan AcakLengkap dengan ulangan dua kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein biji kerandang menurun denganperlakuan perendaman dan perebusan. Biji kerandang mengandung oligosakarida tahan cerna (raÞ nosa yang cukuptinggi. Kandungan total fenolik biji kerandang segar sebesar 7,42 g GAE/100 g biji kerandang. Perlakuan perendamandan perebusan menyebabkan kandungan total fenolik menurun sampai dengan 74,93 %. Aktivitas antioksidan bijikerandang dinyatakan sebagai Radical Scavenging Activity sebesar 10,22 %. Pada perendaman selama 12 dan 24 jamterjadi penurunan aktivitas antioksidan.Kata kunci: kerandang, total fenol, aktivitas antioksidan ABSTRACT Kerandang (Canavalia virosa is legume crops and producing seeds

  9. Standar Operasional Prosedur Penanganan Penumpang Yang Memerlukan Pelayanan Khusus Di PT. Indonesia Air Asia Medan

    OpenAIRE

    Mulia Wanti

    2009-01-01

    PT. Indonesia Air Asia adalah salah satu perusahaan penerbangan di Indonesia yang menyediakan jasa pengangkutan dengan biaya rendah (low cost carrier). Walaupun tercatat sebagai perusahaan penerbangan yang low cost carrier, pelayanan yang diberikan tetap baik dan mengutamakan kenyamanan dan keselamatan penumpang. Adanya tenaga profesional juga mendukung kegiatan penerbangan. Penumpang yang menggunakan jasa transportasi udara ini berasal dari berbagai kalangan dan dalam keadaan tertentu, b...

  10. KARAKTER FISIK DAN SOSIAL REALESTAT DALAM TINJAUAN GERAKAN NEW URBANISM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Timoticin Kwanda

    2001-01-01

    Full Text Available Rapid urbanization will be critical to urban environments. The immediate and most critical urban environment problems facing several big cities, such as Jakarta and Surabaya, what are referred to as the "brown" problems, among them: lack of safe water, pollution from vehicles and industrial facilities, and congestion. To cope with these urban environmental problems, New Urbanism through the Traditional Neighborhood Development (TND believes that it will cure the problems by pedestrian oriented planning, encouraging people to drive less, mixed land uses, higher density, then traffice congestion is reduced,and mitigate air pollution. Moreover, the other physical and social characters are mixed housing types, front porches, more park that will encourage more interaction, then restore a sense of community. Based on this concept, this paper discusses the physical and social characters of real estates in Jakarta and Surabaya. The results show that real estate developments in these suburban areas is one of the causes of urban environment problems. Abstract in Bahasa Indonesia : Cepatnya urbanisasi akan menyebabkan lingkungan perkotaan yang kritis. Masalah lingkungan kritis yang dihadapi oleh kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya adalah apa yang disebut dengan masalah "warna coklat" yaitu kurangnya air yang sehat, polusi udara yang berasal dari kendaraan bermotor dan industri, serta kemacetan lalu lintas. Untuk menyelesaikan masalah lingkungan ini, gerakan New Urbanism melalui konsep Traditional Neighborhood Development (TND percaya bahwa masalah lingkungan ini dapat diatasi dengan perencanaan permukiman yang berorientasi pada pejalan kaki, multi fungsi, kepadatan tinggi, sehingga mengurangi kendaraan bermotor dan berakibat pada berkurangnya kemacetan lalu lintas dan polusi udara. Karakter fisik dan sosial lainnya adalah multi tipe rumah, taman publik yang lebih banyak dan rumah berteras depan yang akan mendorong interaksi sosial dalam lingkungan

  11. KARAKTERISTIK DAN SENYAWA BIOAKTIF EKSTRAK KERING DAUN KLUWIH DARI POSISI DAUN YANG BERBEDA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Deivy Andhika Permata

    2017-09-01

    Full Text Available Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati, diantaranya tanaman kluwih. Di masyarkat luas rebusan daun kluwih dikenal sebagai obat diabetes. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, sebagai langkah awal melihat potensi ektrak kering daun kluwih sebagai sediaan yang dapat diaplikasikan dalam pembuatan pangan fungsional, obat-obatan atau sediaan jamu. Daun kluwih pada posisi berbeda dilakukan ekstraksi dengan pelarut air kemudian dipekatkan menggunakan rotary vacuum evaporator kemudian dibuat menjadi ekstrak kering dengan bantuan freeze dryer. Pengamatan yang dilakukan, yaitu rendemen, kadar air, kadar abu, analisis kualitatif fitokimia, serta total polifenol. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh karakteristik dan komponen bioaktif ekstrak kering daun muda, tua dan sangat tua berturut-turut sebagai berikut: rendemen sebesar 5,49%, 5,23% dan 5,34%; kadar air sebesar 10,11%, 10,16%, dan 10,30%; kadar abu 12,76%, 12,35%, dan 12,30%. Pada semua ekstrak daun mengandung alkaloid, triterpenoid, flavonoid, saponin, fenolik dan tanin. Total polifenol ekstrak kering daun muda, tua dan sangat tua berturut-turut, yaitu 11.175 mgGAE/g, 10.238,89 mgGAE/g, dan 7.858,33 mgGAE/g.

  12. Perawatan dan Pelestarian Bahan Pustaka

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Andi Ibrahim

    2013-06-01

    Full Text Available Perawatan bahan pustaka sangat diperlukan untuk menunjang fungsi perpustakaan dalam melaksanakan jasa perpustakaan dengan mengusahakan agar kondisi bahan pustaka terpelihara sebaik mungkin dan siap pakai. Pada umumnya media yang digunakan pada bahan pustaka adalah kertas, baik dalam bentuk buku, surat kabar, naskah, peta, gambar, dokumen dan bahan cetakan lainnya, selain itu ada juga perpustakaan yang memiliki koleksi foto dan negatif foto. Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bagi perpustakaan yang telah maju sudah melengkapi koleksinya dengan bentuk mikro (mikrofilm dan mikrofish, rekaman suara, film, penyimpan data elektronik, CD-ROM dan lain-lain. Semua koleksi tersebut pasti akan mengalami kerusakan.

  13. EKOGENOTOKSISITAS LIMBAH CAIR BATIK DAN EFEK ANTIMUTAGENIK Lemna minor TERHADAP ERITROSIT IKAN NILA (Oreochromis niloticus

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Erma Musbita Tyastuti

    2016-09-01

    Full Text Available Limbah cair batik di Solo sebagian besar dibuang langsung ke perairan tanpa diolah terlebih dahulu dan menyebabkan pencemaran air. Kandungan logam berat di dalam limbah cair batik dapat memicu efek genotoksik seperti pembentukan mikronukleus. Lemna minor berpotensi sebagai antimutagen dan mencegah pembentukan mikronukleus karena mengandung senyawa aktif seperti karoten dan asam amino. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekogenotoksisitas limbah cair batik dan efek antimutagenik Lemna minor terhadap eritrosit ikan nila. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi UMS dengan pemaparan limbah cair batik 0ppm/L, 2500 ppm/L, 5000 ppm/L dan 7500 ppm/L terhadap 2 kelompok ikan nila dengan diet pelet dan Lemna minor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan limbah cair batik memicu pembentukan mikronukleus dengan frekwensi tertinggi pada konsentrasi paparan 7500 ppm/L. Lemna minor juga terbukti memiliki potensi antimutagenik karena mampu menekan frekwensi mikronukleus lebih rendah dibandingkan diet pelet.

  14. Interspecific variation in total phenolic content in temperate brown algae

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anna Maria Mannino

    2017-09-01

    Full Text Available Marine algae synthesize secondary metabolites such as polyphenols that function as defense and protection mechanisms. Among brown algae, Fucales and Dictyotales (Phaeophyceae contain the highest levels of phenolic compounds, mainly phlorotannins, that play multiple roles. Four temperate brown algae (Cystoseira amentacea, Cystoseira compressa, Dictyopteris polypodioides and Padina pavonica were studied for total phenolic contents. Total phenolic content was determined colorimetrically with the Folin-Ciocalteu reagent. Significant differences in total phenolic content were observed between leathery and sheetlike algae and also within each morphological group. Among the four species, the sheet-like alga D. polypodioides, living in the upper infralittoral zone, showed the highest concentration of phenolic compounds. These results are in agreement with the hypothesis that total phenolic content in temperate brown algae is influenced by a combination of several factors, such as growth form, depth, and exposition to solar radiation.

  15. Algae to Economically Viable Low-Carbon-Footprint Oil.

    Science.gov (United States)

    Bhujade, Ramesh; Chidambaram, Mandan; Kumar, Avnish; Sapre, Ajit

    2017-06-07

    Algal oil as an alternative to fossil fuel has attracted attention since the 1940s, when it was discovered that many microalgae species can produce large amounts of lipids. Economics and energy security were the motivational factors for a spurt in algae research during the 1970s, 1990s, and early 2000s. Whenever crude prices declined, research on algae stopped. The scenario today is different. Even given low and volatile crude prices ($30-$50/barrel), interest in algae continues all over the world. Algae, with their cure-all characteristics, have the potential to provide sustainable solutions to problems in the energy-food-climate nexus. However, after years of effort, there are no signs of algae-to-biofuel technology being commercialized. This article critically reviews past work; summarizes the current status of the technology; and based on the lessons learned, provides a balanced perspective on a potential path toward commercialization of algae-to-oil technology.

  16. La gestion dynamique des varietes d'ignames dans le systeme ...

    African Journals Online (AJOL)

    Les origines de la diversité variétale des ignames et le maintien de cette diversité ont été étudiés dans 240 exploitations du Bénin réparties dans huit terroirs, 150 ans l'aire culturelle Bariba (sous-préfecture de Sinendé de juin à octobre 1999) et 90 dans l'aire Nagot (sous-préfecture de Banté, de juin à octobre 2000).

  17. Production and characterization of algae extract from Chlamydomonas reinhardtii

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Weston Kightlinger

    2014-01-01

    Conclusions: This study showed that algae extract derived from C. reinhardtii is similar, if not superior, to commercially available yeast extract in nutrient content and effects on the growth and metabolism of E. coli and S. cerevisiae. Bacto™ yeast extract is valued at USD $0.15–0.35 per gram, if algae extract was sold at similar prices, it would serve as a high-value co-product in algae-based fuel processes.

  18. Antimicrobial Activity of Extracts from Six Green Algae from Tanzania

    OpenAIRE

    Mtolera, M.S.P.; Semesi, A.

    1996-01-01

    Many algae species have been shown to have bactericidal or bacteriostatic substances (Glombitza, I979;Michaneck, 1979; Caccamese et al., 1980; Fenical & Paul, 1984; Niang& Hung, 1984). The antibacterialagents found in the algae include amino acids, terpenoids, phlorotannins, acrylic acid, phenoliccompounds, steroids, halogenated ketones and alkanes, cyclic polysulphides and fatty acids. In a large numberof marine algae antimicrobial activities are attributed to the presence of acrylic acid.

  19. Method and apparatus for iterative lysis and extraction of algae

    Science.gov (United States)

    Chew, Geoffrey; Boggs, Tabitha; Dykes, Jr., H. Waite H.; Doherty, Stephen J.

    2015-12-01

    A method and system for processing algae involves the use of an ionic liquid-containing clarified cell lysate to lyse algae cells. The resulting crude cell lysate may be clarified and subsequently used to lyse algae cells. The process may be repeated a number of times before a clarified lysate is separated into lipid and aqueous phases for further processing and/or purification of desired products.

  20. Genome Annotation and Transcriptomics of Oil-Producing Algae

    Science.gov (United States)

    2015-03-16

    AFRL-OSR-VA-TR-2015-0103 GENOME ANNOTATION AND TRANSCRIPTOMICS OF OIL-PRODUCING ALGAE Sabeeha Merchant UNIVERSITY OF CALIFORNIA LOS ANGELES Final...2010 To 12-31-2014 4. TITLE AND SUBTITLE GENOME ANNOTATION AND TRANSCRIPTOMICS OF OIL-PRODUCING ALGAE 5a. CONTRACT NUMBER FA9550-10-1-0095 5b...NOTES 14. ABSTRACT Most algae accumulate triacylglycerols (TAGs) when they are starved for essential nutrients like N, S, P (or Si in the case of some

  1. Disain Sistem SCADA jarak Jauh Menggunakan Layanan VPN 3G Untuk Penggerak Pompa pada Sistem Pengolahan Air

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Asep Insani

    2013-03-01

    Full Text Available Dalam pengolahan air gambut menjadi air bersih yang menggunakan metode AOP dan RO ini, pengaturan tekanan pompa merupakan sesuatu yang sangat vital pada saat dilakukan suplay air yang akan diolah ke sistem. Sistem pengolahan air yang menggunakan pompa tersebut harus selalu dipastikan beroperasi dengan normal disesuaikan dengan peruntukannya. Manajemen terbaru sistem pengolahan air memerlukan teknologi yang terbaru pada peralatan remote control system, dan yang paling fundamental untuk hal ini adalah penggunaan layanan public untuk akusisi dan pengawasan dari data yang diambil dari peralatan kontrol. Untuk mewujudkan remote control untuk pompa dengan tekanan tertentu dengan PLC, didisain dengan kombinasi antara internet, arsitektur dan implementasi dari sistem SCADA, yang menggabungkan jaringan komputer, PLC, WinCC, dan teknologi VPN. Dalam melakukan disain, perlu diperhatikan poin-poin penting baik dari sisi server maupun sisi controller. Disain sistem SCADA remote dapat mengefisienkan waktu bagi operator dan pemantauan lebih lanjut untuk suplay air.

  2. Accumulation of 210Po by benthic marine algae

    International Nuclear Information System (INIS)

    Gouvea, R.C.; Branco, M.E.C.; Santos, P.L.

    1988-01-01

    The accumulation of polonium 210 Po by various species of benthic marine seaweeds collected from 4 different points on the coast of Rio de Janeiro, showed variations by species and algal groups. The highest value found was in red alga, Plocamium brasiliensis followed by other organisms of the same group. In the group of the brown alga, the specie Sargassum stenophylum was outstanding. The Chlorophyta presented the lowest content of 210 Po. The algae collected in open sea, revealed greater concentration factors of 210 Po than the same species living in bays. The siliceous residue remaining after mineralization of the algae did not interfere with the detection of polonium. (author)

  3. Algae Bioreactor Using Submerged Enclosures with Semi-Permeable Membranes

    Science.gov (United States)

    Trent, Jonathan D (Inventor); Gormly, Sherwin J (Inventor); Embaye, Tsegereda N (Inventor); Delzeit, Lance D (Inventor); Flynn, Michael T (Inventor); Liggett, Travis A (Inventor); Buckwalter, Patrick W (Inventor); Baertsch, Robert (Inventor)

    2013-01-01

    Methods for producing hydrocarbons, including oil, by processing algae and/or other micro-organisms in an aquatic environment. Flexible bags (e.g., plastic) with CO.sub.2/O.sub.2 exchange membranes, suspended at a controllable depth in a first liquid (e.g., seawater), receive a second liquid (e.g., liquid effluent from a "dead zone") containing seeds for algae growth. The algae are cultivated and harvested in the bags, after most of the second liquid is removed by forward osmosis through liquid exchange membranes. The algae are removed and processed, and the bags are cleaned and reused.

  4. Importance of algae oil as a source of biodiesel

    International Nuclear Information System (INIS)

    Demirbas, Ayhan; Fatih Demirbas, M.

    2011-01-01

    Algae are the fastest-growing plants in the world. Industrial reactors for algal culture are open ponds, photobioreactors and closed systems. Algae are very important as a biomass source. Algae will some day be competitive as a source for biofuel. Different species of algae may be better suited for different types of fuel. Algae can be grown almost anywhere, even on sewage or salt water, and does not require fertile land or food crops, and processing requires less energy than the algae provides. Algae can be a replacement for oil based fuels, one that is more effective and has no disadvantages. Algae are among the fastest-growing plants in the world, and about 50% of their weight is oil. This lipid oil can be used to make biodiesel for cars, trucks, and airplanes. Microalgae have much faster growth-rates than terrestrial crops. the per unit area yield of oil from algae is estimated to be from 20,000 to 80,000 l per acre, per year; this is 7-31 times greater than the next best crop, palm oil. The lipid and fatty acid contents of microalgae vary in accordance with culture conditions. Most current research on oil extraction is focused on microalgae to produce biodiesel from algal oil. Algal-oil processes into biodiesel as easily as oil derived from land-based crops.

  5. Method and apparatus for lysing and processing algae

    Science.gov (United States)

    Chew, Geoffrey; Reich, Alton J.; Dykes, Jr., H. Waite H.; Di Salvo, Roberto

    2013-03-05

    Methods and apparatus for processing algae are described in which a hydrophilic ionic liquid is used to lyse algae cells at lower temperatures than existing algae processing methods. A salt or salt solution is used as a separation agent and to remove water from the ionic liquid, allowing the ionic liquid to be reused. The used salt may be dried or concentrated and reused. The relatively low lysis temperatures and recycling of the ionic liquid and salt reduce the environmental impact of the algae processing while providing biofuels and other useful products.

  6. UJI EFEKTIFITAS INSEKTISIDA NABATI EKSTRAK AKAR TUBA (Derris elliptica B. DAN UMBI GADUNG (Dioscorea hispida D. TERHADAP MORTALITAS DAN PERKEMBANGAN HAMA Plutella xylostella L. DI LABORATORIUM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    irfan sugiono utomo

    2017-06-01

    Full Text Available Plutella xylostella L. merupakan hama penting tanaman kubis. Hama ini menyerang bagian daun dengan gejala daun menjadi berlubang sehingga turunnya produksi mencapai 80-100% penyebaran hama Plutella xylostella tersebar di daerah tropis dan subtropis.. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Hama Tumbuhan Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Jember. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL dan di uji menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT dengan taraf 5%. Perlakuan aplikasi yang digunakan dengan 2 metode, yaitu metode tetes (ulat dan metode celup (pakan. Perlakuan yang digunakan yaitu: K1 (Konsentrasi akar tuba 20ml/l air, K2 (Konsentrasi akar tuba 25ml/l air, K3 (Konsentrasi akar tuba 30ml/l air, K4 (Konsentrasi umbi gadung 20ml/l air, K5 (Konsentrasi umbi gadung 25ml/l air, K6 (Konsentrasi umbi gadung 30ml/l air, K7 (Konsentrasi akar tuba 20 ml/l air +umbi gadung 30ml/l air, K8 (Konsentrasi akar tuba 30 ml/l air +umbi gadung 20ml/l air. Pengamatan meliputi persentase mortalitas larva P. xlostella , persentase larva yang menjadi pupa, persentase larva yang menjadi imago Hasil penelitian menunjukkan bahwa Insektisida nabati akar tuba dan umbi gadung berpengaruh sangat nyata terhadap mortalitas larva Plutella xylostella yakni dapat menyebabkan tingkat mortalitas sebesar 86,67 % dengan konsentrasi paling efektif pada perlakuan K8 yaitu ektrak akar tuba 30ml/l air + umbi gadung 20ml/l air. Perlakuan ekstrak nabati akar tuba lebih efektif dengan metode celup sedangkan ekstrak umbi gadung lebih efektif dengan metode tetes. Penggunaan perlakuan kombinasi insektisida nabati lebih efektif dibandingkan dengan pemberian insektisida nabati tunggal.Kata kunci: Plutella xylostella, Akar tuba, Umbi gadung 

  7. KOMPOSISI KIMIA DAN ORGANOLEPTIK FORMULA NUGGET BERBASIS TEPUNG TEMPE DAN TEPUNG RICEBRAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sufiati Bintanah

    2014-07-01

    Full Text Available Abstrak Di Indonesia terjadi perubahan pola penyakit dari infeksi dan kekurangan gizi ke degeneratif dan kanker akibat perubahan gaya hidup dan pola makan  tinggi lemak dan rendah serat serta modernisasi pola hidup. Tempe kedelai merupakan bahan makanan yang dapat menurunkan trigliserida, kolesterol total, kolesterol LDL, serta meningkatkan kolesterol HDL. Bekatul juga merupakan bahan makanan yang dapat menurunkan kadar lemak darah karena mengandung oryzanol, tokoferol, dan asam felurat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyeleksi formula nugget berdasarkan karakteristik fisik, kimia dan organoleptik serta aktifitas antioksidan. Jenis penelitian ini adalah penelitian diskriptif dengan perlakuan formulasi tepung tempe dan tepung ricebran sebanyak 10 formula. Analisis komposisi kimia dilakukan terhadap bahan mentah dan nugget meliputi analisis protein (mikro kjedhl, lemak (soxhlet, air (oven, karbohidrat (Luff Schoorl l, penetapan kadar Vitamin E (Alfa-Tokoferol, analisa aktivitas anti bakteri metode difusi agar. Pengujian organoleptik menggunakan metode scoring. Hasil menunjukkan nugget dengan formula tepung tempe 50% dan tepung bekatul 50% (formula A7, mempunyai komposisi kimia terbaik yaitu protein 19,5g%, lemak 18.33g%, air 35.59%, abu 1,62%, serat kasar 9,57g%, Karbohidrat 25,41 g%, Vitamin E 148,92 µg/g, aktifitas antioksidan 197,1 µg/ml. Hasil pengujian organoleptik terhadap warna, rasa, aroma maupun tekstur yang paling disuka pada formula A7. Kesimpulan: Optimasi tepung tempe dan rice bran yang diterima berdasarkan sifat fisik, organoleptik dan analisa zat gizi adalah dengan perlakuan sangrai 20 menit. Formula nugget yang optimum A7 dengan perbandingan tepung tempe dan rice bran 50:50 g. Kata Kunci: Komposisi Kimia, Organoleptik, Formula Nugget, Tepung Tempe, Ricebran Abstract In Indonesia, there has been a changing disease pattern from infectious and food deficiency diseases to degenerative and cancerous diseases. Soy bean cake

  8. PREFERENSI PEMBIAYAAN USAHA MIKRO DAN KECIL : PERSPEKTIF GENDER DAN ENTREPRENEURABILITY

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Khaira Amalia Fachrudin

    2013-06-01

    Full Text Available Preferensi pembiayaan dalam perusahaan besar lebih didasarkan pada karakteristik perusahaan tersebut.  Namun dalam usaha mikro dan kecil hal ini mungkin berbeda dan bergantung pada karakteristik pemiliknya seperti gender dan entrepreneurability.   Perbedaan gender mungkin juga membedakan entrepreneurability dan dukungan yang diterima.  Penelitian ini akan menguji apakah terdapat perbedaan preferensi pembiayaan berdasarkan gender, entrepreneurability berdasarkan gender dan berdasarkan preferensi pembiayaan, serta perbedaan dukungan berdasarkan gender.  Sampel dari usaha mikro dan kecil yang bergerak dalam bidang kuliner  diuji dengan uji beda Independent Sample t Test dan kemudian dengan Crosstabulation untuk lebih memperinci hasilnya.  Hasil uji menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan preferensi pembiayaan berdasarkan gender dan berdasarkan  entrepreneurability, namun entrepreneurability berbeda signifikan berdasarkan gender dan juga ditemukan bahwa dukungan moral, tenaga, dan modal yang diterima pemilik usaha pria dan wanita tidak berbeda signifikan (p value lebih kecil dari 0.05.   Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat kesetaraan gender dalam pembiayaan usaha dan entrepreneurability lebih tinggi pada pria.  Pria pemilik usaha juga mendapatkan dukungan tenaga kerja yang lebih banyak daripada wanita.  Dukungan tenaga ini adalah salah satu bentuk  financial bootstrapping karena dapat mengurangi pembiayaan usaha

  9. Masyarakat Powerless Dan Derita Kerusakan Lingkungan

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dian Kurnia Anggreta

    2015-12-01

    Full Text Available Environmental damage is one of the phenomenon described in the Neo-Malthusian perspective, due to the increasing population. If not addressed, is predicted to further exacerbate the damage. Basically environmental damage it’s not only because of increasing the poputalion, but the exploitation and exploration activities, making capital accumulation that have a stake big enough. Environmental demage would occur relatively quickly. This article discusses the topic of conflict society between the company, due to environmental degradation that often occur, such as air pollution, soil and water, as a result of capital accumulation activities of industrial enterprises, plantation and mines. Quite often the people who are in a position to share the anguish powerless, even avicted from her own place. The method used literature, which examines issues of environmental damage is felt by the public. Kerusakan lingkungan merupakan salah satu fenomena yang dijelaskan dalam aliran Neo-Malthusian, disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk. Jika tidak segera diatasi, diprediksi semakin memperburuk kerusakan tersebut. Pada dasarnya bukan hanya peningkatan jumlah penduduk saja yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan, namun kegiatan eksploitasi dan ekprolasi dengan tujuan akumulasi kapitallah yang memiliki andil cukup besar. Dan kerusakan lingkungan tersebut terjadi dalam waktu relatif cepat. Tulisan ini menguraikan konflik masyarakat dengan perusahaan akibat kerusakan lingkungan yang kerap terjadi, seperti pencemaran udara, tanah dan air, akibat dari aktifitas akumulasi kapital perusahaan industri, perkebunan dan tambang. Tak jarang masyarakat yang berada pada posisi powerless turut menanggung derita, bahka terusir dari tempat tinggal sendiri. Metode yang digunakan studi literatur, yang mengupas berbagai persoalan kerusakan lingkungan yang dirasakan masyarakat.

  10. Deep Overbite Dan Cara Penanggulangannya

    OpenAIRE

    Siti Rofiah Nasution

    2008-01-01

    Masalah deep overbite dan seluruh dimensi vertikal harus dipertimbangkan pada setiap perawatan maloklusi. Deep overbite merupakan keadaan pada relasi sentrik di mana terdapat jarak vertikal yang besar antara kedua insisal insisivus rahang atas dan bawah dengan hubungan oklusal posterior yang normal. Berdasarkan etiologi deep overbite dapat dibedakan atas dua bagian besar yaitu deep overbite dentoalveolar (melibatkan gigi dan tulang alveolar) dan deep overbite skeletal (melibatkan gigi, tulang...

  11. Respons Imunoglobulin-G dan Imunoglobulin-M Mencit yang Diberi Ekstrak Methanol Alga Biru Hijau dan Diinfeksi Dengan Takizoit

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sorta Basar Ida Simanjuntak

    2012-11-01

    Full Text Available Toxoplasmosis is an infectious disease caused by Toxoplasma gondii. This disease could severelyaffect humans and animals. Up to now there has been no simple treatment to fight toxoplasmosis. Aprospective alternative treatment to overcome this problem is by increasing immunity of the body using animmunostimulant such as Spirulina platensis. The aims of this research were to observe the potency of S.platensis as an immunostimulant and to find the most potential fraction of S. Platensis that can increasethe responses of IgG and IgM antibodies againts toxoplasma. The responses of these antibodies weremeasured using ELISA method. The isolation of compounds from S. platensis using Preparative ThinLayer Chromatography (PTLC found three fractions which were a top fraction (I, a middle fraction (II,and a lower fraction (III. Forty-eight mice used in this research were divided into four different groupswith 12 mice in each group and treated differently. The top, middle, and lower fractions of S. platensis wereadministered orally to three groups of mice respectively at dose of 3mg/ml for each mouse while the micein the fourth group were kept as untreated controls. The treatment was conducted for 14 days consecutivelyand on the next day, all mice, including the controls, were challenged with tachizoit. The effect of S.platensisfractions on the responses of IgG and IgM antibodies were then measured at various time intervals, i.e. day0 (before infection and day 1, 2, and 3 after infection. The results showed that IgG response increased inthe day 0 (2.504 OD and the day 3 after infection (2.608 OD while IgM response increased in day 1 afterinfection (2.898 OD. In conclusion, S. platensis was an immunostimulant and the middle fraction (II of S.Platensis was the most potential fraction to increase immunity againts toxoplasma .

  12. Chloroplast division checkpoint in eukaryotic algae

    Science.gov (United States)

    Sumiya, Nobuko; Fujiwara, Takayuki; Era, Atsuko; Miyagishima, Shin-ya

    2016-01-01

    Chloroplasts evolved from a cyanobacterial endosymbiont. It is believed that the synchronization of endosymbiotic and host cell division, as is commonly seen in existing algae, was a critical step in establishing the permanent organelle. Algal cells typically contain one or only a small number of chloroplasts that divide once per host cell cycle. This division is based partly on the S-phase–specific expression of nucleus-encoded proteins that constitute the chloroplast-division machinery. In this study, using the red alga Cyanidioschyzon merolae, we show that cell-cycle progression is arrested at the prophase when chloroplast division is blocked before the formation of the chloroplast-division machinery by the overexpression of Filamenting temperature-sensitive (Fts) Z2-1 (Fts72-1), but the cell cycle progresses when chloroplast division is blocked during division-site constriction by the overexpression of either FtsZ2-1 or a dominant-negative form of dynamin-related protein 5B (DRP5B). In the cells arrested in the prophase, the increase in the cyclin B level and the migration of cyclin-dependent kinase B (CDKB) were blocked. These results suggest that chloroplast division restricts host cell-cycle progression so that the cell cycle progresses to the metaphase only when chloroplast division has commenced. Thus, chloroplast division and host cell-cycle progression are synchronized by an interactive restriction that takes place between the nucleus and the chloroplast. In addition, we observed a similar pattern of cell-cycle arrest upon the blockage of chloroplast division in the glaucophyte alga Cyanophora paradoxa, raising the possibility that the chloroplast division checkpoint contributed to the establishment of the permanent organelle. PMID:27837024

  13. Interactions between arsenic species and marine algae

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Sanders, J.G.

    1978-01-01

    The arsenic concentration and speciation of marine algae varies widely, from 0.4 to 23 ng.mg/sup -1/, with significant differences in both total arsenic content and arsenic speciation occurring between algal classes. The Phaeophyceae contain more arsenic than other algal classes, and a greater proportion of the arsenic is organic. The concentration of inorganic arsenic is fairly constant in macro-algae, and may indicate a maximum level, with the excess being reduced and methylated. Phytoplankton take up As(V) readily, and incorporate a small percentage of it into the cell. The majority of the As(V) is reduced, methylated, and released to the surrounding media. The arsenic speciation in phytoplankton and Valonia also changes when As(V) is added to cultures. Arsenate and phosphate compete for uptake by algal cells. Arsenate inhibits primary production at concentrations as low as 5 ..mu..g.1/sup -1/ when the phosphate concentration is low. The inhibition is competitive. A phosphate enrichment of > 0.3 ..mu..M alleviates this inhibition; however, the As(V) stress causes an increase in the cell's phosphorus requirement. Arsenite is also toxic to phytoplankton at similar concentrations. Methylated arsenic species did not affect cell productivity, even at concentrations of 25 ..mu..g.1/sup -1/. Thus, the methylation of As(V) by the cell produces a stable, non-reactive compound which is nontoxic. The uptake and subsequent reduction and methylation of As(V) is a significant factor in determining the arsenic biogeochemistry of productive systems, and also the effect that the arsenic may have on algal productivity. Therefore, the role of marine algae in determining the arsenic speciation of marine systems cannot be ignored. (ERB)

  14. Snow algae and lichen algae differ in their resistance to freezing temperature: An ice nucleation study

    Czech Academy of Sciences Publication Activity Database

    Hajek, J.; Kvíderová, Jana; Worland, R.; Barták, M.; Elster, Josef; Vaczi, P.

    2009-01-01

    Roč. 48, č. 4 (2009), s. 37-38 ISSN 0031-8884. [International Phycological Congress /9./. 02.08.2009-08.08.2009, Tokyo] R&D Projects: GA AV ČR IAA600050702; GA AV ČR KJB601630808 Institutional research plan: CEZ:AV0Z60050516 Keywords : ice nucleation * algae * freezing Subject RIV: EF - Botanics

  15. Ammonium removal using algae-bacteria consortia: the effect of ammonium concentration, algae biomass, and light.

    Science.gov (United States)

    Jia, Huijun; Yuan, Qiuyan

    2018-04-01

    In this study, the effects of ammonium nitrogen concentration, algae biomass concentration, and light conditions (wavelength and intensity) on the ammonium removal efficiency of algae-bacteria consortia from wastewater were investigated. The results indicated that ammonium concentration and light intensity had a significant impact on nitrification. It was found that the highest ammonia concentration (430 mg N/L) in the influent resulted in the highest ammonia removal rate of 108 ± 3.6 mg N/L/days, which was two times higher than the influent with low ammonia concentration (40 mg N/L). At the lowest light intensity of 1000 Lux, algae biomass concentration, light wavelength, and light cycle did not show a significant effect on the performance of algal-bacterial consortium. Furthermore, the ammonia removal rate was approximately 83 ± 1.0 mg N/L/days, which was up to 40% faster than at the light intensity of 2500 Lux. It was concluded that the algae-bacteria consortia can effectively remove nitrogen from wastewater and the removal performance can be stabilized and enhanced using the low light intensity of 1000 Lux that is also a cost-effective strategy.

  16. INOVASI DAN STRATEGI PENCAPAIANNYA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Liem Ferryanto

    2009-01-01

    Full Text Available Innovation is the way of life of any institution to profitably sustain its life. It starts with empathy, the ability to reach outside of ourselves and walk in someone else’s shoes, and optimal implementation of the newly advanced technology. Innovation shows its results through continuously hard working efforts known as "10 Thousand Hours Rule". As world uncertainty creates complexity we, instead of predicting, should therefore anticipate the future by creating and managing real options on contingent projects or elements of alternative optimal strategies. This should reflect into our portfolio strategy. Abstract in Bahasa Indonesia: Inovasi merupakan darah bagi suatu institusi untuk bisa hidup berkelanjutan serta menguntungkan. Inovasi berupa penemuan baru secara sistematis yang berawal dari empati, kemampuan untuk melihat dunia melalui mata orang lain, dan pemanfaatan secara optimal kemajuan teknologi yang ada. Inovasi baru menghasilkan buahnya melalui kerja keras, yaitu dengan mengikuti “Aturan 10 Ribu Jam” secara berkesinambungan. Ketidakpastian, interaksi, keterbatasan dan degradasi menciptakan kompleksitas tentang kebutuhan dan solusi di masa depan. Oleh sebab itu daripada meramalkan risiko yang bakal terjadi, kita sebaiknya memasang strategi berupa skenario untuk mereduksi akibat dari risiko masa depan yang tidak kita mengerti. Skenario ini dapat diperoleh lewat penciptaan dan penanganan beberapa pilihan nyata atas semua proyek antisipatif yang ada. Kata kunci: Inovasi, ketidakpastian dan kompleksitas, aturan 10 ribu jam, paradoks strategi, peta jalan, empati, kerja berkesinambungan.

  17. Toxicity of chlorinated benzenes to marine algae

    Science.gov (United States)

    Ma, Yan-Jun; Wang, Xiu-Lin; Yu, Wei-Jun; Zhang, Li-Jun; Sun, Han-Zhang

    1997-12-01

    Growth of Chlorella marine, Nannochloropsis oculata, Pyramidomonas sp., Platymonas subcordiformis and Phaeodactylum tricornutum exposed to monochlorobenzene (MCB), 1,2-dichlorobenzene (1,2-DCB), 1, 2, 3, 4-tetrachlorobenzene (1, 2, 3, 4-TeCB) and pentachlorobenzene (PeCB) was tested. Tests of 72 h- EC 50 values showed that the toxicity ranged in the order: MCBNannochloropsis oculata < Chlorella marine < Phaeodactylum tricomutum. Study of the QSAR (Quantitative Structure-Activity Relationship) between K OW and toxicity of CBs to marine algae showed good relationships between -log EC 50 and log K OW.

  18. Diterpenes from the Brown Alga Dictyota crenulata

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Valéria Laneuville Teixeira

    2008-06-01

    Full Text Available The crude extract of the Brazilian brown alga Dictyota crenulata was analyzed by NMR spectroscopy and HRGC-MS techniques. Seven diterpenes were identified: pachydictyol A, dictyodial, 4β-hydroxydictyodial A, 4β-acetoxydictyodial A, isopachydictyol A, dictyol C and dictyotadiol. Xeniane diterpenes have previously been found in D. crenulata from the Pacific Ocean. The results characterize D. crenulata as a species that provides prenylated guaiane (group I and xeniane diterpenes (group III, thus making it a new source of potential antiviral products.

  19. Identifikasi dan Penentuan Kadar Senyawa Fenol Pada Sedimen Tambak Di Kabupaten Sidoarjo

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dede Sukandar

    2017-03-01

    Full Text Available Analisis terhadap kadar dan jenis senyawa fenol dalam sedimen tambak yang tercemar dan tidaktercemar oleh air lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, telah dilakukan. Penentuan kadarsenyawa fenol dilakukan dengan metode kolorimetri menggunakan reagen Folin Ciocalteau dandianalisis dengan UV-Vis pada panjang gelombang 740 nm. Kadar senyawa fenol yang terdapatdalam tambak tercemar dan tidak tercemar air lumpur Lapindo berbeda secara signifikan. Senyawafenol lebih banyak terdistribusi pada tambak yang tercemar oleh air lumpur Lapindo. Kadarsenyawa fenol yang terdapat dalam masing-masing sampel rata-rata < 1 mg/L. Berdasarkan hasilanalisis secara kualitatif dengan GC-MS, jenis senyawa fenol yang teridentifikasi adalah fenol, 4-klorofenol, butilfenol dan metilfenol. Keempat senyawa tersebut merupakan jenis pencemar yangberbahaya bagi lingkungan perairan.

  20. Pertumbuhan dan Perkembangan Eksplan Rumput Laut Gracilaria verrucosa dan Gracilaria gigas pada Aklimatisasi di Tambak

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Redjeki Hesti Mulyaningrum

    2015-09-01

    Full Text Available Aklimatisasi eksplan rumput laut hasil kultur jaringan merupakan proses adaptasi eksplan dengan lingkungan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa pertumbuhan dan perkembangan eksplan rumput laut G. verrucosa dan G. gigas yang diaklimatisasi di tambak dan mendapatkan informasi awal mengenai prospek pengembangan budidaya rumput laut G. gigas di tambak. Eksplan rumput laut G. verrucosa dan G. gigas hasil kultur jaringan dipelihara dalam hapa berukuran 50x50x50 cm dengan berat awal 15 g.hapa-1 dan dipelihara di tambak. Desain penelitian adalah rancangan acak lengkap (RAL dengan enam unit penelitian terdiri dari tiga ulangan untuk masing-masing spesies. Pemeliharaan eksplan dilakukan selama 60 hari dan setiap 15 hari dilakukan pengukuran bobot, panjang dan perkembangan eksplan serta monitoring terhadap kualitas air. Pengamatan histologi sel rumput laut G. verrucosa dan G. gigas dilakukan dibawah mikroskop. Analisis data pertumbuhan dilakukan dengan uji komparatif independent t-test sedangkan data perkembangan eksplan dan histologi sel rumput laut dianalisis secara deskritif. Pada pemeliharaan di tambak kedua jenis rumput laut memiliki pertumbuhan yang berbeda nyata (P<0,05. Rumput laut G. verrucosa memiliki bobot mutlak lebih tinggi (221,82 g dari G. gigas (51,94 g dan LPH (laju pertumbuhan harian bobot lebih tinggi (3,27% dari G. gigas (2%. Rumput laut G. verrucosa juga memiliki pertambahan panjang yang lebih tinggi (5,28 cm dari G. gigas (2,71 cm dengan LPH panjang masing-masing sebesar 3,06% dan 2,18%. Perkembangan eksplan rumput laut G. verrucosa lebih cepat daripada G. gigas karena faktor fisika dan kimia lingkungan perairan tambak yang tidak sesuai untuk pertumbuhan rumput laut G. gigas yang memiliki susunan sel korteks lebih rapat. Kata kunci: pertumbuhan, perkembangan, G. verrucosa, G. gigas, eksplan, tambak Acclimatization of tissue culture seaweed explants was an adaptation procces of explants to cultivation

  1. PENGELOLAAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN DI THAILAND, MYANMAR, DAN INDIA

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anorital, SKM Anorital, SKM

    2012-09-01

    Full Text Available Dalam bulan Januari 1991 yang lalu, Sdr. Anorital, SKM (Ka. Subbag. Pengumpulan dan PengolahanData Badan Litbangkes dan H. Syafwani Mirin, SKM (Ka. Bag. Keuangan Badan Litbangkes memperoleh fellowship dari WHO untuk melakukan studi perbandingan ke institusi-institusi penelitian kesehatan di Thailand,Myanmar, dan India.Berikut di bawah ini tulisan bersangkutan yang menggambarkan secara garis besar pengelolaan penelitian dan pengembangan kesehatan pada masing-masing negara obyek studi. Semoga informasi yang terkandung pada tulisan ini dapat bermanfaat bagi pengembangan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

  2. ANALISIS KADAR GLUKOSA PADA BIOMASSA BONGGOL PISANG MELALUI PAPARAN RADIASI MATAHARI, GELOMBANG MIKRO, DAN HIDROLISIS ASAM

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Qismatul Barokah

    2013-05-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan air dan perubahan kadar glukosa pada biomassa bonggol pisang melalui paparan radiasi matahari, gelombang mikro, dan hidrolisis asam. Metode penelitian dilakukan dengan cara mengeringkan bonggol pisang jenis pisang kepok selama 5 hari, kemudian dihomogenkan dengan proses penghalusan, setelah itu dilakukan tiga metode penghidrolisisan pati menjadi glukosa melalui paparan radiasi matahari, paparan gelombang mikro, dan hidrolisis asam. Pada setiap perlakuan pemaparan, sampel divariasi menjadi tiga yaitu kering, penambahan air 10 ml, dan penambahan air 20  ml,  masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 3 (tiga kali. Kadar glukosa dianalisis dengan metode Nelson-Somogyi dan hasilnya dianalisis menggunakan perbandingan grafik. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan adanya pengaruh penambahan air dan metode yang digunakan terhadap kadar glukosa. Hasil analisis UV-Vis melalui analisis perbandingan grafik menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kadar glukosa yang signifikan terutama ketika sampel dipapar menggunakan gelombang mikro serta dengan penambahan air 20 ml yang menghasilkan kadar glukosa sebesar 30.89%.

  3. Pariisi-kiri / Aire Allikmets

    Index Scriptorium Estoniae

    Allikmets, Aire

    1997-01-01

    Fanny de Siversile pühendatud vastuvõtust College de France'i Sinises Salongis 27. märtsil 1997 ja temale pühendatud koguteosest 'Contacts de langues et de cultures dans l'aire Baltique' (koost. M. M. Jocelyne Fernendez ja Raimo Raag)

  4. The Halogenated Metabolism of Brown Algae (Phaeophyta, Its Biological Importance and Its Environmental Significance

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Stéphane La Barre

    2010-03-01

    Full Text Available Brown algae represent a major component of littoral and sublittoral zones in temperate and subtropical ecosystems. An essential adaptive feature of this independent eukaryotic lineage is the ability to couple oxidative reactions resulting from exposure to sunlight and air with the halogenations of various substrates, thereby addressing various biotic and abiotic stresses i.e., defense against predators, tissue repair, holdfast adhesion, and protection against reactive species generated by oxidative processes. Whereas marine organisms mainly make use of bromine to increase the biological activity of secondary metabolites, some orders of brown algae such as Laminariales have also developed a striking capability to accumulate and to use iodine in physiological adaptations to stress. We review selected aspects of the halogenated metabolism of macrophytic brown algae in the light of the most recent results, which point toward novel functions for iodide accumulation in kelps and the importance of bromination in cell wall modifications and adhesion properties of brown algal propagules. The importance of halogen speciation processes ranges from microbiology to biogeochemistry, through enzymology, cellular biology and ecotoxicology.

  5. The halogenated metabolism of brown algae (Phaeophyta), its biological importance and its environmental significance.

    Science.gov (United States)

    La Barre, Stéphane; Potin, Philippe; Leblanc, Catherine; Delage, Ludovic

    2010-03-31

    Brown algae represent a major component of littoral and sublittoral zones in temperate and subtropical ecosystems. An essential adaptive feature of this independent eukaryotic lineage is the ability to couple oxidative reactions resulting from exposure to sunlight and air with the halogenations of various substrates, thereby addressing various biotic and abiotic stresses i.e., defense against predators, tissue repair, holdfast adhesion, and protection against reactive species generated by oxidative processes. Whereas marine organisms mainly make use of bromine to increase the biological activity of secondary metabolites, some orders of brown algae such as Laminariales have also developed a striking capability to accumulate and to use iodine in physiological adaptations to stress. We review selected aspects of the halogenated metabolism of macrophytic brown algae in the light of the most recent results, which point toward novel functions for iodide accumulation in kelps and the importance of bromination in cell wall modifications and adhesion properties of brown algal propagules. The importance of halogen speciation processes ranges from microbiology to biogeochemistry, through enzymology, cellular biology and ecotoxicology.

  6. Preliminary assessment of Malaysian micro-algae strains for the production of bio jet fuel

    Science.gov (United States)

    Chen, J. T.; Mustafa, E. M.; Vello, V.; Lim, P.; Nik Sulaiman, N. M.; Majid, N. Abdul; Phang, S.; Tahir, P. Md.; Liew, K.

    2016-10-01

    Malaysia is the main hub in South-East Asia and has one of the highest air traffic movements in the region. Being rich in biodiversity, Malaysia has long been touted as country rich in biodiversity and therefore, attracts great interests as a place to setup bio-refineries and produce bio-fuels such as biodiesel, bio-petrol, green diesel, and bio-jet fuel Kerosene Jet A-1. Micro-algae is poised to alleviate certain disadvantages seen in first generation and second generation feedstock. In this study, the objective is to seek out potential micro-algae species in Malaysia to determine which are suitable to be used as the feedstock to enable bio-jet fuel production in Malaysia. From 79 samples collected over 30 sites throughout Malaysia, six species were isolated and compared for their biomass productivity and lipid content. Their lipid contents were then used to derived the require amount of micro-algae biomass to yield 1 kg of certifiable jet fuel via the HEFA process, and to meet a scenario where Malaysia implements a 2% alternative (bio-) jet fuel requirement.

  7. PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI MEMBRAN HIBRIDA KITOSAN-SILIKA- PEG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    F Widhi Mahatmanti

    2013-02-01

    Full Text Available Membran kitosan mempunyai efektivitas pemisahan relatif tinggi tetapi kestabilan mekanik rendah. Untuk meningkatkan kestabilan perlu ditambahkan silika sehingga dihasilkan membran kitosan-silika. Sebagai bahan dasar silika digunakan natrium silikat yang diisolasi dari abu sekam padi. Dalam pembuatan membran kitosan-silika, plasticizer (polietilen glikol/PEG digunakan untuk meningkatkan kestabilan mekanik membran secara signifikan. Pembuatan membran kitosan-silika-PEG dilakukan dengan cara penguapan larutan dan pencetakan. Membran kitosan-silika-PEG dikarakterisasi sifat mekaniknya dengan menguji kekuatan tarik, persen perpanjangan dan Modulus Young, perubahan gugus fungsi, morfologi, sifat kristalinitas, kestabilan terhadap suhu, sifat hidrofilisitas, dan uji terhadap fluks air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membran kitosan-silika dengan komposisi kitosan/silika 1:0,8 mempunyai harga kuat tarik optimum. Penambahan PEG akan meningkatkan harga persen perpanjangan, tidak menunjukkan perubahan yang signifikan pada hasil uji FTIR dan XRD, tetapi meningkatkan sifat hidrofil seiring dengan meningkatnya konsentrasi PEG dan pH. Nilai Fluks air menurun dengan meningkatnya konsentrasi PEG, dimungkinkan PEG terjebak secara fisik dalam padatan komposit.

  8. Kajian Kualitas Airtanah Bebas antara Sungai Kuning dan Sungai Tepus di Kecamatan Ngemplak, Yogyakata, Indonesia

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Aris Sutardi

    2017-04-01

    Full Text Available Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Sleman telah menempatkan banyak tekanan pada sumber daya air. Perkembangan ini berkembang pesat ke daerah pedesaan termasuk Ngaglik, Ngemplak dan Kalasan Kecamatan. Oleh karena itu, studi tentang kualitas air di daerah ini penting. Daerah antara Sungai Kuning dan Sungai  Tepus merupakan daerah yang ideal untuk melakukan penelitian ini saerah ini meliputi 3 kecamatan yaitu: Ngaglik, Ngemplak dan Kalasan. Dalam penelitian ini, parameter untuk menilai kualitas air terbatas pada 4 parameter: Nitrat, Nitrit, Amoniak dan Fosfat. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2015, pengambilan sampel purposive dipilih untuk mengumpulkan besar sampel air tanah. Penggunaan lahan dan kegiatan lain yang dianggap dapat menyebabkan polusi air seperti pertanian, catel, dan limbah domestik. Sampel dianalisis di laboratorium untuk menentukan konsentrasi Nitrat, Nitrit, amoniak dan fosfat. Secara total, 23 sampel dikumpulkan. Selama kerja lapangan, tabel air diukur untuk menghasilkan peta flownet. Peta flownet ini akan digunakan untuk menganalisis potensi pencemaran air tanah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Nitrat, Nitrit, amoniak, dan fosfat yang bervariasi. Kontaminasi Nitrat dan Nitrit dalam air tanah masih di bawah standar sebesar 10 mg / L untuk Nitrat dan 0,06 mg / L untuk Nitrit sementara amoniak dan fosfat berada di atas standar sebesar 0,02 mg / L untuk amoniak dan 0,2 mg / L untuk fosfat. Tingginya jumlah amoniak ini disebabkan oleh kegiatan peternakan ayam sementara fosfat disebabkan oleh penggunaan pemupukan fosfat di daerah pertanian padi. Distribusi kualitas air tanah di daerah itu bervariasi berdasarkan penggunaan lahan, kegiatan orang dan aliran air tanah. Air tanah potensial pencemaran dilakukan berdasarkan aliran air tanah. Hasilnya menunjukkan bahwa daerah atas (utara memiliki konsentrasi yang lebih rendah dari Nitrat, Nitrit, amoniak dan fosfat. Daerah pertengahan, di mana sebagian besar peternakan ayam dan

  9. Permen dan Jelli Sebagai Produk Inovasi dari Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fatmir Edwar

    2015-06-01

    Full Text Available Pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack merupakan salah satu jenis tumbuhan hutan tropis di Indonesia yang pemanfaatannya sebagai bahan baku dalam pembuatan obat baik yang modern maupun tradisional.  Pasak bumi mengandung senyawa erikomanon yang ampuh mengobati malaria dan senyawa kuasinoid serta alkaloid yang dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Pasak bumi juga mempunyai senyawa aktif flavonoid yang berfungsi untuk melindungi struktur sel, meningkatkan efektifitas vitamin C, anti inflamasi, mencegah keropos tulang, antioksidan, dan antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk membuat produk permen dan jelli dari bagian akar, batang, daun, ranting, dan kulit pasak bumi sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan memudahkan akses bagi masyarakat luas untuk mendapatkan khasiat zat aktif yang dikandung tumbuhan tersebut dalam bentuk produk inovatif.  Standard produk yang dihasilkan (permen dan jelli mengacu kepada SNI 3547.1:2008 tentang kembang gula keras dan SNI No. 3547.2:2008 tentang kembang gula lunak. Berdasarkan hasil pengujian permen, semua parameter yaitu kadar air, abu, gula, sukrosa, Zn, Hg, Pb, As, Angka Lempeng Total, Coliform, Ecoli, Salmonella dan Kapang/Khamir memenuhi syarat, kecuali untuk parameter Cu dengan nilai antara 3,48–8,17% tidak memenuhi standar yang dipersyaratkan yaitu maksimal 2%. Sedangkan produk jelli sebagian besar memiliki kadar air bervariasi antara 18,20–39,45% tidak memenuhi standar  yang dipersyaratkan maksimal 20%. Hasil dari penelitian ini dapat meningkatkan nilai tambah dan nilai jual dari tumbuhan pasak bumi berupa produk permen dan jelli yang memiliki cita rasa, keunggulan dan manfaat bagi kesehatan.ABSTRAKPasak bumi (Eurycoma longifolia Jack merupakan salah satu jenis tumbuhan hutan tropis di Indonesia yang pemanfaatannya sebagai bahan baku dalam pembuatan obat baik yang modern maupun tradisional.  Pasak bumi mengandung senyawa erikomanon yang ampuh mengobati malaria dan senyawa kuasinoid serta

  10. ANALISIS DISTRIBUSI SUHU DAN KELEMBABAN UDARA DALAM RUMAH JAMUR (KUMBUNG MENGGUNAKAN COMPUTATIONAL FLUID DYNAMICS (CFD

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Anisum Anisum

    2016-04-01

    Full Text Available One effort to optimize the temperature and humidity in the mushroom house during the dry season using evaporative cooler. This research was conducted two treatment variation which were assessed about distribution of temperature and humidity of air inside a mushroom house using Computational Fluid Dynamics (CFD is the condition of building using natural ventilation and condition of building with water used evaporative cooler. Computational Fluid Dynamics (CFD analysis was able to model the distributions of temperature and humidity, and air movement pattern inside of a mushroom house. The validation point of temperature distribution and humidity in the mushroom house has an error 0.70-2.62%. The results CFD analysis of temperature and humidity were able to reduced by about ±loC and ±5.1% for building with evaporative cooler used water. The indicated that buildings evaporative cooler used water able to reduced air temperature and increasing humidity in the mushroom houses. Keywords: Computational Fluid Dynamics (CFD, oyster, mushroom house,  evaporative cooler   ABSTRAK Salah satu upaya untuk mengoptimalkan suhu dan kelembaban udara dalam rumah jamur pada musim kemarau dengan menggunakan evaporative cooler (pendingin penguap. Pada penelitian ini ada dua variasi perlakuan yang dikaji pendistribusian suhu dan kelembaban udara dalam rumah jamur dengan menggunakan Computational Fluid Dynamics (CFD, yaitu kondisi bangunan menggunakan ventilasi alamiah dan kondisi bangunan dengan pendingin penguap (evaporative cooler menggunakan air. Analisis dengan Computational Fluid Dynamics (CFD mampu memodelkan distribusi suhu dan kelembaban udara, serta pola pergerakan udara dalam rumah jamur. Nilai validasi distribusi suhu dan kelembaban udara dalam rumah jamur menunjukkan error 0,70 - 2,62%. Dari hasil analisis CFD suhu dan kelembaban udara mampu diturunkan sebesar ±1oC dan ±5,1% untuk bangunan dengan evaporative cooler menggunakan air. Hal ini menunjukkan

  11. Algae-based oral recombinant vaccines

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Elizabeth A Specht

    2014-02-01

    Full Text Available Recombinant subunit vaccines are some of the safest and most effective vaccines available, but their high cost and the requirement of advanced medical infrastructure for administration make them impractical for many developing world diseases. Plant-based vaccines have shifted that paradigm by paving the way for recombinant vaccine production at agricultural scale using an edible host. However, enthusiasm for molecular pharming in food crops has waned in the last decade due to difficulty in developing transgenic crop plants and concerns of contaminating the food supply. Microalgae are poised to become the next candidate in recombinant subunit vaccine production, and they present several advantages over terrestrial crop plant-based platforms including scalable and contained growth, rapid transformation, easily obtained stable cell lines, and consistent transgene expression levels. Algae have been shown to accumulate and properly fold several vaccine antigens, and efforts are underway to create recombinant algal fusion proteins that can enhance antigenicity for effective orally-delivered vaccines. These approaches have the potential to revolutionize the way subunit vaccines are made and delivered – from costly parenteral administration of purified protein, to an inexpensive oral algae tablet with effective mucosal and system immune reactivity.

  12. Energy from algae using microbial fuel cells

    KAUST Repository

    Velasquez-Orta, Sharon B.

    2009-08-15

    Bioelectricity production froma phytoplankton, Chlorella vulgaris, and a macrophyte, Ulva lactuca was examined in single chamber microbial fuel cells (MFCs). MFCs were fed with the two algae (as powders), obtaining differences in energy recovery, degradation efficiency, and power densities. C. vulgaris produced more energy generation per substrate mass (2.5 kWh/kg), but U. lactuca was degraded more completely over a batch cycle (73±1% COD). Maximum power densities obtained using either single cycle or multiple cycle methods were 0.98 W/m2 (277 W/m3) using C. vulgaris, and 0.76 W/m2 (215 W/m3) using U. lactuca. Polarization curves obtained using a common method of linear sweep voltammetry (LSV) overestimated maximum power densities at a scan rate of 1 mV/s. At 0.1 mV/s, however, the LSV polarization data was in better agreement with single- and multiple-cycle polarization curves. The fingerprints of microbial communities developed in reactors had only 11% similarity to inocula and clustered according to the type of bioprocess used. These results demonstrate that algae can in principle, be used as a renewable source of electricity production in MFCs. © 2009 Wiley Periodicals, Inc.

  13. Algae-based oral recombinant vaccines

    Science.gov (United States)

    Specht, Elizabeth A.; Mayfield, Stephen P.

    2014-01-01

    Recombinant subunit vaccines are some of the safest and most effective vaccines available, but their high cost and the requirement of advanced medical infrastructure for administration make them impractical for many developing world diseases. Plant-based vaccines have shifted that paradigm by paving the way for recombinant vaccine production at agricultural scale using an edible host. However, enthusiasm for “molecular pharming” in food crops has waned in the last decade due to difficulty in developing transgenic crop plants and concerns of contaminating the food supply. Microalgae could be poised to become the next candidate in recombinant subunit vaccine production, as they present several advantages over terrestrial crop plant-based platforms including scalable and contained growth, rapid transformation, easily obtained stable cell lines, and consistent transgene expression levels. Algae have been shown to accumulate and properly fold several vaccine antigens, and efforts are underway to create recombinant algal fusion proteins that can enhance antigenicity for effective orally delivered vaccines. These approaches have the potential to revolutionize the way subunit vaccines are made and delivered – from costly parenteral administration of purified protein, to an inexpensive oral algae tablet with effective mucosal and systemic immune reactivity. PMID:24596570

  14. Isolation and Characterization of Blue Green Algae from Egyptian ...

    African Journals Online (AJOL)

    meldemellawy

    2014-02-20

    Feb 20, 2014 ... aminotransferase (AMT) domains of the mycE and ndaF genes (Jungblut et al., 2006) allowing detection of microcystin and nodularin-producing cyanobacteria. MATERIALS AND METHODS. Isolation and cultivation of blue green algae. Blue green algae had been isolated from soil of Rice field in river.

  15. Monetary value of the impacts of filamentous green algae on ...

    African Journals Online (AJOL)

    This paper presents estimates of the monetary value of the impact of eutrophication (algae) on commercial agriculture in two different catchments in South Africa. A production function approach is applied to estimate the monetary value of the impact of filamentous green algae on commercial agriculture in the Dwars River, ...

  16. Persistence and proliferation of some unicellular algae in drinking ...

    African Journals Online (AJOL)

    Drinking water systems have a complex structure and are characterised by the absence of light, the presence of disinfectants and by low levels of nutrients. Several kinds of bacteria, protozoa, algae and fungi can be found in tap water. Little is known about the ecology of algae in drinking water systems, although their ...

  17. Algae Cultivation for Carbon Capture and Utilization Workshop Summary Report

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    None, None

    2017-05-01

    The Algae Cultivation for Carbon Capture and Utilization Workshop Summary Report summarizes a workshop hosted by the U.S. Department of Energy's Bioenergy Technologies Office on May 23–24, 2017, in Orlando, Florida. The event gathered stakeholder input through facilitated discussions focused on innovative technologies and business strategies for growing algae on waste carbon dioxide resources.

  18. Study on the effect of irradiation on algae by proteomics

    International Nuclear Information System (INIS)

    Choi, Jong Il; Yoon, Yo Han; Kim, Jae Hun

    2010-06-01

    Algae has been utilized as food material from long time ago, and recently newly recognized as functional materials and the source of bio-fuel. But, the study on the algae is just beginning and the study on protein expression and growth by the change of condition was not reported. In this study, the effect of radiation on the protein expression was investigated for the protection mechanisms and new genome source and furthermore, isolation of new mutant strains. To monitor the growth of algae, absorbance and FDA staining methods were developed and the content of lipid of algae species were measured. With these methods, the radiation sensitivity of algae species was determined. To investigate the proteome of algae, 2D-electrophoresis methods was applied. From the comparison of proteomes, the radiation specific expressed protein was identified as thioredoxin-h and its nucleotide sequences was defined. The expression of thioredoxin-h was further defined on the mRNA level. Also, the extract of algae species was analyzed for its antioxidant activity and polyphenolic content. The changes in antioxidant activity of extract by radiation was investigated. From the radiation experiments, mutant Spirogyra species having higher resistant against radical stress was obtained. The mutant strain has higher antioxidant activity. This results can provide the proteome date and mutation technology of algae and further contribute in the activation of fishery industry and national health enhancement

  19. EnAlgae Decision Support Toolset: model validation

    NARCIS (Netherlands)

    Kenny, Philip; Visser, de Chris; Skarka, Johannes; Sternberg, Kirstin; Schipperus, Roelof; Silkina, Alla; Ginnever, Naomi

    2015-01-01

    One of the drivers behind the EnAlgae project is recognising and addressing the need for increased availability of information about developments in applications of algae biotechnology for energy, particularly in the NW Europe area, where activity has been less intense than in other areas of the

  20. Evaluation of the activated carbon prepared from the algae ...

    African Journals Online (AJOL)

    Evaluation of the activated carbon prepared from the algae Gracilaria for the biosorption of Cu(II) from aqueous solutions. ... African Journal of Biotechnology ... This study shows the benefit of using activated carbon from marine red algae as a low cost sorbent for the removal of copper from aqueous solution wastewater.

  1. Potential of wastewater grown algae for biodiesel production and CO

    African Journals Online (AJOL)

    Potential of wastewater grown algae for biodiesel production and CO 2 sequestration. ... African Journal of Biotechnology ... Mixed algae sample showed the highest CO2 fixation rate, followed by Chlorella sp., Scenedesmus incrassatulus, Scenedesmus dimorphus and Chroococcus cohaerens (2.807, 1.627, 1.501, 1.270 ...

  2. Rare species of fungi parasiting on algae. III.

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Joanna Z. Kadłubowska

    2014-08-01

    Full Text Available The investigations csrried out on algae revealed the following species of fungi from the order of Chytridialis Hawksworth et al. (1995 parasitizing on algae: Rhizophydium subgulosum, R. ganlosporum, R. planctonicum, Entophlyctis rhizina and Harpochytrium hedinii. These species arc new to Poland. The figure of resting spore of Entophlyctis rhizina is the fint graphic documentation of this species.

  3. Rare species of fungi parasiting on algae. III.

    OpenAIRE

    Joanna Z. Kadłubowska

    2014-01-01

    The investigations csrried out on algae revealed the following species of fungi from the order of Chytridialis Hawksworth et al. (1995) parasitizing on algae: Rhizophydium subgulosum, R. ganlosporum, R. planctonicum, Entophlyctis rhizina and Harpochytrium hedinii. These species arc new to Poland. The figure of resting spore of Entophlyctis rhizina is the fint graphic documentation of this species.

  4. PEMISAHAN TANIN DAN HCN SECARA EKSTRAKSI DINGIN PADA PENGOLAHAN TEPUNG BUAH MANGROVE UNTUK SUBSTITUSI INDUSTRI PANGAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muryati Muryati

    2015-05-01

    Full Text Available             Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kondisi optimal dalam  pemisahan tanin dan HCN pada pengolahan tepung buah tancang (Bruguiera gymnorhiza  sehingga dihasilkan tepung tancang yang aman digunakan untuk substitusi bahan baku industri pangan. Penelitian ini dilakukan dengan perlakuan pendahuluan yaitu diblansing dengan cara direndam dalam air panas suhu 95-100 0C dengan variabel waktu perendaman  5menit(mnt;  7,5 mnt; 10 mnt dan  15 mnt. Dari masing-masing  waktu blansing  dilanjutkan dengan pengupasan dan tanpa pengupasan (sebagai pembanding serta perendaman dan tanpa perendaman (pembanding. Ekstraksi dilakukan dengan perendaman dalam air selama 2 hari. Kondisi  penghilangan tanin dan HCN yang optimal dilakukan pada blansing 7,5 menit dilanjutkan pengupasan dan perendaman;  dihasilkan pengujian  kadar tanin 287,43 mg/kg; HCN 8,05 mg/kg dan karbohidrat 79,57 %. Hasil  pengujian tanin, HCN, cemaran  logam dan cemaran mikroba, memenuhi persyaratan mutu tepung singkong sehingga aman untuk bahan makanan.

  5. PEMISAHAN TANIN DAN HCN SECARA EKSTRAKSI DINGIN PADA PENGOLAHAN TEPUNG BUAH MANGROVE UNTUK SUBSTITUSI INDUSTRI PANGAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Muryati Muryati

    2016-09-01

    Full Text Available             Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kondisi optimal dalam  pemisahan tanin dan HCN pada pengolahan tepung buah tancang (Bruguiera gymnorhiza  sehingga dihasilkan tepung tancang yang aman digunakan untuk substitusi bahan baku industri pangan. Penelitian ini dilakukan dengan perlakuan pendahuluan yaitu diblansing dengan cara direndam dalam air panas suhu 95-100 0C dengan variabel waktu perendaman  5menit(mnt;  7,5 mnt; 10 mnt dan  15 mnt. Dari masing-masing  waktu blansing  dilanjutkan dengan pengupasan dan tanpa pengupasan (sebagai pembanding serta perendaman dan tanpa perendaman (pembanding. Ekstraksi dilakukan dengan perendaman dalam air selama 2 hari. Kondisi  penghilangan tanin dan HCN yang optimal dilakukan pada blansing 7,5 menit dilanjutkan pengupasan dan perendaman;  dihasilkan pengujian  kadar tanin 287,43 mg/kg; HCN 8,05 mg/kg dan karbohidrat 79,57 %. Hasil  pengujian tanin, HCN, cemaran  logam dan cemaran mikroba, memenuhi persyaratan mutu tepung singkong sehingga aman untuk bahan makanan. 

  6. Pengaruh Penggunaan Talas (Xanthosoma sagittifolium Terhadap Mutu dan Tingkat Penerimaan Panelis pada Produk Roti, Pastel, Pancake, Cookies, dan Bubur Talas

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wilsa Hermianti

    2016-06-01

    dilakukan teknologi pembuatan talas blok (Hermianti et al, 2010. Pada penelitian ini dilakukan  penggunaan talas blok untuk pembuatan aneka produk makanan basah, semi basah, dan makanan kering seperti roti, pastel, cookies, pancake, dan bubur talas dengan mensubstitusi tepung terigu dan tepung beras. Penelitian ini  bertujuan untuk mengetahui jumlah penggunaan talas yang memberikan hasil yang optimal dalam pembuatan beberapa produk tersebut sehingga dihasilkan pangan dengan mutu yang baik dan disukai.  Penelitian substitusi terigu dengan talas  yang dilakukan dalam pembuatan roti, pastel, dan cookies 0% (kontrol/ tanpa talas blok, 25%, 50% dan 75%, untuk pancake dengan formula talas dengan terigu  0% (kontrol/tanpa talas blok, 30%, 50%,100%, sedangkan untuk bubur talas dengan formula talas dengan tepung beras 0% (kontrol/tanpa talas blok, 30%, 50%, dan 100%. Analisis  kimia dilakukan  terhadap bahan baku talas blok meliputi kadar air, kadar abu, kadar pati, dan protein sedangkan untuk produk olahan pangan dilakukan uji organoleptik (warna, aroma, rasa dan tekstur berdasarkan tingkat penerimaan panelis. Produk cookies talas dan roti talas yang paling disukai panelis dianalisis kandungan lemak, protein, karbohidrat dan kalorinya serta daya simpan untuk produk makanan kering (cookies. Hasil penelitian menunjukkan talas blok mengandung kadar air 12,40%, kadar abu 1,12%, kadar pati 73,37%, amilosa 2,88%, amilopektin 70,49% dan protein 3,4%. Hasil  uji organoleptik dengan hasil yang optimal dan lebih disukai adalah roti dan pastel dengan penggunaan 25% talas, cookies dengan penggunaan 50% talas, pancake dengan formula talas  dengan tepung 50% dan bubur dengan pemakaian talas blok 30%.

  7. Karakteristik dan Model Matematika Kurva Pengeringan Rumput Laut Eucheuma cottonii

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Diini Fithriani

    2017-05-01

    Full Text Available Studi ini dimaksudkan untuk menginvestigasi karakteristik dan model matematika kurvapengeringan rumput laut  Eucheuma cottonii. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakanuntuk perancangan alat pengering rumput laut yang efisien. Pengeringan E.cottonii dilakukandengan menggunakan alat pengering laboratorium terkendali yang dilengkapi dengan sistemakuisisi data dengan kecepatan udara 0,5 m/detik. Empat variasi RH yang dilakukan pada suhu50 °C adalah 30%, 40%, 50% dan 60% serta empat variasi suhu yang dilakukan pada RH 40%adalah 40 °C, 50 °C, 60 °C dan 70 °C. Tiga model pengeringan yang diuji adalah model Newton, Henderson & Pabis dan Page. Simulasi model yang paling tepat ditentukan berdasarkan nilai R2 yang paling tinggi, serta nilai  sum square error  (SSE dan  root mean square error  RMSE yang paling rendah. Laju pengeringan lapis tipis rumput laut  E.cottonii umumnya berada pada periodelaju menurun. Hal ini sesuai dengan karakteristik pengeringan bahan-bahan biopolimer yang umumnya berlangsung dengan laju menurun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan RH cukup efektif dalam menurunkan kadar air dibandingkan peningkatan suhu. Pada RH rendah yaitu 30% suhu 50 °C, penurunan kadar air 50% dicapai dalam waktu 80-85 menit jauh lebih cepat dari RH 60% suhu 50 °C yaitu 165-170 menit. Pada suhu tertinggi yaitu 70 °C RH 40%penurunan kadar air 50% dicapai dalam waktu 90 menit selisih 15 menit lebih cepat dibandingkan suhu terendah yaitu 40 °C RH 40%. Kajian ini mendapati model pengeringan  E.Cotonii yang paling sesuai adalah model pengeringan Page dengan nilai R2, R2 terkoreksi, SSE and RMSE berturut - turut sebesar 0,98-0,99 ; 0,96-0,98 ; 0,0002-0,0126 dan 0,0002- 0,0206.

  8. Deskripsi Sanitasi Lingkungan, Perilaku Ibu, dan Kesehatan Anak

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Kasnodihardjo Kasnodihardjo

    2013-04-01

    Full Text Available Pada tahun 2009, dilakukan penelitian deskriptif di Kecamatan Jatibarang dan Kecamatan Kedokan Bunder untuk mengetahui faktor-faktor sanitasi lingkungan, dan perilaku ibu-ibu dan kejadian penyakit infeksi pada bayi dan anak. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan responden ibu rumah tangga yang mempunyai bayi/ anak balita berjumlah 401 orang. Penyakit diare pada bayi/anak disebabkan oleh media tercemar yang masuk ke sistem pencernaan melalui sumber air untuk minum maupun mandi, cuci, kakus (MCK yang bukan berasal dari ledeng, keluarga yang tidak mempunyai jamban, ibu yang masih jarang mencuci tangan setelah membersihkan kotoran bayi ataupun setelah buang air besar, meminum dan memakan makanan yang tidak dimasak, dan sampah yang dibuang ke lingkungan. Penyakit Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA, pneumonia, dan tuberkulosis paru pada bayi/anak kemungkinan disebabkan media tercemar masuk ke sistem pernapasan melalui sampah yang dibakar, membawa (menggendong anak sewaktu memasak, merokok di dalam rumah berdekatan dengan bayi/anak, menggunakan obat nyamuk bakar, penderita tuberkulosis paru meludah dan membuang dahak di sembarang tempat dan penderita tidur bersama anggota keluarga yang lain. Penyakit tular vektor pada bayi/anak (malaria kemungkinan disebabkan upaya pen-cegahan gigitan nyamuk dengan repellent kurang efektif dan penggunaan kelambu masih rendah. In 2009 a descriptive study conducted in the subdistrict Jatibarang and Kedokan Bunder to determine the factors of environmental sanitation, infectious disease in baby/child, and mother’s behavior. Data were collect-ed using questionnaires which respondents are 401 housewives who have a baby/child. Occurrence of diarrhea disease in baby/child because of the possibility of contaminated media through the digestive system by water for drinking and toilets which do not originate from the piping network, families who do not have own toilet, mothers who still seldom washing hands after

  9. Recent Advances in Marine Algae Polysaccharides: Isolation, Structure, and Activities.

    Science.gov (United States)

    Xu, Shu-Ying; Huang, Xuesong; Cheong, Kit-Leong

    2017-12-13

    Marine algae have attracted a great deal of interest as excellent sources of nutrients. Polysaccharides are the main components in marine algae, hence a great deal of attention has been directed at isolation and characterization of marine algae polysaccharides because of their numerous health benefits. In this review, extraction and purification approaches and chemico-physical properties of marine algae polysaccharides (MAPs) are summarized. The biological activities, which include immunomodulatory, antitumor, antiviral, antioxidant, and hypolipidemic, are also discussed. Additionally, structure-function relationships are analyzed and summarized. MAPs' biological activities are closely correlated with their monosaccharide composition, molecular weights, linkage types, and chain conformation. In order to promote further exploitation and utilization of polysaccharides from marine algae for functional food and pharmaceutical areas, high efficiency, and low-cost polysaccharide extraction and purification methods, quality control, structure-function activity relationships, and specific mechanisms of MAPs activation need to be extensively investigated.

  10. KARAKTERISTIK CAMPURAN CANGKANG DAN SERABUT BUAH KELAPA SAWIT TERHADAP NILAI KALOR DI PROPINSI BANGKA BELITUNG

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yudi Setiawan

    2016-07-01

    Full Text Available Pada umumnya uap yang diperlukan untuk memutar turbin dan untuk keperluan perebusan pada suatu pabrik kelapa sawit adalah boiler dengan memanfaatkan kembali limbah hasil pengolahannya berupa campuran cangkang dan serabut buah kelapa sawit sebagai bahan bakar. Kualitas suatu bahan bakar tergantung pada nilai kalor, nilai kalor tergantung pada kadar air, kadar abu, kadar volatilematter dan kadar karbon tetap yang terkandung pada bahan bakar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh campuran bahan bakar terhadap nilai kalor. Komposisi pengujian dalam penelitian ini adalah campuran cangkang dan serabut buah kelapa sawit dengan komposisi 80% serabut 20% cangkang, 75% serabut 25% cangkang, 50% serabut 50% cangkang, 25% serabut 75% cangkang, 20% serabut 80% cangkang. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa komposisi campuran yang memiliki nilai kalor tertinggi adalah campuran 80% serabut 20% cangkang dengan nilai kalor 16.584,233Kj/Kg, kadar air 14,099%, kadar abu 7,776%, kadar volatillematter 69,872%, karbon tetap 7,478%. dari penelitian ini juga disimpulkan bahwa semakin tinggi kadar volatilematter dan kadar karbon tetap semakin tinggi nilai kalor yang dihasilkan dan sebaliknya semakin tinggi kadar air dan kadar abu maka nilai kalor yang dihasilkan semakin rendah pada bahan bakar cangkang, serabut buah kelapa sawit

  11. PENGARUH APLIKASI MEDAN ELEKTROMAGNET TERHADAP SIFAT FISIS AIR SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP KECEPATAN PERTUMBUHAN TANAMAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Fitri Purworini,

    2015-04-01

    Full Text Available Ketersediaan air bersih yang berkualitas bagi manusia semakin terbatas. Tujuan dari penelitian ini mengaplikasi medan elektromagnet untuk memperbaiki kualitas air tersebut. Pada penelitian ini beberapa pipa telah dibuat yakni pipa toroida, pipa rodin dan pipa cadeceus yang kemudian dialiri air PDAM dan dihubungkan dengan medan elektromagnet. Air hasil olahan pipa-pipa tersebut kemudian diuji sifat fisis air yang meliputi uji pH, uji suhu, dan uji konduktifitas listrik air. Air ini diamati pengaruhnya terhadap kecepatan pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata pH dari air PDAM 6,84, air olahan pipa toroida 7,49, pipa rodin 7,48dan pipa cadeceus 7,42. Nilai rata-rata suhu air PDAM adalah 25,180C, untukair olahan pipa toroida suhu inlet 27,080C dan outlet 27,260C. Suhu inlet air olahan pipa cadeceus 27,740C dan outlet 26,80C. Untuk suhu inlet air olahan pipa rodin 27,180C dan suhu outlet 27,30C. Nilai rata-rata konduktivitas air olahan pipa toroida 3,24μmho/cm, pipa rodin 2,72μmho/cm, pipa cadeceus 3,61μmho/cm, dan untuk air PDAM nilai kondukivitas listriknya 1,86μmho/cm. Aplikasi medan elektromagnet tidak mempengaruhi kecepatan pertumbuhan tanaman cabai yang disiram menggunakan air olahan. Sedangkan pada tanaman terong, kecepatan pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh air olahan pipa toroida dengan rata-rata tinggi pertumbuhan tanaman 0,933 cm/minggu.

  12. Investigation about Role of Algae in Kazeroon Sasan Spring Odor

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    A Hamzeian

    2016-05-01

    Full Text Available Introduction: As odor for potable water is unpleasant for costumers, it needs to do researches for finding the reasons of odorous water. Sasan spring that is located in, near kazeroon city, Fars, Iran, is potable water resource for Kazeroon and Booshehr city and many other villages. Water in Sasan spring has the odor problem. With regards to important   role of algae on ado r problems in this study the role of algae on   odor was investigated. Methods: After regular sampling, the TON (threshold odor number was indicated and algae species was distinguished and the number of total algae and any species  of algae was numbers by microscopic direct numbering method .as the algae mass  is related to nitrogen and phosphor concentration, results of concentration Of nitrogen and phosphor in this spring that was examined regularity by water company was investigated and compared to concentration of these component that are need for algae growing.   Results: results shows that TON was in range  of 4.477 to 6.2 that indicated  oderous limit . Regression and diagram between TON and number of total algae showed the linear relationship. The concentration of nitrogen and phosphor, showed adequate condition for algal grow. Result of determination of algae species showed high population of Oscilatoria and Microcystis species, which are known as essential case of mold odor in water resources. Investigation on geological maps in the region around the Sasan spring, show alluvium source and is effected by surface part of it’s around land. Conclusion: because of the algae was determined as the essential cause of odor   in the spring, and algal growth is related to nutrients, and because of the surface pollution can penetrate in the alluvium lands around the spring, and effect the water in spring, so nutrient control and management is the essential way for odor control in the spring.

  13. Isolasi dan Aktivitas Antioksidan Fraksi dari Ekstrak Tongkol Jagung

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Edi Suryanto

    2017-09-01

    jagung dan menentukan aktivitas antioksidan. Tongkol jagung diekstraksi dengan cara refluk menggunakan etanol 80% selama 2 jam. Setelah itu disaring dan filtratnya diuapkan dengan rotary evaporator. Ekstrak etanol disuspensikan dalam air dan diekstraksi berturut turut dengan petroleum eter, etil asetat, butanol, dan air. Fraksi pelarut terbaik difraksinasi dengan kromatografi kolom menggunakan silika gel 60 dan eluen n-heksana : etil asetat (4:6. Ekstrak tongkol jagung dan fraksi dievaluasi kandungan total fenolik, aktivitas penangkal radikal bebas (uji 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil dan kapasitas total antioksidan (uji ferric reducing ability of plasma. Hasil uji kandungan total fenolik menunjukkan bahwa fraksi etil asetat (163,57 μg/mL memiliki kandungan total fenolik yang paling tinggi daripada fraksi butanol (83,30 μg/mL, ekstrak etanol (81,53 μg/mL, fraksi air (23,71 μg/mL dan fraksi petroleum eter (23,57 μg/mL. Hasil ini juga menunjukkan bahwa fraksi etil asetat mempunyai aktivitas penangkal radikal dan kapasitas total antioksidan paling tinggi daripada fraksi butanol, ekstrak etanol, fraksi air, dan fraksi petroleum eter. Aktivitas penangkal radikal bebas fraksi II dan III memperlihatkan paling kuat daripada fraksi V, I, IV dan VI. Hasil penelitian ini menyarankan bahwa fraksi etil asetat dan fraksi II mengandung senyawa fenolik yang mempunyai aktivitas antioksidan kuat.

  14. PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT (ALTITUDE DAN TINGKAT ENERGI RANSUM TERHADAP PENAMPILAN AYAM BURAS SUPER UMUR 2 ? 7 MINGGU

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    M. SUARJAYA

    2012-08-01

    Full Text Available RINGKASAN Penelitian tentang pengaruh ketinggian tempat dan tingkat energi ransum terhadap penampilan ayam buras super umur 2 ? 7 minggu dilaksanakan di dua tempat, yaitu di Desa Dajan Peken, Kabupaten Tabanan dan Desa Sobangan, Kabupaten Badung. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL pola faktorial 2 x 3 dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah ketinggian tempat (50 m dan 300 m dari atas permukaan laut (dpl, masing-masing sebagai T1 dan T2. Faktor kedua adalah tingkat energi dalam ransum isoprotein (2650, 2800, dan 2950 kkal ME/kg, masing-masing sebagai E1, E2, dan E3. Ransum dan air minum diberikan secara ad libitum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata (P0,05 terhadap suhu udara, kelembaban udara, dan jumlah ayam ?panting?. Dapat disimpulkan bahwa penampilan ayam buras super yang dipelihara pada ketinggian tempat 300 m dpl dan diberikan ransum dengan tingkat energi metabolis 2800 kkal/kg menghasilkan penampilan yang lebih baik daripada ayam yang dipelihara pada ketinggian tempat 50 m dpl dan diberi ransum dengan energi metabolis 2650 dan 2950 kkal/kg.

  15. HUBUNGAN TEGANGAN INPUT KOMPRESOR DAN TEKANAN REFRIGERAN TERHADAP COP MESIN PENDINGIN RUANGAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Eko Budiyanto

    2014-06-01

    Full Text Available Listrik merupakan sumber energi utama pada peralatan elektronik terutama pada AC ( air conditioner,  sehingga besar kecilnya tegangan listrik sangat mempengaruhi kinerja mesin. Selain tegangan listrik, kerja mesin pendingin juga dipengaruhi oleh tekanan refrigeran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tegangan input kompresor dan tekanan refrigeran terhadap COP serta untuk mengetahui perubahan temperatur yang terjadi pada evaporator dan kondensor karena pengaruh tegangan input kompresor dan tekanan refrigeran. Penelitian dilakukan dengan cara melakukan pengambilan data pada AC split dengan tegangan input kompresor yang divariasikan 200V, 210V, 220V, dan 230V (tekanan refrigeran 70 Psi. Selain memvariasikan tegangan input kompresor juga memvariasikan pada tekanan refrigeran yaitu pada tekanan refrigeran 30 Psi, 50 Psi, dan 70 Psi (tegangan input kompresor 220V. Dari hasil perhitungan data diperoleh nilai COP pada tegangan input kompresor 200V, 210V, 220V, dan 230V masing-masing adalah 16,87; 17,855; 19,865; dan 18,23. COP pada tekanan refrigeran 30 Psi, 50 Psi, dan 70 Psi masing-masing adalah 14,980; 17,296; 19,865. Dari besarnya nilai COP pada beberapa varian percobaan didapatkan hasil bahwa tegangan input kompresor yang paling baik adalah 220V dan tekanan refrigeran yang paling baik adalah 70Psi.

  16. Kondisi oral higiene dan karies gigi pada vegetarian dan non vegetarian di Maha Vihara Maitreya Medan

    OpenAIRE

    Prawira, Albert

    2011-01-01

    Perbedaan pola makan antara vegetarian dan non vegetarian dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi oral higiene dan karies gigi pada umat vegetarian dan non vegetarian di Maha Vihara Maitreya Medan. Jenis penelitian adalah survei deskriptif. Sampel terdiri atas 74 vegetarian dan 65 non vegetarian. Pemeriksaan oral higiene dan karies gigi masing-masing menggunakan indeks OHIS Greene dan Vermillion dan indeks DMFT Klein, se...

  17. TEKNIK ANALISA STRUKTUR DAN KOMPONEN BIOFILM PADA PENGOLAHAN AIR DAN AIR LIMBAH

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Laily Noer Hamidah

    2016-02-01

    Full Text Available Biofilm is proven to be effective to be used in water and wastewater treatment. Different raw water’s organic compound contents will affect to the heterogenity of the biofilm. This heterogenity is caused by different abilities of the microbial biofilm constituent in decomposing organic coumpound in raw water. Analysis of structures and components can be done to study the heterogenity of the biofilm. This analysis is not only able to describe the quantity but also the quality of the biofilm. The purpose of this review is to compare the various techniques in analyzing the structure and components of the biofilm. Analysis techniques can be performed with image analysis, chemical analysis, biochemical and population analysis. Method that commonly used is the image analysis by Scanning Electron Microscopy (SEM to observe the structure of the biofilm. Chemical analysis using colorimetry, and analysis of total protein is using Lowry’s method and Bradford’s method, and molecular analysis by PCR that is used to characterize the components of biofilm’s constituent.

  18. KEEFEKTIFAN AERASI SISTEM TRAY DAN FILTRASI SEBAGAI PENURUN CHEMICAL OXYGEN DEMAND DAN PADATAN TERSUSPENSI PADA LIMBAH CAIR BATIK

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Estydyah Nurroisah

    2014-10-01

    Full Text Available Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan penurunan kadar COD dan TSS antara sebelum dan setelah melewati aerasi sistem tray dan filtrasi dengan berbagai ketebalan. Jenis penelitian ini adalah eksperimen sungguhan dengan rancangan penelitian pre-test post-test with control group design. Obyek penelitian yang digunakan yaitu air limbah industri batik Pusaka Beruang Jalan Jatirogo No.36 Kabupaten Rembang dengan jumlah replikasi sebanyak 3 kali setiap perlakuan. Berdasarkan hasil uji T berpasangan antara sebelum dan kelompok kontrol, COD (p=0,012 dan TSS (p=0,040, sebelum dan sesudah melewati perlakuan I COD (p=0,007 dan TSS (p=0,007, perlakuan II COD (p=0,006 dan TSS (p=0,006, dan perlakuan III COD (p=0,006 dan TSS (p=0,005 menunjukkan ada perbedaan yang bermakna pada setiap perlakuan. Selanjutnya dilakukan uji alternatif kruskal-wallis didapatkan nilai (p=0,011 < 0,05 yang menunjukkan perbedaan penurunan antar perlakuan. Melalui penelitian ini, diharapkan pemilik industri batik dapat melakukan pengolahan air limbah sebelum dibuang ke lingkungan   The result of preliminary survey was quality standard levels of waste exceeded the threshold, 9848 mg/l of COD and 4920 mg/l of TSS. The purpose of this research was to determine the difference of derivation levels of COD and TSS between before and after aeration system tray and filtration with various thicknesses. This research was a true experiment with study design pre-test post-test with control group design. The research object was batik industry wastewater Pusaka Beruang 36 Jatirogo street Rembang with 3 times amount of replication for each treatment. Based on a paired T test between before and the control group, COD (p=0.012 and TSS (p=0.040, before and after the treatment I COD (p=0.007 and TSS (p=0.007, treatment II COD (p=0.006 and TSS (p=0.006, and treatment III COD (p=0.006 and TSS (p=0.005 showed there was no significant difference in each treatment. Then alternate test kruskal

  19. DanRIS

    DEFF Research Database (Denmark)

    2009-01-01

    Windows 2000/XP/Vista platform computerprogram til DanRIS indberetning baseret på indskrivning af klienter på CPR, klientsforløb, faseforløb, ASI EuropASI composite score beregninger. Udgave: 2.1.0.5 Udgivelsesdato: 01-01-2009...

  20. Snow algae in an ice core drilled on Grigoriev Ice cap in the Kyrgyz Tien Shen Mountains

    Science.gov (United States)

    Honda, M.; Takeuchi, N.; Sera, S.; Fujita, K.; Okamoto, S.; Naoki, K.; Aizen, V. B.

    2012-12-01

    .6 x 103μm3 mL-1 (mean: 56μm3 mL-1 ), the unicellular cyanobacterium varied from 0.0 to 3.0 x 104μm3 mL-1 (mean: 1.2 x 103μm3 mL-1 ), and Green algae varied from 0.0 to 2.3 x 104μm3 mL-1 (mean: 2.2 x 103μm3 mL-1 ). Based on the dating by pollen grains, the 64 m core covers 237 years. The results suggest that the snow algae did not grow every year on the top of the ice cap, and their biomass and community structure varied greatly from year to year. The total biomass after the 1960s was significantly higher than those before the 1950s. This suggested suggests that the surface conditions changed more favorable to the growth of algae in the 1960s. Annal variation of the algal biomass was found to be significantly correlated with air temperature at the nearest observing station from Grigoriev the iIce cap and hydrogen stable isotope (δD) in the ice core. The results suggest that the algal growth is more preferable in warmer year.

  1. Potential use of green algae Caulerpa lentillifera as feed ingredient in the diet of Nile tilapia Oreochromis niloticus

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nadisa Theresia Putri

    2017-07-01

    Full Text Available ABSTRACT The high composition of import raw material of fish diet in Indonesia causes feed price expensively and should be replaced using local materials such as green macro algae. It is, therefore, this study aimed to evaluate effect of diet containing the Caulerpa lentillifera, as feed ingredient in the diet of Nile tilapia Oreochromis niloticus. This study consisted of two experiments which were C. lentillifera digestibility test for raw material feed for tilapia and growth performance test of tilapia. C. lentillifera digestibility test was done by using Cr2O3 as indicators and analysis of faecal tilapia. The second experiment is growth performance test using a completely randomised design with four diets were formulated at variuos rates of C. lentillifera meal of 0 (control, 10, 20, and 30%. A number of 240 tilapia fingerlings of 3.41±0.10 g in mean weight were randomly stocked in 12 aquaria and fed on diet test for growth performanced of rearing period. C. lentillifera digestiility test result showed a good value as a raw material feed tilapia, the digestibility of C. lentiliifera and protein digestibility amounted to 68.81% and 86.31%. Growth performance parameters showed the use of 10% and 20% is not significantly different from the control (P>0.05, to the final body weight, protein efficiency ratio, protein retention, specific growth rate, and feed efficiency. But, the diet test at 30% performed the lowest growth performance and feed utilization as well of tilapia fingerlings. This study, therefore, concludes that C. lentillifera meal could be used up to 20% in the tilapia diet. Keywords: Caulerpa lentillifera, Nile tilapia, feed utilization, growth performance  ABSTRAK Tingginya jumlah bahan baku impor dalam pakan ikan di Indonesia menyebabkan harga pakan yang tinggi dan harus diganti menggunakan bahan alternatif lokal seperti makro alga. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengunaan dari pakan yang mengandung Caulerpa

  2. Subcellular Sequestration and Impact of Heavy Metals on the Ultrastructure and Physiology of the Multicellular Freshwater Alga Desmidium swartzii

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ancuela Andosch

    2015-05-01

    Full Text Available Due to modern life with increasing traffic, industrial production and agricultural practices, high amounts of heavy metals enter ecosystems and pollute soil and water. As a result, metals can be accumulated in plants and particularly in algae inhabiting peat bogs of low pH and high air humidity. In the present study, we investigated the impact and intracellular targets of aluminum, copper, cadmium, chromium VI and zinc on the filamentous green alga Desmidium swartzii, which is an important biomass producer in acid peat bogs. By means of transmission electron microscopy (TEM and electron energy loss spectroscopy (EELS it is shown that all metals examined are taken up into Desmidium readily, where they are sequestered in cell walls and/or intracellular compartments. They cause effects on cell ultrastructure to different degrees and additionally disturb photosynthetic activity and biomass production. Our study shows a clear correlation between toxicity of a metal and the ability of the algae to compartmentalize it intracellularly. Cadmium and chromium, which are not compartmentalized, exert the most toxic effects. In addition, this study shows that the filamentous alga Desmidium reacts more sensitively to aluminum and zinc when compared to its unicellular relative Micrasterias, indicating a severe threat to the ecosystem.

  3. MODAL MANUSIA DAN PRODUKTIVITAS

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Erlinda Puspita Sari

    2014-03-01

    Full Text Available Modal manusia dianggap sebagai salah satu faktor penentu produktivitas. Modal manusia merupakan dimensi kualitatif dari sumberdaya manusia, seperti keahlian dan keterampilan, yang akan memengaruhi kemampuan produktif manusia tersebut. Dimensi kualitatif tersebut diperoleh melalui pendidikan, pelatihan dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganaliss efek dari modal manusia terhadap tingkat produktivitas di provinsi-provinsi di Indonesia. Dalam penelitian ini, tingkat pendidikan diukur dengan beberapa indikator, yaitu; angka melek huruf dan angka partisipasi murni tingkat SD, SMP maupun SMA. Tingkat kesehatan diukur dengan angka kematian bayi. Data yang digunakan adalah data panel dari 25 provinsi di Indonesia selama perioede 1996-2010 yang dianalisis dengan menggunakan Model Panel Data Fixed Effect. Hasil analisis menunjukkan bahwa modal manusia yang diukur dari tingkat pendidikan (APM dan tingkat kesehatan (AKB merupakan faktor yang berpengaruh dan signifikan untuk menjelaskan variasi produktivitas meskipun magnitude-nya lebih kecil dibandingkan dengan modal fisik. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa variabel pendidikan memiliki magnitude yang lebih besar dibandingkan dengan variabel kesehatan. Human capital is regarded as one of the determining factors of productivity. Human capital is qualitative dimension of human resource which includes skills and knowledge. These qualitative dimensions are internalized through education, training and health. This study aimed to analyze the effect of human capital on productivity level across provinces in Indonesia. In this study, the level of education was measured by literacy and school enrollment rate (in primary, secondary and high school. The level of health was measured by infant mortality rate. The study employed a panel data of 25 provinces in Indonesia during the period of 1996-2010. Using fixed effect method, the result showed that secondary school enrollment rate and infant mortality

  4. Phycobiliproteins: A Novel Green Tool from Marine Origin Blue-Green Algae and Red Algae.

    Science.gov (United States)

    Chandra, Rashmi; Parra, Roberto; Iqbal, Hafiz M N

    2017-01-01

    Marine species are comprising about a half of the whole global biodiversity; the sea offers an enormous resource for novel bioactive compounds. Several of the marine origin species show multifunctional bioactivities and characteristics that are useful for a discovery and/or reinvention of biologically active compounds. For millennia, marine species that includes cyanobacteria (blue-green algae) and red algae have been targeted to explore their enormous potential candidature status along with a wider spectrum of novel applications in bio- and non-bio sectors of the modern world. Among them, cyanobacteria are photosynthetic prokaryotes, phylogenetically a primitive group of Gramnegative prokaryotes, ranging from Arctic to Antarctic regions, capable of carrying out photosynthesis and nitrogen fixation. In the recent decade, a great deal of research attention has been paid on the pronouncement of bio-functional proteins along with novel peptides, vitamins, fine chemicals, renewable fuel and bioactive compounds, e.g., phycobiliproteins from marine species, cyanobacteria and red algae. Interestingly, they are extensively commercialized for natural colorants in food and cosmetics, antimicrobial, antioxidant, anti-inflammatory, neuroprotective, hepatoprotective agents and fluorescent neo-glycoproteins as probes for single particle fluorescence imaging fluorescent applications in clinical and immunological analysis. However, a comprehensive knowledge and technological base for augmenting their commercial utilities are lacking. Therefore, this paper will provide an overview of the phycobiliproteins-based research literature from marine cyanobacteria and red algae. This review is also focused towards analyzing global and commercial activities with application oriented-based research. Towards the end, the information is also given on the potential biotechnological and biomedical applications of phycobiliproteins. Copyright© Bentham Science Publishers; For any queries, please

  5. Antileishmanial properties of tropical marine algae extracts.

    Science.gov (United States)

    Freile-Pelegrin, Y; Robledo, D; Chan-Bacab, M J; Ortega-Morales, B O

    2008-07-01

    Aqueous and organic extracts of twenty-seven species of marine algae (14 species of Rhodophyta, 5 species of Phaeophyta and 8 species of Chlorophyta) collected from the Gulf of Mexico and Caribbean coast of the Yucatan Peninsula (Mexico) were evaluated for their antileishmanial in vitro activity against Leishmania mexicana promastigote forms. The cytotoxicity of these extracts was also assessed using brine shrimp. Organic extracts from Laurencia microcladia (Rhodophyta), Dictyota caribaea, Turbinaria turbinata and Lobophora variegata (Phaeophyta) possessed promising in vitro activity against L. mexicana promastigotes (LC(50) values ranging from 10.9 to 49.9 microg/ml). No toxicity of algal extracts against Artemia salina was observed with LC50 ranging from 119 to >or=1000 microg/ml. Further studies on bio-guided fractionation, isolation and characterization of pure compounds from these species as well as in vivo experiments are needed and are already in progress.

  6. An algae-covered alligator rests warily

    Science.gov (United States)

    2000-01-01

    An algae-covered alligator keeps a wary eye open as it rests in one of the ponds at Kennedy Space Center. American alligators feed and rest in the water, and lay their eggs in dens they dig into the banks. The young alligators spend their first several weeks in these dens. The Center shares a boundary with the Merritt Island National Wildlife Refuge, which encompasses 92,000 acres that are a habitat for more than 331 species of birds, 31 mammals, 117 fishes, and 65 amphibians and reptiles. The marshes and open water of the refuge provide wintering areas for 23 species of migratory waterfowl, as well as a year-round home for great blue herons, great egrets, wood storks, cormorants, brown pelicans and other species of marsh and shore birds, as well as a variety of insects.

  7. Harmful impact of filamentous algae (Spirogyra sp. on juvenile crayfish

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Ulikowski Dariusz

    2015-12-01

    Full Text Available The aim of this study was to determine the impact of filamentous algae on the growth and survival of juvenile narrow-clawed crayfish, Astacus leptodactylus (Esch., in rearing basins. Three stocking variants were used: A - basins with a layer of filamentous algae without imitation mineral substrate; B - basins with a layer of filamentous algae with imitation mineral substrate; C - basins without filamentous algae but with mineral substrate. The crayfish were reared from June 12 to October 10 under natural thermal conditions and fed a commercial feed. The results indicated that the presence of the filamentous algae did not have a statistically significant impact on the growth of the juvenile crayfish (P > 0.05. The presence of the filamentous algae had a strong negative impact on juvenile crayfish survival and stock biomass (P < 0.05. The layer of gravel and small stones that imitated the mineral substrate of natural aquatic basins somewhat neutralized the disadvantageous impact the filamentous algae had on the crayfish.

  8. A screening method for cardiovascular active compounds in marine algae.

    Science.gov (United States)

    Agatonovic-Kustrin, S; Kustrin, E; Angove, M J; Morton, D W

    2018-05-18

    The interaction of bioactive compounds from ethanolic extracts of selected marine algae samples, separated on chromatographic plates, with nitric/nitrous acid was investigated. The nature of bioactive compounds in the marine algae extracts was characterised using UV absorption spectra before and after reaction with diluted nitric acid, and from the characteristic colour reaction after derivatization with anisaldehyde. It was found that diterpenes from Dictyota dichotoma, an edible brown algae, and sterols from green algae Caulerpa brachypus, bind nitric oxide and may act as a nitric oxide carrier. Although the carotenoid fucoxanthin, found in all brown marine algae also binds nitric oxide, the bonds between nitrogen and the fucoxanthin molecule are much stronger. Further studies are required to evaluate the effects of diterpenes from Dictyota dichotoma and sterols from green algae Caulerpa brachypus to see if they have beneficial cardiovascular effects. The method reported here should prove useful in screening large numbers of algae species for compounds with cardiovascular activity. Copyright © 2018 Elsevier B.V. All rights reserved.

  9. L’inclusion des personnes handicapées dans l’emploi : Le cas de l'Organisation européenne pour la recherche nucléaire (CERN)

    CERN Document Server

    Martínez-Cabañas Rodríguez, María

    2016-01-01

    Travail effectué dans le cadre d'un stage de recherche appliquée. Le mémoire tente de répondre aux questions suivantes: Quelles sont les différentes mesures prises au CERN pour permettre l'inclusion des personnes en situation de handicap? Quelles sont les principales barrières que les personnes en situation de handicap peuvent rencontrer au CERN au quotidien? Quelles mesures sont nécessaires pour que le CERN puisse atteindre l'inclusion des personnes en situation de handicap ? Le mémoire fait une revue de la literature sur le sujet y compris les textes internationaux. Il analyse la situation au CERN à travers une observation et des entreriens, et construit quelques pistes pour une meilleure inclusion des personnes en situation de handicap.

  10. Karakteristik Fisiko-Kimiawi (Morfologi, Higroskopisitas, pH dan Toksisitas Panel Bangunan yang Dihasilkan dari Komposit Limbah Abu Terbang Batu Bara (Fly Ash, Daun-Ampas Tebu, Jerami-Sekam Padi dan Ijuk (Palm Fiber

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Yulianto P. Prihatmaji

    2015-10-01

    Full Text Available Telah dilakukan penelitian tentang karakteristik fisiko-kimiawi (morfologi, higroskopisitas, ph dan toksisitas panel bangunan yang dihasilkan dari komposit limbah abu terbang batu bara (fly ash, daunampas tebu, jerami-sekam padi dan ijuk (palm fiber. Berdasarkah hasil uji dan analisis fisiko-kimiawi kaitannya dengan morfologi secara makroskopis menunjukkan bahwa komposit panel bangunan dari berbagai macam jenis bahan baku tersebut tampak menyatu secara solid dengan ikatan kimia antar bahan yang terlibat. Bahan organik yang berupa limbah ampas-daun tebu, jerami-sekam padi, dan ijuk tampak menyatu padu dengan komponen anorganiknya berupa fly ash dan semen. Kaitannya dengan higroskopisitasnya, produk panel bangunan yang dihasilkan tampaknya tidak terpengaruh oleh iklim dan kelembaban di dalam maupun di luar ruang karena kadar air panel bangunan yang diuji pada hari ke-30 dan hari ke-60 relatif stabil yakni 19,65% yang berarti normal. Kaitannya dengan tingkat keasaman (pH, panel bangunan yang dihasilkan menunjukkan kondisi yang aman/tidak menyebabkan iritasi karena pH: 7-8 yang berarti tidak mengiritasi/aman. Adapun hasil uji dan analisis toksisitas fly ash dilakukan menggunakan indikator biologis; mencit menunjukkan harga LD50: 32,915 mg/kg (bb yang berarti relatif tidak berbahaya. Kutu air menunjukkan harga LC50: 75,515 ppm (7,552% yang berarti hampir tidak toksik dan ikan mas menunjukkan harga LC50: 121,943 ppm (12,194% yang berarti tidak toksik. Oleh sebab itu produk panel bangunan yang dihasilkan dapat dipastikan aman dikonsumsi.

  11. Studi Pengolahan Air Limbah untuk Kawasan Pemukiman Kabupaten Kubu Raya

    OpenAIRE

    Yanuar, Lorensius

    2013-01-01

    Angka pertumbuhan penduduk berbanding lurus dengan peningkatan jumlah air limbah. Air limbah yang dihasilkan terutama yang mengandung ekskreta manusia dapat mengandung patogen yang berbahaya, oleh karena itu harus dikelola dan diolah dengan baik. Permasalahan yang terjadi pada wilayah permukiman di Kabupaten Kubu Raya, khususnya Kecamatan Sungai Raya adalah belum adanya sistem pengolahan limbah untuk limbah non toilet dan sistem pengolahan limbah setempat yang dimiliki umumnya belum dapat men...

  12. Photophysiology and cellular composition of sea ice algae

    International Nuclear Information System (INIS)

    Lizotte, M.P.

    1989-01-01

    The productivity of sea ice algae depends on their physiological capabilities and the environmental conditions within various microhabitats. Pack ice is the dominant form of sea ice, but the photosynthetic activity of associated algae has rarely been studied. Biomass and photosynthetic rates of ice algae of the Weddell-Scotia Sea were investigated during autumn and winter, the period when ice cover grows from its minimum to maximum. Biomass-specific photosynthetic rates typically ranged from 0.3 to 3.0 μg C · μg chl -1 · h -1 higher than land-fast ice algae but similar to Antarctic phytoplankton. Primary production in the pack ice during winter may be minor compared to annual phytoplankton production, but could represent a vital seasonal contribution to the Antarctic ecosystem. Nutrient supply may limit the productivity of ice algae. In McMurdo Sound, congelation ice algae appeared to be more nutrient deficient than underlying platelet ice algae based on: lower nitrogen:carbon, chlorophyll:carbon, and protein:carbohydrate; and 14 C-photosynthate distribution to proteins and phospholipids was lower, while distribution to polysaccharides and neutral lipids was higher. Depletion of nitrate led to decreased nitrogen:carbon, chlorophyll:carbon, protein:carbohydrate, and 14 C-photosynthate to proteins. Studied were conducted during the spring bloom; therefore, nutrient limitation may only apply to dense ice algal communities. Growth limiting conditions may be alleviated when algae are released into seawater during the seasonal recession of the ice cover. To continue growth, algae must adapt to the variable light field encountered in a mixed water column. Photoadaptation was studied in surface ice communities and in bottom ice communities

  13. ISLAM DAN RADIKALISME: Upaya Antisipasi dan Penanggulangannya

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Idrus Ruslan

    2017-02-01

    Full Text Available Sejak tragedi pemboman WTC tanggal 11 September 2001 yang disusul dengan rangkaian peledakan bom di sejumlah negara, banyak orang non Muslim yang berasumsi bahwa ajaran Islam identik dengan radikalisme. Walaupun assumsi yang berkembang itu dapat dimaklumi, namun keyakinan tersebut tentu saja tidak sepenuhnya benar. Karena meskipun terdapat sekelompok orang Islam yang berbuat radikal, akan tetapi mayoritas Muslim justru bertentangan dengan mereka. Lagi pula, jika dicermati secara mendalam, sesungguhnya Islam sama sekali tidak mentolerir tindakan radikal. Ia adalah agama kasih sayang yang sangat mendodrong penganutnya untuk berbuat baik terhadap orang lain, termasuk kepada orang-orang non-Muslim. Artikel ini menawarkan beberapa upaya strategis dalam mengantisipasi dan menanggulangi bahaya radikalisme-terorisme.

  14. Uptake of technetium by marine algae: autoradiographic localization

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Bonotto, S.; Nuyts, G.; Robbrecht, V.; Cogneau, M.; Ben, D. van der

    1988-02-01

    The uptake of technetium (sup(95m)Tc) by marine algae was localized by autoradiography. In the brown (Ascophyllum nodosum, Fucus spiralis and F. vesiculosus) as well as in the red (Porphyra umbilicalis) species, the distribution of technetium was heterogeneous, this radioelement being mostly accumulated in the parts of the plant which bear reproductive cells or which contain young tissues. Since brown algae have high concentration factors, they could constitute an important link in the transfer of technetium through the food chain. On the contrary, the edible alga Porphyra umbilicalis shows a very low incorporation of technetium.

  15. Dinitrogen fixation by blue-green algae from paddy fields

    International Nuclear Information System (INIS)

    Thomas, Joseph

    1977-01-01

    Recent work using radioactive nitrogen on the blue-green algae of paddy fields has been reviewed. These algae fix dinitrogen and photoassimilate carbon evolving oxygen, thereby augmenting nitrogen and carbon status of the soil and also providing oxygen to the water-logged rice paddies. Further studies using radioactive isotopes 13 N, 24 Na and 22 Na on their nitrogen fixation, nitrogen assimilation pathways; regulation of nitrogenase, heterocysts production and sporulation and sodium transport and metabolism have been carried out and reported. The field application of blue green algae for N 2 fixation was found to increase the status of soil nitrogen and yield of paddy. (M.G.B.)

  16. Photobiological hydrogen production with switchable photosystem-II designer algae

    Science.gov (United States)

    Lee, James Weifu

    2014-02-18

    A process for enhanced photobiological H.sub.2 production using transgenic alga. The process includes inducing exogenous genes in a transgenic alga by manipulating selected environmental factors. In one embodiment inducing production of an exogenous gene uncouples H.sub.2 production from existing mechanisms that would downregulate H.sub.2 production in the absence of the exogenous gene. In other embodiments inducing an exogenous gene triggers a cascade of metabolic changes that increase H.sub.2 production. In some embodiments the transgenic alga are rendered non-regenerative by inducing exogenous transgenes for proton channel polypeptides that are targeted to specific algal membranes.

  17. The biotechnological ways of blue-green algae complex processing

    OpenAIRE

    Nykyforov, Volodymyr; Malovanyy, Myroslav; Kozlovskaya, Tatyana; Novokhatko, Olha; Digtiar, Sergii

    2016-01-01

    The results of long­term research of various ways and methods of collection and processing of blue­green algae that cause “bloom” of the Dnieper reservoirs were presented. The possibility and feasibility of the blue­green algae biomass processing to biogas by methanogenesis were substantiated. It was found experimentally that preliminary mechanical cavitation of the blue­green algae biomass increases the biogas yield by 21.5 %. It was determined that the biogas produced contains up to 72 % of...

  18. Detection of green algae (Chlorophyceae) for the diagnosis of drowning.

    Science.gov (United States)

    Yoshimura, S; Yoshida, M; Okii, Y; Tokiyasu, T; Watabiki, T; Akane, A

    1995-01-01

    The plankton test (generally, diatom test) is one of the methods available to diagnose the cause of death of submerged bodies. The solubilization method using tissue solubilizer Soluene-350 was used in this study to detect not only diatoms but also green algae, based on the fact that the solubilizer does not digest the cell walls of green algae which are made from cellulose. Detection of green algae from organs of submerged cadavers is very informative to determine drowning in fresh water, and also in cases where only few diatoms are detected in the organs.

  19. Pengaruh pemberian pakan berupa campuran pelet ikan, ulat tepung (Tenebrio molitor, dan ganggang merah (Gracilaria foliifera terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan ikan sidat (Anguilla bicolor

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    MUHAMMAD A. AZIZ HENDITAMA

    2015-05-01

    Full Text Available Henditama MAA, Harini M, Budiharjo A. 2015. The effect of giving mixtured feed of fish pellet, mealworm (Tenebrio molitor and red algae (Gracilaria foliifera to the growth and survival rate of eel (Anguilla bicolor. Bioteknologi 12: 22-28. High demand of eels (Anguilla bicolor in the world has not followed by the capability of domestic production. The purpose of this research are to determine the effect and the precise composition of the feed mixture in the form of fish pellets, mealworms (Tenebrio molitor, red algae (Gracilaria foliifera to the growth and survival rate of eels. This research used completely randomized design with four variations of mixtured feed in the form of fish pellet, mealworms, and red algae specifically P1 (100% ; 0% ; 0%, P2 (75% ; 20% ; 5%, P3 (50% ; 45% ; 5%, P4 (25% ; 70% ; 5%. This research also has been done in 90 days with feeding in twice a day. The data of growth, survival rate, and water quality was collected once a week. The data result has been analized by ANOVA. The data result showed that have a real different to continue to the next analysis of DMRT with test level 5% to locate the differences between treatments. The eels growth after feeding a mixture feed in the form of fish pellets, mealworms, and red alga, specifically: P1 (K 26.3167 gram; P2 20.3167 gram; P3 28.2500 gram; and P4 22.0000 gram. The eels survival rate, specifically P1 (K 26.67%; P2 33.33%; P3 30%; dan P4 26.67%. Furthemore, the exact composition that give the best effect of growth and survival rate to eels is 50% fish pellets, 45% mealworms and 5% red alga.

  20. KEHILANGAN KARBON AKIBAT DRAINASE DAN DEGRADASI LAHAN GAMBUT TROPIKA DI TRUMON DAN SINGKIL ACEH (Carbon Loss from Drainaged and Degradation of Tropical Peatland in Trumon and Singkil, Aceh

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Aswandi Aswandi

    2016-09-01

    Full Text Available ABSTRAK Ekosistem hutan gambut tropika merupakan penyimpan karbon potensial, tetapi konversi lahan dan penebangan tidak lestari menyebabkan ekosistem ini juga menjadi sumber emisi karbon ke atmosfer. Pengaruh perubahan penutupan lahan dan pembangunan drainase terhadap dinamika muka air, penurunan tanah dan kehilangan karbon masih belum banyak diketahui pada tipologi gambut pesisir dengan bentang lahan yang sempit. Penelitian dilaksanakan pada berbagai tipe penutupan lahan gambut di Trumon dan Singkil, Provinsi Aceh mulai Mei 2013 hingga Oktober 2014. Penyimpanan dan kehilangan karbon dihitung berdasarkan bobot isi, kadar abu, karbon organik tanah, dan kedalaman tanah. Hasil penelitian menunjukkan perubahan penutupan lahan dan pembangunan drainase mempengaruhi tata air, penurunan tanah, dan kehilangan karbon sebesar 38,54 – 58,52%. Penurunan permukaan tanah tertinggi sebesar 5,6 cm/tahun terjadi pada lahan dengan bobot isi rendah dan intensitas drainase yang tinggi. Kehilangan karbon dari degradasi lahan gambut melepaskan sekitar1,352 ton CO2 eq/ha/tahun.    ABSTRACT Tropical peat forest is one of significant atmospheric carbon sequester, but land conversion and illegal logging affects carbon stocks and transform these ecosystem into source of carbon emissions. The influence of land use change and drainage on water table fluctuation, soil subsidence and carbon loss are insufficiently known especially on typhology of narrow marine peatland. A study was conducted in Trumon and Singkil, Aceh Province from May 2012 until October 2014 in various peat land use types. Carbon stocks and carbon loss were calculated from data of bulk density, ash and carbon content, and peat depth. Results showed that land use types and distance from drainage influences the level of water table depth, subsidence rate, and carbon loss 38.54 – 58.52%. The highest subsidence rate occurred on peatlands which low bulk density and highly drainage intensity. Carbon loss

  1. DNA barcoding of a new record of epi-endophytic green algae ...

    Indian Academy of Sciences (India)

    Epi-endophytic green algae comprise one of the most diverse and phylogenetically primitive groups of green algae and are considered to be ubiquitous in the world's oceans; however, no reports of these algae exist from India. Here we report the serendipitous discovery of Ulvella growing on intertidal green algae ...

  2. EPISTEMOLOGI DAN KETERBATASAN TEORI GRAVITASI

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Erwin Erwin

    2017-08-01

    Full Text Available Peristiwa tentang kecenderungan jatuhnya benda-benda menuju pusat bumi dan keteraturan peredaran planet dan benda-benda langit lainnya dalam tata surya dahulu dianggap dua fenomena yang berbeda. Mekanika benda langit dan mekanika bumi yang sebelumnya merupakan dua pengetahuan yang terpisah, dianggap satu kesatuan oleh Sir Isaac Newton. Newton mengemukakan hukum gravitasi umum yaitu gaya tarik menarik antara dua benda besarnya sebanding dengan massa masing-masing benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua benda. Hukum gravitasi ini sukses menjalaskan bagaimana benda cendrung jatuh menuju pusat bumi dan peredaran planet dan benda-benda langit lain mengelilingi matahari dalam sistem tata surya. Namun hukum gravitasi Newton ternyata tidak sepenuhnya tepat, beberapa hal dapat dijelaskan dengan hukum relativitas Einstein, namun demikian hukum relativitas Einstein juga dicurigai masih perlu diamandemen agar dapat menjelaskan fenomena alam dengan tepat.

  3. Epistemologi dan Keterbatasan Teori Gravitasi

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Erwin Erwin

    2017-08-01

    Full Text Available Peristiwa tentang kecenderungan jatuhnya benda-benda menuju pusat bumi dan keteraturan peredaran planet dan benda-benda langit lainnya dalam tata surya dahulu dianggap dua fenomena yang berbeda. Mekanika benda langit dan mekanika bumi yang sebelumnya merupakan dua pengetahuan yang terpisah, dianggap satu kesatuan oleh Sir Isaac Newton. Newton mengemukakan hukum gravitasi umum yaitu gaya tarik menarik antara dua benda besarnya sebanding dengan massa masing-masing benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua benda. Hukum gravitasi ini sukses menjalaskan bagaimana benda cendrung jatuh menuju pusat bumi dan peredaran planet dan benda-benda langit lain mengelilingi matahari dalam sistem tata surya. Namun hukum gravitasi Newton ternyata tidak sepenuhnya tepat, beberapa hal dapat dijelaskan dengan hukum relativitas Einstein, namun demikian hukum relativitas Einstein juga dicurigai masih perlu diamandemen agar dapat menjelaskan fenomena alam dengan tepat.

  4. Pengaruh Konsentrasi CaCl2 Dan Alginat Terhadap Karakteristik Analog Bulir Jeruk Dari Alginat

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Rosmawaty Peranginangin

    2015-12-01

    Full Text Available Alginat memiliki sifat dapat membentuk gel dengan adanya ion Ca2+, yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan bulir jeruk analog. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi alginat dan CaCl2 yang optimum dalam pembuatan bulir jeruk analog  dengan menggunakan response surface methodology (RSM dan mempelajari karakteristik bulir jeruk analog yang dihasilkan. RSM dengan central composite design (CCD pada software Design Expert 7 (DX 7 digunakan dengan variasi konsentrasi alginat dan konsentrasi CaCl2 sebagai variabel. Parameter yang diamati pada analog bulir jeruk meliputi kekuatan gel, viskositas, sineresis, dan pH. Selain itu juga diamati kadar air, kadar abu, kadar serat, dan uji sensoris (hedonik skala 5. Analog bulir jeruk disimpan dalam larutan sari jeruk  selama 1 bulan dengan pengamatan berat dan warna periode per minggu. Optimasi dilakukan dengan menggunakan program DX 7 (RSM dan 5 kali ulangan pada bulir jeruk yang dibuat dari alginat 0,8% dan CaCl2 0,5%.  Analog bulir jeruk yang dihasilkan memiliki kekuatan gel 130,29 g/cm2; viskositas larutan 118,6 cPs; sineresis 43,47% dan pH 3,99; sedangkan kadar air 94,05%; kadar abu 0,35%; kadar serat 2,46%. Hasil uji hedonik skala 5 pada analog bulir jeruk  memiliki nilai yaitu mendekati suka untuk tekstur (3,73, suka untuk kenampakan (4 dan antara agak suka hingga suka untuk rasa (3,53.

  5. URGENSI DAN PROSPEK PENGATURAN (IUS CONSTITUENDUM UU TENTANG CONTEMPT OF COURT UNTUK MENEGAKKAN MARTABAT DAN WIBAWA PERADILAN

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lilik Mulyadi

    2015-07-01

    Full Text Available UU Contempt of Court merupakan kebutuhan yang bersifat urgent, segera dan mendesak, sehingga perlu dilakukan kajian dan penelitian secara kritis, akademis dan bersifat komprehensif untuk menjaga keluhuran dan menegakkan martabat dan wibawa peradilan.

  6. Sifilis Laten: Diagnosis dan Pengobatan

    OpenAIRE

    Rasmia Rowawi

    2013-01-01

    Abstrak   Sifilis laten merupakan stadium sifilis yang diakibatkan oleh T. pallidum yang masih menetap dalam tubuh, namun tidak menunjukkan gejala dan hanya menunjukkan hasil pemeriksaan serologis yang reaktif. Sifilis laten yang tidak diterapi dapat menetap bertahun-tahun atau seumur hidup dan dapat meningkatkan risiko terinfeksi HIV. Ibu hamil dengan sifilis laten dini akan menyebabkan sekitar 40% bayi yang dilahirkankannya tertular, 20% prematur, 10% lahir mati, dan 4% meningga...

  7. STRESS PADA LANSIA MENJADI FAKTOR PENYEBAB DAN AKIBAT TERJADINYA PENYAKIT

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Nur Hidaayah

    2015-11-01

    Full Text Available Stress conditions in the elderly means an imbalance condition of biological, psychological, and social are closely related to the response to the threats and dangers faced by the elderly. Pressure or interference that is not fun is usually created when the elderly see a mismatch between the state and the 3 systems available resources. Maintenance actions that need to be done there are 2 types, namely : prevention of exposure to a stressor (precipitation factor and serious treatment of the imbalance condition/ illness (precipitation factor. Prevention includes: sports, hobbies, friendship, avoid eating foods high in free radicals and harmful substances, sex and setting arrangements adequate rest. Habits of the above if done at a young age to avoid exposure to stress in the elderly. Treatment of the imbalance condition / illness, include : drinking water, meditation, eating fresh fruit, and adequate rest.Abstrak : Kondisi stres pada lansia berarti ketidakseimbangan kondisi biologis, psikologis, dan sosial yang erat kaitannya dengan respons terhadap ancaman dan bahaya yang dihadapi pada lanjut usia. Adanya tekanan atau gangguan yang tidak menyenangkan yang biasanya tercipta ketika lansia tersebut melihat ketidaksepadanan antara keadaan dan 3 sistem sumber daya yang dimiliki. Tindakan perawatan yang perlu dilakukan ada 2 jenis yaitu pencegahan dari paparan stressor (faktor presipitasi dan penanganan serius terhadap ketidakseimbangan kondisi/ sakit (faktor presipitasi. Pencegahannya meliputi: olah raga, penyaluran hobi, persahabatan, menghindari makan makanan tinggi radikal bebas dan zat berbahaya, pengaturan kegiatan seks dan pengaturan istirahat yang cukup. Kebiasaan tersebut diatas jika dilakukan sejak usia muda dapat menghindarkan paparan stres di lanjut usia. Penanganan terhadap ketidakseimbangan kondisi/ sakit, meliputi : minum air putih, meditasi, makan buah segar, dan istirahat yang cukup. 

  8. Sterol composition of the Adriatic Sea algae Ulva lactuca, Codium dichotomum, Cystoseira adriatica and Fucus virsoides

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    RADOMIR KAPETANOVIC

    2005-12-01

    Full Text Available The sterol composition of two green algae and two brown algae from the South Adriatic was determined. In the green alga Ulva lactuca, the principal sterols were cholesterol and isofucosterol. In the brown alga Cystoseira adriatica, the main sterols were cholesterol and stigmast-5-en-3ß-ol, while the characteristic sterol of the brown algae, fucosterol, was found only in low concentration. The sterol fractions of the green alga Codium dichotomum and the brown alga Fucus virsoides contained practically only one sterol each, comprising more than 90 % of the total sterols (clerosterol in the former and fucosterol in the latter.

  9. En kamp om dans

    DEFF Research Database (Denmark)

    Zachariassen, Annette

    2004-01-01

    Hvordan er det muligt at medtænke et legende og "kæmpende" element i det faglige indholdsområde musik, bevægelse og kropsudtryk/dans? og hvordan er det muligt at lade sig inspirere af elementer fra genren elektric boogie-battel og brasiliansk kampdans "Capoeira" i tilrettelæggelse af et undervisn......Hvordan er det muligt at medtænke et legende og "kæmpende" element i det faglige indholdsområde musik, bevægelse og kropsudtryk/dans? og hvordan er det muligt at lade sig inspirere af elementer fra genren elektric boogie-battel og brasiliansk kampdans "Capoeira" i tilrettelæggelse af et...

  10. NYERI KEPALA DAN GANGGUAN TIDUR

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Lina Kamelia

    2014-09-01

    Full Text Available Nyeri kepala dan tidur merupakan dua fenomena yang saling mempengaruhi dengan patomekanisme yang kompleks. Nyeri kepala primer, terutama migren, nyeri kepala klaster dan hypnic headache dapat timbul karena pengurangan waktu tidur, parasomnia, maupun gangguan pada regulasi arsitektur tidur terutama fase rapid eye movement. Sebaliknya, adanya nyeri kepala memicu timbulnya berbagai macam gangguan tidur. Studi pencitraan otak dan biokimia menunjukkan peranan penting melatonin dan nukleus suprachiasmatik   yang mengalami disfungsi pada penderita nyeri kepala yang berhubungan dengan gangguan tidur. [MEDICINA 2013;44:101-104].

  11. Studi Beban Kerja Fisik Operator pada Aktivitas Pengangkatan dan Penyusunan Krat Produk Minuman Secara Manual

    OpenAIRE

    Afliani, Dian Harisa

    2013-01-01

    PT. Coca-cola Bottling Indonesia Unit Medan merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri pengolahan air minum dalam kemasan. Dalam kegiatan produksinya, terdapat aktivitas manual material handling. Aktivitas itu adalah pengangkatan dan penyusunan kotak produk (krat) ke atas pallet yang dilakukan secara repetitif selama delapan jam setiap shiftnya. Berat 1 krat adalah 16 kg, disusun 3x3 sampai 6 tingkat dengan tinggi maksimum 171 cm, dan berisi 54 krat per palletnya. Terdapat 3 orang peke...

  12. PENGARUH PENAMBAHAN NATRIUM METABISULFIT DAN SUHU PEMASAKAN DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI VAKUM TERHADAP KUALITAS GULA MERAH TEBU

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Dewi Maya Maharani

    2015-02-01

    gula merah menunjukkan kualitas yang paling baik. Nilai masing-masing parameternya dari perlakuan terbaik sebagai berikut: parameter kimia dan fisik dengankadar air 8,97%, gula reduksi 7,96 %, kadar abu 2,65%, total padatan tak larut 0,60 %, nilai kekerasan 15,68 kg/cm2, parameter organoleptik denganwarna 5,50, rasa 5,04 dan tekstur 5,36. Kata kunci: Nira tebu, natrium metabisulfit, suhu, evaporator vakum, gula merah

  13. Hidrolisis Eceng Gondok dan Sekam Padi untuk Menghasilkan Gula Reduksi sebagai Tahap Awal Produksi Bioetanol

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Wilda Azmia Naufala

    2015-12-01

    Full Text Available Eceng gondok (Eichhornia crassipes merupakan gulma air dengan pertumbuhan cepat yang disebabkan oleh eutrofikasi di badan air. Eceng gondok yang mengandung struktur lignoselulosa ini memiliki ketersediaan yang sangat melimpah. Lignoselulosa yang terdiri dari lignin, selulosa, dan hemiselulosa ini juga terkandung dalam sekam padi. Sekam padi merupakan limbah pertanian yang pemanfaatannya masih belum maksimum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui campuran terbaik eceng gondok dan sekam padi yang dapat menghasilkan gula reduksi terbanyak. Perbandingan campuran eceng gondok dan sekam padi yang digunakan adalah 100:0, 75:25, 50:50, 25:72, 0:100 dengan berat total 100 gram. Tahap awal penelitian ini yaitu pretreatment dengan H2SO4 1% sebanyak 1000 mL dan pemanasan suhu 100oC selama 60 menit. Tahap selanjutnya adalah hidrolisis enzimatik dengan memanfaatkan Aspergillus niger dan Trichoderma viride dengan perbandingn 2:1. Reaktor yang digunakan merupakan reaktor kaca dengan volume 2 L. Parameter yang diukur meliputi lignoselulosa dan gula reduksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sampel yang mengandung 100:0 eceng gondok dan sekam padi mampu menghasilkan kadar gula reduksi tertinggi, yaitu sebesar 23,33 mg/g.

  14. EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI PEKTIN DARI BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi,L

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Sri Roikah

    2016-06-01

    Full Text Available Telah dilakukan ekstraksi pektin dari belimbing wuluhdengan variasi suhu ekstraksi 60 dan 100°C, serta variasi waktu ekstraksi 30, 60, 90 dan 120 menit.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu dan waktu ekstraksi terbaik. Proses ekstraksi dengan metode refluks menggunakan air destilatyang telah ditambahkan dengan asam klorida. Proses selanjutnya adalah pengendapkan,pencucian dan pengeringan. Pektin yang dihasilkan dianalisis kemudian pektin terbaik dipilih menggunakan perhitungan metode Bayes. Kondisi ekstraksi pektin terbaik adalah pada suhu 100°C dengan waktu ekstraksi 30 menit dengan karakteristik sebagai beerikut: rendemen 0,38%, kadar abu 2,92%, kadar air 25,40%, berat ekivalen 650,77%, kadar metoksil 5,01%, kadar galakturonat 55,51%, derajat esterifikasi 51,25% dan viskositas 22cP. Pektin hasil ekstraksi terbaik telah memenuhi standarInternational Pectin Producers Assosiation (IPPA. Pektin terbaik memiliki warna coklat yang lebih gelap dibandingkan dengan pektin komersial. Hasil analisis FT-IR menunjukkan pektin terbaik dan pektin komersial keduanya mengandung gugus fungsi O-H, C-H alifatik, C=O, CH3, dan C-O.

  15. Automation on computer of the partial area method in the analysis of resonances induced by 'S' neutrons 2. with an interference term and extension of the method to the treatment of multi resonances (1963); Automatisation sur ordinateur de la methode des aires partielles dans l'analyse des resonances induites par les neutrons ''S''. 2, avec terme d'interference et extension de la methode au traitement des multiresonances (1963)

    Energy Technology Data Exchange (ETDEWEB)

    Bianchi, G.; Corge, C.R. [Commissariat a l' Energie Atomique, Saclay (France). Centre d' Etudes Nucleaires

    1963-07-01

    This report deals with the numerical analysis on an I.B.M. 7090 computer of transmission resonances induced by 's' wave neutrons in time of flight experiments. The analysis method used is the partial area one. In this second part the interference term is taken into account. Modifications have been made in the programs and subroutines described in the first part, to determine the resonant transmissions from experimental raw data, and the relating partial areas. Also programs and subroutines are thoroughly described, which estimate the resonance parameters. The field of the partial area method has been extended to cover the case where several resonances have to be treated simultaneously, provided they do not interfere. (authors) [French] Le pretent rapport a pour objet l'analyse numerique sur ordinateur I.B.M. 7090 des resonances dues aux neutrons ''s'' dans les experiences de transmission par temps de vol, la methode d'analyse utilisee etant la methode dea aires partielles. Dans cette deuxieme partie il a ete tenu compte du terme d'interference. On y trouvera une description des amenagements apportes aux programmes et sous-programmes decrits dans la premiere partie pour determiner les transmissions interfero-resonnantes a partir des donnees experimentales brutes et les aires partielles afferentes. Sont egalement decrits les programmes et sous-programmes necessaires au calcul des parametres caracteristiques des resonances. Le domaine d'application de la methode a ete etendu au traitement simultane de plusieurs resonances groupees n'interferant pas entre elles. (auteurs)

  16. Pengaruh Simultan Parameter Suhu dan Konsentrasi Larutan NaOH Terhadap Kuantitas dan Kualitas Hasil Cellulose Powder pada Proses Delignifikasi Tongkol Jagung

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Suprianto Suprianto

    2015-08-01

    Full Text Available Jagung merupakan sumber karbohidrat ketiga di Indonesia setelah padi dan ketela. Produksi jagung Indonesia meningkat terus menerus selama 10 tahun terakhir, yang diikuti dengan konsekuensi meningkatnya tongkol jagung sebagai produk ikutan pertanian jagung. Jumlah tongkol jagung dapat mencapai 40% dari produksi jagung. Fakta ini menunjukkan semakin tinggi potensi tongkol jagung untuk dapat dimanfaatkan bagi penunjang kehidupan manusia. Pemanfaatan tongkol jagung secara langsung sebagai bahan bakar maupun tidak langsung, yaitu melalui tahapan proses fisika dan kimia, sebelum dimanfaatkan langsung, telah mulai banyak menarik perhatian. Penelitian ini dimaksudkan untuk menambah informasi pengolahan tongkol jagung menghasilkan selulosa powder yang dapat digunakan sebagai cellulose gel, selulose membrane filter penjernihan air maupun sebagai bahan baku turunan senyawa selulosa, seperti selulosa asetat, carboxy methyl cellulose dan nitro selulosa.Proses pengolahan tongkol jagung menjadi cellulose prowder dilakukan dalam tiga tahapan proses, masing-masing untuk menghilangkan komponen hemiseluola, lignin dan warna dalam tongkol jagung. Proses tahap pertama menggunakan larutan asam nitrat 7,5% pada suhu 80 o C selama 2 jam, dilanjutkan dengan proses tahap kedua menggunakan larutan NaOH selama 2 jam dengan variasi suhu 80 sampai 100 o C dan variasi konsentrasi NaOH dari 1 N sampai 3 N dan selanjutnya proses tahap ketiga menggunakan hydrogen peroksida dengan konsentrasi 4%, suhu 80 o C dan waktu 2 Jam. Keberhasilan proses diidentifikasi dengan kuantitas dan kualitas hasil cellulose powder.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi proses yang baik dalam tahap proses delignifikasi adalah suhu antara 85 sampai 95 o C dan konsentrasi NaOH antara 1,25 N sampai 2 N. Produk pengolahan dari tongkol jagung, dengan proses tiga tahap ini diperoleh hasil cellulose powder warna putih dengan kadar   selulosa sekitar 88 sampai 90%, dengan yield investor sekitar 30

  17. Ekstraksi Minyak Atsiri Dari Akar Wangi Menggunakan Metode Steam - Hydro distillation dan Hydro distilation dengan Pemanas Microwave

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Maulana M Al Hanief

    2013-09-01

    Full Text Available Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh minyak atsiri dari akar wangi dengan modifikasi metode steam-hydro distillation dan hydro distillation yaitu menggunakan pemanasan microwave kemudian membandingkan hasilnya dengan penelitian sebelumnya. Modifikasi ini diharapkan lebih efisien dalam masalah lama penyulingan dan kualitas serta kuantitas rendemen minyak yang lebih baik dan banyak. Penelitian ini menggunakan dua metode yaitu steam-hydro distillation dan hydro distillation dengan pemanfaatan gelombang mikro. Bahan baku yang digunakan dalam penelitian adalah akar wangi jenis pulus wangi yang tumbuh di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Variabel yang digunakan adalah bahan baku yang dicacah dan bahan baku utuh dengan variasi massa bahan 50 gr, 60, gr, 70 gr, 80 gr, dan 90 gr dengan pelarut air sebanyak 450 ml dalam labau distiller berukuran 1000 ml. Lama penyulingan adalah lima jam dengan pengamatan tiap 30 menit serta daya yang digunakan adalah 400 Watt. Analisa terhadap hasil minyak atsiri yang diperoleh antara lain analisa GC-MS, spesific gravity, indeks bias, dan bilangan asam. Hasil dari penelitian ini dibandingkan dengan hasil penelitian terdahulu yang tidak memanfaatkan gelombang mikro. Dari hasil penelitian diperoleh % rendemen kumulatif, sifat fisik, sifat kimia, dan kandungan komponen minyak dari metode steam-hydro distillation lebih baik dibandingkan metode hydro distillation ditandai dengan kuantitas dan kualitas yang sesuai dengan SNI.  Sementara itu jika dibandingkan dengan metode terdahulu dapat disimpulkan bahwa penggunaan gelombang mikro lebih efisien dalam waktu dan kuantitas serta kualitas minyak yang lebih baik dibandingkan tanpa penggunaan gelombang mikro

  18. ASIMETRI INFORMASI DAN UNDERPRICING

    Directory of Open Access Journals (Sweden)

    Tety Anggita Safitri

    2013-03-01

    Full Text Available Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh asimetri informasi terhadap underpricing. Penelitian ini menggunakan sampel 63 perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana di Bursa Efek Indonesia dalam kurun waktu 2005-2010. Analisis data menggunakan regresi linier berganda, yaitu menguji proksi asimetri informasi yang terdiri atas ukuran perusahaan, umur perusahaan, proporsi saham yang ditawarkan kepada masyarakat, reputasi underwriter dan reputasi auditor terhadap underpricing. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa reputasi underwriter dan reputasi auditor berpengaruh terhadap underpricing. Ukuran perusahaan, umur perusahaan dan proporsi saham yang ditawarkan tidak berpengaruh terhadap underpricing.The aim of this research is to examine the effect of assymetric information on underpricing. This research used a sample of 63 companies that make initial public offering on the Indonesia Stock Exchange in the period of 2005-2010. The data analysis is using multiple linear regression, which is testing the proxy of asymmetric information which consists of the firm size, the firm age, the proportion of shares offered to the public, underwriter reputation and auditor reputation on underpricing. This research indicates that underwriter reputation and auditor reputation have a significant effect on underpricing. The firm size, the firm age and the proportion of shares offered to the public have no significant effect on underpricing.

  19. Bicarbonate produced from carbon capture for algae culture.

    Science.gov (United States)

    Chi, Zhanyou; O'Fallon, James V; Chen, Shulin

    2011-11-01

    Using captured CO(2) to grow microalgae is limited by the high cost of CO(2) capture and transportation, as well as significant CO(2) loss during algae culture. Moreover, algae grow poorly at night, but CO(2) cannot be temporarily stored until sunrise. To address these challenges, we discuss a process where CO(2) is captured as bicarbonate and used as feedstock for algae culture, and the carbonate regenerated by the culture process is used as an absorbent to capture more CO(2). This process would significantly reduce carbon capture costs because it does not require additional energy for carbonate regeneration. Furthermore, not only would transport of the aqueous bicarbonate solution cost less than for that of compressed CO(2), but using bicarbonate would also provide a superior alternative for CO(2) delivery to an algae culture system. Copyright © 2011 Elsevier Ltd. All rights reserved.

  20. Extreme Low Light Requirement for Algae Growth Underneath Sea Ice

    DEFF Research Database (Denmark)

    Hancke, Kasper; Lund-Hansen, Lars C.; Lamare, Maxim L.

    2018-01-01

    Microalgae colonizing the underside of sea ice in spring are a key component of the Arctic foodweb as they drive early primary production and transport of carbon from the atmosphere to the ocean interior. Onset of the spring bloom of ice algae is typically limited by the availability of light......, and the current consensus is that a few tens-of-centimeters of snow is enough to prevent sufficient solar radiation to reach underneath the sea ice. We challenge this consensus, and investigated the onset and the light requirement of an ice algae spring bloom, and the importance of snow optical properties...... for light penetration. Colonization by ice algae began in May under >1 m of first-year sea ice with approximate to 1 m thick snow cover on top, in NE Greenland. The initial growth of ice algae began at extremely low irradiance (...